Anda di halaman 1dari 7

Laboratorium Vulkanologi 2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Kita ketahui di wilayah negara Indonesia terdapat banyak gunung baik itu
yang aktif maupun non aktif. Kita sangat membutuhkan orang-orang yang
memahami aktivitas gunung, khususnya gunung berapi, karena fenomena alam
geologi dinamik di Indonesia seperti itu. Vulkanologi merupakan studi tentang
gunung berapi, lava, magma, dan fenomena geologi yang saling berhubungan
terutama pada gunung yang masih aktif. Dimana seorang vulkanologist mempelajari
dan memahami pembentukan gunung serta letusannya untuk dapat memperkirakan
letusannya seperti halnya memperkirakan gempa bumi, untuk dapat menyelamatkan
banyak jiwa.
Namun

demikian,

seorang

vulkanologist

juga

perlu

mempelajari

volkanostratigrafi. Volkanostratigrafi atau stratigrafi gunung api adalah ilmu yang


mempelajari urut-urutan dari rekaman kegiatan volkanik, terutama kegiatan yang
dikeluarkan oleh gunung api. Stratigrafi dalam pemetaan vulkanik didasarkan pada
ganesa dan paleovulkanismenya. Penamaan satuan volkanostratigrafi diawali dengan
cara pengendapan, jenis batuan, dan sumber letusan atau geografi. fasies vulkanik
dari tiap-tiap gunung api.
Dalam mempelajari volkanostratigrafi, ada fasies vulkanik yang berguna
untuk mengetahui tipe endapan yang dihasilkan dari aktivitas vulkanik gunung api.
Fasies vulkanik dibagi menjadi beberapa macam menurut beberapa ahli, salah
satunya oleh Bogie dan Mackenzie (1998). Oleh karena itu, seperti apakah fasies
vulkanik dan salah satu jenis fasies vulkanik (Bogie dan Mackenzie, 1998), yaitu
distal, akan dibahas pada bab selanjutnya.
I.2. Maksud dan Tujuan
Pembuatan artikel ini mempunyai maksud dan tujuan untuk membahas dan
memahami secara singkat mengenai fasies vulkanik dan salah satu jenis fasies
vulkanik (Bogie dan Mackenzie, 1998), yaitu distal.
Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto
Nim : 111.120.105
Plug : 5

Laboratorium Vulkanologi 2014

BAB II
ISI

Gambar Fasies Vulkanik di Kerucut Komposit Gunung Merapi, Jawa Tengah


(Sumber : http://oaji.net/articles/1150-1407899937.pdf)

Gunung api terbentuk di permukaan melalui kerak benua dan kerak samudera
serta mekanisme peleburan batuan yang menghasilkan busur gunung api, busur
gunung api tengah samudera, busur gunung api tengah benua, dan busur gunung api
dasar samudera. Terbentuknya Gunung api di Indonesia (Jawa dan Sumatera) terjadi
akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan kerak Benua Asia. Di Sumatera
penunjaman lebih kuat dan dalam sehingga bagian akresi muncul ke permukaan
membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, Enggano, dan lain-lain.
Fasies vulkanik adalah tipe endapan batuan produk gunungapi yang
dimodelkan berdasarkan kesebandingan rekaman batuan purba dengan batuan
sekarang. Dan didasari oleh tipe letusan, deposisi, dan proses erosional. Dalam fasies
vulkanik pembagian litologi utama adalah lava, piroklastik (yang dibagi lagi menjadi
jenis piroklastik), dan epiklastik. Jadi, sesuai dengan batasan fasies gunung api, yakni
Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto
Nim : 111.120.105
Plug : 5

Laboratorium Vulkanologi 2014

sejumlah ciri litologi (fisika dan kimia) batuan gunung api pada suatu lokasi tertentu,
maka masing-masing fasies gunung api tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan
data, yaitu :

1. inderaja dan geomorfologi,


2. stratigrafi batuan gunung api,
3. vulkanologi fisik,
4. struktur geologi, serta
5. petrologi-geokimia.
Pembagian fasies-fasies vulkanik berdasarkan Bogie dan Mackenzie (1998)
ada empat macam, yaitu fasies sentral, proksimal, medial, dan distal. Adapun
penjelasannya adalah sebagai berikut :
Fasies sentral merupakan bukaan keluarnya magma dari dalam bumi ke
permukaan. Oleh sebab itu daerah ini dicirikan oleh asosiasi batuan beku yang
berupa kubah lava dan berbagai macam batuan terobosan semi gunung api
(subvolcanic intrusions) seperti halnya volcanic necks, sill, retas, dan kubah
bawah permukaan (cryptodomes). Batuan terobosan dangkal tersebut dapat
ditemukan pada dinding kawah atau kaldera gunung api masa kini, atau pada
gunung api purba yang sudah tererosi lanjut. Selain itu, karena daerah bukaan
mulai dari conduit atau diatrema sampai dengan kawah merupakan lokasi
terbentuknya fluida hidrotermal, maka hal itu mengakibatkan terbentuknya batuan
ubahan atau bahkan mineralisasi. Apabila erosi di fasies sentral ini sangat lanjut,
batuan tua yang mendasari batuan gunung api juga dapat tersingkap.
Fasies proksimal merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi
sumber atau fasies pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunung api komposit
sangat didominasi oleh perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan
aglomerat. Kelompok batuan ini sangat resistan, sehingga biasanya membentuk
timbulan tertinggi pada gunung api purba.
Fasies medial, karena sudah lebih menjauhi lokasi sumber, aliran lava dan
aglomerat sudah berkurang, tetapi breksi piroklastika dan tuf sangat dominan, dan
breksi lahar juga sudah mulai berkembang. Sebagai daerah pengendapan terjauh
dari sumber.
Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto
Nim : 111.120.105
Plug : 5

Laboratorium Vulkanologi 2014

Fasies distal yang terbentuk di daerah kaki serta dataran di sekeliling gunung api
didominasi oleh endapan rombakan gunung api seperti halnya breksi lahar yang
terbentuk akibat material-material rombakan gunung api yang memiliki densitas
lebih kecil akan melayang pada lahar kemudian mengendap dan memiliki
fragmen-fragmen berukuran lebih dari 2 mm serta derajat pembundaran
menyudut, breksi fluviatil yang terbentuk pada aliran sungai atau bentuklahan
akibat proses fluvial, konglomerat yang berukuran fragmen seperti breksi karena
masih dekat dengan sumber tetapi derajat pembundarannya membundar,
batupasir, dan batulanau. Endapan primer gunung api di fasies ini umumnya
berupa tuf yang merupakan batuan piroklastik dengan ukuran butir kurang dari
0,06 mm. Ciri-ciri litologi secara umum tersebut tentunya ada kekecualian apabila
terjadi letusan besar sehingga menghasilkan endapan aliran piroklastika atau
endapan longsoran gunung api yang melampar jauh dari sumbernya. Pada pulau
gunung api ataupun gunung api bawah laut, di dalam fasies distal ini batuan
gunung api dapat berselang-seling dengan batuan non gunung api, seperti halnya
batuan karbonat.

Gambar Fasies Vulkanik Beserta Komposisi Batuan Penyusunnya


(Bogie & Mackenzie, 1998)
Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto
Nim : 111.120.105
Plug : 5

Laboratorium Vulkanologi 2014

(Sumber : http://youngcollegestudent.blogspot.com/2014/01/volkanostratigrafi.html)

Fasies distal merupakan fasies yang secara letak berada paling luar dan paling
rendah di daerah gunung api. Akan tetapi, daerah gunung api merupakan daerah
tinggian yang dapat menjadi daerah resapan atau tangkapan air yang berasal dari
presipitasi yang sangat baik. Dalam rangka pengelolaan sumber daya air tanah perlu
diketahui karakter aliran air bawah permukaan yang dimulai dari fasies sentral dan
fasies proksimal menuju ke fasies medial dan fasies distal. Di sinilah perlunya
melakukan penelitian, identifikasi dan pemetaan terhadap wilayah yang termasuk di
dalam fasies gunung api tersebut. Wilayah fasies sentral dan proksimal seyogyanya
dilestarikan sebagai daerah tangkapan dan resapan air hujan, sedangkan pemanfaatan
air tanah dilakukan di fasies medial atau bahkan di fasies distal. Infiltrasi air pada
daerah fasies sentral gunung api dan fasies proksimal (recharge) lalu mengalir run
off menuju fasies medial bahkan fasies distal dan perkolasi di bawah permukaan pada
batuan-batuan menjadikan daerah fasies distal sebagai (discharge) yang dapat
dimanfaatkan sebagai mata air. Dengan demikian, kita dapat mengaplikasikan fasies
distal sebagai daerah pemanfaatan air tanah.

Gambar Fasies Vulkanik Distal


(http://www.volcosquad.com/2014/04/fasies-fulkanik-vessell-dan-davies-1981.html)
Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto
Nim : 111.120.105
Plug : 5

Laboratorium Vulkanologi 2014

Selain itu, berdasarkan pengamatan terhadap proses dan produk erupsi gunung
api aktif masa kini, maka jenis bahaya gunung api pada setiap fasies gunung api
dapat diperkirakan. Bahaya pada fasies distal berupa hujan abu, aliran lahar, dan
banjir. Informasi ini sangat penting dalam rangka menyusun peta kawasan rawan
bencana gunung api yang mempunyai potensi untuk meletus pada masa mendatang,
sekaligus penataan lingkungan hidup di wilayah tersebut. Jadi, dengan mempelajari
tiap-tiap fasies, seperti pada fasies distal, dapat diketahui juga aplikasinya sehingga
dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto


Nim : 111.120.105
Plug : 5

Laboratorium Vulkanologi 2014

BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan

Fasies vulkanik adalah tipe endapan batuan produk gunungapi yang


dimodelkan berdasarkan kesebandingan rekaman batuan purba dengan batuan
sekarang. Dan didasari oleh tipe letusan, deposisi, dan proses erosional.
Dalam fasies vulkanik pembagian litologi utama adalah lava, piroklastik
(yang dibagi lagi menjadi jenis piroklastik), dan epiklastik. Jadi, sesuai
dengan batasan fasies gunung api, yakni sejumlah ciri litologi (fisika dan
kimia) batuan gunung api pada suatu lokasi tertentu, maka fasies gunung api
berdasarkan Bogie dan Mackenzie (1998) ada empat macam, yaitu fasies
sentral, proksimal, medial, dan dista

Fasies distal yang berada pada daerah kaki dan dataran di sekeliling gunung
api didominasi oleh endapan rombakan gunung api seperti halnya breksi
lahar, breksi fluviatil, konglomerat, batupasir, dan batulanau. Endapan primer
gunung api di fasies ini umumnya berupa tuf. Ciri-ciri litologi secara umum
tersebut tentunya ada kekecualian apabila terjadi letusan besar sehingga
menghasilkan endapan aliran piroklastika atau endapan longsoran gunung api
yang melampar jauh dari sumbernya. Pada pulau gunung api ataupun gunung
api bawah laut, di dalam fasies distal ini batuan gunung api dapat berselangseling dengan batuan non gunung api, seperti halnya batuan karbonat.

Nama : Rahardiyan Yoga Dewanto


Nim : 111.120.105
Plug : 5