Anda di halaman 1dari 24

HADIS KEUTAMAAN SURAH YASIN;

Membacanya seperti Membaca 10 Kali al-Quran

MAKALAH
Diajukan Untuk Memeneuhi Mata Kuliah
Metodologi Penelitian Tafsir dan Hadis

DOSEN PEMBIMBING;
DR. BUSTAMIN, M.SI

DISUSUN OLEH;
HASRUL
(NIM: 21150340000010)

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS


FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016 M/1437 H

A.

Matan Hadis
Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendiri atas selesainya
karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij
Hadis yang penelusurannya melalui pendekatan mujam (alfazh).1 Walaupun demikian, dalam tataran aplikasinya kami juga
menggunakan pendekatan Sanad dan Atraf demi meraih hasil
yang lengkap dan sempurna. Metode yang digunakan dalam
pembahasan ini ialah metode Mujam2 yaitu Mujam al-Mufahras
li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy3 dan metode Digital yaitu Maktabah
al-Syamilah.
Penulis juga dalam memberikan syarah memadukan dari
beberapa sumber untuk melengkapi keterangan yang bersangkutan
dan penjelasan dalam beberapa bagian yang dibutuhkan. h. ini demi
menunjukkan kualitas ilmiahnya dan memberikan pemahaman yang
lebih serta pertimbangan studi komparatif dengan sumber lain yang
sama. Hadis yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini
dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:

Hadis diatas mengabarkan setiap sesuatu memiliki hati dan hati


al-Quran adalah Yasin. Pemahaman lain yang dapat dipetik dan
inilah yang menjadi pokok kandungan hadis ini ialah fadhilah surah
Yasin mengenai orang membacanya akan mendapatkan pahala
seperti membaca al-Quran sepuluh kali. Mengenai keotentikan atau
keabsahan hadis ini, penulisan semaksimal mungkin menyajikan
penjelasannya dibawah ini.
B. Hasil Penelusuran (Takhrij)
Penelusuran matan hadis diatas sebagaimana yang kami
telah sebutkan yaitu melalui al-Mujam al-Mufahras li Alfazh
al-Hadits al-Nabawiy dan maktabah syamilah. Hasil penelusuran
1 Pendekatan mujam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak
populer di masyarakat. (dalam Makalah Pengantar Ilmu Takhrij karya Ahmad
Ubaydi Hasbillah 24 Feb 2011)

2 Metode Mujam ialah metode takhrij hadis yang mengandalkan buku-buku


mujam (buku hadis yang secara sistematis ditulis berdasarkan urut-urutan
huruf alfabet) dalam melakukan kerja takhrijnya. Metode ini, sesuai dengan
kebutuhannya, dibagi menjadi dua yaitu: mujami shakhsi dan mujami alfazi.
3 Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini
menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur.
2

hadis di atas dengan menggunakan kedua metode ini dapat dilihat


sebagai berikut:
1. Metode al-Mujam

al-Mufahras

li

Alfazh al-Hadits al-

Nabawiy
Melalui metode al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits alNabawiy yang dalam praktinya menggunakan pendekatan al-Fash,
kami menemukan hadis diatas pada dua sumber dengan hasil
penelusuran tercantum sebagai berikut:
] [ dan ] [
Hasil penelusuran di atas menunjukkan keterangan asalnya
dalam kitab induknya yang dapat dirinci sebagai berikut:4
[ ] yaitu: ( )menunjukkan terdapat dalam kitab
Sunan at-Tirmidzi, ( ) menunjukkan ada dalam kitab
Keutamaan al-Quran, () menunjukkan nomor urut bab ke-9.
[ ] yaitu: ( )menunjukkan terdapat dalam
kitab Sunan ad-Darimi, ( ) menunjukkan ada dalam
kitab Fadhilah al-Quran, () menunjukkan nomor urut bab
ke-21.
Demikianlah beberapa hasil yang dapat kami paparkan
melalui penelusuran metode al-Fashi dengan pendekatan Mujam.
2. Metode Digital (Maktabah as-Syamilah)
Melalui metode digital yaitu Maktabah syamilah yang
merupaka sebuah software mutakhir yang memiliki kapasitas
tinggi dalam search engine khususnya kumpulan hadis Nabawi.
Software ini diterbitkan oleh jaringan Da'wah Islamiyah al-Misykat
yang memuat kurang lebih 26.080 kitab pada versi barunya tahun
2012 serta dikelompokkan dalam 29 bidang keilmuwan Isalam.5
Penelusuran melalui metode digital ini sangat simple dan
dapat memanfatkan semua pendekatan seperti pendekatan
sanad, atraf, mujam, maudui maupun sifat atau hukum hadis. h.
ini juga serupa pada praktik metodenya karena kitab ini
memuat beragam kitab sesuai kebutuhan. Search engine ini
memuat berbagai macam sistematika penyusunan kitab
seperti kitab-kitab shahih, sunan, musnad, mujam, jamii dan
yang lainnya.
Selanjutnya dalam penelusuran metode digital ini, yaitu
maktabah syamilah. Kami menemukan juga pada beberapa
4 Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), h. 111.
5 http://www.pesantrenvirtual.com/shamila
3

sumber lain serta mencakup juga dari sumber yang telah kami
temukan melalui metode mujam al-Fash. Sebagaimana tema
dalam hadis ini tentang orang membaca Yasin akan mendaptkan
pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali namun, terdapat
juga penelusuran yang menemukan hanya sekedar menyebutkan
bahwa Yasin adalah hati al-Quran yang serupa diungkap diawal
redaksi matan hadis ini. Untuk lebuh jelasnya dapat dilihat pada
uraian dibawah ini.
)3. Kesimpulan Hasil Penelusuran (Takhrij
Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis
diatas dari berbagai kitab hadis melalui penelusuran metode
Mujam dan penelusuran metode digital dapat dilihat sebagai
berikut:
) ( a. Sunan at-Tirmidzi


















) .










6
(
) ( b. Sunan ad-Darimi

,
,

















7
) . (

) ( c. Syabu al-Iman

6 Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424


, Cet I, h. 671
H / 2003 M), Bab
7 Imam Darimi, Sunan ad-Draimi (Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M), Bab
, Juz 2, Cet. I, h. 329
4


8


" ) . (




) ( d. Mujam Ibnu al-Araby















.










9
) (

Selanjutnya dalam penelusuran ini, kami menemukan juga


beberapa hadis yang serupa yang letak persamaanya dalam
redaksi yang menyatakan bahwa Yasin adalah hati al-Quran.
Walaupun demikian, hadis ini hanya kami paparkan sebagai
pertimbangan karena memiliki tema fadhilah yasin yang berbeda
dengan tema pada pembahasan ini. Uraian hadis tersebut dapat
dilihat sebagai berikut:
) ( a. Sunan al-Kubra an-Nasai




:



:

















) .









10
(

)) b. Musnad Ahmad Hanbal


8 Imam Baihaqi, Syabul Iman (Riyadh : Dar al-Salaf, 1423 H / 2003 M), Juz 4,
h. 94, Cet I
9 Ibnu Arabi, Mujam Ibnu al-Araby (Dar Ibnu al-Jawazi, 1418 H / 1997 M),
Jus 5, Cet. I, h. 151
5



{







}


















11
( ) .


Kedua hadis di atas menjelaskan juga tentang fadhilah surah
Yasin untuk dibacakan kepada orang-orang yang yang
menghadapi sakaratul maut. Penafsiran lain mentebutkan bahwa
yang dimaksud ( )ialah orang yang telah wafat sehingga
maksudnya mengirimkan bacaan surah Yasin kepada si mayyit
seperti pada umumnya dilakukan dalam tardisi umat Islam di
Indonesia, Wallahu Alam. Matan kedua hadis di atas adalah sama
yang artinya dapat di lihat dibawah ini:
Dan Yasin adalah hati al-Quran. Tidak ada seseorang yang
membacanya yang mengharapkan Ridha Alah dan pahala taman
sorga kecuali ia akan diampuni, dan bacakanlah Yasin itu untuk
mayit kalian.
C. Perbandingan Redaksi Matan
1. Sunan at-Tirmidzi ()

Artinya: Sesungguhnya bagi setiap sesuatu memiliki hati


dan hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membaca Yasin
maka Allah mencatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan
al-Quran sepuluh kali.
2. Sunan ad-Darimi ()

10 Imam an-Nasai, Sunan al-Kubra an-Nasai (Beirut : Dar al-Kitab alIlmiyah, 1411 H / 1991 M), Bab , , Juz 9, h. 394
11 Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424
, Cet I, h. 671
H / 2003 M), Bab
6

Artinya: Sesungguhnya bagi setiap sesuatu memiliki hati


dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang
membacanya maka sesungguhnya ia seperti membaca al-Quran
sepuluh kali
3. Syabu al-Iman ()

Artinya: Bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati


al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membaca Yasin maka
Allah mencatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan alQuran sepuluh kali
4. Mujam Ibnu al-Araby ()






















.










Artinya: Bagi setiap sesuatu memiliki hati dan
sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Maka barang siapa
yang membaca Yasin maka dicatat baginya untuk bacaannya
dengan bacaan al-Quran sepuluh kali

Berdasarkan berbagai redaksi matan dari hadis di atas, maka


dapat disimpulkan bahwa redaksi hadis tersebut tidak ada
perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaannya masih
dimaklumi dan tetap menunjukan makna yang sama antara satu
redaksi dengan redaksi yang lainnya. Oleh karena itu, hadis di atas
kemungkinan besar disampaikan kepada kita oleh para perawi
dengan riwayat bil makna.

D. Skema Sanad
Berdasarkan hasil penelusuran di atas dapat dibuat skema
sanad sebagai berikut:

Mukharrij Hadis, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Arabi dan alBaihaqi


E. Analisis Biografi Lengkap Para Periwayat
Berdasarkan skema sanad dari keempat hadis diatas, yang kami
teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam al-Tirmidzi,dengan
komposisi sanad; Anas bin Malik, Qatadah, Mukatil bin Hayyan,
Harun Abi Muhammad, Hasan bin Shalih, Humaidi bin Abdirrahman
ar-Rawasy, Qutaibah bin Said dan Sofyan bin Waki.
1. Anas bin Malik (w. 93 H)
Anas bin Malik memiliki nama lengkap Anas bin Malik bin
Nadhar Abu Hamzah al-Anshary al-Madny.12 Beliau termasuk
urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, Ia
meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits. Ketika ia berusia 10 tahun,
12 As-Suyuty, Thabaqah al-Huffash (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H /
1994 M), Cet. I, h. 19
9

ibunya Ummu sulaiman membawanya kepada Rasulullah Saw


untuk berkhidmat. Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat
Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di
Bahrain, Umar memujinya Dia adalah anak muda yang cerdas
dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah.
Komentar Abu Hurairah tentang Anas Aku belum pernah
melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali
Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik). Pada hari hari terakhir masa
kehidupannya, Anas pindah ke Basrah. Itulah sebabnya para
Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat
terakhir yang meninggal di Basrah. Jika ada orang suka
memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami,
kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang
pernah mendenganr dari Rasululah Shallallahu alaihi wassalam.
Anas bin Malik wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui
seratus tahun. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama
sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan
kredibilitasnya.13 Ulama telah sepakat bahwa seluruh sahabat
adalah adil dan ini mendapat legitimasi dari banyak dalil, baik
al-Quran maupun Hadis.14 Adapun guru-guru dan murid Anas bin
Malik dapat dilihat pada tabel berikut:15
No
1
2
3

Guru


Murid


2. Qatadah (w. 100 H)


Nama lengkapnya adalah Qatadah bin Diamah bin Qatadah.
Sebagian juga mengatakan Qatadah bin Diamah bin Akabah, asSudusy, Abu Khattab al-Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah
ke-4 ( ) yang lahir pada tahun 60 H / 61 H dan
wafat pada tahun 100 H.16
Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah:
13 Rawah at-Tahzibain, 3/319
14 M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, M. Nur Ahmad M (Jakarta:
Gaya Media Pratama, 2007), h. 390
15 Rawah at-Tahzibain, h. 565
16 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (T.tp: Muassasah ar-Risalah, 1405 H /
1985 M), Cet. III, h. 269-272
10

N
o
1
2
3
4

Kritikus

Jarh

Tadil

Keterangan

Ibnu Hajar
Al-Zahabi
Muhammad bin
Sirrin
Syabi

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:17


N
o
1
2
3
4

Guru

Murid

Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau:


Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.
3. Mukatil bin Hayyan (w. 150 H)18
Mukatil bin Hayyan memiliki nama Mukatil bin Hayyan
bin Dawala Dura Abu Bistham al-Nabty. Beliau tergolong dalam
tabaqah ke-6 () . Ia wafat pada tahun 150 di kabul,
sekarang wilayah Afganistan.19 Berikut pendapat para ulama
terhadap Mukatil bin Hayyan:
N
Keterang
Kritikus
Jarh
Tadil
o
an

1 Ibnu Hajar



2 Az-Zahabi
- -
3 Yahya bin Main

4 Abu daud

Abdul Salam bin


5

Atiq
Adapun guru-guru dan murid-murid Mukatil bin Hayyan dapat
dilihat sebagai berikut:20
17 Rawah at-Tahzibain, h. 5518
18 Sebagian berkata bahwa Mukatil di sini ialah Mukatil bin Sulaiman (Ibnu Abi
Hatim dalam al-Ilal).
19 Ibid, h. 6867
11

N
o
1
2
3

Guru

Murid

Berikut Imam hadis yang meriwatkan hadis dari beliau:


Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.
4. Harun Abi Muhammad
Harun Abi Muhammad memliki identitas yang kurang
diketahui. Ia termasuk dalam thabaqah ke-7 () .
Perawi hadis yang mengambil hadis darinya hanya Imam atTirmidzi.21 Untuk kritikus ulama terhadap beliau dapat dilihat
dibawah ini:
N
o
1
2
3

Kritikus
Ibnu Hajar
Az-Zahabi
Abu Isa

Jarh

Tadil

Keterangan

Untuk jarh Harun Abu Muhammad diatas pada nomor 3,


dinukil dari syarah Sunan at-Tirmidsi yang dikemukakan oleh Abu
Isa. Di dalam rawah at-Tahzibain halaman 7249 dicatumkan hanya
ada satu guru Harun, yaitu Mukati bin Hayyan dan juga hanya
memiliki satu murid, yaitu Hasan bi Shalih bin Hayyin.
5. Hasan bin Shalih
Nama lengkapnya adalah Hasan bin Shalih bin Shalih bin
hayyin. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-7 ()
yang lahir pada tahun 100 H dan wafat pada tahun 169 H.
Berikut pendapat para ulama terhadap Hasan bin Shalih:22
N
o
1

Kritikus

Jarh

Tadil

Keterangan

Ibnu Hajar

Al-Zahabi

Ahmad bin

- -
-
-

20 Rawah at-Tahzibain, h. 7249


21 Ibid. 5518
22 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (T.tp: Muassasah ar-Risalah, 1405 H /
1985 M), Cet. III, h. 361-372
12

Hanbal
Yahya bin Main

Adapun guru-guru dan murid-murid Hasan bin Shalih bin


Hayyin diantaranya seperti dibawah ini:
No
Guru
Murid
1


2


3


6. Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy
Nama lengkapnya adalah Humaidi bin Abdurrahman bin
Humaidi bin Abdurrahman ar-Rawasy. Beliau termasuk dalam
tabaqah ke-8 ( ) dan wafat pada tahun 189 H
atau 190 H dan atau setelahnya. Diantara imam hadis yang
meriwaytkannya hadisnya ialah Bukhari, Muslim, Abu Daud,
Tirmidzi, Nasai dan Ibnu majah.
Berikut pendapat para ulama terhadap Humaidi bin
Abdirrahman ar-Rawasy:23
No
1
2
3

Kritikus
Ibnu Hajar
Ibnu Abi Syaibah
Yahya bin Main

Jarh
-

Ibnu Saad

Ajaly

Tadil

Keterangan
-

Adapun guru-guru dan murid-murid Humaidi bin Abdirrahman


ar-Rawasy diantaranya seperti dibawah ini:
No

Guru

Murid

Berikut Imam hadis yang meriwatkan hadis dari beliau:


Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.24
23 Rawah at-Tahzibain, h. 1551
24 Ibid, h. 1551
13

7. Qutaibah bin Said


Nama lengkapnya Qutaibah bin Said Jamil bin Tharif al-Sakafy.
Ia juga memiliki nama lakab Abu Raja al-Balhy al-Baglany dan
namanya juga biasa dipanggil Yahya. Beliau termasuk dalam
tabaqah ke-10 ( ) yang lahir pada tahun 150
dan wafat pada tahun 240. Berikut mukharij hadis yang
meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud;
Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.25
Berikut pendapat para ulama terhadap Qutaibah bin Said:
No

Kritikus

Jarh

Tadil

Keterangan

Ibnu Hajar

Al-Zahabi

Yahya bin Main

Ibnu Harisy

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 26


No
1
2
3

Guru


Murid

8. Sofyan bin Waki


Nama sebenarnya adalah Sufyan bin Waki bin Jarrah arRuaasi, Abu Muhammad al-Kufy. Ia seorang ulama dari tabaqah
ke 10 ( ) yang wafat pada tahun 247 H. Imam
hadis yang meriwayatkan hadisnya ialah at-Tirmidzi dan Ibnu
Majah.27 Berikut pendapat para kritikus terhadap beliau:
No
1

Kritikus
Ibnu Hajar

Jarh


Tadil

Keterangan

25 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-NublaI (T.Tp: Muassasah ar-Risalah, 1405 H /


1985 M), Cet. III, Juz 111, h. 15-17
26 Rawah at-Tahzibain, h. 5522.
27 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (T.Tp: Muassasah ar-Risalah, 1405 H /
1985 M), Cet. III, Juz 11, h. 152-153.
14

Al-Zahabi

Ibnu Hibban

Abu Zaruah

Adapun guru-guru dan murid-murid beliau sebagai berikut:28


No
1
2
3

Guru



Murid

9. Imam at-Tirmidzi
Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad
bin Isa bin Surah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi,
salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab
yang masyur. Beliau tergolong dalam thabaqah ke-12 (
) yang lahir pada tahun 210 H di kota Tirmiz, Iran.29
Semenjak kecilnya Abu Isa sudah gemar mempelajari ilmu
dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke
berbagai negeri: Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain. Ia wafat
di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70
tahun.30 Diantara guru beliau ialah Imam bukhari, Imam muslim
dan Abu Daud bahkan Tirmidzi belajar pula hadits dari sebagian
guru mereka.Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabiaid,
Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdur Rahman,
Muhammad bin Basysyar dan lainnya.
Abu Isa at-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam
hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Al-Hafiz Abu Hatim
Muhammad ibn Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi
ke dalam kelompok Siqah. Abu Yala al-Khalili dalam kitabnya
Ulumul Hadits menerangkan bahwa Muhammad bin Isa atTirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang
28 Rawah at-Tahzibain, h. 2456.
29 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai, h. 152-153.
30 Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), h.262-263
15

telah diakui oleh para ulama. Ia terkenal sebagai seorang yang


dapat dipercaya dan imam yang menjadi ikutan banyak orang.
F. Analisa Ketersambungan Sanad
Ketersambungan sanad hadis di atas, dapat dillihat dengan beberapa pendekatan
dibawah ini:
1. Pendekatan Redaksi Periwayatan
Hadis yang diteliti ialah hadis riwayat al-Tirmidzi yang dapat diamati redaksi
periwayatannya pada haikal sebelumnya di atas, dan dapat digambarkan dalam
bagan seperti berikut:
( )



31

32

Melalui pendekatan redaksi periwayatan Hadis di atas, nampak bahwa ada


kemungkinan antara satu rawi dengan rawi lainnya pernah saling bertemu.
2. Pendekatan Tahun

Ket.

Tahun Lahir/Selisih/Wafat

11 H

82 Tahun

93 H

60 H/61 H

7 Tahun

100 H

31 Menurut al-Qodhi Iyyat, proses tahamul dengan cara mendengarkan (


), boleh saja perowi menggunakan kata: , , ,
,,,
32 Hadits muanan untuk bisa dikategorikn sebagai hadits muttasil, harus
memenuhi beberapa syarat, yaitu rawinya harus adalah dan tidak mudallis
serta kemungkinan bertemu dengan guru.
16

50 Tahun

150 H

100 H

169 H



20/21 Tahun 189 H/190 H

51/50 Tahun
240 H

-
-

150 H

7 Tahun

247 H

210 H

32 Tahun

279 H

Dari tabel di atas, nampak bahwa terdapat satu rawi yang majhul, yaitu Harun
Abu Muhammad. Sehingga tidak dapat diketahui dan diteliti akan informasi
kelahiran, begitupun tahun wafatnya. Dengan demikian, pendekatan tahun dalam
sanad Hadis di atas dapat disimpulkan bahwa sanadnya terputus.
3. Pendekatan Tempat (Geografis)


Madinah >
Basrah, Irak
Damaskus >
Bashrah [Irak]

Bashrah >
-
Wasith
Wilayah Irak dan

sekitarnya
Himsh [Suriah] >

Kabul,
Irak > Iran >
-
Afganistan
Kabul

[Afganistan]

Madinah

Bashrah

Himsh,
Suriah

Majhul
-

Kufah, Irak

Kufah, Irak

Baghlan,
Afganistan

Khurasan >
Wilayah
Afganistan dan
sekitarnya

Khurasan,
Kini Iran dan
Afganistan

Kufah, Irak

Tirmiz,
Uzbekistan

Tirmiz
[Uzbekistan] >
Khurasan [Iran] >
Bashrah > Kufah
> Wasith >
Baghdad [Irak] >

Tirmiz,
Uzbekistan

17

Makkah >
Madinah [Hijaz]
> Ray > Nishapur
[Iran] > Bukhara
> Tirmiz
[Uzbekistan]
Berdasarkan pendekatan wilayah dari setiap rawi di atas, terdapat beberapa
rawi yang sulit diketahui perjalanan hidupnya, termasuk terdapat satu rawi yang
majhul sehingga masih sulit diidentifikasi akan ketersambungannya antara satu
rawi dengan rawi yang lain. Walaupun demikian, pada beberapa rawi telah
menunjukkan bahwa mereka sangat mungkin pernah ketemu dalam suatu daerah.
Dari gambaran skema di atas, dapat dilihat bahwa pertemuan antara satu rawidengan rawi lainnya banyak terjadi di Basrah, Irak kemudian di Tirmiz, Uzbekistan,
dan mungkin juga di Suriah. Dari skema di atas, semua rawi dapat dipastikan
pernah ketemu sehingga sanadnya muttashil, kecuali Harun Abu Muhammad
karena majhul, serta Hasan bin Shalih dan Humaid bin Abdurrahman yang masih
dimungkinkan karena kurangnya informasi mengenai rihlah keduanya.
Melalui ilustrasi pendekatan geografis di atas, nampak bahwa hadis ini
berasal dari Madinah, yaitu dibawah oleh Anas bin Malik ke Irak, tepatnya di
Bashrah. Di sanalah hadis ini kemudian menjadi popular dan terus tersebar,
termasuk sampai ke wilayah Khurasan, di antaranya di Tirmiz, kini wilayah
Uzbekistan. Dengan demikian, hadis ini pertama kali popular di dua wilayah Islam,
yaitu di Basrah dan di Tirmiz.
4. Pendekatan Hubungan Guru dan murid (Akademis)


18

Melalui pendekatan guru-murid pada di atas, menunjukkan bahwa antara


murid dan guru pernah terjalin pertemuan. Ini ditunjukkan bahwa setiap murid daru
guru dalam sanad di atas, menjadi guru pada sanad selanjutnya. Begitu seterusnya
hingga sampai pada mukharrij Hadis, yaitu Imam Tirmidzi. Dengan demikian,
melalaui pendekatan ini, sanad Hadis di atas melalui pendekatan ini nampak
bersambung ().
G. Ringkasan Hasil Analisis Sanad
Menganalisa berbagai rawi yang telah diuraikan diatas,
sebagian besarnya adalah memenuhi standar seorang rawi dan
dapat diterima hadisnya. Adapun kriteria yang lainnya, diantaranya
ada satu rawi yang majhul. Jati diri dan identitasnya tidak
diketahui sehingga sifat-sifat keadilan dan kedhabitannya tidak
dapat dipastikan. Melalui analisa kami, hadis ini termasuk Majhul
Ayn karena perawi (Harun Abi Muhammad) tidak ada yang
mengambil periwayatannya selain satu orang, yaitu Hasan bin
Shalih. Hal ini dilandaskan dengan kutipan dalam kitab Rawah atTahzibain yang hanya menyebutkan satu murid dari Harun Abi
Muhammad.

Pada sanad yang lain, ada juga riwayat yang dihukumi dhaif,
yaitu Sofyan bin Waki namun masih dapat ditolerir melalui jalur
Qutaibah bin Said karena Imam Tirmidzi meriwayatkan hadis ini dari
keduanya. Dengan demikian, cacat hadis ini terletak pada salah satu
sanadnya yang tidak diketahui identitasnya (majhul).
H. Kesimpulan Kuantitas Dan Kualitas Sanad
Berdasarkan data diatas, terdapat rawi yang majhul, ada juga
yang dhaif serta terdapat pula rawi yang kadang tersalah dalam
pendapatnya, yaitu Mukatil bin Hayyan sehingga Imam Bukhari tidak
meriwaytkan hadisnya. Namun, dua cacat terakhir (dhaif dan
Khata) masih dapat dimaklumi dengan adanya keteranganketerangan yang melegitimasinya. Hal ini berbeda dengan cacat
pertama, yaitu kemajhulan rawi yang menunjukkan hadis ini menjadi
Dhaif karena catat keadilan. Letak kemajhulan hadis ini terletak
pada jalur yang tunggal dari sanadnya sehingga tidak ada
kemungkinan mendapat legitimasi dari jalur lain. Walaupun
demikian, analisa kami menganggap hadis ini tidak terlalu dhaif
karena sebab kedhaifannya terjadi karena catat keadilan. Pada sisi
19

lain, kasus Rawi yang majhul ada hadisnya yang diriwayatkan oleh
seorang yang Tsiqah dan bahkan Imam bukhari meriwayatkan
hadisnya dan meletakkan dalam sebuah kitabnya yaitu dan
begitu juga Imam hadis yang lain. Imam yang kami maksud di sini
ialah Hasan bin Shalih yang meriwayatkan hadis ini dari Harun Abi
Muhammad.
Selain terdapat rawi yang majhul (Harun Abu Muhammad, dan
Khata (Mukatil bin Hayyan), serta Dhaif (Sofyan bin Waki), terdapat
juga rawi yang dianggap memiliki pendapat yang bidah yaitu Hasan
bin Shalih. Namun, dia termasuk orang yang shaleh menurut
kesaksian ulama. Al-Dzahabi berkata: Orang ini berpandangan
bolehnya memberontak para penguasa di zamannya, karena
kezaliman dan kejahatan penguasa.Hanya saja selama-lamanya dia
tidak pernah melakukan pemberontakan. Ia juga berkata: Orang
ini termasuk dari para imam Islam kalau seandainya ia tidak
berlumuran dengan kebidahan. Pendapat Hasan bin Shalih yang
dianggap bidah ialah bahwa bolehnya memberontak terhadap
penguasa yang zalim.33
Kesimpulan akhir yang dapat dipetik terkait sanad hadis ini
ialah termasuk hadis Ahad dari tinjauan kuantitas sanad dan
termasuk hadis dhaif dari tinjauan kualitas sanad. Kedhaifannya
karena ada rawi yang majhul yang berdasarkan berbagai analisa
diatas masuk dalam kategori cacat keadilan, bukan cacat kedhabitan
sehingga derajat kedhaifannya tidak tergolong dhaif tingkat rendah.
Kemudian yang terakhir, hadis ini dapat disebut hadis majhul dalam
kategori majhul al-Ayn.34
I.

Hukum Sanad Hadis


Uraian sanad diatas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis
ini dhaif karena ada rawi yang Majhul tetapi tidak sampai pada
derajat yang paling rendah. Tingkatan dhaifnya disebabkan cacat
keadilan pada salah satu rawinya, bukan cacat kedhabitan seperti
Hadis Mungkar yang menempati hadis dhaif paling rendah. Dengan
demikian, hadis ini dapat diamalkan dalam batasan-batasan tertentu
dengan tetap berlandaskan pada sumber-sumber hukum syariat
yang lebih qati. Keterangan lebih lanjut mengenai pengamalan
hadis dhaif, akan diuraikan lebih lanjut di bawah ini.

J. Fiqhul Hadis
33 www.bayenahsalaf.com, dinukil dari akun asy-Syaikh Fawwaz al-Madkhali
34 Majhul al-Ayn, yaitu seorang perawi disebutkan dalam sanad tetapi
tidak tidak ada yang mengambil periwayatannya selain satu orang perawi.
20

Setelah menguraikan secara rinci dari uraian sanad di atas,


berikut ulasan mengenai matan hadis ini. Ada dua informasi penting
yang terkandung dalam hadis ini, yaitu mengabarkan bahwa yasin
adalah hati al-Quran dan keutamaan membaca Yasin seperti
membaca al-Quran sepuluh kali. Pada hadis lain dengan sanad dan
matan yang berbeda, ada juga yang menyebutkan bahwa Yasin
adalah Hati al-Quran yang dihubungkan dengan fadhilahnya ketika
dibacakan kepada orang yang sakarat (masa naza) atau orang mati
(Yasin Fadhilah).
Oleh karena itu, sisi keutamaan Yasin sebagai salah satu surah
al-Quran adalah sebagai pusat atau inti al-Quran sebagaimana
peranan hati dalam diri manusia. Hadis ini banyak disebutkan dalam
kitab-kitab tafsir seperti, Tafsir Haqqi 422 (h.) /11 (Juz); Assirajul
Munir; Tafsir Ibnu Katsir 257 / 13; Ruhul Maani 103/1, Tafsir Manar
234/8 serta tafsir-tafsir lainnya.35 Seperti disebutkan di dalam Tafsir
yang serupa dengan pernyataan Imam Ghazali menyebutkan:
Yasin di katakan sebagai hati al Qur`an karena maksud alQuran di turunkan untuk menjelaskan bahwa manusia akan di
kumpulkan di mahsyar , lalu mereka yang patuh akan mendapatkan
balasan yang layak dan mereka yang suka dengan perbuatan
kemaksiatan tidak akan lepas dari sangsi dan adzab.36
Analisa kami terhadap keterangan di atas menunjukkan
bahwa yang disebutkan dalam hadis mengenai keutamaan surah
Yasin yaitu, membacanya seperti membaca al-Quran sepuluh kali,
baik untuk bacaan Yasin fadhilah atau untuk orang yang sakarat.
Selain itu, Surah ini dapat diamalkan dari berbagai segi kehidupan
seperti yang telah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat
Indonesia. Hal ini dapat dipahami dari redaksi kedua hadis yang
telah kami sebutkan di atas menunjukkan (1) Yasin adalah Hati alQuran teks ini berlaku secara umum; (2) Membacanya Yasin
dituliskan pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali adalah
teks yang khusus sebagai penjabaran makana dari teks umum, yaitu
Yasin adalah Hati al-Quran. Poin kedua ini serupa dengan teks
bacalah Yasin pada orang yang sakarat atau orang yang telah
mati. Dengan demikian, Surah Yasin dapat diamalkan sebagai
washilah atau doa untuk mengharap Ridha Ilahi sesuai dengan niat
niat masing-masing. Terakhir, diantara kita jangan sampai muncul
persepsi adanya perbedaan antara satu surah dengan surah lainnya
35 Lihat (Maktabah Syamilah)
36 Imam Haqqi, Tafsir Haqqi, Juz 11, h. 422
21

karena hakikatnya adalah sama sebagai bahagian dari kitab suci alQuran.
K. Hukum Mengamalkan Hadis Dhaif
Ada tiga pendapat dikalangan ulama mengenai pengamalan
hadis dhaif:

37

1. Hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai


fadhail maupun ahkam. Ini diceritakan oleh Yahya ibnu Main
dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu al-Araby. Tampaknya
ini juga merupakan pendapat imam Bukhari dan imam Muslim
serta Ibnu Hazm.
2. Hadis Dhaif bisa diamalkan secara mutlak menurut Abu Daud dan
Imam Ahmad. Keduanya berpendapat bahwa hadis dhaif lebih
kuat dari pada rayu perseorangan.
3. Hadis Dhaif bisa digunakan dalam maslah fadhail amal, mawaidz
atau yang sejenis bila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
a. Kedhaifannya tidak terlalu sehingga tidak tercakup di dalamnya
seorang pendusta atau tertuduh berdusta.
b. Ruang lingkupnya bukan dalam ruang lingkup Aqidah dan
hakum syariat
c. Mengamalkannya tidak menyakini bahwa ia berstatus kuat dan
juga tetap dinaugi oleh dasar hukum islam lainnya. Contoh:
Seorang ayah berkata kepada anaknya: Nak : belajar dan
berdoalah agar bisa mencapai cita-cita mejadi Sarjana alQuran? Ketika Anak tersebut mengamalkannya karena takut
kepada orang tuanya dan semata-mata agar dapat menggapai
cita-citanya, maka perbuatannya telah keluar dari ajaran
syariat. Tetapi, Setidaknya anak tersebut menjalankan perintah
orang tuanya untuk berbakti karena perintah ini telah
disebutkan di dalam al-Quran. Begitupun belajar dan berdoa,
banyak nash-nash yang qati untuk mengerjakan keduanya.
Jadi, poin ketiga ini menuntut pengamalan hadis dhaif agar
tidak bertentangan dengan nash-nash Syariat.
Analisa terakhir, M. Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Ushul alHadis menyebutkan bahwa pendapat pertamalah yang yang
paling selamat. Menurut beliau, banyak hadis-hadis Nabi yang
shahih tentang fadhail, targhib, dan tarhib yang sudah cukup agar
kita tidak perlu meriwayatkan hadis-hadis dhaif mengenai
masalah fadhail dan sejenisnya. Untuk kesimpulan kami
mengenai pengamalan hadis dhaif ini, tidak ada larangan bagi ahli
37 M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), h.
315-316
22

ilmu. Adapun bagi orang awam, sebaiknya tidak mengamalkannya


demi kehati-hatian.38

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

DAFTAR PUSTAKA

Arabi, Ibnul, Mujam Ibnu al-Araby. _____ : Dar Ibnu al-Jawazi, 1418
H / 1997 M, Cet. I
Ubaydi, Ahmad Hasbillah. Pengantar Ilmu Takhrij, makalah disampaikan
pada mata kuliah Takhrij Hadits, (Ciputat, 2011)
Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai. ______ : Muassasah ar-Risalah,
1405 H / 1985 M, Cet. III
Asqalani, Ibnu Hajar. Tahdzibut Tahdzib, Bairut, Lebanon, 1993
As-Suyuty, Thabaqah al-Huffash. (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414
H / 1994 M), Cet. I, h. 19
38 Ibid, h. 316
23

Az-Dzahabi, Jarah wa at-Tadil


Baihaqi, Syabul Iman. Riyadh : Dar al-Salaf, 1423 H / 2003 M, Cet I
Darimi, Sunan ad-Daraimi. Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M, Cet. I
Haqqi. Tafsir Haqqi (Maktabah Syamilah)
Khatib, M. Ajaj, Ushul al-Hadis; Penerjemah, h.M. Nur Ahmad. M. Jakarta:
Gaya Media Pratama, 2007
Khon, Dr. Abdul Majid, Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH, 2009
Nasai, Sunan al-Kubra an-Nasai. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411
H / 1991 M
Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H /
2003 M), Cet I
Wersinck, Dr. A, J., Al-Mujam al-Mufahrasy li Alfadz al-Hadits

24