PT-PLA C 1.

1 - 2010

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL DAN IRIGASI AIR TANAH DALAM

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN IR DEPARTEMEN PERTANIAN 2010

KATA PENGANTAR
   

dinas lingkup Pertanian di tingkat Kabupaten/Kota) sesuai dengan kondisi dan potensi di daerah masing-masing

Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah (Irigasi Air Tanah Dangkal dan Irigasi Air Tanah Dalam) dalam menunjang pembangunan pertanian merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan sumber air irigasi untuk usaha pertanian, baik untuk sub-sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Petunjuk/pedoman teknis pengembangan irigasi air tanah dangkal dan dalam ini disusun dengan maksud untuk menjadi pedoman atau petunjuk atau acuan pelaksanaan bagi para pelaksana kegiatan pengelolaan air, khususnya pengembangan irigasi air tanah di daerah (Propinsi dan Kabupaten/ Kota). Pedoman teknis ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pelaksanaan kegiatan di lapangan, terutama dalam mengartikan dan merinci ketentuan-ketentuan teknis di tingkat lapangan. Dengan pertimbangan bahwa kondisi dan potensi antar daerah yang sangat bervariasi, maka pedoman teknis ini harus dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan oleh Satker Propinsi (Dinas-dinas lingkup Pertanian di tingkat Propinsi) dan selanjutnya dalam bentuk Petunjuk Teknis oleh Satker Kabupaten (Dinas 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

Buku pedoman ini dibagi menjadi 2 bagian, masingmasing terdiri dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal. Oleh karena itu, penggunaan atau pemanfaatan buku pedoman ini harus disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan di masing-masing daerah. Demikian semoga pedoman ini dapat dijadikan sebagai acuan/petunjuk oleh para pelaksana kegiatan dengan sebaikbaiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Jakarta, Januari 2010 Direktur Pengelolaan Air,

Ir. Tunggul Iman Panudju, M.Sc NIP. 19580526 198703 1 002

 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

i

ii

i

ii

BAGIAN I

DAFTAR ISI
PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL
KATA PENGANTAR .................................................i DAFTAR ISI ........................................................ iii I. PENDAHULUAN ................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................ 1 B. Tujuan dan Sasaran....................................... 3 C. Pengertian ................................................. 4 II. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL......... 6 A. Persyaratan Lokasi........................................ 6 B. Persyaratan Petani/Kelompok .......................... 7 III. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ............... 8 A. Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal................... 8 1. 2. 3. Sumur ................................................. 8 Pompa Air............................................. 9 Jaringan Distribusi .................................. 9

E. Pelatihan ..................................................19 F. Pemanfaatan .............................................19 G. Pembiayaan...............................................19 I. Waktu Pelaksanaan ......................................20 V. MONITORING DAN EVALUASI ..............................21 A. Indikator Kinerja.........................................21 B. Monitoring dan Evaluasi.................................21 C. Pelaporan .................................................22 D. Pengendalian .............................................22 DAFTAR PUSTAKA................................................24 LAMPIRAN                            

B. Kriteria Teknis ...........................................10 IV. PELAKSANAAN................................................14 A. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana......14 B. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal ...............................17 C. Operasi dan Pemeliharaan .............................18 D. Pembinaan ................................................18
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iii

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iv

iii

iv

......... 8 B...........27 I.12 Rumah Pompa/Genset........... Monitoring dan Evaluasi................. Pengendalian ..........10 III.......... Latar Belakang ....33 LAMPIRAN B.........11 1.............................................................. Persyaratan Petani ........................................29 D.....16 IV............ Pelaporan ................................................ 2010 vi v vi ................................. Indikator Kinerja.... Pembiayaan.......... Komponen Irigasi Air Tanah Dalam..........................14 A....... PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ............................ Pengertian ......... Pelatihan ..............................................11 A....................................... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA............................... 4 II.... Persyaratan Lokasi................... Pemanfaatan .......................26 G....... 7 A...............25 D.... Operasi dan Pemeliharaan ........................... 2.......................................26 F...................................................19 A.....25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA...............................28 B... Sumur ...................... Tujuan dan Sasaran... 3 C....BAGIAN II DAFTAR ISI PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM E........... PELAKSANAAN.... 1 B.. Kriteria Teknis ... MONITORING DAN EVALUASI ..........28 I......11 Pompa Air dan Perlengkapannya..... 4...31 DAFTAR PUSTAKA..........19 B........................ 2010 v Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.............................. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA......................... Pembinaan ................................................................... Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam ........28 C..........................27 V..23 C............................................ PENDAHULUAN ............... KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM.13 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) ................. Waktu Pelaksanaan ....... 3...... 1 A............................................ 298 LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA UNTUK MENENTUKAN TITIK LOKASI PENGEBORAN................. Survey Investigasi dan Desain Sederhana .

karena kebutuhannya belum proporsional dibandingkan dengan ketersediaannya terutama pada musim kemarau. potensi air tanah di suatu wilayah relatif tetap apabila tidak diusahakan. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemanfaatan air permukaan. maka ada dua jenis air tanah yaitu : (1) air tanah dangkal dan (2) air tanah dalam. Sumber air tanah dangkal umumnya terdapat di dalam lapisan-lapisan tanah yang tidak begitu dalam. Bagi daerah yang mempunyai potensi sumber air tanah dangkal. maka sering kali tanaman yang dibudidayakan pada periode tersebut mengalami kekeringan. A. 2010 1 2 . baik untuk pengadaan pompa 2 maupun pembuatan bangunan penampung (reservoir) 1 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sehingga memungkinkan untuk diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa. Secara teroritis.BAGIAN I  PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL I. embung dan lain-lain telah lama dilakukan masyarakat. maka pengisian air tanah (water recharging) tidak terjadi secara alamiah. Air tanah merupakan salah satu pilihan sumber air yang dapat dikembangkan untuk pertanian. danau. Pengelompokan ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan air tanah dan kebutuhan infrastrukturnya. Pengambilan air tanah sesuai dengan kemampuan pengisiannya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sehingga dapat dikembangkan oleh petani setempat secara mandiri ataupun jika memerlukan dukungan masih pada tingkatan yang relatif terbatas. karena beda potensial antara air tanah dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. waduk. seperti sungai. pemanfaatannya akan lebih mudah karena infrastruktur yang diperlukan lebih sederhana. berdasarkan pemanfaatannya. Pertimbangannya. Namun demikian. 2010 Pemanfaatan air tanah dangkal dari sumur-sumur yang diangkat dengan menggunakan pompa memerlukan biaya tambahan. selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian juga memungkinkan terjadinya akselerasi sirkulasi air tanah. Berdasarkan fakta empirik lain tersebut. tanaman dari sumber air yang lain. untuk maka perlu dipikirkan air alternatif memenuhi kebutuhan permukaan tanahnya konstan.

Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). Berkurangnya d. Agar nilai manfaat air tanah dangkal dapat dioptimalkan. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.sebagai tandon air. perlu adanya a. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian. dan 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. c. c. Irigasi : usaha penyediaan. irigasi air tanah dangkal dukungan pembiayaan yang akan berasal dari jenis komoditas yang diusahakan petani dan kelompoknya sehingga keberlanjutan (sustainability) usaha pompa dalam pendayagunaan air tanah dangkal dapat dipertahankan. Terbangunnya sebanyak 706 Lampiran 1). Air Tanah Dangkal : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman < 30 meter. dan pembuangan pertanian. pengaturan. b.530 ha. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas 3. Tujuan dan Sasaran 1. B. 2010 unit (alokasi per kabupaten berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada b. irigasi rawa. irigasi air tanah. 2. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi resiko produksi kegagalan usahatani usahatani melalui karena kekurangan air irigasi/kekeringan. 2010 4 3 4 . irigasi tambak. Meningkatkan kualitas produksi pertanian dan pendapatan petani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peningkatan areal tanam dan peningkatan permukaan. luas tanam. Meningkatnya produktivitas. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka perlu dirancang mekanisme pembayaran biaya operasional dan pemeliharaan (OP) dalam kelompok (partisipasi petani). Pengertian 1. dan produktivitas usaha tani. Oleh karena itu. 2. C. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah : a. agar ketergantungan kepada pemerintah dapat diminimalkan.

3. maka pemilihan lokasi harus dilakukan dengan tepat. Di lokasi yang bersangkutan usahataninya sudah berkembang atau paling tidak daerah tersebut sesuai untuk pengembangan usaha tani tanaman pangan. Persyaratan Lokasi 1. Di lokasi yang bersangkutan mempunyai potensi air tanah dangkal. di atas. hortikultura. 2010 6 5 6 . ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. Diprioritaskan pada lokasi lahan sawah tadah hujan dan lahan kering kawasan tanaman pangan. Beberapa kriteria yang perlu diperhitungkan antara lain : A. pengambilan. ataupun di bawah permukaan tanah. Sumber Air Irigasi : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. baik kuantitas maupun kualitasnya. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL  Agar pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat berhasil dengan baik. 6. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumurbor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. penyaluran dan pembagian. dan ketinggian di atas permukaan laut. 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. garis bujur. 2010 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. perkebunan. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan. Potensi sumber air tanah dangkal yang tersedia paling tidak dapat memberikan air irigasi suplementer (supplementary irrigation) pada areal seluas kurang lebih 5 hektar sesuai jenis komoditas yang diusahakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. peternakan. 8.4. 5. 4. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. II. dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. di atas.

dan sanitasi ternak. A. 2010 7 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. III. terlebih dahulu harus dibuat sumur sebagai tempat pengambilan. Petani di lokasi memerlukan irigasi air tanah dangkal dana dan mampu dan memanfaatkan pemeliharaan serta yang merawatnya dengan baik termasuk menyediakan operasional dibuktikan dari surat pernyataan kelompok tani atas nama petani. sarana/fasilitas/peralatan irigasi air tanah dangkal tidak boleh dikuasai secara perorangan tetapi harus digunakan oleh anggota kelompok. 1. misalnya dengan pompa. 5. 2. Diprioritaskan pada kelompok tani/P3A yang sudah terbentuk atau akan membentuk kelompok tani/ P3A/P3AT apabila dibangun irigasi air tanah dangkal. Untuk kawasan 3. digunakan untuk hijauan makanan ternak.hortikultura. Lahan usaha tani yang akan mendapat pelayanan irigasi air tanah dangkal yang akan dibangun adalah lahan milik petani. pantek pengembangannya dengan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal Agar air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk air irigasi. Sumur Untuk dapat memanfaatkan air tanah. Persyaratan Petani/Kelompok 1. 6. Minimal ada tiga komponen yang diperlukan agar air tanah dangkal tersedia untuk irigasi : (a) sumur (b) pompa air dan motor penggerak dan (c) jaringan distribusi. Dalam pengelolaannya termasuk pemanfaatannya. maka diperlukan upaya pengambilan/ pengangkatan ke permukaan tanah. Dapat dikembangkan di lokasi Daerah Irigasi (DI) yang memiliki jaringan irigasi di mana kondisi ketersediaan air pada musim kemarau tidak mampu mengairi lahan usaha tani. 2010 7 8 . dan perkebunan. Sumur tersebut dapat berupa sumur gali (cara pengembangannya dengan digali) sumur dan sumur bor/ (cara 8 peternakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. air minum ternak. B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

  Kriteria Teknis Pengertian 1 unit irigasi air tanah dangkal berdasarkan luas layanan oncoran adalah sebagai berikut : a. 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Kedalaman sumur yang dibuat disesuaikan irigasi air tanah (JIAT). Jenis pompa air yang biasa digunakan untuk air tanah dangkal pada umumnya jenis Pompa pompa air B. Pompa air tanah dangkal bersifat mobile (dapat dipindah-pindahkan). maka perlu dibangun jaringan 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. atau b. bangunan pengatur berupa pintu dan boks pembagi. Jaringan Distribusi Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usahatani. Pompa Air Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dalam tanah ke permukaan tanah. 2 (dua) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 2 (dua) buah atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk jaringan distribusinya. dimana 1 (satu) unit pompa air akan digunakan untuk melayani beberapa sumur. JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Untuk kehilangan losses) mengurangi air (water dalam dengan kedalaman air tanah ( < 30 m ). sentrifugal. digerakkan dengan motor penggerak bertenaga diesel atau bensin atau tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). yang terdiri atas: saluran. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 10 9 10 . bangunan pengatur debit dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa. 1 (satu) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 1 (satu) atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk saluran distribusinya.dibor). penyaluran.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Diutamakan yang telah memiliki SNI atau sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi pemerintah. Untuk sumur bor/pantek. dapat diterima petani. diameter selubungnya disesuaikan dengan kondisi jenis pompanya. penggerak : motor bertenaga diesel atau bensin. tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). pipa/selang hisap. Pompa air : tipe : sentrifugal atau axial. c. d.Alternatif pilihan butir a atau b didasarkan pada kecukupan dana dan diuraikan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan Distribusi (JIAT) Penyempurnaan pompa dapat jaringan dimanfaatkan distribusi seefisien dan 12 yang resmi ditunjuk oleh dimaksudkan agar air yang dikeluarkan dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Diameter sumur gali dengan diameter lebih kurang 1 meter. Terbuat dari bahan besi atau PVC (paralon) cukup kuat. 2010 11 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bila struktur tanahnya labil. Pipa-pipa : Pipa-pipa diperlukan untuk pipa selubung luar (casing pada sumur bor). Diutamakan telah memiliki/memenuhi SNI atau memiliki sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Sumur : dapat dibuat dalam bentuk sumur gali atau sumur bor. 2010 11 12 . Kedalaman sumur disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer. dan pembuangan. b. Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengembangan irigasi air tanah dangkal antara lain : a. dinding sumur dapat diperkuat dengan tembok atau buis beton. mudah dalam perawatan dan suku cadang tersedia di pasar setempat.

kehilangan dengan air mengurangi pada saluran IV. baik dari segi teknis maupun sosial. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana 1. A. 2010 14 13 14 .seefektif kebocoran/ tersebut. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pelaksanaan survei investigasi dibiayai oleh daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan) dan dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petugas Kecamatan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dangkal. Pelaksanaan survei investigasi dikoordinasikan dengan instansi/Sub Dinas terkait terutama dengan Sub Dinas yang menangani komoditas yang akan dikembangkan. mungkin. PELAKSANAAN Tahapan pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat dilaksanakan sebagai berikut : Jaringan distribusi tersebut dapat berupa pipa atau selang yang tahan bocor. Survey Investigasi Survey investigasi dimaksudkan untuk yang mendapatkan calon lokasi dan petani sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Gambar/sketsa saluran distribusi. Rancangan/desain irigasi air tanah dangkal sederhana sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). peralatan. Potensi air tanah dangkal untuk kebutuhan irigasi. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat digunakan untuk menetapkan spefisikasi pompa air. dan mesin Berdasarkan diperlukan. sehingga dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. meliputi kedalaman dan kapasitas pompa/air yang keluar dari mesin pompa. kedalaman sumur.Laporan hasil survei investigasi paling tidak memuat : a. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dangkal Rancangan/desain sederhana disusun untuk lokasi yang ditetapkan sebagai calon lokasi pengembangan irigasi air taanah dangkal. dangkal Untuk yang menekan diangkat biaya dari operasional dalam hal distribusi air. d. hasil SID akan dapat diketahui kebutuhan bahan. Luas layanan oncoran (command area) yang akan diairi. Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. 2. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 jumlah dan irigasi kebutuhan pipa-pipa. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kebutuhan bahan. e. 2010 letak/lokasi sumur (koordinat sumur). spesifikasi diperlukan. jaringan pembangunan/perbaikan 15 15 16 . 3. dan rancangan jaringan irigasi yang akan dibangun. peralatan. Satu hal yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan desain sumur air tanah dangkal sederhana yaitu dalam hal tanah distribusi. c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. b. maka air telah sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat ditampung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan daerah layanan irigasinya dengan menggunakan bak penampung air (jika dananya mencukupi). Kondisi usaha tani dan jenis komoditi yang layak dikembangkan. dan yang 16 spesifikasi motor penggerak pompa. dan mesin yang Data kedalamam dan potensi air tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

B. 2. teknik budidaya. 2. 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pompa air dan perlengkapannya. serta pengembangan usaha lainnya. Pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan berdasarkan kepada usulan yang diajukan oleh petani/kelompoktani seperti RUKK (Rencana Usulan Kerja Kelompok) setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kab/Kota (contoh RUKK dapat dilihat pada Lampiran 2). kebutuhan anggaran ini dijadikan acuan dalam penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS). Perkiraan pengadaan bahan. 3. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah dangkal diserahkan kepada petani/kelompok tani. pipa-pipa. 2010 18 17 18 . 2. Besarnya iuran pelayanan irigasi yang dibutuhkan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.C. pasca panen. 1. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani sebagai penerima manfaat. Pembinaan terhadap petani penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota secara berkelanjutan. Kebutuhan anggaran Meliputi perkiraan kebutuhan biaya untuk sumur. Pola pelaksanaan Bansos mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum Bansos Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. 2010 Pembinaan 1. 4. Pelaksanaan Konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan dengan pola Bansos (dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani). pengembangan/ Operasi dan Pemeliharaan 1. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal D. pemilihan komoditas yang diusahakan. dan pemasaran hasil. ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok tani. panen. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peralatan. pengolahan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pemasangan perbaikan jaringan pengembangan dan distribusinya.

Pembiayaan Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal dipergunakan untuk pembuatan sumur bor/gali. operasi dan pemeliharaan efisien. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah.E. Kebutuhan biaya jaringan untuk SID irigasi/distribusi. 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 19 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan oleh pihak ketiga/pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah. I. Pelatihan 1. pompa air dan perlengkapannya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka pemanfaatannya harus dilakukan secara efektif dan G. pengadaaan pipa-pipa. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pembinaan disediakan dari APBD Propinsi. APBD Kabupaten/ Kota. dan partisipasi masyarakat. yang relatif tinggi. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dangkal mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. Pemanfaatan Dengan pertimbangan biaya investasi. F. 2010 20 19 20 .

Evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun. 3. 2010 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. 4. dengan Laporan tembusannya Bulanan disusun disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat mengacu pada Lampiran 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.4 (diisi di tingkat Propinsi). A. 4. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai 22 1. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan. B. intensitas pertanaman (IP). seperti peningkatan luas tanam. Pelaporan 1. peningkatan 2. 3. Output : Terbangun dan berfungsinya irigasi air tanah dangkal. 2.V. MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah sebagai berikut : C. peningkatan produktivitas. Benefit : Terjadinya peningkatan pertanian. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas keterPertanian Pengelolaan Propinsi Air).1.2 (diisi di tingkat usaha Kabupaten/Kota) serta 4. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dangkal selesai. 2010 21 22 . Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang disusun setiap bulan. Terdapat 2 (tiga) jenis laporan yang harus dibuat yaitu Laporan Perkembangan dan Laporan Akhir. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.3 dan 4. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dangkal. Laporan Akhir agar dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. Outcome : Terjadinya sediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan potensi air tanah dangkal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Impact : Peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani. Monitoring dan Evaluasi 1. Agar lebih informatif dan komunikatif.

---------------. Departemen Pertanian. 2004. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. Jakarta. Proyek Pengembangan Sumberdaya. 4. D. 1994/1995. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Laporan Akhir. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. Jakarta. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Jl. 2010 Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. 2004. Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura. Jakarta. Gita Rencana Multiplan. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. 2010 23 24 23 24 . Laporan Akhir agar mengikuti outline             seperti pada Lampiran 5. Irigasi. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Dit. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2004. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. Taman Margasatwa No. 2002.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Petunjuk Teknis Pengembangan Pompa Air Tanah Dangkal.kegiatan). Ditjen Sumber Daya Air. Jakarta. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pertanian. PT.

PT. Garut Kab. 2010 26 25 26 . Jakarta. Bandung Kab. Tasikmalaya Kota Tasikmalaya Kab. Subang Kab. Jawa Tengah Kab. Hidrologi Untuk Pengairan. DITJEN PLA TAHUN 2010   No Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. Kendal 2 1 2 2 3 2 3 1 2 4 2 2 29 2 3 19 10 1 1 16 Sub Sektor Horti Bun Nak 3 1 1 1 Jumlah (Unit) 19 1 2 3 2 3 2 3 1 2 5 3 2 58 2 3 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pradnya Paramita. Jakarta. Bogor Kab. Ciamis Kab. Banyumas Kab. Sukoharjo Kab. Lebak Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jawa Barat Kab. Kensaku (editor). Sosrodarsono. 2003. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Suyono dan Takeda. Cirebon Kab. Bandung Barat 2 Prop. Serang 3 Prop.Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Banten Kab.

Banyuwangi Kab. Bener Meriah 7 Prop. DIY Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Bireun Kab. Jombang Kab. Tapanuli Selatan Kab. Dairi Kab. Grobogan Kab. Tuban 9 5 1 4 17 3 8 Prop Sumatera Barat Kab. Sumatera Utara Kab. Lamongan Sub Sektor Horti Bun 5 3 16 3 2 2 4 5 11 8 14 1 2 2 3 2 5 2 4 8 7 11 2 9 3 2 26 1 5 2 2 Nak Jumlah (Unit) 5 3 16 3 2 2 4 5 33 1 2 4 5 2 5 2 4 8 53 6 7 6 Prop. Tulungagung Kab. Jawa Timur Kab. Purworejo Kab. Blora Kab. Salatiga 3 2 10 10 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 10 5 5 2 5 7 10 5 4 2 5 6 3 2 3 3 7 3 4 4 8 38 5 1 1 1 3 11 2 3 11 2 3 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Pasaman 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gunungkidul Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gresik Kab. Pacitan Kab. 2010 28 27 28 . NAD Kab. Klaten Kab. Aceh Utara Kab. Rembang Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Pemalang Kab. Tanah Karo Kab. Situbondo Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Labuhan Batu Kab. Aceh Timur Kab. Kulon Progo 3 3 - 4 - 5 Prop. Kudus Kab. Pidie Jaya Kab. Simalungun Kab. Nias Selatan Kota Padang Lawas Utara 4 Prop. Agam Kab. 2010 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Langkat Kab. Mojokerto Kab. Pati Kab. Sampang Kab.

Muara Enim Kab. Jambi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lampung Selatan Kab. Sumatera Selatan Kab. 2010 30 29 30 . Pesisir Selatan Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Banyuasin Kab. Solok Selatan Kab. Solok Kab. Muaro Jambi Kab. Ogan Ilir Kab. Empat Lawang Prop. Kampar Kab. Riau Kab. Rokan Hulu Kab. Kerinci Kab. Lampung Kab. Sarolangun Kab. Indragiri Hilir Kab. Tebo Kab. Tanjab Timur Kab. Siak Kota Pekanbaru 4 4 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 1 3 3 3 10 8 7 2 4 3 4 10 1 3 10 Prop. Batanghari Kab. Kuantan Singingi Kab. Pelalawan Kab. Rokan Hilir Kab. Bengkalis Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Ogan Komering Ilir Kab. 2010 29 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Tanggamus - 15 26 3 45 3 4 9 Prop. Sijunjung 4 2 1 Sub Sektor Horti Bun 2 Nak 4 Jumlah (Unit) 6 2 10 11 2 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Pasaman Barat Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kab. Musi Rawas Kab. Tanjab Barat Kab. Muara Bungo 2 2 5 2 4 2 2 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 8 7 6 5 2 2 7 3 1 1 20 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 17 2 11 8 3 6 3 - 7 3 1 4 26 2 2 5 3 2 2 3 2 2 3 38 12 11 1 6 2 Prop. Musi Banyuasin Kab. Ogan Komering Ulu Kota Lubuk Linggau Kab. Indragiri Hulu Kab.

Kotabaru Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.No Prop/Kab/Kota TP Kab. 2010 31 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sulawesi Selatan Kab. Kotawaringin Timur Kab. Maros Kab. Jeneponto Kab. Gunung Mas Kab. Kalimantan Selatan Kab. Seluma Kab. Gowa Kab. Bengkulu Utara Kab. Penajam Paser Utara Kab. Tapin Kab. 2010 32 31 32 . Sulawesi Tengah Kab. Muko-Muko Kab. Kutai Kertanegara 14 Prop. Luwu Kab. Landak Kab. Bantaeng Kab. Murung Raya 17 Prop. Pesawaran Sub Sektor Horti Bun Nak 3 3 3 3 5 4 2 5 5 5 4 10 4 4 1 2 13 3 3 5 2 6 8 4 4 5 9 3 Jumlah (Unit) 3 3 17 6 5 4 2 5 5 15 8 4 3 13 3 3 5 2 14 4 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Sinjai Kab. Halmahera Selatan Prop. Bengkayang Kab. Sidenreng Rappang Kab. Kalimantan Barat Kab. Kapuas Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tanah Bumbu Sub Sektor Horti Bun 3 3 5 14 4 5 3 3 4 5 5 3 24 2 4 3 4 16 3 8 3 2 3 3 3 3 3 1 4 2 3 Nak Jumlah (Unit) 3 3 19 4 5 3 3 4 8 5 3 48 8 8 3 2 3 3 3 3 10 13 Prop. Kalimantan Tengah Kab. Sambas 19 Prop. Tana Toraja 16 Prop. Maluku Utara Kab. Barito Kuala Kab. Paser Kota Balikpapan Kota Samarinda Kab. Lampung Tengah Kab. Bengkulu Kab. Poso Kota Palu 15 20 Prop. Bengkulu Tengah 18 Prop. Kalimantan Timur Kab. Enrekang Kab.

Alor Kab. Ngada Kab. Bombana Kab. Sumba Tengah 23 Prop. Maluku Tenggara Barat Kota Tual 25 Prop. Pahowato Kab. Dompu Kota Bima Kab. Wajo 5 4 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 5 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Bone Bolango Prop. Bangli Kab. Kupang Kab. Sumbawa Barat 2 3 4 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 4 21 Prop. Lembata Kab. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Buleleng Kab. Kepulauan Riau Kab. Rotendau Kab. Wakatobi - - 2 6 2 3 4 2 2 2 2 5 3 3 18 26 5 2 17 2 2 5 2 3 3 4 3 5 5 1 5 5 3 5 3 10 3 6 4 2 7 6 5 66 2 7 2 3 16 4 11 5 5 1 5 5 2 2 8 3 5 9 3 3 3 3 1 2 15 5 10 6 10 7 1 3 3 2 9 3 9 16 4 10 - 2 2 17 6 8 3 3 1 2 25 5 20 13 1 7 3 2 37 27 22 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gorontalo Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Maluku Kab. Lombok Timur Kab. Bali Kab. Bintan Kota Batam 24 Prop. 2010 34 33 34 . NTT Kab. Bima Kab. Sumbawa Kab. Sumba Barat Daya Kab. Sikka Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Karangasem Kota Denpasar 26 Prop. Manggarai Barat Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lombok Barat Kab. Timor Tengah Utara Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Muna Kab. Lombok Tengah Kab. NTB Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Boalemo Kab. Sumba Barat Kab.

Papua Barat Kab. Fak-Fak Kota Sorong Kab. Sorong Selatan Jumlah Total   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 237 Unit Hortikultura Perkebunan Peternakan               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jayapura Kab. Mamberamo Tengah                   29 Prop. Manokwari Kab.No Prop/Kab/Kota TP Sub Sektor Horti 5 Bun 7 2 Nak 14 5 4 5 5 2 14 8 4 4 4 4 4 2 237 3 2 62 155 252 3 3 Jumlah (Unit) 26 7 4 8 5 2 26 4 7 4 7 4 706 28 Prop. Mappi Kab. Nabire Kab. 2010 : 62 Unit : 155 Unit : 252 Unit 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Papua Kab. 2010 36 35 36 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Biak Numfor Kab. Sorong Kab.

.2010                                                           Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA...A 2010 Lampiran 3   ... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..... 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. …………….. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA...Lampiran 2                                                                       CONTOH RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL TAHUN 2010 Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal T. 2010 38 37 38 .......

. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Rehab JIDES 3. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Irigasi Tanah Dangkal 5. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4.go. 2010 9..A. Pengelolaan Air 5. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi Tanah Dalam 6. Dam Parit 10..*) Kab/Kota ………………… 1. 5.go.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. Dam Parit 10.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. Form PLA. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. Sumur Resapan 11.. 3. 2010       39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.02   ` LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. Embung 9. Balai Subak 13. Dam Parit 10. 8.. TAM 4. : ……………………………. ………………………….. Pompa 8.. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Form PLA. : ……………………………. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 7.Lampiran 4. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Embung 9. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. 4. Rehab JITUT 2. Air Permukaan 7.. P I P 12. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Irigasi Tanah Dalam 6. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. 2.. Harsono RM No. : ……………………………. 2. : ……………………………. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH ……………………….. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. 3 Ragunan Jaksel.……………….id 3. Air Permukaan 7.. 4.. : …………………………….. : ……………………………. **) Coret yang tidak perlu ……………………….2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. : ……………………………. P I P 12. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.01 : ……………………………. Aspek Kegiatan 3 1. Sekolah Lapang 2 Dinas…………………….………….. P I P 12. : ……………………………. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. Sekolah Lapang Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                     Ctt: 1.. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Balai Subak 13. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa 8. 6.. ……………………. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Harsono RM No. : …………………………….id 3. 3. 2010 40 39 40 .1 Lampiran 4. Balai Subak 13. Sumur Resapan 11. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Sumur Resapan 11. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A.

. / Kg atau Rp. ………………………… 2010 ………………..4 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. 25. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten                         41 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 25.000. 25.000 = Rp.000. Dam Parit 10.…………. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.5 ton X 1. : ………………………………. c.03       Lampiran 4.5 = 750 ton …………. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. Rehab JITUT 2. : ………………………………. Irigasi Tanah Dalam 6. Air Permukaan 7.5 X 5 Ton = 1. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Rehab JIDES 3. : ………………………………. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. : ………………………………. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. 25.5 ton X 1.Lampiran 4.3 Form PLA.5 = 750 ton Catatan : 1. Embung 9. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 : ………………………………. Pompa 8. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Subsektor No.Sumur Resapan 11.. 25.. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.. Irigasi Tanah Dangkal 5. 2006.000 X 1. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ……………………………….250 ton b.250 ton b.go. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No.id 3 Manfaat harus terukur. 2007. 1 A. 1 A. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. 25.000. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.P I P 12. Harsono RM No.000 X 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.000.. c. contoh : a.000. contoh : a. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha.5 ton/Ha dan IP 150 %. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.id 3.5 X 5 Ton = 1. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.000 = Rp.. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.000. No. 2010 42 41 42 .go. …………………. 25. / Kg atau Rp. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. TAM 4.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Manfaat harus terukur. : ……………………………….Balai Subak 13. 2007.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2006. : ……………………………….…………..04 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA.5 ton/Ha dan IP 150 %. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Form PLA.

Lokasi (administratif dan koordinat) B. Pemecahan Masalah   III. Masukan C. Tujuan dan Sasaran   II. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PENDAHULUAN  A. Latar Belakang B. MANFAAT    V.  Lampiran 5   Outline Laporan Akhir I. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN  A. Masalah E. 2010 44 43 44 . KESIMPULAN DAN SARAN  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DAMPAK    VI. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tahap Pelaksanaan D. HASIL    IV.

Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah calon lokasi mudah diakses e. Juknis 3. Juklak 2. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Desain Sederhana a.Lampiran 6 Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah No.2. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dangkal b.1. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. I PERSIAPAN 1. Apakah sudah disusun desain . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 5. Calon Petani a. URAIAN KEGIATAN f. 2010 2 . Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Apakah RUKK sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Organisasi/kelembagaan 4. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak Ya/tidak 1 1 No. SID 4.3. Apakah ada potensi sumber air tanah dangkal c. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota d. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. RAB a.

Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain 2. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Apakah sudah dibuat laporan akhir KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum V PERTANGGUNGJAWABAN 5. Monitoring a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. URAIAN KEGIATAN e. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. PPK. Bendahara Pengeluaran 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.1. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. 2010 3 3 No. Apakah sudah dibuat pembukuan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5. Pelaporan a.4. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi 4.3. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. 2010 4 .2. 4. SK Tim Teknis /Koorlap KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada III PELAKSANAAN 1.No. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. SK KPA. Evaluasi URAIAN KEGIATAN a. Apakah mekanisme pencairan rekening kelompok melalui "contra sign" f. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.2. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5.1. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum IV MONEV DAN PELAPORAN 4.3. dalam pelaksanaan dan akhir) 5.

sehingga pasokan air untuk pertanian menjadi terbatas. tersimpan sebagai air tanah/air bawah tanah (ground water). danau. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Menyadari hal tersebut. dan peternakan adalah teladannya. Teladannya. tersebut Pengembangan irigasi air tanah dalam menjadi pilihan ketersediaan sumber air permukaan sangat terbatas sehingga secara teknis. 2010 1 2 . sehingga seringkali terjadi ketidaksesuaian antara yang diperlukan dan yang tersedia. pemerintah bersama masyarakat telah membangun berbagai fasilitas irigasi dengan berbagai sumber air irigasi. 1 Sedangkan untuk musim 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sebagian tersimpan dalam waduk. perkebunan. Secara praktikal. Kekeringan yang menyebabkan terjadinya kegagalan usaha pertanian. Curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dapat digunakan secara langsung untuk air irigasi. Keragaman ini seringkali sulit diprediksi dan diantisipasi akibat dinamika atmosfer yang luar biasa. pada musim kemarau.pasokan air sangat terbatas. pemanfatan air tanah untuk irigasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian : (a) sebagai suplesi pada saat terjadi kekurangan air dan (b) sebagai sumber air utama. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Keragaman curah hujan (rainfall variability) menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal) menyebabkan jumlah. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis basah. waktu dan penyebarannya curah hujan berbeda antar wilayah dan antar waktu. Salah satu sumber air irigasi potensial yang belum optimal digunakan adalah yang pemanfaatan menjanjikan sumber apabila air di tanah lokasi dalam. sosial dan ekonomi tidak layak dilakukan. A. 2010 relatif tetap. maka curah hujan merupakan sumber air andalan utama untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. di lahan usahatani dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah. Pemanfaatan air irigasi sebagai suplesi umumnya dilakukan pada musim hujan (MH) dan musim kemarau pertama (MK1) pada saat terjadi kekurangan air baik di lahan tadah hujan maupun lahan kering. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sementara kebutuhannya BAGIAN II PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM I.

Meningkatnya produksi usaha tani melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian khususnya pada lahan kering dan lahan tadah hujan dalam upaya C. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas kira-kira 130 ha. Akuifer : lapisan batuan jenuh air tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah : a. Tujuan dan Sasaran 1. hortikultura. 2010 4 3 4 . 2. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. d. Berkurangnya kegagalan usaha tani karena kekurangan air irigasi/kekeringan. Pengertian 1. Air tersebut terdapat dalam ruang pori dalam lapisan tanah atau batuan yang mengandung air jenuh yang disebut akuifer. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. perkebunan. dan peningkatan produktivitas usaha tani. Terbangunnya irigasi air tanah dalam sebanyak 13 unit (alokasi kegiatan berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada Lampiran 1). luas areal tanam. 3. d.   B. 2010 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.kemarau dan MK2 umumnya digunakan sebagai sumber air utama. 2. mendukung usaha pertanian tanaman pangan. Meningkatkan ketersediaan air pada kawasan pakan ternak. a. b. c. Meningkatkan kualitas produk pertanian dan pendapatan petani. dan peternakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Air Tanah Dalam : air yang berada di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah dengan kedalaman > 60 meter. b. c.

pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. dan pembuangan pertanian. penyaluran dan pembagian. tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan. Cekungan Air Tanah : suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis. 6. 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.4. 8. Irigasi : usaha penyediaan. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi permukaan. irigasi air tanah. di atas. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumur bor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. dan 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. 2010 10. pengambilan. irigasi rawa. irigasi tambak. di atas. 11. 5. ataupun di bawah permukaan tanah. garis bujur dan ketinggian di atas permukaan laut. pengaturan. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. 9. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 6 5 6 . Sumber Air Irigasi : tempat/wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. Sumur bor produksi air bawah tanah : sumur bor yang dibuat untuk mengambil air bawah tanah pada atau lebih lapisan ekuifer tertentu. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

II. Selain kegiatan itu. Mempunyai kedalaman potensi lebih sumber 60 air meter tanah di pada bawah dari permukaan tanah. maka sebelumnya perlu dilakukan SID (termasuk survei geolistrik. dll). jenis komoditas yang sesuai untuk dikembangkan. atau air permukaan tidak mencukupi kebutuhan airnya. 2. kesediaan petani dalam melakukan OP. waduk. khususnya sejak tahap pengeboran sampai selesai konstruksi. danau. Informasi tentang potensi dan kondisi air tanah di suatu wilayah dapat diperoleh dari dokumen atau peta yang terdapat di instansi seperti Dinas Pertambangan. Lokasi pengembangan diutamakan lahan kering atau tadah hujan dimana pada musim kemarau tidak terdapat sumber air permukaan (sungai. konsultan atau kontraktor. dapat dihindari. perlu memilih/menunjuk yang pelaksana dan A. pertimbangan Sedangkan dana atau yang kelengkapan data dan informasi bagi pengembangan digunakan untuk melaksanakan SID merupakan dana yang berasal dari daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan ke daerah). PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM Dengan pertimbangan teknis pengembangan yang relatif sulit dan biaya yang relatif tinggi. 2010 (kontaktor) bermutu berpengalaman dalam pengembangan irigasi air tanah dalam sehingga kegagalan sejak tahapan pengeboran Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. yaitu: (a) pemilihan lokasi dan (b) persyaratan petani dengan kriteria tertentu sebagai berikut : Persyaratan Lokasi 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. salah satu syarat penting yang harus dipenuhi apabila suatu lokasi akan diajukan/dipilih sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan lain-lain). terdapat dua faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan irigasi air tanah dalam agar dapat berhasil dengan baik. Secara umum. 2010 Pada lahan irigasi 8 yang telah memiliki jaringan irigasi namun airnya 7 7 8 . dan lain-lain yang akan digunakan irigasi air sebagai tanah dasar dalam. Daerah (kabupaten/kota) yang melakukan pengembangan irigasi air tanah dalam diwajibkan untuk menunjuk seorang pendamping dari dinas pelaksana yang bertugas mengawasi pelaksanaan pembangunan (konstruksi) irigasi air tanah dalam tersebut. Dinas PU.

2010 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. tani/P3A/P3AT Kelompok atau bersedia apabila tani/P3A/P3AT dibangun irigasi air tanah dalam. menyediakan pernah dana memelihara/merawat operasional dan pemeliharaan. 2010 10 9 10 .tidak mencukupi dapat dibangun irigasi air tanah dalam. Belum sejenis. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Lahan usaha yang akan diairi merupakan lahan milik petani. B. 3. terutama komoditas perkebunan dan peternakan. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan pada musim kemarau. mendapatkan bantuan/kegiatan                 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Calon lokasi tidak terdapat sumur air tanah dangkal yang sudah dimanfaatkan untuk mengairi lahan usaha tani atau tidak direncanakan untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Usaha tani yang dikembangkan adalah tanaman pangan. Petani di lokasi memerlukan adanya irigasi air tanah dalam dan bersedia memanfaatkan serta memelihara/merawat dengan baik. Mampu dan 5. Diutamakan bagi petani yang telah membentuk Kelompok membentuk 4. namun tidak mengalami kebanjiran pada musim hujan. Pemerintah Daerah mendukung kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam dan apabila petani belum mampu menyediakan dana operasi dan pemeliharaan bersedia menyediakan dana operasi dan pemeliharaan sampai tahun ke 2. Persyaratan Petani 1. perkebunan. 2. 7. 6. mengoperasikan. dan peternakan (skala ekonomis dengan memperhitungkan jumlah minimal ternak) 5. Petani berinisiatif untuk mengusahakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi. hortikultura. 4.

  1. Sumur Untuk memanfaatkan dahulu sumur harus sebagai dapat sumber dibuat tempat Sumur 11 tersebut dibuat dengan cara pengeboran dengan kedalaman air tanah dalam dari permukaan tanah > 60 m. 2. 2010 air tanah dalam terlebih pengambilan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gambaran rinci masing-masing komponen diuraikan pada bagian berikut ini. dalam Minimal ada 3 (tiga) komponen utama dan 1 pengembangan (c) irigasi rumah air tanah dalam. (satu) komponen penunjang yang perlu diperhatikan Komponen utama : (a) sumur (b) pompa air dan perlengkapannya pompa. pipa cassing. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak tenaga diesel. bensin. pompa dan turbin. A. maka diperlukan upaya pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya ke permukaan tanah serta penyaluran ke lahan usaha tani. pompa umumnya pompa sentrifugal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pipa jambang. dan lain-lain. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.  III. Pompa Air dan Perlengkapannya Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah ke permukaan tanah. selang pembuang. Komponen penunjang bila memungkinkan adalah Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). atau motor listrik. pompa Jenis yang biasa digunakan submersible disesuaikan dengan kebutuhan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM Komponen Irigasi Air Tanah Dalam Untuk mendayagunakan air tanah dalam sebagai sumber air irigasi. 2010 12 11 12 . Perlengkapan yang diperlukan agar pompa air agar dapat berfungsi mengangkat atau mengambil air dari dalam tanah antara lain selang dan pipa hisap.

Pembangunan secara terutama ditujukan untuk pompa dan atau mesin penggerak/genset yang berukuran besar dan dipasang menetap (stasioner). Rumah Pompa/Genset Pompa untuk air tanah dalam atau genset pompa air tanah dalam biasanya berukuran besar sehingga pompa/ genset diletakkan secara permanen (tidak bersifat mobile). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Untuk melindungi pompa air serta motor penggeraknya/genset dari gangguan pencurian dan pengaruh cuaca rumah yang pompa dapat menyebabkan permanen     Rumah Pompa/Genset Air Tanah Dalam kerusakan lebih dini perlu dibuatkan rumah pompa. bangunan pengukur debit dan katup penutup yang berfungsi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dari air untuk bak penampung. 4. 2010 14 13 14 . Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usaha dibuat/dibangun jaringan tanah terdiri irigasi (JIAT). 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.3. padi sawah umumnya saluran. pengatur berupa pintu dan boks bagi. bangunan tani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peternakan. 2010 15 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur : Sumur bor Kedalaman sumur : > 60 meter .                    Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) disesuaikan dengan kebutuhan. B. Untuk komoditi perkebunan. Potensi air tanah yang tinggi. Pompa : tipe submersibel atau turbin. disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer tertekan.untuk mengatur arah aliran dalam pipa/jaringan irigasi. Kriteria Teknis a. Untuk mengurangi kehilangan air dalam penyaluran. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Debit output pompa minimal 10 liter/detik Box pembagi tipe jaringan perpipaan Box pembagi Katup outlet b. dan tanaman pangan lainnya JIAT hortikultura JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. 2010 16 15 16 . Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Rumah pompa : bangunan permanen. Bahan. tersedia suku cadang. ukuran dan jumlah disesuaikan dengan kebutuhan. ukuran disesuaikan dengan kebutuhan. dan mesin yang diadakan adalah memiliki jaminan kualitas seperti Standard Nasional Indonesia (SNI). Pipa-pipa : sesuai dengan debit air : motor diesel atau bensin saluran terbuka atau perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.kapasitas debit motor penggerak atau tenaga listrik. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mudah dioperasikan. 2010 disesuaikan dengan debit air 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. bahan dari besi atau PVC diutamakan yang telah memiliki/memenuhi SNI. minimal yang telah ditentukan. lantai dasar cukup kuat menahan beban dan getaran mesin. disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan lokasi. Jaringan irigasi/distribusi : terdiri dari box-box bagi dan saluran. cukup kuat/tahan getaran mesin. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan dapat diterima petani setempat. mudah dipasang. kapasitas minimal. c. f. Bak penampung/distribusi : konstruksi beton. mudah dalam perawatan. d. peralatan. 2010 18 17 18 . e.

(b) (e) konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dalam. Survey Investigasi a. pembinaan. dan (g) pembiayaan. b. Survei investigasi dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi. Survei potensi air tanah dalam           Contoh Hasil Geolistrik : Potensi Air Tanah >130 m (130­160 M)  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. (f) pemanfaatan. dan jenis komoditas yang sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dalam. Calon lokasi. petani. paling tidak ada beberapa hal penting yang harus diperhitungkan dalam pengembangannya : (a) survei dan investigasi dan desain (d) (SID). 2010 19 20 19 20 . Survey Investigasi dan Desain Sederhana Survey investigasi dan penyusunan desain sederhana dapat dilaksanakan secara swakelola oleh petugas Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait di daerah seperti dinas yang menangani bidang pengembangan air tanah yaitu Dinas Pertambangan (untuk mendapatkan data/informasi dan perizinan) dengan melibatkan petani penerima manfaat.   dapat dilakukan dengan survey “geolistrik”. pelatihan. PELAKSANAAN Untuk mengoptimalkan pengembangan irigasi air tanah dalam. 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. petani. baik dari segi teknis maupun sosial. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan jenis komoditas yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dalam.IV. Contoh  Pendugaan  Potensi  Air  Tanah  Dengan  Menggunakan  Metoda GEOLISTRIK Pada Kedalaman < 100 m (40­100 m)                            A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. (c) operasi pemeliharaan.

jaringan 3.                                c. desain rumah pompa. dan mesin 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. letak/ lokasi sumur. kedalaman sumur. Laporan hasil survey investigasi paling tidak memuat : Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. Kondisi usaha tani dan jenis komoditas yang layak dikembangkan. Potensi air tanah dalam untuk irigasi. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dalam Rancangan/desain sederhana irigasi air tanah dalam. 2010 Kondisi prasarana dan sarana irigasi. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kebutuhan bahan. 2. meliputi kedalaman dan debit andalan (peta hidrogeologi dan pengujian geolistrik). peralatan. Permasalahan dalam usahatani. sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). lokasi rumah pompa. 2010 22 21 22 . Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan desain ini adalah agar air tanah dalam yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan irigasi yang akan dibangun.

2010 24 23 24 . Kebutuhan Anggaran/Rencana Kebutuhan Biaya (RAB) Mencakup perkiraan kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan. Konstruksi/Pengembangan irigasi air tanah dalam dilaksanakan secara kontraktual. Dengan diketahuinya debit air/sumur dan luas oncoran (command area). 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Beserta Perubahan-perubahannya. antara lain Keputusan Presiden No. pengembangan sumur. Penunjukan pelaksana pengembangan irigasi air tanah dalam berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku. jumlah spesifikasi kebutuhan pipa-pipa. 6. 5. Berdasarkan kedalamam dan potensi air tanah. 3. perlu dilakukan pengukuran terhadap kapasitas atau debit air yang keluar (lt/menit atau lt/detik). dan jaringan irigasi. peralatan. spesifikasi rumah pompa. maka pihak Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. perlu dilakukan uji pemompaan (pumping test) minimal 2 x 24 jam. dan mesin yang diperlukan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan. B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka dapat ditentukan jenis pompa dan mesin penggerak serta perlengkapan pipa-pipa maupun desain jaringan irigasi air tanahnya/jaringan distribusi. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dan dapat ditentukan spesifikasi pompa air. 2010 23 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peralatan. rumah pompa. spesifikasi motor penggerak pompa. pompa air dan perlengkapannya. Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam 1. Perkiraan kebutuhan biaya dijadikan dasar dalam penyusunan harga perkiraan sendiri. Untuk mendapatkan hasil pengeboran air tanah dalam yang optimal. Jika dalam pengembangannya ternyata secara tidak sengaja atau sengaja akibat telah seperti menyebabkan/menimbulkan kebutuhan bahan. munculnya lumpur dan atau gas beracun dan lainlain selama dalam proses pengeboran. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui tinggi muka air tanah yang statis/tetap (Static Water Level/SWL).Berdasarkan hasil SID akan dapat diketahui 2. 4. 4. pemasangan pipa-pipa. Pada saat pelaksanaan uji pemompaan.

Pembinaan 1. melaporkan kejadian tersebut ke dinas terkait Pertambangan) untuk penanggulangan dan tindak Operasi dan Pemeliharaan 1. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan pompa air irigasi dan jaringan irigasi air tanah dan serta pelatihan usahatani. petani/kelompoktani P3A penerima D. Pembinaan terhadap peserta penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/ Kota secara berkelanjutan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pasca panen. 2. panen. secara resmi pengelolaannya (Operasi dan petani/kelompoktani (Contoh Berita Acara dapat dilihat pada Lampiran 2). Pelatihan 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani penerima manfaat. Besarnya iuran pelayanan irigasi ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok.pelaksana (Satker/Dinas lanjut. pemerintah daerah/satker (Kab. 2. Pemeliharaan) telah diserahkan Dengan kepada demikian. pengolahan. teknis budidaya. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dalam dilaksanakan oleh pihak ketiga (pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah). 2010 26 25 26 . untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas irigasi yang telah dibangun. dan jaringan irigasi air tanah dalam diserahkan kepada manfaat. F. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemanfaatan Setelah konstruksi selesai. kegiatan/kontraktor lingkup Pertanian diharuskan dan Dinas E. 3. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pemilihan komoditas yang diusahakan. rumah pompa. dan pemasaran hasil. C./Kota) diharuskan membuat suatu Berita Acara tentang Serah Terima Pengelolaan dari dinas kepada petani. Operasi dan Pemeliharaan pompa.

2010 MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran berikut : untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah sebagai A. Kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi.V. Dengan pertimbangan biaya untuk investasi. dan pembinaan dibebankan pada anggaran APBD Propinsi. operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam yang cukup tinggi. pengadaaan pipa-pipa. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. rumah pompa.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. usahatani dan B. Benefit : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usahatani dengan memanfaatkan dalam. jaringan irigasi/ distribusi. G. 1. Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dalam dipergunakan untuk pembuatan sumur dalam. 2. APBD Kabupaten/Kota. survei investigasi & desain (SID). Monitoring pengembangan irigasi air tanah dalam dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. potensi air tanah 4. 2010 28 27 28 . 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Output : Terbangunnya irigasi ir tanah dalam 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Impact : Peningkatan produksi pendapatan petani. I. Monitoring dan Evaluasi 1. pompa air dan mesin penggeraknya. dan/atau partisipasi masyarakat. maka pemanfaatannya harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin. Pembiayaan 1. Outcome : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan dalam potensi air tanah 3. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3.

4. berisi kemajuan pelak-sanaan kegiatan sampai bulan berjalan. C. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan ke-giatan yang disusun setiap bulan. 2010 30 29 30 . propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. Terdapat 2 (dua) jenis laporan yang harus dibuat. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Akhir agar dilengkapi Laporan dengan SID dan dokumen-dokumen Kontrak serta seperti foto-foto 29 dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. 2.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air Jl. Taman Margasatwa No. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas Pertanian Propinsi dengan tembusannya disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat Pengelo-laan Air). D. Evaluasi dilakukan secara berkala oleh Satker Dinas di Kabupaten/Kota. 3. 4. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. Laporan Akhir agar mengikuti outline seperti pada Lampiran 5. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dalam selesai.4 (diisi di tingkat Propinsi). dan Pusat. Satker Dinas di Propinsi. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan). yaitu Laporan Bulanan dan Laporan Akhir. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dalam. Pelaporan 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal.3 dan 4. Agar lebih informatif dan komunikatif.2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. Laporan Bulanan disusun mengacu pada Lampiran 4. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif.2 (diisi di tingkat Kabupaten/Kota) serta 4.1.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Peta dan data tersebut sebagai gambaran awal apakah daerah/lokasi yang akan dipilih merupakan lokasi/wilayah/titik pengeboran yang memiliki potensi air tanah untuk Irigasi Tanah Dalam. Dari dua langkah diatas sudah dapat gambaran apakah daerah/lokasi yang diinginkan ada potensi atau tidak untuk pengeboran irigasi tanah dalam. Kemudian yang tak kalah penting karena proses Pertambangan/ESDM pengeboran relatif sulit maka. di kedalaman-kedalaman tertentu dengan debit-debit tertentu yang mana sebagai dasar apakah titik-titik yang diinginkan untuk pengeboran irigasi tanah dalam dapat dilaksanakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kemudian untuk menentukan titik-titik pengeboran dilakukan dengan uji Geolistrik. juga Biasanya di daftar Dinas rekanan/kontraktor terdapat setempat atau propinsi. Dinas ini mempunyai data base dan peta-peta seperti Peta Geologi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. apakah potensi air tanahnya bagus (studi kasus/pertimbangan).atau tidak Umumnya kedalaman untuk 31 Pertambangan/ESDM setempat atau propinsi. harus dimilih kontraktor pengeboran yang sudah ahli dan berpengalaman dalam pengeboran irigasi tanah ini dalam. Dari hasil uji geolistrik ini akan didapat dugaan potensi air tanah di lapisan aquifer tertekan. 2. Geohidrologi. Peta Cekungan Air Tanah.LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA TITIK LOKASI PENGEBORAN 1. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4. 2010 32 31 32 . dll. Melihat sumur-sumur atau irigasi tanah dalam di sekitar daerah/lokasi yang diinginkan untuk titik pengeboran. Berkoordinasi dengan Dinas UNTUK MENENTUKAN menemukan lapisan aquifer tertekan ini lebih dari 60 m.

Jakarta. Cianjur Kab. 2010 34 33 34 . Kampar 5 Prop.DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Hidrologi Untuk Pengairan.         Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. 2004. Suyono dan Takeda. Departemen Pertanian. Jakarta Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Riau Kab. 2004. Departemen Pekerjaan Umum. Jawa Timur Kab. 2002. Kensaku (editor). Jawa Barat Kab. Pradnya Paramita. Madiun 4 Prop. Gita Rencana Multiplan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Bangli Jumlah Total 2 1 7 1 1 1 1 3 1 4 4 3 3 2 2 1 Horti 1 1 Bun Nak 2 1 1 4 4 3 3 2 2 1 1 1 1 13 Jumlah (Unit)   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 2 Unit Hortikultura Perkebunan : 1 Unit : 7 Unit Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Pati 3 Prop. Jawa Tengah Kab. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Departemen Pertanian. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi. Sosrodarsono. Bandung Barat 2 Prop. Ditjen Sumber Daya Air. Jakarta. PT. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Jakarta. Dit. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Sumatera Selatan Kab. Jakarta. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PT. Banyuasin 6 Prop. 2004. ---------------. DITJEN PLA TAHUN 2010   Sub Sektor No Pusat/Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. Bali Kab. Laporan Akhir. 2003. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

.............. ................... ...... dengan spesifikasi sebagai berikut : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..... Bertindak untuk dan atas nama Kelompok tani …………………………….. : Ketua Kelompoktani ……………………… : Jl... Kec………………. Kab………………… Prop………………… : Jl... dan………………………………. 2010 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA....... Desa …………........ Kabupaten …………… Propinsi ………………….............. Bulan ………………… Tahun dua ribu ………........ Pada hari ini ……… Tanggal ………….... yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.............. : Kepala Dinas …………………………………. 2010 36 35 36 .. PIHAK PERTAMA menyerahkan pengelolaan ……………………… ……………………………………………………………………………… kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima alat tersebut dari PIHAK PERTAMA sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama/Kontrak Kerja antara ……………………………………... Nama Jabatan Alamat : ……………………………. . ……………………………………………… ………………………………………………… ………………………………………………… Bertindak untuk dan atas nama Dinas …………………………………...... yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA......Nomor ………………………………..... 2..... A 2010   BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN No.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Peternakan : 3 Unit Lampiran 2 Contoh Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Irigasi Tanah Dalam T........ Nama Jabatan Alamat : ……………………………………………....... kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1..... tanggal ………………… dalam kondisi lengkap dan dapat dioperasionalkan dengan baik.............

2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.………2010               PIHAK KEDUA Ketua Kelompoktani .... NIP... ……………………………………..A 2010   Lampiran 3 Demikian Berita Acara Serah Terima Pengelolaan ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebaik-baiknya.... . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Spesifikasi alat/barang Spesifikasi alat/barang Dst…..1... ………………………………….. Dst….. …………………………………….           …………………………….                     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. 2.         …………………... Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam T. 2010 38 37 38 ... PIHAK PERTAMA Kepala Dinas …………….. 4..

Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A. TAM 4. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. Dam Parit 10. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.…………. Balai Subak 13. : …………………………….*) Kab/Kota ………………… 1. Harsono RM No. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. 8. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Sumur Resapan 11. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.go. Air Permukaan 7.. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. Sumur Resapan 11. Embung 9. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.go. Irigasi Tanah Dangkal 5.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. 2. Balai Subak 13. 5. : ……………………………. P I P 12.2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 : ……………………………. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. 2010                 39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. : ……………………………. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. ………………………….. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas…………………….. 7.A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 40 39 40 . Sumur Resapan 11. Rehab JITUT 2. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. P I P 12.. : ……………………………. 4. Irigasi Tanah Dalam 6.. ……………………. : ……………………………. Rehab JIDES 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. Dam Parit 10. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 2010 Ctt: 1. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Form PLA. Balai Subak 13..01 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No.02 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.id 3. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. : ……………………………... Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. : ……………………………. 3. : ……………………………. Lampiran 4. Pompa 8. Embung 9. **) Coret yang tidak perlu ……………………….1 ` Form PLA. 6. 3 Ragunan Jaksel. Irigasi Tanah Dalam 6. 4.………………... Air Permukaan 7.Lampiran 4. 3.. Pompa 8. Aspek Kegiatan 3 1.. P I P 12.. Pengelolaan Air 5.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. : …………………………….id 3.. Sekolah Lapang ………………………. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. Harsono RM No. 2.. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2.. Dam Parit 10. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH 9.

Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. 2010   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.…………. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.5 X 5 Ton = 1. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 25.id 3 Manfaat harus terukur. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.000. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Subsektor : ……………………………….Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. : ……………………………….000.000 X 1.000 = Rp.5 ton/Ha dan IP 150 %. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Harsono RM No. Manfaat harus terukur.go.………….000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.Sumur Resapan 11. Rehab JIDES 3.P I P 12. : ………………………………. 1 A. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.000. 2006. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. contoh : a..000.5 ton X 1. Air Permukaan 7. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ……………………………….. 2006. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.250 ton b.000 X 1. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. : ………………………………. Harsono RM No. 25. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0..250 ton b. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. 25.5 ton X 1. TAM 4. Irigasi Tanah Dangkal 5.5 X 5 Ton = 1. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. / Kg atau Rp. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha..Balai Subak 13.go. 25. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 25. : ………………………………. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. : ………………………………. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. c.4 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. / Kg atau Rp. 2007. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 No.. Dam Parit 10.. ………………………… 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten           41             Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.     Form PLA. 1 A. c.. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.000 = Rp. 2010 42 41 42 .5 = 750 ton Catatan : 1. contoh : a.id 3.5 ton/Ha dan IP 150 %. 2007.3 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. : ……………………………….000. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1.03 Form PLA.   Lampiran 4. Irigasi Tanah Dalam 6. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.. Pompa 8. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Embung 9. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.04 No. 2010 ………….000. Rehab JITUT 2..Lampiran 4.5 = 750 ton ………………. 25. ………………….

2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemecahan Masalah III. Masukan C. Tahap Pelaksanaan D. Latar Belakang B. Tujuan dan Sasaran II. Masalah E. KESIMPULAN DAN SARAN Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PENDAHULUAN A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DAMPAK VI. HASIL IV. PELAKSANAAN A. Lokasi (administratif dan koordinat) B.      Lampiran 5 Outline Laporan Akhir   I. MANFAAT V. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 44 43 44 .

Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c.2. Juklak 2. Calon Petani a. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 82 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. I PERSIAPAN 1. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak 81 81 No. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Apakah ada potensi sumber air tanah dalam c. RAB a. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Juknis 3. 5.Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Lampiran 6 No. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. SID 4.3. Desain Sederhana a. Organisasi/kelembagaan 4. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dalam b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat f. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. 2010 82 . Apakah calon lokasi mudah diakses Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d.1. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah sudah disusun desain . URAIAN KEGIATAN e. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Evaluasi a.2. Uji Pemipaan e. Proses tender 12. Pemasangan pipa-pipa casing d. 2010 84 . Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. Mobilisasi alat b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring 4. RKS dan HPS 11. Pembangunan JIAT URAIAN KEGIATAN f. SK Tim Teknis /Koorlap 9. Pemasangan pompa Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 83 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain a. PPK. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3.1. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. SK Pemeriksa 10. g. Bendahara Pengeluaran 7.No. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Ya/tidak Sudah/belum III MONEV DAN PELAPORAN 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. URAIAN KEGIATAN f. 2010 83 No. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. SK KPA. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Kontrak pekerjaan KETERANGAN Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada sudah/belum Ada/tidak ada II PELAKSANAAN 1. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 84 Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. SK Penetapan Panitia barang dan Jasa 8. Monitoring a. Pembangunan rumah pompa 2. Pengeboran c. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c.

82" 96° 34' 38.22" 98° 17' 16.46" 96° 40' 54.68" 5° 15' 49. Pelaporan URAIAN KEGIATAN KETERANGAN a. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum.04" 96° 34' 56. 2010 86 86 . CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Timur A.84" 5° 1' 41.16" 5° 8' 4. Kabupaten Aceh Tengah 2.24" 5° 15' 56. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.23" 97° 1' 9.37" 4° 36' 5. Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Pidie Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.15" 4° 48' 8. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c.84" 96° 11' 54.13" - 5° 39' 37. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5.31" 96° 52' 14.3.1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.62" 4° 49' 57. 4.64" 4° 34' 58.137" 4° 10' 45.19" - 95° 51' 34. Kabupaten Aceh Tengah 2.13" 4° 30' 41. Kabupaten Aceh Besar 2. 2010 85 85 Lampiran 7 DAFTAR CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA   NO.No. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Langsa.4.49" 3° 31' 15.89" 96° 59' 1. Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Barat 2.81" 97° 46' 41.77" 96° 9' 41.72" 4° 48' 20.44" 5° 16' 30. NAD B.78" 95° 48' 41.87" 4° 56' 33. Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.88" 1470 619 4500 281 310 1198 500 292 2913 853 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.66" 5° 15' 25.31" 96° 12' 47. dalam pelaksanaan dan akhir) 5. Kabupaten Pidie 2.2.3. Apakah sudah dibuat laporan akhir IV PERTANGGUNGJAWABAN 5.18" 4° 22' 13.16" 96° 36' 35. Kabupaten Pidie 3. Apakah sudah dibuat pembukuan Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b.34" 95° 42' 55. Kabupaten Aceh Utara 2. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.69" 96° 23' 5. Provinsi Sumatera Utara KETERANGAN b x x x x x x x x x x c d 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Banda Aceh Sigli Meulaboh Kemiki Jeunib Peudada Lampahan Telege Lhokseumawe Langsa 95° 14' 13.41" 97° 47' 15.31" 96° 51' 14.66" 4° 33' 48. Kabupaten Aceh Tengah 2. Kabupaten Pidie 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.73" 5° 12' 16. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.14" 5° 31' 18.13" 97° 0' 14.

18" 99° 13' 32.82" 211 242 225 240 2825 217 x x x x x x 31 Jambi-Dumai 100° 45' 27. Kabupaten Langkat 2. Kabupaten Tobasamosir 2.96" 98° 59' 42.99" 97° 31' 50.05" 99° 24' 33. Kabupaten Pasaman 2. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman A.36" 183 269 351 14 Sibulus Salam 97° 35' 46.58" 2° 45' 33.90" 99° 0' 58.65" 98° 54' 28. Kabupaten Tapanuli Selatan B.16" 1° 11' 7.56" 1° 14' 55.18" 2° 5' 42.81" 98° 40' 50. Provinsi Sumatera Utara x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Deli Serdang 3.06" 1° 15' 44. Kabupaten Rokan Hilir 3.60" 97° 12' 55.30" 0° 5' 25. Kabupaten Indragiri Hulu 7. Kabupaten Pelalawan 6. Kabupaten Labuhan Batu 2.95" 99° 59' 35. Kabupaten Tanahdatar KETERANGAN b c d 25 26 27 28 29 30 Banjarampa Panyambungan Pasaribuhuan Padangsidempuan Natal-Ujunggading Lubuksikaping 99° 3' 43. Kabupaten Tapanuli Selatan A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.90" 0° 33' 29.14" - 98° 48' 27.53" 99° 35' 16.91" 1° 57' 30. Kabupaten Rokan Hullu 3.88" 98° 5' 16.11" 0° 0' 0.89" 69776 x 32 Padang-Pariaman 99° 41’15. Kabupaten Rokan Hilir 2.18" - 104° 39' 38.40" 3° 42' 0.99" 99° 50' 38.85" - 2° 20' 29.87" 0° 47' 3.71” 5331 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.70" - 98° 27' 50.94" - 100° 8' 54.44" 0° 53' 18.26" 1° 39' 7. Kabupaten Bengkalis 4. 2010 88 88 . Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan B.80" 3632 15 Medan 98° 6' 40. Kabupaten Karo 5.70" 2° 25' 16.62" - 3° 55' 8.47" 99° 5' 40.17" 97° 28' 42.45" 2° 55' 5.80" 3° 13' 15. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Barat 1.56" - 99° 15' 7.03" 0° 58' 11.58" 2° 11' 18. Provinsi Jambi 1.12” - 100° 34’ 41.81" 2438 648 483 875 42 20 17 795 21799 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan A.21" 99° 36' 44.15" 97° 56' 25. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara B.37" 99° 1' 31.34" 97° 2' 35.47" 99° 29' 54. Kabupaten Sidikalang 2. Kabupaten Pelalawan 6. Kabupaten Siak 5. Kabupaten Siak 5. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Kabupaten Langkat KETERANGAN b c d 11 12 13 Siongol-ongol Kotafajar Kutacane 97° 35' 23. Kabupaten Padang Pariaman 3.66" 1° 28' 12.51" 1° 47' 34.89" 99° 48' 19.NO. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2.53" 2° 18' 13.05" 97° 29' 1. Kabupaten Asahan 4. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara 1.63" 1° 11' 52. Kota Medan Provinsi Sumatera Utara 1.23" 0° 45' 26.52" 97° 23'15.13" - 2° 59' 11.77” - 0° 21’ 30. Kabupaten Tanjung Jabung Timur C. Kabupaten Kampar Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan A.91" 102° 32' 3.19" - 97° 43' 16. Kabupaten Simalungun 6. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 1.69" 97° 44' 39. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.98" 99° 7' 51.31" 1° 7' 15.38" 100° 13' 5. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Karo A. Provinsi Riau 1. Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Tapanuli Tengah 2.38" 1° 26' 58.46" 2° 40' 43. 2010 87 87 NO.98" - 1° 15' 6.23" 2° 19' 46.78" - 3° 1' 26. Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Indragiri Hilir B.88" 1° 59' 22.38" 3° 5' 45.79" 98° 42' 36.13" -0° 43' 48.98" 99° 47' 38. Kota Dumai 2.60" 1° 12' 17. Provinsi Riau 1.26" -2° 0' 1.42" - 4° 7' 39.306" 19786 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Sidikalang Samosir Porsea-Prapat Tarutung Gunungsitoli Lahewa Sirombu Kuala Batangtoru Pekanbaru 98° 8' 51.35” -1° 0’ 28. Kabupaten Padang 4.70" 2° 43' 18.63" 97° 15' 19.18" 3° 34' 24. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan B.26" 0° 47' 27.69" 0° 58' 8. Kabupaten Bengkalis 4.71" 98° 47' 33. Kabupaten Bukittinggi 5.

8” 6975 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.82” - 101° 45’ 8. Kabupaten Sorolangun Bangko 2. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musirawas Provinsi Jambi 1. Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong C.91” - -0° 33’ 1. Kabupaten Limapuluh Kota 2.82” -0° 9’ 29. Kabupaten Musirawas 2.35” - 106° 5’ 54.89” - 105° 0’ 49. Kabupaten Bungo Tebo B.46” - 101° 42’ 54. Kabupaten Bungo Tebo 2. Kabupaten Sungai Penuh 2.21” - -1° 49’ 19. Kota Solok 2.48” -0° 30’ 2. Provinsi Sumatera Barat 1.62” - 103° 37’ 56.88” -2° 12’ 27. Kabupaten Ogan Komering Ilir D. Kabupaten Musi Banyuasin 2.76” -0° 0’ 9.65” -1° 0’ 12.87” - -2° 46’ 3.97” - 101° 57’ 1. Provinsi Jambi Kabupaten Muara Bulian A.27” 1794 x 47 Lubuklinggau-Muaraenim 102° 36’ 4. Kota Bukit Tinggi 2. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara Provinsi Bengkulu 1.31” - 103° 6’ 31.81” - 100° 46’ 21.11” -0° 2’ 54. Kota Payakumbuh 3. 2010 90 90 .20” 668 35 Alanglawas 100° 38’ 31.61” -1° 45’ 10.4596” - 102° 7’ 34. Kabupaten Tanah Datar 4.37” 6702 x 44 Muaratembesi 102° 50’ 25. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.60” - -2° 19’ 45. Provinsi Sumatera Selatan 1.58” - 100° 38’ 35. Kabupaten Bukit Tinggi 3. Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Sorolangun Bangko A. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko B.29” - -3° 23’ 46.24” -0° 17’ 53.96” -1° 7’ 53.NO.71” 1534 x 45 Karangagung 103° 21’ 0.14” 2915 39 Muarabungo 101° 27’ 20.76” -0° 19’ 43.80” - 100° 51’ 17.57” - 100° 51’ 14. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Sawahlunto B. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko A.98” -2° 27’ 21. Kabupaten Kampar A. LOKASI a Kabupaten Solok KETERANGAN b c d 33 Bukit Tinggi 100° 20’ 7.82” - -2° 0’ 0.84” -0° 53’ 31. Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Tanah Datar 2.89” - -1° 7’ 8. Kabupaten Painan Provinsi Riau 1.28” 10460 Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Tanah Datar 4.19” - 103° 35’ 45. Kabupaten Sungai Penuh 3.28” - 102° 52’ 44.51” -1° 53’ 5.22” 2810 x 42 Sungaipenuh 101° 13’ 23.60” - -4° 16’ 47.62” 15400 x 48 Bengkulu 101° 48’ 11. Kabupaten Bengkulu Selatan KETERANGAN b c d 41 Kayuaro-Padangaro 100° 45’ 19.73” - -0° 23’ 52. Provinsi Jambi 1. Kabupaten Bengkulu Utara 3. Kabupaten Muarabulian 2. Kabupaten Musi Banyuasin 2. Kabupaten Limapuluh Kota 3. Kabupaten Prabumulih 4.16” - -0° 50’ 45.60” 22860 x 46 Muaralakitan 103° 6’ 19. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Utara x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat 1.93” 167 36 Batusangkar 100° 20’ 19.55” 1325 38 Tulak 101° 5’ 0. Kabupaten Lahat 3.99” 296 34 Payakumbuh 100° 17’ 42.81” - -0° 33’ 43.71” - 100° 31’ 46.49” - -0° 22’ 40. Kota Bengkulu 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Indragiri Hulu 2.03” - -3° 1’ 14. Kabupaten Painan 2. Kabupaten Sorolangun Bangko A. Provinsi Jambi 1. Kabupaten Solok 5. Provinsi Jambi 1.43” -2° 58’ 23. Kabupaten Rejang Lebong 4. Kabupaten Tanah Datar 2.03” - -4° 53’ 7. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Solok B.55” 432 37 Solok 100° 21’ 30. Kabupaten Pelalawan 3. Provinsi Sumatera Selatan 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 6. Kabupaten Solok B. Kabupaten Ogan Komering B.89” - -3° 51’ 57. Kabupten Bungo Tebo Provinsi Jambi Kabupaten Sungai Penuh A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.42” -1° 45’ 37. Kabupaten Sorolnagun Bangko C.92” 1235 x 43 Bangko-Sarolangun 101° 30’ 54.14” - 103° 31’ 38. 2010 89 89 NO.97” - -1° 58’ 35.27” -1° 25’ 39. Kabupaten Sungai Penuh 2. Kabupaten Musirawas B. Kabupaten Padang Pariaman 3. Kabupaten Jambi 1.58” 5510 40 Painan-Lubukpinang 100° 20’ 52. Kabupaten Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat 1.

63” 108° 17’ 41.86” 8521 x 53 Ranau 103° 35’ 23.63” 105° 48’ 45.28” 108° 2’ 59.99” -3° 11’ 39.23” - -4° 40’ 33.04” -6° 39’ 10. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan 1.59” 105° 42’ 45.53” -2° 15’ 33.41” 105° 25’ 9. Kabupaten Ogan Komering Ilir 4.74” - 104° 8’ 35.15” - -3° 41’ 52.83” - 103° 52’ 8.29” 106° 29’ 40. 2.85” -2° 27’ 25.30” 105° 41’ 13. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Lampung 1.04” 1236 615 439 234 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.25” -2° 20’ 25. Kabupaten Prabumulih A.69” 106° 6’ 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 324 334 287 235 163 219 203 734 375 LOKASI a Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Belitung Provinsi Banten 1.23” 707 Provinsi Banten 1. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara B.72” - -5° 7’ 37.71” 105° 53’ 53. Kota Palembang 2. Kabupaten Lebak Provinsi Banten 1.74” x x 68 Serang-Tangerang 105° 54’ 31. Kabupaten Pandeglang 2.59” - -5° 54’ 44.27” - 104° 18’ 54. Kabupaten Lampung Kabupaten Lampung Barat B. Kabupaten Tangerang 3.94” 105° 23’ 58.92” -5° 10’ 18.97” 105° 20’ 38.46” -4° 30’ 31.80” -6° 15’ 50.82” -2° 40’ 38.21” -5° 34’ 11.71” 104° 59’ 11.56” -2° 8’ 8.90” - -2° 35’ 59.62” - 106° 41’ 37.16” 1501 x 54 Metro-Kotabumi 103° 53’ 4.30” 105° 42’ 35. Provinsi Sumatera Selatan 1.32” -2° 3’ 33.42” -2° 31’ 19.39” 105° 49’ 25.63” -5° 23’ 0.74” -2° 33’ 39. Kabupaten Lampung Barat 2. Kabupaten Serang A.20” -1° 57’ 22.46” - 105° 55’ 9.13” - 105° 12’ 8.14” 106° 0’ 45.96” 104° 53’ 25. 2010 91 91 NO.46” 105° 36’ 59.77” -3° 14’ 51.36” - -6° 51’ 4. Kota Serang 6.34” 8652 x 51 Baturaja 103° 54’ 9. Kabupaten Ogan Komering Ulu 2. Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.6” - -4° 35’ 35.59” -5° 55’ 3.53” -5° 27’ 45. Provinsi Lampung LOKASI a Kabupaten Lampung Barat KETERANGAN b c x d 49 Gedongmeneng 103° 20’ 56. Kota Tangerang 4.37” -6° 3’ 39.41” 1412 B.68” - -5° 33’ 20. Kota Bandar Lampung 2.39” -6° 34’ 45. Kabupaten Musi Banyuasin 3.79” -6° 17’ 47.84” 2822 x Kabupaten Bogor 69 Malingping 105° 41’ 4.22” -5° 50’ 46. Provinsi Bengkulu 1.79” 106° 10’ 47. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Jawa Barat x x x x x x x KETERANGAN b c d 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Koba Kepoh Batubetumpang Pangkal Raya Airpandan Tanjungniur Manggar Labuan Rawadanau 106° 19’ 50. Kabupaten Lahat 3.99” - 104° 42’ 15. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.27” -2° 49’ 47.27” -3° 54’ 30.66” 105° 54’ 24.64” -5° 39’ 59.75” - -5° 0’ 46. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) A.57” -2° 36’ 31.55” - -6° 30’ 16. Kabupaten Lampung Utara 2.18” -2° 52’ 33.79” 2404 x 52 Muaraduo-Curup 102° 21’ 32.44” - 106° 9’ 50. Kabupaten Lampung Tengah 5. Kabupaten Lampung Barat 3. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu A.32” 106° 2’ 58. Kabupaten Serang 2. Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung 1.95” 21640 x 55 56 57 58 Kotaagung Talangpadang Bandarlampung Kalianda 104° 11’ 9.53” 106° 44’ 28.65” -4° 30’ 57. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung 1. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan 50 Palembang-Kayuagung 103° 29’ 47. 2010 92 92 . Kota Cilegon 5. Kabupaten Rejang Lebong B.07” 104° 31’ 9. Kabupaten Lampung Selatan 4. Kabupaten Lebak 7.57” - 104° 44’ 3.88” -2° 59’ 0. Kabupaten Pendeglang 2. Kabupaten Pandeglang B. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.63” -5° 4’ 28.NO. Provinsi Banten 1. Kabupaten Bengkulu Selatan 2.33” -4° 12’ 8.38” - 106° 42’ 36. Kabupaten Prabumulih A.

Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. 2010 94 94 .95" -6° 46' 2.07" 151 581 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta C.67" -7° 3' 3.75" - 107° 42' 31. Kabupaten Bandung 2.88" -7° 5' 10. Kota Bandung Provinsi Jawa Barat 1.51" 107° 27' 17.19" -6° 49' 55. Kabupaten Tasikmalaya 3.91" 1219 Provinsi Jawa Barat 1.03" -6° 42' 56.53" - -7° 22' 9.42" - -6° 38' 7.28" 1716 81 82 Cibuni Banjarsari 107° 9' 6.07" - 107° 57' 7.99" 384 5. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat x x 86 Sumedang 107° 45' 38.06" 483 87 88 Sukamantri Ciamis 107° 50' 47. Kabupaten Purwakarta 5. Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat 5.07" - -6° 56' 39.54" - 107° 4' 4.47" - 107° 45' 51. Kabupaten Sumedang 2. Kabupaten Bogor 2.46" 108° 15' 45. Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Tasikmalaya x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.80" -6° 24' 38.73" - -6° 51' 10.37" -5° 54' 29.37" - -6° 47' 2.22" 169 Provinsi Jawa Barat 1.88" 106° 32' 43.88" -6° 58' 17.98" -6° 36' 11. Kabupaten Sukabumi x 75 Bekasi-Karawang 106° 52' 5.20" - 108° 4' 13.84" - 108° 2' 5.35" -7° 25' 59.81" - 108° 2' 56. Kabupaten Bogor 2. Kabupaten Bogor 2.88" - 106° 59' 45. Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat 4. Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat 1.07" 467 Provinsi Jawa Barat 74 Jampangkulon 106° 22' 55.23" - -6° 36' 53. Provinsi Jawa Barat x x x x x 84 Garut 107° 42' 33.56" 107° 2' 13. Kabupaten Karawang 4.59" 89 6. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat 1. V. BandungSoreang 107° 21' 55. Kabupaten Ciamis 4.40" 107° 46' 13.30" - -6° 48' 38.29" 3641 76 Subang 107° 35' 48. Kabupaten Cianjur x KETERANGAN b c d 70 Jakarta 106° 36' 32. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 6. Kabupaten Purwakarta 2. 2010 93 93 NO.77" - -7° 24' 8.61" - 107° 17' 4.23" -6° 56' 6.37" - -6° 57' 22.70" - -7° 14' 47. Kabupaten Bekasi 3.26" - -7° 7' 41. Kabupaten Tasikmalaya 3. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Sumedang x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Subang 2. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1.35" - -7° 27' 7. Kabupaten Tangerang 2. Kabupaten Garut 2.87" 566 78 Lembang 107° 25' 56. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 1.19" -7° 26' 59.00" - 108° 17' 34.91" 1514 77 Ciater 107° 24' 28.16" - 107° 30' 17. Kabupaten Indramayu 3.78" -6° 0' 43.21" -6° 48' 29.79" - 108° 20' 49.23" 1439 x 71 72 Bogor Sukabumi 106° 28' 20.72" 1311 868 x x 73 Cianjur 106° 58' 5.85" 108° 33' 8.NO.44" -7° 13' 17. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.87" -6° 10' 27.40" - 107° 50' 28. Kabupaten Bandung 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) Provinsi Jawa Barat LOKASI a KETERANGAN b c d 79 Batujajar 107° 23' 33.58" 886 85 Malangbong 107° 53' 42. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Banten 1.50" - -6° 26' 58.39" -7° 11' 56. Provinsi Jawa Barat 1.76" 514 1.91" -7° 11' 12.85" - -6° 48' 12. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A.14" -6° 40' 18.81" - 108° 5' 11.67" -6° 43' 37. Kota Tangerang B.98" 106° 48' 15. Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Ciamis 2. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Bandung x 80 IV. Kabupaten Sukabumi 2.11" 621 605 83 Tasikmalaya 107° 50' 53.60" -7° 25' 6. Kabupaten Garut A.63" -6° 41' 59.63" - -7° 0' 25.26" -7° 2' 17. Kabupaten Sumedang 3. Kabupaten Bandung 3.83" - 107° 29' 42.

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 3.

LOKASI a Kota Banjar x

KETERANGAN b c d

89 90 91

Kawali Kuningan Majalengka

108° 16' 4.17" 108° 15' 44.50" 108° 3' 32.4"

-

108° 34' 13.02" 108° 39' 14.58" 108° 24' 40.24"

-7° 4' 54.98" -7° 3' 17.20" -6° 34' 12.81"

-

-6° 48' 12.35" -6° 52' 13.72" -6° 55' 47.85"

291 507 686

92

Indramayu

107° 56' 38.14"

-

108° 19' 46.08"

-6° 13' 42.77"

-

-6° 39' 20.74"

1282

Provinsi Jawa Barat Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Kuningan 2. Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Majalengka 2. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2 .Kabupaten Majalengka 3. Kabupaten Sumedang VI. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2. Kabupaten Cirebon 3. Kabupaten Kuningan 4. Kota Cirebon Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap A. Provinsi Jawa Barat 7. Kabupaten Ciamis

x x

x

93

Sumber-Cirebon

108° 13' 53.45"

-

108° 39' 15.85"

-6° 13' 49.61"

-

-6° 53' 59.86"

1659

x

94

Majenang

108° 41' 58.06"

-

108° 51' 14.72"

-7° 17' 19.18"

-

-7° 24' 21.99"

108

x

95

Sidareja

108° 32' 56.67"

-

108° 49' 43.47"

-7° 17' 14.05"

-

-7° 40' 28.84"

480

B.

Provinsi Jawa Tengah 8. Kabupaten Cilacap

x

A.

Provinsi Jawa Barat 9. Kabupaten Cirebon

96

Tegal-Brebes

108° 35' 7.31"

-

109° 21' 16.34"

-6° 44' 11.61"

-

-7° 11' 0.39"

1356 B.

x

Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Brebes 2. Kabupaten Tegal

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

95

95

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Tegal 3. Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Banyumas 3. Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banyumas 2. Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Cilacap 2. Kabupaten Kebumen 3. Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Pekalongan 3. Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kebumen 2. Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Batang 2. Kabupaten Kendal 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Banjarnegara 3. Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Magelang 2. Kota Magelang 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Temanggung

KETERANGAN b x c d

97

Bumiayu

108° 55' 13.33"

-

109° 24' 18.87"

-7° 0' 28.58"

-

-7° 19' 24.38"

661

98

Purwokerto-Purbalingga

109° 3' 1.70"

-

109° 46' 49.02"

-7° 12' 44.33"

-

-7° 32' 26.86"

1318

x

99 100 101 102 103

VII.

Cilacap

108° 59' 15.41" 108° 48' 7.47" 109° 6' 49.12" 109° 23' 13.53" 109° 18' 45.31"

-

109° 12' 14.43" 108° 59' 47.98" 109° 26' 46.49" 109° 29' 9.91" 109° 51' 52.35"

-7° 25' 41.48" -7° 40' 45.94" -7° 31' 28.39" -7° 36' 45.02" -6° 46' 33.52"

-

-7° 45' 5.32" -7° 45' 13.59" -7° 43' 36.42" -7° 43' 53.66" -7° 13' 24.20"

218 45 423 67 1682

x x x x x

Nusakambangan Kroya Banyumudal Pekalongan-Pemalang

104 105

Kebumen-Purworejo Karangkobar

109° 27' 18.50" 109° 34' 42.69"

-

110° 3' 36.50" 109° 55' 17.84"

-7° 34' 14.61" -7° 10' 12.18"

-

-7° 53' 59.96" -7° 18' 43.34"

1127 316

x x

106

Subah

109° 49' 26.04"

-

110° 11' 32.45"

-6° 54' 15.69"

-

-7° 18' 16.57"

874

x

107

Wonosobo

109° 45' 48.56"

-

110° 4' 41.47"

-7° 11' 7.81"

-

-7° 31' 51.33"

666

x

108

Magelang-Temanggung

109° 59' 45.38"

-

110° 27' 21.31"

-7° 11' 45.92"

-

-7° 42' 6.69"

1783

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

96

96

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 5.

LOKASI a Kabupaten Semarang

KETERANGAN b c d

109

Yogyakarta-Sleman

110° 12' 30.45"

-

110° 29' 49.38"

-7° 32' 23.62"

-

-8° 1' 52.04"

916

110 111 112

Wates Kendal Sumowono

110° 2' 16.22" 110° 1' 43.68" 110° 3' 45.06"

-

110° 15' 45.54" 110° 16' 16.97" 110° 20' 20.84"

-7° 50' 2.01" -6° 50' 45.56" -7° 5' 29.51"

-

-7° 59' 16.99" -7° 2' 37.74" -7° 15' 49.17"

150 404 207

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Sleman 2. Kabupaten Bantul 3. Kota Yogyakarta 4. Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Kulon Progo Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Semarang 3. Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kota Semarang 4. Kabupaten Demak 5. Kabupaten Grobogan 6. Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Klaten 2. Kabupaten Sukoharjo 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Sragen 5. Kabupaten Karanganyar 6. Kabupaten Wonogiri 7. Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri

x

x x x

113

Rawapening

110° 18' 36.13"

-

110° 30' 7.60"

-7° 10' 59.52"

-

-7° 26' 54.53"

303

x

114

Ungaran

110° 11' 34.19"

-

110° 31' 43.53"

-7° 2' 23.03"

-

-7° 13' 41.52"

329

x

115

Salatiga

110° 26' 11.88"

-

110° 38' 3.58"

-7° 12' 31.73"

-

-7° 27' 54.94"

85

x

116

Semarang-Demak

110° 14' 56.35"

-

111° 20' 8.21"

-6° 46' 26.64"

-

-7° 12' 50.99"

1839

x

117

Karanganyar-Boyolali

110° 26' 18.30"

-

111° 12' 45.98"

-7° 19' 1.182"

-

-7° 54' 32.62"

3877

x

118

Eromoko

110° 48' 30.19"

-

111° 1' 15.32"

-7° 51' 37.47"

-

-8° 3' 52.62"

215

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

97

97

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) A.

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Bantul 2. Kabupaten Gunung Kidul C. Jawa Timur Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Demak 2. Kabupaten Kudus 3. Kabupaten Jepara 4. Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pati 2. Kabupaten Rembang A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Rembang B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Rembang 2. Kabupaten Blora A. Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Grobogan 2. Kabupaten Blora B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bojonegoro A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Ponorogo 2. Kabupaten Madiun 3. Kabupaten Ngawi 4. Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bojonegoro 2. Kabupaten Tuban 3. Kabupaten Lamongan 4. Kabupaten Gresik 5. Kota Surabaya

KETERANGAN b c d

119

Wonosari

110° 20' 40.02"

-

111° 4' 32.21"

-7° 54' 31.05"

-

-8° 15' 30.93"

1692

x

120

Kudus

110° 32' 9.81"

-

111° 2' 48.78"

-6° 35' 57.91"

-

-7° 1' 13.93"

1388

x

121 122

Jepara Pati-Rembang

110° 38' 14.94" 110° 53' 42.9"

-

110° 55' 15.95" 111° 23' 38.75"

-6° 24' 27.16" -6° 24' 39.18"

-

-6° 38' 24.67" -6° 52' 57.29"

531 1028

x x

123

Lasem

111° 23' 13.32"

-

111° 56' 22.43"

-6° 36' 58.91"

-

-6° 50' 48.83"

378

x

124

Watuputih

111° 29' 0.73"

-

111° 32' 56.27"

-6° 50' 41.56"

-

-6° 50' 41.56"

31

x

125

Randublatung

111° 11' 23.39"

-

111° 36' 26.12"

-7° 9' 17.55"

-

7° 15' 57.66"

203

x

126

Ngawi-Ponorogo

111° 7' 0.03"

-

111° 47' 49.16"

-7° 20' 22.54"

-

-8° 4' 26.64"

3902

x

127

Surabaya-Lamongan

111° 37' 38.16"

-

112° 50' 13.76"

-6° 57' 8.69"

-

-7° 18' 37.53"

2525

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

98

98

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tuban 2. Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lamongan 2. Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Trenggalek 2. Kabupaten Tulungagung 3. Kabupaten Blitar 4. Kota Blitar 5. Kabupaten Malang 6. Kota Malang 7. Kabupaten Mojokerto 8. Kabupaten Sidoarjo 9. Kabupaten Gresik 10. Kota Surabaya 11. Kabupaten Jombang 12. Kabupaten Kediri 13. Kabupaten Nganjuk 14. Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tulungagung 2. Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Mojokerto 2. Kabupaten Pasuruan 3. Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Jember 3. Kabupaten Bondowoso 4. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Probolinggo

KETERANGAN b x x c d

128 129

Tuban Panceng

111° 46' 51.66" 112° 15' 46.19"

-

112° 14' 49.78" 112° 33' 46.55"

-6° 45' 41.19" -6° 51' 47.25"

-

-6° 59' 38.54" -6° 58' 50.97"

503 283

130

Brantas

111° 42' 55.90"

-

113° 0' 9.43"

-7° 17' 40.11"

-

-8° 17' 5.03"

6186

x

131 132 133

Bulukawang Sumberbening Pasuruan

111° 46' 8.00" 112° 22' 30.79" 112° 34' 22.15"

-

112° 21' 29.52" 112° 49' 10.92" 113° 5' 11.15"

-8° 9' 37.49" -8° 11' 39.14" -7° 31' 55.71"

-

-8° 21' 1.87" -8° 26' 56.44" -7° 57' 27.06"

618 715 1596

x x x

134

Probolinggo

112° 56' 4.25"

-

113° 37' 33.14"

-7° 41' 54.57"

-

-8° 1' 38.08"

1639

x

135

Jember-Lumajang

112° 53' 57.36"

-

114° 2' 42.22"

-7° 56' 23.58"

-

-8° 25' 22.94"

3865

x

136

Besuki

113° 34' 17.40"

-

113° 52' 4.48"

-7° 41' 12.69"

-

-7° 58' 19.50"

469

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

99

99

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Situbondo 2. Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Pamekasan 2. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur Kabupaten Sumenenp A. Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Sambas B. Malaysia Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Bengkayang 2. Kabupaten Landak 3. Kabupaten Pontianak 4. Kota Pontianak

KETERANGAN b x c d

137

Bondowoso-Situbondo

113° 40' 6.74"

-

114° 26' 39.19"

-7° 36' 17.95"

-

-8° 7' 37.33"

2358

138 139 140 141

Wonorejo Banyuwangi Blambangan Bangkalan

114° 12' 15.69" 113° 55' 28.01" 114° 20' 23.26" 112° 40' 22.8"

-

114° 27' 49.57" 114° 24' 28.44" 114° 36' 10.39" 112° 58' 6.01"

-7° 48' 9.83" -8° 3' 29.47" -8° 26' 41.90" -6° 53' 21.96"

-

-8° 5' 53.17" -8° 34' 11.00" -8° 46' 51.07" -7° 7' 16.24"

543 1737 413 398

x x x x

142

Ketapang

112° 54' 47.42"

-

113° 56' 18.56"

-6° 51' 51.97"

-

-6° 56' 56.89"

631

x

143

Sampang-Pamekasan

112° 41' 25.08"

-

113° 53' 39.48"

-7° 3' 55.29"

-

-7° 15' 25.69"

1200

x

144 145 146 147 148

Sumenep Toranggo Paloh Sambas Singkawang

113° 27' 22.5" 113° 55' 32.30" 109° 16' 23.73" 108° 54' 32.4" 108° 55' 31.83"

-

114° 6' 27.58" 114° 7' 32.52" 109° 38' 52.08" 109° 50' 18.59" 109° 19' 28.59"

-6° 57' 13.69" -6° 52' 4.60" 1° 41' 8.84" 1° 2' 44.59" 0° 50' 54.37"

-

-7° 7' 19.49" -6° 59' 1.82" 2° 4' 57.39" 1° 43' 22.10" 1° 6' 20.55"

478 101 561 3178 728

x x x x x

149

Pontianak

108° 50' 8.88"

-

110° 30' 0"

0° 52' 27.3"

-

-2° 23' 49.96"

22620

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

100

100

26" 115° 41' 21. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Kalimantan Timur 1. Provinsi Kalimantan Selatan 1.23" -0° 38' 39. Kabupaten Bulungan 4.192" -0° 11' 21.48" 116° 6' 57. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Banjar 3.53" - 1° 40' 34. Kabupaten Barito Kuala 6.26" -0° 45' 14. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.54" 1131 7107 2474 x x x 164 165 166 167 168 169 Loahaur Tenggarong Jonggon Muara Lahai Munte Batuputih 116° 52' 39. Kabupaten Tanah Laut 2. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Barat B. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung KETERANGAN b x x x c d 157 158 159 Sendawar Mangkaliat Sumbang 115° 28' 42. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya B.92" 95980 151 152 153 154 155 Pagatan Apar Tabanio Sebakung Muarapayang 114° 37' 9. Kabupaten Seruyan 3.26" 1° 6' 24. Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir A.57" 114° 41' 12.40" 111° 47' 59. Kota Banjarmasin 4.87" -1° 48' 7.37" -0° 57' 18.11" 125° 15' 5.01" 0° 32' 37. Kota Bontang 5.14" 1° 38' 8.68" -2° 20' 50.16" 6441 1089 439 649 1660 156 Samarinda-Bontang 116° 33' 4.59" 10110 115 598 160 Tanjungselor 116° 36' 14.93" -0° 4' 17.84" 1° 9' 49.46" -0° 57' 43.56" 1° 45' 17.70" - 117° 1' 21.81" 118° 58' 48.95" 0° 30' 49.45" - -1° 25' 49.48" 115° 59' 15.88" -1° 9' 36.02" -1° 45' 40.74" 0° 43' 52.84" 428 385 284 4115 77 275 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.32" - 115° 41' 29. Kabupaten Kutai Timur B. Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Kotawaringin Barat 2. Kabupaten Murung Raya C. A.20" -0° 22' 6.03" 118° 32' 36. Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat 1. 2010 102 102 .91" 116° 12' 48. Kabupaten Berau 2.81" 115° 28' 22. Kabupaten Kutai Barat 2.20" 1° 40' 51. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Pasir 2.76" - 4° 14' 33. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Berau 3. Kabupaten Nunukan B.92" 118° 51' 32. Kota Samarinda 4. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 5. Kabupaten Hulu Sugai Utara 9. Malaysia Provinsi Kalimantan Timur 1. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur 1.90" -0° 1' 21.NO.60" 111° 54' 2.54" 124° 59' 38.08" - 118° 8' 37.71" - -0° 38' 48.55" 0° 52' 5. Kabupaten Hulu Sungai Selatan 7.96" 116° 35' 39. Kabupaten Katingan 5. Kabupaten Kutai Timur 2.78" - 116° 16' 33.14" 116° 9' 9. 2010 101 101 NO.39" 116° 43' 45.48" 117° 2' 42. Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur 1. Kota Samarinda 3. Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan 1. Kota Palangkaraya 6. Kabupaten Tanah Laut 2.79" -1° 58' 11.48" - -0° 55' 50. Kabupaten Kutai 3.94" 1° 29' 23.69" -0° 17' 15. Kabupaten Sanggau 2.13" 124° 55' 15.65" 116° 33' 33.31" 13550 x 161 162 163 Muarakarangan Putussibau Sintang 117° 33' 52.96" 111° 4' 2.97" 113° 11' 50.506" -2° 2' 20.34" 118° 50' 46.17" -1° 26' 46.48" 116° 27' 31.90" 0° 51' 33. Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai A.88" 125° 3' 20. LOKASI a Kabupaten Ketapang KETERANGAN b c d 150 Palangkaraya-Banjarmasin 110° 10' 20.53" 0° 54' 32. Kabupaten Kutai 2.08" - 117° 13' 58. Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Timur 1.72" - -4° 0' 46.77" 1° 9' 34. Kabupaten Kotawaringin Timur 4. Kabupaten Barito Selatan 8.50" -1° 59' 14.75" 116° 55' 9. x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.87" 116° 46' 44. Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur 1.19" 1° 10' 33. Kabupaten Hulu Sungai Tengah 8. Kabupaten Berau A.73" - 17° 44' 46.04" -2° 25' 58. Kabupaten Tapin 5. Kabupaten Kapuas 7.74" 7720 Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Tengah 1.05" - -4° 10' 34.66" 1° 2' 56.31" - 118° 26' 22. Kabupaten Sintang 3.

37" 0° 54' 50.45" 0° 52' 4.63" 119° 47' 27.04" 123° 42' 32.97" 119° 54' 44.79" 124° 13' 14.91" 124° 12' 8.47" 0° 27' 21.56" 0° 50' 16.19" 1° 4' 41.77" 120° 5' 40.40" 0° 28' 4.92" 0° 50' 45. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.63" 0° 26' 9.27" 0° 26' 17.34" 1004 1022 956 521 80 414 76 684 91 212 326 181 182 183 184 185 186 Pinogu Tombulitato Gorontalo Molombulah Mahinoto Soginti 123° 19' 40.06" 1° 32' 0.51" 125° 15' 5.00" -0° 3' 38.63" 0° 35' 38.44" 122° 21' 27.70" -1° 2' 33.50" 122° 10' 17. Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.13" -0° 0' 14.01" 123° 22' 35.03" 0° 36' 24.80" 0° 25' 51.08" 0° 6' 4.07" 119° 54' 38.28" 1° 2' 11.52" 0° 48' 10.89" 0° 21' 43.19" 119° 50' 52.08" 0° 46' 30.24" 122° 13' 52.92" 120° 30' 29.77" 0° 28' 1. Kabupaten Gorontalo 2.90" -0° 5' 15.12" -0° 0' 39.90" 124° 28' 38.13" 0° 21' 31.69" 121° 15' 45.95" -0° 16' 25.40" -0° 8' 1.52" 123° 55' 57.43" 119° 46' 27.11" 0° 55' 33.98" -0° 50' 24.89" 1° 5' 27.38" 123° 56' 33.16" 120° 17' 7.26" 120° 27' 9.85" 0° 44' 46.08" 119° 36' 19. 2010 103 103 NO. Kabupaten Bolaang Mongondow 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo KETERANGAN b x x x x x x x x x x x c d 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Manado Bitung-Ratahan Tomohon-Tumpaan Sidate-Poigar Buyat Kotamubagu Lolak Dumoga-Kasio Molibagu Mongalada Bone 124° 43' 23.20" 124° 45' 39.01" - 1° 39' 58.25" 1° 19' 4. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 234 92 606 435 55 24 111 83 54 50 22 36 14 52 37 63 149 97 261 Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo LOKASI a Kabupaten Gorontalo x KETERANGAN b c d 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 Marisa Papajato Mountong-Tomini Buol Ogomali Ogawele Butung Babatona Ladangkola Sinei Tambu Tompis Labea Palado Tompe Oti Ampibabo Tawaeli Tindaki 121° 42' 51.27" 120° 5' 16.48" 0° 50' 58.97" 120° 4' 44.96" 121° 32' 12.10" 119° 58' 5.44" 124° 52' 13.24" 119° 47' 48.49" 124° 34' 24.09" 119° 56' 9.72" 1° 13' 0.14" 0° 17' 36.154" 0° 10' 34.35" 1° 1' 47.75" 121° 6' 11.20" 120° 2' 0.53" - 125° 2' 9.01" 123° 20' 27.06" 123° 44' 6.85" 122° 45' 20.96" 123° 34' 27.66" 0° 25' 59.41" 123° 45' 36.25" 119° 51' 23.34" 0° 18' 31.07" 0° 55' 13.91" 120° 2' 29. 2010 104 104 .96" 0° 44' 15.63" 124° 7' 53.57" 0° 44' 55.83" 124° 10' 38.25" 121° 19' 13.74" 0° 20' 22.95" 124° 36' 0.08" - 123° 30' 59.69" 1° 25' 35.13" 123° 14' 24.11" 119° 45' 5.12" 0° 33' 48.79" 119° 46' 50.66" 112 35 481 433 75 59 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.75" -0° 43' 6.95" 0° 47' 39.54" - 0° 33' 33.85" -0° 11' 19.92" 121° 30' 21.83" 120° 5' 11.64" - 0° 32' 5. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.77" 0° 23' 51. Kabupaten Donggala 2.01" 120° 29' 0.58" -0° 4' 41.27" 120° 6' 40.51" 123° 30' 8. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.81" -0° 30' 41.53" -0° 16' 26.20" 119° 51' 54.29" 0° 24' 46.50" -0° 40' 59.83" 120° 51' 0.NO.75" 119° 44' 4.50" -0° 13' 44.70" 0° 36' 50.55" 0° 27' 17.82" - 121° 58' 52.39" -0° 8' 43.41" 124° 41' 56.97" -0° 31' 42.35" 0° 55' 41.78" 120° 23' 48.97" 0° 34' 21.15" 119° 50' 43.41" 119° 56' 36.78" 0° 42' 24.26" 0° 24' 6.65" 124° 30' 49.39" -0° 9' 17.01" 0° 41' 10. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.84" 122° 26' 39.44" 0° 35' 1.44" 124° 8' 9.52" -0° 4' 52.94" 122° 41' 5.55" Kabupaten Pohuwato Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah 1. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo 1.83" 1° 11' 6.04" 0° 36' 9.84" 121° 59' 7.58" 119° 58' 26.61" 120° 46' 34.

Kabupaten Sinjai 3. Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan 1.04" 121° 48' 30.69" -5° 13' 54.06" -2° 57' 46.73" -2° 4' 52. 2010 105 105 NO.36" -3° 18' 33.81" - 120° 26' 32.51" 119° 7' 23.34" -1° 19' 26.05" 122° 17' 14.36" 120° 14' 38.19" 123° 9' 9.82" -0° 52' 15.69" - 121° 49' 23.90" 119° 24' 50.23" -2° 11' 36.71" -0° 51' 16.87" 482 81 x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.77" -1° 7' 58.56" -1° 15' 7.23" 120° 52' 12.24" - 120° 5' 1.63" 122° 40' 6. Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan 1. Kabupaten Wajo 3.58" 121° 14' 0.41" -3° 29' 48.10" -3° 29' 9.82" - -1° 20' 28.59" -1° 41' 52.67" -1° 57' 9.56" -3° 2' 43. Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan 1.69" -1° 8' 48.23 2270 x 230 Siwa-Pompanua 120° 4' 18. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 313 716 279 130 224 795 999 530 581 215 333 263 678 175 1306 837 121 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala A. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah 1.54" -0° 49' 28.47" 122° 6' 19. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.83" -1° 33' 54.NO.92" 121° 3' 25.28" -2° 53' 0. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso A.04" -1° 57' 25. Kabupaten Pinrang 2. Kabupaten Takalar 3. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 156 2230 135 327 86 422 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu A.27" 119° 17' 4.39" 123° 4' 59.34" -2° 24' 30. Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan 1. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu B.41" 119° 59' 31. Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan 1.59" - -5° 32' 44. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.94" - -5° 23' 8.12" 119° 45' 25.22" -2° 8' 0. Kabupaten Barru 2. Kabupaten Donggala 2. Kabupaten Maros 3.55" 120° 7' 10.63" 120° 12' 53.69" x x x x 229 Pinrang-Sidenreng 119° 26' 57. Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju B.27" -3° 30' 31.25" 120° 5' 41.85" 939 x 231 Barru 119° 34' 44.83" -1° 43' 22.86" -2° 28' 10.99" 119° 17' 58.78" 120° 25' 16.22" -5° 5' 29.72" -1° 55' 4. Kabupaten Bone x x KETERANGAN b c d 223 224 225 226 227 228 Tanoa Bone-Bone Lelewowo Polewali Kolosi Padang Sapa 121° 31' 18. Kota Makassar 2.42" - -4° 25' 58. Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2.59" 2229 x 233 Makassar 119° 20' 54.31" 119° 6' 6.33" 119° 33' 44. Kabupaten Donggala 2.09" -4° 19' 3.74" 122° 34' 0.16" 120° 41' 25.85" 120° 18' 1. Kabupaten Sidenreng Rappang 3.72" - -2° 18' 5. Kabupaten Donggala 2.93" 580 x 234 235 Gowa Sinjai 119° 44' 2.69" 121° 21' 47. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso x KETERANGAN b c d 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 Palu Pasangkayu Dapuran Bobo Langko Watutua Poso Morowali Topo Tomeang Luwuk Sobol Peleng Tomori Wasopote Sampaga Pindolo 119° 49' 28.21" 122° 53' 21.92" - 119° 57' 14. Kabupaten Luwu 2. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso B.83" 120° 48' 11.30" -1° 53' 28.40" 120° 48' 11.33" 120° 0' 50.24" -2° 25' 28.90" 119° 31' 2. Kabupaten Wajo 5.69" -1° 10' 52.53" -5° 10' 28.11" -0° 47' 23.78" -1° 35' 2.26" 121° 28' 57. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.07" - -4° 33' 39.25" -2° 59' 57. Kabupaten Soppeng 4.16" 123° 24' 8.70" 134 x 232 Pangkajene 119° 27' 44.18" - 119° 45' 42. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.14" -1° 37' 1.87" 119° 23' 35.78" -1° 3' 22. Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan 1.99" 121° 12' 31.68" - 119° 42' 50.32" -4° 33' 52.56" -1° 16' 8.44" -3° 33' 14.21" 119° 49' 2.0" 123° 7' 55.47" - -5° 6' 35.12" -0° 59' 13.69" - 120° 14' 17.88" -1° 57' 0.35" 120° 12' 40.44" -5° 0' 47.22" -3° 18' 53.89" 122° 4' 10. Kabupaten Gowa 4.61" 121° 29' 48. Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan 1.56" 120° 17' 17.30" -1° 29' 31. Kabupaten Gowa 2.14" -1° 35' 15.65" 121° 8' 38.25" - 119° 34' 40.56" - -4° 25' 9.56" -1° 47' 47.83" 120° 26' 24.59" -3° 31' 2.74" -1° 5' 37.83" -1° 17' 56.03" -2° 0' 57. 2010 106 106 .47" x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.76" 120° 32' 14.62" -1° 10' 5.

59" 122° 59' 42. Kabupaten Bulukumba 4.43" -4° 25' 38. Kabupaten Sinjai 5.52" -4° 30' 43.83" 122° 13' 44.43" -4° 40' 27.39" -8° 23' 48.81" -5° 14' 14.68" -5° 42' 5.58" 121° 51' 30. Kabupaten Jembrana 2.43" -8° 30' 40. Kabupaten Bangli x x KETERANGAN b c d 252 253 254 255 256 257 258 259 Lambale Ereke Lebo Konde Bau-Bau Kaliwinto Lasilimu Denpasar-Tabanan 122° 53' 45.08" -4° 37' 26.14" -8° 49' 5.21" 122° 7' 9.47" 122° 22' 14.98" -5° 25' 26.71" -8° 28' 26.22" -4° 41' 46.77" 114° 55' 43.02" -4° 41' 15.77" 122° 25' 13.59" 230 656 2269 129 126 256 347 163 162 436 66 144 213 260 69 x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.03" - -5° 42' 24.31" 123° 12' 45.39" -8° 11' 34.48" - -5° 38' 0. Kabupaten Kendari 2.74" 122° 44' 14.84" 122° 46' 6.01" -4° 22' 51.48" 120° 24' 27.64" -4° 36' 32.26" -5° 46' 39.58" -4° 47' 48.07" 122° 21' 7. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 347 157 591 339 976 128 307 2080 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara 1.81" -4° 11' 52.59" 122° 33' 18.92" -4° 48' 22.94" - 115° 12' 54. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna KETERANGAN b c d 236 Bantaeng 119° 43' 52.22" 115° 37' 41. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Bali 1.70" 122° 38' 57.82" 122° 15' 54.25" - 120° 27' 27.37" 115° 30' 55. Kabupaten Gianyar 8.84" -4° 27' 9.91" x x x x x x 260 261 262 263 264 265 266 Singaraja Amlapura Negara Gilimanuk Nusa Penida Nusadua Tejakula 114° 55' 22.74" 114° 26' 11.12" 114° 58' 7.78" -8° 5' 33.25" -4° 1' 35.70" -4° 43' 42. Kota Denpasar 2. Kabupaten Buleleng 2.38" 122° 58' 45.58" -4° 37' 28.90" -8° 20' 10.87" 121° 47' 9. 2010 107 107 NO. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1.42" 122° 18' 28. Kabupaten Karangasem 6.80" 121° 27' 59. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Kabupaten Karangasem Provinsi Bali 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2. Kabupaten Muna 2.92" -5° 12' 13.01" -5° 26' 32. Kabupaten Muna 2.48" 115° 29' 40.25" 122° 23' 47. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.58" -5° 18' 11.89" -8° 10' 52.21" 122° 51' 27. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1. Kabupaten Muna 2. Kabupaten Buleleng 2.44" - - 123° 4' 59.NO.84" 122° 29' 25. Kabupaten Buton 2.75" -8° 40' 14. Kabupaten Klungkung 7. Kabupaten Buleleng 5.10" 121° 39' 56.75" -5° 14' 15.96" -3° 48' 41.43" 121° 39' 35.23" -8° 6' 0.06" 121° 32' 28.29" -5° 13' 53.61" - -8° 20' 19. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.36" -4° 30' 2.63" 122° 32' 16.88" -4° 19' 52.58" -4° 6' 31. Kabupaten Jeneponto 2. Kabupaten Badung 3. Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.65" -4° 50' 56.16" -4° 52' 5. Kabupaten Jembrana Provinsi Bali Kabupaten Klungkung Provinsi Bali Kabupaten Badung Provinsi Bali 1.96" 123° 4' 7.41" -5° 13' 12.83" 505 200 418 131 198 99 750 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan 1.87" -4° 27' 4.64" 122° 0' 7.27" -4° 16' 7.37" -8° 50' 52.22" 123° 9' 49.10" - 120° 16' 20. Kabupaten Bangli 4.45" 115° 9' 32. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.30" 122° 56' 50.94" 122° 49' 54.25" -4° 33' 43. Kabupaten Buton 2.88" -8° 45' 3.39" 123° 13' 31.45" 1433 x 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 Bira Selayar Bungku Kolaka Raromeeto Rawua Tangketada Andoolo Ambesia Ewolangka Weputang Tinanggea Muna Labuhan Tobelo Bangbong 120° 16' 49.19" -5° 26' 21.71" -8° 46' 30.94" -4° 4' 54. Kabupaten Bantaeng 3.89" 122° 56' 1.98" -8° 12' 24.62" -4° 32' 37.59" -4° 11' 54.36" 115° 26' 41.73" 122° 58' 32.11" 115° 42' 25. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.09" 114° 40' 36.28" -3° 56' 45.61" -6° 30' 23. Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Tenggara 1.72" 115° 43' 0.97" 115° 14' 6. 2010 108 108 .72" -4° 22' 0.22" 122° 51' 22.26" -3° 38' 37.16" 121° 43' 11.56" 122° 53' 54. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.03" - - -4° 50' 8.69" -5° 26' 35.99" 114° 25' 40.59" 115° 4' 57.51" 121° 42' 37.29" -8° 4' 1.95" 120° 33' 3.09" 121° 27' 17.62" 122° 53' 59.

86" -8° 22' 29. Kabupaten Flores Timur 2.84" 121° 22' 35.12" 122° 52' 23.68" 123° 43' 57. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.72" -8° 31' 10.89" 118° 56' 31.35" -8° 12' 54.28" 117° 34' 9.83" 123° 44' 12.56" 1124 1404 345 977 1419 375 1102 363 413 398 813 3724 x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.28" 123° 20' 5.19" - -8° 28' 59.8" 120° 3' 58.75" 121° 48' 32.03" 123° 41' 37.66" -8° 33' 8.96" -8° 38' 24.Kilo Dompu Bima Tawali-Sape Labuanbajo Lempe Reo-Riung Ruteng 116° 3' 28.87" -8° 37' 9.38" -8° 3' 54. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.93" -8° 24' 53.16" 122° 55' 23.44" -8° 46' 14.73" 121° 4' 23.72" 123° 45' 22.26" -8° 11' 37.59" 122° 36' 53.44" 123° 10' 2.29" -8° 29' 49. Kabupaten Karangasem 4.16" 123° 55' 18.8" 120° 4' 32.84" 118° 12' 58.04" -8° 28' 10.41" - -8° 50' 8.91" -8° 57' 34.45" - 116° 43' 20.17" 122° 3' 4.04" 118° 35' 24. Kabupaten Dompu 2.59" 123° 12' 31.44" -8° 21' 58.24" -8° 37' 8. Kabupaten \Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.64" -8° 38' 32. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Bima 2.31" -8° 17' 5.31" 123° 44' 39.69" 117° 53' 45. Kabupaten Bima 2.05" 122° 44' 3.18" 121° 56' 37.06" 123° 54' 39. Kabupaten Badung 5.27" -8° 10' 8.53" -8° 27' 1. Kabupaten Lombok Timur 4.NO. Kabupaten Manggarai 2. Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur KETERANGAN b c d 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 Bajawa Maurole Ende Maumere Larantuka Kutabura-Lamaayang Lewobunga Liberapan Balauwak Mananga Waiwadan Waiwerang Lewoleba Iliwatulolo Balaurik Wairiang Wapoe Takourang Delaki 120° 55' 25.74" -8° 11' 32. 2010 110 110 .35" -8° 31' 38. Kabupaten Dompu 2. Kabupaten Tabanan Provinsi Nusa Tenggara Barat 1. Kabupaten Lombok Barat 2.95" -8° 8' 20.59" -8° 53' 36.50" -8° 40' 49. Kabupaten Dompu 2.73" 123° 46' 47.72" 122° 41' 19.54" -8° 15' 30.2" -8° 32' 14.40" -8° 32' 58.10" 118° 33' 25.76" -8° 41' 59. Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.88" -8° 29' 55. Kabupaten Manggarai 3.49" 119° 47' 52.62" -8° 33' 21.66" - -8° 51' 57.86" -8° 25' 28.18" -8° 14' 47.28" 123° 17' 27. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.14" -8° 47' 44.10" -8° 23' 51.28" -8° 4' 48. Kota Mataram 3.47" -8° 12' 33.25" -8° 38' 53.63" 120° 27' 15.904" 119° 50' 12. Kabupaten Ngada KETERANGAN b c d 267 Mataram-Selong 116° 3' 33. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.82" 122° 3' 11.08" 123° 0' 6.55" -8° 10' 27.06" 123° 10' 11.43" -8° 17' 25. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.17" -8° 43' 18.45" 122° 58' 35.28" -8° 48' 39. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.96" 120° 30' 5.44" 116° 52' 46. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.34" -8° 13' 32. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.4" -8° 12' 46.4" 122° 58' 1.50" 122° 57' 1.24" 123° 55' 41.84" 123° 0' 35. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.60" -8° 24' 49. 2010 109 109 NO. Kabupaten Manggarai 2.30" -8° 19' 8.84" -8° 35' 11.90" -8° 32' 14.62" -8° 17' 48.74" 118° 18' 50.47" -8° 11' 47.52" -8° 26' 29.31" -8° 27' 41.75" 123° 1' 26.83" -8° 12' 42.75" 121° 52' 35. Kabupaten Buleleng 3.18" 121° 33' 36.15" -8° 25' 15.82" -8° 17' 51.68" 119° 3' 28. Kabupaten Lombok Barat 2.34" 118° 53' 13.69" 124° 19' 26.43" 2366 x 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Tanjung -Sambelia Sumbawa Besar Empang Pekat Sanggar .65" -8° 22' 7.72" 123° 54' 24. Kabupaten Lombok Timur 3.75" 10970 140 394 800 1030 330 139 82 70 70 333 173 535 542 27 60 98 376 367 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.26" -8° 15' 48.71" -8° 45' 59.52" -8° 33' 33.68" 123° 12' 46.01" -8° 14' 40.56" -8° 33' 1.12" 118° 15' 43. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.71" 117° 41' 24" 117° 42' 39.58" 118° 30' 8.84" 124° 19' 10.57" - 121° 20' 51.76" 122° 57' 46.84" - 116° 43' 19.94" -8° 13' 42.

04" -10° 39' 7.75" 1° 18' 1.77" 0° 37' 22.29" -8° 26' 28.77" - 124° 36' 16.798" -9° 13' 17.12" 127° 27' 33.42" -10° 21' 45.68" 2° 13' 25.92" -9° 23' 28.38" 124° 47' 3.72" 127° 57' 20.64" 124° 53' 52.98" 127° 17' 24.45" -10° 0' 43.71" -10° 13' 15.48" 123° 55' 11.99" 122° 57' 56.96" 124° 5' 30.63" 1° 48' 8.92" 0° 44' 26. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Maluku Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan x x x KETERANGAN b c d 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 Pasirputih Kalabahi Werula Waikabubak Ngalu Kupang Camplong Mina Soe Oemeu 124° 23' 29.38" -10° 51' 48.14" 128° 1' 2.50" 1° 45' 46.17" 127° 32' 37.56" 124° 9' 13.72" 127° 21' 41.15" -10° 56' 20.69" 127° 43' 27. Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.41" 124° 21' 47.12" 128° 36' 37.85" 127° 55' 47. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.87" 128° 2' 15.36" 0° 45' 34. Kabupaten Timor Tengah Selatan 3.4" 128° 54' 9" 128° 55' 47.75" 1° 35' 22.92" 124° 20' 53. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.92" 127° 38' 47. Kabupaten Sumba Barat 2.27" -10° 25' 41.78" -9° 37' 41. Kabupaten Halmahera Tengah 2.14" 124° 32' 34.30" 1° 33' 44. Kabupaten Halmahera Tengah 2.05" -9° 53' 44. Kabupaten Halmahera Barat 2.56" 123° 56' 31.73" 127° 18' 5.88" 1° 11' 27.58" -10° 7' 13.02" -10° 10' 39. Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan x KETERANGAN b c d 316 317 318 319 320 321 Daruba-Bere-Bere Posi-Posi Galela Tobelo Ibu Kau 128° 12' 9.98" 0° 26' 14.052" -10° 0' 12.67" 1° 15' 2.48" -9° 21' 34.35" - 128° 41' 48.89" 123° 27' 24.74" - 2° 38' 24.79" -0° 9' 29. Kabupaten Belu 2. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.4" - 125° 5' 16.38" 128° 22' 14.81" -10° 43' 24.008" 0° 17' 27.08" 124° 53' 6.63" 128° 8' 47.654" 0° 23' 30. Kabupaten Kupang 2.87" 118° 55' 41.34" 481 88 236 229 250 106 108 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Timor Tengah Selatan 2.2" 0° 26' 9.51" 128° 5' 12.276" 0° 20' 25.51" - -9° 52' 36.38" - 1° 28' 38.25" -9° 46' 51.86" -9° 22' 40.34" -10° 44' 20.97" 0° 27' 13. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara 1.48" 124° 9' 51.17" x x x x x 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Jailolo-Sidangoli Payahe Mafa Sagea Wasile Akelamo Patani Wusi Kasiruta Mandioli Labuha 127° 23' 49.59" 128° 2' 1.21" 123° 9' 57. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.46" -0° 14' 51.15" 127° 23' 12.87" 123° 14' 26.43" 0° 12' 38.77" 128° 45' 23.66" -9° 51' 31.14" 1° 1' 20.16" 1° 27' 48.48" -8° 13' 21.62" -8° 7' 34.92" 125° 8' 35.04" 124° 19' 55.96" 120° 49' 28.09" -8° 27' 47.57" -8° 8' 53.02" -0° 19' 59.46" 127° 23' 57.18" -0° 19' 57. Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.75" 2° 8' 50.82" 128°1' 2. Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.80" 127° 49' 53.48" -9° 24' 21. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.88" 125° 8' 41. Kabupaten Timor Tengah Utara 2. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.03" -0° 29' 38.79" 0° 52' 3.92" 127° 55' 21.77" 127° 58' 53. Kabupaten Halmahera Utara 2.77" 122° 48' 9.43" -9° 56' 14.74" x x x x x x x 309 310 311 312 313 314 315 Besikama Aroki Nemberala Batutua Rote Ternate Tidore 124° 42' 38.35" -9° 43' 21.99" -0° 47' 46. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 486 58 704 763 756 1941 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1. 2010 112 112 .31" 127° 56' 52.96" 128° 6' 42.43" 0° 45' 15. Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.91" 127° 6' 14. Kabupaten Halmahera Tengah 2.32" 1° 58' 56.48" 128° 4' 28. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 112 1104 885 2860 1427 660 232 311 162 1008 LOKASI a Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.99" 127° 49' 4.24" -0° 6' 36. Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara 1. 2010 111 111 NO. Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.55" 1° 36' 41. Kabupaten Halmahera Timur 3.65" -0° 39' 32.62" 123° 25' 33.76" 127° 19' 46.32" 127° 44' 51.248" - -8° 15' 33.NO.28" 120° 1' 25.54" 0° 33' 48.4" 127° 9' 27" - 127° 52' 44.88" 127° 35' 25.18" 1° 54' 24.16" 120° 19' 4. Kabupaten Halmahera Barat 2.54" 1576 95 178 95 565 362 753 74 259 162 166 x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.144" 122° 57' 53.04" 124° 21' 30.56" -0° 9' 27.

88" 126° 48' 7.49" -5° 25' 30.92" 128° 4' 6.95" 127° 41' 45.77" -5° 34' 8.77" -3° 48' 53.31" -3° 37' 40.35" 128° 18' 38.39" -5° 57' 6.65" 131° 4' 45.13" -0° 38' 45.50" -5° 55' 32.8" 132° 49' 22.69" 128° 0' 1.11" -3° 2' 6.92" -2° 45' 55.21" 126° 15' 36.05" 127° 27' 46.59" -5° 59' 59.45" -5° 31' 12.42" -2° 18' 33.NO.69" -6° 20' 40.67" -1° 34' 3.47" -2° 54' 4.64" 134° 20' 54.62" 134° 15' 54.56" 131° 44' 44.65" -7° 14' 53. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1070 811 306 81 513 218 300 1006 1737 137 100 163 406 2069 294 169 66 131 66 44 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tengah Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat x Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x Kabupaten Kepulauan Aru x x x x Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Maluku Tenggara x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 Sawal Waru Kai Kecil Kai Dulah Kai Besar Kola Komfane Wokam Kobror Penambulan Baun Workai Koba Trangan Maikoor Watidal Larat Saumlaki Selaru Seira 129° 4' 28.33" 134° 26' 55. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.70" -1° 25' 24.43" 127° 49' 19.85" -6° 34' 23.47" 126° 37' 35. 2010 114 114 .49" -3° 47' 6.98" -1° 21' 7.13" -6° 28' 44.12" 127° 7' 8.61" 3° 37' 55.47" -6° 26' 42.06" -1° 11' 26.96" 130° 30' 23.66" -6° 56' 42.44" - 129° 53' 50.36" 130° 29' 9.54" 127° 54' 24.86" -5° 34' 0.79" -3° 12' 32.11" -3° 6' 9.95" 134° 46' 55.63" -3° 16' 33. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 79 157 56 159 71 97 301 1438 381 124 275 52 98 272 467 134 122 278 92 1276 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Buru Selatan Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku 1.12" 131° 36' 47.84" -5° 15' 58.48" 131° 6' 0.52" 131° 21' 19.76" 132° 44' 43.90" 127° 37' 33.92" 134° 42' 48.08" 127° 44' 42.69" -6° 47' 7.54" 132° 36' 53.08" -6° 32' 56.03" 134° 30' 32.14" -3° 2' 16.29" -5° 35' 27.45" -3° 29' 55.99" -2° 56' 1.27" -6° 13' 50.09" 129° 12' 44.02" -3° 10' 23.44" -6° 2' 6.67" 128° 23' 23.89" -6° 16' 39.37" 130° 52' 49.45" -5° 44' 46.68" 128° 16' 13.80" -6° 22' 31.89" 134° 31' 57.65" -7° 5' 56.34" -3° 29' 18.77" -2° 54' 17.10" -1° 17' 33.35" 126° 0' 11.88" 134° 46' 1.06" -6° 34' 55.52" 134° 45' 55.19" 125° 57' 12.26" - 127° 36' 35.34" -3° 42' 58.07" -1° 27' 42.95" 132° 51' 6.73" 126° 50' 16.76" -3° 3' 34.76" 134° 45' 39.44" 128° 51' 46.88" 129° 7' 56.45" -5° 35' 3.70" -3° 25' 39.7" -3° 52' 38.96" 127° 49' 32.49" -2° 28' 23. Kabupaten Seram Bagian Timur 2.15" - -0° 41' 1.24" 127° 53' 10.14" -6° 17' 9.80" 134° 54' 35.44" 134° 38' 42.13" 134° 10' 34.43" -3° 30' 20.88" 134° 47' 55.43" 128° 23' 37.70" -3° 11' 45.98" 127° 57' 34.20" -3° 33' 39.91" 134° 42' 29.87" 128° 20' 48.84" 130° 45' 16.28" -3° 33' 57.48" 128° 33' 57.57" 128° 3' 40.84" -8° 4' 18.28" 128° 32' 43.83" 133° 11' 23.68" 127° 48' 19.58" -7° 41' 53.92" 130° 57' 46.44" 128° 25' 36.04" -3° 21' 14.89" -6° 1' 45.66" 129° 4' 21.93" -2° 50' 58.95" 126° 4' 14.44" 131° 10' 27.44" -7° 8' 1.51" 134° 38' 25. Kabupaten Maluku Tengah x x x x x x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Lansa Bisa Taino Sesepe Jobubu Sanana Air Buaya Leksula Waeapo Boano Kawa Laela Waesamu Hitulama Ambon Haruku Saparua Masohi Namea Wahai 127° 27' 25.21" 132° 49' 16.81" 134° 37' 22.24" 127° 45' 30.01" Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 113 113 NO.14" 134° 2' 59.37" -0° 46' 12.49" 131° 59' 4.16" 128° 57' 36.82" -3° 22' 13.81" 134° 19' 46.09" -7° 13' 47.88" -0° 27' 12.76" x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.30" -8° 20' 33.99" -3° 29' 13.20" -3° 9' 15. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.48" 127° 54' 24.72" - -3° 19' 5.14" 131° 42' 42.39" -2° 47' 18.18" -5° 41' 47.90" -7° 49' 4.50" -8° 1' 22.41" -7° 37' 52.46" -3° 6' 3.52" 134° 31' 55.6" 128° 43' 7.

Kabupaten Manokwari 2.36" -0° 5' 25.42" -0° 5' 7.80" 133° 43' 15. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.42" 134° 57' 29.19" 136° 17' 2.39" -1° 51' 23.59" -0° 18' 19.32" 135° 39' 6.59" -3° 10' 23.20" -8° 1' 30.2" - 130° 27' 16.43" -1° 45' 20.62" -0° 52' 37.12" -8° 3' 38.36" 127° 45' 12.4" 128° 4' 21.57" -1° 27' 32.54" -7° 29' 49. Kabupaten Sorong Selatan 3.6" 130° 19' 6.16" -0° 8' 38.76" 134° 37' 26.57" 131° 5' 52.6" 129° 30' 23.29" 134° 7' 55.35" -3° 24' 2.88" -1° 35' 50.57" -7° 57' 30. Kabupaten Nabire x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Papua Barat Kabupaten Fak Fak B.97" -0° 52' 58.42" 130° 42' 31.19" -0° 22' 16.68" -1° 21' 32.48" 129° 34' 54.02" 135° 41' 44.82" -1° 38' 29.65" 135° 36' 43.92" -8° 13' 0.84" -1° 3' 25.76" -1° 33' 6.31" -1° 39' 52.96" -8° 12' 1.05" 129° 34' 33. 2010 115 115 NO.4" -1° 7' 58. Kabupaten Fak Fak 2.92" 134° 16' 43.24" -3° 11' 1.08" 387 Teminabuan-Bintuni 130° 55' 38.53 -1° 52' 0.74" -1° 12' 13.99" 135° 54' 47.78" -1° 39' 31.92" 135° 43' 56.70" -8° 16' 54.64" 130° 58' 9.90" 135° 59' 36.55" -3° 45' 29.08" 129° 41' 19.4" 135° 38' 35.72" 129° 55' 9.4" 135° 21' 25.81" -1° 51' 9.04" 128° 7' 19.12" -8° 15' 46.01" -1° 11' 40.77" - -1° 54' 5.52" -2° 13' 36.68" 134° 0' 6.65" -7° 50' 59.17" - 134° 8' 13.56" 130° 41' 34.44" 136° 16' 16.96" -3° 52' 40.69" -7° 29' 31.40" 140° 30' 54.10" 135° 38' 26.50" -0° 37' 12. Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua 1.32" -0° 55' 18.19" -3° 31' 28.8" -0° 32' 53.96" -1° 45' 53.88" 134° 33' 14. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 50 53 50 300 31 53 38 113 319 334 118 348 98 765 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat 1.44" 130° 41' 10.86" -4° 7' 22.20" Provinsi Papua Barat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat 1.95" 135° 13' 25.79" -7° 47' 28.4" 128° 13' 53.88" 135° 33' 7.32" 130° 32' 5.84" 135° 55' 36.08" -4° 2' 54.50" 135° 46' 41.56" -4° 3' 6.31" 130° 35' 34.94" -3° 35' 56.26" 129° 33' 59.91" -3° 9' 49.2136" 134° 59' 40. Kabupaten Teluk Bintuni 2.45" -7° 23' 59.83" -2° 2' 18.38" 23130 x 388 389 390 391 Atkari Zaag Timoforo Kanoka-Babo 129° 43' 4.52" -1° 25' 33.89" 135° 20' 2.92" 129° 42' 26.56" 134° 40' 10.08" -0° 47' 35.28" - 134° 2' 55.67" -3° 26' 35.04" 135° 24' 32.62" -3° 55' 56.86" -1° 43' 36.31" 130° 46' 30. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.79" - -7° 34' 21.24" 131° 10' 12.06" -8° 5' 51.51" 135° 1' 23.94" 136° 29' 59.12" 985 309 579 16870 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 116 116 .42" 136° 23' 19.36" -3° 31' 51.50" 134° 2' 15.83" 135° 50' 47.00" - -1° 1' 58.12" -8° 6' 15.62" -3° 11' 12.67" -0° 51' 30.69" -4° 5' 2. Kabupaten Sorong 4. Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Nabire A.84" 129° 48' 15. Kota Sorong Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat 1.40" - -2° 18' 24.44" -0° 42' 42.08" 129° 58' 30.75" -1° 41' 13.42" 136° 5' 55.96" -1° 52' 12.83" 134° 47' 57.62" -7° 57' 33. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1452 307 345 431 513 6078 516 208 1214 155 110 293 140 1382 343 403 1372 1033 22630 Provinsi Papua Barat LOKASI a Kabupaten Manokwari x x KETERANGAN b c d 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 Manokwari Oransbari Takubo Numfor Urema Kaimana Omba Warsa Biak Pom Ansas Serui Timur Samberbada Nabire Legare Ulawa Agamanan Parekebo Warem-Demta 133° 31' 15.86" -4° 17' 39.68" 132° 43' 28.88" 134° 52' 16.11" -0° 44' 45.NO.06" 133° 30' 52. Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 Wuru Wiliaru Masela Tutuwawang Tela Emraing Wetan Lakor Moa Waigeo Bokpapo Wairemah Batanta Salawati 130° 49' 56.48" 134° 23' 21.84" 129° 51' 43.44" -7° 57' 38.66" 133° 37' 35.2" 130° 28' 12.71" -4° 14' 20.16" -1° 46' 44.12" 129° 39' 10.50" 133° 8' 58.8" - 130° 59' 54.42" 131° 4' 15.49" 130° 40' 40.32" -7° 52' 59.

Kabupaten Mimika 2. Kabupaten Boven Digul x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.62" -2° 32' 32. 2.11" 139° 55' 6.44" -3° 13' 12. 4.20" 141° 0' 0" 140° 55' 37. 2.70" -3° 46' 10.51" 139° 57' 44. Kabupaten Mappi 4.20" 140° 18' 1. Provinsi Papua 1. 6.92" -2° 28' 48.94" 139° 21' 0. 4.43" -5° 11' 28. 3.15" - 141° 0' 0" -4° 5' 29. Kabupaten Jayapura 2.51" -3° 0' 8. Kabupaten Pegunungan Bintang 2. Provinsi Papua 1. 5. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.15" 8160 1766 180 1685 165 7235 573 754 2902 x 421 Timika-Merauke 134° 49' 35. 2010 118 118 . Kabupaten Merauke 5.34" 140° 33' 30. Kabupaten Pegunungan Bintang 7. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 6.88" 131609 Kabupaten Wamena Provinsi Papua Kabupaten Keerom A.67" 141° 0' 0" -3° 42' 6.71" 140° 31' 55. 8.17" - -9° 7' 59. Keterangan                       a b c d : CAT dalam kabupaten/kota : CAT lintas kabupaten/kota : CAT lintas provinsi : CAT lintas negara Jumlah Cekungan Air Tanah 206 cekungan 176 cekungan 35 cekungan 4 cekungan 421 cekungan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.17" 140° 45' 32. Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua 1. Provinsi Papua 1.Senggi Jayapura Timur Arso Lereh-Leweh Ubrub Mandala Nalco-Bime 135° 46' 26.99" -3° 1' 45.05" -3° 7' 17.85" - -3° 51' 31.70" 140° 31' 15. Papua Nugini Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua 1.89" 138° 42' 41.21" -4° 13' 50. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 2.55" -2° 56' 38. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.45" -4° 12' 25. 2010 117 117 NO. Kabupaten Yahukimo 8.87" -4° 40' 4. Kabupaten Wamena Papua Nugini KETERANGAN b c d B. 3.29" - 140° 23' 4.NO.66" 139° 27' 23. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.87" 140° 25' 20. 7.88" 140° 52' 46. 3.82" 25380 x 412 413 414 415 416 417 418 419 420 Enarotali Wamena Hulu S.97" -4° 8' 10.32" - 138° 57' 18.47" - -4° 22' 40. Kabupaten Yahukimo A. Kabupaten Keerom B.37" -3° 41' 38.03" -3° 32' 36.82" -3° 3' 56.20" 140° 40' 59. Provinsi Papua 1.07 -3° 59' 59. Provinsi Papua LOKASI a Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Tolikara Kabupaten Paniai Kabupaten Keerom Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Paniai Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Wamena x x KETERANGAN b c d 411 Taritatu 136° 49' 23. Kabupaten Asmat 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful