Anda di halaman 1dari 17

Titrasi konduktometri merupakan metode analisa kuantitatif yang didasarkan

pada perbedaan harga konduktansi masing-masing ion. Dalam konduktometri


diperlukan sel konduktometrinya, yaitu alat mengukur tahanan sel. Namun titrasi ini
kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionik yang terlalu tinggi
(Muizliana, 2010).
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar
listrik suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan
konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan
suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik
yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan , sehingga daya
hantar listrik mempunyai satuan ohm-1. Bila arus listrik dialirkan ke dalam suatu
larutan melalui dua electrode, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan
luas bidang luas bidang electrode, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus
dengan luas bidang electrode (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua electrode
(l). jadi,
Dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1cm-1 (Tim Dosen Kimia Analitik,
2010).
Biasanya konduktometri merupakan prosesur titrasi, sedangkan konduktometri
bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktasi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi
titrasi jika perbedaan antara konduktasi cukup besar sebelum dan sesudah
penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang
berturut-turut jarak elektroda harus tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan
hantarannya tidak berfungsi secara linear dengan konsentrasi (Khopkar, 2008).
Titrasi konduktometri sangat berguna bila hantaran sebelum dan sesudah reaksi
cukup banyak berbeda. Metode ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan
konsentrasi ionic terlalu tinggi, misalkan titrasi Fe3+ dengan KMnO4, dimana perubahan
hantaran sebelum dan sesudah titik ekivalen terlalu kecil dibandingkan besarnya
konduktasi total (Khopkar, 2008).
Larutan ada dua jenis yaitu larutan elektrolit dan nonelektrolit. Larutan elektrolit
sering kali diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya dalam menghantarkan arus
listrik digolongkan ke dalam elektrolit kuat, dan elektrolit lemah. Elektrolit kuat adalah
suatu senyawa bila dilarutkan dalam pelarut (misalnya air) akan menghasilkan larutan
yang dapat menghantarkan arus listrik dengan baik. Sedangkan, elektrolit lemah adalah
elektrolit yang sifat penghantaran listriknya buruk. Suatu elektrolit dapat berupa asam,
basa, dan garam (Scribd, 2010).
Konduktivitas suatu larutan elektrolit pada setiap temperatur hanya bergantung
pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit

diencerkan, konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion berada per cm3 larutan
untuk membawa arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang
terpisah 1 cm satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan,
konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh
berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat oleh kenaikan derajat
disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah (Muizliana, 2010).
Untuk elektrolit kuat, nilai batas dari konduktivitas molar, A o, dapat ditentukan
dengan meneruskan pengukuran sampai konsentrasi-konsentrasi rendah dan lalu
meng-ekstrapolasi grafik antara konduktivitas terhadap konsentrasi, sampai ke
konsentrasi nol. Untuk elektrolit lemah seperti asam asetat dan ammonia metode ini
tidak dapat digunakan, karena disosiasinya adalah jauh dari sempurna pada
konsentrasi terendah yang dapat diukur dengan baik (~10 -14 M). Namun, konduktans
batas ini bisa juga dihitung atas dasar hokum migrasi tak bergantung (independen) dari
ion (Svehla, 1990).
Aliran listrik dalam suatu elektrolit akan memenuhi hukum Ohm, yang
menyatakan bahwa: besarnya arus listrik (I ampere) yang mengalir melalui larutan
sama dengan perbedaan potensial (V volt) dibagi dengan tahanan (Rohm). Secara
matematika hukum Ohm akan dapat ditulis sebagai
(Scribd, 2010).
Tahanan, R, dari suatu penghantar listrik berbanding lurus dengan panjangnya, l,
dan berbanding terbalik dengan luas penampangnya, A

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dengan , tahanan jenis. Jika R dinyatakan dalam ohm (), l dalam meter (m) dan A
dalam m2, maka satuan dari adalah m (Ahmad, 2001).
Menurut Scribd (2010), Besarnya daya hantar bergantung pada beberapa faktor,
antara lain:
Jumlah partikel-partikel bermuatan dalam larutan {(+)&(-)}
Jenis ion yang ada
Mobilitas ion
Media/pelarutnya
Suhu
Gaya tarik menarik ion (+) dan (-)
Jarak elektroda
http://syamsumarlinjepoters.blogspot.com/2013/02/laporan-praktikumkonduktometri.html

Laporan pengukuran
konduktivitas larutan
Dasar Teori:
Daya hantar listrik adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat menghantarkan listrik. Daya
hantar listrik merupakan kebalikan dari hambatan listrik (R),
R = l/A
Suatu hambatan dinyatakan dalam ohm () , adalah tahanan spesifik atau resistivitas dalam ohm
cm (satuan SI, ohm m), l adalah panjang dalam cm, dan A luas penampang lintang dalam cm2.
Oleh karena itu daya hantar listrik dinyatakan,
K = 1/
Daya hantar listrik disebut Konduktivitas. Satuannya disingkat -1cm-1. Konduktivitas digunakan
untuk pengukuran larutan / cairan elektrolit. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya
konduktivitas.
Energi listrik dapat di transfer melalui materi berupa hantaran yang bermuatan listrik yang
berwujud arus listrik. Ini berarti bahwa hars terdapat pembawa muatan listrik di dalam materi
serta adanya gaya yang menggerakkan pembawa muatan tersebut.
Pembawa muatan dapat berupa elektron seperti logam, dapat pula berwujud ion positif dan ion
negative seperti dalam larutan elektrolit dan lelehan garam. Pembawa muatan yang berwujud
logam disebut elektrolit atau metalik, sedangkan pembawa muatan yang berupa larutan disebut
ionic atau elektrolit. Gaya listrik yang membuat muatan bergerak biasanya berasal dari baterai,
generator atau sumber energy listrik yang lain.
Perpindahan muatan listrik dapat terjadi bila terdapat beda potensial antara satu tempat
terhadap yang lain, dan arus listrik akan mengalir dari tempat yang meiliki potensial tinggi ke
tempat potensial rendah. Didalam suatu larutan, terjadinya arus listrik dikarenakan adanya ion
yang bergerak.
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan ion adalah: Berat dan muatan ion Adanya
hidrasi Orientasi, atmosfer pelarut, Gaya tarik antar ion, Temperatur, Viskositas
Jika larutan diencerkan maka untuk elektrolit lemah -nya semakin besar dan untuk elektrolit
kuat gaya tarik antar ion semakin kecil. Pada pengenceran tidak terhingga, daya hantar ekivalent
elektrolit hanya tergantung pada jenis ionnya. Masing-masing ion mempunyai daya hantar
ekivalent yang tergantung pada Jumlah ion yang ada

Kecepatan ion pada beda potensial antara kedua elektroda yang ada
Jumlah ion yang ada tergantung dari jenis elektrolit (kuat/lemah) dan konsentrasi selanjutnya
pengenceran baik untuk elektrolit lemah/kuat memperbesar daya hantar dan mencapai harga
maksimum pada pengenceran tak berhingga. Penghantar logam disebut penghantar kelas utama,
dalam penghantar ini listrik mengalir sebagai electron. Tekanan dari penghantar ini bertambah
dengan naiknya temperatur. Larutan elektrolit juga dapat menghantarkan listrik, penghantar ini
disebut penghantar kedua. Dalam penghantar ini disebabkan oleh gerakan dari ion-ion kutub satu
ke kutub lainnya. Berbeda dengan penghantar logam, penghantar elektrolit tahanannya berkurang
bila temperatur naik.
Pengukuran daya hantar listrik mempunyai arti penting dalam proses-proses kimia. Pada
pembuatan aquades, efisiensi dari penghilang zat terlarut yang berupa garam-garam dapat diikuti
dengan mudah dengan cara mengukur daya hantar larutan. Derajat ionisasi elektrolit lemah dapat
ditentukan dengan pengukuran daya hantarnya. Seperti diketahui, daya hantar berbanding lurus
dengan jumlah ion yang ada dalam larutan.
Daya Hantar Listrik Suatu Larutan
Daya hantar ini bergantung pada jenis dan konsentrasi lain yang ada di dalam larutan.
Menurut hukum Ohm, arus (I) berbanding lurus dengan gaya listrik (E), yang digunakan tetapi
berbanding terbalik dengan tahanan listrik (R).
I = E/R
G = I/R
Daya hantar listrik (G) berbanding terbalik dengan tahanan sehingga mempunyai satuan ohms
(ohm-1) atau Siemens (S).
Bila arus listrik dialirkan ke suatu larutan melalui dua elektroda, maka daya hantar listrik
berbanding lurus dengan luas bidang elektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua
elektroda (l).
G = 1/R = K.A/l
A/l = tetapan sel
K = konduktivitas ( ohm cm-1 atau Scm-1 )
Daya hantar suatu zat terlarut disebut daya hantar molar (L) yang bergantung pada konsentrasi
larutan.
L = 1000.K/C ( S mol-1 )

http://himka1polban.wordpress.com/laporan/kimia-instrumen/laporan-pengukurankonduktivitas-larutan/
Titrasi konduktometri merupakan salah satu dari sekian banyak macammacam titrasi. Didalam titrasi konduktometri ini tidak terlalu berbeda jauh dari
titrasi-titrasi yang lainya, yang membedakan biasanya hanya terdapat bagaimana
cara untuk mengetahui titik ekivalen dari larutan itu. Kalau kita menggunakan
titrasi volumetri yang biasa kita praktikan sebelumnya titik ekivalen diketahui ketika
terjadi perubahan warna, zat itu akan mengalami peruban warna bila zat itu dalam
keadaan setimbang. Untuk mempermudah kita untuk melihat zat itu sudah
mencapai ekivalen maka digunakan indikator. Tetapi banyak sekali para praktikan
yang merasa kesulitan untuk menentukan dengan tepat titik ekivalen dengan
menggunkan titrasi volumetri ini. Titrasi konduktometri ini lebih mudah jika
dibandingkan dengan titrasi lainya, walaupun ada kelemahan tetapi juga ada
kelebihanya. Titik ekivalen dapat kita ketahui dari daya hantar dari larutan yang
kita ukur, jika daya hantar sudah konstan berarti titrasi sudah mencapai ekivalen.
Titrasi ini juga tidak perlu menggunakan indikator, untuk lebih jelasnya akan
dijelaskan dalam bab selanjutnya.
Konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah
prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi
jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan
reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang berturut-turut
jarak elektroda harus tetap. Hantaran sebanding dengan konsentrasi larutan pada
temperatur tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak
berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi

Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap


temperatur hanya bergantung pada ion2 yang ada, dan
konsentrasi ion2 tersebut. Ini sebagian besar disebabkan oleh
berkurangnya efek2 antar ionik untuk elektrolit2 kuat dan
oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit
lemah (Bassett, J. dkk., 1994).

Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan


ditaruh dalam sebuah sel, yang tetapan selnya telah
ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang
konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu larutan
kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari
rangkaian jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur
(Bassett, J. dkk., 1994).
Bila konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus
dikalikan faktor 1000. nilai d/a=S merupakan faktor geometri
selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel tertentu
sehingga disebut tetapan sel (Khopkar, 2003). Metode
konduktometri memiliki aplikasi yang jauh lebih terbatas
ketimbang prosedur-prosedur visual, potensiometri ataupun
amperometri (Bassett, J. dkk., 1994).
Hipotesis
1.
Karena titrasi konduktometri lebih efisien dan lebeh
efeketif dalam pengguanaan zat, selain itu juga, kita tidak
perlu menggunakan indikator untuk mengethaui titik ekivalen
dari titrasi.
2.
Karena titik ekivalen dapat diketahui dari daya
hantar larutan yang terukur pada konduktometer, yaitu
dengan konstannya nilai daya hantar.
3.
Karena didalam titrasi konduktometer ini yang
berperan penting yaitu konsentrasi dari suatu larutan.
Konduktometri merupakan salah satu cara elektroanalisa, yang mengukur
konduktivitas larutan dengan elektroda khusus. Konduktivitas berbanding terbalik
terbalik tahanan listrik dalam larutan, yaitu semakin besar tahanan listrik, semakin
kecil konduktivitas.

Konduktivitas mempunyai siemens per cm. konduktivitas larutan kimia


lazimnya berkisar antara 0,1-2000 mili siemens per cm (ms/cm). kalau dua
elektroda direndam dalam larutan yang mengandung ion-ion, maka akan mengalir
arus listrik antara kedua elektroda tersebut, apabila terdapat beda tegangan listrik
antara kedua elektroda tersebut.
Arus mengalir dari katoda yang bermuatan negative ke anoda yang
bermuatan positif. Sebagai pebawa arus adalah ion-ion dalam larutan. Selisih
potensial antara kedua elektroda tersebut tidak boleh terlalu besar agar tidak
terjadi elektrolisa.

Besarnya arus yang mengalir ditentukan oleh parameterparameter sebagai berikut :


Beda tegangan antara kedua elektroda.
Konsentrasi ion-ion.
Sifat ion seperti besarnya muatan, derajat disosiasi, besarnya
ion, kompleksasi dengan molekul lain dan sebagainya.
Suhu larutan.
Luas permukaan masing-masing elektroda.
Jarak antara katoda dan anoda.
Semakin besar arus makin besar pula konduktivitas K. Luas permukaan
elektroda dan jarak antara katoda dan anoda merupakan parameter yang tetap,
karena parameter-parameter tersebut bergantung pada rancangan elektroda. Oleh
karena itu setiap elektroda mempunyai factor tersendiri yang dimasukkan dalam
perhitungan konduktivitas ( cell constant K/cm ).
Pada permukaan elektroda dapat terjadi tegangan lebih ( over voltage ) yang
tidak sebanding lagi dengan arus dan konsentrasi ion. Untuk mencegah tegangan
lebih tersebut perbukaan elektroda dilapis dengan lapisan platinum yang halus dan
aktif. Pelapisan elektroda dengan platinum disebut platinizing.
Parameter harus dipertahankan tetap sama selama pengukuran konduktivitas
adalah suhu larutan. Sebaiknya digunakan wadah titrasi yang dindingnya berlapis
dua, sehingga dalam dinding tersebut dapat dialirkan air pada suhu tertentu dari
thermostat.

Perubahan konduktivitas terhadap suhu berbeda-beda


untuk setiap senyawa. Setiap senyawa mempunyai koefisien
suhu. Hubungan antara konduktivitas K pada suhu 20 oC
dengan konduktivitas K pada suhu noCdapat dilihat pada
persamaan sebagai berikut :
Untuk menghitung koefisien suhu digunakan rumus :

Koefisien suhu bergantung pula pada konsentrasi zat.


Koefisien suhu dapat ditentukan sendiri dengan mengukur
konduktivitas pada suhu 20 oC dan pada suhu yang lain
( misalnya 30 C ).
Konduktometer metrohm mengukur konduktivitas dengan arus AC ( alternative
current ) untuk mencegah terjadinya polarisasi lektrida. Oleh karena itu frekuensi
dari arus tersebut perlu diatur sesuai dengan konduktivitas sampel. Terdapat dua
pilihan frekuensi sebagai berikut :

Tombol FREQ tidak ditekan : Frekuensi 2000 Hertz ( 2 kHz ).

Frekuensi tinggi dipakai untuk cuplikan yang mempunyai


konduktivitas yang tinggi ( lebih dari 100 S/cm ), selain itu
untuk titrasi konduktometri.
Tombol FREQ ditekan : Frekuensi 300 Hertz ( 300 Hz ) untuk
konduktivitas dibawah 1 mS/cm.
Jenis elektroda konduktometri ( measurung cell ) harus
dipilih sesuai dengan konduktivitas dari cuplikan. Elekttroda
yang mempunyai tetapan rendah sesuai untuk pengukuran
konduktivitas yang rendah, sebaliknya elektroda dengan
tetapan tinggi sesuai untuk konduktivitas yang tinggi.
Suhu dikompensasikan secara otomatis dengan sensor Pt100 atau oleh operatornya dengan menekan tombol TEMP,
lalu mengatur suhu cuplikan, serta koefisien suhu cuplikan.

Daerah pengukuran (measuring range) diatur oleh alat secara


otomatis, kecuali bila tombol RANGE ditekan.
Apabila kita ingin membaca harga yang konduktivitas
secara teliti, tetapi harga konduktivitas sering berubah,
sehingga keluar dari daerah yang telah diatur, maka kita
menaikkan harga konduktivitas tersebut hingga berada
dipertengahan daerah pengukuran.

Titrasi Konduktometri
Titrasi konduktometri dapat dilakukan untuk menentukan
kadar ion, dengan syarat ion tersebut terlibat dalam reaksi
kimia sehingga terjadi penggantian satu jenis ion dengan
yang lain yang berarti terjadi perubahan konduktivitas.
Misalnya titrasi HCl dengan NaOH berdasarkan persamaan
sebagai berikut :
H+ + Cl- + OH- + Na+
H2O + Cl- + Na+
Sebelum ditambah NaOH, didalam larutan terdapat ion
H+ dan
Cl-yang
masing-masing
mempunyai
harga
konduktivitas molar ( 25 C ) sebesar 349,8 cm 2/mol dan 76,3
cm2/mol. Pada penambahan NaOH, terjadi reaksi antara
H+ dengan OH- membentuk H2O, sehingga jumlah H+ didalam
larutan berkurang sedangkan jumlah NaOH bertambah.
Na+ mempunyai harga konduktivitas molar 50,1 S cm-1/mol
yang jauh lebih kecil dari H + sehingga harga konduktivitas
total dari larutan turun. Pada titik akhir titrasi, H + dalam
larutan telah bereaksi seluruhnya dengan OH -, sehingga
penambahan NaOH lebih lanjut akan menaikkan harga
konduktivitas total larutan, karena terdapat OH - dengan
konduktivitas molar 198,3 S cm-1/mol.

Titik akhir dapat ditentukan dalam grafik titrasi sebagai


berikut :
Titrasi konduktometri sangat sesuai untuk asam atau
basa
lemah,
karena
penggunaan
potensiograph
/
titroprocessor dengan elektroda kaca menghasilkan titik akhir
yang kurang jelas. Namun titrasi konduktometri tidak dapat
dilakukan dalam cuplikan yang mengandung konsentrasi ion
lain yang tinggi, karena titik akhir menjadi kurang tajam.
Titrasi konduktometri sangat berguna untuk melakukan titrasi
pengendapan. Keuntungan titrasi konduktometri adalah
grafik titrasi seluruhnya digunakan untuk menentukan titik
akhir sedangkan pada kurva titrasi potensiometri titik akhir
ditentukan dari bentuk grafik dekat titik akhir saja. Kepekaan
cara konduktometri jauh lebih baik. Titrasi konduktometri
masih memberi titik akhir yang jelas untuk asam atau basa
lemah
dalam
konsentrasi
encer,
sedangkan
dengan potensiometri titik akhir tidak jelas lagi.

Pemeliharaan Elektroda
Elektroda yang kering sebelum dipakai direndam
sebentar dalam etanol lalu dibilas dengan air. Sehabis dipakai
elektroda dibilas lagi dengan air lalu disimpan lagi dalam air.
Elektroda yang akan disimpan untuk jangka waktu yang
panjang harus dikeringkan lalu disimpan kering. Sekali-sekali
elektroda perlu dilapis ulang dengan platinum (platinizing)
sesuai dingin procedure dalam manual.
Secara berkala dan sehabis setiap kali platinizing
elektroda
perlu
dikalibrasi
ulang
dengan
larutan

kalibrasi yang telah disediakan oleh metrohm, lasimnya


dengan larutan kalibrasi KCl. Tetapan elektroda distel pada
1,0 x 1 di konduktometer, lalu koefisien suhu 2,0 untuk KCl 1
mol/liter. Tetapan elektroda dihitung dengan rumus :
Hal-hal berikut harus selalu diingat-ingat ketika
melakukan titrasi :
1. Penyesuaian pH. Untuk banyak titrasi EDTA, pH larutan
sangatt menentukan sekali; seringkali harus dicapai batasbatas dari 1 satuan pH dan sering batas-batas dari 0,5 satuan
pH harus dicapai, agar suatu titrasi yang sukses dapat
dilakukan. Untuk mencapai batas-batas kontrol yang begitu
sempit, perlu digunakan sebuah pH-meter sewaktu
menyesuaikan nilai pH larutan, dan bahkan untuk kasus di
mana batas pH adalah sedemikian sehingga kertas uji pH
boleh digunakan untuk mengontrol penyesuain pH, hanyalah
kertas dari jenis dengan jangkau yang sempit boleh
digunakan.
2. Pemekatan ion logam yang akan dititrasi.Kebanyakan titrasi
berhasil dengan baik dengan 0,25 mmol ion logam yang
bersangkutan dalam volume 50-150 cm 3 larutan. Jika
konsentrasi ion logam itu terlalu tinggi; maka titik akhir
mungkin akan sangat sulit untuk dibedakan, dan jika kita
mengalami kesulitan dengan titik akhir, maka sebaiknya
mulailah lagi dengan satu porsi larutan uji yang lebih sedikit,
dan
encerkan
ini
sampai
100-150
cm3 sebelum
menambahkan medium pembufer dan indikator, lalu diulangi
titrasi itu.

3.

Banyaknya indicator. Penambahan indicator yang terlalu


banyak merupakan kesalahan yang harus kita hindarkan.
Dalam banyak kasus, warna yang ditimbulakan oleh indicator
sanagt sekali bertambah kuat selama jalannya titrasi, dan
labih jauh, banayak indicator memperlihatkan dikroisme,
yaitu terjadi suatu perubahan warna peralihan pada satu dua
tetes sebelum tiik akhir yang sebenarnya.
4. Pencapaian titik-akhir. Dalam banyak titrasi EDTA,
perubahan warna disekitar titik akhir, mungkin lambat.
Dalam
banyak
hal-hal
demikian,
sebaiknya
titran
ditambahkan dengan hati-hati sambil larutan terus menerus
diaduk; dianjurkan untuk memakai pengaduk magnetic.
Sering, titik akhir yang lebih tajam dapat dicapai jika larutan
diapnaskan samapi sekitar kira-kira 40OC. Titrasi dengan
CDTA selalu lebih lambat dalam daerah titik akhir divbanding
dengan titrasi EDTA padanan.
5. Deteksi perubahan warna. Dengan semua indicator ion
logam yang digunakan pada titrasi kompleksometri, deteksi
titik akhir dan titrasi bergantung pada pengenalan suatu
perubahan warna yang tertentu; bagi banyak pengamat, ini
dapat merupakan tugas yang sulit, dsan bagi yang menderita
buta warna, bolehlah dikata mustahil. Kesulitan-kesulitan ini
dapat diatasi dengan menggantikan mata dengan suatu
fotosel yang jauh lebih peka, dan meniadakan unsurt
manusiawi. Untuk melakukan operasi yang dituntut, perlu
tersedia sebuah kolorimeter atau spektrofotometer dalam
mana kompartemen kuvetnya adaalh cukup besar untuk
memuat bejana titrasi (labu Erlenmeyer atau piala berbentuk

tinggi) Spektrofotometer Unicam SP 500 merupakan contoh


dari instrumen yang sesuai untuk tujuan ini, dan sejumlah
fototitrator tersedia secara komersial.
6. Metode lain untuk mendeeksi titik akhir. Disamping deteksi
secara visualdan secara spektrofotometri dari titik akhir
dalam titrasi EDTA denagn bantuan indicator ion logam,
metode berikut ini juga tersedia untuk deteksi titik akhir.
a. Titrasi potensiometer dengan memakai sebuah electrode
merkurium
b. Titrasi potensiometer dengan memakai sebuah electrode
ion selektif yang berespons terhadap ion yang sedang
dititrasi.
c. Titrasi potensiometri dengan memekai sebuah system
electrode platinum mengkilat kalomel jenuh, ini dapat dipakai
bila reaksi melibatkan dua keadaan oksidasi berlainan (dari)
suatu logam tertentu
d. Dengan titarasi titrasi konduktometri
e. Dengan titrasi amperometri
f.
Dengan titrasi entalpimetri
Aplikasi Titrasi Konduktometri
Dasar Analisis Tablet Aspirin dengan Metode Titrasi
Konduktometri
Menurut hukum Ohm I = E/R; di mana: I = arus dalam
ampere, E = tegangan dalam volt, R = tahanan dalam ohm.
Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi elektroda tidak
terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai kebalikan
dari tahanan sehingga I = EL. Satuan dari hantaran

(konduktansi) adalah mho. Hantaran L suatu larutan


berbanding lurus pada luas permukaan elektroda a,
konsentrasi ion persatuan volume larutan Ci, pada hantaran
ekivalen ionik S1, tetapi berbanding terbalik dengan jarak
elektroda d, sehingga:
L = a/d x S Ci S1
Tanda S menyatakan bahwa sumbangan berbagai ion
terhadap konduktansi bersifat aditif. Karena a, dan d dalam
satuan cm, maka konsentrasi C tentunya dalam ml. Bila
konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus
dikalikan faktor 1000. nilai d/a = S merupakan faktor
geometri selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel
tertentu sehingga disebut tetapan sel. Untuk mengukur
konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah
sel, yang tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi
dengan suatu larutan yang konduktivitasnya diketahui
dengan tepat, misal, suatu larutan kalium klorida standar. Sel
ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian jembatan
Wheatstone dan resistansnya diukur. Pengaliran arus melalui
larutan suatu elektrolit dapat menghasilkan perubahanperubahan dalam komposisi larutan di dekat sekali dengan
lektrode-elektrode, begitulah potensial-potensial dapat timbul
pada elektrode-elektrode, dengan akibat terbawanya
sesatan-sesatan
serius
dalam
pengukuran-pengukuran
konduktivitas, kecuali kalau efek-efek polarisasi demikian
dapat dikurangi sampai proporsi yang terabaikan.
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap
temperatur hanya bergantung pada ion-ion yang ada, dan

konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu elektrolit


diencerkan, konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion
berada per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika semua
larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm
satu sama lain dan cukup besar untuk mencakup seluruh
larutan, konduktans akan naik selagi larutan diencerkan. Ini
sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek
antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh kenaikan
derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.
Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan
elektrolit lain pada kondisi-kondisi yang tak menghasilkan
perubahan volume yang berarti akan mempengaruhi
konduktans (hantaran) larutan, tergantung apakah ada
tidaknya terjadi reaksi-reaksi ionik. Jika tak terjadi reaksi
ionik, seperti pada penambahan satu garam sederhana
kepada garam sederhana lain (misal, kalium klorida kepada
natrium nitrat), konduktans hanya akan naik semata-mata.
Jika terjadi reaksi ionik, konduktans dapat naik atau turn;
begitulah pada penambahan suatu basa kepada suatu asam
kuat, hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion
hidrogen yang konduktivitasnya tinggi oleh kation lain yang
konduktivitasnya lebih rendah. Ini adalah prinsip yang
mendasari titrasi-titrasi konduktometri yaitu, substitusi ionion dengan suatu konduktivitas oleh ion-ion dengan
konduktivitas yang lain.
Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi,
sedangkan konduktansi bukanlah prosedur titrasi. Metode
konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi titrasi

jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan


sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui.
Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak
elektroda harus tetap. Hantaran sebanding dengan
konsentrasi
larutan
pada
temperatur
tetap,
tetapi
pengenceran
akan
menyebabkan
hantarannya
tidak
berfungsi secara linear lagi dengan konsentrasi. Hendaknya
diperhatikan pentingnya pengendalian temperatur dalam
pengukuran-pengukuran konduktans. Sementara penggunaan
termostat
tidaklah
sangat
penting
dalam
titrasi
konduktometri, kekonstanan dalam temperatur dituntut,
tetapi biasanya kita hanya perlu menaruh sel konduktivitas
itu dalam bejana besar penuh air pada temperatur
laboratorium. Penambahan relatif (dari) konduktivitas larutan
selama reaksi dan pada penambahan reagensia dengan
berlebih, sangat menentukan ketepatan titrasi; pada kondisi
optimum kira-kira 0,5 persen. Elektrolit asing dalam jumlah
besar, yang tak ambil bagian dalam reaksi, tak boleh ada,
karena zat-zat ini mempunyai efek yang besar sekali pada
ketepatan. Akibatnya, metode konduktometri memiliki
aplikasi yang jauh lebih terbatas ketimbang prosedurprosedur visual, potensiometri ataupun amperometri.
Asam salisilat adalah golongan khusus dari asam
hidroksi. Penggunaan utama dari asam salisilat adalah dalam
pembuatan aspirin. Reaksi dengan anhidrida asetat
mengubah gugus hidroksil fenolik dari asam salisilat menjadi
ester asetil, yaitu aspirin :

Kelebihan titrasi konduktometer


a.
titrasi tidak menggunakan indikator, karena pada titik
keivalen sudah dapat ditentukan dengan daya hantar dari
larutan tersebut.
b.
Dapat digunkan untuk titrasi yang berwarna
c.
Dapat
digunakan
untuk
titrasi
yang
dapat
menimbulkan pengendapatan
d.
Lebih praktis
e.
Lebih cepat atau waktu yang diperlukan lebih sedikit
f.
Untuk persen kesalahanya lebih kecil jika dibandingkan
dengan titrasi volumetri
kekurangan titrasi konduktometer
a.
Hanya dapat diterapkan pada larutan elektrolit saja
b.
Sangat dipengaruhi temperatur
c.
Dapat ditunjukka dengan tidak langsung
d.
Peralatan cukup mahal
e.
Jika tidak hati hati maka akan cepat rusak
f.
Tidak bisa digunakan pada larutan yang sangat asam
atau basa karena akan meleleh.
http://navanafaa.blogspot.com/2012/10/laporan-titrasi-konduktometri.html