Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

FILSAFAT HUKUM
Tentang

PERBANDINGAN PEMBENTUKAN HUKUM DI


INDONESIA, TIONGKOK dan JEPANG

Oleh:
AHMAD MAULANA
5214221039

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PANCASILA

KATA PENGANTAR

Puji syukur dengan segenap ketulusan kehadirat Allah SWT, Karena


dengan keagungannya, Penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
menuangkan ide dan pengetahuan, Sehingga terbentuklah sebuah makalah dengan
materi

PERBANDINGAN

PEMBENTUKAN

HUKUM

ANTARA

INDONESIA, JEPANG DAN TIONGKOK. Sholawat dan salam semoga


disampaikan Allah kepada nabi mulia yakni Muhammad SAW.
Pembuatan makalah ini selain menjadi tugas dari dosen pembimbing,
Juga sebagai wadah bacaan dan penambah wawasan. Dalam pembuatan makalah
ini tentu penulis sebagai insan yang masih berada pada posisi belajar, Masih jauh
lagi dari kesempurnaan, Maka dari itu penulis mengharapkan kritikan dan gagasan
kearah pembuatan makalah selanjutnya.

Penulis

BAB I
SEJARAH PEMBENTUKAN HUKUM INDONESIA
Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian
kekuasaan kelembagaan. Dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang
politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai
perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi
dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat
menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi
penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan
politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih. Sistem Hukum
adalah kesatuan utuh dari tatanan-tatanan yang terdiri dari bagian-bagian atau
unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan secara erat.
Dalam Sistem Hukum yang baik tidak boleh terjadi pertentangan-pertentangan
atau tumpang tindih diantara bagian-bagian yang ada. Jika pertentangan atau
kontradiksi tersebut terjadi, sistem itu sendiri yang menyelesaikan hingga tidak
berlarut. Tujuan dari pembaharuan hukum sendiri jelas harus terarah pada usaha
pembentukan sistem hukum nasional dan hukum yang responsif pada kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan. Dengan
begitu kegiatan pembaharuan hukum mempunyai arti yang luas, yang bergerak
merefleksikan perubahan-perubahan baik dari segi politik, ekonomi, maupun
sosial dan seirama dengan perkembangan dan peningkatan kebutuhan-kebutuhan
dan corak interaksi dari masyarakat.
Perkembangan Hukum di Indonesia pada Masa Pendudukan Belanda dan
Jepang
Sepanjang sejarah, Indonesia pernah dijajah beberapa negara antara lain Belanda,
Inggris dan Jepang. Negara penjajah mempunyai kecenderungan untuk
menanamkan nilai serta sistem hukumnya di wilayah jajahan, sementara
masyarakat yang terjajah juga mempunyai tata nilai dan hukum sendiri. Hukum di

Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama
dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana,
berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek
sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan
Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar
masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam
lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain
itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat yang diserap dalam perundangundangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan
setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.
Sepanjang sejarah, Indonesia pernah dijajah beberapa negara antara lain Belanda,
Inggris dan Jepang. Negara penjajah mempunyai kecenderungan untuk
menanamkan nilai serta sistem hukumnya di wilayah jajahan, sementara
masyarakat yang terjajah juga mempunyai tata nilai dan hukum sendiri. Ketika
Indonesia dikuasai Belanda pertama kali, yaitu oleh VOC, tidak banyak
perubahan di bidang hukum. Namun ketika diambil alih oleh Pemerintah Belanda,
banyak peraturan perundangan yang diberlakukan di Hindia Belanda baik itu
dikodifikasi (seperti BW, WvK, WvS) maupun tidak dikodifikasi (seperti RV,
HIR). Namun ternyata Belanda masih membiarkan berlakunya hukum adat dan
hukum lain bagi orang asing di Indonesia. Kemudian pada tahun 1917 Pemerintah
Hindia Belanda memberi kemungkinan bagi golongan non Eropa untuk tunduk
pada aturan Hukum Perdata dan Hukum Dagang golongan Eropa melalui apa
yang dinamakan "penundukan diri". Dengan demikian terdapat pluralisme hukum
atau tidak ada unifikasi hukum saat itu, kecuali hukum pidana yaitu pada tahun
1918 dengan memberlakukan WvS (KUH Pidana) untuk semua golongan. Selain
itu badan peradilan dibentuk tidak untuk semua golongan penduduk. Masingmasing golongan mempunyai badan peradilan sendiri. Pluralisme hukum secara
umum didefinisikan sebagai situasi dimana terdapat dua atau lebih sistem hukum
yang berada dalam suatu kehidupan sosial. Pluralisme hukum harus diakui
sebagai sebuah realitas masyarakat. Setiap kelompok masyarakat memiliki sistem
hukum sendiri yang berbeda antar satu dengan yang lain seperti dalam keluarga,

tingkatan umur, komunitas, kelompok politik, yang merupakan kesatuan dari


masyarakat yang homogen. Pluralitas sendiri merupakan ciri khas Indonesia.
Dengan banyak pulau, suku, bahasa, dan budaya, Indonesia ingin membangun
bangsa yang stabil dan modern dengan ikatan nasional yang kuat. Sehingga,
menghindari pluralisme sama saja dengan menghindari kenyataan yang berbeda
mengenai cara pandang dan keyakinan yang hidup di masyarkat Indonesia.
Kondisi pluralisme hukum yang ada di Indonesia menyebabkan banyak
permasalahan ketika hukum dalam kelompok masyarakat diterapkan dalam
transaksi tertentu atau saat terjadi konflik, sehingga ada kebingungan hukum yang
manakah yang berlaku untuk individu tertentu dan bagaimana seseorang dapat
menentukan hukum mana yang berlaku padanya. Pengertian pluralisme hukum
sendiri senantiasa mengalami perkembangan dari masa ke masa di mana ada
koeksistensi dan interelasi berbagai hukum seperti hukum adat, negara, agama dan
sebagainya. Bahkan dengan dengan adanya globalisasi, hubungan tersebut
menjadi semakin komplek karena terkait pula dengan perkembangan hukum
internasional. Pada tahun 1942 Pemerintahan Bala Tentara Jepang menguasai
Indonesia. Peraturan penting yang dikeluarkan pemerintah yaitu beberapa
peraturan pidana, kemudian ada Osamu Seirei Nomor 1 Tahun 1942 yang dalam
salah satu pasalnya menentukan badan/lembaga pemerintah serta peraturan yang
sudah ada masih dapat berlaku asalkan tidak bertentangan dengan Pemerintahan
Bala Tentara Jepang. Hal ini penting untuk mencegah kekosongan hukum dalam
sistem hukum di Indonesia pada masa itu.
Perkembangan Hukum di Indonesia pada Awal Kemerdekaan, Masa Orde
Lama, Orde Baru dan reformasi
Setelah kemerdekaan, Indonesia bertekad untuk membangun hukum nasional
yang berdasarkan kepribadian bangsa melalui pembangunan hukum. Secara
umum hukum Indonesia diarahkan ke bentuk hukum tertulis. Pada awal
kemerdekaan dalam kondisi yang belum stabil, masih belum dapat membuat
peraturan untuk mengatur segala aspek kehidupan bernegara. Untuk mencegah

kekosongan hukum, hukum lama masih berlaku dengan dasar Pasal II Aturan
Peralihan UUD 1945, Pasal 192 Konstitusi RIS (pada saat berlakunya Konstitusi
RIS) dan Pasal 142 UUDS 1950 (ketika berlaku UUDS 1950). Sepanjang tahun
1945-1959 Indonesia menjalankan demokrasi liberal, sehingga hukum yang ada
cenderung bercorak responsif dengan ciri partisipatif, aspiratif dan limitatif.
Demokrasi liberal (atau demokrasi konstitusional) adalah sistem politik yang
melindungi secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah.
Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan
atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan
pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah
tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam
konstitusi.

Pada

masa

Orde

Lama

Pemerintah

(Presiden)

melakukan

penyimpangan-penyimpangan terhadap UUD 1945. Demokrasi yang berlaku


adalah Demokrasi Terpimpin yang menyebabkan kepemimpinan yang otoriter.
Akibatnya hukum yang terbentuk merupakan hukum yang konservatif (ortodok)
yang merupakan kebalikan dari hukum responsif, karena memang pendapat
Pemimpin lah yang termuat dalam produk hukum. Penyimpangan-penyimpangan
tersebut adalah :
1. Kekuasaan Presiden dijalankan secara sewenang-wenang: hal ini terjadi
karena kekuasaan MPR, DPR, dan DPA yang pada waktu itu belum
dibentuk dilaksanakan oleh Presiden.
2.

MPRS menetapkan Oresiden menjadi Presiden seumur hidup: hal ini tidak
sesuai dengan ketentuan mengenai masa jabatan Presiden.

3. Pimpinan MPRS dan DPR diberi status sebagai menteri: dengan


demikian , MPR dan DPR berada di bawah Presiden.
4. Pimpinan MA diberi status menteri: ini merupakan penyelewengan
terhadap prinsip bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang
merdeka.
5. Presiden membuat penetapan yang isinya semestinya diatur dengan
undang-undang (yang harus dibuat bersama DPR): dengan demikian
Presiden melampaui kewenangannya.

6. Pembentukan lembaga negara yang tidak diatur dalam konstitusi, yaitu


Front Nasional.
7. Presiden membubarkan DPR: padahal menurut konstitusi, Presiden tidak
bisa membubarkan DPR.
Pada tahun 1966 merupakan titik akhir Orde lama dan dimulainya Orde Baru yang
membawa semangat untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni
dan konsekuen. Namun Soeharto sebagai penguasa Orde Baru juga cenderung
otoriter. Hukum yang lahir kebanyakan hukum yang kurang/tidak responsif.
Apalagi pada masa ini hukum "hanya" sebagai pendukung pembangunan ekonomi
karena pembangunan dari PELITA I - PELITA VI dititik beratkan pada sektor
ekonomi. Tetapi harus diakui peraturan perundangan yang dikeluarkan pada masa
Orde Baru banyak dan beragam. Penyimpangan-penyimpangan pemerintah pada
masa orde baru adalah :
1. Terjadi

pemusatan

kekuasaan

di

tangan

Presiden,

sehingga

pemerintahan dijalankan secara otoriter.


2. Berbagai lembaga kenegaraan tidak berfungsi sebagaimana mestinya,
hanya melayani keinginan pemerintah (Presiden).
3. Pemilu dilaksanakan secara tidak demokratis: pemilu hanya menjadi
sarana untuk mengukuhkan kekuasaan Presiden, sehingga presiden
terus menenrus dipilih kembali.
4. Terjadi monopoli penafsiran Pancasila: Pancasila ditafsirkan sesuai
keinginan pemerintah untuk membenarkan tindakan-tindakannya.
5. Pembatasan hak-hak politik rakyat, seperti hak berserikat, berkumpul
dan berpendapat.
6. Pemerintah campur tangan terhadap kekuasaan kehakiman, sehingga
kekuasaan kehakiman tidak merdeka.
7. Pembentukan lembaga-lembaga yang tidak terdapat dalam konstitusi,
yaitu Kopkamtib yang kemudian menjadi Bakorstanas.

8. Terjadi Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) yang luar biasa parahnya


sehingga merusak segala aspek kehidupan, dan berakibat pada
terjadinya krisis multidimensi.
Setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya pada tahun 1998, Indonesia
memasuki era reformasi yang bermaksud membangun kembali tatanan kehidupan
berbangsa dan bernegara. Pembenahan sistem hukum termasuk agenda penting
reformasi. Langkah awal yang dilakukan yaitu melakukan amandemen atau
perubahan terhadap UUD 1945, karena UUD merupakan hukum dasar yang
menjadi acuan dalam kehidupan bernegara di segala bidang. Setelah itu diadakan
pembenahan dalam pembuatan peraturan perundangan, baik yang mengatur
bidang baru maupun perubahan/penggantian peraturan lama untuk disesuaikan
dengan tujuan reformasi.
Peranan Pemerintah dalam Implementasi Hukum pada Masing-masing
Periode
Berbicara bagaimana peranan Pemerintah dalam implementasi hukum di
Indonesia terkait dengan politik hukum yang dijalankan Pemerintah, karena
politik hukum itu menentukan produk hukum yang dibuat dan implementasinya.
Pada masa Penjajahan Belanda, politik hukumnya tertuang dalam Pasal 131 IS
(Indische Staatsregeling) yang mengatur hukum mana yang berlaku untuk tiaptiap golongan penduduk. Adapun mengenai penggolongan penduduk terdapat
pada Pasal 163 IS. Berdasarkan politik hukum itu, di Indonesia masih terjadi
pluralisme hukum. Setelah Indonesia merdeka, untuk mencegah kekosongan
hukum dipakailah Aruran peralihan seperti yang terdapat pada Pasal II Aturan
Peralihan UUD 1945, Pasal 192 Konstitusi RIS dan Pasal 142 UUDS 1950.
Hukum tidak terlalu berkembang pada masa awal kemerdekaan, akan tetapi
implementasinya relatif baik yang ditandai lembaga peradilan yang mandiri.
Hal ini merupakan efek dari berlakunya demokrasi liberal yang memberi
kebebasan kepada warga untuk berpendapat. Sebaliknya pada masa Orde lama,

peran pemimpin (Presiden) sangat dominan yang menyebabkan implementasi


hukum mendapat campur tangan dari Presiden. Akibatnya lembaga peradilan
menjadi tidak bebas. Ketika Orde Baru berkuasa, politik hukum yang dijalankan
Pemerintah yaitu hukum diarahkan untuk melegitimasi kekuasaan Pemerintah,
sebagai sarana untuk mendukung sektor ekonomi dan sebagai sarana untuk
memfasilitasi proses rekayasa sosial.
Hal ini dikarenakan Pemerintah Orde Baru lebih mengutamakan bidang ekonomi
dalam pembangunan. Perubahan terjadi ketika memasuki era reformasi yang
menghendaki penataan kehidupan masyarakat di segala bidang. Semangat
kebebasan dan keterbukaan (transparansi) menciptakan kondisi terkontrolnya
langkah Pemerintah untuk mendukung agenda reformasi termasuk bidang hukum.
Langkah-langkah yang diambil antara lain pembenahan peraturan perundangan,
memberi keleluasaan kepada lembaga peradilan dalam menjalankan tugasnya
serta memberi suasana kondusif dalam rangka mengembangkan sistem kontrol
masyarakat untuk mendukung penegakan hukum.

BAB II
SEJARAH PEMBENTUKAN HUKUM JEPANG
Alm. Satjipto Rahardjo (Prof. Tjip), penggagas Hukum Progresif di Indonesia,
beberapa kali membandingkan hukum Indonesia dan hukum Jepang di beberapa
bukunya. Berangkat dari pemikiran sederhana bahwa Indonesia dan Jepang
memiliki kesamaan dalam hal pencangkokan hukum. Keduanya memiliki
budaya hukumnya sendiri hingga kemudian budaya hukum modern diperkenalkan
dan dicangkokan (transplanted) kepada Indonesia dan Jepang.
Jepang memiliki resistensi yang lebih kuat dibanding Indonesia terhadap hukum
modern. Budaya hukum Jepang masih terasa meskipun menggunakan hukum
modern. Indonesia mengenal hukum modern melalui penjajahan yang dilakukan
Belanda, negara yang sedang dijajah Perancis saat menjajah kita.
Sedikit berbeda dengan Indonesia, sejarah hukum pidana Jepang lebih beragam
mengingat beberapa hukum negara lain pernah dipakai dalam rangka
pembentukan hukum pidana Jepang. Pembabakan hukum asing yang digunakan di
Jepang dapat dibagi menjadi tiga tahapan (Hiroshi Oda. 2009:13). Pertama, di
abad ke-7 dan 8, saat Jepang mengadopsi sistem politik dan hukum Cina
(Tiongkok) yang berlaku hingga berakhirnya era Shogun Tokugawa (periode Edo,
1603-1868). Kedua, pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20, pada
peralihan dari era Shogun Tokugawa ke era Meiji (masa dimana Jepang mulai
membuka diri terhadap dunia luar). Pada masa ini hukum Eropa (Perancis dan
kemudian Jerman) diadopsi Jepang. Masa ini adalah masa dimana Revolusi
Perancis terjadi, era industrialisasi yang terjadi di Eropa juga berdampak ke
Jepang. Di titik ini pulalah kita (Indonesia) memiliki pertalian silsilah hukum
dengan Jepang, mengingat KUHP (Kitab Undang Undag Hukum Pidana) yang
kita gunakan juga berakar dari Code Penal Perancis. Hingga kini kitab hukum
pidana Jepang masih menggunakan kitab hukum pidana yang diberlakukan sejak
1907, dengan berbagai perubahan tentunya. Ketiga, pasca perang dunia ke-II, di
masa ini Jepang yang kalah perang dari Amerika nampak dikendalikan Amerika.

Dalam periode ini beberapa undang-undang diamandemen atau digantikan dengan


didasarkan pada hukum Amerika. Konstitusi Jepang yang diundangkan 1946
misalnya, mengadopsi konstitusi Amerika.
Jepang menjadi negara sekuler, memisah tegas ranah agama dan negara. Ini dipicu
oleh anggapan peran kelam agama dalam periode perang Dunia ke-II. Dalam
pandangan agama Shinto, kaisar adalah perwakilan Tuhan, sehingga jika kaisar
menginginkan perang maka rakyat harus patuh, dan keinginan kaisar ini yang
dipercaya Amerika memicu Jepang untuk berkuasa dan menyerang beberapa
negara lain (termasuk Indonesia). Maka agama harus dipisah tegas dari negara. Ini
menjadi latar belakang mengapa negara ini kemudian menjadi negara sekuler.
Sehingga itu pula sebabnya hingga kini agama tidak diajarkan di sekolah-sekolah
negeri di Jepang. Sebelumnya leluhur Jepang banyak menganut Shinto dan
Buddha, saat ini sebagian besar orang Jepang tak begitu percaya pada agama
kecuali hanya sebatas budaya.
Selain konstitusi, jenis hukum lainnya yang dipengaruhi hukum Amerika adalah
Hukum Acara Pidana Jepang yang mengadopsi Hukum Acara Pidana Amerika. Ini
menjadi keunikan tersendiri, sementara Kitab Hukum Pidana Jepang mengadopsi
Perancis/Jerman yang memiliki tradisi civil law/Eropa Kontinental, Hukum Acara
Pidana Jepang mengadopsi Amerika (Common law/Anglo-Saxon) yang memiliki
tradisi hukum yang berbeda dengan civil law.
Budaya Hukum yang Kuat
Dalam konteks sistem hukum, hukum dibagi kedalam tiga subsistem: substansi
hukum, struktur hukum dan budaya hukum. Substansi hukum berkaitan
dengan rule of law, aturan materil dan formil dari suatu hukum. Struktur hukum
adalah instrumen struktur penegakan hukum seperti advokat, kepolisian,
kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Budaya hukum adalah nilainilai, dan harapan-harapan terhadap hukum. Budaya hukum dibagi menjadi dua

bagian, budaya hukum internal, yakni nilai-nilai hukum yang ada pada penegak
hukum dan budaya hukum eksternal, nilai-nilai hukum yang terdapat dalam
masyarakat.
Pada konteks budaya hukum inilah terdapat kecenderungan perbedaan yang besar
antara Indonesia dan Jepang. Fenomena belakangan ini mengabarkan pada kita
bahwa masyarakat kita cenderung menjadi agresif, emosional dan bahkan anarkis.
Banyak konflik diselesaikan melalui jalur hukum. Sehingga banyak perkara yang
tidak bermutu diangkat ke pengadilan. Padahal dalam ranah ilmu hukum pidana
sendiri, hukum pidana dirancang sebagai alat terakhir penyelesai konflik jika
sudah tak ada cara lain yang dapat menyelesaikannya. Kita mulai terbiasa dengan
hukum modern dan melupakan budaya hukum sendiri seperti musyawarah, untuk
mencari solusi bersama (win-win solution). Inilah kekayaan budaya hukum kita
yang mulai luntur. Hakim Agung Artidjo Alkotsar pernah menulis kelemahan
hukum modern dalam memutuskan perkara. Seiring dengan diputusnya perkara,
berakhir pula hubungan sosial kedua pihak yang berperkara (tergugat-penggugat,
pelaku-korban).
Fenomena menarik justru terjadi di Jepang, Prof Tjip pernah menulis bahwa orang
Jepang akan merasa gagal jika perkaranya harus diselesaikan oleh pengadilan, itu
artinya mereka tidak berhasil menyelesaikan masalah dengan tradisi hukum
Jepang. Saya menemukan konsistensi tulisan Prof Tjip dengan para penulis
Jepang dan atmosfer yang saya rasakan sendiri selama di Jepang. Bagi orangorang Jepang yang masih menjaga kehormatannya, menggunakan hukum modern
adalah hal yang memalukan, rasa malu inilah yang menjadi kunci dalam
peradaban Jepang. Hukum modern yang diadopsi tidak serta merta membuat
Jepang lupa pada tradisinya. Di Jepang kita akan dengan sangat mudah
menemukan kata sumimasen yang bisa berarti permisi, maaf atau terima kasih.
Masyarakat Jepang terbiasa meminta maaf jika melakukan kesalahan. Ada sebuah
peristiwa fenomenal di tahun 1982 terkait dengan ini. Sebuah kecelakaan pesawat
terjadi di Tokyo. Pesawat milik Japan Airlines (JAL) dengan rute Fukuoka-Tokyo
jatuh di perairan Tokyo. Sebanyak 24 orang meninggal dunia dan 150 orang luka-

luka. Takagi, Presiden Japan Airlines, kemudian mendatangi nisan korban, para
keluarganya, meminta maaf dan membungkuk dalam-dalam. Tidak hanya itu,
perusahaannya juga menjamin pendidikan anak-anak korban. Tidak ada satupun
gugatan peradilan yang diajukan dalam perkara tersebut. Masih terkait budaya
hukum Jepang, sebuah data lagi mengabarkan bahwa terdapat 2262 kasus tercatat
di tahun 1964 di Jepang, dan hanya 1 kasus yang berlanjut ke pengadilan (Materi
presentasi Koji Higashikawa di Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa, 2012).
Dalam konteks budaya hukum Jepang, pengadilan adalah jalan terakhir yang
ditempuh untuk menyelesaikan perkara. Sebuah sudut pandang lain berupa hasil
survey mengabarkan sebanyak 80% responden menjelaskan bahwa alasan orang
Jepang enggan menggunakan hukum modern adalah masalah waktu dan biaya
(Hiroshi Oda, 2009:5).
The grass is always greener on the other side of the fence, rumput tetangga lebih
hijau, begitu kata pepatah. Ada banyak hal baik di Jepang. Meski demikian tentu
saja tidak semuanya baik di Jepang. Angka bunuh diri yang tinggi adalah salah
satunya. Sekitar 30.000 orang tiap tahunnya melakukan bunuh diri di Jepang.
Tingkat stress di Jepang sangat tinggi, kondisi ini diperparah dengan budaya
Jepang

yang

secara

umum

sangat

seragam

sehingga

tidak

terbiasa

mengekspresikan diri. Menjadi berbeda dari yang lain tidaklah umum di Jepang.
Sisi gelap lain di Jepang adalah industri pornografi yang menjamur. Di banyak
mini market anda akan menemukan majalah-majalah porno dipajang bebas.
Bahkan di sebuah pertokoan ada outlet buku dan dvd khusus bertanda 18+.
Outlet-outlet ini dilegalkan di Jepang. Meski demikian sebagian besar teman
Jepang saya mengatakan berada di sana atau membelinya merupakan aib dan
akan malu jika bertemu seseorang yang kita kenal. Di Jepang moral publik dan
moral privat dipisah tegas sementara di kita nampak tak jelas. Pornografi ilegal di
Indonesia, tapi anda masih dapat menemukannya dengan mudah di pasar gelap.
Meski demikian saya percaya kita sedang menuju ke arah yang lebih baik. Untuk

itu kita memerlukan ketidakbaikan, anomali regulasi pornografi, kasus-kasus kecil


yang kurang bermutu, penegakan hukum yang tak jarang menimbulkan korban
salah hukum. Birokrat, legislator dan para penegak hukum yang nakal dan korup.
Kita memerlukan mereka untuk menganalisa dalam rangka menuju masa depan
yang lebih baik. Jika kemudian muncul pertanyaan kapan masa itu akan datang,
kita tidak pernah tahu, mungkin pada beberapa generasi kemudian, tapi paling
tidak kita berbuat sesuatu, dimanapun, siapapun dan apapun itu.

BABIII
SEJARAHPEMBENTUKANHUKUMTIONGKOK

Prinsip utama dari konsep tradisional hukum Cina (Tiongkok) telah dipercaya
dalam ajaran kosmis universal, meliputi hubungan unteraksi antara tuhan, alam,
dan manusia. Dunia dipandang sebagai sumber hukum.sejarah Cina (Tiongkok)
selama 3000th mengahsilkan bnyak pemikiran filsafat yang mempengaruhi sistem
hukum Cina (Tiongkok) seperti: confusionisme, legalist, budhist. Teori legalist
yang berkembang pada abad 3 SM membuktikan bahwa disana seharusnya lebih
baik diperintah hukum daripada manusia. Teori ini bertentangan dengan periode
lain sehingga pada 296 SM confusionisme ditetapkan kembali sebagai filosofi dan
ideologi negara oleh dinasti han.
Terdapat 2 tingkatan hukum yang dijalankan menurut ajaran budha :
1. Karma : hukum tentang tindakan dan akibatnya yang paling umum diatur
semua

hukum

meliputi

kebaikan

dan

kejahatan,

alam

2. Hukum buda tentang kausalitas yang meyakini bahwa kebaikan dan


kejahatan merupakan akibat langsung dari perbuatan manusia.Umat buda
menggambarkan secara lebih tajam perbedaan antara niat untuk berbuat
jahat dengan perbuatan yang dilakukan dengan niat yang tanpa didahului
pertimbangan terlebih dulu.
GODIFIKASI
Hukum Cina (Tiongkok) yang muncul pada dinasti han, hanya mengatur tentang
administrasi dan hukum pidana dan berlangsung selama 2000th. Cina (Tiongkok)
mengadopsi bagian code yang berbasis model barat agar terlepas dari belenggu
pengaruh dominasi barat. Mereka mulai memberlakukan code civil pada 19291931 beserta hukum privat dan hukum dagang, code of civil procedure in 1932,
dan hukum pertanahan pada 1930.Sejak hongkong dijajah Inggris hukum ini tidak
pernah dipaksakan berlaku disana. Hukum Cina (Tiongkok) mengalami periode
eropanisasi dan pada satu level dapat digolongkan pada romano-germanic legal

familiy. Namun, dalam kodifikasi dan pembutan UU nya akan ditemukan salah
satu tradisi tua Cina (Tiongkok) dan hirarki sosial, kekeluargaan dan pertalian
keluarga yang masih sangat dipertahankan. Pada kenyataannya walaupun terdapat
code dan terbukti terjadi westernisasi hukum Cina (Tiongkok), hakim Cina
(Tiongkok) secara diam2 dipersiapkan untuk mengabaikan code dan hukum
formal jika mereka bertentangan dengan bnyak hukum kebiasaan masyarakat Cina
(Tiongkok). Walaupun Cina (Tiongkok) menganut komunisme pada 1 oktober
1949, ajaran etika buda tetap berlanjut dan diikuti sampe sekarang sekalipun
pemerintah

RRC

secara

resmi

menganut

ideologi

Marxist-Leninist.

Meskipun Cina (Tiongkok) menganut ideologi marxist-leninist, namun Cina


(Tiongkok) lebih mengutamakan perkembangan moral dan penghormatan
terhadap hak2 sesama anggota masyarakat secara lebih baik daripada uni soviet.
Pada kenyataannya Cina (Tiongkok) mengadopsi marxis model soviet sampe
1957 ketika hubungan diantara kedua negara semakin memburuk. Pada 1960 Cina
(Tiongkok) memutuskan untuk menjalankan comunisme versi mereka sendiri
yang lebih mengutamakan indvidulitas yang berbasis transformasi sosial, lebih
baik pada pertumbuhan ekonomi, mengijinkan partisipai yang lebih besar dari
manager dan direktur perusahaan, penyesalan untuk kejahatan dan kembali pada
tardisi leluhur. Satu hal yang perlu diperhatikan sebagai konsekuensi perubahan
dalam filosofi adalah hubungan sosial dan penolakan prinsip hukum
sesungguhnya menghilangkan filosofi kerohanian yang berhubungan dengan
perilaku manusia dan kehendak alam.
Doktrin pemimpin mao yang digantikan soviet lebih mendekati masyrakat
marxist. Beberapa tokoh mao yang paling berpengaruh menjadi disembah,
didorong oleh pendidikan perubahan sosialis, memperhatikan pemikiran bahwa
pemimpin politik harus membagi antara perhatian dan gaya hidup terhadap petani
dan bahwa seberapa besar merupakan kekuatan politik dengan pengaruh
revolusioner. Hampir tidak ada pembuatan UU setelah 1949 sampai meninggalnya
Mao pda 1976.Perlawanan tradisional rakyat Cina (Tiongkok) mengarah pada
bentuk rigid dari perintah membuat UU.Konsekuensinya hanya ada satu badan

yang berperan dalam mengeluarkan putusan pengadilan dan sedikit kemurnian


yang dilaporkan dalam putusan MA.Tidak ada doktrin mengenai mengikatnya
putusan pengadilan yang diketahui.Diantara keduanya tidak ditemukan doktrin
tertulis dalam jumlah besar.