Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton.
Keberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai keadaan perairan.
Fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas
dan tingkat kesuburan suatu perairan (bioindikator) (Wijaya dan Hariyanti, 2005).
Dalam proses fotosintesisnya, fitoplankton memanfaatkan dan mengubah unsur-unsur
anorganik menjadi bahan organik dengan bantuan cahaya matahari. Kemampuan dalam menyerap
cahaya matahari oleh seluruh permukaan sel menjadikan peranannya lebih penting daripada tanaman
air (Asmara, 2005).
Selain memiliki peranan penting dalam habitatnya, fitoplankton juga memiliki peranan penting
dalam kehidupan manusia, salah satunya dalam bidang kesehatan. Hal ini disebabkan kandungan nilai
gizi yang tinggi yang terdapat pada fitoplankton. Menurut Hasanah (2011), fitoplankton dapat
menambah nilai gizi pada makanan dan mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesehatan
manusia. Biomassa fitoplankton kaya nutrien antara lain asam lemak omega 3 dan 6, asam amino
esensial (leusin, isoleusin, valin, dan lain-lain), dan karoten. Beberapa jenis fitoplankton juga memiliki
kandungan protein yang tinggi. Asam amino pada fitoplankton lebih baik jika dibandingkan dengan
sumber protein makanan yang lain.
Dunaliella salina merupakan salah satu spesies mikroalga dari divisi chlorophyta yang hidup di
lingkungan perairan bersalinitas. Warna sel dari mikroalga ini umumnya berwarna hijau, namun pada
kondisi tertentu selnya mampu berubah menjadi warna jingga hingga merah. Warna jingga pada sel
Dunaliella salina merupakan salah satu kelebihan khusus dari mikroalga ini karena warna jingga
tersebut merupakan salah satu pigmen karatenoid (-caroten) dari tubuhnya yang dikeluarkan untuk
melindungi selnya dari kerusakan akibat kondisi lingkungan yang buruk. Menurut Borowitzka (1990)
kondisi lingkungan yang mampu menyebabkan akumulasi -caroten pada Dunaliella salina dengan
level tertinggi, yaitu konsentrasi salinitas tinggi, suhu tinggi, cahaya yang sangat terang, dan
keterbatasan nutrien (terutama N).Teknologi yang dapat diterapkan untuk memproduksi mikroalga
(Dunaliella salina) salah satunya adalah dengan fotobioreaktor. Fotobioreaktor merupakan suatu
1

sistem/wadah terkontrol dengan penyediaan cahaya sebagai energi tambahan yang mampu digunakan
untuk memproduksi mikroalga dalam sekala kecil, menengah, maupun skala besar. Keunggulan khusus
dari sistem ini adalah proses penerapannya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, serta kondisi
wadah yang dapat kita kontrol secara rutin untuk mencegah dampak negatif yang timbul dari
lingkungan.
Beta Karoten memepunyai manfaat yang banyak diantaranya mampu memenuhi kebutuhan
vitamin A dan juga berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas dalam tubuh, Latar
belakang dari penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan makro nutrient
dan makro nutrient terhadap kandungan (-caroten) Dunaliella salina.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengaruh penambahan nutrien mikro dan makro pada kandungan beta karoten
dalam mikroalga jenis Dunaliella salina
2. Mengetahui Manfaat beta karoten dalam Dunalilella salina
3. Memenuhi Tugas Akhir budidaya Pakan Alami
1.3 Manfaat
1. Dapat mengetahui pengaruh penambahan nutrien mikro dan makro pada kandungan beta
karoten dalam mikroalga jenis Dunaliella salina
2. Dapat mengetahui Manfaat beta karoten dalam Dunalilella salina
3. Dapat memenuhi Tugas Akhir budidaya Pakan Alami

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi dan Klasifikasi Dunaliella salina
2

Secara morfologi, Dunaliella sp. merupakan mikroalga yang bersifat uniseluler, mempunyai
sepasang flagella yang sama panjangnya, sebuah kloroplast berbentuk cangkir, dan tidak memiliki
dinding sel. Dunaliella sering juga disebut sebagai
flagellata uniseluler

hijau (green unicellulair

flagellata). Bentuk selnya juga tidak stabil dan


beragam, dapat berbentuk lonjong, bulat silindris,
ellips, dan lain-lain. Hal ini sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan, pertumbuhan, dan intensitas
sinar matahari. Secara morfologis Dunaliella
menyerupai Tetraselmis sp, Dunaliella memiliki
kloroplas yang mengakumulasi sejumlah besar -carotene. Ukuran selnya bervariasi, tergantung
kondisi pertumbuhan dan intensitas cahaya (Puja et al, 1999). Varian bentuk fitoplankton ini
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti salinitas, intesitas cahaya yang diterima dan temperatur
ruangan selama kultur. Memiliki kemampuan untuk mentoleransi konsentrasi garam yang tinggi.
Dunaliella salina dapat membuat perairan laut menjadi berwarna merah.

Klasifikasi Dunaliella salina sebagai


berikut:
Phylum

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Ordo

: Volvocales

Famili

: Polyblepharidaceae

Genus

: Dunaliella

Spesies

: Dunaliella salina

2.2 Habitat
Dunaliella memiliki kisaran toleransi pH yang luas mulai dari pH 1 (Dunaliella acidophila)
sampai pH 11 (Dunaliella salina). Demikian halnya juga dengan suhu, mulai dari 35 C sampai 40 C.
Spesies Dunaliella sp. dapat tumbuh optimal pada pH 6-6,5 dan kisaran suhu antara 22-25 C dengan
salinitas air 30-35 %. Dunaliella termasuk kelompok Chlorophyceae (alga hijau) yang mengandung
klorofil a dan b serta karotenoid yang umumnya berupa -karoten.
3

Secara umum Dunaliella mampu tumbuh pada berbagai tingkat kadar garam, dengan kisaran
salinitas 30 100 ppt bahkan 140 ppt, meski jumlah sel yang dicapai pada setiap kadar garam berbeda,
kadar garam nampaknya bukan merupakan faktor pembatas bagi kelangsungan hidup Dunaliella.
Osmoregulasi yang terjadi pada Dunaliella sp. berdasarkan pada kemampuan sel untuk mensintesa
secara terus menerus dan menurunkan kadar gliserol dalam merespon berbagai kondisi salinitas
lingkungan. Mutu air yang sesuai untuk menunjang pertumbuhan Dunaliella sp yaitu suhu 22o 26o
C, salinitas 30 38, pH 6 6,5 (Redjeki dan Ismail, 1993).
2.3 Reproduksi
Reproduksi dilakukan secara vegetatif dan generatif. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan
pembelahan secara memanjang. Saat proses pembelahan inti, maka pirenoid akan melebar melintang
dan menyebabkan dua flagella saling berjauhan. Pada pirenoid dan kloroplas akan terbentuk suatu
lekukan yang kemudian akan membelah dan menjadi individu-individu baru, masing-masing dengan
satu flagella dan satu sel anak yang belum mempunyai stigma. Stigma yang terbentuk ini merupakan
hasil proses metamorfosis dari kromatofora (Tjahjo, et al., 2002).
Reproduksi seksual terjadi dengan cara melakukan isogami melalui konjugasi. Zigot berwarna
merah atau hijau dikelilingi oleh dinding sporollenin yang halus dan sangat tipis. Nukleus zigot akan
membelah secara meiosis. Pembelahan ini terjadi setelah tahap istrahat dan terbentuk lebih dari 32 sel
yang dibebaskan melalui retakan atau celah pada dinding sel induk (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).
2.4 Nilai Nutrisi
Genus Dunaliella banyak dimanfaatkan sebagai pakan yang menyehatkan seperti halnya dengan
Chlorella karena kandungan proteinnya yang tinggi. Komposisi kimia Dunaliella dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi kimia Dunaliella
Senyawa Kimia
Kadar (%)
Protein
47,43
Karbohidrat
35,11
Lemak
9,06
Abu
18,12
Thn 2000, hasil analisis dalam % bk (Sumber: Tjahjo et al. 2002)

Hasil kadar proksimat yang diperoleh untuk sampel D. salina ialah kadar abu sebesar 58,29%,
kadar air 15,58%, kadar protein 17,08%, kadar lemak 0,003% dan kadar karbohidrat total 15,07%,
sedangkan total karoten 0,19 ppm, Asam amino esensial (histidin, threonin, arginin, metionin,
fenilalanin, valin, isoleusin, leusin, dan lisin) dan asam amino non-essensial terdiri dari (asam aspartat,
asam glutamat, serin, glisin, alanin, dan tirosin ).
Spesies dari genus Dunaliella ini cukup banyak dan telah dimanfaatkan diantaranya Dunaliella
viridis, D. primolecta, D. salina, D. acidophila,

D. bardawil, D. parva, dan Dunaliella sp.

Pemanfaatan Dunaliella cukup beragam mulai dari sebagai makanan kesehatan seperti yang telah
dipasarkan di negara-negara maju, Dunaliella salina juga sebagai jasad pakan yang cukup baik dan
mendapat perhatian besar di beberapa negara seperti Australia, Amerika,

dan Israel karena

menghasilkan gliserol dan -karoten (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995). Selain itu, Chang et al.
(1993) menyebutkan bahwa Dunaliella primolecta, Dunaliella tertiolecta, Dunaliella sp. berpotensi
sebagai antibakteri.
D. salina yang dipanen tanpa pelarut berbahaya atau bahan kimia dan karotenoid (pigmen anti
oksidan yang sangat berharga yang bertanggung jawab atas warna merah) kemudian diekstraksi untuk
digunakan dalam obat-obatan, kosmetik, suplemen gizi, pakan budidaya dan pewarna makanan. D.
salina memiliki beberapa aplikasi dalam budidaya, sebagai satu-satunya sumber makanan bagi filter
feeder, makanan aditif bagi banyak ikan dan spesies Crustacea, serta pengganti mikro-ganggang hijau
tradisional dalam sistem 'air hijau'.
2.5 Sifat ekologi
Dunaliella salina bersifat halopilik, yaitu menyukai kondisi lingkungan yang mempunyai
salinitas tinggi. Alga ini merupakan organisme eukariotik yang paling tahan terhadap kisaran salinitas
yang lebar. Toleransi terhadap kadar garam sangat menakjubkan, karena dapat tumbuh baik pada kadar
garam air laut normal akan tetapi masih dapat bertahan hingga pada kondisi NaCI jenuh, sekitar 31
persen. Salinitas optimum untuk pertumbuhan alga ini berkisar antara 18-22% NaCI. akan tetapi agar
produksi karotenoid optimal membutuhkan media yang bersalinitas lebih besar dari 27 persen NaCI.
Phytoplankton ini juga bersifat eurythermal, yaitu toleran terhadap kisaran suhu yang lebar.
Ketahanan terhadap suhu sangat menakjubkan, karena dapat bertahan pada suhu rendah hingga di
bawah titik beku dan baru bersifat mematikan apabila suhu di atas 40 oC,. suhu optimal untuk
5

pertumbuhan phytoplankton ini berkisar antara 200 400C, tergantung strainnya. Plankton ini akan
tumbuh optimal pada pH 9, tetapi masih dapat bertahan hidup pada perairan yang mempunyai pH 11.

2.6 Karotenoid
Karotenoid adalah pigmen organik yang ditemukan dalam kloroplas dan kromoplas tumbuhan
dan kelompok organisme lainnya seperti alga (ganggang), sejumlah bakteri (fotosintentik maupun
tidak), dan beberapa fungsi (non fotosintetik). Karotenoid dapat diproduksi oleh semua organisme
tersebut dari lipid dan molekul-molekul penyusun metabolit organik dasar. Organisme heterotrof
sepenuhnya, seperti hewan, juga memanfaatkan karotenoid dan memperolehnya dari makanan yang
dikonsumsinya.
Ada dua kelompok besar karotenoid, yaitu xantofil (karotenoid yang membawa atom oksigen)
dan karotena (karotenoid yang murni hidrokarbon, tidak memiliki atom oksigen). Semua karotenoid
adalah tetraterpenoid karena terbentuk dari delapan molekul isoprena sehingga memunyai 40 atom
karbon.
Sebagai pigmen, karotenoid pada umumnya menyerap cahaya biru dan memantulkan warnawarna berpanjang gelombang besar (merah sampai kuning kehijauan). Pewarna alami pada kisaran
merah, jingga, sampai kuning banyak yang merupakan anggotanya, seperti likopena, karotena, lutein,
dan zeaxantin.

Zat-zat

inilah

yang

biasanya

menyebabkan

warna merah, kuning atau jingga pada buah dan sayuran. Peran terpenting karotenoid dalam proses
fisiologi adalah sebagai zat antioksidan dan penghantar elektron dalam fotosintesis. Selain itu,
beberapa karotenoid dapat diubah menjadi vitamin esensial.

2.7 Karakteristik umum Karotenoid


Karotenoid termasuk dalam tetraterpenoid, suatu senyawa rantai panjang dengan 40 atom karbon,
yang dibentuk dari empat unit terpena (masing-masing terdiri dari 10 atom karbon). Secara struktural,
karotenoid

berbentuk

rantai

hidrokarbon poliena yang

kadang-kadang

di

bagian

ujungnya

terdapat gugus cincin dan mungkin memiliki atom oksigen. Namanya berasal dari kata carotene yang
ditambah sufiks -oid, dan berarti "senyawa-senyawa sekelompok atau mirip dengan karotena".

Karotenoid dengan molekul yang mengandung oksigen, seperti lutein dan zeaxantin, dikenal
sebagai xantofil sedangkan karotenoid yang tidak mengandung oksigen seperti -karotena, -karotena,
dan likopena dikenal sebagai karotena. Karotena hanya mengandung karbon dan hidrogen
(hidrokarbon), dan merupakan hidrokarbon tak jenuh karena memiliki ikatan rangkap di antara dua
atom karbon.
Ada lebih dari 600 karotenoid yang dikenal. Manusia dapat menyerap dan membawa sekitar 25
jenis karotenoid ke dalam aliran darah. Karotenoid yang paling banyak dikenal sesuai dengan namanya
ditemukan dalam akar tunggang wortel (bahasa Latin Vulgar, carota) dan menghasilkan warna jingga
terang akibat kandungan beta-karotena. Sumber beta-karotena yang juga umum dikenal adalah
berbagai jenis waluh. Minyak sawit mentah adalah sumber karotenoid alam dengan nilai
kesetaraan retinol (provitamin A) yang tertinggi. Buah tepurang diketahui mengandung konsentrasi
likopena tertinggi, meskipun sumber yang paling dikenal orang adalah buah tomat. Karotenoid yang
paling biasa ditemukan di alam adalah likopena dan -karotena.
Warna yang dihasilkan karotenoid beragam, mulai dari kuning pucat, jingga terang, sampai
merah tua, yang secara langsung terkait dengan struktur kimia masing-masing. Xantofil umumnya
menghasilkan warna kuning, sesuai dengan nama kelas yang diberikan (bahasa Yunani
Kuna , xanthos, berarti "kuning"). Warna terjadi karena atom-atom karbon ikatan rangkap
berinteraksi satu sama lain dalam proses yang disebut konjugasi, yang memungkinkan elektron dalam
molekul untuk bergerak bebas akibat terjadinya resonansi ikatan rangkap. Seiring dengan peningkatan
jumlah ikatan rangkap, elektron-elektron yang terkait dengan sistem terkonjugasi memiliki lebih
banyak ruang untuk bergerak, dan membutuhkan energi lebih sedikit untuk mengubah strukturnya. Hal
ini menyebabkan penurunan energi cahaya yang diserap oleh molekul. Semakin tinggi frekuensi
cahaya yang diserap dari ujung pendek spektrum yang terlihat, akan menghasilkan penampilan
senyawa yang semakin merah.
2.8 Peran fisiologi
Karena susunan molekulnya memungkinkan terjadinya konjugasi, karotenoid aktif mereduksi
berbagai oksidan (senyawa yang berperan sebagai oksidator). Bagian kromofor molekulnya, yang
menyebabkan dihasilkannya warna khas karotenoid, berperan besar sebagai penghantar elektron pada
proses transfer energi, seperti pada fotosintesis.

Hewan
7

Karotenoid memiliki banyak fungsi fisiologi pada hewan. Melihat strukturnya, karotenoid sangat
efisien menangkal radikal bebas dan juga meningkatkan sistem kekebalan tubuhvertebrata. Ada
beberapa lusin karotenoid dalam makanan yang dikonsumsi manusia dan sebagian besar
merupakan antioksidan yang berguna bagi kesehatan. Studi epidemiologi telah menunjukkan bahwa
asupan -karotena tinggi dan tingkat -karotena di plasma darah yang tinggi secara signifikan dapat
mengurangi resiko kanker paru-paru. Namun, penelitian suplementasi dengan dosis -karotena tinggi
pada perokok malah menunjukkan peningkatan risiko kanker (kemungkinan karena dosis -karotena
yang berlebihan menghasilkan produk pemecahan yang mengurangi plasma vitamin A dan
memperburuk proliferasi sel paru-paru yang disebabkan oleh asap). Hasil serupa juga telah ditemukan
pada hewan lainnya.
Sebagian besar hewan, termasuk manusia, tidak mampu menyintesis karotenoid dan
mendapatkannya melalui asupan makanan. Perkecualian adalah afid Acyrthosiphon pisum, yang
memiliki kemampuan sintesis karotenoid bernama torulena oleh gen yang diduga telah diperolehnya
dari fungi (jamur) melalui proses transfer gen horizontal.
Karotenoid umum ditemukan pada hewan dan kebanyakan memiliki peran sebagai hiasan, seperti
warna

merah

muda

pada flamingo dan ikan

salem,

dan

warna

merah

jingga

pada lobster atau udang masak. Peran sebagai hiasan (ornamen) ditunjukkan oleh burung puffin. Warna
yang dihasilkan karotenoid menjadi semacam indikator bagi kesehatan individu, dan berguna untuk
memilih pasangan potensial dalam perkawinan.

Penyakit
Beberapa karotenoid yang diproduksi oleh bakteri berfungsi untuk melindungi diri dari serangan

kekebalan oksidatif. Pigmen warna emas yang ditemukan pada beberapa strainStaphylococcus
aureus sesuai dengan nama yang diberikan (aureus : keemasan) adalah karotenoid yang
disebut stafiloxantin. Jenis karotenoid ini menentukan faktor virulensi melalui tindak antioksidan yang
membantu mikroba tersebut bertahan dari spesies oksigen reaktif yang digunakan oleh sistem
kekebalan dalam tubuh inang.

Sintesis Buatan
Mikroorganisme (menggunakan urutan gen dipatenkan) dapat digunakan untuk menghasilkan

karotenoid yang lebih murni daripada karotenoid alami, termasuk likopena dan beta-karotena.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengaruh pembatasan mikronutriendan makronutrien dalam produksi Carotenoids dari
Dunaliella salina
Dalam proses ekstraksi in situ Beta-Carotene dari Dunaliella salina, hubungan kasuS lantara
ekstraksi carotenoid dengan kematian sel mengindikasikan jika pertumbuhan sel dan kematian sel
9

seharusnya padatitik equilibrium agar dapat terjadi ekstraksi berkelanjutan. Pada photobioreactor
dengan panel datar yang dioperasikan sebagai turbidostat jumlahsel yang di beri perlakuan stress
diperthankan selama diberi paparan intenistas cahaya secara berkelanjutan. Dengan caraini dapat
memungkinkan untuk mempelajari keseimbangan antara pertumbuhan sel dan kematian sel dan
menentukan apakah keduanyadapat meningkatkan tinggi volumetric produksidari carotenoid.
Dalam studi ini dikombinasikan ekstraksi in situ dengan kultivasi biomass dalam turbidostat
yang terkontrol pada panel datar photobioreactor. Setelah growth phase untuk mendapatkan level
biomass yang tinggi, sel diberikan perlakuan stress dengan mengaplikasikan paparan cahaya dengan
intensitas tinggi. Sel yang mengalami stress selama 4 jam akan membuat ukuran sel membesar dan
secara simultan akan menghasilkan peningkatan produksi carotenoid. Turbidostatdinyalakan setelah
ukuran sel dan kandungan carotenoid mencapai level maksimum agar dapat membuat jumlah sel dari
sel yang diberi perlakuan stress tetap konstan (24 jam setelah memaparkan cahaya intensitas tinggi).
Lebih lanjut, dodecane ditambahkan sebagai fase organic sebelumfase aqueous dan memompa melalui
reactor untuk menghasilkan area kontak tinggi diantara fase organic dan fase aqueous.
Beta-Carotene diekstraksi dari fase aqueous ke fase organic dengan rate ekstraksi sebesar 2.75
mg -carotene Ldod-1 d-1. Saat reactor dioperasikan untuk menjaga turbiditas konstan dengan cara
memompa medium kedalam reactor selama volume total aqueous tetap konstan melalui tabung
overflow. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah sel dan penurunan ukuran sel sampai kondisi stabil
tercapai.
Turbidostat merupakan system yang berguna untuk mempelajari keseimbangan antara
pertumbuhan seldan kematian sel. Secarasimultan system dua fase diaplikasikan untukekstraksi in situ
dari carotenoid yang dihasilkan biomass. Setelah ekstraksi carotenoid yang memicu kematian sel, nilai
dilusi tinggi diperlukan untuk memastikan jumlahsel yang konstan. Produktifitas harian terhitung 8.3
mg -carotene Lgv-1d-1dimana hasil ekstraksi utama dalam proses ini bukan dari hasil in situ namun
dari produksi net dari biomass yang kaya carotenoid. Pada turbidostat tanpaekstraksi in situ
produktifitas volumetric mencapai 13.5 mg -carotene Lgv-1d-1. Dalam kedua system carotenoid yang
dihasilkan masih harus diekstraksi.

Terdapat beberapa kelemahan pada proses dua fase, yaitu menurunnya pertumbuhan karena
oksigen tinggi dan masalah cahaya yang dapat mendegradasi carotenoid. Formasi emulsi dan
akumulasi oksigen dapat bertambah parah ketika proses scale up karena rasioantara area dan volume
10

akan berkurang. Makadapatdikonklusikan bahwa system duafase untuk memperoleh carotenoid dari
tidak cocok untuk ekstraksi in situ Selain itu diketahui jika ukuran sel dan jumlah sel yang tetap
konstan dapat meningkatkan produksi carotenoid. Kombinasi proses fermentasi dan ekstrasi dalam satu
tahap merupakan langkah yang lebih tepat untuk mendapatkan -carotene.

3.2 Resume Jurnal Kelompok 1 mata kuliah BPA


Karotenoid merupakan pigmen yang paling umum terdapat dialam dan disintesis oleh semua
organism fotosintetik dan fungi (Vlchez et al., 2011). Karotenoid berasal dari kelas terpenoid, berupa
rantai poliena dengan 40 karbon yang di-bentuk dari delapan unit isoprena C5, yang memberikan
struktur molekul karotenoid yang khas (del Campo et al.,2007).Karotenoid dikelompokan menjadi 2
kelompok: (1) karoten,yang merupakan kelompok hidrokarbon (C40H56) dan (2) xantofil, yang
merupakan turunan karoten teroksigenasi(Gross,1991). Semua xantofil disintesis oleh tanaman tinggi,
sementara violaxantin, anteraxantin, zeaxantin, neoxantin dan lutein, juga dapat disintesis oleh
mikroalgae.
Hingga saat ini telah teridentifikasi 700 jenis karotenoid ber-dasarkan perbedaan struktur
molekulnya (Britton et al.,1995).Sumber karotenoid yang paling penting berasal dari tumbuhan(Zeb
dan Mehmood, 2004). Pada tumbuhan dan algae, karotenoid memegang peranan penting dalam proses
foto-sintesis bersama dengan klorofil. Sebagai pigmen yang jumlah-nya berlimpah di alam, karotenoid
juga memiliki manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Karotenoid memberikan kontribusi
yang besar bagi berbagai sektor kehidupan terutama sebagai sumber vitamin A yang bermanfaat bagi
organ visual, pewarna makanan, bahan aditif pada makanan, penambah sel darah merah, antioksidan,
anti

bakteria,

meningkatkan

imunitas,

serta

pengganti

sel-sel

yang

rusak

(Ndiha

dan

Limantara,2009;Kusmiati et al.,2010).
Berdasarkan beberapa hasil penelitian, algae merupakan salah satu penghasil karotenoid
terbesar. Karotenoid algae menujukkan keragaman struktur dan sekitar 100 karotenoid yangberbeda
telah ditemukan pada algae (Britton et al., 1995).Lebih dari 40 karoten dan xantofil telah diisolasi dan
dikarakterisasi dari mikroalga (Jin et al., 2003). Review ini akan memfokuskan pada jenis-jenis
karotenoid yang bersumber dari makrodanmikro algae, potensinya bagi kesehatan, aplikasi sertabioteknologi yang dikembangkan untuk peningkatan produksi bio-pigmen dari algae.

Mikroalgae penghasil karotenoid


11

Menurut del Campo et al. (2007), microalgae merupakan sumber alami untuk berbagai senyawa
penting,termasuk pigmen. Selain xantofil utama, mikroalgae dapat mensintesis xantofil tambahan,
misalnya, loroxantin, astaxantindankastaxantin. Beberapa jenis mikroalgae hijau seperti Dunalielaspp
dan Haemotococcus pluvialis (Gambar 1), dapat menjadi merah ketika mengakumulasi karotenoid
dengan konsentrasi tinggi pada kondisi yang sesuai.Jenis-jenis microalgae yang kini telah dikultur
untuk dimanfaatkan antara lain:

Dunaliela spp
Dunaliella merupakan mikroalga hijau yang memiliki kemampuan untuk mengakumulasi
jumlah -karoten alami dalam jumlah sangat tinggi pada beberapa kondisi stres seperti keterbatasan
nitrogen atau konsentrasi garam tinggi dan terkena intensitas cahaya tinggi (El Baz et al., 2002; Abd
El-Baky etal.,2004;Rajaetal.,2007).Hasil penelitian yang dilakukan olehAbd El-Baky et al. (2007b),
ditemukan bahwa Dunaliella salina mengakumulasi jumlah karotenoid yang tinggi (12,6%,berat
kering), termasuk -karoten (60,4% dari karotenoid total), astaxantin (17,7%), zeaxantin (13,4%),
lutein (4,6%),dan kriptoxantin (3,9%), ketika di budidayakan di bawah kondisi stress salinitas dan
dikombinasikan dengan tingkat nitrogen rendah.
Haemotococcuspluvialis
Mikroalga lain yang dapat menghasilkan pigmen adalah H.pluvialis, biflagelata dengan sel
berbentuk bola, elips, atau berbentuk buah pir. H. pluvialis merupakan salah satu alga yang mensintesis
dan mengakumulasi astaxantin konsentrasi tinggi dialam, 1000-3000 kali lipat lebih tinggi
dibandingkan fillet salmon, dan sekarang telah dibudidayakan pada skala industri.Akumulasi
astaxantin terjadi akibat respon terhadap tekanan lingkungan terutama intensitas cahaya yang tinggi,
kurangnya udara, nitrogen, terbatasnya fosfat dan kadar garam. H.pluvialis mengandung astaxantin
sebanyak 1,5-3% berat kering dalam kondisi stres. Kandungan karotenoid H. pluvialis sekitar70%
berupa monoesters astaxantin, 10% diester astaxantin,5% astaxantin bebas, dan 15% sisanya terdiri
dari campuran b-karoten, kantaxantin, lutein dan karotenoid lainnya. Meskipun lebih dari 95% dari
pasar mengkonsumsi astaxantin sintetik, namun permintaan konsumen untuk produk-produk alami
telah mendukung produksi astaxantin alami dari Haematococcus(Cysewski dan Lorenz,2004).

Spirulina (Spirulina platensis)


Alga hijau-biru Spirulina (Spirulina platensis), merupakan sumber fikobiliprotein khususnya
12

fikosianin, yang dapat mencapai 17-20% dari berat kering sel Spirulina(Chastenholz,1989 dalam Hu,
2004). Spirulina memiliki bentuk spiral kumparan. Nama Spirulina adalah nama umum suplemen
makanan manusia dan hewan yang dihasilkan terutamadaridua spesies Spirulina: Spirulina platensis
dan Spirulina maxima.Spirulina juga mengakumulasi -karoten lebihdari 0,8-1,0% berat keringnya.
Kromatogram KCKT dari S. plantensisme- nunjukkan adanya kandungan -karoten (39,12 g/g),
astaxantin (5,61 g/g), lutein (0,30 g/g), zeaxantin (1,56g/g)dan kriptoxantin (1,69 g/g) sebagai
komponen karotenoid utama bersama dengan karotenoid lain (Abd El-Baky etal.,2007a).

Gambar 1. Mikroalga penghasil pigmen: Dunaliela spp.(a), Haemotococcus pluvialis (b), Chlorella
(c),Spirulina platensis(d)
Karotenoid dari makroalgae
Makroalgae adalah salah satu sumber daya laut yang penting untuk pangan,pakan dan obat
sejak zaman kuno di Barat (Kumar, 2009). Makroalgae dikelompokkan dalam tiga divisi utama
yaitu Chlorophyceae (alga hijau), Phaeoeae (algaphyc coklat) dan Rhodophyceae (algamerah)

13

Dunaliella sp.
Secara

morfologi,Dunaliellasp.

merupakan

mikroalga

yang

bersifat

uniseluler,

mempunyai sepasang flagella yang sama panjangnya, sebuah kloroplast berbentuk cangkir, dan
tidak memiliki dinding sel. Dunaliella sering juga disebut sebagai flagellata uniseluler hijau
(green unicellulair flagellata).
Bentuk selnya juga tidak stabil dan beragam, dapat berbentuk lonjong, bulat silindris,
ellip, dan lain-lain. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, pertumbuhan, dan
intensitas sinar matahari (Isnansetyo dan Kurniastuty, 2005). Dunaliella memiliki kisaran
toleransi pH yang luas mulai dari pH 1 (Dunaliella acidophila) sampai pH 11 ( Dunaliella
salina). Demikian halnya juga dengan suhu, mulai dari -35 C sampai 40 C. Spesies
Dunaliellasp. dapat tumbuh optimal pada pH 6-6,5 dan kisaran suhu antara 22-25 C dengan
salinitas air 30-35 (Redjeki dan Ismail 1993 diacu dalam Tjahjoet al.2002).Dunaliella
termasuk kelompok Chlorophyceae(alga hijau) yang mengandung klorofil a dan b serta
karotenoid yang umumnya berupa -karoten (Borowitzka dan Borowitzka 1998). Klasifikasi
Dunaliella(Bougis 1979 diacu dalam Isnansetyo dan Kurniastuty 2005), sebagai berikut:
Phylum

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Ordo

: Volvocales

Famili

: Polyblepharidaceae

Genus

:Dunaliella
Reproduksi dilakukan secara vegetatif dan generatif. Reproduksi secara aseksual terjadi

dengan pembelahan secara memanjang. Saat proses pembelahan inti, maka pirenoid akan
melebar melintang dan menyebabkan dua flagella saling berjauhan. Pada pirenoid dan kloroplas
akan terbentuk suatu lekukan yang kemudian akan membelah dan menjadi individu-individu
baru, masing-masing dengan satu flagella dan satu sel anak yang belum mempunyai stigma.
Stigma yang terbentuk ini merupakan hasil proses metamorfosis dari kromatofora (Tjahjoet al .,
2002). Reproduksi seksual terjadi dengan cara melakukan isogami melalui konjugasi. Zigot
berwarna merah atau hijau dikelilingi oleh dinding sporollenin yang halus dan sangat tipis.
Nukleus zigot akan membelah secara meiosis. Pembelahan ini terjadi setelah tahap istrahat dan

terbentuk lebih dari 32 sel yang dibebaskan melalui retakan atau celah pada dinding sel induk
(Isnansetyo dan Kurniastuty, 2005)
Menumbuhkan atau mengkultur mikroalga dari tiga spesies yaitu Spirulina sp.,Chlorella sp. Dan
Dunaliella sp., dalam skala laboratorim. Sebagai bahan digunakan pupuk urea, pupuk za sebagai
nutrisi bagi mikroalga yang berperan sebagai sumber unsur hara. Unsur hara yang dibutuhkan
mikroalga terdiri atas unsur hara makro (N, P, K, S, Fe, Mg, Si dan Ca) dan unsur hara mikro
(Mn, Zn, Co, Bo, Mo, B, Cu, dan lain-lain), air jernih sebagai tempat hidup mikroalga yang
semuanya dimasukan ke dalam botol air mieral 1,5 liter setelah semuanya siap barulah
dimasukan biakan murni dari mikroalga Spirulina sp.,Chlorella sp. dan Dunaliella sp. Botolbotol tersebut diletakan di dalam laboratorium Teknologi Hasil Perikanan. Ketika akan dilakukan
pengamatan, ternyata kultur mikroalga yang sudah dilakukan tidak berhasil, dimana dari keenam
botol berisi kultur mikroalga tidak ada satupun mikroalga yang berhasil dikultur,hasil yang
didapat adalah berupa air keruh berwarna coklat yang kemungkinan merupakan koloni-koloni
mikroba sehingga tidak didapatkan perhitungan diameter sel dari mikroalga. Kelompok kami
khususnya mengkultur makroalga dari jenis Dunaliella sp. dan kultur kami juga tidak berhasil
dilakukan. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan dalam kultur mikroalga ini. Berdasarkan
literatur disebutkan bahwa kultur mikroalga dalam skala laboratorium biasanya memerlukan
kondisi lingkungan yang terkendali. Pertumbuhan mikroalga sangat erat kaitannya dengan
ketersediaan hara makro dan mikro serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Faktor-faktor
lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroalga, antara lain cahaya, suhu, pH air,
dan salinitas (Isnansetyo dan Kurniastuty, 2005). Sehingga dapat dipastikan kegagalan dalam
praktikum ini diakibatkan kondisi lingkungan yang tidak terkendali. Faktor lainnya yaitu dari
segi nutrisi bagi mikroba. Unsur hara yang dibutuhkan mikroalga terdiri atas unsur hara makro
(N, P, K, S, Fe, Mg, Si dan Ca) dan unsur hara mikro (Mn, Zn, Co, Bo, Mo, B, Cu, dan lainlain.). Setiap unsur hara mempunyai fungsi-fungsi khusus yang ditunjukkan pada pertumbuhan
dan kepadatanyang dicapai. Unsur N, P, dan S penting untuk pembentukan protein. Nitrogen
yang dibutuhkan untuk media kultur dapat diperoleh dari: KNO3, NaNO3, NH4Cl, dan lain-lain.
Fosfor juga merupakan bahan dasar pembentuk asam nukleat, enzim, dan vitamin. Unsur fosfor
dapat diperoleh dari KH2PO4, NaH2PO4, Ca3PO4 dan unsur sulfur dapat diperoleh dari NH4SO4,
CuSO4 (Tjahjoet al . 2002).

Kemungkinan unsur hara yang disediakan dalam praktikum ini kurang mencukupi untuk
menunjang pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroalga. Mikroalga merupakan organisme
autotrof yang mampu membentuk senyawa organik dari senyawa anorganik melalui proses
fotosintesis. Keberadaan cahaya menentukan bentuk kurva pertumbuhan bagi mikroalga yang
melakukan fotosintesis. Cahaya matahari dapat diganti dengan sinar lampu TL dan kisaran
optimum intensitas cahaya bagi mikroalga antara 2000-8000 lux. Pada mikroalga hijau, pigmen
yang menyerap cahaya adalah klorofil a, disamping pigmen lain seperti karotenoid dan xantofil
(Tjahjoet al. 2002). Pada praktikum inii tidak disediakan lampu yang sesuai untuk pencahayaan
bagi pertumbuhan mikroalga, hal ini juga mendukung tidak tumbuhnya mikroalga. Dari segi
suhu di dalam laboratorium, suhu secara langsung mempengaruhi efesiensi fotosintesis dan
faktor yang menentukan dalam pertumbuhan. Pada kondisi laboratorium, perubahan suhu air
dipengaruhi oleh temperatur ruangan dan intensitas cahaya. Suhu optimum untuk kultur
mikroalga di laboratorium antara 25-32oC.
Kenaikan temperatur akan meningkatkan kecepatan reaksi. Umumnya setiap kenaikan
10oC dapat mempercepat reaksi 2-3 kali lipat. Akan tetapi, temperatur tinggi yang melebihi
temperatur maksimum akan menyebabkan proses metabolisme sel terganggu. Sehingga dengan
suhu di laboratorium yang tidak diatur menyebabkan

proses metabolisme sel mikroalga

terganggu. Proses fotosintesis mengambil karbondioksida terlarut dari dalam air, yang berakibat
penurunan kandungan CO2terlarut di air. Penurunan ini akan meningkatkan pH berkaitan dengan
kesetimbangan CO2terlarut, bikarbonat (HCO3-) dan ion karbonat (CO22-) dalam air. Oleh karena
itu, laju fotosintesis akan terbatas oleh penurunan karbon dalam hal ini karbondioksida.
Umumnya pH optimum bagi pertumbuhan mikroalga adalah 8-8,5. Fluktuasi salinitas secara
langsung menyebabkan perubahan tekanan osmosis di dalam sel mikroalga. Salinitas yang tinggi
atau rendah dapat menyebabkan tekanan osmosis di dalam sel juga menjadi lebih rendah atau
lebih tinggi sehingga aktivitas sel menjadi terganggu. Hal ini dapat mempengaruhi pH sitoplasma
sel dan menurunkan kegiatan enzim di dalam sel. Salinitas optimum bagi pertumbuhan
mikroalga antara 25-35 . Sedangkan dalam praktikum ini tidak ada penyesuaian ph dan
salinitas, sehingga wajar jika kultur mikroalga tidak berhasil tumbuh. Khususnya untuk spesies
Dunaliella memiliki kisaran toleransi pH yang luas mulai dari pH 1 (Dunaliella acidophila)
sampai pH 11 (Dunaliella salina). Demikian halnya juga dengan suhu, mulai dari -35C sampai

40C. Spesies Dunaliellasp. dapat tumbuh optimal pada pH 6-6,5 dan kisaran suhu antara 2225C dengan salinitas air 30-35

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Pengurangan makro dan mikro nutrien pada kondisi ekstrem selama kultur Dunaliella
salina memberikan pengaruh yang siginifikan terhadap produksi -karoten dan yang paling
optimal adalah penghilangan nutrien makro nitrogen dengan nutrien mikro besi (Fe), mangan
(Mn), dan seng (Zn)
Peningkatan kadar -karoten juga dapat dilakukan dengan penambahan turbidostat pada
kultur massal untuk mempertahankan titik keseimbangan antara sel yang hidup dengan sel yang
mati sehingga kultur kontinu tetap dapat berjalan

4.2 SARAN
Dianjurkan untuk penggunaan turbidostat dalam melkukan kultur massal mikroalga
Dunaliella salina dikarenakan memiliki keunggulan dibanding dengan system lain

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Desilina. 2014. Diktat Teknologi Pakan Ikan. Kementerian Kelautan dan

Perikanan.

Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri Waiheru : Ambon


Darsi, Radyanti; A. Supriadi; A. D. Sasanti. 2012. Karakteristik Kimiawi dan

Potensi

Pemanfaatan Dunaliella salina dan Nannochloropsis sp. Fishtech. 1(1): 14-25


S, Astrid Tjokorde; B. S. Rahardja; E. D. Masithah. 2013. Pengaruh Konsentrasi

Pupuk

Lemna minor Terhadap Populasi Dunaliella salina. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 5(1):
62-66
Widyaya,fifi.2004. Pendayagunaan Rotifera yang Diberi Pakan Alami Berbagai Jenis
Mikroalgae. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan Dan Perikanan Indonesia. 11 (1): 23-27
Yudha, A. Parna. 2008. Senyawa Antibakteri Dari Mikroalga Dunaliella Sp. Pada Umur
Panen Yang Berbeda. Skripsi. FPIK. IPB : Bogor