Anda di halaman 1dari 8

PENGLIHATAN SPRITUAL;

PELAJARAN DARI KABBALAH

MAKALAH
Mistisisme Agama-agama

DOSEN PEMBIMBING;
PROF. DR. KAUTSAR AZHARI NOER

DISUSUN OLEH;
HASRUL
(NIM: 21150340000010)

PROGRAM STUDI TAFSIR HADIS


FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016 M/1437 H

A. PENDAHULUAN
Membuka mata jiwa untuk melihat Hashem (Tuhan) tidak terjadi begitu saja,
bahkan setelah penutup mata hilang. Seperti orang yang telah di ruangan gelap untuk
waktu yang lama dan kemudian keluar ke sinar matahari yang kuat, diperlukan waktu
untuk menyesuaikan dan kembali fokus. Jenis pendekatan yang dibutuhkan untuk melihat
Hashem (Tuhan), perlu belajar melalui cara yang baru, yaitu penglihatan kesemestaan.
Bukan penglihatan vertikal, apalagi horizontal, ataupun yang lainnya. Cara melihat
Hashem inilah yang disebut Penglihatan Tuhan (seeing God/spiritual seeing).1
Rabbi Abraham Ishak Kook, dalam The Lights of Holiness, menyebutkan Spiritual

Seeing adalah cara melihat secara holistik, di mana seseorang melihat keseluruhan
daripada rincian terpisah. Ini berfokus pada gambaran total, kesemestaan. Penglihatan
spiritual ini merupakan upaya seseorang untuk mendekatakan kepada Hashem (Tuhan).
Ajaran spiritual ini adalah salah satu topik dan pelajaran penting dalam tradisi keagamaan
Yahudi. Dimana seseorang diarahkan untuk dapat mendekatkan dirinya dan mengenali
lebih dekat zat Hashem, termasuk memahami beragam ciptaannya. Dalam tradisi Yahudi,
upaya penglihatan (seeing god) tuhan termasuk diantara pelajaran spiritual penting dalam
pelajaran kabbalah.
B. DEFINISI KABBALAH DAN CAKUPANNYA
Kabbalah (bahasa Ibrani); secara harfiah berarti menerima dalam pengertian suatu
tradisi yang diterima. Kabbalah adalah sebuah bentuk esoterik dari mistisisme Yahudi,
yang berupaya untuk menyingkapkan pengertian-pengertian mistis yang terselubung
dalam Tanakh (Kitab Suci Ibrani). Kabalah menawarkan pemahaman mistis ke dalam
hakikat Ilahi. Kabbalah juga terkait dengan doktrin-doktrin pengetahuan esoterik
mengenai Allah, ciptaan alam semesta, hukum-hukum alam, alasan-alasan untuk perintahperintah di dalam Torah, dan cara-cara Allah mengatur keberadaan alam semesta. Serta
ada juga yang menyebutkan, kabbalah adalah ilmu yang mempelajari proses turunnya
penciptaan dari Sang Pencipta sampai menjadi ciptaan.2
Istilah kabbalah mulanya digunakan dalam teks-teks Talmud, di antara Geonim
(para rabi abad pertengahan awal) dan oleh Rishonim (rabi-rabi abad pertengahan yang

Rabbi David Aaron, Seeing God; Ten Life-Changing Lessons of the Kabbalah (USA: Isralight Books,
2001), h. 41-42.
2
Kabala, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Kabala.
1

belakangan) sebagai Referensi kepada kumpulan tradisi lisan yang lengkap dari ajaran
Yahudi, yang tersedia untuk umum. Bahkan karya-karya para nabi dirujuk sebagai Kabala,
sebelum mereka dikanonkan sebagai bagian dari tradisi lisan. Dalam pengertian ini Kabala
digunakan dalam merujuk semua hukum lisan Yudaisme. Setelah beberapa lama, hukum
lisan ini dicatat, tetapi ajaran-ajaran esoteriknya tetap tinggal sebagai suatu tradisi lisan.
Dengan demikian, ajaran-ajaran esoterik tetap merupakan tradisi lisan. Jadi, istilah ini
kemudian terkait dengan doktrin-doktrin pengetahuan esoterik mengenai Allah, ciptaan
alam semesta Allah dan hukum-hukum alam, alasan-alasan untuk perintah-perintah di
dalam Torah dan cara-cara Allah mengatur keberadaan alam semesta. Kini bahkan ajaranajaran esoterik Torah dicatat, tetapi tetap dikenal sebagai Kabala.
Menurut tradisi Yahudi, pengetahuan kabbalah berasal sejak nabi Adam, meskipun
para rabi liberal yang modern memperhitungkan asal-usulnya pada abad ke-13.
Pengetahuan ini diturunkan sebagai sebuah wahyu untuk memilih orang-orang suci dari
masa lampau yang jauh, dan sebagian besar, dilestarikan hanya oleh segeliintir orang yang
beruntung. Protokol yang tepat untuk mengajarkan hikmat ini, serta banyak dari
konsepnya, dicatat di dalam Talmud (bab kedua dari traktat Haggiga). Ia dianggap sebagai
bagian dari hukum lisan Yahudi oleh sebagian besar orang Yahudi yang saleh pada masa
modern, meskipun hal ini tidak disetujui oleh banyak rabi liberal modern dan sebagian
kecil dari rabi-rabi ortodoks.3
C. PEMAKNAAN MILIHAT TUHAN DALAM KABBALAH
Mengawali spiritual dalam hal ini melihat Tuhan diperlukan analogi-analogi lain
dalam kehidupan yang nyata. Sebab dunia yang dapat dilihat hanyalah fungsi dari
seberapa sempit pandangan mata. Memulainya bisa dengan melihat ruangan pada sesuatu
yang khusus, diperlukan penglihatan dengan kepenuhan visi; langit-langit, lantai, sudutsudut ruangan, semua sisi. Setelah itu setiap orang akan merasakan sesuatu yang berbeda
dari pandangan sebelumnya.
Dalam Tradisi Lisan Yahudi, Midrash, disebutkan bahwa di Taman Eden, Adam dan
Hawa tidak memiliki tubuh kulit, tetapi dalam bentuk "cahaya." Juga tidak ada bayangan
di Taman Eden dengan kata lain, tidak ada yang buram atau gelap. Berbeda dengan saat
ini, ada bayangan untuk semuanya.

Kabala, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Kabala.

Perbedaannya adalah bagaimana Adam dan Hawa melihat dan mengalami dunia
mereka. Tubuh mereka, pohon-pohon, binatang, burung-burung tembus sehingga melalui
pohon Anda bisa melihat burung, sehingga burung tampaknya berada di dalam pohon.
Namun, setelah Adam dan Hawa makan dari pohon terlarang, ketika mereka dapat
pengetahuan baik ataupun yang jahat. Tiba-tiba, mereka melihat badannya memiliki
tubuh dari daging, dan mereka mengalami diri sebagai berpakaian dalam balutan kulit
yang menciptakan batas antara mereka dan ciptaan.
Sebagai anak-anak Adam dan Hawa, kita mengalami diri sebagai terisolasi,
independen, entitas diri didefinisikan, terpisah dari seluruh realitas di mana kita benarbenar menemukan makhluk kami. Pengalaman kesepian ini adalah dusta ular, dan sumber
dari banyak rasa sakit dan kejahatan di dunia ini.
Kehadiran kabbalah menjelaskan kekuatan jahat sebagai Aher sitra yang berarti "sisi
lain", dan pesan dasarnya adalah bahwa kita berada di satu sisi dan Hashem (Tuhan) ada
di sisi lain. Dunia fisik muncul padat dan buram, karena kita melihat realitas dari
perspektif yang sempit tersebut. Kita melihat hanya gambar parsial, fragmen realitas, dari
konteks Realitas akan keberadaan yang Hashem.
1. Ragam Bentuk Penglihatan 4
Apakah Anda pernah melihat gambar yang diambil dari koran dan diperbesar
berkali-kali? Gambar tampak terdiri dari titik-titik yang tidak terkait, dan jika
pembesaran cukup tinggi, maka Anda benar-benar bisa kehilangan kemampuan untuk
melihat gambar karena titik-titik mendominasi bidang visi orang yang memandangnya.
Penglihatan ini adalah miopia visual, yang Kabbalah sebut Mohin de katnut atau
sempit pikiran. Ketika Anda berada dalam keadaan Mohin de katnut, maka dunia
Anda tinggal yang sepotong sempit realitas dan semuanya terfragmentasi dan terputus.
Anda berfokus pada titik-titik, bukan pada gambar.
Tapi ada cara lain untuk melihat, kabbalah menyebutnya sebagai Mohin de
gadlut, berpandangan luas. Pikiran terbuka melihat pandangan yang lebih luas dan
mendapat total gambar. Sesuatu yang paling dalam dari Mohin de gadlutis untuk dapat
melihat kehidupan Anda, di dunia ini, dan pada sejarah dari perspektif seluas mungkin.
Maka Anda memiliki kapasitas untuk memahami itu semua dengan cara yang lengkap
dan bersatu.

Rabbi David Aaron, Seeing God; Ten Life-Changing Lessons of the Kabbalah (USA: Isralight Books,
2001), h. 48.
4

2. Mata Heran5
Syarat selanjutnya untuk dapat mencapai penglihatan spiritual terhadap Hashem
diperlukan padangan mata yang heran. Tujuannya adalah bahwa ntuk melihat
kesemestaan, diperlukan mata heran. Mata heran adalah mata tak bersalah, mata tidak
letih dan dikaburkan oleh prasangka dan gagasan yang tidak ada hubungannya dengan
realitas yang ada.
Kaballah memberitahu kita bahwa pada waktu tertentu dalam Taurat istilah "Itu"
menyinggung Hashem. Tujuannya adalah untuk dapat melihat "Itu" tanpa label, tanpa
prasangka. Sungguhpun ini tidak berarti bahwa Hashem tidak ingin mereka memiliki
pengetahuan; itu bukan mengapa pohon itu terlarang; hanya saja Hashem ingin mereka
pertama untuk melihat kesemestaan melalui mata heran. Mereka tidak mengagumi
larangan itu. Mereka belum melihat keajaiban di dalamnya yang mereka butuhkan
untuk pengalaman. Tapi mereka hubung pendek rencana dengan makan dari pohon
larangan itu.
3. Hambatan Pengetahuan 6
Sebelum jauh dalam pencarian spiritual ini, menurut ajaran kabbalah perlu
diketahui bahwa terdapat hambatan dalam pengetahuan, yaitu;
Pertama; kita harus melihat dunia tanpa pengetahuan, tanpa harapan, tanpa
permintaan bahwa dunia masuk ke dalam ide-ide dan definisi kita. Hanya melihatnya,
Setelah mengamatinya, pengetahuan akan menjadi bermanfaat, meskipun terbatas.
Seperti Talmud merekomendasikan bahwa sebelum kita berdoa, kita harus duduk diam,
bahwa kita harus bermeditasi untuk waktu tertentu. Hal ini karena jika kita mencari
tahu Hashem dalam diam, tanpa kata-kata, tanpa konsep, maka kita akan dapat
mengatasi Hashem dengan ketulusan dan kejujuran.
Apa yang salah dengan kata-kata? Karena kata-kata memiliki kapasitas untuk
memotong realitas. Itulah masalahnya. Kita tidak bisa melihat realitas melalui katakata karena kata-kata fragmen realitas. Kita tidak lagi melihat kesemestaan. Tapi
hanya melihat potongan hati yang berlabel.
Kedua; Kata mengambil semua realitas, dan mengubahnya menjadi berbagai halbenda mati, benda-benda yang berbeda. Raja Daud, yang begitu indah menggunakan

Rabbi David Aaron, Seeing God; Ten Life-Changing Lessons of the Kabbalah (USA: Isralight Books,
2001), h. 50.
6
Rabbi David Aaron, Seeing God; Ten Life-Changing Lessons of the Kabbalah, h. 53.
5

kata-kata dalam menyusun Mazmur nya, juga menulis: Diam adalah pujian-Nya.
Jadi, diam adalah prasyarat yang diperlukan untuk melihat dan kemudian memuji
Hashem. Talmud mengajarkan bahwa "Diam adalah pagar pelindung untuk
kebijaksanaan." Untuk menjaga kearifan sejati kita kita perlu untuk berhubungan
dengan apa yang kita ketahui dalam keheningan sebelum kita mencoba untuk
memasukkannya ke dalam kata-kata terbatas.
4. Melihat yang Benar-benar Ada7
Hambatan terbesar untuk melihat Hashem adalah pikiran/perasaan kita yang
sudah dipenuhi label dan prasangka. Itu memberi kita rasa berada dalam kontrol setiap
kali memandang sesuatu.
Tapi pemahaman yang benar adalah mengetahui bahwa ada hal-hal di luar
pemahaman kita, dan ketika Anda mulai menemukan maksudnya, Anda akan
menemukan Hashem. Salah satu kendala untuk melihat adalah realitas perlawanan
anatara yang baru dengan yang tak terduga, antara inovasi yang baru dengan yang lama.
Seharusnya kita harus bersedia untuk melihat hal-hal dengan cara baru.
Seperti yang dilakukan Abraham, ketika orang-orang menyembah berhala,
Abraham melihat dengan cara berbeda walaupun ia adalah anak dari pembuat berhala.
Beradaptasi diri dengan kenyataan bisa menakutkan, karena memerlukan keberanian
untuk menghadapi apa yang jauh lebih besar dari diri sendiri dan diubah olehnya.
Dibutuhkan kerendahan hati dan menyerah.
Kebanyakan orang takut mengubah cara apapun yang signifikan. Mereka
mengatakan, "Oh, aku sangat bosan dengan rutinitas saya. Saya ingin perubahan.
"Mereka ingin perubahan, tetapi mereka tidak ingin mengubah. Ketika Anda melihat
kenyataan dengan mata heran, Anda berubah setiap hari. Hidup adalah sebuah
petualangan dan itu disebut tumbuh. Perubahan dan pertumbuhan adalah apa yang
Kabbalah sebut dengan tentang segalanya. Ini memberi kita kerangka acuan baru,
sehingga semakin banyak dalam hidup ini kita bisa melihat realitas, yang pada dasarnya
melihat Hashem dalam hidup kita.

Rabbi David Aaron, Seeing God; Ten Life-Changing Lessons of the Kabbalah, h. 59.

D. KEIMPULAN
Mistisisme dan pengalaman spiritual menjadi sisi tak terpisahkan Dalam
perkembangan agama Yahudi. Seperti halnya agama-agama yang lain, mistisisme dalam
tradisi Yahudi dipahami sebagai jalan kebersatuan (unio mystica) dengan yang Ilahi. Tak
ada perbedaan antara mistisisme Yahudi maupun sisi spiritual agama-agama lainnya.8
Mistisisme dan pengalaman mistik seperti halnya pada agama-agama lainnya telah
menjadi bagian penting dalam perkembangan Yahudi sejak awal sejarahnya. Tradisi
mistisisme dalam agama ini diyakini bersumber dari teks-teks suci maupun pengalaman
para nabi dan imam yang mengandung banyak pengetahuan mistikal seperti kunjungan
para malaikat membawa wahyu kenabian, mimpi-mimpi, penglihatan waskita (vision),
dan ramalan suatu pristiwa yang berada dalam jangkauan nalar. Torah dan Talmud,
misalnya, diyakini mengandung banyak petunjuk samar yang memantik tumbuhnya
gagasan mistik di dalam agama Yahudi.9
Karakteristik atau manifestasi dari Hashem bahwa kita mampu melihat di dunia
yang sebenarnya. Dan sessuatu yang sebenarnya itu justru ada dibalik dari segala yang
nampak. Itulah sebabnya diperlukan cara pandang yang berbeda untuk dapat meraih dan
memandangnya. Dan ini tentu tidak dapat diraih begitu saja tanpa ada usaha dan latihan
yang sungguh-sungguh. Karena pengetahuan ini merupakan di antara beberapa bahasan
dalam mistisime. Diperlukan dominasi hati yang lebih dibandingkan peranan pikiran dan
logika. Kebersihan hati akan mempengaruhi budi setiap orang yang akan menentukan
keberhasilannya dalam meraih penglihatan terhadap Hashem (Tuhan).

Gershom Scholem, Major Trends in Jewish mysticism (New York: Schocken Books, 1995), h. 5 dikutip
oleh Zainal Muttaqin, Makalah; Mistisime Agama-agama, h. 6, Lihat juga Saeed Zarrabizadeh, Paper;
Mendefinisikan Mistisisme: Sebuah Tinjauan atas Beberapa Deinisi Utama (University of Erfurt, Germany)
Dalam Kans Philosophia, Vol. I, 2011
9
Zainal Muttaqin, Makalah; Mistisime Agama-agama, h. 6.
8

DAFTAR PUSTAKA

Aaron, Rabbi David. Seeing God; Ten Life-Changing Lessons of the Kabbalah, USA:
Isralight Books, 2001.
Kabala, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Kabala.
Muttaqin, Zainal. Makalah; Mistisime Agama-agama.
Scholem, Gershom. Major Trends in Jewish mysticism, New York: Schocken Books,
1995.
Journal Kanz; Journal for Philosophy and Mysticism, Vol. I, Number 1, AgustusNopember, 2011