Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MATERNITAS
POST PARTUM NORMAL

DISUSUN OLEH
PINTHA. NADAPDAP
NIM: 150510020

Mengetahui
Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik/CI

PROGRAM STUDI PROFESI (NERS)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANTEN
TANGERANG SELATAN
TAHUN 2016

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MATERNITAS


POST PARTUM NORMAL
1. Pengertian Masa Nifas / Post partum
Nifas merupakan sebuah fase setelah ibu melahirkan dengan
rentang waktu kira-kira selama 6 minggu. Masa nifas dimulai sejak
plasenta keluar sampai alat-alat kandungan kembali normal seperti
sebelum hamil (Purwanti, 2012:1). Masa nifas (Puerperium) dimulai
setelah kelahiraan plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama kirakira 6 minggu, atau masa nifas adalah masa yang dimulai dari beberapa
jam setelah lahir plasenta sampai 6-8 minggu berikutnya (Wulandari dan
Handayani, 2011:1).
Asuhan ibu masa nifas diberikan pada ibu segera setelah kelahiran
bertujuan untuk memberikan asuhan yang adekuat dan berstandar pada
ibu dengan memperhatikan riwayat selama kehamilan, dalam persalinan
dan keadaan segera setelah melahirkan, adapun hasil yang diharapkan
terlaksananya asuhan segera atau rutin pada ibu post partum termasuk
melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan
kebutuhan ibu, masalah potensial, tindakkan segera dan merencanakan
asuhan keperawatan (Wulandari dan Handayani, 2011:1).
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Adapun tujuan dari asuhan masa nifas menurut Rahayu, dkk
(2012:2), Wulandari dan Handayani (2011:2) serta Mitayani (2009:122)
adalah sebagai berikut:
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikis.
2. Mencegah hemoragi.
3. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayi dan
perawatan bayi sehat.
5. Memberikan pelayanan KB.
6. Untuk memeperlancar pembentukan air susu ibu.

7. Agar penderita dapat melaksanakan perawatan sampai masa nifas


selesai, dan dapat memelihara bayi dengan baik, agar pertumbuhan
dan perkembangan bayi normal.
3. Tahapan Masa Nifas
Menurut Rahayu, dkk (2012:3), Wulandari dan Handayani (2011:3)
serta Mitayani (2009:122) adalah sebagai berikut: nifas dibagi dalam 3
1.

periode yaitu:
Puerperium Dini (Immediate Postpartum)
Adalah masa 24 jam postpartum. Kepulihan di mana ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan. Dalam agama islam dianggap

2.

telah bersih dan boleh bekerja bisa mencapai 40 hari.


Puerperium Intermedial (Early Postpartum)
Adalah masa minggu pertama postpartum. Kepulihan menyeluruh

3.

alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu.


Remote Puerperium (Late Postpartum)
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila
selama hamil atau waktu-waktu persalinan mempunyai komplikasi
lamanya bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bisa sampai

bertahun-tahun.
4. Perubahan Fisiologi Postpartum
1. Sistem Reproduksi dan Struktur yang Terkait
a. Uterus
Involusi uteri adalah proses uterus kembali ke kondisi
sebelum hamil. Uterus biasanya berada di organ pelvic pada hari ke
10 setelah persalinan. Involusi uterus lebih lambat pada multipara.
Penurunan ukuran uterus lebih lambat pada multipara. Penurunan
ukuran uterus dipengaruhi oleh proses autolysis protein intraseluler
dan sitoplasma miometrium. Protein dinding rahim dipecah,
diabsopsi dan kemudian dibuang dengan air kencing (Rahayu, dkk
2012:4). Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
1) Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterin. Enzim proteolitik akan memendekan dan
mengecilkan jaringan otot yang telah sempat mengendur
hingga 10 kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebar dari

semula selama kehamilan, jadi bukan sel ototnya yang


berkurang tetapi sel tersebut mengalami proses pengecilan.
2) Atrofi Jaringan
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam
jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi
terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai
pelepasan plasenta.
3) Efek Oksitosin (Kontraksi)
Penyebab kontraksi dan retraksi otot rahim sehingga akan
mengompres pembuluh darah yang menyebabkan akan
mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan
mengakibatkan ukuran rahim semakin berkurang.
Tabel 2.1 Tinggi Fundus Uteri dan Involusi Uterus
Involusi
Plasenta lahir
1 hari
2 hari
4-5 hari
7 hari
10-12 hari

Tinggi Fundus
Sepusat
1 jari dibawah pusat
2-3 jari dibawah pusat
Pertengahan simpisis dan pusat
2-3 jari diatas simpisis
Tidak teraba

b. Kontraksi uterus
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna
setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap
penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hemostatis
pascapartum

dicapai

akibat

kompresi

pembuluh

darah

intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pemnentukan


pembekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis
memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi
pembuluh darah, dan membantu hemostasis.
Selama 1-2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi
bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Karena penting sekali
untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini, biasanya
suntikan oksitoksin secara intravena atau intramuskular diberikan
segera setelah plasenta lahir.

Pada primipara, tonus uterus meningkat sahingga fundus


pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang
periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri
yang

bertahan

sepanjang

awal

peurperium.

Regenerasi

endometrium selesai pada akhir minggu ketiga pascapartum,


kecuali pada bekas tempat plasenta. Regenerasi pada tempat ini
biasanya tidak selesai sampai enam minggu setelah melahirkan
(Bobak, 2005:350).
Otot-otot uterus berkontraksi segera post partum. Pembuluhpembuluh darah yang berada diantara anyaman-anyaman otot
uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan
setelah plasenta lahir. Bagian bekas plasenta merupakan suatu luka
yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri segera setelah
persalinan. Penonjolan tersebut dengan diameter 7,5 sering
disangka sebagai suatu bagian plasenta yang tertinggal, setelah 2
minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu 2,4 cm
dan akhirnya pulih (Prawiriharjo, 2002:88).
c. Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik
dari dalam uterus. Lochea mempunyai reaksi basa/alkalis yang
dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada
kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lochea mempunyai
bau amis/anyir seperti darah menstruasi meskipun tidak terlalu
menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita.
Lochea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi.
Lochea mempunyai perubahan karena proses involusi. Proses
keluarnya darah nifas atau lochea terdiri atas empat tahapan
menurut Rahayu dkk, (2012:6).
1) Lochea Rubra/ merah, lochea ini muncul pada hari 1 sampai
hari ke-4 masa postpartum. Cairan yang keluar berwarna
merah karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta,

dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan


mekonium.
2) Lochea sanguinolenta adalah cairan yang keluar berwarna
merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke-4
sampai hari ke-7 postpartum.
3) Lochea Serosa, lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena
mengandung serum, leukosit, dan robekan/laserasi plasenta.
Muncul pada hari ke-7 sampai hari ke-14 postpartum.
4) Lochea alba/putih adalah mengandung leukosit, sel desidua,
sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang
mati. Lochea alba bisa berlangsung selama 2 sampai 6 minggu.
d. Serviks
Servik mengalami involusi bersama-sama dengan uterus.
Warna servik sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh dengan
pembuluh darah. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat
laserasi/perlukaan kecil. Karena robekan kecil yang terjadi selama
dilatasi, servik tidak pernah kembali pada keadaan sebelum hamil.
Bentuknya seperti corong karena disebabkan oleh korpus
uteri yang mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak
berkontraksi sehingga pada perbatasan antara korpus uteri dan
serviks terbentuk cincin. Muara serviks berdilatasi 10 cm pada
waktu persalinan, menutup secara bertahap. Setelah bayi lahir,
tangan masih bisa masuk kerongga rahim, setelah 2 jam dapat
dimasuki 2-3 jari, pada minggu ke 6 postpartum servik menutup.
e. Vagina dan Perineum
Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam
penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula
sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum
hamil, 6-8 minggu stelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat
pada sekitar minggu ke 4 walaupun tidak akan semenonjol pada
wanita nulipara. Pada umumnya rugae akan memipih secara
permanen. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan
fungsi ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan
jumlah pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina. Hemoroid

(varises anus) umumnya terlihat. Wanita sering mengalami gejala


terkait, seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan berwarna
merah terang pada waktu defekator. Ukuran hemoroid biasanya
mengecil beberapa minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2005:355).
f. Topangan Otot Panggul
Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera
sewaktu melahirkan dan masalah ginekologi dapat timbul
dikemudian hari. Jaringan penopang dasar panggul yang terobek
atau teregang saat ibu melahirkan memerlukan waktu sampai 6
bulan untuk kembali ke tonus semula. Istilah relaksasi panggul
berhubungan dengan pemanjangan dan melemahnya topangan
permukaan struktur panggul. Struktur ini terdiri atas uterus,
dinding vagina posterior atas, uretra, kandung kemih, dan rectum.
Walaupun relaksasi dapat terjadi pada setiap wanita, tetapi
biasanya merupakan komplikasi langsung yang timbul terlambat
akibat melahirkan (Bobak, 2005:357).
2. Sistem Endokrin
a. Hormon Plasenta
Hormon plasenta (HCG) menurun dengan cepat setelah
persalinan dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7
postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke 3
postpartum (Jannah,2011). Selama periode pascapartum terjadi
perubahan hormon yang besar. Pengeluaran plasenta menyebabkan
penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh organ
tersebut.
b. Hormon Hipofisis dan Fungsi Ovarium
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita
menyusui dan tidak enyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang
tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan
ovulasi. Karena kadar FSH (follicle stimulating hormon) terbukti
sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui, disimpulkan
ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar
prolaktin meningkat.

Menurut Prawiriharjo (2005:85) terjadi penurunan kadar HPL


(Human Plasental Lactogen), estrogen dan kortisol serta plasenta
enzyme insulinase sehingga kadar gula darah menurun pada masa
puerperium. Kadar estrogen dan progesteron menurun setelah
plasenta keluar. Kadar terendahnya dicapai kira-kira 1 minggu post
partum. Penurunana ini berkaitan dengan pembengkakan dan
diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama
hamil. Pada wanita yang tidak menyusui estrogen meningkat pada
minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita
yang menyusui pada post partum hari ke- 17.
3. Abdomen
Apabila ibu pasca partum berdiri di hari pertama setelah
melahirkan, abdomen akan menonjol seperti asih hamil. Dalam 2
minggu setelah melahirkan, dinding abdomen akan rileks. Diperlukan
sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum
hamil. Kulit memperoleh kembali elastisitasnya tetapi sejumlah stria
menetap. Pengembalian tonus otot bergantung kepada kondisi tonus
sebelum hamil, latihan fisik yang tepat, dan jumlah jaringan lemak.
Pada keadaan tertentu dengan atau tanpa ketegangan yang berlebihan
seperti bayi besar atau hamil kembar, otot-otot dinding abdomen
memisah (diastasis rekti abdominis) (Bobak, 2005:360).
Menurut Anisa, 2009 Dinding perut akan longgar pasca
persalinan. Keadaan ini akan pulih kembali dalam 6 minggu. Pada
wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis,
sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari
peritoneum, fasia tipis dan kulit. Selama masa kehamilan, kulit
abdomen akan melebar, melonggar dan mengendur hingga berbulanbulan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat kembali normal kembali
dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan latihan post natal.
Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada
dinding abdomen. Striae pada dinding abdomen tidak dapat
menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar.

Tingkat diastasis muskulus rektus abdominis pada ibu post partum


dapat dikaji melalui keadaan umum, aktivitas, paritas dan jarak
kehamilan, sehingga dapat membantu menentukan lama pengembalian
tonus otot menjadi normal.
4. Sistem Urinaria
Menurut Bobak (2005:367) perubahan hormonal pada masa
hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan
fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita
melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal
selama masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu
1 bulan setelah wanita melahirkan.
5. Sistem Cerna
a. Nafsu makan
Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan
keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar (Bobak, 2005:370).
Pasca persalinan biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan
untuk

mengkonsumsi

makanan.

Pemulihan

nafsu

makan

diperlukan waktu 34 hari sebelum faal usus kembali normal.


Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan
makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
Wanita mungkin kelaparan dan mulai makan satu atau dua jam
setelah melahirkan. Kecuali ada komplikasi kelahiran, tidak ada
alasanuntuk menunda pemberian makan pada wanita pasca partum
yang sehat lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan pengkajian awal (Saleha, 2009:423).
b. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna
menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan
analgesia dan anestesia bisa memperlambat pengembalian tonus
dan motilitas ke keadaan normal (Bobak, 2005:410).
c. Defekasi
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama 2-3 hari
pascapartum. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus
menurun selama proses persalinan dan pada awal pascapartum,

diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang


makan, atau dehidrasi (Bobak, 2005:413). Defekasi atau buang air
besar harus ada dalam 3 hari post partum. Bila ada obstipasi dan
timbul koprotestase hingga skibala tertimbun di rektum, mungkin
akan terjadi febris (Winkjosastro, 2005:78).
6. Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi

perkembangan

payudara selama hamil (estrogen, progesteron, human chorionic


gonadotropin, prolaktin, krotisol dan insulin) menurun dengan cepat
setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini untuk
kembali ke kadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh apakah ibu
menyusui atau tidak. Payudara mencapai maturasi yang penuh selama
masa nifas kecuali jika laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih
besar, lebih kencang dan mula mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi
terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi (Bobak,
2005:350).
7. Sistem Kardiovaskulaer
Menurut Jhon (2010:279) sistem kardiovaskuler dibagi atas :
a. Volume darah
Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor,
misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta
pengeluaran cairan ekstravaskular (edema fisiologis). Tiga
perubahan fisiologis pascapartum yang melindungi wanita:
hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran
pembuluh darah maternal 10%-15%, hilangnya fungsi endokrin
plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi, terjadinya
mobilisasi air eksternavaskuler yang disimpan selama wanita
hamil.
Volume darah

normal yang diperlukan plasenta dan

pembuluh darah uterin, meningkat selama kehamilan. Diuresis


terjadi akibat adanya penurunan hormon estrogen, yang dengan
cepat mengurangi volume plasma menjadi normal kembali.
Meskipun kadar estrogen menurun selama nifas, namun kadarnya
masih tetap tinggi daripada normal. Plasma darah tidak banyak
mengandung cairan sehingga daya koagulasi meningkat.

b. Curah Jantung
Denyut jantung, volume sekuncup dan curah jantung
meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah melahirkan,
keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60
menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplasenta
tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum.
8. Tanda-tanda Vital
a. Suhu tubuh
Dalam 1 hari (24 jam) postpartum suhu tubuh akan naik
sedikit (37,5-380C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu
tubuh menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke 3 suhu tubuh naik lagi
karena adanya pembentukan ASI, payudara menjadi bengkak.
Suhu maternal kembali normal dari suhu yang sedikit
meningkat selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam
pertama pascapartum.
b. Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80
x/menit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih
cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali permenit adalah
abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.
Denyut nadi yang meningkat selama persalinan akhir,
kembali normal setelah beberapa jam pertama pascapartum.
Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerpurium, hal tersebut
abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi/ hemoragi
pascapartum lambat.
c. Tekanan Darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan
tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ada
perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat postpartum dapat
menandakan terjadinya pre eklamsi postpartum.
Hasil pengukuran tekanan darah seharusnya tetap stabil
setelah

melahirkan.

Penurunan

takanan

darah

bisa

mengindikasikan adanya hipovolemia yang berkaitan dengan


hemorhagi uterus. Peningkatan sistolik 30 mmHg dan diastolik 15

mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan


penglihatan, bisa menandakan ibu mengalami preeklamsia
(Maryunani, 2009:58).
d. Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan
denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal maka pernafasan juga
kan mengikutinya, kecuali bila ada gangguan khusus pada saluran
pencernaan. Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi seperti saat
sebelum hamil pada bulan ke enam setelah melahirkan
(Maryunani, 2009:58).
9. Sistem Hematologi
Menurut Bobak (2005:388) sistem hematologi dibagi atas :
a. Hematokrit dan Hemoglobin
Selama 72 jam pertama setelah bayi lahir, volume plasma
yang hilang besar daripada sel darah yang hilang. Penurunan
volume plasma dan peningkatan sel darah merah dikaitkan dengan
peningkatan hematokrit pada hari ke 3-hari ke 7 pascapartum.
Tidak ada SDM yang rusak selama masa postpartum, tetapi semua
kelebihan SDM akan menurun secara bertahap sesuai dengan usia
SDM tersebut.
b. Sel Darah Putih
Leukositosis normal pada kehamilan rata-rata sekitar
12.000/mm3. Selama 10-12 hari pertama setelah bayi lahir, nilai
leukosit antara 20.000 dan 25.000/mm3 merupakan hal yang
umum. Neutrofil merupakan sel darah putih yang paling banyak.
c. Faktor Koagulasi
Faktor-faktor pembekuan dan fibrinogen biasanya meningkat
selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium.
Keadaan hiperkoagulasi, yang bisa diiringi kerusakan pembuluh
darah

dan

imobilitas,

mengakibatkan

peningkatan

risiko

tromboembolisme, terutama setelah wanita melahirkan secara


sesaria.

d. Varises

Varises ditungkai dan sekitar anus (hemoroid) sering


dijumpai pada wanita hamil. Varises bahkan varises vulva yang
jarang dijumpai akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir.
10. Sistem Neurologi
Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan
adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan
trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. Nyeri
kepala pascapartum bisa disebabkan berbagai keadaan, termasuk
hipertensi akibat kehamilan (PIH), stres dan kebocoran cairan
serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selama jarum epidural
diletakkan ditulang punggung untuk anestesi (Bobak, 2005:387).
11. Sistem Muskuloskeletal
Seperti dengan semua

sistem

tubuh

lainnya,

sistem

muskuloskeletal mengalami perubahan selama periode postpartum.


Relaxin adalah hormon yang bertanggung jawab untuk relaksasi dari
ligamen dan sendi panggul selama kehamilan. Setelah melahirkan,
tingkat relaksin mereda dan ligamen panggul dan sendi kembali ke
pra-hamil negara mereka. Namun, sendi kaki tetap diubah dan banyak
klien melihat peningkatan permanen dalam ukuran sepatu (Crum,
dikutip dalam Lowdermilk & Perry, 2006:278).
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu yang terjadi selama masa
hamil berlangsung berlangsung terbalik selama masa postpartum.
Adaptasi ini mencangkup hal-hal yang membantu relaksasi dan
hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran
rahim. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke 6 8 pascapartum
(Bobak, 2005:390).
12. Sistem Integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang
saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra
tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kelainan pembuluh
darah seperti spider angioma, eritema palmar, dan epulis biasanya
berkurang sebagai respon terhadap penurunan kadar estrogen setelah
kehamilan berakhir. Diaforesis ialah perubahan yang paling jelas
terlihat pada sistem integumen (Jhon, 2010:283).

5. Perubahan Psikologis Pada Ibu Nifas


1. Respon Orangtua Terhadap Bayi Baru Lahir
Menjadi orangtua merupakan suatu krisis tersendiri dan mereka harus
dapat melewati masa transisi tersebut. Berikut adalah masa transisi
pada postpartum yang harus diperhatikan oleh pasangan menurut
Mansur (2009:155) :
a. Fase Honeymoon
Adalah fase setelah anak lahir dan terjadi kontak yang lama
antara ibu, ayah dan anak. Masa ini dapat dikatakan sebagai psikis
honeymoon yang memerlukan hal-hal romantik, masing-masing
saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang
baru.
b. Bounding Attachment
Bonding merupakan

suatu

langkah

awal

untuk

mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang). Attachment


merupakan interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang
waktu. Bounding Attachment adalah kontak awal antara ibu dan
bayi setelah kelahiran untuk memberikan kasih saying yang
merupakan dasar interaksi antara keduanya secara terus-menerus.
Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan
terbentuk ikatan antara orangtua dan bayinya.
2. Faktor Yang Mempengaruhi Respon Orangtua terhadap Bayinya
Menurut Wulandari dan Handayani (2011:114), yaitu:
a. Faktor Internal
Yaitu genetika atau kebudayaan yang telah mereka
aplikasikan dan telah menginternalisasi dalam diri mereka,
termasuk juga didalamnya moral dan nilai, kehamilan sebelumnya,
pengalamana mengidentifikasi yang telah mereka lakukan selama
kehamilan/mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai orangtua,
keinginan menjadi orangtua yang telah diimpikan, serta efek
pelatihan selama kehamilan.
b. Faktor Eksternal
Yaitu perhatian yang diterima selama masa kehamilan,
melahirkan dan postpartum.
3. Adaptasi Psikologis Masa Postpartum Menurut Teori Rubin
Adaptasi psikologis postpartum oleh Rubin dibagi dalam 3
periode menurut Hamilton (1996:293) yaitu sebagai berikut:

a. Fase Taking In
Fase ini

merupakan

periode

ketergantungan

yang

berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah


melahirkan. Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada
dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering
berulang diceritakannya. Kelelahan membuat ibu cukup istirahat
untuk menjaga gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal
ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.
Oleh karena itu kondisi ibu perlu dipahami dengan menjaga
komunikasi yang baik. Pada fase ini perlu diperhatikan pemberian
ekstra makanan untuk proses pemulihannya. Disamping nafsu
makan ibu memang meningkat pada fase ini.
Gangguan psikologis yang mungkin dirasakan ibu adalah
kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan
tentang bayinya missal jenis kelamin tertentu, warna kulit, jenis
rambut, dan lain-lain. Ketidaknyamanan sebagai akibat dari
perubahan fisik yang dialami ibu missal rasa mulas karena rahim
berkontraksi untuk kembali pada keadaan semula, payudara
bengkak, nyeri luka jahitan. Rasa bersalah karena belum bisa
menyusui bayinya. Suami atau keluarga yang mengkritik ibu
tentang cara merawat bayi dan cenderung melihat saja tanpa
membantu, ibu akan merasa tidak nyaman karena sebenarnya hal
tersebut bukan hanya tanggung jawab ibu semata.
b. Fase Taking Hold
Fase ini berlangsung anatara 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase taking hold ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan
dan rasa tanggungjawabnya dalam merawat bayi. Selain itu
perasaannya sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika
komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan
dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk
menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya
sehingga tumbuh rasa percaya diri.
c. Fase Letting Go

Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab sebagai


ibu dan mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.
Keinginan untuk merawat bayi meningkat. Ada kalanya ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya, keadaan
ini disebut dengan baby blues.
6. Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap adalah pemotongan/pengikatan kedia saluran
telur wanita (Tubektomi) atau kedua saluran sperma laki-laki
(Vasektomi). Alat kontrasepsi ini adalah pilihan yang baik pada masa
pencegahan kehamilan di atas usia 35 tahun yang telah memiliki anak
lebih dari empat. Karena pada usia 35 tahun secara biologis tubuh
seorang wanita tidak mendukung kehamilan dengan baik dan cenderung
akan menimbulkan komplikasi (Affandi, 2012:23).
1) MOW (Metoda Operasi Wanita)
MOW (Metode operasi wanita)/tubektomi atau juga disebut
strerilisasi. Merupakan tindakan penutupan terhadap kedua
saluran telur yang menyebabkan sel telur tidak dapat melewati
saluran telur, dengan demikian sel telur tidak bertemu dengan
sperma laki-laki sehingga tidak terjadi kehamilan kehamilan, oleh
karena itu gairah seks wanita tidak akan turun, oleh karena itu
gairah seks wanita tidak akan turun (BKKBN, 1992 )
2) MOP (Metoda Operasi Pria)
MOP (Metode operasi pria)/vasektomi adalah tindakan
memotong dan penutupan saluran mani (vas deferens) yang
disalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya di
testis.

Dengan

memotong

vas

deferens,

sperma

tidak

mampudiejakulasikan dan pria menjadi tidak subur setelah vas


deferens bersih dari sperma, yang memakan waktu sekitar tiga
bulan (Mochtar, 1998 )
7. Proses Laktasi dan Menyusui
Menyusui merupakan proses yang cukup kompleks. Dengan
mengetahui anatomi payudara dan bagaimana payudara menghasilkan
ASI akan sangat membantu para ibu mengerti proses kerja menyusui
sehingga dapat menyusui secara ekslusif. Terdapat 2 reflek menyusui
yautu reflek prolaktin dan reflek oksitosin.

1. Reflek Prolaktin
Progesteron dan estrogen dihasilkan plasenta merangsang
pertumbuhan kelenjar-kelenjar susu, sedangkan progesteron juga
merangsang pertumbuhan saluran (duktus) kelenjar. Kedua hormon
tersebut menekan prolaktin (LTH). Setelah plasenta lahir maka
produksi

prolaktin

meningkat

sehingga

merangsang

laktasi

(pembentukan ASI). Pada waktu bayu menghisap payudara ibu, ibu


menerima rangsangan neurohormonal pada puting dan aerola,
rangsangan ini melalui nervus vagus diteruskan ke hypophysa lalu ke
lobus anterior, lobus anterior akan mengeluarkan hormon prolaktin
yang masuk melalui peredaran darah sampai pada kelenjar-kelenjar
pembuat ASI (sel acini) dan merangsang untuk memproduksi ASI
(Rahayu dkk, 2012).
2. Reflek Oksitosin (Let Down)
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar
hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf di sekitar
payudara dirangsang oleh hisapan. Oksitosin akan dialirkan melalui
darah menuju ke payudara yang akan merangsang kontraksi otot di
sekitar alveoli dan memeras ASI keluar keluar. Efek penting oksitosin
lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah melahirkan.
Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walaupun kadang
menyebabkan nyeri (Hamilton, 1995:289).
Dalam proses menyusui reflek pengeluaran oksitosin ini disebut
juga letdown refleks atau love refleks, reflek ini menyebabkan
memancarnya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang puting susu
dan areola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus, dari
glandula ptuitary posterior dikeluarkan hormon oksitosin ke dalam
peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot
myoepitel dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI
akan terperas ke arah ampula. Produksi ASI akan meningkat sesudah
2-3 hari post partum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri ini
menunjukan permulaan sekresi (Wulan dan Handayani, 2011:31).
8. Asuhan Keperawatan Pada Masa Post Partum
Asuhan keperawatan post partum menurut Mitayani (2009:122), yaitu :

1. Pengkajian
Dimulai dengan pemeriksaan dan observasi sebagai berikut.
1) Temperatur
Periksa 1 kali pada 1 jam pertama sesuai dengan peraturan rumah
sakit, suhu tubuh akan meningkat bila terjadi dehidrasi atau
keletihan.
2) Nadi
Periksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama atau sampai stabil,
kemudian setiap 30 menit pada jam-jam berikutnya. Nadi kembali
normal pada 1 jam berikutnya, mungkin sedikit terjadi bradikardi.
3) Pernapasan
Periksa setiap 15 menit dan biasanya akan kembali normal setelah
1 jam postpartum.
4) Tekanan darah
Periksa setiap 15 menit selama satu jam atau sampai stabil,
kemudian setiap 30 menit untuk setiap jam berikutnya. Tekanan
darah ibu mungkin sedikit meningkat karena upaya persalinan dan
kelatihan, hal ini akan normal kembali setelah 1 jam.
5) Kandung kemih
Kandung kemih ibu cepat terisi karena diuresis postpartum dan
cairan intravena.
6) Fundus uteri
Periksa setiap 15 menit selama satu jam pertama kemudian setiap
30 menit, fundus harus berada dalam midline, kerasm dan 2 cm di
bawah atau pada umbilikus. Bila uterus lunak, kakukan masase
hingga keras dan pijatan hingga berkontraksi ke pertengahan.
7) Sistem gastrointestinal
Pada minggu pertama postpartum fungsi usus besar kembali
normal.
8) Kehilangan berat badan
Pada masa postpartum ibu biasanya akan kehilangan berat badan
lebih kurang 5-6 kg yang disebabkan oleh keluarnya plasenta
dengan berat lebih kurang 750 gram, darah dan cairan amnion
lebih kurang 1.000 gram, sisanya berat badan bayi.
9) Lokea
Periksa setiap 15 menit, alirannya harus sedang. Bila darah
mengalir dengan cepat, curigai terjadinya robekan serviks.
10) Perineum

Perhatikan luka episiotomi atau laserasi (ruptur) jika ada dan


perineum harus bersih, tidak berwarna, tidak edema,dan jahitan
harus utuh. Laserasi dibagi menjadi:
Grade I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot
Grade II : Meluas sampai dengan otot perineal
Grade III : Meluas sampai dengan otot spinkter
Grade IV : melibatkan dinding anterior rektal
11) Sistem muskuloskletal
Selama kehamilan otot-otot abdomen secara bertahap melebar
dan terjadi penurunan tonus otot. Pada periode postpartum
penurunan tonus otot jelas terlihat. Abdomen menjadi lunak,
lembut dan lemah, serta muskulus rektus abdominis memisah.
2. Diagnosa Keperawatan Pada Masa Postpartum
Diagnosa keperawatan yang khas bagi wanita selama periode
postpartum adalah sebagai berikut.
1) Risiko terjadinya hemoragia yang berhubungan dengan atonia
uteri atau trauma.
Tujuan: Risiko perdarahan tidak terjadi
K.H: klien tidak mengalami perdarahan postpartum
Intervensi:
a. Masase lembut secara intermitten fundus uteri.
R/: dapat membantu mengeluarkan darah dan bekuan yang
menumpuk, sehingga uteru berkontraksi kembali.
b. Kaji jumlah darah yang keluar terdapat pada pembalut.
R/: Pembalut yang basah keseluruhannya mengandung
sekitar 100 ml darah setiap 15 menit dipertimbangkan
sebagai aliran hebat.
c. Pantau tanda-tanda vital dan observasi warna kulit
R/: Untuk melihat adanya sianosis
d. Kaji adanya perdarahan dan keluar jaringan
R/: bila keluar jaringan menandakan terjadinya sisa plasenta
di uterus, bila perdarahan terjadi tiba-tiba kemungkinan
laserasi pada serviks atau vagina (Mitayani 2009:123).
2) Resiko retensi urine berhubungan trauma persalinan
Tujuan : Tidak terjadi retensi urine
Kriteria hasil : klien dapat melakukan BAK secara normal
Intervensi :
a. Jelaskan pada klien cara bledder training.
R/ merangsang keinginan untuk BAK
b. Observasi intake output.
R/ menilai kemaksimalan miksi

c. Memasang kateter bila ada indikasi sesuai kolaborasi dengan


dokter.
R/ membantu mengeluarkan urine
d. Beri obat sesuai program.
R/ membantu memperlancar sirkulasi dan rangsangan saraf
untuk miksi (Mitayani 2009:123).
3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya
kontiunitas jaringan ditandai dengan adanya laserasi atau luka
jahitan di perineum.
Tujuan: Nyeri berkurang/ hilang
K.H:
Klien merasa nyeri berkurang/ hilang
Klien tampak rileks, ekspresi wajah tenang
Intervensi:
a. Kaji tingkat dan lokasi nyeri.
R/: Dengan mengkaji tingkat nyeri yang dirasakan ibu akan
memudahkan tindakan selanjutnya
b. Jelaskan penyebab nyeri
R/: Dengan menjelaskan penyebab nyeri diharapkan ibu
dapat mengerti dan beradaptasi dengan nyeri tersebut.
c. Observasi tanda-tanda infeksi pada luka perineum.
R/: Tanda-tanda luka infeksi merupakan indikator untuk
mengetahui keadaan ibu dan dapat menentukan tindakan
selanjutnya.
d. Ajarkan pada ibu perawatan luka perineum dengan kompres
betadine.
R/: Dengan cara ini ibu dapat mengerti dan melakukan
sendiri perawatan luka yang baik dan benar.
e. Anjurkan ibu agar menjaga kebersihan vulva dengan teratur,
yaitu mencuci daerah vulva dengan bersih setiap habis BAK
dan BAB
R/: Kebersihan daerah vulva dapat mencegah terjadinya
infeksi yang disebabkan oleh kuman-kuman patogen.
f. Ajarkan terapi nonfarmakologis yaitu teknik relaksasi napas
dalam untuk mengurangi rasa nyeri
R/: Memfokuskan kembali perhatian ibu sertameningkatkan
perilaku postif dan kenyamanan
g. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik

R/: Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri


sehingga

nyeri

tidat

dapat

dipersepsikan

(Mitayani

2009:123).
4) Risiko kurangnya volume cairan yang berhubungan dengan
pembatasan masukan selama proses persalinan.
Tujuan: Risiko kurangnya volume cairan tidak terjadi
KH: Tidak terjadi tanda-tanda kekurangan volume cairan
Intervensi:
a. Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam, warna urine, berat
badan setiap hari, status umum setiap 8 jam.
R/: Mengidentifikasi penyimpangan indikasi kemajuan atau
penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
b. Beritahu dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam, haus,
takikardia, gelisah, TD di bawah rentang normal, urine gelap
atau encer gelap.
R/: Temuan-temuan ini menandakan hipovolemi ada perlunya
peningkatan cairan.
c. Konsultasi dokter bila manifestasi kelebihan cairan terjadi.
R/: Mencegah pasien jatuh kedalam kondisi kelebihan cairan
yang beresiko terjadinya oedem paru
d. Pantau cairan masuk dan cairan keluar setiap 8 jam
R/: Mengidentifikasi keseimbangan cairan pasien secara
adekuat dan teratur (Mitayani 2009:123).
5) Resiko tinggi infeksi b/d peningkatan parentanan tubuh terhadap
bakteri sekunder.
Tujuan : tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda- tanda infeksi (rubor, tulor, dolor,
tumor, dan fungsio laesa). Tanda- tanda fital normal terutama
suhu (36-37 C).
Intervensi:
a. Kaji adanya perubahan suhu
R/ Peningkatan suhu > 37,5oC pada 2-10 hari setelah
melahirkan menandakan infeksi.
b. Observasi kondisi luka perineum (tanda reeda) seperti adanya
kemerahan, bengkak, perdarahan/hematom, pus, pertautan jaringan
yang dijahit serta nyeri tekan yang berlebihan.
R/ Dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan
parenial dan atau terjadinya komplikasi yang memerlukan
evaluasi intervensi lebih lanjut.

c. Anjurkan pada pasien untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah


menyentuh genital.
R/ Membantu mencegah/ menghalangi penyebaran infeksi.
d. Catat jumlah dan bau lochea atau perubahan yang abnormal.
R/ Lochea normal mempunyai bau amis, lochea yang purulen
dan bau busuk menunjukkan adanya infeksi.
e. Anjurkan pada pasien untuk mencuci perineum dari arah depan
kebelakang dan untuk mengganti pembalut sedikitnya setiap 4 jam
atau jika pembalut basah.
R/ Membantu mencegah kontaminasi rektal memasuki
vagina atau uretra
f. Ajarkan pada klien tentang cara perawatan luka perineum.
R/ Meningkatkan pengetahuan klien tentang perawatan vulva
g. Berikan obat antibiotik sesuai kebutuhan berdasarkan kolaborasi
dengan dokter
R/ Mencegah infeksi dan penyebaran kejaringan sekitar
(Doengoes, 2000:199).
6) Risiko ASI tidak efektif berhubungan dengan produksi ASI yang
tidak adekuat.
Tujuan : ASI dapat keluar secara lancar.
KH : Ibu merasa, senang, bayi tidak rewel lagi, tidur nyenyak dan
ASI dapat keluar.
Intervensi:
a. Kaji isapan bayi, jika ada lecet pads putting
Rasional : Menentukan cara memberikan perawatan yang
tepat.
b. Ajarkan teknik breast care menyusui yang efektif
Rasional : Memperlancar laktasi.
c. Anjurkan pads klien untuk memberikan ASI eksklusif
Rasional : ASI dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bag bayi
secaraoptimal.
d. Berikan informasi untuk rawat gabung
Rasional : Menjaga meminimalkan tidak efektifnya laktasi.
e. Ajarkan bagaimana cara meremas, menangani, menyimpan
dan memberikan ASI dengan aman
Rasional : Menjaga agar ASI tetap bisa digunakan dan tetap
hygienis bagi bayi (Nurarif dan Kusuma, 2013:250).
7) Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman konsep diri
dan krangnya pengetahuan
Tujuan : Ansietas pada ibu bisa diatasi
Kriteria hasil :

Mengungkapkan rasa takut


Mendiskusikan perasaan
Klien tampak benar-benar rileks
Menggunakan sumber/sistem pendukung dengan efektif
Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya
R/ Untuk menciptakan trust pada klien
b. Kaji tingkat kecemasan klien dan penyebab
R/ Untuk menentukan intervensi yang tepat
c. Kaji tanda-tanda vital
R/ Peningkatan vital sign menandakan terjadinya cemas dan
d. Kaji pengetahuan klien
R/ Untuk mengetahui penyebab cemas klien
e. Berikan penkes
Memberikan dan meningkatkan penegetahuan klien
f. Mengevaluasi pengetahuan
klien dengan pertanyaan
mengenai pengertian, jenis, keuntungan dan kerugian.
R/ Menentukan peningkatan pengetahuan klien setelah
diberikan penkes
g. Memotivasi klien.
R/ Motivasi yang kuat dapat meyakinkan klien dalam
menentukan sesuatu (Nurarif dan Kusuma, 2013:571).
8) Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL, berhubungan dengan
kelemahan fisik.
Tujuan
: pemenuhan ADL terpenuhi
Kriteria hasil : klien dapat memenuhi kebutuhannya (mandi,
makan, dan minum)
Intervensi
1. Kaji tingkat kemampuan

pasien

dalam

memenhui

kebutuhannya
R/ Untuk mengetahui kemampuan klien dalam melakukan
aktivitas dan menentukan intervensi selanjutnya.
2. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
R/ Agar klien mudah menjangkau alat-alat yang ia butuhkan.
3. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhannya.
R/ Agar klien merasa keluarganya selalu perhatian dan
memberikan dukungan kepadanya (Doengoes, 2000:201).