PT-PLA C 1.

1 - 2010

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL DAN IRIGASI AIR TANAH DALAM

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN IR DEPARTEMEN PERTANIAN 2010

KATA PENGANTAR
   

dinas lingkup Pertanian di tingkat Kabupaten/Kota) sesuai dengan kondisi dan potensi di daerah masing-masing

Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah (Irigasi Air Tanah Dangkal dan Irigasi Air Tanah Dalam) dalam menunjang pembangunan pertanian merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan sumber air irigasi untuk usaha pertanian, baik untuk sub-sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Petunjuk/pedoman teknis pengembangan irigasi air tanah dangkal dan dalam ini disusun dengan maksud untuk menjadi pedoman atau petunjuk atau acuan pelaksanaan bagi para pelaksana kegiatan pengelolaan air, khususnya pengembangan irigasi air tanah di daerah (Propinsi dan Kabupaten/ Kota). Pedoman teknis ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pelaksanaan kegiatan di lapangan, terutama dalam mengartikan dan merinci ketentuan-ketentuan teknis di tingkat lapangan. Dengan pertimbangan bahwa kondisi dan potensi antar daerah yang sangat bervariasi, maka pedoman teknis ini harus dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan oleh Satker Propinsi (Dinas-dinas lingkup Pertanian di tingkat Propinsi) dan selanjutnya dalam bentuk Petunjuk Teknis oleh Satker Kabupaten (Dinas 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

Buku pedoman ini dibagi menjadi 2 bagian, masingmasing terdiri dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal. Oleh karena itu, penggunaan atau pemanfaatan buku pedoman ini harus disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan di masing-masing daerah. Demikian semoga pedoman ini dapat dijadikan sebagai acuan/petunjuk oleh para pelaksana kegiatan dengan sebaikbaiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Jakarta, Januari 2010 Direktur Pengelolaan Air,

Ir. Tunggul Iman Panudju, M.Sc NIP. 19580526 198703 1 002

 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

i

ii

i

ii

BAGIAN I

DAFTAR ISI
PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL
KATA PENGANTAR .................................................i DAFTAR ISI ........................................................ iii I. PENDAHULUAN ................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................ 1 B. Tujuan dan Sasaran....................................... 3 C. Pengertian ................................................. 4 II. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL......... 6 A. Persyaratan Lokasi........................................ 6 B. Persyaratan Petani/Kelompok .......................... 7 III. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ............... 8 A. Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal................... 8 1. 2. 3. Sumur ................................................. 8 Pompa Air............................................. 9 Jaringan Distribusi .................................. 9

E. Pelatihan ..................................................19 F. Pemanfaatan .............................................19 G. Pembiayaan...............................................19 I. Waktu Pelaksanaan ......................................20 V. MONITORING DAN EVALUASI ..............................21 A. Indikator Kinerja.........................................21 B. Monitoring dan Evaluasi.................................21 C. Pelaporan .................................................22 D. Pengendalian .............................................22 DAFTAR PUSTAKA................................................24 LAMPIRAN                            

B. Kriteria Teknis ...........................................10 IV. PELAKSANAAN................................................14 A. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana......14 B. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal ...............................17 C. Operasi dan Pemeliharaan .............................18 D. Pembinaan ................................................18
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iii

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iv

iii

iv

...26 G.................................... PENDAHULUAN .10 III.. 8 B............................................... Latar Belakang ............ Kriteria Teknis ........... Persyaratan Lokasi....................................................27 V....25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA................26 F........ 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA................ PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ...23 C......... PELAKSANAAN......... 3 C.28 C..... 1 B..................... 1 A.19 A..... Pelaporan ... 2010 vi v vi ............... Sumur ......................11 1............14 A.......29 D....................................................................... Pemanfaatan ....33 LAMPIRAN B................... 4 II.................................................... Pembinaan ............ KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM....25 D........................... 2................................. Pembiayaan.....................................................13 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) .... Pengertian ......... 2010 v Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..11 A......... Operasi dan Pemeliharaan ............ 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.......... Komponen Irigasi Air Tanah Dalam.............. 3....... Pengendalian .....BAGIAN II DAFTAR ISI PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM E............... 7 A.......................11 Pompa Air dan Perlengkapannya..........................................................31 DAFTAR PUSTAKA................27 I............ Survey Investigasi dan Desain Sederhana ............................ 298 LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA UNTUK MENENTUKAN TITIK LOKASI PENGEBORAN.............. Monitoring dan Evaluasi........................... Pelatihan .................................................... Persyaratan Petani ................. Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam ....................................................28 B..... Waktu Pelaksanaan ...................28 I.........12 Rumah Pompa/Genset......19 B.... Tujuan dan Sasaran.........................16 IV............................ 4................................... MONITORING DAN EVALUASI ............ Indikator Kinerja..

waduk. 2010 Pemanfaatan air tanah dangkal dari sumur-sumur yang diangkat dengan menggunakan pompa memerlukan biaya tambahan. Namun demikian. Bagi daerah yang mempunyai potensi sumber air tanah dangkal. berdasarkan pemanfaatannya. untuk maka perlu dipikirkan air alternatif memenuhi kebutuhan permukaan tanahnya konstan. potensi air tanah di suatu wilayah relatif tetap apabila tidak diusahakan. Pengelompokan ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan air tanah dan kebutuhan infrastrukturnya. embung dan lain-lain telah lama dilakukan masyarakat. tanaman dari sumber air yang lain. sehingga memungkinkan untuk diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa. maka pengisian air tanah (water recharging) tidak terjadi secara alamiah. Pertimbangannya. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemanfaatan air permukaan. karena kebutuhannya belum proporsional dibandingkan dengan ketersediaannya terutama pada musim kemarau. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. seperti sungai. maka sering kali tanaman yang dibudidayakan pada periode tersebut mengalami kekeringan. Pengambilan air tanah sesuai dengan kemampuan pengisiannya. selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian juga memungkinkan terjadinya akselerasi sirkulasi air tanah. Secara teroritis. karena beda potensial antara air tanah dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 1 2 . baik untuk pengadaan pompa 2 maupun pembuatan bangunan penampung (reservoir) 1 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Berdasarkan fakta empirik lain tersebut.BAGIAN I  PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL I. Sumber air tanah dangkal umumnya terdapat di dalam lapisan-lapisan tanah yang tidak begitu dalam. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pemanfaatannya akan lebih mudah karena infrastruktur yang diperlukan lebih sederhana. Air tanah merupakan salah satu pilihan sumber air yang dapat dikembangkan untuk pertanian. maka ada dua jenis air tanah yaitu : (1) air tanah dangkal dan (2) air tanah dalam. sehingga dapat dikembangkan oleh petani setempat secara mandiri ataupun jika memerlukan dukungan masih pada tingkatan yang relatif terbatas. danau. A.

dan produktivitas usaha tani. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman).530 ha. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pembuangan pertanian. perlu adanya a. Meningkatnya produktivitas. 2010 4 3 4 . irigasi rawa. 2. Tujuan dan Sasaran 1. c. Meningkatkan kualitas produksi pertanian dan pendapatan petani.sebagai tandon air. irigasi air tanah dangkal dukungan pembiayaan yang akan berasal dari jenis komoditas yang diusahakan petani dan kelompoknya sehingga keberlanjutan (sustainability) usaha pompa dalam pendayagunaan air tanah dangkal dapat dipertahankan. agar ketergantungan kepada pemerintah dapat diminimalkan. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Air Tanah Dangkal : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman < 30 meter. Terbangunnya sebanyak 706 Lampiran 1). peningkatan areal tanam dan peningkatan permukaan. luas tanam. 3. dan 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. C. 2. B. maka perlu dirancang mekanisme pembayaran biaya operasional dan pemeliharaan (OP) dalam kelompok (partisipasi petani). Oleh karena itu. 2010 unit (alokasi per kabupaten berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Berkurangnya d. b. pengaturan. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi resiko produksi kegagalan usahatani usahatani melalui karena kekurangan air irigasi/kekeringan. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah : a. Irigasi : usaha penyediaan. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas 3. irigasi tambak. irigasi air tanah. c. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Pengertian 1. Agar nilai manfaat air tanah dangkal dapat dioptimalkan. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian.

Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. Persyaratan Lokasi 1. di atas. 2010 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. baik kuantitas maupun kualitasnya. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. dan ketinggian di atas permukaan laut. Potensi sumber air tanah dangkal yang tersedia paling tidak dapat memberikan air irigasi suplementer (supplementary irrigation) pada areal seluas kurang lebih 5 hektar sesuai jenis komoditas yang diusahakan. 5. Diprioritaskan pada lokasi lahan sawah tadah hujan dan lahan kering kawasan tanaman pangan. peternakan. penyaluran dan pembagian. Di lokasi yang bersangkutan mempunyai potensi air tanah dangkal. perkebunan. 7. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. garis bujur. 8. di atas. dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. II.4. 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4. maka pemilihan lokasi harus dilakukan dengan tepat. Sumber Air Irigasi : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. hortikultura. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumurbor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. 3. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan. ataupun di bawah permukaan tanah. pengambilan. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. Beberapa kriteria yang perlu diperhitungkan antara lain : A. Di lokasi yang bersangkutan usahataninya sudah berkembang atau paling tidak daerah tersebut sesuai untuk pengembangan usaha tani tanaman pangan. 6. 2010 6 5 6 . PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL  Agar pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat berhasil dengan baik.

5. Petani di lokasi memerlukan irigasi air tanah dangkal dana dan mampu dan memanfaatkan pemeliharaan serta yang merawatnya dengan baik termasuk menyediakan operasional dibuktikan dari surat pernyataan kelompok tani atas nama petani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sarana/fasilitas/peralatan irigasi air tanah dangkal tidak boleh dikuasai secara perorangan tetapi harus digunakan oleh anggota kelompok. Untuk kawasan 3. digunakan untuk hijauan makanan ternak. 2010 7 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur tersebut dapat berupa sumur gali (cara pengembangannya dengan digali) sumur dan sumur bor/ (cara 8 peternakan. III. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal Agar air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk air irigasi. Diprioritaskan pada kelompok tani/P3A yang sudah terbentuk atau akan membentuk kelompok tani/ P3A/P3AT apabila dibangun irigasi air tanah dangkal. Dalam pengelolaannya termasuk pemanfaatannya. terlebih dahulu harus dibuat sumur sebagai tempat pengambilan. Persyaratan Petani/Kelompok 1. 2. A. 1. misalnya dengan pompa. maka diperlukan upaya pengambilan/ pengangkatan ke permukaan tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan perkebunan. B. 2010 7 8 . Dapat dikembangkan di lokasi Daerah Irigasi (DI) yang memiliki jaringan irigasi di mana kondisi ketersediaan air pada musim kemarau tidak mampu mengairi lahan usaha tani. 6. Minimal ada tiga komponen yang diperlukan agar air tanah dangkal tersedia untuk irigasi : (a) sumur (b) pompa air dan motor penggerak dan (c) jaringan distribusi.hortikultura. air minum ternak. Lahan usaha tani yang akan mendapat pelayanan irigasi air tanah dangkal yang akan dibangun adalah lahan milik petani. Sumur Untuk dapat memanfaatkan air tanah. dan sanitasi ternak. pantek pengembangannya dengan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

penyaluran. 1 (satu) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 1 (satu) atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk saluran distribusinya. Jaringan Distribusi Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usahatani. JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dimana 1 (satu) unit pompa air akan digunakan untuk melayani beberapa sumur. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sentrifugal. bangunan pengatur debit dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa. digerakkan dengan motor penggerak bertenaga diesel atau bensin atau tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). yang terdiri atas: saluran. 2 (dua) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 2 (dua) buah atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk jaringan distribusinya. 2010 10 9 10 . atau b. Pompa air tanah dangkal bersifat mobile (dapat dipindah-pindahkan). Kedalaman sumur yang dibuat disesuaikan irigasi air tanah (JIAT).dibor). Pompa Air Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dalam tanah ke permukaan tanah. 2. maka perlu dibangun jaringan 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Untuk kehilangan losses) mengurangi air (water dalam dengan kedalaman air tanah ( < 30 m ). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Jenis pompa air yang biasa digunakan untuk air tanah dangkal pada umumnya jenis Pompa pompa air B.  Kriteria Teknis Pengertian 1 unit irigasi air tanah dangkal berdasarkan luas layanan oncoran adalah sebagai berikut : a. bangunan pengatur berupa pintu dan boks pembagi.

Terbuat dari bahan besi atau PVC (paralon) cukup kuat. tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). Pipa-pipa : Pipa-pipa diperlukan untuk pipa selubung luar (casing pada sumur bor). Diameter sumur gali dengan diameter lebih kurang 1 meter. Sumur : dapat dibuat dalam bentuk sumur gali atau sumur bor. mudah dalam perawatan dan suku cadang tersedia di pasar setempat. b. diameter selubungnya disesuaikan dengan kondisi jenis pompanya. 2010 11 12 . 2010 11 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. d. Diutamakan yang telah memiliki SNI atau sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi pemerintah. c. Jaringan Distribusi (JIAT) Penyempurnaan pompa dapat jaringan dimanfaatkan distribusi seefisien dan 12 yang resmi ditunjuk oleh dimaksudkan agar air yang dikeluarkan dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dinding sumur dapat diperkuat dengan tembok atau buis beton. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pipa/selang hisap. dan pembuangan. Bila struktur tanahnya labil. Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengembangan irigasi air tanah dangkal antara lain : a. Pompa air : tipe : sentrifugal atau axial. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Diutamakan telah memiliki/memenuhi SNI atau memiliki sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Untuk sumur bor/pantek. Kedalaman sumur disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer. penggerak : motor bertenaga diesel atau bensin. dapat diterima petani.Alternatif pilihan butir a atau b didasarkan pada kecukupan dana dan diuraikan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).

2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. A. Survey Investigasi Survey investigasi dimaksudkan untuk yang mendapatkan calon lokasi dan petani sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal.seefektif kebocoran/ tersebut. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 14 13 14 . mungkin. Pelaksanaan survei investigasi dibiayai oleh daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan) dan dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petugas Kecamatan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana 1. baik dari segi teknis maupun sosial. Pelaksanaan survei investigasi dikoordinasikan dengan instansi/Sub Dinas terkait terutama dengan Sub Dinas yang menangani komoditas yang akan dikembangkan. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dangkal. PELAKSANAAN Tahapan pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat dilaksanakan sebagai berikut : Jaringan distribusi tersebut dapat berupa pipa atau selang yang tahan bocor. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kehilangan dengan air mengurangi pada saluran IV.

sehingga dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. kedalaman sumur. meliputi kedalaman dan kapasitas pompa/air yang keluar dari mesin pompa. Satu hal yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan desain sumur air tanah dangkal sederhana yaitu dalam hal tanah distribusi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. jaringan pembangunan/perbaikan 15 15 16 . dan mesin Berdasarkan diperlukan. dan rancangan jaringan irigasi yang akan dibangun. d. b. Rancangan/desain irigasi air tanah dangkal sederhana sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. e. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peralatan. Kondisi usaha tani dan jenis komoditi yang layak dikembangkan. Kebutuhan bahan. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat digunakan untuk menetapkan spefisikasi pompa air. Luas layanan oncoran (command area) yang akan diairi. 3. Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. maka air telah sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat ditampung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan daerah layanan irigasinya dengan menggunakan bak penampung air (jika dananya mencukupi). dangkal Untuk yang menekan diangkat biaya dari operasional dalam hal distribusi air. peralatan. spesifikasi diperlukan. c. Gambar/sketsa saluran distribusi. Potensi air tanah dangkal untuk kebutuhan irigasi. 2010 letak/lokasi sumur (koordinat sumur). 2010 jumlah dan irigasi kebutuhan pipa-pipa. dan mesin yang Data kedalamam dan potensi air tanah. 2. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dangkal Rancangan/desain sederhana disusun untuk lokasi yang ditetapkan sebagai calon lokasi pengembangan irigasi air taanah dangkal. hasil SID akan dapat diketahui kebutuhan bahan.Laporan hasil survei investigasi paling tidak memuat : a. dan yang 16 spesifikasi motor penggerak pompa.

3. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal. pasca panen. serta pengembangan usaha lainnya. Pembinaan terhadap petani penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota secara berkelanjutan. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah dangkal diserahkan kepada petani/kelompok tani. ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok tani. Kebutuhan anggaran Meliputi perkiraan kebutuhan biaya untuk sumur. Perkiraan pengadaan bahan. dan pemasaran hasil. pemasangan perbaikan jaringan pengembangan dan distribusinya. pengolahan. 2010 Pembinaan 1. B. peralatan. 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kebutuhan anggaran ini dijadikan acuan dalam penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS). 2010 18 17 18 . pipa-pipa. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 1. Pelaksanaan Konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan dengan pola Bansos (dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani). 4. Besarnya iuran pelayanan irigasi yang dibutuhkan. teknik budidaya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.C. 2. pompa air dan perlengkapannya. pemilihan komoditas yang diusahakan. Pola pelaksanaan Bansos mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum Bansos Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. 2. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani sebagai penerima manfaat. Pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan berdasarkan kepada usulan yang diajukan oleh petani/kelompoktani seperti RUKK (Rencana Usulan Kerja Kelompok) setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kab/Kota (contoh RUKK dapat dilihat pada Lampiran 2). pengembangan/ Operasi dan Pemeliharaan 1. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal D. panen. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2.

Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dangkal mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. Kebutuhan biaya jaringan untuk SID irigasi/distribusi. Pemanfaatan Dengan pertimbangan biaya investasi. maka pemanfaatannya harus dilakukan secara efektif dan G. Pelatihan 1. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan oleh pihak ketiga/pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah. 2. operasi dan pemeliharaan efisien. dan partisipasi masyarakat. pengadaaan pipa-pipa. F. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah. Pembiayaan Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal dipergunakan untuk pembuatan sumur bor/gali. dan pembinaan disediakan dari APBD Propinsi. I.E. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 20 19 20 . 2010 19 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pompa air dan perlengkapannya. APBD Kabupaten/ Kota. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. yang relatif tinggi. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dangkal selesai. Impact : Peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani. 3. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dangkal. peningkatan produktivitas. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas keterPertanian Pengelolaan Propinsi Air). Laporan Akhir agar dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. peningkatan 2. 3. 4. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 21 22 .3 dan 4. B. intensitas pertanaman (IP). 2. seperti peningkatan luas tanam. 2010 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun.4 (diisi di tingkat Propinsi). berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan.1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang disusun setiap bulan. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. Terdapat 2 (tiga) jenis laporan yang harus dibuat yaitu Laporan Perkembangan dan Laporan Akhir.2 (diisi di tingkat usaha Kabupaten/Kota) serta 4. Outcome : Terjadinya sediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan potensi air tanah dangkal. A. Benefit : Terjadinya peningkatan pertanian. Monitoring dan Evaluasi 1. MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah sebagai berikut : C. Agar lebih informatif dan komunikatif. Output : Terbangun dan berfungsinya irigasi air tanah dangkal.V. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai 22 1. 2. dengan Laporan tembusannya Bulanan disusun disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat mengacu pada Lampiran 4. Pelaporan 1. 4.

Ditjen Sumber Daya Air. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. 2004.kegiatan). 2004. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Departemen Pekerjaan Umum. Irigasi. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan. 2010 23 24 23 24 . 2010 Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. 4. ---------------. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gita Rencana Multiplan. PT. Jakarta. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Jl. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Departemen Pertanian. Laporan Akhir agar mengikuti outline             seperti pada Lampiran 5. Jakarta.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Departemen Pertanian. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 1994/1995. 2004. 2002. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. Taman Margasatwa No. Proyek Pengembangan Sumberdaya. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Jakarta. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Dit. Laporan Akhir. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. D. Jakarta. Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. Petunjuk Teknis Pengembangan Pompa Air Tanah Dangkal. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Banyumas Kab. Jawa Tengah Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 26 25 26 . Bandung Kab. 2003. Serang 3 Prop. Tasikmalaya Kota Tasikmalaya Kab. Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. Kensaku (editor). Banten Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Hidrologi Untuk Pengairan. Garut Kab. Kendal 2 1 2 2 3 2 3 1 2 4 2 2 29 2 3 19 10 1 1 16 Sub Sektor Horti Bun Nak 3 1 1 1 Jumlah (Unit) 19 1 2 3 2 3 2 3 1 2 5 3 2 58 2 3 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jawa Barat Kab. Bandung Barat 2 Prop. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jakarta. Suyono dan Takeda. PT. Cirebon Kab. Sosrodarsono.Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Pradnya Paramita. Sukoharjo Kab. Subang Kab. DITJEN PLA TAHUN 2010   No Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. Lebak Kab. Jakarta. Ciamis Kab. Bogor Kab.

Blora Kab. Nias Selatan Kota Padang Lawas Utara 4 Prop. Simalungun Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Salatiga 3 2 10 10 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 10 5 5 2 5 7 10 5 4 2 5 6 3 2 3 3 7 3 4 4 8 38 5 1 1 1 3 11 2 3 11 2 3 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Rembang Kab. Situbondo Kab. Lamongan Sub Sektor Horti Bun 5 3 16 3 2 2 4 5 11 8 14 1 2 2 3 2 5 2 4 8 7 11 2 9 3 2 26 1 5 2 2 Nak Jumlah (Unit) 5 3 16 3 2 2 4 5 33 1 2 4 5 2 5 2 4 8 53 6 7 6 Prop. Tulungagung Kab. Labuhan Batu Kab. Gresik Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Pati Kab. Dairi Kab. Purworejo Kab. Sampang Kab. Gunungkidul Kab. Tapanuli Selatan Kab. Mojokerto Kab. Pasaman 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemalang Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bireun Kab. Pacitan Kab. Kudus Kab. DIY Kab. Grobogan Kab. Banyuwangi Kab. Jombang Kab. Tuban 9 5 1 4 17 3 8 Prop Sumatera Barat Kab. Langkat Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Aceh Utara Kab. Kulon Progo 3 3 - 4 - 5 Prop. Bener Meriah 7 Prop. NAD Kab. Sumatera Utara Kab. Jawa Timur Kab. Tanah Karo Kab. 2010 28 27 28 . Klaten Kab. Agam Kab. Pidie Jaya Kab. Aceh Timur Kab.

Musi Rawas Kab. Siak Kota Pekanbaru 4 4 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 1 3 3 3 10 8 7 2 4 3 4 10 1 3 10 Prop. Batanghari Kab. Muara Bungo 2 2 5 2 4 2 2 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 8 7 6 5 2 2 7 3 1 1 20 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 17 2 11 8 3 6 3 - 7 3 1 4 26 2 2 5 3 2 2 3 2 2 3 38 12 11 1 6 2 Prop. Jambi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Solok Selatan Kab. Solok Kab. Empat Lawang Prop. Banyuasin Kab. Tebo Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sijunjung 4 2 1 Sub Sektor Horti Bun 2 Nak 4 Jumlah (Unit) 6 2 10 11 2 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Pelalawan Kab. Lampung Selatan Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tanjab Barat Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Tanjab Timur Kab. Pesisir Selatan Kab. Sarolangun Kab. Ogan Ilir Kab. Musi Banyuasin Kab. Kerinci Kab. 2010 30 29 30 . Riau Kab. Tanggamus - 15 26 3 45 3 4 9 Prop. Muaro Jambi Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kab. Sumatera Selatan Kab. Bengkalis Kab. Kuantan Singingi Kab. Muara Enim Kab. Rokan Hulu Kab. Ogan Komering Ulu Kota Lubuk Linggau Kab. Kampar Kab. Indragiri Hulu Kab. Lampung Kab. Indragiri Hilir Kab. Rokan Hilir Kab. Pasaman Barat Kab. 2010 29 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Bantaeng Kab. Bengkulu Utara Kab. Murung Raya 17 Prop. Maluku Utara Kab. Sambas 19 Prop. Jeneponto Kab. Gowa Kab. Penajam Paser Utara Kab. Poso Kota Palu 15 20 Prop. Barito Kuala Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Sulawesi Tengah Kab. 2010 31 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tapin Kab. Kapuas Kab. 2010 32 31 32 . Paser Kota Balikpapan Kota Samarinda Kab. Bengkayang Kab. Kalimantan Timur Kab. Lampung Tengah Kab. Seluma Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tanah Bumbu Sub Sektor Horti Bun 3 3 5 14 4 5 3 3 4 5 5 3 24 2 4 3 4 16 3 8 3 2 3 3 3 3 3 1 4 2 3 Nak Jumlah (Unit) 3 3 19 4 5 3 3 4 8 5 3 48 8 8 3 2 3 3 3 3 10 13 Prop. Gunung Mas Kab. Sulawesi Selatan Kab. Halmahera Selatan Prop. Kalimantan Barat Kab. Kalimantan Selatan Kab. Sidenreng Rappang Kab. Kutai Kertanegara 14 Prop. Maros Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Enrekang Kab. Pesawaran Sub Sektor Horti Bun Nak 3 3 3 3 5 4 2 5 5 5 4 10 4 4 1 2 13 3 3 5 2 6 8 4 4 5 9 3 Jumlah (Unit) 3 3 17 6 5 4 2 5 5 15 8 4 3 13 3 3 5 2 14 4 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Kotabaru Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Muko-Muko Kab. Tana Toraja 16 Prop. Bengkulu Kab. Bengkulu Tengah 18 Prop. Kalimantan Tengah Kab. Landak Kab. Sinjai Kab. Kotawaringin Timur Kab. Luwu Kab.

Kupang Kab. Bombana Kab. Bangli Kab. Sumba Tengah 23 Prop. Sikka Kab. Wakatobi - - 2 6 2 3 4 2 2 2 2 5 3 3 18 26 5 2 17 2 2 5 2 3 3 4 3 5 5 1 5 5 3 5 3 10 3 6 4 2 7 6 5 66 2 7 2 3 16 4 11 5 5 1 5 5 2 2 8 3 5 9 3 3 3 3 1 2 15 5 10 6 10 7 1 3 3 2 9 3 9 16 4 10 - 2 2 17 6 8 3 3 1 2 25 5 20 13 1 7 3 2 37 27 22 Prop. Wajo 5 4 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 5 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Manggarai Barat Kab. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bima Kab. Bali Kab. Kepulauan Riau Kab. Karangasem Kota Denpasar 26 Prop. Timor Tengah Selatan Kab. NTB Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Maluku Kab. Sumba Barat Daya Kab. Lembata Kab. Lombok Timur Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Muna Kab. Lombok Barat Kab. Timor Tengah Utara Kab. Bone Bolango Prop. Boalemo Kab. Dompu Kota Bima Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lombok Tengah Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Maluku Tenggara Barat Kota Tual 25 Prop. Pahowato Kab. Bintan Kota Batam 24 Prop. Buleleng Kab. Alor Kab. Sumba Barat Kab. Rotendau Kab. Sumbawa Kab. Ngada Kab. NTT Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumbawa Barat 2 3 4 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 4 21 Prop. Gorontalo Kab. 2010 34 33 34 .

Biak Numfor Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.No Prop/Kab/Kota TP Sub Sektor Horti 5 Bun 7 2 Nak 14 5 4 5 5 2 14 8 4 4 4 4 4 2 237 3 2 62 155 252 3 3 Jumlah (Unit) 26 7 4 8 5 2 26 4 7 4 7 4 706 28 Prop. Papua Kab. Fak-Fak Kota Sorong Kab. Mappi Kab. Mamberamo Tengah                   29 Prop. Jayapura Kab. Nabire Kab. 2010 36 35 36 . Sorong Selatan Jumlah Total   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 237 Unit Hortikultura Perkebunan Peternakan               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Papua Barat Kab. Sorong Kab. Manokwari Kab. 2010 : 62 Unit : 155 Unit : 252 Unit 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Lampiran 2                                                                       CONTOH RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL TAHUN 2010 Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal T..A 2010 Lampiran 3   .. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. …………….. 2010 38 37 38 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA......2010                                                           Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA...... 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.....

Dam Parit 10... Dam Parit 10. : …………………………….. : ……………………………. 2010       39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. : …………………………….go. Balai Subak 13. P I P 12. : ……………………………..id 3. Balai Subak 13. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. Embung 9. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Pengelolaan Air 5. Air Permukaan 7. P I P 12. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Balai Subak 13. 8. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat.. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. P I P 12. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH ……………………….………………. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. TAM 4. Rehab JIDES 3.01 : ……………………………..02   ` LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. Form PLA. Sumur Resapan 11. Irigasi Tanah Dalam 6.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. Air Permukaan 7. 6. : ……………………………. ……………………. Pompa 8.. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. 4.1 Lampiran 4. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. 2. Aspek Kegiatan 3 1.A.id 3. 2010 40 39 40 ... Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A.. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA.. Sekolah Lapang Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                     Ctt: 1. Harsono RM No. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.*) Kab/Kota ………………… 1. ………………………….go.. Embung 9. : ……………………………. 2.. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. 7. Sumur Resapan 11. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 2010 9. 4. Sumur Resapan 11. : ……………………………. : ……………………………. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Harsono RM No.. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Form PLA. : ……………………………. 5.2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. Irigasi Tanah Dalam 6... 3 Ragunan Jaksel.Lampiran 4.…………. Dam Parit 10. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No.. 3. Pompa 8. **) Coret yang tidak perlu ………………………. 3. Rehab JITUT 2. Irigasi Tanah Dangkal 5.

25. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.id 3 Manfaat harus terukur. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Irigasi Tanah Dangkal 5. 1 A. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp.. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. 25.03       Lampiran 4. / Kg atau Rp. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. : ………………………………. Form PLA. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.5 ton/Ha dan IP 150 %. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Subsektor No. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. ………………………… 2010 ………………. Harsono RM No. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2007.5 ton X 1.Sumur Resapan 11.3 Form PLA..………….go.4 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. c. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten                         41 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. Pompa 8.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. / Kg atau Rp. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. : ……………………………….P I P 12.go.Lampiran 4. 2010 42 41 42 . 2006.5 X 5 Ton = 1. Rehab JITUT 2.000.5 ton X 1. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Dam Parit 10.Balai Subak 13. : ………………………………..04 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Embung 9. No.5 X 5 Ton = 1.000.5 = 750 ton Catatan : 1. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.. Rehab JIDES 3. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.250 ton b. 25.250 ton b. …………………. : ………………………………. : ………………………………. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. contoh : a.000. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.………….000 = Rp. Air Permukaan 7. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………. contoh : a. 25.id 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.000.000 = Rp. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 2006. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. : ………………………………. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 : ………………………………. 25.5 ton/Ha dan IP 150 %. TAM 4. Manfaat harus terukur. 25.000 X 1.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Irigasi Tanah Dalam 6.000. c.. 2007. Harsono RM No. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2.5 = 750 ton ………….000 X 1.. 1 A.000. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. 25.

KESIMPULAN DAN SARAN  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PENDAHULUAN  A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DAMPAK    VI. Tujuan dan Sasaran   II. HASIL    IV. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN  A. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. MANFAAT    V. Masalah E. Pemecahan Masalah   III. Masukan C. Tahap Pelaksanaan D. Latar Belakang B.  Lampiran 5   Outline Laporan Akhir I. Lokasi (administratif dan koordinat) B. 2010 44 43 44 .

Apakah ada potensi sumber air tanah dangkal c. Desain Sederhana a. Apakah calon lokasi mudah diakses e. 2010 2 . URAIAN KEGIATAN f. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. 5. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Calon Petani a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. I PERSIAPAN 1. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dangkal b. SID 4. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak Ya/tidak 1 1 No. Juknis 3. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah RUKK sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah disusun desain . Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota d. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Juklak 2.Lampiran 6 Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah No. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. Organisasi/kelembagaan 4. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4.1. RAB a.2.3.

Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d.3. Apakah mekanisme pencairan rekening kelompok melalui "contra sign" f.4. dalam pelaksanaan dan akhir) 5. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain 2. SK KPA. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. 2010 3 3 No. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b.1. Apakah sudah dibuat laporan akhir KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum V PERTANGGUNGJAWABAN 5. Monitoring a. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b.3. Apakah sudah dibuat pembukuan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi 4. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum IV MONEV DAN PELAPORAN 4. Evaluasi URAIAN KEGIATAN a. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. SK Tim Teknis /Koorlap KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada III PELAKSANAAN 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5. URAIAN KEGIATAN e. PPK. Pelaporan a. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4.No. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c.2. 2010 4 . Bendahara Pengeluaran 7. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.2.1.

2010 1 2 . Salah satu sumber air irigasi potensial yang belum optimal digunakan adalah yang pemanfaatan menjanjikan sumber apabila air di tanah lokasi dalam. pemerintah bersama masyarakat telah membangun berbagai fasilitas irigasi dengan berbagai sumber air irigasi. sehingga pasokan air untuk pertanian menjadi terbatas. perkebunan. Kekeringan yang menyebabkan terjadinya kegagalan usaha pertanian. sosial dan ekonomi tidak layak dilakukan. 1 Sedangkan untuk musim 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pada musim kemarau. Secara praktikal. maka curah hujan merupakan sumber air andalan utama untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. danau. Menyadari hal tersebut. Keragaman curah hujan (rainfall variability) menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal) menyebabkan jumlah. Pemanfaatan air irigasi sebagai suplesi umumnya dilakukan pada musim hujan (MH) dan musim kemarau pertama (MK1) pada saat terjadi kekurangan air baik di lahan tadah hujan maupun lahan kering. A. dan peternakan adalah teladannya. Keragaman ini seringkali sulit diprediksi dan diantisipasi akibat dinamika atmosfer yang luar biasa. sehingga seringkali terjadi ketidaksesuaian antara yang diperlukan dan yang tersedia. Curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dapat digunakan secara langsung untuk air irigasi. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis basah. di lahan usahatani dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. tersebut Pengembangan irigasi air tanah dalam menjadi pilihan ketersediaan sumber air permukaan sangat terbatas sehingga secara teknis. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sementara kebutuhannya BAGIAN II PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM I. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Teladannya. pemanfatan air tanah untuk irigasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian : (a) sebagai suplesi pada saat terjadi kekurangan air dan (b) sebagai sumber air utama. tersimpan sebagai air tanah/air bawah tanah (ground water). waktu dan penyebarannya curah hujan berbeda antar wilayah dan antar waktu. sebagian tersimpan dalam waduk. 2010 relatif tetap.pasokan air sangat terbatas.

d. Akuifer : lapisan batuan jenuh air tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan peningkatan produktivitas usaha tani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tujuan dan Sasaran 1. Air Tanah Dalam : air yang berada di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah dengan kedalaman > 60 meter. 2. c. Meningkatnya produksi usaha tani melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas. perkebunan. b. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. 2010 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mendukung usaha pertanian tanaman pangan. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian khususnya pada lahan kering dan lahan tadah hujan dalam upaya C.   B. b. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas kira-kira 130 ha. Terbangunnya irigasi air tanah dalam sebanyak 13 unit (alokasi kegiatan berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada Lampiran 1). luas areal tanam. 2. 2010 4 3 4 . Air tersebut terdapat dalam ruang pori dalam lapisan tanah atau batuan yang mengandung air jenuh yang disebut akuifer. dan peternakan. Meningkatkan ketersediaan air pada kawasan pakan ternak. c. a. Meningkatkan kualitas produk pertanian dan pendapatan petani. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengertian 1. hortikultura. 3.kemarau dan MK2 umumnya digunakan sebagai sumber air utama. Berkurangnya kegagalan usaha tani karena kekurangan air irigasi/kekeringan. d. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah : a.

5. irigasi tambak. 2010 10.4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi : usaha penyediaan. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. pengambilan. irigasi air tanah. Sumur bor produksi air bawah tanah : sumur bor yang dibuat untuk mengambil air bawah tanah pada atau lebih lapisan ekuifer tertentu. dan 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pengaturan. pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. Cekungan Air Tanah : suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. penyaluran dan pembagian. 2010 6 5 6 . Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. ataupun di bawah permukaan tanah. 11. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi permukaan. di atas. 9. 6. garis bujur dan ketinggian di atas permukaan laut. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumur bor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. dan pembuangan pertanian. tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan. irigasi rawa. Sumber Air Irigasi : tempat/wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. 7. di atas. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 8.

2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Mempunyai kedalaman potensi lebih sumber 60 air meter tanah di pada bawah dari permukaan tanah. dapat dihindari. danau. Lokasi pengembangan diutamakan lahan kering atau tadah hujan dimana pada musim kemarau tidak terdapat sumber air permukaan (sungai. kesediaan petani dalam melakukan OP. pertimbangan Sedangkan dana atau yang kelengkapan data dan informasi bagi pengembangan digunakan untuk melaksanakan SID merupakan dana yang berasal dari daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan ke daerah).II. 2010 (kontaktor) bermutu berpengalaman dalam pengembangan irigasi air tanah dalam sehingga kegagalan sejak tahapan pengeboran Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. khususnya sejak tahap pengeboran sampai selesai konstruksi. Selain kegiatan itu. yaitu: (a) pemilihan lokasi dan (b) persyaratan petani dengan kriteria tertentu sebagai berikut : Persyaratan Lokasi 1. jenis komoditas yang sesuai untuk dikembangkan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. perlu memilih/menunjuk yang pelaksana dan A. terdapat dua faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan irigasi air tanah dalam agar dapat berhasil dengan baik. Dinas PU. dll). dan lain-lain yang akan digunakan irigasi air sebagai tanah dasar dalam. Daerah (kabupaten/kota) yang melakukan pengembangan irigasi air tanah dalam diwajibkan untuk menunjuk seorang pendamping dari dinas pelaksana yang bertugas mengawasi pelaksanaan pembangunan (konstruksi) irigasi air tanah dalam tersebut. atau air permukaan tidak mencukupi kebutuhan airnya. maka sebelumnya perlu dilakukan SID (termasuk survei geolistrik. 2010 Pada lahan irigasi 8 yang telah memiliki jaringan irigasi namun airnya 7 7 8 . salah satu syarat penting yang harus dipenuhi apabila suatu lokasi akan diajukan/dipilih sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM Dengan pertimbangan teknis pengembangan yang relatif sulit dan biaya yang relatif tinggi. Secara umum. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan lain-lain). Informasi tentang potensi dan kondisi air tanah di suatu wilayah dapat diperoleh dari dokumen atau peta yang terdapat di instansi seperti Dinas Pertambangan. konsultan atau kontraktor. waduk.

4. Belum sejenis. 7. Petani berinisiatif untuk mengusahakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi. namun tidak mengalami kebanjiran pada musim hujan. menyediakan pernah dana memelihara/merawat operasional dan pemeliharaan. Usaha tani yang dikembangkan adalah tanaman pangan. tani/P3A/P3AT Kelompok atau bersedia apabila tani/P3A/P3AT dibangun irigasi air tanah dalam. Mampu dan 5. 6. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan pada musim kemarau. 3. Lahan usaha yang akan diairi merupakan lahan milik petani. Petani di lokasi memerlukan adanya irigasi air tanah dalam dan bersedia memanfaatkan serta memelihara/merawat dengan baik. perkebunan. Diutamakan bagi petani yang telah membentuk Kelompok membentuk 4. Persyaratan Petani 1. 3. Calon lokasi tidak terdapat sumur air tanah dangkal yang sudah dimanfaatkan untuk mengairi lahan usaha tani atau tidak direncanakan untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mendapatkan bantuan/kegiatan                 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mengoperasikan. dan peternakan (skala ekonomis dengan memperhitungkan jumlah minimal ternak) 5.tidak mencukupi dapat dibangun irigasi air tanah dalam. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemerintah Daerah mendukung kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam dan apabila petani belum mampu menyediakan dana operasi dan pemeliharaan bersedia menyediakan dana operasi dan pemeliharaan sampai tahun ke 2. B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 10 9 10 . hortikultura. terutama komoditas perkebunan dan peternakan. 2.

pompa Jenis yang biasa digunakan submersible disesuaikan dengan kebutuhan. Perlengkapan yang diperlukan agar pompa air agar dapat berfungsi mengangkat atau mengambil air dari dalam tanah antara lain selang dan pipa hisap. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. atau motor listrik.  1. (satu) komponen penunjang yang perlu diperhatikan Komponen utama : (a) sumur (b) pompa air dan perlengkapannya pompa. 2010 air tanah dalam terlebih pengambilan. maka diperlukan upaya pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya ke permukaan tanah serta penyaluran ke lahan usaha tani. dan lain-lain. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.  III. pompa umumnya pompa sentrifugal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. selang pembuang. dalam Minimal ada 3 (tiga) komponen utama dan 1 pengembangan (c) irigasi rumah air tanah dalam. bensin. Pompa Air dan Perlengkapannya Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah ke permukaan tanah. pipa jambang. Sumur Untuk memanfaatkan dahulu sumur harus sebagai dapat sumber dibuat tempat Sumur 11 tersebut dibuat dengan cara pengeboran dengan kedalaman air tanah dalam dari permukaan tanah > 60 m. Gambaran rinci masing-masing komponen diuraikan pada bagian berikut ini. pipa cassing. 2010 12 11 12 . Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Komponen penunjang bila memungkinkan adalah Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). 2. pompa dan turbin. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM Komponen Irigasi Air Tanah Dalam Untuk mendayagunakan air tanah dalam sebagai sumber air irigasi. A. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak tenaga diesel.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. padi sawah umumnya saluran.3. pengatur berupa pintu dan boks bagi. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dari air untuk bak penampung. bangunan pengukur debit dan katup penutup yang berfungsi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Untuk melindungi pompa air serta motor penggeraknya/genset dari gangguan pencurian dan pengaruh cuaca rumah yang pompa dapat menyebabkan permanen     Rumah Pompa/Genset Air Tanah Dalam kerusakan lebih dini perlu dibuatkan rumah pompa. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usaha dibuat/dibangun jaringan tanah terdiri irigasi (JIAT). Rumah Pompa/Genset Pompa untuk air tanah dalam atau genset pompa air tanah dalam biasanya berukuran besar sehingga pompa/ genset diletakkan secara permanen (tidak bersifat mobile). Pembangunan secara terutama ditujukan untuk pompa dan atau mesin penggerak/genset yang berukuran besar dan dipasang menetap (stasioner). bangunan tani. 2010 14 13 14 . 4.

Kriteria Teknis a. 2010 16 15 16 . Untuk mengurangi kehilangan air dalam penyaluran. Pompa : tipe submersibel atau turbin. Untuk komoditi perkebunan.                    Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) disesuaikan dengan kebutuhan. disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer tertekan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. B. peternakan. Debit output pompa minimal 10 liter/detik Box pembagi tipe jaringan perpipaan Box pembagi Katup outlet b. Sumur : Sumur bor Kedalaman sumur : > 60 meter . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 15 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan tanaman pangan lainnya JIAT hortikultura JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. Potensi air tanah yang tinggi.untuk mengatur arah aliran dalam pipa/jaringan irigasi. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

tersedia suku cadang. ukuran dan jumlah disesuaikan dengan kebutuhan. ukuran disesuaikan dengan kebutuhan. Bahan. d. Pipa-pipa : sesuai dengan debit air : motor diesel atau bensin saluran terbuka atau perpipaan. bahan dari besi atau PVC diutamakan yang telah memiliki/memenuhi SNI.kapasitas debit motor penggerak atau tenaga listrik. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Rumah pompa : bangunan permanen. 2010 18 17 18 . kapasitas minimal. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan irigasi/distribusi : terdiri dari box-box bagi dan saluran. minimal yang telah ditentukan. mudah dioperasikan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mudah dalam perawatan. f. Bak penampung/distribusi : konstruksi beton. dan dapat diterima petani setempat. lantai dasar cukup kuat menahan beban dan getaran mesin. disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan lokasi. c. 2010 disesuaikan dengan debit air 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan mesin yang diadakan adalah memiliki jaminan kualitas seperti Standard Nasional Indonesia (SNI). cukup kuat/tahan getaran mesin. mudah dipasang. e. peralatan.

Survei investigasi dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi. Contoh  Pendugaan  Potensi  Air  Tanah  Dengan  Menggunakan  Metoda GEOLISTRIK Pada Kedalaman < 100 m (40­100 m)                            A. Survei potensi air tanah dalam           Contoh Hasil Geolistrik : Potensi Air Tanah >130 m (130­160 M)  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.   dapat dilakukan dengan survey “geolistrik”. (c) operasi pemeliharaan. paling tidak ada beberapa hal penting yang harus diperhitungkan dalam pengembangannya : (a) survei dan investigasi dan desain (d) (SID). pembinaan. b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pelatihan. petani. PELAKSANAAN Untuk mengoptimalkan pengembangan irigasi air tanah dalam. dan jenis komoditas yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dalam. Calon lokasi. 1. dan (g) pembiayaan.IV. dan jenis komoditas yang sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dalam. (b) (e) konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dalam. Survey Investigasi a. 2010 19 20 19 20 . baik dari segi teknis maupun sosial. (f) pemanfaatan. petani. Survey Investigasi dan Desain Sederhana Survey investigasi dan penyusunan desain sederhana dapat dilaksanakan secara swakelola oleh petugas Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait di daerah seperti dinas yang menangani bidang pengembangan air tanah yaitu Dinas Pertambangan (untuk mendapatkan data/informasi dan perizinan) dengan melibatkan petani penerima manfaat.

2010 Kondisi prasarana dan sarana irigasi. 2010 22 21 22 . dan mesin 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. jaringan 3. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran).                                c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan irigasi yang akan dibangun. Permasalahan dalam usahatani. Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan desain ini adalah agar air tanah dalam yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. 2. lokasi rumah pompa. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dalam Rancangan/desain sederhana irigasi air tanah dalam. letak/ lokasi sumur. kedalaman sumur. meliputi kedalaman dan debit andalan (peta hidrogeologi dan pengujian geolistrik). Kondisi usaha tani dan jenis komoditas yang layak dikembangkan. Potensi air tanah dalam untuk irigasi. desain rumah pompa. Laporan hasil survey investigasi paling tidak memuat : Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. Kebutuhan bahan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peralatan.

pemasangan pipa-pipa. dan jaringan irigasi. Jika dalam pengembangannya ternyata secara tidak sengaja atau sengaja akibat telah seperti menyebabkan/menimbulkan kebutuhan bahan. pengembangan sumur. B. perlu dilakukan pengukuran terhadap kapasitas atau debit air yang keluar (lt/menit atau lt/detik). Pada saat pelaksanaan uji pemompaan. maka dapat ditentukan jenis pompa dan mesin penggerak serta perlengkapan pipa-pipa maupun desain jaringan irigasi air tanahnya/jaringan distribusi. munculnya lumpur dan atau gas beracun dan lainlain selama dalam proses pengeboran. 2010 23 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 5. spesifikasi motor penggerak pompa. pompa air dan perlengkapannya. perlu dilakukan uji pemompaan (pumping test) minimal 2 x 24 jam. jumlah spesifikasi kebutuhan pipa-pipa.Berdasarkan hasil SID akan dapat diketahui 2. 2010 24 23 24 . dan kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan. Perkiraan kebutuhan biaya dijadikan dasar dalam penyusunan harga perkiraan sendiri. 3. Kebutuhan Anggaran/Rencana Kebutuhan Biaya (RAB) Mencakup perkiraan kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan. Untuk mendapatkan hasil pengeboran air tanah dalam yang optimal. Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam 1. 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Beserta Perubahan-perubahannya. 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Konstruksi/Pengembangan irigasi air tanah dalam dilaksanakan secara kontraktual. peralatan. rumah pompa. Berdasarkan kedalamam dan potensi air tanah. dan mesin yang diperlukan. Dengan diketahuinya debit air/sumur dan luas oncoran (command area). spesifikasi rumah pompa. maka pihak Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui tinggi muka air tanah yang statis/tetap (Static Water Level/SWL). 4. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dan dapat ditentukan spesifikasi pompa air. peralatan. antara lain Keputusan Presiden No. 6. Penunjukan pelaksana pengembangan irigasi air tanah dalam berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku.

teknis budidaya. pengolahan. untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas irigasi yang telah dibangun./Kota) diharuskan membuat suatu Berita Acara tentang Serah Terima Pengelolaan dari dinas kepada petani. dan jaringan irigasi air tanah dalam diserahkan kepada manfaat. Pelatihan 1. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani penerima manfaat. 2. Pemeliharaan) telah diserahkan Dengan kepada demikian. F. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. C. 3. melaporkan kejadian tersebut ke dinas terkait Pertambangan) untuk penanggulangan dan tindak Operasi dan Pemeliharaan 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pemasaran hasil. 2010 26 25 26 . Pembinaan terhadap peserta penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/ Kota secara berkelanjutan. secara resmi pengelolaannya (Operasi dan petani/kelompoktani (Contoh Berita Acara dapat dilihat pada Lampiran 2). Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.pelaksana (Satker/Dinas lanjut. 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pembinaan 1. panen. kegiatan/kontraktor lingkup Pertanian diharuskan dan Dinas E. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dalam dilaksanakan oleh pihak ketiga (pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah). petani/kelompoktani P3A penerima D. Operasi dan Pemeliharaan pompa. Besarnya iuran pelayanan irigasi ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok. 2. rumah pompa. pemilihan komoditas yang diusahakan. pasca panen. Pemanfaatan Setelah konstruksi selesai. pemerintah daerah/satker (Kab. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan pompa air irigasi dan jaringan irigasi air tanah dan serta pelatihan usahatani.

maka pemanfaatannya harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin. 2010 28 27 28 . potensi air tanah 4. pompa air dan mesin penggeraknya. G. 2010 MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran berikut : untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah sebagai A. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. survei investigasi & desain (SID). dan pembinaan dibebankan pada anggaran APBD Propinsi. APBD Kabupaten/Kota. operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam yang cukup tinggi. Output : Terbangunnya irigasi ir tanah dalam 2. jaringan irigasi/ distribusi. pengadaaan pipa-pipa. Pembiayaan 1. Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dalam dipergunakan untuk pembuatan sumur dalam. I. Dengan pertimbangan biaya untuk investasi. Monitoring dan Evaluasi 1. Impact : Peningkatan produksi pendapatan petani. 1. Kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi.V. 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dalam dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. Benefit : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usahatani dengan memanfaatkan dalam. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Outcome : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan dalam potensi air tanah 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. rumah pompa. usahatani dan B.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan/atau partisipasi masyarakat. 2.

saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan). D. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. yaitu Laporan Bulanan dan Laporan Akhir.2 (diisi di tingkat Kabupaten/Kota) serta 4. 2. Pelaporan 1.1. Satker Dinas di Propinsi. Laporan Akhir agar mengikuti outline seperti pada Lampiran 5. Laporan Akhir agar dilengkapi Laporan dengan SID dan dokumen-dokumen Kontrak serta seperti foto-foto 29 dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. 2010 30 29 30 . Taman Margasatwa No.3 dan 4. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. 4. Laporan Bulanan disusun mengacu pada Lampiran 4. dan Pusat. Evaluasi dilakukan secara berkala oleh Satker Dinas di Kabupaten/Kota. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. berisi kemajuan pelak-sanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dalam selesai. C. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Terdapat 2 (dua) jenis laporan yang harus dibuat.2. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan ke-giatan yang disusun setiap bulan.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air Jl. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dalam.4 (diisi di tingkat Propinsi). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Agar lebih informatif dan komunikatif. 4. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas Pertanian Propinsi dengan tembusannya disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat Pengelo-laan Air). maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif.

2. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. juga Biasanya di daftar Dinas rekanan/kontraktor terdapat setempat atau propinsi. Geohidrologi.LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA TITIK LOKASI PENGEBORAN 1. Kemudian untuk menentukan titik-titik pengeboran dilakukan dengan uji Geolistrik. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. harus dimilih kontraktor pengeboran yang sudah ahli dan berpengalaman dalam pengeboran irigasi tanah ini dalam. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. di kedalaman-kedalaman tertentu dengan debit-debit tertentu yang mana sebagai dasar apakah titik-titik yang diinginkan untuk pengeboran irigasi tanah dalam dapat dilaksanakan. Peta dan data tersebut sebagai gambaran awal apakah daerah/lokasi yang akan dipilih merupakan lokasi/wilayah/titik pengeboran yang memiliki potensi air tanah untuk Irigasi Tanah Dalam. dll. 4. Berkoordinasi dengan Dinas UNTUK MENENTUKAN menemukan lapisan aquifer tertekan ini lebih dari 60 m.atau tidak Umumnya kedalaman untuk 31 Pertambangan/ESDM setempat atau propinsi. apakah potensi air tanahnya bagus (studi kasus/pertimbangan). Dari dua langkah diatas sudah dapat gambaran apakah daerah/lokasi yang diinginkan ada potensi atau tidak untuk pengeboran irigasi tanah dalam. Peta Cekungan Air Tanah. Dari hasil uji geolistrik ini akan didapat dugaan potensi air tanah di lapisan aquifer tertekan. 2010 32 31 32 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Kemudian yang tak kalah penting karena proses Pertambangan/ESDM pengeboran relatif sulit maka. Dinas ini mempunyai data base dan peta-peta seperti Peta Geologi. Melihat sumur-sumur atau irigasi tanah dalam di sekitar daerah/lokasi yang diinginkan untuk titik pengeboran.

Riau Kab. Kampar 5 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sosrodarsono. Laporan Akhir. Bali Kab. Ditjen Sumber Daya Air. Jakarta. Banyuasin 6 Prop. Jawa Tengah Kab. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian.         Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. Kensaku (editor). PT. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. PT. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Jawa Barat Kab. Pati 3 Prop. Bandung Barat 2 Prop. Jakarta. Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V).DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Dit. 2010 34 33 34 . Cianjur Kab. DITJEN PLA TAHUN 2010   Sub Sektor No Pusat/Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. 2003. 2004. Madiun 4 Prop. 2004. Suyono dan Takeda. Sumatera Selatan Kab. ---------------. Jakarta. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Departemen Pekerjaan Umum. 2004. Irigasi. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Departemen Pertanian. Jakarta Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Jakarta. Pradnya Paramita. Hidrologi Untuk Pengairan. Jawa Timur Kab. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Bangli Jumlah Total 2 1 7 1 1 1 1 3 1 4 4 3 3 2 2 1 Horti 1 1 Bun Nak 2 1 1 4 4 3 3 2 2 1 1 1 1 13 Jumlah (Unit)   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 2 Unit Hortikultura Perkebunan : 1 Unit : 7 Unit Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2002. Gita Rencana Multiplan. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

2... A 2010   BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN No... Kab………………… Prop………………… : Jl.......... ............. Nama Jabatan Alamat : ……………………………………………............Peternakan : 3 Unit Lampiran 2 Contoh Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Irigasi Tanah Dalam T..... Bulan ………………… Tahun dua ribu ……….. 2010 36 35 36 . tanggal ………………… dalam kondisi lengkap dan dapat dioperasionalkan dengan baik....... yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA... ……………………………………………… ………………………………………………… ………………………………………………… Bertindak untuk dan atas nama Dinas ………………………………….. yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA........ kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kec………………... Nama Jabatan Alamat : ……………………………................. ...... Pada hari ini ……… Tanggal …………............... dan………………………………. Bertindak untuk dan atas nama Kelompok tani ……………………………........ PIHAK PERTAMA menyerahkan pengelolaan ……………………… ……………………………………………………………………………… kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima alat tersebut dari PIHAK PERTAMA sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama/Kontrak Kerja antara ……………………………………...Nomor ………………………………........... ..... Kabupaten …………… Propinsi ………………….. : Ketua Kelompoktani ……………………… : Jl........ 2010 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. : Kepala Dinas …………………………………............. dengan spesifikasi sebagai berikut : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA........ Desa ………….

..A 2010   Lampiran 3 Demikian Berita Acara Serah Terima Pengelolaan ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebaik-baiknya.1... .. 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Spesifikasi alat/barang Spesifikasi alat/barang Dst….....         ………………….. PIHAK PERTAMA Kepala Dinas ……………. ……………………………………. NIP.. 3. 2..... Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam T. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 38 37 38 . 4. ………………………………….………2010               PIHAK KEDUA Ketua Kelompoktani .           ……………………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Dst….                     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.... ……………………………………...

Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. : ……………………………. Rehab JIDES 3. 5. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4.. Sekolah Lapang ……………………….1 ` Form PLA.………………. : ……………………………. 2010                 39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH 9. : ……………………………. Sumur Resapan 11. 4. Rehab JITUT 2. ………………………….go. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. 2.. Sumur Resapan 11. TAM 4..2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 : ……………………………. : ……………………………. : ……………………………. Aspek Kegiatan 3 1.. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. 2010 40 39 40 .. Pengelolaan Air 5.... Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. : ……………………………. P I P 12.…………. Lampiran 4. Irigasi Tanah Dalam 6.Lampiran 4. 3. Pompa 8. Dam Parit 10.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. P I P 12.*) Kab/Kota ………………… 1. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Air Permukaan 7. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Sekolah Lapang 2 Dinas…………………….id 3. Harsono RM No. : ……………………………. Pompa 8. Air Permukaan 7. 6. 2010 Ctt: 1.. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. 3.go. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Embung 9. 4. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Form PLA.. Dam Parit 10.01 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No.. Irigasi Tanah Dalam 6. Balai Subak 13. ……………………. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Harsono RM No.. 2.02 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Sumur Resapan 11. 7.. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. Embung 9.id 3. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. : ……………………………. Balai Subak 13. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. **) Coret yang tidak perlu ……………………….. Dam Parit 10.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. P I P 12. : ……………………………. Balai Subak 13. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A.. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat.A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 8.. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. 3 Ragunan Jaksel. Irigasi Tanah Dangkal 5..

Harsono RM No.Lampiran 4.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. Irigasi Tanah Dalam 6. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.03 Form PLA. ………………………… 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten           41             Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. contoh : a. 2010   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.P I P 12. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha.5 X 5 Ton = 1. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.000. 2007.5 = 750 ton ………………. : ……………………………….3 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.000 = Rp. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. : ………………………………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. 2007. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 No.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 1 A. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Subsektor : ………………………………. Pompa 8.4 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA..5 ton X 1. 25. contoh : a.250 ton b.000 X 1. Air Permukaan 7. / Kg atau Rp.5 ton/Ha dan IP 150 %.. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. TAM 4. 2010 ………….   Lampiran 4.id 3. c.…………. c. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.5 X 5 Ton = 1.5 ton/Ha dan IP 150 %. …………………. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. : ……………………………….000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. Manfaat harus terukur. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. : ………………………………. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. 2010 42 41 42 .000. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 25. / Kg atau Rp.     Form PLA.Sumur Resapan 11. Rehab JIDES 3. 25. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25. 25.000 X 1.000. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………..Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. 25.Balai Subak 13. Dam Parit 10.. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha.04 No..go. : ………………………………. 1 A.5 ton X 1. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.id 3 Manfaat harus terukur.…………. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl...5 = 750 ton Catatan : 1.000. Embung 9.000 = Rp. 25.000. Irigasi Tanah Dangkal 5. 25. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 2006. 2006. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.250 ton b. Rehab JITUT 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.go. Harsono RM No. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat..000. : ……………………………….

Lokasi (administratif dan koordinat) B. Pemecahan Masalah III. KESIMPULAN DAN SARAN Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN A. Latar Belakang B. Masukan C. 2010 44 43 44 . Masalah E. DAMPAK VI. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tahap Pelaksanaan D. PENDAHULUAN A. MANFAAT V.      Lampiran 5 Outline Laporan Akhir   I. Tujuan dan Sasaran II. HASIL IV.

Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Lampiran 6 No. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Desain Sederhana a.2. I PERSIAPAN 1. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak 81 81 No. Organisasi/kelembagaan 4. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. Apakah calon lokasi mudah diakses Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat f. Calon Petani a. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 82 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Juklak 2. URAIAN KEGIATAN e. SID 4. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dalam b. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. RAB a. Juknis 3.3. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 5. Apakah sudah disusun desain .1. Apakah ada potensi sumber air tanah dalam c. 2010 82 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Kontrak pekerjaan KETERANGAN Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada sudah/belum Ada/tidak ada II PELAKSANAAN 1. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b.No. SK Tim Teknis /Koorlap 9.2.1. Proses tender 12. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain a. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. 2010 83 No. Bendahara Pengeluaran 7. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Pemasangan pipa-pipa casing d. RKS dan HPS 11. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. SK Pemeriksa 10. Pengeboran c. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Ya/tidak Sudah/belum III MONEV DAN PELAPORAN 4. URAIAN KEGIATAN f. 2010 84 . Pembangunan rumah pompa 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. SK KPA. Pemasangan pompa Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 83 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pembangunan JIAT URAIAN KEGIATAN f. Monitoring a. SK Penetapan Panitia barang dan Jasa 8. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring 4. Evaluasi a. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c. Uji Pemipaan e. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 84 Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PPK. g. Mobilisasi alat b.

Kabupaten Aceh Utara 2. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c.16" 96° 36' 35.73" 5° 12' 16. 2010 85 85 Lampiran 7 DAFTAR CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA   NO. Kabupaten Pidie 3. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.72" 4° 48' 20. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.78" 95° 48' 41.31" 96° 52' 14. NAD B. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.87" 4° 56' 33. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum.81" 97° 46' 41.04" 96° 34' 56.62" 4° 49' 57.66" 5° 15' 25. Kabupaten Aceh Tengah 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.37" 4° 36' 5. 4.31" 96° 12' 47.41" 97° 47' 15.19" - 95° 51' 34. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5. Kabupaten Aceh Tengah 2.31" 96° 51' 14.84" 5° 1' 41. Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b.49" 3° 31' 15.24" 5° 15' 56. Apakah sudah dibuat laporan akhir IV PERTANGGUNGJAWABAN 5.1. Kabupaten Aceh Besar 2.13" - 5° 39' 37.13" 4° 30' 41.15" 4° 48' 8. dalam pelaksanaan dan akhir) 5.137" 4° 10' 45.18" 4° 22' 13. Apakah sudah dibuat pembukuan Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Pidie 2. Kabupaten Aceh Tengah 2. 2010 86 86 .69" 96° 23' 5.13" 97° 0' 14.44" 5° 16' 30.2.66" 4° 33' 48. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Pidie 2.46" 96° 40' 54. Kabupaten Aceh Timur A.68" 5° 15' 49.22" 98° 17' 16.3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.88" 1470 619 4500 281 310 1198 500 292 2913 853 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.23" 97° 1' 9. Pelaporan URAIAN KEGIATAN KETERANGAN a.84" 96° 11' 54.4.77" 96° 9' 41.89" 96° 59' 1.14" 5° 31' 18.16" 5° 8' 4.34" 95° 42' 55.64" 4° 34' 58.No. Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Pidie Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Provinsi Sumatera Utara KETERANGAN b x x x x x x x x x x c d 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Banda Aceh Sigli Meulaboh Kemiki Jeunib Peudada Lampahan Telege Lhokseumawe Langsa 95° 14' 13. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Langsa.82" 96° 34' 38. Kabupaten Aceh Barat 2.3. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.

91" 102° 32' 3.90" 0° 33' 29.13" - 2° 59' 11.71” 5331 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.63" 97° 15' 19.70" - 98° 27' 50.16" 1° 11' 7.37" 99° 1' 31.21" 99° 36' 44.90" 99° 0' 58. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan B.81" 2438 648 483 875 42 20 17 795 21799 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan A.56" - 99° 15' 7.06" 1° 15' 44. Kabupaten Tobasamosir 2.71" 98° 47' 33. Provinsi Sumatera Utara x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Asahan 4.60" 1° 12' 17.38" 1° 26' 58. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.78" - 3° 1' 26.34" 97° 2' 35.70" 2° 43' 18. Kabupaten Labuhan Batu 2.05" 99° 24' 33. Provinsi Jambi 1.03" 0° 58' 11. Kabupaten Deli Serdang 3. Kabupaten Kampar Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan A.98" 99° 47' 38.89" 99° 48' 19.69" 0° 58' 8.14" - 98° 48' 27.47" 99° 5' 40.NO.79" 98° 42' 36. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2.44" 0° 53' 18.35” -1° 0’ 28. Kabupaten Sidikalang 2.26" 1° 39' 7.53" 2° 18' 13.56" 1° 14' 55.45" 2° 55' 5. Kota Dumai 2.05" 97° 29' 1.53" 99° 35' 16.69" 97° 44' 39.15" 97° 56' 25. Kabupaten Padang 4. Kabupaten Pelalawan 6.58" 2° 45' 33. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Barat 1.62" - 3° 55' 8. Kabupaten Siak 5.38" 3° 5' 45.47" 99° 29' 54. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Kabupaten Langkat KETERANGAN b c d 11 12 13 Siongol-ongol Kotafajar Kutacane 97° 35' 23.19" - 97° 43' 16. Kabupaten Bengkalis 4. Kabupaten Rokan Hullu 3. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara B. Kabupaten Pelalawan 6.60" 97° 12' 55. Kabupaten Tanahdatar KETERANGAN b c d 25 26 27 28 29 30 Banjarampa Panyambungan Pasaribuhuan Padangsidempuan Natal-Ujunggading Lubuksikaping 99° 3' 43.30" 0° 5' 25.11" 0° 0' 0.81" 98° 40' 50. Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Padang Pariaman 3. Provinsi Riau 1.89" 69776 x 32 Padang-Pariaman 99° 41’15.77” - 0° 21’ 30.31" 1° 7' 15.65" 98° 54' 28. Kabupaten Indragiri Hulu 7.91" 1° 57' 30.98" - 1° 15' 6.23" 2° 19' 46.80" 3632 15 Medan 98° 6' 40. Kabupaten Indragiri Hilir B. Kabupaten Langkat 2.99" 97° 31' 50.66" 1° 28' 12.17" 97° 28' 42.85" - 2° 20' 29. Kabupaten Tanjung Jabung Timur C.42" - 4° 7' 39.26" -2° 0' 1. 2010 88 88 .38" 100° 13' 5.51" 1° 47' 34. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kota Medan Provinsi Sumatera Utara 1.88" 98° 5' 16. Kabupaten Tapanuli Tengah 2. Kabupaten Bengkalis 4.46" 2° 40' 43. Provinsi Riau 1. Kabupaten Tapanuli Selatan A. Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Rokan Hilir 3.18" 3° 34' 24.12” - 100° 34’ 41.63" 1° 11' 52. Kabupaten Tapanuli Selatan B.96" 98° 59' 42. Kabupaten Karo 5.18" 99° 13' 32.40" 3° 42' 0.82" 211 242 225 240 2825 217 x x x x x x 31 Jambi-Dumai 100° 45' 27.98" 99° 7' 51.13" -0° 43' 48.88" 1° 59' 22.306" 19786 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Sidikalang Samosir Porsea-Prapat Tarutung Gunungsitoli Lahewa Sirombu Kuala Batangtoru Pekanbaru 98° 8' 51. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman A. Kabupaten Siak 5.80" 3° 13' 15.36" 183 269 351 14 Sibulus Salam 97° 35' 46. Kabupaten Pasaman 2. Kabupaten Rokan Hilir 2.70" 2° 25' 16.87" 0° 47' 3.18" 2° 5' 42.94" - 100° 8' 54. Kabupaten Bukittinggi 5.18" - 104° 39' 38. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan B. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Karo A. Kabupaten Simalungun 6. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 1.26" 0° 47' 27.58" 2° 11' 18.23" 0° 45' 26. 2010 87 87 NO.95" 99° 59' 35.52" 97° 23'15.99" 99° 50' 38.

LOKASI a Kabupaten Solok KETERANGAN b c d 33 Bukit Tinggi 100° 20’ 7.49” - -0° 22’ 40.96” -1° 7’ 53.48” -0° 30’ 2. 2010 90 90 .71” 1534 x 45 Karangagung 103° 21’ 0.03” - -3° 1’ 14.61” -1° 45’ 10. Kabupaten Musi Banyuasin 2.42” -1° 45’ 37.43” -2° 58’ 23.58” - 100° 38’ 35. Kabupaten Painan 2. Kabupaten Solok B.4596” - 102° 7’ 34. Kabupaten Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat 1.29” - -3° 23’ 46. Kabupaten Sorolangun Bangko A.89” - -1° 7’ 8. Kabupaten Ogan Komering Ilir D.31” - 103° 6’ 31. Kabupaten Solok 5.92” 1235 x 43 Bangko-Sarolangun 101° 30’ 54.89” - -3° 51’ 57. Kabupaten Muarabulian 2.37” 6702 x 44 Muaratembesi 102° 50’ 25. Kabupaten Sorolangun Bangko 2. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.16” - -0° 50’ 45.73” - -0° 23’ 52.14” - 103° 31’ 38.82” - 101° 45’ 8. Kabupten Bungo Tebo Provinsi Jambi Kabupaten Sungai Penuh A. Provinsi Sumatera Selatan 1.82” -0° 9’ 29.22” 2810 x 42 Sungaipenuh 101° 13’ 23.88” -2° 12’ 27. Kabupaten Tanah Datar 4. Kabupaten Bengkulu Utara 3.20” 668 35 Alanglawas 100° 38’ 31. Kabupaten Prabumulih 4. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Sawahlunto B.81” - -0° 33’ 43. Kabupaten Tanah Datar 4.97” - -1° 58’ 35.60” - -2° 19’ 45. Kabupaten Jambi 1. Kabupaten Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat 1.21” - -1° 49’ 19. Kabupaten Painan Provinsi Riau 1. Kabupaten Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat 1.27” 1794 x 47 Lubuklinggau-Muaraenim 102° 36’ 4. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara Provinsi Bengkulu 1.28” 10460 Provinsi Sumatera Barat 1.76” -0° 0’ 9. Kabupaten Sungai Penuh 2.62” 15400 x 48 Bengkulu 101° 48’ 11. Kabupaten Musi Banyuasin 2.98” -2° 27’ 21.28” - 102° 52’ 44.71” - 100° 31’ 46. Kota Payakumbuh 3.81” - 100° 46’ 21.60” 22860 x 46 Muaralakitan 103° 6’ 19.27” -1° 25’ 39. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko A.46” - 101° 42’ 54. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Solok B.91” - -0° 33’ 1. Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong C.97” - 101° 57’ 1. Kabupaten Musirawas B. Kabupaten Limapuluh Kota 3.03” - -4° 53’ 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.58” 5510 40 Painan-Lubukpinang 100° 20’ 52.76” -0° 19’ 43. Kabupaten Bengkulu Selatan KETERANGAN b c d 41 Kayuaro-Padangaro 100° 45’ 19. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 6.55” 432 37 Solok 100° 21’ 30.84” -0° 53’ 31.11” -0° 2’ 54.60” - -4° 16’ 47.NO.8” 6975 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.65” -1° 0’ 12. Provinsi Sumatera Selatan 1.14” 2915 39 Muarabungo 101° 27’ 20. Provinsi Sumatera Barat 1.99” 296 34 Payakumbuh 100° 17’ 42.35” - 106° 5’ 54. Kabupaten Sungai Penuh 3.82” - -2° 0’ 0. Kabupaten Bungo Tebo 2. Provinsi Jambi 1. Provinsi Sumatera Selatan 1. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musirawas Provinsi Jambi 1. Kabupaten Tanah Datar 2.55” 1325 38 Tulak 101° 5’ 0. Kota Bukit Tinggi 2. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko B. Provinsi Jambi 1. Kabupaten Lahat 3.57” - 100° 51’ 14. Kabupaten Bungo Tebo B. Kabupaten Sorolnagun Bangko C. Kabupaten Sungai Penuh 2. Kabupaten Padang Pariaman 3. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Utara x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Ogan Komering B. Kabupaten Pelalawan 3. Kabupaten Bukit Tinggi 3.80” - 100° 51’ 17. Kabupaten Tanah Datar 2. Provinsi Jambi Kabupaten Muara Bulian A.62” - 103° 37’ 56. Kota Bengkulu 2. 2010 89 89 NO.87” - -2° 46’ 3. Kabupaten Musirawas 2.93” 167 36 Batusangkar 100° 20’ 19. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Sorolangun Bangko A. Kota Solok 2.51” -1° 53’ 5. Kabupaten Limapuluh Kota 2. Kabupaten Kampar A. Kabupaten Indragiri Hulu 2.89” - 105° 0’ 49.24” -0° 17’ 53.19” - 103° 35’ 45. Provinsi Jambi 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Rejang Lebong 4.

74” x x 68 Serang-Tangerang 105° 54’ 31. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan 1. Kota Cilegon 5. Kabupaten Ogan Komering Ilir 4.79” -6° 17’ 47.75” - -5° 0’ 46. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.46” - 105° 55’ 9. Kabupaten Tangerang 3. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu A. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 324 334 287 235 163 219 203 734 375 LOKASI a Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Belitung Provinsi Banten 1.99” -3° 11’ 39.79” 2404 x 52 Muaraduo-Curup 102° 21’ 32.59” -5° 55’ 3.32” 106° 2’ 58. Kabupaten Rejang Lebong B.42” -2° 31’ 19. Kabupaten Serang 2.57” - 104° 44’ 3. Kabupaten Ogan Komering Ulu 2. Kabupaten Pandeglang B.77” -3° 14’ 51. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kota Palembang 2. Provinsi Sumatera Selatan 1.41” 1412 B.53” -5° 27’ 45.28” 108° 2’ 59. Kabupaten Prabumulih A. Kabupaten Lampung Barat 2.14” 106° 0’ 45. Provinsi Lampung LOKASI a Kabupaten Lampung Barat KETERANGAN b c x d 49 Gedongmeneng 103° 20’ 56.53” 106° 44’ 28.27” - 104° 18’ 54.36” - -6° 51’ 4. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan 50 Palembang-Kayuagung 103° 29’ 47.82” -2° 40’ 38.71” 104° 59’ 11.15” - -3° 41’ 52.46” 105° 36’ 59.84” 2822 x Kabupaten Bogor 69 Malingping 105° 41’ 4.NO. Provinsi Jawa Barat x x x x x x x KETERANGAN b c d 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Koba Kepoh Batubetumpang Pangkal Raya Airpandan Tanjungniur Manggar Labuan Rawadanau 106° 19’ 50.68” - -5° 33’ 20.90” - -2° 35’ 59.88” -2° 59’ 0.59” 105° 42’ 45.07” 104° 31’ 9.38” - 106° 42’ 36.79” 106° 10’ 47.33” -4° 12’ 8. Kabupaten Pandeglang 2. 2010 91 91 NO.63” 108° 17’ 41. Kota Serang 6. Kabupaten Bengkulu Selatan 2.63” 105° 48’ 45.44” - 106° 9’ 50. Kabupaten Musi Banyuasin 3.18” -2° 52’ 33. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung 1. Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung 1.80” -6° 15’ 50. Kabupaten Lebak Provinsi Banten 1.39” -6° 34’ 45. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Lampung 1.96” 104° 53’ 25.55” - -6° 30’ 16. Kabupaten Lebak 7.63” -5° 4’ 28. Kabupaten Pendeglang 2.22” -5° 50’ 46.04” 1236 615 439 234 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.23” 707 Provinsi Banten 1. Kabupaten Serang A. 2.53” -2° 15’ 33. Kabupaten Lampung Barat 3.25” -2° 20’ 25.59” - -5° 54’ 44.64” -5° 39’ 59.04” -6° 39’ 10. Kabupaten Lampung Utara 2. Kota Bandar Lampung 2.27” -3° 54’ 30. Kabupaten Lampung Tengah 5. Kota Tangerang 4.20” -1° 57’ 22. Kabupaten Lampung Kabupaten Lampung Barat B. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) A.30” 105° 42’ 35.57” -2° 36’ 31.46” -4° 30’ 31.72” - -5° 7’ 37.95” 21640 x 55 56 57 58 Kotaagung Talangpadang Bandarlampung Kalianda 104° 11’ 9.27” -2° 49’ 47.94” 105° 23’ 58.92” -5° 10’ 18. Kabupaten Lahat 3.97” 105° 20’ 38. 2010 92 92 .29” 106° 29’ 40.65” -4° 30’ 57.56” -2° 8’ 8.99” - 104° 42’ 15.32” -2° 3’ 33. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara B.30” 105° 41’ 13.74” - 104° 8’ 35. Kabupaten Prabumulih A.86” 8521 x 53 Ranau 103° 35’ 23.62” - 106° 41’ 37.71” 105° 53’ 53. Kabupaten Lampung Selatan 4.39” 105° 49’ 25. Provinsi Bengkulu 1.83” - 103° 52’ 8.66” 105° 54’ 24. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.34” 8652 x 51 Baturaja 103° 54’ 9. Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.16” 1501 x 54 Metro-Kotabumi 103° 53’ 4.69” 106° 6’ 2.23” - -4° 40’ 33.74” -2° 33’ 39.37” -6° 3’ 39.21” -5° 34’ 11.6” - -4° 35’ 35.63” -5° 23’ 0.13” - 105° 12’ 8.85” -2° 27’ 25. Provinsi Banten 1.41” 105° 25’ 9.

Kabupaten Bogor 2.84" - 108° 2' 5.28" 1716 81 82 Cibuni Banjarsari 107° 9' 6. Kabupaten Ciamis 2.19" -7° 26' 59.77" - -7° 24' 8.44" -7° 13' 17. Kota Bandung Provinsi Jawa Barat 1.54" - 107° 4' 4.63" -6° 41' 59.87" 566 78 Lembang 107° 25' 56.26" -7° 2' 17. BandungSoreang 107° 21' 55. Kabupaten Bandung 3.85" 108° 33' 8. 2010 93 93 NO.70" - -7° 14' 47. 2010 94 94 .95" -6° 46' 2. Kabupaten Sumedang 3.75" - 107° 42' 31.87" -6° 10' 27. Kabupaten Bandung x 80 IV.23" - -6° 36' 53.20" - 108° 4' 13. Kabupaten Sumedang 2. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Bandung 2.30" - -6° 48' 38. Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat 5.98" -6° 36' 11.98" 106° 48' 15.03" -6° 42' 56.07" 151 581 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1.59" 89 6. Kabupaten Bogor 2.07" 467 Provinsi Jawa Barat 74 Jampangkulon 106° 22' 55.07" - 107° 57' 7.39" -7° 11' 56.37" - -6° 57' 22. Kabupaten Karawang 4. Provinsi Banten 1.23" 1439 x 71 72 Bogor Sukabumi 106° 28' 20.22" 169 Provinsi Jawa Barat 1.56" 107° 2' 13.51" 107° 27' 17.47" - 107° 45' 51. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 1. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta C.61" - 107° 17' 4.37" - -6° 47' 2. Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat 4. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) Provinsi Jawa Barat LOKASI a KETERANGAN b c d 79 Batujajar 107° 23' 33. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat x x 86 Sumedang 107° 45' 38. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Sumedang x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.63" - -7° 0' 25.50" - -6° 26' 58.06" 483 87 88 Sukamantri Ciamis 107° 50' 47.37" -5° 54' 29.21" -6° 48' 29.07" - -6° 56' 39.76" 514 1. Kabupaten Tasikmalaya 3.91" 1514 77 Ciater 107° 24' 28. Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat 1.26" - -7° 7' 41.99" 384 5.88" -7° 5' 10.91" -7° 11' 12. Kabupaten Bandung 2. Kota Tangerang B.73" - -6° 51' 10.80" -6° 24' 38. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Tangerang 2. Kabupaten Tasikmalaya x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bogor 2.14" -6° 40' 18.53" - -7° 22' 9.88" 106° 32' 43. V.83" - 107° 29' 42. Kabupaten Sukabumi 2.91" 1219 Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Tasikmalaya 3.72" 1311 868 x x 73 Cianjur 106° 58' 5.11" 621 605 83 Tasikmalaya 107° 50' 53.40" - 107° 50' 28.67" -7° 3' 3. Kabupaten Garut A. Kabupaten Bandung 2.60" -7° 25' 6.35" - -7° 27' 7.88" -6° 58' 17. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 6. Kabupaten Cianjur x KETERANGAN b c d 70 Jakarta 106° 36' 32.79" - 108° 20' 49.00" - 108° 17' 34.16" - 107° 30' 17.35" -7° 25' 59. Kabupaten Bandung 2.46" 108° 15' 45. Kabupaten Bekasi 3. Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat 1.85" - -6° 48' 12. Kabupaten Purwakarta 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Indramayu 3.23" -6° 56' 6. Kabupaten Purwakarta 5.81" - 108° 2' 56. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1.88" - 106° 59' 45.19" -6° 49' 55.67" -6° 43' 37. Kabupaten Subang 2.78" -6° 0' 43.29" 3641 76 Subang 107° 35' 48. Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat 1.NO. Kabupaten Garut 2.58" 886 85 Malangbong 107° 53' 42. Provinsi Jawa Barat x x x x x 84 Garut 107° 42' 33. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Ciamis 4.81" - 108° 5' 11.40" 107° 46' 13.42" - -6° 38' 7. Kabupaten Sukabumi x 75 Bekasi-Karawang 106° 52' 5.

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 3.

LOKASI a Kota Banjar x

KETERANGAN b c d

89 90 91

Kawali Kuningan Majalengka

108° 16' 4.17" 108° 15' 44.50" 108° 3' 32.4"

-

108° 34' 13.02" 108° 39' 14.58" 108° 24' 40.24"

-7° 4' 54.98" -7° 3' 17.20" -6° 34' 12.81"

-

-6° 48' 12.35" -6° 52' 13.72" -6° 55' 47.85"

291 507 686

92

Indramayu

107° 56' 38.14"

-

108° 19' 46.08"

-6° 13' 42.77"

-

-6° 39' 20.74"

1282

Provinsi Jawa Barat Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Kuningan 2. Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Majalengka 2. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2 .Kabupaten Majalengka 3. Kabupaten Sumedang VI. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2. Kabupaten Cirebon 3. Kabupaten Kuningan 4. Kota Cirebon Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap A. Provinsi Jawa Barat 7. Kabupaten Ciamis

x x

x

93

Sumber-Cirebon

108° 13' 53.45"

-

108° 39' 15.85"

-6° 13' 49.61"

-

-6° 53' 59.86"

1659

x

94

Majenang

108° 41' 58.06"

-

108° 51' 14.72"

-7° 17' 19.18"

-

-7° 24' 21.99"

108

x

95

Sidareja

108° 32' 56.67"

-

108° 49' 43.47"

-7° 17' 14.05"

-

-7° 40' 28.84"

480

B.

Provinsi Jawa Tengah 8. Kabupaten Cilacap

x

A.

Provinsi Jawa Barat 9. Kabupaten Cirebon

96

Tegal-Brebes

108° 35' 7.31"

-

109° 21' 16.34"

-6° 44' 11.61"

-

-7° 11' 0.39"

1356 B.

x

Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Brebes 2. Kabupaten Tegal

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

95

95

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Tegal 3. Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Banyumas 3. Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banyumas 2. Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Cilacap 2. Kabupaten Kebumen 3. Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Pekalongan 3. Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kebumen 2. Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Batang 2. Kabupaten Kendal 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Banjarnegara 3. Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Magelang 2. Kota Magelang 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Temanggung

KETERANGAN b x c d

97

Bumiayu

108° 55' 13.33"

-

109° 24' 18.87"

-7° 0' 28.58"

-

-7° 19' 24.38"

661

98

Purwokerto-Purbalingga

109° 3' 1.70"

-

109° 46' 49.02"

-7° 12' 44.33"

-

-7° 32' 26.86"

1318

x

99 100 101 102 103

VII.

Cilacap

108° 59' 15.41" 108° 48' 7.47" 109° 6' 49.12" 109° 23' 13.53" 109° 18' 45.31"

-

109° 12' 14.43" 108° 59' 47.98" 109° 26' 46.49" 109° 29' 9.91" 109° 51' 52.35"

-7° 25' 41.48" -7° 40' 45.94" -7° 31' 28.39" -7° 36' 45.02" -6° 46' 33.52"

-

-7° 45' 5.32" -7° 45' 13.59" -7° 43' 36.42" -7° 43' 53.66" -7° 13' 24.20"

218 45 423 67 1682

x x x x x

Nusakambangan Kroya Banyumudal Pekalongan-Pemalang

104 105

Kebumen-Purworejo Karangkobar

109° 27' 18.50" 109° 34' 42.69"

-

110° 3' 36.50" 109° 55' 17.84"

-7° 34' 14.61" -7° 10' 12.18"

-

-7° 53' 59.96" -7° 18' 43.34"

1127 316

x x

106

Subah

109° 49' 26.04"

-

110° 11' 32.45"

-6° 54' 15.69"

-

-7° 18' 16.57"

874

x

107

Wonosobo

109° 45' 48.56"

-

110° 4' 41.47"

-7° 11' 7.81"

-

-7° 31' 51.33"

666

x

108

Magelang-Temanggung

109° 59' 45.38"

-

110° 27' 21.31"

-7° 11' 45.92"

-

-7° 42' 6.69"

1783

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

96

96

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 5.

LOKASI a Kabupaten Semarang

KETERANGAN b c d

109

Yogyakarta-Sleman

110° 12' 30.45"

-

110° 29' 49.38"

-7° 32' 23.62"

-

-8° 1' 52.04"

916

110 111 112

Wates Kendal Sumowono

110° 2' 16.22" 110° 1' 43.68" 110° 3' 45.06"

-

110° 15' 45.54" 110° 16' 16.97" 110° 20' 20.84"

-7° 50' 2.01" -6° 50' 45.56" -7° 5' 29.51"

-

-7° 59' 16.99" -7° 2' 37.74" -7° 15' 49.17"

150 404 207

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Sleman 2. Kabupaten Bantul 3. Kota Yogyakarta 4. Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Kulon Progo Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Semarang 3. Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kota Semarang 4. Kabupaten Demak 5. Kabupaten Grobogan 6. Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Klaten 2. Kabupaten Sukoharjo 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Sragen 5. Kabupaten Karanganyar 6. Kabupaten Wonogiri 7. Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri

x

x x x

113

Rawapening

110° 18' 36.13"

-

110° 30' 7.60"

-7° 10' 59.52"

-

-7° 26' 54.53"

303

x

114

Ungaran

110° 11' 34.19"

-

110° 31' 43.53"

-7° 2' 23.03"

-

-7° 13' 41.52"

329

x

115

Salatiga

110° 26' 11.88"

-

110° 38' 3.58"

-7° 12' 31.73"

-

-7° 27' 54.94"

85

x

116

Semarang-Demak

110° 14' 56.35"

-

111° 20' 8.21"

-6° 46' 26.64"

-

-7° 12' 50.99"

1839

x

117

Karanganyar-Boyolali

110° 26' 18.30"

-

111° 12' 45.98"

-7° 19' 1.182"

-

-7° 54' 32.62"

3877

x

118

Eromoko

110° 48' 30.19"

-

111° 1' 15.32"

-7° 51' 37.47"

-

-8° 3' 52.62"

215

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

97

97

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) A.

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Bantul 2. Kabupaten Gunung Kidul C. Jawa Timur Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Demak 2. Kabupaten Kudus 3. Kabupaten Jepara 4. Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pati 2. Kabupaten Rembang A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Rembang B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Rembang 2. Kabupaten Blora A. Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Grobogan 2. Kabupaten Blora B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bojonegoro A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Ponorogo 2. Kabupaten Madiun 3. Kabupaten Ngawi 4. Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bojonegoro 2. Kabupaten Tuban 3. Kabupaten Lamongan 4. Kabupaten Gresik 5. Kota Surabaya

KETERANGAN b c d

119

Wonosari

110° 20' 40.02"

-

111° 4' 32.21"

-7° 54' 31.05"

-

-8° 15' 30.93"

1692

x

120

Kudus

110° 32' 9.81"

-

111° 2' 48.78"

-6° 35' 57.91"

-

-7° 1' 13.93"

1388

x

121 122

Jepara Pati-Rembang

110° 38' 14.94" 110° 53' 42.9"

-

110° 55' 15.95" 111° 23' 38.75"

-6° 24' 27.16" -6° 24' 39.18"

-

-6° 38' 24.67" -6° 52' 57.29"

531 1028

x x

123

Lasem

111° 23' 13.32"

-

111° 56' 22.43"

-6° 36' 58.91"

-

-6° 50' 48.83"

378

x

124

Watuputih

111° 29' 0.73"

-

111° 32' 56.27"

-6° 50' 41.56"

-

-6° 50' 41.56"

31

x

125

Randublatung

111° 11' 23.39"

-

111° 36' 26.12"

-7° 9' 17.55"

-

7° 15' 57.66"

203

x

126

Ngawi-Ponorogo

111° 7' 0.03"

-

111° 47' 49.16"

-7° 20' 22.54"

-

-8° 4' 26.64"

3902

x

127

Surabaya-Lamongan

111° 37' 38.16"

-

112° 50' 13.76"

-6° 57' 8.69"

-

-7° 18' 37.53"

2525

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

98

98

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tuban 2. Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lamongan 2. Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Trenggalek 2. Kabupaten Tulungagung 3. Kabupaten Blitar 4. Kota Blitar 5. Kabupaten Malang 6. Kota Malang 7. Kabupaten Mojokerto 8. Kabupaten Sidoarjo 9. Kabupaten Gresik 10. Kota Surabaya 11. Kabupaten Jombang 12. Kabupaten Kediri 13. Kabupaten Nganjuk 14. Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tulungagung 2. Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Mojokerto 2. Kabupaten Pasuruan 3. Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Jember 3. Kabupaten Bondowoso 4. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Probolinggo

KETERANGAN b x x c d

128 129

Tuban Panceng

111° 46' 51.66" 112° 15' 46.19"

-

112° 14' 49.78" 112° 33' 46.55"

-6° 45' 41.19" -6° 51' 47.25"

-

-6° 59' 38.54" -6° 58' 50.97"

503 283

130

Brantas

111° 42' 55.90"

-

113° 0' 9.43"

-7° 17' 40.11"

-

-8° 17' 5.03"

6186

x

131 132 133

Bulukawang Sumberbening Pasuruan

111° 46' 8.00" 112° 22' 30.79" 112° 34' 22.15"

-

112° 21' 29.52" 112° 49' 10.92" 113° 5' 11.15"

-8° 9' 37.49" -8° 11' 39.14" -7° 31' 55.71"

-

-8° 21' 1.87" -8° 26' 56.44" -7° 57' 27.06"

618 715 1596

x x x

134

Probolinggo

112° 56' 4.25"

-

113° 37' 33.14"

-7° 41' 54.57"

-

-8° 1' 38.08"

1639

x

135

Jember-Lumajang

112° 53' 57.36"

-

114° 2' 42.22"

-7° 56' 23.58"

-

-8° 25' 22.94"

3865

x

136

Besuki

113° 34' 17.40"

-

113° 52' 4.48"

-7° 41' 12.69"

-

-7° 58' 19.50"

469

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

99

99

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Situbondo 2. Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Pamekasan 2. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur Kabupaten Sumenenp A. Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Sambas B. Malaysia Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Bengkayang 2. Kabupaten Landak 3. Kabupaten Pontianak 4. Kota Pontianak

KETERANGAN b x c d

137

Bondowoso-Situbondo

113° 40' 6.74"

-

114° 26' 39.19"

-7° 36' 17.95"

-

-8° 7' 37.33"

2358

138 139 140 141

Wonorejo Banyuwangi Blambangan Bangkalan

114° 12' 15.69" 113° 55' 28.01" 114° 20' 23.26" 112° 40' 22.8"

-

114° 27' 49.57" 114° 24' 28.44" 114° 36' 10.39" 112° 58' 6.01"

-7° 48' 9.83" -8° 3' 29.47" -8° 26' 41.90" -6° 53' 21.96"

-

-8° 5' 53.17" -8° 34' 11.00" -8° 46' 51.07" -7° 7' 16.24"

543 1737 413 398

x x x x

142

Ketapang

112° 54' 47.42"

-

113° 56' 18.56"

-6° 51' 51.97"

-

-6° 56' 56.89"

631

x

143

Sampang-Pamekasan

112° 41' 25.08"

-

113° 53' 39.48"

-7° 3' 55.29"

-

-7° 15' 25.69"

1200

x

144 145 146 147 148

Sumenep Toranggo Paloh Sambas Singkawang

113° 27' 22.5" 113° 55' 32.30" 109° 16' 23.73" 108° 54' 32.4" 108° 55' 31.83"

-

114° 6' 27.58" 114° 7' 32.52" 109° 38' 52.08" 109° 50' 18.59" 109° 19' 28.59"

-6° 57' 13.69" -6° 52' 4.60" 1° 41' 8.84" 1° 2' 44.59" 0° 50' 54.37"

-

-7° 7' 19.49" -6° 59' 1.82" 2° 4' 57.39" 1° 43' 22.10" 1° 6' 20.55"

478 101 561 3178 728

x x x x x

149

Pontianak

108° 50' 8.88"

-

110° 30' 0"

0° 52' 27.3"

-

-2° 23' 49.96"

22620

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

100

100

Kabupaten Sintang 3. Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Timur 1.74" 7720 Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Tengah 1.55" 0° 52' 5.53" - 1° 40' 34. Kabupaten Hulu Sungai Selatan 7. Kabupaten Kutai Timur 2.66" 1° 2' 56. Kabupaten Hulu Sungai Tengah 8.97" 113° 11' 50. Kota Samarinda 3.19" 1° 10' 33.71" - -0° 38' 48. Kabupaten Pasir 2.54" 124° 59' 38.88" 125° 3' 20. Kabupaten Kutai 3.46" -0° 57' 43. x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.16" 6441 1089 439 649 1660 156 Samarinda-Bontang 116° 33' 4. Kabupaten Kotawaringin Barat 2. Kota Banjarmasin 4. 2010 102 102 .14" 1° 38' 8.81" 115° 28' 22.94" 1° 29' 23.78" - 116° 16' 33.75" 116° 55' 9.26" 115° 41' 21.14" 116° 9' 9.74" 0° 43' 52. 2010 101 101 NO.26" -0° 45' 14.04" -2° 25' 58. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 5. Kabupaten Bulungan 4. Kota Palangkaraya 6. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung KETERANGAN b x x x c d 157 158 159 Sendawar Mangkaliat Sumbang 115° 28' 42.17" -1° 26' 46.95" 0° 30' 49. Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur 1. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.77" 1° 9' 34.76" - 4° 14' 33.56" 1° 45' 17.54" 1131 7107 2474 x x x 164 165 166 167 168 169 Loahaur Tenggarong Jonggon Muara Lahai Munte Batuputih 116° 52' 39. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Barat B. Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir A. Kabupaten Banjar 3.20" -0° 22' 6.48" 116° 6' 57.08" - 118° 8' 37.37" -0° 57' 18. Kabupaten Katingan 5.59" 10110 115 598 160 Tanjungselor 116° 36' 14.31" - 118° 26' 22.90" 0° 51' 33.13" 124° 55' 15. Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai A.79" -1° 58' 11. Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan 1.31" 13550 x 161 162 163 Muarakarangan Putussibau Sintang 117° 33' 52.93" -0° 4' 17.23" -0° 38' 39.87" 116° 46' 44.48" - -0° 55' 50. Malaysia Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Sanggau 2. Kabupaten Barito Selatan 8. Kabupaten Tapin 5. Kabupaten Kapuas 7.03" 118° 32' 36.65" 116° 33' 33.48" 115° 59' 15.84" 1° 9' 49.87" -1° 48' 7.88" -1° 9' 36.50" -1° 59' 14.92" 118° 51' 32. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Seruyan 3.57" 114° 41' 12.73" - 17° 44' 46.92" 95980 151 152 153 154 155 Pagatan Apar Tabanio Sebakung Muarapayang 114° 37' 9.96" 111° 4' 2. Kabupaten Murung Raya C. Provinsi Kalimantan Selatan 1. Kabupaten Tanah Laut 2.70" - 117° 1' 21.40" 111° 47' 59. Kabupaten Barito Kuala 6.39" 116° 43' 45.96" 116° 35' 39.69" -0° 17' 15. Kabupaten Kutai Timur B. LOKASI a Kabupaten Ketapang KETERANGAN b c d 150 Palangkaraya-Banjarmasin 110° 10' 20.60" 111° 54' 2. Kabupaten Berau A.506" -2° 2' 20. Kabupaten Nunukan B.48" 117° 2' 42.91" 116° 12' 48. Kabupaten Berau 2. Kabupaten Tanah Laut 2.68" -2° 20' 50. Kabupaten Kotawaringin Timur 4.48" 116° 27' 31. A. Provinsi Kalimantan Timur 1.32" - 115° 41' 29. Kabupaten Hulu Sugai Utara 9.05" - -4° 10' 34. Kabupaten Kutai 2. Kabupaten Kutai Barat 2.45" - -1° 25' 49.90" -0° 1' 21.01" 0° 32' 37.34" 118° 50' 46. Kota Samarinda 4.20" 1° 40' 51.08" - 117° 13' 58.84" 428 385 284 4115 77 275 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.NO.192" -0° 11' 21. Kota Bontang 5. Kabupaten Berau 3.72" - -4° 0' 46. Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur 1. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur 1.81" 118° 58' 48.11" 125° 15' 5.53" 0° 54' 32.02" -1° 45' 40.26" 1° 6' 24.

34" 0° 18' 31.97" 119° 54' 44.10" 119° 58' 5.90" -0° 5' 15.07" 0° 55' 13.77" 120° 5' 40.63" 124° 7' 53.52" 0° 48' 10.75" -0° 43' 6. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo 1.53" -0° 16' 26.06" 1° 32' 0.13" -0° 0' 14.39" -0° 9' 17.15" 119° 50' 43.89" 1° 5' 27.58" 119° 58' 26.97" 0° 34' 21.20" 119° 51' 54.04" 0° 36' 9.25" 119° 51' 23.66" 0° 25' 59.72" 1° 13' 0.75" 119° 44' 4.96" 123° 34' 27.69" 1° 25' 35.83" 120° 51' 0. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.83" 120° 5' 11.66" 112 35 481 433 75 59 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.63" 119° 47' 27.07" 119° 54' 38.41" 124° 41' 56. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.95" -0° 16' 25.53" - 125° 2' 9.43" 119° 46' 27.84" 121° 59' 7.13" 123° 14' 24.92" 0° 50' 45.00" -0° 3' 38.03" 0° 36' 24.09" 119° 56' 9.81" -0° 30' 41.52" 123° 55' 57.85" 122° 45' 20.95" 124° 36' 0.01" - 1° 39' 58.01" 123° 22' 35.48" 0° 50' 58.89" 0° 21' 43.92" 120° 30' 29.79" 119° 46' 50.45" 0° 52' 4.47" 0° 27' 21.08" 119° 36' 19.98" -0° 50' 24.96" 0° 44' 15.70" -1° 2' 33.27" 120° 6' 40.13" 0° 21' 31.50" 122° 10' 17.90" 124° 28' 38.44" 0° 35' 1.11" 119° 45' 5.56" 0° 50' 16.97" -0° 31' 42.70" 0° 36' 50.51" 125° 15' 5.49" 124° 34' 24. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 234 92 606 435 55 24 111 83 54 50 22 36 14 52 37 63 149 97 261 Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo LOKASI a Kabupaten Gorontalo x KETERANGAN b c d 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 Marisa Papajato Mountong-Tomini Buol Ogomali Ogawele Butung Babatona Ladangkola Sinei Tambu Tompis Labea Palado Tompe Oti Ampibabo Tawaeli Tindaki 121° 42' 51.08" 0° 6' 4.06" 123° 44' 6. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.50" -0° 40' 59.61" 120° 46' 34.74" 0° 20' 22.91" 120° 2' 29.41" 123° 45' 36.91" 124° 12' 8.19" 119° 50' 52.80" 0° 25' 51.58" -0° 4' 41.54" - 0° 33' 33.75" 121° 6' 11.20" 124° 45' 39. 2010 104 104 . Kabupaten Bolaang Mongondow 2.83" 124° 10' 38.79" 124° 13' 14.37" 0° 54' 50.19" 1° 4' 41.38" 123° 56' 33.77" 0° 23' 51.08" - 123° 30' 59.14" 0° 17' 36.154" 0° 10' 34.97" 120° 4' 44.52" -0° 4' 52.92" 121° 30' 21.40" -0° 8' 1.51" 123° 30' 8. Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.55" Kabupaten Pohuwato Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah 1.01" 0° 41' 10.64" - 0° 32' 5. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Gorontalo 2.84" 122° 26' 39.85" -0° 11' 19.41" 119° 56' 36.63" 0° 26' 9.78" 0° 42' 24.08" 0° 46' 30.28" 1° 2' 11.01" 120° 29' 0.82" - 121° 58' 52.26" 0° 24' 6. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.NO.39" -0° 8' 43.50" -0° 13' 44.78" 120° 23' 48.27" 0° 26' 17.57" 0° 44' 55.63" 0° 35' 38.35" 0° 55' 41.26" 120° 27' 9.44" 122° 21' 27.35" 1° 1' 47.27" 120° 5' 16. 2010 103 103 NO.34" 1004 1022 956 521 80 414 76 684 91 212 326 181 182 183 184 185 186 Pinogu Tombulitato Gorontalo Molombulah Mahinoto Soginti 123° 19' 40.40" 0° 28' 4.12" -0° 0' 39. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.29" 0° 24' 46.94" 122° 41' 5.77" 0° 28' 1.24" 122° 13' 52.55" 0° 27' 17. Kabupaten Donggala 2.04" 123° 42' 32.95" 0° 47' 39.12" 0° 33' 48.65" 124° 30' 49.44" 124° 52' 13.11" 0° 55' 33. Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo KETERANGAN b x x x x x x x x x x x c d 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Manado Bitung-Ratahan Tomohon-Tumpaan Sidate-Poigar Buyat Kotamubagu Lolak Dumoga-Kasio Molibagu Mongalada Bone 124° 43' 23.25" 121° 19' 13.96" 121° 32' 12.83" 1° 11' 6.69" 121° 15' 45. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.20" 120° 2' 0.44" 124° 8' 9.25" 1° 19' 4.24" 119° 47' 48.85" 0° 44' 46.01" 123° 20' 27.16" 120° 17' 7.

Kabupaten Donggala 2. Kabupaten Sidenreng Rappang 3.78" -1° 35' 2.10" -3° 29' 9.23" -2° 11' 36. Kabupaten Donggala 2.40" 120° 48' 11. Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan 1. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah 1.67" -1° 57' 9. Kota Makassar 2.47" x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.NO.69" 121° 21' 47.59" -1° 41' 52.53" -5° 10' 28.19" 123° 9' 9.92" - 119° 57' 14.21" 122° 53' 21. Kabupaten Donggala 2. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso B.18" - 119° 45' 42.34" -2° 24' 30.56" -3° 2' 43. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso x KETERANGAN b c d 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 Palu Pasangkayu Dapuran Bobo Langko Watutua Poso Morowali Topo Tomeang Luwuk Sobol Peleng Tomori Wasopote Sampaga Pindolo 119° 49' 28.23 2270 x 230 Siwa-Pompanua 120° 4' 18.90" 119° 31' 2.0" 123° 7' 55.69" -1° 8' 48.85" 120° 18' 1.56" - -4° 25' 9.16" 123° 24' 8.06" -2° 57' 46.73" -2° 4' 52.83" -1° 33' 54.22" -2° 8' 0. Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2.74" 122° 34' 0.35" 120° 12' 40.87" 119° 23' 35.32" -4° 33' 52.23" 120° 52' 12.94" - -5° 23' 8. Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan 1.05" 122° 17' 14.74" -1° 5' 37.83" 120° 48' 11.69" x x x x 229 Pinrang-Sidenreng 119° 26' 57.62" -1° 10' 5. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso A.33" 119° 33' 44.59" 2229 x 233 Makassar 119° 20' 54.56" 120° 17' 17.56" -1° 15' 7.44" -3° 33' 14.47" 122° 6' 19. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 313 716 279 130 224 795 999 530 581 215 333 263 678 175 1306 837 121 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala A. Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan 1.63" 122° 40' 6.88" -1° 57' 0.71" -0° 51' 16.07" - -4° 33' 39. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.04" 121° 48' 30.25" -2° 59' 57.58" 121° 14' 0.55" 120° 7' 10.78" -1° 3' 22.16" 120° 41' 25.82" -0° 52' 15.78" 120° 25' 16.39" 123° 4' 59.59" - -5° 32' 44.14" -1° 37' 1. 2010 105 105 NO.28" -2° 53' 0. Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan 1.33" 120° 0' 50.22" -3° 18' 53. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju B.81" - 120° 26' 32. Kabupaten Wajo 3. Kabupaten Maros 3.56" -1° 16' 8.51" 119° 7' 23.25" - 119° 34' 40.63" 120° 12' 53.83" 120° 26' 24.61" 121° 29' 48.12" -0° 59' 13. Kabupaten Luwu 2. 2010 106 106 .44" -5° 0' 47. Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan 1.24" -2° 25' 28.31" 119° 6' 6.59" -3° 31' 2.68" - 119° 42' 50. Kabupaten Bone x x KETERANGAN b c d 223 224 225 226 227 228 Tanoa Bone-Bone Lelewowo Polewali Kolosi Padang Sapa 121° 31' 18.14" -1° 35' 15. Kabupaten Barru 2.72" - -2° 18' 5.36" -3° 18' 33.56" -1° 47' 47.25" 120° 5' 41. Kabupaten Wajo 5.93" 580 x 234 235 Gowa Sinjai 119° 44' 2.41" 119° 59' 31.69" - 121° 49' 23. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.77" -1° 7' 58. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1. Kabupaten Takalar 3. Kabupaten Sinjai 3. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 156 2230 135 327 86 422 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu A.70" 134 x 232 Pangkajene 119° 27' 44. Kabupaten Pinrang 2.03" -2° 0' 57.21" 119° 49' 2.42" - -4° 25' 58.92" 121° 3' 25.69" -5° 13' 54. Kabupaten Gowa 2.27" -3° 30' 31.24" - 120° 5' 1. Kabupaten Gowa 4.30" -1° 29' 31.65" 121° 8' 38. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu B.26" 121° 28' 57.54" -0° 49' 28.89" 122° 4' 10.99" 121° 12' 31.27" 119° 17' 4.99" 119° 17' 58.86" -2° 28' 10.83" -1° 43' 22.85" 939 x 231 Barru 119° 34' 44.34" -1° 19' 26.82" - -1° 20' 28.11" -0° 47' 23.41" -3° 29' 48.22" -5° 5' 29. Kabupaten Soppeng 4.83" -1° 17' 56.12" 119° 45' 25.47" - -5° 6' 35.04" -1° 57' 25.69" - 120° 14' 17.69" -1° 10' 52.09" -4° 19' 3.72" -1° 55' 4.90" 119° 24' 50. Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan 1. Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan 1.87" 482 81 x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.30" -1° 53' 28.36" 120° 14' 38.76" 120° 32' 14.

27" -4° 16' 7.89" 122° 56' 1. Kabupaten Muna 2. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna KETERANGAN b c d 236 Bantaeng 119° 43' 52.30" 122° 56' 50.58" -5° 18' 11.58" -4° 47' 48.84" 122° 29' 25.74" 114° 26' 11.59" 122° 59' 42.01" -4° 22' 51. Kabupaten Karangasem 6.75" -8° 40' 14.81" -4° 11' 52.62" 122° 53' 59. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 347 157 591 339 976 128 307 2080 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara 1.96" 123° 4' 7. Kabupaten Klungkung 7.03" - -5° 42' 24.26" -3° 38' 37. Kabupaten Buleleng 2. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Kabupaten Karangasem Provinsi Bali 1.61" -6° 30' 23.39" -8° 23' 48.29" -8° 4' 1.70" -4° 43' 42. Kabupaten Jeneponto 2.48" 115° 29' 40.80" 121° 27' 59.31" 123° 12' 45.47" 122° 22' 14.75" -5° 14' 15.39" 123° 13' 31. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1. Kabupaten Muna 2.43" -4° 40' 27.87" 121° 47' 9.92" -5° 12' 13.14" -8° 49' 5.89" -8° 10' 52.83" 122° 13' 44. Kabupaten Buton 2.45" 1433 x 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 Bira Selayar Bungku Kolaka Raromeeto Rawua Tangketada Andoolo Ambesia Ewolangka Weputang Tinanggea Muna Labuhan Tobelo Bangbong 120° 16' 49.81" -5° 14' 14.37" -8° 50' 52. Kabupaten Bantaeng 3. Kabupaten Jembrana Provinsi Bali Kabupaten Klungkung Provinsi Bali Kabupaten Badung Provinsi Bali 1.39" -8° 11' 34.82" 122° 15' 54. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.72" -4° 22' 0.21" 122° 7' 9. Kabupaten Kendari 2.65" -4° 50' 56.09" 114° 40' 36. Kabupaten Sinjai 5.06" 121° 32' 28.01" -5° 26' 32.73" 122° 58' 32.51" 121° 42' 37.74" 122° 44' 14.16" -4° 52' 5. Kabupaten Muna 2.28" -3° 56' 45.72" 115° 43' 0.43" 121° 39' 35.08" -4° 37' 26.25" -4° 33' 43. Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Tenggara 1.84" 122° 46' 6.21" 122° 51' 27.10" 121° 39' 56.59" 122° 33' 18.02" -4° 41' 15.56" 122° 53' 54.64" 122° 0' 7.22" 123° 9' 49.95" 120° 33' 3. Kabupaten Jembrana 2.71" -8° 28' 26.94" 122° 49' 54.25" - 120° 27' 27.77" 114° 55' 43.58" -4° 6' 31. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.52" -4° 30' 43.03" - - -4° 50' 8. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2. Kabupaten Buleleng 2. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Bali 1.48" - -5° 38' 0.26" -5° 46' 39.25" -4° 1' 35.22" 115° 37' 41.12" 114° 58' 7.94" - 115° 12' 54. Kabupaten Bulukumba 4.64" -4° 36' 32.43" -8° 30' 40.59" -4° 11' 54. Kabupaten Buton 2.87" -4° 27' 4. 2010 107 107 NO. Kabupaten Gianyar 8. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.58" -4° 37' 28.88" -8° 45' 3.NO.22" -4° 41' 46.07" 122° 21' 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.11" 115° 42' 25. Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan 1.36" 115° 26' 41.22" 122° 51' 22.43" -4° 25' 38.90" -8° 20' 10.63" 122° 32' 16. Kota Denpasar 2.58" 121° 51' 30.10" - 120° 16' 20. Kabupaten Bangli 4.98" -5° 25' 26.99" 114° 25' 40.70" 122° 38' 57. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1.38" 122° 58' 45.36" -4° 30' 2.92" -4° 48' 22.59" 230 656 2269 129 126 256 347 163 162 436 66 144 213 260 69 x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.16" 121° 43' 11.09" 121° 27' 17. 2010 108 108 .62" -4° 32' 37. Kabupaten Buleleng 5. Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1. Kabupaten Bangli x x KETERANGAN b c d 252 253 254 255 256 257 258 259 Lambale Ereke Lebo Konde Bau-Bau Kaliwinto Lasilimu Denpasar-Tabanan 122° 53' 45.91" x x x x x x 260 261 262 263 264 265 266 Singaraja Amlapura Negara Gilimanuk Nusa Penida Nusadua Tejakula 114° 55' 22.97" 115° 14' 6.41" -5° 13' 12.48" 120° 24' 27.83" 505 200 418 131 198 99 750 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.29" -5° 13' 53.68" -5° 42' 5.61" - -8° 20' 19.23" -8° 6' 0.78" -8° 5' 33. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.84" -4° 27' 9.96" -3° 48' 41.44" - - 123° 4' 59.71" -8° 46' 30.69" -5° 26' 35.98" -8° 12' 24.25" 122° 23' 47.88" -4° 19' 52.19" -5° 26' 21.77" 122° 25' 13.59" 115° 4' 57.42" 122° 18' 28.94" -4° 4' 54.37" 115° 30' 55.45" 115° 9' 32. Kabupaten Badung 3.

65" -8° 22' 7. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2. Kabupaten Lombok Barat 2.94" -8° 13' 42. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.59" 122° 36' 53.62" -8° 17' 48.43" -8° 17' 25.76" 122° 57' 46.31" -8° 17' 5.56" -8° 33' 1. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.08" 123° 0' 6. Kabupaten \Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.60" -8° 24' 49.44" -8° 21' 58.17" -8° 43' 18. Kabupaten Bima 2.06" 123° 54' 39.47" -8° 12' 33.87" -8° 37' 9.28" 123° 17' 27.01" -8° 14' 40.30" -8° 19' 8. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.64" -8° 38' 32.03" 123° 41' 37.904" 119° 50' 12.14" -8° 47' 44.16" 122° 55' 23.34" 118° 53' 13.73" 121° 4' 23.04" 118° 35' 24.34" -8° 13' 32.75" 121° 48' 32.38" -8° 3' 54.35" -8° 31' 38.74" -8° 11' 32.66" -8° 33' 8. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.44" -8° 46' 14.90" -8° 32' 14.75" 10970 140 394 800 1030 330 139 82 70 70 333 173 535 542 27 60 98 376 367 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.10" -8° 23' 51.2" -8° 32' 14.82" -8° 17' 51.59" 123° 12' 31.63" 120° 27' 15. Kota Mataram 3. Kabupaten Buleleng 3.84" 121° 22' 35. Kabupaten Badung 5.25" -8° 38' 53.50" 122° 57' 1.84" -8° 35' 11.NO.28" 123° 20' 5.82" 122° 3' 11.28" -8° 48' 39. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.12" 118° 15' 43.57" - 121° 20' 51.66" - -8° 51' 57.83" -8° 12' 42.35" -8° 12' 54.93" -8° 24' 53. Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur KETERANGAN b c d 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 Bajawa Maurole Ende Maumere Larantuka Kutabura-Lamaayang Lewobunga Liberapan Balauwak Mananga Waiwadan Waiwerang Lewoleba Iliwatulolo Balaurik Wairiang Wapoe Takourang Delaki 120° 55' 25.50" -8° 40' 49.83" 123° 44' 12. 2010 109 109 NO.47" -8° 11' 47.18" -8° 14' 47.68" 119° 3' 28.04" -8° 28' 10. Kabupaten Lombok Timur 3.84" 118° 12' 58.91" -8° 57' 34.12" 122° 52' 23.68" 123° 12' 46.62" -8° 33' 21.49" 119° 47' 52.05" 122° 44' 3. Kabupaten Dompu 2.84" 124° 19' 10.44" 116° 52' 46.86" -8° 22' 29.54" -8° 15' 30.52" -8° 26' 29. Kabupaten Tabanan Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.71" 117° 41' 24" 117° 42' 39. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.4" -8° 12' 46.29" -8° 29' 49.31" -8° 27' 41.56" 1124 1404 345 977 1419 375 1102 363 413 398 813 3724 x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.86" -8° 25' 28. Kabupaten Manggarai 3.76" -8° 41' 59. Kabupaten Lombok Barat 2.72" -8° 31' 10.72" 123° 45' 22.28" -8° 4' 48.75" 121° 52' 35.96" 120° 30' 5.41" - -8° 50' 8.27" -8° 10' 8.68" 123° 43' 57.73" 123° 46' 47.58" 118° 30' 8.44" 123° 10' 2.17" 122° 3' 4. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.18" 121° 56' 37.96" -8° 38' 24.4" 122° 58' 1.69" 124° 19' 26.84" - 116° 43' 19.45" - 116° 43' 20. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.06" 123° 10' 11.89" 118° 56' 31.84" 123° 0' 35.74" 118° 18' 50.45" 122° 58' 35.69" 117° 53' 45. Kabupaten Ngada KETERANGAN b c d 267 Mataram-Selong 116° 3' 33.59" -8° 53' 36. Kabupaten Dompu 2. Kabupaten Manggarai 2. 2010 110 110 . Kabupaten Karangasem 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.40" -8° 32' 58.72" 122° 41' 19. Kabupaten Lombok Timur 4.75" 123° 1' 26.95" -8° 8' 20.24" -8° 37' 8.53" -8° 27' 1.26" -8° 15' 48.8" 120° 4' 32.43" 2366 x 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Tanjung -Sambelia Sumbawa Besar Empang Pekat Sanggar .10" 118° 33' 25.8" 120° 3' 58.52" -8° 33' 33.24" 123° 55' 41. Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.31" 123° 44' 39. Kabupaten Bima 2. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.15" -8° 25' 15.88" -8° 29' 55. Kabupaten Flores Timur 2.71" -8° 45' 59.19" - -8° 28' 59. Kabupaten Manggarai 2. Kabupaten Dompu 2.28" 117° 34' 9.72" 123° 54' 24.18" 121° 33' 36.55" -8° 10' 27.Kilo Dompu Bima Tawali-Sape Labuanbajo Lempe Reo-Riung Ruteng 116° 3' 28.26" -8° 11' 37.16" 123° 55' 18.

77" 128° 45' 23.71" -10° 13' 15.79" 0° 52' 3.38" - 1° 28' 38. Kabupaten Halmahera Timur 3.38" -10° 51' 48.15" -10° 56' 20. Kabupaten Halmahera Utara 2.34" 481 88 236 229 250 106 108 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.78" -9° 37' 41.45" -10° 0' 43.04" -10° 39' 7. 2010 112 112 . Kabupaten Timor Tengah Utara 2.16" 120° 19' 4.88" 125° 8' 41.96" 120° 49' 28. Kabupaten Timor Tengah Selatan 3.67" 1° 15' 2.62" -8° 7' 34. Kabupaten Timor Tengah Selatan 2.88" 1° 11' 27.99" -0° 47' 46.48" 124° 9' 51.35" - 128° 41' 48. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.51" 128° 5' 12.85" 127° 55' 47.97" 0° 27' 13. Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. 2010 111 111 NO.798" -9° 13' 17.32" 127° 44' 51.77" 0° 37' 22.12" 128° 36' 37.28" 120° 1' 25. Kabupaten Belu 2.92" 127° 38' 47.03" -0° 29' 38.99" 122° 57' 56.48" -9° 24' 21.48" 123° 55' 11.48" 128° 4' 28.24" -0° 6' 36.14" 128° 1' 2.91" 127° 6' 14. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.98" 127° 17' 24.248" - -8° 15' 33.57" -8° 8' 53. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara 1.41" 124° 21' 47.89" 123° 27' 24. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 112 1104 885 2860 1427 660 232 311 162 1008 LOKASI a Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Halmahera Tengah 2. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.96" 128° 6' 42.59" 128° 2' 1.144" 122° 57' 53.02" -10° 10' 39.17" 127° 32' 37. Kabupaten Halmahera Tengah 2.276" 0° 20' 25.73" 127° 18' 5.04" 124° 21' 30.46" 127° 23' 57. Kabupaten Halmahera Barat 2.86" -9° 22' 40.77" - 124° 36' 16.43" -9° 56' 14.12" 127° 27' 33.65" -0° 39' 32.17" x x x x x 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Jailolo-Sidangoli Payahe Mafa Sagea Wasile Akelamo Patani Wusi Kasiruta Mandioli Labuha 127° 23' 49.87" 123° 14' 26.98" 0° 26' 14.54" 1576 95 178 95 565 362 753 74 259 162 166 x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Halmahera Tengah 2.18" -0° 19' 57.80" 127° 49' 53.43" 0° 45' 15.4" 128° 54' 9" 128° 55' 47.56" 124° 9' 13.75" 2° 8' 50.02" -0° 19' 59.88" 127° 35' 25.21" 123° 9' 57.63" 128° 8' 47.55" 1° 36' 41.77" 122° 48' 9.56" 123° 56' 31.77" 127° 58' 53.72" 127° 21' 41.72" 127° 57' 20.63" 1° 48' 8.42" -10° 21' 45.18" 1° 54' 24. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.92" -9° 23' 28.58" -10° 7' 13.81" -10° 43' 24.NO.654" 0° 23' 30.30" 1° 33' 44.56" -0° 9' 27.43" 0° 12' 38. Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Sumba Barat 2. Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara 1.66" -9° 51' 31.79" -0° 9' 29.62" 123° 25' 33.35" -9° 43' 21.96" 124° 5' 30.74" - 2° 38' 24. Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan x KETERANGAN b c d 316 317 318 319 320 321 Daruba-Bere-Bere Posi-Posi Galela Tobelo Ibu Kau 128° 12' 9.25" -9° 46' 51.92" 0° 44' 26. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.48" -8° 13' 21.05" -9° 53' 44. Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.32" 1° 58' 56.08" 124° 53' 6.92" 125° 8' 35.75" 1° 35' 22.99" 127° 49' 4.15" 127° 23' 12. Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.008" 0° 17' 27. Kabupaten Kupang 2.69" 127° 43' 27.16" 1° 27' 48.75" 1° 18' 1.14" 1° 1' 20.36" 0° 45' 34.31" 127° 56' 52.82" 128°1' 2. Kabupaten Halmahera Barat 2.27" -10° 25' 41.4" - 125° 5' 16.38" 124° 47' 3.2" 0° 26' 9.46" -0° 14' 51. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Maluku Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan x x x KETERANGAN b c d 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 Pasirputih Kalabahi Werula Waikabubak Ngalu Kupang Camplong Mina Soe Oemeu 124° 23' 29.92" 127° 55' 21.29" -8° 26' 28.74" x x x x x x x 309 310 311 312 313 314 315 Besikama Aroki Nemberala Batutua Rote Ternate Tidore 124° 42' 38. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 486 58 704 763 756 1941 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.09" -8° 27' 47.38" 128° 22' 14.4" 127° 9' 27" - 127° 52' 44.87" 128° 2' 15.54" 0° 33' 48.92" 124° 20' 53.48" -9° 21' 34.51" - -9° 52' 36.04" 124° 19' 55.68" 2° 13' 25.34" -10° 44' 20. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.052" -10° 0' 12.76" 127° 19' 46.50" 1° 45' 46. Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.87" 118° 55' 41.14" 124° 32' 34.64" 124° 53' 52.

77" -2° 54' 17.70" -3° 11' 45.95" 132° 51' 6.48" 128° 33' 57.44" -6° 2' 6.37" -0° 46' 12.89" -6° 1' 45.52" 134° 45' 55.80" 134° 54' 35.88" -0° 27' 12.87" 128° 20' 48.09" 129° 12' 44.42" -2° 18' 33.44" 131° 10' 27.45" -3° 29' 55.30" -8° 20' 33.92" -2° 45' 55.64" 134° 20' 54.08" -6° 32' 56.34" -3° 42' 58.NO.11" -3° 2' 6.49" -3° 47' 6.07" -1° 27' 42.6" 128° 43' 7.35" 126° 0' 11.99" -3° 29' 13.88" 134° 46' 1.29" -5° 35' 27. 2010 114 114 .96" 127° 49' 32.66" -6° 56' 42.70" -3° 25' 39.20" -3° 9' 15.47" -2° 54' 4.47" -6° 26' 42.52" 131° 21' 19.63" -3° 16' 33.44" -7° 8' 1.08" 127° 44' 42.68" 127° 48' 19.21" 132° 49' 16.65" -7° 5' 56.14" 131° 42' 42.88" 126° 48' 7.85" -6° 34' 23.14" 134° 2' 59.66" 129° 4' 21.88" 134° 47' 55. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.98" 127° 57' 34.72" - -3° 19' 5.59" -5° 59' 59.77" -3° 48' 53.39" -5° 57' 6.96" 130° 30' 23.50" -8° 1' 22.45" -5° 35' 3.43" 127° 49' 19. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 79 157 56 159 71 97 301 1438 381 124 275 52 98 272 467 134 122 278 92 1276 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Buru Selatan Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku 1.69" 128° 0' 1.50" -5° 55' 32.06" -1° 11' 26.34" -3° 29' 18.79" -3° 12' 32.13" -0° 38' 45.11" -3° 6' 9.03" 134° 30' 32.95" 126° 4' 14.18" -5° 41' 47.02" -3° 10' 23.26" - 127° 36' 35.36" 130° 29' 9.76" -3° 3' 34.49" -2° 28' 23.31" -3° 37' 40.46" -3° 6' 3.12" 131° 36' 47.58" -7° 41' 53.73" 126° 50' 16.47" 126° 37' 35. 2010 113 113 NO.65" 131° 4' 45.69" -6° 47' 7.14" -6° 17' 9.88" 129° 7' 56.91" 134° 42' 29. Kabupaten Maluku Tengah x x x x x x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Lansa Bisa Taino Sesepe Jobubu Sanana Air Buaya Leksula Waeapo Boano Kawa Laela Waesamu Hitulama Ambon Haruku Saparua Masohi Namea Wahai 127° 27' 25.24" 127° 53' 10.13" 134° 10' 34.92" 128° 4' 6.45" -5° 44' 46. Kabupaten Seram Bagian Timur 2.76" 134° 45' 39.92" 134° 42' 48.76" x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.82" -3° 22' 13.68" 128° 16' 13.84" -8° 4' 18.90" 127° 37' 33.21" 126° 15' 36.83" 133° 11' 23.09" -7° 13' 47.61" 3° 37' 55.52" 134° 31' 55.45" -5° 31' 12.35" 128° 18' 38.43" 128° 23' 37.15" - -0° 41' 1.77" -5° 34' 8.16" 128° 57' 36.99" -2° 56' 1.89" 134° 31' 57.20" -3° 33' 39.12" 127° 7' 8.76" 132° 44' 43.80" -6° 22' 31.81" 134° 37' 22.19" 125° 57' 12. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.39" -2° 47' 18.65" -7° 14' 53.28" 128° 32' 43.28" -3° 33' 57.51" 134° 38' 25.14" -3° 2' 16.67" -1° 34' 3.70" -1° 25' 24.49" -5° 25' 30.24" 127° 45' 30.48" 127° 54' 24.44" 128° 51' 46.13" -6° 28' 44.8" 132° 49' 22.67" 128° 23' 23.27" -6° 13' 50.95" 127° 41' 45.89" -6° 16' 39.81" 134° 19' 46.84" -5° 15' 58.86" -5° 34' 0.92" 130° 57' 46.43" -3° 30' 20.48" 131° 6' 0.05" 127° 27' 46.06" -6° 34' 55.37" 130° 52' 49.41" -7° 37' 52.95" 134° 46' 55.62" 134° 15' 54.44" 134° 38' 42.49" 131° 59' 4.98" -1° 21' 7.01" Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.54" 127° 54' 24.57" 128° 3' 40.69" -6° 20' 40.04" -3° 21' 14.10" -1° 17' 33.93" -2° 50' 58. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1070 811 306 81 513 218 300 1006 1737 137 100 163 406 2069 294 169 66 131 66 44 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tengah Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat x Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x Kabupaten Kepulauan Aru x x x x Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Maluku Tenggara x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 Sawal Waru Kai Kecil Kai Dulah Kai Besar Kola Komfane Wokam Kobror Penambulan Baun Workai Koba Trangan Maikoor Watidal Larat Saumlaki Selaru Seira 129° 4' 28.84" 130° 45' 16.44" 128° 25' 36.44" - 129° 53' 50.7" -3° 52' 38.56" 131° 44' 44.54" 132° 36' 53.90" -7° 49' 4.33" 134° 26' 55.

06" 133° 30' 52.12" 129° 39' 10.04" 135° 24' 32.16" -1° 46' 44.02" 135° 41' 44.19" -0° 22' 16.84" 129° 48' 15.57" 131° 5' 52.42" 136° 23' 19. Kabupaten Teluk Bintuni 2.91" -3° 9' 49. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.57" -1° 27' 32.62" -7° 57' 33.96" -8° 12' 1.76" 134° 37' 26.32" 135° 39' 6.2136" 134° 59' 40.96" -3° 52' 40.53 -1° 52' 0.24" -3° 11' 1.4" 128° 13' 53.36" -0° 5' 25. Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 Wuru Wiliaru Masela Tutuwawang Tela Emraing Wetan Lakor Moa Waigeo Bokpapo Wairemah Batanta Salawati 130° 49' 56.86" -4° 17' 39.29" 134° 7' 55.83" 134° 47' 57.16" -0° 8' 38.42" 130° 42' 31. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 50 53 50 300 31 53 38 113 319 334 118 348 98 765 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat 1.65" 135° 36' 43.36" 127° 45' 12.42" -0° 5' 7.42" 136° 5' 55.32" -7° 52' 59.74" -1° 12' 13.96" -1° 45' 53.32" -0° 55' 18. 2010 115 115 NO.08" -0° 47' 35.32" 130° 32' 5.59" -0° 18' 19.48" 134° 23' 21.80" 133° 43' 15.01" -1° 11' 40.59" -3° 10' 23.49" 130° 40' 40.67" -3° 26' 35.52" -2° 13' 36.50" 134° 2' 15.77" - -1° 54' 5. Provinsi Papua Barat Kabupaten Fak Fak B.66" 133° 37' 35.17" - 134° 8' 13.50" -0° 37' 12.51" 135° 1' 23. Kabupaten Nabire x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.67" -0° 51' 30. 2010 116 116 .31" -1° 39' 52.05" 129° 34' 33.79" - -7° 34' 21.00" - -1° 1' 58.19" 136° 17' 2.72" 129° 55' 9.92" -8° 13' 0.6" 130° 19' 6.88" -1° 35' 50.35" -3° 24' 2.4" 128° 4' 21.56" -4° 3' 6.50" 135° 46' 41.08" 129° 58' 30.94" -3° 35' 56.92" 134° 16' 43.81" -1° 51' 9.84" 129° 51' 43.20" -8° 1' 30.65" -7° 50' 59. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.19" -3° 31' 28.96" -1° 52' 12.75" -1° 41' 13.84" -1° 3' 25.42" 131° 4' 15.08" -4° 2' 54.52" -1° 25' 33.39" -1° 51' 23. Kabupaten Sorong Selatan 3.4" -1° 7' 58.62" -0° 52' 37.31" 130° 35' 34.40" 140° 30' 54.12" -8° 3' 38.44" -7° 57' 38.12" -8° 6' 15.2" 130° 28' 12.8" -0° 32' 53.84" 135° 55' 36.83" 135° 50' 47.40" - -2° 18' 24.78" -1° 39' 31.20" Provinsi Papua Barat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat 1.99" 135° 54' 47. Kabupaten Fak Fak 2.82" -1° 38' 29.12" -8° 15' 46.10" 135° 38' 26.04" 128° 7' 19.86" -4° 7' 22.54" -7° 29' 49.90" 135° 59' 36.79" -7° 47' 28.31" 130° 46' 30.97" -0° 52' 58. Kabupaten Sorong 4.70" -8° 16' 54.06" -8° 5' 51. Kabupaten Manokwari 2.28" - 134° 2' 55.08" 129° 41' 19.71" -4° 14' 20.08" 387 Teminabuan-Bintuni 130° 55' 38.76" -1° 33' 6.48" 129° 34' 54. Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua 1.8" - 130° 59' 54.50" 133° 8' 58.83" -2° 2' 18.44" 130° 41' 10. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1452 307 345 431 513 6078 516 208 1214 155 110 293 140 1382 343 403 1372 1033 22630 Provinsi Papua Barat LOKASI a Kabupaten Manokwari x x KETERANGAN b c d 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 Manokwari Oransbari Takubo Numfor Urema Kaimana Omba Warsa Biak Pom Ansas Serui Timur Samberbada Nabire Legare Ulawa Agamanan Parekebo Warem-Demta 133° 31' 15.95" 135° 13' 25.6" 129° 30' 23.56" 130° 41' 34.NO.86" -1° 43' 36.45" -7° 23' 59.62" -3° 55' 56.64" 130° 58' 9.88" 134° 52' 16. Kota Sorong Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat 1.57" -7° 57' 30.36" -3° 31' 51.11" -0° 44' 45.44" 136° 16' 16.12" 985 309 579 16870 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.94" 136° 29' 59.69" -4° 5' 2.56" 134° 40' 10.92" 129° 42' 26. Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Nabire A.68" -1° 21' 32.69" -7° 29' 31.26" 129° 33' 59.2" - 130° 27' 16.24" 131° 10' 12.88" 135° 33' 7.89" 135° 20' 2.55" -3° 45' 29.92" 135° 43' 56.44" -0° 42' 42.43" -1° 45' 20.38" 23130 x 388 389 390 391 Atkari Zaag Timoforo Kanoka-Babo 129° 43' 4.62" -3° 11' 12.68" 132° 43' 28.4" 135° 38' 35.88" 134° 33' 14.68" 134° 0' 6.4" 135° 21' 25.42" 134° 57' 29.

Kabupaten Pegunungan Bintang 7.66" 139° 27' 23. Keterangan                       a b c d : CAT dalam kabupaten/kota : CAT lintas kabupaten/kota : CAT lintas provinsi : CAT lintas negara Jumlah Cekungan Air Tanah 206 cekungan 176 cekungan 35 cekungan 4 cekungan 421 cekungan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Yahukimo A. Papua Nugini Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua 1. 3. 4.20" 140° 18' 1. Kabupaten Asmat 3. 2010 118 118 .87" -4° 40' 4.51" 139° 57' 44. Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua 1.92" -2° 28' 48. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.71" 140° 31' 55. 3. 4. 2. Kabupaten Mimika 2. Kabupaten Merauke 5. Provinsi Papua 1.NO.21" -4° 13' 50. 7. Provinsi Papua 1.88" 131609 Kabupaten Wamena Provinsi Papua Kabupaten Keerom A.44" -3° 13' 12.89" 138° 42' 41.15" 8160 1766 180 1685 165 7235 573 754 2902 x 421 Timika-Merauke 134° 49' 35.70" -3° 46' 10. Provinsi Papua 1.Senggi Jayapura Timur Arso Lereh-Leweh Ubrub Mandala Nalco-Bime 135° 46' 26.51" -3° 0' 8.20" 141° 0' 0" 140° 55' 37.45" -4° 12' 25.94" 139° 21' 0.82" 25380 x 412 413 414 415 416 417 418 419 420 Enarotali Wamena Hulu S.37" -3° 41' 38.62" -2° 32' 32.97" -4° 8' 10. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.70" 140° 31' 15. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.47" - -4° 22' 40.20" 140° 40' 59.07 -3° 59' 59.82" -3° 3' 56. 2.88" 140° 52' 46.87" 140° 25' 20.85" - -3° 51' 31.11" 139° 55' 6. Provinsi Papua LOKASI a Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Tolikara Kabupaten Paniai Kabupaten Keerom Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Paniai Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Wamena x x KETERANGAN b c d 411 Taritatu 136° 49' 23. 6. 5. Kabupaten Yahukimo 8.15" - 141° 0' 0" -4° 5' 29.29" - 140° 23' 4.32" - 138° 57' 18. Kabupaten Keerom B. 3. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 2.55" -2° 56' 38. Kabupaten Boven Digul x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.99" -3° 1' 45.43" -5° 11' 28. Kabupaten Wamena Papua Nugini KETERANGAN b c d B. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 6.17" - -9° 7' 59.17" 140° 45' 32.67" 141° 0' 0" -3° 42' 6.34" 140° 33' 30. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 8.05" -3° 7' 17. 2010 117 117 NO. Provinsi Papua 1. Kabupaten Mappi 4. Kabupaten Jayapura 2.03" -3° 32' 36.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful