Anda di halaman 1dari 109

BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang
Tujuan suatu negara melakukan pembangunan adalah untuk mencapai
kesejahteraan dari rakyatnya. Adanya tujuan yang ingin mendapatkan konsep hidup yang
lebih baik maka untuk mencapai hal itu diperlukan adanya kebijakan, sasaran serta
indikator yang akan dilakukan. Tujuan tersebut diantara stabilisasi harga, pertumbuhan
ekonomi dan keseimbangan neraca pembayaran. Tujuan-tujuan tersebut yang ingin
diwujudkan itu akan dapat terlihat dari kondisi perekonomian yang stabil, hal itu menjadi
keinginan oleh setiap negara diberbagai dunia. Perekonomian yang stabil tersermin dari
stabilitas ekonominya, yaitu membaiknnya oerkembangan output riil ( pertumbuhan
ekonomi) dan stabilitas harga (laju inflasi).
Pertumbuhan ekonomi yang baik dapat dijadikan menjadi ukuran kemajuan suatu
negara tersebut. Menurut mankiw (2009: 17) bahwa pertumbuhan ekonomi sebagai
ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Karena pertumbuhaan ekonomi memiliki
cakupan yang luas untuk keseluruhan kondisi perekonomian. Indikator yang digunakan
untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah tingkat pertumbuhan
angka-angka pendapatan nasional (GDP). Tetapi untuk memiliki ekonomi yang stabil
tidak mudahjika tidak diikuti oleh kemampuan variabel ekonomi dalam mengatasi
permasalahan. Stabilitas ekonomi dapat dilihat dari dampak guncangan variabel
makroekonomi terhadap variabel makroekonomi yang lain. Dalam (Prasetyo, 2009: 165)
menyaebutkan bahwa perekonomian sering mengalami ketidakpastian dan guncangan
pada penawaran agregat dan permintaan agregat. Apabila dampak goncangan memiliki
fluktuasi yang besar terhadap variabel makroekonomi dan dibutuhkan waktu lama untuk

mencapai keseimbangan maka dapat dikatakan bahwa stabilisasi ekonomi memiliki


kereentanan pada perubahan. Unruk mengatasi hal tersebut, pembuat kebijakan dapat
menggunakan analisis makro ekonomi dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.
Kaum

monetaris

menyatakan

bahwa

kebijakan

moneter

lebih

disukai

dibandingkan dengan kebijakan fiskal, karena dapat dilihat bahwa kebijakan moneter
lebih efektif dalam mencapai stabilitas. Kebijakan moneteer dilihat memiliki potensi lebih
efektif tetapi penerapan kebijakannya harus dipertimbangkan strategi yang akan
digunakan. Dan kebijakan moneter memiliki karakteristik sesuai dengan indikator
nominal yang digunakan untuk acuan dasar atau sasaran antara dalam mencapai ssaran
akhir Kebijakan moneter adalah upaya atau tindakan Bank Sentral dalam mepengaruhi
perkembangan variabel monter( uang beredar, kredit dan nilai tukar) untuk mencapai
tujuan (Miskhin, 2004: 83).

Kebijakan moneter tersebut adalah faktor yang dapat

dikontrol oleh pemerintah sehingga demikian dapat dipakai untukmencapai sasaran


pembanguna ekonomi (Nopirin, 2009:51).
Era globalisasi dengan adanya kemajuan teknologi dan informasi tidak dapat
dihindari sehingga berdampak pada pasar keuangan. Kemajuan ini begitu pesat membuat
mudahnya integrasi pasar keunagn internasional. Interaksi antar negara merupakan aspek
yang tidak bisa ditinggalkan dengan perkembangan ekonomi suatu negara. Hal tersebut
mendorong adanya keterbukaan ekonomi dan ketergantungan antarnegara. Dalam
perekonomian sederhana dan tertutup kperekonomian suatu negara tidak berinteraksi
dengan negara lain maka formulasi dan implementasi kebijakan moneteer dapat
dilakuikan dengan lebih sederhana hal tersebut disebabkanvariabel variabel ekonomi
internasional seperti perdagangan, aliran modal, nilai tukar dan suku bubga tidak
berpengaruh terhadap perekonomian. Dengan semakin besar keterkaitan antarnegara,
maka semakin terbuka perekonomian negara yang bersangkutan, keterbukaan tersebut

berdampak pada peningkatan transaksi perdagangan antarnegara. Mankiw ( 2009: 327)


menjelaskan bahwa meskipun kemakmuran domestik merupakan tujuan akhir, namun
para pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan perkembangan di mancanegara arus
barang dan jasa internasional serta aliran modalinternasional bisa mempengaruhi
perekonomian dengan banyak cara. Kerterbukaan ekonomisuatu negara membawa
dampak terhadap perencanaan dan pelaksaan kebijakan ekonomi makro termasuk
kebijakan moneter.
Krisis keuangan global berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi berbagai
negara di Asean termasuk Indonesia, krisis yang dimulai pada tahun 1997 ternyata sempat
menghancurkan perekonomian. Krisis global ini menyebabkan perekonomian dunia
terpengaruh buruk dari segi ekonomi dan politik khususnya Indonesia dan salah satu
pemicu utama krisis adalah telah terjadi kelangkaan dana perbankan sebagai akibat
penarikan dana oleh masyrakat yang sangat besar serta adanya kepercayaan pada mata
uang rupiah yang mulai berkurang sehingga nilai tukar rupiah terus mengalami
penurunan. Penarikan dana masyarakat akibat turunnya nilai tukar rupiah berdampak
pada bank-bank yang tidak mampu memnuhi semua penarikan nasabah. Peristiwa
tersebut dinamakan krisis likuiditas dan penarikan besar-besaran dana masyarakat ini
dinamakan Bank Runs. Kepanikan tersebut menyebabkan efek pada bank karena tidak
bisa memenuhi kewajiban atas permintaan nasabah mengakibatkan ketidakpercayaan
nasabah pada bank. Indonesia mengalami dampak krisi karena fundamental pada
makroekonomi banyak kelemahan.
Bank Indonesia adalah sebagai bank sentral yang memiliki otoritas moneter dalam
memegang peran yaitu menjaga stabilitas nilai tukar dan stabilitas keuangan sehingga
dalam memacu pertumbuhan wkonomi dan mengontrol inflasi. Bank indonesia
menggunakan berbagai kebijakan moneter sebagai instrumen untuk mengendalikan
besaran moneter seperti jumlah uang beredar, kredit perbankan dan suku bunga untuk

mencapai sasaran perekonomian yang diinginkan. Dalam mengemban tugas urama yaitu
mencapai dan memelihara kestabilan rupiah bukan masalah yang sederharna karena uang
berkaitan erat dengan hampir seluruh aspek dalam perekonomian dan dengan alasan
tersebut proses kebijakan moneter menyentuh sektor riil. Kebijakn moneter menyentuh
kepada sektor riil menjadi masalah yang sangat komplek. Kemudian proses ini disebut
dengan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter (MTKM) merupakan saluran
penghubung kebijakan moneter terhadap perekonomian riil (Pohan, 2008: 43)
Bekerjanya mekanisme transmisi kebijakan moneter tersebut membantu bank
sentral selaku otoritas moeneter dalam mencapai tujuan serta dapat mempengaruhi
kegiantan ekonomi riil dan harga melalui mekanisme tersebut. Untuk itu otoritas moneter
harus memiliki pemahaman yang jelas tentang mekanisme transmisi dinegaranya dan
pemahaman jalur-jalur mekanisme transmisi kebijakan moneter (Dombusch dan Fischer,
1991). Pemahaman tentang transmisi kebiajakn moneter bukan hal yang mudah, dan juga
konteks memlakukan stabilitasi ekonomi digunakan untuk mencapai tujuan tersebut maka
kemumbgkinan utnuk menghasilkan perubahan struktural dan perilaku dalam
perekonomian bisa terjadi. Permasalahan yang berkaitan dengan mekanisme transmisi
adalah masalah lamanya waktu yang dibutuhkan utnuk mencapai target. Dengan waktu
tunda (time lag) dalam kebijakn tersebut maka hal itu dapat di gunakan untuk mendorong
adanya pemahaman dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter terhadap kegiatan
ekonomi. Adanya tenggat waktu memiliki alasan interval waktu yang panjang dan
bervariasi. Oleh sebab itu maka untuk merencanakan dan melakasankan kebijakan
moneter dengan baik harus mepertimbangkan waktu kapan kebijakan akan dilaksanakan
dan pengaruh kebijakan terhadap perekonomian.
Efektifitas kebijakan monter yang diambil tergantung dari mekanisme transmisi
yang telah diambil. Keefektifan kebiajakn moneter dapat diukur dengan dua indikator

yang pertama yaitu besar kecepatan atau tenggat waktu (time lag) yang dibutuhkan agara
bisa mempengaruhi sasaran akhir kemudian yang kedua kekuatan variabel-variabel pada
masing-masong jalur merespon adanya perubahan yang bersifat kejutan (shock) dan
instrumen moneter serta variabel lain yang dgunakan utnuk mencapai sasaran akhir dari
kebijakan monter. Dalam mekanisme transmisi memiliki beberapa jalur atau saluran, pada
paradigma lama menggunakan pendekatan jalur kuantitas terdiri dari dari jalur langsung
dan jalur kredit. Sedangkan pada paradigma baru dari pendekatan jalur harga, jalur
tingkat suku bunga, jalur nilai tukar dan efek aset lain (Oh: 1999, 104 dalam Hakim).
Banyak permaslaahan mengenai mekanisme kebijakan moneter yang akan di jadikan
acuan masih mengalami perdebatan. Dalam bukunya Nopirin (2009:79) menyebutkan
bahwa kurangnya informasi tentang jalur pengaruh (mekanisme transmisi) kebijakan
moneter terhadap kegiatan ekonomi (yang tercermin dengan output, harga dan
employment) menyebabkan timbul beberapa dugaan atau hipotessa yang mencoba
menjelaskan pengaruh ini.
Terdapat perbedaan tentang hal ini. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Norris
(2005) dengan menggunakan alat analisis VAR menyatakan di Armenia bahwa dengan
menggunakan VAR untuk mengetahui guncangan moneter mempengaruhi perekonomian.
Hasilnya bahwa pada jalur nilai tukar memiliki dampak yang kuat terhadap inflasi
dibanding dengan transmisi lainnya. Penelitian juga dilakukan oleh Erickson (2011)
menyatakan bahwa pada peru dan Uruguay suku bunga berpengaruh lemah tetapi nilai
tukar berpengaruh lebih besar terhadap inflasi dan output. Hal berbeda pada penelitian
yang dilakukan di Nigeria tahun 2014 oleh Bature menunjukkan hasil bahwa saluran nilai
tukar lemah bila dibandingkan dengan jalur kredit karena pada penduduk Nigeria
membutuhkan kredit dari bank untuk usaha mereka dengan jalur kredit tersebut
memeberikan dampak pada ouput dan inflasi. Dan penelitian yang sama hasilnya

dilakukan oleh Allum (2013) jalur suku bunga tidak berpangaruh signifikan terhadap
infalsi dan output riil dan lebih berpengaruh jalur kredit. Serta penelitian oleh Sichei
(2010) menggunakan data tahunan 2001-2008 jalur kredit lebih operatif dalam
mempengaruhi perekonomian.
Paradigma lama yaitu jalur uang beredar dalam literatur ekonomi moneter, kajian
tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter umumnya akan mengacu pada peranan
uang dalam perekonomian, yang pertama kalinya dijelaskan dengan Quantity Theory of
money, yaitu MV = PT, tetapi dalam perkembangannya pakar ekonom menganggap
mekanisme dengan saluran tersebut tidak dapat menegndalikan secara pasti
perkembangan agregat-agregat moneter. Hal tersebut terbukti dengan hanya 70% saja
merupakan uang kartal dan sisanya 30% tidak dapat dipengaruhi oleh Bank Indonesia.
Hal tersebut bisa berdampak pada kebijakan pemerintah seperti operasi pasar terbuka
untuk mempengaruhu permintaan uang akan menjadi sulit untuk diperkirakan. Dalam
perkembangan selanjutnya selain jalur moenter langsung mekanisme transmisi kebijakam
moneter pada umumnya juga dapat terjadi melalui jalur suku bunga, jalur niali tukar, jalur
kredit, jalur harga asset dan jalur ekspektasi (Warjiyo dan Solikin, 2004: 32).
Jalur nilai tukar menjadi hal penting karena mekanisme dengan jalur ini menjadi
sangat penting karena perekonomian Indonesia adalah perekonomian terbuka (open
economy). Integrasi perekonomian negara kedalam perekonomian global menjadi
keharusan untuk ikut dalam pasar global. Dampak dari hal tersebut setiap negara akan
memiliki ketergantungan satu dengan negara lain dalam aspek perdagangan internasional
dari barang maupun jasa dan juga integrasi pasar keuangan di berbagai negara (Abel dan
Bernake dalam Mukhlis, 2004: 66). Nilai tukar atau kurs pada intinya ditentukan oleh
besarnya permintaan dan peanwaran mata uang tersebut (Levi dalam Mukhlis, 2004: 67).
Nilai tukar menjadi salah satu harga yang lebih penting dalam perekonomian terbuka,
karena nilai tukar memilik pengaruh terhadap transaksi berjalan maupun variabel makro

yang lain. Pertumbuhan nilai mata uang ang stabil menunjuukan bahwa negara tersebut
memeiliki kondisi ekonomi yang relatif baik. Dengan kestabilan nilai tukar dapat
mempengaruhi arus modal atau investasi dan perdagangan internasional.
Dampak krisis pada tahun 1997 tersebut dan dilakukan upaya penyehatan dan
pemberdayaan sektor perbankan telah meniyita perhatian dari pemerintah dan otoritas
moneter karena pentingnya peran perbankan dalam proses pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan, disamping perannya dalam proses transaksi pembayaran nasional dan
internasional serta menjalankan fungsi intermediasi (penyaluran danan dari penabung /
pemilik dana ke investor), sektor perbankan juga berfungsi sebagai alat transmisi
kebijakan moneter. Industri perbankan yang pada umumnya mengalami kesulitan,
transmisi kebijakan moneter melalui sektor perbankan tidak berfungsi sebagaimana yang
diharapkan. Hal tersebut akan berakibat pada kebijakan moneter yang kurang efektif
dalam mencapai sasarannya.
Pemberian kredit banyak digunakan untuk belanja konsumsi rumah tangga, dan
bukan untuk kebutuhan investasi. Kredit seperti ini sangat rentan terhadap kenaikkan
suku bunga, yang dalam jangka panjang dapat menambah kredit macet. Kondisi tersebut
akan mengakibatkan kredit perbankan yang dikucurkan tidak mendorong tingkat
pendapatan riil (Nasution, 2006: 93). Kegagalan dunia usaha pada akhirnya kembali
memperburuk kualitas pinjaman bank dan berisiko terjadi kembali krisis moneter. Bagi
kepentingan pengendalian moneter, kredit memiliki implikasi terhadap efektifitas
pengendalian moneter. Hal ini akibat dari respon perbankan dalam mentransmisikan
sinyal kebijakan moneter terhadap berbagai aktifitas keuangan dan ekonomi tidak seperti
yang menjadi harapan Bank Sentral (Warjiyo, 2007: 66)

Prinsipnya pertumbuhan

ekonomi merupakan hasil dari efek pertumbuhan kredit, sehingga dibandingkan dengan
pertumbuhan uang terlihat bahwa pertumbuhan kredit lebih kuat dalam menjelaskan
besarnya pertumbuhan pendapatan nasional (Hadori, dkk, 2002: 84)

Meskipun telah banyak telah dilakukan penelitan tentan peranan Mekanisme


Transmisi Kebijakan Moneter (MTKM) yang menyagkut dengan keefektifan MTKM baik
secara parsial maupun terintragasi namun karena ada faktor ketidakpastian dan
kecenderungan baru yan dapat mempengaruhi MTKM, maka penelitian lanjutan untuk
masalah tersebut tetap relevan untuk dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut maka
penelitian ini akan mengambil judul bagaimana pengaruh jalur kredit dan nilai tukar
terhadap sasaran akhir yaitu GDP dan inflasi dengan variabel yang digunakan untuk
menguji yaitu SBI, suku bunga deposito, jumlah uang beredar, suku bunga kredit dan
investasi untuk jalur kredit. Sedangkan jalur nilai tukar menggunakan SBI, suku bunga
deposito, kurs, capital inflow, dan ekspor netto. Hal ini karena akan dilihat hasilnya,
bagaimana dengan memilih variabel perantara itu dalam mempengaruhi jalur terhadap
kebijakan moneter.
B. Rumusan Masalah
Mekanisme transmisi kebijakan moneter selalu dikaitkan dengan pertanyaan dari
Bernake dan Blinder (1992) dan Taylor (1995) dalam salah satu pertanyaan melalui
mekanisme transmisi apa pengaruh kebijakan moneter terhadap ekonomi riil tersebut
terjadi dan efektif. Efektifitas kebijakan moenter diukur dengan dua indikator (Natsir,
2007) yaitu berapa besar kecepatan atau tenggat waktu (time lag) dan berapa kekuatan
variabel-variabel pada masing-masing jalur merespons adanya perubahan (shock)
instrumen kebijakan r SBI yang sekarang digunakan oleh Bank Indonesia dan variabel
lainnya hingga terwujud sasaran akhir kebijakan moneter.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dianalisis dalam
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh mekanisme transmisi jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap
PDB dan inflasi

2. Bagaimana pola hubungan jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap PDB dan inflasi
C. Tujuan penelitian
Tujuan peneletian secara umum untuk mengetahui pengaruh jalur dengan
mengunakan variabel yang digunakan dalam mempengaruhi sasaran akhir. Secara khusus
tujuan penelitian ini adalah :
1.

Untuk menganalisis pengaruh mekanisme transmisi jalur nilai tukar dan jalur
kredit terhadap PDB dan inflasi

2.

Untuk mengetahui pola hubungan jalur nilai tukar dan jalur kredit terhadap
PDB dan inflasi

D. Manfaat penelitian
Adapaun manfaat yang ingin didapatkan dari penelitian ini adalah:
1.

Sebagai bahan pertimbangan dan masukian bagi pemerintah dan otoritas


moneter dalam pengambilan kebijakan moeneter dengan jalur yang akan
dilaksanakan

2.

Sebagai bahan informasi bagi pemerintah, otoritas moneter dan pelaku bisnis
dalam hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi

3.

Sebagai bahan referensi dan imformasi ilimiah ilmu pengetahuan

BAB II
TINJAUKAN PUSTAKA
A. Kebijakan Moneter
Menurut Mankiw (2007: 122) kebijakan dijalankan menurut aturan jika para
pembuat keputusan mengumumkan kebijakan yang akan menanggapi berbagai situasi dan
sungguh-sungguh menjalankannya, kebujakan dijalankan menurut kebijaksaan jika para
pembuat kebijakan bebas membuat penilaian atas berbagai peristiwa yang terjadi dan
memilih yang akan tampak cocok pada saat itu. Mankiw juga menjelaskan pengertian dari
kebijakan moeneter pada dasarnya adalah pilihan dari bank sentral menyangkut jumlah
uang beredar baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kebijakan moneter adalah upaya atau tindakan Bank Sentral dalam mempengaruhi
perkembangan variabel moneter (uang beredar, suku bunga,kredit dan nilai rukar) untuk
mencapai tujuan teretntu (Miskin, 2004).Dan mata rantai yang terjadi dari kebujakan
moeter menurut keynes yaitu kebijakan moneter dapat diartikan sebagai tindakan makro
banks entral dengan cara mempengaruhi proses penciptaan uang pemerintah bisa
mempengaruhi jumlah uang beredar, dengan mempengaruh JUB kemudian dapat
mempengaruhi tingkat bunga yang berlaku dipasar uang, dengan adanya pengaruh
terhadap suku bunga bisa mempengaruhi pengeluaran investasi (I) selanjutnya permintaan
agregat (Z) dan akhirnya harga (P) dan GDP riil (Q).
Kebiajakan moneter

Ms

P,

Pohan (2008:11) menyatakan bahwa kebijakan moneter atau monetary policy


adalah merupakan sebuah kebijakan moneter yang pada umumnya bertjuan untuk
menjaga dan memlihara kestabilan uang dan mendorong kelancaran produksu dan
pembangunan guna meningkatkan taraf hidup rakyat. Pengaruh kebijakan moeneter
pertama kali akan dirasakan oelh sector perbankan (tingkat bunga, inflasi , kredit dan

sebagainya) yang kemudian pada sector riil. Dalam pelaksaan srategi kebijakan moneter
dalam setiap negara berbeda-beda sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan
mekanisme yang diterapkan dan dijalankan dalam perekonomian tersebut. Dalam
kajiannya ada dua jenis kebijakan moneter yang dikenal, yaitu kebijakan moneter
ekspansif adalah kebijakan moneter yand ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi
yang dilakukan melalui peningkatan jumlah uang beredar, yang kedua adalah kebijakan
moneter kontraktif adalah kebijakan yang ditujukan utnuk memperlambat kegiatan
ekonomi yang antara lain dilakukan melalui penurunan jumlah uang beredar.
Ada empat masalah yang penting (issues) yang sering jadi pembahasan di
kalangan ekonom yaitu, (Boediono, 1994:137 dalam Prasetyo, 2009:170)
1. Pilihan tentang manakah yang sebaiknya dijadikan sebagai sasaran antara
(intermediate target) bagi kebijakan moneter, yaitu pilihan antara tingkat bunga dan
jumlah uang beredar
2. Pilihan tentang konsep uang beredar yang mana yang paling baik dijadikan sebagai
ssaran seandainya dalam keadaan tertentu jawabab utnuk masalah pertama di atas
adalah menggunakan JUB sebagai sasaran antara dan dsini memiliki pilihan untuk
kombinasi misal B, M1,M2 atau L serta kombinasi lainnya.
3. Pilihan mengenai apakah kebijakan moneter perlu dilaksanakan secara aktif
(discretionary monetray policy) atau lebih bersifat otomatis dengan mengikuti aturan
tertentu (monetary rule)
4. Berkaitandengan oerkembangan penting di dalam teori kebijakan meoneter dan
ekonom makro pada umumnya, perkembangan berkaitan dengan peran dari psikologi
dan reaksi dari masyarakat dalam pelaksaan kebijakn moeter. Maasalah terkait dengan
aliran baru dlama teori makro juga disebut dengan alirab rasional yang artinya dalam

suatu masalah masyarakat sudah bukan lagi sebagai objek pasif tetapi memiliki sikap
dan reaksi yang rasional dalam menghadapi kebijakan pemerintah.
Adapun beberapa instrumen dasar yang dapat digunakan dalam kebijakan moneter
yaitu:
1. Tingkat diskonto (discount rate)
Tingkat bunga yang dikenakan bank sentral ketika memberi pinjaman kepada
bank-bank umum. Semakin kecil tingkat diskonto semakin murah cadangan yang
dipinjamkan maka akan semakin banyak bank yang akan meminjam dengan fasilitas
discount window bank sentral. Bila pemerintah dan bank sentral ingin jumlah uang
beredar di masyarakat tutun, maka cadangan minimum perbankan dinaikkan.
Sebaliknya jiak menginginkan jumlah uang beredar bertmbah maka pemerintah
mengurangi cadangan minimum.
2. Operasi pasar terbuka (open market operation)
Pengendalian jumlah uang beredar dengan cara pembelian dan penjualan
obligasi pemerintah oelh bank sentral. Ketika bank sentral membeli obligasi dari
publik, jumlah uang yang dibayarkan untuk obligasiitu akan meningkatkan basis
moneter sekaligus meningkatkan jumlah uang beredar. Ketika obligasi itu dijual
kepada publik maka akan menurunkan jumlah uang beredar.
3. Persyaratan cadangan (reserve requirment)
Kebijakan bank sentral dengan penentuan cadangan minimum bagi bank
umum. Apabila pemerintah menghendaki jumlah uang beredar di masyarakat turun,
maka cadangan minimum perbankan akan dinaikkan. Dan sebaliknya jika ingin
menambah jumlah uang beredar maka pemerintah akan mengurangi cadangan
minumum di bank sentral.
4. Imbauan moral (moral persuasion)

Adalah otoritas moneter mencoba mengarahkan atau mengendalikan


jumlahuang beredar. Misal cara

yang di gunakan yaitu dengna menaikkan atau

menurunkan kredit di perbankan sehingga merangsang masyarakat utnuk mengurangi


atau menambha kredit mereka.
Peran kebijakan moneter di dalam ekonomi makro sangat berpengaruh terhadap
perekonomian suatu negara. Taylor (1995) menyebutkan bahwa mekanisme kebijakan
moeneter adalah the process through which monetray policy decisions are transmitted
into changes in real GDP and inflation yang memiliki arti mekanisme transmisi
kebijaikan moneter merupakan jalur-jalur yang dilalui kebijakan moneteer untuk dapat
mempengaruhi sasaran akhir kebijakan moneter yaitu pendapatan nasional riil dan inflasi.
Mekanisme ini menggambarkan tindakan otoritas moneter melalui perubahan
instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi variabel ekonomi dan
keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ketujuan yang ingin diharapkan. Menurut
Mankiw (2007: 122) mekanisme transmisi kebijakan moneter merupakan suatu proses
yang kompleks dan dalam teori ekonomi para ekonom sering menyebut black box.
Karena transmisi yang disebutkan banyak dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. Perubahan perilaku bank sentral,perbankan serta pelaku ekonomi dalam berbagai
aktifitas ekonomi dan keuangan
2. Lamanya tenggang waktu (time lag) sejak tindakan otoritas moneter sampai sasaran
akhir tercapai
3. Terjadinya perubahan pada jalur-jalur transmisi moenter tersebut sesuai dengan
perkembangan ekonomi dan keuangan dinegara yang bersangkutan
Mekanisme transmisi kebijakan moneter dimulai sejak otortitas moneter atau bank
sentral bertindak menggunakan instrument moneter dalam implementasi kebijakan
moneternya sampai terlihat terhadap aktifitas perekonomian moneternya sampai terlihat

pengaruh terhadap aktifitas perekonomian bak secara langsung maupun bertahap.


Pengaruh indicator otoritas moenetr terhadap aktifitas perekonomian terjadi melalui
berbagai jalur (channels) yaitu jalur langsug atau jalur uang, jalur suku bunga, jalur kredit
jalur harag asset dan jalur ekspektasi. Di bidang keuangan kebiajkan moneter berpengaru
terhadap perkembangan suku bunga, nilai tukar dan harga saham disampin volume dana
masyarakat yang disimpan di bank. Kredit yang disalurkan bank kepada dunia usaha,
penenanaman dana obligasi dan saham. Sementara itu di sector riil kebijakan moenetr
selanjutnya mempengaruhi kegiatan konsumsi, investasi dan produksi, ekspor dan impor
serta barang dan jasa pada umumnya.
Sejalan dengan perubahan struktur perekonomian dan perkembangan yang cukup
pesat di bidang keuangan terdapat jalur-jalur yang dilalui yaitu jalur langsung, jalur uku
bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset dan jalur ekpekstasi (Warjiyo,
2003:18-20):
1. Jalur langsung
Transmisi kebijakan moeneter dengan jalur langsung atau jalur uang yang
pertama kali pada teori klasik tentang peranan uang dalam perekonomian dijelaskan
dengan teori kuantitas uang atau Quantity theory of money (Fisher, 1911 dalam
Warjiyo, 2003:18). Dasar dari teori ini adalah kerangka hubungan langsung uang
beredar dengan harga yang dinyatakan dengan persamaan.
MV = PT
Dimana jumalh uang beredar (M) dikalikan dengan tingakt perputaran uang
atau income velocity (V) sama dengan jumlah output atau transaksi riil (T) dikalikan
dengan tingkat harga barang dan jasa (P). Dalam keseimbangnanya jumlah uang
beredar yang digunakan dalam kegiatantransaksi ekonomi (MV) sama dengan jumlah
output yang dihitung dengan harga berlaku yang ditransaksikan dengan (PT). Pada
teori ini dijelaskan bahwa permintaan uang yang dilakukan masyrakat hanya untuk

transaksi tetapi dalam perkembangna teori ini diperbaharui oleh keynes dengna
menyebut bahwa motif permintaan masyarakat terhadap uang adaalah transaskis,
berjaga-jaga, dan spekulasi. Mekanisme dengan jalur ini adalah konsekuensi langsung
terhadap proses perputaran uang dari perekonomian ada dua tahap yaitu yang pertama,
banks sentral akan melalukakan operasi moneter utnutk mengendalikan uang beredar
dimasyarakat, M1 ataupun M2 dengan pengaturan uang primer (base mioney) sebagai
sasaran operasiona. Yang kedua, bank-bank akn mengelola likuiditas dalam bentuk
cadangan yang dapat digunakan sewaktu-waktu utntuk kegiatan utma dari bank yaitu
perkreditan dan pengerahan dana. Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui
jalur uang dapat dilihat dari tindakan bank sentral untuk mencapai sasaran yang indin
dicapai akan berpengaruh terhadap uang primer (M0), perubahan yang terjadi deisebut
dengan proses penggandaan uang yang ditransmisikan keuang (M1, M2) yang
kemudian diedarkan untuk pemenuhan permintaan uang oleh masyarakat. Dengan
proses penawarn uang beredar yang kemudian terjadi perubahan pada jumlah uang
beredar dalam masyarakat akan dapat berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan
perekonomian terutama inflasi dan output riil.
2. Jalur Suku Bunga
a). Paradigma Uang Aktif (Active Money)
melalui paradigma uang aktif ini kebijakan moneter dengan jalur ini
merupakan kunci model IS, LM, AD dan AS. Aadanya peningkatan stok uang akan
menurunkan tingkat bunga riil dan biaya modal dan meningkatlkan investasi bisnis.
Pada khirny meningkatkan outpu agregat. Turunnya tingkat bunga riil akan
meningkatkan pengeluatran yang digunakan untuk pembelian rumah dan barang
dengan jangka lam penggunaannya. Oleh kerena itu, maka turunnya tingkat bunga
akibat ekspansi moneter akan meningkatkan konsumsi dan permintaan agregat. pada
tingkat bunag nominal sangat rendah,ekspansi moeneter akan meningkatkan

ekspektasi tingkat harga dan inflasi, hal tersebut mengakibatkan turunnya tuingkat
bunga riil. Turunnya tingkat bnga riil akan berakibat pada turunnya biatya modal dan
biaya memegnag uang, yang kemudian akan mmebawa dapak pada bisnis dan
konsumen yang kemudian adanya peningkatan permintaan agregat. mekanisme
tansmisi ringkat bunga dirumuskan dengan
m

dimana m : stok uang nominal


r : tingkat bunga riil,
p : ekpektasi tingkat harga
i : investasi riil
y : output agregat
b). Paradigma Uang Pasif (Passive Money)
Cukup besarnya pengaruh jalur suku bunga dalam mekanisme transmisi
kebijakan moneter ke PDB ini dapat memperkuat beberapa argumen tentang
keberadaan jalur suku bunga walaupun belum sepenuhnya optimal. Ada riset yang
telah menyebutkan bahwa perubahan suku bunga berdampak pada pertumbuhan
ekonomi (adnin 2008:10 dalam Rowland). Kebijakan moneter yang ditransmisikan
oleh jalur ini dapat dijelaskan dengan dua tahap. Tshsp pertama akan mempengaruhi
sektor keuanngan yaitu awalnya adanya perubahan kebiajakn dengan dirubahnya
instrumen moneter (rSBI) dapat berepengaruh terhadap suku

unga PUAB, suku

bungan deposito, suku bunga kredit. Adanya proses tersebut diperlukan waktu atau
time lag. Selanjutnya dari tahap pertama kemudian akan ditransmisikan ke sektor riil.
Hal itu tergantung dari konsumsi dan investasi. Pengaruh suku bunga terhadapa
konsumsi, berasal dari suku bunga deposito merupakan komponen pendapatan

masyarakat dan suku bunga kredit adalah komponen dari pembiayaan konsumsi.
Kemudian pengaruh suku unga terhadap investasi bisa terjadi karena suku bunga
kredit adalah komponen biaya modal.
3. Jalur Harga Aset
Mekanisme ini menekan pada kebijaksanaan yand dilakukan untuk mempengaruhi
perubahan harga aset dan kekayaan masyarkat yang kemudian akan berpengaruh
terhadap investasi dan konsumsi. Pada jalur harga aset jika banksentral melalukan
kebijakan moneteer kontraktif akan mendorong peningkatan suku bunga yang
kemudian akan menekan harga pasar aset perusahaan. Adanya perubahan suku bunga
dan nilai tukar akan berpengaruh terhadap volume transaksi, harga obligasi, saham.
Adanya perubhan harga aset yang kemudian akan berdampak pada aktifitas sektor riil
yaitu permintaan konsumsi karena adanya perubahan kekayaan dan pendapatan dan
berdampak pada permintaan investasi oelh dunia usaha. Adanya perubahan
terhadapharga aset

terhadap biaya modal yang dikeluarkan dalan produksi dan

investasi selajutnya berdampakpada permintaan agregat, output dan inflasi.


Menurut Miskhin (1995) melalui jalur ini dapat melalui dua saluran yaitu
saluran kekayaan dan saluran Tobin-q. Pertama,pada saluran kekayaan (wealth effect)
mmepengaruhi tingkat konsumsi dengan cara memberikan pengaruh terhadap agregat
demand dan kemudian akan mempengaruhi output . Mekanisme dengan salura
kekayaan dapat dirumuskan dengan:
m

Dimana m : stok uang nominal


s : ekspektasi harga saham
w : kekayaan keuangan atau neraca konsumen
c : konsumsi riil rumah tangga

y : output riil
Pada saluran Tobin-q akan memoengaruhi tingkat investasi dan berdampak
pada output. Dalam teori ini bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi
penilaian saham. Tobin mendefiniskan bahwa q sebagai rasio harga pasar perusahaan
dengan biaya penggantian modal. Jika q tinggi maka rasio harga pasar perusahaan
dengan biaya penggantian modal tinggi dan jika q rendah maka rasio harga pasar
perusahaan dengan biaya penggantian modal juga rendah. Mekanisme ini dirumuskan
dengan:

Dimana m : stok uang nominal


s : ekspekstasi harga saham
q : rasio harga saham dengan biaya penggantian modal
i : investasi riil
y : output riil
4. Jalur Kredit
Mekanisme dengan jalur ini akan didasarkan pada asumsi bahwa tidak semua
simpanan masyarakat dalam bentuk uang (M1,M2) kemudian disalurkan dari bank
kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Maksudnya bahwa adanya kenaikan
simpanan masyrakat tidak selalu diikuti dengan naiknya kredit yang diberikan kepada
masyrakat. Dan yang lebih memiliki pengaruh terhadap ekonomi riil adalah kredit
perbankan bukan simpanana masyarakat.
Dampak dari sisi moneter diharapkan dapat meningkatkan investasi yang
kemudian akan meningkatkan hasil produksi barang dan jasa. Kemudian dari sisi
sektor riil diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nasional melelui investasi dan
juga dapat meningkatkan usaha secara. Menurut benake dan gertler (1995) terdapat

dua teori tentang saluran kredit yaitu pinjaman bank (bank lending channel) dan
neraca bank (balance sheet channel) yaitu:
i). Alur pinjaman bank
dalam mekanisme ini didasarkan pada peran daris sitem perbankan
dalam sistem keuangan. Tetepi adanaynya informasi asimetri pada pasar
keuangan dapat menciptakan masalah pada pasar kredit. Peran dari sistem
perbankan yaitu membuka akses debitur tertentu terhadap pasar kredit.
Mekanisme transmisi pinjaman bank dapat dirumuskan:
m

dimana m : stok uang nominal


d : deposit system perbankan
l : kredit perbankan
i : investasi riil
y : output
ii). Alur Neraca
Mekanisme dengan alur neraca ini didasarkan pada peranan khusus
dari sistem perbankan dalam sisitem keuangan. Adanya informasi yang
asimetris dipasar keuangna menyebabkan masalah dalam pasar kredit yang
dapat menurunkan nilai perushaan. Penurunan biali tersebut bisa
memberikan dampak kerugian bagi bisnissehuingga kredit perbankan turun.
Mekanisme dengan alur neraca dirumuskan dengan:

as

md

dimana m : stok uang nominal


d : deposit system perbankan

l : kredit perbankan
i : investasi riil
as : adverse selection
mz : moral hazarsd
y : output
5.

Jalur Nilai Tukar


Perubahan suku bunga SBI juga dapat mempengaruhi nilai tukar. Mekanisme
ini sering disebut dengan jalur nilai tukar. Secara teoritis dan empirirs ditemukan
bahwa di negara maju dan negara berkembang ternayata variabel nilai tukar dan
inflasi memiliki Granger Causality yang signifikan atau hubungan yang kuat
(Ramlongan, 2005 dalam Rowland). Transmisi kebiajakn moneter melalui niali tukar
adalah konsekuensi dari perekonomian terbuka. Perubahan nilai tukar dapat
berpengaruh terhadap peruabahan suku bunga dalamnegeri. Dengan adanya selisih
suku bunga dalam negeri dengan luar negeri akan terjadi perbedaan suku bunga
nominal domestik dan suku bunga luar negeri. Dengan adanya selisih tersebut akan
mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrumen keuangan
dalam negeri,misal SBI. Dengan masuknya aliran modal dari asingakan mendorong/
apresiasi niali tukar rupiah, apresiasi ini mengakibatkan harga barang impor lebih
murah dibanding harga barang yang akan diekspor akan cenderung mahal atau akan
kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor. Turunnya
ekspor riil juga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.
Mekanisme dari jalur ini dapat dirumuskan dengan:
m

Dimana m : stok uang nominal

r : suku bunga
e : nilai tukar mata uang
i : investasi riil
x : ekspor riil
y : ouput riil
6. Jalur Ekpekstasi
Mekanisme melalui jalur ini menekannkan bahwa kebijakan moneter dapat
untuk mempengaruhi pembentukan ekspektasi tentang inflasi dan kegiatan ekonomi.
Kondisi tersebut akan dapat mempengaruhi perialaku pelaku ekonomi dalam
pengambilan keputusan konsumsi dan investasi yang kemudian dapat mendorong
output dan inflasi.
B. Tenggang Waktu (Lag) Efek dari Kebijakan Moneter
Kebijakan meneter untuk tujuan stabilisasi ekonomi tergantung pada kuatdan
tidaknya hubungan antara perubahan kebijakan moenetr dengan kegiatan ekonomi dan
jangka waktu antara peruabahan kebijakan moenetr dengan efek terhadap kegitan
ekonomi. Jangka waktu antara peruabahan kebijakan dengan perubahan kegiatan
ekonomi dengan waku tenggang (time lag).
Total lag

Inside lag

Recognition lag

outside impact lag

administrative lag

Need for

recognition of

change in

change in

Action

need for action

policy instrument

economic activity

t0

t1

t2

t3

waktu
Recognition lag mencakup waktu dari t0 ke t1, adalah waktu yang diperlukan untuk
bank sentral mengumpulkan data ekonomi dan menganalisa perubahan kegiatan ekonomi
yang diinginkan dengan melakukan kebiajkan moneter. Pada waktu t 0 tingkat kegiatan
ekonomi telah berunah, misal terdapat kenaikkan pengangguran yang cukup besar.
Sebelum bank sentral mengambil kebijakan moneter untuk mengatasi masalah tersebut
diperlukan waktu terlebuh dahulu untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan
pengangguran. Admonitrative lag menunjukkan waktu antara waktu yang telah diketahui
oleh otoritas moneter untuk memperkirakan akan merubah kebijakan moenter(t2) dengan
waktu dalam bank sentral yang akan digunakan betul-betul merubah satu atau instrumen
kebiajkan moneter (t2).
Keseluruhan recognition dan administrasi lag sering disebut dengan inside lag,
yaitu jangka waktu antara perubahan keadaab atau kegiatan ekonomiyang memerlukan
perubahan kebijakn moneter dengan merubah satu beberapa instrumen kebijakan
moneter. Sedangkan outside lag adalah waktu antara peruabahn dalam instrumen
kebiajakan moneter (t2) dengan efek dari kebiajkan moneter tersebut dalam kegiatan
ekonomi. Dan lag ini mengukur lama waktu tyang diperlukan dalam mentransfer
perybahan kebijakan moneter dengan efek terhadap kegiatan ekonomi (t3).
C. Produk Domestik Bruto
Produk Domestik Bruto (PDB) dianggap sebagai ukuran terbaik dalam kinerja
perekonomian. Ada dua cara yang dilakukan utnuk melihat data dari PDB, yang pertama
PDB sebagai pendapatn total setiap orang di dalam perekonomian Kemudian yang kedua
dengan melihat PDB sebagai pengeluaran total atas output barangdan jasa perekonomian.
Dan untuk menghitung PDB dalam perekonomian yang lebh kompleks, maka definini
PDB adalah niali pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam

perekonomian selama kurun waktu tertentu (Mankiw, 2009:19). Tujuan dari GDP adalah
meringkas aktifitas akonomi dalam dalam suatu nilai uang tertentu selama periode
tertentu. Produk domestik bruto dibedakan menjadi dua yaitu:
1. PDB nominaal
Adalah nilai barang dan jasa yang diukur dengan harga berlaku. PDB ini
menggunakan harga yang tengah berlaku sebagai landasan perhitungan niali
produksi barang dan jasa dalam perekonomian.
2. PDB riil
Adalah nilai barang dan jasanya diukur dengan emnggunakan harga konstan.
Ukuran kemakmuran ekonomi yyang lebih baik menurut para ekonom dengan
menghitung output barang dan jasa perekonomian dan tidak akan dipengaruhi perubahan
harga. Dengan tujuan ini para ekonom menggunakan PDB riil. PDB riil dapat
menunjukan apa yang akan terjadi terhaap pengeluaran atas output jika jumlah berubah
tetapi harga tetap dan hanya mencerminkan perubahan kuantitas. untuk itu karena PDB
riil mempertahan harga konstan dijelaskan bahwa PDB riil memberikan ukturan
kemakmuran ekonomi yang lebih baik daripada PDB nominal. Harga konstan yang
diberlakukan terhadap PDB ini akan diperbaharui secara periodik harga-harga yang
digunakan untuk menghitunga PDB riil.
Ada beberapa komponen dari PDB, komponen tersebuta adalah konsumi (C),
investasi (I), pemebelian pemerintah (G)dan ekspor neto (NX). Persamaan dari dan
komponen pembentunya adalah
PDB = C + I + G + NX...............................................................................(2.1)
Konsumsi terdiri dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga, konsumsi dibagia
menjadi tiga kelompok yaitu barang tidak tahan lama, baranng tahan lam dan jasa.
Investasi terdiri dari barang-barang yang dibelui utnuk penggunaan masa depan, dalam

investasi dibagi menjadi tiga yaitu investasi tetap bisnis, investasi tetap residensial dan
investasi persediaan. Pembelian pemerintah adalah barang dan jasa oleh pemerintah
pusat, negar bagian dan daerah.
Ekspor neto memperhitungkan perdagangan dengannegara lain, ekspor neto adalah
niali barang dan jasa yang diekspor ke negara laim dikurrang nilai barang dan jasa yang
diimpior dari negara lain. Efektifitas kebiajakn moneter terhadap PDB tidak hanya
tergantung dari permintaan uang tetapi oleh elastisitas pengeluaran investasi terhadap
suku bunga. Apabila penegluaran investasi sangat elastis terhadap suku bunga, maka
penurunan suku bunga yang kecil saja dapat mendorong penegluaran investasi yang
cukup besar, sehingga pdb akan naik dengan cukup besar. Oleh sebab itu kebijakan
moneter akan efektif bila elastisitas pengeluaran terhadap suku bunga makin besar.
D. Inflasi
1. Pengertian inflasi
Menurut Keynes inflasi adalah kenaikan dalm tingkat harga rata-rata, dan
harag adalah tingkat dimana uang dipertukarjan utnuk mendapat barang dan jasa.
Definisi umum dari infalsi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara
umum dan terus-menerus selama dalam periode tertentu. Unsur dalam penegertan
inflasi yang perlu diketahui adalah:
a. Inflasi merupakan proses kecenderungan kenaikan harga-harga umum barangbarang dan jasa secara terus-menerus
b. Kenaikan harga-harga tidak berartu harus naik dengan presentasi yang sama,
tetapi terpenting terdapat kenaikan harga-harga umum barang secara terusmenerus selama periode tertentu
c. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya sekali saja dan bersifat sementra atau
secara temporer tetapi tidak berdampak meluas bukanlah inflasi.

2. Sebab-sebab timbulnya inflasi


a) Demand pull inflation (inflasi tarikan permintaan)
Menurut Mankiw ( 2009) demand pull inflation adalah inflasi yang
disebabkan oleh guncangan atas permintaan agregat. inflasi yang timbul karena
permintaan masyarakat akan barang terlalu kuat. Untuk kasus inflasi yang seperti
ini biasanya terjadi pada ketika menjelang hari-hari besar.
Pergeseran kurva permintaan barang dan jasa dari D1 ke D2 disebabkan oleh
adanya penambahan permintaan sebesar Q1 Q2 yang berakibat naiknya harga P1
P2. Jika permintaan terus bertambah ke Q2 Q3 menyebabkan harga akan terus
naik menjadi P2 P3, begitu sterusnya. Hal itu menyebabkan kenaikan harga terusmenerus yang menyebabkan terjadinya inflasi

S
P

P3
P2

D3

D2

P1
S

D1

Q1

Q2

Q3

Gambar 2.1
Demand pull inflation

b) Cost push inflation ( inflasi dorongan biaya)


Mankiw (2009) menjelaskan penegrtian dari cost push inflation adalah inflasi
yang disebabkan oleh guncangan atas penawaran agregat. cost push infaltion juga
disebut dengan goncangan penawaran yaitu inflasi karena adanya goncangan atau
dorongan kenaikan baiaya faktor-faktor produksi swcara terus-menerus dalam kurun
waktu tetent
Pergeseran kurva penawaran sebesar S1 S2 karena adanya kenaikan biaya
faktor produksi menggeser permintaan barang sbesar Q1 Q2 yang berakibat naiknya
harga barang P1 P2. Jika biaya produksi terus naik menjadi Q1 Q2 menyebabkan
harga akan terus naik ke P2 P3, begitu seterusnya. Hal ini akan meneybabkan
kenaikan harga yang terus-menerus menjadi sulit untuk diturunkan.

S3
C

P3

S2
B

S1

P2
P1

D
Q3

Q2

Q1

Gambar 2.2
Cost push inflation
3. Jenis-jenis inflasi
Menurut tingkat keparahannya:

a.

Inflasi ringan (dibawah 10% pertahun) adalah kenaikan harga berjalam secara
lambat dengan presentase yang kecil serta dalam jangka panjang yang relative
lama.

b. Inflasi sedang (antara 10-30% pertahun adalah ditandai dengan kenaikan harga
yang cukup besar dan biasanya ditandai dengan double digit atau triple digit
yang biasanya berjalan dalam waktu yang relative pendek
c. Inflasi tinggi (antara 30-100% per tahun)
d. Inflasi sangat berat atau hiperinflasi (diatas 100% pertahun) merupakan inflasi
yang paling parah dampaknya karena harga-harga dapat naik sampai 5 atau 6
kali, jika hal ini terjadi masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan
uangnya kemudian nilai uang akan merosot sangat tajam sehingga dapat
menimbulkan uang mereka akan ditukar dengan barang.
4. Teori inflasi
Berbagai teori tentang inflasi menjelaskan permasalahn inflasi itu didalam
suatu perekonomian. Pada umumnya teori tersebut menjelaskan sebab-sebab
terjadinya inflasi. Secara garis besar ada tiga kelompook berpendapat tentang
inflasi,yaitu teori kuantitas, teori Keynes dan teori strukturalis.
a. Teori kuantitas
Teori yan paling tua tentang inflasi, kemudian teori ini ada penyempurnaan
dari kelompok ahli ekonom dari Universitas Chicago yang kemudian dikenal
dengan kelompok monetaris (Soelistyo dalam Prasetyo 2009:215). Menurut para
ekonom tersebut bahwa inflasi hanya dapat terjadi apabila adanya kenaikan dalam
jumlah uamg beredar. Harga-harga akan naik disebbkan oleh kelebihan uang yang
diciptakan oleh bank sentral. Dan faktor lain spertii banjir, gagal panen dan

bencana penyebab kenaikan harga yang sementara. Menurut teori ini penyebab
untama terjadinya inflasi adalah:
1). Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar
(apakah berupa penambahan uang kartal atau penambahan uang giral tidak ada
persoalan)
2). Laju inflasi ditentukan oleh pertambahan jumlah uang yang beredar dan
psikolog (harapan) masyarakat menegenai kenaikan harga-harga di masa datang.
Jika ada tambahan jumlah uang beredar (JUB) sebesar X% maka akan
menimbulkan inflasi, kurang dari X% sama dengan X% atau lebih dari X%
tergantung

dari

masyarakat

mengharapa

atau

tidak

harga

untuk

naik

lagi,pemerintah suatu negara setiap tahun sering melakukan penambahan


penegluaran untuk mensejahterakan rakyatnya. Jika penambahan pengeluaran
pemerintah dilakukan dengan mencetak uang baru sebagai penerimaannya, maka
ini akan menimbulkan inflasi. Penerimaan uang yang dilakukan pemerintah dengan
mencetak uang ini sering disebut dengan pajak inflasi (tax inflation). Jadi mencetak
uang untuk meningkatkan penerimaan ini dapat dianggap seperti pajak inflasi
(Mankiw, 2009). Menurut teori ini nilai uang ditentukan oleh permintaan dan
penawaran uang dipasar uang dan JUB ditetukan oleh bank sentral. Dan
permintaan uang (money demand ) dipengari oleh factor-faktor penentu antara lain
harga rata-rata dalam perekonomian. Jumlah uang yang diminta oleh masayarakat
untuk trasnaksi all itu tergantung dari tingkat harag barang dan jasa yang tersedia.
Dan semakin tingkat tingkat harga maka akan semakin tinggi pula uang yang akan
diminta oleh masyarakat.

Value of

price

Money, 1/P

level, P

(High) 1

1.33

Equlibrium

of money

2 equilibrium value
money z

price level
demandz

(Low)

4
0

Quality fixed

quantity of

By the fed

money

(high)

Gambar 2.3
Supply dan demand terhadap uang dengan tingkat harga
Sumber : Mankiw (2009)

Gambar diatas menjelaskan hubungan supply dan demand uang. Pada sumbu
horizontal menggambarkan tentang JUB dan pada sumbu vertical menjelaskan
tentang nilai uang yaitu 1/P, sumbu vertical kanan menjelaskan tingkatharga P. Dan
pada sumbu-sumbu vetikal itu menjelaskan bahwa jika nilai uang tinggi maka
tingakta harga rendah dan akan berlaku sebaliknya pada tingkat harga tinggi nilai
uang akan rendah. Kurva supply berbentuk vertical Karena JUB ditentukan oleh bank
sentral dan kurva demand memiliki slope negative maka jika nilai uang rendah dan
tingkat harga tinggi maka permintaan akan uang juga tinggi. Pada gambar titik A
adalah keadaan dmana JUB dan jumlah uang yang diminta masayarakat dalam

keadaan seimbang. Dimana saat terjadi equilibrium supply dan demand terhadap uang
maka hal itu akan menentukan nilai uang dan tingkat harga barang jasa yang tersedia.
Jika adanya kebijakan dari bank sentral dengan mengubah JUB, dengan cara
mencetak uang baru lebih banyak maka keseimbangan supply dan demand pada titik
A akan bergeser ke titik B. hal tersebut terjadi karena penambahan JUB menggeser
kurva supply ke kanan dari MS1 ke MS2 mengakibatkan nilai uang turun (terjadi
inflasi) dari ke kemudian tingkat harga keseimbangan akan naik dari 2 ke 4.
Keadaan ini

meningkatnya JUB mendorong terjadinya kenaikna harga yang

menyebabkan niali uang tury atau terjadi inflasi.

value of

Price level

money,1/P
(High)

MS1

MS2

(1)

1 (low)

1.33

(2)

(3)

(low)

money
Demand

M1

M2

4
(high)

quantity of money

Gambar 2.4.
Pergeseran keseimbangan harag akibat peningkatan JUB

b. Teori Strukturalis
Menurut teori ini, inflasi terjadi karena adanya kendala atau abkan kekakuan
penawaran dalam perekonomian suatu negra sehingg mengakibatkan kurva
penwaran menjadi kurang dan cenderung tidak responsive terhadap permintaan
yang meningkat. Menurut teori ini penyebab kekakuan karena kendala penawaran
pangan yang bersifat inelastic, kendala devisa yang terbatas dan kendala fiscal.
Teori ini serng disebut dengan teori inlasi dalam jangka panjang, karena menyoroti
sebab-sebab inflasi berasal dar kekakuan atau kekuatan strukturdekonomi jangka
panjang khusunya tentang bahan makanan dan barangekspor. Dalam teori ini
menyebutkan karena us dinaikakpertambahan produksi barang-barang itu terlalu
lambat dibandingkan dengan pertumbuhan kebutuhannya maka harus dinaikkan
oleh pemerintah misalnya menaikkan biaya admisintrasi pembangunan sperti tariff
dasar listrk, BBM dan menaikkan bahan pokok dan devisa. Yang kemudian akan
berdampak pada naiknya harga harag barang lain sehingga aan terjadi infalasi.
Jika terjadi inflasi yamg seperti ini maka tidak bisa mengatasinya dengan
mengurangi jumlah uang beredar tetapi dilakukan juga pembangunana sector riil
termasuk bahan makanan dan ekspor.
c. Teori Keynes
Menurut pandangan teori ini, JUB (MS) hanyalah sebagai salah satu faktor
penentu tingkat harga ( inflasi ). Karena dalam jangka pendek, agregat demand
(C,I,G dan Tx) juga dapat mempengaruhi inflasi. Menurut teori ini, inflasi tersebut
terjadi karena masyarakat hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya. Teori ini
menyoroti tentang perebutan rizky antara golongan masyarakat sehingga dapat
menimbulkan permintaan agregatif yang lebih besara dibanding jumlah barang
yang tersedia jika terjadi inflantionary gap. Selama celah inflasi (inflantionary gap)

tetap ada selama itu proses inflasi masih terus berkelanjutan. Keterbatasan jumlah
persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena dalam jangka pendek
kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan
permintaan agregat. oleh karena hal itu sama dengan pandangan kaum monetaris.
Teori ini lebih banyak pakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka
pendek. Dengan keaadan daya beli yang dimiliki beberapa golongan dimasyarakat
tidak sama (heterogen), maka kemudian akan terjadi realokasi barang-barang yang
tersedia dari golongan yang memiliki daya beli relatif rendah kepada golongan
masyarakat yang memiliki daya beli relatif besar. Dan kejadian ini akan terus
berlanjut dimasyarakat sehingga laju inflasi akan berhenti jika salah satu golongan
tadi tidak bisa memperoleh dana (tidak bisa memiliki daya beli) untuk membiayai
pembelian barang pada tingkat harga yang berlaku sehingga permintaan kembali
dapat efektif di masyarakat.
5. Efek Inflasi
Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan, alokasi faktor produksi serta
produk nasional. Efek terhadap distribusi pendapatan disebut dengan equity effect,
sedangkan efek terhadap alokasi faktor produksi danpendapatan nasional masingmasing disebut dengan efficiency dan output effects (Nopirin, 1987 : 32-34) yaitu:
a). Efek Terhadap Pendapatan (Equity Effect)
Efek terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada
pula

yang

diuntungkan

dengan

adanya

inflasi.

Seseorang

yang

memperolehpendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya inflasi. Demik\an juga


orangyang

menumpuk

kekayaannya

dalam

bentuk

uang

kas

akan

menderitakerugian karena adanya inflasi. Sebaliknya, pihak-pihak yang


mendapatkankeuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh

kenaikan pendapatan dengan prosentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau
mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan
prosentase lebih besar dari pada laju inflasi. Dengan demikian inflasi dapat
menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola pembagian pendapatan dan
kekayaan masyarakat.
b). Efek Terhadap Efisiensi (Efficiency Effects)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini
dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang
kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang
tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami
kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian mendorong terjadinya
kenaikan produksi barang tertentu.
c). Efek Terhadap Output (Output Effects)
Inflasi mungkin dapat menyebabkan terjadinya kenaikan produksi. Alasannya
dalam keadaan inflasi biasanya kenaikan harga barang mendahului kenaikan upah
sehingga keuntungan pengusaha naik. Kenaikan keuntungan ini akan mendorong
kenaikan produksi. Namun apabila laju inflasi ini cukup tinggi (hyper inflation)
dapat mempunyai akibat sebaliknya, yakni penurunan output. Dalam keadaan
inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun dengan drastis, masyarakat cenderung
tidak mempunyai uang kas, transaksi mengarah ke barter, yang biasanya diikuti
dengan turunnya produksi barang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan langsung antara inflasi dan output. Inflasi bisa dibarengi
dengan kenaikan output, tetapi bisa juga dibarengi dengan penurunan output.
E. Nilai Tukar
1. Pengertian nilai tukar

Kurs valuta asing atau kurs mata uang asing menunjukkan harga atau niali
mata uang suatu negara dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Kurs valuta
asing dapat juga didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan yaitu
banyaknya rupaih yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing.
Pengertian kurs menurut Mankiw (2009:128) kurs (exchange rate ) anatara dua
negara adalah tingkat harag yang disepakati penduduk kedua neagra untuk saling
melakukan peradagangan. Kurs adalah pertukaran anatara dua mata uang yang
berbeda yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang
tersebut, dan perbandinag inilah yang disebut dengan nilai tukar (exchange rate).
Kurs valuta diantara dua negara sering kali berbeda diantara satu amsa dengan masa
yang lainnya.
Nilai tukar biasanya berubahubah, perubahan kurs dapat berupa depresiasi
dan apresiasi. Depresiasi mata uang rupaih terhadap dollar AS artinya suatu
penurunan harga dollar AS terhadap rupiah. Depresiasi mata uang negra membuat
harga barang-barang domestik menjadi lebih murah bagi pihak luar negeri. Sedang
apresiasi rupiah terhadap dollar AS adalah kenaikan rupiah, apresiasi mata uang
membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih mahal bagi pihak luar.
Kurs rupiah terhadap dollar AS memainkan peranan sentral dalam
perdagangan internasional karena kurs rupiah terhadap dollar AS memungkinkan kita
untuk membandingkan harga semua barang dan jasa yang dihasilkan berbagai negara.
Kurs valuta asing dapat dibedakan menjadi kurs jual dan kurs beli, selisih dari
penjualan dan pembelian merupakan pendapatan bagi pedagang valuta asing.
Sedangkan bila ditinjau dari wakru yang dibutuhkan dalam menyerahkan valuta asing
setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan dalm kurs pot dan kurs berjalan.
2. Macam-macam nilai tukar

a. Menurut Mankiw (2009: 128), kurs dibedakan menjadi dua yaitu kurs nominal
dan kurs riil, yaitu:
1) Nilai tukar nominal (nominal exchange rate)
Nilai tukar nominal adalah harag relatif dari mata uang dua negara atau niali
uang tarif seseorang dapat memperdagangkan mata uang suatu negara dengan
mata uang negara lain. Sebagai contoh jika nilai tukar Rp 12000 untuk setiap satu
dolar Amerika Serikat maka jika kita memberikan kepada petugas bank $1 maka
akan memperoleh Rp 12000.
2) Nilai tukar riil ( real exchange rate)
Nilai

tukar

riil

adalah

harga

realtif

tingakatan

seseorang

dapat

memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang negara


lain. Sebagai contoh jika seseorang berbelanja dan mendapati bahwa harga satu
minuman yang dibuat dinegara lain adalah dua kali harga minuman sejenis yang
buatan lokal. Nilai tukar riil tersebut dinayatakan sebagai unit-unit barang asing
perunit dari barang domestik. Menurut MaNKIW (2009:128), formulasi
perhitungan nilai tukar riil adalah :

Nilai tukar riil : nilai tukar nominal x harga domestik


Harga luar negeri

b. Kurs valuta asing dapat dibedakan menjadi kurs jual dan kurs beli, selisih dari
penjualan dan pembelian merupakan pendapatan bagi pedagang valuta asing.
c. Sedangkan bila ditinjau dari wakru yang dibutuhkan dalam menyerahkan valuta
asing setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan dalm kurs spot dan kurs
berjalan (forward looking)
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kurs

Peruabahn dalam permintaan dan penawaran pada valuta asinga yang kemudian
menyebabkan perubahan dalam kurs disebabkan oelh banyak faktor (Sadono
2012:402). Yang terpenting diantara yaitu:
a. Peruabahan dalam cita ras masyarakat
Cita rasa masyarakat mempengaruhi corak konsumsi mereka. Maka perubahan
citarasa masyarakat akan mengubah corak konsumsi mereka ke atas barangp
barang yang diproduksi didalam negeri atau pun yang impor. Jika kualitas barang
impor lebih bagus daripada barang lokal akan menyebabkan keingina masyarakat
utnuk emngkonsumsi barang-barang impor bertanabah besar sehingga permintaan
barang-barang impor ikut vertambah besar dan perubahan ini akan mempengaruhi
permintaan dan penawarna valuta asing
b. Perubahan harga-harga barang ekpor dan impor
Harga barang merupakan salh satu faktor yang penting utuk menentukan
apakah barang akan diimpor atau diekspor. Barang-barang dalam negeri yang
dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan dapaat menaikan ekspor dan
jika harganya naik maka ekspor akan berkurang. Pengurangan harga barang
impor akan menambah jumlah impor. Dan sebaliknya impor akan menyebabkan
perubahan dalam penawarn dan permintaan uang negar tersebut.
c. Kenaikan-kenaikan harga umum (inflasi)
Inflasi ssangat besar pengaruhnya kepada kurs pertukarna valuta asing. Inflasi
yang berlaku pada umumnya cedenrung utnuk menurunkan nilai uang mata asing.
Kecenderungan sperti ini wujud disebabkan efej inflasi adalah infalsi
menyebabkan harga-harga barang ekspor menjadi lebih mahal, oleh karena itu
inflasi berkecenderungan mengurangi ekspor. Dan keadaan ini menyebakan

permintaan valuta asing bertambah dan akhirnya harga valuta asinh akan
bertambah
d. Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi
Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi penting perannaya dalam
mempengaruhi aliran modal. Suku bunga dan tingkat pengembalian investasi
yang rendah cenderung akan menyebabkan modal dalam negeru mengealir keluar
negeri. Sedangka suku unga dan tingkat pengembalian investasi yang tinggi dapat
berakibat pada modal luar negeri masuk kenegara itu. Dan jika lebih banyak
modal mengalir ke suatu negara tersebut maka permintaan mata uang juga akan
bertambah sehingga niali mata uang tersebut juga bertambah. Ilai mata uang suatu
negera akan merosot jika lebih banyak modal negara negar dialirkan keluar negeri
karena suku bunga dan tingkat pengembalian investasi lebih tinggi di negaranegara lain.
e. Pertumbuhan ekonomi
Efek yang terjadi oleh kemajuan ekonomio kepada niali mata uangnya
bergantung pada corak pertumbuhan ekonomi yang terbuka. Apabila kemajuan itu
teruatama diakibatkan oleh perkembangan ekspor maka permintaan uang negara
tersebut bertmbah lebih cepat dar oenawarannya dan oleh karena itu nilai mata
uang negar itu akan naik. Tetapi jika kemajuan tersebut menyebabkan impor
berkembang lebih cepat dari ekspor maka penawaran mata uang negera tersebut
lebih cepeat bertambah dari permintaannya hal itu menyebabkan niali mata uang
negara tersebut akan merosot.
4. Perubahan nilai kurs

Kurs yang ditentuka oleh pasar bebas dapat mengalami dua bentuk perubahan,
yaitu kurs atas efek permintaan dan perubahan kurs atas efek perubahan penawarn
(sadono sukirno, 2012:400-401).
a. Perubahan kurs atas kenaikan permintaan

Harga dolar

D D1

2500
2000

Q1 Q2 kuantitas

Gambar 2.5
Kurva kenaikan permintaan kurs
Dalam gambar diatas dapat dilihat bahwa pada mula permintaan atas dollar
adalag\h D dan penawarn atas dollar adalh S. Makan kurs pertukaran adalah satu
dollar sama dengan 2000 rupiah dan kuantitas dollar yang dijual belikan adalah
Q1. dari adanya kenaikan permintaan terhadap dollar maka kurva permintaan
dollar bergerak dari D ke D1. Kurva yang D1 menaikkan harga dollar dari 2000
menjadi 2500 rupiah satu dollar yang diperjual belikan dalam pasar valuta asing
dari Q1 naik ke Q2
b. Perubahan kurs efek terhadap peruabahn penawaran
Gambar diatas adalh peruabhan penawaran, kurva S dan D menggambarkan
penawaran dan permintaan uang dollar kemudian penawarn bertambah dari S ke
S1 sebagai akibat kurs pertukaran untuk setiap dollar turun dari 2500 menjadi 200

rupiah dan kuantitas mata uang dollar yang diperjual belikan bertambah dari Q 1
ke Q2

Harga dollar

S1

2500
2000

D
Q1

Q2

Gambar 2.6
Kurva perubahan penawaran kurs.
F. Sistem Nilai Tukar
Pendekatan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar
menekankan pentingnya aspek perubahan harga asset finansial terhadap berbagai aktifitas
perekonomian. Dalam kaitan ini, pentingnya jalur nilai tukar dalam transmisi kebijakan
moneter terletak pada pengaruh asset finansial dalam valuta asing yang berasal dari
hubungan kegiatan ekonomi suatu negara dengan negara lain. Pengaruhnya bukan saja
terjadi pada perubahan nilai tukar, tetapi juga pada aliran dana masuk dan keluar suatu
negara yang terjadi, antara lain karena aktivitas perdagangan antarnegara dan aliran
modal investasi, seperti tercermin pada neraca pembayaran. Perubahan nilai tukar dan
aliran dana dan dari ke luar negeri akan mempengaruhi kegiatan ekonomi riil di negara
yang bersangkutan. Semakin terbuka perekonomian suatu yang disertai dengan sistem
nilai tukar mengambang dan sistem devisa bebas, semakin besar pula pengaruh nilai tukar
dan aliran dana luar negeri terhadap perekonomian dalam negeri (Warjiyo, 2004: 93).
Pergerakan nilai tukar yang berfluktuasi di pasar uang tersebut akan sangat
ditentukan oleh sistem nilai tukar yang dianut oleh masing-masing negara. Setiap negara

memiliki sistem niali tukar yang berbeda sesuai dengan keinginan pemerintah negera
tersebut untukmenstabilkan nilai tukar tersebut. Kestabilan niali tukar itu dapat melalui
intervensi bank sentral atau diserahkan pada mekanisme pasar. Secara umumsistem nilai
tukar yang diterapkan saat ini dapat dibedakan menjadi:
1. Sistem nilai tukar tetap
Sistem nilai tukartetap (fixed exchange rate) adalah sistem mata uang yang
konvertibel dalam negara tersebut. Dengan sistem ini setiap individu bebas
melakukan jual beli valuta asing yang diinginkan dan untuk mempertahankan nilai
tukarnya, pemerintah melalui bank sentral juga melakukan jual beli valuta asing
Sistem ini nilai tukar sudah ditetapkan pada niali tertentu, bank sentral akan
selalu siap untuk menjual atau membeli kebutuhan devisa untuk mempertahabkan
nilai tukar yang telah ditetapkan. Jika niali tukar tersebut tidak bisa dipertahankan
maka bank sentral dapat melakukan devaluasi ataupun revaluasi atas nilai tukar yang
telah ditetapkan (Warjiyo, 2004)
2. Sistem nilai tukar mengambang bebas
Pada sistem nilai tukar mengambang (floating exchange rate), nilai tukar
dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan pasar yaitu permintaan dan penawaran
yang terjadi. Nilai tuakr akan menguat apabila terjadi kelebihan penawaran dan
sebaliknya nilai tukar akan melemah apabila terjadi kelebihan permintaan di pasar
valuta asing. Dengan sistem ini memiliki kelebihan yaitu negara tidak memiliki
keharusan untuk mempunyai cadangan devisa yang besar karena bak sentral tidak
harus mempertahankan nilai tukar terhadap oevel tertentu
3. Sistem nilai tukar mengambang terkendali
Dengan sistem niali tuakr mengambang bebas (free floating exchange rate)
bank sentral memiliki wewenang melakukan intervensi pada pasar valuta asing. Hal

tersebut dilakukan agar dapat melunakkan fluktuasi jangka pendek tanpa ada maksud
untuk mempengaruhi trend kurs jangka panjang. Bank sentral menggunakan cadangan
devisa utnuk mengatasi kelebihan valuta asing jangka pendek sehingga mengurangi
tekanan depresiasi yang kelebuhan
Dalam sistem ini bank sentral akan menetapkan batasan atau kisaran dari
pergerakan niali tukar atau intervention band adalah batas intervensi. Nilai tuakr yang
akan ditentukan melalui mekanisme pasar jika berada dalam batas atas atau batas
bawah dari kisarnnya, maka bank sentral akan secara ottomatis melakukan intervensi
pada pasar valuta asing sehingga niali tukar bisa bergerak kembali ke dalam batasan
yang telah ditentukan ( Warjiyo,2004)
G. Teori Paritas Daya Beli (Purchasing power parity theory)
Teori ini dikemukan oleh ahli ekonomi dari Swedia, bernama Gustav Bassel. Dasar
teorinya adalah perbandingan nilai mata uang dengan mata uang lain ditentukan oleh
kemampuan permintaan terhadap uang. Konsepnya bahwa tingkat harga didalam negeri
yang relatif terhadap harga diluar negeri. Menurut teori ini dalam perekonomian terbuka
daya beli mata uang negara yang digunakan utnuk membeli barang atau jasa dari negara
lain bisa dilihat dari perbedaan tingkat harga umum di negara yang bersangkutan
dibanding dengan tingkat harga negara yang diinginkan. Inflasi mempengaruhi daya beli
mata uang domestik dan nilai tukar didefiniskan sebagai daya beli suatu mata uang
terhadap daya beli mata uang lain. Dapat dilihat nilai tukar sangat ditentukan oleh laju
inflasi suatu negara, dan kenyataan kemapuan niali tukar tersebut juga ditentukan oleh
berbagai faktor (Syabran,2004)
Model umum dari teori PPP adalah:
P = e P*....................................................................................(2.2)
Dimana :

: Harga di dalam negeri

P*

: Harga di luar negeri

: nilai tukar

persamaan di atas dapat dituliskan kembali sabagi berikut:


e = P / P*.................................................................................(2.3)
Atas dasar ini maka teori PPP menganggap bahwa niali tukar cenderung bergerak dalam
proporsi yang sama dengan pergerakan tingka harga relatif dan ia juga merupakan salah
satu indikator daya saing.
H. Jalur Kredit
A Jalur Kredit
Kredit yang disalurkan perbankan merupakan salah satu jalur mekanisme
transmisi kebijakan moneter. Mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran
kredit didasarkan pada asumsi bahwa tidak semua simpanan masyarakat dalam bentuk
uang beredar oleh perbankan selalu disalurkan sebagai kredit kepada dunia usaha. Intinya
adalah fungsi intermediasi perbankan tidak selalu berjalan normal. Interaksi antara bank
sentral dengan perbankan dan para pelaku ekonomi dalam tahapan proses perputaran
uang dalam ekonomi (Warjiyo, 2004).
Jalur kredit ini merupakan kritik terhadap jalur tingkat suku bunga yang
menganggap bahwa komponen suku bunga sebagai variabel harga modal dalam
pandangan klasik (cost of capital) sangat sulit diidentifikasi. Ber-dasarkan analisis klasik,
seharusnya kebijakan moneter memiliki efek yang signifikan terhadap tingkat bunga
jangka panjang, namun dalam kenyataan empiris kebijakan moneter justru terkait erat
dengan tingkat bunga jangka pendek dan tidak mempengaruhi tingkat bunga jangka
panjang. Pendekatan kredit ini beranggapan bahwa meningkatnya jumlah uang beredar
sebagai akibat adanya ekspansi moneter akan meningkatkan deposito yang selanjutnya

meningkatkan loanable fund sehingga terjadi peningkatan kredit perbankan. Kenaikan


kredit perbankan ini akan meningkatkan komponen belanja (spending) dalam
perekonomian yang selanjutnya akan meningkatkan PDB (Yeniwati dan Riani, 2010).
Melalui jalur kredit diyakini bahwa kebijakan moneter bisa mempengaruhi
perkonomian melalui supplai kredit dari sektor perbankan atau bank lending channel dan
melalui neraca perusahaan dimana kebijakan moneter mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam memperoleh sumber pembiayaan eksternal dari perbankan atau balance sheet
channel7. Perkembangan terakhir adalah peran jalur resiko atau risk taking channel yang
masih merupakan riset aktif dalam studi ekonomi moneter. Jalur ini semakin menjadi
perhatian para ekonom sejak dimulainya krisis perekonomian global saat ini (Yeniwati
dan Riani, 2010).
Mekanisme transmisi moneter melalui jalur kredit dapat dijelaskan pada gambar
berikut:

Gambar 2. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Melalui Jalur Kredit


Interaksi antara bank sentral dengan perbankan terjadi di pasar uang rupiah.
Interaksi terjadi karena di satu sisi bank sentral melakukan operasi moneter untuk

pencapaian sasaran operasionalnya baik berupa uang primer ataupun suku bunga jangka
pendek, sementara di sisi lain perbankan melakukan transaksi di pasar uang untuk
pengelolaan di pasar uang untuk pengelolaan likuiditasnya. Interaksi ini akan
mempengaruhi tidak saja perkembangan suku bunga jangka pendek di pasar uang tetapi
juga besarnya dana yang akan dialokasikan bank-bank dalam bentuk instrumen likuiditas
maupun untuk penyaluran kreditnya (Warjiyo, 2004).
Terdapat dua jenis saluran kredit yang akan mempengaruhi transmisi moneter dari
sektor keuangan ke sektor rill, yaitu jalur pinjaman bank (bank lending channel) dan jalur
neraca perusahaan (balance sheet channel) (Mishkin, 2001).
1

Jalur Pinjaman Bank


Jalur pinjaman bank menekankan pengaruh kebijakan moneter pada kondisi keuangan
bank baik pada sisi aset maupun liabilitasnya. Jika bank sentral melakukan kebijakan
moneter ekspansif, misalnya dengan menambah jumlah uang beredar, maka suku
bunga SBI akan turun. Penurunana ini akan menurunkan kuantitas SBI dan sebaliknya
akan meningkatkan deposito. Disebabkan oleh penurunan biaya dana (cost of fund),
maka suku bunga pinjaman/kredit juga akan turun, sehingga mengurangi tindakan
moral hazard dan adverse selection oleh perusahaan. Keadaan ini akan mendorong
peningkatan pinjaman/kredit untuk perusahaan melakukan investasi yang pada
akhirnya akan menigkatkan output (Mishkin, 2001).
Ada dua hal yang menjadi syarat bagi berlakunya jalur ini, yaitu:
a

Kredit dan surat berharga bukan merupakan substitusi sempurna bagi sebagian
peminjam atau sebagian peminjam bergantung pada kredit bank

Bank sentral harus mampu mempengaruhi ketersediaan kredit bank.

Kebijakan moneter akan memiliki efek yang lebih besar pada perusahaan kecil
dibandingkan pada perusahaan besar (Mishkin, 2001). Hal ini dikarenakan perusahaan

kecil lebih bergantung pada kredit bank, sedangkan perusahaan besar dapat
mengakses pasar modal secara langsung melalui penerbitan saham dan obligasi.
2

Jalur Neraca Perusahaan


Jalur neraca perusahaan menekankan pengaruh kebijakan moneter pada kondisi
keuangan perusahaan, dan selanjutnya mempengaruhi akses perusahaan untuk
mendapatkan kredit (Andriyani, 2008). Dalam jalur ini, jika bank Sentral melakukan
tindakan kebijakan moneter yang ekspansif, maka suku bunga di pasar uang akan
turun, lalu mendorong harga saham mengalami peningkatan. Sejalan dengan
peningkatan tersebut, nilai bersih perusahaan (networth) akan meningkat disebabkan
meningkatnya harga equity yang selanjutnya akan mengurangi tindakan adverse
selection dan moral hazard oleh perusahaan. Kondisi ini mendorong peningkatan
pemberian kredit oleh bank, selanjutnya meningkatkan investasi, dan pada akhirnya
meningkatkan output (Mishkin, 2001).

I. Jumlah uang beredar


Jumlah uang yang tersedia disebut jumlah uang beredar. Ada beberapa definisi
dari uang, masing-masing berbeda sesuai dengan tingkat likuiditasnya. Menurut nopirin
(1986:3) mendefinisikan uang menjadi tiga yaitu M1, M2 dan M3.
1. M1 = C + DD
C = Currency (uang kartal)
DD = demand deposit (uang giral)
Uang beredar adalah uang kartal ditambah uang giral disebut dengan uang dalam arti
sempit dan dituliskan dengan M1
2. M2 = M1 + TD + SD
TD = Time deposit (deposit berjangka)

SD = saving deposit (saldo tabungan)


M1 sebagai uang beredar yaitu daya beli yang bisa langsung digunakan untuk alat
pembayaran dan bisa diperluas demgan alat pembayaran yang mendekati uang misal
deposito berjangka dan simpanan tabungan. Uang dalam M2 ini adalah daya beli bagi
pemiliknya tetapi dalam penggunaannya tidak semudah uang tunai. M2 sering disebut
dengan uang beredar dalamarti luas atau broad money.
3. M3 = M2 + seluruh SD dan TD lainnya pada bank dan non bank
M3 mencakup semua depositi berjangka dan simpanan tabungan baik rupiah maupun
mata uang asing milik masayarakat yang terdapat pada bank atau lembaga keuangan
non bank, M3 didebut dengan uang kuasi.
Mankiw ( 2009) juga mengelompokan uang menjadi M1, M2 dan M3. Bank indonesia
sebagai bank sentral juga menggunakan jenis uang ini sebagai ukuran jumlah uang
beredar yang ada dalam kegiatan perekonomian.
Tabel 2.1
Jenis dan ukuran uang beredar
Simbol
C atau
M0

Cakupan asset
Mata uang ( currency) disebut
juga uang kartal yaitu terdiri dari
jumlah uang kertas dan uang
logam
M1
Mata uang ditambah deposito
penerimaan, traveelers check, dan
deposito yang dapat diuangkan
dengan cek lainnya
M2
M1 ditambah neraca reksadana pasar
uang ritel, deposito tabungan
( rekening depisito pasar uang) dan
deposito berjangka kecil
M3
M2 ditambah deposito berjangka
besar, kesepakatan pembelian ulang,
eurodollar dan neraca reksadana
pasar uang institusi
Sumber : Mankiw, 2009 dan Bank Indonesia, 2009
J. Teori Kuantitas Uang

Cakupan aset (bank indonesia)


Jenis uang secara sempit yaitu uang
kertas dan logam
M0 ditambah dengan demand
deposit (DD) yaitu tabungan dan
deposito sebagai perhitungan JUB
yang sangat likuid
M1 ditambah time deposit (TD)
yaitu tabungan, deposito dan
sejenisnya yang tidak likuid atau
tidak mudah dicairkan
M2 ditambah dengan deposito
jangka panjang yaitu dana-dana
institusional yang ada dipasar

Teori ini menyatakan bahwa kuat dan lemahnya nilai mata uang tergantung dari
jumlah uang yang beredar. Jika jumlah yang berubaha menjadi dua kali lipat, maka nilai
uang akan emnurun menjadi setengah dari harga semula. Jumlah uang yang beredar
ditentukan oleh bank sentral, dan jumlah uang yang diminta (money demand) ditentukan
beberapa faktor, yaitu tingkat harga rata-rata dalam kegiatan ekonomi. Jumlah uang yang
diminta tergantung dari harga barang dan jasa yang tersedia. Semakin tinggi tingkat harga
maka semakin besar jumlah uang yang diminta.
Teori ini berasal dari pemikiran salah satu ekonom David Hume (1776).
Masyarakat memegang uang untuk membeli barang dan jasa, jika masyarakat
membutuhkan uang utnuk bertransaksi maka semakin banyak uang yang akan dipegang.
Sehingga kuantitas uang dalamperekonomian berkaitan erat dengan jumlah uang yang
ditukarkan untuk transaksi. Hubungan diantara transaksi dan uang ditunjukkan dalam
persamaan berikut, yang disebut persamaan kuantitas (quantity equation):
M x V= P x T.............................................................................................(2.4)
Sisi kanan dari persamaan diatas menyatakan transaksi (T) adalah total jumlah transaksi
selama periode waktu tertentu. T adalah berapa kali dalamsetahun barang dan jasa
ditukarkan dengan uang, dan P adalah harga dari trabsaksi tertentu. Produk dari harga
transaksi dan jumlah transaksi (PT) adalah jumlah uang yang digunakan untuk transaksi
atau ditukarkan dalam setahun. Sisi kiri pada persamaan tersebut menyatakan bahwa uang
yang digunakan untuk melakukan transaksi , M adalah kuantitas uang dan V adalah
perputaran uang transaksi dan mengukur tingkat di aman uang bersirkulasi dalam
kegiatan perekonomian.
Secara umum teori kuantitas uang ( Mankiw, 2009:83) menjelaskan bahwa pengaruh
jumlah uang beredar terhadap perekonomian dkaitkan dengan harga dan output. Karena
menurutnya pada persamaan pertama dinilai bahwa jumlah transaksi menjadi susah untuk

diukur maka T jumlah transaksi akan diganti menjadi Y yaitu output. Hubungan antara
jumlah uang beredar, output dan harga dapat dituliskan dengan persamaan:
M x V = P x Y.............................................................................................(2.5)
Dimana P adalah harga (defaltor GDP), Y adalaha jumlah output (PDB riil), M adalah
jumlah uang beredar, PY adalah PDB nominal dan V adalah perputaran pendapatan uang.
Dan persamaan kuantitas dengan menggunkan ini adalah yang paling umum.
K. Suku Bunga
Para ekonom membendakan anatara tingkat bunga nominal dan tingkat bunga riil.
Perbedaan ini adalah revelan ketika seluruh tingkat harga berubah. Tingkat bunga
nominal (nominal interest rate) adalah tingkat bunga yang bisa dilaporkan yaitu tingkat
bunga yang dibayar investor utnuk meminjam uang. Tingkat bunga riil (real interest rate)
adalah tingkat bunga nominal yang dikoreksi untuk menghilangkan pengaruh inflasi
(Mankiw, 2009:61).
Bank Indonesia menetapkan tingkat suku bunga tertentu dari waktu ke waktu suku
bunga tersebut dinamakan suku bunga SBI. Suku bunga SBI dihitung dengan
menggunkan arta-rata tertimbnagn dan memperhitungkan bobot volume transaksi yang
terjadi pada periode yang bersangkutan. Jenis suku bunga dapat berebda karena tiga hal
(Mankiw, 2009:62), yaitu:
a. Jangka waktu pinjaman
b. Resiko kredit
c. Pajak
L. Teori Tingkat Bunga Fisher
Tingkat bunga yang dibayar bank sebagai tingkat bunga nominal (nominal interest
rate) dan kenaikan daya beli dengan tingkat bunga riil (real interest rate). Jika i

menyatajan tingkat bunga nominal, r tingkat bunga riil,

adalah tingkat inflasi, maka

hubungan antara ketiga variabel tersebut dapat dirumuskan dengan:


r= i -

.....................................................................................................(2.4)

Tingkat bunga riil adalah perbedaan diantara tingkat bunga nominal dan inflasi.
Tingkat bunga bisa berubah karena dua alasan, yaitu karena tingkat bunga riil berubah
dan karena tingkat inflasi berubah.
M. Kebijakan Moneter Untuk Mengendalikan Suku Bunga
Pada gambar dibawah menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang dilakukan
melalui penurunan jumlah uang yang beredar untuk mempengaruhi keseimbangan suku
bunga. Kurva vertikal MS2 adalah jumlah uang yang beredar, dan permintaan uang
diperlihatkan dengan kurva LP, keseimbangan awal tingkat suku bunga i. Penurunan
jumlah uang yang beredar menyebabkan kurva jumlah uang beredar bergeser ke kiri dari
MS1 ke MS2, terjadi keseimbangan lebih tinggi yaitu i1.
i
MS1

MS2

i1
io

LP

M1

M2

Gambar 2.5. perubahan penawaran uang


Sumber : Mankiw, 2000

N. Teori Paritas Suku Bunga

Inti dari teori ini adalah menjelaskan penentuan tingakt unga dalam sistem devisa
bebas (yaitu jika penduduk masing-masing negara bebas meperjual belikan devisa) .
dalam teori ini pokok bahasannya adalah jiak dalam sistem devisa bebas maka tingkat
bunga di negara satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain setelah
diperhitungkan perkiraan mengenai laju depresiasi mata uang negara yang satu terhadap
negara lain. Secara matematis dijelaskan dengan:
i = i* +

...................................................................................(2.5)

dimana i : tingkat bunga nominal didalam negeri


i*: tingkat bunga nominal diluar negeri
: laju depresiasi mata uang dlam negeri terhadap matauang asing yang
diperkirakan akan terjadi
1. Uncovered interest parity
Konsep ini menjelaskan hubungan antara tingkat bunga domestik (i), tingkat
suku bunga luar negeri (i*) dan depresiasi mata uang domestik(x). Konsep ini
menjelaskan perilaku investor dalam mengambil keputusan apakah akan menamkan
modalnya didalam negeri atau diluar negeri. Dapat dirimuskan sebagai berikut:
i = i* + x....................................................................................(2.6)
Persamaan diatas diubah menjadi:
i x = i*.....................................................................................(2.7)
Sepanjang tingkat pengembalian / pendapatan investasi di dalam negeri
(setelah memperhitungkan tingkat depresiasi mata uang domestik) lebih besar
dibandingkan pendapatan investasi di luar negeri, hal tesebut membuat

investor

tertarik untuk meningkatkan investasinya di dalam negeri, tetapi apabila hal yang
terjadi adalah sebaliknya maka investasi kan berrpikiran utnuk menarik investasinya
dan menanam investasi keluar negeri (Syabran, 2004).

2. Covered interest parity


Dalam kondisi ini

menjelaskan jika tidak ada kesempatan untuk meraih

keuntungan karena terjadi perpindahan tidak dapat emngubah pengembalian aset


untuk itu
O. Penelitian Sebelumnya
1. Penelitian Hakim
Hakim dalam penelitian yang ebrjudul Perbandingan peranan jalur kredit dan
jalur suku bunga pada mekanisme transmisi kebijakan moneter 1990-1999 dengan
analaisis VAR, menganalisis tentang peranan jalur kredit dan jalur tingkat suku bunga
pada mekanisme tranmsisi kebijakan moneter Dan membandingkan perspektif jangka
panjang (1990-1999) dan jangka pendek (1997-1999) dari kedua jalur. Dengan
menggunakan data. Menurut konvensi, studi meknanisme transmisi kebijakan moneter
dengan menggunkan VAR minimal terdiri dari tiga variabel yaitu output, harga dan
tingkat suku bunga. Hasil dari penelitiannya dengan menggunakan metode VAR
ditemukan bahwa jalur kredit lebih berperan dibandingkan dengan jalur tingkat suku
bunga.
2. Penelitian Yusuf
Penelitian yang dilakukanYusuf berjudul Analisis efektifitas jalur-jalur
transmisi kebijakan moneter sasaran tunggal inflasi dengan menganalisis tentang
jalur yang paling efektif dalam implementasi kebijakan moneter terhadap sasaran
tunggal inflasi dan meneliti variabel yang paling cocok digunakan untuk assaran
operasional. Dengan menggunakan alat analisis VAR data yang digunakan adalah
inflasi, uang inti,uang sekunder, output gap, suku bunga SBI, suku bunga deposito,
suku bunga kredit, nilai tukar dan PUAB. Hasilnya menyebutkan bahwa jalur suku
bunga lebih efektif sedangkan sasaran operasional yang paling kuat adalah PUAB.

3. Penelitian Natsir
Penelitian yang dilakukan ini dengan judul Analisis empiris efektifitas
nekanisme transmisi kebijakan monter di Indonesia melalui jalur niali tukar periode
1990:2-2007:1 . Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dan membuktikan
efektifitas jalur nialai tukar dalam MTKM di Indonesia dalammewujudkan ssaran
akhir kebijakan moneter (inflasi). Penelitan tersebut penelitian eksplanatori dan secara
spesifik penelitian ini fokus terhadap kecepatan dan kekuatan respons suatu variabel
terhadap shock variabel lainnya. Dengan menggunakan pendekatan VARdan
mengguanakan data time series hasil penelitiannya dengan menggunakan jalur nilai
tukar membutuhkan waktu time lag atau kecepatan sekitar 16 triwulan hinggan
terwujudnya inflasi. Respon variabel-variabel pada nilai tukar terhadap peruabahn
instrumen moneter (suku bunga SBI) relatif lemah dan variabel niali tukar hanya
mampu menjelaskan variasi infalasi sebesar 19,70% lebih kecil dibandingkan dengan
yang dapat dijelaskna oleh paritas suku bunga (PSB) yakni sbesar 43,27%. Ha
tersebut menunjukkan bahwa granger causality dan predictive yang lemah anatar kurs
dan inflasi.
4. Penelitian Amrini
Penelitian ini berjudul analisis pengaruh kebijakan moneter terhadap inflasi
dan perekonomian di Indonesia. Dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruhnya dan untuk pengambilan kebijan selanjutnya. Data yang digunakan data
sekunder terdiri dari infalsi, JUB , suku bunga, nilai tukar, investasi dan tenaga kerja.
Dengan menggunakan metode OLS dan untuk meramalkan atau memprediksi dengan
teknik ARIMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang digunakan
berpengaruh terhadap inflasi hanya pertumbuhan ekonomi yang tidak. Investasi asing,
investasi domestik perpengaruh singnifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. dengan

menggunakan terknik prediksi tersebut prospekperekonomian Indonesia meningkat


terus menerus tahun 2014-2018.
5. Penelitian Herlina
Penelitian Herlina ini dengan judul indentifikasi mekanisme transmisi
kebijakan moneter di Indonesia tahun 2000-2011. Dengan tujuan untuk
mengidentifikasi hubungan jalur-jalur transmisi kebijakan moneter Indonesia tahun
2000 sampai tagun 2011. Data yang digunakn data sekunder runtut waktu (time series)
yaitu rSBI, PUAB, PDBR, Inflasi, Investasi sektor riil, investasi sektor swasta, kredit
konsumsi, kredit investasi riil, konsumsi riil, net foreign asset, nilai tukar, ekspor riil,
IHSG, suku bunga deposito, suku bunga kredit dan paritas suku bunga. Dengan
menggunkan metode OLS hasilnya SBI sebagai instrumen moneter masih dapat
dipertahankan sebagai acuan utnuk menegndalikan variabel-variabel kebijakan
moneter. Pada saluran kredit PUAB tidak memilik hungan kausalitas terhadap kredit
investasi dan investasi riil dapat mempengaruhi kerdit riil banks komersil. Pada jalur
suku bunga konsumsi riil sektor swasta tidak memeiliki pengaruh terhadap suku
bunga deposito. Dan jalur aset tidak ada hubungan antara investasi riil sektor swasta
dan konsumsi riil sektor swasta terhadap IHSG.
6. Penelitinan Umi Julaihah dan Insukindro
Dengan judul dampak kebijakan moneter terhadap variabel makro ekonomi
di Indonesia tahun 1983-2003. Pene;itian ini menekan kan pada tujuan untuk melihat
peran dan yang efektif agregat monter (M0) dan suu bunga (SBI) terhadap variabel
makroekonomi. Pemilihan variabel makroekonomi dalam pene;itian ini dibentuk dari
reduce form persamaan IS-LM-AS. Model tersebut memliki tiga persamaan yaitu
fungsi permintaan, fungsi permintaanuang dan penwaran agregat. mengguanakan
variabel jumlah uang primer, SBI, suku bunga deposito, tingkat inflasi, PDB dan nilai

tukar. Dengan menggunanan VAR/VECM hasilnya bahwa uang primer hanya


berkontribusi terhadap inflasi sebeesar 5% tetapi tidak memiliki kontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi, sedangkan SBI berkontribusi lebih luat terhadapa SBI.
Penggunaan variabel suku bunga SBI Sebagai kebiajkan moenetr lebih baiki dari uang
primer.
7. Penelitian di Burundi oleh Rutayisire (2010)
Dalam penelitiannya ini menggunakan suku bunnga sebagai kebijakannya
dengan duji dengan dua lag untuk menghindari korelasi residu pada urutan lag
pertama. Dan untuk emmastikan kekuatan relatif jalur suku bunga. Variabel yang
digunakan adalah GDP , CPI, uang cadangan dan kredit. Dan hasilnya memiliki
pengaruh terhadap harga. Di Burundi jalur yang efektif adalah suku bunga dari pada
jalur kerdit dan nilai tukar.
8. Penelitian di Uganda (2005) dan Tanzania
Dalam penelitiannya Peiris ( 2005 ) mempekerjakan enam variabel Model
VAR rekursif dan menemukan bahwa kejutan bagi M2 meningkatkan tingkat harga.
Ditanzania penelitian yang dilakukan oleh Buigut (2009) dengan menggunakan VAR
struktural untuk data tahunan Tanzania pada 1984-2005 dan menemukan bukti bahwa
guncangan suku bunga memiliki efek yang lemah dan tidak signifikansi terhadap
oupu dan inflasi. Dan montiel (2012) meneukan bahwa uang cadanganmemiliki efek
yang signifikan terhadap tingkat harga dalam model VAR Rekursif tetapi ketiak
model VAR struktural yang digunakan signifikasi terhadap tingkat harag telah
menghilang dan memiliki efek terhadap output. Sedangkan jika menggunakan
pendekataan tunggal menemukan inflasi mempengaruhi inflasi dalam jangka pendek
maupun jangka penjang secara statitik dan signifikan.
9. Penelitian Cheng (2006) di Kenya

Cheng menggunakn rekursif dan non rekursif vektor autorgersi (SVAR) untuk
data bulanan di kenya u tuk tahun 1997-2005) dan menemukan beberapa bukti bahwa
keberadaan saluran tansmisi tradisoinal suku bunga dapat mempengaruhi output dan
dampak yang kuat dari nilai tukar dalam mempengaruhi inflasi.
10. Erikson (2011)
Melakukan penelitian di Chile, Peru, New Zeland dan Uruguay. Dalaam
penelitiannya bagaiman pengaruh suku bunga masing-masing negara terutama tingkat
pasar uang, suku bunga depositi,dan suku bunga pinjaman. Dengan menggunakan
model VAR menekukan bahwa di Chili dan Selandia baru suku bunga lulus uji
signifikan terhadap inflasi dan otput. Tetapi di Urugua dan New Zeland suku bunga
lemah dan jalur nuilai tukar memiliki peran utuk mengendalikan inflasi dan otuput.
11. Penelitian Bature
Penelitian ini pada tahun 2014 di Nigeria. Mekanisme transmisi moneter di
Nigeria menelusuri hubungan antara perubahan pasokan uang dan variabel riil sperti
output, lapangan pekerjaan dan harga barang dan jasa. Hasil dari penelitian tersebut
menunjukkan bahwa saluran nilai tukar lemah dibandingkan dengan jalur kredit
karena banyak masyarakat di Nigeria membutuhkan kredit dari perbankan untuk
menggerakkan usaha mereka dari yang kecil dan menengah serta usaha perorangan.
Oleh karenan itu jalur kredit harus didukung juga dengan jalur nilain tukar untuk
memfasilitasi bisnis dan investasi global.

12. Penelitian Fahri Ersandi (2013) dari Universitas Sebelas Maret Surakarta
Penelitian ini berjudul Analisis Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter
Jalur Bank Lending Di Era Penargetan Inflasi Periode 2002:1-2012:4. Untuk

mengetahui eksistensi dari jalur Bank Lending di masing-masing jenis Bank


digunakan uji Granger Causality. Hasil uji Granger Causality menunjukkan bahwa
masing-masing jenis Bank memiliki pola transmisi yang berbeda namun secara umum
menunjukkan eksistensi jalur Bank Lending. Dari hasil uji IRF menunjukkan bahwa
secara umum shock kebijakan moneter berdampak positif terhadap inflasi dan
direspon fluktuatif oleh output riil. Sedangkan dari hasil uji FEVD menunjukkan
bahwa policy rate dalam jangka panjang cukup baik dalam menjelaskan variabilitas
inflasi namun tidak baik dalam menjelaskan variabilitas output riil. Hal tersebut bisa
disimpulkan bahwa policy rate dalam jangka panjang efektif dalam mempengaruhi
inflasi namun tidak efektif dalam mempengaruhi output riil. Pemerintah dan Bank
Indonesia sebagai otoritas moneter diharapkan mempertimbangkan faktor internal
Bank agar proses transmisi kebijakan moneter berjalan dengan semestinya.
P. Kerangka pemikiran
Menurut Hakim (1999: 104). Dalam mekanisme transmisi memiliki beberapa jalur
atau saluran, pada paradigma lama menggunakan pendekatan jalur kuantitas terdiri dari
dari jalur langsung dan jalur kredit. Sedangkan pada paradigma baru dari pendekatan
jalur harga, jalur tingkat suku bunga, jalur nilai tukar dan efek aset lain. Nopirin
(2009:79) menyebutkan bahwa kurangnya informasi tentang jalur pengaruh (mekanisme
transmisi) kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi (yang tercermin dengan output,
harga dan employment)
Analisis efektifitas mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia melalui jalur
biali tuakr dan jalur kredit. Dalam memcahkan masalah diperlukan susunan kerangka
pemikiran agar mempunyai bentuk yang terarah pada pemecahan masalah. Dan skema
dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Kebijakan Moneter

Jalur Kredit

Jalur Nilai Tukar

Suku Bunga SBI

Suku Bunga SBI

Suku Bunga
Deposito

Suku Bunga
Deposito

Jumlah Uang
Beredar

Kurs

Suku bunga kredit

Capital Inflows

Investasi

Ekspor Neto

PDB

Inflasi

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

Q. Hipotesis
Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

1. Terdapat saling pengaruh antara variabel dalam penelitian yaitu suku bunga SBI, suku
bunga deposito, jumlah uang beredar, suku bunga kredit, investasi, PDB, dan inflasi
dalam mentransmisikan kebijakan moneter di Indonesia melalui jalur kredit.
2. Terdapat saling pengaruh antara variabel dalam penelitian yaitu suku bunga SBI, suku
bunga deposito, kurs, capital inflow, ekspor neto, PDB, dan inflasi dalam
menstransmisikan kebijakan moneter di Indonesia melalui jalur nilai tukar.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hipotesa terdaulu dengan meniliti
tentang pengaruh saluran JUB dan saluran suku bunga terhadap PDB dan inflasi.
Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan data triwulanan antara tahun
2004.1 2014.4 dan jumlah sampel yang akan diambil adalah 40 sampel. Penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang berkenaan dengan data kauntitatif yaitu penelitian yang
dilambangkan dengan simbol-simbol matematik (Amir dalam Ahmad, 2006: 119) dengan
menggunakan data sebagai berikut: suku bunga SBI, suku bunga deposito, jumlah uang
beredar, suku bunga kredit, investasi, kurs, capital inflow, ekspor neto, PDB, dan inflasi.
Tahap awal dalam penelitian ini, penulis mencoba memberikan gambaran tentang
pengertian kebiajkan moneter dan bekerjanya mekanisme transmisi kebijakan moneter
moneter hingga menyentuh sasarn akhir. Dan proses bekerjanya mekanisme transmisi
kebijakan moneter jalur suku bunga dan jalur jumlah uang beredar. Kemudian setelah itu,
mengumpulkan data-adat terkait variabel-variabel penelitian yang akan diteliti berupa
data sekunder. Kemudian setelah data-data tersebut diperoleh, tahap selanjutnya adalah
melakukan pengujian-pengujian secara prosedural sesuari dengan tahapan pengujian pada
model vektor autoregression (VAR)
B. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis data
Jenis data yang digunkan data sekunder. Jenis data yang digunakan adalah data
triwulanan antara tahun 2004.1-2014.4 dengan menggunakan data sebagai berikut: r
bunga SBI, r deposito, jumlah uang beredar, suku bunga kredit, investasi, kurs, capital
inflow, ekspor neto, PDB, dan inflasi.

b. Sumber data
Pemilihan data sekunder karena penelitian ini menggunakan lingkup data yang
cakupannya luas yakni di Indonesia sehingga jika menggunakan data secara primer
mungkin akan mengalami banyak kendala. Dan diperoleh dari berbagai sumber, yaitu data
publikasi statistik ekonomi dan keuangan indonesia (SEKI) dari Bank Indonesia (BI),
publikasi Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) dan data lain yang bersumber dari
referensi studi kepustakaan melalui makalah, jurnal, artikel dan bahan lain yang didapat
dari internet.
C. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sekunder, teknik yang digunakan
dalam teknik pengumpulan data yaitu studi kepustakaan, yaitu data yang peneliti
dapatkan berkaitan dengan tema skripsi ini, jurnal, buku-buku dan bahan tertulis lainnya
yang terkait dengan variabel yang diteliti.
D. Definisi Operasional Variabel
Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Bank Indonesia
(BI), dimana data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Produk Domestik Bruto (PDB)
PDB riil adalah jumlah produksi barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan dalam
batas wilayah suatu negara selama satu tahun menurut harga tetap yaitu dengan cara
menilainya kembali berdasarkan kepada harga-harga tahun dasar perbandingan
ddengan menggunakan indeks harga konsumen (price index). Laju pertumbuhan
ekomomi:
PDBt PDBTt-1
X 100%..........................................(3.1)
PDBt-1

Keterangan :
PDBt

= produk domestik bruto pada tahun t

PDBt-1 = produk domestik bruto pada tahun t-1


2. Inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga secara umum yang terjadi di suatu wilayah dalam waktu
tertentu. Tingkat inflasi yang digunkan merupakan hasil dari perhitungan berdasarkan
IHK yang dinyatakan dlam bentuk persen (%) sertiap tahunnya. Pemilihan indeks
tersebut sebagai indikator yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Berdasarkan
indeks harga konsumen (IHK) tersebut maka laju inflasi dapat dirumuskan dengan
Inflasit = IHKt
IHKt-1

IHKt
IHKt-1

x 100 %......................................................................

(3.2)

Dimana :
Inflasit = inflasi di indonesia pada periode t
IHKt = indeks harga konsumen di Indonesia pada perode t
IHKt-1 = indeksa harga konsumen di Indonesia pada periode t-1
3. Suku bunga SBI
Variabel suku bunga sertifikat Bank Indonesia adalah variabel independen

suku

bunga dalam hal ini suku bunga SBI pada umumnya ditunjukkan dalam persen karena
rasio dari pendapatan bunga yang diperoleh terhadap besar nilai Sertifikat Bank
Indonesia yang dimiliki oeleh SBI. Pemebelian SBI ini dilakukan melalui mekanisme
sistem perbankan, yaitu penempatan atau pencairan kembali dana-dana perbankan dan
dana BUMN maupun perusahaan milik negara. Tingkat bunga SBI merupakan data
triwulan.
4. Suku bunga deposito
Suku bunga deposito adalah tingkat suku bunga yang berlaku pada deposito bank
umum dengan jangka waktu satu tahun

5. Jumlah uang beredar (M1)


Uang beredar adalah uang yang diterima secara umum oleh masyarakat penelitian ini
menggunakan M1 yaitu uang kartal dan uang giral. Dalam milyar rupiah. Pengukuran
jumlah uang beredar dilihat dari pendekatan transaksi dapat dilihat dari persamaan :
M1 = C + D..................................................................................(3.3)
6. Investasi
Investasi merupakan penanaman modal biasanya dalam jangka panjang untuk
pengadaan aktiva tetap atau pembelian saham-saham dan surat berharga lain untuk
memperoleh keuntungan
7. Capital inflows
Capital inflows merupakan arus modal masuk dari luar negeri
8. Ekspor netto
Ekspor netto adalah jumlah ekspor dikurangi impor dari tahun 2004 sampai tahun
2014
9. Suku bunga kredit
Kredit

merupakan fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan

usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan akan membayarnya kembali
dalam jangka waktu yang ditentukan. Tingkat suku bunga kredit bank merupakan
suku bunga kredit yang diberikan bank umum.
10. Nilai tukar (kurs)
Nilai tukar merupakan perbandingan mata uang dalam negeri dengan mata uang luar
negeri. Nilai tukar yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurs rupiah terhadap
dollar AS.
E. Metode Analisis

Penelitian ini akan memfokuskan perbandingan peranan jalur suku bunga dan jalur
uang beredar. Untuk membantu dan mempermudah analisis perekonomian dengan
berbagai variabel ekonomi yang tersedia dapat dimanfaatkan ekonometrika yang dapat
diartikan sebagai pengukuran ekonomi. ekonometrika adalah suatu ilmu yang
mempelajari analisis kuantitatif dari fenomena ekonomi dalam artian secara umum.
Sehubungan dengan penyususnan penelitian ini akan melihat transmisi kebijakan moneter
di Indonesia dengan VAR model, penggunaan VAR dimaksudkan untuk melihat
kesesuaian teori dengan kondisi Indonesia dan melihat jalur transmisi kebijakan moneteer
diantara jalur suku bunga dan jalur uang beredar terhadap pertumbuhan ekonomi dan
inflasi. Hasil pengujian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembentukan
kebijakan tentang inflasi dan pertumbuhan ekonomi sebagaiman tercermin dari
pertumbuhan PDB berdasarkan harga konstan dan inflasi berdasarkan IHK.
1. Metode Vector Autoregression (VAR)
Model Vector Autoregression pertama kali ditemukan oleh Sims (1980),
muncul karena sebagai kritik atas permasalahan terhadap persamaan simultan yang
proses identifikasi variabel yang bersifat eksogen dan endogen, karena keputusan
yang diambil bersifat subyektif. Model var menjelaskan bahwa setiap variabel. Sims
berpendapat, hubungan yang simultan antar variabel yang diamati maka variabelvariabel tersebut perlu diperlakukan sama, sehingga tidak ada lagi variabel endogen
dan eksogen. Berdasarkan pemikiran itu maka Sims memperkenalkan konsep yang
disebut Vektor autoregreddion (VAR). Model VAR biasa digunakan untuk
memproyeksikan sistem variabel runtun waktu (time series) dan menganalisis dampak
dinamis gangguan pada persamaan tersebut. Model VAR diharapkan mampu
memberikan solusi terhadap model lain yang mengacu pada teori dan VAR

eminimalkan pendekatan teori dengan maksud model ini dapat menjelaskan fenomena
ekonomi dengan baik.
Berdasarkan bentuknya, metode VAR yang secara umum sering digunakan
adalah restricted VAR, unrestricted VAR dan structural VAR. Unrestricted VAR
(VARbiasa) digunakan jika dalam pembentukanVAR dan data telah stasioner pada
tingkat level. Bentuk VAR yang terestriksi juga disebut engan VECM (Vector Error
Correction Models). Restriksi tambahan diberikan karena keberadaan dinamisai
jangka pendek. Sementara VECM merektrisi hunbunganjangka panjang variaelvarabel endogen agar konvergen ke dalam hubungan kointergrasinya, namun tetap
membiarkan kberadaan dinamisasi jangkapendek. Sementrasa SVAR adalah
merupakan VAR yang terestriksi. Perbedaan terletak paddarestriksi yang berdasar
pada hubungan teoritis yng kuat antar variabel-variabel yang digunakan dalamsistem
VAR. Oleh karena itu bentuk SVAR sering disebut sebagai theoritical VAR.
Dengan model VAR seluruh variabel endogen yang diyakini saling
berhubungan digunakan dalam persamaan. Untuk melihat hubungan antara variabel
didalam VAR dibutuhkan sejumlah kelambanan variabel yang ada (Variabel jeda).
Kelambanan variabel diperlukan unuk menangkap efek dari variabel terseebut
terhadap variabel lain didalam model. Model VAR merupakan sistem persamaan yang
meperlihatkan setiap peubah sebagai linier darikonstanta dan niai lag (lampau) dari
peubah itu sendiri serta nilai lag dari peubah lain yang ada dalam sitem itu. Studi
mekanisme transmisi kebijakan moneter dengan menggunakn VAR minimal terdiri
dari tiga variabel atau endogen. Dalam penelitian ini akan membandingkan pengaruh
transmisi kebijakan moneter melalui jalur kredit dan jalur nilai tukar. Jalur kredit
melibatkan 5 (lima) variabel endogen yaitu rSBI, rDEP, JUB, KRE, dan INV serta
ditambah PDB dan Inflasi. Maka modelnya dapat dirumuskan dengan:

SBIt = a10 + k=1 a1SBIt-i + k=1 a1DEPt-i + k=1 a1JUBt-i + k=1 a1KREt-i + k=1 a1INVt-i + k=1
a1PDBt-i + k=1 a1INFt-i +e1t
DEPt = a20 + k=1 a2SBIt-i + k=1 a2DEPt-i + k=1 a2JUBt-i + k=1 a2KREt-i + k=1 a2INVt-i + k=1
a2PDBt-i + k=1 a2INFt-i +e1t
JUBt = a30 + k=1 a3SBIt-i + k=1 a3DEPt-i + k=1 a3JUBt-i + k=1 a3KREt-i + k=1 a3INVt-i + k=1
a3PDBt-i + k=1 a3INFt-i +e1t
KREt = a40 + k=1 a4SBIt-i + k=1 a4DEPt-i + k=1 a4JUBt-i + k=1 a4KREt-i + k=1 a4INVt-i + k=1
a4PDBt-i + k=1 a4INFt-i +e1t
INVt = a50 + k=1 a5SBIt-i + k=1 a5DEPt-i + k=1 a5JUBt-i + k=1 a5KREt-i + k=1 a5INVt-i + k=1
a5PDBt-i + k=1 a5INFt-i +e1t
PDB = a60 + k=1 a6SBIt-i + k=1 a6DEPt-i + k=1 a6JUBt-i + k=1 a6KREt-i + k=1 a6INVt-i + k=1
a6PDBt-i + k=1 a6INFt-i +e1t
INF = a70 + k=1 a7SBIt-i + k=1 a7DEPt-i + k=1 a7JUBt-i + k=1 a7KREt-i + k=1 a7INVt-i + k=1
a7PDBt-i + k=1 a7INFt-i +e1t
Jalur nilai tukar juga melibatkan 5 (lima) variabel endogen yaitu rSBI, rDEP, KURS,
CAP, dan EKS serta ditambah PDB dan Inflasi. Maka modelnya dapat dirumuskan dengan:
SBIt = a10 + k=1 a1SBIt-i + k=1 a1DEPt-i + k=1 a1KURSt-i + k=1 a1CAPt-i + k=1 a1EKSt-i + k=1
a1PDBt-i + k=1 a1INFt-i +e1t
DEPt = a20 + k=1 a2SBIt-i + k=1 a2DEPt-i + k=1 a2KURSt-i + k=1 a2CAPt-i + k=1 a2EKSt-i +
k=1 a2PDBt-i + k=1 a2INFt-i +e1t
KURSt = a30 + k=1 a3SBIt-i + k=1 a3DEPt-i + k=1 a3KURSt-i + k=1 a3CAPt-i + k=1 a3EKSt-i +
k=1 a3PDBt-i + k=1 a3INFt-i +e1t
CAPt = a40 + k=1 a4SBIt-i + k=1 a4DEPt-i + k=1 a4KURSt-i + k=1 a4CAPt-i + k=1 a4EKSt-i +
k=1 a4PDBt-i + k=1 a4INFt-i +e1t

EKSt = a50 + k=1 a5SBIt-i + k=1 a5DEPt-i + k=1 a5KURSt-i + k=1 a5CAPt-i + k=1 a5EKSt-i +
k=1 a5PDBt-i + k=1 a5INFt-i +e1t
PDB = a60 + k=1 a6SBIt-i + k=1 a6DEPt-i + k=1 a6KURSt-i + k=1 a6CAPt-i + k=1 a6EKSt-i +
k=1 a6PDBt-i + k=1 a6INFt-i +e1t
INF = a70 + k=1 a7SBIt-i + k=1 a7DEPt-i + k=1 a7KURSt-i + k=1 a7CAPt-i + k=1 a7EKSt-i + k=1
a7PDBt-i + k=1 a7INFt-i +e1t
Kedua model tersebut terlihat bahwa model VAR ini persamaan disebelah
kanan hanya terdiri dari kelambanan variabel sebelah kiri sehingga disebut
autoregressive. Sedangkan vector karena berhubungan dengan 2( dua) atau lebih
variabel didalam variabel didalam model tersebut. Secara umum model VAR dengan
variabel n variabel ednogen dapat ditulis dengan:
Ynt =

+ i=1 Y1t-i + i=1 Y2t-i + ................+i =1 Ynt-i +en.t

2. Penyusunan model VAR


Dari model diatas meodel persamaan VAR tersebut dapat dilihat persamaan
yang digunakan pada model VAR adalah persamaan regresi berdasarkan time series.
Permasalahan yang sering muncul dari penggunaan time series adalah permasalahan
tentang stasioner atau tidak stasuoner data tersebut dan kointegrasi antar variabel
tersebut.
Langkah awal untuk menggunakan model VAR adalah melakukan uji
stasionaritas data. Uji stasionaritas dilakukan dengan uji akar unit ADF (Augmented
Dickey Fuller), mentukan lag opmtimal yang akan digunakan, melakukan uji
stabilitas model VAR, uji kointegrasi, uji kausalitas, dan estimasi terkhir adalah hasil
impulse response dan variance decompotions.
2.1 Uji Stasioner

Dalam melakukan penelitian syarat yang paling penting adalah data yang
stasioner,teruatam jika dalam penelitian dengan mengunakan data time series yang
relatif panjang karena dapat menghasilkan regresi yang semu / lancung jka
kecenderungan

rata-rata

dan

variannya

tidak

konstan.karena

dapat

mengindetifikasi regresi yangs emu, uji stasioneritas data adapat mendukung


penjelasan terhadap perilaku suatu data ataumodel berdasrkan teori ekonomi
tertentu.
Nilai hasil pengujian dengan Augmented Dickey-Fuller test (ADF) ditujukkan
dengan nilai statistik t pada koefisien regresi variabel yang diamati (X). Jiak niali
ADF lebih besar dibanding nilai test critical values Mackinnon pada level 1%,
5% atau 10%., amak berart adata stasioner. Untuk menjadikan data tidak stasioner
mmenjadi stasionermaka dapat dilakuksn dengan mendiferensi. Pada tingkat
pertama biasanya data sudahmenjadi stasioner. Setelah kembali melakukan uji
akar unit dab data yang semula tidak stasioner pada diferensi pertams data telah
siap untukdiolah secar lebih lsnjut.
Data dalam model VAR disyaratkan menggunakan derajat integrasi yang
sama, sehingga jika ada data yang tidak stasiner pada level tertentu maka secara
keseluruhan data yang digunakan adalah data first difference.
2.2 Penentuan lag optimal
Sebagai konsekuensi dari penggunaan model dinamis dengan data time series
efek perubahan unit dalam variabel penjelas dirasakn selama sejumlah periode
waktu (Gujarati, 2007). Perubahan suatu variabel mungkin baru dapat dirasakan
pengaruhunya setelah perode tertentu (Time lag). Dalam metode ini penentuan
lag sangat penting. Penentuan panjang lag opytimal menggunakan beberapa
kriteria antara lain: LR (likelihood ratio test), FPE ( final prediction error), AIC

( Akaike Information criterion), SC ( schwarz criterion) dan HQ ( hannan-quinn).


Hasil penenruan lag optimal menunjukkan bahwa masing-masing kriteria
memiliki nilai referensi lag optimal yang berbeda. Kriteria LR, FPE dan HQ
mereferensikan lag empat sebagai lag optimal, SC mereferensikan lag tiga dan
kriteria AIC mereferensikan lag lima sebagai lag optimal.
Panjang selang optimal yang akan dicari dengan menggunakan krietria
tersebut, jika kriteria informasi hanya merujuk pada sebuah kandidar selang maka,
kandidat tersebut yang optimal. Dan apabila lebih dari satu kandidat maka
pemilihan akan berlanjut pada tahap ketiga. Penentuan jumlah lag yang akan
digunakan dalam model VAR dapat ditentukan menggunakan software Eviews
dengan menggunakan VAR lag orderselection criteria. Dalam VAR lag oreder
selection memiliki kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk menetukan jumlah
lag yang opaling optimal dapat menggunakan seperti AIC ( Akaike Information
Criteria), yang didefinikan sebagai berikut:
AIC (p) = logdet (p) +

..................................................(3.4)

Dimana k adalah banyaknya variabel didalam sistem, p adalah abnyak lag yang
digunakan, T adalah banyaknya observasi, dan p adalah matrik variance
convariance danresidual untuk model dengan lag p. Nilai p dipilih sedemikian
sehingga AIC bernilai sekecil mungkin.
Dan kemudian nilai hasil dari Adjusted-

variabel VAR dan masing-

masing kandidat selang akan diperbandingkan dengan penekanan pada variabelvariabel terpenting dan sistem VAR tersebut. selang optimal akan dipilih dan
sistem VAR dengan selang tertentu yang menghasilkan nilai Adjustedterbesar pada variabel variabel penting didalam sistem.
2.3 Uji kointegrasi Johansen

Uji kointegrasi dilakukan dengan melihat regresi persamaan merupakan data


stasioner atau tidak. Jika ada data yang tidak stasioner maka kemudian menjadi
stasioenr setelah didiferensi dan kemungkinan akan terjadi kointegrasi atau
terdapat hubungan jangka panjang antara keduanya. Pasangan variabel yang
berkointergrasi menunjukan bahwa variabel-variabel tersebut mempunyai
hubugan jangka panjang dan (Granger dalam Natsir, 2004:89) menyatakan bahwa
jika variael-variabel yang diamati memiliki derajat intergrasi yang sama maka
variabel-varibel tersebut telah berkointergrasi. Tetapi untul menyakinkan hal
tersebut dilakukan uji kointegrasi dengan menggunakan metode johansen.
Pengujian ini perlu dilakukan untuk menghindari fenomena regresi kancung.
Maka tahap berikutnya kan melakukan uji kointergrasi
Statistik Johansen dapat digunakan untuk melihat jumlah kointegrasi (rank
kointegrasi) antar variabel. Misal persamaan VAR adalah
Yt = A1yt-1 + .......+ Apyt-p + CDt + ut
Dengan yt adalah vektor k-variabel non satsioner I(1), Dt adalah vektor variabel
determininistik dan ut adalah vektor error. Dan persamaan VAR diatas dapat
ditulus ulang dengan persamaan:

yt = yt-1 +

+ yt-p + CDt + ut...............................................(3.5)

Dimana :

- I , i = -

Dalam uji Johansen, duji hipotesi nol terdapat sebayak r, r = 0,1,....k-1 persamaan
kontegrasi, versus hipotesis alternatif, terdapat k persamaan kointegrasi, dengan k
menyatakan banyaknya variabel endogen di dalam model VAR.

2.4 Uji Kausalitas Granger


Uji kausalitas Granger antar variabel penelitian dimaksudkan untuk
mengetahui dan membuktikan arah hubungan jangka pendek antar variabel
(Widarjono dalam Natsir, 2007:244). Secara umum uji kausalitas dimaksudakn
utuk menemukan variabel yang mana yang terjadi lebih dahulu atau dengan kata
lain uji ini digunakan untuk megetahui dari dua variabel yang berhubungan
tersebut mana yang menyebabkan variabel lain dapat berubah. Uji ini
mengidinttfikasi arah varabel dengan hubungan dua arah atau satu arah. Dalam uji
ini dapat dilihat pengaruh masa lalu terhadap kondisi sekarang sehingga data
yang digunakan time series.
Selanjutnya pada pola hubungan kausalitas untuk kasus bivariate menurut
granger terdiri dari empat macam. Dengan menuliskan perumusan antara X dan Y
maka persamaannya model kausalitas granger yaitu: (Gujarati 2000:697 dalam
yahya)
Yt =

+ ai=1 Yt-i + bi=1 Xt-i + et........................................(3.6)

Xt =

+ ci=1 Xt-i + di=1 Yt-i + et.............................................................(3.7)

Dimana Xt-i adalah lag dari variabel X dan Y dan t menunjukkan waktu dan e
adalah variabel gangguan yang diamsusikan tidak saling berkorelasi. Dar hasil
regresi diatas dapat dibedakanmenjadi empat pola kausalitas Granger yaitu:

kausalitas satu arah dari Xt ke Yt apabila bi 0 dan di = 0

kausalitas satu arah dari Yt ke Xt apabila di 0 dan bi = 0

kausalitas umpan balik bila di 0 dan bi 0

tidak saling ketergantungan bila di = 0 dan bi = 0

Untuk menguji pola kausalitas tersebut dilakukan uji F test hipotesa nol, jika nilai
F statistik lebih besar dari F kritis (F tabel) pada level signifikan maka H 0 ditolak

dalam hal ini lag varabel X diikutkan dalam regresi mejelaskan bahwa lag X
granger cause Y Q dan jika H0 diterima maka X tidak granger cause Y.
2.5 Impulse Reponse Function (IRF)
Impulse response fuction melacak efek perubahan standar deviasi salah satu
inovasi yang ada terhadao nilai sekarang dan masa depan sebuah variabel
endogen. IRF dapat melacak dampak peruabahn satu standar deviasi dari sebuah
variabel terhadap perubahan saat ini dan masa depan variabel lain dalam
persamaan VAR. Analisis ini melaacak respon dari variabel endogen didalam VAR
karena adanya goncangan (shocks) atau peruabahn diadalam variabel gangguan.
Melalui analisis ini dapat diketahui efek gejolak (shock) suati standar deviasi dari
variabel inovasi terhadap nilai sekaran dan nilai yang akan adatng dari variabel
variabel endogen yang akan diamati.
2.6 Forecat Error Decomposition Variance (FEDV)
Analisis ini bertujuan untuk emprediksi konttribusi presentase variancevariance decomposition bertujuan menjelaskan proporsi pergerakan varabel akibat
shock dari varabel itu sendiri relative terhadap dampaknya kepada pergerankan
varabel lain secara berurutan. Digunakan untuk meyusun perkiraan error varanve
variabel tersebut yaitu seberapa besar varance antara sebelum dan sesudah shock,
baik shock dari dalam variabel itu sendori atau dari varabel lain. FEDV sering
disebut dengan cholesky decomposition ini digunakan untuk memisahka dampak
masing-masing error secara individual terhadap respon yang diterima suatu
varabel.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia


Kebijakan moneter dimulai dengan paradigma lama mekanisme transmisi yang
menyatakan bahwa jumlah atau kuantitas uang beredar dapat dikendalikan sepenuhnya
oleh otoritas moneter menjadi tidak berlaku. Sudut pandang lama juga yang menyatakan
bahwa permintaan agregat dan kegiatan perekonomian ditentukan oleh pengendalian uang
beredar secara perlahan namun pasti akan berubah haluan sejalan dengan perkembangan
sistem keuangan dan sistem pembayaran yang bekerja lebih efisien didasarkan pada
mekanisme pasar. Semakin berkembangnya peran pasar dalam perekonomian nampaknya
cenderung menyebabkan semakin pentingnya transmisi kebijakan moneter melalui
harga uang atau suku bunga. Hal ini juga tidak terlepas dari semakin majunya sektor
keuangan kita dengan berbagai karakteristik seperti majunya inovasi produk keuangan,
proses sekuritisasi, maupun proses decoupling antara sektor moneter dengan sektor riil.
Kebijakan moneter melalui pendekatan jumlah uang beredar yang merupakan
paradigma lama dianggap kurang efektif untuk dilakukan, sehingga saat ini yang
dilakukan adalah melalui pendekatan penargetan inflasi yang sudah dimulai pada tahun
2004 oleh Bank Indonesia, yang merupakan sasaran tunggal kebijakan moneter. Dalam
mentransmisikan kebijakan moneter yang tetap dilakukan di Indonesia adalah pada jalur
kredit, jalur nilai tukar, jalur eskpektasi inflasi, jalur kredit, dan jalur harga asset.
1. Perkembangan Variabel pada Jalur Kredit
Mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia yang dilaksanakan pada jalur
kredit, terdapat beberapa variabel di dalamnya. Perkembangan dari setiap variabel
dapat dapat dijelaskan berikut ini.
a. Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia

Dalam pelaksanaan kebijakan moneter di Indonesia, Operasi Pasar Terbuka (OPT)


merupakan piranti yang utama untuk tetap dilaksanakan. OPT terdiri dari OPT
reguler yang dilakukan melalui pelaksanaan lelang SBI termasuk FASBI, serta
OPT nonreguler yang akan dilakukan melalui Fine Tune Operation (FTO). Dari
sisi operasional kebijakan moneter, lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan
pada periode tahun 2004 2014 berhasil menyerap likuiditas. (www.bi.go.id).
Perkembangan suku bunga SBI dapat ditampilkan pada grafik berikut ini.
Grafik 4.1 Perkembangan Suku Bunga SBI

Sumber: data diolah


Berdasarkan perjalanan suku bunga SBI dari tahun 2004 hingga tahun 2014,
cukup mengalami pergerakan yang cukup berarti. Dari tahun 2004 dari kuartal I
hingga tahun 2005 kuartal II masih tetap berada kisaran 7-8 persen, angka suku
bunga yang cukup stabil. Namun, bila dilanjutkan pada kuartalan berikutnya,
terlihat bahwa suku bunga SBI cukup menaik pada tahun 2005 kuartal III hingga
tahun 2006 kuartal III, yang berada pada kisaran 10-12 persen. Hal ini disebabkan
oleh kondisi ekonomi makro yang menunjukkan bahwa adanya kenaikan tekanan
harga barang- barang administered prices (BBM, TDL). Dalam hal ini, sebagai
tugas Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai rupiah, maka menetapkan suku

bunga SBI yang cukup tinggi, dengan maksud melakukan kebijakan ketat
moneter. Dengan demikian, akan menimbulkan pihak intermediasi yaitu bank
akan menaikkan suku bunga deposito, yang pada akhirnya akan menaikkan minat
masyarakat untuk menabung uangnya, sehingga jumlah uang beredar dapat
terserap. Pergerakan selanjutnya menunjukkan bahwa pada tahun 2006 kuartal IV
kembali menurun dari sebelumnya hingga kuartal selanjuttnya. Dan pada periode
selanjutnya yaitu tahun 2010 hingga tahun 2014, suku bunga SBI beradaa pada
angka yang stabil yaitu pada kisaran 6 7%.
b. Suku Bunga Deposito
Perkembangan suku bunga deposito dapat ditampilkan pada grafik berikut.
Grafik 4.2 Perkembangan Suku Bunga Deposito

Sumber: data diolah


Pergerakan suku bunga deposito dari tahun 2004 kuartal I hingga pada tahun 2014
menunjukkan hubungan cenderung searah dengan perkembangan suku bunga
instrumen moneter. Suku bunga deposito yang cukup tinggi mencapai double digit
berada pada tahun 2005 kuartal I hingga tahun 2006 kuartal III. Kenaikan suku
bunga deposito tersebut, kondisinya ditemukan bersamaan dengan suku bunga
SBI. Hal ini karena, pada bank umum, suku bunga deposito mengikuti suku bunga

SBI. Kenaikan suku bunga ini pun kasusnya sama dengan kenaikan suku bunga
SBI, yaitu disebabkan bank umum akan mengikuti suku bunga SBI, sehingga
dengan tingkat suku bunga yang tinggi akan menyerap jumlah uang yang beredar
di masyarakat. Kebijakan ini sering disebut dengan kebijakan moeter ketat.
Selanjutnya suku bunga deposito kembali pada single digit, dan suku bunga
deposito yang cukup stagnan pada tahun 2010 kuartal I hingga tahun 2014 berada
pada kisaran yang sama yaitu pada 6 persen.
c. Jumlah uang beredar
Jumlah uang beredar dalam penelitian ini adalah M1 (uang sempit). Uang dalam
arti sempit yang terdiri dari uang giral dan uang kartal dapat dilihat sebagai
berikut.
Grafik 4.3 Perkembangan Jumlah Uang Beredar

Sumber: data diolah


Dapat dilihat bahwa jumlah permintaan uang terus meningkat dari tahun ke tahun
yaitu sangat kelihatan gejolah permintaan M1 mulai dari periode tahun 2010
terjadi peningkatan jumlah uang beredar.
d. Suku bunga kredit

Suku bunga kredit pada tahun 2004 hingga 2014 berada pada kisaran lebih dari
10%. Didapati bahwa kesenjangan antara suku bunga kredit dengan suku bunga
deposito cukup besar. Suku bunga deposito tidak begitu berpengaruh kepada suku
bunga kredit, seperti suku bunga SBI terhadap suku bunga PUAB. Perkembangan
suku bunga kredit dapat dapat ditampilkan pada grafik berikut ini.
Grafik 4.4 Perkembangan Suku Bunga Kredit

Sumber: data diolah


Suku bunga deposito dengan suku bunga kredit secara makro mengindikasikan
masih cukup tingginya persepsi risiko perbankan terhadap dunia usaha. Secara
mikro perbankan, kesenjangan terkait dengan kondisi keuangan internal dari tiap
bank yang dipengaruhi oleh struktur asset yang semakin didominasi kredit,
komposisi likuiditas dan sumber pendanaan yang semakin berjangka pendek, serta
upaya memperkuat keuntungan. (www.bi.go.id)
e. Investasi
Perkembangan investasi dari tahun 2004 hingga tahun 2014 dapat ditampilkan
pada gambar berikut ini.

Grafik 4.5 Perkembangan Investasi

Sumber: data diolah


Perkembangan investasi dari tahun 2004 hingga tahun 2014 menunjukkan
pergerakan yang semakin meningkat dari satu kuartal ke kuartal berikutnya.
Namun kenaikan yang ditunjukkan pada pergerakan investasi tidak terlalu besar
dari tahun ke tahun. Peningkatan investasi terjadi di sektor industri pengolahan,
sektor komunikasi dan sektor pertambangan. Peningkatan kegiatan investasi ini
tidak terlepas dari dukungan sisi pembiayaan, baik yang berasal dari dalam negeri
maupun luar negeri. Kegiatan investasi yang didukung oleh pembiayaan dalam
negeri adalah dari perbankan maupun pasar modal. (www.bi.go.id)
2. Perkembangan Variabel pada Jalur Nilai Tukar
a. Nilai Tukar
Perkembangan nilai tukar cukup mengalami fluktuatif dari kuartal satu ke kuartal
yang lain. Perkembangannya dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik 4.6 Perkembangan Nilai Tukar

Dari grafik di atas menunjukkan bahwa nilai tukar memasuki tahun 2004 bergerak
relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Kondisi penawaran dan permintaan
valuta asing relatif dapat terjaga seimbang, meskipun masih dihadapkan dengan
beberapa kelemahan struktural. Nilai tukar rupiah sangat melemah terjadi pada
kuartal empat tahun 2008 hingga kuartal dua tahun 2009. Nilai tukar berada pada
kisaran 1 U$ adalah sebesar Rp 11.325,- hingga Rp 10.207,-. Nilai tukar rupiah
melemah pada kuartal empat tahun 2008 hingga kuartal dua tahun 2009 terjadi
karena adanya dominasi peran investasi portofolio dalam neraca modal dan
keuangan mendorong naiknya volatilitas nilai tukar rupiah. Peran investasi
portofolio yang semakin besar dalam neraca pembayaran menyebabkan
pembentukan harga rupiah menjadi rentan karena lebih dipengaruhi oleh
perubahan persepsi risiko investor di pasar keuangan global dibandingkan dengan
pengaruh faktor-faktor fundamental. Hal itu diperumit dengan fenomena aliran
dana dari neraca transaksi berjalan yang tidak sepenuhnya menjadi pasokan di
pasar valuta asing domestik. (www.bi.go.id) Pada kuartal IV pada tahun 2014,
meningkatnya faktor ketidakpastian yang muncul akibat krisis utang di Eropa dan

permasalahan pemulihan ekonomi AS memicu sentimen negatif dan menyebabkan


keluarnya aliran modal asing dari Indonesia. Sejak periode tersebut nilai tukar
rupiah cenderung melemah pada kisaran Rp. 12.800,- per dolar US$.
(www.bi.go.id)

b. Capital Inflow
Capital inflows adalah arus modal yang masuk dari luar negeri ke dalam negeri.
Dalam hal ini adalah penanaman modal asing atau disebut foreign domestic
investment (FDI). Perkembangan capital inflows di Indonesia dapat ditampilkan
pada grafik berikut ini.

Grafik 4.7 Perkembangan Capital Inflows

Kondisi perkembangan capital inflows di Indonesia cukup mengalami pergerakan


yang fluktuatif dari kuartal satu ke kuartal lainnya. Dimulai dari tahun 2004
penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia mengalami peningkatan dari tahun
sebelumnya. Pergerakan modal masuk cukup baik hingga tahun 2004. Penurunan

modal masuk yang cukup drastis adalah pada kuartal empat tahun 2009. Kuatnya
daya tahan dan membaiknya prospek ekonomi Indonesia meningkatkan
kepercayaan investor sehingga mendorong semakin meningkatnya peran FDI
(Foreign Domestic Investment). Pada tahun 2014, peran FDI dalam struktur aliran
masuk modal jauh meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dengan
peningkatan yang sangat pesat pada sektor pertambangan dan industri.
Peningkatan peran FDI tersebut mampu mendukung tetap kuatnya kinerja NPI
(Neraca Pembayaran Indonesia) di tengah menurunnya aliran modal dalam bentuk
portofolio terkait meningkatnya ketidakpastian global sejak semester kedua
c. Ekspor Netto
Perkembangan ekspor neto dapat ditampilkan pada grafik berikut ini.
Grafik 4.8 Perkembangan Ekspor neto

Sumber : data diolah


Perkembangan dari ekspor neto cukup mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun. Hal ini menunjukkkan bahwa terjadi peningkatan ekspor yang lebih tinggi
dibandingkan dengan impor. Peningkatan ekspor di Indonesia disebabkan oleh
beberapa faktor. Pertama, diversifikasi pasar tujuan ekspor ke negara-negara

emerging markets Asia seperti China dan India yang pertumbuhan ekonominya
masih relatif tinggi didukung oleh permintaan domestiknya yang tetap kuat.
Kedua, karakteristik komoditas ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut yang
didominasi komoditas seperti energi dan komoditas pangan terutama digunakan
untuk konsumsi domestiknya sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan
volume perdagangan dunia. Sementara itu, ketahanan ekonomi Indonesia dari sisi
domestik didukung oleh beberapa faktor. Pertama, kuatnya konsumsi yang
didukung oleh meningkatnya daya beli seiring dengan meningkatnya perdapatan
per kapita terutama segmen penduduk dengan penghasilan menengah ke atas.
Kedua, meningkatnya jumlah usia produktif dan tenaga kerja di sektor formal.
Ketiga, bertambahnya sumber pertumbuhan ekonomi di daerah sehingga
pertumbuhan ekonomi semakin merata. Keempat, tingginya konsumsi domestik
direspons oleh peningkatan investasi untuk memperbesar kapasitas ekonomi
nasional. (www.bi.go.id)
3. Perkembangan Sasaran Akhir Kebijakan Moneter
Bank Indonesia telah menetapkan yang menjadi sasaran tunggal kebijakan moneter
tertuang pada Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 Pasal 7 menyatakan bahwa
Indonesia telah menganut kebijakan moneter dengan tujuan tunggal yakni mencapai
dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan tunggal tersebut terangkum dalam
kerangka strategis penargetan inflasi ( inflation targeting framework). Dalam
mencapai sasaran akhirnya, ada hal yang harus dilalui yaitu mekanisme transmisi
kebijakan moneter. Mekanisme transmisi kebijakan moneter pada dasarnya
menggambarkan bagaimana kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral bekerja
dan mempengaruhi berbagai aktifitas ekonomi dan keuangan sehingga pada akhirnya
dapat mencapai tujuan akhir yang ditetapkan. Mekanisme ini dimulai dari tindakan

bank sentral menggunakan instrumen moneter, dalam melaksanakan kebijakannya.


Pencapaian sasaran kebijakan moneter dilakukan dengan mengendalikan faktor-faktor
utama yang memiliki pengaruh terhadap produk domestik bruto dan inflasi
a. Produk Domestik Bruto (PDB)
Perkembangan PDB pada tahun 2004-2014 digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.9 Produk Domestik Bruto

Pertumbuhan PDB menunjukan perkembangan yang konstan pada periode 20042014. PDB pada tahun 2009 adalah pada kisaran 150 milyar rupiah, dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh kebijakan moneter yang
netral di tengah-tengah kondisi inflasi yang rendah dan diperkuat oleh langkahlangkah pengurangan pengeluaran pemerintah dan mempercepat perputaran
perekonomian. Prospek ekonomi untuk tahun 2014 sangat cerah. Hal ini didorong
oleh peningkatan konsumsi masyarakat, menurunnya tingkat pengangguran,
meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
b. Inflasi
Perkembangan inflasi pada tahun 2004-2014 digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.10. Inflasi

Gambar menunjukkan inflasi yang cukup rendah pada tahun 2004.


Selanjutnya pada 2005, inflasi cenderung meningkat didorong oleh tekanan harga
barang-barang administered prices (BBM, TDL). Sementara itu, tekanan output
gap didorong oleh output aktual yang semakin mendekati output potensial.
Menghadapi meningkatnya tekanan inflasi tersebut, kebijakan moneter tetap
diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan Pemerintah
melalui langkah-langkah kebijakan yang cenderung ketat.
Pencapaian sasaran akhir kebijakan moneter pada tahun 2009 lebih rendah
dibandingkan dengan sasaran inflasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
Rendahnya inflasi ini didukung oleh inflasi kelompok volatile food. Dari sisi
domestik, rendahnya inflasi kelompok ini didukung oleh penurunan BBM, tarif
angkutan dan kecukupan pasokan bahan pangan, terutama beras. Dari sisi
eksternal, menurunnya harga pangan global dan nilai tukar rupiah yang menguat
semakin menurunkan tekanan terhadap inflasi volatile food. Secara fundamental,
rendahnya inflasi 2009 terutama didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah sejak

awal kuartal II 2009, disamping permintaan domestik yang melambat dan


ekspektasi inflasi yang membaik.
Perkembangan inflasi 2014 lebih rendah dari sasaran inflasi 5%1%. Hal
tersebut dipengaruhi oleh stabilnya inflas inti, rendahnya inflasi bahan pangan dan
minimnya inflasi administered prices. Inflasi inti yang stabil didukung oleh
kebijakan moneter dan nilai tukar dalam mengendalikan permintaan, tekanan
inflasi dari barang impor, serta terjaganya ekspektasi inflasi. Rendahnya inflasi
bahan pangan didukung oleh kebijakan Pemerintah dalam menjaga kecukupan
pasokan dan kelancaran distribusi serta stabilisasi harga pangan.
B. Analisis Data
1. Uji Stationaritas
Tahap awal yang dilakukan sebelummelakukan estimasi VAR adalah
pengujian stasioneritas data melalui pengujian unit root test. Pengujian stationaritas
data dilakukan dengan uji akar unit Augmented Dickey Fuller (ADF). Uji stasioneritas
data ini sangat penting karena jika terdapat data yang tidak stasioner maka akan
menghasilkan spurious regression (regresi lancung). Spurious regression adalah
regresi yang menunjukkan hubungan antar variabel yang terlihat signifikan secara
statistik tetapi pada kenyataannya tidak.
Uji akar-akar unit data penelitian membandingkangkan besaraan mutlak ADF
dan nilai mutlak kritis McKinnon pada level 1%, 5% dan 10%. Jika nilai absolut
statistik ADF lebih besar dari nilai statistik Mackinnon, maka data yang diamati
menunjukkan stasioner pada tingkat tertentu dan jika sebaliknya nilai absolut statistik
ADF lebih kecil dari nilai statistik Mackinnon maka data tidak stasioner. Hasil uji
akar-akar unit dari jalur kredit dan jalur nilai tukar
a. Jalur Kredit

Pengujian stationeritas pada variabel jalur kredit ini ditampilkan pada tabel
berikut.
Tabel 4.1 Hasil Pengujian Stationeritas pada Variabel Jalur Kredit
No

Nama
Variabel

1 rSBI
2 rDeposito
3 JUB
4 rKRE
5 INV
6 PDB
7 Inflasi
Sumber: data diolah

ADF Statistic
(level)

ADF Statistic
(first
difference)
3,721154

ADF Statistic
(second
difference)

-3.204251
-3.699508
4.644612
-6.639764
3.442159
-3.340136

Dari hasil uji stationeritas menunjukkkan bahwa rDEPO, PDB dan Inflasi
sudah stationer pada level. Sedangkan yang lainnya seperti rSBI, JUB, dan rKredit
adalah stationer pada first difference, dan variabel lainnya yaitu INV stationer pada
second difference. Dari hasil tersebut, variabel sudah stationer pada level maupun
difference.
b. Jalur nilai tukar
Pengujian stationeritas pada variabel jalur kredit ini ditampilkan pada tabel
berikut.
Tabel 4.2 Hasil Pengujian Stationeritas pada Variabel Jalur Nilai Tukar
No

Nama
Variabel

1 rSBI
2 rDeposito
3 Kurs
4 CAPIN
5 EKS
6 PDB
7 Inflasi
Sumber: data diolah

ADF Statistic
(level)

ADF Statistic
(first
difference)
3,721154

ADF Statistic
(second
difference)

-3.204251
-5.209536
-5.543892
-7.115411
3.442159
-3.340136

Dari hasil uji stationeritas menunjukkkan bahwa rDEPO, PDB dan Inflasi
sudah stationer pada level. Sedangkan yang lainnya seperti rSBI adalah stationer pada
first difference, dan variabel yaitu Kurs, Capin, dan Ekspor netto stationer pada
second difference. Dari hasil tersebut, variabel sudah stationer pada level maupun
difference.
2. Penentuan Lag Optimal
Penentuan lag optimal sangat penting karena menentukan variabel eksogen
tidak lain adalah lag dari variabel endogennya. Penentuan lag optimal pada pengujian
VAR dilakukan untuk menemukan spesifikasi lag optimal yang dapat diidentifikasi
melalui Akaike Info Criterion (AIC), Schwarz Criterion (SC), dan Hannan-Quinn
Criterion (HQ).
Dalam penentuan lag optimal, kita memilih dengan kriteria yang mempunyai
SC yang paling kecil di antara berbagai lag yang diajukan dan bias dilihat yang
ditandai dengan tanda (*).
a. Jalur Kredit
Tabel 4.3 Hasil Penentuan Lag Optimal pada Jalur Kredit
Lag

Nilai SC

Lag 0
Lag 1
Lag 2
Lag 3

99.66906
90.86784
90.30314
86.39688*

Sumber : Lampiran (hasil pengolahan eviews)


Hasil pada tabel 4.5 memperlihatkan tanda bintang (*) ada pada lag kedua
maka hal ini dapat dijelaskan bahwa lag optimal pengujian VAR dalam penelitian
tersebut ada pada lag ketiga. Dengan menggunakan Schwarz Criterion (SC) dengan

dengan melihat lag sampai lag ketiga maka dapat dilihat juga nilai trekecil Schwarz
Criterion (SC) ada pada lag ketiga pada jalur kredit.
b. Jalur Nilai Tukar
Tabel 4.4 Hasil Penentuan Lag Optimal pada Jalur Nilai Tukar
Lag

Nilai SC

Lag 0
Lag 1
Lag 2
Lag 3

91.23271
84.16508*
84.85227
87.18384

Sumber : lampiran ( hasil pengolahan eviews )


Dari hasil yang diperoleh, diketahui bahwa lag optimumnya adalah enam yang
ditunjukkan dengan paling banyaknya tanda bintang (*) pada lag kedua. Berdasarkan
penjelasan sebelumnya, bahwa menentukan lag optimal berdasarkan nilai terkecil SC,
maka lag yang tepat untuk digunakan pada jalur niali tukar adalah pada lag optimal
kedua.
3. Hasil Uji Kausalitas
Pengujian kausalitas Granger dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam
antarvariabel terdapat hubungan sebab akibat. Ujin kausalitas granger memliki tujuan
utnuk emnegtahui dan membuktikan arah hubungan jangka pendek antar variabel.
Dalam analisis kausalitas grangger diketahui bahwa H0 = tidak ada hubungan antar
dua variabel dan H1 = terdapat hubungan antar dua variabel. Dan penggujian ini dapt
dilihat F-statistik < 5% maka H0 ditolak.
a. Jalur kredit
Dari hasil uji kuasalitas granger pada jalur kredit menunjukkan bahwa pada
pada hubungan antara rDEPO dengan INF, rSBI dengan INF, JUB dengan INV, PDB
dengan INV, rDEPO dengan INV, rSBI dengan INV, JUB dengan rKRE, PDB dengan

rKRE, PDB dengan rSBI, rDEPO dengan rKRE, dan rSBI dengan rKRE
menunjukkan adanya hubungan kausalitas yang satu arah hal tersebut menjelaskan
bahwa pada hubungan ini H0 diterima yang memiliki arti bahwa kedua varibel hanya
memiliki hubungan satu arah dan karena hasilnya kurang dari 5%. Sedangkan untuk
hubungan rKredit dengan Investasi begitu sebaliknya serta antara PDB dengan JUB,
H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya dua variabel memiliki hubungan dua arah
Gambar 4.1
Pemetaan kausalitas granger pada jalur kredit
rDEPO

INFLASI

rKRE

rSBI

JUB

PDB

INVESTASI
Sumber : hasil olahan E-views (lampiran )
b. Jalur Nilai Tukar
Dari uji kausalitas terhadap jalur nilai tukar. Diperoleh hasil bahwa H0
diterima yang artinya hanya memiliki hubungan satua arah yaitu hubungan antara
CAP dengan EKS, INF dengan CAP, DEPO dengan CAP, SBI dengan CAP, EKS
dengan KURS, PDB dengan EKS, SBI dengan INF, KURS dengan PDB, serta
PDB dengan SBI.
Gambar 4.2
Pemetaan kausalitas granger jalur nilai tukar

rDEPO
INFLASI

KURS
rSBI
CAPIN

PDB

EKSN

Sumber : hasil olahan eviews (lampiran )

4. Hasil Uji Kointegrasi


Pengujian

kointegrasi

diperlukan

untuk

menggambarkan

keadaan

keseimbangan dalam jangka panjang. Dalam pengujian ini menggunakan metode


Johansen. Penelitian ini dengan menggunakan uji kointegrasi dengan eviews akan
menguji uji johansen jika t-Trace Statistik > t-Mackinnon maka terjadi kointegrasi.
Hasil uji kointegrasi pada jalur kredit dan nilai tukar ditampilkan pada tabel berikut
ini :
a. Jalur Kredit
Tabel 4.5 Hasil Pengujian Kointegrasi pada Jalur Kredit
Hypothesized
Trace
5 Percent
1 Percent
No. of CE(s) Eigenvalue
Statistic
Critical Value Critical Value
None *
0.498118
48.74059
47.21
54.46
At most 1
0.273675
19.78619
29.68
35.65
At most 2
0.132033
6.356344
15.41
20.04
At most 3
0.009692
0.409061
3.76
6.65
*(**) denotes rejection of the hypothesis at the 5%(1%) level
Trace test indicates 1 cointegrating equation(s) at the 5% level
Trace test indicates no cointegration at the 1% level

Tabel hasil output di atas dapat dilihat bahwa, nilai Trace Statistic > Critical
Value 5% ini berarti bahwa dalam jangka panjang terdapat kointegrasi di dalam model
persamaan tersebut.
b. Jalud Nilai Tukar
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Kointegrasi pada Jalur Nilai Tukar
Hypothesized
Trace
5 Percent
1 Percent
No. of CE(s) Eigenvalue
Statistic
Critical Value Critical Value
None
0.390645
46.20649
47.21
54.46
At most 1
0.340202
25.40161
29.68
35.65
At most 2
0.139564
7.937118
15.41
20.04
At most 3
0.037925
1.623830
3.76
6.65
*(**) denotes rejection of the hypothesis at the 5%(1%) level
Trace test indicates no cointegration at both 5% and 1% levels
Tabel Tabel hasil output di atas dapat dilihat bahwa, nilai Trace Statistic <
Critical Value 5% ini berarti tidak terdapat kointegrasi dalam jangka panjamg dalam
model persamaan tersebut.
5. Hasil Estimasi VAR
Untuk menilai estimasi VAR maka model yang digunakan adalah seperti
model yang ditentukan pada bab sebelumnya. Dari hasil estimasi, untuk melihat
apakah ada pengaruh pada variabel, dapat diketahui dengan membandingkan nilai tstatistik (nilai pada baris ketiga) dengan nilai t-tabel. Jika nilai t-statistik lebih besar
dariapada nilai t-tabelnya, maka dapat dikatakan bahwa variabel memiliki pengaruh
signifikan.
a. Jalur Kredit
Hasil estimasi dengan menggunakan VAR dapat menjelaskan bahwa ada
beberapa variable yang memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel inflasi dan
juga variabel PDB, ada juga yang tidak berpengaruh terhadap variabel inflasi dan
variabel PDB. Yang memiliki pengaruh signifikan hanya r SBI, variabel r depo, JUB,

r kre, investasi tidak berpengaruh terhadap inflasi. Sedangkan yang memiliki


pengaruh terhadap PDB adalah JUB dan PDB itu sendiri.
Tabel 4.7
Hasil variabel yang signifikan dan tidak signifikan terhadap INF
Variabel Independen

Hasil

INF

Berpengaruh dan Tidak signifikan

INV

Tidak signifikan

JUB

Tidak signifikan

PDB

Tidak signifikan

RDEPO

Tidak signifikan

RKRE

Tidak signifikan

RSBI
Signifikan
Sumber : lampiran 7 (data hasil olahan eviews)
Hasil estimasi VAR terhadap jalur kredit di Indonesia menunjukkan bahwa
variabel INV dipengaruhi positif oleh variabel RSBI pada lag 1 sebesar 2,73. Dari
hasil tersebut dapat diartikan bahwa kenaikan pada variabel RSBI pada lag 1 sebesar
1 % maka akan membuat kenaikan juga terhadap variabel INF sebesar 2,73 % dan
pada lag 2 berpengaruh negatif dan tidak signifikan sebesar -0.94 %.
Tabel 4.8
Hasil varibel yang signifikan dan tidak signifikan terhadap PDB
Variabel Independen

Hasil

INF

Tidak signifikan

INV

Tidak signifikan

JUB

Signifikan

PDB

Signifikan

RDEPO

Tidak signifikan

RKRE

Tidak signifikan

RSBI
Tidak Signifikan
Sumber : lampiran7 (hasil olahan eviews)
Hasil estimasi VAR melalui jalur kredit di Indonesia menunjuikkan bahwa
variabel PDB dipengaruhi oleh variabel PDB itu sendiri pada lag 1 dan lag 2. Pada lag
1 sebesar 0,35 yang artinya bahwa jika terjadi kenaikan 1 % pada varibel PDB dilag 1
akan menaikkan variabel PDB sebesar 0,35% dan variabel PDB dilag 2 sebesar 0,63
yang artinya kenaikan 1% pada variabel tersebut akan menaikkan variabel PDB
sebesar 0,63%. Selain itu yang memberikan pengaruh terhadap PDB adalah JUB.
Pada JUB dilag 2 jika JUB naik 1% maka akan berpengaruh terjadinya penurunan
PDB sebesar 0.25% dan pada lag 1 terjadi pengaruh positif dan tidak signifikan
terhadap PDB.
Tabel 4.9
Hasil estimasi VAR jalur kredit
Variabel
INF (-1)
INF (-2)
INV(-1)
INV(-2)
JUB(-1)
JUB(-2)
PDB(-1)
PDB(-2)
RDEPO(-1)
RDEPO(-2)
RKRE(-1)
RKRE(-2)
RSBI(-1)
RSBI(-2)

INF
2,73
-

PDB
-0.26
0,35
0,63
-

RSBI
1,07
-

b. Jalur Nilai Tukar


Hasil estimasi dengan menggunakan VAR dapat menjelaskan bahwa ada
beberapa variable yang memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel inflasi dan

juga variabel PDB, ada juga yang tidak berpengaruh terhadap variabel inflasi dan
variabel PDB. Yang memiliki pengaruh signifikan terhadap inflasi adalah inflasi dan r
r sbi, sedangkan variabel r depo,PDB, kurs, capin dan ekspor netto tidak berpengaruh
terhadap inflasi. Sedangkan yang memiliki pengaruh terhadap PDB adalah JUB dan
PDB itu sendiri.
Tabel 4.10
Hasil variabel yang signifikan dan tidak signifikan terhadap INF
Variabel Independen

Hasil

INF

Signifikan

KURS

Tidak signifikan

PDB

Tidak signifikan

RDEPO

Tidak signifikan

RSBI

Bepengaruh dan tidak signifikan

CAP

Tidak signifikan

EKS
Tidak signifikan
Sumber : lampiran 7 (data hasil olahan eviews)
Hasil estimasi VAR terhadap jalur kredit di Indonesia menunjukkan bahwa
variabel INF dipengaruhi positif oleh variabel INF itu sendiri pada lag 1 sebesar 0,70.
Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa kenaikan pada variabel INF itu sendiri pada
lag 1 sebesar 1 % maka akan membuat kenaikan juga terhadap variabel INF sebesar
0,70 % dan pada lag 2 berpengaruh negatif dan tidak signifikan sebesar -0.33 %. Dan
dalam lag 1 pada variabel RSBI memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan
terhadap variabel INF sebesar 2.01 % hal tersebut memiliki arti bahwa jika erjadi
kenaikan pada variabel RSBI 1% maka akan berdampak juga pada kenaikan variabel
INF sebesar 2.01% tetapi dampak yang diberikan tidak signifikan.
Tabel 4.11

Hasil varibel yang signifikan dan tidak signifikan terhadap PDB


Variabel Independen

Hasil

INF

Tidak signifikan

KURS

Negatif dan signifikan

PDB

Signifikan

RDEPO

Tidak signifikan

RSBI

Tidak signifikan

CAP

Tidak signifikan

EKS
Tidak Signifikan
Sumber : lampiran7 (hasil olahan eviews)
Hasil estimasi VAR melalui jalur kredit di Indonesia menunjuikkan bahwa
variabel PDB dipengaruhi oleh variabel PDB itu sendiri pada lag 2 secara sangat
signifikan dan lag 1 memiliki pengaruh yang tidak signifikan. Pada lag 2 sebesar 0,90
yang artinya bahwa jika terjadi kenaikan 1% pada variabel PDB dilag 2 makan akan
menaikan variabel PDB itu sendiri srbesar 0,90% dan varibel PDB dilag 1 sebesar
0,13 yang artinya bahwa kenaikan 1% pada variabel PDB akan berpengaruh naiknya
variabel PDB itu sendiri sebesar 0,13% teapi dampak yang diberikan tidak signifikan.
Variabel lain yang memberikan bpengaruh terhadap PDB adalah variabel KURS pada
lag 1 sebesar -8,49 yang artinya jika terjadi kenaikan sebesar 1% pada variabel KURS
maka akan menurunkan variabel PDB sebesar 8,49%.
Tabel 4.12
Hasil estimasi VAR jalur nilai tukar
Variabel
INF (-1)
INF (-2)
KURS(-1)
KURS(-2)
PDB(-1)
PDB(-2)

INF
0,70
-0,33
-

PDB
-8,49
0,90
0,13

RSBI
0,01
-

RDEPO(-1)
RDEPO(-2)
RSBI(-1)
RSBI(-2)
CAP(-1)
CAP(-2)
EKS(-1)
EKS(-2)

2,01
-

1,20
1,07
-

6. Hasil Impulse Response Function


Analisis

model

VAR

didapati

bahwa

adanya

kesulitan

untuk

menginterpretasikan koefisien, maka dilakukan analisis impulse response. Analisis


impulse response ini menjadi bagian yang penting dalam model VAR. Analisis ini
melacak respon dari variabel endogen di dalam model VAR, karena adanya
guncangan (shocks) atau perubahan dalam variabel gangguan. Hasil impulse response
function pada jalur kredit dan jalur nilai tukar dapat ditampilkan pada berikut.
a. Jalur Kredit
Grafik 4.1 Hasil Impulse Response Function pada Jalur kredit

Response to Cholesky One S.D. Innov ations


Response of INF to JUB

Response of INF to INV


3

-1

-1
1

-1

-1
1

10

Response of INF to RKRE

10

Response of INF to RSBI

Response of INF to RDEPO

Response of INF to PDB

10

Response of PDB to JUB

10

Response of PDB to INV

12,00 0

12,00 0

8,000

8,000

4,000

4,000

- 4,000

- 4,000

-1

-1
1

10

Response of PDB to INF

8,000
4,000
0
- 4,000
- 8,000
2

10

- 8,000
1

10

10

12,000

12,000

8,000

8,000

4,000

4,000

-4,0 00

-4,0 00

10

10

Response of PDB to RSBI


12,00 0
8,000
4,000
0
- 4,000
- 8,000

-8,0 00

-8,0 00
1

- 8,000

Response of PDB to RKRE

Response of PDB to RDEPO

12,00 0

10

10

Sumber : lampiran ( hasil olahan eviews)


Dari grafik 4.1 itu menunjukkan respon variabel inflasi terhadap kejutan (shovk)
semua variabel dan juga variabel PDB terhadap semua kejutan (shock) semua
variabel. Dapat dijelaskan yaitu:
1. Respon inflasi pada kejutan (shock) RSBI pada periode 1sampai 3 cenderung
naik diatas garis keseimbangan dan kemudian pada periode 4 sampai 8
cenderung turun tetapi masih daitas garis keseimbangan sedangkan pada

periode 9 sampai 10 cenderung turun dibawah garis keseimbangan. Hal


tersebut menjelaskan bahwa adanay perubahan atau shock pada RSBI direspon
positif oleh inflasi.
2. Respon inflasi pada kejutan (shock) RDEPO pada awal periode 1sampai 2
naik stabil masih diatas garis keseimbangan kemudian shock memberikan
daampak pada periode 3 sampai 5 yang menyebabkan turun dibawah garis
keseimbangan kemudian pada periode 6 sampai 10 naik stabil diatas garis
keseimbangan
3. Respon inflasi terhadap RKRE pada awal periode sampai periode 8 cenderung
turun dan naik sedikit tetapi masih dibawah garis keseimbangan kemudian
pada periose 9 sampai 10 naik sedikit tetapi bisa berada diatas garis
keseimbangan. Adanya perubahan dari RKRE direspon negatif oleh inflasi
4. Respon PDB terhadap kejutan (shock) JUB pada awal periode 1 sampai 2 naik
kemudian periode 2 sampai 3 turun hal tersebut terjadi sampai periode 6
kejutannya sangat memiliki pengaruh terhadap setiap satu periode tetapi
periode 1 sampai 6 masih diatas garis keseimbangan. Sedangkan pada periode
7 sampai 10 pengerakan sama tetapi terjadi dibawah garis kesembangan. Hal
tersebut menjelaskan bahwa pada periode awal sampai 6 perubahan JUB
direspon positif oleh PDB kemudian pada periode 7 sampai 10 direspon
negatif oleh PDB.
b. Jalur Nilai Tukar

Dari grafik 4.2 itu menunjukkan respon variabel inflasi terhadap kejutan
(shovk) semua variabel dan juga variabel PDB terhadap semua kejutan (shock)
semua variabel. Dapat dijelaskan yaitu:
1. Respon inflasi terhadap kejutan (shock) kurs pada awal periode awal sampai 3
turun dibawah garis keseimbangan kemudian pada periode 4 sampai 5 naik
stabil, dan pada periode 6 sampai 8 turun tetapi masih diatas garis
keseimbangan tetapi pada periode 9 sampai 10 turun sampai dibawah garis
keseimbangan. Hal tersebut menjelaskan bahwa perubahan yang tejadi pada
kurs direspon negatif oleh inflasi pada periode1 sampai 3, kemudian respon
positif terjadi pada periode 4 sampai 7 dan selanjutnya adanya perubahan atau
shock durespon negatif pada periode 8 sampai 10 oleh inflasi.
2. Respon inflasi terhadap kejutan (shock) RSBI, terjadinya perubahan atau
shock pada RSBI direspon positif oleh inflasi walaupun mengalami kenaikan
dan penurunan. Pada periode 1 sampai 3 naik cenderung stabil, kenudian pada
peride 4 sampai 5 turun kemudian periode 7 sampai 10 bergerak cenderung
stabil diatas garis keseimbangan.
3. Respon PDB terdahap kejutan (shock) kurs. Aadanya perubahan atau shock
dari kurs direspon negatif oelh PDB dan sangat fluktiaktif, pada periode awal
sampai periode 2 turun stabil kemudian pada periode 3 sampai akhir periode
pergerakan dampak dari adanya kejutan berdampak pada setiap periode sangat
fluktuaktif turun dan naik dan berada dibawah garis keseimbangan.
4. Respon KURS terhadap kejutan (shock) RSBI pada awal periode 1 sampai 2
awalnya bergerak pada garis keseimbangan kemudian periode 3 sampai 6
bergerak naik stabil pada periode 7 sampai akhir periode bergerak naik dan

turun dengan tidak drastis yaitu bergerak stabil dan hal tersebut menjelaskan
perubahan atau shock RSBI direspon positif oleh KURS.
Grafik 4.1 Hasil Impulse Response Function pada Jalur kredit
Response to Cholesky One S.D. Innovations
Response of INF to CAP

Response of INF to EKS

Response of INF to INF

Response of INF to KURS

Response of INF to PDB

Response of INF to RDEPO

Response of INF to RSBI

-1
1

-1
10

Response of PDB to CAP

-1
10

Response of PDB to EKS

-1
10

-1
10

Response of PDB to KURS

Response of PDB to INF

-1
10

-1
10

10,000

10,000

10,000

10,000

10,000

10,000

5,000

5,000

5,000

5,000

5,000

5,000

5,000

-5,000

-5,000

-5,000

-5,000

-5,000

-5,000

-5,000

-10,000
10

-10,000

-10,000
10

600
400

10

-10,000
10

10

10

-10,000

-10,000
1

10

10

Response of RSBI to RSBI

Response of RDEPO to RSBI

Response of KURS to RSBI

Response of PDB to RSBI

10,000

-10,000

Response of PDB to RDEPO

Response of PDB to PDB

.8

.6

.6

.4

.4

.2

200
.2

.0

.0

-200

-.2

-.2

-.4

-.4

-400
1

10

10

10

7. Analisis Forecasting Error Variance Decomposition


Analisis variance decomposition adalah metode yang digunakan untuk
melihat bagaimana perubahan dalam suatu variabel makro yang dirunjukkan
oleh perubahan dalam suatu variabel makro yang ditunjukkan oleh perubahan
variancce eror yang dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Dalam
analisisi ini juga bisa dilihat kekuatan dan kelemahan dari masing-masing
variabel dalam mempengareuhi variabel lainnya pada kurun waktu yang
panjang.
a.

Jalur Kredit
Dalam analisis ini akan membahasa variance decomposition
hubungan

antara

variabel

INF,INV,JUB,PDB,RDEPO,RSBI,RKRE

selama 10 bulan kedepan. Analisis ini dapat melihat kontribusi presentase


varian variabel INF terhadap perubahan varaibel PDB, INV, JUB,RDEPO,
RSBI, RKRE dan kontribusi presentase varian variabel PDB terhadap
perubahan INV, JUB, RDEPO, RSBI, RKRE, INF.
Tabel 4.13
Analisis Forecasting Error Variance Decomposition INF

Perio
d
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Variance Decomposition of INF:


JUB
PDB
RDEPO

S.E.

INF

INV

2.077401
2.940272
3.297298
3.519099
3.688950
3.765989
3.819749
3.859215
3.879692
3.903999

100.0000
89.58938
82.90398
76.99722
71.05112
68.32699
68.31470
68.87558
68.72482
67.87194

0.000000
0.263757
0.576408
1.391081
1.451225
1.392499
1.366549
1.381268
1.465164
1.526502

0.000000
0.223746
1.646496
3.263094
4.022006
4.329010
4.413085
4.362212
4.317971
4.288798

0.000000
0.277129
0.337273
0.318033
0.292501
0.280833
0.273753
0.268877
0.266279
0.269160

0.000000
2.720109
2.578607
4.718516
9.616910
11.77890
11.88173
11.63997
11.82473
12.66043

RKRE

RSBI

0.000000
0.001846
0.441082
1.096373
1.490230
1.669194
1.682857
1.648798
1.693001
1.820438

0.000000
6.924034
11.51616
12.21569
12.07601
12.22258
12.06733
11.82329
11.70803
11.56273

Sumber : lampiran 8 ( pengolahan data eviews)


Pada periode pertama varian INF dijelaskan oleh variabel itu sendiri
sebesar 100%. Pada perode kedua varian INF dijelaskan oleh variabel itu
sendiri sebesar 89, 59% sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh variabel INV
sebesar 0,26%, varibael JUB sebesar 0,22%, variabel PDB sebesar
0,27%,variabel RDEPO sebesar 2,72%, variabel RKRE sebesar 0,001% dan
variabel RSBI sebesar 6,92%. Pada periode kelima varian INF dijelaskan oleh
variabel itu sendiri sebesar 71,05% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel
INV sebesar 1,45%, JUB sebesar 4,02%, PDB sebesar 0,29%, RDEPO sebesar
9,62%, RKRE sebesar 1,49% dan RSBI sebesar 12,07. Dan pada periode akhir
periode varian INF dijelaskan oleh variabel itu sendiri sebesar 67,87%
sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel INV sebesar 1,53%, JUB sebesar

4,29%, RSBI sebesar 0,27%, RDEPO sebesar 12,66%, RKRE sebesar 1,82 %
dan RSBI sebesar 11,56%.
Tabel 4.14
Analisis Forecasting Error Variance Decomposition PDB
Period
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

S.E.
10911.52
13117.31
16944.39
19094.76
21981.92
23708.56
26091.02
27568.75
29481.38
30814.04

INF
1.010034
2.318343
4.980832
11.56682
15.13871
20.89899
23.58750
27.01274
28.13870
30.15998

INV
0.075195
0.929112
1.896509
4.398935
4.091494
4.368788
3.886374
3.758379
3.354725
3.145428

JUB
0.055136
9.857162
7.610055
8.364689
7.155083
6.249265
6.062055
5.446415
5.603193
5.234446

PDB
98.85964
78.94260
77.45880
67.98654
66.46263
62.08969
60.25319
57.78602
56.48464
54.78754

RDEPO
0.000000
1.226205
1.795356
2.258571
2.277215
2.165023
1.869085
1.747830
1.620242
1.624067

RKRE
0.000000
0.420751
2.030633
1.604350
1.858733
1.632812
1.687362
1.594214
1.751140
1.802779

RSBI
0.000000
6.305825
4.227819
3.820090
3.016137
2.595437
2.654440
2.654396
3.047362
3.245760

Sumber : lampiran 8 ( pengolahan data eviews)


Pada periode pertama varian PDB dijelaskan oleh variabel itu sendiri
sebesar 98,86%, dan sisanya dapat dijelaskan dengan variabel INF sebesar
1,01%, INV sebesar 0,08%, JUB sebesar 0,05. Pada perode kedua varian PDB
dijelaskan oleh variabel itu sendiri sebesar 78,94% sedangkan sisanya dapat
dijelaskan oleh variabel INF sebesar 2,32%, variabel INV sebesar 0,93%,
varibael JUB sebesar 9,86%, variabel RDEPO 1,23%, variabel RKRE sebesar
0,42% dan variabel RSBI sebesar 6,30%. Pada periode kelima varian INF
dijelaskan oleh variabel itu sendiri sebesar 71,05% sedangkan sisanya
dijelaskan oleh variabel INV sebesar 1,45%, JUB sebesar 4,02%, pdb sebesar
0,29%, RDEPO sebesar 9,62%, RKRE sebesar 1,49% dan RSBI sebesar
12,07. Dan pada periode akhir periode varian INF dijelaskan oleh variabel itu
sendiri sebesar 67,87% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel INV
sebesar 1,53%, JUB sebesar 4,29%, RSBI sebesar 0,27%, RDEPO sebesar
12,66%, RKRE sebesar 1,82 % dan RSBI sebesar 11,56%. Dan pada periode
kelima PDB dipengaruhi oleh variabel itu sendiri sebesar PDB 66,46%, dan
sisanya dipengaruhi oleh variabel INF sebesar 15,14%, INV sebesar 4,09%,

JUB sebesar 7,15%, RDEPO sebesar 2,28%, RKRE sebesar 1,86%, RSBI
sebesar 3.02%. Diakhir periode variabel PDB dipengaruhi oelh variabel itu
sendiri sebesar 54,79%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel INF sebesar
30,16%, INV sebesar 3,15%, JUB sebesar 5,24%, RDEPO sebesar 1,62%,
RKRE sebesar 1,80%, RSBI sebesar 3.24%. Pada periode akhir kontribusi
inflasi dalam mempengaruhi PDB cukup besar.
b.

Jalur Nilai Tukar


Dalam analisis ini akan membahasa variance decomposition hubungan
antara variabel INF,KURS,PDB,RSBI,RDEPO,CAP,EKS selama 10 bulan
kedepan. Analisis ini dapat melihat kontribusi presentase varian variabel INF
terhadap perubahan varaibel KURS, PDB, RSBI,RDEPO, CAP, EKS dan
kontribusi presentase varian variabel PDB terhadap perubahan RSBI, RDEPO,
CAP, EKS, INF, KURS.
Tabel 4.15
Analisis Forecasting Error Variance Decomposition INF
Period
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

S.E.
2.093102
2.937494
3.309615
3.487529
3.596537
3.691485
3.808125
3.929000
4.024611
4.086560

CAP
0.029045
0.234204
3.952191
6.269744
6.565637
6.244299
6.202569
6.322740
6.323043
6.250263

EKS
0.006974
0.145588
0.582905
0.686256
0.763771
1.141572
1.964422
2.866621
3.517974
3.904036

INF
99.96398
92.75776
84.67250
79.13706
74.54146
71.35844
69.36050
68.32281
67.87469
67.38893

KURS
0.000000
0.431705
0.396687
0.890606
1.951942
2.507978
2.438485
2.301156
2.347757
2.574837

PDB
0.000000
0.728086
0.879057
0.800942
0.827411
0.860959
0.890342
0.853670
0.814252
0.808002

RSBI
0.000000
5.120945
6.493930
5.848327
6.157986
6.722185
6.908616
6.679705
6.366460
6.288001

RDEPO
0.000000
0.581713
3.022727
6.367068
9.191796
11.16456
12.23507
12.65330
12.75583
12.78593

Sumber : lampiran 8 ( pengolahan data eviews)


Pada periode pertama varian INF dijelaskan oleh variabel itu sendiri
sebesar 99,96%, dan sisanya dijelaskan oleh variabel CAP sebesar 0,03%, dan
variabel EKS sebesar 0,007%. Pada perode kedua varian INF dijelaskan oleh
variabel itu sendiri sebesar 92,76% sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh

variabel KURS sebesar 0,43%, varibael PDB sebesar 0,73%, variabel RSBI
sebesar 5,12%,variabel RDEPO sebesar 0,58%, variabel CAP sebesar 0,23%
dan variabel EKS sebesar 0,14%. Pada periode kelima varian INF dijelaskan
oleh variabel itu sendiri sebesar 74,54% sedangkan sisanya dijelaskan oleh
variabel KURS sebesar 1,95%, varibael PDB sebesar 0,83%, variabel RSBI
sebesar 6,17%,variabel RDEPO sebesar 9,19%, variabel CAP sebesar 6,57%
dan variabel EKS sebesar 0,76%. Pada periode kelima ini kontribusi varibel
lain terhadap INF lebih meningkat dibanding periode sebelumnya. Dan
periode akhir varian INF dijelaskan oleh variabel itu sendiri sebesar 67,39%
sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel KURS sebesar 2,57%, varibael
PDB sebesar 0,81%, variabel RSBI sebesar 6,29%,variabel RDEPO sebesar
12,79%, variabel CAP sebesar 6,25% dan variabel EKS sebesar 3,90%.
Tabel 4.16
Analisis Forecasting Error Variance Decomposition PDB
Period
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

S.E.
9376.953
11621.70
14833.54
17941.83
20792.80
23765.27
26300.18
29136.84
31761.08
34677.32

CAP
4.300864
22.96290
18.68236
29.93303
28.27053
32.88122
31.65411
33.96335
33.44332
34.84851

EKS
3.045769
4.734392
2.911967
1.990534
1.526364
1.555880
1.857975
2.332560
2.891464
3.619800

INF
1.096701
0.793603
1.467252
5.020181
7.266641
8.710846
8.402044
7.661143
6.781524
5.954540

KURS
1.979318
10.65108
8.858791
14.61351
12.86078
15.08740
14.65230
16.21313
15.65677
15.74480

PDB
89.57735
59.80662
67.09181
47.22345
48.08916
38.19328
38.05476
32.22251
31.19750
27.20430

RSBI
0.000000
0.899622
0.891527
0.870960
0.833125
0.825192
0.774935
0.725240
0.676756
0.611768

RDEPO
0.000000
0.151779
0.096300
0.348337
1.153398
2.746188
4.603882
6.882062
9.352664
12.01627

Sumber : Lampiran 8 (hasil olahan dari eviews)


Pada periode pertama varian PDB dijelaskan oleh variabel itu sendiri
sebesar 99,96%, dan sisanya dijelaskan oleh variabel CAP sebesar 4,30%, dan
variabel EKS sebesar 3,04%, INF sebesar 1,10%, variabel KURS sebesar
1,98%. Pada perode kedua varian PDB dijelaskan oleh variabel itu sendiri
sebesar 59,80% sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh variabel RSBI
sebesar 0,90%, varibael RDEPO sebesar 0,15%, variabel CAP sebesar

22,96%,variabel EKS sebesar 4,73%, variabel INF sebesar 0,79% dan variabel
KURS sebesar 10,65%. Pada periode kedua ini sudah terlihat bahwa terdapat
penurunan kontribusi yang cukup banyak dari variabel PDB itu sendiri karena
pada periode kedua ini variabel lain memiliki kontribusi yang meningkat.
Dalam periode kelima varian PDB dijelaskan oleh variabel itu sendiri sebesar
48,08%% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel RSBI sebesar 0,83%,
varibael RDEPO sebesar 1,15%, variabel CAP sebesar 32,88%, variabel EKS
sebesar 1,55%, variabel INF sebesar 8,71% dan variabel KURS sebesar
15,08%. Dan periode akhir varian varian PDB dijelaskan oleh variabel itu
sendiri sebesar 27,20% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel RSBI
sebesar 0,61%, varibael RDEPO sebesar 12,02%, variabel CAP sebesar
34,84%, variabel EKS sebesar 13,62%, variabel INF sebesar 5,95% dan
variabel KURS sebesar 15,74%. Dalam periode terakhir dapat dilihat bahwa
varian PDB dapat dijelaskan oleh varian PDB sendiri mengalami penurunan
yang drastis dan pada periode akhir yang memiliki kontribusi yang palin besar
terhadap PDB adalah variabel CAP.
C.

Pembahasan
Dalam uji granger causality menunjukkan bahwa yang memiliki pengaruh langsung
dalam jalur kredit terhadap INF adalah RSBI dan RDEPO, terhadap PDB adalah JUB dan
yang memiliki pengaruh kuat terhadap PDB adalah JUB karena dalam granger causality
memiliki pengaruh dua arah. Hal tersebut temuan ini mendukung penelitian dari Le Viet
Hung dan Wade D. Pfau (2008) pada negara Vietnam dijelaskan bahwa
hasil penelitian tersebut bahwa terdapat hubungan yang kuat anatara
uang dengan PDB, akan tetapi tida ditemukan hubungan langsung JUB
terhadap INF karena didorong oleh banyak faktor. Dalam jalur nilai

tukar dalam uji granger causality yang memiliki pengaruh langsung


terhadap inflasi adalah RSBI dan yang memiliki yang memiliki
pengaruh langsung terhadap PDB tidak ada. Dalam penelitian ini
diantara jalur kredit dan jalur nilai tukar, yang memiliki pengaruh
terhadap sasaran akhir adalah INF dan PDB adalah jalur kredit yang
variabelnya lebih banyak dalam mempengaruhi INF dan PDB.
Hasil analisis perbandingan peranan jalur kredit dan nilai tukar pada mekanisme
transmisi kebijakan moneter di Indonesia telah dijelaskan secara mendalam dalam analisis
Impluse Response Function (IRF). Peranan jalur kredit dan nilai tukar ditransmisikan
dalam kebijakan moneter melalui instrumen moneter. Instrumen moneter yang
dipergunakan adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia.
Dalam perbankan suku bunga SBI kemudian diikuti oleh suku bunga deposito,
suku bunga kredit. Artinya, jika suku bunga SBI meningkat, maka pihak perbankan akan
menaikkan suku bunga deposito, dan suku bunga kredit. Dalam hal suku bunga kredit
memiliki suku bunga yang cukup tinggi dibandingkan dengan suku bunga deposito. Hal
ini terjadi karena pihak perbankan bukan hanya memperhatikan suku bunga acuan dari
Bank Indonesia, tetapi juga secara mikro perbankan, terkait dengan kondisi keuangan
internal dari tiap bank yang dipengaruhi oleh struktur asset yang semakin didominasi
kredit, komposisi likuiditas dan sumber pendanaa yang semakin berjangka pendek, serta
upaya memperkuat keuntungan. Bila diperhatikan transmisi pada sektor riil, bahwa
investasi cukup dipengaruhi oleh suku bunga kredit. Ini terlihat dari uji kausalitas, yang
menyatakan terjadi hubungan kausalitas dua arah. Bila suku bunga kredit menurun akan
mempengaruhi investasi, begitu sebaliknya. Artinya, bila suku bunga kredit menurun,
maka para investor akan tertarik untuk meminjamkan uang untuk melakukan investasi.
Dan hasil dari keuntungan investasi dapat menutupi bunga kredit. Kenaikan suku bunga

akan menurunkan pengeluaran investasi, yang akan mempengaruhi outputgap dan pada
akhirnya pada sasaran akhir, yaitu inflasi.
Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan monetet kontraktif, maka suku
bunga dalam negeri akan meningkat. Sedangkan suku bunga luar negeri yaitu LIBOR
tetap, maka interest rate differentials semakin menunjukkan angka yang tinggi. Hal ini
akam mendorong capital inflows. Akibatnya, nilai tukar rupiah akan terapresiasi yang
selanjutnya menyebabkan kegiatan ekspor akan menurun sebaliknya kegiatan impor akan
meningkat. Akibatnya, permintaan agregat menurun dan selanjutnya berpengaruh pada
inflasi (Boediono, 1998). Dari hasil penelitian menyatakann bahwa dari sektor riil,
kenaikan suku bunga dalam negeri tidak serta merta menaikkan capital inflows, dalam hal
ini adalah penanaman modal asing secara langsung. Justru yang ditemui adalah
peningkatan penanaman modal asing portofolio. Penyebab bahwa penanaman modal
asing secara langsung ditemui tidak begitu tinggi karena belum membaiknya persepsi
investor terhadap dunia usaha. Persepsi resiko yang lebih besar bila investasi dilakukan
pada sektor riil. Pada akhirnya, akan mempengaruhi sasaran akhir dari kebijakan moneter
yaitu inflasi. Dari hasil analisis IRF dapat dibedakan time lag atau kecepatan peranan
jalur kredit dan nilai tukar pada mekanisme transmisi kebijakan moneter.
Berdasarkan hasil dari pengujian IRF ditampilkan time lag dari jalur kredit dan
jalur nilai tukar dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter. Jalur kredit
membutuhkan time lag (kecepatan) respon variabel sejak terjadi perubahan (shock)
instrumen kebijakan moneter untuk mencapai sasaran akhir yaitu inflasi adalah sebesar 10
kuartal, sedang pada jalur nilai tukar membutuhkan time lag respon variabel sejak terjadi
perubahan instrumen kebijakan moenter untuk mencapai sasaran akhir adalah sebesar 4
kuartal. Dengan demikian, dalam hal ini kecepatan respon variabel sejak shock untuk

mencapai sasaran akhir adalah peranan jalur kredit lebih efektif dibandingkan dengan
jalur nilai tukar.

.BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Peranan jalur kredit dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter terdapat saling
berhubungan pada beberapa variabel. Dari uji kausalitas tersebut ditemukan bahwa ada
beberapa variabel yang mempunyai hubungan Granger cause atau hubungan saling
pengaruh, yaitu antara rKredit dengan Investasi begitu sebaliknya serta antara PDB
dengan JUB. Sedangkan hubungan antara rDEPO dengan INF, rSBI dengan INF, JUB
dengan INV, PDB dengan INV, rDEPO dengan INV, rSBI dengan INV, JUB dengan
rKRE, PDB dengan rKRE, PDB dengan rSBI, rDEPO dengan rKRE, dan rSBI dengan
rKRE menunjukkan adanya hubungan kausalitas yang satu arah saja. Hasil uji kausalitas
untuk variabel lainnya adalah INF dengan INV, INF dengan JUB, INF dengan PDB, INF
dengan rKRE, JUB dengan rDEPO, rSBI dengan JUB, PDB dengan rDEPO, dan rDEPO
dengan rSBI tidak ditemukan adanya hubungan diantara variabel tersebut, yang artinya
adalah tidak terdapat saling ketergantungan (no causality) diantara kedua variabel.
2. Pada jalur nilai tukar dalam mekanisme transmisi kebijakan moenter dijelaskan pengaruh
oleh beberapa variabel. Dari uji kausalitas tersebut ditemukan bahwa tidak terdapat
variabel yang mempunyai hubungan Granger cause atau hubungan saling pengaruh.
Adapun hubungan antara CAP dengan EKS, INF dengan CAP, DEPO dengan CAP, SBI
dengan CAP, EKS dengan KURS, PDB dengan EKS, SBI dengan INF, KURS dengan
PDB, serta PDB dengan SBI menunjukkan adanya hubungan kausalitas yang satu arah
saja. Hasil uji kausalitas untuk variabel lainnya tidak ditemukan adanya hubungan
diantara variabel tersebut, yang artinya tidak terdapat saling ketergantungan (no causality)
diantara kedua variabel.

B. Saran
1. BI perlu menjaga suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dengan lebih efektif agar
dapat digunakan sebagai instrumen dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter. Bank
Indonesia sejak Juli 2005 sudah menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional
dalam pengambilan kebijakan moneter. Oleh karena itu, perlu mempertahankan kebijakan
tersebut.
2. BI perlu menggunakan mekanisme transmisi kebijakan moneter pada jalur kredit untuk
lebih menjaga dan mengawasi pihak perbankan, agar semakin merespon terhadap setiap
shock dari suku bunga SBI sehingga semakin memperkuat terwujudnya sasaran akhir
kebijakan moneter.
3. BI perlu menggunakan mekanisme transmisi kebijakan moneter pada jalur nilai tukar
untuk tetap menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, karena sangat berpengaruh pada sektor
riil yang terjadi.