PT-PLA C 1.

1 - 2010

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL DAN IRIGASI AIR TANAH DALAM

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN IR DEPARTEMEN PERTANIAN 2010

KATA PENGANTAR
   

dinas lingkup Pertanian di tingkat Kabupaten/Kota) sesuai dengan kondisi dan potensi di daerah masing-masing

Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah (Irigasi Air Tanah Dangkal dan Irigasi Air Tanah Dalam) dalam menunjang pembangunan pertanian merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan sumber air irigasi untuk usaha pertanian, baik untuk sub-sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Petunjuk/pedoman teknis pengembangan irigasi air tanah dangkal dan dalam ini disusun dengan maksud untuk menjadi pedoman atau petunjuk atau acuan pelaksanaan bagi para pelaksana kegiatan pengelolaan air, khususnya pengembangan irigasi air tanah di daerah (Propinsi dan Kabupaten/ Kota). Pedoman teknis ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pelaksanaan kegiatan di lapangan, terutama dalam mengartikan dan merinci ketentuan-ketentuan teknis di tingkat lapangan. Dengan pertimbangan bahwa kondisi dan potensi antar daerah yang sangat bervariasi, maka pedoman teknis ini harus dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan oleh Satker Propinsi (Dinas-dinas lingkup Pertanian di tingkat Propinsi) dan selanjutnya dalam bentuk Petunjuk Teknis oleh Satker Kabupaten (Dinas 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

Buku pedoman ini dibagi menjadi 2 bagian, masingmasing terdiri dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal. Oleh karena itu, penggunaan atau pemanfaatan buku pedoman ini harus disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan di masing-masing daerah. Demikian semoga pedoman ini dapat dijadikan sebagai acuan/petunjuk oleh para pelaksana kegiatan dengan sebaikbaiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Jakarta, Januari 2010 Direktur Pengelolaan Air,

Ir. Tunggul Iman Panudju, M.Sc NIP. 19580526 198703 1 002

 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

i

ii

i

ii

BAGIAN I

DAFTAR ISI
PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL
KATA PENGANTAR .................................................i DAFTAR ISI ........................................................ iii I. PENDAHULUAN ................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................ 1 B. Tujuan dan Sasaran....................................... 3 C. Pengertian ................................................. 4 II. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL......... 6 A. Persyaratan Lokasi........................................ 6 B. Persyaratan Petani/Kelompok .......................... 7 III. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ............... 8 A. Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal................... 8 1. 2. 3. Sumur ................................................. 8 Pompa Air............................................. 9 Jaringan Distribusi .................................. 9

E. Pelatihan ..................................................19 F. Pemanfaatan .............................................19 G. Pembiayaan...............................................19 I. Waktu Pelaksanaan ......................................20 V. MONITORING DAN EVALUASI ..............................21 A. Indikator Kinerja.........................................21 B. Monitoring dan Evaluasi.................................21 C. Pelaporan .................................................22 D. Pengendalian .............................................22 DAFTAR PUSTAKA................................................24 LAMPIRAN                            

B. Kriteria Teknis ...........................................10 IV. PELAKSANAAN................................................14 A. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana......14 B. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal ...............................17 C. Operasi dan Pemeliharaan .............................18 D. Pembinaan ................................................18
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iii

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iv

iii

iv

.. 2010 vi v vi .............31 DAFTAR PUSTAKA............... Monitoring dan Evaluasi........................ Operasi dan Pemeliharaan . Sumur . Kriteria Teknis .............. Pembinaan ....11 1......................... MONITORING DAN EVALUASI .. 4 II......25 D.......... 2010 v Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA............................................ Pelaporan .33 LAMPIRAN B............................................. Survey Investigasi dan Desain Sederhana ........ 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... Pembiayaan..... 1 B................................. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ......... 7 A....... Tujuan dan Sasaran..................................... 3....................................11 A...............................................................28 B...13 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) ....... Pengertian ...........26 G.............................................. Pengendalian ..BAGIAN II DAFTAR ISI PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM E......... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA................................... Persyaratan Petani ................................................ PENDAHULUAN .11 Pompa Air dan Perlengkapannya...... Indikator Kinerja..28 I............... 298 LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA UNTUK MENENTUKAN TITIK LOKASI PENGEBORAN..10 III.........19 A........... Pemanfaatan ...................... KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM.....28 C..................................................................12 Rumah Pompa/Genset.................................................................................... 3 C................................ 1 A............... 4.....................14 A........................27 I.......... Persyaratan Lokasi......... PELAKSANAAN...............19 B..16 IV..............29 D.26 F........................... Komponen Irigasi Air Tanah Dalam................... 2.. 8 B......................................25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA................................... Waktu Pelaksanaan ................ Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam ........ Pelatihan ...... Latar Belakang ..................23 C.27 V......................

Sumber air tanah dangkal umumnya terdapat di dalam lapisan-lapisan tanah yang tidak begitu dalam. Air tanah merupakan salah satu pilihan sumber air yang dapat dikembangkan untuk pertanian. untuk maka perlu dipikirkan air alternatif memenuhi kebutuhan permukaan tanahnya konstan. Namun demikian. A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengelompokan ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan air tanah dan kebutuhan infrastrukturnya. embung dan lain-lain telah lama dilakukan masyarakat. maka sering kali tanaman yang dibudidayakan pada periode tersebut mengalami kekeringan. maka pengisian air tanah (water recharging) tidak terjadi secara alamiah. baik untuk pengadaan pompa 2 maupun pembuatan bangunan penampung (reservoir) 1 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka ada dua jenis air tanah yaitu : (1) air tanah dangkal dan (2) air tanah dalam. pemanfaatannya akan lebih mudah karena infrastruktur yang diperlukan lebih sederhana. karena beda potensial antara air tanah dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Secara teroritis. waduk. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pertimbangannya. danau. 2010 1 2 . tanaman dari sumber air yang lain. Pengambilan air tanah sesuai dengan kemampuan pengisiannya. sehingga dapat dikembangkan oleh petani setempat secara mandiri ataupun jika memerlukan dukungan masih pada tingkatan yang relatif terbatas. sehingga memungkinkan untuk diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa. selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian juga memungkinkan terjadinya akselerasi sirkulasi air tanah. potensi air tanah di suatu wilayah relatif tetap apabila tidak diusahakan. seperti sungai. 2010 Pemanfaatan air tanah dangkal dari sumur-sumur yang diangkat dengan menggunakan pompa memerlukan biaya tambahan.BAGIAN I  PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL I. karena kebutuhannya belum proporsional dibandingkan dengan ketersediaannya terutama pada musim kemarau. Berdasarkan fakta empirik lain tersebut. Bagi daerah yang mempunyai potensi sumber air tanah dangkal. berdasarkan pemanfaatannya. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemanfaatan air permukaan.

irigasi air tanah. 3. maka perlu dirancang mekanisme pembayaran biaya operasional dan pemeliharaan (OP) dalam kelompok (partisipasi petani). Agar nilai manfaat air tanah dangkal dapat dioptimalkan. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah : a. irigasi tambak. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. irigasi air tanah dangkal dukungan pembiayaan yang akan berasal dari jenis komoditas yang diusahakan petani dan kelompoknya sehingga keberlanjutan (sustainability) usaha pompa dalam pendayagunaan air tanah dangkal dapat dipertahankan. dan 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. B. c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 4 3 4 . 2010 unit (alokasi per kabupaten berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada b. Oleh karena itu. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pembuangan pertanian. Irigasi : usaha penyediaan. Air Tanah Dangkal : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman < 30 meter. luas tanam. Meningkatkan kualitas produksi pertanian dan pendapatan petani.sebagai tandon air. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian. irigasi rawa. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. perlu adanya a. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas 3. agar ketergantungan kepada pemerintah dapat diminimalkan. Berkurangnya d. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi resiko produksi kegagalan usahatani usahatani melalui karena kekurangan air irigasi/kekeringan. 2. 2. Tujuan dan Sasaran 1. b. C. peningkatan areal tanam dan peningkatan permukaan. Pengertian 1. Terbangunnya sebanyak 706 Lampiran 1). dan produktivitas usaha tani.530 ha. c. pengaturan. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). Meningkatnya produktivitas.

8. dan ketinggian di atas permukaan laut. 4.4. pengambilan. hortikultura. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. maka pemilihan lokasi harus dilakukan dengan tepat. II. 6. 2010 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. baik kuantitas maupun kualitasnya. 2010 6 5 6 . Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumurbor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. garis bujur. 7. di atas. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan. Persyaratan Lokasi 1. Di lokasi yang bersangkutan usahataninya sudah berkembang atau paling tidak daerah tersebut sesuai untuk pengembangan usaha tani tanaman pangan. di atas. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL  Agar pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat berhasil dengan baik. penyaluran dan pembagian. Diprioritaskan pada lokasi lahan sawah tadah hujan dan lahan kering kawasan tanaman pangan. peternakan. ataupun di bawah permukaan tanah. perkebunan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumber Air Irigasi : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. Beberapa kriteria yang perlu diperhitungkan antara lain : A. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. Di lokasi yang bersangkutan mempunyai potensi air tanah dangkal. Potensi sumber air tanah dangkal yang tersedia paling tidak dapat memberikan air irigasi suplementer (supplementary irrigation) pada areal seluas kurang lebih 5 hektar sesuai jenis komoditas yang diusahakan. 3. 5.

Sumur Untuk dapat memanfaatkan air tanah. 2. Diprioritaskan pada kelompok tani/P3A yang sudah terbentuk atau akan membentuk kelompok tani/ P3A/P3AT apabila dibangun irigasi air tanah dangkal. 6. Minimal ada tiga komponen yang diperlukan agar air tanah dangkal tersedia untuk irigasi : (a) sumur (b) pompa air dan motor penggerak dan (c) jaringan distribusi. digunakan untuk hijauan makanan ternak. Dalam pengelolaannya termasuk pemanfaatannya. A. 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Dapat dikembangkan di lokasi Daerah Irigasi (DI) yang memiliki jaringan irigasi di mana kondisi ketersediaan air pada musim kemarau tidak mampu mengairi lahan usaha tani. B. sarana/fasilitas/peralatan irigasi air tanah dangkal tidak boleh dikuasai secara perorangan tetapi harus digunakan oleh anggota kelompok. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pantek pengembangannya dengan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lahan usaha tani yang akan mendapat pelayanan irigasi air tanah dangkal yang akan dibangun adalah lahan milik petani. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal Agar air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk air irigasi. terlebih dahulu harus dibuat sumur sebagai tempat pengambilan. maka diperlukan upaya pengambilan/ pengangkatan ke permukaan tanah. 5. dan sanitasi ternak. 2010 7 8 .hortikultura. III. Persyaratan Petani/Kelompok 1. 2010 7 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Untuk kawasan 3. Petani di lokasi memerlukan irigasi air tanah dangkal dana dan mampu dan memanfaatkan pemeliharaan serta yang merawatnya dengan baik termasuk menyediakan operasional dibuktikan dari surat pernyataan kelompok tani atas nama petani. misalnya dengan pompa. air minum ternak. Sumur tersebut dapat berupa sumur gali (cara pengembangannya dengan digali) sumur dan sumur bor/ (cara 8 peternakan. dan perkebunan.

Pompa air tanah dangkal bersifat mobile (dapat dipindah-pindahkan). bangunan pengatur berupa pintu dan boks pembagi. Untuk kehilangan losses) mengurangi air (water dalam dengan kedalaman air tanah ( < 30 m ). JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. dimana 1 (satu) unit pompa air akan digunakan untuk melayani beberapa sumur. sentrifugal. Jenis pompa air yang biasa digunakan untuk air tanah dangkal pada umumnya jenis Pompa pompa air B. bangunan pengatur debit dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa. 3.dibor). maka perlu dibangun jaringan 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. digerakkan dengan motor penggerak bertenaga diesel atau bensin atau tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. yang terdiri atas: saluran. 2 (dua) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 2 (dua) buah atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk jaringan distribusinya. 1 (satu) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 1 (satu) atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk saluran distribusinya. penyaluran. Jaringan Distribusi Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usahatani.  Kriteria Teknis Pengertian 1 unit irigasi air tanah dangkal berdasarkan luas layanan oncoran adalah sebagai berikut : a. Kedalaman sumur yang dibuat disesuaikan irigasi air tanah (JIAT). atau b. 2010 10 9 10 . Pompa Air Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dalam tanah ke permukaan tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

2010 11 12 . Diameter sumur gali dengan diameter lebih kurang 1 meter. Diutamakan telah memiliki/memenuhi SNI atau memiliki sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Jaringan Distribusi (JIAT) Penyempurnaan pompa dapat jaringan dimanfaatkan distribusi seefisien dan 12 yang resmi ditunjuk oleh dimaksudkan agar air yang dikeluarkan dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. d. Kedalaman sumur disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). Pipa-pipa : Pipa-pipa diperlukan untuk pipa selubung luar (casing pada sumur bor). Diutamakan yang telah memiliki SNI atau sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi pemerintah. Bila struktur tanahnya labil. pipa/selang hisap. penggerak : motor bertenaga diesel atau bensin. dapat diterima petani. mudah dalam perawatan dan suku cadang tersedia di pasar setempat. Untuk sumur bor/pantek. Terbuat dari bahan besi atau PVC (paralon) cukup kuat.Alternatif pilihan butir a atau b didasarkan pada kecukupan dana dan diuraikan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). diameter selubungnya disesuaikan dengan kondisi jenis pompanya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. b. Sumur : dapat dibuat dalam bentuk sumur gali atau sumur bor. Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengembangan irigasi air tanah dangkal antara lain : a. dan pembuangan. c. dinding sumur dapat diperkuat dengan tembok atau buis beton. Pompa air : tipe : sentrifugal atau axial. 2010 11 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pelaksanaan survei investigasi dibiayai oleh daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan) dan dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petugas Kecamatan. Survey Investigasi Survey investigasi dimaksudkan untuk yang mendapatkan calon lokasi dan petani sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. A. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dangkal. kehilangan dengan air mengurangi pada saluran IV. 2010 14 13 14 .seefektif kebocoran/ tersebut. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana 1. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pelaksanaan survei investigasi dikoordinasikan dengan instansi/Sub Dinas terkait terutama dengan Sub Dinas yang menangani komoditas yang akan dikembangkan. baik dari segi teknis maupun sosial. mungkin. PELAKSANAAN Tahapan pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat dilaksanakan sebagai berikut : Jaringan distribusi tersebut dapat berupa pipa atau selang yang tahan bocor.

d. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dangkal Untuk yang menekan diangkat biaya dari operasional dalam hal distribusi air. b. dan mesin Berdasarkan diperlukan. spesifikasi diperlukan. peralatan. Kondisi usaha tani dan jenis komoditi yang layak dikembangkan. peralatan. Kebutuhan bahan. c. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dangkal Rancangan/desain sederhana disusun untuk lokasi yang ditetapkan sebagai calon lokasi pengembangan irigasi air taanah dangkal. Luas layanan oncoran (command area) yang akan diairi.Laporan hasil survei investigasi paling tidak memuat : a. Rancangan/desain irigasi air tanah dangkal sederhana sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. sehingga dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 letak/lokasi sumur (koordinat sumur). 2. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat digunakan untuk menetapkan spefisikasi pompa air. jaringan pembangunan/perbaikan 15 15 16 . maka air telah sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat ditampung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan daerah layanan irigasinya dengan menggunakan bak penampung air (jika dananya mencukupi). Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kedalaman sumur. Gambar/sketsa saluran distribusi. meliputi kedalaman dan kapasitas pompa/air yang keluar dari mesin pompa. 3. hasil SID akan dapat diketahui kebutuhan bahan. 2010 jumlah dan irigasi kebutuhan pipa-pipa. dan yang 16 spesifikasi motor penggerak pompa. Satu hal yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan desain sumur air tanah dangkal sederhana yaitu dalam hal tanah distribusi. e. dan rancangan jaringan irigasi yang akan dibangun. Potensi air tanah dangkal untuk kebutuhan irigasi. dan mesin yang Data kedalamam dan potensi air tanah.

dan pemasaran hasil. 2. Pola pelaksanaan Bansos mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum Bansos Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pengembangan/ Operasi dan Pemeliharaan 1. pengolahan. pemasangan perbaikan jaringan pengembangan dan distribusinya. 2010 Pembinaan 1. Pelaksanaan Konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan dengan pola Bansos (dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pasca panen. serta pengembangan usaha lainnya. ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok tani. pemilihan komoditas yang diusahakan. B. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah dangkal diserahkan kepada petani/kelompok tani. Kebutuhan anggaran Meliputi perkiraan kebutuhan biaya untuk sumur. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani sebagai penerima manfaat. 2. pipa-pipa. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal D. kebutuhan anggaran ini dijadikan acuan dalam penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS).C. Perkiraan pengadaan bahan. 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. 1. 4. Besarnya iuran pelayanan irigasi yang dibutuhkan. peralatan. Pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan berdasarkan kepada usulan yang diajukan oleh petani/kelompoktani seperti RUKK (Rencana Usulan Kerja Kelompok) setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kab/Kota (contoh RUKK dapat dilihat pada Lampiran 2). pompa air dan perlengkapannya. teknik budidaya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. 2010 18 17 18 . Pembinaan terhadap petani penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota secara berkelanjutan. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal. panen.

Kebutuhan biaya jaringan untuk SID irigasi/distribusi. APBD Kabupaten/ Kota. 2010 20 19 20 . dan partisipasi masyarakat. Pembiayaan Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal dipergunakan untuk pembuatan sumur bor/gali. pengadaaan pipa-pipa. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dangkal mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 19 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. Pelatihan 1. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemanfaatan Dengan pertimbangan biaya investasi.E. dan pembinaan disediakan dari APBD Propinsi. operasi dan pemeliharaan efisien. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. yang relatif tinggi. F. pompa air dan perlengkapannya. maka pemanfaatannya harus dilakukan secara efektif dan G. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan oleh pihak ketiga/pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah. I.

2010 21 22 . Monitoring pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas keterPertanian Pengelolaan Propinsi Air). Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang disusun setiap bulan. 2. 3. Agar lebih informatif dan komunikatif. intensitas pertanaman (IP). dengan Laporan tembusannya Bulanan disusun disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat mengacu pada Lampiran 4. Terdapat 2 (tiga) jenis laporan yang harus dibuat yaitu Laporan Perkembangan dan Laporan Akhir. 3. Output : Terbangun dan berfungsinya irigasi air tanah dangkal. 4.4 (diisi di tingkat Propinsi). peningkatan produktivitas. Monitoring dan Evaluasi 1. seperti peningkatan luas tanam.1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.2 (diisi di tingkat usaha Kabupaten/Kota) serta 4. Impact : Peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani. 4. 2010 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Outcome : Terjadinya sediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan potensi air tanah dangkal. B. Evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dangkal. 2.3 dan 4. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dangkal selesai. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai 22 1. peningkatan 2. berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan.V. Benefit : Terjadinya peningkatan pertanian. Pelaporan 1. A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Akhir agar dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah sebagai berikut : C.

kegiatan). Irigasi. Departemen Pertanian. Gita Rencana Multiplan. 4. Departemen Pekerjaan Umum. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan. ---------------. 2010 23 24 23 24 . Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Jakarta. Dit. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Laporan Akhir agar mengikuti outline             seperti pada Lampiran 5.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. 2004. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura. Laporan Akhir. Jakarta. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2004. 2004. Petunjuk Teknis Pengembangan Pompa Air Tanah Dangkal. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Taman Margasatwa No. 2010 Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air. Ditjen Sumber Daya Air. PT. D. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Departemen Pertanian. Proyek Pengembangan Sumberdaya. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Jakarta. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. 1994/1995. Jakarta. Jl. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2002. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian.

Bandung Barat 2 Prop. Kendal 2 1 2 2 3 2 3 1 2 4 2 2 29 2 3 19 10 1 1 16 Sub Sektor Horti Bun Nak 3 1 1 1 Jumlah (Unit) 19 1 2 3 2 3 2 3 1 2 5 3 2 58 2 3 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DITJEN PLA TAHUN 2010   No Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. Banyumas Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PT. Bogor Kab. 2010 26 25 26 . Jawa Tengah Kab. Pradnya Paramita. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Hidrologi Untuk Pengairan. Lebak Kab. Suyono dan Takeda. Bandung Kab. Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. Jakarta. Sosrodarsono. Serang 3 Prop. Banten Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tasikmalaya Kota Tasikmalaya Kab. Sukoharjo Kab. Cirebon Kab. Kensaku (editor). Ciamis Kab. Jakarta. Jawa Barat Kab.Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Garut Kab. 2003. Subang Kab.

Grobogan Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Labuhan Batu Kab. Tanah Karo Kab. Sumatera Utara Kab. Situbondo Kab. Mojokerto Kab. Tapanuli Selatan Kab. Aceh Timur Kab. DIY Kab. Rembang Kab. Salatiga 3 2 10 10 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 10 5 5 2 5 7 10 5 4 2 5 6 3 2 3 3 7 3 4 4 8 38 5 1 1 1 3 11 2 3 11 2 3 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Gresik Kab. Klaten Kab. Tulungagung Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kulon Progo 3 3 - 4 - 5 Prop. Banyuwangi Kab. 2010 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lamongan Sub Sektor Horti Bun 5 3 16 3 2 2 4 5 11 8 14 1 2 2 3 2 5 2 4 8 7 11 2 9 3 2 26 1 5 2 2 Nak Jumlah (Unit) 5 3 16 3 2 2 4 5 33 1 2 4 5 2 5 2 4 8 53 6 7 6 Prop. Simalungun Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Kudus Kab. Pacitan Kab. Pemalang Kab. Agam Kab. Sampang Kab. Aceh Utara Kab. Bener Meriah 7 Prop. Bireun Kab. Langkat Kab. Gunungkidul Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Jombang Kab. Pasaman 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Purworejo Kab. NAD Kab. Blora Kab. Pati Kab. Pidie Jaya Kab. Nias Selatan Kota Padang Lawas Utara 4 Prop. Jawa Timur Kab. 2010 28 27 28 . Dairi Kab. Tuban 9 5 1 4 17 3 8 Prop Sumatera Barat Kab.

Muara Bungo 2 2 5 2 4 2 2 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 8 7 6 5 2 2 7 3 1 1 20 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 17 2 11 8 3 6 3 - 7 3 1 4 26 2 2 5 3 2 2 3 2 2 3 38 12 11 1 6 2 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pesisir Selatan Kab. Rokan Hulu Kab. Muara Enim Kab. Sarolangun Kab. Lampung Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kab. Pelalawan Kab. 2010 30 29 30 . Kampar Kab. Tanggamus - 15 26 3 45 3 4 9 Prop. Solok Kab. Sijunjung 4 2 1 Sub Sektor Horti Bun 2 Nak 4 Jumlah (Unit) 6 2 10 11 2 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Tanjab Timur Kab. Indragiri Hulu Kab. Musi Banyuasin Kab. Siak Kota Pekanbaru 4 4 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 1 3 3 3 10 8 7 2 4 3 4 10 1 3 10 Prop. Ogan Komering Ilir Kab. Kuantan Singingi Kab. Empat Lawang Prop. Jambi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lampung Selatan Kab. Batanghari Kab. Pasaman Barat Kab. Banyuasin Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Ogan Ilir Kab. Musi Rawas Kab. 2010 29 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tebo Kab. Solok Selatan Kab. Sumatera Selatan Kab. Bengkalis Kab. Indragiri Hilir Kab. Rokan Hilir Kab. Kerinci Kab. Muaro Jambi Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Tanjab Barat Kab. Riau Kab. Ogan Komering Ulu Kota Lubuk Linggau Kab.

Kapuas Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kalimantan Barat Kab. Lampung Tengah Kab. Bantaeng Kab. Bengkulu Tengah 18 Prop. Kalimantan Tengah Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Landak Kab. Tanah Bumbu Sub Sektor Horti Bun 3 3 5 14 4 5 3 3 4 5 5 3 24 2 4 3 4 16 3 8 3 2 3 3 3 3 3 1 4 2 3 Nak Jumlah (Unit) 3 3 19 4 5 3 3 4 8 5 3 48 8 8 3 2 3 3 3 3 10 13 Prop. Pesawaran Sub Sektor Horti Bun Nak 3 3 3 3 5 4 2 5 5 5 4 10 4 4 1 2 13 3 3 5 2 6 8 4 4 5 9 3 Jumlah (Unit) 3 3 17 6 5 4 2 5 5 15 8 4 3 13 3 3 5 2 14 4 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Tapin Kab. 2010 32 31 32 .No Prop/Kab/Kota TP Kab. 2010 31 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bengkayang Kab. Gunung Mas Kab. Kutai Kertanegara 14 Prop. Maros Kab. Bengkulu Utara Kab. Kotabaru Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jeneponto Kab. Sambas 19 Prop. Kalimantan Selatan Kab. Poso Kota Palu 15 20 Prop. Penajam Paser Utara Kab. Maluku Utara Kab. Kotawaringin Timur Kab. Tana Toraja 16 Prop. Bengkulu Kab. Sulawesi Tengah Kab. Seluma Kab. Halmahera Selatan Prop. Enrekang Kab. Luwu Kab. Murung Raya 17 Prop. Gowa Kab. Barito Kuala Kab. Sinjai Kab. Muko-Muko Kab. Sidenreng Rappang Kab. Kalimantan Timur Kab. Sulawesi Selatan Kab. Paser Kota Balikpapan Kota Samarinda Kab.

Bangli Kab. Bintan Kota Batam 24 Prop. Pahowato Kab. Lombok Tengah Kab. Manggarai Barat Kab. Timor Tengah Utara Kab. Bima Kab. Sumba Barat Daya Kab. NTT Kab. Sumba Tengah 23 Prop. Bone Bolango Prop. Alor Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Gorontalo Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Maluku Kab. Kepulauan Riau Kab. Wajo 5 4 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 5 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Dompu Kota Bima Kab. Karangasem Kota Denpasar 26 Prop. Lembata Kab. Boalemo Kab. Rotendau Kab. Maluku Tenggara Barat Kota Tual 25 Prop. Lombok Barat Kab. Lombok Timur Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Sikka Kab. Kupang Kab. Ngada Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bombana Kab. 2010 34 33 34 . 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumbawa Barat 2 3 4 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 4 21 Prop. Bali Kab. Muna Kab. Buleleng Kab. Wakatobi - - 2 6 2 3 4 2 2 2 2 5 3 3 18 26 5 2 17 2 2 5 2 3 3 4 3 5 5 1 5 5 3 5 3 10 3 6 4 2 7 6 5 66 2 7 2 3 16 4 11 5 5 1 5 5 2 2 8 3 5 9 3 3 3 3 1 2 15 5 10 6 10 7 1 3 3 2 9 3 9 16 4 10 - 2 2 17 6 8 3 3 1 2 25 5 20 13 1 7 3 2 37 27 22 Prop. Sumbawa Kab. Sumba Barat Kab. NTB Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Timor Tengah Selatan Kab.

Nabire Kab.No Prop/Kab/Kota TP Sub Sektor Horti 5 Bun 7 2 Nak 14 5 4 5 5 2 14 8 4 4 4 4 4 2 237 3 2 62 155 252 3 3 Jumlah (Unit) 26 7 4 8 5 2 26 4 7 4 7 4 706 28 Prop. Papua Kab. Fak-Fak Kota Sorong Kab. Biak Numfor Kab. Papua Barat Kab. Jayapura Kab. Mappi Kab. 2010 : 62 Unit : 155 Unit : 252 Unit 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sorong Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sorong Selatan Jumlah Total   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 237 Unit Hortikultura Perkebunan Peternakan               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Mamberamo Tengah                   29 Prop. Manokwari Kab. 2010 36 35 36 .

.. 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Lampiran 2                                                                       CONTOH RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL TAHUN 2010 Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal T.....2010                                                           Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA......A 2010 Lampiran 3   . 2010 38 37 38 .. ……………..... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Rehab JITUT 2... Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. P I P 12. 2. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A. Balai Subak 13... Dam Parit 10.. Sekolah Lapang Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                     Ctt: 1.id 3. : ……………………………. : …………………………….. : …………………………….go. 3. ……………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. : ……………………………. 2010 9. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Form PLA. Sumur Resapan 11. Embung 9. : …………………………….. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Harsono RM No. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. 2010 40 39 40 . paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Irigasi Tanah Dangkal 5. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH ………………………. : ……………………………. P I P 12.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur Resapan 11.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1.go.2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No.………………...*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. Pompa 8.. TAM 4.. Air Permukaan 7.. Air Permukaan 7. P I P 12. 4. Pompa 8. …………………………. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Form PLA.02   ` LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. 5. 4. Pengelolaan Air 5.1 Lampiran 4. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. 2. Balai Subak 13. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 7. Harsono RM No. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. Sumur Resapan 11.. 2010       39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..id 3. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 3. Irigasi Tanah Dalam 6. : ……………………………. : ……………………………. 8. Rehab JIDES 3. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1.…………. Balai Subak 13. Dam Parit 10. 6. Irigasi Tanah Dalam 6. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. Embung 9.01 : …………………………….. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Aspek Kegiatan 3 1. : …………………………….A. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.Lampiran 4. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. Dam Parit 10.. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. **) Coret yang tidak perlu ………………………. 3 Ragunan Jaksel.*) Kab/Kota ………………… 1. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.

2010 42 41 42 . menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. Form PLA. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.5 X 5 Ton = 1.5 = 750 ton ………….000. 2007.03       Lampiran 4.250 ton b. contoh : a. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.Lampiran 4.3 Form PLA. 25. 25. 2007.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. c. Harsono RM No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Subsektor No. 2006. 1 A.04 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. / Kg atau Rp. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Rehab JITUT 2.000. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. / Kg atau Rp. c.………….Balai Subak 13.000. Pompa 8. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. : ……………………………….000 = Rp. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. : ……………………………….5 = 750 ton Catatan : 1.4 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. TAM 4. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 25..P I P 12. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. 25. 25.. …………………. 1 A. 25. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………..id 3. ………………………… 2010 ………………. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 : ………………………………. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.………….000 = Rp..Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. Dam Parit 10.. 2006..5 ton/Ha dan IP 150 %. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Rehab JIDES 3. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2.go. 25. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Irigasi Tanah Dangkal 5.250 ton b. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Harsono RM No. : ………………………………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. No.000 X 1. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.5 ton X 1. : ……………………………….000. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.go. Manfaat harus terukur. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten                         41 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. : ……………………………….id 3 Manfaat harus terukur.5 X 5 Ton = 1. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.. Irigasi Tanah Dalam 6. contoh : a.000. 25.5 ton/Ha dan IP 150 %. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.000 X 1. : ……………………………….000. Embung 9. Air Permukaan 7.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp.. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.Sumur Resapan 11. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.5 ton X 1.

2010 44 43 44 . PENDAHULUAN  A. Tujuan dan Sasaran   II. Masukan C. Latar Belakang B. Lokasi (administratif dan koordinat) B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DAMPAK    VI. Pemecahan Masalah   III. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tahap Pelaksanaan D. Masalah E.  Lampiran 5   Outline Laporan Akhir I. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. HASIL    IV. KESIMPULAN DAN SARAN  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN  A. MANFAAT    V.

Apakah ada potensi sumber air tanah dangkal c.Lampiran 6 Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah No. Juknis 3. 2010 2 . Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dangkal b. RAB a. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. 5. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Juklak 2. Apakah sudah disusun desain . Calon Petani a. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota d. Apakah calon lokasi mudah diakses e. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak Ya/tidak 1 1 No. Apakah RUKK sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.1. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.2. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. SID 4. Desain Sederhana a. URAIAN KEGIATAN f. I PERSIAPAN 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Organisasi/kelembagaan 4.3.

Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. SK Tim Teknis /Koorlap KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada III PELAKSANAAN 1.3. Apakah sudah dibuat pembukuan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Evaluasi URAIAN KEGIATAN a. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5. Bendahara Pengeluaran 7. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi 4. Apakah sudah dibuat laporan akhir KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum V PERTANGGUNGJAWABAN 5. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. 2010 3 3 No.2. PPK. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum IV MONEV DAN PELAPORAN 4.4.2. SK KPA.1. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.1. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain 2.No. 2010 4 . Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. dalam pelaksanaan dan akhir) 5. Monitoring a. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b. URAIAN KEGIATAN e.3. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. 4. Apakah mekanisme pencairan rekening kelompok melalui "contra sign" f. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Pelaporan a. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c.

2010 relatif tetap. tersebut Pengembangan irigasi air tanah dalam menjadi pilihan ketersediaan sumber air permukaan sangat terbatas sehingga secara teknis. maka curah hujan merupakan sumber air andalan utama untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. 2010 1 2 . Secara praktikal. sehingga pasokan air untuk pertanian menjadi terbatas. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. danau.pasokan air sangat terbatas. A. tersimpan sebagai air tanah/air bawah tanah (ground water). sebagian tersimpan dalam waduk. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Menyadari hal tersebut. Keragaman ini seringkali sulit diprediksi dan diantisipasi akibat dinamika atmosfer yang luar biasa. pemanfatan air tanah untuk irigasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian : (a) sebagai suplesi pada saat terjadi kekurangan air dan (b) sebagai sumber air utama. Pemanfaatan air irigasi sebagai suplesi umumnya dilakukan pada musim hujan (MH) dan musim kemarau pertama (MK1) pada saat terjadi kekurangan air baik di lahan tadah hujan maupun lahan kering. pada musim kemarau. Keragaman curah hujan (rainfall variability) menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal) menyebabkan jumlah. Curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dapat digunakan secara langsung untuk air irigasi. Salah satu sumber air irigasi potensial yang belum optimal digunakan adalah yang pemanfaatan menjanjikan sumber apabila air di tanah lokasi dalam. sementara kebutuhannya BAGIAN II PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM I. pemerintah bersama masyarakat telah membangun berbagai fasilitas irigasi dengan berbagai sumber air irigasi. perkebunan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Teladannya. dan peternakan adalah teladannya. sehingga seringkali terjadi ketidaksesuaian antara yang diperlukan dan yang tersedia. 1 Sedangkan untuk musim 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. di lahan usahatani dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis basah. Kekeringan yang menyebabkan terjadinya kegagalan usaha pertanian. waktu dan penyebarannya curah hujan berbeda antar wilayah dan antar waktu. sosial dan ekonomi tidak layak dilakukan.

Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian khususnya pada lahan kering dan lahan tadah hujan dalam upaya C. dan peternakan. 3. Tujuan dan Sasaran 1. Meningkatnya produksi usaha tani melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas. d. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Air tersebut terdapat dalam ruang pori dalam lapisan tanah atau batuan yang mengandung air jenuh yang disebut akuifer. Berkurangnya kegagalan usaha tani karena kekurangan air irigasi/kekeringan. a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengertian 1. perkebunan. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas kira-kira 130 ha.   B. 2. Meningkatkan kualitas produk pertanian dan pendapatan petani. 2. c. Akuifer : lapisan batuan jenuh air tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis. b. Terbangunnya irigasi air tanah dalam sebanyak 13 unit (alokasi kegiatan berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada Lampiran 1). Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah : a. 2010 4 3 4 . hortikultura. Meningkatkan ketersediaan air pada kawasan pakan ternak. Air Tanah Dalam : air yang berada di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah dengan kedalaman > 60 meter. c. b. dan peningkatan produktivitas usaha tani. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). d. luas areal tanam. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. mendukung usaha pertanian tanaman pangan. 2010 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.kemarau dan MK2 umumnya digunakan sebagai sumber air utama. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. pengaturan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. Sumur bor produksi air bawah tanah : sumur bor yang dibuat untuk mengambil air bawah tanah pada atau lebih lapisan ekuifer tertentu. 5. 9. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. 7. 8. dan pembuangan pertanian. 11. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi permukaan. tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan. Cekungan Air Tanah : suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumber Air Irigasi : tempat/wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. 2010 10. dan 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. irigasi rawa. penyaluran dan pembagian. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumur bor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. 2010 6 5 6 . pengambilan. di atas. pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. garis bujur dan ketinggian di atas permukaan laut. ataupun di bawah permukaan tanah. 6. irigasi air tanah. di atas.4. Irigasi : usaha penyediaan. irigasi tambak.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Dinas PU. dan lain-lain). atau air permukaan tidak mencukupi kebutuhan airnya. 2010 (kontaktor) bermutu berpengalaman dalam pengembangan irigasi air tanah dalam sehingga kegagalan sejak tahapan pengeboran Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. terdapat dua faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan irigasi air tanah dalam agar dapat berhasil dengan baik. kesediaan petani dalam melakukan OP. 2. Secara umum. Selain kegiatan itu. dan lain-lain yang akan digunakan irigasi air sebagai tanah dasar dalam. pertimbangan Sedangkan dana atau yang kelengkapan data dan informasi bagi pengembangan digunakan untuk melaksanakan SID merupakan dana yang berasal dari daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan ke daerah). jenis komoditas yang sesuai untuk dikembangkan. dll). perlu memilih/menunjuk yang pelaksana dan A.II. Lokasi pengembangan diutamakan lahan kering atau tadah hujan dimana pada musim kemarau tidak terdapat sumber air permukaan (sungai. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM Dengan pertimbangan teknis pengembangan yang relatif sulit dan biaya yang relatif tinggi. khususnya sejak tahap pengeboran sampai selesai konstruksi. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Mempunyai kedalaman potensi lebih sumber 60 air meter tanah di pada bawah dari permukaan tanah. yaitu: (a) pemilihan lokasi dan (b) persyaratan petani dengan kriteria tertentu sebagai berikut : Persyaratan Lokasi 1. danau. dapat dihindari. Daerah (kabupaten/kota) yang melakukan pengembangan irigasi air tanah dalam diwajibkan untuk menunjuk seorang pendamping dari dinas pelaksana yang bertugas mengawasi pelaksanaan pembangunan (konstruksi) irigasi air tanah dalam tersebut. maka sebelumnya perlu dilakukan SID (termasuk survei geolistrik. konsultan atau kontraktor. 2010 Pada lahan irigasi 8 yang telah memiliki jaringan irigasi namun airnya 7 7 8 . waduk. Informasi tentang potensi dan kondisi air tanah di suatu wilayah dapat diperoleh dari dokumen atau peta yang terdapat di instansi seperti Dinas Pertambangan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. salah satu syarat penting yang harus dipenuhi apabila suatu lokasi akan diajukan/dipilih sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4. 3. Calon lokasi tidak terdapat sumur air tanah dangkal yang sudah dimanfaatkan untuk mengairi lahan usaha tani atau tidak direncanakan untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. 7. Diutamakan bagi petani yang telah membentuk Kelompok membentuk 4. 3. 2. Pemerintah Daerah mendukung kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam dan apabila petani belum mampu menyediakan dana operasi dan pemeliharaan bersedia menyediakan dana operasi dan pemeliharaan sampai tahun ke 2. perkebunan. B. dan peternakan (skala ekonomis dengan memperhitungkan jumlah minimal ternak) 5.tidak mencukupi dapat dibangun irigasi air tanah dalam. mengoperasikan. Mampu dan 5. 2010 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan pada musim kemarau. Persyaratan Petani 1. Usaha tani yang dikembangkan adalah tanaman pangan. Lahan usaha yang akan diairi merupakan lahan milik petani. Petani di lokasi memerlukan adanya irigasi air tanah dalam dan bersedia memanfaatkan serta memelihara/merawat dengan baik. terutama komoditas perkebunan dan peternakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 10 9 10 . Petani berinisiatif untuk mengusahakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi. 6. Belum sejenis. menyediakan pernah dana memelihara/merawat operasional dan pemeliharaan. tani/P3A/P3AT Kelompok atau bersedia apabila tani/P3A/P3AT dibangun irigasi air tanah dalam. namun tidak mengalami kebanjiran pada musim hujan. hortikultura. mendapatkan bantuan/kegiatan                 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

  1. dalam Minimal ada 3 (tiga) komponen utama dan 1 pengembangan (c) irigasi rumah air tanah dalam. Perlengkapan yang diperlukan agar pompa air agar dapat berfungsi mengangkat atau mengambil air dari dalam tanah antara lain selang dan pipa hisap. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan lain-lain. 2010 air tanah dalam terlebih pengambilan. pompa Jenis yang biasa digunakan submersible disesuaikan dengan kebutuhan. Sumur Untuk memanfaatkan dahulu sumur harus sebagai dapat sumber dibuat tempat Sumur 11 tersebut dibuat dengan cara pengeboran dengan kedalaman air tanah dalam dari permukaan tanah > 60 m. 2. Komponen penunjang bila memungkinkan adalah Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). atau motor listrik. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka diperlukan upaya pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya ke permukaan tanah serta penyaluran ke lahan usaha tani. pipa cassing. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. selang pembuang. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak tenaga diesel. bensin. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM Komponen Irigasi Air Tanah Dalam Untuk mendayagunakan air tanah dalam sebagai sumber air irigasi.  III. 2010 12 11 12 . Gambaran rinci masing-masing komponen diuraikan pada bagian berikut ini. pompa dan turbin. (satu) komponen penunjang yang perlu diperhatikan Komponen utama : (a) sumur (b) pompa air dan perlengkapannya pompa. pipa jambang. pompa umumnya pompa sentrifugal. A. Pompa Air dan Perlengkapannya Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah ke permukaan tanah.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4. padi sawah umumnya saluran. bangunan tani.3. bangunan pengukur debit dan katup penutup yang berfungsi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pengatur berupa pintu dan boks bagi. 2010 14 13 14 . Pembangunan secara terutama ditujukan untuk pompa dan atau mesin penggerak/genset yang berukuran besar dan dipasang menetap (stasioner). Rumah Pompa/Genset Pompa untuk air tanah dalam atau genset pompa air tanah dalam biasanya berukuran besar sehingga pompa/ genset diletakkan secara permanen (tidak bersifat mobile). dari air untuk bak penampung. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usaha dibuat/dibangun jaringan tanah terdiri irigasi (JIAT). Untuk melindungi pompa air serta motor penggeraknya/genset dari gangguan pencurian dan pengaruh cuaca rumah yang pompa dapat menyebabkan permanen     Rumah Pompa/Genset Air Tanah Dalam kerusakan lebih dini perlu dibuatkan rumah pompa.

dan tanaman pangan lainnya JIAT hortikultura JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. Debit output pompa minimal 10 liter/detik Box pembagi tipe jaringan perpipaan Box pembagi Katup outlet b. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. B. Potensi air tanah yang tinggi.untuk mengatur arah aliran dalam pipa/jaringan irigasi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.                    Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) disesuaikan dengan kebutuhan. Pompa : tipe submersibel atau turbin. Kriteria Teknis a. 2010 16 15 16 . peternakan. Sumur : Sumur bor Kedalaman sumur : > 60 meter . Untuk mengurangi kehilangan air dalam penyaluran. Untuk komoditi perkebunan. 2010 15 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer tertekan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

bahan dari besi atau PVC diutamakan yang telah memiliki/memenuhi SNI. lantai dasar cukup kuat menahan beban dan getaran mesin. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mudah dioperasikan. Pipa-pipa : sesuai dengan debit air : motor diesel atau bensin saluran terbuka atau perpipaan. 2010 disesuaikan dengan debit air 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan dapat diterima petani setempat. c. disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan lokasi. cukup kuat/tahan getaran mesin. minimal yang telah ditentukan. ukuran dan jumlah disesuaikan dengan kebutuhan. Bak penampung/distribusi : konstruksi beton. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 18 17 18 . e. dan mesin yang diadakan adalah memiliki jaminan kualitas seperti Standard Nasional Indonesia (SNI). d. mudah dalam perawatan. tersedia suku cadang. mudah dipasang. f.kapasitas debit motor penggerak atau tenaga listrik. kapasitas minimal. ukuran disesuaikan dengan kebutuhan. peralatan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan irigasi/distribusi : terdiri dari box-box bagi dan saluran. Rumah pompa : bangunan permanen. Bahan.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Survey Investigasi a.IV. Survei potensi air tanah dalam           Contoh Hasil Geolistrik : Potensi Air Tanah >130 m (130­160 M)  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Contoh  Pendugaan  Potensi  Air  Tanah  Dengan  Menggunakan  Metoda GEOLISTRIK Pada Kedalaman < 100 m (40­100 m)                            A. (f) pemanfaatan.   dapat dilakukan dengan survey “geolistrik”. b. dan jenis komoditas yang sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dalam. petani. 2010 19 20 19 20 . Survey Investigasi dan Desain Sederhana Survey investigasi dan penyusunan desain sederhana dapat dilaksanakan secara swakelola oleh petugas Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait di daerah seperti dinas yang menangani bidang pengembangan air tanah yaitu Dinas Pertambangan (untuk mendapatkan data/informasi dan perizinan) dengan melibatkan petani penerima manfaat. petani. Survei investigasi dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi. baik dari segi teknis maupun sosial. (b) (e) konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dalam. dan (g) pembiayaan. PELAKSANAAN Untuk mengoptimalkan pengembangan irigasi air tanah dalam. (c) operasi pemeliharaan. paling tidak ada beberapa hal penting yang harus diperhitungkan dalam pengembangannya : (a) survei dan investigasi dan desain (d) (SID). Calon lokasi. 1. pelatihan. pembinaan. dan jenis komoditas yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dalam.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. jaringan 3. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dalam Rancangan/desain sederhana irigasi air tanah dalam. peralatan. Kondisi usaha tani dan jenis komoditas yang layak dikembangkan. Kebutuhan bahan. dan mesin 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kedalaman sumur. Permasalahan dalam usahatani. Potensi air tanah dalam untuk irigasi. 2. letak/ lokasi sumur. Laporan hasil survey investigasi paling tidak memuat : Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. 2010 22 21 22 . desain rumah pompa. meliputi kedalaman dan debit andalan (peta hidrogeologi dan pengujian geolistrik).                                c. lokasi rumah pompa. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan desain ini adalah agar air tanah dalam yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. dan irigasi yang akan dibangun. sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Kondisi prasarana dan sarana irigasi.

munculnya lumpur dan atau gas beracun dan lainlain selama dalam proses pengeboran. Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam 1. perlu dilakukan pengukuran terhadap kapasitas atau debit air yang keluar (lt/menit atau lt/detik). ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dan dapat ditentukan spesifikasi pompa air. Perkiraan kebutuhan biaya dijadikan dasar dalam penyusunan harga perkiraan sendiri. Konstruksi/Pengembangan irigasi air tanah dalam dilaksanakan secara kontraktual. spesifikasi rumah pompa. Dengan diketahuinya debit air/sumur dan luas oncoran (command area). dan mesin yang diperlukan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peralatan. maka dapat ditentukan jenis pompa dan mesin penggerak serta perlengkapan pipa-pipa maupun desain jaringan irigasi air tanahnya/jaringan distribusi. 3. antara lain Keputusan Presiden No. B.Berdasarkan hasil SID akan dapat diketahui 2. maka pihak Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 6. Berdasarkan kedalamam dan potensi air tanah. dan kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan. pompa air dan perlengkapannya. pengembangan sumur. 4. jumlah spesifikasi kebutuhan pipa-pipa. Kebutuhan Anggaran/Rencana Kebutuhan Biaya (RAB) Mencakup perkiraan kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui tinggi muka air tanah yang statis/tetap (Static Water Level/SWL). Jika dalam pengembangannya ternyata secara tidak sengaja atau sengaja akibat telah seperti menyebabkan/menimbulkan kebutuhan bahan. 2010 24 23 24 . rumah pompa. pemasangan pipa-pipa. 5. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pada saat pelaksanaan uji pemompaan. perlu dilakukan uji pemompaan (pumping test) minimal 2 x 24 jam. 2010 23 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan jaringan irigasi. peralatan. 4. 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Beserta Perubahan-perubahannya. Untuk mendapatkan hasil pengeboran air tanah dalam yang optimal. Penunjukan pelaksana pengembangan irigasi air tanah dalam berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku. spesifikasi motor penggerak pompa.

dan pemasaran hasil. pengolahan. Pelatihan 1. petani/kelompoktani P3A penerima D. Besarnya iuran pelayanan irigasi ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok.pelaksana (Satker/Dinas lanjut. 2010 26 25 26 . Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pembinaan terhadap peserta penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/ Kota secara berkelanjutan. C. rumah pompa. kegiatan/kontraktor lingkup Pertanian diharuskan dan Dinas E. Pemanfaatan Setelah konstruksi selesai. Operasi dan Pemeliharaan pompa. 2. 3. panen. untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas irigasi yang telah dibangun. pemerintah daerah/satker (Kab./Kota) diharuskan membuat suatu Berita Acara tentang Serah Terima Pengelolaan dari dinas kepada petani. 2. F. 2. Pembinaan 1. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan pompa air irigasi dan jaringan irigasi air tanah dan serta pelatihan usahatani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pemilihan komoditas yang diusahakan. dan jaringan irigasi air tanah dalam diserahkan kepada manfaat. Pemeliharaan) telah diserahkan Dengan kepada demikian. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. teknis budidaya. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dalam dilaksanakan oleh pihak ketiga (pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah). Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani penerima manfaat. secara resmi pengelolaannya (Operasi dan petani/kelompoktani (Contoh Berita Acara dapat dilihat pada Lampiran 2). pasca panen. melaporkan kejadian tersebut ke dinas terkait Pertambangan) untuk penanggulangan dan tindak Operasi dan Pemeliharaan 1.

2010 28 27 28 . Monitoring pengembangan irigasi air tanah dalam dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. usahatani dan B. Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dalam dipergunakan untuk pembuatan sumur dalam. Impact : Peningkatan produksi pendapatan petani. survei investigasi & desain (SID). 2010 MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran berikut : untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah sebagai A. 2.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. jaringan irigasi/ distribusi. Outcome : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan dalam potensi air tanah 3. I. 1. pengadaaan pipa-pipa. G. Benefit : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usahatani dengan memanfaatkan dalam.V. rumah pompa. maka pemanfaatannya harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin. dan/atau partisipasi masyarakat. pompa air dan mesin penggeraknya. Output : Terbangunnya irigasi ir tanah dalam 2. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pembiayaan 1. potensi air tanah 4. operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam yang cukup tinggi. Kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi. 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. APBD Kabupaten/Kota. dan pembinaan dibebankan pada anggaran APBD Propinsi. Dengan pertimbangan biaya untuk investasi. Monitoring dan Evaluasi 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. 4. 2010 30 29 30 . Laporan Akhir agar dilengkapi Laporan dengan SID dan dokumen-dokumen Kontrak serta seperti foto-foto 29 dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. dan Pusat.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air Jl. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan disusun mengacu pada Lampiran 4.3 dan 4. Laporan Akhir agar mengikuti outline seperti pada Lampiran 5. Evaluasi dilakukan secara berkala oleh Satker Dinas di Kabupaten/Kota. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Taman Margasatwa No. Pelaporan 1. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. berisi kemajuan pelak-sanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Satker Dinas di Propinsi. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas Pertanian Propinsi dengan tembusannya disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat Pengelo-laan Air). saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan). maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Agar lebih informatif dan komunikatif. 4. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6.2. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dalam. yaitu Laporan Bulanan dan Laporan Akhir. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.1.4 (diisi di tingkat Propinsi).2 (diisi di tingkat Kabupaten/Kota) serta 4. 3. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dalam selesai. D. Terdapat 2 (dua) jenis laporan yang harus dibuat. C. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan ke-giatan yang disusun setiap bulan.

Dari hasil uji geolistrik ini akan didapat dugaan potensi air tanah di lapisan aquifer tertekan. Kemudian yang tak kalah penting karena proses Pertambangan/ESDM pengeboran relatif sulit maka. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA TITIK LOKASI PENGEBORAN 1. 3. harus dimilih kontraktor pengeboran yang sudah ahli dan berpengalaman dalam pengeboran irigasi tanah ini dalam. 2. Geohidrologi. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 32 31 32 .atau tidak Umumnya kedalaman untuk 31 Pertambangan/ESDM setempat atau propinsi. Berkoordinasi dengan Dinas UNTUK MENENTUKAN menemukan lapisan aquifer tertekan ini lebih dari 60 m. Dari dua langkah diatas sudah dapat gambaran apakah daerah/lokasi yang diinginkan ada potensi atau tidak untuk pengeboran irigasi tanah dalam. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Peta Cekungan Air Tanah. Peta dan data tersebut sebagai gambaran awal apakah daerah/lokasi yang akan dipilih merupakan lokasi/wilayah/titik pengeboran yang memiliki potensi air tanah untuk Irigasi Tanah Dalam. apakah potensi air tanahnya bagus (studi kasus/pertimbangan). di kedalaman-kedalaman tertentu dengan debit-debit tertentu yang mana sebagai dasar apakah titik-titik yang diinginkan untuk pengeboran irigasi tanah dalam dapat dilaksanakan. dll. Dinas ini mempunyai data base dan peta-peta seperti Peta Geologi. Melihat sumur-sumur atau irigasi tanah dalam di sekitar daerah/lokasi yang diinginkan untuk titik pengeboran. Kemudian untuk menentukan titik-titik pengeboran dilakukan dengan uji Geolistrik. 4. juga Biasanya di daftar Dinas rekanan/kontraktor terdapat setempat atau propinsi.

Jakarta. Cianjur Kab. 2004. Departemen Pekerjaan Umum. Laporan Akhir. Jawa Timur Kab. Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Departemen Pertanian. Bandung Barat 2 Prop. DITJEN PLA TAHUN 2010   Sub Sektor No Pusat/Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. 2003. 2004. Dit. Gita Rencana Multiplan. 2002. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. 2010 34 33 34 . Banyuasin 6 Prop. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. ---------------. 2004.         Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bangli Jumlah Total 2 1 7 1 1 1 1 3 1 4 4 3 3 2 2 1 Horti 1 1 Bun Nak 2 1 1 4 4 3 3 2 2 1 1 1 1 13 Jumlah (Unit)   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 2 Unit Hortikultura Perkebunan : 1 Unit : 7 Unit Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Kensaku (editor). 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi. Pradnya Paramita. Jawa Barat Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Ditjen Sumber Daya Air.DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Sumatera Selatan Kab. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. PT. Jakarta. Riau Kab. Suyono dan Takeda. Jawa Tengah Kab. Pati 3 Prop. Jakarta. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Kampar 5 Prop. Sosrodarsono. Jakarta Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Madiun 4 Prop. Hidrologi Untuk Pengairan. Bali Kab. PT.

.......... Bulan ………………… Tahun dua ribu ………..... Desa ………….. tanggal ………………… dalam kondisi lengkap dan dapat dioperasionalkan dengan baik...Nomor ……………………………….................... PIHAK PERTAMA menyerahkan pengelolaan ……………………… ……………………………………………………………………………… kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima alat tersebut dari PIHAK PERTAMA sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama/Kontrak Kerja antara …………………………………….......... ....... dan……………………………….. 2010 36 35 36 ... yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.... : Kepala Dinas …………………………………. Bertindak untuk dan atas nama Kelompok tani ……………………………....... ……………………………………………… ………………………………………………… ………………………………………………… Bertindak untuk dan atas nama Dinas …………………………………..... A 2010   BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN No...... 2........... Nama Jabatan Alamat : ……………………………... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1.......... yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA........ : Ketua Kelompoktani ……………………… : Jl........... 2010 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.... . dengan spesifikasi sebagai berikut : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. Kabupaten …………… Propinsi ………………….............. Kec……………….... Kab………………… Prop………………… : Jl.....Peternakan : 3 Unit Lampiran 2 Contoh Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Irigasi Tanah Dalam T. Nama Jabatan Alamat : ……………………………………………. Pada hari ini ……… Tanggal …………...... .....

. Dst…... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..                     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. PIHAK PERTAMA Kepala Dinas ……………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 38 37 38 . 3...           ……………………………. NIP.... 2. …………………………………….1..………2010               PIHAK KEDUA Ketua Kelompoktani . ………………………………….....A 2010   Lampiran 3 Demikian Berita Acara Serah Terima Pengelolaan ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebaik-baiknya. 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam T.         …………………. …………………………………….. 4. Spesifikasi alat/barang Spesifikasi alat/barang Dst…. ...

dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA.Lampiran 4. 4. Air Permukaan 7.*) Kab/Kota ………………… 1.………….. : ……………………………. Irigasi Tanah Dalam 6. : ……………………………. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. P I P 12. Lampiran 4. 5. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. 6.. …………………………. : ……………………………. Sekolah Lapang ………………………. Rehab JIDES 3. 3.A. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.go. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. Balai Subak 13. Sumur Resapan 11. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A.1 ` Form PLA.. Dam Parit 10. Pompa 8. : ……………………………. ……………………. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. Aspek Kegiatan 3 1. 2010 Ctt: 1. : ……………………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. **) Coret yang tidak perlu ……………………….id 3. 4. Harsono RM No. : …………………………….. 2010                 39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. 2.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. P I P 12..id 3. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Pompa 8. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.. Balai Subak 13. Air Permukaan 7. Irigasi Tanah Dalam 6.2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 : ……………………………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. : ……………………………. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : …………………………….. 7.. Dam Parit 10. 3 Ragunan Jaksel.. TAM 4. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Embung 9. 3. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan... : ……………………………. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Form PLA. 2010 40 39 40 . Harsono RM No. Rehab JITUT 2.go..01 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. 2. Irigasi Tanah Dangkal 5.………………. Embung 9. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. Pengelolaan Air 5. Balai Subak 13. P I P 12. 8. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas…………………….. Dam Parit 10.. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Sumur Resapan 11. : ……………………………. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH 9.02 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. Sumur Resapan 11. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2..

5 ton/Ha dan IP 150 %.5 X 5 Ton = 1. : ……………………………….000. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2.. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.000. TAM 4. 25. : ………………………………. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.   Lampiran 4. …………………. Rehab JIDES 3.3 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA.000 = Rp. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.250 ton b. 1 A. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. Rehab JITUT 2. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.000. Manfaat harus terukur. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Subsektor : ………………………………..000. : ……………………………….. c. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2.P I P 12. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.5 = 750 ton Catatan : 1.…………. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. 2007. 2010 ………….. Embung 9. contoh : a.     Form PLA. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. 2010   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.5 ton X 1.4 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Dam Parit 10. 25. 25. 2006..04 No.. 25. / Kg atau Rp..5 X 5 Ton = 1.000 X 1. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Harsono RM No. 2006.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. Pompa 8.000. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.Sumur Resapan 11. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. ………………………… 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten           41             Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi Tanah Dalam 6. contoh : a. : ………………………………. / Kg atau Rp. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.…………. Irigasi Tanah Dangkal 5.. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.03 Form PLA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.id 3. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha.Lampiran 4.Balai Subak 13. 25. 25. : ………………………………. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 No.id 3 Manfaat harus terukur.5 ton/Ha dan IP 150 %. 2007.go.250 ton b. 1 A. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.000. Harsono RM No. Air Permukaan 7. 25. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.000 X 1.go. c.. 2010 42 41 42 .000 = Rp.5 = 750 ton ………………. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. : ………………………………. 25.5 ton X 1.

DAMPAK VI. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PENDAHULUAN A. 2010 44 43 44 . Masalah E. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Latar Belakang B. Pemecahan Masalah III. Lokasi (administratif dan koordinat) B. Tahap Pelaksanaan D. MANFAAT V. HASIL IV. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Masukan C. PELAKSANAAN A. KESIMPULAN DAN SARAN Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tujuan dan Sasaran II.      Lampiran 5 Outline Laporan Akhir   I.

Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah calon lokasi mudah diakses Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dalam b. 2010 82 . URAIAN KEGIATAN e. Organisasi/kelembagaan 4. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d.2.3.Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Lampiran 6 No. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. SID 4. Calon Petani a. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d.1. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 82 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Desain Sederhana a. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak 81 81 No. Juknis 3. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah sudah disusun desain . Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Apakah ada potensi sumber air tanah dalam c. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. I PERSIAPAN 1. Juklak 2. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat f. 5. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. RAB a.

RKS dan HPS 11. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Bendahara Pengeluaran 7. Pemasangan pipa-pipa casing d.2. 2010 83 No. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Pengeboran c. Mobilisasi alat b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemasangan pompa Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 83 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. SK Penetapan Panitia barang dan Jasa 8.1. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. g. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring 4. URAIAN KEGIATAN f. Monitoring a. Uji Pemipaan e. PPK. Pembangunan rumah pompa 2. Pembangunan JIAT URAIAN KEGIATAN f. SK Tim Teknis /Koorlap 9. SK KPA. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain a. Evaluasi a. 2010 84 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Ya/tidak Sudah/belum III MONEV DAN PELAPORAN 4. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. Kontrak pekerjaan KETERANGAN Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada sudah/belum Ada/tidak ada II PELAKSANAAN 1. SK Pemeriksa 10. Proses tender 12.No. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 84 Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b.

Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Langsa.31" 96° 52' 14.4.31" 96° 12' 47.84" 96° 11' 54.15" 4° 48' 8. Apakah sudah dibuat laporan akhir IV PERTANGGUNGJAWABAN 5. 2010 85 85 Lampiran 7 DAFTAR CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA   NO.13" 4° 30' 41.23" 97° 1' 9.16" 96° 36' 35. Kabupaten Aceh Barat 2.3. Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Pidie Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. 2010 86 86 .41" 97° 47' 15.88" 1470 619 4500 281 310 1198 500 292 2913 853 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Aceh Tengah 2. dalam pelaksanaan dan akhir) 5.16" 5° 8' 4.89" 96° 59' 1.69" 96° 23' 5. Apakah sudah dibuat pembukuan Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Aceh Utara 2.73" 5° 12' 16. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. Kabupaten Pidie 2. NAD B. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b.04" 96° 34' 56. Kabupaten Pidie 3.64" 4° 34' 58.44" 5° 16' 30.24" 5° 15' 56. Provinsi Sumatera Utara KETERANGAN b x x x x x x x x x x c d 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Banda Aceh Sigli Meulaboh Kemiki Jeunib Peudada Lampahan Telege Lhokseumawe Langsa 95° 14' 13.22" 98° 17' 16. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.1.37" 4° 36' 5.68" 5° 15' 49.81" 97° 46' 41.49" 3° 31' 15. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.46" 96° 40' 54. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum.62" 4° 49' 57.34" 95° 42' 55.77" 96° 9' 41.84" 5° 1' 41. Kabupaten Aceh Timur A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.87" 4° 56' 33.2.14" 5° 31' 18. Kabupaten Aceh Besar 2.72" 4° 48' 20.82" 96° 34' 38.13" - 5° 39' 37. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.18" 4° 22' 13.66" 4° 33' 48.19" - 95° 51' 34. Pelaporan URAIAN KEGIATAN KETERANGAN a. Kabupaten Aceh Tengah 2.78" 95° 48' 41. 4. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5.137" 4° 10' 45. Kabupaten Pidie 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.31" 96° 51' 14.13" 97° 0' 14.No. Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.66" 5° 15' 25. Kabupaten Aceh Tengah 2.3.

Kabupaten Tanjung Jabung Timur C.46" 2° 40' 43.13" - 2° 59' 11.12” - 100° 34’ 41. Kota Medan Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Bengkalis 4.16" 1° 11' 7.38" 1° 26' 58.306" 19786 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Sidikalang Samosir Porsea-Prapat Tarutung Gunungsitoli Lahewa Sirombu Kuala Batangtoru Pekanbaru 98° 8' 51. Kabupaten Padang 4.15" 97° 56' 25.89" 69776 x 32 Padang-Pariaman 99° 41’15.81" 98° 40' 50. Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara 1.31" 1° 7' 15. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Kabupaten Langkat KETERANGAN b c d 11 12 13 Siongol-ongol Kotafajar Kutacane 97° 35' 23.95" 99° 59' 35.40" 3° 42' 0.NO. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Barat 1.66" 1° 28' 12.53" 2° 18' 13.99" 99° 50' 38.98" 99° 47' 38. 2010 88 88 . Kabupaten Deli Serdang 3. Provinsi Riau 1.18" 3° 34' 24.34" 97° 2' 35.60" 1° 12' 17.38" 100° 13' 5.18" 2° 5' 42.52" 97° 23'15. Kabupaten Pasaman 2.98" 99° 7' 51.11" 0° 0' 0. 2010 87 87 NO.63" 97° 15' 19.70" 2° 25' 16.03" 0° 58' 11. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.78" - 3° 1' 26.56" 1° 14' 55. Kabupaten Langkat 2. Kabupaten Indragiri Hulu 7.38" 3° 5' 45. Kabupaten Rokan Hullu 3.70" 2° 43' 18.37" 99° 1' 31. Kabupaten Asahan 4.06" 1° 15' 44. Kabupaten Pelalawan 6.19" - 97° 43' 16.26" -2° 0' 1.82" 211 242 225 240 2825 217 x x x x x x 31 Jambi-Dumai 100° 45' 27. Kabupaten Padang Pariaman 3.99" 97° 31' 50. Provinsi Riau 1.87" 0° 47' 3.30" 0° 5' 25.26" 0° 47' 27.69" 97° 44' 39. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan B. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman A. Kabupaten Siak 5.17" 97° 28' 42. Kabupaten Pelalawan 6.77” - 0° 21’ 30.71" 98° 47' 33. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Karo A. Kabupaten Tanahdatar KETERANGAN b c d 25 26 27 28 29 30 Banjarampa Panyambungan Pasaribuhuan Padangsidempuan Natal-Ujunggading Lubuksikaping 99° 3' 43.90" 99° 0' 58. Kabupaten Karo 5. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan B.88" 98° 5' 16.53" 99° 35' 16.45" 2° 55' 5.65" 98° 54' 28. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 1.47" 99° 5' 40. Kabupaten Kampar Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan A.89" 99° 48' 19.63" 1° 11' 52. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Rokan Hilir 2. Kabupaten Bukittinggi 5. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2.69" 0° 58' 8. Kabupaten Tapanuli Tengah 2.85" - 2° 20' 29.47" 99° 29' 54. Kabupaten Labuhan Batu 2. Provinsi Jambi 1.94" - 100° 8' 54.05" 97° 29' 1. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara B. Kota Dumai 2. Kabupaten Tapanuli Selatan B.98" - 1° 15' 6.14" - 98° 48' 27. Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Tapanuli Selatan A.90" 0° 33' 29.60" 97° 12' 55. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara 1. Provinsi Sumatera Utara x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.13" -0° 43' 48. Kabupaten Rokan Hilir 3.18" - 104° 39' 38. Kabupaten Simalungun 6.81" 2438 648 483 875 42 20 17 795 21799 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan A. Kabupaten Sidikalang 2.18" 99° 13' 32.80" 3° 13' 15.80" 3632 15 Medan 98° 6' 40.91" 1° 57' 30.71” 5331 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.88" 1° 59' 22.26" 1° 39' 7.42" - 4° 7' 39.23" 2° 19' 46.96" 98° 59' 42.44" 0° 53' 18.21" 99° 36' 44. Kabupaten Siak 5.05" 99° 24' 33.36" 183 269 351 14 Sibulus Salam 97° 35' 46.70" - 98° 27' 50.23" 0° 45' 26. Kabupaten Tobasamosir 2.56" - 99° 15' 7.35” -1° 0’ 28.58" 2° 11' 18.91" 102° 32' 3. Kabupaten Bengkalis 4. Kabupaten Indragiri Hilir B.62" - 3° 55' 8.51" 1° 47' 34.58" 2° 45' 33.79" 98° 42' 36.

Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Sorolnagun Bangko C.88” -2° 12’ 27. Kabupaten Bungo Tebo 2. Kabupaten Solok B.14” - 103° 31’ 38. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.71” - 100° 31’ 46. Kota Payakumbuh 3.03” - -3° 1’ 14. Kabupaten Ogan Komering Ilir D.76” -0° 19’ 43.29” - -3° 23’ 46.81” - 100° 46’ 21.97” - 101° 57’ 1. Kabupaten Sungai Penuh 2. Kabupaten Bengkulu Selatan KETERANGAN b c d 41 Kayuaro-Padangaro 100° 45’ 19. Kabupaten Bungo Tebo B. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.61” -1° 45’ 10.73” - -0° 23’ 52.20” 668 35 Alanglawas 100° 38’ 31. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Utara x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.03” - -4° 53’ 7.27” 1794 x 47 Lubuklinggau-Muaraenim 102° 36’ 4. Kabupaten Painan Provinsi Riau 1. Kabupaten Sorolangun Bangko A. Kabupaten Limapuluh Kota 3.27” -1° 25’ 39. Kabupaten Bukit Tinggi 3.49” - -0° 22’ 40. Kabupaten Indragiri Hulu 2.46” - 101° 42’ 54.87” - -2° 46’ 3. Kota Solok 2.89” - -1° 7’ 8.82” - 101° 45’ 8.4596” - 102° 7’ 34.80” - 100° 51’ 17.89” - 105° 0’ 49. Kabupaten Jambi 1. Kabupaten Prabumulih 4.8” 6975 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Sungai Penuh 2. Kabupaten Tanah Datar 2.62” 15400 x 48 Bengkulu 101° 48’ 11. Kabupaten Solok 5. 2010 89 89 NO. Provinsi Jambi Kabupaten Muara Bulian A.58” - 100° 38’ 35.60” - -4° 16’ 47.81” - -0° 33’ 43. Kabupaten Sungai Penuh 3. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko A. Kota Bukit Tinggi 2.31” - 103° 6’ 31. Kota Bengkulu 2. Kabupaten Musirawas 2.97” - -1° 58’ 35.84” -0° 53’ 31. Kabupaten Tanah Datar 2.35” - 106° 5’ 54. Kabupaten Musi Banyuasin 2.65” -1° 0’ 12.55” 432 37 Solok 100° 21’ 30.92” 1235 x 43 Bangko-Sarolangun 101° 30’ 54. Kabupaten Tanah Datar 4. Kabupaten Kampar A.82” -0° 9’ 29.19” - 103° 35’ 45. Provinsi Jambi 1.28” - 102° 52’ 44.16” - -0° 50’ 45.71” 1534 x 45 Karangagung 103° 21’ 0.14” 2915 39 Muarabungo 101° 27’ 20. Kabupaten Painan 2. Kabupaten Ogan Komering B. Kabupaten Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat 1. Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Musirawas B. Kabupaten Limapuluh Kota 2.55” 1325 38 Tulak 101° 5’ 0. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko B.62” - 103° 37’ 56. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musirawas Provinsi Jambi 1.91” - -0° 33’ 1.22” 2810 x 42 Sungaipenuh 101° 13’ 23. 2010 90 90 .96” -1° 7’ 53. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Sawahlunto B.89” - -3° 51’ 57.98” -2° 27’ 21.82” - -2° 0’ 0. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 6. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Jambi 1. Kabupten Bungo Tebo Provinsi Jambi Kabupaten Sungai Penuh A. Kabupaten Padang Pariaman 3.99” 296 34 Payakumbuh 100° 17’ 42.93” 167 36 Batusangkar 100° 20’ 19.42” -1° 45’ 37. Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong C. Provinsi Jambi 1.21” - -1° 49’ 19.24” -0° 17’ 53.60” - -2° 19’ 45. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Muarabulian 2.48” -0° 30’ 2.37” 6702 x 44 Muaratembesi 102° 50’ 25.51” -1° 53’ 5.NO. Kabupaten Tanah Datar 4.28” 10460 Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat 1. Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Sorolangun Bangko A.43” -2° 58’ 23. Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Rejang Lebong 4.76” -0° 0’ 9. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara Provinsi Bengkulu 1.57” - 100° 51’ 14. Kabupaten Bengkulu Utara 3. Kabupaten Musi Banyuasin 2. Kabupaten Sorolangun Bangko 2.58” 5510 40 Painan-Lubukpinang 100° 20’ 52.60” 22860 x 46 Muaralakitan 103° 6’ 19. LOKASI a Kabupaten Solok KETERANGAN b c d 33 Bukit Tinggi 100° 20’ 7. Kabupaten Lahat 3. Kabupaten Pelalawan 3.11” -0° 2’ 54. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Solok B. Provinsi Sumatera Selatan 1.

79” 2404 x 52 Muaraduo-Curup 102° 21’ 32.77” -3° 14’ 51.95” 21640 x 55 56 57 58 Kotaagung Talangpadang Bandarlampung Kalianda 104° 11’ 9.63” 108° 17’ 41. Kabupaten Pandeglang B.30” 105° 42’ 35. Kabupaten Bengkulu Selatan 2.97” 105° 20’ 38. Kota Serang 6. Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 92 92 .29” 106° 29’ 40.99” - 104° 42’ 15.20” -1° 57’ 22.32” -2° 3’ 33. Kota Tangerang 4.82” -2° 40’ 38. Kabupaten Rejang Lebong B.57” - 104° 44’ 3.53” -5° 27’ 45.74” -2° 33’ 39. Provinsi Bengkulu 1.30” 105° 41’ 13.44” - 106° 9’ 50.74” - 104° 8’ 35.96” 104° 53’ 25. Kabupaten Ogan Komering Ilir 4.38” - 106° 42’ 36.57” -2° 36’ 31. 2.41” 105° 25’ 9. Kabupaten Lampung Utara 2. Kabupaten Prabumulih A.22” -5° 50’ 46.36” - -6° 51’ 4.37” -6° 3’ 39.71” 104° 59’ 11.39” 105° 49’ 25. Kabupaten Musi Banyuasin 3.46” -4° 30’ 31. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) A.28” 108° 2’ 59.79” -6° 17’ 47.74” x x 68 Serang-Tangerang 105° 54’ 31.53” 106° 44’ 28.68” - -5° 33’ 20. Kabupaten Lahat 3. Provinsi Banten 1. Kabupaten Pendeglang 2.04” 1236 615 439 234 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.18” -2° 52’ 33.75” - -5° 0’ 46. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara B.59” 105° 42’ 45. Kabupaten Lebak 7.21” -5° 34’ 11.71” 105° 53’ 53.07” 104° 31’ 9. Provinsi Lampung LOKASI a Kabupaten Lampung Barat KETERANGAN b c x d 49 Gedongmeneng 103° 20’ 56.27” - 104° 18’ 54.63” 105° 48’ 45.63” -5° 4’ 28.55” - -6° 30’ 16.72” - -5° 7’ 37.6” - -4° 35’ 35.79” 106° 10’ 47. Kabupaten Tangerang 3. Kota Cilegon 5.59” -5° 55’ 3.42” -2° 31’ 19. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu A.92” -5° 10’ 18.85” -2° 27’ 25. Kabupaten Serang A.27” -2° 49’ 47.39” -6° 34’ 45. Kota Palembang 2.94” 105° 23’ 58.16” 1501 x 54 Metro-Kotabumi 103° 53’ 4. Kabupaten Lampung Tengah 5.88” -2° 59’ 0.33” -4° 12’ 8. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan 50 Palembang-Kayuagung 103° 29’ 47.69” 106° 6’ 2.66” 105° 54’ 24. Kabupaten Lampung Barat 3.25” -2° 20’ 25.46” - 105° 55’ 9. Kabupaten Pandeglang 2. Provinsi Sumatera Selatan 1.14” 106° 0’ 45.99” -3° 11’ 39. Kota Bandar Lampung 2.NO. Provinsi Jawa Barat x x x x x x x KETERANGAN b c d 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Koba Kepoh Batubetumpang Pangkal Raya Airpandan Tanjungniur Manggar Labuan Rawadanau 106° 19’ 50.56” -2° 8’ 8.86” 8521 x 53 Ranau 103° 35’ 23.32” 106° 2’ 58.13” - 105° 12’ 8.64” -5° 39’ 59. Kabupaten Lampung Kabupaten Lampung Barat B. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Lampung 1. Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung 1. Kabupaten Lampung Selatan 4.23” 707 Provinsi Banten 1.23” - -4° 40’ 33. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.46” 105° 36’ 59.59” - -5° 54’ 44. Kabupaten Serang 2. Kabupaten Prabumulih A. 2010 91 91 NO.83” - 103° 52’ 8. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 324 334 287 235 163 219 203 734 375 LOKASI a Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Belitung Provinsi Banten 1. Kabupaten Ogan Komering Ulu 2.63” -5° 23’ 0. Kabupaten Lampung Barat 2.53” -2° 15’ 33. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.41” 1412 B. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung 1. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Lebak Provinsi Banten 1.65” -4° 30’ 57.90” - -2° 35’ 59.84” 2822 x Kabupaten Bogor 69 Malingping 105° 41’ 4.80” -6° 15’ 50.27” -3° 54’ 30.34” 8652 x 51 Baturaja 103° 54’ 9.04” -6° 39’ 10. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.15” - -3° 41’ 52.62” - 106° 41’ 37.

75" - 107° 42' 31. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 6. Kabupaten Tasikmalaya 3.37" - -6° 57' 22. Kabupaten Bandung 2.23" -6° 56' 6.88" - 106° 59' 45. Kabupaten Ciamis 2. Kabupaten Bandung x 80 IV.76" 514 1. Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat 4. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat 1.39" -7° 11' 56. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Garut A.98" 106° 48' 15.85" 108° 33' 8. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Garut 2. Kabupaten Ciamis 4. Provinsi Jawa Barat 1.35" -7° 25' 59.72" 1311 868 x x 73 Cianjur 106° 58' 5. 2010 94 94 .03" -6° 42' 56. Kabupaten Bandung 2.63" - -7° 0' 25. Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat 1.23" 1439 x 71 72 Bogor Sukabumi 106° 28' 20.07" 151 581 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Bandung 2.29" 3641 76 Subang 107° 35' 48. Kota Bandung Provinsi Jawa Barat 1.35" - -7° 27' 7. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Sumedang 2.07" - 107° 57' 7. Kota Tangerang B. Kabupaten Bekasi 3.88" -6° 58' 17.85" - -6° 48' 12. Kabupaten Bogor 2.19" -7° 26' 59.20" - 108° 4' 13.NO.42" - -6° 38' 7. V.00" - 108° 17' 34.87" 566 78 Lembang 107° 25' 56.84" - 108° 2' 5.73" - -6° 51' 10.11" 621 605 83 Tasikmalaya 107° 50' 53. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 93 93 NO.88" -7° 5' 10.80" -6° 24' 38. Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat 5. Kabupaten Bandung 3.30" - -6° 48' 38.70" - -7° 14' 47.06" 483 87 88 Sukamantri Ciamis 107° 50' 47.47" - 107° 45' 51.22" 169 Provinsi Jawa Barat 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) Provinsi Jawa Barat LOKASI a KETERANGAN b c d 79 Batujajar 107° 23' 33. Kabupaten Tangerang 2.91" -7° 11' 12.63" -6° 41' 59.14" -6° 40' 18.98" -6° 36' 11. Kabupaten Subang 2.40" 107° 46' 13.46" 108° 15' 45.23" - -6° 36' 53. Kabupaten Bogor 2. Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat 1.16" - 107° 30' 17.91" 1219 Provinsi Jawa Barat 1.28" 1716 81 82 Cibuni Banjarsari 107° 9' 6.44" -7° 13' 17.21" -6° 48' 29.54" - 107° 4' 4. Kabupaten Karawang 4.07" 467 Provinsi Jawa Barat 74 Jampangkulon 106° 22' 55.40" - 107° 50' 28. Kabupaten Cianjur x KETERANGAN b c d 70 Jakarta 106° 36' 32. Kabupaten Bogor 2.67" -7° 3' 3. BandungSoreang 107° 21' 55.78" -6° 0' 43.77" - -7° 24' 8.99" 384 5.87" -6° 10' 27.67" -6° 43' 37. Provinsi Jawa Barat x x x x x 84 Garut 107° 42' 33. Kabupaten Indramayu 3.56" 107° 2' 13.81" - 108° 2' 56.91" 1514 77 Ciater 107° 24' 28. Kabupaten Purwakarta 2.60" -7° 25' 6.26" - -7° 7' 41.81" - 108° 5' 11.26" -7° 2' 17.37" -5° 54' 29. Kabupaten Sukabumi 2. Kabupaten Sumedang 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.37" - -6° 47' 2.50" - -6° 26' 58.61" - 107° 17' 4. Kabupaten Purwakarta 5. Provinsi Banten 1.19" -6° 49' 55.51" 107° 27' 17. Kabupaten Tasikmalaya 3.59" 89 6. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta C.79" - 108° 20' 49.53" - -7° 22' 9.58" 886 85 Malangbong 107° 53' 42.95" -6° 46' 2.07" - -6° 56' 39.88" 106° 32' 43. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat x x 86 Sumedang 107° 45' 38. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Sumedang x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.83" - 107° 29' 42. Kabupaten Tasikmalaya x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Sukabumi x 75 Bekasi-Karawang 106° 52' 5.

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 3.

LOKASI a Kota Banjar x

KETERANGAN b c d

89 90 91

Kawali Kuningan Majalengka

108° 16' 4.17" 108° 15' 44.50" 108° 3' 32.4"

-

108° 34' 13.02" 108° 39' 14.58" 108° 24' 40.24"

-7° 4' 54.98" -7° 3' 17.20" -6° 34' 12.81"

-

-6° 48' 12.35" -6° 52' 13.72" -6° 55' 47.85"

291 507 686

92

Indramayu

107° 56' 38.14"

-

108° 19' 46.08"

-6° 13' 42.77"

-

-6° 39' 20.74"

1282

Provinsi Jawa Barat Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Kuningan 2. Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Majalengka 2. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2 .Kabupaten Majalengka 3. Kabupaten Sumedang VI. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2. Kabupaten Cirebon 3. Kabupaten Kuningan 4. Kota Cirebon Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap A. Provinsi Jawa Barat 7. Kabupaten Ciamis

x x

x

93

Sumber-Cirebon

108° 13' 53.45"

-

108° 39' 15.85"

-6° 13' 49.61"

-

-6° 53' 59.86"

1659

x

94

Majenang

108° 41' 58.06"

-

108° 51' 14.72"

-7° 17' 19.18"

-

-7° 24' 21.99"

108

x

95

Sidareja

108° 32' 56.67"

-

108° 49' 43.47"

-7° 17' 14.05"

-

-7° 40' 28.84"

480

B.

Provinsi Jawa Tengah 8. Kabupaten Cilacap

x

A.

Provinsi Jawa Barat 9. Kabupaten Cirebon

96

Tegal-Brebes

108° 35' 7.31"

-

109° 21' 16.34"

-6° 44' 11.61"

-

-7° 11' 0.39"

1356 B.

x

Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Brebes 2. Kabupaten Tegal

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

95

95

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Tegal 3. Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Banyumas 3. Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banyumas 2. Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Cilacap 2. Kabupaten Kebumen 3. Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Pekalongan 3. Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kebumen 2. Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Batang 2. Kabupaten Kendal 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Banjarnegara 3. Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Magelang 2. Kota Magelang 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Temanggung

KETERANGAN b x c d

97

Bumiayu

108° 55' 13.33"

-

109° 24' 18.87"

-7° 0' 28.58"

-

-7° 19' 24.38"

661

98

Purwokerto-Purbalingga

109° 3' 1.70"

-

109° 46' 49.02"

-7° 12' 44.33"

-

-7° 32' 26.86"

1318

x

99 100 101 102 103

VII.

Cilacap

108° 59' 15.41" 108° 48' 7.47" 109° 6' 49.12" 109° 23' 13.53" 109° 18' 45.31"

-

109° 12' 14.43" 108° 59' 47.98" 109° 26' 46.49" 109° 29' 9.91" 109° 51' 52.35"

-7° 25' 41.48" -7° 40' 45.94" -7° 31' 28.39" -7° 36' 45.02" -6° 46' 33.52"

-

-7° 45' 5.32" -7° 45' 13.59" -7° 43' 36.42" -7° 43' 53.66" -7° 13' 24.20"

218 45 423 67 1682

x x x x x

Nusakambangan Kroya Banyumudal Pekalongan-Pemalang

104 105

Kebumen-Purworejo Karangkobar

109° 27' 18.50" 109° 34' 42.69"

-

110° 3' 36.50" 109° 55' 17.84"

-7° 34' 14.61" -7° 10' 12.18"

-

-7° 53' 59.96" -7° 18' 43.34"

1127 316

x x

106

Subah

109° 49' 26.04"

-

110° 11' 32.45"

-6° 54' 15.69"

-

-7° 18' 16.57"

874

x

107

Wonosobo

109° 45' 48.56"

-

110° 4' 41.47"

-7° 11' 7.81"

-

-7° 31' 51.33"

666

x

108

Magelang-Temanggung

109° 59' 45.38"

-

110° 27' 21.31"

-7° 11' 45.92"

-

-7° 42' 6.69"

1783

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

96

96

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 5.

LOKASI a Kabupaten Semarang

KETERANGAN b c d

109

Yogyakarta-Sleman

110° 12' 30.45"

-

110° 29' 49.38"

-7° 32' 23.62"

-

-8° 1' 52.04"

916

110 111 112

Wates Kendal Sumowono

110° 2' 16.22" 110° 1' 43.68" 110° 3' 45.06"

-

110° 15' 45.54" 110° 16' 16.97" 110° 20' 20.84"

-7° 50' 2.01" -6° 50' 45.56" -7° 5' 29.51"

-

-7° 59' 16.99" -7° 2' 37.74" -7° 15' 49.17"

150 404 207

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Sleman 2. Kabupaten Bantul 3. Kota Yogyakarta 4. Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Kulon Progo Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Semarang 3. Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kota Semarang 4. Kabupaten Demak 5. Kabupaten Grobogan 6. Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Klaten 2. Kabupaten Sukoharjo 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Sragen 5. Kabupaten Karanganyar 6. Kabupaten Wonogiri 7. Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri

x

x x x

113

Rawapening

110° 18' 36.13"

-

110° 30' 7.60"

-7° 10' 59.52"

-

-7° 26' 54.53"

303

x

114

Ungaran

110° 11' 34.19"

-

110° 31' 43.53"

-7° 2' 23.03"

-

-7° 13' 41.52"

329

x

115

Salatiga

110° 26' 11.88"

-

110° 38' 3.58"

-7° 12' 31.73"

-

-7° 27' 54.94"

85

x

116

Semarang-Demak

110° 14' 56.35"

-

111° 20' 8.21"

-6° 46' 26.64"

-

-7° 12' 50.99"

1839

x

117

Karanganyar-Boyolali

110° 26' 18.30"

-

111° 12' 45.98"

-7° 19' 1.182"

-

-7° 54' 32.62"

3877

x

118

Eromoko

110° 48' 30.19"

-

111° 1' 15.32"

-7° 51' 37.47"

-

-8° 3' 52.62"

215

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

97

97

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) A.

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Bantul 2. Kabupaten Gunung Kidul C. Jawa Timur Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Demak 2. Kabupaten Kudus 3. Kabupaten Jepara 4. Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pati 2. Kabupaten Rembang A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Rembang B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Rembang 2. Kabupaten Blora A. Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Grobogan 2. Kabupaten Blora B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bojonegoro A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Ponorogo 2. Kabupaten Madiun 3. Kabupaten Ngawi 4. Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bojonegoro 2. Kabupaten Tuban 3. Kabupaten Lamongan 4. Kabupaten Gresik 5. Kota Surabaya

KETERANGAN b c d

119

Wonosari

110° 20' 40.02"

-

111° 4' 32.21"

-7° 54' 31.05"

-

-8° 15' 30.93"

1692

x

120

Kudus

110° 32' 9.81"

-

111° 2' 48.78"

-6° 35' 57.91"

-

-7° 1' 13.93"

1388

x

121 122

Jepara Pati-Rembang

110° 38' 14.94" 110° 53' 42.9"

-

110° 55' 15.95" 111° 23' 38.75"

-6° 24' 27.16" -6° 24' 39.18"

-

-6° 38' 24.67" -6° 52' 57.29"

531 1028

x x

123

Lasem

111° 23' 13.32"

-

111° 56' 22.43"

-6° 36' 58.91"

-

-6° 50' 48.83"

378

x

124

Watuputih

111° 29' 0.73"

-

111° 32' 56.27"

-6° 50' 41.56"

-

-6° 50' 41.56"

31

x

125

Randublatung

111° 11' 23.39"

-

111° 36' 26.12"

-7° 9' 17.55"

-

7° 15' 57.66"

203

x

126

Ngawi-Ponorogo

111° 7' 0.03"

-

111° 47' 49.16"

-7° 20' 22.54"

-

-8° 4' 26.64"

3902

x

127

Surabaya-Lamongan

111° 37' 38.16"

-

112° 50' 13.76"

-6° 57' 8.69"

-

-7° 18' 37.53"

2525

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

98

98

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tuban 2. Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lamongan 2. Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Trenggalek 2. Kabupaten Tulungagung 3. Kabupaten Blitar 4. Kota Blitar 5. Kabupaten Malang 6. Kota Malang 7. Kabupaten Mojokerto 8. Kabupaten Sidoarjo 9. Kabupaten Gresik 10. Kota Surabaya 11. Kabupaten Jombang 12. Kabupaten Kediri 13. Kabupaten Nganjuk 14. Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tulungagung 2. Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Mojokerto 2. Kabupaten Pasuruan 3. Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Jember 3. Kabupaten Bondowoso 4. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Probolinggo

KETERANGAN b x x c d

128 129

Tuban Panceng

111° 46' 51.66" 112° 15' 46.19"

-

112° 14' 49.78" 112° 33' 46.55"

-6° 45' 41.19" -6° 51' 47.25"

-

-6° 59' 38.54" -6° 58' 50.97"

503 283

130

Brantas

111° 42' 55.90"

-

113° 0' 9.43"

-7° 17' 40.11"

-

-8° 17' 5.03"

6186

x

131 132 133

Bulukawang Sumberbening Pasuruan

111° 46' 8.00" 112° 22' 30.79" 112° 34' 22.15"

-

112° 21' 29.52" 112° 49' 10.92" 113° 5' 11.15"

-8° 9' 37.49" -8° 11' 39.14" -7° 31' 55.71"

-

-8° 21' 1.87" -8° 26' 56.44" -7° 57' 27.06"

618 715 1596

x x x

134

Probolinggo

112° 56' 4.25"

-

113° 37' 33.14"

-7° 41' 54.57"

-

-8° 1' 38.08"

1639

x

135

Jember-Lumajang

112° 53' 57.36"

-

114° 2' 42.22"

-7° 56' 23.58"

-

-8° 25' 22.94"

3865

x

136

Besuki

113° 34' 17.40"

-

113° 52' 4.48"

-7° 41' 12.69"

-

-7° 58' 19.50"

469

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

99

99

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Situbondo 2. Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Pamekasan 2. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur Kabupaten Sumenenp A. Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Sambas B. Malaysia Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Bengkayang 2. Kabupaten Landak 3. Kabupaten Pontianak 4. Kota Pontianak

KETERANGAN b x c d

137

Bondowoso-Situbondo

113° 40' 6.74"

-

114° 26' 39.19"

-7° 36' 17.95"

-

-8° 7' 37.33"

2358

138 139 140 141

Wonorejo Banyuwangi Blambangan Bangkalan

114° 12' 15.69" 113° 55' 28.01" 114° 20' 23.26" 112° 40' 22.8"

-

114° 27' 49.57" 114° 24' 28.44" 114° 36' 10.39" 112° 58' 6.01"

-7° 48' 9.83" -8° 3' 29.47" -8° 26' 41.90" -6° 53' 21.96"

-

-8° 5' 53.17" -8° 34' 11.00" -8° 46' 51.07" -7° 7' 16.24"

543 1737 413 398

x x x x

142

Ketapang

112° 54' 47.42"

-

113° 56' 18.56"

-6° 51' 51.97"

-

-6° 56' 56.89"

631

x

143

Sampang-Pamekasan

112° 41' 25.08"

-

113° 53' 39.48"

-7° 3' 55.29"

-

-7° 15' 25.69"

1200

x

144 145 146 147 148

Sumenep Toranggo Paloh Sambas Singkawang

113° 27' 22.5" 113° 55' 32.30" 109° 16' 23.73" 108° 54' 32.4" 108° 55' 31.83"

-

114° 6' 27.58" 114° 7' 32.52" 109° 38' 52.08" 109° 50' 18.59" 109° 19' 28.59"

-6° 57' 13.69" -6° 52' 4.60" 1° 41' 8.84" 1° 2' 44.59" 0° 50' 54.37"

-

-7° 7' 19.49" -6° 59' 1.82" 2° 4' 57.39" 1° 43' 22.10" 1° 6' 20.55"

478 101 561 3178 728

x x x x x

149

Pontianak

108° 50' 8.88"

-

110° 30' 0"

0° 52' 27.3"

-

-2° 23' 49.96"

22620

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

100

100

34" 118° 50' 46. Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur 1.66" 1° 2' 56.88" 125° 3' 20. Kabupaten Seruyan 3.48" 116° 6' 57.08" - 117° 13' 58.69" -0° 17' 15.03" 118° 32' 36. Kabupaten Berau 2.56" 1° 45' 17.53" - 1° 40' 34.192" -0° 11' 21.78" - 116° 16' 33. 2010 101 101 NO. Kabupaten Kutai Barat 2.48" 116° 27' 31.96" 116° 35' 39.31" - 118° 26' 22. Kabupaten Berau 3. x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Hulu Sugai Utara 9.87" -1° 48' 7. Kabupaten Nunukan B.71" - -0° 38' 48. Kabupaten Tapin 5.75" 116° 55' 9. Kabupaten Tanah Laut 2.91" 116° 12' 48. Kabupaten Sintang 3.77" 1° 9' 34.17" -1° 26' 46. Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan 1.96" 111° 4' 2.20" 1° 40' 51. Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Bulungan 4. Kota Bontang 5. Kabupaten Kutai 3. Kota Samarinda 4.54" 124° 59' 38. 2010 102 102 .92" 95980 151 152 153 154 155 Pagatan Apar Tabanio Sebakung Muarapayang 114° 37' 9.11" 125° 15' 5.76" - 4° 14' 33. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Barat B. Provinsi Kalimantan Timur 1. Malaysia Provinsi Kalimantan Timur 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.23" -0° 38' 39.39" 116° 43' 45. Kabupaten Murung Raya C.48" 115° 59' 15.65" 116° 33' 33.01" 0° 32' 37. Kota Palangkaraya 6.72" - -4° 0' 46.506" -2° 2' 20.94" 1° 29' 23.NO. Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur 1.54" 1131 7107 2474 x x x 164 165 166 167 168 169 Loahaur Tenggarong Jonggon Muara Lahai Munte Batuputih 116° 52' 39.79" -1° 58' 11.14" 116° 9' 9.70" - 117° 1' 21.88" -1° 9' 36.81" 115° 28' 22.26" 115° 41' 21.53" 0° 54' 32.50" -1° 59' 14. Kabupaten Sanggau 2. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur 1.92" 118° 51' 32.19" 1° 10' 33.81" 118° 58' 48. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya B.95" 0° 30' 49. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung KETERANGAN b x x x c d 157 158 159 Sendawar Mangkaliat Sumbang 115° 28' 42.05" - -4° 10' 34. Kabupaten Barito Selatan 8. Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir A. Provinsi Kalimantan Selatan 1. Kabupaten Hulu Sungai Selatan 7. Kabupaten Pasir 2. Kabupaten Kotawaringin Barat 2.13" 124° 55' 15.14" 1° 38' 8.59" 10110 115 598 160 Tanjungselor 116° 36' 14.04" -2° 25' 58.31" 13550 x 161 162 163 Muarakarangan Putussibau Sintang 117° 33' 52.60" 111° 54' 2. Kota Samarinda 3.87" 116° 46' 44. LOKASI a Kabupaten Ketapang KETERANGAN b c d 150 Palangkaraya-Banjarmasin 110° 10' 20.97" 113° 11' 50. Kota Banjarmasin 4.55" 0° 52' 5. Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai A.16" 6441 1089 439 649 1660 156 Samarinda-Bontang 116° 33' 4.74" 0° 43' 52. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Banjar 3. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Hulu Sungai Tengah 8.26" -0° 45' 14.48" 117° 2' 42.73" - 17° 44' 46. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 5. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Kutai Timur B.08" - 118° 8' 37.32" - 115° 41' 29.45" - -1° 25' 49.40" 111° 47' 59.26" 1° 6' 24. Kabupaten Katingan 5. Kabupaten Barito Kuala 6. Kabupaten Kutai Timur 2.68" -2° 20' 50.46" -0° 57' 43. A.74" 7720 Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Tengah 1.57" 114° 41' 12. Kabupaten Kapuas 7. Kabupaten Tanah Laut 2.90" 0° 51' 33. Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat 1.20" -0° 22' 6. Kabupaten Berau A.84" 1° 9' 49.84" 428 385 284 4115 77 275 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.90" -0° 1' 21.02" -1° 45' 40. Kabupaten Kotawaringin Timur 4. Kabupaten Kutai Timur 2.93" -0° 4' 17.37" -0° 57' 18. Kabupaten Kutai 2.48" - -0° 55' 50.

83" 1° 11' 6.77" 0° 28' 1.44" 122° 21' 27.92" 120° 30' 29.50" 122° 10' 17.63" 0° 26' 9. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo 1.07" 0° 55' 13.58" -0° 4' 41.51" 125° 15' 5.66" 0° 25' 59.27" 120° 6' 40.24" 122° 13' 52.27" 120° 5' 16.49" 124° 34' 24.10" 119° 58' 5.13" 123° 14' 24.90" 124° 28' 38.12" -0° 0' 39.79" 124° 13' 14.154" 0° 10' 34.45" 0° 52' 4.40" 0° 28' 4.48" 0° 50' 58.47" 0° 27' 21.63" 124° 7' 53.83" 120° 5' 11.39" -0° 9' 17.85" 122° 45' 20.28" 1° 2' 11.25" 121° 19' 13. Kabupaten Gorontalo 2.77" 120° 5' 40. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.91" 124° 12' 8.44" 124° 8' 9. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.81" -0° 30' 41.54" - 0° 33' 33.44" 0° 35' 1.13" -0° 0' 14.79" 119° 46' 50.08" 119° 36' 19. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.15" 119° 50' 43.75" -0° 43' 6.41" 124° 41' 56.53" - 125° 2' 9.50" -0° 40' 59.12" 0° 33' 48.01" 123° 20' 27.11" 119° 45' 5.01" 0° 41' 10. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.95" 124° 36' 0.44" 124° 52' 13.52" 123° 55' 57.03" 0° 36' 24.14" 0° 17' 36.09" 119° 56' 9.96" 0° 44' 15.11" 0° 55' 33.55" Kabupaten Pohuwato Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah 1.26" 0° 24' 6.04" 0° 36' 9.07" 119° 54' 38.40" -0° 8' 1.39" -0° 8' 43.41" 119° 56' 36.96" 121° 32' 12.65" 124° 30' 49.20" 120° 2' 0.51" 123° 30' 8. 2010 104 104 .NO.77" 0° 23' 51.37" 0° 54' 50.64" - 0° 32' 5.78" 120° 23' 48.83" 124° 10' 38.06" 1° 32' 0.35" 0° 55' 41.66" 112 35 481 433 75 59 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.08" 0° 6' 4.29" 0° 24' 46.57" 0° 44' 55.69" 1° 25' 35.84" 122° 26' 39.91" 120° 2' 29.55" 0° 27' 17.95" 0° 47' 39.70" -1° 2' 33.19" 1° 4' 41.92" 121° 30' 21.89" 0° 21' 43.84" 121° 59' 7.41" 123° 45' 36.52" 0° 48' 10. Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.01" - 1° 39' 58.43" 119° 46' 27.53" -0° 16' 26. Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo KETERANGAN b x x x x x x x x x x x c d 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Manado Bitung-Ratahan Tomohon-Tumpaan Sidate-Poigar Buyat Kotamubagu Lolak Dumoga-Kasio Molibagu Mongalada Bone 124° 43' 23.90" -0° 5' 15.04" 123° 42' 32.52" -0° 4' 52.97" 0° 34' 21.61" 120° 46' 34.27" 0° 26' 17.78" 0° 42' 24.20" 124° 45' 39.06" 123° 44' 6.85" 0° 44' 46. 2010 103 103 NO. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.26" 120° 27' 9. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.34" 1004 1022 956 521 80 414 76 684 91 212 326 181 182 183 184 185 186 Pinogu Tombulitato Gorontalo Molombulah Mahinoto Soginti 123° 19' 40.97" 120° 4' 44. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.00" -0° 3' 38.69" 121° 15' 45.50" -0° 13' 44.58" 119° 58' 26.13" 0° 21' 31.24" 119° 47' 48.25" 119° 51' 23.01" 120° 29' 0.70" 0° 36' 50.83" 120° 51' 0.85" -0° 11' 19.75" 121° 6' 11.95" -0° 16' 25.19" 119° 50' 52.97" -0° 31' 42.80" 0° 25' 51.56" 0° 50' 16. Kabupaten Donggala 2.08" 0° 46' 30.35" 1° 1' 47.34" 0° 18' 31.63" 0° 35' 38.92" 0° 50' 45.98" -0° 50' 24.96" 123° 34' 27.01" 123° 22' 35.74" 0° 20' 22.16" 120° 17' 7.25" 1° 19' 4.20" 119° 51' 54. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 234 92 606 435 55 24 111 83 54 50 22 36 14 52 37 63 149 97 261 Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo LOKASI a Kabupaten Gorontalo x KETERANGAN b c d 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 Marisa Papajato Mountong-Tomini Buol Ogomali Ogawele Butung Babatona Ladangkola Sinei Tambu Tompis Labea Palado Tompe Oti Ampibabo Tawaeli Tindaki 121° 42' 51.72" 1° 13' 0.75" 119° 44' 4.82" - 121° 58' 52.38" 123° 56' 33.63" 119° 47' 27.94" 122° 41' 5.08" - 123° 30' 59.89" 1° 5' 27.97" 119° 54' 44.

07" - -4° 33' 39.74" 122° 34' 0.14" -1° 37' 1.04" -1° 57' 25.83" -1° 43' 22.68" - 119° 42' 50. Kabupaten Donggala 2.59" -3° 31' 2. Kabupaten Gowa 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 313 716 279 130 224 795 999 530 581 215 333 263 678 175 1306 837 121 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala A.47" x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.34" -2° 24' 30. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 156 2230 135 327 86 422 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu A.31" 119° 6' 6.06" -2° 57' 46.16" 120° 41' 25.33" 120° 0' 50. Kabupaten Sinjai 3. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah 1.56" -3° 2' 43.93" 580 x 234 235 Gowa Sinjai 119° 44' 2.25" - 119° 34' 40.12" -0° 59' 13. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1. Kabupaten Barru 2.11" -0° 47' 23.94" - -5° 23' 8.71" -0° 51' 16.92" - 119° 57' 14.85" 939 x 231 Barru 119° 34' 44.59" 2229 x 233 Makassar 119° 20' 54.83" -1° 17' 56. Kabupaten Sidenreng Rappang 3.56" 120° 17' 17.72" - -2° 18' 5.21" 122° 53' 21. Kabupaten Bone x x KETERANGAN b c d 223 224 225 226 227 228 Tanoa Bone-Bone Lelewowo Polewali Kolosi Padang Sapa 121° 31' 18. Kabupaten Maros 3.56" - -4° 25' 9.54" -0° 49' 28.32" -4° 33' 52.33" 119° 33' 44.10" -3° 29' 9. Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan 1.72" -1° 55' 4.89" 122° 4' 10.69" -1° 8' 48.30" -1° 29' 31. Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan 1.78" -1° 35' 2.76" 120° 32' 14.39" 123° 4' 59.36" -3° 18' 33.23 2270 x 230 Siwa-Pompanua 120° 4' 18.18" - 119° 45' 42. Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan 1.14" -1° 35' 15.21" 119° 49' 2.65" 121° 8' 38.69" -5° 13' 54.90" 119° 31' 2. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso A.87" 482 81 x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Donggala 2.63" 120° 12' 53.25" 120° 5' 41.0" 123° 7' 55.22" -2° 8' 0. 2010 106 106 .55" 120° 7' 10. Kabupaten Soppeng 4.74" -1° 5' 37.87" 119° 23' 35.28" -2° 53' 0. Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan 1.34" -1° 19' 26.44" -5° 0' 47. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Luwu 2.12" 119° 45' 25.69" 121° 21' 47. Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan 1. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso x KETERANGAN b c d 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 Palu Pasangkayu Dapuran Bobo Langko Watutua Poso Morowali Topo Tomeang Luwuk Sobol Peleng Tomori Wasopote Sampaga Pindolo 119° 49' 28.25" -2° 59' 57.83" 120° 26' 24.59" -1° 41' 52.56" -1° 16' 8. 2010 105 105 NO.69" - 120° 14' 17.NO.27" -3° 30' 31.69" - 121° 49' 23. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.82" - -1° 20' 28.26" 121° 28' 57.78" -1° 3' 22.44" -3° 33' 14.67" -1° 57' 9.51" 119° 7' 23.41" -3° 29' 48.56" -1° 47' 47.62" -1° 10' 5.19" 123° 9' 9.73" -2° 4' 52.40" 120° 48' 11.88" -1° 57' 0.92" 121° 3' 25.04" 121° 48' 30. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu B.63" 122° 40' 6.69" -1° 10' 52.16" 123° 24' 8.86" -2° 28' 10. Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2. Kabupaten Pinrang 2.77" -1° 7' 58. Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan 1.90" 119° 24' 50.59" - -5° 32' 44.09" -4° 19' 3.05" 122° 17' 14.82" -0° 52' 15.22" -5° 5' 29.81" - 120° 26' 32.24" -2° 25' 28. Kabupaten Takalar 3.47" 122° 6' 19. Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju B. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso B.41" 119° 59' 31.83" 120° 48' 11.27" 119° 17' 4.58" 121° 14' 0.42" - -4° 25' 58. Kabupaten Gowa 4.56" -1° 15' 7. Kota Makassar 2.85" 120° 18' 1.30" -1° 53' 28.99" 121° 12' 31.22" -3° 18' 53.35" 120° 12' 40. Kabupaten Donggala 2.24" - 120° 5' 1.53" -5° 10' 28.47" - -5° 6' 35. Kabupaten Wajo 5.70" 134 x 232 Pangkajene 119° 27' 44. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.03" -2° 0' 57.69" x x x x 229 Pinrang-Sidenreng 119° 26' 57.23" 120° 52' 12.78" 120° 25' 16. Kabupaten Wajo 3.83" -1° 33' 54.99" 119° 17' 58.36" 120° 14' 38.23" -2° 11' 36. Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan 1.61" 121° 29' 48.

37" 115° 30' 55.29" -5° 13' 53.52" -4° 30' 43.72" 115° 43' 0.90" -8° 20' 10.48" 115° 29' 40.77" 114° 55' 43.91" x x x x x x 260 261 262 263 264 265 266 Singaraja Amlapura Negara Gilimanuk Nusa Penida Nusadua Tejakula 114° 55' 22. Kabupaten Jembrana Provinsi Bali Kabupaten Klungkung Provinsi Bali Kabupaten Badung Provinsi Bali 1. 2010 107 107 NO.48" - -5° 38' 0.83" 122° 13' 44.10" 121° 39' 56.03" - - -4° 50' 8.64" -4° 36' 32.43" -4° 40' 27. Kabupaten Buleleng 2.89" 122° 56' 1.22" 115° 37' 41. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.42" 122° 18' 28.51" 121° 42' 37.56" 122° 53' 54.01" -4° 22' 51.96" 123° 4' 7.22" 123° 9' 49.64" 122° 0' 7. Kabupaten Karangasem 6. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Kabupaten Karangasem Provinsi Bali 1.58" -4° 37' 28. Kabupaten Muna 2.29" -8° 4' 1.23" -8° 6' 0.98" -8° 12' 24.72" -4° 22' 0.73" 122° 58' 32.12" 114° 58' 7.47" 122° 22' 14.45" 115° 9' 32.58" -5° 18' 11. Kabupaten Bangli 4.01" -5° 26' 32.22" 122° 51' 22.88" -4° 19' 52.25" -4° 33' 43.59" 115° 4' 57. Kabupaten Kendari 2.58" 121° 51' 30. Kabupaten Buleleng 5. Kabupaten Buton 2.97" 115° 14' 6.81" -5° 14' 14.36" 115° 26' 41.31" 123° 12' 45. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 347 157 591 339 976 128 307 2080 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara 1.28" -3° 56' 45. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1. Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.NO.88" -8° 45' 3. Kabupaten Muna 2.16" -4° 52' 5.43" 121° 39' 35.59" 122° 59' 42.25" 122° 23' 47. Kabupaten Jembrana 2.94" 122° 49' 54.39" -8° 11' 34.09" 114° 40' 36.59" 230 656 2269 129 126 256 347 163 162 436 66 144 213 260 69 x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.65" -4° 50' 56.68" -5° 42' 5.94" -4° 4' 54.11" 115° 42' 25.06" 121° 32' 28.78" -8° 5' 33.84" 122° 29' 25.36" -4° 30' 2. Kabupaten Buleleng 2.87" 121° 47' 9.59" -4° 11' 54. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Bali 1.07" 122° 21' 7. Kota Denpasar 2.09" 121° 27' 17. Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Tenggara 1.99" 114° 25' 40.96" -3° 48' 41.39" 123° 13' 31.30" 122° 56' 50.27" -4° 16' 7.39" -8° 23' 48.43" -8° 30' 40.82" 122° 15' 54.26" -5° 46' 39.26" -3° 38' 37.44" - - 123° 4' 59.21" 122° 51' 27. Kabupaten Badung 3. Kabupaten Klungkung 7.89" -8° 10' 52.08" -4° 37' 26.19" -5° 26' 21.81" -4° 11' 52.92" -4° 48' 22.70" 122° 38' 57.84" -4° 27' 9. Kabupaten Muna 2. Kabupaten Sinjai 5.75" -8° 40' 14.38" 122° 58' 45.43" -4° 25' 38.62" -4° 32' 37. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.71" -8° 46' 30.77" 122° 25' 13.25" -4° 1' 35. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna KETERANGAN b c d 236 Bantaeng 119° 43' 52. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bantaeng 3.70" -4° 43' 42.92" -5° 12' 13.80" 121° 27' 59. Kabupaten Buton 2.41" -5° 13' 12.74" 114° 26' 11. Kabupaten Bangli x x KETERANGAN b c d 252 253 254 255 256 257 258 259 Lambale Ereke Lebo Konde Bau-Bau Kaliwinto Lasilimu Denpasar-Tabanan 122° 53' 45. Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan 1. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.69" -5° 26' 35.48" 120° 24' 27.02" -4° 41' 15. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.71" -8° 28' 26.98" -5° 25' 26.59" 122° 33' 18.63" 122° 32' 16.14" -8° 49' 5.16" 121° 43' 11.58" -4° 6' 31. Kabupaten Gianyar 8.58" -4° 47' 48.95" 120° 33' 3.84" 122° 46' 6.61" -6° 30' 23. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1.10" - 120° 16' 20.45" 1433 x 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 Bira Selayar Bungku Kolaka Raromeeto Rawua Tangketada Andoolo Ambesia Ewolangka Weputang Tinanggea Muna Labuhan Tobelo Bangbong 120° 16' 49.25" - 120° 27' 27.75" -5° 14' 15.87" -4° 27' 4. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1.83" 505 200 418 131 198 99 750 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bulukumba 4.21" 122° 7' 9.37" -8° 50' 52.94" - 115° 12' 54.03" - -5° 42' 24.74" 122° 44' 14. Kabupaten Jeneponto 2.62" 122° 53' 59. 2010 108 108 .61" - -8° 20' 19.22" -4° 41' 46.

66" - -8° 51' 57.16" 122° 55' 23. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1. Kabupaten Tabanan Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.86" -8° 22' 29.04" -8° 28' 10.95" -8° 8' 20.31" -8° 17' 5.05" 122° 44' 3. Kabupaten Manggarai 3.43" 2366 x 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Tanjung -Sambelia Sumbawa Besar Empang Pekat Sanggar .29" -8° 29' 49. Kabupaten Buleleng 3.82" 122° 3' 11.45" 122° 58' 35.06" 123° 10' 11.74" -8° 11' 32.8" 120° 4' 32.04" 118° 35' 24.18" 121° 56' 37.52" -8° 33' 33. Kabupaten Badung 5. Kabupaten Dompu 2. Kabupaten Manggarai 2.94" -8° 13' 42.72" -8° 31' 10. Kota Mataram 3.66" -8° 33' 8.50" -8° 40' 49. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.68" 123° 12' 46.35" -8° 31' 38. Kabupaten Lombok Barat 2. 2010 109 109 NO.60" -8° 24' 49.24" -8° 37' 8.34" -8° 13' 32.75" 121° 48' 32.10" 118° 33' 25. Kabupaten Flores Timur 2. Kabupaten \Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.50" 122° 57' 1.59" 122° 36' 53.84" 123° 0' 35.71" 117° 41' 24" 117° 42' 39.12" 122° 52' 23. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.31" -8° 27' 41.28" 117° 34' 9.86" -8° 25' 28. Kabupaten Karangasem 4.28" 123° 17' 27.83" 123° 44' 12.59" 123° 12' 31. Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur KETERANGAN b c d 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 Bajawa Maurole Ende Maumere Larantuka Kutabura-Lamaayang Lewobunga Liberapan Balauwak Mananga Waiwadan Waiwerang Lewoleba Iliwatulolo Balaurik Wairiang Wapoe Takourang Delaki 120° 55' 25.72" 123° 45' 22. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2. Kabupaten Bima 2.52" -8° 26' 29.73" 123° 46' 47.17" 122° 3' 4.83" -8° 12' 42.69" 124° 19' 26.24" 123° 55' 41.90" -8° 32' 14.71" -8° 45' 59.03" 123° 41' 37.72" 123° 54' 24.26" -8° 11' 37.06" 123° 54' 39.10" -8° 23' 51.28" -8° 4' 48.88" -8° 29' 55.27" -8° 10' 8.72" 122° 41' 19.89" 118° 56' 31.45" - 116° 43' 20.41" - -8° 50' 8.18" -8° 14' 47.76" -8° 41' 59. Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.96" 120° 30' 5.62" -8° 17' 48.63" 120° 27' 15.44" 116° 52' 46.47" -8° 11' 47.4" 122° 58' 1.84" 124° 19' 10. 2010 110 110 .87" -8° 37' 9.26" -8° 15' 48.19" - -8° 28' 59.96" -8° 38' 24.49" 119° 47' 52.15" -8° 25' 15.4" -8° 12' 46. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2. Kabupaten Dompu 2.84" - 116° 43' 19.62" -8° 33' 21.65" -8° 22' 7.74" 118° 18' 50. Kabupaten Lombok Barat 2. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.28" 123° 20' 5.43" -8° 17' 25.75" 121° 52' 35.55" -8° 10' 27.44" -8° 46' 14.44" -8° 21' 58. Kabupaten Dompu 2.38" -8° 3' 54.35" -8° 12' 54.68" 119° 3' 28.17" -8° 43' 18. Kabupaten Bima 2.30" -8° 19' 8.57" - 121° 20' 51. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Manggarai 2. Kabupaten Ngada KETERANGAN b c d 267 Mataram-Selong 116° 3' 33.18" 121° 33' 36.82" -8° 17' 51. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.34" 118° 53' 13.NO. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.31" 123° 44' 39.84" 118° 12' 58.40" -8° 32' 58.2" -8° 32' 14. Kabupaten Lombok Timur 3.25" -8° 38' 53.28" -8° 48' 39.54" -8° 15' 30.68" 123° 43' 57.56" -8° 33' 1.73" 121° 4' 23. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.93" -8° 24' 53. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.69" 117° 53' 45. Kabupaten Lombok Timur 4.75" 10970 140 394 800 1030 330 139 82 70 70 333 173 535 542 27 60 98 376 367 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.58" 118° 30' 8.8" 120° 3' 58.53" -8° 27' 1.12" 118° 15' 43.08" 123° 0' 6.16" 123° 55' 18.64" -8° 38' 32.904" 119° 50' 12.47" -8° 12' 33.59" -8° 53' 36.01" -8° 14' 40.76" 122° 57' 46.91" -8° 57' 34.84" -8° 35' 11.84" 121° 22' 35.56" 1124 1404 345 977 1419 375 1102 363 413 398 813 3724 x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Kilo Dompu Bima Tawali-Sape Labuanbajo Lempe Reo-Riung Ruteng 116° 3' 28.44" 123° 10' 2.75" 123° 1' 26.14" -8° 47' 44.

48" -8° 13' 21.54" 1576 95 178 95 565 362 753 74 259 162 166 x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.80" 127° 49' 53.91" 127° 6' 14.79" -0° 9' 29.41" 124° 21' 47.43" -9° 56' 14. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.63" 128° 8' 47.12" 128° 36' 37. 2010 111 111 NO.2" 0° 26' 9. Kabupaten Timor Tengah Selatan 2.35" -9° 43' 21.99" 122° 57' 56. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.16" 1° 27' 48.34" 481 88 236 229 250 106 108 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Halmahera Tengah 2. Kabupaten Kupang 2.56" 123° 56' 31. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.04" -10° 39' 7. Kabupaten Halmahera Barat 2.87" 118° 55' 41.96" 124° 5' 30.38" 124° 47' 3.96" 120° 49' 28. Kabupaten Halmahera Barat 2.02" -0° 19' 59.09" -8° 27' 47.35" - 128° 41' 48.43" 0° 45' 15.43" 0° 12' 38.14" 128° 1' 2.654" 0° 23' 30.25" -9° 46' 51.02" -10° 10' 39.798" -9° 13' 17.248" - -8° 15' 33.77" 122° 48' 9. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.99" 127° 49' 4.21" 123° 9' 57.92" 127° 55' 21.17" 127° 32' 37.56" 124° 9' 13.32" 127° 44' 51.38" - 1° 28' 38.42" -10° 21' 45.58" -10° 7' 13.38" -10° 51' 48.74" x x x x x x x 309 310 311 312 313 314 315 Besikama Aroki Nemberala Batutua Rote Ternate Tidore 124° 42' 38.4" - 125° 5' 16.45" -10° 0' 43.92" 124° 20' 53.77" 0° 37' 22.38" 128° 22' 14.48" 128° 4' 28.04" 124° 21' 30. Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.64" 124° 53' 52.67" 1° 15' 2.51" - -9° 52' 36.54" 0° 33' 48.72" 127° 21' 41. Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Halmahera Tengah 2.75" 1° 35' 22. Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan x KETERANGAN b c d 316 317 318 319 320 321 Daruba-Bere-Bere Posi-Posi Galela Tobelo Ibu Kau 128° 12' 9.92" 0° 44' 26.55" 1° 36' 41.48" -9° 21' 34.69" 127° 43' 27. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara 1.98" 127° 17' 24.65" -0° 39' 32.27" -10° 25' 41.31" 127° 56' 52.73" 127° 18' 5.77" - 124° 36' 16.81" -10° 43' 24.62" -8° 7' 34. Kabupaten Timor Tengah Selatan 3.276" 0° 20' 25.63" 1° 48' 8.96" 128° 6' 42.50" 1° 45' 46. Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Maluku Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan x x x KETERANGAN b c d 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 Pasirputih Kalabahi Werula Waikabubak Ngalu Kupang Camplong Mina Soe Oemeu 124° 23' 29.99" -0° 47' 46.92" 125° 8' 35. Kabupaten Belu 2.18" -0° 19' 57.75" 2° 8' 50.92" -9° 23' 28.34" -10° 44' 20.79" 0° 52' 3.46" -0° 14' 51.87" 123° 14' 26.12" 127° 27' 33.88" 125° 8' 41. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 112 1104 885 2860 1427 660 232 311 162 1008 LOKASI a Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.46" 127° 23' 57.24" -0° 6' 36.85" 127° 55' 47.052" -10° 0' 12.15" 127° 23' 12.88" 1° 11' 27.62" 123° 25' 33.48" -9° 24' 21.77" 128° 45' 23. Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.51" 128° 5' 12.16" 120° 19' 4.32" 1° 58' 56.18" 1° 54' 24.68" 2° 13' 25. Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara 1.75" 1° 18' 1.74" - 2° 38' 24.17" x x x x x 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Jailolo-Sidangoli Payahe Mafa Sagea Wasile Akelamo Patani Wusi Kasiruta Mandioli Labuha 127° 23' 49.88" 127° 35' 25.4" 127° 9' 27" - 127° 52' 44.14" 124° 32' 34.29" -8° 26' 28.04" 124° 19' 55.NO.008" 0° 17' 27.30" 1° 33' 44.87" 128° 2' 15.144" 122° 57' 53.36" 0° 45' 34.82" 128°1' 2.48" 124° 9' 51.66" -9° 51' 31.92" 127° 38' 47.89" 123° 27' 24. 2010 112 112 .56" -0° 9' 27. Kabupaten Halmahera Timur 3. Kabupaten Halmahera Utara 2. Kabupaten Sumba Barat 2.57" -8° 8' 53.98" 0° 26' 14. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.14" 1° 1' 20.86" -9° 22' 40.4" 128° 54' 9" 128° 55' 47.05" -9° 53' 44.72" 127° 57' 20.08" 124° 53' 6.97" 0° 27' 13.48" 123° 55' 11.03" -0° 29' 38.76" 127° 19' 46. Kabupaten Halmahera Tengah 2.59" 128° 2' 1. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 486 58 704 763 756 1941 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.28" 120° 1' 25.77" 127° 58' 53.78" -9° 37' 41.15" -10° 56' 20.71" -10° 13' 15.

99" -2° 56' 1.57" 128° 3' 40.48" 128° 33' 57.44" -6° 2' 6.14" -3° 2' 16.77" -5° 34' 8.98" 127° 57' 34.95" 134° 46' 55.83" 133° 11' 23.85" -6° 34' 23.81" 134° 19' 46.14" 134° 2' 59.07" -1° 27' 42.11" -3° 2' 6.04" -3° 21' 14.95" 127° 41' 45.20" -3° 33' 39.81" 134° 37' 22.98" -1° 21' 7.24" 127° 45' 30.68" 127° 48' 19.33" 134° 26' 55.09" -7° 13' 47.77" -2° 54' 17.88" 129° 7' 56.11" -3° 6' 9.43" 127° 49' 19.47" 126° 37' 35.49" 131° 59' 4.10" -1° 17' 33.88" -0° 27' 12.13" 134° 10' 34.62" 134° 15' 54.58" -7° 41' 53.36" 130° 29' 9.44" 131° 10' 27.76" 134° 45' 39.80" -6° 22' 31.67" 128° 23' 23.66" -6° 56' 42.95" 132° 51' 6.NO.30" -8° 20' 33. 2010 113 113 NO.66" 129° 4' 21.37" 130° 52' 49.89" 134° 31' 57.39" -5° 57' 6.47" -6° 26' 42.70" -1° 25' 24.69" 128° 0' 1.84" -5° 15' 58.7" -3° 52' 38.51" 134° 38' 25.01" Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 79 157 56 159 71 97 301 1438 381 124 275 52 98 272 467 134 122 278 92 1276 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Buru Selatan Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku 1.65" -7° 5' 56.06" -1° 11' 26.72" - -3° 19' 5.37" -0° 46' 12.77" -3° 48' 53.59" -5° 59' 59.34" -3° 42' 58.63" -3° 16' 33.21" 126° 15' 36.44" -7° 8' 1.44" - 129° 53' 50.49" -5° 25' 30.08" 127° 44' 42.13" -0° 38' 45.45" -5° 44' 46.84" 130° 45' 16.28" -3° 33' 57.52" 134° 45' 55.69" -6° 47' 7.89" -6° 16' 39.47" -2° 54' 4.15" - -0° 41' 1.35" 126° 0' 11.87" 128° 20' 48.92" 128° 4' 6.90" 127° 37' 33.92" 130° 57' 46.26" - 127° 36' 35.28" 128° 32' 43.6" 128° 43' 7.49" -2° 28' 23.80" 134° 54' 35.31" -3° 37' 40.02" -3° 10' 23.61" 3° 37' 55. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1070 811 306 81 513 218 300 1006 1737 137 100 163 406 2069 294 169 66 131 66 44 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tengah Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat x Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x Kabupaten Kepulauan Aru x x x x Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Maluku Tenggara x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 Sawal Waru Kai Kecil Kai Dulah Kai Besar Kola Komfane Wokam Kobror Penambulan Baun Workai Koba Trangan Maikoor Watidal Larat Saumlaki Selaru Seira 129° 4' 28.09" 129° 12' 44.88" 134° 47' 55.88" 126° 48' 7.44" 128° 25' 36.13" -6° 28' 44.65" -7° 14' 53.76" x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.86" -5° 34' 0.99" -3° 29' 13.79" -3° 12' 32. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.52" 134° 31' 55.14" -6° 17' 9.44" 134° 38' 42.84" -8° 4' 18.12" 131° 36' 47.54" 132° 36' 53.8" 132° 49' 22.68" 128° 16' 13.89" -6° 1' 45.43" 128° 23' 37.19" 125° 57' 12.14" 131° 42' 42.12" 127° 7' 8.45" -5° 31' 12.48" 127° 54' 24.42" -2° 18' 33.76" 132° 44' 43. 2010 114 114 .70" -3° 11' 45.82" -3° 22' 13.48" 131° 6' 0.34" -3° 29' 18.76" -3° 3' 34.56" 131° 44' 44.05" 127° 27' 46.43" -3° 30' 20.35" 128° 18' 38. Kabupaten Maluku Tengah x x x x x x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Lansa Bisa Taino Sesepe Jobubu Sanana Air Buaya Leksula Waeapo Boano Kawa Laela Waesamu Hitulama Ambon Haruku Saparua Masohi Namea Wahai 127° 27' 25.96" 130° 30' 23.03" 134° 30' 32.41" -7° 37' 52.39" -2° 47' 18.16" 128° 57' 36.45" -5° 35' 3.49" -3° 47' 6.21" 132° 49' 16.52" 131° 21' 19.69" -6° 20' 40.18" -5° 41' 47.95" 126° 4' 14.50" -8° 1' 22.44" 128° 51' 46.54" 127° 54' 24.06" -6° 34' 55.50" -5° 55' 32. Kabupaten Seram Bagian Timur 2.90" -7° 49' 4.24" 127° 53' 10.67" -1° 34' 3.92" 134° 42' 48.91" 134° 42' 29.64" 134° 20' 54.93" -2° 50' 58.88" 134° 46' 1.70" -3° 25' 39.96" 127° 49' 32.65" 131° 4' 45.20" -3° 9' 15.08" -6° 32' 56.45" -3° 29' 55.92" -2° 45' 55.27" -6° 13' 50.46" -3° 6' 3.29" -5° 35' 27. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.73" 126° 50' 16.

16" -1° 46' 44.80" 133° 43' 15.78" -1° 39' 31.36" 127° 45' 12.45" -7° 23' 59.20" -8° 1' 30.20" Provinsi Papua Barat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat 1.77" - -1° 54' 5.44" -0° 42' 42.92" 129° 42' 26.2136" 134° 59' 40.74" -1° 12' 13.42" 130° 42' 31.64" 130° 58' 9.08" 129° 58' 30.55" -3° 45' 29.86" -4° 7' 22.42" 136° 23' 19.66" 133° 37' 35.28" - 134° 2' 55.8" -0° 32' 53.4" 128° 13' 53.31" -1° 39' 52.2" - 130° 27' 16.29" 134° 7' 55.6" 129° 30' 23.69" -4° 5' 2.19" -0° 22' 16.24" -3° 11' 1.12" -8° 6' 15.08" -0° 47' 35.75" -1° 41' 13.49" 130° 40' 40. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.31" 130° 35' 34.40" 140° 30' 54.95" 135° 13' 25.70" -8° 16' 54.84" 129° 51' 43.06" -8° 5' 51.4" 135° 38' 35. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1452 307 345 431 513 6078 516 208 1214 155 110 293 140 1382 343 403 1372 1033 22630 Provinsi Papua Barat LOKASI a Kabupaten Manokwari x x KETERANGAN b c d 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 Manokwari Oransbari Takubo Numfor Urema Kaimana Omba Warsa Biak Pom Ansas Serui Timur Samberbada Nabire Legare Ulawa Agamanan Parekebo Warem-Demta 133° 31' 15.52" -2° 13' 36.56" 130° 41' 34. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 50 53 50 300 31 53 38 113 319 334 118 348 98 765 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat 1.38" 23130 x 388 389 390 391 Atkari Zaag Timoforo Kanoka-Babo 129° 43' 4.83" -2° 2' 18.48" 134° 23' 21. Provinsi Papua Barat Kabupaten Fak Fak B.57" -1° 27' 32.48" 129° 34' 54.79" -7° 47' 28.32" 130° 32' 5. Kota Sorong Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat 1.86" -1° 43' 36.94" 136° 29' 59.92" 134° 16' 43.2" 130° 28' 12.50" 133° 8' 58.88" 135° 33' 7. 2010 116 116 .52" -1° 25' 33.92" 135° 43' 56. Kabupaten Teluk Bintuni 2.40" - -2° 18' 24.88" 134° 33' 14.05" 129° 34' 33.97" -0° 52' 58.44" 130° 41' 10.12" 129° 39' 10.19" -3° 31' 28.04" 128° 7' 19.91" -3° 9' 49.94" -3° 35' 56.88" 134° 52' 16.99" 135° 54' 47.71" -4° 14' 20. Kabupaten Nabire x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.62" -3° 11' 12.57" 131° 5' 52.42" -0° 5' 7.68" 132° 43' 28.96" -1° 52' 12. Kabupaten Manokwari 2.67" -3° 26' 35.01" -1° 11' 40.08" 387 Teminabuan-Bintuni 130° 55' 38.31" 130° 46' 30.17" - 134° 8' 13.84" 129° 48' 15. Kabupaten Sorong Selatan 3.69" -7° 29' 31.82" -1° 38' 29. 2010 115 115 NO. Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua 1.26" 129° 33' 59.96" -8° 12' 1.39" -1° 51' 23.59" -0° 18' 19.72" 129° 55' 9.4" 135° 21' 25.62" -7° 57' 33.51" 135° 1' 23.12" -8° 3' 38.53 -1° 52' 0.96" -1° 45' 53.79" - -7° 34' 21.54" -7° 29' 49.76" 134° 37' 26.90" 135° 59' 36.84" 135° 55' 36.36" -0° 5' 25. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.96" -3° 52' 40.00" - -1° 1' 58.19" 136° 17' 2. Kabupaten Sorong 4.44" 136° 16' 16.4" -1° 7' 58. Kabupaten Fak Fak 2.11" -0° 44' 45.92" -8° 13' 0.56" 134° 40' 10.6" 130° 19' 6.68" 134° 0' 6.83" 135° 50' 47.42" 134° 57' 29.59" -3° 10' 23.57" -7° 57' 30. Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Nabire A.44" -7° 57' 38.NO.36" -3° 31' 51.32" 135° 39' 6.12" 985 309 579 16870 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.4" 128° 4' 21.32" -7° 52' 59.62" -3° 55' 56.89" 135° 20' 2.08" 129° 41' 19.56" -4° 3' 6.65" 135° 36' 43.81" -1° 51' 9.84" -1° 3' 25.42" 131° 4' 15.35" -3° 24' 2.8" - 130° 59' 54.62" -0° 52' 37. Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 Wuru Wiliaru Masela Tutuwawang Tela Emraing Wetan Lakor Moa Waigeo Bokpapo Wairemah Batanta Salawati 130° 49' 56.04" 135° 24' 32.50" 135° 46' 41.42" 136° 5' 55.65" -7° 50' 59.24" 131° 10' 12.16" -0° 8' 38.67" -0° 51' 30.32" -0° 55' 18.10" 135° 38' 26.83" 134° 47' 57.06" 133° 30' 52.02" 135° 41' 44.12" -8° 15' 46.50" -0° 37' 12.88" -1° 35' 50.50" 134° 2' 15.08" -4° 2' 54.68" -1° 21' 32.76" -1° 33' 6.43" -1° 45' 20.86" -4° 17' 39.

87" -4° 40' 4.43" -5° 11' 28. Kabupaten Mappi 4. Provinsi Papua 1.37" -3° 41' 38.94" 139° 21' 0. 3. Kabupaten Keerom B.15" 8160 1766 180 1685 165 7235 573 754 2902 x 421 Timika-Merauke 134° 49' 35.17" - -9° 7' 59.85" - -3° 51' 31. Kabupaten Pegunungan Bintang 2. 8.NO.82" 25380 x 412 413 414 415 416 417 418 419 420 Enarotali Wamena Hulu S.55" -2° 56' 38.99" -3° 1' 45.89" 138° 42' 41.03" -3° 32' 36.88" 140° 52' 46.67" 141° 0' 0" -3° 42' 6. Kabupaten Asmat 3. Kabupaten Jayapura 2.70" 140° 31' 15.88" 131609 Kabupaten Wamena Provinsi Papua Kabupaten Keerom A.34" 140° 33' 30. 4. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 2. 6.20" 140° 18' 1. Kabupaten Mimika 2.20" 141° 0' 0" 140° 55' 37. Kabupaten Yahukimo A. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 6. Provinsi Papua 1. 2. 5.29" - 140° 23' 4. 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.92" -2° 28' 48.11" 139° 55' 6. Kabupaten Merauke 5.15" - 141° 0' 0" -4° 5' 29.51" -3° 0' 8. Keterangan                       a b c d : CAT dalam kabupaten/kota : CAT lintas kabupaten/kota : CAT lintas provinsi : CAT lintas negara Jumlah Cekungan Air Tanah 206 cekungan 176 cekungan 35 cekungan 4 cekungan 421 cekungan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.71" 140° 31' 55.17" 140° 45' 32. Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua 1.07 -3° 59' 59.32" - 138° 57' 18.47" - -4° 22' 40.45" -4° 12' 25.66" 139° 27' 23.20" 140° 40' 59.87" 140° 25' 20. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Papua LOKASI a Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Tolikara Kabupaten Paniai Kabupaten Keerom Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Paniai Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Wamena x x KETERANGAN b c d 411 Taritatu 136° 49' 23.62" -2° 32' 32.44" -3° 13' 12. Provinsi Papua 1. Kabupaten Boven Digul x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 7.Senggi Jayapura Timur Arso Lereh-Leweh Ubrub Mandala Nalco-Bime 135° 46' 26. Papua Nugini Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua 1. Kabupaten Pegunungan Bintang 7. Kabupaten Wamena Papua Nugini KETERANGAN b c d B.51" 139° 57' 44. 4. Provinsi Papua 1.05" -3° 7' 17. 2010 117 117 NO. 2010 118 118 .82" -3° 3' 56. Kabupaten Yahukimo 8.97" -4° 8' 10. 3.70" -3° 46' 10.21" -4° 13' 50.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful