Anda di halaman 1dari 28

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumber genetik (plasma nutfah) tanaman jagung berasal dari benua

Amerika. Konon, bentuk liar tanaman jagung yang disebut pod maize telah

tumbuh 4500 tahun yang lalu di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Literatur

lain menyebutkan bahwa jagung tumbuh subur di kawasan Meksiko kemudian

menyebar ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Setelah ditemukannya benua

Amerika tahun 1492, kemudian jagung menyebar ke Benua Eropa. Pusat

penyebaran yang pertama di Eropa antara lain adalah Spanyol, Portugal, Prancis,

Italia sampai ke Afrika Utara. Pada abad ke-16, jagung mulai ditanam di daerah

pantai Barat Afrika kemudian meluas ke India dan Cina (Rukmana, 1997).

Tanaman jagung yang masuk ke Indonesia belum dapat dipastikan, tetapi

pendapat umum menyatakan bahwa tanaman ini masuk ke Indonesia sekitar 3 – 4

abad yang lalu oleh orang-orang Portugis dan Spanyol melalui India dan

Tiongkok. Pertanaman jagung di Indonesia terutama terdapat di Jawa, Madura dan

Sulawesi. Hingga saat ini tanaman jagung merupakan tanaman makanan yang

penting di daerah tropis dan subtropis. Luas pertanaman jagung di dunia

menempati urutan ke-3 setelah tanaman gandum dan padi (Ginting, 1995).

Jagung manis adalah tanaman herba monokotil, dan tanaman semusim

ikilim panas. Tanaman ini berumah satu, dengan bunga jantan tumbuh sebagai

perbungaan ujung pada batang utama dan bunga betina tumbuh terpisah sebagai

perbungaan samping (tongkol) yang berkembang pada ketiak daun. Tanaman ini
menghasilkan satu atau beberapa tongkol. Kadang-kadang bunga jantan tumbuh

pada ujung tongkol dan bunga betina pada tassel

(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Jagung manis sekarang merupakan hasil panen khusus dan satu bahan

yang popular dalam sop timur dan masakan sayuran. Kultivar-kultivar khusus

sekarang tersedia, yang menghasilkan tongkol dengan panjang 6 – 8 cm. Varietas

lokal yang ditanam lebih rapat dan dipetik sangat muda, jaga dijual sebagai

jagung manis, Hasilnya sekitar 500 kg/ha (Williams, dkk, 1993).

Pengembalian bahan organik ke dalam tanah adalah hal yang mutlak

dilakukan untuk mempertahankan lahan pertanian agar tetap produktif.

Pemupukan akan memberikan hasil yang mendekati optimum jika dalam

pelaksanaannya memperhatikan empat kunci “tepat” yaitu tepat jenis, tepat dosis,

tepat waktu dan tepat cara pemberian. Mengingat hasil pemupukan pada jenis

tanaman yang sama tidak selalu memberikan hasil sama baik maka ada hal yang

perlu diperthatikan yaitu tingkat kesuburan, reaksi tanah, kadar air, sifat pupuk

yang diberikan, pengolahan lahan, penyiangan dan pemilihan bibit yang baik

(Musnamar, 2003).

Berdasarkan pada cara pemberiannya, pemupukan pada tanaman dibagi

menjadi pemberian lewat akar dan lewat daun. Pupuk yang diberikan lewat akar

dapat diberikan dengan cara ditabur atau dibenamkan sedangkan pemupukan

lewat daun ini umumnya dilakukan dengan cara melarutkan pupuk tersebut ke

dalam air lalu larutan pupuk disemprotkan ke permukaan daun

(Prihmantoro, 2003).
Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi jagung manis

(Zea mays saccharata Sturt.) terhadap pemberian pupuk cair Indofloor dan

pupuk NPK

Hipotesis Percobaan

- Ada pengaruh pemberian pupuk cair Indofloor terhadap pertumbuhan dan

produksi jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.)

- Ada pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi

jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.)

- Ada pengaruh interaksi antara pemberian pupuk cair Indofloor dan pupuk

NPK terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis

(Zea mays saccharata Sturt.)

Kegunaan Percobaan

- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di

Laboratorium Agronomi Tanaman Makanan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

- Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Rukmana (1997), dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan,

kedudukan tanaman jagung manis diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermae

Class : Monocotyledoneae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae (Graminae)

Genus : Zea

Spesies : Zea mays saccharata Sturt.

Tanaman jagung berakar serabut, menyebar ke samping dan ke bawah

sepanjang 25 cm. Akar menyebar pada lapisan olah tanah. Bentuk system

perakaran jagung sangat bervariasi (Suprapto dan Marzuki, 2004).

Batang tanaman jagung kaku tingginya berkisar antara 1,5 m dan 2,5 m

dan terbungkus oleh pelepah daun yang berselang-seling yang berasal dari setiap

buku. Buku batang mudah terlihat. Percabangan (batang liar) umumnya terbentuk

pada pangkal batang. Batang liar adalah batang sekunder yang berkembang pada

ketiak daun terbawah dekat permukaan tanah. Tongkol yang berbentuk pada

batang sekunder ini berkembang lebih lambat, dan jarang produktif

(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).


Daun jagung tumbuh di setiap ruas batang. Daun ini berbentuk pipa,

mempunyai lebar 4 – 15 cm dan panjang 30 – 150 cm, serta didukung oleh

pelepah daun yang menyelubungi batang. Daun mempunyai dua jenis bunga yang

berumah satu. Jumlah daun antara 8 – 48 helai, tetapi biasanya sekitar 12 – 18

helai. Hal ini tergantung varietas dan umur tanaman jagung. Tangkai / pelepah

daun normal biasanya antara 3 cm sampai 6 cm (Najiyati dan Danarti, 1999).

Pada satu tanaman jagung terdapat bunga jantan dan bunga betina yang

letaknya terpisah. Bunga jantan terletak pada bagian ujung tanaman, sedangkan

bunga betina pada sepanjang pertengahan batang jagung dan berada pada salah

satu ketiak daun. Bunga jantan disebut staminate. Bunga jantan yang terbungkus

ini di dalamnya tedapat benag sari. Bunga jantan biasanya lebih dahulu masak

daripada bunga betina yaitu antara 1 – 3 hari sebelum bunga betina masak. Sel

telur atau ovary terdapat pada bunga betina yang dilindungi oleh suatu carpel yang

memanjang atau tangkai putik, kemudian berbentuk benang yang biasa disebut

rambut (Anonimous, 1993).

Biji jagung letaknya teratur, berbaris pada jenggel sampai sesuai dengan

letak bunga. Biji dibungkus oleh pericarp yang terdiri dari embrio dan endosperm.

Embrio terdiri dari plumula, radicle, dan scutellum. Bentuk biji ada yang bulat,

berbentuk gigi / pipih sesuai dengan varietasnya. Warna biji juga bervariasi antara

lain : kuning, putih, merah / oranye, dan merah hampir hitam. Biji mengandung

protein, tepung dan lemak. Disebut jagung manis karena memiliki kadar gula

dalam biji yang lebih tinggi disbanding jenis yang lain (Ginting, 1995).
Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman jagung dapat ditanam di daerah dataran rendah atau dataran

tinggi sampai ketinggian 2000 m di atas permukaan laut. Jagung yang diusahakan

di dataran tinggi biasanya berumur lebih panjang daripada jagung yang

diusahakan di dataran rendah. Suhu harian yang optimum untuk pertumbuhan

tanaman jagung berkisar antara 20 – 240C. Suhu yang lebih tinggi dari 350C akan

menyebabkan tepung sari menjadi steril sehingga tidak terjadi pembentukan buah

(Sutarno, 1995).

Jagung manis beradaptasi cukup baik terhadap iklim bebas bunga es dan

ditanam hingga lintang sejauh 500 dari khatulistiwa. Namun, jagung manis tidak

beradaptasi dengan baik pada kondisi tropika basah. Hari panas dan suhu malam

yang tinggi meningkatkan pertumbuhan secara keseluruhan

(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Sinar matahari merupakan sumber energi dan sangat membantu dalam

proses asimilasi daun. Intensitas penyinaran matahari cukup berarti bagi

kehidupan tanaman dan sinar matahari berperan dalam pembentukan batang.

Tanaman jagung sebaiknya mendapat cahaya matahari langsung, terutama menuju

masaknya biji dibutuhkan keadaan yang panas dan intensitas sinar matahari yang

cukup (Anonimous, 1993).

Jumlah dan distribusi hujan merupakan faktor penting, tanaman jagung

membutuhkan curah hujan yang relatif sedikit. Tanaman akan tumbuh normal

pada curah hujan yang berkisar 250 – 500 mm per tahun. Idealnya tanaman
jagung membutuhkan curah hujan 100 – 125 mm per bulan dengan distribisi

merata (Ginting, 1995).

Tanah

Jagung dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah, tanah berpasir maupun

tanah liat berat. Namun tanaman ini akan tumbuh lebih baik pada tanah yang

gembur dan kaya akan humus dengan pH tanah (kemasaman tanah) antara 5,5 –

7,0. Tanah yang padat serta kuat menahan air tidak baik bila ditanami jagung,

karena dapat menghambat pertumbuhan akarnya, bahkan membusukkan akarnya

(Suprapto dan Marzuki, 2004).

Tanaman jagung menghendaki tanah yang gembur, subur, berdrainase baik

dengan pH 5,6 – 7,2. Tanah yang bertekstur berat, harus diolah sehingga aerasi

dan draenasenya baik, membutuhkan air yang cukup terutama pada saat awal

pertumbuhannya, yaitu stadia pembungaan dan stadia pengisian biji

(Najiyati dan Danarti, 1999).

Jagung manis dapat tumbuh dengan baik pada semua jenis tanah seperti

tanah andosol, tanah latosol, tanah grumosol, tanah berpasir. pH tanah yang ideal

untuk pertumbuhan jagung manis yaitu antara 5,8 sampai 6,5 (Decoteau, 2000).

Pupuk Cair Indofloor

Pemupukan dilakukan untuk mencukupi atau menambah zat-zat makanan

yang berguna bagi tanaman dari dalam tanah, atau dengan kata lain supaya zat-zat

makanan untuk tanaman itu bertambah. Pupuk yang diberikan pada tanaman ada

berbagai macam bentuknya, secara garis besar dapat dibagi dua yaitu pupuk alam
dan pupuk buatan, sedangkan berdasarkan cara pemberiannya dibagi atas pupuk

akar dan pupuk daun (Anonimous, 1992).

Pupuk daun termasuk pupuk anorganik yang cara pemberiannya ke

tanaman melalui penyemprotan ke daun. Sebelum disemprotkan, umunya pupuk

daun perlu diencerkan dengan konsentrasi teretentu sesuai dosis yang dianjurkan

untuk tanaman. Pemakaian pupuk daun ada kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihannya antara lain dapat memberikan hara sesuai dengan kebutuhan

tanaman, pupuk yang diberikan ke tanah tidak seluruhnya mencapai akar tanaman

karena adanya beberapa kendala baik dari sifat kimia pupuk maupun sifat tanah,

kelarutan pupuk daun lebih baik disbanding pupuk akar, pengaruh kekurangan

hara berlangsung lebih cepat disbanding pupuk akar, pemberiannya dapat lebih

merata dan kepekatannya dapat diatur sesuai pertumbuhan tanaman. Sedangkan

kekurangan dari pupuk daun yaitu bila dosis pemupukannya salah (misalnya

terlalu tinggi) maka daun akan rusak, tertutama sering terjadi pada musim kering,

tidak semua pupuk daun dapat digunakan untuk tanaman yang langsung

dikonsumsi dan biaya yang digunakan lebih mahal (Lingga dan Marsono, 2004).

Pupuk daun berbentuk serbuk dan cair. Kualitasnya dianggap baik jika

mudah larut di dalam air tanpa menyisakan endapan. Karena mudah larut di dalam

air, sifat pupuk daun menjadi sangat higroskopis. Akibatnya, tidak dapat disimpan

terlalu lama jika kemasannya telah dibuka. Keuntungannya yaitu respon terhadap

tanaman sangat cepat karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Penyemprotan

pupuk daun idealnya dilakukan pada pagi atau pada sore hari karena bertepatan

dengan saat membukanya stomata. Faktor cuaca termasuk kunci sukses dalam

penyemprotan pupuk daun, tidak disarankan menyemprot pupuk daun pada saat
udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk yang sampai ke daun cepat

meningkat sehingga daun dapat terbakar. Contoh pupuk daun yang beredar di

pasaran yaitu Bayfolan, Complesal, Gandasil Daun, Gandasil Bunga, Grow More,

Indofloor dan Hyponex (Novizan, 2002).

Sebelum disemprotkan ke daun, ada beberapa hal yang dianggap mutlak

diketahui untuk pengaplikasian pupuk daun antara lain konsentrasi pupuknya

harus sesuai dengan petunjuk pada kemasan, jangan berlebihan, pupuk daun

disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah, hendaknya dilakukan

saat matahari tidak terik, jangan dilakukan menjelang musim hujan Karena pupuk

daun akan tercuci habis oleh air hujan (Calvin and Knutson, 1983).

Saat ini di pasaran banyak dijual pupuk pelengkap cair (PPC) dan zat

pengatur tumbuh (ZPT) dalam berbagai merek, salah satunya pupuk cair

Indofloor. Selain itu juga dikenal pupuk cair hasil sampingan pabrik penyedap

makanan. Oleh karena itu pengaruh pupuk sangat beragam tergantung musim dan

kondisi lahan, penggunaannya pun akan selektif

(Adisarwanto dan Widyastuti, 1999).

Pupuk NPK

Pupuk NPK (nitrogen, phosphate, kalium) merupakan pupuk majemuk

cepat tersedia yang paling dikenal saat ini. Bentuk pupuk NPK yang sekarang

beredar di pasaran adalah pengembangan dari bentuk-bentuk NPK lama yang

kadarnya masih rendah. Kadar NPK yang banyak beredar adalah 15-15-15, 16-16-

16, dan 8-20-15. Kadar lain yang tidak terlalu umum beredar adalah 6-12-15, 12-

12-12, atau 20-20-20. Tiga tipe pupuk NPK yang pertama sangat umum didapati.
Tipe pupuk NPK tersebut juga sangat popular karena kadarnya cukup tinggi dan

memadai untuk menunjang pertumbuhan tanaman (Marsono dan Sigit, 2001).

Sumber makanan bagi tanaman sebagian besar diambil melaui akar dalam

bentuk larutan nutrient ataupun senyawa-senyawa khusus. Oleh karena itu, pupuk

yang diberikan melalui akar harus cukup jumlahnya agar akar benar-benar dapat

menyerap unsur hara tersebut sebanyak-sebanyaknya sehingga pertumbuhan

tanaman menjadi maksimal. Meskipun demikian, aplikasi pupuk lewat akar ini

memiliki kelemahan yaitu akan cepat hilangb akibat menguap, tercuci oleh air

hujan, terbawa oleh makhluk lain atau diserap tanaman lain yang tidak diinginkan.

Untuk aplikasinya, pupuk ini dapat diberikan dengan cara ditabur atau

dibenamkan (Prihmantoro, 2003).

Pemakaian pupuk majemuk saat ini sudah sangat luas. Pupuk majemuk

berkualitas prima memiliki besar butiran yang seragam dan tidak terlalu

hiroskopis, sehingga tahan disimpan dan tidak cepat menggumpal. Variasi analisis

pupuk majemuk sangat banyak seperti NPK 15.15.15, 16.16.16, 20.20.20

menunjukkan ketersediaan unsur hara yang seimbang. Fungsi pupuk majemuk

dengan variasi analisis sepeti ini antara lain untuk mempercepat perkembangan

bibit, sebagai pupuk awal penanaman dan sebagai pupuk susulan saat tanaman

memasuki fase generatif seperti saat mulai berbunga atau berbuah. Kandungan P

dan K yang tinggi dan N yang rendah misal analisis 6.30.30 atau 10.45.12 akan

dapat merangsang pembentukan akan bunga dan meningkatkan kualitas buah

(Novizan, 2002).

Pupuk NPK tidak hanya mengandung dua unsur, tetapi tiga unsur

sekaligus yang tidak lain dari gabungan pupuk tunggal N, P, K. Itulah sebabnya
belakangan ini NPK sangat digemari petani. Biasanya harga pupuk NPK siap

pakai sangat mahal dibanding pupuk tunggal. Agar tidak terlalu mahal, ada

baiknya kalau NPK dibuat sendiri dari pupuk tunggal. Caranya mudah dan

keuntungannya yang diperoleh pn besar tanpa mengurangi kualitas NPK

(Lingga dan Marsono, 2004).

Pada tanaman jagung manis biasanya digunakan pupuk NPK untuk

merangsang pertumbuhan dan menyediakan kadar N yang tinggi pada tanaman.

Selain unsur N, di dalam NPK juga terdapat unsur K dan P. Unsur K ini berfungsi

dalam membantu pertumbuhan akar, meningkatkan vigor, menyediakan makanan

bagi tanaman, meningkatkan produksi tanaman, sedangkan unsur P berfungsi

dalam merangsang akar, mempercepat pembungaan, serta pemasakan biji dan

buah, dan N diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman terutama

batang, cabang, dan daun, selain itu juga berguna dalam pertumbuhan klorofil,

lemak, protein dan senyawa organik lainnya (Jones, 1982).


BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilaksanakan di lahan Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian + 25 m dpl. Percobaan ini

dilaksanakan pada bulan September sampai bulan November 2005.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih jagung

manis sebagai bahan / objek percobaan, pupuk cair Indofloor sebagai pupuk daun

yang membantu pertumbuhan tanaman, pupuk NPK sebagai pupuk akar yang

memabntu pertumbuhan tanaman, pupuk urea, SP-36 dan KCl sebagai pupuk

dasar, kapur dolomite untuk menetralkan kemasaman tanah, air untuk bahan

menyiram tanaman, insektisida Curacron dan fungisida Dithane 45 WP untuki

mencegah hama dan penyakit

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk

mengolah lahan dan membersihkan lahan dari gulma dan batu-batuan, meteran

untuk mengukur lahan dan tinggi tanaman, gembor untuk menyiram tanaman,

handsprayer sebagai temapt meletakkan insektisida, fungisida dan pupuk cair

Indofloor, plastik sebagai tempat meletakkan pupuk NPK, urea, SP-36 dan KCl

serta kapur dolomit, pacak sampel untuk menanadai tanaman sampel, plank nama

untuk menandai lahan, jangka sorong untuk mengukur diameter batang,

timbangan untuk mengukur berat pupuk, kapur dan produksi tanaman, suntikan
untuk mengukur dosis pupuk cair Indofloor, alat tulis untuk menulis data, buku

data untuk tempat mencatat data dan kalkulator untuk menghitung data

Metode Percobaan

Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak

Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor I = pupuk cair Indofloor

yang terdiri dari 3 taraf yaitu I0 = 0 cc / l air, I1 = 2 cc / l air, dan I2 = 4 cc / l air,

faktor II = pupuk NPK yang terdiri dari 4 taraf yaitu No = 0 gr, N1 = 100 gr, N2 =

200gr dan N3 = 300 gr, sehingga diperoleh 12 kombinasi yaitu :

I0N0 I1N0 I2N0

I0N1 I1N1 I2N1

I0N2 I1N2 I2N2

I0N1 I1N3 I2N3

Maka analisis data yang diperoleh dianalisis dengan metode linier :

Jarak tanam = 70 x 40 cm

Plot = 36 plot

Luas lahan =3x3m

Jumlah tanaman / sampel = 10 tanaman

Jumlah tanaman / plot = 55 tanaman

Model inert aditif yang digunakan adalah :

Yijk = µ + ρi + αj + βk + (∑Yi)jk + єijk

Dimana :

µ = nilai tengah

ρi = pengaruh blok i
αj = pengaruh perlakuan pupuk cair Indofloor pada taraf ke-j

βk = pengaruh perlakuan pupuk NPK pada taraf ke-k

(∑Yi)jk = pengaruh interaksi antara pupuk cair Indofloor dan pupuk

NPK taraf ke-k

єijk = pengaruh galat percobaan pada blok ke-i dengan mendapat

perlakuan pupuk cair Indofloor pada taraf ke-I terhadap

pupuk NPK taraf ke-i

Peubah Amatan

Tinggi tanaman (cm)

Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setelah 1 MST dengan

menggunakan meteran. Pengukuran dilakukan dari leher akar hingga daun

tanaman tertinggi

Jumlah daun (helai)

Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna

Diameter batang (mm)

Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong, diukur dari

pangkal batang tanaman dan diambil 2 kali yaitu pada sisi horizontal dan sisi

vertikal

Umur berbunga (hari)

Umur berbunga damabil apabila 75 % tanaman telah berbunga


Produksi per sampel (gr)

Produksi per sampel diperoleh dengan menimbang seluruh produksi

tanaman sampel. Penimbangan ini dilakukan setelah tanaman dapat dipanen

Produksi per plot (kg)

Produksi per plot diperoleh dengan menimbang seluruh produksi tanaman

jagung per plot. Penimbangan ini juga dilakukan setelah tanaman dapat dipanen
PELAKSANAAN PERCOBAAN

Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan membersihkan lahan dari gulma dan

batu-batuan. Selanjutnya lahan diolah sampai tanahnya gembur dan dibuat

bedengan / blok dengan ukuran 3 x 3m dengan parit dalam 30 cm, parit luar 50

cm dan parit antar blok 50 cm

Pengapuran

Pengapuran dilakukan untuk menetralkan kemasaman tanah. Kapur yang

digunakan adalah kapur dolomite sebanyak 500 gr. Kapur ini diberikan dengan

cara pertama-tama tanah dibalik, lalu kapur disebarkan ke tanah sesuai dengan

arah mata angin, lalu ditutup kembali dan tanah digemburkan dan didiamkan

selama 1 minggu

Penanaman

Sebelum penanaman, dilakukan pembuatan lubang tanam dengan system

tugal sedalam + 2 cm, kemudian dilakukan penanaman tiga benih / lubang tanam

dengan jarak tanam 70 x 40 cm

Penyisipan

Penyisipan dilakukan untuk membuat cadangan tanaman menutup

kemungkinan tanaman yang tidak tumbuh. Penyisipan dilakukan dengan

menanam benih di sekitar lahan


Pemupukan Dasar

Pemupukan dasar diberikan setelah tanaman berumur 2 minggu setelah

tanam, dengan memberikan pupuk urea, pupuk SP-36 dan pupuk KCl.

Pemupukan ini dilakukan dengan cara tugal sekitar 5– 10 cm dari batang tanaman.

Pemupukan ini diberikan dengan cara menyatukan pupuk SP-36 dan KCl dan

pupuk urea tersendiri

Pemeliharan

Penyiraman

Penyiraman dilakukan satu kali setiap hari yakni pada sore hari. Apabila

turun hujan maka tanaman tidak perlu disiram

Penyiangan

Penyiangan gulma dilakukan sesuai dengan kondisi lahan. Apabila

terdapat gulma maka dilakukan penyiangan secara manual dan menggunakan

cangkul

Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan agar perakaran tanaman menjadi lebih kuat


Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara penyemprotan

insektisida dan fungisida. Insektisida yang digunakan adalah Curacron 2 cc / l air

dan fungisida yang digunakan adalah Dithane 45 WP 2 gr / l air

Aplikasi Pupuk

Aplikasi pupuk diberikan setelah tanaman berumur 4 minggu setelah

tanam dengan range pemberian 2 minggu sekali. Pupuk yang digunakan adalah

pupuk cair Indofloor yang terdiri dari 3 taraf yaitu I = pupuk cair Indofloor yang

terdiri dari 3 taraf yaitu I0 = 0 cc / l air, I1 = 2 cc / l air, dan I2 = 4 cc / l air, dan

pupuk NPK yang terdiri dari 4 taraf yaitu No = 0 gr, N1 = 100 gr, N2 = 200gr dan

N3 = 300 gr. Pada lahan 10 kombinasi aplikasi pupuk yang diberikan yaitu I2N1 = 4

cc/ l air pupuk cair Indofloor dan 100 gr pupuk NPK


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Jumlah Daun (helai)

Data rataan jumlah daun dapat dilihat pada lampiran pengamatan 3 MST,

4 MST, 5 MST dan 6 MST.

Dari pengamatan data rataan jumlah daun 6 MST diperoleh bahwa

perlakuan pemberian pupuk cair Indofloor, pupuk NPK dan interaksi antara pupuk

cair Indofloor berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun.

Data pengaruh pupuk PPC Indofloor dan pupuk NPK terhadap jumlah

daun 6 MST (helai) dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Dari data rataan jumlah daun diperoleh bahwa jumlah daun tertinggi yaitu

pada perlakuan I0 sebesar 38,35 helai dan terendah pada perlakuan I2 sebesar

37,99 helai ; dan pengaruh pemberian pupuk NPK tertinggi pada perlakuan P2

sebesar 38,91 helai dan terendah pada perlakuan P3 sebesar 37,49 helai.

Tinggi Tanaman (cm)


Data rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada lampiran pengamatan 3

MST, 4 MST, 5 MST dan 6 MST.

Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman 6 MST diperoleh bahwa

perlakuan pemberian pupuk cair Indofloor, pupuk NPK dan interaksi antara pupuk

cair Indofloor berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman.

Data pengaruh pupuk PPC Indofloor dan pupuk NPK terhadap tinggi

tanaman 6 MST (cm) dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

Dari data tinggi tanaman diperoleh bahwa tinggi tanaman tertinggi yaitu

pada perlakuan I2 sebesar 502,73 cm dan terendah pada perlakuan I0 sebesar

549,54 cm; dan pengaruh pemberian pupuk NPK tertinggi pada perlakuan P1

sebesar 548,32 cm dan terendah pada perlakuan P3 sebesar 496,50 cm.

Diameter Batang (mm)

Data rataan diameter batang dapat dilihat pada lampiran pengamatan

4 MST, 5 MST dan 6 MST.

Dari pengamatan data rataan diameter batang 6 MST diperoleh bahwa

perlakuan pemberian pupuk cair Indofloor, pupuk NPK dan interaksi antara pupuk

cair Indofloor berpengaruh nyata terhadap diameter batang.


Data pengaruh pupuk PPC Indofloor dan pupuk NPK terhadap diameter

batang 6 MST (mm) dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.

Dari data diameter batang diperoleh bahwa diameter batang tertinggi yaitu

pada perlakuan I0 sebesar 57,82 mm dan terendah pada perlakuan I2 sebesar

54,33 mm ; dan pengaruh pemberian pupuk NPK tertinggi pada perlakuan P3

sebesar 58,86 mm dan terendah pada perlakuan P0 sebesar 54,41mm.

Produksi per sampel (gr)

Data rataan produksi per sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan

produksi per sampel.

Dari pengamatan data rataan produksi per sampel diperoleh bahwa

perlakuan pemberian pupuk cair Indofloor, pupuk NPK dan interaksi antara pupuk

cair Indofloor berpengaruh nyata terhadap produksi per sampel.

Data pengaruh pupuk PPC Indofloor dan pupuk NPK terhadap produksi

per sampel dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.


Dari data produksi per sampel diperoleh bahwa produksi per sampel

tertinggi yaitu pada perlakuan I1 sebesar 507,50 gr dan terendah pada perlakuan

I0 sebesar 456,25 gr ; dan pengaruh pemberian pupuk NPK tertinggi pada

perlakuan P0 sebesar 545,67 gr dan terendah pada perlakuan P3 sebesar 451,67

gr.

Produksi per plot (kg)

Data rataan produksi per plot dapat dilihat pada lampiran pengamatan

produksi per plot.

Dari pengamatan data rataan produksi per plot diperoleh bahwa perlakuan

pemberian pupuk cair Indofloor, pupuk NPK dan interaksi antara pupuk cair

Indofloor berpengaruh nyata terhadap produksi per plot.

Data pengaruh pupuk PPC Indofloor dan pupuk NPK terhadap produksi

per plot dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.

Dari data produksi per plot diperoleh bahwa produksi per plot tertinggi

yaitu pada perlakuan I1 sebesar 10,21 kg dan terendah pada perlakuan I0 sebesar
9,14 kg; dan pengaruh pemberian pupuk NPK tertinggi pada perlakuan P0 sebesar

10,92 kg dan terendah pada perlakuan P3 sebesar 9,05 kg.

Pembahasan

Pengaruh Pemberian Pupuk Cair Indofloor Terhadap Pertumbuhan dan Produksi

Jagung Manis yaitu :

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk cair

Indofloor berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, nyata terhadap tinggi

tanaman, nyata terhadap diameter batang, nyata terhadap produksi per sampel dan

nyata juga terhadap produksi per plot. Hal ini mungkin dikarenakan adanya faktor

cuaca yang mendukung dalam penyemprotan pupuk daun, respon pupuk daun

sangat cepat karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman dan pupuk daun bersifat

higroskopis. Hal ini sesuai dengan pendapat Novizan (2002) yang mengemukakan

bahwa pupuk daun mudah larut di dalam air sehingga bersifat higroskopis, respon

terhadap tanaman sangat cepat karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman dan

dalam penyemprotan pupuk daun faktor cuaca termasuk kunci sukses dalam

penyemprotan pupuk daun, tidak disarankan menyemprot pupuk daun pada saat

udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk yang sampai ke daun cepat

meningkat sehingga daun dapat terbakar.

Pengaruh Pemberian Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung

Manis yaitu :
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk NPK

berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, nyata terhadap tinggi tanaman,

nyata terhadap diameter batang, nyata terhadap produksi per sampel dan nyata

juga terhadap produksi per plot. Hal ini mungkin dikarenakan pupuk yang

diberikan sudah menguap akibat tercuci oleh air hujan sedangkan pada tinggi

tanaman, diameter batang, produksi per sampel dan produksi per plot berpengaruh

nyata, mungkin dikarenakan kadar pupuk yang digunakan telah tepat sehingga

pertumbuhan tanaman menjadi maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat

Prihmantoro (2003) yang mengemukakan bahwa pupuk yang diberikan melalui

akar harus cukup jumlahnya agar akar benar-benar dapat menyerap unsur hara

tersebut sebanyak-banyaknya sehingga pertumbuhan tanaman mrnjadi maksimal,

namun pupuk ini juga mempunyai kelemahan yaitu akan cepat hilang akibat

menguap, tercuci oleh air hujan, terbawa oleh makhluk lain atau tanaman lain

yang tidak diinginkan.

Pengaruh Interaksi Pemberian Antara Pupuk Cair Indofloor dan Pupuk NPK

Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis yaitu :

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa interaksi pemberian pupuk

cair Indopfloor dan pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun,

nyata terhadap tinggi tanaman, nyata terhadap diameter batang, nyata terhadap

produksi per sampel dan nyata juga terhadap produksi per plot. Hal ini mungkin

dikarenakan dosis pupuk yang digunakan belum tepat, pemberiannya tidak merata

dan adanya faktor yang mendukung pertumbuhan seperti curah hujan dan sinar

matahari. Hal ini sesuai dengan pendapat Lingga dan Marsono (2004) yang

mengemukakan bahwa pemupukan dilakukan untuk mencukupi atau menambah


zat-zat makanan yang berguna bagi tanaman, dalam pemberian pupuk harus

diperhatikan dahulu dosis penggunaannya sebab bila dosis yang diberikan salah

maka daun akan terbakar, pemberiannya harus merata dan kepekatannya harus

diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hali ini juga sesuai dengan pendapat

Anonimous (1993) yang mengemukakan bahwa sinar matahari merupakan sumber

energi dan sangat membantu dalam proses asimilasi daun, pembentukan batang

dan produksi yang dihasilkan.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pengaruh pemberian pupuk cair Indofloor terhadap pertumbuhan dan

produksi jagung manis berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun,

nyata terhadap tinggi tanaman, nyata terhadap diameter batang, nyata

terhadap produksi per sampel dan nyata juga terhadap produksi per plot

2. Pengaruh pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi

jagung manis berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, nyata

terhadap tinggi tanaman, nyata terhadap diameter batang, nyata terhadap

produksi per sampel dan nyata juga terhadap produksi per plot

3. Pengaruh interaksi pemberian antara pupuk cair Indofloor dan pupuk

NPK terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis berpengaruh tidak

nyata terhadap jumlah daun, nyata terhadap tinggi tanaman, nyata terhadap

diameter batang, nyata terhadap produksi per sampel dan nyata juga

terhadap produksi per plot

Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan kita harus memperhatikan betul

dosis penggunaan pupuk yang tepat dan memperhatikan perlakuan mana yang

lebih bagus

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto, T.dan Y.E. Widyastuti, 1999. Meningkatkan Produksi Jagung di


Lahan Kering, Sawah dan Pasang Surut. Penebar Swadaya, Jakarta.

Anonimous, 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius, Yogyakarta.

, 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius, Yogyakarta.

Calvin, C.L. and D.M. Knutson, 1983. Modern Home Gardening. John Wiley &
Sons, New York.

Decoteau, D.R., 2000. Vegetable Crops. Prentice Hall Upper Saddle River,
New York.

Ginting, S., 1995. Jagung. Diktat Kuliah Agronomi Tanaman Makanan – I


(PNA 305). Fakultas Pertanian. USU Press, Medan.

Jones, U.S., 1982. Fertilizers and Soil Fertility. Reston Publishing Company,
Reston, Virginia.

Lingga, P dan Marsono, 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Cetakan 21. Edisi
Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Marsono dan P. Sigit, 2001. Pupuk Akar : Jenis & Aplikasi. Penebar Swadaya,
Jakarta.

Musnamar, E.I., 2003. Pupuk Organik Padat Pembuatan dan Aplikasi. Cetakan 1.
Penebar Swadaya, Jakarta.

Najiyati, S dan Danarti, 1999. Palawija Budidaya dan Analisis Usaha Tani.
Cetakan 9. Penebar Swadaya, Jakarta.

Novizan, 2002. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Cetakan 1. Agromedia


Pustaka, Jakarta.
Prihmantoro, H., 2003. Memupuk Tanaman Sayur. Cetakan 6. Penebar Swadaya,
Jakarta.

Rubatzky, V.E dan M. Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia Prinsip, Produksi, dan
Gizi. Terjemahan Catur Herison. Jilid Kesatu. ITB Press, Bandung.

Rukmana, R., 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius, Yogyakarta.

Suprapto, H.S dan A.R. Marzuki, 2004. Bertanam Jagung. Cetakan 23. Penebar
Swadaya, Jakarta.

Sutarno, H., 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. UGM Press,
Yogyakarta.

William, C.N., J.O. Uzo dan W.T.H. Peregrine, 1993. Produksi Sayuran
Di Daerah Tropika. Terjemahan S. Ronoprawiro. UGM Press, Yogyakarta.