Anda di halaman 1dari 56

FARMASETIKA

DASAR

OLEH :
Dra. HJ. Faridha yenny nonci,
M.Si., Apt

PENDAHULUAN
Sediaan adalah hasil pencampuran
atau formulasi bahan obat, dasar dan
bahan pembantu menjadi bentuk yang
telah dirancang sebelumnya sehingga
dapat menghasilkan kerja obat.
Farmasetika
dasar
adalah
pengetahuan dasar yang diperlukan
dalam menyiapkan sediaan-sediaan
farmasi dan sekaligus merupakan dasar
dari teknologi farmasi.

BAHAN PENAMBAH
Pemilihan bahan penambah sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu :
Bentuk sediaan yang diinginkan
Tujuan pengobatan
Jenis dan sifat bahan obat
Penampilan yang diinginkan
Harga
stabilitas

DEFINISI DAN ISTILAHISTILAH OBAT


Obat adalah bahan atau paduan bahan yang

berasal dari alam, sintesis atau mineral yang


digunakan untuk diagnosis, memperbaiki,
menyembuhkan penyakit atau kelainan tubuh
atau bagian tubuh manusia atau hewan,
termasuk promosi kesehatan.
Obat jadi adalah sediaan atau paduan bahan
yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
penyembuhan,
pemulihan,
peningkatan
kesehatan atau kontrasepsi.

Obat

tradisional adalah bahan atau


ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, hewan, mineral sediaan sarian
(galenik) atau campuran dari bahan
tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan berdasarkan
pengalaman.
Obat
generik
adalah
obat
yang
penamaannya sesuai dengan nama resmi
yang
tercantum
dalam
Farmakope
Indonesia (FI) atau Internasional Non
Property Names ( INN).
Obat paten adalah obat yang nama trades

Obat Palsu
Diproduksi oleh yang

tidak berhak berdasarkan


peraturan Perundanganundangan yang berlaku
Obat yang tidak terdaftar
Obat yang zat khasiatnya
menyimpang 20 % dari
kadar yang ditetapkan.

Sediaan farmasi adalah obat,

bahan obat, obat tradisional dan


kosmetika
Perbekalan farmasi adalah obat,
bahan obat, obat asli Indonesia,
alat kesehatan dan kosmetika
Obat wajib apotik adalah obat
keras tertentu yang dapat
diserahkan kepada penderita
tanpa resep dokter, pada waktu

PENGGOLONGAN OBAT
Obat berdasarkan tujuan pemakaiannya
dapat digolongkan dalam tiga macam yaitu
:
Obat bersifat Profilaksis
Obat yang bersifat Terapeutik (kuratif)
Obat yang digunakan untuk Promotip
Sedangkan berdasarkan cara atau jenis
pemakaiannya digolongkan dalam dua
jenis yaitu :
Obat dalam

Penggolongan obat yang lain


dimaksudkan untuk peningkatan
keamanan dan ketepatan serta
pengamanan distribusi terdiri dari:
Obat bebas
Obat bebas terbatas
Obat wajib Apotik
Obat keras
Psikotropika
Narkotika

KELARUTAN
Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut
adalah kelarutan pada suhu 20C (FI III) atau 25 (FI IV).
Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 g
zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah ml pelarut.

ISTILAH KELARUTAN
Sangat mudah larut < 1 bagian
Mudah larut 1 - 10 bagian
Larut 10 - 30 bagian
Agak sukar larut 30 -100 bagian
Sukar larut 100 -1.000 bagian
Sangat sukar larut 1.000 -bagian
Praktis tidak larut >10.000 bagian

Persen dinyatakan
dengan 4 cara yaitu :
b/b % adalah persen bobot perbobot yaitu

jumlah g zat dalam 100 g bahan atau hasil


akhir (larutan atau campuran)
b/v % adalah persen bobot pervolume yaitu
jumlah g zat dalam 100 ml bahan atau hasil
akhir (air atau pelarut lain)
v/b % adalah persen volume perbobot, yaitu
jumlah ml zat dalam 100 g dengan bahan
atau hasil akhir.
v/v % adalah persen volume pervolume,
yaitu jumlah ml zat dalam 100 ml dengan

WADAH
Wadah berdasarkan kualitasnya yaitu :
wadah tertutup baik, harus dapat
melindungi isinya terhadap pemasukan
bahan padat dari luar & mencegah
kehilangan isi waktu pengangkutan,
penyimpanan dan penjualan dalam
kondisi normal.
Wadah tertutup kedap, harus mencegah
menembusnya udara atau gas pada
waktu pengurusan, pengangkutan,

PENYIMPANAN OBAT
Obat yang mudah menguap
atau terurai harus disimpan
dalam wadah tertutup
rapat. Obat yang mudah
menyerap lembab atau CO2
harus disimpan dalam
wadah tertutup rapat dan
berisi kapur klor atau zat
lain yang cocok.

SUHU PENYIMPANAN

Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8

C. lemari pendingin suhunya antara


2C dan 8C. lemari pembeku
suhunya antara -20C dan -10 C.
Sejuk adalah suhu antara 8C dan 15
C bila perlu disimpan dalam lemari
pendingin.
Suhu kamar antara 15C dan 30C
Hangat adalah suhu antara 30C dan
40C

CARA PENIMBANGAN

Ketentuan
dalam
Farmakope
mengenai
berat
adalah
gram
sedangkan volume dalam millimeter
(ml). selain itu juga ukuran-ukuran
yang digunakan berdasarkan alat yang
digunakan dalam mengkonsumsi obat
yaitu dengan menggunakan ukuran
yang biasa digunakan dalam rumah
tangga, misalnya :
Sendok teh
5 ml
Sendok makan 15 ml

KOMBINASI OBAT

Kombinasi obat bukan hanya dilakukan


oleh
Dokter,
industry
farmasi
pun
melakukan hal yang sama, sehingga suatu
obat dalam formula kombinasi mempunyai
fungsi-fungsi sebagai berikut :
Obat pokok (Remidia cardinale)
Obat yang membantu kerja obat pokok
(Remidia adjuvansia)
Obat yang memperbaiki penampilan/ kerja
obat pokok (Remidia corrogensia)
Bahan tambahan lain (Remidia

Langkah-langkah Pengobatan
langkah-langkah pengobatan
haruslah berpedoman pada
peresepan yang rasional yang dikenal
dengan istilah 5T yakni :
Tepat indikasi
Tepat obat
Tepat dosis dan cara pemberian
Tepat bentuk sediaan yang dipilih
Tepat penderita

Interaksi Obat
Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi obat
adalah :
Faktor fisika kimia
Faktor fisika kimia yaitu adanya ketidak
bercampuran yang terjadi (Incompatibility) baik
itu dari segi Farmaseutika, kimia maupun
biologi.
Faktor farmakodinamik
Faktor Farmakodinamika adalah mengenai aksi
fisiologi dan biokimia obat serta mekanisme
kerja obat.

Mekanisme Farmakologi

Sedangkan berdasarkan mekanisme


farmakologi
maka
akan
timbul
beberapa interaksi yaitu :
Interaksi obat dengan reseptor
Interaksi metabolit dan reseptor

RESEP
Resep adalah suatu permintaan
tertulis dari Dokter, Dokter
gigi dan Dokter hewan kepada
Apoteker pengelola Apotek
untuk menyediakan obat dan
menyerahkan kepada
penderita.

Menurut undang-undang
yang dibolehkan menulis
resep ialah Dokter umum,
Dokter spesialis, Dokter
gigi dan Dokter hewan.
Bagi Dokter umum dan
Dokter spesialis tidak ada
pembatasan mengenai
jenis obat yang boleh
diberikan kepada
penderitanya.

Bagi Dokter gigi ada


pembatasan, yaitu Dokter gigi
hanya menuliskan resep
berupa jenis obat yang
berhubungan dengan penyakit
gigi. Juga bagi Dokter hewan
ada pembatasan, tetapi bukan
terletak pada jenis obatnya
melainkan pada penderitanya,
Dokter hewan hanya dapat
menuliskan resep untuk
keperluan hewan sematamata.

Resep yang baik adalah resep yang jelas dapat


dibaca, resep harus memenuhi peraturan yang
ditetapkan oleh SK MENDIKES RI No. 26
Menkes/Per/1981, bab III, pasal 10, yang memuat :
1. Nama, alamat, No surat ijin praktek Dokter.
2. Tempat dan tanggal penulisan resep.
3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan obat.
4. Nama setiap obat / komponen resep (dengan bentuk
sediaan obat, dosis, jumlah dan petunjuk pemakaian).
5. Tanda tangan / paraf Dokter, alamat rumah yang jelas
untuk obat narkotika.
6. Tanda seru / paraf Dokter, pada obat yang melebihi
dosis maksimum.
7. Nama penderita.

Bagian bagian dari R/


a. Inscriptio (Identitas Dokter penulisan

resep, SIP, alamat kota, tanggal, tanda R/.


b. Praescriptio (Inti resep, terdiri dari nama
obat, BSO, dosis obat dan jumlah obat).
c. Signatura, tanda yang harus ditulis di
etiket obat (nama pasien dan petunjuk
pemakaian).
d. Subscription, tanda tangan/ paraf Dokter.

Untuk penderita yang segera memerlukan


obatnya, Dokter menulis dibagian kiri atas resep :
Cito, Urgent = segera, P.IM periculum in mora =
berbahaya bila ditunda. Maka resep ini harus
dilayani lebih dahulu.
Bila Dokter menginginkan resepnya diulang
maka Dokter akan menulis tanda Iter pada
resepnya, tetapi bila tidak ingin resepnya yang
mengandung obat keras tanpa sepengetahuannya
diulang, Dokter akan menulis tanda NI = Ne
iteretur = tidak boleh diulang.

RESEP NARKOTIKA

Resep Narkotika adalah resep yang


komposisinya mengandung obat yang
tergolong dalam narkotika menurut
peraturan perundang-undangan.
Contoh obat narkotika yang sering
ada di Apotek dan rumah sakit
adalah Codein, Doveri, injeksi
pethidin dsb.

Resep yang mengandung obat narkotika


maka resep tersebut selain harus memenuhi
aturan di atas juga harus memenuhi hal-hal di
bawah ini :
Tidak boleh ada iterasi (ulangan).
Nama pasien harus ditulis tidak boleh m.i =
mihi ipsi = untuk dipakai sendiri.
Alamat pasien harus ditulis lengkap.
Aturan pakai signa yang jelas, tidak boleh
ditulis sudah tahu pakai (usus cognitus)
Alamat tempat tinggal Dokter jelas yang
menulis resep.

PENYIMPANAN RESEP

Cara menangani resep yang telah dikerjakan adalah :


Resep yang telah dibuat disimpan menurut urutan
tanggal dan nomor penerimaan / pembuatan resep.
Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan
dari resep yang lainnya, tandai garis merah di bawah
nama obatnya.
Resep yang telah disimpan selama 3 tahun dapat
dimusnahkan dan cara pemusnahannya adalah dengan
cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai.
Pemusnahannya dilakukan oleh Apoteker pengelola
bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas
Apotek.

Pada pemusnahan resep harus dibuatkan

berita acara pemusnahan sesuai dengan


bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap
empat dan ditandatangani oleh Apoteker
pengelolah Apotek dan seorang petugas
Apotek yang ikut memusnahkan.
Berita acara pemusnahan ini harus
disebutkan :
Hari dan tanggal pemusnahan
Tanggal yang terawal dan terakhir dari resep
Berat resep yang dimusnahkan dalam
kilogram

Etiket
Etiket dibagi dalam 2 macam yaitu,
berwarna putih untuk obat dalam,
yaitu obat yang digunakan melalui
mulut masuk ke kerongkongan dan
seterusnya ke perut dan warna biru
untuk obat luar, yaitu obat yang
digunakan selain dari obat dalam.

Pada etiket harus dicantumkan :


1. Nama, alamat dalam nomor Telepon
Apotek.
2. Nama dan No SIK Apoteker pengelolah
Apotek.
3. Nomor dan Tanggal Pembuatan Resep.
4. Nama pasien.
5. Aturan pemakaian.
Aturan lain : Bila dipakai untuk obat luar

harus diberi tanda obat luar.


Tanda kocok dahulu untuk larutan atau

SALINAN RESEP
Salinan resep atau copi resep adalah salinan
tertulis dari suatu resep. Istilah lainnya dari kopi
resep adalah apographum. Salinan resep harus
ditandatangani oleh Apotek. Salinan resep selain
memuat semua keterangan yang termuat dalam
resep asli harus memuat pula :
Nama dan alamat Apotek
Nama dan No.SIK APA
Tanda tangan / paraf APA
Tanda nedet = obat yang belum diserahkan, Det
= obat yang sudah diserahkan
Nomor resep dan tanggal pembuatan resep

Pembuatan Resep
Yang berhak membuat resep adalah Apoteker
dan Asisten Apoteker dibawah pengawasan
Apoteker. Apoteker harus menyerahkan obat
kepada penderita sesuai yang diminta oleh
Dokter yang tertulis diresep. Apabila Apoteker
menganggap dalam resep tersebut terdapat
kekeliruan atau penulisan resep yang tidak
tepat, Apoteker harus memberitahukan
kepada Dokter penulis resep. Bila Dokter
penulis resep menganggap bahwa apa yang
ditulisnya sudah tepat, maka tanggungjawab
sepenuhnya dilimpahkan kepada Dokter.

Continue
Bila Dokter tidak dapat dihubungi
dalam resep yang dianggap
dapat membahayakan jiwa
penderita, maka penyerahan
obat dapat ditunda. Resep yang
tidak dapat dibaca secara jelas
atau tidak lengkap, maka
Apoteker berkewajiban
menanyakan kepada Dokter

Dokter tidak boleh memberikan


obat sendiri langsung kepada
pasien pada daerah yang telah
ada Apotek. Dokter hanya boleh
memberikan
obat
jika
pertolongan segera diperlukan
(pada
pertolongan
pertama),
sedang obat yang diperlukan
tidak segera dapat diperoleh.
Pengecualian ini diperoleh hanya

Bagi dokter yang belum


mempunyai Apotek, Dokter
diberi ijin untuk mengadakan
persediaan obat-obat
secukupnya untuk memenuhi
prakteknya sendiri. (SK Menkes
33148/Kap/176/1962).

Singkatan latin
Ada beberapa singkatan latin yang sering digunakan dalam resep
diantaranya:
Angka
1 = Unus,unum,uno
2 = Duo
3 = Tris/Tria
4 = Quattuor
5 = Qinque
6 = Sex
7 = Septem
8 = Octo
9 = Novem
10 = Desem

Waktu Makan Atau Minum Obat


a.c = Ante Coenam
= Sebelum makan
p.c = Post Coenam
= Sesudah makan
d.c = Durante Coenam = Sedang makan
m
= Mane
= Pagi hari
Vesp = Vespere
= Malam hari
m et v = Mane et Vespere = Pagi dan
malam hari
noct = Nocte
= Pada tengah
malam

Jumlah yang diberikan


aa
= ana
= Dari masing-masing
aa.p.aeq = Ana Partea Aeguales = Dari masing-masing

sama
d.i.d
= da in dimido
= serahkan 12
jumlahnya
d.i.2.pl
= da in duplo
= serahkan 2X jumlahnya
d.i.3.pl
= da in triplo = serahkan 3X jumlahnya
d.i.4.pl
= da in quadruplo = serahkan 4X jumlahnya
d.i.5.pl
= da in quintuplo = serahkan 5X jumlahnya
Iter
= iteretur = Ulanglah
Iter 2X = Iteretur bis = supaya diulang 2X
Iter 3X = Iteretur tres = supaya diulang 3X

Lain-lain
Ad.
Ad 1 vic.
Ad 2 vic.
a.u.prop. ( u.p )
a.u.v.
apograph
aq. Dest
aq. Bidest
aq. Bull
aq. Cal.
aq. Coct
da
d.t.d
m.f
haust.
i.m.m
q.s
R/
r.p
det
nedet
Pcc

= adde
= Sampai
= ad unam vices
= Harus diminum sekali habis
= ad duas vices
= Harus diminum dua kali habis
= ad usum proprium
= Untuk pemakaian sendiri
= ad usum veterinarium =Untuk pengobatan hewan
= apographum
= Salinan
= aqua destillata
= Air suling
= aqua bidestillata
= Air yang disuling 2 X
= aqua billiens
= Air mendidih
= aqua callida
= Air panas
= aqua cocta
= Air masak
= Serahkanlah
= da tales doses
= Serahkan dengan dosis sebanyak
= misce fac
= Campur dan buatlah
= haustus
= Minum sekali habis
= in manus medici
= Dalam tangan dokter
= quantum satis
= Secukupnya
= recipe
= Ambillah
= recentum paratus
= Dibuat segar
= detur
= Sudah diserahkan
= nedetur
= Belum diserahkan
= pro copie conform
= Sesuai dengan aslinya

Tempat yang diobati


a.u.e = ad usum externum = Untuk pemakaian luar
a.u.i = ad unum internum = Untuk pemakaian dalam
pon.Aur = pone aurem = dibelakang telinga
Aur = auris = Telinga
Aur dextr./ sin = auris dextra / sinistra = Telinga kanan / kiri
Ocul. = Uculus = Mata
Oc.d.et.S(ods) = Uculus dextra et sinistra = Mata kanan / kiri
Ad. Nuch = ad nucham = Ditengkuk
Subc = subtanea = di bawah kulit
Abd = abdomen = perut
Man = manus = Tangan
Dors = dorsum = Punggung

Aturan Pakai
S = Signa = Tandai
o.h.c = Omni Hora Cochlear = Tiap jam..sendok makan
o.b.h.c = Omni bihorio cochlear = Tiap 2 jam . Sendok makan
o.h.caps.I = Omni hora capsul unum = Tiap jam 1 kapsul I
o.m.et.pulv.I = Omni mane et vespere pulveres unum
= Tiap pagi dan malam 1 bungkus
s.dd.cth.I = Signa de die cochlear theae unum
= Satu kali sehari 1 sendok teh
p.defaec = Post defaeecationnem = Sesudah buang air besar
p.desurin = Post desurinationnem = Sesudah buang air kecil
s.a.s = si necesse sit = Jika perlu
s.n.e = Si necesse est = Jika perlu
s.o.s = si opussit = Jika perlu
p.r.n = pro renata = jika perlu
a.u.c = ad usum cognitum = Cara pakai diketahui

Peringatan
n. i( ne iter) = ne iterur = jangan diulang
agit = agita = kocoklah
cit = cito = Segera
citiss = citissime = Sangat segera
stat = statin = Segera,saat ini juga
rep. = reperur = Ulanglah
iter. = iterur= Ulanglah

Epith. = epithema = Obat kompres


Garg.= gargarisma= Obat kumur
Gutt. = guttae = Tetes
Gutt. Aur = guttae auriculares = Tetes telinga
Gutt. nas = guttae nasal = Tetes hidung
Gutt. ophth = guttae opthalmicae = Tetes mata
Linim
= Linimentum = Obat gosok
Lit.or = Litus oris = Cairan untuk ulas mulut

Lot. = lotio = cairan gosok


Liq. = liquor = Cairan
Pulv = pulveres = serbuk bagi
Pulv. Adsp. = pulvis adspersorius= serbuk tabor
Pil = pilulae = pil
Pot. = potio = Obat minum
Pot.Eff. = potio effervesecens

= Obat minum
= pastillae = Pastilus
Sir. = sirupus =Sirup
Sol. = solution = Larutan
Supp. = suppositorium = pil sisip
Troch. = trochisci = Kue
Tab = tabulae = Tablet
Ung. = unguentum = Salep
Lain-lain
Ad. = adde = Sampai
Ad 1 vic. = ad unam vices = harus diminum sekali habis
Ad 2 vic. = ad duas vices= harus diminum dua kali habis
a.u.prop. (up)= ad usum proprium = Untuk pemekaian sendiri
a.u.v = ad usum veterinarium
= Untuk pengobatan hewan
apograph = apographum = Salinan
aq. Dest = aqua destillata = Air suling
aq. Bidest = aqua bidestillata
= Air yang disuling 2X
aq. Dest = aqua billiens = Air mendidih
s
aq. Cal. = aqua callida = Air panas
aq. Coct= aqua cocta
= Air masak
da = serahkanlah
d.t.d = da tales doces = serahkanlah dengan dosis sebanyak
m.f = misce fac = Campur dan buatlah
haust. =haustus = minum sekali habis
i.m.m = in manus medici = Dalam tangan dokter
q.s = quantum satis = secukupnya
R/ = Rrecipe = Ambillah
r.p = recentur paratus = dibuat segar
det = detur = Sudah diserahkan
nedet = nedetur = Belum diserahkan
Pcc = pro copie conform = sesuai aslinya
Pastill

DOSIS OBAT
Dosis obat adalah jumlah obat yang diberikan kepada pasien yang dapat

menimbulkan efek.
Ada beberapa macam dosis yaitu :
Dosis minimum adalah jumlah minimum obat yang masih dapat menimbulkan efek.
Dosis lazim adalah jumlah obat yang sering digunakan dan merupakan dosis terapi.
Dosis toksik adalah jumlah obat yang diberikan yang jika diberikan dapat
menimbulkan efek toksik
Dosis letal adalah jumlah obat yang bila diberikan dapat menimbulkan kematian.
Disis maksimum adalah jumlah obat yang dapat diberikan tanpa menimbulkan efek
toksik. Pada lampiran farmakope Indonesia terdapat daftar dosis maksimum.
Dokter yang menulis resep tidak terikat akan DM. obat yang tercantum, bilamana
dianggapnya perlu, dapat melebihi DM. untuk memberitahukan kepada apoteker
bahwa dokter dengan sengaja melebihi DM suatu obat, maka dibelakang angka
atau jumlah obat yang dituliskan diberi tanda seru(!) dengan disertai paraf. Obat
keras yang mempunyai DM, bila diberikan pada anak, harus diperhitubgkan sendiri,
untuk itu dipergunakan berbagai rumus yang ada.

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi


dosis yaitu :

USIA

Pada anak-anak yang baru lahir, kepekaannya


terhadap obat sangatlah besar hal ini disebabkan
Karena fungsi hati dan ginjalnya belum sempurna,
begitu pula system enzim belum berkembang
dengan lengkap. Parameter-parameter yang
membedakan respon tubuh terhadap obat pada
anak-anak adalah :
Pola ADME ( absorbsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi)
Perbedaan absorbsi oleh karena perbedaan relative
dari kepadatan sel

Perbedaan distribusi oleh karena

persentase cairan ekstraseluler dan


cairan tubuh total relative lebih tinggi.
Perbedaan ekskresi oleh karena
glomerulus atau tubuh belum
berkembang sempurna.
Sensitifitas intrisik yang berlainnan
terhadap bahan obat
Redistribusi dari zat-zat endogen

USIA LANJUT
Sirkulasi darah yang kurang lancar
Fungsi hati dan ginjal mengalami

penurunan, sehingga eliminasi obat sangat


lambat.
Kurangnya albumin darah sehingga
pengikatan obat berkurang yang
menyebabkan banyaknya obat bebas dan
akibatnya dapat menimbulkan keracunan
akibat over dosis.

Bobot Badan
Bobot badan berpengaruh
terhadap dosis obat terutama untuk
anak anak yang mempunyai
masalah dengan berat badan.
Bayi yang tidak sesuai umur dan
berat badan
Luas permukaan
Jenis kelamin
Beratnya penyakit

Perhitungan Dosis
Ada beberapa cara menghitung dosis yaitu :
1. Rumus Young : n/n+12 x DM
2. Rumus Dilling : n/20 x DM
3. Rumus Bastedo: n+3/30 x DM
4. Rumus Dilling : n+1/24 x DM
5. Rumus Young : m/150 x DM
Keterangan :
n = Umur dalam tahun
m = Umur dalam bulan
W = Bobot dalam kg
DM = Dosis maksimal dewasa

Contoh
R/ Atropin sulfas
2,5 mg
Belladonna extraktum 100 mg
Lactosum
qs
m.f pulv NoX
s t d d pulv 1
pro : tn Amir
DM Atropin sulfas
= 1 mg / 3 mg
DM Belladona extract = 20 mg / 80 mg

Perhitungan dosis maksimal


atropine sulfas :
1 x P : 1/10 x 2,5 mg = 0,25 mg < 1 mg
Sehari : 3 x 0,25 mg = 0,75 mg < 3 mg
Perhitungan dosis maksimal Extrak
Belladona :
1 x P : 1/10 x 100 mg = 10 mg < 20 mg
Sehari : 3 x 10 mg = 30 mg < 80 mg

Karena Atropin sulfas dan Extrak Belladona


mempunyai khasiat yang sama, sehingga
DMnya merupakan kombinasi yang searah,
maka DMnya juga harus dihitung dosis
rangkapnya sehari, dengan rumus sebagai
berikut :
Rumus Young : Dosis A/DM A +Dosis B/DM B 1
jadi:
1 x P : 1x0,25/1 + 1x10/20 = 0,75 < 1
3x1

: 3x0,25/3 + 3x10/80 = 0,625 < 1

Beberapa catatan dalam


perhitungan dosis anak :
1. Berdasarkan perbandingan umur anak
dengan umur orang dewasa sering kali tidak
tepat, karena anak dengan umur yang sama
dapat memberikan variasi berat badan atau
luas permukaan tubuh yang berarti.
2. Berdasarkan perbandingan berat badan anak
dengan orang dewasa, tidak dapat
diperlakukan untuk semua jenis obat,
terutama obat-obat yang bagi anak sensitiv
(narkotika), berarti dosisnya lebih rendah dan
sebaiknya untuk obat-obat yang lebih tahan
(Atropin, Belladona, Phenobarbital).

3. Berdasarkan perbandingan LPT anak dengan


LPT orang dewasa kecuali untuk neonatus dan
bayi dapat dipakai untuk kebanyakan obat,
karena sebagian obat didistribusikan
sekurang-kurangnya dalam cairan
ekstraseluler. Problem yang sering kali terjadi
adalah bagaimana menghitung LPT anak
secara akurat

Serbuk
Serbuk adalah campuran obat atau bahan kimia yang
halus terbagi-bagi dalam bentuk kering (FI III). Serbuk
adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang
diserbukkan (FN). Serbuk diracik dengan cara
mencampur bahan obat satu-persatu, sedikit demi
sedikit dan dimulai dari bahan obat yang jumlahnya
sedikit kemudian diayak, biasanya menggunakan
pengayak 60 dan dicampur lagi, jika serbuk
mengandung lemak, harus diayak dengan pengayak
no.44. Jika jumlah obat kurang dari 50 mg atau jumlah
tersebut tidak dapat dihitung harus dilakukan
pengenceran menggunakan zat tambahan yang cocok.