PT-PLA C 1.

1 - 2010

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL DAN IRIGASI AIR TANAH DALAM

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN IR DEPARTEMEN PERTANIAN 2010

KATA PENGANTAR
   

dinas lingkup Pertanian di tingkat Kabupaten/Kota) sesuai dengan kondisi dan potensi di daerah masing-masing

Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah (Irigasi Air Tanah Dangkal dan Irigasi Air Tanah Dalam) dalam menunjang pembangunan pertanian merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan sumber air irigasi untuk usaha pertanian, baik untuk sub-sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Petunjuk/pedoman teknis pengembangan irigasi air tanah dangkal dan dalam ini disusun dengan maksud untuk menjadi pedoman atau petunjuk atau acuan pelaksanaan bagi para pelaksana kegiatan pengelolaan air, khususnya pengembangan irigasi air tanah di daerah (Propinsi dan Kabupaten/ Kota). Pedoman teknis ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pelaksanaan kegiatan di lapangan, terutama dalam mengartikan dan merinci ketentuan-ketentuan teknis di tingkat lapangan. Dengan pertimbangan bahwa kondisi dan potensi antar daerah yang sangat bervariasi, maka pedoman teknis ini harus dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan oleh Satker Propinsi (Dinas-dinas lingkup Pertanian di tingkat Propinsi) dan selanjutnya dalam bentuk Petunjuk Teknis oleh Satker Kabupaten (Dinas 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

Buku pedoman ini dibagi menjadi 2 bagian, masingmasing terdiri dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal. Oleh karena itu, penggunaan atau pemanfaatan buku pedoman ini harus disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan di masing-masing daerah. Demikian semoga pedoman ini dapat dijadikan sebagai acuan/petunjuk oleh para pelaksana kegiatan dengan sebaikbaiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Jakarta, Januari 2010 Direktur Pengelolaan Air,

Ir. Tunggul Iman Panudju, M.Sc NIP. 19580526 198703 1 002

 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

i

ii

i

ii

BAGIAN I

DAFTAR ISI
PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL
KATA PENGANTAR .................................................i DAFTAR ISI ........................................................ iii I. PENDAHULUAN ................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................ 1 B. Tujuan dan Sasaran....................................... 3 C. Pengertian ................................................. 4 II. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL......... 6 A. Persyaratan Lokasi........................................ 6 B. Persyaratan Petani/Kelompok .......................... 7 III. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ............... 8 A. Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal................... 8 1. 2. 3. Sumur ................................................. 8 Pompa Air............................................. 9 Jaringan Distribusi .................................. 9

E. Pelatihan ..................................................19 F. Pemanfaatan .............................................19 G. Pembiayaan...............................................19 I. Waktu Pelaksanaan ......................................20 V. MONITORING DAN EVALUASI ..............................21 A. Indikator Kinerja.........................................21 B. Monitoring dan Evaluasi.................................21 C. Pelaporan .................................................22 D. Pengendalian .............................................22 DAFTAR PUSTAKA................................................24 LAMPIRAN                            

B. Kriteria Teknis ...........................................10 IV. PELAKSANAAN................................................14 A. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana......14 B. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal ...............................17 C. Operasi dan Pemeliharaan .............................18 D. Pembinaan ................................................18
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iii

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iv

iii

iv

................... Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam ........27 I.................. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM...... Kriteria Teknis ............................................................ 2......................................................29 D................................................ Pembinaan .. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA................... Persyaratan Lokasi........... Pengendalian .. Pengertian .25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..............................28 I...................................... Pemanfaatan .............11 Pompa Air dan Perlengkapannya....... PENDAHULUAN ..................... 298 LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA UNTUK MENENTUKAN TITIK LOKASI PENGEBORAN........ Persyaratan Petani ............................ 3.............. Tujuan dan Sasaran.........31 DAFTAR PUSTAKA.............28 C.....................................................10 III. Komponen Irigasi Air Tanah Dalam...16 IV............. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.......................................... 1 A............................................ 7 A...............28 B.................................12 Rumah Pompa/Genset.......................19 A.....33 LAMPIRAN B........11 A.............. Pelaporan ............................13 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) ...........11 1..... 8 B. Waktu Pelaksanaan ...................... Latar Belakang ............14 A...... PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ..... 2010 vi v vi ................................ 3 C..25 D...23 C.... Operasi dan Pemeliharaan ........................... 2010 v Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA........................ MONITORING DAN EVALUASI ......26 F............. 4..... 4 II.............................. Monitoring dan Evaluasi....BAGIAN II DAFTAR ISI PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM E........... Pelatihan ......... PELAKSANAAN..................... Indikator Kinerja................................................. Sumur ...............................19 B.......26 G........................ Pembiayaan............ 1 B.......27 V............. Survey Investigasi dan Desain Sederhana ....................

pemanfaatannya akan lebih mudah karena infrastruktur yang diperlukan lebih sederhana. sehingga dapat dikembangkan oleh petani setempat secara mandiri ataupun jika memerlukan dukungan masih pada tingkatan yang relatif terbatas. Air tanah merupakan salah satu pilihan sumber air yang dapat dikembangkan untuk pertanian. baik untuk pengadaan pompa 2 maupun pembuatan bangunan penampung (reservoir) 1 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.BAGIAN I  PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL I. A. maka pengisian air tanah (water recharging) tidak terjadi secara alamiah. Bagi daerah yang mempunyai potensi sumber air tanah dangkal. sehingga memungkinkan untuk diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa. selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian juga memungkinkan terjadinya akselerasi sirkulasi air tanah. Namun demikian. Pengelompokan ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan air tanah dan kebutuhan infrastrukturnya. 2010 Pemanfaatan air tanah dangkal dari sumur-sumur yang diangkat dengan menggunakan pompa memerlukan biaya tambahan. potensi air tanah di suatu wilayah relatif tetap apabila tidak diusahakan. karena beda potensial antara air tanah dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 1 2 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. untuk maka perlu dipikirkan air alternatif memenuhi kebutuhan permukaan tanahnya konstan. Pertimbangannya. tanaman dari sumber air yang lain. Secara teroritis. Pengambilan air tanah sesuai dengan kemampuan pengisiannya. Berdasarkan fakta empirik lain tersebut. danau. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemanfaatan air permukaan. maka sering kali tanaman yang dibudidayakan pada periode tersebut mengalami kekeringan. Sumber air tanah dangkal umumnya terdapat di dalam lapisan-lapisan tanah yang tidak begitu dalam. berdasarkan pemanfaatannya. embung dan lain-lain telah lama dilakukan masyarakat. karena kebutuhannya belum proporsional dibandingkan dengan ketersediaannya terutama pada musim kemarau. seperti sungai. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka ada dua jenis air tanah yaitu : (1) air tanah dangkal dan (2) air tanah dalam. waduk.

Oleh karena itu. irigasi air tanah dangkal dukungan pembiayaan yang akan berasal dari jenis komoditas yang diusahakan petani dan kelompoknya sehingga keberlanjutan (sustainability) usaha pompa dalam pendayagunaan air tanah dangkal dapat dipertahankan. dan produktivitas usaha tani. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. c. c. 2. C. peningkatan areal tanam dan peningkatan permukaan. Terbangunnya sebanyak 706 Lampiran 1). Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian. agar ketergantungan kepada pemerintah dapat diminimalkan. Berkurangnya d. irigasi air tanah. luas tanam. Irigasi : usaha penyediaan. irigasi rawa. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah : a. Meningkatkan kualitas produksi pertanian dan pendapatan petani. B. irigasi tambak. Air Tanah Dangkal : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman < 30 meter. Tujuan dan Sasaran 1. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. dan 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). 2010 unit (alokasi per kabupaten berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada b. Meningkatnya produktivitas. 3. b.sebagai tandon air. perlu adanya a. 2. pengaturan. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas 3. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pembuangan pertanian. Agar nilai manfaat air tanah dangkal dapat dioptimalkan. maka perlu dirancang mekanisme pembayaran biaya operasional dan pemeliharaan (OP) dalam kelompok (partisipasi petani). air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi resiko produksi kegagalan usahatani usahatani melalui karena kekurangan air irigasi/kekeringan.530 ha. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 4 3 4 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengertian 1.

Potensi sumber air tanah dangkal yang tersedia paling tidak dapat memberikan air irigasi suplementer (supplementary irrigation) pada areal seluas kurang lebih 5 hektar sesuai jenis komoditas yang diusahakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. penyaluran dan pembagian. 5. 6. 4. di atas. garis bujur. 2. ataupun di bawah permukaan tanah. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL  Agar pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat berhasil dengan baik. II. Sumber Air Irigasi : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. 8. Di lokasi yang bersangkutan mempunyai potensi air tanah dangkal.4. dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. di atas. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan. Persyaratan Lokasi 1. 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. dan ketinggian di atas permukaan laut. 2010 6 5 6 . Beberapa kriteria yang perlu diperhitungkan antara lain : A. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. maka pemilihan lokasi harus dilakukan dengan tepat. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. 3. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumurbor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. Di lokasi yang bersangkutan usahataninya sudah berkembang atau paling tidak daerah tersebut sesuai untuk pengembangan usaha tani tanaman pangan. baik kuantitas maupun kualitasnya. 2010 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. peternakan. perkebunan. Diprioritaskan pada lokasi lahan sawah tadah hujan dan lahan kering kawasan tanaman pangan. pengambilan. hortikultura. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada.

Diprioritaskan pada kelompok tani/P3A yang sudah terbentuk atau akan membentuk kelompok tani/ P3A/P3AT apabila dibangun irigasi air tanah dangkal. 5. Petani di lokasi memerlukan irigasi air tanah dangkal dana dan mampu dan memanfaatkan pemeliharaan serta yang merawatnya dengan baik termasuk menyediakan operasional dibuktikan dari surat pernyataan kelompok tani atas nama petani. maka diperlukan upaya pengambilan/ pengangkatan ke permukaan tanah. 2010 7 8 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur Untuk dapat memanfaatkan air tanah. B. 1. 2. pantek pengembangannya dengan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 6. Dapat dikembangkan di lokasi Daerah Irigasi (DI) yang memiliki jaringan irigasi di mana kondisi ketersediaan air pada musim kemarau tidak mampu mengairi lahan usaha tani. III. A. dan perkebunan. Lahan usaha tani yang akan mendapat pelayanan irigasi air tanah dangkal yang akan dibangun adalah lahan milik petani. air minum ternak. Dalam pengelolaannya termasuk pemanfaatannya. Untuk kawasan 3. digunakan untuk hijauan makanan ternak. sarana/fasilitas/peralatan irigasi air tanah dangkal tidak boleh dikuasai secara perorangan tetapi harus digunakan oleh anggota kelompok. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur tersebut dapat berupa sumur gali (cara pengembangannya dengan digali) sumur dan sumur bor/ (cara 8 peternakan. terlebih dahulu harus dibuat sumur sebagai tempat pengambilan.hortikultura. misalnya dengan pompa. dan sanitasi ternak. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal Agar air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk air irigasi. Persyaratan Petani/Kelompok 1. Minimal ada tiga komponen yang diperlukan agar air tanah dangkal tersedia untuk irigasi : (a) sumur (b) pompa air dan motor penggerak dan (c) jaringan distribusi. 2010 7 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Untuk kehilangan losses) mengurangi air (water dalam dengan kedalaman air tanah ( < 30 m ). Kedalaman sumur yang dibuat disesuaikan irigasi air tanah (JIAT). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sentrifugal. bangunan pengatur berupa pintu dan boks pembagi. yang terdiri atas: saluran. 2. dimana 1 (satu) unit pompa air akan digunakan untuk melayani beberapa sumur. maka perlu dibangun jaringan 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa air tanah dangkal bersifat mobile (dapat dipindah-pindahkan). atau b. digerakkan dengan motor penggerak bertenaga diesel atau bensin atau tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). 1 (satu) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 1 (satu) atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk saluran distribusinya.  Kriteria Teknis Pengertian 1 unit irigasi air tanah dangkal berdasarkan luas layanan oncoran adalah sebagai berikut : a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2 (dua) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 2 (dua) buah atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk jaringan distribusinya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa Air Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dalam tanah ke permukaan tanah. Jenis pompa air yang biasa digunakan untuk air tanah dangkal pada umumnya jenis Pompa pompa air B.dibor). JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. bangunan pengatur debit dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa. Jaringan Distribusi Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usahatani. penyaluran. 2010 10 9 10 . 3.

Diutamakan telah memiliki/memenuhi SNI atau memiliki sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. pipa/selang hisap. c. penggerak : motor bertenaga diesel atau bensin. dan pembuangan. Terbuat dari bahan besi atau PVC (paralon) cukup kuat. Sumur : dapat dibuat dalam bentuk sumur gali atau sumur bor. mudah dalam perawatan dan suku cadang tersedia di pasar setempat.Alternatif pilihan butir a atau b didasarkan pada kecukupan dana dan diuraikan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Diutamakan yang telah memiliki SNI atau sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi pemerintah. Untuk sumur bor/pantek. tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). diameter selubungnya disesuaikan dengan kondisi jenis pompanya. Kedalaman sumur disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer. 2010 11 12 . dapat diterima petani. 2010 11 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan Distribusi (JIAT) Penyempurnaan pompa dapat jaringan dimanfaatkan distribusi seefisien dan 12 yang resmi ditunjuk oleh dimaksudkan agar air yang dikeluarkan dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa air : tipe : sentrifugal atau axial. d. dinding sumur dapat diperkuat dengan tembok atau buis beton. b. Diameter sumur gali dengan diameter lebih kurang 1 meter. Bila struktur tanahnya labil. Pipa-pipa : Pipa-pipa diperlukan untuk pipa selubung luar (casing pada sumur bor). Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengembangan irigasi air tanah dangkal antara lain : a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Pelaksanaan survei investigasi dibiayai oleh daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan) dan dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petugas Kecamatan. mungkin. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kehilangan dengan air mengurangi pada saluran IV. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.seefektif kebocoran/ tersebut. A. PELAKSANAAN Tahapan pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat dilaksanakan sebagai berikut : Jaringan distribusi tersebut dapat berupa pipa atau selang yang tahan bocor. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana 1. baik dari segi teknis maupun sosial. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dangkal. Survey Investigasi Survey investigasi dimaksudkan untuk yang mendapatkan calon lokasi dan petani sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 14 13 14 . Pelaksanaan survei investigasi dikoordinasikan dengan instansi/Sub Dinas terkait terutama dengan Sub Dinas yang menangani komoditas yang akan dikembangkan.

e. dan yang 16 spesifikasi motor penggerak pompa. d. dan mesin Berdasarkan diperlukan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dangkal Rancangan/desain sederhana disusun untuk lokasi yang ditetapkan sebagai calon lokasi pengembangan irigasi air taanah dangkal. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Laporan hasil survei investigasi paling tidak memuat : a. peralatan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. 2010 jumlah dan irigasi kebutuhan pipa-pipa. peralatan. hasil SID akan dapat diketahui kebutuhan bahan. Kondisi usaha tani dan jenis komoditi yang layak dikembangkan. Gambar/sketsa saluran distribusi. Kebutuhan bahan. Satu hal yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan desain sumur air tanah dangkal sederhana yaitu dalam hal tanah distribusi. 2. maka air telah sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat ditampung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan daerah layanan irigasinya dengan menggunakan bak penampung air (jika dananya mencukupi). meliputi kedalaman dan kapasitas pompa/air yang keluar dari mesin pompa. dan mesin yang Data kedalamam dan potensi air tanah. Rancangan/desain irigasi air tanah dangkal sederhana sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). spesifikasi diperlukan. c. jaringan pembangunan/perbaikan 15 15 16 . sehingga dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. dan rancangan jaringan irigasi yang akan dibangun. kedalaman sumur. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. b. Luas layanan oncoran (command area) yang akan diairi. 2010 letak/lokasi sumur (koordinat sumur). dangkal Untuk yang menekan diangkat biaya dari operasional dalam hal distribusi air. Potensi air tanah dangkal untuk kebutuhan irigasi. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat digunakan untuk menetapkan spefisikasi pompa air. Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia.

teknik budidaya. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal. pasca panen. kebutuhan anggaran ini dijadikan acuan dalam penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS). panen. pengolahan. Perkiraan pengadaan bahan. pemilihan komoditas yang diusahakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Besarnya iuran pelayanan irigasi yang dibutuhkan. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah dangkal diserahkan kepada petani/kelompok tani. 3. serta pengembangan usaha lainnya. pompa air dan perlengkapannya. Kebutuhan anggaran Meliputi perkiraan kebutuhan biaya untuk sumur. 2010 18 17 18 . Pembinaan terhadap petani penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota secara berkelanjutan. Pola pelaksanaan Bansos mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum Bansos Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. 2010 Pembinaan 1. peralatan. dan pemasaran hasil. 2. 2.C. B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pengembangan/ Operasi dan Pemeliharaan 1. pipa-pipa. 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok tani. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani sebagai penerima manfaat. Pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan berdasarkan kepada usulan yang diajukan oleh petani/kelompoktani seperti RUKK (Rencana Usulan Kerja Kelompok) setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kab/Kota (contoh RUKK dapat dilihat pada Lampiran 2). 2. pemasangan perbaikan jaringan pengembangan dan distribusinya. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal D. Pelaksanaan Konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan dengan pola Bansos (dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani). 1.

2. I.E. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pelatihan 1. pengadaaan pipa-pipa. Kebutuhan biaya jaringan untuk SID irigasi/distribusi. 2010 19 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan partisipasi masyarakat. APBD Kabupaten/ Kota. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pembiayaan Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal dipergunakan untuk pembuatan sumur bor/gali. Pemanfaatan Dengan pertimbangan biaya investasi. 2010 20 19 20 . yang relatif tinggi. maka pemanfaatannya harus dilakukan secara efektif dan G. dan pembinaan disediakan dari APBD Propinsi. operasi dan pemeliharaan efisien. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dangkal mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. pompa air dan perlengkapannya. F. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan oleh pihak ketiga/pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah.

Agar lebih informatif dan komunikatif. intensitas pertanaman (IP). 3. 2.V.1. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. A. peningkatan produktivitas. seperti peningkatan luas tanam. Output : Terbangun dan berfungsinya irigasi air tanah dangkal. Pelaporan 1. Benefit : Terjadinya peningkatan pertanian. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 21 22 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.3 dan 4. Laporan Akhir agar dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. 4. Monitoring dan Evaluasi 1. Evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dangkal selesai. 3. 2. Terdapat 2 (tiga) jenis laporan yang harus dibuat yaitu Laporan Perkembangan dan Laporan Akhir. B. Outcome : Terjadinya sediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan potensi air tanah dangkal. 4. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas keterPertanian Pengelolaan Propinsi Air). MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah sebagai berikut : C. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang disusun setiap bulan.4 (diisi di tingkat Propinsi). 2010 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Impact : Peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani. dengan Laporan tembusannya Bulanan disusun disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat mengacu pada Lampiran 4. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi.2 (diisi di tingkat usaha Kabupaten/Kota) serta 4. peningkatan 2. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dangkal. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai 22 1.

Departemen Pekerjaan Umum. Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Jakarta. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Jakarta. 2004. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan.kegiatan). Jakarta. Laporan Akhir agar mengikuti outline             seperti pada Lampiran 5. 2002. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. ---------------. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Dit. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. 2004. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Petunjuk Teknis Pengembangan Pompa Air Tanah Dangkal. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Sekretariat Negara Republik Indonesia.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air. 4. Gita Rencana Multiplan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Departemen Pertanian. Taman Margasatwa No. Departemen Pertanian. Proyek Pengembangan Sumberdaya. PT. 2004. 1994/1995. Ditjen Sumber Daya Air. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Jl. Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. D. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. Laporan Akhir. Irigasi. 2010 Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 23 24 23 24 . dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi.

Jakarta. PT. Cirebon Kab. Lebak Kab. Kendal 2 1 2 2 3 2 3 1 2 4 2 2 29 2 3 19 10 1 1 16 Sub Sektor Horti Bun Nak 3 1 1 1 Jumlah (Unit) 19 1 2 3 2 3 2 3 1 2 5 3 2 58 2 3 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jawa Barat Kab. Pradnya Paramita. Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. 2003. Tasikmalaya Kota Tasikmalaya Kab. Suyono dan Takeda. Garut Kab. Serang 3 Prop. Jakarta. Sukoharjo Kab. Hidrologi Untuk Pengairan. Subang Kab. Bandung Kab.Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Kensaku (editor). Ciamis Kab. Sosrodarsono. Banyumas Kab. 2010 26 25 26 . Banten Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bogor Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bandung Barat 2 Prop. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jawa Tengah Kab. DITJEN PLA TAHUN 2010   No Prop/Kab/Kota TP 1 Prop.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pasaman 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sampang Kab. Banyuwangi Kab. Pemalang Kab. NAD Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Gunungkidul Kab. Situbondo Kab. Bireun Kab. 2010 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kudus Kab. Labuhan Batu Utara Kab. Grobogan Kab. Tulungagung Kab. Kulon Progo 3 3 - 4 - 5 Prop. Langkat Kab. Lamongan Sub Sektor Horti Bun 5 3 16 3 2 2 4 5 11 8 14 1 2 2 3 2 5 2 4 8 7 11 2 9 3 2 26 1 5 2 2 Nak Jumlah (Unit) 5 3 16 3 2 2 4 5 33 1 2 4 5 2 5 2 4 8 53 6 7 6 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Mojokerto Kab. Agam Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Blora Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Klaten Kab. Bener Meriah 7 Prop. Aceh Timur Kab. Jombang Kab. Tapanuli Selatan Kab. Jawa Timur Kab. 2010 28 27 28 . Gresik Kab. Pidie Jaya Kab. Nias Selatan Kota Padang Lawas Utara 4 Prop. Simalungun Kab. Tuban 9 5 1 4 17 3 8 Prop Sumatera Barat Kab. Pacitan Kab. DIY Kab. Salatiga 3 2 10 10 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 10 5 5 2 5 7 10 5 4 2 5 6 3 2 3 3 7 3 4 4 8 38 5 1 1 1 3 11 2 3 11 2 3 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Aceh Utara Kab. Dairi Kab. Sumatera Utara Kab. Pati Kab.

Riau Kab. Sarolangun Kab. Bengkalis Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kab. Muaro Jambi Kab. Tebo Kab. 2010 29 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Indragiri Hilir Kab. Jambi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Banyuasin Kab. Sumatera Selatan Kab. Rokan Hulu Kab. Tanjab Timur Kab. Musi Banyuasin Kab. Musi Rawas Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tanjab Barat Kab. Batanghari Kab. Ogan Komering Ulu Kota Lubuk Linggau Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Lampung Kab. Kuantan Singingi Kab. Ogan Ilir Kab. Empat Lawang Prop. Pesisir Selatan Kab. Sijunjung 4 2 1 Sub Sektor Horti Bun 2 Nak 4 Jumlah (Unit) 6 2 10 11 2 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Lampung Selatan Kab. 2010 30 29 30 . Pasaman Barat Kab. Tanggamus - 15 26 3 45 3 4 9 Prop.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Muara Enim Kab. Indragiri Hulu Kab. Solok Kab. Rokan Hilir Kab. Solok Selatan Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kampar Kab. Kerinci Kab. Pelalawan Kab. Siak Kota Pekanbaru 4 4 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 1 3 3 3 10 8 7 2 4 3 4 10 1 3 10 Prop. Muara Bungo 2 2 5 2 4 2 2 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 8 7 6 5 2 2 7 3 1 1 20 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 17 2 11 8 3 6 3 - 7 3 1 4 26 2 2 5 3 2 2 3 2 2 3 38 12 11 1 6 2 Prop.

Paser Kota Balikpapan Kota Samarinda Kab. Sidenreng Rappang Kab. Tana Toraja 16 Prop. Bengkulu Tengah 18 Prop. Seluma Kab. Barito Kuala Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 31 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sulawesi Tengah Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Bengkulu Kab. Bengkulu Utara Kab. Tanah Bumbu Sub Sektor Horti Bun 3 3 5 14 4 5 3 3 4 5 5 3 24 2 4 3 4 16 3 8 3 2 3 3 3 3 3 1 4 2 3 Nak Jumlah (Unit) 3 3 19 4 5 3 3 4 8 5 3 48 8 8 3 2 3 3 3 3 10 13 Prop. Gunung Mas Kab. Jeneponto Kab. Muko-Muko Kab. Tapin Kab. Gowa Kab. Bantaeng Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pesawaran Sub Sektor Horti Bun Nak 3 3 3 3 5 4 2 5 5 5 4 10 4 4 1 2 13 3 3 5 2 6 8 4 4 5 9 3 Jumlah (Unit) 3 3 17 6 5 4 2 5 5 15 8 4 3 13 3 3 5 2 14 4 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Lampung Tengah Kab. Enrekang Kab. Maros Kab. Kalimantan Barat Kab. Bengkayang Kab. Penajam Paser Utara Kab. Kotabaru Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kalimantan Selatan Kab. Kalimantan Timur Kab. Sambas 19 Prop. Kotawaringin Timur Kab. 2010 32 31 32 . Luwu Kab. Maluku Utara Kab. Kutai Kertanegara 14 Prop. Murung Raya 17 Prop. Kalimantan Tengah Kab. Landak Kab. Sulawesi Selatan Kab. Halmahera Selatan Prop. Kapuas Kab. Sinjai Kab. Poso Kota Palu 15 20 Prop.

NTB Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Rotendau Kab. Maluku Tenggara Barat Kota Tual 25 Prop. Kepulauan Riau Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Gorontalo Kab. Sumba Tengah 23 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Ngada Kab. Karangasem Kota Denpasar 26 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Buleleng Kab. Boalemo Kab. Manggarai Barat Kab. Bima Kab. Sumbawa Barat 2 3 4 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 4 21 Prop. Dompu Kota Bima Kab. 2010 34 33 34 . Wajo 5 4 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 5 No Prop/Kab/Kota TP Kab. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bangli Kab. Sumba Barat Daya Kab. Bone Bolango Prop. Timor Tengah Utara Kab. Lombok Timur Kab. NTT Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Sumba Barat Kab. Muna Kab. Timor Tengah Selatan Kab. Lombok Tengah Kab. Bintan Kota Batam 24 Prop. Alor Kab. Wakatobi - - 2 6 2 3 4 2 2 2 2 5 3 3 18 26 5 2 17 2 2 5 2 3 3 4 3 5 5 1 5 5 3 5 3 10 3 6 4 2 7 6 5 66 2 7 2 3 16 4 11 5 5 1 5 5 2 2 8 3 5 9 3 3 3 3 1 2 15 5 10 6 10 7 1 3 3 2 9 3 9 16 4 10 - 2 2 17 6 8 3 3 1 2 25 5 20 13 1 7 3 2 37 27 22 Prop. Maluku Kab. Bombana Kab. Sumbawa Kab. Kupang Kab. Pahowato Kab. Sikka Kab. Bali Kab. Lembata Kab. Lombok Barat Kab.

Jayapura Kab. Sorong Selatan Jumlah Total   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 237 Unit Hortikultura Perkebunan Peternakan               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Papua Kab. Mappi Kab.No Prop/Kab/Kota TP Sub Sektor Horti 5 Bun 7 2 Nak 14 5 4 5 5 2 14 8 4 4 4 4 4 2 237 3 2 62 155 252 3 3 Jumlah (Unit) 26 7 4 8 5 2 26 4 7 4 7 4 706 28 Prop. Fak-Fak Kota Sorong Kab. 2010 36 35 36 . Biak Numfor Kab. Sorong Kab. Nabire Kab. Papua Barat Kab. 2010 : 62 Unit : 155 Unit : 252 Unit 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Manokwari Kab. Mamberamo Tengah                   29 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

.... …………….. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..A 2010 Lampiran 3   ....2010                                                           Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 38 37 38 . 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA....Lampiran 2                                                                       CONTOH RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL TAHUN 2010 Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal T...

2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : …………………………….*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. Harsono RM No. Sumur Resapan 11. Irigasi Tanah Dangkal 5. **) Coret yang tidak perlu ………………………. Embung 9. 3. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas…………………….. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH ……………………….A. Pengelolaan Air 5. Balai Subak 13. Dam Parit 10...*) Kab/Kota ………………… 1.01 : ……………………………. Pompa 8. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.. …………………………. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. 3.go. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No.Lampiran 4. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A. P I P 12.id 3. Dam Parit 10. 4..………………. : ……………………………. Balai Subak 13. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Air Permukaan 7. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. Rehab JIDES 3. : ……………………………. 2010       39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. …………………….. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. : ……………………………. : ……………………………. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan... Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. 2... 6. Embung 9. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi Tanah Dalam 6. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 8. Form PLA. Rehab JITUT 2. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. 2.…………. Air Permukaan 7. P I P 12. 2010 40 39 40 . Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Form PLA. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA.02   ` LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. 7.id 3. TAM 4. : …………………………….. Pompa 8. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. 3 Ragunan Jaksel. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Harsono RM No.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. Sekolah Lapang Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                     Ctt: 1. : ……………………………. Sumur Resapan 11. 4. : …………………………….. Dam Parit 10.. 2010 9. Aspek Kegiatan 3 1. 5..2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1.go. : ……………………………. Irigasi Tanah Dalam 6. P I P 12.1 Lampiran 4.. Sumur Resapan 11. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.. : ……………………………. Balai Subak 13.

Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2.3 Form PLA. 25.P I P 12. : ………………………………. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1.. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. : ………………………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 42 41 42 .id 3. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2.4 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. No.5 ton/Ha dan IP 150 %. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 : ……………………………….5 = 750 ton …………. …………………. Embung 9.5 = 750 ton Catatan : 1. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.000 X 1.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. : ……………………………….000.………….. Harsono RM No. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Rehab JIDES 3. 2006. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.5 ton X 1. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. 25.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1.. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. 2006.. c.go.000 = Rp. TAM 4.Lampiran 4. / Kg atau Rp. : ………………………………. 2007. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. : ……………………………….go. Harsono RM No. 25.000 = Rp.5 X 5 Ton = 1.. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.000.5 ton/Ha dan IP 150 %. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.03       Lampiran 4.250 ton b.. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 25. Dam Parit 10. c.id 3 Manfaat harus terukur.250 ton b. Pompa 8. 25.000. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten                         41 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Subsektor No. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.5 X 5 Ton = 1. contoh : a. 2007. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.000.000 X 1. 25. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.Sumur Resapan 11.000. contoh : a.04 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Irigasi Tanah Dalam 6.000. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. Irigasi Tanah Dangkal 5. Air Permukaan 7. ………………………… 2010 ……………….5 ton X 1. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. : ………………………………. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. Rehab JITUT 2. 1 A..Balai Subak 13. 25. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Form PLA. Manfaat harus terukur.…………. 25.. 1 A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. / Kg atau Rp.

Lokasi (administratif dan koordinat) B. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DAMPAK    VI. 2010 44 43 44 . PENDAHULUAN  A. MANFAAT    V. Pemecahan Masalah   III. PELAKSANAAN  A. Tahap Pelaksanaan D. Masalah E. HASIL    IV. Masukan C. Latar Belakang B. Tujuan dan Sasaran   II.  Lampiran 5   Outline Laporan Akhir I. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. KESIMPULAN DAN SARAN  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

1. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota d. Apakah sudah disusun desain .3. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dangkal b. Juknis 3. Organisasi/kelembagaan 4. SID 4. Apakah calon lokasi mudah diakses e. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. 2010 2 . 5. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. RAB a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Calon Petani a. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak Ya/tidak 1 1 No. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Desain Sederhana a. I PERSIAPAN 1.Lampiran 6 Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah No. Apakah ada potensi sumber air tanah dangkal c. URAIAN KEGIATAN f. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah RUKK sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Juklak 2.2.

Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. dalam pelaksanaan dan akhir) 5. Pelaporan a. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 4 . Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. Apakah mekanisme pencairan rekening kelompok melalui "contra sign" f. Monitoring a.4. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi 4. SK KPA. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. Evaluasi URAIAN KEGIATAN a. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum IV MONEV DAN PELAPORAN 4.1. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum. Apakah sudah dibuat laporan akhir KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum V PERTANGGUNGJAWABAN 5.2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. SK Tim Teknis /Koorlap KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada III PELAKSANAAN 1. Apakah sudah dibuat pembukuan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. PPK.1. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain 2. URAIAN KEGIATAN e.No. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. 2010 3 3 No. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bendahara Pengeluaran 7.2. 4. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3.3. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.3.

Kekeringan yang menyebabkan terjadinya kegagalan usaha pertanian. Pemanfaatan air irigasi sebagai suplesi umumnya dilakukan pada musim hujan (MH) dan musim kemarau pertama (MK1) pada saat terjadi kekurangan air baik di lahan tadah hujan maupun lahan kering. Menyadari hal tersebut. danau. pemerintah bersama masyarakat telah membangun berbagai fasilitas irigasi dengan berbagai sumber air irigasi. di lahan usahatani dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah. A. tersebut Pengembangan irigasi air tanah dalam menjadi pilihan ketersediaan sumber air permukaan sangat terbatas sehingga secara teknis.pasokan air sangat terbatas. sebagian tersimpan dalam waduk. perkebunan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sehingga pasokan air untuk pertanian menjadi terbatas. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sementara kebutuhannya BAGIAN II PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM I. 2010 1 2 . tersimpan sebagai air tanah/air bawah tanah (ground water). pada musim kemarau. 2010 relatif tetap. Keragaman curah hujan (rainfall variability) menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal) menyebabkan jumlah. Secara praktikal. 1 Sedangkan untuk musim 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dapat digunakan secara langsung untuk air irigasi. pemanfatan air tanah untuk irigasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian : (a) sebagai suplesi pada saat terjadi kekurangan air dan (b) sebagai sumber air utama. sehingga seringkali terjadi ketidaksesuaian antara yang diperlukan dan yang tersedia. sosial dan ekonomi tidak layak dilakukan. Keragaman ini seringkali sulit diprediksi dan diantisipasi akibat dinamika atmosfer yang luar biasa. Teladannya. waktu dan penyebarannya curah hujan berbeda antar wilayah dan antar waktu. maka curah hujan merupakan sumber air andalan utama untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. dan peternakan adalah teladannya. Salah satu sumber air irigasi potensial yang belum optimal digunakan adalah yang pemanfaatan menjanjikan sumber apabila air di tanah lokasi dalam. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis basah.

Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas kira-kira 130 ha. Meningkatkan ketersediaan air pada kawasan pakan ternak. mendukung usaha pertanian tanaman pangan. Air Tanah Dalam : air yang berada di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah dengan kedalaman > 60 meter. c. 2010 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengertian 1. luas areal tanam. Terbangunnya irigasi air tanah dalam sebanyak 13 unit (alokasi kegiatan berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada Lampiran 1). a. perkebunan. d. 2. dan peningkatan produktivitas usaha tani. dan peternakan. Berkurangnya kegagalan usaha tani karena kekurangan air irigasi/kekeringan. b. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah : a. Meningkatkan kualitas produk pertanian dan pendapatan petani. Meningkatnya produksi usaha tani melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas. Air tersebut terdapat dalam ruang pori dalam lapisan tanah atau batuan yang mengandung air jenuh yang disebut akuifer. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman).kemarau dan MK2 umumnya digunakan sebagai sumber air utama. b. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Akuifer : lapisan batuan jenuh air tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis. d. c. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian khususnya pada lahan kering dan lahan tadah hujan dalam upaya C. hortikultura. 2010 4 3 4 . Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tujuan dan Sasaran 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.   B. 2.

pengaturan. 9. 7. penyaluran dan pembagian. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 8. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi permukaan. irigasi air tanah. Sumber Air Irigasi : tempat/wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 6 5 6 . irigasi rawa. pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi.4. 11. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumur bor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. di atas. dan pembuangan pertanian. pengambilan. garis bujur dan ketinggian di atas permukaan laut. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan. 2010 10. Sumur bor produksi air bawah tanah : sumur bor yang dibuat untuk mengambil air bawah tanah pada atau lebih lapisan ekuifer tertentu. Cekungan Air Tanah : suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. irigasi tambak. 5. Irigasi : usaha penyediaan. di atas. 6. ataupun di bawah permukaan tanah.

2. dll). konsultan atau kontraktor. salah satu syarat penting yang harus dipenuhi apabila suatu lokasi akan diajukan/dipilih sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah. terdapat dua faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan irigasi air tanah dalam agar dapat berhasil dengan baik. dan lain-lain). Informasi tentang potensi dan kondisi air tanah di suatu wilayah dapat diperoleh dari dokumen atau peta yang terdapat di instansi seperti Dinas Pertambangan.II. kesediaan petani dalam melakukan OP. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM Dengan pertimbangan teknis pengembangan yang relatif sulit dan biaya yang relatif tinggi. Selain kegiatan itu. Mempunyai kedalaman potensi lebih sumber 60 air meter tanah di pada bawah dari permukaan tanah. Dinas PU. dan lain-lain yang akan digunakan irigasi air sebagai tanah dasar dalam. yaitu: (a) pemilihan lokasi dan (b) persyaratan petani dengan kriteria tertentu sebagai berikut : Persyaratan Lokasi 1. atau air permukaan tidak mencukupi kebutuhan airnya. khususnya sejak tahap pengeboran sampai selesai konstruksi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Secara umum. Lokasi pengembangan diutamakan lahan kering atau tadah hujan dimana pada musim kemarau tidak terdapat sumber air permukaan (sungai. 2010 Pada lahan irigasi 8 yang telah memiliki jaringan irigasi namun airnya 7 7 8 . jenis komoditas yang sesuai untuk dikembangkan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Daerah (kabupaten/kota) yang melakukan pengembangan irigasi air tanah dalam diwajibkan untuk menunjuk seorang pendamping dari dinas pelaksana yang bertugas mengawasi pelaksanaan pembangunan (konstruksi) irigasi air tanah dalam tersebut. 2010 (kontaktor) bermutu berpengalaman dalam pengembangan irigasi air tanah dalam sehingga kegagalan sejak tahapan pengeboran Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. danau. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pertimbangan Sedangkan dana atau yang kelengkapan data dan informasi bagi pengembangan digunakan untuk melaksanakan SID merupakan dana yang berasal dari daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan ke daerah). dapat dihindari. maka sebelumnya perlu dilakukan SID (termasuk survei geolistrik. perlu memilih/menunjuk yang pelaksana dan A. waduk.

namun tidak mengalami kebanjiran pada musim hujan. 3. B. terutama komoditas perkebunan dan peternakan. dan peternakan (skala ekonomis dengan memperhitungkan jumlah minimal ternak) 5. Belum sejenis. 2. 2010 10 9 10 . tani/P3A/P3AT Kelompok atau bersedia apabila tani/P3A/P3AT dibangun irigasi air tanah dalam. 4. Petani berinisiatif untuk mengusahakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Petani di lokasi memerlukan adanya irigasi air tanah dalam dan bersedia memanfaatkan serta memelihara/merawat dengan baik. Lahan usaha yang akan diairi merupakan lahan milik petani. mengoperasikan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Mampu dan 5. 7. hortikultura. 3. Usaha tani yang dikembangkan adalah tanaman pangan. Calon lokasi tidak terdapat sumur air tanah dangkal yang sudah dimanfaatkan untuk mengairi lahan usaha tani atau tidak direncanakan untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. perkebunan. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan pada musim kemarau.tidak mencukupi dapat dibangun irigasi air tanah dalam. Diutamakan bagi petani yang telah membentuk Kelompok membentuk 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. menyediakan pernah dana memelihara/merawat operasional dan pemeliharaan. 6. Pemerintah Daerah mendukung kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam dan apabila petani belum mampu menyediakan dana operasi dan pemeliharaan bersedia menyediakan dana operasi dan pemeliharaan sampai tahun ke 2. mendapatkan bantuan/kegiatan                 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Persyaratan Petani 1. 2010 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Komponen penunjang bila memungkinkan adalah Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pompa Jenis yang biasa digunakan submersible disesuaikan dengan kebutuhan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan lain-lain. selang pembuang. bensin. pompa dan turbin. 2010 air tanah dalam terlebih pengambilan. dalam Minimal ada 3 (tiga) komponen utama dan 1 pengembangan (c) irigasi rumah air tanah dalam. A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 12 11 12 . 2. Sumur Untuk memanfaatkan dahulu sumur harus sebagai dapat sumber dibuat tempat Sumur 11 tersebut dibuat dengan cara pengeboran dengan kedalaman air tanah dalam dari permukaan tanah > 60 m.  1. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak tenaga diesel. Pompa Air dan Perlengkapannya Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah ke permukaan tanah. pompa umumnya pompa sentrifugal. maka diperlukan upaya pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya ke permukaan tanah serta penyaluran ke lahan usaha tani. pipa cassing. atau motor listrik.  III. Gambaran rinci masing-masing komponen diuraikan pada bagian berikut ini. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM Komponen Irigasi Air Tanah Dalam Untuk mendayagunakan air tanah dalam sebagai sumber air irigasi. Perlengkapan yang diperlukan agar pompa air agar dapat berfungsi mengangkat atau mengambil air dari dalam tanah antara lain selang dan pipa hisap. (satu) komponen penunjang yang perlu diperhatikan Komponen utama : (a) sumur (b) pompa air dan perlengkapannya pompa. pipa jambang.

Rumah Pompa/Genset Pompa untuk air tanah dalam atau genset pompa air tanah dalam biasanya berukuran besar sehingga pompa/ genset diletakkan secara permanen (tidak bersifat mobile). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. bangunan pengukur debit dan katup penutup yang berfungsi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 14 13 14 . Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usaha dibuat/dibangun jaringan tanah terdiri irigasi (JIAT). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dari air untuk bak penampung. padi sawah umumnya saluran. 4.3. bangunan tani. Pembangunan secara terutama ditujukan untuk pompa dan atau mesin penggerak/genset yang berukuran besar dan dipasang menetap (stasioner). Untuk melindungi pompa air serta motor penggeraknya/genset dari gangguan pencurian dan pengaruh cuaca rumah yang pompa dapat menyebabkan permanen     Rumah Pompa/Genset Air Tanah Dalam kerusakan lebih dini perlu dibuatkan rumah pompa. pengatur berupa pintu dan boks bagi. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Pompa : tipe submersibel atau turbin. Untuk komoditi perkebunan. peternakan.untuk mengatur arah aliran dalam pipa/jaringan irigasi. disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer tertekan. B. Debit output pompa minimal 10 liter/detik Box pembagi tipe jaringan perpipaan Box pembagi Katup outlet b. 2010 16 15 16 . Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.                    Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) disesuaikan dengan kebutuhan. dan tanaman pangan lainnya JIAT hortikultura JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Potensi air tanah yang tinggi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur : Sumur bor Kedalaman sumur : > 60 meter . Untuk mengurangi kehilangan air dalam penyaluran. Kriteria Teknis a. 2010 15 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

mudah dioperasikan. Bak penampung/distribusi : konstruksi beton. Bahan. tersedia suku cadang. Jaringan irigasi/distribusi : terdiri dari box-box bagi dan saluran. 2010 disesuaikan dengan debit air 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. c. e. lantai dasar cukup kuat menahan beban dan getaran mesin. ukuran dan jumlah disesuaikan dengan kebutuhan. Rumah pompa : bangunan permanen.kapasitas debit motor penggerak atau tenaga listrik. ukuran disesuaikan dengan kebutuhan. dan dapat diterima petani setempat. peralatan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mudah dipasang. d. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mudah dalam perawatan. minimal yang telah ditentukan. bahan dari besi atau PVC diutamakan yang telah memiliki/memenuhi SNI. f. kapasitas minimal. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan mesin yang diadakan adalah memiliki jaminan kualitas seperti Standard Nasional Indonesia (SNI). Pipa-pipa : sesuai dengan debit air : motor diesel atau bensin saluran terbuka atau perpipaan. cukup kuat/tahan getaran mesin. disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan lokasi. 2010 18 17 18 .

pelatihan. dan (g) pembiayaan. Contoh  Pendugaan  Potensi  Air  Tanah  Dengan  Menggunakan  Metoda GEOLISTRIK Pada Kedalaman < 100 m (40­100 m)                            A. baik dari segi teknis maupun sosial. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.IV. pembinaan. 2010 19 20 19 20 .   dapat dilakukan dengan survey “geolistrik”. Survei investigasi dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi. b. petani. Calon lokasi. Survey Investigasi a. (c) operasi pemeliharaan. petani. 1. (b) (e) konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dalam. (f) pemanfaatan. dan jenis komoditas yang sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dalam. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan jenis komoditas yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dalam. Survei potensi air tanah dalam           Contoh Hasil Geolistrik : Potensi Air Tanah >130 m (130­160 M)  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN Untuk mengoptimalkan pengembangan irigasi air tanah dalam. Survey Investigasi dan Desain Sederhana Survey investigasi dan penyusunan desain sederhana dapat dilaksanakan secara swakelola oleh petugas Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait di daerah seperti dinas yang menangani bidang pengembangan air tanah yaitu Dinas Pertambangan (untuk mendapatkan data/informasi dan perizinan) dengan melibatkan petani penerima manfaat. paling tidak ada beberapa hal penting yang harus diperhitungkan dalam pengembangannya : (a) survei dan investigasi dan desain (d) (SID).

jaringan 3. Potensi air tanah dalam untuk irigasi. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dalam Rancangan/desain sederhana irigasi air tanah dalam. Kebutuhan bahan. 2010 22 21 22 .                                c. Permasalahan dalam usahatani. dan irigasi yang akan dibangun. dan mesin 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan hasil survey investigasi paling tidak memuat : Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. Kondisi usaha tani dan jenis komoditas yang layak dikembangkan. Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan desain ini adalah agar air tanah dalam yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. kedalaman sumur. lokasi rumah pompa. 2010 Kondisi prasarana dan sarana irigasi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. peralatan. meliputi kedalaman dan debit andalan (peta hidrogeologi dan pengujian geolistrik). letak/ lokasi sumur. desain rumah pompa. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran).

Berdasarkan hasil SID akan dapat diketahui 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. jumlah spesifikasi kebutuhan pipa-pipa. Dengan diketahuinya debit air/sumur dan luas oncoran (command area). spesifikasi rumah pompa. Kebutuhan Anggaran/Rencana Kebutuhan Biaya (RAB) Mencakup perkiraan kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan. 2010 23 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka dapat ditentukan jenis pompa dan mesin penggerak serta perlengkapan pipa-pipa maupun desain jaringan irigasi air tanahnya/jaringan distribusi. spesifikasi motor penggerak pompa. rumah pompa. peralatan. pompa air dan perlengkapannya. antara lain Keputusan Presiden No. dan jaringan irigasi. pemasangan pipa-pipa. maka pihak Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan. Penunjukan pelaksana pengembangan irigasi air tanah dalam berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku. munculnya lumpur dan atau gas beracun dan lainlain selama dalam proses pengeboran. Jika dalam pengembangannya ternyata secara tidak sengaja atau sengaja akibat telah seperti menyebabkan/menimbulkan kebutuhan bahan. Perkiraan kebutuhan biaya dijadikan dasar dalam penyusunan harga perkiraan sendiri. Pada saat pelaksanaan uji pemompaan. Berdasarkan kedalamam dan potensi air tanah. 3. perlu dilakukan pengukuran terhadap kapasitas atau debit air yang keluar (lt/menit atau lt/detik). 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Beserta Perubahan-perubahannya. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dan dapat ditentukan spesifikasi pompa air. B. 4. 4. Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam 1. dan mesin yang diperlukan. 2010 24 23 24 . Untuk mendapatkan hasil pengeboran air tanah dalam yang optimal. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui tinggi muka air tanah yang statis/tetap (Static Water Level/SWL). pengembangan sumur. 6. 5. Konstruksi/Pengembangan irigasi air tanah dalam dilaksanakan secara kontraktual. peralatan. perlu dilakukan uji pemompaan (pumping test) minimal 2 x 24 jam.

/Kota) diharuskan membuat suatu Berita Acara tentang Serah Terima Pengelolaan dari dinas kepada petani. pemerintah daerah/satker (Kab. teknis budidaya. pemilihan komoditas yang diusahakan. Pemanfaatan Setelah konstruksi selesai. pasca panen. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kegiatan/kontraktor lingkup Pertanian diharuskan dan Dinas E. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.pelaksana (Satker/Dinas lanjut. Pemeliharaan) telah diserahkan Dengan kepada demikian. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas irigasi yang telah dibangun. Besarnya iuran pelayanan irigasi ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok. panen. secara resmi pengelolaannya (Operasi dan petani/kelompoktani (Contoh Berita Acara dapat dilihat pada Lampiran 2). pengolahan. 2. Pembinaan 1. F. Pelatihan 1. Operasi dan Pemeliharaan pompa. petani/kelompoktani P3A penerima D. 2. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam. dan jaringan irigasi air tanah dalam diserahkan kepada manfaat. 3. Pembinaan terhadap peserta penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/ Kota secara berkelanjutan. rumah pompa. dan pemasaran hasil. melaporkan kejadian tersebut ke dinas terkait Pertambangan) untuk penanggulangan dan tindak Operasi dan Pemeliharaan 1. C. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan pompa air irigasi dan jaringan irigasi air tanah dan serta pelatihan usahatani. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani penerima manfaat. 2. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dalam dilaksanakan oleh pihak ketiga (pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah). 2010 26 25 26 .

operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam yang cukup tinggi. potensi air tanah 4. APBD Kabupaten/Kota. I. 2010 MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran berikut : untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah sebagai A. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dalam dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. 2010 28 27 28 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. rumah pompa. dan/atau partisipasi masyarakat. Outcome : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan dalam potensi air tanah 3. 1. Kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi. 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. G. Output : Terbangunnya irigasi ir tanah dalam 2. Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dalam dipergunakan untuk pembuatan sumur dalam. 2. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. Pembiayaan 1. Dengan pertimbangan biaya untuk investasi. pompa air dan mesin penggeraknya.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Impact : Peningkatan produksi pendapatan petani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka pemanfaatannya harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin.V. survei investigasi & desain (SID). jaringan irigasi/ distribusi. Benefit : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usahatani dengan memanfaatkan dalam. pengadaaan pipa-pipa. usahatani dan B. Monitoring dan Evaluasi 1. dan pembinaan dibebankan pada anggaran APBD Propinsi.

Terdapat 2 (dua) jenis laporan yang harus dibuat. 2.3 dan 4. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas Pertanian Propinsi dengan tembusannya disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat Pengelo-laan Air).q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air Jl. Pelaporan 1. 3. yaitu Laporan Bulanan dan Laporan Akhir. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan). propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. C. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.4 (diisi di tingkat Propinsi). berisi kemajuan pelak-sanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Agar lebih informatif dan komunikatif. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. D. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. Taman Margasatwa No. dan Pusat. 4. Laporan Akhir agar dilengkapi Laporan dengan SID dan dokumen-dokumen Kontrak serta seperti foto-foto 29 dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dalam. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan ke-giatan yang disusun setiap bulan. Evaluasi dilakukan secara berkala oleh Satker Dinas di Kabupaten/Kota. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Satker Dinas di Propinsi. Laporan Akhir agar mengikuti outline seperti pada Lampiran 5.1. Laporan Bulanan disusun mengacu pada Lampiran 4. 2010 30 29 30 . 4. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dalam selesai.2.2 (diisi di tingkat Kabupaten/Kota) serta 4. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

di kedalaman-kedalaman tertentu dengan debit-debit tertentu yang mana sebagai dasar apakah titik-titik yang diinginkan untuk pengeboran irigasi tanah dalam dapat dilaksanakan. Dari hasil uji geolistrik ini akan didapat dugaan potensi air tanah di lapisan aquifer tertekan. harus dimilih kontraktor pengeboran yang sudah ahli dan berpengalaman dalam pengeboran irigasi tanah ini dalam. 2010 32 31 32 . Dari dua langkah diatas sudah dapat gambaran apakah daerah/lokasi yang diinginkan ada potensi atau tidak untuk pengeboran irigasi tanah dalam. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA TITIK LOKASI PENGEBORAN 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kemudian yang tak kalah penting karena proses Pertambangan/ESDM pengeboran relatif sulit maka. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dll. Dinas ini mempunyai data base dan peta-peta seperti Peta Geologi. Melihat sumur-sumur atau irigasi tanah dalam di sekitar daerah/lokasi yang diinginkan untuk titik pengeboran. 4. 3. apakah potensi air tanahnya bagus (studi kasus/pertimbangan). Geohidrologi. Peta dan data tersebut sebagai gambaran awal apakah daerah/lokasi yang akan dipilih merupakan lokasi/wilayah/titik pengeboran yang memiliki potensi air tanah untuk Irigasi Tanah Dalam. juga Biasanya di daftar Dinas rekanan/kontraktor terdapat setempat atau propinsi. 2. Peta Cekungan Air Tanah.atau tidak Umumnya kedalaman untuk 31 Pertambangan/ESDM setempat atau propinsi. Berkoordinasi dengan Dinas UNTUK MENENTUKAN menemukan lapisan aquifer tertekan ini lebih dari 60 m. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kemudian untuk menentukan titik-titik pengeboran dilakukan dengan uji Geolistrik.

Riau Kab. Departemen Pertanian. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Cianjur Kab. Jawa Barat Kab. Bangli Jumlah Total 2 1 7 1 1 1 1 3 1 4 4 3 3 2 2 1 Horti 1 1 Bun Nak 2 1 1 4 4 3 3 2 2 1 1 1 1 13 Jumlah (Unit)   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 2 Unit Hortikultura Perkebunan : 1 Unit : 7 Unit Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 34 33 34 . Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. 2002. 2003. Laporan Akhir. Bandung Barat 2 Prop. Jakarta Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Pradnya Paramita. Ditjen Sumber Daya Air. Irigasi. Bali Kab. Banyuasin 6 Prop. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Kampar 5 Prop. Madiun 4 Prop. Hidrologi Untuk Pengairan. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Jakarta. Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Dit. Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. 2004. Suyono dan Takeda. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. Jakarta. Departemen Pertanian. Kensaku (editor). 2004.         Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. PT. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumatera Selatan Kab. ---------------. Jawa Tengah Kab. Jawa Timur Kab. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Pati 3 Prop. Jakarta. Gita Rencana Multiplan.DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Sosrodarsono. PT. 2004. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DITJEN PLA TAHUN 2010   Sub Sektor No Pusat/Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. Departemen Pekerjaan Umum.

..... Pada hari ini ……… Tanggal …………....... . 2010 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA. Kec………………..Nomor ………………………………...... ……………………………………………… ………………………………………………… ………………………………………………… Bertindak untuk dan atas nama Dinas …………………………………..... Kabupaten …………… Propinsi …………………..... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA............... A 2010   BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN No..... kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1....... dengan spesifikasi sebagai berikut : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA....... Nama Jabatan Alamat : ……………………………... Nama Jabatan Alamat : ……………………………………………......Peternakan : 3 Unit Lampiran 2 Contoh Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Irigasi Tanah Dalam T.. 2..... : Kepala Dinas ………………………………….... PIHAK PERTAMA menyerahkan pengelolaan ……………………… ……………………………………………………………………………… kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima alat tersebut dari PIHAK PERTAMA sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama/Kontrak Kerja antara …………………………………….. Bulan ………………… Tahun dua ribu ……….............. dan………………………………........ .... .................... : Ketua Kelompoktani ……………………… : Jl........ yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA... tanggal ………………… dalam kondisi lengkap dan dapat dioperasionalkan dengan baik..... Kab………………… Prop………………… : Jl. Desa …………. Bertindak untuk dan atas nama Kelompok tani ……………………………..... 2010 36 35 36 ..... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA............

.. Dst…. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. …………………………………...………2010               PIHAK KEDUA Ketua Kelompoktani .. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam T. 2... ……………………………………. ……………………………………. Spesifikasi alat/barang Spesifikasi alat/barang Dst….. ..                     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.....           …………………………….. 2010 38 37 38 . 3.         …………………... 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA...1. 4.A 2010   Lampiran 3 Demikian Berita Acara Serah Terima Pengelolaan ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebaik-baiknya.. NIP. PIHAK PERTAMA Kepala Dinas …………….

. Sumur Resapan 11. 4. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.………………. Rehab JIDES 3.Lampiran 4.*) Kab/Kota ………………… 1. ……………………. Air Permukaan 7. Pengelolaan Air 5.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. Pompa 8..1 ` Form PLA. Lampiran 4..01 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. 4. Dam Parit 10. 2. …………………………. : …………………………….. 2010 Ctt: 1. Dam Parit 10. 8. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 2. Sumur Resapan 11. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. P I P 12.. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. 2010 40 39 40 . Balai Subak 13.…………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Harsono RM No. : …………………………….go. Balai Subak 13. : ……………………………. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. **) Coret yang tidak perlu ………………………. Irigasi Tanah Dangkal 5. Rehab JITUT 2. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 6. TAM 4. Irigasi Tanah Dalam 6. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. P I P 12. 3. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. : …………………………….*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………. : ……………………………..id 3.. 3 Ragunan Jaksel. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. P I P 12. Sekolah Lapang 2 Dinas…………………….id 3. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. : ……………………………. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH 9. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. 2010                 39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.go. Air Permukaan 7. Aspek Kegiatan 3 1. 5... Dam Parit 10.2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 : ……………………………. 3.02 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T.. Balai Subak 13. Embung 9.A.. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Irigasi Tanah Dalam 6. 7. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.. Pompa 8. Sumur Resapan 11. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Harsono RM No.. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Form PLA. : ……………………………. : ……………………………. Sekolah Lapang ……………………….. : ……………………………. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Embung 9..

contoh : a.5 ton X 1.id 3.250 ton b. Pompa 8. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Sumur Resapan 11. c. ………………….000 X 1. 1 A. 2006.. 2010 42 41 42 . sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. : ……………………………….000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp.P I P 12. 25. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Subsektor : ………………………………. 25.000. 2006.000 = Rp. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.5 X 5 Ton = 1. / Kg atau Rp. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. : ………………………………. 25. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. : ………………………………. 25. TAM 4. contoh : a.go.. c.5 ton/Ha dan IP 150 %. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. 2010 …………. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. Harsono RM No.000..000 X 1. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 25. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. Air Permukaan 7.id 3 Manfaat harus terukur.. Rehab JIDES 3. 25.4 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. Embung 9. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2.5 ton/Ha dan IP 150 %.go. 25.Lampiran 4.000. Manfaat harus terukur.………….000.. Irigasi Tanah Dalam 6. 2007.Balai Subak 13. Harsono RM No. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.5 ton X 1. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1..000.000 = Rp. 25.     Form PLA.………….   Lampiran 4.3 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA.000. ………………………… 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten           41             Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..03 Form PLA. : ……………………………….5 = 750 ton ………………. : ………………………………. 2010   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA..250 ton b. Rehab JITUT 2. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 No.04 No. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. / Kg atau Rp.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. 1 A. 2007. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.. Irigasi Tanah Dangkal 5. Dam Parit 10. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.5 = 750 ton Catatan : 1.5 X 5 Ton = 1. : ……………………………….

Latar Belakang B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tahap Pelaksanaan D. Tujuan dan Sasaran II. PELAKSANAAN A. Masalah E. Lokasi (administratif dan koordinat) B. HASIL IV. DAMPAK VI. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemecahan Masalah III. KESIMPULAN DAN SARAN Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PENDAHULUAN A.      Lampiran 5 Outline Laporan Akhir   I. MANFAAT V. 2010 44 43 44 . Masukan C.

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. RAB a. Desain Sederhana a. Apakah calon lokasi mudah diakses Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak 81 81 No.1. 2010 82 .2. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Juklak 2. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. SID 4. I PERSIAPAN 1. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat f. Apakah ada potensi sumber air tanah dalam c. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b.Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Lampiran 6 No. Juknis 3. Organisasi/kelembagaan 4. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 82 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. URAIAN KEGIATAN e. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 5. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dalam b. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Calon Petani a. Apakah sudah disusun desain .3. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4.

SK Pemeriksa 10. Pembangunan JIAT URAIAN KEGIATAN f. Pembangunan rumah pompa 2. Evaluasi a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Mobilisasi alat b. SK KPA. RKS dan HPS 11. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b.No. Kontrak pekerjaan KETERANGAN Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada sudah/belum Ada/tidak ada II PELAKSANAAN 1. 2010 84 . Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b.1. PPK. g. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain a. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 84 Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. SK Tim Teknis /Koorlap 9. Pemasangan pipa-pipa casing d.2. Pengeboran c. Uji Pemipaan e. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring 4. Monitoring a. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Ya/tidak Sudah/belum III MONEV DAN PELAPORAN 4. URAIAN KEGIATAN f. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Bendahara Pengeluaran 7. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. SK Penetapan Panitia barang dan Jasa 8. 2010 83 No. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c. Proses tender 12. Pemasangan pompa Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 83 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

13" 4° 30' 41.04" 96° 34' 56. Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.31" 96° 52' 14. Apakah sudah dibuat laporan akhir IV PERTANGGUNGJAWABAN 5.49" 3° 31' 15.18" 4° 22' 13.72" 4° 48' 20. Kabupaten Aceh Utara 2.23" 97° 1' 9. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum.37" 4° 36' 5.82" 96° 34' 38.15" 4° 48' 8. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Tengah 2. Kabupaten Aceh Besar 2. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.81" 97° 46' 41.16" 96° 36' 35. Kabupaten Pidie 2.64" 4° 34' 58.66" 5° 15' 25. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Provinsi Sumatera Utara KETERANGAN b x x x x x x x x x x c d 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Banda Aceh Sigli Meulaboh Kemiki Jeunib Peudada Lampahan Telege Lhokseumawe Langsa 95° 14' 13.73" 5° 12' 16.62" 4° 49' 57. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.66" 4° 33' 48.24" 5° 15' 56.14" 5° 31' 18. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. 4. NAD B.2.69" 96° 23' 5. Kabupaten Aceh Timur A.13" - 5° 39' 37. dalam pelaksanaan dan akhir) 5.4. Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Apakah sudah dibuat pembukuan Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 85 85 Lampiran 7 DAFTAR CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA   NO. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.78" 95° 48' 41.46" 96° 40' 54.41" 97° 47' 15.34" 95° 42' 55. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Tengah 2. Kabupaten Pidie 2.31" 96° 51' 14.137" 4° 10' 45. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Langsa.1.84" 5° 1' 41. 2010 86 86 .84" 96° 11' 54.22" 98° 17' 16. Kabupaten Pidie 3.77" 96° 9' 41. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b.3. Pelaporan URAIAN KEGIATAN KETERANGAN a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.3. Kabupaten Aceh Barat 2.87" 4° 56' 33.31" 96° 12' 47. Kabupaten Aceh Tengah 2.No.68" 5° 15' 49.44" 5° 16' 30.19" - 95° 51' 34.16" 5° 8' 4. Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Pidie Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.13" 97° 0' 14.88" 1470 619 4500 281 310 1198 500 292 2913 853 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.89" 96° 59' 1.

14" - 98° 48' 27. Kota Medan Provinsi Sumatera Utara 1.05" 97° 29' 1.53" 2° 18' 13.37" 99° 1' 31.63" 1° 11' 52.85" - 2° 20' 29. Kabupaten Tapanuli Selatan B.13" -0° 43' 48.06" 1° 15' 44. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.62" - 3° 55' 8.53" 99° 35' 16. Kabupaten Asahan 4.36" 183 269 351 14 Sibulus Salam 97° 35' 46. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman A.18" - 104° 39' 38.88" 1° 59' 22.71” 5331 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 88 88 .35” -1° 0’ 28.99" 97° 31' 50. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan B.81" 2438 648 483 875 42 20 17 795 21799 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan A. Kabupaten Pelalawan 6.18" 3° 34' 24. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan B.47" 99° 29' 54.40" 3° 42' 0.51" 1° 47' 34.26" 0° 47' 27.89" 99° 48' 19.81" 98° 40' 50. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Karo A.87" 0° 47' 3. Kabupaten Siak 5.21" 99° 36' 44. Kabupaten Karo 5. Kabupaten Rokan Hilir 2. Kabupaten Labuhan Batu 2. Kabupaten Padang Pariaman 3. Kabupaten Pelalawan 6. Kabupaten Tapanuli Tengah 2.90" 0° 33' 29.89" 69776 x 32 Padang-Pariaman 99° 41’15.38" 1° 26' 58. Kabupaten Tanahdatar KETERANGAN b c d 25 26 27 28 29 30 Banjarampa Panyambungan Pasaribuhuan Padangsidempuan Natal-Ujunggading Lubuksikaping 99° 3' 43. Kabupaten Indragiri Hilir B. Kabupaten Pasaman 2. 2010 87 87 NO. Provinsi Riau 1.16" 1° 11' 7.46" 2° 40' 43.18" 2° 5' 42. Kabupaten Bengkalis 4. Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara 1.42" - 4° 7' 39.90" 99° 0' 58.38" 3° 5' 45.58" 2° 11' 18.80" 3632 15 Medan 98° 6' 40. Kabupaten Tanjung Jabung Timur C.11" 0° 0' 0.88" 98° 5' 16. Kabupaten Tapanuli Selatan A.15" 97° 56' 25.60" 97° 12' 55.31" 1° 7' 15.34" 97° 2' 35.18" 99° 13' 32.26" -2° 0' 1.71" 98° 47' 33. Kabupaten Bengkalis 4. Kabupaten Bukittinggi 5. Kabupaten Rokan Hilir 3. Kota Dumai 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 1.45" 2° 55' 5.17" 97° 28' 42.30" 0° 5' 25.63" 97° 15' 19. Kabupaten Siak 5. Kabupaten Langkat 2.91" 1° 57' 30.69" 97° 44' 39.23" 2° 19' 46.47" 99° 5' 40.78" - 3° 1' 26. Provinsi Sumatera Utara x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.98" - 1° 15' 6.05" 99° 24' 33.56" - 99° 15' 7. Kabupaten Simalungun 6.98" 99° 7' 51.03" 0° 58' 11. Kabupaten Deli Serdang 3. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Barat 1.91" 102° 32' 3.69" 0° 58' 8.70" 2° 43' 18. Provinsi Riau 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Kabupaten Langkat KETERANGAN b c d 11 12 13 Siongol-ongol Kotafajar Kutacane 97° 35' 23. Kabupaten Indragiri Hulu 7. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara 1.95" 99° 59' 35.77” - 0° 21’ 30.65" 98° 54' 28. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara B.19" - 97° 43' 16. Kabupaten Sidikalang 2.94" - 100° 8' 54.56" 1° 14' 55.80" 3° 13' 15. Kabupaten Tobasamosir 2.26" 1° 39' 7.13" - 2° 59' 11.306" 19786 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Sidikalang Samosir Porsea-Prapat Tarutung Gunungsitoli Lahewa Sirombu Kuala Batangtoru Pekanbaru 98° 8' 51.79" 98° 42' 36.52" 97° 23'15.23" 0° 45' 26. Kabupaten Kampar Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan A.70" 2° 25' 16.82" 211 242 225 240 2825 217 x x x x x x 31 Jambi-Dumai 100° 45' 27.44" 0° 53' 18. Kabupaten Rokan Hullu 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Padang 4. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2. Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara 1.60" 1° 12' 17.96" 98° 59' 42.38" 100° 13' 5.58" 2° 45' 33. Provinsi Jambi 1.99" 99° 50' 38.98" 99° 47' 38.NO.12” - 100° 34’ 41.70" - 98° 27' 50.66" 1° 28' 12.

48” -0° 30’ 2.81” - -0° 33’ 43.84” -0° 53’ 31.60” - -4° 16’ 47.58” - 100° 38’ 35. Provinsi Jambi Kabupaten Muara Bulian A.62” - 103° 37’ 56. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A.71” 1534 x 45 Karangagung 103° 21’ 0. Kota Solok 2. Kabupaten Sorolangun Bangko 2.76” -0° 19’ 43. Provinsi Jambi 1.8” 6975 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Sumatera Selatan 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bengkulu Utara 3.57” - 100° 51’ 14.81” - 100° 46’ 21. Kabupaten Tanah Datar 4. Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Sorolangun Bangko A. Kabupaten Tanah Datar 2.19” - 103° 35’ 45.73” - -0° 23’ 52. Kabupaten Limapuluh Kota 2. Kabupaten Ogan Komering Ilir D.22” 2810 x 42 Sungaipenuh 101° 13’ 23.20” 668 35 Alanglawas 100° 38’ 31. Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat 1.29” - -3° 23’ 46. Kabupaten Solok B.58” 5510 40 Painan-Lubukpinang 100° 20’ 52. Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Musirawas 2. Kabupaten Painan 2. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Utara x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 89 89 NO. Kabupaten Musirawas B.43” -2° 58’ 23.03” - -3° 1’ 14.61” -1° 45’ 10.28” - 102° 52’ 44.21” - -1° 49’ 19.99” 296 34 Payakumbuh 100° 17’ 42.80” - 100° 51’ 17. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5. Kabupaten Muarabulian 2. Kota Bengkulu 2.93” 167 36 Batusangkar 100° 20’ 19. Kabupaten Tanah Datar 4. Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong C. Provinsi Jambi 1. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musirawas Provinsi Jambi 1.82” - 101° 45’ 8. Kabupaten Sorolangun Bangko A. Kabupaten Rejang Lebong 4. Kabupaten Bungo Tebo B.88” -2° 12’ 27.60” - -2° 19’ 45. 2010 90 90 .82” - -2° 0’ 0. Kabupten Bungo Tebo Provinsi Jambi Kabupaten Sungai Penuh A. Kabupaten Solok 5. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara Provinsi Bengkulu 1.82” -0° 9’ 29. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Solok B. Kabupaten Padang Pariaman 3.03” - -4° 53’ 7.91” - -0° 33’ 1. Kabupaten Bungo Tebo 2.55” 1325 38 Tulak 101° 5’ 0. LOKASI a Kabupaten Solok KETERANGAN b c d 33 Bukit Tinggi 100° 20’ 7.16” - -0° 50’ 45.27” 1794 x 47 Lubuklinggau-Muaraenim 102° 36’ 4.14” 2915 39 Muarabungo 101° 27’ 20.89” - 105° 0’ 49.NO.24” -0° 17’ 53.92” 1235 x 43 Bangko-Sarolangun 101° 30’ 54.96” -1° 7’ 53.28” 10460 Provinsi Sumatera Barat 1.97” - 101° 57’ 1. Kabupaten Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat 1.89” - -3° 51’ 57. Kabupaten Bukit Tinggi 3. Kabupaten Lahat 3. Kabupaten Sungai Penuh 2. Kabupaten Sungai Penuh 3. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 6. Kabupaten Indragiri Hulu 2. Kabupaten Musi Banyuasin 2.14” - 103° 31’ 38. Kabupaten Prabumulih 4. Kabupaten Ogan Komering B. Kabupaten Bengkulu Selatan KETERANGAN b c d 41 Kayuaro-Padangaro 100° 45’ 19. Provinsi Sumatera Barat 1. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko A. Kota Bukit Tinggi 2.62” 15400 x 48 Bengkulu 101° 48’ 11. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat 1.71” - 100° 31’ 46.4596” - 102° 7’ 34.31” - 103° 6’ 31.49” - -0° 22’ 40. Kabupaten Tanah Datar 2. Kabupaten Limapuluh Kota 3.35” - 106° 5’ 54.89” - -1° 7’ 8. Provinsi Jambi 1. Kabupaten Jambi 1.98” -2° 27’ 21.46” - 101° 42’ 54. Kabupaten Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat 1. Kabupaten Sorolnagun Bangko C. Kabupaten Painan Provinsi Riau 1.27” -1° 25’ 39.42” -1° 45’ 37. Kabupaten Sungai Penuh 2.97” - -1° 58’ 35.11” -0° 2’ 54.51” -1° 53’ 5.55” 432 37 Solok 100° 21’ 30. Kabupaten Kampar A.37” 6702 x 44 Muaratembesi 102° 50’ 25. Kabupaten Musi Banyuasin 2. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Sawahlunto B. Kabupaten Pelalawan 3.60” 22860 x 46 Muaralakitan 103° 6’ 19.87” - -2° 46’ 3. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko B.65” -1° 0’ 12.76” -0° 0’ 9. Kota Payakumbuh 3.

Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung 1.30” 105° 41’ 13. Kabupaten Rejang Lebong B.27” - 104° 18’ 54. Kabupaten Prabumulih A. Provinsi Banten 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5. Kota Serang 6.94” 105° 23’ 58.79” 2404 x 52 Muaraduo-Curup 102° 21’ 32.64” -5° 39’ 59. Kabupaten Lampung Tengah 5.59” - -5° 54’ 44.32” 106° 2’ 58. Kabupaten Tangerang 3. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Lampung 1.25” -2° 20’ 25. Kabupaten Serang 2.07” 104° 31’ 9.NO. Kabupaten Serang A.15” - -3° 41’ 52. Kota Tangerang 4. Kabupaten Musi Banyuasin 3.34” 8652 x 51 Baturaja 103° 54’ 9. Kota Cilegon 5. Kabupaten Pandeglang B.77” -3° 14’ 51. Kabupaten Lampung Selatan 4.16” 1501 x 54 Metro-Kotabumi 103° 53’ 4. Kabupaten Pandeglang 2.71” 105° 53’ 53.37” -6° 3’ 39.57” -2° 36’ 31.04” -6° 39’ 10.14” 106° 0’ 45. Kabupaten Lampung Barat 3.95” 21640 x 55 56 57 58 Kotaagung Talangpadang Bandarlampung Kalianda 104° 11’ 9.63” 108° 17’ 41. Kabupaten Lebak 7.13” - 105° 12’ 8. Provinsi Jawa Barat x x x x x x x KETERANGAN b c d 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Koba Kepoh Batubetumpang Pangkal Raya Airpandan Tanjungniur Manggar Labuan Rawadanau 106° 19’ 50. Kabupaten Lampung Utara 2.27” -2° 49’ 47.99” - 104° 42’ 15.63” -5° 23’ 0.79” -6° 17’ 47.85” -2° 27’ 25. Kabupaten Ogan Komering Ilir 4.80” -6° 15’ 50.66” 105° 54’ 24. Kota Bandar Lampung 2.63” 105° 48’ 45.86” 8521 x 53 Ranau 103° 35’ 23.42” -2° 31’ 19.55” - -6° 30’ 16.69” 106° 6’ 2.39” -6° 34’ 45.28” 108° 2’ 59.71” 104° 59’ 11. Kota Palembang 2.6” - -4° 35’ 35.33” -4° 12’ 8.23” - -4° 40’ 33. Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung 1.36” - -6° 51’ 4. Kabupaten Prabumulih A.30” 105° 42’ 35.39” 105° 49’ 25.18” -2° 52’ 33.53” -2° 15’ 33.20” -1° 57’ 22. Kabupaten Lebak Provinsi Banten 1.96” 104° 53’ 25.74” x x 68 Serang-Tangerang 105° 54’ 31.62” - 106° 41’ 37. Provinsi Bengkulu 1. Kabupaten Lahat 3. Provinsi Sumatera Selatan 1.53” 106° 44’ 28. Kabupaten Ogan Komering Ulu 2.23” 707 Provinsi Banten 1. Kabupaten Lampung Barat 2.46” - 105° 55’ 9. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.79” 106° 10’ 47.82” -2° 40’ 38. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) A.75” - -5° 0’ 46.56” -2° 8’ 8.46” 105° 36’ 59. 2. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara B. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan 1.90” - -2° 35’ 59.63” -5° 4’ 28. Kabupaten Pendeglang 2.46” -4° 30’ 31.83” - 103° 52’ 8. 2010 91 91 NO.59” -5° 55’ 3.27” -3° 54’ 30.41” 105° 25’ 9.97” 105° 20’ 38.41” 1412 B.92” -5° 10’ 18. Kabupaten Lampung Kabupaten Lampung Barat B.99” -3° 11’ 39.68” - -5° 33’ 20. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 324 334 287 235 163 219 203 734 375 LOKASI a Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Belitung Provinsi Banten 1. 2010 92 92 .29” 106° 29’ 40.59” 105° 42’ 45.74” - 104° 8’ 35.04” 1236 615 439 234 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.88” -2° 59’ 0.32” -2° 3’ 33. Provinsi Lampung LOKASI a Kabupaten Lampung Barat KETERANGAN b c x d 49 Gedongmeneng 103° 20’ 56. Kabupaten Bengkulu Selatan 2. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan 50 Palembang-Kayuagung 103° 29’ 47.72” - -5° 7’ 37.44” - 106° 9’ 50. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu A.57” - 104° 44’ 3.53” -5° 27’ 45.65” -4° 30’ 57.38” - 106° 42’ 36.74” -2° 33’ 39.22” -5° 50’ 46.84” 2822 x Kabupaten Bogor 69 Malingping 105° 41’ 4.21” -5° 34’ 11.

NO.63" -6° 41' 59.99" 384 5.21" -6° 48' 29. Kabupaten Garut A.95" -6° 46' 2.84" - 108° 2' 5.03" -6° 42' 56. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Sumedang 3. Kabupaten Bandung x 80 IV. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat x x 86 Sumedang 107° 45' 38. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Sumedang 2.37" - -6° 57' 22. Kabupaten Subang 2.35" -7° 25' 59.39" -7° 11' 56. Kabupaten Sukabumi x 75 Bekasi-Karawang 106° 52' 5.67" -7° 3' 3. Kabupaten Bandung 3.44" -7° 13' 17.07" - 107° 57' 7.35" - -7° 27' 7.20" - 108° 4' 13.75" - 107° 42' 31.88" -6° 58' 17. Kabupaten Bandung 2.58" 886 85 Malangbong 107° 53' 42. Kabupaten Karawang 4.23" 1439 x 71 72 Bogor Sukabumi 106° 28' 20.40" - 107° 50' 28. 2010 93 93 NO. Kabupaten Bekasi 3. Provinsi Banten 1.76" 514 1.40" 107° 46' 13. BandungSoreang 107° 21' 55.81" - 108° 5' 11. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Purwakarta 2. Kabupaten Purwakarta 5.70" - -7° 14' 47. Kabupaten Tasikmalaya 3. Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat 4.83" - 107° 29' 42.07" - -6° 56' 39.91" 1514 77 Ciater 107° 24' 28. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.47" - 107° 45' 51.98" 106° 48' 15.88" -7° 5' 10.42" - -6° 38' 7.73" - -6° 51' 10.00" - 108° 17' 34.26" -7° 2' 17. Kabupaten Tasikmalaya x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.78" -6° 0' 43.91" -7° 11' 12. 2010 94 94 .60" -7° 25' 6.54" - 107° 4' 4.85" - -6° 48' 12. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Bogor 2.07" 151 581 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1.07" 467 Provinsi Jawa Barat 74 Jampangkulon 106° 22' 55.88" - 106° 59' 45.51" 107° 27' 17. Kabupaten Tangerang 2. Kabupaten Sukabumi 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) Provinsi Jawa Barat LOKASI a KETERANGAN b c d 79 Batujajar 107° 23' 33.30" - -6° 48' 38.59" 89 6.63" - -7° 0' 25.06" 483 87 88 Sukamantri Ciamis 107° 50' 47. Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat 5. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Bogor 2.28" 1716 81 82 Cibuni Banjarsari 107° 9' 6.80" -6° 24' 38.19" -7° 26' 59. Kabupaten Garut 2.23" -6° 56' 6. Kota Bandung Provinsi Jawa Barat 1.79" - 108° 20' 49. Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat 1.11" 621 605 83 Tasikmalaya 107° 50' 53.72" 1311 868 x x 73 Cianjur 106° 58' 5.46" 108° 15' 45. Provinsi Jawa Barat x x x x x 84 Garut 107° 42' 33. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat 1.67" -6° 43' 37.56" 107° 2' 13. Kabupaten Sumedang x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bandung 2.53" - -7° 22' 9. Kabupaten Bogor 2. Kabupaten Tasikmalaya 3.37" -5° 54' 29. Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat 1.29" 3641 76 Subang 107° 35' 48. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.23" - -6° 36' 53. Kota Tangerang B.61" - 107° 17' 4.37" - -6° 47' 2.98" -6° 36' 11. V.91" 1219 Provinsi Jawa Barat 1.85" 108° 33' 8.22" 169 Provinsi Jawa Barat 1.16" - 107° 30' 17.26" - -7° 7' 41. Kabupaten Cianjur x KETERANGAN b c d 70 Jakarta 106° 36' 32. Kabupaten Ciamis 4. Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat 1.87" -6° 10' 27.88" 106° 32' 43. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 3. Kabupaten Ciamis 2.50" - -6° 26' 58.19" -6° 49' 55.81" - 108° 2' 56. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta C.87" 566 78 Lembang 107° 25' 56.77" - -7° 24' 8. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 6.14" -6° 40' 18.

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 3.

LOKASI a Kota Banjar x

KETERANGAN b c d

89 90 91

Kawali Kuningan Majalengka

108° 16' 4.17" 108° 15' 44.50" 108° 3' 32.4"

-

108° 34' 13.02" 108° 39' 14.58" 108° 24' 40.24"

-7° 4' 54.98" -7° 3' 17.20" -6° 34' 12.81"

-

-6° 48' 12.35" -6° 52' 13.72" -6° 55' 47.85"

291 507 686

92

Indramayu

107° 56' 38.14"

-

108° 19' 46.08"

-6° 13' 42.77"

-

-6° 39' 20.74"

1282

Provinsi Jawa Barat Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Kuningan 2. Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Majalengka 2. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2 .Kabupaten Majalengka 3. Kabupaten Sumedang VI. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2. Kabupaten Cirebon 3. Kabupaten Kuningan 4. Kota Cirebon Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap A. Provinsi Jawa Barat 7. Kabupaten Ciamis

x x

x

93

Sumber-Cirebon

108° 13' 53.45"

-

108° 39' 15.85"

-6° 13' 49.61"

-

-6° 53' 59.86"

1659

x

94

Majenang

108° 41' 58.06"

-

108° 51' 14.72"

-7° 17' 19.18"

-

-7° 24' 21.99"

108

x

95

Sidareja

108° 32' 56.67"

-

108° 49' 43.47"

-7° 17' 14.05"

-

-7° 40' 28.84"

480

B.

Provinsi Jawa Tengah 8. Kabupaten Cilacap

x

A.

Provinsi Jawa Barat 9. Kabupaten Cirebon

96

Tegal-Brebes

108° 35' 7.31"

-

109° 21' 16.34"

-6° 44' 11.61"

-

-7° 11' 0.39"

1356 B.

x

Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Brebes 2. Kabupaten Tegal

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

95

95

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Tegal 3. Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Banyumas 3. Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banyumas 2. Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Cilacap 2. Kabupaten Kebumen 3. Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Pekalongan 3. Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kebumen 2. Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Batang 2. Kabupaten Kendal 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Banjarnegara 3. Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Magelang 2. Kota Magelang 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Temanggung

KETERANGAN b x c d

97

Bumiayu

108° 55' 13.33"

-

109° 24' 18.87"

-7° 0' 28.58"

-

-7° 19' 24.38"

661

98

Purwokerto-Purbalingga

109° 3' 1.70"

-

109° 46' 49.02"

-7° 12' 44.33"

-

-7° 32' 26.86"

1318

x

99 100 101 102 103

VII.

Cilacap

108° 59' 15.41" 108° 48' 7.47" 109° 6' 49.12" 109° 23' 13.53" 109° 18' 45.31"

-

109° 12' 14.43" 108° 59' 47.98" 109° 26' 46.49" 109° 29' 9.91" 109° 51' 52.35"

-7° 25' 41.48" -7° 40' 45.94" -7° 31' 28.39" -7° 36' 45.02" -6° 46' 33.52"

-

-7° 45' 5.32" -7° 45' 13.59" -7° 43' 36.42" -7° 43' 53.66" -7° 13' 24.20"

218 45 423 67 1682

x x x x x

Nusakambangan Kroya Banyumudal Pekalongan-Pemalang

104 105

Kebumen-Purworejo Karangkobar

109° 27' 18.50" 109° 34' 42.69"

-

110° 3' 36.50" 109° 55' 17.84"

-7° 34' 14.61" -7° 10' 12.18"

-

-7° 53' 59.96" -7° 18' 43.34"

1127 316

x x

106

Subah

109° 49' 26.04"

-

110° 11' 32.45"

-6° 54' 15.69"

-

-7° 18' 16.57"

874

x

107

Wonosobo

109° 45' 48.56"

-

110° 4' 41.47"

-7° 11' 7.81"

-

-7° 31' 51.33"

666

x

108

Magelang-Temanggung

109° 59' 45.38"

-

110° 27' 21.31"

-7° 11' 45.92"

-

-7° 42' 6.69"

1783

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

96

96

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 5.

LOKASI a Kabupaten Semarang

KETERANGAN b c d

109

Yogyakarta-Sleman

110° 12' 30.45"

-

110° 29' 49.38"

-7° 32' 23.62"

-

-8° 1' 52.04"

916

110 111 112

Wates Kendal Sumowono

110° 2' 16.22" 110° 1' 43.68" 110° 3' 45.06"

-

110° 15' 45.54" 110° 16' 16.97" 110° 20' 20.84"

-7° 50' 2.01" -6° 50' 45.56" -7° 5' 29.51"

-

-7° 59' 16.99" -7° 2' 37.74" -7° 15' 49.17"

150 404 207

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Sleman 2. Kabupaten Bantul 3. Kota Yogyakarta 4. Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Kulon Progo Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Semarang 3. Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kota Semarang 4. Kabupaten Demak 5. Kabupaten Grobogan 6. Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Klaten 2. Kabupaten Sukoharjo 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Sragen 5. Kabupaten Karanganyar 6. Kabupaten Wonogiri 7. Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri

x

x x x

113

Rawapening

110° 18' 36.13"

-

110° 30' 7.60"

-7° 10' 59.52"

-

-7° 26' 54.53"

303

x

114

Ungaran

110° 11' 34.19"

-

110° 31' 43.53"

-7° 2' 23.03"

-

-7° 13' 41.52"

329

x

115

Salatiga

110° 26' 11.88"

-

110° 38' 3.58"

-7° 12' 31.73"

-

-7° 27' 54.94"

85

x

116

Semarang-Demak

110° 14' 56.35"

-

111° 20' 8.21"

-6° 46' 26.64"

-

-7° 12' 50.99"

1839

x

117

Karanganyar-Boyolali

110° 26' 18.30"

-

111° 12' 45.98"

-7° 19' 1.182"

-

-7° 54' 32.62"

3877

x

118

Eromoko

110° 48' 30.19"

-

111° 1' 15.32"

-7° 51' 37.47"

-

-8° 3' 52.62"

215

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

97

97

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) A.

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Bantul 2. Kabupaten Gunung Kidul C. Jawa Timur Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Demak 2. Kabupaten Kudus 3. Kabupaten Jepara 4. Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pati 2. Kabupaten Rembang A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Rembang B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Rembang 2. Kabupaten Blora A. Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Grobogan 2. Kabupaten Blora B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bojonegoro A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Ponorogo 2. Kabupaten Madiun 3. Kabupaten Ngawi 4. Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bojonegoro 2. Kabupaten Tuban 3. Kabupaten Lamongan 4. Kabupaten Gresik 5. Kota Surabaya

KETERANGAN b c d

119

Wonosari

110° 20' 40.02"

-

111° 4' 32.21"

-7° 54' 31.05"

-

-8° 15' 30.93"

1692

x

120

Kudus

110° 32' 9.81"

-

111° 2' 48.78"

-6° 35' 57.91"

-

-7° 1' 13.93"

1388

x

121 122

Jepara Pati-Rembang

110° 38' 14.94" 110° 53' 42.9"

-

110° 55' 15.95" 111° 23' 38.75"

-6° 24' 27.16" -6° 24' 39.18"

-

-6° 38' 24.67" -6° 52' 57.29"

531 1028

x x

123

Lasem

111° 23' 13.32"

-

111° 56' 22.43"

-6° 36' 58.91"

-

-6° 50' 48.83"

378

x

124

Watuputih

111° 29' 0.73"

-

111° 32' 56.27"

-6° 50' 41.56"

-

-6° 50' 41.56"

31

x

125

Randublatung

111° 11' 23.39"

-

111° 36' 26.12"

-7° 9' 17.55"

-

7° 15' 57.66"

203

x

126

Ngawi-Ponorogo

111° 7' 0.03"

-

111° 47' 49.16"

-7° 20' 22.54"

-

-8° 4' 26.64"

3902

x

127

Surabaya-Lamongan

111° 37' 38.16"

-

112° 50' 13.76"

-6° 57' 8.69"

-

-7° 18' 37.53"

2525

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

98

98

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tuban 2. Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lamongan 2. Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Trenggalek 2. Kabupaten Tulungagung 3. Kabupaten Blitar 4. Kota Blitar 5. Kabupaten Malang 6. Kota Malang 7. Kabupaten Mojokerto 8. Kabupaten Sidoarjo 9. Kabupaten Gresik 10. Kota Surabaya 11. Kabupaten Jombang 12. Kabupaten Kediri 13. Kabupaten Nganjuk 14. Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tulungagung 2. Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Mojokerto 2. Kabupaten Pasuruan 3. Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Jember 3. Kabupaten Bondowoso 4. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Probolinggo

KETERANGAN b x x c d

128 129

Tuban Panceng

111° 46' 51.66" 112° 15' 46.19"

-

112° 14' 49.78" 112° 33' 46.55"

-6° 45' 41.19" -6° 51' 47.25"

-

-6° 59' 38.54" -6° 58' 50.97"

503 283

130

Brantas

111° 42' 55.90"

-

113° 0' 9.43"

-7° 17' 40.11"

-

-8° 17' 5.03"

6186

x

131 132 133

Bulukawang Sumberbening Pasuruan

111° 46' 8.00" 112° 22' 30.79" 112° 34' 22.15"

-

112° 21' 29.52" 112° 49' 10.92" 113° 5' 11.15"

-8° 9' 37.49" -8° 11' 39.14" -7° 31' 55.71"

-

-8° 21' 1.87" -8° 26' 56.44" -7° 57' 27.06"

618 715 1596

x x x

134

Probolinggo

112° 56' 4.25"

-

113° 37' 33.14"

-7° 41' 54.57"

-

-8° 1' 38.08"

1639

x

135

Jember-Lumajang

112° 53' 57.36"

-

114° 2' 42.22"

-7° 56' 23.58"

-

-8° 25' 22.94"

3865

x

136

Besuki

113° 34' 17.40"

-

113° 52' 4.48"

-7° 41' 12.69"

-

-7° 58' 19.50"

469

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

99

99

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Situbondo 2. Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Pamekasan 2. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur Kabupaten Sumenenp A. Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Sambas B. Malaysia Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Bengkayang 2. Kabupaten Landak 3. Kabupaten Pontianak 4. Kota Pontianak

KETERANGAN b x c d

137

Bondowoso-Situbondo

113° 40' 6.74"

-

114° 26' 39.19"

-7° 36' 17.95"

-

-8° 7' 37.33"

2358

138 139 140 141

Wonorejo Banyuwangi Blambangan Bangkalan

114° 12' 15.69" 113° 55' 28.01" 114° 20' 23.26" 112° 40' 22.8"

-

114° 27' 49.57" 114° 24' 28.44" 114° 36' 10.39" 112° 58' 6.01"

-7° 48' 9.83" -8° 3' 29.47" -8° 26' 41.90" -6° 53' 21.96"

-

-8° 5' 53.17" -8° 34' 11.00" -8° 46' 51.07" -7° 7' 16.24"

543 1737 413 398

x x x x

142

Ketapang

112° 54' 47.42"

-

113° 56' 18.56"

-6° 51' 51.97"

-

-6° 56' 56.89"

631

x

143

Sampang-Pamekasan

112° 41' 25.08"

-

113° 53' 39.48"

-7° 3' 55.29"

-

-7° 15' 25.69"

1200

x

144 145 146 147 148

Sumenep Toranggo Paloh Sambas Singkawang

113° 27' 22.5" 113° 55' 32.30" 109° 16' 23.73" 108° 54' 32.4" 108° 55' 31.83"

-

114° 6' 27.58" 114° 7' 32.52" 109° 38' 52.08" 109° 50' 18.59" 109° 19' 28.59"

-6° 57' 13.69" -6° 52' 4.60" 1° 41' 8.84" 1° 2' 44.59" 0° 50' 54.37"

-

-7° 7' 19.49" -6° 59' 1.82" 2° 4' 57.39" 1° 43' 22.10" 1° 6' 20.55"

478 101 561 3178 728

x x x x x

149

Pontianak

108° 50' 8.88"

-

110° 30' 0"

0° 52' 27.3"

-

-2° 23' 49.96"

22620

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

100

100

Kota Bontang 5. Kabupaten Barito Selatan 8.19" 1° 10' 33. Kabupaten Barito Kuala 6.96" 111° 4' 2. LOKASI a Kabupaten Ketapang KETERANGAN b c d 150 Palangkaraya-Banjarmasin 110° 10' 20. Kabupaten Bulungan 4.17" -1° 26' 46.96" 116° 35' 39. Kabupaten Tapin 5.03" 118° 32' 36. Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai A.73" - 17° 44' 46.90" -0° 1' 21. Kabupaten Berau A.91" 116° 12' 48. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung KETERANGAN b x x x c d 157 158 159 Sendawar Mangkaliat Sumbang 115° 28' 42.79" -1° 58' 11. Provinsi Kalimantan Selatan 1. Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat 1.69" -0° 17' 15. Kabupaten Berau 3. Kabupaten Kutai 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.81" 118° 58' 48. Kabupaten Tanah Laut 2. Kota Samarinda 4.88" 125° 3' 20.71" - -0° 38' 48.53" - 1° 40' 34. Kabupaten Kutai Barat 2. Kabupaten Kutai Timur B. Kabupaten Katingan 5.84" 428 385 284 4115 77 275 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.04" -2° 25' 58.95" 0° 30' 49.60" 111° 54' 2.77" 1° 9' 34.01" 0° 32' 37. 2010 102 102 . Kabupaten Hulu Sungai Selatan 7.53" 0° 54' 32. Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir A. Kabupaten Kutai 3. Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur 1.74" 7720 Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Tengah 1. Kabupaten Hulu Sugai Utara 9.192" -0° 11' 21.48" - -0° 55' 50. Kabupaten Nunukan B. Kabupaten Kotawaringin Timur 4. x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan 1.93" -0° 4' 17.02" -1° 45' 40.14" 116° 9' 9.37" -0° 57' 18.81" 115° 28' 22.87" 116° 46' 44. Kabupaten Sintang 3.08" - 118° 8' 37.88" -1° 9' 36.39" 116° 43' 45.48" 115° 59' 15.76" - 4° 14' 33.78" - 116° 16' 33.31" 13550 x 161 162 163 Muarakarangan Putussibau Sintang 117° 33' 52.NO.05" - -4° 10' 34. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Berau 2. Provinsi Kalimantan Timur 1.13" 124° 55' 15.11" 125° 15' 5. Kabupaten Kapuas 7.48" 116° 27' 31.70" - 117° 1' 21.90" 0° 51' 33.68" -2° 20' 50.23" -0° 38' 39.54" 1131 7107 2474 x x x 164 165 166 167 168 169 Loahaur Tenggarong Jonggon Muara Lahai Munte Batuputih 116° 52' 39.40" 111° 47' 59.54" 124° 59' 38. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya B.84" 1° 9' 49. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur 1.31" - 118° 26' 22.45" - -1° 25' 49.08" - 117° 13' 58. 2010 101 101 NO.506" -2° 2' 20. Kabupaten Kutai Timur 2.66" 1° 2' 56. Malaysia Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Banjar 3.16" 6441 1089 439 649 1660 156 Samarinda-Bontang 116° 33' 4.97" 113° 11' 50. Kabupaten Murung Raya C.20" 1° 40' 51.26" -0° 45' 14.75" 116° 55' 9.94" 1° 29' 23.65" 116° 33' 33.34" 118° 50' 46. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur 1. Kabupaten Hulu Sungai Tengah 8. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Sanggau 2.74" 0° 43' 52.48" 116° 6' 57.32" - 115° 41' 29.92" 95980 151 152 153 154 155 Pagatan Apar Tabanio Sebakung Muarapayang 114° 37' 9.14" 1° 38' 8. Kabupaten Kotawaringin Barat 2.46" -0° 57' 43.92" 118° 51' 32. Kabupaten Seruyan 3. Kabupaten Pasir 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 5.57" 114° 41' 12.26" 1° 6' 24. Kota Banjarmasin 4.55" 0° 52' 5. Kota Samarinda 3.20" -0° 22' 6.50" -1° 59' 14. Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Timur 1.56" 1° 45' 17.48" 117° 2' 42.26" 115° 41' 21.59" 10110 115 598 160 Tanjungselor 116° 36' 14. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Barat B.72" - -4° 0' 46. Kabupaten Tanah Laut 2.87" -1° 48' 7. A. Kota Palangkaraya 6. Kabupaten Kutai Timur 2.

44" 0° 35' 1.27" 120° 5' 16.11" 0° 55' 33.10" 119° 58' 5.50" -0° 13' 44.98" -0° 50' 24.25" 119° 51' 23.25" 121° 19' 13.44" 122° 21' 27.40" 0° 28' 4.08" 119° 36' 19.01" 123° 20' 27.13" -0° 0' 14. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.52" -0° 4' 52.03" 0° 36' 24. Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.75" 119° 44' 4.66" 0° 25' 59.11" 119° 45' 5.64" - 0° 32' 5.95" 0° 47' 39.14" 0° 17' 36.85" 122° 45' 20.26" 0° 24' 6.70" -1° 2' 33.24" 119° 47' 48.81" -0° 30' 41.89" 1° 5' 27.69" 121° 15' 45.66" 112 35 481 433 75 59 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.06" 1° 32' 0.19" 1° 4' 41.63" 119° 47' 27.91" 120° 2' 29.12" 0° 33' 48.28" 1° 2' 11.04" 123° 42' 32.53" - 125° 2' 9.79" 124° 13' 14.82" - 121° 58' 52.70" 0° 36' 50.38" 123° 56' 33.65" 124° 30' 49.80" 0° 25' 51.90" 124° 28' 38.91" 124° 12' 8.44" 124° 52' 13.08" 0° 6' 4.52" 123° 55' 57.83" 1° 11' 6.34" 0° 18' 31.85" 0° 44' 46.75" 121° 6' 11.08" 0° 46' 30.13" 0° 21' 31.40" -0° 8' 1.72" 1° 13' 0.78" 0° 42' 24.01" 0° 41' 10.92" 121° 30' 21.96" 123° 34' 27.26" 120° 27' 9.41" 124° 41' 56.56" 0° 50' 16.94" 122° 41' 5.29" 0° 24' 46.01" 123° 22' 35.84" 122° 26' 39. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.85" -0° 11' 19.77" 0° 23' 51.NO.57" 0° 44' 55.44" 124° 8' 9. 2010 103 103 NO.47" 0° 27' 21.43" 119° 46' 27.27" 120° 6' 40. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.83" 120° 5' 11.55" 0° 27' 17.19" 119° 50' 52. Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo KETERANGAN b x x x x x x x x x x x c d 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Manado Bitung-Ratahan Tomohon-Tumpaan Sidate-Poigar Buyat Kotamubagu Lolak Dumoga-Kasio Molibagu Mongalada Bone 124° 43' 23.58" 119° 58' 26.92" 0° 50' 45.16" 120° 17' 7.34" 1004 1022 956 521 80 414 76 684 91 212 326 181 182 183 184 185 186 Pinogu Tombulitato Gorontalo Molombulah Mahinoto Soginti 123° 19' 40.13" 123° 14' 24.58" -0° 4' 41.97" 120° 4' 44.79" 119° 46' 50.37" 0° 54' 50.92" 120° 30' 29.20" 120° 2' 0.84" 121° 59' 7.39" -0° 9' 17.20" 119° 51' 54.20" 124° 45' 39.83" 120° 51' 0.39" -0° 8' 43.61" 120° 46' 34.24" 122° 13' 52.27" 0° 26' 17.25" 1° 19' 4. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1. Kabupaten Gorontalo 2.97" 119° 54' 44.06" 123° 44' 6. Kabupaten Donggala 2.35" 1° 1' 47.154" 0° 10' 34. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.41" 123° 45' 36.78" 120° 23' 48.04" 0° 36' 9.01" 120° 29' 0. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.63" 0° 35' 38.41" 119° 56' 36.08" - 123° 30' 59.51" 123° 30' 8.51" 125° 15' 5. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo 1.35" 0° 55' 41.89" 0° 21' 43.07" 119° 54' 38.97" 0° 34' 21.63" 0° 26' 9.74" 0° 20' 22.95" 124° 36' 0.53" -0° 16' 26.52" 0° 48' 10.09" 119° 56' 9.83" 124° 10' 38.07" 0° 55' 13. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.15" 119° 50' 43.77" 0° 28' 1.48" 0° 50' 58.63" 124° 7' 53.96" 0° 44' 15.01" - 1° 39' 58. 2010 104 104 .50" 122° 10' 17.97" -0° 31' 42.96" 121° 32' 12.50" -0° 40' 59.69" 1° 25' 35. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.00" -0° 3' 38. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 234 92 606 435 55 24 111 83 54 50 22 36 14 52 37 63 149 97 261 Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo LOKASI a Kabupaten Gorontalo x KETERANGAN b c d 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 Marisa Papajato Mountong-Tomini Buol Ogomali Ogawele Butung Babatona Ladangkola Sinei Tambu Tompis Labea Palado Tompe Oti Ampibabo Tawaeli Tindaki 121° 42' 51.55" Kabupaten Pohuwato Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah 1.54" - 0° 33' 33.12" -0° 0' 39.90" -0° 5' 15.45" 0° 52' 4.75" -0° 43' 6.49" 124° 34' 24.95" -0° 16' 25.77" 120° 5' 40.

04" 121° 48' 30.63" 122° 40' 6.05" 122° 17' 14. Kabupaten Soppeng 4.59" - -5° 32' 44.11" -0° 47' 23.34" -2° 24' 30.68" - 119° 42' 50.99" 121° 12' 31.18" - 119° 45' 42.83" 120° 26' 24.76" 120° 32' 14. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.34" -1° 19' 26. Kabupaten Sidenreng Rappang 3.54" -0° 49' 28.56" -1° 47' 47.70" 134 x 232 Pangkajene 119° 27' 44.78" -1° 35' 2.78" 120° 25' 16.31" 119° 6' 6. Kabupaten Sinjai 3.59" -3° 31' 2.85" 939 x 231 Barru 119° 34' 44.90" 119° 24' 50.69" -1° 8' 48.85" 120° 18' 1.87" 119° 23' 35. 2010 105 105 NO.22" -2° 8' 0. Kabupaten Barru 2. Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan 1.10" -3° 29' 9.83" 120° 48' 11.42" - -4° 25' 58.74" 122° 34' 0.88" -1° 57' 0. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso A. Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju B. Kabupaten Luwu 2.47" 122° 6' 19.09" -4° 19' 3.82" -0° 52' 15.90" 119° 31' 2.NO.23" -2° 11' 36.33" 120° 0' 50. Kabupaten Bone x x KETERANGAN b c d 223 224 225 226 227 228 Tanoa Bone-Bone Lelewowo Polewali Kolosi Padang Sapa 121° 31' 18.14" -1° 35' 15.14" -1° 37' 1.89" 122° 4' 10. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah 1.61" 121° 29' 48. Kabupaten Donggala 2.72" - -2° 18' 5. Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.25" - 119° 34' 40.16" 120° 41' 25.92" 121° 3' 25.36" 120° 14' 38. 2010 106 106 .67" -1° 57' 9.26" 121° 28' 57.24" -2° 25' 28.77" -1° 7' 58.40" 120° 48' 11.82" - -1° 20' 28.71" -0° 51' 16. Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan 1. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1. Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan 1.69" - 120° 14' 17.22" -3° 18' 53.28" -2° 53' 0. Kota Makassar 2.83" -1° 43' 22.30" -1° 53' 28.24" - 120° 5' 1.56" -1° 15' 7.53" -5° 10' 28.72" -1° 55' 4.25" 120° 5' 41.44" -3° 33' 14.23 2270 x 230 Siwa-Pompanua 120° 4' 18.47" x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.56" -1° 16' 8.59" 2229 x 233 Makassar 119° 20' 54.86" -2° 28' 10.27" -3° 30' 31.69" -1° 10' 52.21" 122° 53' 21. Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan 1. Kabupaten Pinrang 2.12" -0° 59' 13.39" 123° 4' 59.83" -1° 17' 56.12" 119° 45' 25.41" 119° 59' 31.62" -1° 10' 5. Kabupaten Donggala 2.94" - -5° 23' 8. Kabupaten Donggala 2.0" 123° 7' 55. Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 313 716 279 130 224 795 999 530 581 215 333 263 678 175 1306 837 121 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala A.04" -1° 57' 25. Kabupaten Wajo 3.73" -2° 4' 52.93" 580 x 234 235 Gowa Sinjai 119° 44' 2.87" 482 81 x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Wajo 5. Kabupaten Gowa 2. Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2.63" 120° 12' 53.78" -1° 3' 22.06" -2° 57' 46.21" 119° 49' 2.22" -5° 5' 29.99" 119° 17' 58.58" 121° 14' 0. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.47" - -5° 6' 35. Kabupaten Takalar 3.92" - 119° 57' 14.16" 123° 24' 8.35" 120° 12' 40.07" - -4° 33' 39.56" -3° 2' 43. Kabupaten Maros 3.30" -1° 29' 31.36" -3° 18' 33.74" -1° 5' 37.83" -1° 33' 54. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso x KETERANGAN b c d 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 Palu Pasangkayu Dapuran Bobo Langko Watutua Poso Morowali Topo Tomeang Luwuk Sobol Peleng Tomori Wasopote Sampaga Pindolo 119° 49' 28. Kabupaten Gowa 4.59" -1° 41' 52.23" 120° 52' 12.55" 120° 7' 10.69" -5° 13' 54. Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan 1. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso B.69" 121° 21' 47.69" x x x x 229 Pinrang-Sidenreng 119° 26' 57.44" -5° 0' 47. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 156 2230 135 327 86 422 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu A. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu B.56" - -4° 25' 9.25" -2° 59' 57.41" -3° 29' 48.69" - 121° 49' 23.33" 119° 33' 44.03" -2° 0' 57.32" -4° 33' 52.51" 119° 7' 23.65" 121° 8' 38.56" 120° 17' 17.81" - 120° 26' 32.19" 123° 9' 9.27" 119° 17' 4.

75" -5° 14' 15.29" -5° 13' 53.39" -8° 11' 34.22" 123° 9' 49.96" -3° 48' 41.59" 122° 59' 42.43" 121° 39' 35. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1. Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1. Kabupaten Klungkung 7.02" -4° 41' 15. Kabupaten Badung 3.27" -4° 16' 7.10" 121° 39' 56.26" -3° 38' 37.70" -4° 43' 42.72" 115° 43' 0.71" -8° 28' 26.03" - - -4° 50' 8.26" -5° 46' 39. Kabupaten Bulukumba 4.38" 122° 58' 45.98" -5° 25' 26.77" 122° 25' 13.48" 120° 24' 27.29" -8° 4' 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.82" 122° 15' 54.30" 122° 56' 50.98" -8° 12' 24.21" 122° 51' 27.74" 122° 44' 14.63" 122° 32' 16.41" -5° 13' 12.01" -5° 26' 32.95" 120° 33' 3. Kabupaten Muna 2.59" -4° 11' 54.83" 122° 13' 44.28" -3° 56' 45.39" -8° 23' 48. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Kabupaten Karangasem Provinsi Bali 1.19" -5° 26' 21.59" 122° 33' 18.59" 115° 4' 57.99" 114° 25' 40.09" 121° 27' 17.97" 115° 14' 6.48" - -5° 38' 0. Kabupaten Bangli x x KETERANGAN b c d 252 253 254 255 256 257 258 259 Lambale Ereke Lebo Konde Bau-Bau Kaliwinto Lasilimu Denpasar-Tabanan 122° 53' 45.58" -4° 6' 31.07" 122° 21' 7. Kabupaten Bangli 4.84" -4° 27' 9.47" 122° 22' 14.25" 122° 23' 47. Kabupaten Buton 2.74" 114° 26' 11.01" -4° 22' 51.62" 122° 53' 59.73" 122° 58' 32. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Bali 1.39" 123° 13' 31.62" -4° 32' 37.70" 122° 38' 57.25" -4° 1' 35.89" -8° 10' 52.84" 122° 29' 25.43" -4° 40' 27.89" 122° 56' 1. Kabupaten Karangasem 6.51" 121° 42' 37.77" 114° 55' 43.14" -8° 49' 5. Kabupaten Bantaeng 3.64" -4° 36' 32.92" -5° 12' 13. Kabupaten Gianyar 8. Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Tenggara 1.68" -5° 42' 5.58" -5° 18' 11.48" 115° 29' 40. Kabupaten Buleleng 5. Kabupaten Buleleng 2.75" -8° 40' 14.94" 122° 49' 54.12" 114° 58' 7.10" - 120° 16' 20.22" 115° 37' 41.22" -4° 41' 46.37" 115° 30' 55.45" 115° 9' 32.87" 121° 47' 9.88" -4° 19' 52.03" - -5° 42' 24. Kabupaten Buton 2.16" 121° 43' 11.23" -8° 6' 0.52" -4° 30' 43.21" 122° 7' 9. Kabupaten Muna 2. Kabupaten Jembrana 2.65" -4° 50' 56.69" -5° 26' 35. Kabupaten Kendari 2.56" 122° 53' 54.25" - 120° 27' 27.31" 123° 12' 45. Kota Denpasar 2. 2010 108 108 .87" -4° 27' 4.43" -8° 30' 40. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.58" 121° 51' 30.94" - 115° 12' 54.58" -4° 47' 48.36" -4° 30' 2.11" 115° 42' 25. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.42" 122° 18' 28.44" - - 123° 4' 59. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna KETERANGAN b c d 236 Bantaeng 119° 43' 52.45" 1433 x 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 Bira Selayar Bungku Kolaka Raromeeto Rawua Tangketada Andoolo Ambesia Ewolangka Weputang Tinanggea Muna Labuhan Tobelo Bangbong 120° 16' 49.90" -8° 20' 10. 2010 107 107 NO. Kabupaten Muna 2.NO.96" 123° 4' 7. Kabupaten Sinjai 5. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1.83" 505 200 418 131 198 99 750 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.78" -8° 5' 33. Kabupaten Buleleng 2.25" -4° 33' 43.88" -8° 45' 3.72" -4° 22' 0.08" -4° 37' 26.58" -4° 37' 28. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.64" 122° 0' 7.91" x x x x x x 260 261 262 263 264 265 266 Singaraja Amlapura Negara Gilimanuk Nusa Penida Nusadua Tejakula 114° 55' 22.36" 115° 26' 41.84" 122° 46' 6. Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan 1.43" -4° 25' 38.61" -6° 30' 23. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.22" 122° 51' 22.06" 121° 32' 28.59" 230 656 2269 129 126 256 347 163 162 436 66 144 213 260 69 x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.80" 121° 27' 59.61" - -8° 20' 19. Kabupaten Jembrana Provinsi Bali Kabupaten Klungkung Provinsi Bali Kabupaten Badung Provinsi Bali 1.81" -4° 11' 52.92" -4° 48' 22.09" 114° 40' 36.81" -5° 14' 14.16" -4° 52' 5.37" -8° 50' 52. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.94" -4° 4' 54. Kabupaten Jeneponto 2.71" -8° 46' 30. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 347 157 591 339 976 128 307 2080 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara 1.

66" -8° 33' 8.2" -8° 32' 14.06" 123° 10' 11. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.10" 118° 33' 25. Kabupaten Buleleng 3.12" 118° 15' 43.01" -8° 14' 40. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.66" - -8° 51' 57. Kota Mataram 3.59" 123° 12' 31.50" 122° 57' 1.4" 122° 58' 1.89" 118° 56' 31.84" 124° 19' 10.62" -8° 33' 21.83" 123° 44' 12. Kabupaten Dompu 2.56" 1124 1404 345 977 1419 375 1102 363 413 398 813 3724 x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.15" -8° 25' 15.38" -8° 3' 54.26" -8° 15' 48.28" 117° 34' 9.87" -8° 37' 9. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.72" 123° 54' 24. 2010 109 109 NO.NO.44" -8° 21' 58. Kabupaten Lombok Barat 2.30" -8° 19' 8.64" -8° 38' 32.50" -8° 40' 49. 2010 110 110 . Kabupaten Lombok Timur 3.53" -8° 27' 1.03" 123° 41' 37.71" 117° 41' 24" 117° 42' 39.54" -8° 15' 30. Kabupaten Dompu 2.55" -8° 10' 27. Kabupaten Bima 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.10" -8° 23' 51. Kabupaten Flores Timur 2.59" 122° 36' 53.86" -8° 22' 29.45" - 116° 43' 20. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.84" 118° 12' 58.71" -8° 45' 59.60" -8° 24' 49.72" 122° 41' 19.72" 123° 45' 22.41" - -8° 50' 8. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.44" 116° 52' 46.56" -8° 33' 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.84" -8° 35' 11.74" -8° 11' 32.28" -8° 48' 39.69" 117° 53' 45. Kabupaten Bima 2.52" -8° 26' 29.18" -8° 14' 47. Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.08" 123° 0' 6.59" -8° 53' 36.69" 124° 19' 26.04" -8° 28' 10.72" -8° 31' 10.68" 119° 3' 28.44" 123° 10' 2.52" -8° 33' 33. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.83" -8° 12' 42.14" -8° 47' 44.28" 123° 20' 5.31" -8° 17' 5.17" -8° 43' 18. Kabupaten Tabanan Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.31" -8° 27' 41.40" -8° 32' 58. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.62" -8° 17' 48.44" -8° 46' 14.04" 118° 35' 24.94" -8° 13' 42.8" 120° 4' 32.12" 122° 52' 23.Kilo Dompu Bima Tawali-Sape Labuanbajo Lempe Reo-Riung Ruteng 116° 3' 28.58" 118° 30' 8.63" 120° 27' 15. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.73" 121° 4' 23.74" 118° 18' 50.06" 123° 54' 39.34" 118° 53' 13. Kabupaten Ngada KETERANGAN b c d 267 Mataram-Selong 116° 3' 33.19" - -8° 28' 59.28" -8° 4' 48. Kabupaten Lombok Timur 4.75" 121° 52' 35.82" 122° 3' 11.24" 123° 55' 41.96" -8° 38' 24. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.4" -8° 12' 46.47" -8° 12' 33.91" -8° 57' 34.75" 121° 48' 32.76" 122° 57' 46. Kabupaten Manggarai 3.68" 123° 12' 46.35" -8° 31' 38.96" 120° 30' 5.18" 121° 33' 36.68" 123° 43' 57. Kabupaten Lombok Barat 2.90" -8° 32' 14.95" -8° 8' 20.26" -8° 11' 37. Kabupaten Dompu 2.29" -8° 29' 49. Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur KETERANGAN b c d 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 Bajawa Maurole Ende Maumere Larantuka Kutabura-Lamaayang Lewobunga Liberapan Balauwak Mananga Waiwadan Waiwerang Lewoleba Iliwatulolo Balaurik Wairiang Wapoe Takourang Delaki 120° 55' 25.82" -8° 17' 51.88" -8° 29' 55.27" -8° 10' 8.28" 123° 17' 27.86" -8° 25' 28.84" 123° 0' 35. Kabupaten Karangasem 4.25" -8° 38' 53.45" 122° 58' 35.84" - 116° 43' 19.43" -8° 17' 25. Kabupaten Manggarai 2.16" 123° 55' 18.35" -8° 12' 54.16" 122° 55' 23.73" 123° 46' 47.18" 121° 56' 37.57" - 121° 20' 51.65" -8° 22' 7.75" 123° 1' 26.49" 119° 47' 52. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.17" 122° 3' 4.93" -8° 24' 53.05" 122° 44' 3.76" -8° 41' 59.24" -8° 37' 8.75" 10970 140 394 800 1030 330 139 82 70 70 333 173 535 542 27 60 98 376 367 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.31" 123° 44' 39. Kabupaten Manggarai 2.84" 121° 22' 35.47" -8° 11' 47.904" 119° 50' 12. Kabupaten Badung 5. Kabupaten \Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.43" 2366 x 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Tanjung -Sambelia Sumbawa Besar Empang Pekat Sanggar .8" 120° 3' 58.34" -8° 13' 32.

04" 124° 21' 30.38" -10° 51' 48.02" -0° 19' 59.74" x x x x x x x 309 310 311 312 313 314 315 Besikama Aroki Nemberala Batutua Rote Ternate Tidore 124° 42' 38.36" 0° 45' 34.25" -9° 46' 51.12" 128° 36' 37.15" -10° 56' 20. Kabupaten Halmahera Timur 3.75" 1° 35' 22.35" -9° 43' 21.48" 124° 9' 51. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.04" 124° 19' 55.34" -10° 44' 20. Kabupaten Sumba Barat 2.46" -0° 14' 51.56" 123° 56' 31.14" 1° 1' 20. Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.31" 127° 56' 52.052" -10° 0' 12.99" 127° 49' 4.78" -9° 37' 41.NO.89" 123° 27' 24.63" 1° 48' 8.46" 127° 23' 57.82" 128°1' 2. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Maluku Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan x x x KETERANGAN b c d 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 Pasirputih Kalabahi Werula Waikabubak Ngalu Kupang Camplong Mina Soe Oemeu 124° 23' 29.55" 1° 36' 41. Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.92" 127° 38' 47.77" - 124° 36' 16. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 112 1104 885 2860 1427 660 232 311 162 1008 LOKASI a Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.75" 1° 18' 1.654" 0° 23' 30.80" 127° 49' 53.48" 128° 4' 28.88" 125° 8' 41.77" 0° 37' 22.43" 0° 45' 15.48" 123° 55' 11.85" 127° 55' 47.92" 125° 8' 35. Kabupaten Timor Tengah Selatan 3.42" -10° 21' 45.18" -0° 19' 57.12" 127° 27' 33.68" 2° 13' 25. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara 1.09" -8° 27' 47.17" x x x x x 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Jailolo-Sidangoli Payahe Mafa Sagea Wasile Akelamo Patani Wusi Kasiruta Mandioli Labuha 127° 23' 49. Kabupaten Belu 2.43" -9° 56' 14.96" 120° 49' 28.79" -0° 9' 29.96" 128° 6' 42.50" 1° 45' 46.56" 124° 9' 13.34" 481 88 236 229 250 106 108 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.69" 127° 43' 27.87" 128° 2' 15.02" -10° 10' 39. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.38" 124° 47' 3. 2010 111 111 NO.62" 123° 25' 33.29" -8° 26' 28. Kabupaten Halmahera Barat 2. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 486 58 704 763 756 1941 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.38" - 1° 28' 38.77" 122° 48' 9.51" - -9° 52' 36.32" 1° 58' 56.91" 127° 6' 14.14" 124° 32' 34. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.144" 122° 57' 53.62" -8° 7' 34.75" 2° 8' 50.58" -10° 7' 13. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.14" 128° 1' 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Halmahera Tengah 2.08" 124° 53' 6.28" 120° 1' 25.32" 127° 44' 51. Kabupaten Halmahera Tengah 2.43" 0° 12' 38.798" -9° 13' 17.92" 124° 20' 53.51" 128° 5' 12.71" -10° 13' 15. Kabupaten Halmahera Tengah 2.63" 128° 8' 47. Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan x KETERANGAN b c d 316 317 318 319 320 321 Daruba-Bere-Bere Posi-Posi Galela Tobelo Ibu Kau 128° 12' 9.05" -9° 53' 44.48" -9° 21' 34. Kabupaten Timor Tengah Selatan 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.45" -10° 0' 43.27" -10° 25' 41.21" 123° 9' 57.17" 127° 32' 37. Kabupaten Halmahera Barat 2.87" 123° 14' 26.77" 127° 58' 53.4" 127° 9' 27" - 127° 52' 44.88" 1° 11' 27. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.66" -9° 51' 31.99" 122° 57' 56.48" -8° 13' 21.48" -9° 24' 21.65" -0° 39' 32.86" -9° 22' 40.41" 124° 21' 47.4" 128° 54' 9" 128° 55' 47.72" 127° 57' 20.16" 1° 27' 48.67" 1° 15' 2.96" 124° 5' 30.30" 1° 33' 44.76" 127° 19' 46.35" - 128° 41' 48.2" 0° 26' 9.276" 0° 20' 25.97" 0° 27' 13.57" -8° 8' 53.92" 127° 55' 21.04" -10° 39' 7.24" -0° 6' 36. Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.03" -0° 29' 38.59" 128° 2' 1.4" - 125° 5' 16. 2010 112 112 .38" 128° 22' 14. Kabupaten Halmahera Utara 2.54" 1576 95 178 95 565 362 753 74 259 162 166 x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara 1.88" 127° 35' 25.98" 127° 17' 24.77" 128° 45' 23.73" 127° 18' 5.74" - 2° 38' 24.99" -0° 47' 46.87" 118° 55' 41. Kabupaten Kupang 2.79" 0° 52' 3.248" - -8° 15' 33.92" -9° 23' 28.18" 1° 54' 24.92" 0° 44' 26.16" 120° 19' 4.54" 0° 33' 48.72" 127° 21' 41.64" 124° 53' 52.56" -0° 9' 27.98" 0° 26' 14.81" -10° 43' 24.008" 0° 17' 27.15" 127° 23' 12.

77" -2° 54' 17.65" -7° 5' 56.01" Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 113 113 NO.51" 134° 38' 25.99" -2° 56' 1.48" 131° 6' 0.41" -7° 37' 52.45" -5° 44' 46.39" -5° 57' 6.7" -3° 52' 38.90" 127° 37' 33.44" 128° 25' 36. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 79 157 56 159 71 97 301 1438 381 124 275 52 98 272 467 134 122 278 92 1276 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Buru Selatan Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku 1.37" 130° 52' 49.06" -1° 11' 26.43" 128° 23' 37.39" -2° 47' 18.50" -5° 55' 32.56" 131° 44' 44.43" -3° 30' 20.65" -7° 14' 53.89" -6° 1' 45.80" 134° 54' 35.15" - -0° 41' 1.29" -5° 35' 27.11" -3° 2' 6.69" 128° 0' 1.76" -3° 3' 34.07" -1° 27' 42.43" 127° 49' 19.6" 128° 43' 7.52" 134° 31' 55.42" -2° 18' 33.72" - -3° 19' 5.35" 126° 0' 11.88" -0° 27' 12.06" -6° 34' 55.09" 129° 12' 44.44" 131° 10' 27.44" - 129° 53' 50.85" -6° 34' 23.83" 133° 11' 23.52" 134° 45' 55.14" 131° 42' 42.67" -1° 34' 3.04" -3° 21' 14.14" -6° 17' 9.05" 127° 27' 46.49" 131° 59' 4.13" -0° 38' 45.13" -6° 28' 44.48" 128° 33' 57.34" -3° 42' 58.66" 129° 4' 21.92" 130° 57' 46.69" -6° 20' 40.88" 134° 46' 1.8" 132° 49' 22.35" 128° 18' 38.52" 131° 21' 19.99" -3° 29' 13.11" -3° 6' 9.12" 131° 36' 47.66" -6° 56' 42.96" 130° 30' 23. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.54" 132° 36' 53.47" -2° 54' 4. Kabupaten Seram Bagian Timur 2.73" 126° 50' 16. 2010 114 114 .10" -1° 17' 33.77" -3° 48' 53.65" 131° 4' 45.76" x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.96" 127° 49' 32.64" 134° 20' 54.12" 127° 7' 8.19" 125° 57' 12.37" -0° 46' 12.70" -1° 25' 24.67" 128° 23' 23.70" -3° 25' 39.91" 134° 42' 29.98" 127° 57' 34.77" -5° 34' 8. Kabupaten Maluku Tengah x x x x x x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Lansa Bisa Taino Sesepe Jobubu Sanana Air Buaya Leksula Waeapo Boano Kawa Laela Waesamu Hitulama Ambon Haruku Saparua Masohi Namea Wahai 127° 27' 25.33" 134° 26' 55.47" 126° 37' 35. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.14" -3° 2' 16.44" -6° 2' 6.20" -3° 33' 39. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1070 811 306 81 513 218 300 1006 1737 137 100 163 406 2069 294 169 66 131 66 44 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tengah Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat x Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x Kabupaten Kepulauan Aru x x x x Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Maluku Tenggara x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 Sawal Waru Kai Kecil Kai Dulah Kai Besar Kola Komfane Wokam Kobror Penambulan Baun Workai Koba Trangan Maikoor Watidal Larat Saumlaki Selaru Seira 129° 4' 28.NO.50" -8° 1' 22.28" -3° 33' 57.95" 132° 51' 6.36" 130° 29' 9.45" -3° 29' 55.92" 134° 42' 48.47" -6° 26' 42.24" 127° 45' 30.21" 132° 49' 16.02" -3° 10' 23.69" -6° 47' 7.84" 130° 45' 16.63" -3° 16' 33.45" -5° 35' 3.70" -3° 11' 45.54" 127° 54' 24.49" -3° 47' 6.16" 128° 57' 36.80" -6° 22' 31.46" -3° 6' 3.79" -3° 12' 32.62" 134° 15' 54.88" 126° 48' 7.76" 134° 45' 39.82" -3° 22' 13.98" -1° 21' 7.89" -6° 16' 39.20" -3° 9' 15.57" 128° 3' 40.18" -5° 41' 47.95" 134° 46' 55.92" 128° 4' 6.95" 127° 41' 45.26" - 127° 36' 35.81" 134° 19' 46.08" -6° 32' 56.86" -5° 34' 0.31" -3° 37' 40.68" 128° 16' 13.14" 134° 2' 59.61" 3° 37' 55.44" 128° 51' 46.76" 132° 44' 43.08" 127° 44' 42.09" -7° 13' 47.68" 127° 48' 19.88" 129° 7' 56.44" -7° 8' 1.21" 126° 15' 36.58" -7° 41' 53.88" 134° 47' 55.90" -7° 49' 4.45" -5° 31' 12.59" -5° 59' 59.92" -2° 45' 55.30" -8° 20' 33.24" 127° 53' 10.87" 128° 20' 48.27" -6° 13' 50.13" 134° 10' 34.49" -5° 25' 30.34" -3° 29' 18.03" 134° 30' 32.84" -5° 15' 58.89" 134° 31' 57.81" 134° 37' 22.28" 128° 32' 43.93" -2° 50' 58.49" -2° 28' 23.48" 127° 54' 24.44" 134° 38' 42.95" 126° 4' 14.84" -8° 4' 18.

08" -4° 2' 54.67" -0° 51' 30.65" -7° 50' 59. Kabupaten Sorong 4.02" 135° 41' 44. Provinsi Papua Barat Kabupaten Fak Fak B.44" 136° 16' 16.24" 131° 10' 12.66" 133° 37' 35.32" -7° 52' 59. Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 Wuru Wiliaru Masela Tutuwawang Tela Emraing Wetan Lakor Moa Waigeo Bokpapo Wairemah Batanta Salawati 130° 49' 56.78" -1° 39' 31.50" 135° 46' 41.04" 135° 24' 32.97" -0° 52' 58.6" 130° 19' 6. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.36" -0° 5' 25.56" -4° 3' 6.96" -8° 12' 1.19" -3° 31' 28.52" -2° 13' 36.4" 128° 4' 21.06" 133° 30' 52. Kota Sorong Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat 1.92" 129° 42' 26.32" 130° 32' 5.81" -1° 51' 9.89" 135° 20' 2.10" 135° 38' 26.12" 985 309 579 16870 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.90" 135° 59' 36.2" 130° 28' 12.50" 133° 8' 58.92" 134° 16' 43.74" -1° 12' 13.88" 135° 33' 7.79" - -7° 34' 21.86" -4° 17' 39. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 50 53 50 300 31 53 38 113 319 334 118 348 98 765 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat 1.88" -1° 35' 50.08" 129° 41' 19.62" -3° 11' 12.56" 134° 40' 10.69" -4° 5' 2.71" -4° 14' 20.84" 135° 55' 36.57" 131° 5' 52. Kabupaten Sorong Selatan 3.00" - -1° 1' 58.76" -1° 33' 6.17" - 134° 8' 13.45" -7° 23' 59.4" 135° 21' 25.12" 129° 39' 10.92" -8° 13' 0.96" -1° 52' 12.70" -8° 16' 54.2" - 130° 27' 16.42" 136° 23' 19.08" 129° 58' 30.29" 134° 7' 55.82" -1° 38' 29. 2010 115 115 NO.57" -7° 57' 30.08" 387 Teminabuan-Bintuni 130° 55' 38.68" -1° 21' 32.62" -3° 55' 56.28" - 134° 2' 55.40" 140° 30' 54.31" -1° 39' 52.94" 136° 29' 59.50" 134° 2' 15.6" 129° 30' 23.06" -8° 5' 51.42" 134° 57' 29.19" 136° 17' 2.68" 134° 0' 6. 2010 116 116 .11" -0° 44' 45.88" 134° 52' 16. Kabupaten Teluk Bintuni 2.12" -8° 6' 15.68" 132° 43' 28.12" -8° 3' 38.19" -0° 22' 16.36" -3° 31' 51.35" -3° 24' 2.42" 131° 4' 15.84" -1° 3' 25.76" 134° 37' 26. Kabupaten Nabire x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.20" -8° 1' 30. Kabupaten Fak Fak 2.NO.84" 129° 51' 43. Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Nabire A.38" 23130 x 388 389 390 391 Atkari Zaag Timoforo Kanoka-Babo 129° 43' 4.83" 134° 47' 57. Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua 1.48" 129° 34' 54. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1452 307 345 431 513 6078 516 208 1214 155 110 293 140 1382 343 403 1372 1033 22630 Provinsi Papua Barat LOKASI a Kabupaten Manokwari x x KETERANGAN b c d 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 Manokwari Oransbari Takubo Numfor Urema Kaimana Omba Warsa Biak Pom Ansas Serui Timur Samberbada Nabire Legare Ulawa Agamanan Parekebo Warem-Demta 133° 31' 15.52" -1° 25' 33.40" - -2° 18' 24.44" 130° 41' 10.65" 135° 36' 43.99" 135° 54' 47.54" -7° 29' 49.42" 136° 5' 55.36" 127° 45' 12. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.62" -7° 57' 33.96" -3° 52' 40.75" -1° 41' 13.92" 135° 43' 56.84" 129° 48' 15.32" 135° 39' 6.44" -0° 42' 42.83" -2° 2' 18.4" -1° 7' 58.59" -0° 18' 19.8" - 130° 59' 54.83" 135° 50' 47.59" -3° 10' 23.4" 128° 13' 53.48" 134° 23' 21.86" -1° 43' 36.16" -0° 8' 38.04" 128° 7' 19.50" -0° 37' 12.49" 130° 40' 40.79" -7° 47' 28.4" 135° 38' 35.32" -0° 55' 18.8" -0° 32' 53.95" 135° 13' 25.88" 134° 33' 14.57" -1° 27' 32.44" -7° 57' 38.2136" 134° 59' 40.62" -0° 52' 37.67" -3° 26' 35.72" 129° 55' 9. Kabupaten Manokwari 2.31" 130° 35' 34.05" 129° 34' 33.56" 130° 41' 34.80" 133° 43' 15.20" Provinsi Papua Barat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat 1.77" - -1° 54' 5.43" -1° 45' 20.53 -1° 52' 0.26" 129° 33' 59.31" 130° 46' 30.64" 130° 58' 9.86" -4° 7' 22.12" -8° 15' 46.01" -1° 11' 40.55" -3° 45' 29.91" -3° 9' 49.42" 130° 42' 31.08" -0° 47' 35.39" -1° 51' 23.42" -0° 5' 7.69" -7° 29' 31.96" -1° 45' 53.24" -3° 11' 1.51" 135° 1' 23.94" -3° 35' 56.16" -1° 46' 44.

5. Kabupaten Wamena Papua Nugini KETERANGAN b c d B. Kabupaten Boven Digul x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. Kabupaten Keerom B.85" - -3° 51' 31.47" - -4° 22' 40. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 6.82" -3° 3' 56. 3.55" -2° 56' 38.66" 139° 27' 23. Kabupaten Mimika 2.51" -3° 0' 8.99" -3° 1' 45. Provinsi Papua 1.20" 140° 18' 1. Kabupaten Yahukimo A.03" -3° 32' 36. Keterangan                       a b c d : CAT dalam kabupaten/kota : CAT lintas kabupaten/kota : CAT lintas provinsi : CAT lintas negara Jumlah Cekungan Air Tanah 206 cekungan 176 cekungan 35 cekungan 4 cekungan 421 cekungan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua 1.44" -3° 13' 12. 4. Kabupaten Mappi 4.43" -5° 11' 28. 4.94" 139° 21' 0.20" 141° 0' 0" 140° 55' 37. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Asmat 3.51" 139° 57' 44.05" -3° 7' 17. 2010 118 118 .34" 140° 33' 30. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.88" 140° 52' 46.71" 140° 31' 55.11" 139° 55' 6.15" - 141° 0' 0" -4° 5' 29.37" -3° 41' 38.82" 25380 x 412 413 414 415 416 417 418 419 420 Enarotali Wamena Hulu S. 3.17" - -9° 7' 59.97" -4° 8' 10.NO.32" - 138° 57' 18. Provinsi Papua LOKASI a Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Tolikara Kabupaten Paniai Kabupaten Keerom Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Paniai Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Wamena x x KETERANGAN b c d 411 Taritatu 136° 49' 23. Kabupaten Jayapura 2.15" 8160 1766 180 1685 165 7235 573 754 2902 x 421 Timika-Merauke 134° 49' 35. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.92" -2° 28' 48. Provinsi Papua 1.87" -4° 40' 4. 8. 7. 6. Kabupaten Yahukimo 8. Kabupaten Pegunungan Bintang 7.45" -4° 12' 25. Kabupaten Merauke 5. 2010 117 117 NO.87" 140° 25' 20. 2. Papua Nugini Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua 1.62" -2° 32' 32.Senggi Jayapura Timur Arso Lereh-Leweh Ubrub Mandala Nalco-Bime 135° 46' 26.70" -3° 46' 10.89" 138° 42' 41.07 -3° 59' 59.88" 131609 Kabupaten Wamena Provinsi Papua Kabupaten Keerom A. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 2.21" -4° 13' 50.70" 140° 31' 15.20" 140° 40' 59. Provinsi Papua 1.67" 141° 0' 0" -3° 42' 6. Provinsi Papua 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3.29" - 140° 23' 4.17" 140° 45' 32.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful