Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Biogas
Biogas adalah campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu proses

fermentasi bahan organik olek bakteri dalam keadaan tanpa oksigen (anaerobic).
Atau biogas merupakan bahan bakar gas yang dapat diperbaharui yang dihasilkan
secara anaerobic dari bahan organik dengan menggunakan bakteri metana seperti
Methanobacteriium sp. Gas yang dihasilkan adalah gas metana (CH4), hidrogen
sulfida (H2S), nitrogen (N2), oksigen (O2), dan karbon dioksida (CO2). Produk ini
dihasilkan dari sejumlah bahan organik, yang disebut sebagai substrat biomassa,
melalui tindakan mikroorganisme yang disebut sebagai biomassa aktif. Biogas
sangat potensial sebagai bahan bakar karena memiliki kandungan metana.
Biogas juga sudah mulai dikembangkan dan dimanfaatkan oleh beberapa
industri sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak. Tetapi biogas
mengandung H2S dan CO2 yang cukup tinggi sehingga berpotensi mencemari
lingkungan. Biogas perlu pemurnian sebelum digunakan sebagai bahan bakar.
Secara umum penghilangan/pengurangan H2S dan CO2 dari biogas dapat
dilakukan secara fisika, biologi dan kimia, tetapi selami ini masih memiliki
beberapa kelemahan-kelemahan.
2.2.

Komposisi Biogas

2.2.1. Komponen utama biogas


Menurut Wellinger dan Lindenberg, komposisi di dalam biogas tergantung
pada jenis bahan baku. Namun, komposisi biogas yang utama adalah gas metana
(CH4) dan gas karbon dioksida (CO 2) dengan sedikit kandungan gas hidrogen
sulfida (H2S). Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses
anaerobik yang terjadi. Biogas hasil fermentasi biasanya memiliki konsentrasi
metana sekitar 50%. Metana berkadar rendah dalam biogas sebesar itu hanya bisa
dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam kegiatan masak memasak. Guna
menaikkan kemanfaatan biogas sebagai enegi bau terbarukan, perlu dilakukan
tahap pemurnian metana secara mudah dan murah. Dengan sistem/alat pemurnian

(purifikasi) metana, biogas dapat diaplikasikan sebagai sumber bahan baku energi
alternatif. Berikut adalah kandungan yang terdapat dalam biogas pada umumnya :
Tabel 2.1. Komponen utama biogas

No

Komponen

Satuan

1
2
3
4
5
6
7

Gas Metana (CH4)


Karbon dioksida (CO2)
Nitrogen (N2)
Hidrogen (H2)
Karbon monoksida ( CO)
Oksigen (O2)
Hidrogen sulfida (H2S)

%Vol
%Vol
%Vol
%Vol
%Vol
Ppm
Ppm

Komposisi
1
2
50-75
54-70
24-40
27-45
<2
0-1
<1
0-1
0,1
<2
0,1
<3
Sedikit

Sumber : Hambali, 2007

Proses fermentasi untuk pembentukan biogas pada temperatur maksimal


30-35 oC. Pada temperatur tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan
organik secara optimal. Hasil perombakan bakteri adalah gas metana (CH4).
2.2.2. Komposisi limbah dan biogas yang dihasilkan.
Banyaknya kandungan gas metana pada biogas mengakibatkan biogas
dapat dijadikan sumber energi. Berikut adalah komposisi biogas yang dihasilkan
dari bahan baku berbeda.
Tabel 2.2. Komposisi biogas yang dihasilkan dari bahan baku yang berbeda-beda

Potensi gas
Bahan baku

per Kg

Suhu (C)

Limbah sapi
Limbah ayam
Limbah manusia

Kotoran (m3)
0.023-0.040
0.065-0.116
0.020-0.028

34.6
37.3
20.0 26.2

Persentase

Waktu

CH4

Fermentasi

58
60
-

10
30
21

Sumber: Sri Wahyuni (2011)

Pada beberapa literatur sering disebutkan nilai energi yang berbeda dari
limbah yang berbeda terlihat pada Tabel 2.2, hal ini berkaitan erat dalam kondisi
lingkungan setempat dan karakteristik subtraksi yang tidak selalu sama.
2.2.3. Kandungan Energi
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas dapat menghasilkan sumber energi
listrik sekitar 420 Wh yang setara dengan setengah liter bensin. Kotoran sapi yang
diproduksi oleh satu sapi dalam waktu satu tahun dapat dikonversi menjadi gas

metana setara dengan lebih dari 200 liter bensin. Oleh karena itu Biogas sangat
cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahan-bahan lain yang
berasal dari fosil. Berikut ini merupakan nilai kalor pada beberapa sumber energi :
Tabel 2.3. Perbandingan jumlah kalor dari berbagai jenis bahan bakar

Bahan Nakar
Gas Alam

Jumlah Kalor
8600 kcal/kg

LPG

10800 kcal/kg

Kerosin

10300 kcal/kg

Solar

10700 kcal/kg

Biogas

5000 kcal/m3

Sumber : Tasneem Abbasi & S.M. Tauseef S.A. Abbasi. Biogas Energy. 2012

Biogas yang baru diproduksi mengandung beberapa impuritis yang dapat


menurunkan nilai panas pembakaran. Untuk menghasilkan hasil pembakaran yang
optimal maka perlu dilakukan proses purifikasi atau pemurnian.
2.3.

Proses Pembentukan Biogas


Proses pembentukan gas pada hewan terjadi didalam lambung di mana

proses tersebut bersamaan dengan proses pencernaan makanan. Didalam lambung,


bahan-bahan berselulosa akan diubah menjadi bahan organik dengan penambahan
air dan bahan makanan hewan. Asam organik yang terbentuk ini selanjutnya
diuraikan secara anaerob menjadi gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2).
Diperkirakan sekitar 75 juta ton gas metan dikeluarkan oleh hewan setiap
tahunnya. Proses pembuatan gas metana secara anaerob melibatkan interaksi yang
kompleks dari sejumlah bakteri yang berbeda, yaitu protozoa maupun jamur.
Beberapa bakteri yang terlibat adalah Escericia coli, Bacteroides, Clostridium
butyrinum

dan

beberapa

bakteri

usus

lainnya,

Methanobacillus,

dan

Methanobacterium. Dua bakteri terakhir merupakan bakteri utama menghasilkan


metana dan hidup secara anaerob (Zamzam, 2013). Keseluruhan reaksi perubahan
bahan organik menjadi gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) dapat
dituliskan dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
(C6H10O5)n + nH2O

3nCO2 + 3nCH4

Prinsip utama dalam proses pembentukan biogas adalah pengumpulan


kotoran ternak atau kotoran manusia ke dalam tangki plastik atau paralon
kedap udara yang disebut dengan tanki digester. Didalamnya kotoran-kotoran
tersebut akan diubah, dicerna dan difermentasi oleh bakteri-bakteri. Gas yang
dihasilkan akan tertampung dalam digester. Penumpukan

produksi gas akan

menyebabkan tekanan yang selanjutnya tekanan tersebut disalurkan melalui pipa


yang dipergunakan untuk keperluan bahan bakar atau pembangkit listrik.
1) Hidrolisis

Selulosa

(C6H10O5)n + nH2O
Selulosa

2) Pengasaman

Asam Lemak
dan Alkohol

a) (C6H12O6)n

water

etanol Karbondioksida

b) 2n(C2H5OH) + n CO2

3)

Metanogenik

Glukosa

2n(C2H5OH)+ 2n CO2+ kalor

Glukosa
Etanol

n(C6H12O6)

2n (CH3COOH)

karbondioksida Asam Asetat

Glukosa
2n (CH3COOH)
Asam asetat

2n CH4(g) + 2n CO2(g)
Metana

Karbondioksida

CH4 + CO2
Gambar 2.1. Diagram Proses Pembentukan Biogas

2.4.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Biogas


Menurut Tatang Soerawidjaja (2006), proses anaerob yang tinggi sangat

ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya


pH, suhu, ion kuat dan salinitas, nutrisi, inhibisi, dan kadar keracunan pada
proses, dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor faktor tersebut, yaitu :
1) Derajat keasaman ( pH )
Dekomposisi anaerob pada faktor pH berperan penting karena pada
keadaan pH yang tidak sesuai, mikroba tidak akan berkembang dengan

baik yang dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya dapat


menghambat perolehan gas metana. Bakteri-bakteri anaerob membutuhkan
pH yang sesuai antara 6,2 7,6. Tangki pencerna dapat dikatakan stabil
apabila larutannya mempunyai pH 7,5 8,5. Batas bawah pH adalah 6,2,
dibawah pH tersebut larutan toxic, hal ini berarti bakteri pembentuk biogas
tidak akan aktif. Pengontrolan pH secara alamiah dilakukan oleh ion NH 4+
dan HCO3-. Ion-ion ini akan menentukan besarnya pH.
2) Suhu
Bakteri anaerob terdiri dari tiga kelompok temperatur utama.
Temperatur kriofilik yakni dibawah 20oC, mesofilik berlangsung pada
temperatur 20- 45oC (optimum pada 30 - 45oC) dan termofilik terjadi pada
temperatur 40 - 80oC (optimum pada 55 - 75 oC).
3) Faktor Konsentrasi Padatan
Konsentrasi yang ideal bagi padatan untuk memproduksi biogas
adalah 7-9% kandungan kering. Kondisi yang demikian dapat membuat
proses digester anaerob berjalan dengan sangat baik.
4) Nutrisi
Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam
amino. Zat tersebut juga bisa disuplai ke media kultur dengan memberikan
nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan metabolisme bagi mikroorganisme
tersebut. Selain itu juga dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan
aktivitas mikroorganisme, misalnya magnesium, besi, natrium, kalsium, se
lenium, kobalt, barium, dan sebagainya.
Konsentrasi optimum yang berlebih dibutuhkan untuk level nutrisi
pada bakteri, karena apabila terjadi kekurangan nutrisi akan menjadi
penghambat bagi pertumbuhan bakteri. Penambahan nutrisi dengan bahan
yang sederhana seperti buangan industri, glukosa, dan sisa tanaman
terkadang diberikan dengan tujuan menambah pertumbuhan didalam
digester.
5)

Rasio Carbon Nitrogen (C/N)

Karbon (C) dan nitrogen (N) pada kandungan makanan yang diberikan
bersamaan akan memberikan proses anaerobik menjadi optimal. CN ratio
akan menunjukkan jumlah perbandingan dari karbon dan nitrogen
tersebut. C/N ratio dengan nilai 30 (C/N = 30/1 atau karbon 30 kali dari
jumlah nitrogen) akan menyebabkan proses pencernaan pada tingkat yang
optimum, jika kondisi yang lain ikut mendukung. Jika karbon yang
dihasilkan terlalu banyak, nitrogen akan habis terlebih dahulu. Hal ini bisa
menyebabkan proses berjalan dengan lambat. Bila nitrogen yang terlalu
banyak dibanding jumlah karbon (C/N ratio rendah, misalnya 30/15),
maka karbon habis lebih dulu dan proses fermentasi berhenti.
2.5.

Pemurniaan Biogas
Zeolit pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu zeolit alam dan

zeolit sintetik. Zeolit alam biasanya mengandung kation-kation K + ,Na+, Ca2+ atau
Mg2+ sedangkan zeolit sintetik biasanya hanya mengandung kation-kation K+ atau
Na+. Pada zeolit alam, adanya molekul air dalam pori dan oksida bebas di
permukaan seperti Al2O3, SiO2, CaO, MgO, Na2O, K2O dapat menutupi pori-pori
atau situs aktif dari zeolit sehingga dapat menurunkan kapasitas adsorpsi maupun
sifat katalisis dari zeolit tersebut. Inilah mengapa zeolit alam perlu diaktivasi
terlebih dahulu sebelum digunakan.
Pemisahan kandungan CO2 dalam biogas dapat dilakukan dengan
menggunakan zeolit karena zeolit memiliki pori-pori berukuran molekuler
sehingga mampu memisahkan atau menyaring molekul dengan ukuran tertentu.
Pemisahan kandungan CO2 dalam biogas dilakukan dengan mengalirkan biogas
kedalam purifier yang didalamnya terdapat zeolit. Zeolit tersebut akan
mengabsorbsi gas CO2 yang melewati alat purifier.
Selain gas metana, di dalam biogas juga terdapat gas-gas pengotor
(impurities) yang tidak diperlukan seperti karbondioksida, uap air, dan asam
sulfida. Adapun cara untuk mengurangi kadar CO2 dan H2S dapat digunakan zeolit
padat yang dipanaskan dan direaksikan dengan senyawa KOH atau NaOH. Zeolit
padat dapat digunakan untuk menyerap CO2 dan H2S sehingga nilai CH4 dalam
biogas akan semakin meningkat (Pamudji, 2013). Saat ini telah banyak teknologi

pemurnian biogas yang dikembangkan untuk memisahkan gas karbondioksida


(CO2) dari biogas sehingga didapat biogas yang murni.
2.5.1. Absorpsi
Langkah efektif untuk laju alir gas yang rendah biasanya dilakukan dengan
menggunakan metode absorbsi biogas baik secara fisika maupun kimia dimana
biogas dioperasikan pada kondisi normal. Salah satu metode yang sederhana
dan

murah

yaitu menggunakan air bertekanan sebagai absorben (Shannon,

2000).
2.5.2. Kriogenik
Kriogenik
dengan kondensasi

adalah

suatu

fraksional

metode untuk memurnikan campuran gas


serta

distilasi pada

suhu rendah.

Dalam

prosesnya biogas dikompresi sampai tekanan 80 bar. Proses kompresi ini berjalan
secara multistage 3 dengan intercooler, biogas yang telah dikompresi kemudian
dihilangkan kandungan airnya dengan tujuan mencegah terbentuknya pembekuan
selama proses pendinginan berlangsung. Kemudian biogas yang telah dingin
keluaran chiller dan penukar panas bersuhu 45 oC, CO2 yang terkondensasi
dihilangkan didalam separator. Kemudian CO2 diproses lebih lanjut untuk
recovery metana yang terlarut, hasil recovery kemudian di recycle menuju
inlet gas. Melalui proses ini CH4 yang dihasilkan mencapai 97% kemurnian.
2.5.3. Adsorpsi
Proses penyerapan permukaan padat melibatkan transfer zat terlarut dalam
gas menuju ke permukaan zat padat, dimana proses transfer digerakkan oleh
gaya

Van der waals. Adsorben

yang

digunakan berbentuk granular yang

memiliki luas permukaan yang besar tiap satuan volume. Pemurnian gas dapat
menggunakan padatan yang berupa alumina, silika, karbon aktif atau silikat yang
kemudian dikenal dengan nama molecular sieve (Wise, 1981).
2.5.4. Pemisahan Dengan Membran
Pada metode ini, beberapa komponen atau campuran dari gas akan
ditransportasikan melalui lapisan tipis membran (< 1mm). Transportasi tiap
komponen dikendalikan oleh perbedaan tekanan parsial antara membran dan
bagian luar membran dan permeabilitas tiap komponen dalam membran. Untuk

10

mencapai gas metana dengan kemurnian yang tinggi maka permeabilitas harus
tinggi. Membran padat dapat disusun dari polimer selulosa asetat yang
mempunyai permebilitas untuk CO2 dan H2S mencapai 20 dan 60 kali berturut
turut lebih tinggi dibanding permeabilitas CH4. Tekanan sebesar 25 sampai 40 bar
diperlukan untuk proses pemisahan membran tersebut (Hagen dkk., 2001).
2.6.

Digester
Digester berperan dalam mengurangi emisi gas metana (CH 4) yang

dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian
dan peternakan. Dengan menggunakan digester, kotoran sapi difermentasi menjadi
gas metana (biogas). Adapun pada prinsipnya terdapat empat tipe digester yang
dikembangkan yaitu sebagai berikut :
1) Reaktor Kubah Tetap (Fixed Dome)
Reaktor kubah tetap (fixed dome) ini dibuat pertama kali di Cina sekitar
tahun 1930-an. Reaktor tipe ini memiliki dua bagian, yaitu digester sebagai
tempat pencerna material biogas dan sebagai rumah bagi bakteri, baik bakteri
pembentukan asam ataupun bakteri pembentuk gas metana. Bagian ini dapat
dibuat dengan kedalaman tertentu menggunakan batu, batubata, atau beton.

Gambar 2.2. Digester Tipe Kubah Tetap (Fixed Dome)

Strukturnya harus kuat karena menahan gas agar tidak terjadi kebocoran.
Bagian yang kedua adalah kubah tetap (fixed dome). Dinamakan kubah tetap
karena bentuknya menyerupai kubah dan bagian ini merupakan pengumpul gas
yang tidak bergerak (fixed). Keuntungan dari reaktor ini adalah biaya konstruksi
lebih murah daripada menggunakan reaktor terapung karena tidak memiliki
bagian yang bergerak menggunakan besi yang tentunya harganya relatif lebih
mahal dan perawatannya lebih mudah. Sementara itu, kerugian dari reaktor ini

11

adalah mudah retak apabila terjadi gempa bumi dan sulit untuk diperbaiki jika
bocor (Wahyuni, 2012).
2) Reaktor Floating
Reaktor jenis terapung (floating) pertama kali dikembangkan di India pada
tahun 1937 sehingga dinamakan dengan reaktor India. Memiliki bagian digester
yang sama dengan reaktor kubah, perbedaannya terletak pada bagian penampung
gas menggunakan peralatan bergerak dari drum. Keuntungan dari reaktor ini
adalah dapat dilihat secara langsung volume gas yang tersimpan pada drum karena
pergerakannya. Sementara itu, kerugiannya adalah biaya material konstruksi dari
drum lebih mahal (Wahyuni, 2012).

Gambar 2.3. Digester Tipe Floating Drum

3) Reaktor Balon
Digester balon atau digester terbuat dari plastik sehingga lebih efisien
dalam penanganannya dan mudah dipindahkan. Digester ini hanya terdiri dari satu
bagian, yaitu sumur pencerna yang berfungsi ganda sebagai tempat fermentasi dan
penyimpanan gas yang masing-masing bercampur dalam satu ruang tanpa sekat.
Bagian bawah digester terisi oleh material organik yang memiliki bobot
lebih besar dibandingkan gas yang terkumpul dibagian atas. Keuntungan dari
digester ini adalah harganya yang lebih murah, konstruksi sederhana, waktu pasang singkat, dan mudah untuk dipindahkan. Sementara itu kelemahannya adalah
mudah mengalami kebocoran (Wahyun, 2012).

12

Gambar 2.4. Digester Balon

4) Reaktor Fiberglass
Reaktor bahan fiberglass merupakan jenis reaktor yang banyak digunakan
pada skala rumah tangga dan skala industri. Reaktor ini menggunakan bahan
fiberglass sehingga lebih efisien dalam penanganan dan perubahan tempat biogas.
Reaktor ini terdiri atas satu bagian yang berfungsi sebagai digester sekaligus
penyimpanan gas yang masing-masing bercampur dalam satu ruangan tanpa sekat.
Reaktor dari bahan fiberglass ini sangat efisien karena kedap, ringan, dan
kuat. Jika terjadi kebocoran, mudah diperbaiki atau dibentuk kembali seperti
semula dan lebih efisien. Reaktor dapat dipindahkan sewaktu-waktu jika peternak
sudah tidak menggunakannya lagi (Wahyuni, 2012).

Gambar 2.5. Digester Fiberglass

2.7.

Zeolit
Zeolit mempunyai sifat dehidrasi, yaitu melepaskan molekul H2O apabila

dipanaskan. Pada umum nya struktur kerangka zeolit akan menyusut. Tetapi kerangka dasarnya tidak mengalami perubahan secara nyata. Molekul H2O dapat
dikeluarkan secara reversible. Pada pori-pori yang terdapat kandungan air dan
katio-kation. Bila kation-kation dan molekul air dikeluarkan dari pori dengan
perlakuan tertentu maka zeolit akan meninggalkan pori yang kosong.

13

Zeolit pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu zeolit alam dan
zeolit sintetik. Zeolit alam biasanya mengandung kation-kation K+ ,Na+, Ca2+ atau
Mg2+ sedangkan zeolit sintetik biasanya hanya mengandung kation-kation K+ atau
Na+. Pada zeolit alam, adanya molekul air dalam pori dan oksida bebas di
permukaan seperti Al2O3, SiO2, CaO, MgO, Na2O, K2O dapat menutupi pori-pori
atau situs aktif dari zeolit sehingga dapat menurunkan kapasitas adsorpsi maupun
sifat katalisis dari zeolit tersebut. Satu alasan mengapa zeolit alam

perlu

diaktivasi terlebih dahulu sebelum digunakan aktivasi zeolit alam dapat dilakukan
secara fisika maupun kimia. Berikut adalah kandungan yang terdapat dalam zeolit
pada umumnya :
Tabel 2.4. Spesifikasi Zeolite Powder

Oksida
Silika (SiO2)

Persen (%)
71,49

Alumina (Al2O3)

11,86

Besi (Fe2O3)

1,52

Magnesia (MgO)

0,5 6

MnO

0,029

Potash (Na2O+

1,36

K2O)

2,29

LOI

7,12

CEC/KTK

124,4

2.7.1. Aktivasi Zeolit


Pengolahan zeolit secara garis besar dapat dibagi dalam dua tahap yaitu
aktivasi dan prepasi. Tahapan preparasi zeolit diperlukan agar mendapatkan zeolit
yang siap olah berupa pengecilan ukuran dan pengayakan. Tahapan ini dapat
menggunakan mesin secara keseluruhan atau dengan cara sedikit konvensional.
Aktivasi zeolit dilakukan dengan cara proses penambahan pereaksi kimia baik asam maupun basa atau proses pemanasan, sebagai berikut :
1) Aktivasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu 300 400 oC dengan
udara panas untuk melepaskan molekul air (Saputra: 2013).

14

2) Penambahan pereaksi kimia dilakukan didalam bak pengaktifan dengan


H2SO4. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan oksida-oksida pengotor
yang menutupi pori-pori zeolit, serta memperoleh suhu yang dibutuhkan
dalam aktivasi. Zeolit yang telah diaktivasi perlu dikeringkan dahulu,
pengeringan ini dapat dilakukan dengan cara menjemurnya dibawah sinar
matahari.

Gambar 2.6. Struktur Zeolit terdehidrasi

Zeolit yang terdehidrasi (melepas molekul H 2O) akan memiliki struktur


pori-pori yang terbuka dengan area permukaan internal yang besar sehingga
kemampuan untuk menyerap molekul selain air semakin tinggi. Umumnya
struktur kerangka yang dimiliki zeolit akan menyusut tetapi tidak mengalami
perubahan secara nyata pada kerangka dasar.
2.7.2

Zeolit sebagai Molecular Sieving

Gambar 2.7. Struktur Zeolit sebagai Molecular Sieving

Peran zeolit sebagai penyaring ataupun pemisah molekul didasarkan pada

15

perbedaan bentuk, ukuran, dan polaritas molekul yang disaring. Sifat ini disebabkan zeolit mempunyai pori dengan ukuran tertentu. Molekul yang berukuran lebih
kecil dari pori dapat melintas sedangkan yang berukuran lebih besar dari pori akan
tertahan. Larutan yang terdiri dari CH4 dan iso-parafin dapat dipisah dengan cara
dilewatkan dalam zeolite teraktivasi. Molekul CH4 memiliki diameter lebih kecil
dari diameter pori zeolit, sedangkan n-parafin memiliki diameter yang lebih besar
daripada pori-pori zeolit. Dengan demikian CH4 dapat lolos melewati pori zeolite,
sedangkan n-parafin tertahan dan tidak dapat lewat pori zeolit.
2.8.

Semen Putih
Semen merupakan suatu campuran senyawa kimia yang bersifat hidrolisis
artinya jika dicampur dengan air dalam jumlah tertentu akan mengikat bahanbahan lain menjadi satu kesatuan massa yang dapat memadat dan mengeras.
Secara umum semen dapat didefinisikan sebagai bahan perekat yang dapat
merekatkan bagian-bagian benda padat menjadi bentuk yang kuat kompak dan
keras.
Semen Putih (White Cement) adalah semen hidrolis berwarna putih yang
dihasilkan dengan cara menggiling terak (klinker) semen putih yang memiliki
komposisi utama terdiri atas kalsium silikat digiling bersama-sama dengan bahan
tambahan yang biasanya berupa satu atau lebih kristal kalsium sulfat. Berikut
adalah kandungan yang terdapat dalam Semen Putih pada umumnya :
Tabel 2.5. Spesifikasi Semen Putih

Senyawa
Kapur (CaO)

Persen (%)
60 65

Silika (SiO2)

17 25

Alumina (Al2O3)

38

Besi (Fe2O3)

0,5 6

Magnesia (MgO)

0,5 4

Sulfur (SO3)

12

Potash (Na2O + K2O)

0,5 1

Semen Portland putih ini dapat digunakan untuk semua tujuan penggunaan
semen umumnya di dalam pembuatan adukan semen yang tidak memerlukan

16

persyaratan khusus, kecuali warna putihnya (SNI 15-0129-2004: Semen Portland


putih). Semen Portland putih atau White Portland Cement (WPC) merupakan
jenis semen yang memiliki mutu tinggi. Semen Portland putih dibuat dari bahanbahan baku yang dipilih khusus dimana memiliki kandungan atau komposisi senyawa besi oksida dan magnesium oksida yang rendah dimana bahan tersebut
merupakan bahan penyebab semen berwarna abu-abu jika kadarnya tinggi.
Semen Portland putih dihasilkan dari klinker semen yang umumnya
banyak mengandung senyawa trikalsium silikat (C3S), trikaslium aluminat (C3A),
dan terdapat sedikit tetra kalsium aluminoferrite (CA 4F) dengan kadar maksimal
0,4 % berat (SNI 15-0129-2004: Semen Portland putih). Warna putih dari semen
ini dihasilkan khususnya dari senyawa kapur (CaCO 3) yang berkualitas tinggi,
sedangkan perubahan warna abu-hijau diakibatkan karena adanya bahan-bahan
yang berasal dari senyawa besi (Fe 2O3), magnesium (MgO), mangan (Mn2O3), dan
kromium (Cr2O3).
2.9.

Adsorpsi
Adsorpsi merupakan suatu proses kimia ataupun fisika yang terjadi ketika

suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (disebut
zat penyerap, adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan film (disebut zat
terserap, adsorbat) pada permukaannya. Peristiwa adsorpsi ini terjadi karena
adanya gaya tarik-menarik antar molekul-molekul yang terjadi pada permukaan
adsorben padat. Umumnya, zat penyerap atau adsorben ditempatkan pada suatu
wadah tetap, kemudian fluida dikontakkan melalui hamparan itu sampai adsorben
padat tersebut mendekati keadaan jenuh dan pemisahan yang dikehendaki tidak
dapat dilakukan lagi.
Aliran itu lalu dipindahkan melalui hamparan kedua sampai adsorbat telah
jenuh dan dapat diganti atau diregenerasi. Berikut adalah parameter adsorpsi fisika
dan kimia. Regenerasi adsorben dapat dilakukan agar didapat adsorbat dalam yang
terkonsentrasi atau mendekati murni (McCabe, 1999). Proses adsorpsi ini sendiri
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu adsorpsi fisik dan kimia.
Tabel 2.6. Parameter adsorpsi fisika dan kimia

Adsorpsi fisika

Adsorpsi kimia

17

Molekul terikat pada adsorben oleh gaya

Molekul terikat pada adsorben oleh

Van der Walls.

ikatan kimia.

Mempunyai entalpi reaksi -4 sampai

Mempunyai entalpi reaksi -40 sampai

-40 kJ/mol.

800kJ/mol.

Dapat membentuk lapisan multilayer.

Membentuk lapisan Monolayer.

Adsorpsi

Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi.

hanya

terjadi

pada

suhu

dibawah titik didih adsorbat.


Jumlah

adsorpsi

pada

Jumlah
permukaan

merupakan fungsi adsorbat.

adsorpsi

pada

permukaan

merupakan karakteristik adsorben dan


adsorbat.
Melibatan energi aktivasi tertentu.

Tidak

melibatkan

energi

aktivasi

tertentu.

Bersifat sangat spesifik.

Bersifat tidak spesifik.


Sumber : (Apriyani, 2011)

2.10.

Mekanisme adsorpsi

Proses adsorpsi dipengaruhi oleh sifat zat padat yang menyerapnya,


konsentrasi, temperatur, sifat molekul yang diserap, dan lain-lain.
Dalam melakukan adsorpsi ini dibagi menjadi empat tahap, yaitu :
1) Perpindahan beberapa molekul zat terlarut yang terserap menuju lapisan
film di sekeliling adsorben.
2) Difusi adsorbat yang telah teradsorpsi melalui lapisan tipis (film diffusion
process).
3) Difusi adsorbat yang telah teradsorpsi melalui pori-pori yang ada pada adsorben (pore diffusion process).
4) Adsorpsi zat terlarut yang teradsorpsi pada dinding pori atau permukaan
adsorben (proses adsorpsi sebenarnya).

2.11.

Penelitian Terdahulu
Tabel 2.7. Penelitian terdahulu

18

No
1

Peneliti
Sugiarto,

Judul Penelitian
Hasil Penelitian
Purifikasi
Biogas Pada penelitian ini dilakukan pengamatan

dkk (2013)

Sistem

Kontinyu kemampuan penyerapan zeolit terhadap

Menggunakan Zeolit

CO2

yang terkandung

pada

biogas,

dengan menggunakan system kontinyu.


Hasil yang didapat yaitu waktu purifikasi
yang semakin lama dari 15 - 60 menit
dan jumlah lapis absorber zeolit yang
semakin

banyak yaitu 1 - 5

menyebabkan

prosentase CO2

lapis
dalam

biogas semakin menurun dan prosentase


CH4 dalam

biogas semakin meningkat.

Rata-rata kandungan CO2 terendah adalah


21,3%, sedangkan
CH4 tertinggi

rata-rata kandungan

sebesar

74,70% yang

didapatkan pada purifikasi dengan jumlah


absorber zeolit 5 lapis dan waktu purifikasi
60 menit.