Anda di halaman 1dari 7

Aji Ayu Nurbianti

1310015108
Dera Armedita
1310015101

1. Pentingnya surat persetujuan tindakan medik (informed


consent) pada praktek dokter gigi (The importance of
informed consent in dental practice)
Pendahuluan
Critical Review ini dibuat untuk Jurnal yang berjudul Pentingnya surat persetujuan tindakan
medik (informed consent) pada praktek dokter gigi yang ditulis oleh Mita Juliawati. Penulis
berasal dari Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Trisakti Jakarta Indonesia. Jurnal ini dipublikasikan pada tahun 2014 oleh
PDGI, pada

Vol. 63 Agustus 2014.

Secara umum, permasalahan yang dibahas pada jurnal adalah tentang betapa pentingnya surat
persetujuan medis (informed concent) begitu dalam layanan praktik kedokteran gigi yang
diberikan dokter kepada pasien sebelum melakukan tindakan medis. Bagi dokter, surat
persetujuan tindakan medis dapat membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis
pada pasien, sekaligus dapat digunakan sebagai pembelaan diri terhadap kemungkinan
adanya tuntutan atau gugatan dari pasien atau keluarganya apabila timbul akibat yang tidak
dikehendaki. Bagi pasien informed consent merupakan penghargaan terhadap hak-haknya
oleh dokter gigi dan dapat digunakan sebagai alasan gugatan apabila terjadi penyimpangan
praktik dokter gigi dari maksud diberikannya persetujuan pelayanan kesehatan
Topik dalam jurnal ini lumayan menarik untuk dibahas karena sebelumnya terdapat kasus
yang berhubungan dengan persetujuan tindakan medis antara lain yaitu laporan pengaduan
masyarakat yang berujung penuntutan kepada tenaga medis dokter gigi tetapi tidak banyak

kasus-kasus lain dijelaskan.


Tujuan dari jurnal ini adalah memberitahukan betapa pentingnya surat persetujuan tindakan
medis (informed consent) bagi dokter gigi sebelum melakukan tindakan dalam menjalankan
tindakan medis pada pasien dan sebagai pembelaan diri terhadap kemungkinan adanya
tuntutan atau gugatan dari pasien atau keluarganya apabila timbul akibat yang tidak
dikehendaki, bagi pasien mampu memahami informasi yang diberikan, sebagai pedoman
membuat keputusan serta merupakan penghargaan terhadap hak pasien dan dapat digunakan
sebagai alasan gugatan terhadap dokter apabila terjadi penyimpangan praktik dokter.

Resume
Dari telaah jurnal tersebut tergambar pentingnya surat persetujuan tindakan medis (informed
consent) dalam layanan praktik kedokteran gigi, yang meliputi layanan edukasi (promotif),
pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pengembalian fungsi kunyah estetik
(rehabilitatif).11 Dalam hal ini merupakan suatu perjanjian tertulis yang menentukan
kewajiban dokter gigi dalam berkomunikasi dengan pasien, yang berisi ketentuan dimana
pasien harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, pasien harus sukarela
memberikan persetujuan tanpa adanya paksaan, serta memperoleh dan memahami informasi
yang lengkap mengenai tindakan medis yang akan dilakukan. Tujuan dari surat persetujuan
tindakan medis (informed consent) adalah agar pasien mampu memahami serta mempercayai
informasi yang diberikan dengan jelas, mampu mempertahankan informasi yang telah
diberikan dalam waktu yang cukup lama, menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga
dapat dijadikan sebagai pedoman membuat keputusan oleh pasien.
Informed consent berfungsi ganda. Bagi dokter, surat persetujuan tindakan medis dapat
membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis pada pasien, sekaligus dapat
digunakan sebagai pembelaan diri terhadap kemungkinan adanya tuntutan atau gugatan dari
pasien atau keluarganya apabila timbul akibat yang tidak dikehendaki. Bagi pasien informed
consent merupakan penghargaan terhadap hak-haknya oleh dokter gigi dan dapat digunakan
sebagai alasan gugatan apabila terjadi penyimpangan praktik dokter gigi dari maksud
diberikannya persetujuan pelayanan kesehatan. Walaupun ada persetujuan semacam itu,
apabila perlakuan medis dilakukan secara salah sehingga menimbulkan akibat yang tidak
dikehendaki, dokter gigi juga tetap terbebani tanggung jawab terhadap akibatnya. Informed

consent harus ditandatangani oleh dokter gigi yang melakukan tindakan medis, pasien
sebagai yang dilakukan tindakan serta disetujui oleh setidaknya satu orang saksi dari pihak
pelaksana medis atau pihak keluarga pasien. Hal ini perlu untuk menambah rasa aman pihak
pasien dan keluarga serta bagi dokter gigi ada pihak yang menguatkan sebagai saksi dari
persetujuan tindakan pada pasien.
Diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran pasal 45 yang menyampaikan bahwa setiap tindakan kedokteran atau kedokteran
gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat
persetujuan diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap, sekurangkurangnya mencakup diagnosa serta tatacara tindakan medis yang dilakukan, tujuan tindakan
medis yang dilakukan, alternatif tindakan lain dan resikonya serta komplikasi yang mungkin
terjadi, serta prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. Selanjutnya persetujuan tersebut
diatas dapat diberikan baik lisan maupun tulisan, tetapi khusus tindakan kedokteran atau
kedokteran gigi yang berisiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberi persetujuan. Kelengkapan informasi kepada pasien
tersebut guna menunjang hak-hak pasien yang dilindungi oleh Undang-Undang antara lain
Undang-Undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang ada di bab III mengenai Hak dan
Kewajiban pasien, antara lain pada pasal
4 perihal setiap orang berhak atas kesehatan, lalu pada pasal 7 yang menyatakan bahwa setiap
orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang
dan bertanggung jawab serta pada pasal 8 dimana setiap orang berhak memperoleh informasi
tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang
akan diterimanya dari tenaga kesehatan, dalam hal ini dokter gigi. Konsekuensi hukum bila
informed consent tidak dipenuhi oleh tenaga medis yaitu apabila tenaga medis melalaikan
tiga syarat tindakan medis, tetapi tidak dianggap melawan hukum adalah, indikasi medis,
prosedur baku di dalam ilmu kedokteran dan adanya surat persetujuan tindakan medis
(informed

consent).

Sesuai

tertera

dalam

KUH

Perdata

pasal

1365,

mengenai

onrechtmatigedaad, sanksi perdatanya dalam bentuk ganti rugi atas cacat atau luka karena
adanya perbuatan yang salah misalnya karena lalai. Untuk sanksi pidana yang dapat dikaitkan
dengan surat persetujuan tindakan medis (informed consent) adalah KUHP Pasal 351
mengenai penganiayaan, misalnya dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan medis
tanpa izin, tetapi jika dalam prosedur tidak ditemukan suatu kesalahan atau kelalaian maka

sanksi perdata maupun pidana tidak dapat diberlakukan. Hal tersebut diatas menunjukan
betapa pentingnya peran surat persetujuan tindakan medis (informed consent) dalam praktek
kedokteran termasuk kedokteran gigi. Perihal salah satu contoh kasus di atas yang timbul
karena ketidakhati-hatian dokter gigi yang tidak menyertakan surat persetujuan tindakan
medis (informed consent) pada pasien yang diduga mengakibatkan komplikasi berupa
kelainan syaraf pasca pencabutan, walau kemudian dilakukan rujukan ke rumah sakit untuk
terapi di bagian syaraf, tetapi intinya orang tua dari anak tersebut mempermasalahkan
pencabutan gigi yang dilakukan tanpa ijin mereka, pendapat ahli menyatakan bahwa
pencabutan itu termasuk tindakan invasif, sehingga orangtua pasien perlu mendapat
penjelasan tentang akibatnya, setelah menerima penjelasan, orangtuanya harus memberikan
persetujuan dengan menandatangani surat persetujuan tindakan medis. Dalam hal ini pasien
merasa dirugikan dimana seharusnya pasien mempunyai hak untuk mendapatkan
informasidari dokter gigi sebelum melakukan tindakan medis.
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa surat persetujuan tindakan medis
(informed consent) berperan penting bagi dokter gigi dalam menjalankan tindakan medisnya
yaitu sebagai salah satu perangkat untuk melindungi rasa aman. Surat persetujuan medis
(informed consent) harus ditandatangani kedua belah pihak baik dokter gigi sebagai pihak
pemberi jasa maupun pasien sebagai pihak penerima jasa sebelum tindakan medis dilakukan.
Pasien sebagai penerima jasa harus mendapatkan penjelasan secara lengkap perihal tindakan,
tujuan, resiko serta komplikasi terhadap tindakan yang dilakukan,sesuai dengan UndangUndang Republik Indonesia no. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran pasal 45 yang
intinya melindungi tenaga medis dari tuntutan malpraktik.
Prosedur yang harus dilakukan dokter gigi kepada pasien dalam hubungannya dengan
tindakan medis pada praktik kedokteran gigi adalah sebagai berikut, melakukan tindakan
kepada pasien sesuai standar pelayanan medis dan standar prosedur operasional pelayanan
praktik kedokteran dan kedokteran gigi, melakukan anamnesa dan pemeriksaan pasien sesuai
aturan yang ada, mengisi surat persetujuan tindakan medis (informed consent) dan
menandatangani form tersebut kepada pasien atau keluarganya, menjelaskan seluruh rencana
perawatan atas tindakan yang akan dilakukan kepada pasien yang bersangkutan.

Critical Review

Secara umum, jurnal Pentingnya Surat Persetujuan Tindakan Medik (informed consent)
pada Praktek Dokter Gigi meneliti bahwa surat persetujuan tindakan medik sangat penting
dalam pelaksanaan tindakan medik pelayanan kesehatan. Banyak contoh kasus atau
permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam profesi dokter gigi. Tetapi didalam jurnal ini
pembahasannya tidak terlalu mendalam dan juga tidak menampilkan berbagai kasus-kasus
yang telah terjadi. Jurnal ini juga hanya berupa ulasan-ulasan yang terus diulang mengenai
tujuan dari tindakan medis, sehingga terlalu monoton dan bosan untuk dibaca.

2. Proteksi dokter gigi sebagai pemutus rantai infeksi silang


Penulis : Terence Wibowo , Kristanti Parisihni , dan Dwi Haryanto
Latar Belakang
Kita sebagai dokter gigi tidak terlepas dari kemungkinan untuk berkontak secara langsung
ataupun tidak langsung dengan mikroorganisme dalam saliva dan darah penderita. Bukti
menunjukkan bahwa tingkat resiko dokter gigi berkaitan langsung dengan kontaknya
terhadap darah dan saliva penderita. Hal ini disebabkan tindakan dalam praktek dokter gigi
menempatkan dokter gigi beresiko tinggi terutama terhadap penyakit menular berbahaya
yaitu infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan virus hepatitis.
Tingkat disiplin pada pengendalian infeksi telah meningkat selama 10 tahun terakhir. Hal ini
disebabkan oleh adanya peningkatan insidensi AIDS daripada peningkatan insidensi hepatitis
B yang lebih beresiko mengenai tenaga medis kedokteran gigi. Banyak pasien dan tenaga
medis di kedokteran gigi yang beresiko untuk tertular microorganisme patogen termasuk
cytomegalovirus (CMV), HBV, Hepatitis C virus (HCV), herpes simplex virus tipe 1 dan 2,
HIV, Mycobacterium tuberculosis, staphylococci, streptococci, serta berbagai macam virus,
bakteri yang berkolonisasi serta menginfeksi rongga mulut dan saluran pernafasan. Penyakit
infeksi dapat menyebar di tempat praktek melalui kontak langsung antara manusia dengan
manusia, kontak tidak langsung, inhalasi langsung maupun tidak langsung, autoinokulasi,
dan ingesti. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana dokter gigi memproteksi diri
terhadap adanya infeksi silang antara dokter gigi dengan pasien.

Saya tertarik untuk memilih jurnal ini karena kita kelak sebagai dokter gigi berisiko besar
untuk terkena penyakit menular berbahaya karena kurangnya proteksi diri. Maka dari jurnal
ini akan diketehaui bagamana kebiasaan dokter gigi melindungi dirinya dari risiko-risiko
penyakit menular ini. Dari jurnal ini saya akan mengetahui bagaimana kebiasaan dokter gigi
melindungi dirinya saat melakukan tindakan terhadap pasien. Jadi dari jurnal ini kita sebagai
dokter gigi jadi tahu kebiasaan yang menyebabkan bisanya menular penyakit tersebut akibat
kurangnya proteksi diri saat melakukan tindakan.
Sinopsis
Proteksi dokter gigi untuk mencegah terjadinya infeksi silang merupakan salah satu faktor
pemutus mata rantai penyebaran infeksi. Kebersihan diri dokter gigi merupakan tanggung
jawab setiap individu, sehingga pasien akan selalu merasa aman setiap kali memeriksakan
diri ke dokter gigi. Dalam setiap pekerjaan yang dilakukan dokter gigi, tidak lepas
hubungannya dengan mikroorganisme yang ada pada penderita. Berbagai macam cara
dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi silang antara lain dengan pemakaian proteksi
diri yaitu masker, kacamata pelindung, sarung tangan, baju praktek, maupun penutup rambut
dan kebersihan lingkungan tempat kerja yang meliputi cara pembersihan alat dan lingkungan.
Berbagai macam proteksi standard seperti masker dan sarung tangan merupakan alat-alat
yang digunakan setiap hari di klinik universitas. Proteksi standard telah digunakan dengan
baik walaupun beberapa dokter jarang mengganti alat-alat proteksi tersebut. Ketika masker
basah, resistensi masker terhadap udara akan berkurang sehingga udara lebih banyak yang
masuk lewat masker.8 Sedangkan alat-alat tambahan seperti kacamata pelindung mata belum
menjadi standard karena faktor harga dan kebiasaan. Dari hasil kuesioner didapatkan bahwa
dokter gigi yang memakai kacamata pelindung sangatlah sedikit karena mereka tidak
terbiasa, dan pada setiap puskesmas tidak ada subsidi pemberian kacamata pelindung,
sehingga dokter gigi harus membeli dengan dana pribadi. Kacamata sering dilupakan
kegunaannya padahal penularan melalui droplet yang telah terkontaminasi penyakit yang
penyebarannya lewat darah dan mikroorganisme yang infeksius dapat masuk melalui mata. 8
Pekerjaan dokter gigi tidak akan pernah lepas berhubungan dengan penderita yang tidak
diketahui secara lengkap sejarah kesehatan dan penyakit yang sedang dialami, oleh karena itu
dokter gigi harus mempunyai proteksi terhadap infeksi silang. Sebaiknya ditetapkan suatu
standard untuk proteksi diri dokter gigi sehingga kemungkinan infeksi silang sangatlah kecil.
Proteksi diri dokter gigi meliputi pemakaian baju praktek, masker, penutup rambut, sarung
tangan, pelindung mata sehingga seluruh tubuh dokter gigi dapat terlindungi dari terpapar

cairan penderita. Prosedur pemakaian proteksi diri harus ditetapkan oleh badan yang
berwenang yang meliputi antara lain cara pemakaian maupun lama pemakaian. Sehingga
dengan adanya prosedur yang lengkap maka rantai infeksi akan terputus, karena kesalahan
sekecil apapun pada prosedur proteksi diri dapat menyebabkan perpindahan penyakit dari
penderita ke penderita baru.
Rangkuman
Berdasarkan hasil kuesioner didapatkan 75 % dari 32 responden sering mencuci tangan
sebelum memeriksa pasien dan 87.5 % mencuci tangan setelah memeriksa pasien. Hal ini
menunjukkan bahwa mencuci tangan sebelum dan sesudah memeriksa pasien merupakan
kebiasaan yang sering dilakukan oleh dokter gigi yang ada di puskesmas. Sabun yang dipakai
untuk mencuci tangan yang digunakan oleh 65.6 % responden menggunakan sabun biasa
untuk mencuci tangan atau disebut juga sabun non antimikrobial. Hal ini sesuai dengan bahan
yang dianjurkan untuk mencuci tangan rutin yaitu dengan air dan sabun non antimikrobial.
Pergantian sarung tangan dilakukan oleh 56,3 % responden setiap pergantian pasien, dan
sarung tangan yang dipakai oleh 62.5 % responden adalah sarung tangan disposable. Hal ini
sesuai dengan pernyataan bahwa semua sarung tangan yang dipakai di bidang kedokteran di
ciptakan untuk sekali pemakaian, oleh karena itu harus di buang setelah pemakaian terhadap
satu pasien. Dari hasil kuesioner didapatkan 62.5 % responden memakai masker setiap kali
memeriksa pasien. Hal ini menunjukkan bahwa dokter gigi telah mencegah terjadinya infeksi
silang karena masker dapat melindungi pemakai dari mikroorganisme dengan effisiensi lebih
dari 95 % penyaringan bakteri dan dapat melindungi dokter gigi dan petugas kesehatan dari
droplet yang telah terkontaminasi penyakit yang penyebarannya lewat darah dan
mikroorganisme yang infeksius. 8 Kacamata pelindung tidak pernah dipakai oleh 62.5 %
responden ketika memeriksa pasien. Hal ini kemungkinan disebabkan karena mahalnya harga
kacamata pelindung dan kurangnya kenyamanan dalam pemakaiannya. Dan 43.8% responden
memakai kacamata pelindung dalam kasus penumpatan, hal ini kemungkinan disebabkan
karena pada setiap kasus penumpatan pasti diperlukan bur yang pemakaiannya diperlukan air