Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH MATA KULIAH

PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

KOMBINASI LUMPUR AKTIF DENGAN FIXED FILM

DISUSUN OLEH :
RIZKI HAMDISYAR
21080111120006

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Setiap komunitas dalam aktivitas sehari-hari akan menghasilkan buangan

baik berupa buangan padat maupun buangan cair. Buangan cair pada dasarnya
berasal dari air bersih yang telah digunakan untuk berbagai keperluan bagi
komunitas tersebut.
Air buangan merupakan air bekas pakai dari berbagai aktivitas manusia,
misalnya dari kegiatan rumah tangga, industri dan lain-lain. Secara garis besar, air
buangan sendiri terdiri dari 2 jenis yaitu air buangan domestik dan air buangan
non domestik. Air buangan buangan domestik berasal dari rumah tangga atau dari
pemukiman, bukan hanya air yang dipakai untuk menggelontor kotoran dari WC
saja, melainkan juga air dari urinoir, air bekas mandi, air bekas untuk mencuci,
baik dari cucian dari kamar cuci pakaian maupun cucian-cucian dari aktivitas
dapur bahkan cucian-cucian dari wastafel. Sedangkan Air buangan non domestik
berasal dari industri dimana air digunakan untuk bermacam-macam proses
industri,

sehingga

air

menjadi

tercemar

dengan

kotoran-kotoran

yang

komposisinya tergantung dari proses produksinya.


Penanganan terhadap kedua macam air buangan tersebut harus dilakukan
dengan serius. Karena jika tidak, akan menimbulkan berbagai permasalahan
seperti pencemaran lingkungan, timbulnya berbagai macam penyakit, lingkungan
pemukiman yang kumuh dengan kondisi sanitasi yang memprihatinkan. Selain
itu, air buangan dapat menyebabkan penurunan kualitas air bersih. Oleh karena itu
diperlukan suatu pengolahan yang memadai untuk mengatasi permasalahan
tersebut.
Air buangan yang berasal dari berbagai sumber akhirnya akan kembali ke
badan air penerima atau ke dalam tanah. Untuk mengurangi dampak negatif yang

ditimbulkan oleh berbagai kontaminan yang terdapat dalam air buangan,


diperlukan suatu sistem pengolahan yang dapat menurunkan derajat kontaminan
atau sesuai dengan standar kualitas air buangan.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara
kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik
maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh
masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan
kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.Untuk bisa memilih
teknologi yang tepat, seseorang harus mengetahui gambaran umum tentang
metode-metode pengolahan air limbah yang ada, baik tentang prinsip kerja,
tentang penerapan metode-metode tersebut, keuntungan dan kerugian, dan juga
faktor biaya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengolahan limbah cair
dengan Kombinasi Lumpur Aktif dan Fixed Film.
1.2.

Tujuan
1. Terciptanya pemahaman mengenai proses pengolahan limbah cair dengan
kombinasi lumpur aktif dan fixed film.
2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari penggunan teknologi tersebut.
3. Mengetahui peralatan apa saja yang digunakan dalam pengolahan
menggunakan kombinasi lumpur aktif dan fixed film.

BAB II
ISI
Beberapa jenis kemasan material sintetik yang telah dikembangkan untuk
digunakan dalam proses lumpur aktif. Proses-proses ini dimaksudkan untuk
meningkatkan proses Lumpur aktif dengan menyediakan konsentrasi biomassa
yang lebih besar di dalam tangki aerasi dan dengan demikian menawarkan potensi
untuk mengurangi persyaratan ukuran kolam. Mereka juga telah digunakan untuk
meningkatkan tingkat volumetrik nitrifikasi dan untuk mencapai reaksi
denitrifikasi dalam tangki aerasi dengan memiliki zona tidak toksis dalam
kedalaman biofilm. Karena dari kompleksitas dari proses dan masalah-masalah
yang berkaitan dengan mengerti area biofilm dan aktivitasnya, proses desain yang
empiris dan berbasis hasil terbatas skala penuh. Dalam bagian ini proses ini
diperkenalkan dan dijelaskan dan beberapa pertimbangan desain dan parameter
disajikan. (Metcalf & Eddy, Inc., 2003)

2.1.

Kombinasi Lumpur Aktif dan Fixed Film


Sistem lumpur aktif adalah sistem yang paling banyak digunakan dalam

pengolahan limbah cair (Sutapa DAI, 2000). Di dalam limbah yang mengandung
bahan organik terdapat zat-zat yang merupakan makanan dan kebutuhankebutuhan lain bagi mikroorganisme yang akan digunakan dalam proses lumpur
aktif. Proses lumpur aktif adalah salah satu proses pengolahan air limbah secara
biologi, yang pada prinsipnya memanfaatkan mikroorganisme yang mampu
memecah bahan organik dalam limbah cair. Proses lumpur aktif adalah proses
dimana limbah cair dan lumpur aktif dicampur dalam satu reaktor. Salah satu

parameter yang sering digunakan dalam pengolahan limbah cair sistem lumpur
aktif adalah Mixed Liquor Suspended Solids (MLSS). Mixed liquor suspended
solids adalah jumlah dari bahan organik dan mineral berupa padatan terlarut,
termasuk mikroorganisme di dalam mixed liquor (Sutapa DAI, 1999). Pada sistem
lumpur aktif aliran kontinyu (terus menerus limbah yang masuk) pertumbuhan
mikroorganismenya sangat berbeda dengan sistem aliran periodik (misal bacth
reactor). Dimana pada aliran terus menerus subtrat ditambahkan kontinyu pada
debit Q pada reaktor dengan volume V dan mengandung konsentrasi biomassa X.
Penambahan nutrien, parameter lingkungan seperti kadar oksigen, temperatur, dan
pH pada dasarnya terkontrol (Sutapa DAI, 1999).
Keunggulan teknis proses lumpur aktif adalah dapat mengolah air limbah
dengan beban BOD dan volume yang besar, efisiensi pengolahan tinggi.
Sedangkan beberapa kelemahan teknis antara lain kemungkinan terjadi bulking
pada lumpur aktif, terjadi buih, jumlah lumpur yang dihasilkan besar, dan
membutuhkan lahan yang luas. Komponen biologis lumpur aktif terdiri dari
berbagai macam organisme. Bakteri, fungi, protozoa merupakan komponen
biologis, massa biologis dari lumpur aktif. Proses pengolahan limbah secara
biologi adalah cara yang memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan
material yang terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme sendiri selain
menguraikan dan menghilangkan kandungan material, juga menjadikan material
yang terurai tadi sebagai tempat berkembang biaknya. Metodologi penelitian
menggunakan lumpur aktif adalah merupakan proses pengolahan air limbah yang
memanfaatkan proses mikroorganisme tersebut (Metcalf & Eddy, 2004).
Efisiensi proses pengolahan tergantung pada volume, karakteristik air
limbah serta kriteria desain masing-masing teknologi. Sebagai contoh dalam
desain teknologi pengolahan secara activated sludge dengan tipe extended aerasi
dapat digunakan secara efektif untuk air limbah yang mengandung beban BOD
sebesar 20-30 tiap kg MLVSS, umur lumpur 0,16 - 0,4 hari, dan waktu retensi 18 24 jam. Sedangkan untuk desain activated sludge tipe stabilisasi kontak

dipersyaratkan beban BOD sebesar 4 - 5 per kg MLVSS, umur lumpur 0,5 - 1 hari,
waktu tinggal 3 - 5 jam (Tchobanoglous, 2003).
Proses biologis dengan biakan melekat yakni proses pengolahan limbah
dimana mikroorganisme yang digunakan dibiakkan pada suatu media sehingga
mikroorganisme tersebut melekat pada permukaan media. Media yang biasa
digunakan adalah plastik atau batu. Proses ini disebut juga dengan proses film
mikrobiologis atau proses biofilm (fixed film). Influen air limbah dimasukkan ke
dalam reaktor yang di dalamnya diisi dengan media penyangga (media biofilter).
Dengan adanya lapisan mikroorganisme yang tumbuh menempel pada permukaan
media tersebut maka polutan organik yang ada di dalam air limbah akan diuraikan
menjadi produk respirasi yakni CO2 dan H2O. Dalam aplikasinya, efektivitas
proses biofilter sangat dipengaruhi oleh jenis serta bentuk media yang digunakan.
Biofilter merupakan suatu reaktor biologis film-tetap (fixed film) menggunakan
packing berupa kerikil, plastik atau bahan padat lainnya dimana limbah cair
dilewatkan melintasinya secara kontinyu (Metcalf & Eddy, 2003). Kelebihan
teknis proses biofilter antara lain dapat menurunkan kandungan BOD, suspended
solids (SS), total nitrogen dan fosfor dengan efisiensi tinggi, sistem pengoperasian
mudah dan tanpa membutuhkan energi. Kekurangan sistem ini antara lain kurang
efektif untuk volume limbah yang besar.

2.2.

Proses dengan Internal Suspended Packing pada Pertumbuhan


Terlekat
Variasi berbeda dari proses dalam material kemasan dari tipe bervariasi

adalah tersuspensi dalam tangki aerasi proses lumpur aktif. Contoh proses
pengolahan lumpr aktif dengan suspended packing mencakup Captor, Linpor dan
Kaldnes. Proses bantalan busa dengan sebuah kepadatan tertentu dari sekitar 0,95
g/cm3 adalah ditempatkan dalam bioreaktor dalam sebuah gaya bebas
mengambang dan dipertahankan oleh sebuah layar efluen. Pad volume bisa

memperhitungkan 20 hingga 30 persen dari reaktor volume. Mencampur dari


tersebarnya sistem aerasi beredar bantalan busa dalam sistem, tapi tanpa
penambahan pencampuran metode, mereka mungkin cenderung untuk berkumpul
pada efluen tersebut dan mengapung di permukaan.

Gambar 2.1
Suspended Packing pada tangki aerasi lumpur aktif
dengan proper mixing

Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003


Kaldnes, sebuah unit yang bernama Moving-bed Biofilm Reactor (MBRR)
telah dikembangkan oleh perusahaan Norwegia, Kaldnes Miljoteknologi. Proses
dimana terjadi penambahan elemen polyethylene berbentuk silinder kecil (specific
density 0,96 g/cm3) dalam wadah teraerasi maupun tidak teraerasi untuk
mendukung pertumbuhan biofilm. Silinder kecil kira-kira berukuran diameter 10
mm dan tinggi 7 mm dengan palang di dalam dan sirip membujur di luar.
Pembawa biofilm dekelola di dalam reaktor dengan menggunakan pelat penuh
lubang (5x25 mm slot) pada bagian luar tangki. Udara agitasi atau mixer
diterapkan secara terus-menerus mensirkulasi kemasan. Kemasan dapat mengisi
25 sampai 50 persen dari volume tangki. Luas permukaan spesifik kemasan
adalah sekitar 500 m2/m3 massal volume pengepakan. MBBR memerlukan aliran
lumpur aktif balik atau backwashing. Clarifier akhir digunakan untuk
menyelesaikan pengelupasan padatan. Proses MBBR menyediakan keuntungan
untuk tanaman upgrade dengan mengurangi padatan loading clarifiers yang sudah
ada. (Metcalf & Eddy, 2003)

Gambar 2.2
Diagram aliran skematis pada aplikasi proses MBBR

Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003

Gambar 2.3
Proses solid contact dengan proses MBBR sebagai pengganti Trickling Filter
Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003

Gambar 2.4

Kriteria desain proses typical MBBR


Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003

Gambar 2.5
Kriteria operasi typical MBBR/Solid Contact
Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003
2.3 Proses Dengan Internal Fixed Packing pada Pertumbuhan Terlekat
Terhitung

lebih dari setengah lusin berbagai proses variasi di mana

material fixed-packing ditempatkan di dalam tangki aerasi proses lumpur aktif.


Tiga contoh khusus dari proses fixed-packing termasuk proses Ringlace dan Bio
matriks. Dan proses RBCs terendam.

Gambar

2.6

Penempatan Kemasan Ringlace Dalam Sebuah Reaktor Lumpur Aktif


Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003
Ket. Gambar:
a) Skematis dari penempatan kemasan di reaktor lumpur aktif
b) Tampak isometri dari penempatan kemasan di reaktor lumpur
aktif
Ringlace. Kemasan ini adalah kemasan yang dilingkari Klorida Polivinil
yang berdiameter sekitar 5 mm . Hal ini ditempatkan di sekitar 25-35 persen dari
volume lumpur aktif basin di modul dengan 40-100 mm per lembaran yang
terpisah. Luas permukaan khusus disediakan berkisar dari 120 sampai 500 m 2/m3
dari tangki volume.

Lokasi penempatan kemasan di dalam tangki aerasi

merupakan suatu hal yang penting. Untuk menyediakan efisiensi kontak dengan
air limbah, Kemasan harus ditempatkan di sepanjang satu sisi bejana aerasi
dengan peralatan aerasi dengan memberikan pola roll spiral agar dapat mengalir
melewati kemasan (Sen et al.. 1993). Spiral roll aerasi biasanya kurang efisien
daripada aerasi cakupan lantai penuh dengan gelembung halus diffusers.
Lokasi sepanjang tangki ini juga penting untuk sistem operasi nitrifikasi
dan reaksi denitrifikasi. Randall dan sen ( 1996 ) merekomendasikan lokasi di
mana suffcient bod tetap untuk mengembangkan sebuah biofilrn pertumbuhan,

tetapi BOD permintaan cukup rendah sehingga oksidasi amonia dapat terjadi
dalam film. Namun, mereka mencatat bahwa tingkat optimal dapat sulit untuk
mencapai sebagai variasi dalam BOD pemuatan dapat bervariasi pertumbuhan
biofilm pada kemasan dan persaingan antara bakteri heterotrof dan autotrophic
untuk luas permukaan. Dalam beberapa aplikasi, keuntungan menggunakan
Kemasan internal tetap karena untuk pertumbuhan bulu cacing dalam biofilm.
Bio-2-sludge Process. Skematis dari proses Bio-2-Sludge diilustrasikan
pada gambar 9-23. Rangkaian kemasan PVC dengan area permukaan 90-165
m2/M3 dan pembukaan minimal 20 x 20 mm untuk mencegah penyumbatan
terletak di sepanjang dinding tangki aerasi. sistem difusi udara ini dirancang untuk
menciptakan suatu campuran kemasan aliran recirculation cair .
Submerged Rotating biologis Contactors, Rotating biologis Contactors
unit telah dipasang di Lumpur aktif. Rotating biologis Contactors terendam
(SRRC) dioperasikan pada approxiamately 85 persen perendaman. Unit SRBC
dapat bertambah besar sampai 5.5 m diameter dengan luas permukaan 28,800 m2.
Rotasi didorong oleh aerasi dan mungkin dapat dibantu dengan mesin. Sistem
operasi terendam mengurangi beban pada poros pengepakan.

Gambar 2.7
Skematis
Sumber: Metcalf & Eddy, Inc, 2003

2.4.

Keuntungan dan Kerugian

Beberapa keunggulan biofilm antara lain :


-

Pengoperasiannya mudah
Di dalam proses pengolahan air limbah dengan sistem biofilm, tanpa dilakukan sirkulasi
lumpur,

tidak

terjadi

masalah

bulking

seperti

pada

proses

lumpur

aktif (Activated sludge process). Oleh karena itu pengelolaaanya sangat mudah.
-

Lumpur yang dihasilkan sedikit


Dibandingakan dengan proses lumpur aktif,lumpur yang dihasilkan pada proses
biofilm relatif lebih kecil. Di dalam proses lumpur aktif antara 30 60 % dari BOD
yang dihilangkan (removal BOD) diubah menjadi lumpur aktif (biomasa) sedangkan
pada proses biofilm hanya sekitar 10-30 %. Hal ini disebabkan karena pada proses
biofilm rantai makanan lebih panjang dan melibatkan aktifitas mikroorganisme dengan
orde yang lebih tinggi dibandingkan pada proses lumpur aktif.

Dapat digunakan untuk pengolahan air limbah dengan konsentrasi rendah maupun konsentrasi
tinggi.

Tahan terhadap fluktuasi jumlah air limbah maupun fluktuasi konsentrasi.


Di dalam proses biofilter mikroorganisme melekat pada permukaan unggun media,
akibatnya konsentrasi biomasa mikroorganisme per satuan volume relatif
besar sehingga relatif tahan terhadap fluktuasi beban organik maupun fluktuasi beban
hidrolik.

Pengaruh penurunan suhu terhadap efisiensi pengolahan kecil.


Jika suhu air limbah turun maka aktifitas mikroorganisme juga berkurang, tetapi oleh
karena di dalam proses biofilm substrat maupun enzim dapat terdifusi sampai ke
bagian dalam lapisan biofilm dan juga lapisan biofilm bertambah tebal maka pengaruh
penurunan suhu (suhu rendah) tidak begitu besar.
Sementara itu, keunggulan teknis proses lumpur aktif adalah dapat
mengolah air limbah dengan beban BOD dan volume yang besar, efisiensi
pengolahan

tinggi.

Sedangkan

beberapa

kelemahan

teknis

antara

lain

kemungkinan terjadi bulking pada lumpur aktif, terjadi buih, jumlah lumpur yang
dihasilkan besar, dan membutuhkan lahan yang luas.

Daftar Pustaka

Tchonanoglous, George, etc. 2003. Wastewater Engineering Treatment and


Reuse. USA: Metcalf & Eddy (Mc Graw-Hill Companies), Inc

LAMPIRAN

Moving-bed Biofilm Reactor (MBRR)