Anda di halaman 1dari 13

SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

Posted on September 5, 2014 by heruagungsaputra46


Sukses adalah tercapainya impian yang didapatkan dengan kerja keras serta diiringi dengan doa.
Suatu hal disebut sukses apabila bermanfaat bagi kita maupun bagi orang lain disekitar kita.
Kesuksesan itu tidak hanya berupa materi, tetapi juga bisa berupa nonmateri. Berbicara
mengenai sukses, semua orang tentunya menginginkan kesuksesan, namun hanya segelintir yang
tahu bahwa suatu rencana yang matang, ditambah hasrat besar untuk mencapai, merupakan arti
mencapai kesuksesan yang sesungguhnya. Sukses yang diinginkan setiap orang mungkin
berbeda-beda sesuai dengan apa yang mereka impikan. Bagi saya, sukses adalah sebuah
pencapaian, lalu bagiamana kita menghargai pencapaian itu. Sebelum kita mencapai suatu hal,
pasti kita mengimpikan hal tersebut dan kita berusaha untuk mencapainya. Seperti saya yang
mengimpikan menjadi terbaik (prestasi) di kelas dan saya berusaha untuk mencapainya.
Mungkin saat itu orang lain mengaggap bahwa impian saya terlalu sepele karena dibawah
standar impian mereka. Tetapi menurut saya menjadi yang terbaik di kelas adalah impian yang
sangat besar, bagaimana tidak? Menjadi nomor satu di kelas yang sampai dengan saat itu belum
saya capai.
Saat akhir tahun pelajaran, semua siswa kelas tujuh diurutkan berdasarkan tingkat prestasi. Entah
mendapat urutan berapa (pastinya dalam jajaran atas) waktu itu saya masuk di kelas unggulan.
Saya sangat senang karena mendapat kesempatan belajar bersama dengan orang-orang terbaik
sampai-sampai saya melupakan kewajiban, yaitu belajar. Sebagai konsekuensinya, pada akhir
semester ganjil saya masuk dalam lima besar siswa dengan prestasi terburuk dikelas. Saya
mendapat urutan 38 dari 42 siswa dan itu adalah hal yang sangat memalukan bagi saya. Sejak
saat itu saya berubah menjadi giat belajar dan bertekat untuk memperbaiki prestasi belajar.
Masuk di kelas IX saya mendapat urutan 32 dari 156 siswa, prestasi yang cukup mengejutkan.
Tak berhenti sampai disitu, porsi belajar terus saya tingkatkan hingga saya selalu mendapatkan
urutan 15 besar dari 156 siswa saat latihan ujian nasional. Saat itu saya berpikir dan berkata
dalam hati saya belum sukses meskipun saya membuat sebuah kejutan prestasi.
Setelah masa SMP berakhir, saya masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMA.
Pada akhir semester ganjil saya mendapat urutan sembilan dari sekitar 38 siswa dan diakhir
semester genap saya mendapat urutan tiga. Saat itu saya berpikir bahwa sebelum saya mendapat
urutan satu, sukses belum saya capai dan artinya saya harus lebih giat lagi dalam belajar.
Penjurusan pun dimulai menjelang akhir kelas X. Saat itu saya mendapat rekomendasi untuk
mengambil jurusan IPA, karena test IQ menunjukkan bahwa bakat saya cenderung sains. Untuk
itu saya mengambil jurusan IPA, selain karena rekomendasi juga karena saya lebih tertarik pada
IPA. Rasa suka saya terhadap mata pelajaran IPA membuat saya lebih giat lagi untuk belajar.
Awal semester ganjil di kelas XI saya mulai tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan seperti Karya
Ilmiah Remaja (KIR) dan Olimpiade Sains (OS) khususnya di bidang kimia dan matematika.
Saya selalu menjadi perwakilan sekolah dalam event-event olimpiade sains maupun Lomba
Cepat Tepat (LCT) baik tingkat kabupaten/kota maupun tingkat provinsi. Prestasi terbesar yang
pernah saya capai saat itu adalah mendapat peringkat tiga olimpiade kimia tingkat

kabupaten/kota dua kali berturut-turut di tahun 2009 dan menjadi perwakilan kabupaten di ajang
olimpiade kimia di tingkat provinsi. Tak pernah terbayangkan oleh saya mencapai hal yang
sebelumnya saya rasa sangat sulit dan hampir mustahil. Pada akhir semester ganjil di kelas XI,
saya mendapat urutan satu untuk pertama kalinya dan itu saya pertahankan hingga saya masuk
perguruan tinggi negeri, yaitu Universitas Lampung. Itulah sukses terbesar dalam hidupku.

No 2
Sukses merupakan sesuatu yang relatif, karena setiap orang mempunyai arti tersendiri mengenai
kesuksesan. Begitu pula aku, yang mempunyai definisi tersendiri mengenai sukses. Bagiku,
kesuksesan dilihat dari sudut pandang lingkungannya. Misalkan, aku pernah ikut di UPKFEB
(Unit Pengembangan Komputer Fakultas Ekonomika dan Bisnis) di Undip, kesuksesan terbesar
yang pernah aku raih yaitu ketika aku mampu memimpin kelompoku untuk membuat jaringan
internet di FEB. Atau ketika aku ikut di ZIS (Zakat Infaq Shadaqah), kesuksesan terbesar bagiku
yaitu mampu menggalang dana untuk Tabung Qurban.
Bagaimana dengan sukses dalam hidupku? Dulu aku berpikir bahwa kesukesan terbesarku yaitu
apabila dapat menjadi Triliuner, dimana aku akan membangun sebuah wisma di Undip untuk
anak-anak tidak mampu dari seluruh pelosok Indonesia, menyediakan beasiswa full untuk
mereka (Sehingga mereka bisa fokus kuliah), memberikan ilmu rohani yang terbaik
(Mendatangkan Ustadz-ustadz terbaik, mis : dari Gontor, pendeta-pendeta terbaik, dan juga para
biksu), serta mampu menerbangkan mereka ke luar negeri di pertengahan tahun kuliah (Sebagai
motivasi diri mereka), dsb. Namun, setelah aku berpikir ulang mengenai makna kesuksesan,
barulah aku tersadar bahwa kesuksesan terbesar hidup ku bukanlah hal-hal tersebut diatas.
Kesuksesan terbesar merupakan suatu prestasi terbaik menurut penilaian kita dari prestasiprestasi yang kita lakukan. Seperti yang sudah aku utarakan diatas bahwa sukses itu dilihat dari
lingkunganya, maka penilaian prestasi dapat terjadi apabila kita sudah keluar atau selesai dari
lingkungan. Aku bisa menilai kesuksesan terbesarku di UPKFE setelah aku selesai dari tugasku
disana. Begitu pula dengan penilaianku di ZIS.
Sekarang, mengenai kehidupan ini, sukses hanya dapat dilihat apabila aku keluar dari kehidupan
ini, atau dapat dikatakan ketika aku sudah meninggal. Aku sadar bahwa hidupku di dunia ini
hanya sebuah persinggahan menuju dunia abadi kelak, akhirat. Hanya ada 2 pilihan yang
menentukan kesuksesan ku hidup di dunia, surga atau neraka. Kesuksesan ini pun tidak bisa aku
tentukan seperti ceritaku diatas, mengenai UPKFE dan ZIS. Hanya Allah SWT lah yang bisa
menentukan.
Banyak sekali kisah mengenai orang-orang yang masuk surga karena hal sepele, begitupun
masuk neraka. Hal ini membuatku sadar bahwa kelakuanku di dunia ini tidak bisa aku ukur
sebagai kesuksesan atau tidak apabila ingin mengetahui Sukses Terbesar dalam Hidup Ku.
Mungkin saja dengan aku nantinya menjadi Triliuner justru bisa membawa ku menuju jurang
neraka. Karena ada uang haram yang terselip ketika kita mendermakannya, dosaku pun menjadi
berlipat ganda.

Hal-hal yang tertulis diatas memberikan arti penting bagiku bahwa Kesuksesan Terbesar dalam
Hidup tidak usah terlalu dipikirkan, lakukan saja hal-hal yang mampu membawa kebaikan bagi
sesama.
Walaupun begitu, aku tetap harus mempunyai cita-cita dan berharap agar kelak realisasi dari citacitaku ini bisa membawa ku masuk Surga. Selain impian menjadi Triliuner, aku juga ingin
menjadi Dosen Ekonomi Islam di Undip. Bagiku menjadi dosen bukanlah perkara yang mudah,
pengalaman dan teori harus aku pahami betul hingga kemudian siap menyalurkan ilmuku kepada
calon mahasisma ku nanti. Untuk itu, apa yang terdapat dalam tulisanku di Peranku Bagi
Indonesia, merupakan langkah awalku.
No 3
Menurut saya, sukses adalah sebuah pencapaian. Ketika saya menginginkan sesuatu dan
memperjuangkan hal tersebut dengan sungguh-sungguh, maka ketika saya mencapainya, itu
adalah kesuksesan. Sesuatu yang tidak datang begitu saja.
Suatu pagi pada tahun 2010, saya diundang oleh seorang senior yang sekaligus teman seorganisasi untuk menghadiri upacara kelulusannya. Hari itu sangat terik, namun saya dan teman
saya tetap berhadir. Saya pikir, ini adalah hari kebahagiaan untuknya, yang sudah hampir 7 tahun
menyelesaikan S1.
Saya dan teman saya duduk di barisan paling belakang diantara keluarga
wisudawan/wisudawati yang berwisuda pada hari itu. Saya menyimak dengan baik semua
agenda pesta kelulusan itu. Hingga akhirnya, tibalah waktu pemberian cendera mata dari pihak
fakultas kepada peserta wisuda yang lulus dengan predikat terpuji (cumlaude).
Betapa bahagianya orang tua mereka. Berdiri di depan semua hadirin untuk predikat
kelulusan putra-putri mereka. Bulu-bulu di lengan saya berdiri. Seandainya saya mampu
membuat Mak dan Ayah berdiri disana, Mak pasti sangat bahagia. Dan Ayah akan lebih
menghargai saya.
Mengapa Mak? Mak adalah panggilan yang biasa orang Aceh tujukan untuk ibunya.
Kemiskinan membuat wanita paruh baya yang saya panggil Mak itu menikah muda, setamat
SMP. Saya sangat ingin membuatnya berdiri disana. Berbahagia dan bersyukur memiliki saya.
Saya ingin beliau yakin bahwa keputusannya memiliki saya adalah benar.
Ayah bukanlah lelaki jahat. Namun, beliau mugkin mempunyai pemahaman tersendiri
tentang makna sukses yang belum bisa saya pahami hingga saat ini. Sejak saya kecil, Mak selalu
menjadi penyemangat dan sosok suci bagi saya. Berjuang agar saya bisa mencicipi pendidikan
terbaik semampunya.
Maka sepulang dari acara wisuda itu, saya membongkar berkas kuliah saya. Saya mencari
KHS-KHS saya pada empat semester sebelumnya. Saya menghitung jumlah sks yang harus saya
ambil agar bisa menyelesaikan kuliah dalam rentang waktu kurang dari 4 tahun. Selama ini saya
terlalu sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler kampus dan beberapa organisasi. Saya harus
menyeimbangkan hidup saya dan mendahulukan hal-hal yang penting.
Setelah saya mengkalkulasikan nilai-nilai saya dengan target nilai untuk semestersemester ke depan, saya bisa memperoleh IPK 3,56. Saya akan berusaha maksimal untuk

mendapatkan nilai sempurna semester-semester mendatang. Semangat saya seolah meledak.


Namun, usaha yang lakukan tidak menunjukkan hasil seperti yang saya harapkan. Ada beberapa
nilai B+ untuk mata kuliah yang saya targetkan mendapatkan nilai A.
Semester salanjutnya, saya mengubah strategi. Saya mengambil mata kuliah ekstra.
Berbekal nilai bagus, saya diizinkan mengambil 4 sks ekstra pada semester mendatang. Saya
mengambil satu mata kuliah berat yang seharusnya dikerjakan pada semester 7. Maka
menggantikan waktu yang biasa saya gunakan untuk tidur dengan membuat tugas kuliah.
Menatap Autocad*) dan Microsoft Excel adalah pekerjaan wajib setiap malam.
Akan manis nantinya, pikir saya. Ini adalah salah satu cara membahagiakan ibu, lulus
dengan IPK diatas 3,50. Saya akan membuat beliau menangis haru karena saya. Saya akan
membuat beliau berdiri di depan dengan prestasi saya. Saya menempelkan kata-kata motivasi
dan sebuah study plan di depan meja belajar saya. Namun, ketertarikan terhadap kegiatan
kampus tak bisa saya musnahkan seketika. Angkatan saya mendapat tanggung jawab
mengadakan Lomba Berhitung Fakultas Teknik (LBFT) Se-Aceh dari Himpunan Mahasiswa
Sipil (HMS). Saya ikut menjadi panitia acara dan salah satu penanggung jawab acara di Kota
Lhokseumawe, 6 jam perjalanan dari kota Banda Aceh.
Banyak waktu yang aku habiskan di luar kota, maka saya gagal 3 sks. Perencanaan
Gedung 1. Nilai X menempel di KHS saya. Saya menangis dan menyesali diri yang tergoda
dengan kegiatan ekstrakurikuler kampus. Memang hanya beberapa orang dari angkatan saya
yang berhasil menyelesaikan mata kuliah tersebut dalam satu semester, namun saya telah
melanggar janji terhadap diri sendiri.
Saya kembali bangkit dan menata diri. Saya membuat perencanaan yang lebih baik,
mengutamakan yang menjadi prioritas dan menepati janji pada diri sendiri. Semester selanjutnya
tidak banyak kegiatan kampus. Saya memfokuskan diri mengerjakan tugas yang semakin
menumpuk dengan beban berat diatas kepala. Belum lagi kerja praktek dan memikirkan judul
tugas akhir. Saya juga mengambil mata kuliah tambahan untuk menambal IPK. Akhirnya saya
berhasil lulus 3 tahun 11 bulan, dengan IPK 3,51. Saya memenuhi janji pada diri sendiri.
Perjuangan yang terasa begitu panjang. Mengurangi waktu bermain dan tidur nyenyak di malam
hari. Untuk Ibu, orang yang paling saya cintai.
Itulah kesuksesan terbesar dalam hidup saya hingga saat ini. Saya berjanji membuat Ibu
bangga atas prestasi saya yang berikutnya. Memperoleh beasiswa melanjutkan master degree
dan menjadi seorang pengajar adalah impian saya.

No 4

ukses Terbesar dalam Hidupku


March 10, 2014 by feriaone
1
Sesuai dengan tema yang menarik tapi sulit untuk diungkapkan, saya akan tulis sederet kalimat
yang mudah-mudahan masih nyambung dengan tema tersebut. Karena sejujurnya ketika ditanya
mengenai kesuksesan dalam hidup saya masih perlu berfikir panjang, memutar otak,

memporakporandakan memori ingatan untuk hal yang satu itu, padahal saya tahu pekerjaan itu
akan sia-sia dikarenakan belum ada yang dapat saya eluh-eluhkan dalam hidup saya. Ini menurut
saya. Tidak berhanti disitu, saya masih penasaran dengan apa penyebab kesia-siaan itu. Saya
terus bertanya-tanya sendiri dengan satu pertanyaan mengapa tidak ada. Saya mulai berfikir
secara sistematis. Saya kaji kata demi kata pada tema itu. Dimulai dari kata SUKSES.
Sukses adalah kata yang terlihat sederhana namun keramat di telinga. Bagaimana tidak,
pendengar kata sukses akan secara otomatis melayangkan imajinasinya pada hal-hal besar yang
selama ini menjadi tujuan hidupnya. Sangat diinginkannya. Mungkin tentang kekayaan,
kedudukan social, percintaan, prestasi dan berbagai hal lainnya. Sama halnya saya ketika
mendengar seseorang yang mendokan saya semoga hidupmu sukses saya akan melambung
tinggi pada dimensi dimana saya serba hidup minimal cukup, ibadah tenang, berbahagia dan
dapat membahagiakan, sehat, dapat mengamalkan ilmu. Bagi saya seperti itulah saya disebut
sukses. Itu artinya sukses adalah tentang berhasil meraih sesuatu yang dianggap besar oleh
subyek. Ditilik dari kata berhasil meraih, sudah barang tentu ada usaha-usaha sebelumnya. Berat
tidaknya usaha tersebut tergantung pada seberapa besar hal yang diharapkan. Sampai disini, saya
mulai merasakan sesuatu. menemukan berhasil meraih saya. Akan tetapi saya belum mempunyai
kepercayaan diri untuk mengemukakannya. Karena menurut saya perkara yang saya temukan
tidak pantas disodorkan.
Kemudian saya teruskan pengkajian tema diatas. Di sana tertulis KESUKSESAN. Kesuksesan
adalah kata sukses yang mendapatkan imbuhan Ke-an menunjukkan kata banda. Dengan kata
lain kesuksesan adalah bentuk nyata sukses yang telah dimilki. Jika dituliskan maka akan
menjadi saya berhasil meraih kesuksesan. Kesuksesan dan besarnya itu relatif. Mempunyai
makna sebanyak pemikiran masing-masing orang. Menurut si A kesuksesan itu mempunyai uang
banyak. Menurut si B kesuksesan itu menjadi seorang pejabat dan seterusnya. Dalam masalah
besarnya, misalnya bagi si A memiliki uang sebanyak satu juta sudah termasuk kesuksesan.
Sedangkan bagi si B kesuksesan itu jika dia memiliki uang 1 milyar. Kesimpulannya, setiap
orang memiliki kesuksesan. Termasuk saya. Akan tetapi, berbicara mengenai kesuksesan
menurut saya tidak boleh lepas dari kebahagiaan. Karena logika saya mengatakan, akan sia-sia
memiliki sesuatu yang besar namun tidak membuat bahagia pemiliknya dan orang di sekitarnya.
Berarti peristiwa yang saya temukan adalah kesuksesan. Akan tetapi saya masih maju mundur
menulisnya disini.
Kajian saya sudah sampai pada kata TERBESAR pada tema di atas. Terbesar itu sesuatu yang
besar namun mempunyai sifat paling. Karena imbuhannya berupa ter. Dari sederet perkara besar
harus ditunjuk satu yang paling besar. Soal ukurannya relatif seperti yang telah saya paparkan
pada kajian sebelumnya.
Dalam hidup berarti terjadi setidaknya sekali dalam hidup terhitung mulai lahir hingga sekarang.
Dari kajian saya mengenai kata demi kata dari tema tersebut dapat saya tarik kesimpulan bahwa
KESUKSESAN TERBESAR DALAM HIDUP adalah bentuk nyata dari keberhasilan mencapai
sesuatu yang paling besar selama kehidupan berlangsung. Sesuai dengan penjelasan panjang
lebar di atas, sesulit apapun saya mengemukakan. Seragu-ragunya saya menulis saya tidak bisa
menyembunyikan peristiwa terbesar dan peristiwa paling bermakna dalam 20 tahun ini dalam

hidup saya. Sekarang saya kumpulkan keberanian untuk menulis perkara yang saya temukan
dalam memori saya.
Dimulai dari saya dan pengurus keamanan harus mencari uang 25 juta untuk membeli leptop
yang hilang di kantor pengurus tempo hari. Kami harus mendapatkan uang itu dalam waktu satu
bulan. Perasaan bingung dan takut tidak sempat kami rasakan. Meskipun perasaan itu juga tidak
pernah hilang. Usaha kami mencari pencurinya juga sia-sia. Yang kami fikirkan hanya
bagaimana jika pemilik leptop menagih. Kami kerahkan semua tenaga dan fikiran kami. Selaku
ketua pengurus saya merasa beban berat berada pada diri saya seorang. Akhirnya semua
tabungan yang saya kumpulkan sejak 2 tahun harus saya korbankan. Hanya 3 juta. Bagaimana
dengan 22 juta lainnya. Saya lah paling tua diantara anggota-anggota saya. saya sudah
mahasiswa. Mereka masih siswa. Harusnya mereka konsentrasi pada sekolah dan PRnya.
Saya bertekat untuk bekerja. Apapun pekerjaan itu asalkan mendapat uang saya mau. Saya
umumkan kegundahan saya pada teman-teman baik teman kampus. Teman alumni dan teman
rumah sekalipun. Tetapi saya hanya mengatakan saya butuh uang. Karena jika saya katakana
yang sesungguhya akan panjang maslahnya. Sehari dua hari belum ada respon baik, hanya
pertnyaan-pertanyaan tidak penting seperti buat apa uang segitu. Tapi ada seorang teman
alumni, kakak angkatan. Dia bekerja di salah satu stasiun tv swasta didaerahnya sebagai
pembawa acara talk syow. Katanya, stasiun tv ini membutuhkan seseorang yang bisa mengaji
dengan tartil sementara selama bulan romadlon bulan depan. Harus direkam secepatnya agar
hasil ketika launching memuaskan. Pas sekali. Saya lulus dari TPQ dengan predikat memuaskan,
tajwid saya bagus. Saya jug anggota jamiyah qori di pondok. Saya bisa melkukan pekerjaan itu.
Namun, demi profesionalitas saya harus berlatih segiat mungkin untuk mendapatkan hasil
terbaik. Hari rekaman tiba. Saya harus membaca surat al kahfi dengan bacaan yang bagus dan
tartil. Alhamdulillah, mereka puas dengan pekerjaan saya. jelas saya mendapat bayaran. Banyak
menurut saya. 10 juta. Bisa untuk menutup 22 juta. Atas pengasilan saya ini anggota pengurus
terharu dan berterimakasih. Namun mereka harus mencari uang untuk sisanya. 12 juta bagi
mereka sangat besar. Jika 12 juata itu dibagi jumlah pengurus keamanan 10 orang. Maka masingmasing harus member uang 1,2 juta. Itu masih berat bagi mereka. Karena uang sakunya saja
hanya 500 ribu tiap bulan. Tetapi kami tidak putus asa.
Alloh memang sayang pada kami. Meskipun kami dirundung masalah besar sepilu itu. Dia
masih memberi muara solusi yang indah. Kami mendapatkan undangan partisipasi lomba di
Universitas Airlangga Surabaya. Berjumlah lima jenis lomba. Tiga kategori mudah bagi kami,
karena masih tentang kepesantrenan. Yaitu pidato bahasa arab, inggris, dan Karya Tulis Ilmiyah.
Dua diantaranya harus menguras tenaga dan pikiran karena kemungkinan menang sangat minim.
Yaitu madding 3D dan tata busana. Jika kami menang di semua perlombaan kami tidak akan
susah payah lagi. Karena kami sudah mendapatkan genap 25 juta.
Selama satu minggu tidak henti-hentinya kami latihan. Termasuk tindakan memaksa. Karena
kami, sebelas orang ini tidak semuanya memiliki talenta yang sesuai. Saya yang menunjuk siapa
yang bertugas di masing-masing lomba karena lagi-lagi saya yang paling tua. Sangat tidak tega.
Mereka yang saya tunjuk harus mati-matian berlatih. Ketidaktegaan itu tidak bisa saya
perlihatkan pada mereka. Hawatir akan mengurangi rasa percaya dirinya. Untungnya, mereka
santri-santri yang baik, selalu semangat, tidak pantang menyerah. Membuat saya semakin

tertegun dan terkagum-kagum. Ternyata seminggu sebelum hari perlombaan, mereka sengaja
berpuasa. Mereka ingin tirakat agar hajatnya terkabul.
Hari itu tiba, perlombaan dimulai. Kami berangkat bersama-sama menuju Surabaya. Seperti akan
berperang. Selama perjalanan tidak ada canda tawa lepas seperti santri biasanya yang ramairamai rihlah. Kami diam, sedikit bicara, dalam hati hanya berdoa agara diberi kelancaran. Saya
seperti pembimbing sekarang. Saya hanya akan member semangat. Memperhatikan kondisi
mereka. Mengatakan KAMU PASTI BISA pada saat-saat akan maju menghadapi juri.
Saya hanya bisa bermunajat kapada Alloh. Satu doa yang pasti Kali ini saya mohon dengan
sangat, menangkanlah kami. Saya berfikir hanya dengan ini saja kami bisa mendapatkan genap
25 juta. Harus lari kemana lagi untuk mendapat uang itu. Tidak ada yang tahu atas masalah besar
yang kami hadapi ini. hanya kami bersepuluh ini.
Perlombaan demi perlombaan telah kami ikuti dengan baik. Semua berjalan lancar. Hanya saja,
yang kami tampilkan tidak begitu heboh seperti delegasi-delegasi lain. mereka tampil dengan
penuh pesona. Mulai kostum yang rapi, sporter yang ramai bergemuruh, latihan yang matang.
Sedangkan mereka, adik-adikku sederhana sekali. Lega rasanya hanya dengan selesai maju
satu hari perjuangan telah selesai. Tinggal menuggu hasil dari Alloh.
Pengumuman hasil lomba telah tiba. Atas seizin Alloh yang tiada daya dan upaya melainkan
karenaNya. Kami berhasil menjuarai semua jenis lomba. Juara 1 Pidatpo bahasa Arab. Juara 3
Pidato bahasa Inggris. Juara satu Karya Tulis Ilmiyah. Juara terfavorit Mading 3D. dan Juara 1
tata busana. Subhanalloh. Banjir tangis di dekapan saya. semua merangkul saya dengan erat
karena bahagianya. Namun tidak ada kata sedikitpun. Kami tidak mampu lagi berucap. Semua
terasa ajaib. Kami dipanggil untuk maju ke atas panggung mengambil hadiah. Semua peserta
heran dengan kami. Mungkin karena kami peserta baru tetapi mendominasi juara. Alhamdulillah.
Selesai sudah, perjuangan sudah mencapai puncaknya. 25 juta berada di tangan. Keyakinan
berbicara terus terang pada pemilik leptop sudah terkumpul. Malam itu juga, sepulang lomba
kami panggil semua pemilik leptop. Kami ceritakan semua yang terjadi. Mereka kaget dan
kecewa. Namun kami coba ajak mereka untuk memposisikan mereka pada posisi kami. Dan
mereka pun mengerti. Bahkan berterimaksih pada kami. Sangat bahagia hari itu.
Sampai detik ini. secuplik cerita inilah yang saya sebut kesuksesan terbesar dalam hidup.
Mengapa ada keraguan dalam awal menulis cerita, karena saya berfikir apa yang saya capai
bukan suatu yang sangat bisa dibanggakan. Bukan prestasi dan bukan materi namun tetap paling
besar dalam hidup. Saya hanya mendapatkan kebahagiaan dan memberi kebahagiaan.
No 5
Sukses Terbesar Dalam Hidup
Oke, ini saya mau ngeshare essay yang saya bikin untuk persyaratan wawancara
LPDP, dan alhamdulillah saya lulus wawancara, sekarang masih menunggu
pengayaan. Semoga bagi teman-teman yang baca bisa jadi gambaran kalo bingung

mau nulis apa walaupun yang saya tulis ini isinya sangat normatif dan agak
ngambang rasanya. hahaha.

Pembahasan mengenai kesuksesan ini kembali mengingatkan momen yang


terjadi dalam proses perkuliahan pada jenjang sarjana, dimana terdapat staf
pengajar yang menanyakan apa cita-cita kalian dan tentu saja hal yang terbersit
dalam pikiran secara spontan saat itu adalah ingin menjadi seseorang yang sukses.
Saya mengetahui bahwa jawaban ini sangat normatif dan kesuksesan itu pun
memiliki definisi yang berbeda dari setiap individu. Walaupun tidak dapat dipungkiri
bahwa kesuksesan seseorang di dunia ini paling mudah dilihat dengan sesuatu yang
lebih bersifat terukur, seperti prestasi-prestasi yang telah dicapainya selama hidup.
Namun, yang tidak kalah penting dari beragamnya prestasi yang dimiliki ialah
bagaimana sebagai seorang individu dapat mengoptimalkan pengembangan diri
dan secara terus-menerus belajar dari hal yang dapat dilihat maupun dialaminya
serta dapat mengambil nilai positif dari setiap peristiwa yang terjadi dalam rentetan
kehidupannya. Mengoptimalkan pengembangan diri untuk mencapai kesuksesan
dapat terwujud apabila kita mampu untuk memupuk semangat secara terus
menerus dan disertai dengan kerja keras yang ikhlas serta tuntas sehingga dapat
mendapatkan hasil terbaik dari usaha tersebut.
Saya sebagai seorang individu dengan usia yang sangat produktif, tentunya
dari waktu ke waktu memiliki target-target baru yang ingin dicapai. Walaupun
sangat disadari bahwa pengalaman hidup maupun dalam sisi profesional bidang
pekerjaan masih sangat minim. Pada dasarnya, kehidupan yang dijalani mungkin
hampir serupa dengan kehidupan individu lainnya, dimana saya merupakan
seorang anak tunggal dari keluarga kecil yang berisikan 3 anggota saja. Jenjang
pendidikan yang ditempuh juga cukup serupa dengan sebagian besar individu
lainnya yang dimulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan S-1. Saya tumbuh dan berkembang
hingga dapat menuntaskan SMA di Kota Banjarbaru, yang merupakan kota kelahiran
dan masa kuliah S-1 yang dilanjutkan pada Universitas Brawijaya di Kota Malang.
Saat kuliah S-1 merupakan saat yang sangat berharga bagi diri saya karena saya
dapat mempelajari banyak hal yang tidak pernah didapatkan, seperti ilmu
pengetahuan baru pada berbagai bidang dimana tidak hanya dalam keilmuan yang
digeluti tetapi juga pengalaman organisasi dan pengalaman pekerjaan serta
mendapatkan teman-teman baru dari lokasi dan budaya yang berbeda. Jenjang
sarjana berhasil selesai sesuai dengan target yang telah ditentukan dan sejak
sebelum lulus, saya mendapat kesempatan untuk bekerja pada beberapa proyek
bidang perencanaan serta pengalaman menjadi salah satu fasilitator/asisten di
jurusan. Selanjutnya, ketika saya telah lulus dan kembali ke kota asal, saya memulai
usaha fasilitas perjalanan yang masih dalam lingkup kecil sembari menunggu
kesempatan untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 2013 ini.

Tentu saja perjalanan hidup yang saya alami hingga saat ini hanya segelintir
kecil dari perjalanan hidup tokoh-tokoh terkemuka di penjuru dunia yang memiliki
pengalaman hidup sangat kompleks. Sejujurnya, saya bukan seseorang yang
memiliki permasalahan hidup dengan beban yang berat ataupun memiliki prestasi
akademis yang sangat gemilang dan kekayaan harta yang sangat melimpah. Saya
mencerminkan diri sebagai individu yang tidak pernah berhenti berusaha dengan
segala kerikil-kerikil kecil yang harus dihadapi sebagai bentuk pendewasaan diri.
Namun, satu hal yang saya yakini bahwa ini merupakan kesukesan terbesar saya
karena dari seluruh perjalanan hidup hingga saat ini, saya berhasil
mempertahankan hidup secara lurus, baik dalam ketentuan norma dan hukum serta
tidak pernah berhenti untuk mencapai dan membuat target-target baru setiap
tahunnya. Kegagalan atau kerikil yang saya alami bukan menjadi alasan untuk
menyurutkan harapan dan impian terhadap cita-cita yang dimiliki dan dapat tetap
bertahan dalam segala kondisi yang ada. Oleh karena itu, saya meyakini bahwa hal
ini merupakan kesuksesan terbesar dalam kehidupan saya.
Di atas dari semua pendapat saya mengenai kesuksesan, faktor yang
terpenting adalah ketika melangkahkan kaki pada setiap tahapan dalam kehidupan,
saya selalu mendapatkan restu dari orang tua sebagai pendukung utama dan
sebagai rekan dalam berdiskusi yang sangat baik serta membangun. Rasa syukur
kepada Tuhan yang tidak pernah berhenti atas setiap karunia dan telah diberikan
orang tua, saudara, dan rekan yang sangat mendukung dalam setiap tahapan
dalam kehidupan. Karunia yang tidak pernah putus dalam kehidupan ini merupakan
cambuk bagi diri untuk dapat tetap berusaha dengan optimal agar mendapat hasil
sebaik-baiknya.
Tapi ya, tetap saya manusia, punya banyak salah, bahkan ada beberapa yang bisa
dikatakan unfinished things and business.

N0 6

setiap pribadi pasti pernah mengalami kesuksesan dalam hidupnya. Kesuksesan tersebut tentunya
memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kesuksesan yang didapatkan tidak datang
dengan sendirinya, diperlukan suatu perjuangan untuk dapat meraih kesuksesan. Berawal dari
sebuah kemauan kuat yang menjadi dorongan untuk melakukan sesuatu yang kita yakini dapat
berguna bagi kita di kemudian hari. Diperlukan juga sebuah keyakinan dan pola pikir yang
positif, agar bila suatu saat keinginan kita tidak terpenuhi kita tidak putus asa dan menyerah,
melainkan semakin terpacu untuk berusaha dan berdoa lebih baik lagi. Pada essay ini saya ingin
menceritakan kesuksesan terbesar dalam hidup saya dan apa arti kesuksesan tersebut bagi saya.
Saya merupakan anak laki-laki tunggal dari dua bersaudara di keluarga. Sejak kecil, kakak saya
yang berusia 4 tahun lebih tua dari saya selalu menjadi panutan dalam usaha saya meraih

kesuksesan. Setiap kali kakak saya berhasil melakukan sesuatu yang membuat kedua orang tua
saya bangga, mereka selalu mengapresiasi dan berkata betapa bahagianya mereka. Saya tidak
mau kalah dalam urusan membahagiakan orang tua, karena sudah terlalu banyak jasa mereka
dalam hidup saya. Ayah saya merupakan seorang dokter yang dulunya berasal dari keluarga
sederhana. Beliau merintis kesuksesannya sendiri dan selalu mengingatkan saya akan betapa
berharganya materi walaupun sedikit, karena dibutuhkan perjuangan yang sangat sulit untuk
mendapatkannya. Ibu saya merupakan seorang wanita karir. Beliau pergi ke kantor di pagi hari
sambil mengantar saya masuk sekolah, dan terkadang sepulang sekolah saya berjalan kaki ke
kantor ibu dan menunggu untuk pulang bersama. Saya merasa tumbuh di lingkungan keluarga
yang tidak pernah berhenti belajar dan berjuang demi meraih kesuksesan dalam hidup ini.
Sejak kecil saya merupakan anak yang sulit diatur dan suka berulah hanya sekedar untuk mencari
perhatian kedua orang tua. Tetapi dibalik kenakalan saya, saya selalu termotivasi untuk
menunjukkan kesuksesan saya kepada mereka dan ingin membuat mereka bangga. Contohnya
sewaktu saya duduk di bangku SMP, hampir semua orang yang saya kenal meragukan perilaku
saya tetapi saya berhasil menjawab mereka dengan masuk ke deretan siswa peraih NEM
tertinggi, dan berhasil masuk ke SMA favorit di kota asal saya, Bandung. Saat menduduki
bangku SMU, semua siswa berambisi untuk dapat masuk ke perguruan tinggi favorit seperti
Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia. Jalan menuju
universitas favorit bukanlah proses yang mudah bagi saya. Setiap hari selama di dalam kelas
saya belajar dan berlatih. Selain di sekolah, di bimbingan belajar sepulang sekolah hingga malam
hari sebelum tidur saya selalu belajar dengan giat. Saya merasa kehilangan pergaulan dengan
teman bermain saya selama itu, dan termotivasi untuk bisa sukses masuk perguruan tinggi favorit
dan membuat kedua orang tua saya bangga. Saya mengikuti ujian saringan masuk Fakultas
Kedokteran di Universitas Padjadjaran dan berhasil lulus. Ketika SPMB Nasional dilakukan,
saya mendaftar ke Fakultas Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung. Saat hari pengumuman
penerimaan, saya sangat puas melihat nama saya tercantum di harian umum. Saya juga sangat
senang melihat betapa bangganya kedua orang tua saya pada sat itu. Akhirnya saya memutuskan
untuk melanjutkan sekolah di ITB, dikarenakan biaya kuliah yang diperlukan lebih sedikit dan
saya tidak ingin terlalu memberatkan kedua orang tua saya.
Masa-masa belajar di ITB merupakan masa yang sangat berharga bagi saya. Saya banyak
bertemu orang baru yang mayoritas berasal dari luar kota Bandung. Saya juga banyak bertemu
dengan orang-orang yang memiliki pandangan hebat dan berwawasan luas. Walaupun banyak
mengalami kesulitan, saya selalu mencoba untuk menjadi lebih baik dalam mengembangkan
pribadi saya. Saya mulai menyadari pentingnya sebuah komitmen dalam hidup. Saya
mendapatkan banyak pengalaman baik maupun buruk yang pada akhirnya membuat saya
menjadi lebih dewasa. Saya sangat bersyukur karena adanya dukungan keluarga dan temanteman saya yang mendorong saya untuk tetap fokus pada tujuan dan giat belajar.

Ujian paling berat yang pernah saya hadapi yaitu ketika mengerjakan tugas akhir. Kebetulan
pada waktu itu saya mendapatkan dosen pembimbing yang sangat idealis, sehingga saya banyak
mengalami kesulitan dalam proses pengerjaan tugas akhir saya. Saya sering sekali sakit karena
kurang istirahat dan tertekan. Saya merasakan betapa sulitnya untuk kembali termotivasi setelah
dimarahi dosen pembimbing setiap kali saya menghadap. Untungnya saya tidak pernah merasa
sendirian dalam menjalani ujian ini, teman-teman seperjuangan saya juga merasakan hal yang
sama sehingga kami saling membantu dan saling memberikan dukungan. Lama kelamaan saya
sadar bahwa yang terpenting adalah prosesnya pencapaiannya, bukan hasil itu sendiri. Kita harus
belajar menerima kesalahan kita dan cepat bangkit dari kegagalan tanpa berlarut-larut dalam
penyesalan. Akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas akhir tepat pada waktunya. Pada saat
presentasi tugas akhir saya bisa menjawab seluruh pertanyaan dari penguji dan Alhamdulillah
lulus dengan nilai A.
Saat memberikan undangan wisuda, saya sangat bersyukur dan bahagia melihat senyuman di
wajah kedua orang tua saya. Hal itu merupakan peristiwa yang terindah yang pernah saya alami,
berhasi membuat mereka bangga setelah melewati perjuangan yang sangat berat. Dalam hati
saya bertekad untuk terus berusaha membuat mereka bangga selama saya masih diberikan
kesempatan.
Pada akhirnya, saya berhasil mendapatkan gelar Sarjana Teknik di salah satu universitas terbaik
bangsa. Saya merasa bangga karena cita-cita saya menjadi insinyur telah tercapai. Itulah
kesuksesan terbesar dalam hidup saya, menjadi insinyur yang bias membahagiakan kedua orang
tua. Seiring berjalannya waktu, cara pandang saya terhadap kesuksesan mulai berubah. Hidup ini
merupakan sebuah proses pembelajaran yang tidak ada hentinya demi meraih kesuksesan. Dan
kesuksesan itu akan menjadi lebih berarti ketika lingkungan sekitar kita bisa ikut merasakan
manfaat dari perjuangan kita. Sukses itu bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang
disekitar kita, terutama kedua orang tua kita yang kita cintai.
Sebagai penutup, dengan mengambil program master di luar negeri saya ingin meraih
kesuksesan yang lebih besar lagi dan berharap bisa menjadi tenaga ahli yang berguna bagi
keluarga, Bangsa dan Negara Indonesia di kemudian hari.
N0 7

MENUMPANG KERETA KEGAGALAN, MENUJU KESUKSESAN


Kesuksesan merupakan hal yang selalu diinginkan manusia. Tidak ada manusia yang
ingin gagal dalam kehidupannya. Begitu pula saya yang tidak sedikitpun mengharapkan
kegagalan dalam kehidupan. Saya merupakan anak bungsu yang dianugerahkan Allah SWT
kepada H. Mustajillah dan Hj. Helmatun Fauza. Sejak kecil saya bercita-cita menjadi orang
sukses. Mulai cita-cita menjadi seorang dokter hingga pemain sepakbola dunia yang hebat

pernah saya gantungkan dilangit mimpi. Tapi pada masa itu saya tidak menyadari bahwa cita-cita
yang digantungkan dilangit mimpi tidak akan pernah bisa dihampiri hanya dengan keluh kesah
dalam kemalasan.
Dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana, berlatarbelakang tenaga
pendidik tidak lantas membuat saya menjadi pribadi yang bersahaja dan mencintai proses belajar
pada masa itu. Sebelum duduk di kelas tiga Madrasah Aliyah, sekolah tidak menjadikan saya
pribadi yang bijaksana terhadap ilmu pengetahuan. Di sekolah dasar hingga sekolah menegah
pertama, saya menjadikan sekolah sekedar rutinitas yang harus saya jalani, formalitas untuk
menutup celah labeling sebagai orang bodoh.
Selepas lulus dari sekolah menengah pertama saya gagal untuk masuk sekolah favorit
yang sebenarnya menjadi tujuan saya, hingga akhirnya saya harus berpindah haluan ke sekolah
di bawah Kementerian Agama, yakni Madrasah Aliyah yang masih dipandang sebagai sekolah
kelas dua. Bukan sekolah terbaik, tapi ternyata di sanalah saya menemukan hakikat dari proses
menuntut ilmu. Di sekolah yang berbasis agama itulah saya justru menemukan kebenaran yang
pernah disampaikan oleh seorang jenius, Einsten bahwa Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah
buta dan agama tanpa ilmu pengetauan adalah pincang. Sejak saat itu, saya belajar bahwa
Allah SWT selalu menyediakan tujuan yang baik meski di luar jalan yang kita siapkan.
Mensyukuri belajar di sebuah Madrasah Aliyah inilah titik tolak kesuksesan saya dalam hidup.
Lulus dari Madrasah Aliyah, saya memutuskan untuk mencoba masuk IPDN, akan tetapi
saya gagal. Sebagai manusia yang dititipi Allah SWT rasa sedih, kegagalan itu tentu membuat
saya sedih. Namun, saya beruntung kesedihan itu tidak lantas membuat saya bersusah dalam
keputusasaan. Ketika dahulu menuntut ilmu di Madrasah Aliyah, saya diajarkan tentang rahman
dan rahimNya lewat salah satu firmannya,Janganlah kamu berputus asa atas rahmat Tuhan.
Melalui firman Allah itulah akhirnya saya bisa tetap memandang kegagalan sebagai langkah
awal kesuksesan.
Setelah melalui masa-masa sulit itu, saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke
fakultas hukum, mempelajari ilmu hukum. Fakultas hukum menjadi pilihan saya waktu itu
karena hal yang sederhana. Di rumah, orang tua saya selalu melihat program berita di televisi,
yang tidak jarang merupakan berita hukum. Dari sanalah ketertarikan saya untuk belajar ilmu
hukum. Meskipun pada dasarnya itu sebuah pilihan yang saya buat di tengah kebimbangan,
karena di satu sisi saya tertarik untuk merasakan atmosfer sebagai tenaga pendidik karena latar

belakang saya yang berasal dari keluarga guru. Namun, di sisi lain saya ingin keluar dari
tradisi keluarga itu.
Awalnya saya merasa tidak percaya diri masuk fakultas hukum, karena saya menyadari
bahwa pilihan ini saya buat di tengah kebimbangan. Sampai pada satu ketika saya diilhami oleh
apa yang dikatakan oleh T. A. Edison bahwa Jenius= 1% Bakat+99% usaha. Oleh karena itu,
saya kemudian bertekad untuk mengikhtiarkan diri saya dalam kerja keras untuk memahami
setiap substansi ilmu hukum. Saya kemudian juga mengembangkan diri dalam dunia organisasi,
untuk menunjang kemampuan non akademik.
Alhamdulillah, saya akhirnya makin menyadari bahwa setiap ikhtiar baik yang kita
lakukan akan menghasilkan sesuatu yang baik. Kegagalan hadir bukan sebagai pemutus meraih
kesuksesan tetapi justru rangkaian kereta yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan.
Kegagalan saya masuk IPDN ternyata merupakan jalan yang disediakan Allah SWT bagi saya
untuk meraih kesuksesan di fakultas hukum. Selama saya berada di fakultas hukum, saya terpilih
menjadi Mahasiswa Berprestasi, mewakili universitas pada lomba Debat Konstitusi MK tingkat
nasional, aktif dalam kegiatan Kementerian Pemuda dan Olahraga tingkat Nasional, terpilih
sebagai Duta Mahasiswa Kalimantan Selatan, menjadi pembicara dalam seminar hak-hak
kesehatan reproduksi remaja di Universitas Indonesia, hingga mewakili universitas di
International Youth Cultural Confrence di Malaysia. Februari 2013, Alhamdulillah akhirnya saya
bisa menjadi seorang sarjana hukum dengan nilai yang sangat memuaskan, dengan IPK 3.78.
Bagi saya kesuksesan yang saya raih tersebut tidak memberi arti apa-apa apabila tidak bisa
dibarengi dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sebagai salah satu wujud syukur atas
kesuksesan dan karunia yang telah diberikan Allah, saya akan senantiasa berusaha untuk dapat
menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi kedua orang tua saya.