Anda di halaman 1dari 10

INSTRUMEN AKREDITASI

PELAYANAN KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT

STANDAR. 1. HAK PASIEN


Pasien dan keluarganya mempunyai hak mendapat informasi tentang rencana dan hasil
pelayanan kejadian yang tidak diharapkan.

Kriteria :
1.1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan yang wajib membuat rencana pelayanan.
1.2. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas dan
1.3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan pelayanan secara jelas dan benar kepada
pasien dan keluarganya tentang prosedur pelayanan dan pengobatan untuk pasien termasuk
terjadinya kejadian yang tidak diharapkan.

Parameter :
S.1.P1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan dan ada rencana pelayanan.

Skor :
0 = Tidak ada ketentuan dan rencana pelayanan
1 = Ada ketentuan, belum ada rencana pelayanan
2 = Ada dokter penanggung jawab, belum ada rencana pelayanan
3 = Ada dokter penanggung jawab, ada rencana pelayanan tidak lengkap
4 = Ada dokter penanggung jawab. Ada rencana pelayanan lengkap, ada evaluasi

D.O : Yang dimaksud dengan ketentuan adalah kebijakan yang ditetapkan dengan SK Direktur.
Dalam ketentuan ini dimuat bahwa kelompok Staf Medis Fungsional (SMF) diberi wewenang
menetapkan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP). Rencana pelayanan harus dimuat dalam
berkas rekam medis.

Yang dimaksud dengan rencana pelayanan lengkap adalah memuat segala aspek pelayanan
yang akan diberikan, termasuk rehabilitasi pasien.

C.P : D = SK Direktur, SOP rencana pelayanan, Berkas Rekam Medis.


O= -
W = Seorang DPJP

Skor

Catatan/keterangan :

S.1.P.2. Dokter penanggung jawab wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada
pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien
termasuk terjadinya kejadian yang diharapkan dan tidak diharapkan.

Skor :
0 = Tidak ada ketentuan tertulis.
1 = Ada ketentuan tertulis tidak ada bukti pelaksanaan.
2 = Ada ketentuan tertulis, ada SOP informed concent dan atau tidak setuju belum terlaksana.
3 = Ada ketentuan tertulis, SOP informed concent dan atau tidak setuju belum sepenuhnya
terlaksana.
4 = Ada ketentuan tertulis, SOP informed concent dan atau tidak setuju, sudah dilaksanakan
belum ada evaluasi.
5 = Ada ketentuan tertulis, ada SOP informed concent dan atau tidak setuju, sudah dievaluasi oleh
Sub Komite/Panitia rekam Medis.

D.O. : Cukup Jelas, sesuai kriteria butir 3.

C.P. : D = SK Direktur, SOP pelayanan pasien, Berkas Rekam Medis.


O = -
W= DPJP

Skor :

Catatan /Keterangan :

STANDAR. 2. MENDIDIK PASIEN DAN KELUARGA


Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab
pasien dalam asuhan pasien.

Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan
pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, didalam rumah sakit harus ada
kegiatan/mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang tanggung jawab pasien dalam asuhan
pasien. Dengan pendidikan tersebut pasien dapat :

2.1 Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.


2.2 Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga.
2.3 Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.
2.4 Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
2.5 Mematuhi instruksi danmenghormati peraturan rumah sakit.
2.6 Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
2.7 Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

Parameter :
S.2.P.1. Ditetapkan kebijakan bahwa dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) wajib
memberikan pendidikan kepada pasien tentang kewajibannya terhadap rumah sakit.

Skor :
0 = Tidak ada kebijakan
1 = Ada kebijakan tidak tertulis yang sudah dilaksanakan
2 = Ada kebijakan tidak tertulis lengkap akan tetapi belum dilaksanakan
3 = Ada kebijakan tertulis lengkap akan tetapi belum dilaksanakan
4 = Ada kebijakan tertulis lengkap, sudah dilaksanakan
5 = Ada kebijakan tertulis lengkap, sudah dilaksanakan disertai evaluasi terhadap pelaksanaan
kebijakan dan tindak lanjutnya

D.O. : Yang dimaksud dengan kebijakan adalah jika ditetapkan dengan keputusan direktur rumah
sakit. Yang dimaksud dengan kebijakan tertulis adalah jika memuat :

1. Keharusan DPJP memberikan pendidikan kepada pasien tentang


kewajibannya.
2. Rumah sakit menyediakan pendidikan kepada pasien tentang kewajibannya
3. Hal-hal yang menjadi kewajiban pasien adalah disebut pada kriteria standar
ini.
4. Pendidikan kepada pasien/keluarganya diberikan dalam bentuk penjelasan
secara lisan dan kemudian SPJP mencatat dalam berkas rekam medis bahwa
dia sudah diberikan penjelasan
Yang dimaksud dengan evaluasi adalah pemeriksaan berkas rekam medis secara acak tentang
pelaksanaan pendidikan kepada pasien.

C.P. : D = SK Direktur, SOP, berkas rekam medis.


O = -
W = Pengawas ruang rawat inap

Skor :

Catatan /Keterangan :

STANDAR 3. KESELAMATAN PASIEN DAN KESINAMBUNGAN PELAYANAN


Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan
antar unit pelayanan.

Kriteria :
3.1. Terdapatnya koordinasi pelayanan secara meneluruh mulai dari saat pasien masuk,
assessment/pemeriksaan, diagnosisi, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan
saat pasien keluar dari rumah sakit.
3.2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber
daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit
pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.
3.3. Terdapatnya koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi
dukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan
kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.
3.4. Terdapatnya komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat
tercapainya proses koordinasi yang tanpa hambatan, aman dan efektif.

Parameter :
S.3.P.1. Ditetapkan koordinasi pelayanan dan transfer informasi antar profesi kesehatan untuk
mendukung program Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS).

Skor :
0 = Tidak ada koordinasi pelayanan dan transfer informasi.
1 = Tidak ada koordinasi; ada transfer informasi terbatas di unit kerja tertentu.
2 = Ada koordinasi akan tetapi tidak ada transfer informasi.
3 = Ada koordinasi dan transfer informasi di unit kerja tertentu.
4 = Ada koordinasi dan transfer informasi di semua unit kerja
5 = Ada evaluasi koordinasi transfer informasi di semua unit kerja disertai adanya evaluasi
terhadap pelaksanan koordinasi dan transfer informasi.

D.O. : Yang dimaksud dengan KPRS adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien
lebih aman. Hal ini termasuk : assessment risiko, identirtas dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah
terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Yang dimaksud dengan ”Transfer Informasi” adalah komunikasi tertulis memuat proses
pelayanan pasien yang dilakukan antar penanggung jawb pelayanan antar profesi kesehatan.
Yang dimaksud dengan ”Koordinasi” adalah pengaturan tentang bagaimana hubungan
fungsional antar penanggung jawab pelayanan diatur dalam kaitannya dengan pelaksanaan program
keselamatan pasien. Termasuk dalam pengaturan ”koordinasi” ini adalah fungsi dan tanggung jawab
profesi kesehatan agar terjadi kesinambungan palayanan untuk mendukung program keselamatan
pasien. Pengaturan ”koordinasi” harus ditetapkan dalam bentuk juklak atau SOP yang ditetapkan
tertulis oleh direktur rumah sakit.

Yang dimaksud dengan ”evaluasi” adalah identifikasi masalah atau pelaksanaan koordinasi
dilingkungan unit kerja atau dilingkungan rumah sakit.

C.P. : D = SK Direktur tentang koordinasi, bentuk transfer informasi, juklak/SOP.


O = -
W= -

Skor :

Catatan / keterangan :

STANDAR 4 PENGGUNAAN METODA-METODA PENINGKATAN KINERJA UNTUK


MELAKUKAN EVALUASI DAN PROGRAM PENINGKATAN
KESELAMATAN PASIEN
Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara insentif kejadian yang tidak
diharapkan, dan melakukan upaya perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

Kriteria :
4.1. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang
baik, mengacu pada visi, misi dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien,
petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang
sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai
dengan ”Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.
4.2. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang
antara lain terkait dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen
risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
4.3. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi insentif terkait dengan
semua kebijakan yang tidak diharapkan, dan secara proaktif melakukan
evaluasi satu proses kasus risiko tinggi.
4.4. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil
analisis untuk menentukan perubahan sistem yang diperlukan, agar
kinerja dan keselamatan pasien terjamin.

Parameter :
S.4.P.1 Diterapkan metoda dan tata laksana agar rumah sakit mampu melakukan evaluasi,
analisis, dan tindak lanjut dari kejadian yang diharapkan pada pasien.

Skor :
0 = Tidak ada metoda dan tata laksana.
1 = Ada metoda tetapi tidak ada tata laksana dan belum dilaksanakan.
2 = Ada metoda dan tata laksana tetapi bel;um dilaksanakan
3 = Ada metoda dan tata laksana dan sudah dilaksanakan di unit kerja tertentu.
4 = Ada metoda dan tata laksana dan sudah dilaksanakan di semua unit kerja tertentu.
5 = Ada metoda dan tata laksana dan sudah dilaksanakan disertai dengan adanya evaluasi analisis
dan tindak lanjut.
D.O. : Yang dimaksud dengan “metoda” adalah cara merancang monitoring dan analisis data
kejadian tidak diharapkan dari pasien. Dalam metoda ini termasuk memonitor dan menganalisis paling
sedikit 1 (satu) proses pelayanan risiko tinggi yang potensial terjadi dalam stahun mendatang, dikenal
dengan A Failure Modes Effects and Analysis (FMEA).

Yang dimaksud dengan “tata laksana” adalah pengorganisasian pengumpulan, pengolahan,


analisis, pelaporan data yang terkait dengan kejadian tidak diharapkan (KTD).

C.P. : D = Kerangka acuan dari metode, keputusan tentang pengumpulan/pengolahan data, hasil
analisis.
O = -
W = Pengelola program keselamatan pasien.

Skor :

Catatan/keterangan :

STANDAR 5 PERAN KEPEMIMPINAN DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN


PASIEN

1. Pimpinan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara terintegrasi


dalam organisasi melalui penerapan : “Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien
Rumah Sakit”.
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko
keselamatan pasien dan programmenekan atau mengurangi kejadian yang tidak
diharapkan.
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan
individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien.
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekwat untuk mengukur, mengkaji
efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan
pasien.
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan
kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

Kriteria :
5.1. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
5.2. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program
meminimalkan insiden yang mencakup jenis-jenis kejadian yang memerlukan
perhatian, mulai dari ”kejadian nyaris cidera” (near miss) sampai dengan
kejadian tidak diharapkan” (adverse Event).
5.3. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah
sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien.
5.4. Tersedia prosedur ”cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan kepada
pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan
penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
5.5. Tersedia pelaporan mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan
dengan insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang
analisis akar masalah ”Kejadian Nyaris Cidera” (near miss) dan ”kejadian
sentinel” pada saat program keselamatan pasien rumah sakit mulai dilaksanakan.
5.6. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya
menangani ”kejadian Sentinel” atau kegiatan proaktif untuk memperkecil risiko,
termasuk mekanisme untuk mendukung staf dalam kaitan dengan ”kejadian
serius”.
5.7. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbukla secara sukarela antar unit dan antar
pengelola pelayanan didalam rumah sakit dengan pendekatan antar disiplin.
5.8. Tersedia sumberdaya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam perbaikan
kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan pasien, termasuk evaluasi berkala
terhadap sumber daya tersebut.
5.9. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria
obyektif untuk mengevaluasi efektifitas perbaikan kinerja rumah sakit dan
keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan implementasi.

Paremeter :
S.5.P.1 Direktur rumah sakit menetapkan unit kerja dan penanggung jawab untuk mengelola
program Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS).

Skor :
0 = Tidak ada unit kerja dan penanggung jawab mengelola program KP.
1 = Tidak ada unit kerja akan tetapi ada penanggung jawab mengelola program KP. Belum ada
program aksi.
2 = Ada unit kerja akan tetapi tidak ada penanggung jawab mengelola program KP. Belum ada
program aksi.
3 = Ada unit kerja dan penganggung jawab mengelola program KP. Belum ada program aksi.
4 = Ada unit kerja dan penganggung jawab mengelola program KP. Sudah ada program aksi.
5 = Ada unit kerja dan penganggung jawab mengelola program KP. Sudah ada program aksi
disertai adanya evaluasi program dan tindak lanjutnya.

D.O : Penetapan unit kerja dan penanggung jawab program KPRS harus dibuat dengan keputusan
Direktur Rumah Sakit.
Program aksi harus dibuat dengan keramngka acuan memuat antara lain, tujuan, kegiatan,
sasaran, skedul kegiatan dan evaluasi program.

C.P. : D = Keputusan tentang unit kerja dan penanggung jawab program, kerangka acuan, program,
dokumen evaluasi dan tindak lanjutnya.
O= -
W= -

Skor :

Catatan/Keterangan :

S.5.P.2. Ditetapkan sistem pencatatan, pengumpulan, pelaporan data kejadian tidak


diharapkan (KTD).

Skor :
0 = Tidak ada sistem.
1 = Ada sistem tetapi belum dilaksanakan.
2 = Ada sistem yang berlaku di unit kerja tertentu akan tetapi belum dilaksanakan.
3 = Ada sistem yang berlaku di seluruh unit kerja tertentu akan tetapi belum dilaksanakan.
4 = Ada sistem yang berlaku di seluruh unit kerja dan sudah dilaksanakan.
5 = Ada sistem yang berlaku di seluruh unit kerja dan sudah dilaksanakan disertai adanya evaluasi
dan analisis dari data KTD.
D.O. : Yang diartikan dengan kejadian tidak diharapkan (KTD) adalah suatu kejadian yang tidak
diharapkan yang mengakibatkan cedera pasien akibat melaksnaakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi
pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat
dicegah. Yang dimaksud dengan sistem disini adalah pengorganisasian, mekanisme kerja, prosedur
dalam kaitannya dengan prgram keselamatan pasien, termasuk orang-orang yang ditunjuk untuk
keperluan dan bertanggung jawab melaksanakan sesuai alur pelaporan yang ditetapkan.

Unit kerja yang dimaksud disini dapat berarti pula unit kerja dibawah pengelola program
keselamatan pasien atau mungkin juga perlu dibuat diluar pengelola program keselamatan pasien.
Pemilihan ini diserahkan kepada pimpinan rumah sakit sesuai dengan lingkungan kerja yang ada.

Dalam sistem ini harus diatur bagaimana melaksanakan pelaporan yang diminta oleh Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (PERSI) dengan judul LAPORAN INSIDEN (Incident Report).

C.P. : D = Ketetapan Direktur Rumah Sakit tentang sistem pencatatan dan pelaporan KTD.
Dokumen Laporan KTD.

O=-
W = Pengelola laporan KTD.

Skor :

Catatan/keterangan :

STANDAR 6. MENDIDIK STAF TENTANG KESELAMATAN PASIEN

1. Rumah sakit memiliki orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan
keselamatan pasien secara jelas.
2. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk
meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin
dalam pelayanan pasien.

Kriteria :
6.1. Setiap rumah sakit harus memiliki program orientasi bagi staf baru yang memuat topik
keselamatan pasien sesuai dengan tugas masing-masing.
6.2. Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in-
service training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
6.3. Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork)
guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

Parameter :
S.6.P.1. Unit kerja pendidikan dan pelatihan (Diklat) menyelenggarakan pelatihan berkala dengan
topik khusus ”Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.

Skor :
0 = Tidak ada unit kerja Diklat dan tidak ada program pelatihan
1 = Tidak ada unit kerja Diklat; Ada program pelatihan tidak lengkap dan dilaksanakan tidak
teratur.
2 = Ada unit kerja Diklat. Ada program pelatihan tidak lengkap dan dilaksanakan tidak teratur.
3 = Ada unit kerja Diklat. Ada program pelatihan lengkap akan tetapi dilaksanakan tidak teratur.
4 = Ada unit kerja Diklat; Ada program pelatihan lengkap dan dilaksanakan teratur.
5 = Ada unit kerja Diklat; Ada program pelatihan lengkap dan dilaksanakan teratur disertai
adanya evaluasi terhadap isi program pelatihan.

D.O. = Yang dimaksud dengan program lengkap adalah :


1. Ada kerangka acuan program.
2. Isi pelatihan sesuai dengan kriteria dan standar 6 ini.
3. Pelatihan mencakup pegawai baru (orientasi) dan pegawai lama.
4. Dalam pelatihan diadakan simulasi kepemimpinan dan kerjasama tim (teamwork)
keselamatan pasien rumah sakit.

Yang dimaksud dengan ”teratur” adalah jika pelatihan diadakan dengan jadwal tertentu
sepanjang tahun (setiap triwulan, semester, setiap tahun).

Yang dimaksud dengan ”Unit Kerja Diklat” adalah satu kerja dalam struktur organisasi rumah
sakit dengan fungsi dan tugas mengelola pendidikan dan pelatihan bagi pegawai rumah sakit, baik in-
house maupun di luar rumah sakit.

C.P. : D = Struktur organisasi rumah sakit, kerangka acuan program, jadwal + peserta pelatihan,
materi pelatihan.

O =-
W = Pengelola program KPRS

Skor :

Catatan/keterangan :

STANDAR 7. KOMUNIKASI MERUPAKAN KUNCI BAGI STAF UNTUK MENCAPAI


KESELAMATAN PASIEN

1. Rumah sakit merencanakan dan mendesign proses manajemen informasi untuk menenuhi
kebutuhan informasi internal dan eksternal.
2. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Kriteria :
7.1. Tersedia proses untuk memperoleh informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien
dalam perencanaan anggaran.
7.2. Tersedia mekanisme identifikasi kendala komunikasi hal-hal terkait manajemen informasi yang
ada.

Parameter :
S.7.P.1. Tersedia informasi tentang hasil analisis masalah kejadian ”Kejadian Nyaris Cedera” (Near
Miss) dan ”Kejadian Sentinel” (Sentinel Event).

Skor :
0 = Tidak tersedia infomrasi dan hasil analisis tentang ”Kejadian Nyaris Cedera” dan “Kejadian
Sentinel”.
1 = Tidak tersedia informasi dan hasil analisi tentang ”Kejadian Nyaris Cedera”; Terdapat
informasi tentang ”Kejadian Sentinel” tanpa disertai analisis.
2 = Tidak tersedia informasi dan analisis tentang ”Kejadian Nyaris Cedera”; Terdapat informasi
dan analisis tentang ”kejadian Sentinel”.
3 = Tersedia informasi dan analisis tentang ”Kejadian Nyaris Cedera” dan “Kejadian Sentinel”
tanpa diserta analisis.
4 = Tersedia informasi tentang ”Kejadian Nyaris Cedera” dan ”Kejadian Sentinel” diserta
analisis.
5 = Tersedia informasi dan analisis tentang ”Kejadian Nyaris Cedera” dan “Kejadian Sentinel”.
Hasil analisis telah diinformasikan ke semua unit kerja terkait dengan program keselamatan
pasien rumah sakit.

D.O. = Yang dimaksud dengan ”Kejadian Nyaris Cedera” (Near Miss) adalah suatu kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan (Commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
(Omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi, karena ”keberuntungan”
(misalnya pasien terima obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat), karena ”pencegahan”
(suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya
sebelum obat diberikan), atau ”peringatan” (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui
secara dini lalu diberikan antidotenya).

Yang dimaksud dengan ”Kejadian Sentinel” (Sentinel Event) adalah suatu KTD yang
mengakibatkan kematian atau cedera yang serius, biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak
diharapkan atau tidak dapat diterima, seperti operasi pada bagian tubuh yang salah. Pemilihan kata
”Sentinel” terkait dengan keseriusan cidera yang terjadi (misalnya amputasi pada kaki yang salah) dlsb.
Sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada
kebijakan dan prosedur yang berlaku.

Tujuan penyebarluasan informasi ini adalah untuk pembelajaran dan digunakan untuk
melakukan perubahan sistem pelayanan.

C.P. : D = Hasil analisis


O =-
W = Pengelola program keselamatan pasien rumah sakit (KPRS)

Skor :

Catatan/keterangan :