Anda di halaman 1dari 23

PENINGKATAN EKONOMI

NASIONAL MELALUI
PERLINDUNGAN PASAR
TRADISIONAL DAN PELAKU
UMKM, SERTA SINERGITAS
TERHADAP TOKO RITEL
MODERN MILIK INVESTOR
BESAR

TINJAUAN TERHADAP PELONGGARAN IJIN PENDIRIAN TOKO RITEL


MODERN
KELOMPOK 1
ABILIO J. V. C. F. DA SILVA (NPM: 5214221036)
AHMAD MAULANA (NPM: 5214221037)
AMRAN PURBA (NPM: 5214221038)
ANTHONY SITEPU (NPM: 5214221039)
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM | FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PANCASILA

PENINGKATAN EKONOMI NASIONAL MELALUI PERLINDUNGAN PASAR


TRADISIONAL DAN PELAKU UMKM, SERTA SINERGITAS TERHADAP TOKO
RITEL MODERN MILIK INVESTOR BESAR
(TINJAUAN TERHADAP PELONGGARAN IJIN PENDIRIAN TOKO RITEL
MODERN)

1.
1.1.

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kehadiran toko modern atau swalayan bukanlah merupakan suatu hal asing

lagi bagi masyarakat yang hidup di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, juga
beberapa kota besar lainnya. Pada awalnya,toko modern atau swalayan hadir
sebagai anti-tesis terhadap pasar tradisional yang dianggap kotor, dan kumuh
sebagai penyedia kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat. Toko modern atau
swalayan hadir dengan beragam skala penjualan, dari skala kecil yang menyediakan
barang dalam jumlah satuan, hingga ada yang menyediakan dalam skala partai
besar secara grosir.
Pendirian toko modern atau swalayan sepanjang diatur dengan baik memiliki
banyak dampak positif terhadap perkembangan ekonomi nasional. Namun jika
sebaliknya, hal ini akan memiliki kecenderungan mematikan usaha kecil, dan pasar
tradisional. Bagi banyak masyarakat, berbelanja di toko modern atau swalayan
terasa lebih nyaman ketimbang harus masuk di pasar tradisional yang cenderung
kotor, dan kumuh. Toko modern atau swalayan pada umumnya menawarkan
beragam kenyamanan yang tidak didapatkan di pasar tradisional, seperti tawaran

diskon, toko yang representatif, serta beragam tawaran lainyang hanya mungkin
dilakukan oleh pelaku usaha dengan modal yang besar.
Atas kesadaran untuk menjaga kehadiran pedagang kecil, pasar tradisional,
usaha mikro kecildan menengah (UMKM), maka pendirian toko modern atau
swalayan telah diatur melalui Surat Edaran Mendag Nomor 1310/M-Dag/12/2014
tentang Perizinan Toko Modern, Perpres Nomor 112 Tahun 2007, dan Permendag
Nomor 70 Tahun 2013. Peraturan tersebut diantaranya mengatur mengenai
pendirian toko modern atau swalayan hanya dapat dilakukan di daerah yang sudah
memiliki Rencana Detil Tata Ruang (RDTL). Hal ini dimaksudkan agar pendirian toko
modern atau swalayan dapat diposisikan di bagian wilayah yang tidak berpotensi
mengganggu dan mengancam kelangsungan pedagang kecil di pasar tradisional,
dan UMKM setempat yang telah lebih dahulu ada sebelumnya.
Dalam periode tahun 20072012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia
mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah
usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011
mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan
jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan. Menurut
AsosiasiPerusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia
antara 10%15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49
triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan
pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%15%, atau
mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari
hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket.

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 237 juta jiwa dengan total
konsumsi sekitar Rp3.600-an triliun merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel
modern. Ini didukung oleh perilaku berbelanja penduduk Indonesia yang sudah
mulai bergeser, dari berbelanja di pasar tradisional menuju ritel modern. 1
Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana
Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative
list bagi penanaman modal asing (PMA), sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke
Indonesia. Masuknya ritel asing dalam bisnis ini menunjukkan bisnis ini sangat
menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hipermarket asing yang semakin
ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal.
Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta. Misalnya Carrefour, dalam
enam tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta, termasuk ke Yogyakarta,
Surabaya, Semarang, Palembang, dan Makassar.
Semakin maraknya ritel modern tentu saja menimbulkan persaingan sesama
ritel modern tersebut. Selain itu, maraknya ritel modern memudahkan konsumen
untuk memilih ritel yang disukai dan cocok dengan keinginan konsumen. Sehingga
konsumen dengan mudah bisa berganti ritel modern yang dikunjungi, atau tetap
loyal dengan satu ritel karena sudah merasa cocok.
Survei Top Brand yang mengukur tiga parameter, yaitu TOM BA,last usage,
dan future intention, selain digunakan untuk mengetahui Top Brand Index, bisa juga
digunakan untuk mengetahui perilaku switching konsumen. Berikut ditampilkan
perilaku switching konsumen berdasarkan hasil survei Top Brand 2012, atribut last

Sinaga, Pariaman. 2006. Penelitian Dampak Keberadaan Pasar Modern (Supermarket dan
Hypermarket) Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda dan Pasar Tradisional. Jurnal Pengkajian
Koperasi dan UKM: nomor 1 tahun 1-2006: 85-99.
1

usage dan future intention, untuk kategori hipermarket, supermarket, dan


minimarket.
Berdasarkan brand switching analysis di atas, terlihat bahwa Carrefour,
Hypermart, dan Lotte Mart merupakan merek yang diprediksikan akan bertambah
jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angkanettswitching ketiga merek
tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi
ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung merek tersebut
yang akan berpindah menggunakan merek lain (switching out). Sebaliknya, Giant,
Superindo, dan Brastagi, nettswitching ketiga merek tersebut bernilai negatif.
Bagaimana dengan supermarket? Berdasarkan brand switching analysis di
atas, terlihat bahwa Hero merupakan satu-satunya merek yang diprediksikan akan
bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka nettswitching merek
tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti mengunjungi
Hero (switching in) lebih banyak dari pengunjung Hero yang akan berpindah
mengunjungi merek lain (switching out). Sebaliknya, Superindo, Griya, dan Tip-top,
nettswitching ketiga merek tersebut bernilai negatif. Sedangkan ADA diprediksikan
stagnan.
Kemudian untuk minimarket, berdasarkan brand switching analysis di atas,
terlihat bahwa Alfamart, Yomart, dan 7-eleven merupakan merek yang diprediksikan
akan bertambah jumlah pengunjungnya di masa mendatang. Angka nettswitching
ketiga merek tersebut positif. Jumlah pengunjung merek lain yang akan berganti
mengunjungi ketiga merek tersebut (switching in) lebih banyak dari pengunjung
ketiga merek tersebut yang akan berpindah mengunjungi merek lain (switching out).

Sebaliknya, Indomaret dan Alfamidi, nettswitching kedua merek tersebut bernilai


negatif.
Bagi merek-merek yang memiliki nettswitching negatif harus berhati-hati dan
berusaha melakukanimprovement agar prediksi tersebut tidak terjadi. Demikian juga
dengan merek yang sudah memiliki angka nettswitching positif, mereka harus
mempertahankan atau meningkatkan performancemereka sehingga prediksi dari
brand switching analysis tersebut benar-benar terjadi.
Kini ada anggapan bahwa peraturan mengenai pendirian toko ritel modern
dianggap menghambat pertumbuhan industri di sektor ritel, sehingga peraturan
tersebut diselaraskan oleh pemerintah

yang kini sedang dalam tahap drafting.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementrian Perdagangan, Srie


Agustina, menyatakan penyelarasan terhadap peraturan tersebut perlu dilakukan
karena menghambat pertumbuhan idustri retail, sehingga seolah-olah ada
moratorium pendirian toko ritel. Menurutnya, revisi tersebut akan membuat peraturan
yang lebih fleksibel sehingga menciptakan kemudahan dalam berusaha dan
menjadikan iklim usaha yang kondusif.2
Anggapan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementrian
Perdagangan, Srie Agustina dan pemerintah yang menyatakan peraturan ini perlu
pelonggaran ditentang oleh banyak pihak. Banyak pihak dan termasuk penulis
sendiri beranggapan bahwa kebijakan tidak tepat. Bambang Haryo Soekartono,
Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia adalah salah satu
yang menyatak kebijakan tidak tepat. Menurutnya keberadaan toko ritel modern
sudah amat menyusahkan masyarakat, khususnya pedagang-pedagang kecil.
2

Republika, Republika Online, (7 Oktober 2015), terdapat di situs


http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/23/nv4om3368-perizinan-toko-ritelsedang-diselaraskan-di-kemendag

Bagaimana tidak, dari 16 ribu toko modern yang ada di Indonesia, pemiliknya tidak
lebih dari seribu orang. Memajukan pasar tradisional agar bisa dinikmati seperti
negara lain menurutnya jauh lebih bermanfaat ketimbang melonggarkan izin
pendirian toko modern yang hanya dimiliki segelintir pihak. 3
Sejalan dengan Bambang Haryo Soekartono, Hafisz Tohir yang juga
merupakah Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
memiliki anggapan serupa terhadap kebijakan ini. Menurutnya pemerintah saat ini
memiliki kecenderungan berpihak pada pro-kapitalis dengan mengeluarkan
kebijakan ini.4
Maka menjadi menarik bagi penulis mengangkat persoalan pelonggaran ijin
pendirian toko ritel modern. Bagi pemerintah dalam hal ini Kementrian Perdagagan,
pelonggaran tersebut akan membantu mengatasi pertumbuhan ekonomi yang
sedang lesu, dan memacu pertumbuhan di sektor toko ritel. Hal ini dianggap tidak
sepenuhnya tepat bagi banyak orang termasuk beberapa Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Komisi VI. Maka karya tulis ini akan mencoba menelaah
mengenai implikasi pelonggaran ijin pendirian toko ritel modern ini dikaitkan dengan
pemberdayaan UMKM.

Republika, Republika Online, (7 Oktober 2015), terdapat di situs


http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/24/nv5l7a359-pelonggaran-izinpendirian-toko-ritel-modern-diniliai-ngawur
4
Republika, Republika Online, (7 Oktober 2015), terdapat di situs
http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/24/nv67ef254-komisi-vi-dpr-nilaimendag-pro-kapitalis

1.2.

PERNYATAAN PERMASALAHAN
Dengan berdasarkan latar belakang permasalahan yang teah diuraikan di

atas, maka disusunlah pernyataan permasalahan sebagai berikut:


Toko modern atau swalayan memiliki kecenderungan melemahkan pedagang kecil,
pasar tradisional, dan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) jika pendiriannya
tidak diatur dengan tepat. Selama ini Pemerintah melalui Kementrian Perdagangan
(Kemendag) mengatur tentang pendirian toko modern atau swalayan melalui Surat
Edaran Mendag Nomor 1310/M-Dag/12/2014 tentang Perizinan Toko Modern,
Perpres Nomor 112 Tahun 2007, dan Permendag Nomor 70 Tahun 2013. Peraturan
tersebut diantaranya mengatur pendirian toko modern atau swalayan dilarang bagi
daerah yang belum memiliki Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) dengan maksud
melindungi pedagang kecil. Namun belakangan ini ada rencana dari Pemerintah
untuk melonggarkan proses perizinan pendirian toko modern atau swalayan
terutama bagi daerah yang belum memiliki RDTR dengan harapan untuk mengatasi
ekonomi dalam negeri yang sedang lesu dan mempermudah proses investasi, serta
menumbuhkembangkan industri di sektor ritel. Pelonggaran proses perizinan ini
dilakukan melalui revisi atau penyelarasan peraturan yang berlaku dalam proses
pendirian toko modern atau swalayan. Tujuan pelonggaran ini adalah untuk
membuat peraturan yang lebih fleksibel sehingga menciptakan kemudahan dalam
berusaha dan menjadikan iklim usaha yang kondusif di sektor ritel.
Masalah utamanya adalah mengenai dampak pelonggaran pendirian toko modern
atau swalayan terhadap pedagang kecil, pasar tradisional, dan pelaku UMKM.

1.3.

PERTANYAAN PENELITIAN

Pernyataan permasalahan diatas akan dibatasi dan difokuskan pada sejumlah


pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peraturanyang berlaku mengenaitoko modern atau swalayan
dan penerapannya?
2. Apakah perlu peraturan mengenai toko modern atau swalayan diubah dan
dilonggarkan?
3. Bagaimanakah dampak perubahan dan pelonggaran peraturan mengenai
toko modern atau swalayan bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM?

1.4.

METODOLOGI PENELITIAN
Dalam rangka pengumpulan data dan analisa penemuan penelitian, maka

akan dipergunakan:
Metode penelitian yuridis-normatif, atau penelitian doktrinal yaitu dengan melakukan
penelitian dan pembahasan melalui bahan kepustakaan buku, artikel, majalah,
koran, pendapat ahli, peraturan perundangan, jurnal ilmiah, yang kesemuanya
didapat dalam bentuk cetak maupun melalui media on-line.

2.

PENINGKATAN EKONOMI NASIONAL MELALUI PERLINDUNGAN PASAR


TRADISIONAL DAN PELAKU UMKM, SERTA SINERGITAS TERHADAP
TOKO RITEL MODERN MILIK INVESTOR BESAR (TINJAUAN TERHADAP

2.1.

PELONGGARAN IJIN PENDIRIAN TOKO RITEL MODERN)


KERANGKA TEORI
Sebagai acuan dalam melakukan penuisan dan analisis data temuan

penelitian, maka penulis merujuk tulisan-tulisan sebagai berikut sebagai kerangka


teori:
2.1.1. PASAR TRADISIONAL DAN TOKO RITEL MODERN
Perkembangan Pasar Tradisional Dinamika pasar tradisional akan selalu
menarik, di mana di dalam pasar tradisional terdapat unsur-unsur yang dapat
diperoleh misalnya, perilaku konsumen maupun perilaku pedagang didalam pasar.
Menurut Belshaw (dalam Sadilah dkk, 2011:1) mengatakan bahwa pasar tidak hanya
merupakan lembaga tukar-menukar, tetapi pasar berfungsi sebagai tempat
penyebaran dan penyimpanan barang, serta tempat berpindahnya komoditas dari
satu orang ke orang lain, atau dari satu tempat ke tempat lain, dan dari peranan satu
keperanan lain. Jadi pasar adalah tempat yang mempunyai unsur-unsur sosial,
ekonomis, kebudayaan, politis yang juga dipergunakan sebagai sarana pembeli dan
penjual untuk saling bertemu dan melakukan kegiatan tukar-menukar.
Perbedaan Antara Pasar Tradisional dan Retail Modern Perkembangan
ekonomi yang terjadi menyebabkan adanya persaingan yang terjadi antara kegiatan
ekonomi yang bersifat tradisional dengan kegiatan-kegiatan ekonomi yang sudah

10

modern. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan selalu berjalan berdampingan. Seperti
yang terjadi pada pasar tradisional menghadapi persaingan retail modern.
Fenomena seperti ini dipertegas dengan teori Dualisme yang dicetuskan
pertama kali oleh J.H Boeke dalam bukunya yang berjudul Economics and economic
Policy in Dual Societies, 1953. Menurut Boeke (dalam Sukirno, 2005:162)
mengatakan bahwa di dalam suatu masyarakat mungkin terdapat terdapat dua
sistem yang berbeda. Kedua-duanya wujud berdampingan di mana yang satu tidak
dapat sepenuhnya menguasai yang lainnya.
Persaingan Antara Pasar Tradisional dan Retail Modern Menurut Samuelson
(1996:214) dengan kondisi yang terjadi di pasar jika banyak perusahaan menjual
produk-produk yang serupa tapi tak sama hal ini termasuk ke dalam struktur 5 pasar
yang dikenal dengan persaingan monopolistik.
Persaingan monopolistik menyerupai persaingan sempurna dalam tiga hal :
pertama terdapat banyak penjual dan pembeli, kedua mudah keluar masuk industri,
dan ketiga perusahaan-perusahaan menganggap harga perusahaan lain tetap.
Adapun perbedaan antar persaaingan sempurna dengan monopolistik adalah pada
produknya. Jika pada persaingan sempurna produknya identik tetapi pada
monopolistik produknya lebih diferensiasikan. Diasumsikan, produk yang dijual tidak
homogen akan tetapi sengaja dibedakan melalui berbagai macam program promosi
penjualan sehingga meskipun barang yang diperdagangkan sebenarnya dapat
saling menggantikan, konsumen mempunyai preferensi untuk memilih produk dari
pasar tradisional maupun retail modern.
Kemudian menurut Salvatore (1993:283) persaingan monopolistik mengacu
pada organisasi pasar di mana terdapat banyak perusahaan yang menjual komoditi
11

yang hampir serupa tetapi tidak sama. Karena adanya diferensiasi produk konsumen
sendiri yang menentukan pilihan.
Dengan semakin pesatnya pertumbuhan jumlah retail modern maka
persaingan di bidang perdagangan semakin ketat. Bagi para pedagang yang tidak
siap menghadapi gencaran masuknya pedagang baru yang lebih menarik dengan
menggunakan berbagai strategi pemasaran yang menarik dan disertai dengan
teknologi yang modern dibarengi dengan manajemen yang lebih baik maka
persaingan akan semakin ketat. Siapa saja yang tidak bisa membaca peluang bisnis
yang terjadi maka akan menjadi ancaman tertindas atau kalah dalam persaingan.
West (dalam Suryani, 2010:17) mengatakan bahwa dengan berlanjutnya
pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya rata-rata pendapatan yang dapat
dibelanjakan, akan bertambah besar pula permintaan akan pasar yang lebih khusus
dan spesifik. Sehingga dapat dikatakan bahwa pasar yang berhasil adalah yang
paling dapat menyesuaikan barang dan jasanya dengan permintaan pasar. Hal ini
dipertegas oleh pernyataan Smith (dalam Rahardja, 2010:19) bahwa memandang
perekonomian sebagai sebuah sistem seperti halnya semesta.
Sebagai

sistem,

perekonomian

memiliki

kemampuan

untuk menjaga

keseimbangannya. Dalam sistem ekonomi pasar, aktivitas produsen dan konsumen


tidak direncanakan oleh sebuah lembaga sentral, melainkan secara individual oleh
para pelaku ekonomi. Dan persainganlah yang bertindak sebagai tangan-tangan
tidak terlihat yang mengkoordinasi rencana masing-masing. Sistem persaingan yang
terbentuk dapat membuat produksi serta konsumsi dan alokasi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan modal menjadi efisien. 5
Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Jilid Satu.
Edisi Kedelapan. Munandar Haris, Penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Economic
Development Eigth Edition.
5

12

2.1.2. STRATEGI DALAM PERSAINGAN USAHA


Dalam sebuah persaingan usaha sangat diperlukan adanya strategi. Strategi
merupakan modal utama untuk bertahan. Menurut Swastha (2002: 193) bagi
perusahaan kecil maupun perusahaan yang ingin meningkatkan efisiensinya, dapat
mengadakan segmentasi pasar. Mereka dapat memusatkan kegiatan pemasaran
pada segmen-segmen pasar yang dipilih. Jika sasaran pasarnya sudah ditentukan
melalui riset pemasaran, maka perusahaan harus membuat suatu rencana yang baik
untuk

memasuki

segmen

pasar

yang

dipilih.

Keputusan-keputusan

dalam

pemasaran dapat dikelompokkan ke dalam empat strategi, yaitu : strategi produk,


strategi harga, dan strategi promosi, strategi distribusi. Kombinasi dari keempat
strategi tersebut akan membentuk marketing mix. Konsistensi Preferensi Konsumen
Menurut Rahardja (2010:79) konsep preferensi berkaitan dengan kemampuan
konsumen menyususn prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan. Perilaku
konsumen dengan sejumlah permintaan dapat diasumsikan bahwa seorang
konsumen akan mengalokasikan pendapatannya berupa uang yang terbatas
terhadap barang dan jasa yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Dalam

mengalokasikan

pendapatannya

tersebut

seorang

konsumen

akan

memaksimalkan agar mendapatkan kepuasanya. Sehingga dapat dikatakan seorang


konsumen akan mengatur pembeliannya sesuai dengan pendapatan yang
dimilikinya dengan memilih berbelanja di pasar tradisional atau di retail modern. Jika
seorang konsumen ingin mendapatkan harga yang lebih murah mereka rela
berdesak-desakan di dalam pasar tradisional dengan suasana yang kumuh, kotor,
dan bau. Lain halnya dengan seorang konsumen yang berpendapatan tinggi
menengah ke atas pasti lebih senang belanja ke supermarket atau minimarket
13

dengan pertimbangan tempat yang nyaman, bersih, serta pelayanan prima.


Kepuasan mereka ketika suasana berbelanja terasa nyaman harga tidak menjadi
permasalahan yang utama. Setelah preferensi konsumen sudah ditetapkan maka
akan muncul utilitas (utility). Menurut Rahardja (2010:78) utilitas (utility) adalah
manfaat 6 yang diperoleh karena mengkonsumsi barang dan utilitas merupakan
ukuran manfaat suatu barang dibanding dengan alternatif penggunaannya.
Adam Smith mengatakan bahwa perekonomian akan berkembang dan
membawa kemakmuran orang banyak jika individu dibebaskan dalam mekanisme
pasar (laissez faire). Marx dan Engle mengatakan melalui kemajuan teknologi dalam
segala bidang maka teknik produksi makin meningkat di segala bidang, maka teknik
produksi makin meningkat, murah dan teknik pemasaran akan semakin meningkat
juga, sehingga tidak bias dihindari juga tidak bisa juga dihindarin hubungan dengan
pasar tradisional dan pasar swalayan yang menjadi meningkat persaingan.
John A. Hobson mengatakan imperalisme terjadi karena adanya dorongan
untuk mencari pasar dan investasi yang lebih menguntungkan, imperalisme ada
hubungannya dengan kapitalisme, perkembangan kapitalisme mencapai sebuah
keadaan dimana produktifitas menjadi semakin meningkat tetapi pasar tradisional
terbatas.
2.1.3. SINERGISITAS

HUKUM

DALAM

PENINGKATAN

PEREKONOMIAN

NASIONAL
2.1.3.1. Perbandingaan Hukum
a. Pembukaan UUD tahun 1945
Dari pembukaan UUD ini terdapat tujuan untuk memajukan kesejahteraan
umum artinya bukan hanya untuk sebagian masyarakat saja sehingga

14

pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengusahakan suatu sistem


yang memenuhi tujuan ini.
b. Pasal-Pasal dalam UUD tahun 1945
Pasal 33 UUD 1945 Pengembangan daya saing UMKM merupakan
bagian dari kegiatan perekonomian nasional. Berikut dasar peraturan
perundang-undangan untuk pengembangan daya saing.
"Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan."
"Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
"Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."
"Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi

dengan

prinsip

kebersamaan,

efisiensi

berkeadilan,

berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan


menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional."
"Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang."

Pasal 34 UUD 1945Berikut bunyi Pasal 34 ayat 1:


"Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai
dengan martabat kemanusiaan."

15

c. UU No. 20 Tahun 2008 Tentang UMKM


Hal-hal pokok atau kebijakan secara umum yang berkaitan dengan
pengembangan daya saing UMKM diatur oleh UU No 20 Tahun 2008.
Pengertian Iklim Usaha dan Pengembangan UMKM Pengertian ini penting
untuk mendasari pemerintah, pelaku usaha UMKM dan dunia usaha dalam
mengembangkan daya saing UMKM. Berikut pasal-pasal dalam UU tentang
UMKM yang terkait dengan pengembangan daya saing UMKM:

Pasal 1 ayat (9):


"Iklim Usaha adalah kondisi yang diupayakan Pemerintah dan Pemerintah
Daerah untuk memberdayakan UMKM secara sinergis melalui penetapan
berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan di berbagai
aspek kehidupan ekonomi agar Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah
memperoleh pemihakan, kepastian, kesempatan, perlindungan dan
dukungan berusaha seluas-luasnya."

Pasal 1 ayat (10):


"Pengembangan

adalah

upaya

yang

dilakukan

oleh

pemerintah,

Pemerintah Daerah, Dunia Usaha dan masyarakat untuk memberdayakan


Usaha Mikro, Kecil dan Menengah melalui pemberian fasilitas, bimbingan,
pendampingan dan bantuan perkuatan untuk pendampingan dan bantuan
perkuatan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan daya
saing UMKM."

16

2.1.3.2.

Prinsip Dan Tujuan Pemberdayaan


Pasal 4 UU UMKM ini memuat prinsip dan tujuan pemberdayaan yang harus

dianut oleh pemerintah dalam mengembangkan UMKM.


Pasal 4: Prinsip pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah:

Penumbuhan kemandirian, kebersamaan dan kewirausahaan Usaha, Mikro


dan Menengah untuk berkarya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah untuk

berkarya dengan prakarsa sendiri;


Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang

dan berkeadilan;
Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha, Mikro, Kecil,

Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri;


Dan Meningkatkan peran Usaha, Mikro, Kecil dan Me- nengah dalam
pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan,
per- tumbuhan ekonomi dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

2.1.3.3.

Peran Pemerintah
UU UMKM ini juga memuat peran pemerintah dalam pengembangan UMKM,

yaitu:
a. Pasal 7 ayat (1): Pemerintah dan Pemerintah daerah menumbuhkan Iklim
Usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan
yang meliputi aspek:
Pendanaan
Sarana dan prasarana
Informasi usaha
Kemitraan
Perizinan usaha
Kesempatan berusaha
Promosi dagang
Dukungan kelembagaan
b. Pasal 7ayat (2):
17

"Dunia Usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif membantu


menumbuhkan Iklim usaha sebagaimana dimaksud ayat (1)."

2.1.3.4.

Kebijakan Peningkatan Daya Saing UMKM


Pada Pasal 38 UU UMKM menyatakan bahwa koodinasi, pengendalian dan

pemberdayaan UMKM ada pada menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang UMKM. Pada saat ini, menteri yang dimaksud dalam UU ini adalah Menteri
Koperasi dan Usaha kecil dan Menengah. Pada Pasal 38 ayat (2) disebutkan
dinyatakan bahwa koordinasi dan pengendalian pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil
dan Menengah dilaksanakan secara nasional dan daerah yang meliputi penyusunan
dan pengintegrasian kebijakan dan program, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi
serta pengendalian umum terhadap pelaksanaan pemberdayaan UMKM termasuk
penyelenggaraan kemitraan usaha dan pembiayaan UMKM. 6

Parsons, Wayne. 2008. Public Policy Pengantar Teori dan Praktik Analisis Kebijakan. Jakarta:
Kencana.

18

2.1.4. SINERGISITAS ANTARA MASYARAKAT KECIL (UMKM) DAN INVESTOR


BESAR DALAM RANGKA PENINGKATAN EKONOMI NASIONAL
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memang lebih dikenal dengan istilah UMKM.
Dalam UU No 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, UMKM
tidak dijelaskan sebagai satu kesatuan namun secara parsial, yang di bedakan
berdasarkan jumlah kekayaan bersih atau berdasarkan hasil penjualan tahunan.
Usaha Mikro memiliki kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha) maksimum Rp50.000.000,00. Usaha Kecil merupakan usaha yang memiliki
kekayaan bersih pada range Rp50.000.000,00 - Rp500.000.000,00. Sedangkan
Usaha Menengah merupakan usaha yang memiliki kekayaan Rp500.000.000,00-Rp10.000.000.000,00. Jika jumlah kekayaan maupun hasil penjualan telah melebihi
range ditetapkan bagi Usaha Menengah maka dapat didefinisikan sebagai Usaha
Besar.7
Ketiga unit usaha ini (UMKM) mayoritas dikelola oleh kalangan grass root
(masyarakat)

dan seringkali di satukan dalam kegiatan pemberdayaan untuk

mempercepat laju pertumbuhan ekonomi berbasis ekonomi kerakyatan.


Hal ini karena dengan mengembangkan ekonomi pada tingkat grass
root dirasa mampu meningkatkan pendapatan negara. Pada tahun 2012 kontribusi
UMKM terhadap PDB sebesar 9.90% atau Rp 1.504.928,20Miliar dengan jumlah
UMKM 56.534.592 unit. Unit ini cenderung terus bertambah setiap tahunnya dan
semakin berpeluang besar dalam meningkatkan pendapatan negara.

Republik Indonesia, UU RI no 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah,
BAB 1, Pasal 1

19

Jumlah tenaga kerja dari sejumlah unit usaha inimencapai 107.657.509 orang
dengan pertumbuhan jumlah tenaga kerjamencapai 5.83%. 8
Angka yang tidak kecil tersebut menjelaskan seberapa besar tingkat
ketergantungan pendapatan kalangan grass root dari sektor UMKM. Hancurnya
sebagian sector ini akan menyebabkan tingkat pengangguran yang semakin tinggi
yang bisa berimbas pada kenaikan tingkat kriminalitas yang bahkan memiliki
kemungkinan untuk mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada dasarnya kegiatan industri, termasuk kegiatan UMKM, adalah kegiatan
untuk meningkatkan nilai suatu bahan (ataujasa) sehingga menjadi lebih berharga
melalui proses pengolahan baik secara manual maupun mekanis untuk kemudian
dipasarkan sehingga mendapatkan keuntungan. Bagi masyarakat yang sudah
terkena imbas teknologi sehingga memiliki kemampuan maupun kepahaman akan
teknologi proses serta pemasaran, perkara industry ini bukanlah hal yang terlalu sulit
dikerjakan. Pengelola UMKM ini hanya tinggal di berikan modal dana sistensi yang
cukup maka mereka akan berkembang menjadi UMKM yang mandiri.
Harus ada yang turun tangan untuk memastikan semua daerah mampu
teroptimalisasi potensinya sehingga mampu member manfaat, tak hanya sekedar
teronggok begitu saja hingga akhirnya membusuk, khususnya pada produk-produk
pertanian. Tentu saja pemerintah yang memiliki tanggungjawab paling besar dalam
optimalisasi potensi ini, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Untukmengembantanggungjawabini, dalam UU RI no 20 tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah, di jelaskan bahwasanya pemerintah membutuhkan
bantuan dari komponen-komponen lain yang sekiranya memiliki peran dan bisa
8

Badan Pusat Statistik. Tabel Perkembangan UMKM pada Periode 1997 -2012, (8 Oktober
2015), terdapat di situs www.bps.go.id

20

mendukunng program pemerintah seperti lembaga pemberi pinjaman atau kredit,


Unit Usaha Besar, koperasi, maupun kemitraan.
SelainPemerintah Investor besar harusnya dapat memiliki iktikat baik dalam
rangka pembangunan ekonomi Nasional. Sinergisitas antara Usaha Kecil (UMKM)
dan Inverstor besar harus terjalan dengan pemerintah sebagai fasilitator dengan
memberikan jaminan kepastian dan landasan Hukum.
2.1.5. PrinsipPerlindunganBagiGolonganEkonomiLemah.
Berbagai ketentuan yang mengatur pengembangan UMKM selama ini
menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pengusaha kecil. Di antara ketentuan
tersebuta dalah UU No. 9 Tahun 1995 sebagai upaya perlindungan untuk pengusaha
kecil, sehingga pembinaan pasar bagi usaha kecil harus merupakan suatu system
terpadu, karena pengembangannya tergantung dari interaksi unsure organisasi dari
para pengusaha kecil dan komponen pendukung dari kebijakan ekonomi
pemerintah, usaha menengah dan usaha besar yang dapat saling membantu dan
mempengaruhi.
Berdasarkan kebijakan yang ada, maka politik hukum yang terpenting adalah
penciptaan iklim usaha kecil. Hal ini dirumuskan Pasal 6 huruf g UU No. 9 Tahun
1995 Tentang Usaha Kecil Jo. Pasal 7 UU No. 20 Tahun 2008 Tentang UMKM yang
dilakukan melalui penetapan peraturan perundang-undangan dan kebijakan
perlindungan bagi ekonomi lemah.
Namun dalam undang-undang tersebut tidak ditegaskan tentang bentuk
peraturan perundang-undangan yang harus dikeluarkan untuk dapat mengatur dan
melaksanakan lebih lanjut mengenai perlindungan yang harus diberikan kepada
usaha kecil.
21

DAFTAR PUSTAKA

Nielson, C. 2003. Modern Supermarket (Terjemahan AW Mulyana). Fakultas


Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia.

Sinaga, Pariaman. 2004. Makalah Pasar Modern VS Pasar Tradisional.


Kementerian Koperasi dan UKM. Jakarta : Tidak Diterbitkan.

Sinaga, Pariaman. 2006. Penelitian Dampak Keberadaan Pasar Modern


(Supermarket dan Hypermarket) Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda
dan Pasar Tradisional. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM: nomor 1 tahun

1-2006.
Suryadarma, Daniel, dan kawan-kawan. 2007. Laporan Penelitian Dampak
Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah

Perkotaan di Indonesia. www.smeru.or.id.


Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di
Dunia Ketiga Jilid Satu. Edisi Kedelapan. Munandar Haris, Penerjemah.

Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Economic Development Eigth Edition.


Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di
Dunia Ketiga Jilid Dua. Edisi Kedelapan. Munandar Haris, Penerjemah.

Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Economic Development Eigth Edition.


Republika, Republika Online, (7 Oktober 2015), terdapat di situs
http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/23/nv4om3368-perizinan-

toko-ritel-sedang-diselaraskan-di-kemendag
Republika, Republika Online, (7 Oktober

2015),

terdapat

di

situs

http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/24/nv5l7a359-pelonggaranizin-pendirian-toko-ritel-modern-diniliai-ngawur

Republika,

Republika

Online,

(7

Oktober

2015),

terdapat

di

situs

http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/24/nv67ef254-komisi-vi-dprnilai-mendag-pro-kapitalis

Badan Pusat Statistik. Tabel Perkembangan UMKM pada Periode 1997


-2012, (8 Oktober 2015), terdapat di situs www.bps.go.id

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha


Mikro, Kecil, dan Menengah.
22