Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah usia lanjut dan osteoporosis semakin menjadi perhatian dunia,
termasuk Indonesia. Hal ini dilatar belakangi oleh meningkatnya usia harapan
hidup.

Keadaan

ini

menyebabkan

peningkatan

penyakit

menua

yang

menyertainya, antara lain osteoporosis (keropos tulang). Masalah osteoporosis di


Indonesia dihubungkan dengan masalah hormonal pada menopause. Menopause
lebih cepat dicapai wanita Indonesia pada usia 48 tahun dibandingkan wanita
barat yaitu usia 60 tahun. Mulai berkurangnya paparan terhadap sinar matahari.
Kurangnya asupan kalsium. Perubahan gaya hidup seperti merokok, alkohol dan
berkurangnya latihan fisik. Penggunaan obat-obatan steroid jangka panjang. Serta
risiko osteoporosis tanpa gejala klinis yang menyertainya.
Sejak penurunan massa tulang dihubungkan dengan terjadinya fraktur
yang akan datang, maka pemeriksaan massa tulang merupakan indikator untuk
memperkirakan risiko terjadinya fraktur. Pada dekade terakhir, fakta ini
menyebabkan kepedulian terhadap penggunaan alat diagnostik non invasif (bone
densitometry) untuk mengidentifikasi subyek dengan penurunan massa tulang,
sehingga dapat mencegah terjadinya fraktur yang akan datang, bahkan dapat
memonitoring terapi farmakologikal untuk menjaga massa tulang.
Diantara alat-alat yang ada di laboratorium adalah Densitometer, yang
akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa itu densitometer?
2. Apa kegunaanturbidimeter densitometer?

3. Apa bagian-bagian dari alat densitometer?


4. Bagaimana prinsip kerja alat Densiometer?
5. Bagaimana mekanisme kerja alat Densitometer?
6. Bagaimana cara perawatan alat Densitometer?
7. Apa jenis-jenis Densitometer?
8. Apa yang dimaksud dengan density (kerapatan)?
C. Tujuan
Adapun tujuan, sebagai berikut:
1.

Untuk mengetahui pengertian dari Densitometer

2.

Untuk mengetahui bagian-bagian alat Densitometer

3.

Untuk mengetahui kegunaan alat Densitometer

4.

Untuk mengetahui prinsip kerja alat Densiometer

5.

Untuk mengetahui mekanisme kerja alat Densitometer

6.

Untuk mengetahui cara perawatan alat Densitometer

7.

Untuk mengetahui jenis-jenis Densitometer

8.

Untuk mengetahui maksud dari density (kerapatan)?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Densitometer
Densitometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur densiti
(kerapatan) zat cair secara langsung. Angka angka yang tertera pada tangkai
berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat cair yang permukaannya
tepat pada angka yang tertera.
Dalam kimia sendiri, densitometer merupakan salah satu komponen
pendukung pada metode kromatografi, yaitu kromatografi lempeng tipis dan
kromatografi kertas. Densitometer akan mengukur kerapatan titik pada daerah
rambatan. Adanya densitometer dapat menunjang dugaan komposisi dari sampel.
Densitometry adalah metode pengukuran dalam bidang cetakan yang
paling murah harganya dan tersedia dimana-mana. Densitometer digunakan
sebagai instrumen yang dipegang dengan tangan atau dalam bentuk alat
pengukuran otomatis (scanning densitometer).
Penentuan bobot jenis dengan densitometer didasarkan pada pembacaan
seberapa dalamnya tabung gelas tercelup dan skala dibaca tepat pada miniskus
cairan. Pada alat densitometer, angka-angka yang tertera pada tangkai berskala
secara langsung menyatakan massa jenis zat cair yang pemukaannya tepat pada
angka yang tertera. Angka-angka tersebut dibuat secara empiris (berdasarkan
percobaan-percobaan yang teliti). Jarak antara 0,5 ke 0,6 tidk sama dengan jarak
0,6 ke 0,7. Semakin kebawah angka-angka yang tertera semakin besar dan
jaraknya semakin rapat.

B. Fungsi Densitometer
Densitometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur densiti
(kerapatan) zat cair secara langsung. Angka-angka yang tertera pada tangkai
berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat cair yang permukaannya
tepat pada angka yang tertera. Keuntungan dari penggunaan densitometer yaitu
skala pada densitometer telah menunjukkan kerapatan dan bobot jenis zat
sehingga tidak serumit seperti pada piknometer sedangkan kerugian dari
penggunaan densitometer yaitu diperlukan sampel dengan volume yang banyak.
Kegunaan alat :

Untuk mengukur densitas bahan transparan (densitometer transmisi).

Untuk mengukur densitas cahaya yang dipantulkan dari permukaan


(densitometer refleksi).

Untuk mengukur saturasi warna cetak oleh para profesional, dan kalibrasi
peralatan pencetakan.

Untuk membuat penyesuaian warna sehingga output/hasil sesuai dengan


warna yang diinginkan dalam produk jadi.

Untuk pengendalian proses kepadatan, dot gain (TVI), dot area, dan tinta
perangkap (trap). Pembacaan densitometer akan berbeda untuk berbagai jenis
substrat.

C. Prinsip Kerja
kerja densitometer adalah prinsip Archimedes. Larutan zat cair yang
diukur massa jenisnya ditempatkan pada suhu tabung kaca yang tinggi kemudian
densitometer

dicelupkan secara perlahan-lahan. Peralatan ini dibiarkan

mengapung secara bebas. Dengan demikian tinggi zat cair harus cukup untuk
mencelupkan densitometer, setelah posisi densitometer cukup stabil maka massa
jenis zat cair dapat dibaca pada skala yang pada bagian ekor. Skala yang
ditunjukkan adalah skala yang tepat berada pada permukaan zat cair yang diukur
massa jenisnya.
4

D. Bagian-Bagian Densitometer
Densitometer adalah sebuah instrumen yang mengukur tingkat kegelapan
(yang kerapatan optik) dari bahan fotografi atau semitransparan atau permukaan
mencerminkan.
Ada beberapa komponen densitometer, yaitu:

Sumber cahaya yang stabil

Komponen optic, untuk memfokuskan sinar agar sinar jatuh tepat pada
sampel. Sensor Optikal dan Sensor Arm

Penyaring untuk menentukan respon spectral unit

Null Button

Read Button

Detektor untuk membaca sinar yang direfleksikan

Logarithmic Amplifier

Layar /display

Sumber radiasi (Source), pengatur panjang gelombang ( selector), beam


spliter, thin layer plate (end view), detector phototube (transmitance
position) Sumber radiasi ada 3 macam tergantung rentang panjang
gelombang

dan prinsip penentuan.

Pada umumnya

densitometri

memberikan rentang gelombang penentuan 200-630 nm. Lampu


Deuterium (D2) dipakai untuk pengukuran pada daerah cahaya tampak.
Untuk penetapan pendar fluor dan pemadaman pendar fluor dipakai lampu
busur Hg bertekanan tinggi. Sama seperti pada spektorfotometri, pada
densitometri juga dilakukan penentuan transmisi atau adsorpsi dan refleksi

pada panjang gelombang maksimal. Pada penetapan pendar fluor dan


pemadaman pedar fluor juga harus dilakukan pada panjang gelombang
dimana terjadi emisi atau intensitas realitif pendar fluor yang optimal.

Monokromator dengan fungsi yang sama seperti pada spektrofotometri


UV-Vis

yang

diperlukan

pada

densitometer.

Biasanya

dipakai

monokromator kisi difraksi 1200 garis/mm.

Detektor PMT Photo Multiplier Tube = Tabung Penggandaan Foto)


merupakan detektor umum yang dipakai pada densitometer.

E. Mekanisme Kerja Alat

Berikut ini adalah mekanisme kerja densitometer secara sistematis:


Sumber cahaya menyinari sampel secara tegak lurus (sudut 90) namun
sensor dipasang pada sudut 45 untuk menghindari efek glossy sehingga yang

tertangkap oleh sensor adalah benar-benar cahaya yang direfleksikan oleh


permukaan sampel.
Sensor menangkap cahaya yang direfleksikan oleh permukaan sampel,
kemudian diubah menjadi skala logaritma dengan rumus tertentu sehingga
didapatkan hasil kerapatan cahaya dari sampel. Hasil dari perhitungan akan
ditampilkan pada display.
Densitometer adalah alat

penelitian yang biasa digunakan untuk

mengukur kerapatan cahaya suatu objek namun dalam dunia fotografi


densitometer juga digunakan untuk menilai kualitas suatu gambar atau alat
pencetak.
F. Cara Penggunaan
Secara umum, penggunaan alat densitometer dalam penentuan bobot jenis
didasarkan pada pembacaan seberapa dalamnya tabung gelas yang tercelup dan
skala yang dibaca tepat pada miniskus cairan. Panjang tabung yang tercelup
dalam cairan menunjukkan bobot jenis cairan, semakin rendah bobot jenisnya,
semakin rendah pula bagian densitometer yang tercelup kedalam cairan. Untuk
itu alat densitometer harus bebas dan tegak lurus terapung dalam cairan.
Sebelum digunakan untuk menetapkan bobot jenis suatu zat atau sampel,
maka densitometer harus dikalibrasi terlebih dahulu dengan cara mengukur bobot
jenis air, karena air memiliki bobot jenis yang pasti yaitu 1 (0,9999).
Densitometer yang sesuai dimasukkan pada bejana yang berisi air kemudian skala
dibaca tepat pada miniskus cekungan yang terjadi oleh air.
Sebelum digunakan, bersihkan dulu dari debu dengan menggunakan lap
atau tissue. Jika alat terlalu kotor, sebaiknya dicuci terlebih dahulu dengan air
dan sabun sampai bersih, kemudian dilap sampai kering. Sesudah digunakan, cuci
alat dengan air dan sabun sampai bersih, kemudian dilap sampai kering. Simpan
alat dalam wadah/kotak dan susun dengan rapi.

Pengukuran bobot jenis dengan densitometer


Pertama, digunakan dengan densitometer dengan skala terkecil terlebih
dahulu, apabila alat tersebut masih mengapung diatas cairan sampel, maka harus
diganti dengan densitometer yang memiliki skala lebih besar dan

begitu

seterusnya. Namun, apabila ujung densitometer menyentuh dasar wadah harus


diganti dengan densitometer yang memiliki skala lebih kecil hingga didapatkan
densitometer yang sesuai untuk mengukur atau menetapkan bobot jenis sampel.
D. Kerapatan (Density)
Kerapatan (density) Kerapatan atau density dinyatakan dengan ( adalah
huruf kecil Yunani yang dibaca rho), didefinisikan sebagai mass per satuan
volume. = (2-1) dimana = kerapatan (kg/m3) m = massa benda (kg) v =
volume (m3) Pada persamaan 2-1 diatas, dapat digunakan untuk menuliskan
massa, dengan persamaan sebagai berikut : M = v [ kg ] (2-2) Kerapatan adalah
suatu sifat karakteristik setiap bahan murni. Benda tersusun atas bahan murni,
misalnya emas murni, yang dapat memiliki berbagai ukuran ataupun massa, tetapi
kerapatannya akan sama untuk semuanya. Satuan SI untuk kerapatan adalah
kg/m3. Kadang kerapatan diberikan dalam g/cm3. Dengan catatan bahwa jika
kg/m3 = 1000 g/(100 cm)3, kemudian kerapatan yang diberikan dalam g/cm3
harus dikalikan dengan 1000 untuk memberikan hasil dalam kg/m3. Dengan
demikian kerapatan air adalah 1,00 g/cm3, akan sama dengan 1000 kg/m3.
Berbagai kerapatan bahan diunjukkan pada tabel II-1. Dalam tabel II-1 tersebut
ditetapkan suhu dan tekanan karena besaranini akan dipengaruhi kerapatan bahan
(meskipun pengaruhnya kecil untuk zat cair).
Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot jenis suatu zat antara lain :

Temperatur, dimana pada suhu yang tinggi senyawa yang di ukur berat
jenisnya dapat menguap sehingga mempengaruhi bobot jenisnya. Demikian
pula halnya pada suhu yang rendahdapat menyebabkan senyawa membeku
8

hingga sulit untuk menghitung bobot jenisnya. Oleh karena itu, digunakan
suhu dimana biasanya senyawa stabil yaitu pada suhu 25 (suhu kamar)

Massa zat, jika zat mempunyai massa besar maka kemungkinan bobot
jenisnya juga menjadi lebih besar

Volume zat, jika volume zat besar maka bobot jenisnya akan berpengaruh
tergantung pula dari massa jenis zat itu sendiri, dimana ukuran partikel dari
zat, bobot molekulnya serta kekentalan dari suatu zat dapat mempengaruhi
bobot jenisnya
Densiti dipengaruhi oleh suhu, dimana semakin naik suhu maka molekul-

molekul zat akan bergerak, mengembang dan akan menguap, sehingga densiti
akan berkurang. Namun apabila suhu turun, jarak antar molekulnya semakin
rapat, sehingga zat akan mengkerut yang menyebabkan densiti akan bertambah
atau semakin kental. Karena dipengaruhi oleh suhu maka diperlukan suatu faktor
koreksi untuk pengukuran suhu selain 20C. faktor koreksi ini dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
F = (t ukur - 20C) x K
Keterangan:
F : faktor koreksi
t ukur : suhu pada saat pengukuran (tC)
K : bilangan koreksi pada literature
Kerapatan (Density) adalah masa suatu bahan dibagi dengan isi (volume)
bahan tersebut.
Kerapatan = Masa/volume

simbol rho ()
dimensinya ML -3
satuannya kg/m-3
Kenaikan suhu biasanya akan menurunkan kerapatan suatu bahan, namun di
bidang teknik bahan padat dan cairan dianggap tidak termampatkan sehingga
kerapatannya dianggap tidak terpengaruh suhu dan tekanan yang tidak begitu besar.

Kerapatan Benda Padat


Kerapatan benda padat dapat dibedakan menjadi 2 yaitu kerapatan padat
(solid / particle density) dan kerapatan curah (bulk density).
Dengan mengetahui komposisi suatu bahan pertanian, kita dapat menentukan
kerapatan bahan tersebut karena kerapatan padat merupakan hasil bagi masa
partikel dengan volume partikel dalam suatu bahan. rumus untuk menghitung
kerapatan padat:
ps = 1
m1/1 + m2/2++mn/n
Keterangan:
s = kerapatan padat
m1,...,mn = fraksi masa komponen penyusun
1,,2 = kerapatan masa komponen penyusun
Contoh:
Buah apel mempunyai komposisi kadar air 84,4%, gula 14,55%, lemak 0,62%
dan protein 0,2%. Maka kerapatan padat buah apel:
10

ps = 1
(0,844/1000)+(0,1455/1590)+(0,006/925)+(0,002/1400)= 1064 kg/m3
Jika dilihat dari hasil tersebut, maka apel akan tenggelam dalan air
karena masa jenisnya yang lebih besar dari air. Namun kenyataannya, apel
mengapung dalam air, hal ini dikerenakan jumlah udara yang terperangkap
juda diperhitungkan. Menurut Mohsenin apel pada suhu 290 C adalah 845
kg/m3.
Bila kerapatan dan fraksi mol diketahui:
Ps = V1 1+V2 2++V3 3
V = Fraksi mol
= Kerapatan konstituen
Penentuan

kerapatan

padat

dapat

dilakukan

dengan

prinsip

pengapungan menggunakan cairan yang telah diketahui terlebih dahulu


densitasnya, dengan syarat, suhu benda padat yang di ukur harus sama dengan
suhu cairan yang diketahui densitasnya.
Kerapatan benda dapat dipengaruhi oleh kondisi pengolahan, misalnya
dehidrasi dan aglomerasi akan mempengaruhi tingkat dan sifat pembentukan
pori sehingga perancangan alat dan data kerapatan padat harus akurat.

Kerapatan Curah
Kerapatan curah merupakan kerapatan bahan curah alam keadaan
volume seimbang. Kerapatan curah dipengaruhi oleh kerapatan padat, ukuran,
cara pengukuran, bentuk geomnetri dan sifat permukaan.

11

Bila biji-bijian, butiran atau tepung ditangani dalam jumlah banyak


maka isi curahan sama dengan isi benda padat ditambah dengan isi ruang
(pori-pori). Porositas () bahan yang dikemas merupakan fraksi total volume
yang ditempati udara.
= Volume udara (pori)
Total volume
Porositas dipengaruhi oleh bentuk geometri bahan, sifat permukaan bahan,
ukuran.
Cara penentuan kerapatan curah:
Pertama tepung yang beratnya telah diketahui dimasukkan kedalam
tabung pengukur, kemudian digoyangkan dengan jumlag goyangan dan waktu
tertentu sehingga menghasilkan volume curah.
Kerapatan curah (b) = Massa
Volume Curah
Pada pengukuran kerapatan curah bahan padat tertentu, terdapat
standart yang sudah ditentukan oleh ahli di bidang tertentu.
Hubungan antara Porositas, Keraatan Curah dan Kerapatan Padat
= Volume udara (ruang antara)
Volume curah
= V. curah - V. padat(V. sbnarnya)
Volume curah
= 1 - Volum padat
12

Volum curah
= 1- rapat curah (Dinyatakan sbgai
rapat padat fraksi atao %)
= 1 - b
s
= s -b
s

Kerapatan Cairan Dan Berat Jenis


Berat jenis (specific gravity) merupakan rasio massa cairan dengan
massa air (volume) dan di ukur pada basis suhu yang sama.keterangan
BJ = Massa cairan
Massa air (v,t)
L = (BJ) T X w
L = Kerapatan cairan pada suhu T
(BJ) T = Berat jenis pada suhu T
w = kerapatan air pada T
perubahan berat jenis karena suhu lebih kecil dibandingkan perubahan
kerapatan

Botol Kerapatan

13

Digunakan untuk mengukur berat jenis suatu cairan yang tidak


diketahui dan suatu padatan butiran yang tidak larut dalam cairan. Dalam
penggunaannya harus dipastikan semua udara dapat dihilangkan dari botol
ketika cairan ditambahkan ke dalam padatan.Untuk menentukan berat jenis
suatu cairan:
BJ cairan= W1 - W2
Ww -Wo
Untuk menghitung berat jenis padatan:
BJ padatan= Ws - Wo x W1 -Wo
W1 - Wo - (W1 - Ws) Ww - Wo
Keterangan:
Wo = Berat botol kosong
Ww = Berat botol penuh air
W1 = Berat botol penuh cairan yang Bjnya akan ditentukan
Ws = Berta botol berisi bahan padatan yang akan di ukur
BJ padatan = berat padat x berat jenis cairan
berat cairan
Trouble dan trouble shooting

Alat pecah : kumpulkan pecahannya, jangan dibiarkan berserakan, karena


dapat melukai. Kalibrasi alat menunjukkan densitometer kurang layak
digunakan : ganti dengan densitometer lain/baru dan lakukan kalibrasi lagi,

14

jika kalibrasi dengan air menunjukkan angka 1,000, berarti densitometer


tersebut layak digunakan.

Alat berdebu/kotor : Jika alat berdebu, cukup dilap dengan lap atau tissue
sampai bersih. Jika alat kotor, cuci terlebih dahulu dengan air dan sabun
sampai bersih, lalu dilap dengan lap kering bersih sampai alat kering.

G. Jenis-jenis densitometer
Terdapat dua macam densitometer, yang digunakan untuk tujuan yang
berbeda-beda:
1.

Densitometer Digital
Densitometer Digital terdiri atas 2 jenis :

Densitometer Refleksi

Reflection densitometer (memantulkan) digunakan untuk mengukur gambar


yang dicetak (substrata buram/tak tembus cahaya). Densitometer ini digunakan untuk
mengukur kerapatan cahaya pada sampel yang tidak permukaan yang tidak tembus
cahaya/transparan. Densitometer refleksi membaca sinar yang direfleksikan oleh
permukaan objek oleh sel fotoelektrik atau detektor.

15

Densitometer Transmisi

16

Transmission densitometer (memancarkan) digunakan untuk mengukur


kehitaman film (substrata transparan). Densitometer transmisi membaca sinar yang
melewati objek transparan oleh sel fotoelektrik atau detektor/sinar yang
ditransmisikan melalui objek. Densitometer yang digunakan untuk mengukur
kerapatan cahaya pada sampel yang transparan, misalnya hasil negative foto.

2.

Densitometer manual
Bentuknya hampir mirip dengan urinometer, hanya saja densitometer
manual digunakan untuk mengukur massa jenis berbagai jenis zat cair.
Spesifikasi alat
Range : 600-1000Kg/m3
Length : 30cm

17

Division: 1
600-700 Kg/m3
700-800 Kg/m3
800-900 Kg/m3
900-1000 Kg/m3
Keterangan alat
Pada alat densitometer, angka-angka yang tertera pada tangkai
berskala secara langsung mrnyatakan massa jenis zat cair yang permukaannya
tepat pada angka yang tertera, angka-angka itu dibuat secara empiris
(berdasarkan percobaan-percobaan yang teliti). Jarak antara angka 0,5 ke 0,7
semakin kebawah angka-angka yang tertera semakin besar dan jaraknya
semakin rapat.
Batas ukur densitometer biasanya dibagi-bagi misalnya:
Antara 0,5 g/ml sampai dengan 1,0 g/ml,
1,0 g/ml sampai dengan 2,0 g/ml, dst
E. Cara Kerja Alat
1. Siapkan alat dan bahan
2. Massa jenis dari masing-masing sampel diketahui (sesuai literature)
3. Masukkan masing-masing sampel kedalam gelas ukur 500 ml
4. Celupkan densitometer kedalam gelas ukur yang telah diisi sampel,
kemudian baca skala yang tertera pada densitometer. Jika densitometer
tercelup seluruhnya artinya massa jenis zat cair sampel lebih kecil dari

18

densitometer, sedangkan jika densitometer mengambang artinya massa


jenis zat cair lebih besar dari densitometer.
5. Catat skala yang tertera pada densitometer.
H. Perawatan alat
1. Tempatkan densitometer pada tempat/meja yang datar.
2. Jangan terlalu lama membiarkan foto-foto, gel, atau film pada kaca piring,
karena panas dari sumber cahaya di densitometer dapat merusak.
3. Jangan mengoperasikan densitometer ketika suhu lingkungan turun di bawah
5 C atau naik di atas 40 C.
4. Jangan mengoperasikan densitometer ketika kelembaban lingkungan turun di
bawah 25% atau naik di atas 85%.
5. Kalau perlu, setiap hari densitometer dibersihkan dari debu dengan
menggunakan lap atau tissue.
6. Jangan sampai alat terendam cairan/air, karena dapat merusak sistem listrik
dan komponen alat.

19

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan materi di atas dapat disimpilkan bahwa:

Densitometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur densiti


(kerapatan) zat cair secara langsung. Angka angka yang tertera pada
tangkai berskala secara langsung menyatakan massa jenis zat cair yang
permukaannya tepat pada angka yang tertera. Dalam kimia sendiri,
densitometer merupakan salah satu komponen pendukung pada metode
kromatografi, yaitu kromatografi lempeng tipis dan kromatografi kertas.
Densitometer akan mengukur kerapatan titik pada daerah rambatan.
Adanya densitometer dapat menunjang dugaan komposisi dari sampel.

Densitometer ada 2 jenis, yaitu densitometer manual (digunakan untuk


mengukur densiti (kerapatan) zat cair secara langsung atau mengukur
massa jenis suatu zat cair/larutan) dan densitometer digital (untuk
mengukur densitas (kepadatan) optik).

B. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan, adalah :
1. Alat-alat tersebut harus digunakan sesuai kegunaannya masing-masing.
Alat-alat tersebut harus dirawat agar dapat dipakai dalam jangka waktu
lama dan awet.
2. Pada penggunaan alat polarimeter ini harus secara berkala serta
perawatannya agar bagian-bagiannya tidak cepat rusak.
3.

Diharapkan agar mengkalibrasi alat setiap akan digunakan agar


keakuratan data pada saat percobaan dapat maksimal.

20

DAFTAR PUSTAKA
Kolthoff, I.M, 1958, Teztbook of Quantitative Inorganic Analysis 3rd Edition,
The Macmillan Company, New York.
Safru, U., 2009, Laporan Praktikum Fisika Dasar II ; Tentang C1 densitometer,
Fakultas Tehnik-Universitas Islam OKI, Kayuagung.
http://ashadisasongko.staff.ipb.ac.id/tag/densitometer/
http://endrah.blogspot.com/2010/04/turbidimeter.html
http://alamkun1.blogspot.com/
http://www.slideshare.net/faridrzanie/instrumentasi-35969861

21