Anda di halaman 1dari 15

PROSEDUR BETON PRACETAK

Tujuan Beton Pracetak


Beton pracetak adalah suatu metode percetakan komponen secara mekanisasi dalam
pabrik atau workshop dengan memberi waktu pengerasan dan mendapatkan kekuatan
sebelum dipasang.
a.

Keuntungan Beton Pracetak


Pengendalian mutu teknis dapat dicapai, karena proses produksi dikerjakan di pabrik dan
dilakukan pengujian laboratorium

Waktu pelaksanaan lebih singkat

Dapat mengurangi biaya pembangunan

Tidak terpengaruh cuaca

Membutuhkan investasi awal yang besar dan teknologi maju

Dibutuhkan kemahiran dan ketelitian

Diperlukan peralatan produksi ( transportasi dan ereksi )

Bangunan dalam skala besar

Metode Membangun dengan Konstruksi Precast

.
.
.
.
.
.
.

a. Serangkaian kegiatan yang dilakukan pada proses produksi adalah :


Pembuatan rangka tulangan
pembuatan cetakan
Pembuatan campuran beton
Pengecoran beton
Perawatan ( curing)
Penyempurnaan akhir
Penyimpanan

b. Transportasi Dan alat angkut


Transportasi adalah pengangkatan elemen pracetak dari pabrik ke lokasi
pemasangan. Sistem transportasi berpengaruh terhadap waktu, efisiensi konstruksi dan
biaya transport.
Yang perlu diperhatikan dalam system transportasi adalah :

Spesifikasi alat transport

Route transport

Perijinan
Alat angkat yaitu memindahkan elemen dari tempat penumpukan ke posisi
penyambungan ( perakitan ).

1.
2.
3.
4.

Crane
Crane
Crane
Crane

Peralatan angkat untuk memasang beton pracetak dapat dikategorikan sbb :


mobile
teleskopis
menara
portal

ksanaan Konstruksi ( Ereksi )


Metode dan jenis pelaksanaan konstruksi precast diantaranya adalah :
er elemen

b system

Adalah pengikatan elemen lantai ke kolom dengan menggunakan dongkrak hidrolis.


Prinsip konstruksinya sebagai berikut :

Lantai menggunakan plat-plat beton bertulang yang dicor pada lantai bawah

Kolom merupakan penyalur beban vertical dapat sebagai elemen pracetak atau cor di
tempat.

Setelah lantai cukup kuat dapat diangkat satu persatu dengan dongkrak hidrolis.
Slip Form System
Pada system ini beton dituangkan diatas cetakan baja yang dapat bergerak memanjat ke
atas mengikuti penambahan ketinggian dinding yang bersangkutan.
d) Push Up / Jack Block System
Pada system ini lantai teratas atap di cor terlebih dalu kemudian diangkat ke atas
dengan hidranlic jack yang dipasang di bawah elemen pendukung vertical.
e) Box System
konstruksi menggunakan dimensional berupa modul-modul kubus beton.

PRINSIP KONSTRUKSIONAL
Berikut prinsip-prinsip yang dapat diterapkan untuk disain structural :
1.
struktur terdiri dari sejumlah tipe-tipe komponen yang mempunyai fungsi seperti
balok, kolom, dinding, plat lantai dll
2.

Tiap tip[e komponen sebaiknya mempunyai sedikit perbedaan

3.
Sistem sambungan harus sederhana dan sama satu dengan yang lain, sehingga
komponen-komponen tersebut dap[at dibentuk oleh metode yang sama dan
menggunakan alat Bantu yang sejenis
4.

Komponen harus mampu digunakan untuk mengerjakan beberapa fungsi

5.
Komponen-komponen harus cocok untuk berbagai keadaan dan tersedia dalam
berbagai macam-macam ukuran produksi
6.
Komponen komponen harus mempunyai berat yang sama sehingga mereka bias
secara hemat disussun dengan menggunakan peralatan yang sama

Ada tiga macam konstruksi prefabrikasi :


a. Pembuatan didalam sebuah pabrik, dimana komponen-komponen mudah untuk dibuat
dan nyaman untuk pengangkutan
b. Pembuatan pada site dengan menggunakan alat-alat mekanik
c. Rangkaian dari komponen dirakit ke dalam komponen-komponen yang lebih luas

Klasifikasi Sistem Pracetak Beton


Sistem pracetak dibagi menjadi dua kategori yaitu :

a. Sebagai komponen struktur


Tiang pancang beton dan system sambungan
Ada beberapa bentuk dari tiang pancang. Bentuk yang paling umum adalah persegi
massif, karena paling mudah dibuat. Varian lain adalah bentuk bulat berongga (spinning)
dalam cetakan yang berbentuk bulat.
Pelat Lantai Pracetak
Pada tahun 1984, komponen pracetak lantai mulai dikenal di Indonesia pada
pembangunan menara BDNI. Bentuk yang umum digunakan adalah pelat prategang
berongga (hollow core slab).
Girder jembatan dan Jalan Layang
Komponen ini sangat popular karena jelas lebih mudah bibandingkan struktur baja.
Varian pertama berbentuk void slab, dengan system prategang pratarik, varian berbentu
I , dengan system prategang pascatarik, varian berbentuk Y, varian berbentuk box
dengan system prategang pascatarik.
Turap
Adalah struktur geoteknik yang fungsinya menanam perbedaan tinggi tanah, misalnya
pada struktur galian, kolam atau timbunan.
Bantalan Rel
Sejak jaman Belanda bahan kayu popular digunakan unytuk bantalan rel.
b. Sebagai sistem struktur
Sistem Waffle Crete (1995)
Sistem ini termasuk katagori system dinding pemikul dengan komponen pracetak berupa
panel lantai dan panel dinding beton bertulang yang disambung dengan baut baja.

Sistem Column-Slab (1996)


Keunggulan system ini terletak pada perencanaan struktur elemen dan kepraktisan
pemasangannya. Pemasangan ini sangat cepat yaitu dua hari perlantai bangunan.
Sistem L Shape Wall (1996)
Komponen utamanya adalah dinding pracetak beton bertulang L, yang berfungsi juga
sebagi dinding pemikul.
Sistem All Load Bearing Wall (1997)
Komponen pracetaknya adalah komponen dinding dan lantai beton bertulang massif
setebal 20 cm, merupakan system dinding pemikul.
Sistem Bangunan Jasubakim (1998)
Sistem ini termasuk kategori system pracetak komposit hybrid berbentuk langka. Sistem
ini mengkombinasikan monolit konversional, formwork dan pracetak. Komponen
pracetak ini selain bersifat struktur juga berfungsi sebagai formwork dan perancah untuk
beton cor di tempat.
Sistem Bresphaka(1999)

Ciri khas system ini adalah menggunakan bahan beton ringan untuk komponen kolom
dan balok.Bahan beton ringan utamanya adalah agregat kasar yang terbuat dari bahan
abu terang. Ciri khas yang lain adalah kolom berbentuk T serta komponen lainnya adalah
balok dan pelat.
Sistem, Cerucuk Matras Beton
Solusinya dengan menggunakan system cerucuk matras beton yang dapat dipasang
sedalam yang direncanakan dengan melakuakn penyambungan, sehinnga dapat
diperoleh daya dukung, penurunan dan tingkat kestabilan yang diinginkan.

TRANSPORTASI DAN ERETION KOMPONEN STRUKTUR REFABRIKASI

a. Komponen prefabrikasi unit beton precast dapat dikatakan ekonomis hanya jika biaya
transportasi dan eresktion dari keseluruhan produksinya secra signifikan dapat lebih
rendah dari biaya dengan beton konvensional ( concrete in situ ).
b. Nilai transportasi dan erection munghkin dapat ditekan rendah bila rekayasa mekanik
dalam manufaktur ditingkatkan
c. Pada dasarnya ada dua bentuk transportasi :
1. Transportasi jalan raya
2. Transportasi dengan rail
d. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan transportasi
gkut - jarak ekomonis 200 km
objek yang diangkut
bjek yang diangkut minimum 400 unit
i pengangkutan
erial objek yang diangkut
ang tersedia
lokasi pembangunan
ojek dan aksessibilitas
ng tersedia
si sdistem transportasi

Pekerjaan pengecoran adalah pekerjaan penuangan beton segar ke dalam cetakan suatu
elemen struktur yang telah dipasangi besi tulangan. Sebelum pekerjaan pengecoran dilakukan,
harus dilakukan inspeksi pekerjaan untuk memastikan cetakan dan besi tulangan telah
terpasang sesuai rencana. (lihat gambar flow chart pekerjaan pengecoran)
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan pada pekerjaan pengecoran adalah sebagai berikut:

Setiap pekerja harus memakai pakaian pelindung, sepatu safety, helem, dan pelindung
mata jika diperlukan.

Ketepatan ukuran dan elevasi harus diperhatikan dan dicheck.

Zone pengecoran harus direncanakan dan ukurannya ditentukan

Bekisting harus kuat dan instalasi M/E di bawah plat atau balok, pastikan ini terpasang
sebelum dicor

Ketika mengecor, hati-hati jangan sampai merusak atau merubah bekisting dan tulangan

Delay diakibatkan oleh cuaca panas, atau angin yang kencang, sehingga beton
mengeras lebih cepat. Juga diakibatkan oleh keterlambatan pengiriman karena
kurangnya prencanaan atau hal lain yang tidak bisa dihindari. Untuk mencegah delay
maka tenaga kerja, peralatan, dan cuaca dalam keadaan terkendali

Jangan menambahkan air pada beton untuk memudahkan pelaksanaan cor. Jika
terpaksa gunakanlah campuran air dan semen

Cara pelaksanaan pengecoran adalah sebagai berikut:

Pengecoran elemen vertikal umumnya menggunakan alat bantu TC dan bucket cor
sedangkan untuk elemen horizontal menggunakan alat bantu concrete mixer. Pada
volume pekerjaan kecil digunakan alat bantu TC dan Bucket cor. Pada pengecoran pile
cap yang berada pada elevasi ground floor, jika volume pengecoran kecil digunakan cara
pengecoran langsung dari truk mixer. Pada volume pengecoran yang besar akan efektif
menggunakan concrete pump. Khusus pada pengecoran bored pile, digunakan alat
bantu TC dan bucket cor.

Pada permukaan miring, pengecoran mulailah dari level terendah dan gunakanlah
moncong untuk menaburkan beton di permukaan miring

Beton yang akan dicor harus langsung ke tempat yang jadi posisi akhirnya. Mulailah dari
pojok bekisting.

Selalu tuangkan beton baru langsung ke beton yang sudah lama.

Untuk mencegah segregasi, cek beton jangan terlalu basah atau kering, beton diaduk
dengan baik, jika menjatuhkan beton secara vertikal jangan lebih dari 2m.

Pemadatan beton dilakukan dengan cara digetarkan, untuk mengeluarkan udara yang
terperangkap dalam beton, sehingga beton memadat memenuhi bekisting

bersambung disini

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Beton


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Beton (Pondasi Setempat, Sloof Beton, Kolom
Beton, Balok Beton, Plat Lantai dan Tangga Beton) adalah sebagai berikut :

1.

Persiapan

Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan struktur beton tiap
bagian.

Approval material yang akan digunakan.

Persiapan lahan kerja.

Persiapan material kerja, antara lain : readymix K-300, besi beton, kawat beton,
semen PC, pasir, multiplek, paku, minyak bekesting, balok, kaso, dll.

Persiapan alat bantu kerja, antara lain : concrete pump, vibrator, kompresor,
cutting well, theodolith, waterpass, meteran, gergaji, schafolding, raskam, jidar, benang,
selang air, dll.
2.

Pengukuran

Juru ukur (surveyor) dengan menggunakan theodolith melakukan pengukuran dan


marking area untuk titik penempatan, ukuran (dimensi) serta leveling dari poer, sloof,
kolom, balok, plat lantai, tangga dan dinding penahan tanah.

Pekerjaan pengukuran dan marking area dikerjakan secara berurutan mengikuti


alur pekerjaan struktur beton yang akan dikerjakan.
3.

Fabrikasi besi tulangan

Pelaksanaan fabrikasi besi tulangan memerlukan tempat yang cukup luas untuk
menaruh, memotong besi beton dan membengkoknya sehingga sesuai dengan gambar
yang telah disetujui.

Besi beton yang dipakai untuk proyek ini mutu dan diameter (spesifikasi)
disesuaikan dengan gambar kerja dan RKS.

Potong dan bentuk besi beton dengan ukuran sesuai gambar kerja.

Rangkai besi beton dengan menggunakan kawat beton.

Besi beton yang telah difabrikasi diberi tanda sesuai dengan penempatannya,
supaya tidak membingungkan/membuang waktu untuk saat akan dipasang.

Untuk kolom, pembesian tulangan dikerjakan lebih dahulu baru setelah itu
dilanjutkan dengan pemasangan bekesting.

Untuk balok, plat lantai, plat lantai dan tangga bekesting dikerjakan dahulu baru
setelah itu dilanjutan dengan pembesian tulangan.

Diagram Alir Penulangan Beton

4.

Fabrikasi bekesting

Fabrikasi bekesting dikerjakan di lokasi proyek untuk memudahkan pengukuran


dan mempercepat pelaksanaannya, karena angkutan bekesting menjadi dekat.

Untuk struktur beton yang posisinya ada dibawah permukaan tanah, maka
bekesting dapat menggunakan multiplek atau pasangan batako :
1.
Sebelum bekesting batako dipasang, lakukan pengukuran dengan theodolith
untuk kesikuan dan leveling pondasi.
2.
Pasangan dinding batako harus rapih, siku dan lurus sehingga hasil pengecoran
beton dapat baik.
3.
Perkuatan terhadap pasangan dinding batako, agar pada waktu pengecoran
pasangan dinding batako tidak ambruk/runtuh.

Fabrikasi bekesting untuk struktur beton diatas permukaan tanah seperti : kolom,
balok, plat lantai dan tangga menggunakan bahan dari multiplek dan perkuatan
menggunakan balok/kaso dan alat perancah schafolding :
1.

Potong dan bentuk multiplek sesuai dengan ukuran gambar kerja.

2.
Pasang dan rangkai potongan multiplek pada area struktur yang akan dicor
dengan perkuatan balok/kaso dan schaffolding.
3.
Cek bekesting jangan ada celah yang berakibat kebocoran.- Pasangan bekesting
harus rapih, siku dan lurus sehingga hasil pengecoran beton dapat menghasilkan bidang
yang flat/maksimal.

Untuk kolom sebaiknya dibuatkan sepatu kolom dengan besi beton atau besi plat
siku untuk menjaga agar kolom tetap tegak lurus dan siku.

Setting (pasang) besi tulangan yang telah difabrikasi ke dalam bekesting.

Pasang beton decking dan cakar ayam secara merata dan sesuai kebutuhan.

Cek elevasi dan kerataan pemasangan bekesting.


5.

Pengecoran beton

Sebelum melakukan pengecoran beton terlebih dahulu kontraktor membuat Job


Mix Formula untuk menentukan komposisi campuran yang diperlukan sehingga

didapatkan mutu beton yang sesuai dengan yang diharapkan. Job Mix Formula yang telah
dibuat kontraktor diserahkan kepada direksi maupun pengawas lapangan untuk disetujui.
Pada proyek ini untuk pekerjaan struktur menggunakan beton readymix mutu K-225.

Pengecoran beton dimulai setelah konsultan/direksi menyetujui untuk pengecoran


beton yang dinyatakan dalam permohonan pelaksanaan kerja.

Periksa kekuatan acuan yang sudah dipasang /difabrikasi, semua ukuran dan
perkuatan acuan diperiksa benar dan disahkan oleh konsultan/direksi untuk pekerjaan
selanjutnya.

Pasang
pengecoran.

sparing

pipa-pipa

mekanikal

dan

elektrikal

yang

melintas

area

Bersihkan seluruh permukaan dan lokasi pengecoran dari kotoran dan sampah.

Tuang beton readymix ke dalam area pengecoran, pada saat pengecoran adukan
beton diratakan dan dipadatkan dengan vibrator sehingga beton dapat padat dan tidak
ada sarang tawon.

Hindarkan terjadinya beton setting akibat area yang akan dicor belum siap.

Diagram Alir Pengecoran Beton

6.

Curring Beton

Untuk bagian horizontal adalah setelah buka bekesting, bagian luar disemprot air
lalu dicure dengan curing compound.

Untuk bagian vertical adalah web setelah deshuttering dinding disemprot air lalu
dicure dengan curing coumpound construction joint dicure dengan air.

Bagian lain dicuring dengan semprotan air secara rutin selama 1 minggu.

Bekesting dapat dibongkar apabila beton sudah mencapai umurnya.

Pekerjaan Struktur beton


Dalam pekerjaan pembuatan struktur beton terdapat item pekerjaan sebagai berikut :

A.Pekerjaan Bekisting
Dalam pekerjaan bekisting terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni :

Bekisting harus dibuat dan dipasang sesuai dengan bentuk, ukuran dan posisi seperti yang
disyaratkan pada gambar kerja.

Bekisting harus cukup kuat untuk memikul tekanan atau beban yang diakibatkan oleh beton
basah, beban pelaksanaan dan beban-beban lainnya.

Bekisting harus cukup kaku (stabil) artinya harus dapat menghasilkan bentuk yang tetap
bagi struktur beton sesuai yang direncanakan.

Perencanaan bekisting harus didasarkan oleh kemudahan pemasangan, kemudahan


pembongkaran, kecepatan pemasangan dan biaya yang efisien.

Sambungan bekisting harus baik sehingga tidak rusak/bocor pada saat pelaksanaan
pengecoran dan juga tidak merusak beton.

Bahan bekisting harus terbuat dari bahan yang tidak menyerap air semen dan juga tidak
merusak beton.

Pemasangan bekisting harus benar-benar sesuai dengan gambar rencana baik secara
vertical maupun horizontal
Bahan dan alat yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan bekisting adalah:

Multipleks

Kayu kaso 5/7

Kayu balok

Schaffolding set (bila diperlukan

Jack base dan U head (bila diperlukan)

Joint pin (bila diperlukan)

Cross brace (bila ddiperlukan)

Ladder frame(bila diperlukan)

Mould oil

Alat Bantu lain

Sedangkan bahan bekisting yang digunakan pada proyek ini adalah menggunakan bahan
yang sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam RKS, yakni multipleks dengan tebal 18
mm. Bekisting dari multipleks/papan tersebut diperkuat dengan rangka kayu meranti minimal
ukuran 5/10, atau dari bahan lain yang disetujui oleh konsultan pengawas untuk
mendapatkan kekuatan dan kekakuan yang sempurna. Sedangkan steiger yang digunakan
adalah dari pipa - pipa besi standar pabrik atau kayu /dolken.
Adapun pemasangan bekisting meliputi pemasangan bekisting kolom, balok, slab/plat atap
dan kanopi.
A.1. Bekisting Kolom
Dalam pengecoran kolom terlebih dahulu harus memperhatikan :

Vertikalisasi

Axisnya posisi kolom sesuai gambar yang direncanakan

Vertikalitas kolom dijamin dengan struktur penopang ( support ) yang diberikan empat arah
dan dijamin kuat menahan goyangan. Untuk kolom menggunakan form work dari kayu-kayu
dan multypleks yang dengan mudah dapat dibongkar dan dipasang kembali yang
sebelumnya di lapisi oleh mould oil agar mudah dalam pembongkaran dan tidak lengket
yang dapat merusak beton.
A.2. Bekisting Balok dan Pelat atap/Kanopi
Pengecoran balok dan pelat atap atau kanopi dilakukan bersamaan sekaligus, menjadi satu
kesatuan struktur, sehingga form work dan pelat/slab, dibuat sebagai satu kesatuan yang
bersifat tetap. Sesudah selesai form work ini baru dibongkar dan sebagian yang kondisinya
masih baik dapat digunakan kembali.
Adapun pada sistem ini digunakan scaffolding. Kontak antara kaki scaffolding dengan
tempat berpijaknya harus dijaga sempurna, demikian juga sambungan kaki scaffolding
antara yang dibawah dengan yang diatas harus rapat.

A.3. Pekerjaan Pembesian/Penulangan


Fungsi tulangan pada beton adalah untuk menahan gaya tarik, gaya geser dan momen torsi
yang timbul akibat beban-beban yang bekerja pada konstruksi beton tersebut. Oleh karena
itu perencanaan dan pelaksanaan pembesian harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi
teknis dan gambar kerja, RKS dan Aanvulling yang telah direncanakan oleh perencana
struktur yaitu dalam hal:

Ukuran diameter baja tulangan

Kualitas baja tulangan

Kuantitas baja tulangan

Penempatan/pemasangan baja tulangan

Proses fabrikasi besi terdiri dari pemotongan dan pembengkokan besi tulangan.

Sebelum mengerjakan proses fabrikasi besi bagian pembesian harus menyusun daftar
pembengkokan dan pemotongan besi tulangan berdasarkan gambar pelaksanaan ( shop
drawing ). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pembengkokan dan
pemotongan adalah sebagai berikut :

Baja tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih, karat, minyak,
gemuk dan zat kimia lainnya yang dapat merusak atau mengurangi daya lekat antara baja
tulangan dengan beton.

Sambungan antar tulangan harus ditempatkan sedemikian rupa pada daerah yang
momennya nol atau dengan menggunakan sambungan lewatan sehingga gaya dari batang
yang satu dapat disalurkan ke batang yang lain. Panjang sambungan lewatan diambil 40D
( D = diameter penampang baja tulangan ).

Panjang dan bentuk baja tulangan harus direncanakan secara ekonomis sehingga bagianbagian sisa atau yang tidak terpakai didapat seminimal mungkin. Sedemikian rupa sehingga
teknik pemasangan tulangan tidak menyulitkan dalam pelaksanaan lapangan.

Penganyaman besi tulangan harus diikat kuat dengan memakai kawat beton agar waktu
pengecoran posisi tulangan tidak bergeser. Penopang, ganjalan, jepit dan kawat beton harus
berkualitas
sama
dengan
bahan
besi
tulangan.
Adapun besi/tulangan yang digunakan pada proyek ini adalah menggunakan tulangan
dengan mutu baja sebagai berikut :

< 13 mm : BJTP U 24

13 mm : BJTP U 40 (besi ulir)

B. Pekerjaan Pemasangan Tulangan


Baja tulangan dan sengkang yang telah dipotong dan dibengkokan dibawa ke lapangan
untuk dipasang pada posisi sesuai dengan gambar pelaksanaan. Kegiatan yang dilakukan
pada pekerjaan pemasangan tulangan antara lain :

Pemeriksaan diameter, panjang dan bentuk tulangan sebelum baja tulangan tersebut
terpasang.

Jarak antar tulangan serta jumlah tulangan, baik untuk tulangan lentur maupun tulangan
geser.

Sengkang dipasang secara manual. Pemasangan sengkang dilakukan dengan kawat beton.

Memastikan daerah-daerah dan ukuran panjang penyaluran, sambungan lewatan dan


panjang penjangkaran sesuai yang direncanakan.

Pemeriksaan tebal selimut beton dengan memasang tahu beton sebagai acuan sesuai tebal
tebal selimut beton yang akan di cor.

Adapun pekerjaan pembesian/penulangan meliputi pemasangan tulangan kolom, balok,


slab/plat, tangga dan kanopi

C. Pekerjaan Penuangan Beton


Untuk mendapatkan hasil beton yang baik maka cara penuangan harus benar yaitu :

Pengecoran dituang langsung dan atau dengan menggunakan talang cor.

Beton harus dituang vertikal dan sedekat mungkin dengan bagian yang dicor.

Beton tidak boleh dituangkan ke dalam bekisting dengan jarak yang tinggi (maksimum 1,5
m) karena akan mengakibatkan segregasi. Apabila tinggi lebih dari 1,5 m, maka harus
memakai talang/corong/tremi

Beton tidak boleh dicorkan pada saat hujan lebat tanpa penutup diatasnya, karena air hujan
akan menyebabkan turunya mutu beton.

D. Pekerjaan Pemadatan Beton


Disamping cara penuangan yang benar, cara pemadatan yang benar juga merupakan faktor
penting guna mencapai tujuan pembetonan. Cara pemadatan dengan vibrator yg benar
yaitu :

Besarnya kepala vibrator harus disesuaikan dengan jenis struktur beton yang akan dicor
dan jarak antar tulangan terkecil.

Vibrator harus dapat dimasukkan ke dalam jaringan/anyaman besi beton dan harus
diusahakan sedikit mungkin menempelkan vibrator pada besi. Menggetarkan besi beton
dapat mengakibatkan mutu beton yang jelek, dimana terjadi pengumpulan pasir disekitar
besi, bahkan apabila besi digetarkan terus menerus akan berakibat lebih kritis karena
getaran ini merambat kebeton disampingnya yang sudah mulai mengeras, sehingga
mengakibatkan retak atau terjadinya rongga antar besi dan beton. Rongga ini akan
mengakibatkan bahaya korosi pada tulangan.

Tidak boleh meletakkan kepala vibrator terlalu lama dalam beton karena akan meyebabkan
segregasidan bleeding terutama untuk beton dengan slump tinggi. Lama penggetaran cukup
antara 10 s/d 15 detik.

Kepala vibrator jangan terlalu dekat dengan bekisting, keren apabila bekisting tergetar akan
terbentuk lapisan pasir lepas dan juga dapat merusakkan bekisting. Jarak minimal ke
bekisting adalah 10 cm.

Beton tidak boleh digetarkan berulang-ulang pada tempat yang sama, karena dapat
mengakibatkan rongga-rongga udara di dalam betonnya.

Vibrator harus dimasukkan ke dalam beton yang belum terpadatkan secara tepat dan
dicabut pelan-pelan. Kecepatan memasukkan vibrator diperlukan agar tidak sempat terjadi
pemadatan awal pada beton lapisan atas sehingga menyulitkan lolosnya udara dan air yang
terperangkap dibawahnya. Sedangkan pencabutan harus dilakukan pelan-pelan untuk
memberikan kesempatan vibrator menyalurkan secara penuh energi pemadatan pada
beton. Kecepatan pencabutan berkisar antara 4 s/d 8 cm/detik.

Lapisan beton harus dicor secara rata sejak permulaan untuk memudahkan pengaturan
sistem pemadatan dengan vibrator.

Untuk pengecoran struktur beton yang tinggi dan lebar, tiap lapisan beton yang paling
efisien adalah 50 cm. Apabila tiap lapisan dibuat tebal akan menyulitkan udara dan air yang
terperagkap di lapisan bawahnya melepaskan diri ke atas kerena tekanan beton terlelu
berat. Sebaliknya apabila terlalu tipis, tekana beton tidak dapat mengimbangi pekerjaan
vibrator.

Untuk menyambung lapisan bawah dengan lapisan diatasnya, vibrator harus dimasukkan
sebagian (kira-kira 10 s/d 15 cm) ke dalam lapisan di bawahnya agar tercipta lekatan yang
monolik, padat dan menyatu.

Pada pengecoran plat beton yang tipis, vibrator boleh dimasukkan ke dalam beton secara
miring. Dalam hal ini vibrator akan menyentuh besi tulangan, tetapi harus diusahakan sedikit
dan secepat mungkin.

E. Perawatan (curing) beton


Untuk menjaga agar proses hidrasi beton dapat berlangsung dengan sempurna maka
diperlukan curing untuk menjaga kelembabannya. Lamanya curing sekitar 3 hari berturutturut atau sesuai spesifikasi mulai hari kedua setelah pengecoran. Curing dapat dilakukan
dengan berbagai macam cara antara lain :
a. Menyemprotkan dengan lapisan khusus (semacam vaseline) pada permukaan beton.

b. Membasahi secara terus menerus permukaan beton dengan air.


c. Menutupi permukaan beton Plat dengan karung goni basah secara terus menerus

Proses Curing Beton dengan membasahi permukaan beton