Anda di halaman 1dari 23

PEMBINAAN KESEHATAN

CALON JAMAAH HAJI

PENTINGNYA PERSIAPAN FISIK


DAN KESEHATAN
Persiapan fisik dan kesehatan merupakan

hal yang sangat penting bagi calon jamaah


haji. Hal tersebut berguna untuk menjaga
kebugaran saat melaksanakan ibadah haji.
Aktivitas fisik pada saat pelaksanaan
ibadah haji cukup banyak. Mulai dari tawaf,
sai, lontar jumrah, termasuk berjalan dari
pemondokan ke Masjidil Haram.

Aktivitas fisik yang tinggi pada pelaksanaan

ibadah haji dapat menurunkan tingkat


ketahanan jantung dan pernapasan yang
menyebabkan kelelahan bagi calon jamaah
haji,terutama bagi jamaah yang berusia di
atas 60 tahun.
Dengan bertambahnya usia, tingkat
ketahanan fisik menurun antara 10 hingga 15
persen. Untuk itu sangat penting bagi calon
jaamah haji untuk melakukan latihan fisik
sejak 3 bulan sebelum berangkat ke tanah
suci.

Latihan fisik bisa dilakukan dengan berjalan

kaki atau lari-lari kecil sehabis Shalat Subuh.


Tak perlu jauh-jauh. Cukup 2-3 kilometer saja.
Latihan jalan kaki ini nantinya akan sangat
membantu jamaah menjalankan ibadah di
Tanah Suci. Dengan rajin latihan fisik, tubuh
tidak kaget ketika nanti harus banyak berjalan
kaki.

RESIKO PENYAKIT PADA


Sebelum HAJI
berangkat
ke Tanah
Suci, seorang
JAMAAH
DAN
UPAYA
jamaah haji harus melewati pemeriksaan
PENCEGAHANNYA
kesehatan pertama, kedua, dan
pemeriksaan ulang di asrama haji.
Sejak pemeriksaan kesehatan pertama di
Puskesmas, seorang calon jamaah haji
sudah terkategori dalam golongan Sehat
atau Risiko Tinggi (Risti).

Apabila ia termasuk dalam kelompok Risti,

maka catatan atau buku kesehatan dari


Puskesmas akan diberi keterangan sesuai
kondisi kesehatannya itu.
Risti adalah jenis-jenis penyakit yang
terdeteksi menyerang calon jamaah haji.
Penyakit tersebut kadang hanya satu jenis
namun kadang beberapa penyakit sekaligus.

Risti Sehat
Sehat adalah kondisi kesehatan seseorang

yang mana secara fisik tidak mengidap


penyakit apa pun namun keadaan fisiknya itu
memudahkan penyakit- penyakit tertentu
untuk menyerang.
misalnya usia lanjut (umur 60 tahun atau
lebih), obesitas atau berat badan berlebih,
kekurangan berat badan yang sangat
mencolok, dan cacat fisik, baik berupa cacat
bawaan atau cacat yang dapat menimbulkan
gangguan dalam melaksanakan aktifitas
sehari-hari.

Jika kita memiliki berat badan berlebih, maka kita perlu

melakukan penurunan berat badan baik dengan olahraga


maupun dengan mengurangi porsi makan.
Olahraga bisa dilakukan dengan berjalan cepat selama
setengah jam, jalan pelan, atau jogging sejauh 3 km
Asupan kalori, protein, karbohidrat, dan vitamin yang
seimbang juga amat dibutuhkan dalam upaya
meningkatkan berat badan jamaah haji.
Apabila kita termasuk orang yang sudah lanjut usia,
persiapan diri bisa dilakukan dengan berjalan sejauh 3 km
setiap hari dengan memakai sandal atau selop. Jangan lupa
makan makanan yang seimbang setiap hari dan beristirahat
dengan cukup.
Kita juga dianjurkan mengonsumsi vitamin, kalsium, dan
mineral agar kondisi badan kita senantiasa terjaga.
Jika jamaah haji atau umrah menyandang cacat fisik maka
ada baiknya ia melakukan latihan-latihan yang sesuai
dengan kondisi fisiknya

Jamaah berisiko tinggi


(risti) Sakit
Penyakit neuro-psikiatri, yaitu lumpuh pascastroke, psikosis (gangguan jiwa), dan epilepsi
(ayan);
b. Penyakit kardiovaskuler, yaitu hipertensi (darah
tinggi), penyakit jantung koroner, penyakit jantung
bawaan, penyakit katup jantung, dan penyakit
payah jantung;
c. Penyakit endoktrin, yaitu diabetes melitus (sakit
gula), struma toksik (penyakit gondok).
d. Penyakit saluran pernapasan, yaitu tuberkulosa
paru yang tidak aktif, asma, obstuktif kronis yang
terdiri dari bronkitis kronis dan emfisema paru;
e. Penyakit saluran cerna, yaitu tukak lambung
(maag);
a.

f. Penyakit ginjal dan saluran kemih, yaitu gangguan


fungsi ginjal, seperti gagal ginjal kronis, batu ginjal
atau saluran kemis, pembesaran prostat pada laki-laki,
dan sindroma nefrotik;
g. Penyakit hati atau saluran empedu, yaitu sirosis hati,
hepatitis kronis, penyakit kandung empedu atau batu
empedu;
h. Penyakit kandungan, yaitu gangguan haid berat,
hiper-emesis (muntah-muntah saat menjalani masa
kehamilan);
i. Tumor ganas;
j. Penyakit menular yang termasuk dalam undangundang wabah, undang-undang karantina, dan kusta;
k. Kelompok lain, yaitu usia lanjut dengan umur di atas
70 tahun, anemia berat, dan penyakit rematik sendi.

Memeriksakan kondisi kesehatan secara


teratur. Sekalipun kondisi tubuh tidak bisa
dipulihkan karena adanya suatu penyakit
namun paling tidak penyakit tersebut bisa
dikendalikan selama mengerjakan ibadah haji;
2
Pemeriksaan kesehatan pada penderita
diabetes melitus (DM) bertujuan untuk
mempertahankan kadar gula normal, yakni
kadar gula darah puasa i 126 mg/dl atau kadar
gula darah dua jam setelah makan kurang dari
200 mg/dl. Jika terjadi komplikasi pada
pengidap DM, seperti adanya borok atau luka,
maka perlu dirawat di rumah sakit.

3 Jika kita penderita hipertensi maka diet


rendah garam harus dibiasakan;
4 Penderita penyakit hati akut seperti hepatitis
akut harus menjalani pengobatan terlebih
dulu hingga keadaannya membaik. Bila
diperlukan, ia harus menjalani rawat inap;
5 Penderita penyakit hati kronis harus mengikuti
saran dokter yang merawat, baik mengenai
diet, konsumsi obat, aktivitas fisik, dan
larangan makanan tertentu;

Pengidap penyakit batu empedu dengan atau tanpa infeksi


empedu harus segera dioperasi sebelum berangkat ke
Tanah Suci, jika memang dibutuhkan.
Apabila kita mengidap penyakit paru-paru kronis maka
tentu perawatan yang serius sangat dibutuhkan. Penderita
penyakit paru-paru akibat infeksi tuberkulosis yang aktif
harus berobat secara intensif agar penyakit tersebut tidak
aktif.
Apabila sampai waktu pemberangkatan kita masih
mengidap penyakit tersebut, yang ditandai adanya kuman
tuberkulosis dalam dahak, petugas kesehatan akan
melarang kita untuk berangkat, sebab dikhawatirkan
menular pada jamaah haji yang lain
Apabila kita mengidap asma, sesak napas, atau penyakit
paru-paru obstruktif menahun, maka selama masih di
Tanah Air kita harus mengobatinya sampai sembuh.
Hindarilah asap rokok atau polusi udara. Menggunakan
masker, menghindari kelelahan, beristirahat yang cukup,
tidak minum minuman dingin, dan tidak memaksa diri
untuk melakukan ibadah sunnah yang menguras tenaga
dapat membantu kita meminimalisir penyakit tersebut
kambuh

8 Jamaah haji yang mengidap penyakit jantung


seperti penyakit jantung koroner, penyakit
jantung hipertensi baik dengan gagal ginjal atau
tidak, maka perawatan teratur sebelum
berangkat sangat penting.
9 Jamaah yang menderita penyakit berisiko tinggi
yang lain, seperti gangguan lambung (maag),
gangguan jiwa, gangguan kandungan, dan
tumor, juga harus melakukan pemeriksaan yang
lengkap dan teratur sebelum berangkat ke Tanah
Suci
10 Mengikuti anjuran petugas kesehatan kloter
maupun TPHI dan TPIHI baik dalam masalah
kesehatan maupun masalah ibadah.

Waspada Heat Stroke !


Jemaah haji yang meninggal pada kondisi cuaca panas yang

ekstrim semestinya bisa di cegah, jangan sampai menjadi


sebuah petaka. Setiap tahun hampir dapat dipastikan
penyebab utama kematian jemaah haji Indonesia adalah
JANTUNG. APAKAH CUACA PANAS BISA MEMICU SERANGAN
JANTUNG ???
Menurut Asosiasi Jantung Amerika Serkat (AHA), Ketika tubuh
terlalu panas, hipertermia dapat terjadi. Hipertemia adalah
suatu kondisi di mana inti tubuh menjadi terlalu panas.
Kondisi ini, ditambah dengan dehidrasi, mengakibatkan
ketidakseimbangan elektrolit, dan sebagai hasilnya,
seseorang dapat mengalami syok kardiogenik.
Pada saat ternjadinya syok kardiogenik, jantung tiba-tiba
menjadi lemah dan tidak dapat memompa cukup darah ke
seluruh tubuh. Ini dapat menyebabkan kegagalan multiorgan yang dapat memicu serangan jantung atau kematian
jantung mendadak.

Kelompok yang sangat rentan menderita serangan jantung

akibat cuaca panas adalah


1. Orang-orang yang tidak terbiasa terhadap panas ekstrem..
2. Kelompok usia tertentu memiliki risiko lebih tinggi.
Orang tua telah kehilangan kemampuan untuk
mendinginkan suhu tubuh mereka. Kelenjar keringat mereka
telah kering, sehingga kemampuan tubuh mereka untuk
mempertahankan suhu inti tubuh sudah tidak bekerja
dengan baik seperti ketika mereka masih muda.
Salah satu bahaya terbesar dari suhu panas adalah
dehidrasi. Kurangnya cairan tubuh dapat mengakibatkan
ketidakteraturan detak jantung yang mengancam jiwa yang
dikenal sebagai fibrilasi atrium. Bahaya lainnya, bahwa
panas yang ekstrim menyebabkan pembuluh darah melebar.
Kondisi ini dapat sangat membahayakan bagi orang yang
sedang menggunakan obat umum seperti obat tekanan
darah.

Berikut tips dalam menghadapi


cuaca ekstrim di Arab Saudi
Melakukan latihan penyesuaian 1-2 jam setiap hari selama 10 hari di

bawah terik matahari, pada 2 minggu terakhir menjelang keberangkatan.


Minum 1-3 gelas air sebelum ke luar pondokan, dan kemudian

melanjutkan minum air setiap 20-menit, bahkan jika Jamaah Haji merasa
sedang tidak haus.
Hindari minuman berkafein, karena minuman ini dapat menarik air keluar

dari tubuh.
Pakailah krim pelembab untuk melindungi kulit dari kekeringan sekaligus

mengurangi penguapan air dari tubuh melalui kulit.


Gunakan pakaian yang bahannya ringan, longgar dan berwarna terang

untuk memungkinkan terjadinya sirkulasi udara maksimum untuk


mendinginkan tubuh sehingga memberikan perlindungan dari sinar
matahari.
Hindarkan tubuh dari terkena terik matahari langsung (bepergian keluar

pondokan memakai penutup kepala/topi bertepi lebar, payung, dsb).


Sinar matahari terik pada siang hari pada pukul 12.00 WAS s/d. 15.00
WAS.

Tips Untuk Jemaah Haji dengan


Hemodialisis
Beberapa tahun terakhir, jemaah haji dengan

Hemodialisis dapat lebih lega dengan akses layanan


yang disediakan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Layanan Hemodialisis diberikan di Rumah Sakit
pemerintah, baik di Madinah, Jeddah dan Mekkah. Untuk
dapat memperoleh layanan, jemaah diharapkan untuk
melaporkan kondisi kebutuhan akan layanan tersebut
kepada Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), baik di
Daker Madinah, Jeddah dan Makkah.

Haji dengan Hemodialisis agar

menyertakan hasil pemeriksaan serologi


HbsAg, HIV dan HPV

10 Tips Sehat Selama Menjalankan


Ibadah Haji
1.Hal yang utama untuk diperhatikan jamaah haji adalah
kebersihan minuman dan makanan yang kita konsumsi. Tidak
direkomendasikan jamaah haji untuk meminum air kran, sebab air
kran berbahaya untuk dikonsumsi, karena berupa air mentah yang
masih banyak mengandung mikroorganisme. Perjalanan panjang
selama 10 jam antara Madinah dan Mekah dalam cuaca panas
terik pastilah akan membuat para jamaah haji lelah dan kehausan.
Padahal di sepanjang perjalanan tidak bisa dipastikan akan
menemukan makanan, air minum bersih atau toilet.
2.Ada baiknya para jamaah haji membekali diri dengan air mineral
botol atau jika ingin yang natural bisa dipilih air Zam zam. Air Zam
Zam aman diminum walau mentah karena mengandung flouride
tinggi yang mampu membunuh kuman. Sehingga resiko dehidrasi
selama dalam perjalanan tidak akan terjadi.

3.Para jamaah haji pun harus memeriksa dengan teliti kebersihan tempat
makan yang akan dipilih. Misalnya di distrik Haram, sebaiknya jamaah haji
menghindari untuk makan di restauran yang kelihatan kurang bersih.
Mengintip kebersihan restoran sebelum memesan makanan dan mencuci
tangan dengan sabun sebelum makan adalah hal yang mutlak dilakukan.
4.Disarankan jamaah haji untuk selalu membawa sabun pribadi di dalam tas
yang selalu dibawa kemana-mana. Lebih baik sedikit repot dan bijak
daripada terserang sakit perut dan ibadah menjadi terhambat, bukan?
Dengan memerhatikan kebersihan dan kesehatan makanan dan minuman
yang dikonsumsi, Insya Allah kondisi fisik para jamaah haji selalu prima
untuk mengikuti rangkaian Ibadah Haji di tanah suci.
5.Tidak menyimpan jatah makanan. Jika jamaah haji mendapat jatah
makanan yang masih hangat dan segar, hendaknya segera dikonsumsi, tak
perlu disimpan, sebab dikhawatirkan akan menjadi basi dan akan
menyebabkan sakit perut jika dikonsumsi kemudian. Saat menerima jatah
makanan, hendaknya juga diperiksa apakah masih hangat atau sudah basi.
Sebab pengolahan makanan dalam jumlah besar sehingga kadang diolah
jauh sebelum jam makan tiba. Jika sudah dalam kondisi tidak baik,
sebaiknya tidak dikonsumsi .

6.Memerhatikan penyakit yang telah diidap sedari di tanah air. Naik haji
merupakan kegiatan yang berat, kendala fisik kadang-kadang berbahaya,
teruta ma bagi orang tua. Seyogyanya sebelum keberangkatan,
memeriksakan diri dan berkonsultasi pada dokter keluarga, sehingga
dokter bisa memberikan saran bagaimana menjaga diri supaya
kemungkinan komplikasi bisa dihindari.
7.Kepala kelompok juga harus diberitahu mengenai kondisi kesehatan
anggotanya, sehingga selalu tanggap dan waspada. Sebagian besar kaum
lanjut usia mengalami resiko pembengkakan pembuluh darah yang
mengakibatkan gagal vena atau masalah jantung. Bagi yang memiliki
tekanan darah tinggi juga harus berhati-hati. Terutama pada beberapa
obat yang bisa meningkatkan tekanan jantung, seperti obat flu dan pelega
tenggorokan.
8.Sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter dalam kelompok. Bagi
yang mengidap diabetes, tidak berarti harus berhenti makan karena takut
gula darah naik. Sebaiknya tetap makan makanan diet seperti salad buah
dan makanan kecil rendah gula, serta tidak tidur di siang hari dan lebih
memperhatikan penanganan luka-luka kecil akibat terinjak atau terdorong.

9.Memperhatikan kecukupan beristirahat. jamaah haji

Butuh stamina yang baik untuk bisa mengikuti


rangkaian Ibadah Haji. Untuk itu, cukup istirahat
mutlak diperlukan. Jangan sampai gara-gara terlalu
banyak jalan-jalan dan belanja, kondisi fisik menjadi
drop dan menjadi tak cukup fit untuk mengikuti ibadah.
Stamina jamaah haji harus benar-benar dijaga, agar
bisa menjalankan ibadah di Padang Arafah saat puncak
Ibadah Haji berlangsung.
10.Menyediakan krim. Bagi jamaah haji yang berkulit
sensitif, ada baiknya menggunakan krim anti jamur.
Krim anti nyamuk juga dianjurkan untuk melindungi
diri dari gigitan serangga. Krim untuk menjaga
kelembaban kulit dan melindungi kulit dari sengatan
matahari juga dianjurkan.

MERS-CoV
MERS-CoV singkatan dari Middle East

Respiratory Syndrome Corona Virus


jamaah haji harus berhati hati agar tidak
terpapar dan menyebarkan virus.
kontak langsung melalui percikan dahak
(droplet) pada saat jamaah haji batuk atau
bersin, dan kontak tidak langsung melalui
kontak dengan benda yang terkontaminasi
virus, seperti gagang, pintu, pegangan
tangga, berjalan tangan, dll.