Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang suci, yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW
sebagai rahmat untuk semesta alam. Setiap makhluk hidup mempunyai hak untuk
menikmati kehidupan, baik hewan, tumbuhan maupun manusia (terutama) yang
menyandang gelar khalifah di muka bumi ini. Oleh karena itu ajaran Islam sangat
mementingkan pemeliharaan terhadap lima hal, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan
dan harta.
Memelihara harta dan melindunginya dari berbagai ancaman berarti
memelihara eksistensi kehidupan umat manusia. Namun tidak semua orang
merasa senang dan bahagia dengan setiap kelahiran yang tidak direncanakan,
karena faktor kemiskinan, hubungan di luar nikah dan alasan-alasan lainnya. Hal
ini mengakibatkan ada sebagian wanita yang menggugurkan kandungannya
setelah janin bersemi dalam rahimnya.
Adapun hal-hal yang akan dibahas penulis dalam makalah ini yaitu :
1. Pengertian abortus, menstrual regulation, dan eugenetika
2. Macam-macam abortus
3. Pandangan/tinjauan hukum Islam

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Abortus, Menstrual Regulation, dan Eugenetika
1. Abortus

Abortus, berasal dari bahasa Latin : abortion, sedangkan


dalam bahasa arab disebut isqatulhamli atau alijhadu yang berarti gugur
kandungan atau keguguran. Sedangkan menurut istilah kedokteran
pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi (kehamilan) 28 minggu atau
sebelum janin mencapai berat 1.000 gram. Dalam istilah hukum aborsi berarti
penghentian kehamilan atau matinya janin sebelum waktunya kelahiran. Aborsi
secara umum adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu)
sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan. 1[1]
Abortus menurut Sardikin Ginaputra (Fakultas Kedokteran UI), ialah
pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Dan menurut Maryono Reksodipura (Fakultas Hukum UI) ialah
pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir
secara alamiah).
2. Menstrual Regulation
Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi/datang
bulan/haid, tetapi dalam praktek mestrual regulation ini dilaksanakan terhadap
wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratoris ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta
dibereskan janinnya itu. Maka jelaslah, bahwa menstrual regulation itu pada
hakikatnya adalah abortus provokatus criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter.
2

[2]

3. Eugenetika
Eugenetika artinya seleksi ras unggul, dengan tujuan agar janin yang
dikandung oleh ibu dapat diharapkan lahir sebagai bayi yang normal dan sehat
fisik, mental dan intelektual. Sebagai konsekuensinya, apabila janin diketahui dari
hasil pemeriksaan medik yang canggih, menderita cacat atau penyakit yang sangat
berat, misalnya down syndrome, yang berarti IQ-nya hanya sekitar 20-70; maka
digugurkan janin tersebut dengan alasan hidup anak yang ber-IQ sangat rendah itu
1
2

tidak ada artinya hidup dan menderita sepanjang hidupnya, dan juga menjadi
beban keluarga dan masyarakat/negara.3[3]
2.2 Macam-Macam Abortus
Abortus (pengguguran) ada dua macam :
a) Abortus spontan (spontaneus abortus), ialah abortus yang tidak sengaja. Abortus
spontan bisa terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan, dan sebagainya.
b) Abortus yang disengaja (abortus provocatus/induced pro abortion). Abortus yang

disengaja ini juga terbagi 2 :


Abortus artificialis therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh dokter atas
dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diteruskan bisa membahayakan si
calon ibu, karena misalnya penyakit-penyakit yang berat, antara lain TBC yang

berat dan penyakit ginjal yang berat.


Abortus provocatus criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar indikasi
medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks
di luar perkawinan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.4[4]

2.3 Pandangan/Tinjauan Hukum Islam


Hukum abortus dan menstrual dan menstrual regulation adalah haram,
sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Q.S al isra ayat 31 :
wur (#q=G)s? N.ys9rr& spuyz 9,n=B) (
`tU Ng%tR /.$)ur 4 b) Ngn=Fs% tb%2
$\z #Z6x.
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan.
kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
Hadis nabi :

3
4






:









:






( ) .


Apabila nutfah telah berusia empat puluh dua malam, maka Allah mengutus
malaikat, lalu di buatkan bentuknya, diciptakan pendengarannya,
penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat
bertanya. Ya Rabbi, laki-laki ataukah perempuan ? lalu Rabb-mu menentukan
sesuai dengan kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya, kemudian dia
( malaikat ) bertanya, Ya Rabbi, bagaimana ajalnya ? lalu Rabb-mu menetapkan
sesuai dengan yan di kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian ia
bertanya, Ya Rabbi, bagaimana rezekinya ? lalu Rabb-mu menentukan sesuai
dengan yang di kehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian malaikat itu
keluar dengan membawa lembaran catatannya, maka ia tidak menambah dan
tidak mengurangi apa yang di perintahkan itu.

Dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) Indonesia, negara


melarang abortus dan sanksi hukumnya cukup berat. Bahkan hukumannya tidak
hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang
terlibat dalam kejahatan tersebut dapat dituntut. Menurut pandangan Islam apabila
abortus dilakukan sesudah janin bernyawa atau janin beumur 4 bulan, maka telah
ada kesepakatan ulama tentang keharaman abortus itu, karena dipandang sebagai
pembunuhan terhadap manusia. Tetapi apabila abortus dilakukan sebelum diberi
roh/nyawa pada janin itu, yaitu sebelum berumur empat bulan, ada beberapa
pendapat ulama yaitu :
a.

Muhammad Ramli dalam kitab An-Nihayah, membolehkan abortus dengan alasan

belum bernyawa.
b. Ada pula ulama yang memandangnya makhruh, dengan alasan karena janin yang
sedang mengalami pertumbuhan.
c.
Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Tuhfah dan Al-Ghazali dalam kitabnya
IhyaUlumuddin mengharamkan abortus pada tahap ini (belum bernyawa).
d. Mahmud Syaltut mengatakan bahwa sejak bertemu sel sperma dengan ovum (sel
telur), maka pengguguran adalah suatu kejahatan dan haram hukumnya, sekalipun

si janin belum diberi nyawa, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang
sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi manusia. Tetapi
apabila abortus dilakukan karena benar-benar terpaksa demi menyelamtkan si ibu,
maka islam membolehkan.

menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya,
itu wajib (hukumnya).
Mengenai menstrual regulation, Islam juga melarangnya karena pada
hakikatnya sama dengan abortus, merusak /menghancurkan janin calon manusia
yang dimuliakan Allah, karena ia berhak tetap survive dan alhir dalam keadaan
hidup, sekalipun eksistensinya hasil dari hubungan yang tidak sah (di luar
perkawinan yang sah). Sebab menurut Islam setiap anak lahir dalam keadaan suci
(tidak bernoda).




"Semua anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia jelas omongannya. Kemudian
orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau
Majusi. (Hadis riwayat Abu Yala, Al-Thabrani, dan Al-Baihaqi dari Al- Aswad
bin Sari)
Sedangkan praktek eugenetika sebagai bentuk usaha
dalam mencegah lahirnya bayi yang cacat, pada dasarnya
memeiliki hukum yang sama dalam masalah abortus ataupun
menstrual regulation. Karena pembunuhan terhadap makhluk
ciptaan Allah, baik yang telah lahir ataupun yang masih dalam
kandugan,

merupakan

perbuatan

zalim

atau

penganiyaan,

karena setiap makhluk memiliki hak untuk menikmati kehidupan.


Dalil yang sama dijelaskan Allah dalam QS. al-Anm : 151 dan
QS. al-Isra: 33
QS. al-Anm : 151

...
...





Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami


akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu.
QS. al-Isra: 33


...

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)


melainkan dengan (alasan) yang benar (menurut syara).
Namun,apabila pengguguran dilakukan dengan alasan
down

syndrome,masih

mudharat

atau

dapat

resikonya

ditolerir
jauh

lebih

karena
besar

mengingat
daripada

mashlahatnya,jika mempertahankan kehidupan janin itu. Akan


tetapi eugenetika yang dilakukan atas dasar permintaan ibu atau
keluarga dengan alasan jenis kelaminnya tidak sesuai dengan
harapannyamaka perbuatan tersebutlah yang sangat dilarang
sebagai bentuk perbuatan yang tidak manusiawi dan perbuatan
kriminal. Selain itu juga bertentangan dengan norma agama,
pancasila, dan peraturan per-UU-an yang berlaku (KUH Pidana
dan UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan).5[5]

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Agama Islam mengizinkan wanita mencegah kehamilan
karena

sesuatu

sebab,

tetapi

melarangnya

mengakhiri

kehamilannya dengan cara abortus, atau bahkan melalui praktek


menstrual regulation. Hal yang sama juga berlaku dalam raktek
eugenetika, sebagai bentuk penyesalan atas nikmat atau rezki
yang diberikan Allah. Dari sisi pandang islam, ketiga kasus ini,
tidak bergantung pada masalah

apakah janin itu berstatus

manusia (sudah bernyawa) atau tidak. Kendatipun islam tidak


mengakui

janin

sebagai

manusia,

namun

islam

tetap

memberinya hak untuk kemungkinan hidup.


1.2 Saran
Kehidupan merupakan anugrah dari Allah SWT. Semua
makhluk ciptaan Allah berhak untuk merasakan kehidupan. Maka
hendaklah kita saling menghargai kehidupan semua makhluk
karena tidak satupun alasan yang bisa dibenarkan untuk
mengakhiri kehidupan makhluk hidup apalagi manusia.
http://chandrayuliasman.blogspot.co.id/2013/06/fiqh-kontemporer-abortusmenstrual.html 25 juni 2013,akses tgl 120316 07.30
ABORTUS, MENSTRUAL REGULATION, DAN EUGENETIKA

A. Pendahuluan

Islam adalah agama yang suci, yang dibawa oleh Nabi


Muhammad SAW. sebagai rahmat untuk semesta alam.
Setiap makhluk hidup mempunyai hak untuk menikmati
kehidupan, Baik hewan, tumbuhan, maupun manusia
(terutama) yang menyandang gelar khalifah di muak
bumi

ini.

Oleh

karana

itu,

ajaran

Islam

sangat

mementingkan pemeliharaan terhadap lima hal, yaitu


agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Memelihara jiwa, dan melindunginya dari berbagai


ancaman berat memelihara eksistensi kehidupan umat
manusia. Nemun tidak semua orang merasa senang dan
bahagia

dengan

setiap

kelahiran

yang

tidak

direncanakan, karena berbagai faktir belakang seperti


kemiskinan, hamil di luar nikah.

Hal ini menyebabkan

banyak wanita yang menggugurkan kandungan nya agar


tidak melahirkan janin yang ada di rahimnya.

Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang


tiga hal yang berbeda, namun boleh dikatakan tujuan
umumnya sama yaitu tidak menginginkan keturunan.

Diantaranya yaitu abortus, eugenetika, da menstrual


regulation.

B.

Pengertian

Abortus,

Menstrual

regulation,

dan

Eugenetika

Pengertian abortus dalam bahasa Inggris disebut


abortion berasal dari bahasa Latin yang berarti gugur
kandungan

atau

keguguran.

Menurut

Maryono

Reksodipura, abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi


dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara
alamiah).6[1]

Jadi, abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakhiri


masa

kehamilan

kandungan
kandungan.

dengan

sebelum

janin

mnegeluarkan
itu

dapat

janin

hidup

di

dari
luar

Menstrual

regulation

secara

harfiah

artinya

pengaturan menstruasi atau datang bulan, tetapi dalam


praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap
wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan
berdasarkan hasil pemeriksaaan laboratories ternyata
positif dan mulai mengandung. Menstrual regulation itu
pada hakikatnya abortus provocatus criminalis yang pada
hakikatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung
walaupun dilakukan oleh dokter.

Eugenetika adalah sebuah ilmu yang diterapkan


untuk meningkatkan kualitas manusia melalui teknik
pengontrolan kelahiran dan sterilisasi ras sudah dihapus
perang dunia ke-2. Tapi kini teknik penghapusan ras jelek
itu masih terdengar dan mucul lagi di Amerika.7[2]

Eugenetika berasal dari konsep evolusi dan genetika


yang menganggap suatu ras, suku, agama atau kelompok
tertentu lebih pantas unggul dan dihormati dibandingkan
kelompok lainnya.

Secara

umum,

pengguguran

kandungan

dapat

dibagi kepada dua macam, yaitu:

1. Abortus spontan (Spontaneus abortus)

Abortus

spontan

yaitu

abortus

yang

tidak

disengaja. Abortus spontan ini terjadi karena


sebab-sebab alamiah, bukan karena perbuatan
manusia. Abortus spontan biasanya terjadi pada
tiga bulan pertama dari masa kehamilan dan
tidak

ada

satu

pencegahanpun

yang

dapat

menghindarkan penyebab umum keguguran ini,


bahkan dokter juga tidak dapat menentukan
dengan tepat apa yang menyebabkannya.

Biasanya abortus seperti ini diawali dengan


pendarahan tanpa diketahui sebabnya. Tetapi ada
pula yang terjadi karena terkejut atau karena
jatuh. Abortus semacam ini tidak menimbulkan
dampak hukum, karena hal itu terjadi di luar
kehendak dari kuasa manusia.

2. Abortus buatan (disengaja)

Abortus buatan yaitu yaitu abortus atas usaha


manusia dan menurut istilah kedokteran disebut
abortus provokatus. Abortus ini terbagi pula
menjadi dua macam, yaitu:

a)

Abortus artificialis therapicus, yaitu abortus


yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi
medis. Misalnya, jika kehamilan diteruskan
bisa membahayakan jiwa si calon ibu, karena
misalnya penyakit-penyakit yang berat, antara
lain TBC yang berat dan penyakit ginjal yang
berat.

b)

Abortus provocatus criminalis, ialah abortus


yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis.
Misalnya

abortus

meniadakan

hasil

yang

dilakukan

hubungan

seks

untuk
di

luar

perkawinan atau untuk mengakhiri kehamilan


yang tidak dikehendaki.8[3]

Selain penjelasan diatas, pendapat lain mengatakan Abortus


terdiri dari beberapa jenis, yaitu :
8

1. Abortus Komplet
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan
kurang dari 20 minggu.
2.

Abortus Inkomplet

Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang
tertinggal.
3. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks
yang telah mendatar, sedangkan hasil konsepsi masih berada
lengkap di dalam rahim.
4. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam,
sedangkan jalan lahir masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik
di dalam rahim.
5.

Missed Abortion

Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal


dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi
seluruhnya masih dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.

C. Pandangan Tinjauan Hukum Islam

Apabila abortus dilakukan sebelum diberi ruh atau nyawa


pada janin atau embrio, yaitu sebelum berumur 4 bulan
ada beberapa pendapat. Ada ulama yang membolehkan

abortus, antara lain Muhammad Ramli dengan alasan


karena belum ada makhluk yang bernyawa.

Ada juga ulam yang memandang makruh dengan


alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan.
Dan ada pula ulama yang mengharamkannya. Apabila
abortus dilakukan sesudah janin bernyawa atau berumur
4

bulan,

maka

di

kalangan

ulama

telah

ada

ijma

(konsensus) tentang haramnya abortus.

Mahmud Syaltut, eks Rektor Universitas Al-Azhar


Mesir, bahwa sejak bertemunya sel sperma dengan ovum,
maka pengguguran adalah suatu kejahatan dan haram
hukumnya, sekalipun si jain belum diberi nyawa, sebab
sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang
mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi
makhluk baru yang bernyawa bernama manusia yang
harus dihormati dan dilindungi eksistensinya. Dan makin
jahat dan makin besar dosanya, apabila pengguguran
dilakukan setelah janin bernyawa, apalagi sangat besar
dosanya kalau sampai dibunuh atau dibuang bayi yang
baru lahir dari kandungannya.9[4]

Menurut pandangan Islam, apabila abortus dilakukan


sesudah janin bernyawa atau berumur 4 bulan, maka
telah ada kesepakatan ulama tentang keharaman abortus
itu karena dipandang sebagai pembunuhan terhadap
manusia.

Agam Islam melarang ber-KB dengan menstrual


regulation karena pada hakikatnya sama dengan abortus,
merusak atau menghancurkan janin, calon manusia yang
dimuliakan oleh Allah, sedangkan janin itu hendak tetap
survive

dan

lahir

dalam

keadaan

hidup

sekalipun

eksistensinya hasil dari hubungan yang tidak sah.

Tetapi pengguguran kandungan yang benar-benar


dilakukan atas indikasi medis dan hal itu dilakukan
karena

keadaan

darurat

dapt

dibenarkan.

Namun

demikian abortus dan sejenisnya tidak dapat dilegalisasi


tanpa indikasi medis. Firman Allah dalam surat alaraf:172

)ur xs{r& y7/u .`B _t/ tPy#u `B


Odqg NktJh Ndypkr&ur
#n?t NkRr& Ms9r& N3n/t/ (
(#q9$s%

4n?t/

!$tRgx

cr&

(#q9q)s? tPqt pyJu)9$# $R) $Z2


`t #xyd t,#x

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah
Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan
Tuhan)",

Eugenetika bertujuan agar janin yang dikandung oleh ibu dapat lahir
sebagai bayi yang normal dan sehat fisik, mental, dan intelektual. Sebagai
konsekuensinya, apabila janin diketahui dari hasil pemeriksaan medis yang
canggih menderita cacat atau atau penyakit yang sangat berat, misalnya down
syndrome, maka digugurkan janin terebut dengan alasan hidup anak yang berIQ sangat rendah itu tidak ada artinya dan menderita sepanjang hidupnya, dan
juga menjadi beban keluarga dan masyarakat. Jelas tindakan tersebut sangat
tidak manusiawi dan perbuatan kriminal. Sebab bertentangan dengan norma
agama, norma Pancasila, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku
(KUHP dan UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Hal ini sesuai dengan
firman Allah dalam QS. Al-Najm ayat 38:

wr& s? ou#ur ur 3tz&

38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

D. Penutup

1. Kesimpulan

Dari

pembahasan

makalah

diatas,

penulis

menyimpulkan bahwa abortus dan sejenisnya itu


dilarang oleh agama, namun diperbolehkan jika
ada ketentuan medis yang benar-benar darurat
dan mengancam nyawa orang yang mengandung
atau

bayi

yang

sedang

dalam

kandungan

tersebut.

Abortus dan sejenisnya dilarang dalam agama


karena dianggap pembunuhan terhadap jain yang
sedang ada dalam rahim yang sedang tumbuh,
walaupun belum bernyawa.

http://warcoeb.blogspot.co.id/2013/03/fiqh-kontemporer.html
020413

ABORTUS, MENSTRUAL REGULATION, DAN EUGENETIKA


MENURUT PANDANGAN HUKUM ISLAM

10. ABORTUS, MENSTRUAL REGULATION,


DAN EUGENETIKA MENURUT PANDANGAN HUKUM ISLAM

1.
2.
3.
4.
1.
2.
a.

b.

I. Abortus, Menstrual Regulation, dan Eugenetika Menurut Pandangan


Hukum Islam
Abortus munurut Sardikin Ginaputra (Fakultas Kedokteran UI), ialah
pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Dan menurut Maryono Reksodipura (Fakultas Hukum UI ) ialah
pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya ( sebelum dapat lahir
secara alamiah).
Metode yang dipakai untuk abortus biasanya ialah:
Curattage & Dilatage (C & D )
Dengan alat khusus, mulut rahim dilebarkan, kemudian janin dikiret (di-curet )
dengan alat seperti sendok kecil.
Aspirasi, yakni penyedotan isi rahim dengan pompa kecil.
Hysterotomi (melalui operasi )
Abortus (pengguguran ) ada 2 macam, ialah :
Abortus spontan (spontaneus abortus), ialah abortus yang tidak sengaja. Abortus
bisa terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan, dan sebagainya.
Abortus yang disengaja (abortus provocatus/induced pro abortion). Dan abortus
macam kedua ini ada 2 (dua) macam, ialah:
Abortus artificialis therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh dokter atas
dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diteruskan bisa membahayakan
jiwa si calon ibu, karena misalnya penyakit-penyakit yang berat, antara lain TBC
yang berat dan penyakit ginjal yang berat.
Abortus provocatus criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar indikasi
medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks
di luar perkawinan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.10[1]

10

Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi/datang


bulan/haid, tetapi dalam peraktek mentrual regulation ini dilaksanakan terhadap
wanita yang merasa terlambat waktu mentruasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan
laboratorius ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta dibereskan
janinnya itu. Maka jelaslah, bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya
adalah abortus provocatus criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter. Karena itu,
abortus dan mentrual regualation itu pada hakikatnya adalah pembunuhan janin
secara terselubung. Karena itu, berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) pasal 299, 348 dan 349 negara melarang abortus, termasuk menstrual
regulation dan sanksi hukumannya cukup berat; bahkan hukumannya tidak hanya
ditujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat
dalam kejahatan ini dapat dituntut, seperti dokter, dukun bayi, tukang obat dan
sebagainnya yang mengobati atau yang menyuruh atau yang membantu atau yang
melakukannya sendiri.
Marilah kita perhatikan pasal-pasal KUHP yang berkaitan dengan abortus
(pengguguran) sebagai berikut.
Pasal 299 (1) : Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan,
dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga
ribu rupiah.
(2) jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia
seorang tabib, bidan, atau juru obat; pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3) jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut; dalam menjalankan
pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 346: seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 (1) barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 (1) : Barang siapa dengan sengaja menggugurkan kandungan atau
mematikan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan
kejahatan yang tersebut pasal 346, atau pun melakukan atau membantu melakukan
salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana
yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat
dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukannya. 11
[2]
11

1.

2.

Pasal-pasal tersebut merumuskan dengan tegas tanpa pengecualian bahwa barang


siapa memenuhi unsur-unsur kejahatan tersebut diancam dengan hukuman sampai
lima belas tahun; bahkan bagi dokter, bidan, dan tukang obat yang melakukan atau
membantu melakukan abortus, pidananya bisa ditambah sepertiga dan dicabut
haknya untuk melakukan praktek profesinya.
Teuku Amir Hamzah dalam disertasinya berjudul: segi-segi Hukum Pidana
Pengaturan Kehamilan dan Pengguguran Kandungan menganggap perumusan
KUHP tersebut sangat ketat dan kaku, dan hal ini sangat tidak menguntungkan
bagi profesi dekter serta dapat menimbulkan rasa cemas dalam melakukan
profesinya.
Disatu pihak dokter harus senantiasa mengingat kewajibannya
melindungi hidup insani sesuai dengan sumpahnya; namun, dilain pihak dokter
dibayangi ancaman hukuman. Menurut Hamzah, ada beberapa alasan yang bisa
membenarkan pengguguran kandungan dengan pertimbangan kesehatan, antara
lain sebagai berikut:
Ajaran sifat melawan hukum materiil sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah
Agung RI nomor 42K/Kr 1965 tanggal 8 Januari 1966 dan Yurisprudensi
Mahkamah Agung RI nomor 81K/Kr 1973 tanggal 30 Maret 1977. Ajaran sifat
melawan hukum materiil dimaksud adalah, suatu tindakan pada umumnya dapat
hilang sifatnya sebagai melawan hukum bukan hanya berdasarkan suatu ketentuan
dalam perundang-undangan, melainkan juga berdasarkan asas-asas keadilan atau
asas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum yang mengandung unsur-unsur:
negara tidak dirugikan, kepentingan umum dilayani dan terdakwa tidak mendapat
untung.
Penjelasan pasal 10 Kode Etik Kedokteran Indonesia 1983 yang menyatakan,
larangan pengguguran kandungan tidak mutlak sifatnya, dan dapat dibenarkan
sebagai tindakan pengobatan, yaitu sebagai satu-satunya jalan untuk menolong si
ibu.
Akhirnya, Hamzah menyarankan agar dibuat pengecualian dalam KUHP
sehingga pengguguran kandungan yang dilakukan dokter atas pertimbangan
kesehatan dapat dibenarkan dan bukan merupakan perbuatan yang melanggar
hukum.12[3]
Tetapi sementara ini di kalangan ahli hukum di indonesia ada yang mempunyai
ide/saran agar abortus itu dapat dilegalisasi seperti dinegara maju/sekuler,
berdasarkan pertimbangan antara lain bahwa kenyataannya abortus tetap
dilakukan secara ilegal dimana-mana dan kebanyakan dilakukan oleh tenagatenaga nonmedis, seperti dukun, sehingga bisa membawa risiko besar berupa
kematian atau cacat berat bagi wanita yang bersangkutan. Maka sekiranya abortus
dapat dilegalisasi dan dapat dilakukan oleh dokter yang ahli, maka risiko tersebut
dapat dihindari atau dikurangi.
Pendukung ide legalisasi abortus itu menghendaki pasal-pasal KUHP yang
melarang abortus dengan sanksi-sanksinya itu hendaknya direvisi, karena juga
dipandang bisa menghambat pealksanaan program Keluarga Berencana dan
Kependudukan.
12

Menurut penulis, pasal-pasal KUHP yang melarang abortus hendaknya tetap


dipertahankan dan penulis dapat menyetujui saran Hamzah agar dibuat
pengecualian dalam KUHP, sehingga pengguguran kandungan yang benar-benar
dilakukan atas indikasi medis dapat dibenarkan. Dan apabila tanpa indikasi medis,
maka abortus dan juga menstrual regulation merupakan perbuatan yang tidak
manusiawi, bertentangan dengan moral pancasila dan moral agama, dan
mempunyai dampak yang sngat negatif berupa dekadensi moral terutama di
kalangan remaja dan pemuda, sebab legalisasi abortus dapat mendorong
keberanian orang untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah (free sex
atau kumpul kebo).
II.

Abortus dan Menstrual Regulation Menurut Pandangan Islam


Apabila abortus dilakukan sebelum diberi ruh/nyawa pada janin
(emrio), yaitu sebelum berumur 4 bulan, ada beberapa pendapat. Ada ulama yang
membolehkan abortus, antara lain Muhammad Ramli dalam kitab Al-hihayah
(meninggal tahun 1596) dengan alasan karena belum ada makhluk yang
bernyawa. Ada ulama yang memandangnya makruh, dengan alasan karena janin
sedang mengalami pertumbuhan. Dan ada pula ulama yang mengharamkannya
antara lain Ibnu Hajar (wafat tahun 1567) dalam kitabnya Al-Tuhfah dan AlGazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Dan apabila abortus dilakukan sesudah
janin bernyawa atau berumur 4 bulan, maka di kalangan ulama telah ada ijma
(konsensus) tentang haramnya abortus.13[4]
Menurut hemat penulis, pendapat yang benar ialah seperti yang diuraikan oleh
Mahmud Syaltut, eks Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, bahwa sejak
bertemunya sel seperma (mani lelaki) dengan ovum (sel telur wanita), maka
pengguguran adalah sesuatu kejahatan dan haram hukumnya, sekalipun si janin
belum diberi nyawa, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang
mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang
bernyawa bernama manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya.
Dan makin jahat dan makin besar dosanya, apabila pengguguran dilakukan setelah
janin bernyawa, apalagi sangat besar dosanya kalau sampai dibunuh atau dibuang
bayi yang baru lahir dari kandungan.
Tetapi apabila pengguguran itu dilakukan karena benar-benar terpaksa
demi melindungi/menyelamatkan si ibu, maka islam membolehkan, bahkan
mengharuskan, karena islam mempunyai prinsip:
IRTIKABU AKHAFFIDH DHARARAINI WA JIBUN
Menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya
itu adalah wajib.
Jadi dalam hal ini islam tidak membenarkan tindakan menyelamatkan
janin dengan mengorbankan si calon ibu, karena eksistensi si ibu lebih
13

diutamakan mengingat dia merupakan tiang/sendi keluarga (rumah tangga) dan


dia telah mempunyai beberapa hak dan kewajiban, baik terhadap Tuhan maupun
terhadap sesama makhluk. Berbeda dengan si janin, selama ia belum lahir di dunia
dalam keadaan hidup, ia tidak/belum mempunyai hak, seperti hakwaris, dan juga
belum mempunyai kewajiban apa pun.14[5]
Mengenai menstrual regulation, Islam juga melarangnya, karena pada hakikatnya
sama dengan abortus, merusak/menghancurkan janin calon manusia yang
dimuliakan Allah, karena ia berhak tetap survive dan lahir dalam keadaan hidup,
sekalipun eksistensinya hasil dari hubungan yang sah (di luar perkawinan yang
sah). Sebab menurut Islam, bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci (tidak
bernoda).15[6] Sesuai dengan hadis Nabi:
KULLU MAULUUDIN YULADU ALALFITRATI HATTA YARUBA ANHU
LISAANUHU FA ABAWAHU YUHAWWIDA NIHI AU YUNASHSHIRO NIHI
AU YUMAJJISANIHI
Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia jelas omongannya.. kemidian
orang tuanyalah yang menyababkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau
Majusi. (hadits riwayat Abu Yala, Al-Thabrani, dan Al-Baihaqi dari Al-Aswad
bin Sari)
1.

2.

Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadis ini ada dua pengertian, yaitu:
Dasar pembawaan manusia (human nature) yang religius dan monoteis, artinya
bahwa manusia itu dari dasar pembawaannya adalah makhluk yang beragama dan
percaya pada keesaan Allah secara murni (pure monotheism atau tauhid khalis.)16
[7]
Kesucian/kebersihan (purity), artinya bahwa semua anak manusia dilahirkan
dalam keadaan suci/bersih dari segala macam dosa.
III. Eugenetika menurut Pandangan Hukum Islam
Pada akhir-akhir ini diisukan adanya praktek eugenetika di salah satu rumah sakit
di Jakarta. Eugenetika, artinya, seleksi ras unggul, dengan tujuan agar janin yang
dikandung oleh ibu dapat diharapkan lahir sebagai bayi yang normal dan sehat
fisik, mental dan intelektual. Sebagai konsekkuensinya, apabila janin diketahui
dari hasil pemeriksaan medis yang canggih, menderita cacat atau penyakit yang
sangat berat, misalnya down syndrome, yang berarti IQ-nya hanya sekitar 20-70;
maka digugurkan janin tersebut dengan alasan hidup anak yang ber-IQ sangat
14
15
16

rendah itu tidak ada artinya dan menderita sepanjang hidupnya, dan juga menjadi
beban keluarga dan masyarakat/negara.
Pemerintah sangat bijaksana apabila segera mengadakan penelitian
terhadap isu tersebut untuk mengungkap sampai sejauh mana praktek eugenetika
yang telah dilakukan oleh dokter rumah sakit yang disinyalir itu. Apakah
pengguguran janin yang telah dilakukan itu hanya terbatas pada janin yang
menderita down syndrome saja misalnya, ataukah lebih jauh lagi, misalnya,
pengguguran juga dilakukan atas permintaan ibu atau keluarga yang bersangkutan
kerena jenis kelaminnya tidak sesuai dengan yang diharapkannya? Pemerintah
harus mengambil tindakan tegas apabila rumah sakit tersebut melanggar
ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang berlaku dari negara RI yang
berasaskan pancasila ini.
Menurut hemat penulis, apabila pengguguran janin dilakukan dengan
alasan down syndrome, masih tolarable, karena mengingat mudarat/risikonya jauh
lebih besar daripada dengan eugenetika (baca abortus) yang dilakukan atas
permintaan ibu/keluarga dengan alasan jenis kelaminnya tidak sesuai dengan
harapannya; maka jelaslah tindakan yang demikian itu tidak manusiawi dan
perbuatan kriminal, sebab bertentangan dengan norma agama, norma Pancasila,
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku (KUH Pidana dan UU No. 23
Tahun 1992 tentang kesehatan). Ada baiknya pemerintah RI segera mengeluarkan
Peraturan Pemerintah untuk memperjelas ketentuan-ketentuan dalam UU Nomor
23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang berkaitan dengan kasus-kasus eugenetika
tersebut di atas, yang pada hakikatnya sama dengan menstrual regulation, yakni
pengguguran terselubung (Vide UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Kesehatan).

http://kumpulanmakalah01.blogspot.co.id/2014/06/abortusmenstrual-regulation-dan.html
040614

ABORTUS, MENSTRUAL REGULATION, DAN


EUGENETIKA
A.

Pengertian Abortus, Menstrual regulation, dan Eugenetika.

1. Pengertian Abortus.
Perkataan abortus dalam bahasa Inggris disebut abortion. Istilah abortus berasal
dari bahasa latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Abortus menurut
Sardikin Ginaputra (Fakultas Kedokteran UI) ialah pengakhiran kehamilan atau
hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sedangkan menurut
Moryono Reksediputra (Fakultas Hukum UI) ialah pengeluaran hasil konsepsi
dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah).
Dari beberapa penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa abortus adalah
suatu perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin
dari kandungan sebelum janin tersebut dapat hidup diluar kandungan.
2. Pengertian Mesntrual Regulation.
Sebutan Menstrual Regulation merupakan istilah bahasa Inggris, yang telah
diterjemahkan oleh dokter Arab yang artinya pengguguran kandungan yang masih
muda. Menstrual Regulation secara harfiah artiya pengaturan menstuasi atau
datang bulan atau haid. Tetapi dalam praktek menstrual regulation ini
dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu mentruasi dan
berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ternyata positif mengandung. Maka
ia meminta janinnya dihilangkan atu dilenyapkan.
Maka jelaslah bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah abortus
Provocatus Criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter. Karena itu abortus dan
menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah pembunuhan janin secara
terselubung.
3. Pengertian Eugenetika.
Eugenetika yaitu sebuah pemikiran yang berpijak pada konsep evolusi dan
genetika dimana menganggap suatu ras, suku, agama, atau kelompok tertentu
lebih pantas unggul dan dihormati dibandingkan kelompok lainnya. Sedangkan
para pengangguran, orang-orang cacat, penjahat, dan idiot dianggap sebagai
pembawa masalah dan harus dimusnahkan. Dalam teori eugenetika, faktor gen
sangatlah penting, sakral dan menjadi penentu keunggulan suatu bangsa. Menurut
mereka, orang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas.
B.

Macam-macam Abortus, Menstrual regulation, dan Eugenetika.

Secara umum,pengguguran kandungan (abortus) dapat dibagi menjadi beberapa


macam, yakni:
1. Abortus Spontan (Spontaneus Abortus), ialah abortus yang tidak disengaja.
Abortus spontan bisa terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan dan
sebagainya.
2. Abortus yang disengaja (Abortus Provocatus/ Induced Pro Abortion)
3. Aborsi terapeutik / medis adalah pengguguran kandungan buatan yang
dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang
hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit
jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun
janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang
matang dan tidak tergesa-gesa.
Abortus ini terdiri dari 3 bentuk, yaitu :
1. Abortus atas dasar Artficialis Therapicus, yakni abortus yang dilakukan
oleh dokter atas dasar indikasi medis. Misalnya, jika kehamilan diteruskan
bisa membahayakan sicalon ibu, karena penyakit yang berat seperti TBC
yang berat dan ginjal.
2. Abortus Provocatus Criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar
indikasi medis. Misalnya, abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil
hubungan seks diluar nikah atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak
dikehendaki melalui bantuan dukun.
3. Abortus yang dilakukan karena adanya illat, artinya islam membolehkan
melakukan tindakan abortus karena ada sebab yang dipandang oleh hukum
islam yang tidak bertentangan. Contohnya kehamilan yang mengancam
keselamatan sang ibu.
Selain penjelasan diatas, pendapat lain mengatakan Abortus terdiri dari beberapa
jenis, yaitu :
1. Abortus Komplet
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20
minggu.
2. Abortus Inkomplet
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal.
3. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah
mendatar, sedangkan hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim.
4. Abortus Iminens

Abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam, sedangkan jalan lahir
masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim.
5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih
dalam kandungan.
6. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.
C. Pandangan dan Tinjauan Hukum Islam Mengenai Abortus, Menstrual
Regulation, dan Eugenetika.
1. Pandangan Islam terhadap Abortus dan Menstrual
Regulation.
Para Fuqaha telah sepakat mengatakan bahwa pengguguran kandungan (aborsi)
sesudah ditiupkan roh (setelah 4 bulan kahamilan) adalah haram, tidak boleh
dilakukan karena perbuatan tersebut merupakan kejahatan terhadap nyawa.
Sedangan pengguguran kandungan sebelum ditiupkan roh pada janin yaitu
sebelum berumur 4 bulan, para Fuqaha berbeda pendapat tentang boleh atau
tidaknya melakukan penguguran tersebut.
Muhammad Ramli dalam kitabnya Al-Nihayah tidak boleh aborsi sebelum janin
berumur 4 bulan, dengan alasan karena belum ada mahkluk yang bernyawa. Abu
Hanifah memenadang dalam usia tersebut janin masih sedang mengalami
pertumbuhan.
Sedangkan Ibnu Hajar dalam kitabnya Alhfah, Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya
Ulum al-Din, Syekh Syaltut dalam kitabnya al-Fatawa, mereka mengharamkan
pengguguran kandungan sebelum ditiupkan roh, karena sesungguhnya janin pada
saat itu sudah ada kehidupan yang patut dihormati, yaitu dalam hidup
pertumbuhan dan persiapan pengguguran kandungan pada masa perkembangan
kandungan, mereka jinayah makim meningkat perkembangan kandungan,makin
meningkat pula jinayahnya dan yang paling besar jinayahnya adalah sesudah lahir
kandungan dalam keadaan hidup.
Firman allah Swt dalam surat al-araaf:172.









172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam

dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orangorang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Apabila abortus dilakukan sebelum diberi ruh/nyawa pada janin (embrio), yaitu
sebelum berumur 4 bulan, ada beberapa pendapat. Ada ulama yang membolehkan
abortus, antara lain Muhammad Ramli dalam kitab Al-Nihayah dengan alasan,
karena belum ada makhluk yang bernyawa. Ada ulama yang memandangnya
makruh, dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan. Dan ada
pula yang mengharamkannya antara lain Inbu Hajar dalam kitabnya Al-Tuhfah
dan Al-Gozali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin. Apabila abortus dilakukan
sesudah janin bernyawa atau berumur 4 bulan, maka dikalangan ulama telah ada
ijma (konsensus) tentang haramnya abortus.
Tetapi apabila pengguguran itu dilakukan benar-benar terpaksa demi
melindungi /menyelamatkan si ibu, maka Islam membolehkan, bahkan
mengharuskan, kerena Islam mempunyai prinsip:
Menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu
adalah wajib.
Mengenai menstrual regulation, Islam juga melarangnya, karena pada hakikatnya
sama dengan abortus, merusak/menghancurkan janin calon manusia yang
dimuliakan oleh Allah, karena ia tetap berhak survive lahir dalam keadaan hidup,
sekalipun dalam eksistensinya hasil dari hubungan tidak sah (di luar perkawinan
yang sah). Sesuai dengan hadis Nabi:
Semua anak yang dilahirkan atas fitrah sehingga dia jelas agamanya, kemudian
orang tuanya lah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani dan Majusi.(H.R
Abu Yala, Al-Thabrani, dan Al-Baihaqi dari Al- Aswad bin Sari).
Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadis ini yaitu:
a. Dasar pembawaan manusia yang religius dan monoteis, artinya bahwa
manusia itu dari dasar pembawaannya adalah makhluk yang beragama dan
percaya pada keesaan Allah secara murni.
b. Kesucian/kebersihan (purity), artinya behwa semua anak manusia di lahirkan
dalam keadaan suci/bersih dalah segala macam dosa.
2.

Pandangan Islam Terhadap Eugenetika.

Eugenetika bertujuan agar janin yang dikandung oleh ibu dapat lahir sebagai bayi
yang normal dan sehat fisik, mental, dan intelektual. Sebagai konsekuensinya,
apabila janin diketahui dari hasil pemeriksaan medis yang canggih menderita

cacat atau atau penyakit yang sangat berat, misalnya down syndrome, maka
digugurkan janin terebut dengan alasan hidup anak yang ber-IQ sangat rendah itu
tidak ada artinya dan menderita sepanjang hidupnya, dan juga menjadi beban
keluarga dan masyarakat. Jelas tindakan tersebut sangat tidak manusiawi dan
perbuatan kriminal. Sebab bertentangan dengan norma agama, norma Pancasila,
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku (KUHP dan UU No.23 Tahun
1992 tentang Kesehatan). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Najm
ayat

38

38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

http://indahbyduri.blogspot.co.id/2012/07/abortus-menstrualregulation-dan.html
020712