Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RSPI PROF DR SULIANTI SAROSO

IDENTITAS MAHASISWA
Nama Lengkap

: Mentari Dwi Putri

NIM

: 406127100

Periode

: 22 Juli 28 September 2013

Pembimbing
Topik

: dr. Dyani Kusumowardhani, Sp.A


: Demam berdarah dengue

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. Salma

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 6 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Komp. PGRI 13/7

Pendidikan

: TK B

IDENTITAS ORANG TUA

Nama Ayah

: Tn. Mulani

Umur

: 32 tahun

Pekerjaan

: Karyawan

Pendidikan terakhir

: STM

Alamat

: Komp. PGRI 13/7

Agama

: Islam

Nama Ibu

: Ny. Laila

Umur

: 30 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan terakhir

: SLTP

Alamat

: Komp. PGRI 13/7

Agama

: Islam

Hubungan dengan orang tua : anak kandung.

ANAMNESA
Tanggal masuk rumah sakit

: 28 Agustus 2013, jam 24.05 WIB

Tanggal pemeriksaan

: 30 Agustus 2013

Diambil dari

: Alloanamnesis dari Ibu pasien

Keluhan Utama

: Demam 5 hari

Keluhan Tambahan

: Nafsu makan menurun, BAB (-) sejak demam

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke IGD RSPI Sulianti Saroso dengan keluhan demam yang tibatiba tinggi sejak 5 hari SMRS. Demam dirasakan lebih tinggi pada malam hari.
Demam 3 hari pertama sangat tinggi hingga 41,2 o c, kejang (-). Kemudian hari ke 4-6,
demam turun hingga 37,3o c. Pada demam hari ke 4, ibu pasien membawa pasien
berobat ke puskesmas dan diberi obat antibiotik dan paracetamol tapi tidak ada
perbaikan. Pada demam hari ke 6, pasien diambil darah dan dicek darah lengkap serta
widal. Kemudian pasien dirujuk dari puskesmas dan datang ke IGD RSPI Prof.
Sulianti Saroso sekitar jam 17.30.
Ibu pasien juga mengatakan pasien muntah 1x tadi siang sebelum ke RSPI,
konsistensi cair dengan warna kekuningan, mual (+). Ibu pasien juga mengeluhkan
gusi pasien berdarah pada demam hari ke 5, 1x sehari, berdarah hanya sedikit
kemudian berhenti. Sebelumnya pasien belum pernah mengalami gusi berdarah
seperti itu. Selain itu, di wajah pasien juga tiba-tiba muncul bintik-bintik merah sejak
hari ke 5 demam dan ibunya mengira bintik merah itu adalah gigitan nyamuk.
Riwayat mimisan (-), nyeri perut (-), batuk (+), dahak (-), nyeri menelan (+), pilek (-),
pegal-pegal (-), makan minum berkurang. BAB (-) sejak 5 hari SMRS, BAK normal.
Menurut ibu pasien, di lingkungan tetangga pasien ada beberapa orang yang
menderita sakit demam berdarah dengue dan dirawat di RSPI.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien pernah menderita TB paru saat berumur 1,5 tahun. Pasien berobat ke
poli anak RSPI Prof. Sulianti Saroso dan diberi pengobatan TBC selama 1 tahun
kemudian dinyatakan sembuh.
Pasien pernah menderita campak saat berusia 8 bulan.
Pasien juga pernah menderita rubella saat berusia 3 tahun.

Kejang

: disangkal.

Asma

: disangkal.

Alergi makanan

: disangkal.

Alergi obat

: disangkal.

RIWAYAT KELUARGA

Pasien merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Ayah pasien bernama Tn.
Mulani berusia 32 tahun, bekerja sebagai karyawan. Ibu pasien bernama Ny. Laila
berusia 30 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga.

DATA PERUMAHAN
Pasien tinggal pada keadaan rumah yang cukup baik untuk menampung
seluruh anggota keluarga, keadaan rumah bersih dan pencahayaan cukup. Orang tua
os mengatakan sekitar rumah pasien banyak nyamuk.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


Kehamilan
Ibu pasien memeriksakan kehamilannya ke puskesmas, tidak mengalami
kelainan atau gangguan selama kehamilan.
Kelahiran
Tempat kelahiran

: Puskesmas Kemayoran

Penolong persalinan

: Dokter umum & Bidan

Cara persalinan

: Spontan

Masa gestasi

: Cukup bulan

Keadaan bayi
Berat badan lahir

: 3200 gram

Panjang badan lahir

: 48 cm

Lingkar kepala

: Tidak tahu

Langsung menangis

: Langsung menangis

Nilai APGAR

: Tidak tahu

Kelainan bawaan

: Tidak ada

RIWAYAT IMUNISASI DASAR


Pasien telah mendapatkan imunisasi :
BCG

:+

Hepatitis B

:+

DPT

:+

Polio

:+

Campak

:-

Ibu pasien mengaku imunisasi komplit namun ibu pasien tidak ingat kapan.

RIWAYAT PERTUMBUHAN

Ibu pasien rutin memeriksakan pasien ke posyandu dan mengaku ketika pasien
berusia 1,5 tahun, berat badan pasien tidak bertambah sedangkan tinggi badan
bertambah dan nafsu makan tetap seperti biasa.

RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi pertama : 12 bulan
Gangguan perkembangan mental dan emosi (-)
Psikomotor :

Tengkurap
Duduk
Merangkak
Berdiri Sendiri
Berjalan
Berbicara

RIWAYAT MAKANAN

: saat usia 5 bulan


: Tidak ingat
: Tidak ingat
: saat usia 11 bulan
: saat usia 12 bulan
: saat usia 12 bulan

Os mengkonsumsi ASI sejak lahir hingga usia 1 tahun 2 bulan, setelah itu os
mengkonsumsi susu formula dan secara bertahap os mengkonsumsi buah/
biskuit, bubur susu, nasi tim, dan makanan untuk dewasa hingga kini.
Umur

ASI

(bln)
0-2

2-4

6-8

8-10

10-12

12-14

14-16

Buah/Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

Umur lebih dari 1 tahun 2 bulan

Jenis makanan
Nasi
Sayur
Daging
Ikan
Telur
Tempe
Tahu
Susu

PEMERIKSAAN FISIK
Jumat, 30 Agustus 2013
Pemeriksaan umum

Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Frekuensi
3x/hari
Kadang-kadang
Jarang
Sering
Sering
Sering
Sering
Setiap hari

Kesadaran
Tinggi badan
Berat badan
Suhu
Nadi
Pernafasan

: Compos Mentis
: tidak tahu
: 24 kg
: 36,2 C
: 100 x/mnt
: 20 x/mnt

Pemeriksaan Fisik
Kepala
Bentuk normal, ukuran normal, tidak teraba benjolan, rambut kecoklatan,
distribusi merata, tidak mudah dicabut, kulit kepala tidak ada kelainan, ubun-ubun
besar sudah menutup.
Mata
Kelopak mata tidak ada kelainan, konjungtiva tidak anemis, tidak hiperemis,
sklera tidak ikterik, pupil bulat, isokor diameter 3 mm, Reflek cahaya +/+
Telinga
Bentuk normal, liang telinga lapang, tidak terlihat sekret, tidak terlihat
serumen, tidak terlihat luka pasca trauma, tidak ada nyeri tekan tragus, tidak ada nyeri
tarik aurikuler, kelenjar getah bening pre dan retroauriculer tidak teraba membesar.
Hidung
Bentuk normal, sekret (-), septum deviasi (-), pernapasan cuping hidung (-).
Tenggorokan
Faring tidak hiperemis, Tonsil T2-T2 tenang tidak hiperemis.
Mulut
Mukosa bibir kering (-), tampak perioral sianosis (-), lidah kotor (-).
Leher
Trachea di tengah, kelenjar thyroid tidak teraba membesar, kelenjar getah
bening submental, submandibular, cervical, supra clavicular tidak teraba membesar.

Dada
Bentuk normal, retraksi otot-otot intercostalis, supraclavicula, subcostal (-).
Paru - paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: simetris dalam diam dan pergerakan nafas


: stem fremitus kanan kiri, depan belakang sama kuat
: Sonor, batas paru hepar ICS VI midclavicular line dextra
: Vesikuler, Ronkhi -/-, wheezing (-)

Jantung
o
o
o
o

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Tidak tampak pulsasi ictus cordis


: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Bunyi jantung I dan II murni, murmur (-), gallop (-).

Perut
o Inspeksi
: Tampak rata
o Palpasi
Hati
: Teraba 1/3 1/3
Limpa
: Tidak teraba
Ginjal
: ballotemen (-)
Nyeri tekan epigastrium (-)
o Perkusi
: Timpani
o Auskultasi
: Bising usus (+) normal
Ekstremitas

: Akral hangat

Tulang belakang

: bentuk normal, tidak skoliosis, tidak lordosis, tidak kifosis

Kulit

: Rash konvalesen berupa bercak-bercak kemerahan, berbatas


tidak tegas, terasa gatal, tidak nyeri dan tidak terasa panas di
kedua kaki.
Hematoma pada lipat siku kanan dan kiri. Warna ungu
kemerahan, diameter 2-3 cm, tidak nyeri, tidak terasa panas,
tidak bengkak.
Petekie (+) di wajah dan kaki kanan kiri, tidak menghilang
ketika diregangkan

Pemeriksaan Neurologis
Rangsang meningeal
Kaku kuduk (-)
Brudzinski I dan II (-)
Kerniq (-)
Laseque (-)
Refleks fisiologis
Biceps

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Triceps

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Lutut

: +/+ normal

Tumit

: +/+ normal

Refleks patologis
Babinski

: -/-

Klonus Paha & Kaki

: -/-

Parese

: (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tabel Pemeriksaan Laboratorium Darah (28 Agustus 2013) : Dari puskesmas pk
19.11
Hematologi

Hasil

Nilai normal

Leukosit

2,4

4,1 10,9 ribu/L

Eritrosit

5,26

4,2 6,3 juta/L

Hb

10,5

12 18 g/dL

Ht

32,1

37 51 %

Trombosit

167

140 440 ribu/L

MCV

61

80 97 fL

MCH

20

26 32 pq

MCHC

32,7

31 36 g/dL

LED

38

0 15 mm

Typhi O

1/160

Typhi H

1/80

Paratyphi BO

1/320

Tabel pemeriksaan Laboratorium Darah (28 Agustus 2013) pk 23.39


Hematologi

Hasil

Nilai normal

Leukosit

2,6

5 14 ribu/L

Eritrosit

5,16

3 5 juta/L

Hb

10,5

10 14 g/dL

Ht

32

31 43 %

Trombosit

140

229 553 ribu/L

MCV

62

72 88 fL

MCH

20

23 31 pq

MCHC

32

32 36 g/dL

LED

13

0 20 mm

Tabel Pemeriksaan Hitung Jenis Leukosit (28 Agustus 2013)


Hitung Jenis

Hasil

Nilai Normal

Basofil

01%

Eosinofil

15%

Batang

36%

Segmen

37

25 - 60 %

Limfosit

60

25 50 %

Monosit

16%

Tabel Pemeriksaan Widal (28 Agustus 2013)


Hasil

Nilai Normal

Typhi O

1/80

<1/160

Paratyphi AO

1/80

<1/160

Paratyphi BO

<1/160

Paratyphi CO

<1/160

Typhi H

1/160

<1/160

Paratyphi AH

<1/160

Paratyphi BH

1/80

<1/160

Paratyphi CH

1/80

<1/160

Tabel pemeriksaan Laboratorium Darah (29 Agustus 2013)


Hematologi

Hasil

Nilai normal

Leukosit

3,0

5 14 ribu/L

Eritrosit

5,21

3 5 juta/L

Hb

10,6

10 14 g/dL

Ht

32

31 43 %

Trombosit

130

229 553 ribu/L

MCV

62

72 88 fL

MCH

20

23 31 pq

MCHC

32

32 36 g/dL

Tabel Pemeriksaan Urine Lengkap (29 Agustus 2013)


Pemeriksaan
Urinalisa

Hasil

Nilai Normal

Satuan

Berat jenis

1,015

1,003 - 1,035

pH

6,0

4,5 8,0

Lekosit esterase

Negatif

Nitrit

Negatif

Albumin

Negatif

mg/dL

Glukosa

Negatif

mg/dL

Keton

Negatif

mg/dL

Urobilinogen

mg/dL

Bilirubin

Negatif

mg/dL

Darah

Negatif

/L

Eritrosit

<3

/L

Lekosit

< 10

/L

Silinder

01

/LP

Epitel

Bakteri

Kristal

/L

Sedimen Mikroskopis

Makroskopis
Warna

Kuning

Kejernihan

Keruh

Pemeriksaan Laboratorium Serologi (29 Agustus 2013)

DHF / Dengue IgG


DHF / Dengue IgM

: (+) Positif
: (+) Positif

Tabel pemeriksaan Laboratorium Darah (30 Agustus 2013)


Hematologi

Hasil

Nilai normal

Leukosit

4,6

5 14 ribu/L

Eritrosit

5,63

3 5 juta/L

Hb

11,5

10 14 g/dL

Ht

36

31 43 %

Trombosit

156

229 553 ribu/L

MCV

63

72 88 fL

MCH

20

23 31 pq

MCHC

32

32 36 g/dL

RESUME
Telah diperiksa seorang anak perempuan berusia 6 tahun, datang dengan
keluhan demam sejak 5 hari SMRS. Demam dirasakan lebih tinggi pada malam hari.
Demam 3 hari pertama sangat tinggi hingga 41,2 o c, kejang (-). Kemudian hari ke 4-6,
demam turun hingga 37,3o c. Pada demam hari ke 4, ibu pasien membawa pasien
berobat ke puskesmas dan diberi obat antibiotik dan paracetamol tapi tidak ada
perbaikan. Ibu pasien juga mengatakan pasien muntah 1x tadi siang sebelum ke RSPI,
konsistensi cair dengan warna kekuningan, mual (+). Ibu pasien juga mengeluhkan
gusi pasien berdarah pada demam hari ke 5, 1x sehari, berdarah hanya sedikit
kemudian berhenti, Selain itu, di wajah pasien juga tiba-tiba muncul bintik-bintik
merah sejak hari ke 5 demam dan ibunya mengira bintik merah itu adalah gigitan
nyamuk. Batuk (+), dahak (-), makan minum berkurang. BAB (-) sejak 5 hari SMRS.
Menurut ibu pasien, di lingkungan tetangga pasien ada beberapa orang yang
menderita sakit demam berdarah dengue dan dirawat di RSPI.

Pemeriksaan umum (saat datang ke IGD)

Keadaan umum
Kesadaran
Tinggi badan
Berat badan
Suhu
Nadi
Pernafasan

: Tampak sakit sedang


: Compos Mentis
: tidak tahu
: 24 kg
: 38 C
: 110 x/mnt
: 26 x/mnt

Pemeriksaan Fisik (saat datang ke IGD)


Abdomen : datar, bising usus normal, timpani, supel, hepar teraba 1/3 1/3, nyeri (-)
Kulit : Petekie (+) di wajah dan kaki kanan kiri, tidak menghilang ketika diregangkan.

Pemeriksaan Penunjang (setelah dirawat)

DHF / Dengue IgG


DHF / Dengue IgM
Trombosit
Leukosit
Hematokrit
Hemoglobin

: (+) Positif (29 Agustus 2013)


: (+) Positif (29 Agustus 2013)
: 156.000 (terendah 130.000)
: 4600
: 36% (terendah 32%)
: 11,5 g/dl (terendah 10,5 g/dl)

DIAGNOSA
Diagnosa

: Dengue Haemorragik Fever Grade II Fase Konvalesen

Diagnosa Banding

: Dengue Fever
Typhoid Fever
ISK

PENGOBATAN
Non Medikamentosa :

Tirah baring

Asupan makanan dan minuman yang adekuat

Medikamentosa :

IVFD RL 16 tpm

Ceftriaxone 1 x 1,8 gr drip

Paracetamol 3 x 1 (bila suhu > 38,5o c)

PROGNOSA

Ad vitam

: ad bonam

Ad functionam

: ad bonam

Ad sanationam

: ad bonam

RIWAYAT RAWAT INAP


Rabu 29 Agustus 2013
S : Demam (+) naik turun, lebih tinggi pada malam hari, batuk (+),
dahak (-), pilek (-), mual (-), muntah (-), mimisan (-), nyeri perut (-),
gusi berdarah (-), pegal-pegal (-), BAB (-) sejak 6 hari SMRS, BAK
normal, makan minum masih kurang.
O:

KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis


Suhu

: 38o c

Nadi

: 110x/menit

RR

: 26x/menit

Mata

: KA (-/-) , SI (-/-), cekung (-/-)

Mulut

: Mukosa bibir basah, Tonsil T2-T2 tenang

Pulmo

: Vesikular (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)

Cor

: BJ I dan II normal, Gallop (-), murmur (-)

Abdomen

: Datar, supel, timpani, bising usus (+) normal, hepar teraba


1/3 - 1/3, nyeri (-), turgor kulit baik

Extremitas

: Akral hangat, nadi kuat angkat

Kulit

: Petekie (+) di wajah dan kaki kanan kiri

A : Viral infection / Susp. Typhoid fever


P:

IVFD RL 25-30 tpm


Ceftriaxone 1 x 1,8 gr drip
Paracetamol 3 x 1 (bila suhu > 38,5o c)

Kamis, 30 Agustus 2013


S : Demam (-), batuk (+), pilek (-), mual (-), muntah (-), mimisan (-),
gusi berdarah (-), nyeri perut (-), BAB (-) sejak 7 hari SMRS, BAK
normal, makan minum mulai meningkat.
O:

KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis


Suhu

: 36,2o c

Nadi

: 100x/menit

RR

: 22x/menit

Mata

: KA (-/-) , SI (-/-), cekung (-/-)

Mulut

: Mukosa bibir basah, Tonsil T2-T2 tenang

Pulmo
Cor

: Vesikular (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)


: BJ I dan II normal, Gallop (-), murmur (-)

Abdomen

: Datar, supel, timpani, bising usus (+) normal, hepar teraba


1/3 1/3, nyeri (-), turgor kulit baik

Extremitas

: Akral hangat, nadi kuat angkat

Kulit

: Petekie (+) di wajah dan rash (+) di kaki kanan kiri

A : DHF grade II fase konvalesens?


P : Boleh Pulang

Analisis Kasus

Fase Febris
Pasien akan mengeluh demam yang mendadak tinggi. Kadang-kadang suhu
tubuh sangat tinggi hingga 40oC dan tidak membaik dengan obat penurun panas. Fase
ini biasanya akan bertahan selama 2-3 hari dan diikuti dengan muka kemerahan,
eritema, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia, dan nyeri kepala. Beberapa pasien
mungkin juga mengeluhkan nyeri tenggorokan atau mata merah (injeksi konjungtiva).
Sulit untuk membedakan dengue dengan penyakit lainnya secara klinis pada fase awal
demam. Hasil uji torniquet positif pada fase ini meningkatkan kemungkinan adanya
infeksi dengue. Demam juga tidak dapat dijadikan parameter untuk membedakan
antara kasus dengue yang gawat dan tidak gawat. Oleh karena itu, memperhatikan
tanda-tanda peringatan (warning signs) dan parameter lain sangat penting untuk
mengenali progresi ke arah fase kritis. Warning signs meliputi:

Klinis: nyeri abdomen, muntah persisten, akumulasi cairan, perdarahan

mukosa, pembesaran hati > 2 cm


Laboratorium: peningkatan Ht dengan penurunan trombosit.

Manifestasi perdarahan ringan seperti petekie dan perdarahan membran


mukosa (hidung dan gusi) dapat terjadi. Petekie dapat muncul pada hari-hari pertama
demam, namun dapat juga dijumpai pada hari ke-3 hingga hari ke-5 demam.
Perdarahan vagina masif pada wanita usia subur dan perdarahan gastrointestinal
(hematemesis, melena) juga dapat terjadi walau lebih jarang. Bentuk perdarahan yang
paling ringan, uji torniquet positif, menandakan adanya peningkatan fragilitas kapiler.
Pada awal perjalanan penyakit 70,2% kasus DBD mempunyai hasil positif.
Hepar sering ditemukan membesar dan nyeri dalam beberapa hari demam.
Pembesaran hepar pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit,
bervariasi dari hanya sekedar dapat diraba hingga 2-4 cm di bawah arcus costae. Pada
sebagian kecil dapat ditemukan ikterus. Penemuan laboratorium yang paling awal
ditemui adalah penurunan progresif leukosit, yang dapat meningkatkan kecurigaan ke
arah dengue.
Pada anamnesa pasien ini, didapatkan :

Demam yang tiba-tiba tinggi (41,2o c) yang berlangsung selama 3 hari


kemudian turun. Tidak didapatkan muka kemerahan, eritema, nyeri seluruh
tubuh, mialgia, artralgia, nyeri kepala atau mata merah tapi didapatkan nyeri
menelan pada anamnesa.

Didapatkan pula manifestasi perdarahan ringan yaitu perdarahan gusi yang


terjadi pada demam hari ke 5 dan petekie yang juga muncul pada hari ke 5.
Tapi tidak didapatkan adanya manifestasi perdarahan lain.

Fase Kritis
Akhir fase demam merupakan fase kritis pada DBD. Pada saat demam mulai
cenderung turun dan pasien tampak seakan-akan sembuh, maka hal ini harus
diwaspadai sebagai awal kejadian syok. Saat demam mulai turun hingga dibawah 37,5
- 38oC yang biasanya terjadi pada hari ke 3-5, peningkatan permeabilitas kapiler akan
terjadi dan keadaan ini berbanding lurus dengan peningkatan hematokrit. Periode
kebocoran plasma yang signifikan secara klinis biasanya terjadi selama 24-48 jam.
Leukopenia progresif disertai penurunan jumlah platelet yang cepat
merupakan tanda kebocoran plasma. Derajat kebocoran plasma dapat bervariasi.
Temuan efusi pleura dan asites secara klinis bergantung pada derajat kebocoran

plasma dan volume terapi cairan. Derajat peningkatan hematokrit sebanding dengan
tingkat keparahan kebocoran plasma.
Keadaan syok akan timbul saat volume plasma mencapai angka kritis akibat
kebocoran plasma. Syok hampir selalu diikuti warning signs. Terdapat tanda
kegagalan sirkulasi: kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki,
sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi gelisah, nadi cepat, lemah, kecil sampai tak
teraba. Saat terjadi syok berkepanjangan, organ yang mengalami hipoperfusi akan
mengalami gangguan fungsi (impairment), asidosis metabolik, dan koagulasi
intravaskula diseminata (KID). Hal ini menyebabkan perdarahan hebat sehingga nilai
hematokrit akan sangat menurun pada keadaan syok hebat.
Pasien yang mengalami perbaikan klinis setelah demam turun dapat
dikatakan menderita dengue yang tidak gawat. Beberapa pasien dapat berkembang
menjadi fase kritis kebocoran plasma tanpa penurunan demam sehingga pada pasien
perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui adanya kebocoran
plasma.

Fase Penyembuhan (Recovery)


Jika pasien dapat bertahan selama 24-48 jam saat fase kritis, reabsorpsi
gradual cairan ekstravaskular akan terjadi dalam 48-72 jam. Keadaan umum pasien
membaik,

nafsu

makan

kembali,

gejala

gastrointestinal

berkurang,

status

hemodinamik meningkat, dan diuresis normal. Beberapa pasien akan mengalami ruam
kulit putih yang dikelilingi area kemerahan disekitarnya dan pruritus generalisata.
Bradikardia dan perubahan elektrokardiografi juga sering ditemukan pada fase ini.
Hematokrit akan stabil atau lebih rendah karena efek dilusi yang disebabkan
reabsorpsi cairan. Jumlah leukosit biasanya akan meningkat segera setelah demam
turun, namun trombosit akan meningkat kemudian. Pemberian cairan pada fase ini
perlu diperhatikan karena bila berlebihan akan menimbulkan edema paru atau gagal
jantung kongestif.

Pada anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium pasien ini,


ditemukan :

Rash kemerahan di kaki kanan dan kiri, terasa gatal, berbatas tidak tegas, tidak
nyeri dan tidak panas pada perabaan di kaki kanan dan kiri.

Leukosit yang terus meningkat sejak hari masuk RS (2600 3000 4600)

Trombosit yang sempat turun pada hari ke 7 tapi meningkat pada hari ke 8
(140rb 130rb 156rb)

Hematokrit (32% 32% 36%)

DIAGNOSIS
Patokan diagnosis DBD (WHO, 1975) berdasarkan gejala klinis dan laboratorium.1
Klinis:
1.
2.

Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari.


Manifestasi perdarahan, minimal uji torniquet positif dan salah satu bentuk
perdarahan lain (petekia, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi),

3.
4.

hematemesis dan atau melena)


Pembesaran hati
Syok yang ditandai oleh nadi lemah dan cepat disertai tekanan nadi menurun
( 20 mmHg), tekanan darah menurun (tekanan sistolik 80 mmHg) didertai
kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki,
pasien menjadi gelisah, dan timbul sianosis di sekitar mulut.

Laboratorium:
1.
2.

Trombositopenia ( 100.000 / L)
Hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari peningkatan nilai hematokrit 20%
dibandingkan dengan nilai hematokrit pada masa sebelum sakit atau masa
konvalesens.

Ditemukannya dua atau tiga patokan klinis pertama disertai trombositopenia dan
hemokonsentrasi sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DBD. Dengan patokan
ini 87% kasus tersangka DBD dapat didiagnosis dengan tepat, yang dibuktikan oleh
pemeriksaan serologis, dan dapat dihindari diagnosis berlebihan.
WHO (1975) membagi derajat penyakit DBD dalam 4 derajat:1
Derajat I

:Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi


perdarahan adalah uji torniquet positif.

Derajat II

:Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan/atau perdarahan lain.

Derajat III

:Ditemukannya tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut,


tekanan nadi menurun ( 20

mmHg) atau hipotensi disertai kulit

dingin, lembab, dan pasien menjadi gelisah.


Derajat IV

:Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

Pada pasien ini memenuhi beberapa kriteria DBD (WHO, 1975) yaitu :

Demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba dan berlangsung selama 3 hari.

Adanya manifestasi perdarahan yaitu perdarahan gusi

Pembesaran hepar

Serologis IgM & IgG Dengue (+)

Pada pasien ini sudah memenuhi kriteria untuk DBD dilihat dari anamnesa, gejala
klinis dan serologis tapi tidak diketahui tentang gejala klinis serta jumlah trombosit
dan hematokrit pada fase kritis. Karena ditemukan adanya riwayat petekie dan
perdarahan gusi pada demam hari ke 5, maka kemungkinan memenuhi kriteria DBD
derajat II.
PEMERIKSAAN SEROLOGIS
Pada infeksi primer, antibodi IgM dapat terdeteksi pada hari kelima setelah
onset penyakit. Kadar IgM meningkat dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam 3
minggu dan menurun hingga tak terdeteksi lagi setelah 2-3 bulan. Pada infeksi primer,
Antibodi IgG muncul pada hari ke 14 dan produksi IgG lebih rendah dibandingkan
IgM, namun dapat bertahan beberapa tahun dalam sirkulasi, bahkan seumur hidup.
Sedangkan pada infeksi sekunder, antibodi IgG mulai terdeteksi pada hari ke 2 dan
kadar IgG meningkat lebih banyak dibandingkan IgM. IgG merupakan antibodi
predominan pada infeksi sekunder.

Pada pasien ini, dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG dengue pada demam hari
ke 7 (29 Agustus 2013) dan didapatkan hasil IgM dan IgG Dengue (+). Disimpulkan
bahwa pasien mengalami infeksi sekunder. Kemungkinan pasien dulu pernah
menderita demam berdarah dan sekarang mengalami infeksi lagi.

TATALAKSANA

DBD derajat I atau derajat II tanpa peningkatan hematokrit

Gejala Klinis:
demam 2-7 hari
uji tourniquet positif atau perdarahan spontan
Laboratorium:
Hematokrit tidak meningkat
trombositopeni (ringan)

Pasien masih dapat minum


Beri minum sebanyak 1-2 liter/hari
atau satu sendok makan tiap 5 menit
Jenis minuman: air bening, teh manis,
sirup, jus buah, susu, oralit.
Bila suhu >380C beri parasetamol
Bila kejang beri obat antikonvulsif

Monitor gejala klinis dan laboratorium


Perhatikan tanda syok
Palpasi hati setiap hari
Ukur diuresis setiap hari
Awasi perdarahan
Periksa Hb, Ht, trombosit tiap 6-12 jam

Pasien tidak dapat minum


Pasien muntah terus-menerus

Pasang infus NaCl 0,9%:


dekstrosa 5% (1:3), tetesan rumatan sesuai
berat badan
Periksa Hb, Ht, trombosit tiap 6-12 jam

Ht naik dan atau trombosit turun

Infus ganti ringer laktat (RL)


(tetesan disesuaikan)
Perbaikan klinis dan laboratoris

Pulang (kriteria pulang)


- tidak demam selama 24 jam tanpa antiprelik
- nafsu makan membaik
- secara klinis tampak perbaikan
- Ht stabil
- tiga hari setelah syok teratasi
- jumlah trombosit > 50.000/ml
- tidak dijumpai distres pernapasan (disebabkan oleh efusi pleura atau asidosis)

Pasien mendapatkan terapi :

IVFD RL 16 tpm RL 25-30 tpm

Paracetamol (bila demam > 38,5o c)

Ceftriaxone 1 x 1,8 gr (selama 2 hari 28 Agustus 2013 & 29 Agustus 2013)

KESIMPULAN
Demam dengue dan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau
nyeri sendi yang disertai leukopeni, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis
hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan
hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.
Dengue shock syndrome adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh
renjatan/shock.
Terapi cairan pada DBD diberikan dengan tujuan substitusi kehilangan cairan
akibat kebocoran plasma. Dalam terapi cairan, hal terpenting yang perlu diperhatikan
adalah jenis cairan, jumlah serta kecepatan, dan pemantauan baik secara klinis
maupun laboratoris untuk menilai respon kecukupan cairan.