Anda di halaman 1dari 9

Nama dan Metode

Penyusunan Kitab-kitab Hadis

HASRUL

[Copyright; SQ BLOG Wahana Ilmu dan Amal]


>>rul-sq.blogspot.com<<

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


Al-Quran dan Hadis merupakan sumber hukum, pedoman hidup, dan ajaran.
Antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan satu
kesatuan. Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran
yang bersifat umum dan global. Oleh karena itu, kehadiran hadis sebagai sumber ajaran
ke dua tampil untuk menjelaskan isi al-Quran tersebut.
Diantara fungsi hadis terhadap al-Quran ialah Bayan Taqrir, Bayyan al-Tafsir,
Bayan al-Tasyri, dan Bayan Taqyid al-Muthlaq. Namun, pada kesempatan ini tidak
bermaksud menguraikan pembahasan tersebut. Penulis hanya mengetengahkannnya
untuk melihat pesan sentral Hadis dalam Islam agar senantiasa dijaga, dipelihara
sebagaimana menghormati dan memuliakan al-Quran.
Melalui tulisan ini, penulis ingin melihat satu aspek hadis yang tidak terlepas
dari aspek kesejarahan, yaitu awal mula penulisan hadis pada zaman Sahabat hingga
masa kodifikasi/pengumpulan dan dibukukannya oleh para ulama setelahnya.
Penekanan penulis dalam bahasan ini terkait bentuk-bentuk kitab hadis mulai dari masa
awal hingga masa final. Olehnya, penulis memilih judulnya dengan, Nama dan Metode
Penyusunan Kitab-kitab Hadis.
Kitab-kitab hadis yang ditulis oleh para ulama memiliki metode tersendiri, ada
yang berdasarkan topik tertentu seperti bab-bab fiqih, berdasarkan sanad/rawi, atau
menggabungkan beberapa topik pembahasan sekaligus. Setiap metode kemudian
memiliki nama tersendiri untuk membedaknnya dengan yang lain. Sebagai
perbandingan, penulis juga memberikan informasi penulisan hadis oleh beberapa
Sahabat, bahkan ketika Nabi Saw masih hidup. Ini akan menjadi bukti sejarah bahwa
penulisan Hadis telah dilakukan oleh para Sahabat pada awal abad ke-1 H, bukan akhir
abad ke-1 H, apalagi awal abad ke-2 H.
Adapun mengenai peran Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan
para ahli Hadis untuk menghimpun dan menuliskannya pada akhir abad ke-1 H, di
antaranya Ibnu Syihab al-Zuhri dan Abu Bakar bin Amr bin Hazm, dimaknai sebagai
awal kodifikasi/pengumpulan resmi hadis-hadis nabi. Bukan awal penulisan hadis
karena jauh sebelumnya telah ditulis oleh beberapa Sahabat yang mendapatkan izin
langsung dari Rasulullah Saw. Penulis tidak mencantumkan hadisnya agar tidak terlalu
jauh dalam pembahasan tersebut supaya tetap fokus mengenai nama dan metode
bentuk-bentuk kitab hadis mulai dari masa awal hingga masa final.

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


Diantara Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis dari masa awal, yaitu
para sahabat hingga masa final dalam bentuk kodifikasi dan pembukuan yang dilakukan
oleh para ahli hadis ialah, Shahifah dan Nuskhah, metode jus dan Atraf, metode
Muwatta, metode Mushannaf, metode Musnad, metode Jami, metode Mustakhraj,
metode Mustadrak, metode Sunan, metode Mujam, metode Majma, dan metode
Zawaid. Simak uraiannya di bawah ini:
1) Al-Shahifah dan Nuskhah
Al-Shahifah dan Nuskhah, keduanya dapat diartikan dengan catatan-catatan
atau tulisan-tulisan Hadis. Kedua nama inilah yang digunakan pada masa awal
Islam untuk menyebut kitab-kitab hadis. Baik Shahifah maupun Nuskhah umumnya
dinisbahkan kepada penulisnya karena ketika itu sebagian penulis tidak
memberikan nama tertentu bagi tulisannya.
Di antara Shahifah dan Nuskhah yang diketahui ialah:
a) Shahifah Umar bin Khattab, Shahifah ini berisi zakat-zakat binatang ternak.
Mengenai Shahifah tersebut, Al-Tirmidzi dan Muhammad bin Abdurrahman alAnshariy meriwayatkan, ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, beliau
mengirim surat ke Madinah untuk meminta tulisan Rasulullah Saw yang berisi
zakat-zakat dan Shahifah Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz pun
mendapatkan kesamaan antara tulisan Rasulullah mengenai zakat-zakat dengan
Shahifah Umar bin Khattab tersebut.
b) Shahifah Ali bin Abu Thalib, shahifah ini berisi keterangan tentang umur-umur
unta, keharaman madinah, dan tentang seorang muslim tidak boleh dibunuh
karena membunuh seorang kafir.
c) Shahifah Abdullah bin Amr bin Ash, beliau merupakan sahabat yang
mendapat izin langsung dari Nabi Saw untuk menulis hadis. Abdullah bin Amr
memberikan nama tertentu tulisan hadisnya, yaitu Shahifah al-Shadiqah.
Menurut Ibnu al-Atsir, Shahifah tersebut memuat 1000 buah hadis, namun
menurut sumber lain hanya 500 buah saja. Meski Shahifah tersebut sudah tidak
ada, namun Imam Ahmad telah meriwayatkan sebagian isinya dan kitab-kitab
Sunan yang lain juga memuat sebagian besarnya. Shahifah ini memiliki
kedudukan yang sangat penting karena merupakan bukti historis yang ilmiah
mengenai penulisan hadis sejak awal abad ke-1 H.

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


d) Shahifah Abdullah bin Masud.
e) Shahifah Abdullah bin Abbas.
f) Shahifah Jabir bin Abdullah al-Anshariy, shahifah ini berisi manasik haji yang
disebutkan Imam Muslim dalam kitab al-Hajj.
g) Shahifah Hamman bin Munabbih, ia merupakan seorang tabiin terkemuka
yang menulis hadis dari Abu Hurairah kemudian dan menghimpunnya di dalam
Shahifah yang dikenal dengan sebutan Shahifah al-Shahihah. Muhammad
Hamidullah menemukan Shahifah tersebut dalam dua manuskrip yang sama,
masing-masing di Perpustakaan Berlin dan Damaskus. Terdapat 138 buah Hadis
dalam Shahifah al-Shahihah yang diriwayatkan Imam Ahmad secara utuh dalam
kitab Musnadnya. Disamping itu, Imam Bukhari juga meriwayatkan sebagian
besar hadisnya dalam beberapa bab di dalam kitab Shahihnya.
h) Shahifah Saad bin Ubadah al-Anshariy, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa
Shahifah ini merupakan salinan dari Shahifah Abdullah bin Abi Aufa.
i) Shahifah Abu Rafi, Shahifah ini memuat istiftah shalat, kemudian
diberikannya kepada Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits.
j) Shahifah Asma binti Umais.
k) Nuskhah Samurah bin Jundub.
l) Nuskhah Suhai bin Abu Shalih, sebenarnya Suhail bin Abu Shalih tidak
memberikan nama apa-apa kepada karya tulisnya itu. Karenanya, kitab Suhail
ini akhirnya hanya popular dengan sebutan Nuskhah Suhail bin Abu Shalih.
Pada tahun 1966, Nuskhah Suhai bin Abu Shalih ditemukan dalam bentuk
manuskrip (tulisan tangan) oleh Muhammad Mustafa Azami di perpustakaan alDhahiriyah di Damaskus, Syria. Azami kemudian meneliti, mengedit, dan
menertibkannya bersama disertasinya untuk meraih gelar doctor dari Universitas
Cambridge, Inggris. Maka, pada gilirannya Nuskhah Suhai bin Abu Shalih ini
juga ikut memperkuat pembuktian bahwa Hadis Nabawi tekah ditulis dan
dibukukan sejak awal abad ke-1 H.
Demikianlah beberapa Shahifah dan Nuskhah yang menjadi pedoman awal
dalam bentuk tertulis terhadap hadis-hadis Nabi Saw. Keberedaan Shahifah dan
Nuskhah ini memberikan bukti bahwa Hadis Nabi yang kita temukan saat ini benarbenar otentik, bukan rekayasa sebagaimana penilaian sebagian orientalis masa kini.

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


Harus juga dipahami bahwa sampainya Hadis Nabi kepada kita selain melalui
perantara tertulis, juga tidak terlepas melalui perantara hafalan. Bahkan, terdapat
sebagian ulama yang menuliskan hadis dan menghapusnya setelah menghafalnya.
Ini menunjukkan bahwa tradisi menghafal tetap kental dan kuat dalam tradisi
kodifikasi dan pengumpulan Hadis sampai termuat dalam koleksi-koleksi yang
besar.
Sebagai tambahan, perlu juga disebutkan bahwa terdapat istilah lain yang
dipakai oleh ahli Hadis klasik untuk menunjuk kepada catatan-catatan atau tulisantulisan hadis selain Shahifah dan Nuskhah. Istilah-istilah itu adalah Daftar,
Kurrasah, Diwan, Kitab, Tumar, dan Darj. Dalam konteks sekarang, Daftar,
Kurrasah, Diwan, dan Kitab ialah tulisan yang datar, dimana bentuk luarnya mirip
buku yang dikenal sekarang ini. Adapun Tumar dan Darj ialah bentuk tulisan yang
panjang dan digulung.
Berikut Halaman awal dan akhir Nuskhah Suhail bin Abu Shalil yang
ditemukan oleh Muhammad Mustafa Azami di Damaskus:

Halaman Awal;
Nuskhah Suhail bin Abu Shalih

Halaman Akhir;
Nuskhah Suhail bin Abu Shalih

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


2) Metode Jus dan Atraf
Kedua metode ini, yaitu Juz dan Atraf merupakan sistemaatika sederhana
yang digunakan ahli Hadis dalam menyusun hadis pada periode awal. metode ini
hampir mirip dengan bentuk Shahifah dan Nuskhah.
Juz berarti bagian. Adapun pengertiannya dalam kajian ini ialah metode
pembukuan matan-matan (materi) Hadis berdasarkan guru yang meriwayatkan
Hadis kepada penulis kitab. Contoh kitab Hadis yang memakai metode ini ialah
Nuskhah Suhai bin Abu Shalih (w. 138 H) dimana ia hanya menyebutkan satu jalur
sanad yang meriwayatkan hadis-hadis yang ditulisnya, yaitu Abu Shalih (Ayahnya)
Abu Hurairah Nabi Muhammad Saw.
Adapun Atraf secara istilah ialah berarti pangkal-pangkal. Dalam ilmu
Hadis, atraf ialah metode pembukuan hadis dengan menyebutkan pangkalnya saja
sebagai petunjuk matan Hadis selengkapnya. Di antara ulama klasik yang menulis
Hadis dengan metode ini ialah Auf bin Abu Jamilah al-Abdi (w. 146 H). Metode
ini berkembang pada abad ke-4 dan ke-5 H.
3) Motode Muwatta
Muwatta berarti sesuatu yang dimudahkan. Sedangkan menurut terminology
ilmu Hadis, Muwatta adalah metode pembukuan Hadis yang berdasarkan hukum
Islam (Abwab Fiqhiyyah) dan mencantumkan Hadis-hadis marfu, mauquf, dan
maqtu. Motifasi pembukuan Hadis dengan metode ini adalah untuk memudahkan
orang dalam menemukan Hadis.
Ulama yang menyusun kitan Hadis dengan menggunakan metode ini ialah
Ibnu Abi Dzib (w. 158 H), Imam Malik bin Anas (w. 179 H), Imam Abu
Muhammad al-Marwazi (w. 293 H), dan lain-lain. Kitab Imam Malik merupakan
yang paling popular di antara kitab-kitab Muwatta. Sehingga, apabila disebut nama
Muwatta maka konotasinya selalu tertuju kepada kitab Imam Malik bin Anas.
4) Metode Mushannaf
Mushannaf berarti sesuatu yang disusun. Namun, secara terminologis kata
Mushannaf ini sama artinya denga kata Muwatta, yaitu metode pembukuan Hadis
berdasarkan klasifikasi hukum Islam dan mencantumkan Hadis-hadis marfu,
mauquf, dan maqtu. Seperti halnya Muwatta, ulama yang menulis Hadis dengan
metode Mushannaf ini juga banyak. Di antaranya, Imam Hammad bin Salamah (w.

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


167 H), Imam Waki bin al-Jarrah (w. 196 H), Imam Abd al-Razzaq (w. 211 H),
Imam Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H),
5) Metode Musnad
Metode Musnad ialah penyusunan kitab Hadis berdasarkan nama para
Sahabat Nabi Saw yang meriwayatkan Hadis. Oleh karenanya, dalam kitab Hadis
dengan metode hadis yang diriwayatkannya.
Jumlah kitab Musnad mencapai 100 kitab. Namun, beberapa kitab saja yang
populer, misalnya kitab Musnad karya al-Humaidi (w. 219 H), kitab Musnad karya
Abu Daud al-Tayalisi (w. 204 H), kitab Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal
(w. 241 H), dan kitab Musnad karya Abu Yala al-Maushili (w. 307 H).
Menurut Muhammad Ajaj al-Khathib dalam bukunya, Ushul Hadis bahwa
yang mula-mula menyusun kitab Hadis dengan metode Musnad adalah Abu Daud
al-Tayalisi. Kemudian, Musnad Ahmad bin Hanbal dianggap sebagai musnad yang
paling lengkap dan luas.
6) Metode Jami
Kata Jami berarti mengumpulkan, menggabungka, dan mencakup. Dalam
disiplin ilmu Hadism kata Jami adalah kitab Hadis yang penyusunanya mencakup
seluruh topic-topik dalam agama, baik akidah, hukum, adab, tafsir, manaqib, dan
lain-lain. Kitab-kitab Hadis yang menggunakan metode ini jumlahnya cukup
banyak.
Di antara kitab yang menggunakan metode Jami ialah karya Imam alBukhari (w. 256 H) yang popular dengan sebutan Shahih Al-Bukhari. Judul aslinya
adalah al-Jami al-Shahih

al-Musnad al-Mukhtashar min Umur Rasulillah

Shallallahu alaihi wa al-Sallam wa Sunanih wa Ayyamih. Kitab Jami lainnya


ialah karya Imam Muslim bin al-Hajjaj al-Naisapuri (w. 262 H) yang popular
dengan judul Shahih Muslim.
7) Metode Mustakhraj
Metodea Mustakhraj ialah penyusunan kitab Hadis berdasarkan penulisan
kembali Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab lain kemudian mencantumkan
sanad dari dia sendiri, bukan sanad yg terdapat dalam kitab yang dirujuknya. Ada
lebih 10 buah kitab Mustakhraj. Di antaranya al-Mustakhraj ala Shahih al-Bukhari
karya Ismaili (w. 371 H), al-Mustakhraj ala Shahih Muslim karya al-Isfirayini (w.

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


310 H), dan ada pula kitab mustakhraj atas Shahih Al-bukhari dan Shahih Muslim,
seperti karya Abu Nuaim al-Ishbahani (w. 430 H), Ibnu al-Akhram (w. 344 H),
dan lain-lain.
8) Metode Mustadrak
Metode Mustadrak adalah penyusunan kitab Hadis berdasarkan Hadis-hadis
yang tidak tercantum dalam suatu kitab

Hadis dengan mengikuti persyaratan

penerimaan hadis dalam kitab tersebut. Contoh kitab Hadis dengan metode ini ialah
kitab al-Mustadrak ala al-Shahihain karya Imam Hakim al-Naisapuri (w. 405 H).
Imam Hakim menyusun kitabnya dengan menyeleksi hadis-hadis yang sesuai
dengan persyaratan dalam penerimaan Hadis oleh Imam Al-Bukhari dan Imam
Muslim, tetapi tidak mencantumkannya dalam kitab shahih keduanya.
Jadi, Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Mustadrak tidak terdapat dalam
kitab asalnya. Berbeda dengan kitab-kitab Mustakhraj yang hadisnya juga terdapat
dalam kitab asalnya.
9) Metodea Sunan
Kata Sunan adalah bentuk jamak Sunnah yang pengertiannya sama
dengan Hadis. Sementara yang dimaksud disini ialah metode penyusunan kitab
Hadis berdasarkan klasifikasi hukum Islam (Abwab al-Fiqhiyyah) dan hanya
mencantumkan hadis marfu saja. Apabila terdapat hadis mauquf dan maqtu, maka
relatif jumlahnya hanya sedikit. Berbeda dengan kitab Muwatta dan Mushannaf
yang banyak memuat hadis mauquf dan maqtu.
Di antara kitab-kitab Sunan yang popular adalah karya Abu Dawud alSijistani (w. 275 H), -bedakan dengan Abu Dawud al-Tayalisi-, kemudian al-Nasai
(w. 303 H) yang semula kitabnya diberi nama al-Mujtaba, al-Tirmidzi, Ibnu Majah
al-Qaswini (w. 275 H), dan lain-lain.
10) Metode Mujam
Metode Mujam adalah metode penulisan kitab Hadis yang disusun
berdasarkan nama-nama para Sahabat, guru-guru Hadis, negeri-negeri, atau yang
lain. Dan lazimnya nama-nama itu disusun berdasrkan huruf Mujam (alfabet).
Kitab Hadis yang menggunakan metode ini banyak sekali. Di antaranya yang
popular adalah karya Imam al-Thabrani (w. 360 H), beliau menulis 3 buah kitab
Mujam, al-Mujam al-Kabir, al-Mujam al-Ausat, dan al-Mujam al-Shagir.

Oleh | Hasrul

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis


11) Metode Majma
Metode Majma digunakan dalam penyusunan kitab Hadis kira-kira akhir
abad ke-5 H. metode ini digunakan untuk membuat terobosan baru dalam
penyusunan kitab hadis dengan menggabungkan kitab-kitab Hadis yang sudah ada.
Sehingga, metode ini disebut Jama atau Majma. Contoh kitab Hadis dengan
metode ini ialah kitab al-Jama baina al-Shahihain karya al-Humaidi. (w. 488 H).
Tentu isinya merupakan gabungan antara kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim. Contoh lainnya ialah Jama baina al-Ushul al-Sittah karya Ibnu al-Atsir
(w. 606 H) yang merupakan gabungan antara 6 kitab Hadis (Shahih Bukhari,
Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasai, Sunan al-Tirmidzi, dan Sunan
Ibnu Majah).
12) Metode Zawaid
Zawaid menurut bahasa berarti tambahan-tambahan. Adapun menurut
terminologi Hadis ialah penyusunan kitab Hadis yang mengkhususkan hanya
Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh satu penulis Hadis saja. Contoh kitab Hadis
dengan metode Zawaid ialah kitab Mizbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majah karya
Bushairi (w. 480 H) yang berisi Hadis-hadis yang ditulis hanya oleh Ibnu Majah
dalam kitab Sunannya.

PUSTAKA BACAAN
Muhammad Ajaj al-Khathib, Ushul Hadis
Ali Mustafa Yaqub, Ktitik hadis
Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis

SEKIAN

Oleh | Hasrul