Anda di halaman 1dari 25

1.

Mm sendi, tulang dan tulang rawan


1.1 makroskopik
Ekstremitas atas

1 Articulatio cubiti
Articulation composite terdiri dari tiga sendi, yaitu : art. Humero-ulnaris, art. Humero-radialis dan art. Radioulnaris
Articulatio humero ulnaris dan Articulatio humeri radialis
Tulang : antara incisura trochlearis ulna dan trochlea humeri dan antar fovea articularis caput radii dan
capitulum humeri
Jenis sendi : ginglymus dengan bersumbu Saturday penguat sendi : capsula articularis, ligamentum
colaterale ulnare ligametum collaterale radiale
Gerak sendi :
Fleksi : semua otot yang menyilang di depan sumbu gerak, M. biceps brachii, M. brachialis(murni
sebagai otot fleksor pada articulation cubiti), M. pronator teres. M. brachioradialis, M. flexor capi
radialis, M. flexor carpi ulnaris, M. Palmaris longus dan M. flexor digitorum superficialis
Ekstensi : semua otot yang menyilang dibelakang sumbu gerak, M. triceps brachii, M. extensor carpi
radialis longus dan brevis, M. extensor digiti minimi, M. extensor carpi ulnaris , M. supinator dan M.
anconeus
Otot-otot shunt adalah suatu otot yang mempunyai origo dekat dengan sendi dan insertion jauh dari sendi,
contoh : M. brachioradialis
Otot-otot spurt adalah otot yang mempunyai origo jauh dari sendi dan insertion dekat dengan sendi, contoh :
M. biceps brachii
2

Articulation radio-ulnaris
Tulang : Incisura radialis ulna dan caput radii
Jenis sendi : pivot atau trochoidea bersumbu satu yaitu sumbu vertical yang berjalan dari caput radii
dsampai processus styloideus ulnae
Penguat sendi : ligamentum anulare radii yang melekat pada ujung incisura radialis dan ligamentum
quadratum diantara collum radii dan incisura radialis ulna
Gerak sendi :
supinasi : M. biceps brachii, otot-otot ektensor ibu jari
pronasi : M. pronator teres, M. pronator quadrates

Articulatio metatarsopholangeales
Tulang : ossa metatarsi dan ossa phlangeales
Jenis sendi : condyloidea / ellipsoidea
Gerak sendi : fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi
Penguat sendi : ligamenta collateralia, ligamenta plantaria dan ligamenta metatarsale transversum
profundum

Articulatio sacro-illiaca
Tulang : fascies auricularis sacri dan facies auricularis ilei
Jenis sendi : Ampiarthrosis
Penguat sendi : ligamentum sacroilliaca anterior, ligamentum sacro illiaca interossea, ligamentum
sacroilliaca posterior, ligamentum sacrotuberale dan ligamentum sacrospinale

Articulatio pubica
Tulang : antara tulang pubis kedua sisi
Jenis : synchondrosis (terdapat tulang rawan)
Penguat sendi : ligamentum pubicum superius, ligamentum arcuatum pubis dan discus interpubica

Articulatio Glenohumeralis
Tulang : Caput humeri dengan gleinoidalis serta labrum gleinoidale
Jenis Sendi : Art. Sphreoidea , bersumbu tiga
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, Rotasi Medialis,Rotasi Lateralis

Articulatio Radiocarpalis

Tulang : Bagian distal Os. Radius dan ossa carpalesproximalis kecuali os piriforme
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi ulnaris

Articulatio carpometacarpales
Articulatio carpometacarpales I
Tulang: Antara Metacarpales 1 dan trapezium
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, oposisi dan reposisi
Articulatio carpometacarpales II
Tulang: Antara Metacarpale II V dengan Os. Carpideretan distalis
Gerak sendi: Geser

Articulatio Metacarpophalangealis
Art. Metacarpophalangealis I
Tulang : Antara Os metacarpal I dan phalanx I
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, sedikit abduksi dan adduksi
Art. Metacarpophalangealis II sampai V
Tulang: Antara OS metacarpal II dan V dengan PhalanxII dan V
Gerak sendi: Fleksi, ekstesi, abduksi, adduksi dan sirkumdiksi

10 Articulationes interphalangealis
Tulang: Antar phalanges
Gerak sendi: Fleksi dan ekstensi

Ekstremitas bawah

Articulatio inferioris liberi (articulatio coxae)

Tulang : Acetabulum dan caput femuri


Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, endorotasi,eksorotasi

Articulatio genus
Tulang : Condylus medialis femoris dan condylusmedialis tibiae
Gerak sendi : Fleksi, ekstensi , rotasi medialis, fleksi lateralis.

Articulatio tibio fibularis


Tulang: Facies articularis fibularis dengan faciesarticularis capitis fibulae
Gerak sendi: Gesekan ke atas dan ke bawah

Articulatio talocrulalis
Tulang: Antara trochleatali dan lengkung yang dibentuk oleh maleoli ossa cruris
Gerak sendi: Plantar Flexi, Dorsi Flexi, Inversio and Eversio

5 Articulatio Pedis
Articulatio talocalcanea
Tulang: Os talus dan Os calcaneus
Gerak sendi: gliding
Articulatio talocalcaneonavicularis
Tulang: Os talus, Os calcaneus dan Os cuboideum
Gerak sendi: Geser dan rotasi
Articulatio calcaneocuboidea
Tulang: Os calcaneus dan Os cuboideum
Gerak sendi: Geser dan sedikit rotasi
Articulatio tarsometatarsales
Tulang: Os tarsi dan Os metatarsi
Geraksendi: Plana
Articulatio Metatarsophalangeales
Tulang: Os metatarsi dan Os phalangeales
Gerak sendi: fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi
Articulationes Interphalangeales Pedis
Tulang: Inter phalangeales
Gerak sendi : fleksi dan ekstensi
Bidang khayal tubuh:

Bidang coronal, membagi tubuh menjadi anterior dan posterior, sumbu geraknya sagittal
Bidang sagittal, membagi tubuh menjadi dextra dan sinistra, sumbu geraknya frontal
Bidang transversal, membagi tubuh menjadi superior dan inferior sumbu geraknya vertical
Gerak sendi tubuh:

Fleksi, gerakan yang mendekatkan bagian dari tulang yang membentuk sendi
Ekstensi, gerak berlawanan dari fleksi
Abduksi, gerak arah sisi menjauhi bidang sagittal

Aduksi, gerak yang berlawanan


arah dengan abduksi/mendekati
bidang sagittal
Endorotasi, gerak berputar lateral
anterior medial
Eksorotasi, gerak berputar medial
anterior lateral
Laterofleksi, gerak fleksi ke arah
samping
Sirkumdiksi, gabungan gerak rotasi
(fleksi, laterofleksi, ekstensi)

RANGE OF MOVEMENT
Rentang gerak mengacu pada jarak dan arah sendi dapat bergerak secara maksimal. Setiap sendi
tertentu memiliki kisaran normal gerak yang dinyatakan dalam derajat setelah diukur dengan goniometer
(yaitu, sebuah alat yang mengukur sudut dari sumbu sendi).
(www.osteoarthritis.about.com)
Gerakan didefinisikan dengan mengacu pada pesawat dan / atau poros.
Terdiri dari 3 pesawat, yaitu:
1 Sagital Plane
Garis vertical yang membantang dari depan ke belakang membagi tubuh menjadi bagian
kanan dan kiri.
2 Frontal atau Lateral Plane
Garis yang membentang dari sisi ke sisi di sudut kanan ke pesawat sagittal yang membagi
tubuh menjadi bagian depan dan bagian belakang
3 Melintang atau horizontal plane
Garis Horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah
Terdiri dari 3 axis, yaitu :
1 Frontal Axis
Lewat dari sisi ke sisi di sudut kanan terhadap bidang sagittal
2 Axis sagital atau Transverse
Melewati horizontal dari depan ke belakang berbaring di sudut kanan ke bidang frontal
3 Axis longitudinal atau Vertikal
Lewat dari kepala sampai kaki di sudut kanan ke bidang transversal

Bersama Tindakan
1

Spinal Column
Kolom vertebral memiliki rentang normal berikut gerakan: Fleksi, Ekstensi, Fleksi
Lateral dan Rotasi.

Korset bahu
Korset bahu memiliki rentang normal berikut gerakan: Elevation, Depresi, Adduksi dan
Penculikan.

Sendi bahu
Sendi bahu memiliki rentang normal berikut gerakan: Fleksi (0-90o), Ekstensi (0-50 o),
Adduksi (90-0 o), abduksi (0-90 o), Rotasi medial (0-90 o) dan Rotasi lateral (0-90 o)

Sendi siku
Sendi siku memiliki rentang normal berikut gerakan: Fleksi (0-160 o), Ekstensi (145-0
o
), Pronasi (0-90 o) dan Supinasi (0-90 o).

Pergelangan tangan
Pergelangan tangan memiliki rentang normal berikut gerakan: Fleksi (0-90 o), Ekstensi
(0-70 o), Adduksi(0-65 o), Abduksi(0-25 o) dan circumduction.

Sendi panggul

Sendi panggul memiliki rentang normal berikut gerakan: Fleksi, Ekstensi, Adduksi,
Abduction, Rotasi medial dan lateral Rotasi.

Sendi lutut
Sendi lutut memiliki rentang normal berikut gerakan: Fleksi(0-130 o) dan Ekstensi (120o
0)

Sendi pergelangan kaki


Sendi pergelangan kaki memiliki rentang normal berikut gerakan: Plantarfleksi (0-50 o),
Dorsifleksi (0-20 o), Inversi(0-35 o) dan Eversi (0-25 o)

(www.brianmac.co.uk)

Sistem muskuloskeletal pada manusia terdiri dari tulang, otot dan persendian (dibantu oleh
tendon, ligamen dan tulang rawan). Sistem ini memungkinkan untuk duduk, berdiri, berjalan atau
melakukan kegiatan lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai penunjang dan pembentuk
tubuh, tulang juga berfungsi sebagai pelindung organ dalam. Tempat pertemuan 2 tulang adalah
persendian, yang berperan dalam mempertahankan kelenturan kerangka tubuh. Tanpa persendian, Anda
tidak mungkin bisa melakukan berbagai gerakan. Sedangkan yang berfungsi menarik tulang pada saat
Anda bergerak adalah otot, yang merupakan jaringan elastik yang kuat.
Ada 3 jenis persendian yang dibedakan berdasarkan jangkauan gerakan yang dimiliki:
Persendian Fibrosa, yaitu persendian yang tidak dapat digerakkan, dimana letak tulang-tulangnya
sangat berdekatan dan hanya dipisahkan oleh selapis jaringan ikat fibrosa, contohnya sutura di
antara tulang-tulang tengkorak.
Persendian Kartilagenosa, yaitu persendian yang gerakannya terbatas, dimana tulang-tulangnya
dihubungkan oleh tulang rawan hialin, contohnya tulang iga.

Persendian Sinovial, yaitu persendian yang gerakannya bebas, merupakan bagian terbesar dari
persendian pada tubuh orang dewasa, contohnya sendi bahu dan panggul, sikut dan lutut, sendi
pada tulang-tulang jari tangan dan kaki, pergelangan tangan dan kaki.

1.2 mikroskopik

Sendi
merupakan tempat pertemuan
dua atau lebih
tulang. Sendi bersifat permanen,
dan dapat digolongkan berdasarkan ciri susunannya menjadi 3 golongan utama:

Sendi fibrosa, Sendi ini dipersatukan oleh jaringan ikat padat fibrosa
Sutura : hanya terdapat pada tengkorak, dan tidak bersifat permanen, karna jaringan pengikat fibrosa
dapat diganti tulang dikemudian hari, penyatuan tulang dikemudian hari itu disebut sinostosis
Sindesmosis : sendi pada tulang yang dipersatukan oleh jaringan ikat fibrosa yang lebih banyak dari
pada yang terdapat disutura, sendi macam ini seperti sendi radio-ulnaris yang memungkinkan gerak
dalam batas tertentu
Gomfosis : sendi khusus terbatas pada gigi, maksila dan mandibula

Sendi tulang rawan (kartilaginosa)


Sering disebut sebagai sendi kartilaginosa sekunder.
Untuk membedakan dengan sendi kartilaginosa primer yaitu pada sendi diantara badanbadan vertebra yang berdektan.
Permukaan tulang yang berhadapan dilapisi tulang rawan hialin secara erat disatukan
lempeng fibrokartilago.contoh sendi kartilago sekunder : simfisis (sendi di pubis)
Sendi Sinovial
Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang yang
bersendi diselubingi oleh tulang rawan yang lunak dan licin
Pada sendi ini, tulang-tulang ditahan menjadi satu simpai sendi.

Simpai sendi menyatukan tulang


o
lapisan luar simpai, jaringan ikat padat kolagen yang menyatudengan periosteum
o
lapisan dalam simpai membran sinovial (membatasi rongga sendi)
Membran sinovial : membran vaskular tipis mengandung kapiler kapiler lebar
Permukaan tulang yang berhadapan dilapisi tulang rawan, dipisahkan oleh celah
sempit : cairan sinovial (dihasilkan membran sinovial)
Terbentuk sebagai dialisat plasma darah. Unsur cairan sinovial terdiri dari :
asam hialuronat yang terikat dengan protein
Berfungsi untuk pelumas dan nutritif sel tulang rawan sendi
Keseluruhan daerah sendi dikelilingi kantong, terbentuk dari jaringan berserat yang disebut
kapsul.
Jaringan ini dilapisi membran sinovial yang menghasilkan cairan sinovialuntuk
meminyaki sendi.
Bagian luar kapsul diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat padatulang, menahannya
kuat-kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan

Rawan sendi melapisi ujung-ujung tulang dengan fungsi:


1.Melindungi ujung tulang agar tidak aus.
2.Memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai penahan beban dan peredam
benturan.
Matriks terdiri dari 2 tipe makromolekul, yaitu:
Proteoglikan : yang meliputi 10% berat kering rawan sendi, mengandung70-80% air, hal inilah yang
menyebabkan tahan terhadap tekanan dan memungkinkan rawan sendi elastis
Kolagen : komponen ini meliputi 50% berat kering rawan sendi, sangattahan terhadap tarikan. Makin
kearah ujung rawan sendi makin tebal,sehingga rawan sendi yang tebal kolagennya akan tahan terhadap
tarikan.Disamping itu matriks juga mengandung mineral, air, dan zat organik lain sepertienzim
(Leeson, C. Roland. Anthony A. Paparo. 1996)
Jenis sendi sinovial :

Ginglimus : fleksi dan ekstensi, monoaxis ;


Selaris : fleksi dan ekstensi, abd & add, biaxila ;
Globoid : fleksi dan ekstensi, abd & add; rotasi sinkond multi axial ;
Trochoid : rotasi, mono aksis ;
Elipsoid : fleksi, ekstensi, lateral fleksi, sirkumfleksi, multi axis.

Secara fisiologis sendi yang dilumasi cairan sinovial pada saat bergerak terjadi tekanan yang
mengakibatkan cairan bergeser ke tekanan yang lebih kecil. Sejalan dengan gerakan ke depan, cairan bergeser
mendahului beban ketika tekanan berkurang cairan kembali ke belakang. (Price, 2005; Azizi, 2004).

2. Mm metabolisme asam
urat
2.1 metabolisme
2.2 sekresi
Metabolisme dan Sekresi Asam Urat
Kadar asam urat di darah tergantung usia dan jenis kelamin. Anak-anaknormalnya 3,4-4,0 mg/dl; laki-laki
dewasa 6,8 mg/dl; wanita pramenopause 6,0 mg/dl. Secara normal, metabolisme purin menjadi asam urat
adalah sebagai berikut:

Sintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur penghematan
(salvage pathway).
1 Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melaluiprekursor nonpurin. Substrat
awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang diubahmelalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin
(asam inosinat, asamguanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme yang
kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat
(PRPP) sintetase dan amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi
umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah pembentukan yang
berlebihan.
2

Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melaluibasa purin bebasnya, pemecahan
asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur initidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo.
Basa purin bebas(adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentukprekursor
nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim:hipoxantin guanin
fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenine fosforibosiltransferase (APRT).

Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukanberlebihan atau penurunan eksresi asam
urat, ataupun keduanya. Asam uratadalah produk akhir metabolisme purin. Pada penyakit gout-arthritis, terdapat
gangguan kesetimbangan metabolisme(pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut, meliputi:
1. Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik
2. Penurunan eksreksi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal
3. Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yangmeningkatkan cellular turnover) atau
peningkatan sintesis purin (karenadefek enzim-enzim atau mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan)
4. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purinPeningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan
meningkatkan kadarasam urat dalam tubuh. Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat
rendah sehingga cenderung membentuk kristal. Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam
bentuk kristal mononatrium urat.Mekanismenya hingga saat ini masih belum diketahui dengan jelas.
Sumber : http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/patofisiologi-gout-arthritis/
Ekskresi Asam Urat
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan
diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di
nefron distal dan dikeluarkan melalui urin. Ekskresi netto asam urat total pada manusia normal adalah 400-600
mg/24jam. Ekskresi ginjal asam urat siang hari lebih besar dibanding malam hari(Rodwell, 1995).

Dua jalur utama sekresi asam urat yaitu melalui urikolisis dan ginjal. Urikolisis terjadi di dalam usus oleh enzim
bakteri dalam intestinal denganmengekspresikan 1/3 jumlah total asam urat. Ginjal akan
mengekskresikansisanya (Wyngaarden, 1982)
Ekskresi asam urat melalui ginjal tergantung pada kandungan purin dalammakanan. Diet rendah purin dapat
menurunkan kadar asam urat hingga 0,8mg/100 ml. Di lain pihak, konsumsi makanan kaya purin akan
mengakibatkanekskresi urin bisa mencapai 1000mg/hr tanpa mengubah jumlah asam urat, uratyg mengalami
urikolisis (Keller and Colombo, 1981).

3. Mm metabolism goat arthritis


3.1 definisi
Penyakit gout adalah salah satu tipe dari arthristis (rematik) yang disebabkan terlalu banyaknya atau
tidak normalnya kadar asam urat di dalam tubuh karena tubuh tidak bisa mengsekresikan asam urat secara
normal/seimbang.
Kadar asam urat yang normal pada pria: 7mg/dl sedang pada wanita di bawah 6 mg/dl.
Arthritis Gout
Adalah suatu proses inflamasi (pembengkakan yang terjadi karena deposisi, deposit/timbunan kristal asam urat
pada jaringan sekitar sendi atau tofi.
Gout juga merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik yang ditandai
dengan meningkatnya konsentrasi asam urat.
Masalah akan timbul bila terbentuk kristal-kristal dari monosodium urat monohidrat pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal berbentuk jarum inilah yang mengakibatkan reaksi peradangan/inflamasi, yang
bila berlanjut akan mengakibatkan nyeri hebat. Jika tidak diobati, endapan kristal ini akan menyebabkan
kerusakan hebat pada sendi dan jaringan lunak.

3.2 epidemiologi
3.3 etiologi
Gout disebabkan oleh penumpukan asam urat terlalu banyak dalam tubuh. Asam urat berasal dari
pemecahan purin. Purin ditemukan di semua jaringan tubuh . Purin juga banyak di makanan, seperti hati, kacang
kering, kacang polong, dan ikan. Normalnya, asam urat larut dalam darah. Melewati ginjal dan keluar dari tubuh
dalam urin.
Sejumlah faktor risiko yang berhubungan dengan hyperuricemia dan asam urat. Yaitu :
-

genetika Dua puluh persen orang dengan gout memiliki riwayat keluarga berpenyakit.
jenis kelamin dan usia. Hal ini lebih sering pada pria dibandingkan pada wanita dan lebih
umum pada orang dewasa dibandingkan pada anak-anak.
berat badan Kelebihan berat badan meningkatkan risiko hiperurisemia dan gout
berkembang karena ada jaringan yang tersedia untuk omset atau kerusakan, yang
menyebabkan kelebihan asam urat produksi.
konsumsi alkohol. Minum terlalu banyak alkohol dapat menyebabkan hiperurisemia,
karena alkohol mengganggu dengan penghapusan asam urat dari tubuh.
diet. Makan terlalu banyak makanan yang kaya purin dapat menyebabkan atau
memperburuk gout pada beberapa orang.
masalah kesehatan lainnya insufisiensi ginjal, atau ketidakmampuan ginjal untuk
menghilangkan produk limbah, merupakan penyebab umum dari asam urat pada orang
tua. Masalah medis lainnya yang berkontribusi terhadap tingkat darah tinggi asam urat
termasuk:
1 tekanan darah tinggi
2 hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif)

kondisi yang menyebabkan omset terlalu cepat dari sel, seperti psoriasis, anemia
hemolitik, atau beberapa jenis kanker
4 Kelley-Seegmiller syndrome atau sindrom Lesch-Nyhan, dua kondisi langka di mana
enzim yang membantu kadar asam urat kontrol baik tidak hadir atau ditemukan
dalam jumlah cukup.
obat. Sejumlah obat dapat menempatkan orang pada risiko untuk mengembangkan
hiperurisemia dan gout. Mereka termasuk:
1 diuretik, seperti furosemid (Lasix), hidroklorotiazid (Esidrix, Hydro-klor), dan
metolazone (Diulo, Zaroxolyn), yang diambil untuk menghilangkan kelebihan cairan
dari tubuh dalam kondisi seperti hipertensi, edema, dan penyakit jantung, dan yang
menurunkan jumlah asam urat dalam urin melewati
2 salisilat yang mengandung obat, seperti aspirin
3 niasin, vitamin juga dikenal sebagai asam nikotinat
4 siklosporin (Sandimmune, Neoral), obat yang menekan sistem kekebalan tubuh
(sistem yang melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit). Obat ini digunakan dalam
pengobatan beberapa penyakit autoimun, dan untuk mencegah penolakan tubuh
organ transplantasi.
5 levodopa (Larodopa), obat yang digunakan untuk mendukung komunikasi di
sepanjang jalur saraf dalam pengobatan penyakit Parkinson.

3.4 patofisiologi dan pathogenesis


Patofisiologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan
atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akhir
metabolisme purin.

Sintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).
1

Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin.
Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi
nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh
serangkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi

yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amidofosforibosiltransferase (amido-PRT).


Terdapat suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang
fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.
Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin bebasnya,
pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini tidak melalui zat-zat perantara seperti
pada jalur de novo. Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP
untuk membentuk prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua
enzim: hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin fosforibosiltransferase
(APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas oleh
glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang
diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal dan dikeluarkan melalui urin.
Pada penyakit gout-arthritis, terdapat gangguan kesetimbangan metabolisme (pembentukan
dan ekskresi) dari asam urat tersebut, meliputi:
1
2
3
4

Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik


Penurunan eksreksi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal
Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang
meningkatkan cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek enzimenzim atau mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan)
Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin

Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam urat dalam
tubuh. Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat rendah sehingga
cenderung membentuk kristal. Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam
bentuk kristal mononatrium urat. Mekanismenya hingga saat ini masih belum diketahui.
Penimbunan kristal urat dan serangan yang berulang akan menyebabkan terbentuknya
endapan seperti kapur putih yang disebut tofi/tofus (tophus) di tulang rawan dan kapsul sendi.
Di tempat tersebut endapan akan memicu reaksi peradangan granulomatosa, yang ditandai
dengan massa urat amorf (kristal) dikelilingi oleh makrofag, limfosit, fibroblas, dan sel
raksasa benda asing. Peradangan kronis yang persisten dapat menyebabkan fibrosis sinovium,
erosi tulang rawan, dan dapat diikuti oleh fusi sendi (ankilosis). Tofus dapat terbentuk di
tempat lain (misalnya tendon, bursa, jaringan lunak). Pengendapan kristal asam urat dalam
tubulus ginjal dapat mengakibatkan penyumbatan dan nefropati gout.
Pathogenesis
Awitan (onset) serangan gout akut berhubungan dengan perubahan kadar asam urat serum,
meninggi ataupun menurun. Pada kadar urat serum yang stabil, jarang mendapat serangan. Pengobatan dini
dengan alopurinol yang menurunkan kadar urat serum dapat mempresipitasi serangan Gout akut. Pemakaian
alkohol berat pada pasien gout dapat menimbulkan fluktuasi konsentrasi urat serum.
Penurunan urat serum dapat mencetuskan pelepasan Kristal monosodium urat dari depositnya dalam
tofi ( crystals shedding ). Pada beberapa pasien gout atau yang dengan hiperurisemia asimptomatik Kristal urat
ditemukan pada sendi metatarsofalangeal dan lutut yang sebelumnya tidak pernah mendapat serangan akut.
Dengan demikian, gout seperti juga pseudogout, dapat timbul pada keadaan asimptomatik. Pada penelitian
didapat 21% pasien gout dengan asam urat normal. Terdapat peranan temperature, pH, dan kelarutan urat untuk
timbul seranga gout akut.
Menurunnya kelarutan sodium urat pada temperature lebih rendah pada sendi perifer seperti kaki dan
tangan, dapat menjelaskan mengapa Kristal MSU diendapkan pada kedua tempat tersebut. Predileksi untuk
pengendapan Kristal MSU pada metatarsofalangeal- 1 (MTP-1) berhubungan juga dengan trauma ringan yang
berulang-ulang pada daerah tersebut.
Penelitian Simkin didapatkan kecepatan difusi molekul urat pada ruang sinovia kedalam plasma hanya setengah
kecepatan air. Dengan demikian konsentrasi urat cairan sendi seperti MTP-1 menjadi seimbang dengan urat
dalam plasma pada siang hari selanjutnya bila cairan sendi direabsorbsi waktu berbaring, akan terjadi
peningkatan kadar urat local. Fenomena ini dapat menerangkan terjadinya awitan (onset) gout akut pada malam

hari pada sendi yang bersangkutan. Keasaman dapat meninggikan nukleasi urat in vitromelalui pembentukan
dari protonated solid phases.
Walaupun kelarutan sodium urat bertentangan terhadap asam urat, biasanya kelarutan ini meninggi,
pada penurunan pH dari 7,5 menjadi 5,8 dan pengukuran pH serta kapasitas buffer pada sendi dengan gout,
gagal untuk menentukan adanya asidosis. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan pH secara akut tidak
signifikan mempengaruhi pembentukan Kristal MSU sendi.
Peradangan atau inflamasi merupakan reaksi penting pada arthritis gout terutama pada gout akut. Reaksi inni
merupakan reaksi pertahanan tubuh non spesifik untuk menghindari kerusakan jaringan akibat agen penyebab.
Tujuan dari proses inflamasi adalah:
a.

Menetralisir dan menghancurkan agen penyebab;

b.

Mencegah perluasan agen penyebab kejaringan yang lebih luas.

Peradangan pada arthritis gout akut adalah akibat penumpukan agen penyebab yaitu Kristal monosodium urat
pada sendi. Mekanisme peradangan ini belum diketahui secara pasti. Hal ini diduga oleh peranan mediator kimia
dan selular. Pengeluaran berbagai mediator peradangan akibat aktivasi melalui berbagai jalur, antara lain
aktivitas komplemen (C) dan selular.
Arthritis gout adalah karena kristalisasi dan pengendapan urat . Asam urat timbul dari metabolisme purin
endogen, baik dari kelebihan asam nukleat atau kematian sel,seperti pada keadaan penyakit tertentu (kanker).
Purin dimetabolisme untuk hipoksantin yang kemudian mengalami metabolisme lebih lanjut oleh enzim
xanthine oxidase ke xanthine, yang dioksidasi oleh xantin oksidase menjadi asam urat. Urat kemudian dapat
deposit di jaringan lunak, seperti kulit, sebagai tophus urat, atau sendi. Kristal urat pada sendi mengalami
fagositosis dan menghasilkan prostaglandin, interleukin 1, dan mediator inflamasi lainnya. Zat ini kemudian
menyebabkan kemotaksis leukosit dan makrofag pada sendi, pembesar respon inflamasi.
Dengan bergantian, urat dapat dibuang. Urat difiltrasi melalui glomerulus. Selain itu, secara aktif disekresi
dalam tubulus. Namun, reabsorpsi tubular besar urat juga terjadi sehingga hanya sekitar 10% dari urat disaring
sebenarnya dikeluarkan. Jika kondisi kemih kondusif, urat dapat mengkristal dalam urin, membentuk urat bate
urine (yaitu asam urat dan oksalat).
Gambaran Klinis
Gambaran klinik dapat berupa:
Hiperurisemia asimptomatik
Hiperurisemia asimptomatik adalah keadaan hiperurisemia (kadar asam urat serum tinggi) tanpa adanya
manifestasi klinik gout. Fase ini akan berakhir ketika muncul serangan akut arthritis gout, atau urolitiasis.
Arthritis gout, meliputi 3 stadium:
1. Artritis gout akut
Serangan pertama biasanya terjadi antara umur 40-60 tahun pada laki-laki, dan setelah 60 tahun pada
perempuan. Onset sebelum 25 tahun merupakan bentuk tidak lazim. Pada 85-90% kasus, serangan berupa
arthritis monoartikuler dengan predileksi MTP-1 yang biasa disebut podagra. Gejala yang muncul sangat khas,
yaitu radang sendi yang sangat akut dan timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada gejala
apapun, kemudian bangun tidur terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan. Keluhan monoartikuler berupa
nyeri, bengkak, merah dan hangat, disertai keluhan sistemik berupa demam, menggigil dan merasa lelah,
disertai lekositosis dan peningkatan laju endap darah. Sedangkan gambaran radiologis hanya didapatkan
pembengkakan pada jaringan lunak periartikuler. Keluhan cepat membaik setelah beberapa jam bahkan tanpa
terapi sekalipun.
Pada perjalanan penyakit selanjutnya, terutama jika tanpa terapi yang adekuat, serangan dapat mengenai sendisendi yang lain seperti pergelangan tangan/kaki, jari tangan/kaki, lutut dan siku, atau bahkan beberapa sendi
sekaligus. Serang-an menjadi lebih lama durasinya, dengan interval serangan yang lebih singkat, dan masa

penyembuhan yang lama. Faktor pencetus serangan akut antara lain trauma lokal, diet tinggi purin, minum
alkohol, kelelahan fisik, stress, tindakan operasi, pemakaian diuretik, pemakaian obat yang meningkatkan atau
menurunkan asam urat.
2. Stadium interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium gout akut, dimana secara klinik tidak muncul tanda-tanda
radang akut, mes-kipun pada aspirasi cairan sendi masih ditemukan kristal urat, yang menunjukkan proses
kerusakan sendi yang terus berlangsung progresif. Stadium ini bisa berlangsung bebe-rapa tahun sampai 10
tahun tanpa serangan akut. Dan tanpa tata laksana yang adekuat akan berlanjut ke stadium gout kronik.
3. Artritis gout kronik = kronik tofaseus gout
Stadium ini ditandai dengan adanya tofi dan terdapat di poliartikuler, dengan predileksi cuping telinga,
MTP-1, olekranon, tendon Achilles dan jari tangan. Tofi sendiri tidak menimbulkan nyeri, tapi mudah terjadi
inflamasi di sekitarnya, dan menyebabkan destruksi yang progresif pada sendi serta menimbulkan deformitas.
Selain itu tofi juga se-ring pecah dan sulit sembuh, serta terjadi infeksi sekunder. Kecepatan pembentukan
deposit tofus tergantung beratnya dan lamanya hiperurisemia, dan akan diperberat dengan gangguan fungsi
ginjal dan penggunaan diuretik. Pada beberapa studi didapatkan data bahwa durasi dari serang-an akut pertama
kali sampai masuk stadium gout kronik berkisar 3-42 tahun, dengan rata-rata 11,6 tahun. Pada stadium ini
sering disertai batu saluran kemih sampai penyakit ginjal menahun/gagal ginjal kronik. Timbunan tofi bisa
ditemukan juga pada miokardium, katub jantung, system konduksi,beberapa struktur di organ mata terutama
sklera, dan laring.
Pada analisa cairan sendi atau isi tofi akan didapatkan Kristal MSU, sebagai kriteria diagnostik pasti. Gambaran
radiologis didapatkan erosi pada tulang dan sendi dengan batas sklerotik dan overhanging edge.
Penyakit ginjal
Sekitar 20-40% penderita gout minimal mengalamai albuminuri sebagai akibat gangguan fungsi ginjal. Terdapat
tiga bentuk ke-lainan ginjal yang diakibatkan hiperurisemia dan gout:
1. Nefropati urat, yaitu deposisi kristal urat di interstitial medulla dan pyramid ginjal, merupakan proses yang
kronik, ditandai dengan adanya reaksi sel giant di sekitarnya.
2. Nefropati asam urat, yaitu presipitasi asam urat dalam jumlah yang besar pada duktur kolektivus dan ureter,
sehingga me-nimbulkan keadaan gagal ginjal akut. Disebut juga sindrom lisis tumor, dan sering didapatkan pada
pasien leukemia dan limfoma pasca kemoterapi.
3. Nefrolitiasis, yaitu batu ginjal yang didapatkan pada 10-25% dengan gout primer.

3.5 manifestasi klinis


Panas, kemerahan dan pembengkakan pada sendi yang tipikal dan tiba-tiba. Pada serangan
akut penderita gout dapat menimbulkan gejala demam dan nyeri hebat yang biasanya bertahan berjamjam sampai seharian, dengan atau tanpa pengobatan. Seiring berjalannya waktu serangan artritis gout
akan timbul lebih sering dan lebih lama.
Pasien dengan gout meningkatkan kemungkinan terbentuknya batu ginjal.Kristal-kristal asam urat
dapat membentuk tophi (benjolan keras tidak nyeri disekitar sendi) di luar persendian. Tophi sering
ditemukan di sekitar jari tangan, di ujung siku dan sekitar ibu jari kaki, selain itu dapat ditemukan juga
pada daun telinga, tendon achiles (daerah belakang pergelangan kaki) dan pita suara (sangat jarang
terjadi).
Manifestasi klinis penyakit gout terdiri dari 3 tahapan, yaitu:
1

Tahap pertama disebut tahap artritis gout akut


Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas dan serangan tersebut
akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 7 hari.
Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena infeksi
sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak melakukan pemeriksaan lanjutan.
2

Tahap artritis gout interkritikal


Pada tahap ini penderita tidak merasakan adanya gangguan. Namun, apabila di lakukan
pengambilan cairan sendi, makan didapati kristal urat. Hal ini menandakan bahwa peradangan tetap

berlanjut meski asimptomatik. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka akan lebih sering terjadi
serangan akut yg lebih berat dan dapat berrlanjut menjadi stadium menahun dengan pembentukan tofi.
3

Tahap artritis gout akut intermiten.


Setelah melewati masa gout interkritikal selama bertahun-tahun tanpa gejala, penderita akan
memasuki tahap ini, ditandai dengan serangan artritis yang khas.
Selanjutnya penderita akan sering mendapat serangan (kambuh) yang jarak antara serangan
yang satu dan serangan berikutnya makin lama makin rapat dan lama, serangan makin lama makin
panjang, serta jumlah sendi yang terserang makin banyak.

Tahap artritis gout kronik bertofus


Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini
akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus
ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal
monosodium urat.
Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang disekitarnya. Tofus pada kaki bila ukurannya
besar dan banyak akan mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi.

3.6 diagnosis dan diagnosis banding


Diagnosis Athritis Gout
Dengan pemeriksaan fisik dapat dilihat hal yang dibawah ini untuk menegakkan diagnosa :
1

Inspeksi
Deformatis
Eritema

Palpasi
Pembengkakankarenacairan / peradangan.
Perubahananatomitulang / jaringanlunak .
Nyeritekan
Krepitasi
Perubahan Range of Movement (ROM)

Dengan menemukan kristal urat dalam tofi merupakan diagnosis untuk gout. Akan tetapi tidak semua
pasien mempunyai tofi, sehingga tes diagnostik ini kurang sensitif. Oleh karena itu kombinasi dari penemuanpenemuan dibawah ini dapat dipakai untuk menegakkan diagnosis :
1
2
3
4

Riwayat inflamasi klasik artritis monoartikuler khusus pada sendi MTP-1


Diikuti oleh stadium interkritik dimana bebas simptom
Resolusi sinovitis yang cepat dengan pengobatan kolkisin
Hiperuresemia

Kadar asam urat normal tidak dapat menghindari diagnosis gout. Logan dkk mendapatkan 40% pasien
gout mempunyai kadar asam urat normal. Hasil penelitian penulis didapatkan sebanyak 21% artritis gout dengan
asam urat normal. Walaupun hiperuresemia dan asam urat mempunyai hubungan kausal, keduanya mempunyai
fenomena yang berbeda.
Diagnosis artritis gout didasarkan pada kriteria American Rheumatism Association (ARA), yaitu :

Terdapat kristal urat pada cairan sendi atau tofus


Bila ditemukan 6 dari 12 kriteria tersebut di bawah ini :
1 Inflamasi maksimum pada hari pertama
2 Serangan artritis akut lebih dari satu kali
3 Artritis nonartikuler
4 Sendi yang terkena berwarna kemerahan
5 Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsophalangeal
6 Serangan pada sendi metatarsophalangeal unilateral

7
8
9
10
11
12

Serangan pada sendi tarsal unilateral


Adanya fokus
Hiperuresemia
Pada foto sinar-x tampak pembengkakan sendi asimetris
Pada foto sinar-x tampak kista subkortikal tanpa erosi
Kultur bakteri cairan sendi negative

Diagnosis banding
Gout akut harus dibedakan dari penyebab artritis akut lainnya, terutama artitis stafilokokus septik dan demam
reumatik. Pseudogout dapat timbul pada gagal ginjal.
Gout kronis, terutama bila mengenai banyak sendi, dapat menyerupai rheumatoid atau osteoarthritis.
Hiperurisemia dapat timbul sekunder akibat terapi diuretic.

Pseudogout
Kristal kalsium pirofosfat di dalam kartilago sendi. Kadang-kadang, terjadi arthritis akut dan ini dapat
menyerupai gout yang asli. Penyebab deposit pirofosfat tidak diketahui. Ini sangat banyak berhubungan dengan
umur dan lebih sering pada usia lanjut. Pirofosfat diendapkan pada daerahkartilago yang mengalami kerusakan
sebelumnya, ini hanya ditemukan pada sebagian kasus. Ada hubungannya dengan hiperparatiroidism dan
hemokromatosis dan kadang-kadang kasus dalamkeluarga ditemukan.
Osteoarthritis
Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif kronis dari sendi-sendi. Pada penyakit initerjadi
penurunan fungsi tulang rawan terutama yang menopang sebagian dari berat badan danseringkali pada
persendian yang sering digunakan. Sering dianggap juga sebagai konsekuensidari perubahan-perubahan dalam
tulang dengan lanjutnya usia. Penyakit ini biasa terjadi padaumur 50 tahun ke atas dan pada orang kegemukan
(obesitas), tetapi bisa juga disebabkan olehkecelakaan persendian . Pada usia lanjut tampak dua hal yang khas,
yaitu rasa sakit pada persendian dan terasa kaku jika digerakkan.Oseteoartritis diklasifikasikan sebagai tipe
primer (idiopatik) tanpa kejadian atau penyakitsebelumnya. Pertambahan usia berhubungan secara langsung
dengan proses degenerative dalamsendi, mengingat kemampuan kartilago artikuler untuk bertahan terhadap
mikrofraktur dengan beban muatan rendah yang berulang-ulang menurun.

Rheumatoid arthritis
Rheumatoid arthritis merupakan bentuk arthritis yang serius, disebabkan oleh peradangan kronis yang
bersifat progresif, yang menyangkut persendian. Ditandai dengan sakitdan bengkak pada sendi-sendi terutama
pada jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, dan lutut.Dalam keadaan yang parah dapat menyebabkan
kerapuhan tulang sehingga menyebabkankelainan bentuk terutama pada tangan dan jari-jari. Tanda lainnya yaitu
persendian terasa kakuterutama pada pagi hari, rasa letih dan lemah, otot-otot terasa kejang, persendian terasa
panasdan kelihatan merah dan mungkin mengandung cairan, sensasi rasa dingin pada kaki dan tanganyang
disebabkan gangguan sirkulasi darah.

3.7 penatalaksanaan
NSAID

NSAID

NSAID COX-nonselektif

NSAID COX-2preferential

aspirin
indometasin
piroksikam
ibuprofen
naproksen
asam mefenamat

nimesulid
meloksikam
nabumeton
diklofenak
etodolak

NSAID COX-2-selektif

generasi 1:
selekoksib
rofekoksib
valdekoksib
parekoksib
eterikoksib

generasi 2:
lumirakoksib

Mekanisme Kerja
Mekanisme NSAID berhubungan dengan sistem biosintesis PG yang telah memperlihatkan secara in
vitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin menghambat produksi enzimatik PG. Produksi PG akan
meningkat bilamana sel mengalami kerusakan. Obat NSAID secara umum tidak menghambat biosintesis
leukotrien. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi
PGG2 terganggu.
Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform disebut COX-1 dan COX-2. COX-1 merupakan
esensial dalam pemeliharaan berbagai fungsi dalam kondisi normal di berbagai jaringan khususnya ginjal,
saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa lambung, aktivasi COX-1 menghasilkan prostasiklin yang bersifat
sitoprotektif. COX-2 mempunyai fungsi fisiologis yaitu di ginjal, jarngan vascular dan pada proses perbaikan
jaringan. Tromboksan A2, yang di sintesis trombosit oleh COX-1, menyebabkan agregasi trombosit,
vasokonstriksi, dan proliferasi oto polos. Sebaliknya prostasiklin (PGI2) yang disintesis oleh COX-2 di endotel
makrovaskular melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit, vasodilatasi dan
efek anti-proliferatif.
Farmakokinetik :
Absorbsi melalui saluran cerna baik. Obat ini didistribusikan secara luas dalam jaringan tubuh. Kadar
tinggi berada di dalam ginjal, hati, limpa, dan saluran cerna, tetapi tidak terdapat di dalam otot rangka, jantung,
dan otak. Sebagian besar diekskresikan dalam bentuk tinja, 10-20% melalui urin. Pada pasien penyakit hati lebih
banyak melalui urin. Kolkisin dapat ditemukan dalam leukosit dan urin sedikitnya untuk 9 hari setelah suatu
suntikan IV.
NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan, yaitu:
a Golongan salisilat (diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil
salisilat, dan salisilamid),
b Golongan asam arilalkanoat (diantaranya diklofenak, indometasin, proglumetasin, dan oksametasin),
c Golongan profen/asam 2-arilpropionat (diantaranya ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen,
naproxen, dan ketorolac),
d Golongan asam fenamat/asam n-arilantranilat (diantaranya asam mefenamat, asam flufenamat, dan
asam tolfenamat),

e Golongan turunan pirazolidin (diantaranya fenilbutazon, ampiron, metamizol, dan fenazon),


f Golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan meloksikam),
g Golongan penghambat cox-2 (celecoxib, lumiracoxib),
h Golongan sulfonanilida (nimesulide), serta
i
Golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3).
Farmakodinamik
Sifat antiradang kolkisin spesifik terhadap penyakit pirai dan beberapa artritis, untuk radang umum obat ini
tidak efektif. Kolkisin tidak memiliki efek analgesic. Pada penyakit pirai, kolkisin tidak meningkatkan ekskresi,
sintesis atau radang asam urat dalam darah. Obat ini berikatan dengan protein mikrotubular dan menyebabkan
depolimerasi dan menghilangnya mikrotubul fibrilar granulosit dan sel bergerak lainnya. Hal ini menyebabkan
penghambatan migrasi granulosit ke tempat radang sehingga pelepasan mediator antiinflamasi ditekan. Kolkisin
mencegah penglepasan glikoproteindari leukosit pada pasien gout menyebabkan nyeri dan radang sendi.
Indikasi:
Secara umum, NSAID diindikasikan untuk merawat gejala penyakit berikut: rheumatoid arthritis,
osteoarthritis, encok akut, nyeri haid, migrain dan sakit kepala, nyeri setelah operasi, nyeri ringan hingga sedang
pada luka jaringan, demam, ileus, dan renal colic. Sebagian besar NSAID adalah asam lemah, dengan pKa 3-5,
diserap baik pada lambung dan usus halus. NSAID juga terikat dengan baik pada protein plasma (lebih dari
95%), pada umumnya dengan albumin. Hal ini menyebabkan volume distribusinya bergantung pada
volume plasma. NSAID termetabolisme di hati oleh proses oksidasi dan konjugasi sehingga menjadi zat
metabolit yang tidak aktif, dan dikeluarkan melalui urin atau cairan empedu.
Efek samping :
NSAID merupakan golongan obat yang relatif aman, namun ada 2 macam efek samping utama yang
ditimbulkannya, yaitu efek samping pada saluran pencernaan (mual, muntah, diare, pendarahan lambung, dan
dispepsia) serta efek samping pada ginjal (penahanan garam dan cairan, dan hipertensi). Efek samping ini
tergantung pada dosis yang digunakan. Obat ini tidak disarankan untuk digunakan oleh wanita hamil, terutama
pada trimester ketiga. Namun parasetamol dianggap aman digunakan oleh wanita hamil , namun harus diminum
sesuai aturan karena dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan hati.
Hal terpenting yang menentukan keberhasilan terapi bukanlah pada NSAID yang dipilih melainkan
pada seberapa cepat terapi NSAID mulai diberikan. NSAID harus diberikan dengan dosis sepenuhnya (full
dose) pada 2448 jam pertama atau sampai rasa nyeri hilang. Dosis yang lebih rendah harus diberikan sampai
semua gejala reda. NSAID biasanya memerlukan waktu 2448 jam untuk bekerja, walaupun untuk
menghilangkan secara sempurna semua gejala gout biasanya diperlukan 5 hari terapi. Pasien gout sebaiknya
selalu membawa persediaan NSAID untuk mengatasi serangan.
EFEK FARMAKOLOGI
Semua abat mirip aspirin bersifat analgesik, antipiretik dan antiinflamasi
a Efek analgesik:
a Obat mirip aspirin hanya efektif untuk nyeri ringan dan sedang, mis; sakit kepala, mialgia, artralgia
dan nyeri lain
b Efeknya jauh lebih lemah dibanding opiat
c Hanya mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri
b Efek Antipiretik:
Hanya menurunkan suhu badan pada keadaan demam. Tidak semuanya digunakan sebagai antipiretik
karena masalah toksisitas
c Efek Antiinflamasi:
Umumnya untuk inflamasi pada gangguan muskuloskeletal. Hanya bersifat simtomatis.
d EFEK ANTI-TROMBOTIK
Antitrombotik untuk mengencerkan darah misal pd gangguan jantung dan penyakit arteri koroner stroke
non hemoragik.
Efek samping
1 Secara umum berpotensi menyebabkan ES pada 4 organ, yaitu: pencernaan, ginjal, hati dan darah
2 Pencernaan: tukak lambung (paling sering)

3
4
5
6

Ginjal: aliran darah ginjal , gagal ginjal, penggunaan bertahun menyebabkan nefropati analgesik
Hati: kerusakan hati
Darah: gangguan fungsi trombosit
Hipersensitivitas: akibat bergesernya metab as arakidonat ke lipoksigenase

Obat-obat NSAID
1 Asam Mefemanat
a Digunakan terutama sebagai analgesik
b Terikat kuat pada protein plasma
c Sifat iritatifnya kuat
d Tdk dianjurkan pd usia < 14 th
2 Diklofenak
a Absorbsi cepat dan lengkap
b Terikat protein 99%
c Mengalami metab lintas pertama
d Waktu paruh singkat
e Mengalami akumulasi di cairan sinovial
f ESO spt AINS lain tetapi peningkatan enzim transaminase lebih sering
g Tdk dianjurkan utk ibu hamil
h Dosis awal 100 mg, kemudian 50 mg 3 kali/hari selama 48 jam, kemudian 50 mg dua kali/hari selama
8 hari.
3 Ibuprofen
a Ibu profen merupakan derivat as propionat,
b Efek analgesi dan antipiretiknya cukup kuat
c 90% terikat protein plasma
d Mengurangi efek diuretik dari furosemid dan tiazid
e Mengurangi efek antihipertensi beta bloker, prazosin dan kaptopril
f Mengantagonis aspirin sbg kardioprotektif
g Tidak dianjurkan pd ibu hamil dan menyususi
4 Ketoprofen
Memiliki efektivitas seperti ibuprofen dgn sifat antiinflamasi sedang. Absorbsi berlangsung baik dari
lambung dan waktu plasma sekitar 2 jam. Efek samping sama dengan AINS lain terutama menyebabkan
gangguan saluran cerna, dan reaksi hipersensitivitas. Dosis 2 kali 100 mg sehari, tetapi seaniknya
ditentukan secara individual
5 Indometasin
Merupakan deprival indol asam asetat. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan
obat ini harus dibatasi. Indometasin banyak diresepkan untuk serangan akut artritis gout, dengan dosis
awal 75100 mg/hari. Dosis ini kemudian diturunkan setelah 5 hari bersamaan dengan meredanya gejala
serangan akut. Efek samping indometasin antara lain pusing dan gangguan saluran cerna, efek ini akan
sembuh pada saat dosis obat diturunkan.
6 Piroksisam dan meloksisam
a Piroksikam merupakan derivat as enolat
b Abrobsi berlangsung cepat
c 99% terikat protein
d Waktu paruh panjang
e Kadar plasma = kadar cairan sinovial
f Efek samping tersering gangguan sal cerna
g Karena ES sal cerna, penggunaan hanya oleh dokter spesialis dan sbg lini ke 2
h Meloksikam sedikit lebih selektif thd COX-2
i
Piroxicam awal 40 mg, kemudian 1020 mg/hari
7 Nabumeton
8 Nimesulide
9 COX-2 selektif
a Dikembangkan utk mengurangi ES pd sal cerna
b Efektivitas sbg AINS tidak berbeda dgn Yg tidak selektif
c Meningkatkan risiko kardiovaskular
d Rofekoksib, valdekoksib ditarik krn risiko kardiovaskular
e Limirakoksib ditarik karena kerusakan hati
10 Naproksen

Efektivitas sedikit lebih tinggi dengan efek samping lebih rendah dari gol as propionat yg lain.dosis awal
750 mg, kemudian 250 mg 3 kali/hari.
11 Azapropazon
Akut Azapropazon adalah obat lain yang juga baik untuk mengatasi serangan akut. NSAID ini
menurunkan kadar urat serum, mekanisme pastinya belum diketahui dengan jelas. Komite Keamana Obat
(CSM) membatasi penggunaan azapropazon untuk gout akut saja jika NSAID sudah dicoba tapi tidak
berhasil. Penggunaannya dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat ulkus peptik, pada ganggunan
fungsi ginjal menengah sampai berat dan pada pasien lanjut usia dengan gangguan fungsi ginjal ringan.
Obat
Gol. Salisilat
*Mg salisilat
Aspirin
Trisilat
Gol. Indole
Indometasin (indocin)

Dosis
2.600 mg atau lebih

Sulindac (clinori)

300-400 mg, 2 x
sehari
100-400 mg, 2-3 x
sehari

Gol. Pyrazolephenil
butazone (azolid,
butazolidine)
Gol. Asam propionate
Ibuprofren (motrin & rufen)
Fenoprofen calcium
Gol. Benzotiazine
piroxicam (feldene)

25-200 mg, 1 x sehari

Efek samping
Telinga mendenging,
gangguan saluran cerna
atas dan gumpalan sel
darah
Gangguan sal. Cerna,
gangguan kesadaran, sakit
kepala, gangguan
penglihatan
Rash kulit, penumpukan
cairan, sariawan, hematuria
Gangguan sal. Cerna

900-2.400 mg, 3-4 x


sehari

Gangguan sal. Cerna

20 mg, 1 x sehari

Diare berat dan colitis

Urikosurik
Ada 2 kelompok obat penyakit pirai, yaitu obat yang menghentikan proses inflamasiakut, misalnya kolkisin,
fenilbutazon, oksifenabutazon, dan indometasin, dan obat yang mempengaruhi kadar asam urat, misalnya
probenesid, allopurinol, dan sulfinpirazon.
1

Kolkisin
Adalah suatu anti-inflamasi yang unik yang terutama diindikasikan pada penyakit pirai. Obat ini
merupakan alkaloid Colchicum autumnale, sejenis bunga leli.
Farmakodinamik
Sifat antiradang kolkisin spesifik terhadap penyakit pirai dan beberapa artritis, untuk radang
umum obat ini tidak efektif. Kolkisin tidak memiliki efek analgesic. Pada penyakit pirai, kolkisin tidak
meningkatkan ekskresi, sintesis atau radang asam urat dalam darah. Obat ini berikatan dengan protein
mikrotubular dan menyebabkan depolimerasi dan menghilangnya mikrotubul fibrilar granulosit dan sel
bergerak lainnya. Hal ini menyebabkan penghambatan migrasi granulosit ke tempat radang sehingga
pelepasan mediator antiinflamasi ditekan. Kolkisin mencegah penglepasan glikoproteindari leukosit
pada pasien gout menyebabkan nyeri dan radang sendi.
Farmakokinetik
Absorbsi melalui saluran cerna baik. Obat ini didistribusikan secara luas dalam jaringan
tubuh. Kadar tinggi berada di dalam ginjal, hati, limpa, dan saluran cerna, tetapi tidak terdapat di dalam
otot rangka, jantung, dan otak. Sebagian besar diekskresikan dalam bentuk tinja, 10-20% melalui urin.
Pada pasien penyakit hati lebih banyak melalui urin. Kolkisin dapat ditemukan dalam leukosit dan urin
sedikitnya untuk 9 hari setelah suatu suntikan IV.
Indikasi

Kolkisin merupakan untuk obat pirai, oleh karena itu pemberian harus diberikan secepatnya
pada awal serangan dan diteruskan sampai gejala hilang atau timbul efek samping yang mengganggu.
Bila obat terlalu terlambat, efektivitasnya kurang. Kolkisin juga berguna untuk profilaktik serangan
penyakit pirai atau mengurangi beratnya serangan dan obat ini juga dapat mencegah serangan yang
dicetuskan oleh obat urikosurik dan alopurinol. Untuk profilaksis, cukup diberikan dosis kecil.
Dosis kolkisin 0,5-0,6 mg/jam atau 1,2 mg sebagai dosis awal diikuti 0,5-0,6 mg/2jam sampai
gejala penyakit hilang atau gejala saluran cerna timbul. Untuk profilaksis diberikan 0,5-1 mg sehari.
Pemberian IV: 1-2 mg dilanjutkan dengan 0,5 mg tiap 12-24 jam. Dosis jangan melebihi 4 mg dengan
satu regimen pengobatan. Untuk mencegah iritasi akibat ekstravasasi sebaiknya larutan 2 mL
diencerkan menjadi 10 mL dengan larutan garam faal.
Efek Samping
Efek samping yang paling sering adalah muntah, mual, dan diare, dapat mengganggu terutama
dengan dosis maksimal. Bila efek terjadi, pengobatan harus dihentikan walaupun efek terapi belum
tercapai. Depresi sumsum tulang, purpura, neuritis perifer, miopati, anuria, alopesia, gangguan hati,
reaksi alergi, dan colitis hemoragik terjadi karena dosis yang berlebihan dan pada pemberian IV,
gangguan ekskresi akibat kerusakan ginjal dan kombinasi keadaan tersebut. Kolkisin harus diberikan
hati-hati pada pasien usia lanjut, lemah atau pasien dengan gangguan ginjal, kardiovaskular, dan
saluran cerna.
2

Alopurinol
Alopurinol berguna untuk mengobati penyakit pirai karena menurunkan kadar asam urat.
Pengobatan jangka panjang mengurangi frekuensi serangan, menghambat pembentukan tofi,
memobilisasi asam urat dan mengurangi besarnya tofi. Mobilisasi asam urat dapat ditingkatkan dengan
memberikan urikosurik. Kegunaan obat ini terutama untuk mengobati pirai kronik dengan insufisiensi
ginjal dan batu urat dalam ginjal, tetapi dosis awal harus dikurangi. Obat ini juga berguna untuk
pengobatan pirai sekunder akibat olisitemia vera, metaplasia myeloid, leukemia, limfoma, psoriasis,
hiperurisemia akibat obat, dan radiasi.
Obat ini bekerja dengan menghambat xantin oksidase, enzim uang mengubah hipoxantin
menjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat. Alopurinol menghambat sintesis purin yang
merupakan precursor xantin. Alopurinol mengalami biotransformasi oleh enzim xantin oksidase
menjadi aloxantin yang masa paruhnya lebih panjang daripada allopurinol, oleh karena itu allopurinol
cukup diberikan satu kali sehari karena masa paruhnya pendek.
Efek samping yang sering terjadi ialah reaksi kulit. Bila kemerahan kulit timbul, obat harus
dihentikan karena gangguan mungkin menjadi lebih berat. Allopurinol dapat meningkatkan frekuensi
serangan sehingga sebaiknya pada awal terapi diberika kolkisin. Serangan menghilang setelah beberapa
bulan pengobatan.
Dosis untuk penyakit pirai ringan 200-400 mg/hari, 400-600 mg untuk penyakit yang lebih
berat. Untuk pasien yang gangguan ginjal dosisnya cukup 100-200 mg/hari. Untuk anak 6-10 tahun 300
mg/hari dan 150 mg/hari untuk anak di bawah 6 tahun.

Probenesid
Obat ini berefek mencegah dan mengurangi kerusakan sendi serta pembentukan tofi pada
penyakit pirai, tidak efektif untuk mengatasi serangan akut. Obat ini juga berguna untuk pengobatan
hipeuresemia sekunder.
Efek samping yang paling sering adalah gangguang saluran cerna, nyeri kepala, dan reaksi
alergi. Gangguan saluran cerna lebih ringan dibandingkan sulfipirazon, tetapi hati-hati pemberian pada
pasien yang dengan riwayat ulkus peptic. Salisilat mengurangi efek probenesid.
Probenesid menghambat ekskresi renal dari sulfinpirazon, indometasin, penisilin, PAS,
sulfonamide, dan juga berbagai asam organic, sehingga dosis obat harus disesuaikan bila diberikan
bersamaan. Dosis probenesid 2 kali 250 mg/hari selama seminggu diikuti dengan 2 kali 500 mg/hari.

Sulfinpirazon

Obat ini mencegah dan mengurangi kelainan sendi dan tofi pada penyakit pirai jronik
berdasarkan hambatan reabsorbsi tubular asam urat. Kurang efektif menurunkan kadar asam urat
dibandingkan dengan allopurinol dan tidak efektif mengatasi serangan pirai akut. Obat ini tidak boleh
diberikan pada pasien dengan riwayat ulkus peptic. Anemia, leukopenia, agranulositosis dapat terjadi.
Sulfinpirazon dapat meningkatkan efek insulin dan obat hipoglikemik oral sehingga harus diberikan
bersama dengan obat-obatan seperti fenilbutazon dan oksifenobutazon.
Dosis sulfinpirzon 2kali 100-200 mg/hari, ditingkatkan sampai 400-800 mg kemudian
dikurangi sampai dosis efektif minimal.
5

Ketorolak
Merupakan obat analgesic poten dengan eek anti-inflamasi sedang. Absorbsi oral dan IM
berlangsung cepat mencapai puncak dalam 30-50 menit.
Dosis IM 30-60 mg, IV 15-30 mg, dan oral 5-30 mg.
Efek sampingnya berupa nyeri di tempat suntikan, gangguan saluran cerna, kantuk, pusing,
dan sakit kepala yang dilaporkan terjadi kira-kira 2 kali placebo. Obat ini sangat selektif menghambat
COX-1, maka obat ini hanya dianjurkan dipakai tidak lebih dari 5 hari karena kemungkinan tukak
lambung dan iritasi lambung besar sekali.

Etodolak
Merupakan NSAID kelompok asam piranokarboksilat dan obat ini merupakan lebih selektif
terhadap COX-2 dibandingkan dengan NSAID umumnya. Etodolak menghambat bradikin yang
diketahui merupakan salah satu mediator perangsang nyeri.
Masa kerjanya pendek sehingga harus diberikan 3-4 kali sehari. Berguna untuk analgesic,
pascabedah. Dosis 200-400, 3-4 kali sehari.

3.8 prognosis
Asam urat adalah penyakit yang memiliki prognosis yang tidak bisa dilenyapkan. Karena
asam urat mungkin terjadi pada siapa saja dengan usia 20 tahun keatas dan kadar asam urat yang meningkat.
Asam urat juga terjadi berulang ulang. Penyakit ini mungkin hilang tapi hanya untuk beberapa saat. Apabila
konsumsi purin tidak di kontrol maka asam urat mungkin kembali menyerang.
3.9 komplikasi