PT-PLA C 1.

1 - 2010

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL DAN IRIGASI AIR TANAH DALAM

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN IR DEPARTEMEN PERTANIAN 2010

KATA PENGANTAR
   

dinas lingkup Pertanian di tingkat Kabupaten/Kota) sesuai dengan kondisi dan potensi di daerah masing-masing

Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah (Irigasi Air Tanah Dangkal dan Irigasi Air Tanah Dalam) dalam menunjang pembangunan pertanian merupakan salah satu bentuk upaya pengembangan sumber air irigasi untuk usaha pertanian, baik untuk sub-sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Petunjuk/pedoman teknis pengembangan irigasi air tanah dangkal dan dalam ini disusun dengan maksud untuk menjadi pedoman atau petunjuk atau acuan pelaksanaan bagi para pelaksana kegiatan pengelolaan air, khususnya pengembangan irigasi air tanah di daerah (Propinsi dan Kabupaten/ Kota). Pedoman teknis ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pelaksanaan kegiatan di lapangan, terutama dalam mengartikan dan merinci ketentuan-ketentuan teknis di tingkat lapangan. Dengan pertimbangan bahwa kondisi dan potensi antar daerah yang sangat bervariasi, maka pedoman teknis ini harus dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan oleh Satker Propinsi (Dinas-dinas lingkup Pertanian di tingkat Propinsi) dan selanjutnya dalam bentuk Petunjuk Teknis oleh Satker Kabupaten (Dinas 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

Buku pedoman ini dibagi menjadi 2 bagian, masingmasing terdiri dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal. Oleh karena itu, penggunaan atau pemanfaatan buku pedoman ini harus disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan di masing-masing daerah. Demikian semoga pedoman ini dapat dijadikan sebagai acuan/petunjuk oleh para pelaksana kegiatan dengan sebaikbaiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Jakarta, Januari 2010 Direktur Pengelolaan Air,

Ir. Tunggul Iman Panudju, M.Sc NIP. 19580526 198703 1 002

 
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

i

ii

i

ii

BAGIAN I

DAFTAR ISI
PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL
KATA PENGANTAR .................................................i DAFTAR ISI ........................................................ iii I. PENDAHULUAN ................................................ 1 A. Latar Belakang ............................................ 1 B. Tujuan dan Sasaran....................................... 3 C. Pengertian ................................................. 4 II. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL......... 6 A. Persyaratan Lokasi........................................ 6 B. Persyaratan Petani/Kelompok .......................... 7 III. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ............... 8 A. Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal................... 8 1. 2. 3. Sumur ................................................. 8 Pompa Air............................................. 9 Jaringan Distribusi .................................. 9

E. Pelatihan ..................................................19 F. Pemanfaatan .............................................19 G. Pembiayaan...............................................19 I. Waktu Pelaksanaan ......................................20 V. MONITORING DAN EVALUASI ..............................21 A. Indikator Kinerja.........................................21 B. Monitoring dan Evaluasi.................................21 C. Pelaporan .................................................22 D. Pengendalian .............................................22 DAFTAR PUSTAKA................................................24 LAMPIRAN                            

B. Kriteria Teknis ...........................................10 IV. PELAKSANAAN................................................14 A. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana......14 B. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal ...............................17 C. Operasi dan Pemeliharaan .............................18 D. Pembinaan ................................................18
Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iii

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

iv

iii

iv

...........................13 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) ..12 Rumah Pompa/Genset..14 A........ Pelatihan ....................................... 2010 vi v vi .................16 IV... Pembinaan ...................................25 D......................................................10 III............ PENDAHULUAN ...... PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ............... Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam ...................................................28 B.... 2010 v Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA........ 4 II.....28 I................... 3..................19 B.... 2............. Indikator Kinerja...... Pemanfaatan ........................................................................ 3 C... PELAKSANAAN. Kriteria Teknis ........27 I........11 1....... Sumur .............. Persyaratan Petani .....27 V.........26 G........................ Pelaporan ..................................................26 F.............................................BAGIAN II DAFTAR ISI PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM E.... Waktu Pelaksanaan ....... KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM............. Latar Belakang .....................................25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA....................... Komponen Irigasi Air Tanah Dalam......................... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA......29 D........................ 298 LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA UNTUK MENENTUKAN TITIK LOKASI PENGEBORAN....................... Tujuan dan Sasaran....... MONITORING DAN EVALUASI .........11 Pompa Air dan Perlengkapannya....... 1 A.............................. Pengendalian .......11 A..... Pengertian ....19 A.. 8 B.................. 1 B............... 4.......... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... Operasi dan Pemeliharaan ............ Monitoring dan Evaluasi.....................31 DAFTAR PUSTAKA..................................................... Persyaratan Lokasi................. 7 A.. Survey Investigasi dan Desain Sederhana ..33 LAMPIRAN B...............................23 C...............................................28 C................................................................... Pembiayaan..

PENDAHULUAN Latar Belakang Pemanfaatan air permukaan. danau. Pengelompokan ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan air tanah dan kebutuhan infrastrukturnya. potensi air tanah di suatu wilayah relatif tetap apabila tidak diusahakan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 1 2 . untuk maka perlu dipikirkan air alternatif memenuhi kebutuhan permukaan tanahnya konstan. sehingga memungkinkan untuk diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa. tanaman dari sumber air yang lain. Namun demikian.BAGIAN I  PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL I. Air tanah merupakan salah satu pilihan sumber air yang dapat dikembangkan untuk pertanian. 2010 Pemanfaatan air tanah dangkal dari sumur-sumur yang diangkat dengan menggunakan pompa memerlukan biaya tambahan. maka sering kali tanaman yang dibudidayakan pada periode tersebut mengalami kekeringan. Pengambilan air tanah sesuai dengan kemampuan pengisiannya. waduk. baik untuk pengadaan pompa 2 maupun pembuatan bangunan penampung (reservoir) 1 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bagi daerah yang mempunyai potensi sumber air tanah dangkal. Secara teroritis. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka pengisian air tanah (water recharging) tidak terjadi secara alamiah. Pertimbangannya. A. sehingga dapat dikembangkan oleh petani setempat secara mandiri ataupun jika memerlukan dukungan masih pada tingkatan yang relatif terbatas. pemanfaatannya akan lebih mudah karena infrastruktur yang diperlukan lebih sederhana. Berdasarkan fakta empirik lain tersebut. embung dan lain-lain telah lama dilakukan masyarakat. seperti sungai. Sumber air tanah dangkal umumnya terdapat di dalam lapisan-lapisan tanah yang tidak begitu dalam. karena beda potensial antara air tanah dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. berdasarkan pemanfaatannya. maka ada dua jenis air tanah yaitu : (1) air tanah dangkal dan (2) air tanah dalam. selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian juga memungkinkan terjadinya akselerasi sirkulasi air tanah. karena kebutuhannya belum proporsional dibandingkan dengan ketersediaannya terutama pada musim kemarau.

c. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian. Tujuan dan Sasaran 1. Oleh karena itu. Meningkatnya produktivitas. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. B. Pengertian 1. 2010 unit (alokasi per kabupaten berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada b. irigasi air tanah dangkal dukungan pembiayaan yang akan berasal dari jenis komoditas yang diusahakan petani dan kelompoknya sehingga keberlanjutan (sustainability) usaha pompa dalam pendayagunaan air tanah dangkal dapat dipertahankan. pengaturan. dan 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. perlu adanya a. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. luas tanam. Irigasi : usaha penyediaan. Agar nilai manfaat air tanah dangkal dapat dioptimalkan. peningkatan areal tanam dan peningkatan permukaan. agar ketergantungan kepada pemerintah dapat diminimalkan. 2.530 ha. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. terutama pada lahan kering dan tadah hujan. Terbangunnya sebanyak 706 Lampiran 1). Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah : a. 2010 4 3 4 . dan pembuangan pertanian. irigasi tambak. 2. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas 3. maka perlu dirancang mekanisme pembayaran biaya operasional dan pemeliharaan (OP) dalam kelompok (partisipasi petani). Meningkatkan kualitas produksi pertanian dan pendapatan petani. C. irigasi rawa. 3. dan produktivitas usaha tani. c. Air Tanah Dangkal : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah pada kedalaman < 30 meter. Berkurangnya d. b.sebagai tandon air. irigasi air tanah. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi resiko produksi kegagalan usahatani usahatani melalui karena kekurangan air irigasi/kekeringan.

Potensi sumber air tanah dangkal yang tersedia paling tidak dapat memberikan air irigasi suplementer (supplementary irrigation) pada areal seluas kurang lebih 5 hektar sesuai jenis komoditas yang diusahakan. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. pengambilan. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. 8. 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Persyaratan Lokasi 1. garis bujur. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. penyaluran dan pembagian. Diprioritaskan pada lokasi lahan sawah tadah hujan dan lahan kering kawasan tanaman pangan. II. 2. Sumber Air Irigasi : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. di atas. di atas. Di lokasi yang bersangkutan mempunyai potensi air tanah dangkal. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan. ataupun di bawah permukaan tanah. dan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumurbor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. 7. Di lokasi yang bersangkutan usahataninya sudah berkembang atau paling tidak daerah tersebut sesuai untuk pengembangan usaha tani tanaman pangan. dan ketinggian di atas permukaan laut. perkebunan. peternakan. 5. maka pemilihan lokasi harus dilakukan dengan tepat.4. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. 2010 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. 3. Beberapa kriteria yang perlu diperhitungkan antara lain : A. 2010 6 5 6 . PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL  Agar pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat berhasil dengan baik. 6. hortikultura. baik kuantitas maupun kualitasnya.

A. Dalam pengelolaannya termasuk pemanfaatannya. air minum ternak. Lahan usaha tani yang akan mendapat pelayanan irigasi air tanah dangkal yang akan dibangun adalah lahan milik petani. Petani di lokasi memerlukan irigasi air tanah dangkal dana dan mampu dan memanfaatkan pemeliharaan serta yang merawatnya dengan baik termasuk menyediakan operasional dibuktikan dari surat pernyataan kelompok tani atas nama petani. digunakan untuk hijauan makanan ternak. Dapat dikembangkan di lokasi Daerah Irigasi (DI) yang memiliki jaringan irigasi di mana kondisi ketersediaan air pada musim kemarau tidak mampu mengairi lahan usaha tani. Untuk kawasan 3. III. Minimal ada tiga komponen yang diperlukan agar air tanah dangkal tersedia untuk irigasi : (a) sumur (b) pompa air dan motor penggerak dan (c) jaringan distribusi. misalnya dengan pompa. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL Komponen Irigasi Air Tanah Dangkal Agar air tanah dangkal dapat dimanfaatkan untuk air irigasi. pantek pengembangannya dengan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 7 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Persyaratan Petani/Kelompok 1. dan sanitasi ternak. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. terlebih dahulu harus dibuat sumur sebagai tempat pengambilan. Sumur Untuk dapat memanfaatkan air tanah. 2010 7 8 . B. 2. 1. 5. 6. Diprioritaskan pada kelompok tani/P3A yang sudah terbentuk atau akan membentuk kelompok tani/ P3A/P3AT apabila dibangun irigasi air tanah dangkal. maka diperlukan upaya pengambilan/ pengangkatan ke permukaan tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.hortikultura. Sumur tersebut dapat berupa sumur gali (cara pengembangannya dengan digali) sumur dan sumur bor/ (cara 8 peternakan. dan perkebunan. sarana/fasilitas/peralatan irigasi air tanah dangkal tidak boleh dikuasai secara perorangan tetapi harus digunakan oleh anggota kelompok.

Jaringan Distribusi Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usahatani.dibor). Untuk kehilangan losses) mengurangi air (water dalam dengan kedalaman air tanah ( < 30 m ). digerakkan dengan motor penggerak bertenaga diesel atau bensin atau tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). maka perlu dibangun jaringan 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. Kedalaman sumur yang dibuat disesuaikan irigasi air tanah (JIAT). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. bangunan pengatur debit dan katup penutup yang berfungsi untuk mengatur arah aliran dalam pipa. bangunan pengatur berupa pintu dan boks pembagi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 10 9 10 . penyaluran. yang terdiri atas: saluran. 3. 2 (dua) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 2 (dua) buah atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk jaringan distribusinya. 1 (satu) buah pompa air dan motor penggeraknya dengan 1 (satu) atau lebih sumur bor/sumur gali termasuk saluran distribusinya. atau b. dimana 1 (satu) unit pompa air akan digunakan untuk melayani beberapa sumur. Jenis pompa air yang biasa digunakan untuk air tanah dangkal pada umumnya jenis Pompa pompa air B. 2. Pompa Air Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dalam tanah ke permukaan tanah. Pompa air tanah dangkal bersifat mobile (dapat dipindah-pindahkan).  Kriteria Teknis Pengertian 1 unit irigasi air tanah dangkal berdasarkan luas layanan oncoran adalah sebagai berikut : a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sentrifugal.

Kedalaman sumur disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer. 2010 11 12 . Untuk sumur bor/pantek. c. dan pembuangan. Bila struktur tanahnya labil. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. b. penggerak : motor bertenaga diesel atau bensin. dinding sumur dapat diperkuat dengan tembok atau buis beton. Diutamakan yang telah memiliki SNI atau sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi pemerintah. Diutamakan telah memiliki/memenuhi SNI atau memiliki sertifikat hasil uji dari intansi atau lembaga sertifikasi yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. pipa/selang hisap. Pipa-pipa : Pipa-pipa diperlukan untuk pipa selubung luar (casing pada sumur bor).Alternatif pilihan butir a atau b didasarkan pada kecukupan dana dan diuraikan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Sumur : dapat dibuat dalam bentuk sumur gali atau sumur bor. Diameter sumur gali dengan diameter lebih kurang 1 meter. diameter selubungnya disesuaikan dengan kondisi jenis pompanya. mudah dalam perawatan dan suku cadang tersedia di pasar setempat. tenaga listrik atau tenaga angin (kincir angin). Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pengembangan irigasi air tanah dangkal antara lain : a. d. Terbuat dari bahan besi atau PVC (paralon) cukup kuat. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa air : tipe : sentrifugal atau axial. Jaringan Distribusi (JIAT) Penyempurnaan pompa dapat jaringan dimanfaatkan distribusi seefisien dan 12 yang resmi ditunjuk oleh dimaksudkan agar air yang dikeluarkan dari Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dapat diterima petani. 2010 11 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

seefektif kebocoran/ tersebut. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. baik dari segi teknis maupun sosial. Survey Investigasi dan Desain (SID) Sederhana 1. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dangkal. Pelaksanaan survei investigasi dikoordinasikan dengan instansi/Sub Dinas terkait terutama dengan Sub Dinas yang menangani komoditas yang akan dikembangkan. PELAKSANAAN Tahapan pengembangan irigasi air tanah dangkal dapat dilaksanakan sebagai berikut : Jaringan distribusi tersebut dapat berupa pipa atau selang yang tahan bocor. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Survey Investigasi Survey investigasi dimaksudkan untuk yang mendapatkan calon lokasi dan petani sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal. 2010 14 13 14 . mungkin. kehilangan dengan air mengurangi pada saluran IV. Pelaksanaan survei investigasi dibiayai oleh daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan) dan dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petugas Kecamatan. A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

peralatan. Rancangan/desain irigasi air tanah dangkal sederhana sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). Luas layanan oncoran (command area) yang akan diairi. kedalaman sumur. 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. d. Kondisi usaha tani dan jenis komoditi yang layak dikembangkan. dan mesin Berdasarkan diperlukan. c. 3. sehingga dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. b. dangkal Untuk yang menekan diangkat biaya dari operasional dalam hal distribusi air. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 letak/lokasi sumur (koordinat sumur). meliputi kedalaman dan kapasitas pompa/air yang keluar dari mesin pompa. maka air telah sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat ditampung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan daerah layanan irigasinya dengan menggunakan bak penampung air (jika dananya mencukupi). 2010 jumlah dan irigasi kebutuhan pipa-pipa. jaringan pembangunan/perbaikan 15 15 16 . Potensi air tanah dangkal untuk kebutuhan irigasi. hasil SID akan dapat diketahui kebutuhan bahan. dan yang 16 spesifikasi motor penggerak pompa. e. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dangkal Rancangan/desain sederhana disusun untuk lokasi yang ditetapkan sebagai calon lokasi pengembangan irigasi air taanah dangkal. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat digunakan untuk menetapkan spefisikasi pompa air. Satu hal yang perlu diperhitungkan dalam penyusunan desain sumur air tanah dangkal sederhana yaitu dalam hal tanah distribusi. Kebutuhan bahan.Laporan hasil survei investigasi paling tidak memuat : a. Gambar/sketsa saluran distribusi. peralatan. dan rancangan jaringan irigasi yang akan dibangun. spesifikasi diperlukan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan mesin yang Data kedalamam dan potensi air tanah. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

B. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani sebagai penerima manfaat. Pelaksanaan Konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan dengan pola Bansos (dana ditransfer langsung ke rekening kelompok tani). Pola pelaksanaan Bansos mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum Bansos Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4. 2010 18 17 18 . pemasangan perbaikan jaringan pengembangan dan distribusinya. pengolahan. Pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan berdasarkan kepada usulan yang diajukan oleh petani/kelompoktani seperti RUKK (Rencana Usulan Kerja Kelompok) setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kab/Kota (contoh RUKK dapat dilihat pada Lampiran 2). panen. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dangkal. serta pengembangan usaha lainnya.C. 2010 Pembinaan 1. Perkiraan pengadaan bahan. ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok tani. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Besarnya iuran pelayanan irigasi yang dibutuhkan. 1. 2. pompa air dan perlengkapannya. Kebutuhan anggaran Meliputi perkiraan kebutuhan biaya untuk sumur. teknik budidaya. kebutuhan anggaran ini dijadikan acuan dalam penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS). 2. pengembangan/ Operasi dan Pemeliharaan 1. 2. 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal D. pasca panen. pemilihan komoditas yang diusahakan. 3. peralatan. pipa-pipa. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pemasaran hasil. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah dangkal diserahkan kepada petani/kelompok tani. Pembinaan terhadap petani penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/Kota secara berkelanjutan.

Pemanfaatan Dengan pertimbangan biaya investasi. Pembiayaan Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal dipergunakan untuk pembuatan sumur bor/gali. operasi dan pemeliharaan efisien. F. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.E. Kebutuhan biaya jaringan untuk SID irigasi/distribusi. maka pemanfaatannya harus dilakukan secara efektif dan G. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dangkal dilaksanakan oleh pihak ketiga/pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah. dan pembinaan disediakan dari APBD Propinsi. 2010 19 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. I. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi air tanah. yang relatif tinggi. Pelatihan 1. pengadaaan pipa-pipa. 2. 2010 20 19 20 . dan partisipasi masyarakat. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pompa air dan perlengkapannya. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dangkal mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. APBD Kabupaten/ Kota. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Impact : Peningkatan produksi usahatani dan pendapatan petani.4 (diisi di tingkat Propinsi). 2. Benefit : Terjadinya peningkatan pertanian. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dangkal.1. B.2 (diisi di tingkat usaha Kabupaten/Kota) serta 4. seperti peningkatan luas tanam. 2.V. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas keterPertanian Pengelolaan Propinsi Air). Outcome : Terjadinya sediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan potensi air tanah dangkal. peningkatan 2. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang disusun setiap bulan. Laporan Akhir agar dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.3 dan 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dangkal selesai. Monitoring dan Evaluasi 1. 2010 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Output : Terbangun dan berfungsinya irigasi air tanah dangkal. Terdapat 2 (tiga) jenis laporan yang harus dibuat yaitu Laporan Perkembangan dan Laporan Akhir. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai 22 1. 4. Agar lebih informatif dan komunikatif. dengan Laporan tembusannya Bulanan disusun disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat mengacu pada Lampiran 4. 2010 21 22 . 3. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dangkal dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. intensitas pertanaman (IP). Pelaporan 1. 3. peningkatan produktivitas. 4. A. MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal adalah sebagai berikut : C. Evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun.

Jl. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. D. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan. Departemen Pertanian. Jakarta. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. Jakarta. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Jakarta.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air. Gita Rencana Multiplan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2004. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. ---------------. 2010 23 24 23 24 . 2004. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. 4. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Ditjen Sumber Daya Air. 1994/1995. Departemen Pekerjaan Umum. Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. Taman Margasatwa No. 2010 Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Proyek Pengembangan Sumberdaya. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Petunjuk Teknis Pengembangan Pompa Air Tanah Dangkal. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti DAFTAR PUSTAKA   Anonimous.kegiatan). PT. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Laporan Akhir agar mengikuti outline             seperti pada Lampiran 5. Dit.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Irigasi. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c. Departemen Pertanian. 2002. Sarana dan Prasarana Tanaman Pangan dan Hortikultura. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Laporan Akhir. Jakarta. 2004.

Sukoharjo Kab. Garut Kab. Bandung Kab. Bandung Barat 2 Prop. Tasikmalaya Kota Tasikmalaya Kab. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Serang 3 Prop. Sosrodarsono. Suyono dan Takeda. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kensaku (editor). Jakarta. Kendal 2 1 2 2 3 2 3 1 2 4 2 2 29 2 3 19 10 1 1 16 Sub Sektor Horti Bun Nak 3 1 1 1 Jumlah (Unit) 19 1 2 3 2 3 2 3 1 2 5 3 2 58 2 3 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lebak Kab. Ciamis Kab. Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. DITJEN PLA TAHUN 2010   No Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. PT. Jakarta.Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Cirebon Kab. Banyumas Kab. Jawa Tengah Kab. Hidrologi Untuk Pengairan. Subang Kab. Pradnya Paramita. 2003. Banten Kab. 2010 26 25 26 . Bogor Kab. Jawa Barat Kab.

Tanah Karo Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Labuhan Batu Utara Kab. Purworejo Kab. Rembang Kab. Pidie Jaya Kab. 2010 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. NAD Kab. Jawa Timur Kab. DIY Kab. Simalungun Kab. Nias Selatan Kota Padang Lawas Utara 4 Prop. Situbondo Kab. Lamongan Sub Sektor Horti Bun 5 3 16 3 2 2 4 5 11 8 14 1 2 2 3 2 5 2 4 8 7 11 2 9 3 2 26 1 5 2 2 Nak Jumlah (Unit) 5 3 16 3 2 2 4 5 33 1 2 4 5 2 5 2 4 8 53 6 7 6 Prop. Pati Kab. Tapanuli Selatan Kab. Jombang Kab. Kulon Progo 3 3 - 4 - 5 Prop. Pasaman 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gunungkidul Kab. Bener Meriah 7 Prop. Aceh Utara Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Tulungagung Kab. Kudus Kab. Pemalang Kab. Pacitan Kab. Sumatera Utara Kab. Blora Kab. Grobogan Kab. Dairi Kab. Sampang Kab. Labuhan Batu Kab. Mojokerto Kab. Tuban 9 5 1 4 17 3 8 Prop Sumatera Barat Kab. Klaten Kab. Aceh Timur Kab. Salatiga 3 2 10 10 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 10 5 5 2 5 7 10 5 4 2 5 6 3 2 3 3 7 3 4 4 8 38 5 1 1 1 3 11 2 3 11 2 3 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Gresik Kab. 2010 28 27 28 . Banyuwangi Kab. Bireun Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Langkat Kab. Agam Kab.

Tanggamus - 15 26 3 45 3 4 9 Prop. Banyuasin Kab. Muaro Jambi Kab. Sarolangun Kab. Kerinci Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Solok Kab. 2010 29 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Muara Bungo 2 2 5 2 4 2 2 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 2 2 2 2 4 2 2 3 2 1 8 7 6 5 2 2 7 3 1 1 20 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 17 2 11 8 3 6 3 - 7 3 1 4 26 2 2 5 3 2 2 3 2 2 3 38 12 11 1 6 2 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Siak Kota Pekanbaru 4 4 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 4 1 3 3 3 10 8 7 2 4 3 4 10 1 3 10 Prop. Pesisir Selatan Kab. Pelalawan Kab. Tanjab Barat Kab. Kampar Kab. Musi Rawas Kab. Tebo Kab. Lampung Selatan Kab. 2010 30 29 30 . Batanghari Kab. Muara Enim Kab. Ogan Komering Ilir Kab. Sijunjung 4 2 1 Sub Sektor Horti Bun 2 Nak 4 Jumlah (Unit) 6 2 10 11 2 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Riau Kab. Solok Selatan Kab. Rokan Hulu Kab. Tanah Datar Kota Bukit Tinggi Kota Padang Panjang Kota Padang Kab. Bengkalis Kab. Rokan Hilir Kab. Tanjab Timur Kab. Kuantan Singingi Kab. Indragiri Hilir Kab. Sumatera Selatan Kab. Empat Lawang Prop. Musi Banyuasin Kab. Pasaman Barat Kab. Lampung Kab. Ogan Ilir Kab. Jambi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Ogan Komering Ulu Kota Lubuk Linggau Kab. Indragiri Hulu Kab.

Gowa Kab. Maluku Utara Kab. Gunung Mas Kab. Halmahera Selatan Prop. Kotabaru Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Barito Kuala Kab. Paser Kota Balikpapan Kota Samarinda Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. 2010 32 31 32 . Bengkayang Kab. Jeneponto Kab. Kalimantan Barat Kab. Bengkulu Utara Kab. Kalimantan Selatan Kab. Landak Kab. Tanah Bumbu Sub Sektor Horti Bun 3 3 5 14 4 5 3 3 4 5 5 3 24 2 4 3 4 16 3 8 3 2 3 3 3 3 3 1 4 2 3 Nak Jumlah (Unit) 3 3 19 4 5 3 3 4 8 5 3 48 8 8 3 2 3 3 3 3 10 13 Prop. Bengkulu Tengah 18 Prop. Bantaeng Kab. Sambas 19 Prop. Sidenreng Rappang Kab. Seluma Kab. Tapin Kab. Enrekang Kab. Kalimantan Timur Kab. Murung Raya 17 Prop. Kotawaringin Timur Kab. 2010 31 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pesawaran Sub Sektor Horti Bun Nak 3 3 3 3 5 4 2 5 5 5 4 10 4 4 1 2 13 3 3 5 2 6 8 4 4 5 9 3 Jumlah (Unit) 3 3 17 6 5 4 2 5 5 15 8 4 3 13 3 3 5 2 14 4 4 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Penajam Paser Utara Kab. Lampung Tengah Kab. Kutai Kertanegara 14 Prop. Luwu Kab. Poso Kota Palu 15 20 Prop. Sinjai Kab. Kapuas Kab. Muko-Muko Kab. Sulawesi Selatan Kab. Tana Toraja 16 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sulawesi Tengah Kab. Bengkulu Kab. Maros Kab. Kalimantan Tengah Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Timor Tengah Selatan Kab. Bangli Kab. Lombok Tengah Kab.No Prop/Kab/Kota TP Kab. Dompu Kota Bima Kab. Kepulauan Riau Kab. Sikka Kab. Wajo 5 4 2 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 5 No Prop/Kab/Kota TP Kab. Lombok Barat Kab. Sumbawa Kab. NTT Kab. Lombok Timur Kab. Kupang Kab. Ngada Kab. Karangasem Kota Denpasar 26 Prop. Manggarai Barat Kab. 2010 34 33 34 . Lembata Kab. Bali Kab. Bone Bolango Prop. Boalemo Kab. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Bintan Kota Batam 24 Prop. Alor Kab. Sumba Tengah 23 Prop. Timor Tengah Utara Kab. Wakatobi - - 2 6 2 3 4 2 2 2 2 5 3 3 18 26 5 2 17 2 2 5 2 3 3 4 3 5 5 1 5 5 3 5 3 10 3 6 4 2 7 6 5 66 2 7 2 3 16 4 11 5 5 1 5 5 2 2 8 3 5 9 3 3 3 3 1 2 15 5 10 6 10 7 1 3 3 2 9 3 9 16 4 10 - 2 2 17 6 8 3 3 1 2 25 5 20 13 1 7 3 2 37 27 22 Prop. Buleleng Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Gorontalo Kab. Sumbawa Barat 2 3 4 Sub Sektor Horti Bun Nak Jumlah (Unit) 4 21 Prop. Bima Kab. Maluku Kab. Sulawesi Tenggara Kab. Pahowato Kab. NTB Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Rotendau Kab. Bombana Kab. Sumba Barat Kab. Maluku Tenggara Barat Kota Tual 25 Prop. Muna Kab. Sumba Barat Daya Kab.

Jayapura Kab. Sorong Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Papua Kab. 2010 36 35 36 . Mamberamo Tengah                   29 Prop. Manokwari Kab. Mappi Kab. Biak Numfor Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Nabire Kab.No Prop/Kab/Kota TP Sub Sektor Horti 5 Bun 7 2 Nak 14 5 4 5 5 2 14 8 4 4 4 4 4 2 237 3 2 62 155 252 3 3 Jumlah (Unit) 26 7 4 8 5 2 26 4 7 4 7 4 706 28 Prop. Sorong Selatan Jumlah Total   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 237 Unit Hortikultura Perkebunan Peternakan               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 : 62 Unit : 155 Unit : 252 Unit 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Fak-Fak Kota Sorong Kab. Papua Barat Kab.

.2010                                                           Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.... 2010 38 37 38 .Lampiran 2                                                                       CONTOH RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DANGKAL TAHUN 2010 Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal T....... 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA...... …………….A 2010 Lampiran 3   ... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Pompa 8. : ……………………………. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a. 2010 9. Irigasi Tanah Dalam 6. P I P 12. Irigasi Tanah Dangkal 5.. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.. Air Permukaan 7. : ……………………………. Harsono RM No. 2010 40 39 40 . dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH ……………………….. Harsono RM No. 4. : …………………………….Lampiran 4. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : ……………………………. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi               Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. Sekolah Lapang Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                     Ctt: 1.………………. P I P 12. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. 7. Sumur Resapan 11. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A.. 5. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Balai Subak 13. : …………………………….. : ……………………………. Embung 9. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. Embung 9.id 3. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. Form PLA. 3 Ragunan Jaksel. …………………….. Dam Parit 10. TAM 4. 2. : ……………………………. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.A.go. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. 4. Balai Subak 13. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.*) Kab/Kota ………………… 1. 6.. Irigasi Tanah Dalam 6... paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. : ……………………………. Dam Parit 10. 3. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No.go. Sumur Resapan 11. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4.. 3.02   ` LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T..01 : ……………………………. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. P I P 12. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan..2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. **) Coret yang tidak perlu ………………………..…………. : …………………………….id 3. …………………………. Aspek Kegiatan 3 1. Rehab JITUT 2. : ……………………………. Air Permukaan 7. 2010       39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa 8. 2. 8.. Pengelolaan Air 5. Rehab JIDES 3.*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. Dam Parit 10. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Form PLA. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.*) Kab/Kota ………………… Dinas……………………..1 Lampiran 4. Sumur Resapan 11. Balai Subak 13.

2006. : ………………………………. 2007. Rehab JITUT 2. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten                         41 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.04 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. / Kg atau Rp. 2010 42 41 42 . 2007. No.…………. Irigasi Tanah Dangkal 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Subsektor No. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 : ……………………………….250 ton b. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha..000. 25. Harsono RM No. c. Embung 9.000 X 1.4 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Manfaat harus terukur. c.. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. contoh : a. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. Rehab JIDES 3. contoh : a. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0.5 = 750 ton Catatan : 1.. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. : ………………………………. 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.000.000 = Rp. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.000.000 = Rp.5 ton X 1. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.3 Form PLA.03       Lampiran 4. Form PLA.5 = 750 ton …………. / Kg atau Rp. : ………………………………. 25. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.…………. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1.Lampiran 4. : ………………………………. 25. 2006. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.id 3 Manfaat harus terukur. 1 A.5 ton/Ha dan IP 150 %. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Dam Parit 10. 25. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2.000..id 3. ………………………… 2010 ……………….5 ton X 1. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2..000.5 X 5 Ton = 1. Pompa 8. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.000. Harsono RM No. Air Permukaan 7. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.P I P 12. Irigasi Tanah Dalam 6. 1 A.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. : ………………………………. ………………….go.5 X 5 Ton = 1. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha.Balai Subak 13..000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ………………………………. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. 25. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.Sumur Resapan 11... Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat.go.5 ton/Ha dan IP 150 %.. TAM 4. 25.000 X 1.250 ton b. 25. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. : ………………………………. 25.

Pemecahan Masalah   III. Tahap Pelaksanaan D. PENDAHULUAN  A. Lokasi (administratif dan koordinat) B. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.  Lampiran 5   Outline Laporan Akhir I. Tujuan dan Sasaran   II. DAMPAK    VI. Masalah E. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN  A. Latar Belakang B. Masukan C. 2010 44 43 44 . HASIL    IV. KESIMPULAN DAN SARAN  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. MANFAAT    V.

Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota d. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. URAIAN KEGIATAN f. RAB a. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. Organisasi/kelembagaan 4. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c.2. I PERSIAPAN 1. Apakah ada potensi sumber air tanah dangkal c. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dangkal b. Calon Petani a. Apakah calon lokasi mudah diakses e. 2010 2 . Juklak 2. Juknis 3. Apakah sudah disusun desain . 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak Ya/tidak 1 1 No. 5. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Apakah RUKK sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4.1. SID 4.3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Lampiran 6 Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah No. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Desain Sederhana a.

Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum IV MONEV DAN PELAPORAN 4. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain 2. Apakah mekanisme pencairan rekening kelompok melalui "contra sign" f. 4.4. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum. URAIAN KEGIATAN e. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Monitoring a.2. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b. 2010 4 . Bendahara Pengeluaran 7. dalam pelaksanaan dan akhir) 5. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. 2010 3 3 No. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi 4.1. SK Tim Teknis /Koorlap KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada III PELAKSANAAN 1. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c.2. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. Apakah sudah dibuat pembukuan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 4 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.3.No. Evaluasi URAIAN KEGIATAN a. Apakah sudah dibuat laporan akhir KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum V PERTANGGUNGJAWABAN 5.1.3. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. SK KPA. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PPK. Pelaporan a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b.

waktu dan penyebarannya curah hujan berbeda antar wilayah dan antar waktu. sementara kebutuhannya BAGIAN II PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM I. perkebunan. Keragaman curah hujan (rainfall variability) menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal) menyebabkan jumlah. 1 Sedangkan untuk musim 2 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. tersimpan sebagai air tanah/air bawah tanah (ground water). maka curah hujan merupakan sumber air andalan utama untuk pemenuhan kebutuhan irigasi. dan peternakan adalah teladannya. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis basah. Curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian dapat digunakan secara langsung untuk air irigasi. sosial dan ekonomi tidak layak dilakukan. sehingga seringkali terjadi ketidaksesuaian antara yang diperlukan dan yang tersedia.pasokan air sangat terbatas. Teladannya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 relatif tetap. tersebut Pengembangan irigasi air tanah dalam menjadi pilihan ketersediaan sumber air permukaan sangat terbatas sehingga secara teknis. Keragaman ini seringkali sulit diprediksi dan diantisipasi akibat dinamika atmosfer yang luar biasa. danau. di lahan usahatani dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah. pemanfatan air tanah untuk irigasi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian : (a) sebagai suplesi pada saat terjadi kekurangan air dan (b) sebagai sumber air utama. pada musim kemarau. Salah satu sumber air irigasi potensial yang belum optimal digunakan adalah yang pemanfaatan menjanjikan sumber apabila air di tanah lokasi dalam. 2010 1 2 . sebagian tersimpan dalam waduk. Menyadari hal tersebut. A. Pemanfaatan air irigasi sebagai suplesi umumnya dilakukan pada musim hujan (MH) dan musim kemarau pertama (MK1) pada saat terjadi kekurangan air baik di lahan tadah hujan maupun lahan kering. Kekeringan yang menyebabkan terjadinya kegagalan usaha pertanian. sehingga pasokan air untuk pertanian menjadi terbatas. Secara praktikal. pemerintah bersama masyarakat telah membangun berbagai fasilitas irigasi dengan berbagai sumber air irigasi.

b. hortikultura.   B.kemarau dan MK2 umumnya digunakan sebagai sumber air utama. Terbangunnya irigasi air tanah dalam sebanyak 13 unit (alokasi kegiatan berdasarkan DIPA dan POK dapat dilihat pada Lampiran 1). Tujuan dan Sasaran 1. d. Pengertian 1. Meningkatkan ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian khususnya pada lahan kering dan lahan tadah hujan dalam upaya C. Meningkatkan ketersediaan air pada kawasan pakan ternak. Berkurangnya kegagalan usaha tani karena kekurangan air irigasi/kekeringan. d. Meningkatnya ketersediaan air irigasi pada lahan pertanian seluas kira-kira 130 ha. a. Meningkatkan kualitas produk pertanian dan pendapatan petani. Meningkatkan IP (Intensitas Pertanaman). c. Air tersebut terdapat dalam ruang pori dalam lapisan tanah atau batuan yang mengandung air jenuh yang disebut akuifer. perkebunan. Sasaran : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan peternakan. mendukung usaha pertanian tanaman pangan. Akuifer : lapisan batuan jenuh air tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Air Tanah Dalam : air yang berada di dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah dengan kedalaman > 60 meter. 3. 2010 4 3 4 . Meningkatnya produksi usaha tani melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 3 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. luas areal tanam. Tujuan : Tujuan kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah : a. c. Air Tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. b. 2. 2. dan peningkatan produktivitas usaha tani.

irigasi tambak. air termasuk untuk di menunjang dalamnya usaha air irigasi permukaan. 2010 10. 9. di atas. dan 5 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. penyaluran dan pembagian. pengambilan. Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasar garis lintang. irigasi rawa. 6.4. Sumber Air : tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. garis bujur dan ketinggian di atas permukaan laut. Muka air bawah tanah : permukaan air tanah di dalam sumur bor dihitung dari muka tanah setempat atau titik acuan lain. 2010 6 5 6 . Irigasi : usaha penyediaan. Sumber Air Irigasi : tempat/wadah air alami dan/ atau buatan yang terdapat pada. 7. ataupun di bawah permukaan tanah. Cekungan Air Tanah : suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis. 5. pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. pengaturan. dan pembuangan pertanian. irigasi air tanah. di atas. ataupun di bawah permukaan tanah yang dapat dipergunakan untuk irigasi. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) : saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan dan diperlukan untuk pengaturan dan penyaluran irigasi air tanah yang mencakup penyediaan. 8. 11. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur bor produksi air bawah tanah : sumur bor yang dibuat untuk mengambil air bawah tanah pada atau lebih lapisan ekuifer tertentu. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan.

maka sebelumnya perlu dilakukan SID (termasuk survei geolistrik. PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM Dengan pertimbangan teknis pengembangan yang relatif sulit dan biaya yang relatif tinggi. Informasi tentang potensi dan kondisi air tanah di suatu wilayah dapat diperoleh dari dokumen atau peta yang terdapat di instansi seperti Dinas Pertambangan. dapat dihindari. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 (kontaktor) bermutu berpengalaman dalam pengembangan irigasi air tanah dalam sehingga kegagalan sejak tahapan pengeboran Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lokasi pengembangan diutamakan lahan kering atau tadah hujan dimana pada musim kemarau tidak terdapat sumber air permukaan (sungai. terdapat dua faktor penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan irigasi air tanah dalam agar dapat berhasil dengan baik. 2. atau air permukaan tidak mencukupi kebutuhan airnya. dll). perlu memilih/menunjuk yang pelaksana dan A. 2010 Pada lahan irigasi 8 yang telah memiliki jaringan irigasi namun airnya 7 7 8 . Dinas PU. kesediaan petani dalam melakukan OP. salah satu syarat penting yang harus dipenuhi apabila suatu lokasi akan diajukan/dipilih sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah. Daerah (kabupaten/kota) yang melakukan pengembangan irigasi air tanah dalam diwajibkan untuk menunjuk seorang pendamping dari dinas pelaksana yang bertugas mengawasi pelaksanaan pembangunan (konstruksi) irigasi air tanah dalam tersebut.II. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Selain kegiatan itu. konsultan atau kontraktor. waduk. danau. Secara umum. dan lain-lain yang akan digunakan irigasi air sebagai tanah dasar dalam. yaitu: (a) pemilihan lokasi dan (b) persyaratan petani dengan kriteria tertentu sebagai berikut : Persyaratan Lokasi 1. pertimbangan Sedangkan dana atau yang kelengkapan data dan informasi bagi pengembangan digunakan untuk melaksanakan SID merupakan dana yang berasal dari daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan ke daerah). jenis komoditas yang sesuai untuk dikembangkan. dan lain-lain). khususnya sejak tahap pengeboran sampai selesai konstruksi. Mempunyai kedalaman potensi lebih sumber 60 air meter tanah di pada bawah dari permukaan tanah.

perkebunan. 3. Persyaratan Petani 1. B.tidak mencukupi dapat dibangun irigasi air tanah dalam. Belum sejenis. 3. tani/P3A/P3AT Kelompok atau bersedia apabila tani/P3A/P3AT dibangun irigasi air tanah dalam. Mampu dan 5. 2. menyediakan pernah dana memelihara/merawat operasional dan pemeliharaan. Diutamakan bagi petani yang telah membentuk Kelompok membentuk 4. Usaha tani yang dikembangkan adalah tanaman pangan. 2010 10 9 10 . hortikultura. Pemerintah Daerah mendukung kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam dan apabila petani belum mampu menyediakan dana operasi dan pemeliharaan bersedia menyediakan dana operasi dan pemeliharaan sampai tahun ke 2. 6. Petani berinisiatif untuk mengusahakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi. namun tidak mengalami kebanjiran pada musim hujan. 4. Petani di lokasi memerlukan adanya irigasi air tanah dalam dan bersedia memanfaatkan serta memelihara/merawat dengan baik. terutama komoditas perkebunan dan peternakan. mengoperasikan. Lahan usaha yang akan diairi merupakan lahan milik petani. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. mendapatkan bantuan/kegiatan                 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pengembangan usaha tani di lokasi tersebut sering mengalami kendala/masalah air/kekeringan pada musim kemarau. 7. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan peternakan (skala ekonomis dengan memperhitungkan jumlah minimal ternak) 5. 2010 9 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Calon lokasi tidak terdapat sumur air tanah dangkal yang sudah dimanfaatkan untuk mengairi lahan usaha tani atau tidak direncanakan untuk pengembangan irigasi air tanah dangkal.

pompa Jenis yang biasa digunakan submersible disesuaikan dengan kebutuhan. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa Air dan Perlengkapannya Pompa air dipergunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah ke permukaan tanah. Gambaran rinci masing-masing komponen diuraikan pada bagian berikut ini. Pompa air digerakkan dengan motor penggerak tenaga diesel. pipa jambang. 2. 2010 air tanah dalam terlebih pengambilan. Perlengkapan yang diperlukan agar pompa air agar dapat berfungsi mengangkat atau mengambil air dari dalam tanah antara lain selang dan pipa hisap. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pompa dan turbin. pompa umumnya pompa sentrifugal. pipa cassing. dan lain-lain. atau motor listrik. dalam Minimal ada 3 (tiga) komponen utama dan 1 pengembangan (c) irigasi rumah air tanah dalam. selang pembuang. Komponen penunjang bila memungkinkan adalah Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).  III. bensin.  1. maka diperlukan upaya pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya ke permukaan tanah serta penyaluran ke lahan usaha tani. 2010 12 11 12 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sumur Untuk memanfaatkan dahulu sumur harus sebagai dapat sumber dibuat tempat Sumur 11 tersebut dibuat dengan cara pengeboran dengan kedalaman air tanah dalam dari permukaan tanah > 60 m. A. (satu) komponen penunjang yang perlu diperhatikan Komponen utama : (a) sumur (b) pompa air dan perlengkapannya pompa. KOMPONEN IRIGASI AIR TANAH DALAM Komponen Irigasi Air Tanah Dalam Untuk mendayagunakan air tanah dalam sebagai sumber air irigasi.

4. dari air untuk bak penampung. Rumah Pompa/Genset Pompa untuk air tanah dalam atau genset pompa air tanah dalam biasanya berukuran besar sehingga pompa/ genset diletakkan secara permanen (tidak bersifat mobile). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pengatur berupa pintu dan boks bagi. bangunan pengukur debit dan katup penutup yang berfungsi Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 13 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 14 13 14 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Untuk mengalirkan air dari pompa ke lahan usaha dibuat/dibangun jaringan tanah terdiri irigasi (JIAT). padi sawah umumnya saluran. bangunan tani. Pembangunan secara terutama ditujukan untuk pompa dan atau mesin penggerak/genset yang berukuran besar dan dipasang menetap (stasioner). Untuk melindungi pompa air serta motor penggeraknya/genset dari gangguan pencurian dan pengaruh cuaca rumah yang pompa dapat menyebabkan permanen     Rumah Pompa/Genset Air Tanah Dalam kerusakan lebih dini perlu dibuatkan rumah pompa.3.

Kriteria Teknis a. Pompa : tipe submersibel atau turbin. 2010 16 15 16 .untuk mengatur arah aliran dalam pipa/jaringan irigasi. peternakan. Untuk komoditi perkebunan. dan tanaman pangan lainnya JIAT hortikultura JIAT perlu dibuat secara permanen dengan dilining ataupun menggunakan sistim perpipaan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. B. 2010 15 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.                    Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) disesuaikan dengan kebutuhan. Potensi air tanah yang tinggi. Debit output pompa minimal 10 liter/detik Box pembagi tipe jaringan perpipaan Box pembagi Katup outlet b. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Untuk mengurangi kehilangan air dalam penyaluran. Sumur : Sumur bor Kedalaman sumur : > 60 meter . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. disesuaikan dengan kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer tertekan.

dan mesin yang diadakan adalah memiliki jaminan kualitas seperti Standard Nasional Indonesia (SNI). 2010 disesuaikan dengan debit air 17 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. f. Bak penampung/distribusi : konstruksi beton. Jaringan irigasi/distribusi : terdiri dari box-box bagi dan saluran. d. Bahan. mudah dalam perawatan. c. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. kapasitas minimal. bahan dari besi atau PVC diutamakan yang telah memiliki/memenuhi SNI. Rumah pompa : bangunan permanen.kapasitas debit motor penggerak atau tenaga listrik. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan dapat diterima petani setempat. minimal yang telah ditentukan. ukuran disesuaikan dengan kebutuhan. tersedia suku cadang. lantai dasar cukup kuat menahan beban dan getaran mesin. disesuaikan dengan kebutuhan/keadaan lokasi. Pipa-pipa : sesuai dengan debit air : motor diesel atau bensin saluran terbuka atau perpipaan. mudah dipasang. e. peralatan. cukup kuat/tahan getaran mesin. mudah dioperasikan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. ukuran dan jumlah disesuaikan dengan kebutuhan. 2010 18 17 18 .

2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan jenis komoditas yang sesuai untuk pengembangan irigasi air tanah dalam. (c) operasi pemeliharaan.   dapat dilakukan dengan survey “geolistrik”. Survey Investigasi a. dan (g) pembiayaan.IV. pelatihan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. (f) pemanfaatan. Survey Investigasi dan Desain Sederhana Survey investigasi dan penyusunan desain sederhana dapat dilaksanakan secara swakelola oleh petugas Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait di daerah seperti dinas yang menangani bidang pengembangan air tanah yaitu Dinas Pertambangan (untuk mendapatkan data/informasi dan perizinan) dengan melibatkan petani penerima manfaat. petani. Contoh  Pendugaan  Potensi  Air  Tanah  Dengan  Menggunakan  Metoda GEOLISTRIK Pada Kedalaman < 100 m (40­100 m)                            A. Survei investigasi dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi. PELAKSANAAN Untuk mengoptimalkan pengembangan irigasi air tanah dalam. b. dan jenis komoditas yang memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan irigasi air tanah dalam. paling tidak ada beberapa hal penting yang harus diperhitungkan dalam pengembangannya : (a) survei dan investigasi dan desain (d) (SID). pembinaan. Calon lokasi. Survei potensi air tanah dalam           Contoh Hasil Geolistrik : Potensi Air Tanah >130 m (130­160 M)  Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 1. (b) (e) konstruksi/pengembangan irigasi air tanah dalam. baik dari segi teknis maupun sosial. petani. 2010 19 20 19 20 .

desain rumah pompa. Kebutuhan bahan. sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran). Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 22 21 22 . jaringan 3.                                c. Permasalahan dalam usahatani. kedalaman sumur. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kondisi usaha tani dan jenis komoditas yang layak dikembangkan. dan mesin 21 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan hasil survey investigasi paling tidak memuat : Letak bujur lokasi dengan berdasarkan menggunakan daerah Global administratif dan koordinat lintang dan Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. peralatan. Desain/rancangan sederhana irigasi air tanah dalam Rancangan/desain sederhana irigasi air tanah dalam. 2010 Kondisi prasarana dan sarana irigasi. Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan desain ini adalah agar air tanah dalam yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. meliputi kedalaman dan debit andalan (peta hidrogeologi dan pengujian geolistrik). 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan irigasi yang akan dibangun. Potensi air tanah dalam untuk irigasi. lokasi rumah pompa. 2. letak/ lokasi sumur.

B. Jika dalam pengembangannya ternyata secara tidak sengaja atau sengaja akibat telah seperti menyebabkan/menimbulkan kebutuhan bahan. Penunjukan pelaksana pengembangan irigasi air tanah dalam berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku. dan kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan. Untuk mendapatkan hasil pengeboran air tanah dalam yang optimal. pemasangan pipa-pipa. 2010 24 23 24 . dan jaringan irigasi. Pada saat pelaksanaan uji pemompaan. rumah pompa. Berdasarkan kedalamam dan potensi air tanah. 4. jumlah spesifikasi kebutuhan pipa-pipa. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. perlu dilakukan pengukuran terhadap kapasitas atau debit air yang keluar (lt/menit atau lt/detik). 80 tahun 2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Beserta Perubahan-perubahannya. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. munculnya lumpur dan atau gas beracun dan lainlain selama dalam proses pengeboran. maka pihak Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Konstruksi/Pengembangan irigasi air tanah dalam dilaksanakan secara kontraktual. antara lain Keputusan Presiden No. Dengan diketahuinya debit air/sumur dan luas oncoran (command area). 5. Perkiraan kebutuhan biaya dijadikan dasar dalam penyusunan harga perkiraan sendiri. peralatan. Konstruksi/Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam 1. perlu dilakukan uji pemompaan (pumping test) minimal 2 x 24 jam. spesifikasi motor penggerak pompa. spesifikasi rumah pompa. maka dapat ditentukan jenis pompa dan mesin penggerak serta perlengkapan pipa-pipa maupun desain jaringan irigasi air tanahnya/jaringan distribusi. dan mesin yang diperlukan. ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dan dapat ditentukan spesifikasi pompa air. 3. peralatan. 2010 23 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 4.Berdasarkan hasil SID akan dapat diketahui 2. pengembangan sumur. Kebutuhan Anggaran/Rencana Kebutuhan Biaya (RAB) Mencakup perkiraan kebutuhan anggaran untuk pengadaan bahan. pompa air dan perlengkapannya. 6. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui tinggi muka air tanah yang statis/tetap (Static Water Level/SWL).

Pembinaan 1. pemerintah daerah/satker (Kab. Biaya operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam menjadi tanggungjawab petani/kelompok tani penerima manfaat. Pelatihan teknis operasi jaringan irigasi air tanah dalam dilaksanakan oleh pihak ketiga (pelaksana pengadaan dan pemasangan irigasi air tanah). melaporkan kejadian tersebut ke dinas terkait Pertambangan) untuk penanggulangan dan tindak Operasi dan Pemeliharaan 1. 2010 25 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. rumah pompa. dan jaringan irigasi air tanah dalam diserahkan kepada manfaat. 3.pelaksana (Satker/Dinas lanjut. secara resmi pengelolaannya (Operasi dan petani/kelompoktani (Contoh Berita Acara dapat dilihat pada Lampiran 2). pasca panen. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2. pemilihan komoditas yang diusahakan. panen. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan pemasaran hasil. 2. Pembinaan antara lain meliputi teknik operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam. teknis budidaya. Pemanfaatan Setelah konstruksi selesai. Pelatihan 1. Pembinaan terhadap peserta penerima manfaat dilakukan Dinas “Pertanian” Propinsi dan Kabupaten/ Kota secara berkelanjutan. pengolahan./Kota) diharuskan membuat suatu Berita Acara tentang Serah Terima Pengelolaan dari dinas kepada petani. Pemeliharaan) telah diserahkan Dengan kepada demikian. 2010 26 25 26 . 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Operasi dan Pemeliharaan pompa. kegiatan/kontraktor lingkup Pertanian diharuskan dan Dinas E. untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas irigasi yang telah dibangun. petani/kelompoktani P3A penerima D. 2. Besarnya iuran pelayanan irigasi ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok. F. Petani/kelompok tani penerima manfaat diberikan pelatihan terutama teknis operasional dan pemeliharaan pompa air irigasi dan jaringan irigasi air tanah dan serta pelatihan usahatani. C.

Kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. pompa air dan mesin penggeraknya. Dengan pertimbangan biaya untuk investasi.     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. usahatani dan B. I. pengadaaan pipa-pipa. dan pembinaan dibebankan pada anggaran APBD Propinsi. jaringan irigasi/ distribusi. Waktu Pelaksanaan Jadwal/waktu pelaksanaan kegiatan pengembangan irigasi air tanah dalam mengacu pada jadwal palang pelaksanaan sebagaimana terdapat pada Lampiran 3. Pembiayaan 1. Output : Terbangunnya irigasi ir tanah dalam 2.V. 27 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. APBD Kabupaten/Kota. 2. potensi air tanah 4. 1. Outcome : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usaha tani dengan memanfaatkan dalam potensi air tanah 3. Benefit : Terjadinya peningkatan ketersediaan air irigasi untuk usahatani dengan memanfaatkan dalam. rumah pompa. 2010 28 27 28 . Monitoring dan Evaluasi 1. Monitoring pengembangan irigasi air tanah dalam dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan Propinsi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka pemanfaatannya harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin. dan/atau partisipasi masyarakat. Biaya yang tersedia untuk pengembangan irigasi air tanah dalam dipergunakan untuk pembuatan sumur dalam. survei investigasi & desain (SID). operasi dan pemeliharaan irigasi air tanah dalam yang cukup tinggi. G. 2010 MONITORING DAN EVALUASI Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang digunakan sebagai ukuran berikut : untuk penilaian kinerja kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam adalah sebagai A. Impact : Peningkatan produksi pendapatan petani.

2010 30 29 30 . Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan irigasi air tanah dangkal. Laporan Bulanan memuat perkembangan pelaksanaan ke-giatan yang disusun setiap bulan. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. D. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif.4 (diisi di tingkat Propinsi). berisi kemajuan pelak-sanaan kegiatan sampai bulan berjalan. 4. 3.2 (diisi di tingkat Kabupaten/Kota) serta 4. Evaluasi dilakukan secara berkala oleh Satker Dinas di Kabupaten/Kota. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pembangunan irigasi air tanah dalam selesai. Agar lebih informatif dan komunikatif. Laporan Akhir agar mengikuti outline seperti pada Lampiran 5. C. 4.2. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan. yaitu Laporan Bulanan dan Laporan Akhir.1. berisi seluruh rangkaian kegiatan Pelaksanaan Pembangunan Irigasi Air Tanah Dalam. dengan tembusan kepada Kepala Dinas ”Pertanian” Propinsi. Laporan Bulanan disusun mengacu pada Lampiran 4. saat dalam pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan). propinsi dan Selanjutnya pelaksana di tingkat dapat membuat kabupaten/kota daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan dilaksanakan irigasi dengan air tanah dangkal acuan akan Sistem mengikuti Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. Satker Dinas di Propinsi. Laporan Bulanan dan Laporan Akhir disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air c.q Direktur Pengelolaan Air dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air Jl. Laporan Akhir agar dilengkapi Laporan dengan SID dan dokumen-dokumen Kontrak serta seperti foto-foto 29 dokumentasi dari setiap tahap kegiatan (kondisi sebelum kegiatan. 2.3 dan 4. Terdapat 2 (dua) jenis laporan yang harus dibuat. dan Pusat. Taman Margasatwa No. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan Bulanan dikirim ke Dinas Pertanian Propinsi dengan tembusannya disampaikan ke Pusat (Ditjen PLA dan Direkrotat Pengelo-laan Air). Pelaporan 1.

2. 3. Dari hasil uji geolistrik ini akan didapat dugaan potensi air tanah di lapisan aquifer tertekan. Melihat sumur-sumur atau irigasi tanah dalam di sekitar daerah/lokasi yang diinginkan untuk titik pengeboran. apakah potensi air tanahnya bagus (studi kasus/pertimbangan). Dinas ini mempunyai data base dan peta-peta seperti Peta Geologi. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.LANGKAH-LANGKAH SEDERHANA TITIK LOKASI PENGEBORAN 1. di kedalaman-kedalaman tertentu dengan debit-debit tertentu yang mana sebagai dasar apakah titik-titik yang diinginkan untuk pengeboran irigasi tanah dalam dapat dilaksanakan. 4. Kemudian untuk menentukan titik-titik pengeboran dilakukan dengan uji Geolistrik. dll. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 32 31 32 .atau tidak Umumnya kedalaman untuk 31 Pertambangan/ESDM setempat atau propinsi. Dari dua langkah diatas sudah dapat gambaran apakah daerah/lokasi yang diinginkan ada potensi atau tidak untuk pengeboran irigasi tanah dalam. juga Biasanya di daftar Dinas rekanan/kontraktor terdapat setempat atau propinsi. Berkoordinasi dengan Dinas UNTUK MENENTUKAN menemukan lapisan aquifer tertekan ini lebih dari 60 m. Geohidrologi. Kemudian yang tak kalah penting karena proses Pertambangan/ESDM pengeboran relatif sulit maka. Peta dan data tersebut sebagai gambaran awal apakah daerah/lokasi yang akan dipilih merupakan lokasi/wilayah/titik pengeboran yang memiliki potensi air tanah untuk Irigasi Tanah Dalam. Peta Cekungan Air Tanah. harus dimilih kontraktor pengeboran yang sudah ahli dan berpengalaman dalam pengeboran irigasi tanah ini dalam.

2004.DAFTAR PUSTAKA   Anonimous. Pradnya Paramita. Banyuasin 6 Prop. Cianjur Kab. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Departemen Pekerjaan Umum. 2004. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. PT. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. 2010 33 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian. Jawa Timur Kab. DITJEN PLA TAHUN 2010   Sub Sektor No Pusat/Prop/Kab/Kota TP 1 Prop. Kampar 5 Prop. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kensaku (editor). Bali Kab. Jawa Tengah Kab. 2004. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Jakarta. Madiun 4 Prop. Pedoman Teknis Konstruksi Jaringan Irigasi Air Tanah Sistim Perpipaan. Jakarta. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Sumatera Selatan Kab. Dit. Gita Rencana Multiplan. Bandung Barat 2 Prop. Hidrologi Untuk Pengairan. Irigasi. Jawa Barat Kab. Departemen Pertanian. Jakarta. ---------------. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Jakarta. PT. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Suyono dan Takeda.         Lampiran 1 REKAPITULASI KEGIATAN PENGEMBANGAN IRIGASI AIR TANAH DALAM ALOKASI KEGIATAN DALAM BENTUK TUGAS PEMBANTUAN DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR. Pati 3 Prop. 2010 34 33 34 . Riau Kab. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Sosrodarsono. Laporan Akhir. 2002. Ditjen Sumber Daya Air. Jakarta Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi. 2003. Bangli Jumlah Total 2 1 7 1 1 1 1 3 1 4 4 3 3 2 2 1 Horti 1 1 Bun Nak 2 1 1 4 4 3 3 2 2 1 1 1 1 13 Jumlah (Unit)   Ket : Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Menunjang Sub Sektor : Tanaman Pangan : 2 Unit Hortikultura Perkebunan : 1 Unit : 7 Unit Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Departemen Pertanian.

......... Desa ………….Nomor ………………………………............ A 2010   BERITA ACARA SERAH TERIMA PENGELOLAAN No.. Kabupaten …………… Propinsi ………………….... Kec………………...... Nama Jabatan Alamat : ……………………………………………. Pada hari ini ……… Tanggal ………….. PIHAK PERTAMA menyerahkan pengelolaan ……………………… ……………………………………………………………………………… kepada PIHAK KEDUA dan PIHAK KEDUA menerima alat tersebut dari PIHAK PERTAMA sesuai dengan Surat Perjanjian Kerjasama/Kontrak Kerja antara ……………………………………............. .. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA..... : Ketua Kelompoktani ……………………… : Jl........ .. Kab………………… Prop………………… : Jl. 2010 35 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.... ... Bulan ………………… Tahun dua ribu ………......... yang selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA. 2010 36 35 36 ..................... kami yang bertanda tangan di bawah ini : 1..... Nama Jabatan Alamat : …………………………….. Bertindak untuk dan atas nama Kelompok tani ……………………………....... ……………………………………………… ………………………………………………… ………………………………………………… Bertindak untuk dan atas nama Dinas …………………………………........ : Kepala Dinas ………………………………….............. tanggal ………………… dalam kondisi lengkap dan dapat dioperasionalkan dengan baik........ 2....Peternakan : 3 Unit Lampiran 2 Contoh Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Irigasi Tanah Dalam T....... dengan spesifikasi sebagai berikut : Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. dan……………………………….........

          ……………………………....………2010               PIHAK KEDUA Ketua Kelompoktani .A 2010   Lampiran 3 Demikian Berita Acara Serah Terima Pengelolaan ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebaik-baiknya... ……………………………………....1... Spesifikasi alat/barang Spesifikasi alat/barang Dst…... 2. NIP.                     Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Dst…. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA... 4. 3. 2010 38 37 38 .         …………………. PIHAK PERTAMA Kepala Dinas ……………. …………………………………….. 2010 37 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. .... …………………………………. Jadwal Palang Pelaksanaan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam T..

. dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. 2. : ……………………………. Dam Parit 10. Kegiatan 4 Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Form PLA. **) Coret yang tidak perlu ………………………. 2010 Ctt: 1. Sumur Resapan 11. Air Permukaan 7..id 3. 2010 40 39 40 . 2. 4. Irigasi Tanah Dalam 6. dll *) Coret yang tidak perlu JUMLAH 9. : ……………………………..………………. Embung 9..A. Balai Subak 13.…………. 3 Ragunan Jakarta Selatan via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 4. Rehab JIDES 3.*) Kab/Kota ………………… 1. Harsono RM No.go. Irigasi Tanah Dangkal 5. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat. Aspek Kegiatan 3 1.*) Kab/Kota ………………… Dinas…………………….*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air 1. : ……………………………. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. P I P 12. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 3. Air Permukaan 7. Sekolah Lapang ……………………….. Fax : 021 7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.. Dam Parit 10. Pengelolaan Air 5... : …………………………….01 Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No.. ……………………. 8..2 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2010 : ……………………………. …………………………. Dinas Kabupaten/Kota*) 1 1 2 Dinas……………………. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. : …………………………….. Sekolah Lapang 2 Dinas……………………. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat. Balai Subak 13. Irigasi Tanah Dalam 6.. Laporan ke Pusat ke Bag Evaluasi dan Pelaporan d/a.. : …………………………….. Pompa 8. Rehab JITUT 2. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2. Sumur Resapan 11. 2010                 39 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.Lampiran 4. Embung 9.id 3. Sekolah Lapang Koordinat 12 Keterangan 13 1 2 A. P I P 12.1 ` Form PLA.. P I P 12. : ……………………………. 5. Sumur Resapan 11. Dam Parit 10. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6 Realisasi Keuangan (Rp) (%) 7 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10 Keterangan 11 No. Harsono RM No.. TAM 4. 7. Lampiran 4. 3 Ragunan Jaksel. : ……………………………. 2010 Penanggung jawab kegiatan Propinsi Penanggung jawab kegiatan Kabupaten                   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Rehab JITUT Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung 3 JUMLAH Catatan : 1. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pompa 8. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja.02 LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR T. 3. 6. Balai Subak 13. : ……………………………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a.. 2010 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : …………………………….

/ Ton pada areal dengan tingkat produksi 1. : ………………………………. : ……………………………….go. 2007. Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. 2007. 25. : ………………………………. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. paling lambat tanggal 5 setiap bulan 2.000.id 3. 25. Air Permukaan 7. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp.5 = 750 ton Catatan : 1.…………. Irigasi Tanah Dangkal 5. 25.. 2008 dan 2009 Dinas Provinsi Subsektor : ……………………………….000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. 1 A. Harsono RM No. : ……………………………….Balai Subak 13.000. TAM 4.P I P 12. contoh : a. Embung 9. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.5 ton X 1.250 ton b.go. Harsono RM No.. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.000 X 1.5 ton/Ha dan IP 150 %. 25. 2006. 25... / Kg atau Rp. c. sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0. 1 A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. Rehab JITUT 2.5 = 750 ton ……………….5 ton X 1.000 = Rp.04 No.000.000 = Rp. menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2.03 Form PLA. : ………………………………. paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2.Sekolah Lapang Target Fisik 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 7 Catatan : 1. Laporan dikirim ke Ditjen PLA Pusat...   Lampiran 4.…………. 2006. : ………………………………. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 25.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 2010 42 41 42 .000. contoh : a.. / Kg atau Rp. Kanpus Deptan Gedung D Lantai 8 Jl.. Manfaat harus terukur.Sumur Resapan 11. Dam Parit 10.5 ton/Ha dan IP 150 %. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha. Irigasi Tanah Dalam 6.000. 2008 dan 2009 Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ……………………………….250 ton b. c. 25. …………………. ………………………… 2010 Penanggungjawab Kegiatan Propinsi Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten           41             Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Laporan dikirim ke Dinas Propinsi terkait tembusan ke Ditjen PLA Pusat.Lampiran 4. Pompa 8. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang Target Fisik DIPA 3 Realisasi Fisik 4 Manfaat 5 No.000 X 1.     Form PLA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Rehab JIDES 3.000.5 X 5 Ton = 1. / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.4 REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA.3 LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA.. 2010 ………….id 3 Manfaat harus terukur.5 X 5 Ton = 1. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan. 2010   Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

HASIL IV. Tahap Pelaksanaan D. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Lokasi (administratif dan koordinat) B. KESIMPULAN DAN SARAN Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemecahan Masalah III. PENDAHULUAN A. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Tujuan dan Sasaran II. MANFAAT V. 2010 43 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. PELAKSANAAN A. Masukan C. 2010 44 43 44 .      Lampiran 5 Outline Laporan Akhir   I. Latar Belakang B. DAMPAK VI. Masalah E.

Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat f. Juklak 2. Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air tanah dalam b. Apakah ada potensi sumber air tanah dalam c.2. RAB a. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Desain Sederhana a. URAIAN KEGIATAN e. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. SID 4. Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. 2010 Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak 81 81 No. Apakah calon lokasi mudah diakses Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. I PERSIAPAN 1. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b.3. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota KETERANGAN Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 82 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam Lampiran 6 No. Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas 4. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. 2010 82 . Juknis 3. Calon Petani a. Apakah sudah disusun desain . 5. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. Organisasi/kelembagaan 4. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini d. Calon lokasi URAIAN KEGIATAN KETERANGAN Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada a.1. Apakah telah disusun RAB kegiatan b.

1. Pembangunan rumah pompa 2. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditandatangani para pihak 6. 2010 83 No. Evaluasi a. Monitoring a. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. PPK.2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Uji Pemipaan e. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. Kontrak pekerjaan KETERANGAN Ya/tidak Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada sudah/belum Ada/tidak ada II PELAKSANAAN 1. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 84 Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Pemasangan pompa Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 83 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. URAIAN KEGIATAN f. SK Penetapan Panitia barang dan Jasa 8. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring c. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring d. g. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. Hasil pelaksanaan (irigasi air tanah) telah dimanfaatkan KETERANGAN Sudah/belum Sudah/belum Ya/tidak Sudah/belum III MONEV DAN PELAPORAN 4. SK Tim Teknis /Koorlap 9. Pemasangan pipa-pipa casing d. Mobilisasi alat b.No. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain a. SK Pemeriksa 10. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Pengeboran c. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. RKS dan HPS 11. Bendahara Pengeluaran 7. Proses tender 12. 2010 84 . Pembangunan JIAT URAIAN KEGIATAN f. SK KPA.

31" 96° 52' 14. Kabupaten Aceh Tengah 2.18" 4° 22' 13.15" 4° 48' 8.66" 4° 33' 48. Kabupaten Aceh Timur A.19" - 95° 51' 34.87" 4° 56' 33. Kabupaten Pidie 2. 2010 85 85 Lampiran 7 DAFTAR CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA   NO. Kabupaten Pidie 3.2. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. 2010 86 86 . dalam pelaksanaan dan akhir) 5. Apakah sudah dibuat laporan akhir IV PERTANGGUNGJAWABAN 5. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.23" 97° 1' 9. Kabupaten Aceh Barat 2.68" 5° 15' 49.24" 5° 15' 56. Kabupaten Aceh Barat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.31" 96° 12' 47.69" 96° 23' 5. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap kegiatan b.16" 5° 8' 4.16" 96° 36' 35. Kabupaten Aceh Tengah 2.62" 4° 49' 57.88" 1470 619 4500 281 310 1198 500 292 2913 853 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum.81" 97° 46' 41. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kabupaten Aceh Utara 2.137" 4° 10' 45. NAD B.13" 97° 0' 14. Kabupaten Aceh Tengah 2. Apakah sudah dibuat pembukuan Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Sumatera Utara KETERANGAN b x x x x x x x x x x c d 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Banda Aceh Sigli Meulaboh Kemiki Jeunib Peudada Lampahan Telege Lhokseumawe Langsa 95° 14' 13.37" 4° 36' 5.1.41" 97° 47' 15. Pelaporan URAIAN KEGIATAN KETERANGAN a. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. 4.72" 4° 48' 20. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.34" 95° 42' 55. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.No.73" 5° 12' 16.78" 95° 48' 41.13" - 5° 39' 37. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan 5.14" 5° 31' 18.89" 96° 59' 1. Kabupaten Pidie 2.04" 96° 34' 56.66" 5° 15' 25.31" 96° 51' 14. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Langsa.13" 4° 30' 41.84" 5° 1' 41.4.49" 3° 31' 15.3.3. Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.46" 96° 40' 54.22" 98° 17' 16. Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1. Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Pidie Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 1.84" 96° 11' 54. Apakah sudah dibuat laporan bulanani c.64" 4° 34' 58. Kabupaten Aceh Besar 2.77" 96° 9' 41.82" 96° 34' 38.44" 5° 16' 30.

Kabupaten Indragiri Hulu 7.12” - 100° 34’ 41.14" - 98° 48' 27.71" 98° 47' 33.70" - 98° 27' 50. Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Tanahdatar KETERANGAN b c d 25 26 27 28 29 30 Banjarampa Panyambungan Pasaribuhuan Padangsidempuan Natal-Ujunggading Lubuksikaping 99° 3' 43. Kabupaten Indragiri Hilir B.44" 0° 53' 18. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 1.85" - 2° 20' 29.46" 2° 40' 43.306" 19786 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Sidikalang Samosir Porsea-Prapat Tarutung Gunungsitoli Lahewa Sirombu Kuala Batangtoru Pekanbaru 98° 8' 51. Kabupaten Siak 5. Kabupaten Bengkalis 4. Kabupaten Karo 5. Kabupaten Pelalawan 6.56" 1° 14' 55.63" 97° 15' 19. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Pasaman A. Kota Medan Provinsi Sumatera Utara 1.58" 2° 11' 18.63" 1° 11' 52.18" 2° 5' 42.21" 99° 36' 44.38" 100° 13' 5. Kabupaten Tapanuli Selatan B. Kabupaten Bukittinggi 5.26" 1° 39' 7.82" 211 242 225 240 2825 217 x x x x x x 31 Jambi-Dumai 100° 45' 27. Kota Dumai 2.31" 1° 7' 15.15" 97° 56' 25.53" 2° 18' 13. Provinsi Riau 1.91" 1° 57' 30.87" 0° 47' 3.96" 98° 59' 42.18" 3° 34' 24. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Kabupaten Langkat KETERANGAN b c d 11 12 13 Siongol-ongol Kotafajar Kutacane 97° 35' 23. Kabupaten Pelalawan 6.81" 2438 648 483 875 42 20 17 795 21799 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan A. Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2.11" 0° 0' 0.05" 97° 29' 1.71” 5331 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara 1. 2010 88 88 .60" 1° 12' 17. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.05" 99° 24' 33. Kabupaten Asahan 4.37" 99° 1' 31.53" 99° 35' 16. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara 1. Kabupaten Langkat 2.90" 0° 33' 29.47" 99° 29' 54.95" 99° 59' 35. Kabupaten Padang 4.45" 2° 55' 5.88" 98° 5' 16.65" 98° 54' 28. Kabupaten Rokan Hilir 2.17" 97° 28' 42. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Barat 1.13" - 2° 59' 11.56" - 99° 15' 7. Kabupaten Tapanuli Tengah 2.70" 2° 43' 18.89" 99° 48' 19.13" -0° 43' 48.23" 2° 19' 46.88" 1° 59' 22. Kabupaten Tobasamosir 2.69" 0° 58' 8.99" 99° 50' 38. Provinsi Sumatera Utara x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Tenggara B.89" 69776 x 32 Padang-Pariaman 99° 41’15. Kabupaten Simalungun 6. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.81" 98° 40' 50.16" 1° 11' 7. 2010 87 87 NO.58" 2° 45' 33. Kabupaten Rokan Hullu 3.36" 183 269 351 14 Sibulus Salam 97° 35' 46. Kabupaten Labuhan Batu 2.35” -1° 0’ 28. Provinsi Riau 1. Kabupaten Kampar Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan A.98" 99° 47' 38.26" 0° 47' 27. Kabupaten Tanjung Jabung Timur C.42" - 4° 7' 39.78" - 3° 1' 26.19" - 97° 43' 16.38" 3° 5' 45. Kabupaten Siak 5.99" 97° 31' 50.18" 99° 13' 32.66" 1° 28' 12.80" 3632 15 Medan 98° 6' 40. Kabupaten Padang Pariaman 3.NO.38" 1° 26' 58.98" - 1° 15' 6.40" 3° 42' 0.80" 3° 13' 15.60" 97° 12' 55.51" 1° 47' 34.23" 0° 45' 26. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Tapanuli Selatan B. Kabupaten Bengkalis 4.26" -2° 0' 1.91" 102° 32' 3. Kabupaten Pasaman 2.52" 97° 23'15. Provinsi Jambi 1.03" 0° 58' 11.47" 99° 5' 40.77” - 0° 21’ 30.62" - 3° 55' 8.18" - 104° 39' 38. Kabupaten Sidikalang 2.98" 99° 7' 51.69" 97° 44' 39.70" 2° 25' 16. Kabupaten Tapanuli Selatan A. Provinsi Sumatera Utara Kabupaten Karo A. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten Aceh Selatan B.94" - 100° 8' 54.06" 1° 15' 44. Kabupaten Rokan Hilir 3. Kabupaten Deli Serdang 3.79" 98° 42' 36.34" 97° 2' 35.30" 0° 5' 25.90" 99° 0' 58.

Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Lahat 3. Provinsi Sumatera Barat 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Provinsi Jambi 1. Kabupaten Tanah Datar 2. Kabupaten Limapuluh Kota 3.49” - -0° 22’ 40.03” - -3° 1’ 14. Kabupaten Bungo Tebo B. Kota Payakumbuh 3.16” - -0° 50’ 45. Kota Solok 2. Kabupaten Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat 1.81” - -0° 33’ 43. Kabupaten Limapuluh Kota 2. Kabupaten Musirawas B. 2010 90 90 .99” 296 34 Payakumbuh 100° 17’ 42.42” -1° 45’ 37. Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat 1. Kota Bukit Tinggi 2.84” -0° 53’ 31. Kabupaten Solok 5.88” -2° 12’ 27. LOKASI a Kabupaten Solok KETERANGAN b c d 33 Bukit Tinggi 100° 20’ 7. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Sawahlunto B. Kabupaten Painan Provinsi Riau 1.35” - 106° 5’ 54.82” - -2° 0’ 0.51” -1° 53’ 5. Kabupaten Bengkulu Utara 3.60” 22860 x 46 Muaralakitan 103° 6’ 19. Kabupaten Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat 1.8” 6975 x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Tanah Datar 4.97” - -1° 58’ 35. Kabupaten Tanah Datar 4. Kabupaten Prabumulih 4. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 6. Kota Bengkulu 2. Provinsi Sumatera Selatan 1.76” -0° 19’ 43.97” - 101° 57’ 1. Kabupaten Padang Pariaman 3. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara Provinsi Bengkulu 1. Kabupaten Sorolnagun Bangko C. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko B. Kabupaten Painan 2.46” - 101° 42’ 54.22” 2810 x 42 Sungaipenuh 101° 13’ 23. Kabupaten Bengkulu Selatan KETERANGAN b c d 41 Kayuaro-Padangaro 100° 45’ 19.29” - -3° 23’ 46. Kabupaten Musirawas 2. Kabupaten Ogan Komering Ilir D. Kabupaten Rejang Lebong 4. Kabupaten Indragiri Hulu 2.62” - 103° 37’ 56. Kabupaten Jambi 1.28” - 102° 52’ 44. Kabupaten Sungai Penuh 2.62” 15400 x 48 Bengkulu 101° 48’ 11.71” - 100° 31’ 46.58” - 100° 38’ 35. Kabupaten Musi Banyuasin 2.80” - 100° 51’ 17. Kabupaten Musi Banyuasin 2.20” 668 35 Alanglawas 100° 38’ 31.82” - 101° 45’ 8.48” -0° 30’ 2. Kabupaten Pelalawan 3.81” - 100° 46’ 21. Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Ogan Komering B.03” - -4° 53’ 7.37” 6702 x 44 Muaratembesi 102° 50’ 25.27” 1794 x 47 Lubuklinggau-Muaraenim 102° 36’ 4.89” - -1° 7’ 8.43” -2° 58’ 23.91” - -0° 33’ 1.60” - -4° 16’ 47. Kabupaten Sorolangun Bangko A.98” -2° 27’ 21.92” 1235 x 43 Bangko-Sarolangun 101° 30’ 54. Kabupaten Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat 1.24” -0° 17’ 53. Kabupaten Sorolangun Bangko A.21” - -1° 49’ 19. Kabupaten Muarabulian 2. 2010 89 89 NO.27” -1° 25’ 39. Kabupaten Sungai Penuh 2. Kabupaten Tanah Datar 2.11” -0° 2’ 54.NO. Provinsi Jambi 1.57” - 100° 51’ 14. Kabupaten Sorolangun Bangko 2. Kabupaten Bungo Tebo 2.73” - -0° 23’ 52.89” - -3° 51’ 57. Provinsi Bengkulu Kabupaten Rejang Lebong C.93” 167 36 Batusangkar 100° 20’ 19.55” 432 37 Solok 100° 21’ 30. Kabupaten Sungai Penuh 3.31” - 103° 6’ 31. Kabupaten Kampar A. Kabupten Bungo Tebo Provinsi Jambi Kabupaten Sungai Penuh A. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.87” - -2° 46’ 3.96” -1° 7’ 53.61” -1° 45’ 10. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Bukit Tinggi 3.82” -0° 9’ 29.55” 1325 38 Tulak 101° 5’ 0.14” 2915 39 Muarabungo 101° 27’ 20.28” 10460 Provinsi Sumatera Barat 1.71” 1534 x 45 Karangagung 103° 21’ 0.65” -1° 0’ 12.4596” - 102° 7’ 34.60” - -2° 19’ 45. Kabupaten Solok B.58” 5510 40 Painan-Lubukpinang 100° 20’ 52. Provinsi Jambi Kabupaten Sorolangun Bangko A.76” -0° 0’ 9. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Jambi Kabupaten Muara Bulian A. Provinsi Sumatera Barat Kabupaten Solok B. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Musirawas Provinsi Jambi 1.14” - 103° 31’ 38.89” - 105° 0’ 49. Provinsi Jambi 1.19” - 103° 35’ 45. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Utara x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

85” -2° 27’ 25. Kabupaten Lampung Barat 2. Provinsi Bengkulu 1.18” -2° 52’ 33. Kabupaten Ogan Komering Ilir 4. Kabupaten Lampung Utara 2.22” -5° 50’ 46. 2. Kabupaten Serang A.79” 2404 x 52 Muaraduo-Curup 102° 21’ 32.32” 106° 2’ 58. 2010 92 92 . Kota Palembang 2.27” - 104° 18’ 54.82” -2° 40’ 38.46” - 105° 55’ 9. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung 1.30” 105° 42’ 35.64” -5° 39’ 59.66” 105° 54’ 24. Kota Serang 6.53” 106° 44’ 28. Kabupaten Lahat 3.30” 105° 41’ 13. Kabupaten Ogan Komering Ulu 5.04” -6° 39’ 10. Kabupaten Pendeglang 2.56” -2° 8’ 8.97” 105° 20’ 38.99” -3° 11’ 39. Kabupaten Pandeglang B.27” -2° 49’ 47.25” -2° 20’ 25.27” -3° 54’ 30. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Banten 1.63” -5° 23’ 0.95” 21640 x 55 56 57 58 Kotaagung Talangpadang Bandarlampung Kalianda 104° 11’ 9. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Lampung 1.72” - -5° 7’ 37.59” - -5° 54’ 44.NO.07” 104° 31’ 9.46” 105° 36’ 59. Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu A.15” - -3° 41’ 52.28” 108° 2’ 59.83” - 103° 52’ 8.57” - 104° 44’ 3. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 324 334 287 235 163 219 203 734 375 LOKASI a Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung Kabupaten Belitung Provinsi Banten 1. Kabupaten Prabumulih A.63” 108° 17’ 41.41” 1412 B.23” 707 Provinsi Banten 1. Provinsi Bengkulu Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan 1. Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Selatan 50 Palembang-Kayuagung 103° 29’ 47.29” 106° 29’ 40.88” -2° 59’ 0. Kota Tangerang 4.90” - -2° 35’ 59.55” - -6° 30’ 16. Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kota Bandar Lampung 2.68” - -5° 33’ 20. Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung 1. Kabupaten Serang 2.23” - -4° 40’ 33.69” 106° 6’ 2.59” 105° 42’ 45. Kabupaten Lampung Tengah 5. Kabupaten Lebak 7. Provinsi Lampung Kabupaten Lampung Utara B.74” -2° 33’ 39. Kabupaten Bengkulu Selatan 2.94” 105° 23’ 58.92” -5° 10’ 18.53” -2° 15’ 33. Kabupaten Lampung Barat 3. Provinsi Sumatera Selatan 1. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.71” 105° 53’ 53.99” - 104° 42’ 15. Kabupaten Musi Banyuasin 3. Kabupaten Lebak Provinsi Banten 1.62” - 106° 41’ 37.04” 1236 615 439 234 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.77” -3° 14’ 51.37” -6° 3’ 39.39” 105° 49’ 25. Kabupaten Lampung Selatan 4.21” -5° 34’ 11. Provinsi Lampung LOKASI a Kabupaten Lampung Barat KETERANGAN b c x d 49 Gedongmeneng 103° 20’ 56.32” -2° 3’ 33.84” 2822 x Kabupaten Bogor 69 Malingping 105° 41’ 4.44” - 106° 9’ 50.46” -4° 30’ 31. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) A.57” -2° 36’ 31.59” -5° 55’ 3.79” -6° 17’ 47.39” -6° 34’ 45.96” 104° 53’ 25. 2010 91 91 NO. Kabupaten Tangerang 3.16” 1501 x 54 Metro-Kotabumi 103° 53’ 4.34” 8652 x 51 Baturaja 103° 54’ 9.74” x x 68 Serang-Tangerang 105° 54’ 31.14” 106° 0’ 45. Provinsi Jawa Barat x x x x x x x KETERANGAN b c d 59 60 61 62 63 64 65 66 67 Koba Kepoh Batubetumpang Pangkal Raya Airpandan Tanjungniur Manggar Labuan Rawadanau 106° 19’ 50.74” - 104° 8’ 35.41” 105° 25’ 9.65” -4° 30’ 57. Kabupaten Pandeglang 2. Kabupaten Ogan Komering Ulu 2.79” 106° 10’ 47.80” -6° 15’ 50.36” - -6° 51’ 4. Kabupaten Rejang Lebong B. Kota Cilegon 5.53” -5° 27’ 45. Kabupaten Lampung Kabupaten Lampung Barat B.6” - -4° 35’ 35.86” 8521 x 53 Ranau 103° 35’ 23.42” -2° 31’ 19.13” - 105° 12’ 8.63” -5° 4’ 28.33” -4° 12’ 8.71” 104° 59’ 11.75” - -5° 0’ 46.38” - 106° 42’ 36.63” 105° 48’ 45. Kabupaten Prabumulih A.20” -1° 57’ 22.

2010 94 94 .53" - -7° 22' 9.76" 514 1.67" -7° 3' 3.NO.44" -7° 13' 17.67" -6° 43' 37. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a A. Kabupaten Purwakarta 2.28" 1716 81 82 Cibuni Banjarsari 107° 9' 6. Kabupaten Bekasi 3. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.70" - -7° 14' 47. Kabupaten Bandung 2.99" 384 5. Kota Tangerang B.81" - 108° 5' 11.72" 1311 868 x x 73 Cianjur 106° 58' 5.87" 566 78 Lembang 107° 25' 56.85" 108° 33' 8. Kabupaten Cianjur x KETERANGAN b c d 70 Jakarta 106° 36' 32. Kabupaten Subang 2. Kabupaten Sumedang 3.29" 3641 76 Subang 107° 35' 48.63" - -7° 0' 25.77" - -7° 24' 8. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 6. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Garut A.56" 107° 2' 13. Kabupaten Indramayu 3.26" - -7° 7' 41. Provinsi Jawa Barat 1.07" 151 581 Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1.14" -6° 40' 18.39" -7° 11' 56. Provinsi Jawa Barat x x x x x 84 Garut 107° 42' 33. Provinsi Banten 1. Kota Bandung Provinsi Jawa Barat 1. BandungSoreang 107° 21' 55.11" 621 605 83 Tasikmalaya 107° 50' 53. 2010 93 93 NO.88" -7° 5' 10.19" -6° 49' 55.63" -6° 41' 59.19" -7° 26' 59. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) Provinsi Jawa Barat LOKASI a KETERANGAN b c d 79 Batujajar 107° 23' 33.37" - -6° 57' 22.81" - 108° 2' 56. Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat 5.00" - 108° 17' 34.07" - 107° 57' 7.42" - -6° 38' 7.35" - -7° 27' 7. Kabupaten Purwakarta 5. Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat 1.84" - 108° 2' 5.88" -6° 58' 17.91" 1219 Provinsi Jawa Barat 1.59" 89 6.03" -6° 42' 56.21" -6° 48' 29.73" - -6° 51' 10. Kabupaten Tasikmalaya x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.60" -7° 25' 6.07" 467 Provinsi Jawa Barat 74 Jampangkulon 106° 22' 55. Kabupaten Bogor 2. Kabupaten Sumedang x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.91" -7° 11' 12. Kabupaten Bandung 2.37" -5° 54' 29.75" - 107° 42' 31. Kabupaten Bandung 2. Kabupaten Garut 2.80" -6° 24' 38.37" - -6° 47' 2. Kota Bogor Provinsi Jawa Barat 1.35" -7° 25' 59.79" - 108° 20' 49. Kabupaten Sukabumi 2. Kabupaten Bandung 3.46" 108° 15' 45. Kabupaten Bogor 2.88" - 106° 59' 45.58" 886 85 Malangbong 107° 53' 42. Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat 1.88" 106° 32' 43. Kabupaten Tasikmalaya 3. Kabupaten Tangerang 2. V. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat 1. Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat 4. Kabupaten Karawang 4.83" - 107° 29' 42.98" -6° 36' 11.06" 483 87 88 Sukamantri Ciamis 107° 50' 47.95" -6° 46' 2. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta C. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat x x 86 Sumedang 107° 45' 38. Kabupaten Bandung x 80 IV.22" 169 Provinsi Jawa Barat 1.91" 1514 77 Ciater 107° 24' 28.20" - 108° 4' 13. Kabupaten Sukabumi x 75 Bekasi-Karawang 106° 52' 5.40" 107° 46' 13. Kabupaten Bogor 2. Kabupaten Ciamis 2. Kabupaten Sumedang 2. Kabupaten Tasikmalaya 3.40" - 107° 50' 28.50" - -6° 26' 58.54" - 107° 4' 4.23" -6° 56' 6.30" - -6° 48' 38.61" - 107° 17' 4.26" -7° 2' 17.23" - -6° 36' 53.85" - -6° 48' 12. Kabupaten Ciamis 4.16" - 107° 30' 17.47" - 107° 45' 51.87" -6° 10' 27.78" -6° 0' 43.51" 107° 27' 17.23" 1439 x 71 72 Bogor Sukabumi 106° 28' 20.07" - -6° 56' 39.98" 106° 48' 15.

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 3.

LOKASI a Kota Banjar x

KETERANGAN b c d

89 90 91

Kawali Kuningan Majalengka

108° 16' 4.17" 108° 15' 44.50" 108° 3' 32.4"

-

108° 34' 13.02" 108° 39' 14.58" 108° 24' 40.24"

-7° 4' 54.98" -7° 3' 17.20" -6° 34' 12.81"

-

-6° 48' 12.35" -6° 52' 13.72" -6° 55' 47.85"

291 507 686

92

Indramayu

107° 56' 38.14"

-

108° 19' 46.08"

-6° 13' 42.77"

-

-6° 39' 20.74"

1282

Provinsi Jawa Barat Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Kuningan 2. Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Majalengka 2. Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2 .Kabupaten Majalengka 3. Kabupaten Sumedang VI. Provinsi Jawa Barat 1. Kabupaten Indramayu 2. Kabupaten Cirebon 3. Kabupaten Kuningan 4. Kota Cirebon Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap A. Provinsi Jawa Barat 7. Kabupaten Ciamis

x x

x

93

Sumber-Cirebon

108° 13' 53.45"

-

108° 39' 15.85"

-6° 13' 49.61"

-

-6° 53' 59.86"

1659

x

94

Majenang

108° 41' 58.06"

-

108° 51' 14.72"

-7° 17' 19.18"

-

-7° 24' 21.99"

108

x

95

Sidareja

108° 32' 56.67"

-

108° 49' 43.47"

-7° 17' 14.05"

-

-7° 40' 28.84"

480

B.

Provinsi Jawa Tengah 8. Kabupaten Cilacap

x

A.

Provinsi Jawa Barat 9. Kabupaten Cirebon

96

Tegal-Brebes

108° 35' 7.31"

-

109° 21' 16.34"

-6° 44' 11.61"

-

-7° 11' 0.39"

1356 B.

x

Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Brebes 2. Kabupaten Tegal

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

95

95

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Tegal 3. Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Banyumas 3. Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banyumas 2. Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Cilacap 2. Kabupaten Kebumen 3. Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pemalang 2. Kabupaten Pekalongan 3. Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kebumen 2. Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Banjarnegara 2. Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Batang 2. Kabupaten Kendal 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Wonosobo 2. Kabupaten Banjarnegara 3. Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Magelang 2. Kota Magelang 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Temanggung

KETERANGAN b x c d

97

Bumiayu

108° 55' 13.33"

-

109° 24' 18.87"

-7° 0' 28.58"

-

-7° 19' 24.38"

661

98

Purwokerto-Purbalingga

109° 3' 1.70"

-

109° 46' 49.02"

-7° 12' 44.33"

-

-7° 32' 26.86"

1318

x

99 100 101 102 103

VII.

Cilacap

108° 59' 15.41" 108° 48' 7.47" 109° 6' 49.12" 109° 23' 13.53" 109° 18' 45.31"

-

109° 12' 14.43" 108° 59' 47.98" 109° 26' 46.49" 109° 29' 9.91" 109° 51' 52.35"

-7° 25' 41.48" -7° 40' 45.94" -7° 31' 28.39" -7° 36' 45.02" -6° 46' 33.52"

-

-7° 45' 5.32" -7° 45' 13.59" -7° 43' 36.42" -7° 43' 53.66" -7° 13' 24.20"

218 45 423 67 1682

x x x x x

Nusakambangan Kroya Banyumudal Pekalongan-Pemalang

104 105

Kebumen-Purworejo Karangkobar

109° 27' 18.50" 109° 34' 42.69"

-

110° 3' 36.50" 109° 55' 17.84"

-7° 34' 14.61" -7° 10' 12.18"

-

-7° 53' 59.96" -7° 18' 43.34"

1127 316

x x

106

Subah

109° 49' 26.04"

-

110° 11' 32.45"

-6° 54' 15.69"

-

-7° 18' 16.57"

874

x

107

Wonosobo

109° 45' 48.56"

-

110° 4' 41.47"

-7° 11' 7.81"

-

-7° 31' 51.33"

666

x

108

Magelang-Temanggung

109° 59' 45.38"

-

110° 27' 21.31"

-7° 11' 45.92"

-

-7° 42' 6.69"

1783

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

96

96

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) 5.

LOKASI a Kabupaten Semarang

KETERANGAN b c d

109

Yogyakarta-Sleman

110° 12' 30.45"

-

110° 29' 49.38"

-7° 32' 23.62"

-

-8° 1' 52.04"

916

110 111 112

Wates Kendal Sumowono

110° 2' 16.22" 110° 1' 43.68" 110° 3' 45.06"

-

110° 15' 45.54" 110° 16' 16.97" 110° 20' 20.84"

-7° 50' 2.01" -6° 50' 45.56" -7° 5' 29.51"

-

-7° 59' 16.99" -7° 2' 37.74" -7° 15' 49.17"

150 404 207

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Sleman 2. Kabupaten Bantul 3. Kota Yogyakarta 4. Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Kulon Progo Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kota Semarang 3. Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Semarang 2. Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Kendal 2. Kabupaten Semarang 3. Kota Semarang 4. Kabupaten Demak 5. Kabupaten Grobogan 6. Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Klaten 2. Kabupaten Sukoharjo 3. Kabupaten Boyolali 4. Kabupaten Sragen 5. Kabupaten Karanganyar 6. Kabupaten Wonogiri 7. Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri

x

x x x

113

Rawapening

110° 18' 36.13"

-

110° 30' 7.60"

-7° 10' 59.52"

-

-7° 26' 54.53"

303

x

114

Ungaran

110° 11' 34.19"

-

110° 31' 43.53"

-7° 2' 23.03"

-

-7° 13' 41.52"

329

x

115

Salatiga

110° 26' 11.88"

-

110° 38' 3.58"

-7° 12' 31.73"

-

-7° 27' 54.94"

85

x

116

Semarang-Demak

110° 14' 56.35"

-

111° 20' 8.21"

-6° 46' 26.64"

-

-7° 12' 50.99"

1839

x

117

Karanganyar-Boyolali

110° 26' 18.30"

-

111° 12' 45.98"

-7° 19' 1.182"

-

-7° 54' 32.62"

3877

x

118

Eromoko

110° 48' 30.19"

-

111° 1' 15.32"

-7° 51' 37.47"

-

-8° 3' 52.62"

215

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

97

97

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2) A.

LOKASI a Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Daerah Istimewa Yogyakarta 1. Kabupaten Bantul 2. Kabupaten Gunung Kidul C. Jawa Timur Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Demak 2. Kabupaten Kudus 3. Kabupaten Jepara 4. Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Pati 2. Kabupaten Rembang A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Rembang B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Rembang 2. Kabupaten Blora A. Provinsi Jawa Tengah 1. Kabupaten Grobogan 2. Kabupaten Blora B. Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bojonegoro A. Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Wonogiri B. Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Ponorogo 2. Kabupaten Madiun 3. Kabupaten Ngawi 4. Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bojonegoro 2. Kabupaten Tuban 3. Kabupaten Lamongan 4. Kabupaten Gresik 5. Kota Surabaya

KETERANGAN b c d

119

Wonosari

110° 20' 40.02"

-

111° 4' 32.21"

-7° 54' 31.05"

-

-8° 15' 30.93"

1692

x

120

Kudus

110° 32' 9.81"

-

111° 2' 48.78"

-6° 35' 57.91"

-

-7° 1' 13.93"

1388

x

121 122

Jepara Pati-Rembang

110° 38' 14.94" 110° 53' 42.9"

-

110° 55' 15.95" 111° 23' 38.75"

-6° 24' 27.16" -6° 24' 39.18"

-

-6° 38' 24.67" -6° 52' 57.29"

531 1028

x x

123

Lasem

111° 23' 13.32"

-

111° 56' 22.43"

-6° 36' 58.91"

-

-6° 50' 48.83"

378

x

124

Watuputih

111° 29' 0.73"

-

111° 32' 56.27"

-6° 50' 41.56"

-

-6° 50' 41.56"

31

x

125

Randublatung

111° 11' 23.39"

-

111° 36' 26.12"

-7° 9' 17.55"

-

7° 15' 57.66"

203

x

126

Ngawi-Ponorogo

111° 7' 0.03"

-

111° 47' 49.16"

-7° 20' 22.54"

-

-8° 4' 26.64"

3902

x

127

Surabaya-Lamongan

111° 37' 38.16"

-

112° 50' 13.76"

-6° 57' 8.69"

-

-7° 18' 37.53"

2525

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

98

98

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tuban 2. Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lamongan 2. Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Trenggalek 2. Kabupaten Tulungagung 3. Kabupaten Blitar 4. Kota Blitar 5. Kabupaten Malang 6. Kota Malang 7. Kabupaten Mojokerto 8. Kabupaten Sidoarjo 9. Kabupaten Gresik 10. Kota Surabaya 11. Kabupaten Jombang 12. Kabupaten Kediri 13. Kabupaten Nganjuk 14. Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Tulungagung 2. Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Mojokerto 2. Kabupaten Pasuruan 3. Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Lumajang 2. Kabupaten Jember 3. Kabupaten Bondowoso 4. Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Probolinggo

KETERANGAN b x x c d

128 129

Tuban Panceng

111° 46' 51.66" 112° 15' 46.19"

-

112° 14' 49.78" 112° 33' 46.55"

-6° 45' 41.19" -6° 51' 47.25"

-

-6° 59' 38.54" -6° 58' 50.97"

503 283

130

Brantas

111° 42' 55.90"

-

113° 0' 9.43"

-7° 17' 40.11"

-

-8° 17' 5.03"

6186

x

131 132 133

Bulukawang Sumberbening Pasuruan

111° 46' 8.00" 112° 22' 30.79" 112° 34' 22.15"

-

112° 21' 29.52" 112° 49' 10.92" 113° 5' 11.15"

-8° 9' 37.49" -8° 11' 39.14" -7° 31' 55.71"

-

-8° 21' 1.87" -8° 26' 56.44" -7° 57' 27.06"

618 715 1596

x x x

134

Probolinggo

112° 56' 4.25"

-

113° 37' 33.14"

-7° 41' 54.57"

-

-8° 1' 38.08"

1639

x

135

Jember-Lumajang

112° 53' 57.36"

-

114° 2' 42.22"

-7° 56' 23.58"

-

-8° 25' 22.94"

3865

x

136

Besuki

113° 34' 17.40"

-

113° 52' 4.48"

-7° 41' 12.69"

-

-7° 58' 19.50"

469

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

99

99

NO. CAT

NAMA CAT

KOORDINAT (BUJUR)

KOORDINAT (LINTANG)

LUAS CAT (Km2)

LOKASI a Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bondowoso 2. Kabupaten Situbondo 3. Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Situbondo 2. Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Bangkalan 2. Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan 4. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur 1. Kabupaten Pamekasan 2. Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur Kabupaten Sumenenp A. Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Sambas B. Malaysia Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Sambas 2. Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat 1. Kabupaten Bengkayang 2. Kabupaten Landak 3. Kabupaten Pontianak 4. Kota Pontianak

KETERANGAN b x c d

137

Bondowoso-Situbondo

113° 40' 6.74"

-

114° 26' 39.19"

-7° 36' 17.95"

-

-8° 7' 37.33"

2358

138 139 140 141

Wonorejo Banyuwangi Blambangan Bangkalan

114° 12' 15.69" 113° 55' 28.01" 114° 20' 23.26" 112° 40' 22.8"

-

114° 27' 49.57" 114° 24' 28.44" 114° 36' 10.39" 112° 58' 6.01"

-7° 48' 9.83" -8° 3' 29.47" -8° 26' 41.90" -6° 53' 21.96"

-

-8° 5' 53.17" -8° 34' 11.00" -8° 46' 51.07" -7° 7' 16.24"

543 1737 413 398

x x x x

142

Ketapang

112° 54' 47.42"

-

113° 56' 18.56"

-6° 51' 51.97"

-

-6° 56' 56.89"

631

x

143

Sampang-Pamekasan

112° 41' 25.08"

-

113° 53' 39.48"

-7° 3' 55.29"

-

-7° 15' 25.69"

1200

x

144 145 146 147 148

Sumenep Toranggo Paloh Sambas Singkawang

113° 27' 22.5" 113° 55' 32.30" 109° 16' 23.73" 108° 54' 32.4" 108° 55' 31.83"

-

114° 6' 27.58" 114° 7' 32.52" 109° 38' 52.08" 109° 50' 18.59" 109° 19' 28.59"

-6° 57' 13.69" -6° 52' 4.60" 1° 41' 8.84" 1° 2' 44.59" 0° 50' 54.37"

-

-7° 7' 19.49" -6° 59' 1.82" 2° 4' 57.39" 1° 43' 22.10" 1° 6' 20.55"

478 101 561 3178 728

x x x x x

149

Pontianak

108° 50' 8.88"

-

110° 30' 0"

0° 52' 27.3"

-

-2° 23' 49.96"

22620

x

Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. 2010

100

100

05" - -4° 10' 34.97" 113° 11' 50. Kabupaten Nunukan B. Kabupaten Barito Kuala 6.53" - 1° 40' 34. Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan 1. Kabupaten Kapuas 7.77" 1° 9' 34. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai A.74" 0° 43' 52. Provinsi Kalimantan Selatan 1. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 5. Kabupaten Kutai 3. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Kalimantan Timur 1.50" -1° 59' 14. Kabupaten Kotawaringin Barat 2. Kabupaten Sintang 3.93" -0° 4' 17.96" 116° 35' 39.26" 1° 6' 24. Kabupaten Kutai Timur 2. Malaysia Provinsi Kalimantan Timur 1. x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Tapin 5.59" 10110 115 598 160 Tanjungselor 116° 36' 14. Kota Samarinda 3.81" 118° 58' 48.87" -1° 48' 7.26" -0° 45' 14.53" 0° 54' 32.56" 1° 45' 17. Kabupaten Hulu Sungai Selatan 7. 2010 102 102 .79" -1° 58' 11.88" -1° 9' 36.34" 118° 50' 46. Kabupaten Katingan 5. Kabupaten Kutai Timur B.90" -0° 1' 21.08" - 118° 8' 37.14" 116° 9' 9. Kabupaten Barito Selatan 8.16" 6441 1089 439 649 1660 156 Samarinda-Bontang 116° 33' 4.84" 428 385 284 4115 77 275 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.45" - -1° 25' 49. Kabupaten Tanah Laut 2.96" 111° 4' 2. Kabupaten Hulu Sungai Tengah 8. Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur 1.68" -2° 20' 50.88" 125° 3' 20.20" 1° 40' 51. Kota Samarinda 4. Kota Bontang 5. Kota Banjarmasin 4. Kabupaten Berau A.NO.17" -1° 26' 46.70" - 117° 1' 21.14" 1° 38' 8. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Kutai Barat B. Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Timur 1.46" -0° 57' 43. Kabupaten Pasir 2. Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir A. Kabupaten Bulungan 4. Kabupaten Berau 2.76" - 4° 14' 33.94" 1° 29' 23. Kabupaten Berau 3. Kabupaten Sanggau 2.04" -2° 25' 58.75" 116° 55' 9.54" 124° 59' 38.90" 0° 51' 33.81" 115° 28' 22. LOKASI a Kabupaten Ketapang KETERANGAN b c d 150 Palangkaraya-Banjarmasin 110° 10' 20.91" 116° 12' 48.37" -0° 57' 18.72" - -4° 0' 46.87" 116° 46' 44.78" - 116° 16' 33.23" -0° 38' 39.08" - 117° 13' 58. Kabupaten Banjar 3. 2010 101 101 NO. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya B.11" 125° 15' 5.66" 1° 2' 56. Kota Palangkaraya 6.31" - 118° 26' 22. Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat 1.32" - 115° 41' 29.69" -0° 17' 15. Provinsi Kalimantan Tengah Kabupaten Murung Raya Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung KETERANGAN b x x x c d 157 158 159 Sendawar Mangkaliat Sumbang 115° 28' 42.02" -1° 45' 40. Kabupaten Hulu Sugai Utara 9. Kabupaten Kotawaringin Timur 4.55" 0° 52' 5.48" 115° 59' 15.92" 95980 151 152 153 154 155 Pagatan Apar Tabanio Sebakung Muarapayang 114° 37' 9.19" 1° 10' 33.60" 111° 54' 2. Kabupaten Seruyan 3.40" 111° 47' 59.01" 0° 32' 37. Kabupaten Kutai Timur 2. Kabupaten Tanah Laut 2.73" - 17° 44' 46.20" -0° 22' 6. Kabupaten Kutai Barat 2. Provinsi Kalimantan Timur 1. A.03" 118° 32' 36.13" 124° 55' 15.48" 116° 27' 31.54" 1131 7107 2474 x x x 164 165 166 167 168 169 Loahaur Tenggarong Jonggon Muara Lahai Munte Batuputih 116° 52' 39.65" 116° 33' 33.48" 117° 2' 42.48" 116° 6' 57. Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten Pasir Provinsi Kalimantan Timur 1.57" 114° 41' 12.192" -0° 11' 21.74" 7720 Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Tengah 1. Kabupaten Murung Raya C. Kabupaten Kutai 2.31" 13550 x 161 162 163 Muarakarangan Putussibau Sintang 117° 33' 52.26" 115° 41' 21.92" 118° 51' 32. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Kutai Timur 2.506" -2° 2' 20.84" 1° 9' 49.48" - -0° 55' 50.71" - -0° 38' 48.95" 0° 30' 49. Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan Timur 1.39" 116° 43' 45.

13" 0° 21' 31.16" 120° 17' 7.01" 123° 22' 35.63" 124° 7' 53.96" 0° 44' 15.04" 123° 42' 32.34" 1004 1022 956 521 80 414 76 684 91 212 326 181 182 183 184 185 186 Pinogu Tombulitato Gorontalo Molombulah Mahinoto Soginti 123° 19' 40.57" 0° 44' 55.72" 1° 13' 0.50" -0° 13' 44. Kabupaten Bolaang Mongondow 2. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.25" 121° 19' 13.85" 0° 44' 46.75" 121° 6' 11.83" 1° 11' 6.37" 0° 54' 50.08" 0° 46' 30.55" 0° 27' 17. 2010 104 104 .50" 122° 10' 17.63" 119° 47' 27.20" 120° 2' 0.52" 123° 55' 57.11" 119° 45' 5.01" - 1° 39' 58.28" 1° 2' 11.00" -0° 3' 38.91" 124° 12' 8.94" 122° 41' 5.77" 0° 28' 1.78" 120° 23' 48.92" 120° 30' 29.64" - 0° 32' 5.95" 0° 47' 39.95" -0° 16' 25.82" - 121° 58' 52.77" 120° 5' 40.41" 119° 56' 36.97" -0° 31' 42.92" 0° 50' 45.63" 0° 26' 9.41" 123° 45' 36.39" -0° 9' 17.55" Kabupaten Pohuwato Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Buol Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah 1.84" 122° 26' 39.44" 124° 8' 9.54" - 0° 33' 33.50" -0° 40' 59.01" 0° 41' 10.96" 121° 32' 12.91" 120° 2' 29.26" 0° 24' 6.35" 1° 1' 47.96" 123° 34' 27.19" 1° 4' 41. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.58" 119° 58' 26.07" 119° 54' 38.40" 0° 28' 4.44" 122° 21' 27.11" 0° 55' 33.80" 0° 25' 51.44" 0° 35' 1.53" - 125° 2' 9. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.20" 124° 45' 39.44" 124° 52' 13.07" 0° 55' 13.70" -1° 2' 33.95" 124° 36' 0.12" 0° 33' 48.58" -0° 4' 41.39" -0° 8' 43.85" -0° 11' 19.52" -0° 4' 52.77" 0° 23' 51.19" 119° 50' 52.75" 119° 44' 4.79" 124° 13' 14. Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo KETERANGAN b x x x x x x x x x x x c d 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 Manado Bitung-Ratahan Tomohon-Tumpaan Sidate-Poigar Buyat Kotamubagu Lolak Dumoga-Kasio Molibagu Mongalada Bone 124° 43' 23.01" 120° 29' 0.51" 125° 15' 5. Kabupaten Bolaang Mongondow 2.08" - 123° 30' 59.10" 119° 58' 5.43" 119° 46' 27.38" 123° 56' 33.98" -0° 50' 24.66" 0° 25' 59.69" 121° 15' 45.24" 119° 47' 48.34" 0° 18' 31.35" 0° 55' 41.52" 0° 48' 10.51" 123° 30' 8.04" 0° 36' 9.65" 124° 30' 49. Kabupaten Donggala 2.45" 0° 52' 4.89" 0° 21' 43. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara 1.24" 122° 13' 52.25" 119° 51' 23.69" 1° 25' 35.85" 122° 45' 20.92" 121° 30' 21.90" -0° 5' 15.48" 0° 50' 58.61" 120° 46' 34.70" 0° 36' 50.78" 0° 42' 24.08" 119° 36' 19.49" 124° 34' 24. Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Gorontalo Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo 1.25" 1° 19' 4.01" 123° 20' 27.27" 120° 6' 40.97" 120° 4' 44.12" -0° 0' 39.40" -0° 8' 1.03" 0° 36' 24.08" 0° 6' 4. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.56" 0° 50' 16.89" 1° 5' 27.27" 0° 26' 17. Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.09" 119° 56' 9. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 234 92 606 435 55 24 111 83 54 50 22 36 14 52 37 63 149 97 261 Provinsi Gorontalo Provinsi Gorontalo LOKASI a Kabupaten Gorontalo x KETERANGAN b c d 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 Marisa Papajato Mountong-Tomini Buol Ogomali Ogawele Butung Babatona Ladangkola Sinei Tambu Tompis Labea Palado Tompe Oti Ampibabo Tawaeli Tindaki 121° 42' 51.83" 120° 51' 0.06" 1° 32' 0. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.27" 120° 5' 16.26" 120° 27' 9.83" 120° 5' 11.83" 124° 10' 38.97" 0° 34' 21.47" 0° 27' 21.90" 124° 28' 38.NO.29" 0° 24' 46.15" 119° 50' 43.81" -0° 30' 41.74" 0° 20' 22.154" 0° 10' 34.53" -0° 16' 26.79" 119° 46' 50.20" 119° 51' 54.63" 0° 35' 38. 2010 103 103 NO.13" 123° 14' 24.41" 124° 41' 56.14" 0° 17' 36.66" 112 35 481 433 75 59 x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.06" 123° 44' 6.75" -0° 43' 6.97" 119° 54' 44. Kabupaten Gorontalo 2.13" -0° 0' 14.84" 121° 59' 7.

54" -0° 49' 28.23" -2° 11' 36.10" -3° 29' 9.59" 2229 x 233 Makassar 119° 20' 54. Kabupaten Wajo 5. Kabupaten Wajo 3.09" -4° 19' 3.76" 120° 32' 14.22" -3° 18' 53.74" 122° 34' 0. 2010 105 105 NO. Kabupaten Bone x x KETERANGAN b c d 223 224 225 226 227 228 Tanoa Bone-Bone Lelewowo Polewali Kolosi Padang Sapa 121° 31' 18. 2010 106 106 .36" -3° 18' 33.88" -1° 57' 0.23" 120° 52' 12. Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan 1.92" - 119° 57' 14. Kabupaten Gowa 2.69" - 120° 14' 17.62" -1° 10' 5.83" 120° 48' 11.85" 939 x 231 Barru 119° 34' 44.47" x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 156 2230 135 327 86 422 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu A. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai Kepulauan Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso A. Kabupaten Donggala 2.69" 121° 21' 47. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.41" -3° 29' 48.0" 123° 7' 55.69" - 121° 49' 23.21" 122° 53' 21.30" -1° 53' 28.65" 121° 8' 38.19" 123° 9' 9.56" -1° 16' 8.58" 121° 14' 0.25" -2° 59' 57. Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan 1.90" 119° 24' 50. Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan 1.85" 120° 18' 1.63" 122° 40' 6.99" 119° 17' 58.71" -0° 51' 16. Kabupaten Takalar 3. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso B.87" 119° 23' 35. Kabupaten Soppeng 4.34" -1° 19' 26.33" 119° 33' 44.07" - -4° 33' 39. Kota Makassar 2. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Maros 3. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Poso x KETERANGAN b c d 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 Palu Pasangkayu Dapuran Bobo Langko Watutua Poso Morowali Topo Tomeang Luwuk Sobol Peleng Tomori Wasopote Sampaga Pindolo 119° 49' 28.72" - -2° 18' 5.56" -1° 47' 47.47" 122° 6' 19. Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan 1.77" -1° 7' 58.06" -2° 57' 46.34" -2° 24' 30.12" -0° 59' 13.04" 121° 48' 30.36" 120° 14' 38. Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan 1.24" -2° 25' 28.03" -2° 0' 57.51" 119° 7' 23.14" -1° 35' 15.69" x x x x 229 Pinrang-Sidenreng 119° 26' 57.27" 119° 17' 4.16" 120° 41' 25.81" - 120° 26' 32.56" - -4° 25' 9.61" 121° 29' 48.44" -3° 33' 14.82" -0° 52' 15.78" -1° 3' 22.68" - 119° 42' 50. Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Tengah 1.78" -1° 35' 2.90" 119° 31' 2. Kabupaten Sinjai 3.92" 121° 3' 25. Kabupaten Luwu 2.05" 122° 17' 14.26" 121° 28' 57.94" - -5° 23' 8.39" 123° 4' 59. Kabupaten Pangkajene Kepulauan 2.59" -1° 41' 52.42" - -4° 25' 58.59" -3° 31' 2.83" 120° 26' 24.59" - -5° 32' 44.NO.11" -0° 47' 23.73" -2° 4' 52.28" -2° 53' 0.83" -1° 43' 22.93" 580 x 234 235 Gowa Sinjai 119° 44' 2.44" -5° 0' 47.40" 120° 48' 11.63" 120° 12' 53.47" - -5° 6' 35.69" -5° 13' 54.53" -5° 10' 28. Kabupaten Donggala 2.25" - 119° 34' 40.24" - 120° 5' 1.21" 119° 49' 2.69" -1° 8' 48. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.56" -1° 15' 7.56" -3° 2' 43.41" 119° 59' 31.99" 121° 12' 31.83" -1° 17' 56. Kabupaten Gowa 4.31" 119° 6' 6.14" -1° 37' 1.33" 120° 0' 50.86" -2° 28' 10. Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Luwu B. Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan 1. Kabupaten Pinrang 2.12" 119° 45' 25. Kabupaten Donggala 2.35" 120° 12' 40.25" 120° 5' 41. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 313 716 279 130 224 795 999 530 581 215 333 263 678 175 1306 837 121 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala A.82" - -1° 20' 28.22" -5° 5' 29.22" -2° 8' 0. Kabupaten Barru 2. Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah 1.83" -1° 33' 54.69" -1° 10' 52.23 2270 x 230 Siwa-Pompanua 120° 4' 18.87" 482 81 x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.74" -1° 5' 37.78" 120° 25' 16.16" 123° 24' 8.89" 122° 4' 10.56" 120° 17' 17.18" - 119° 45' 42.27" -3° 30' 31. Kabupaten Sidenreng Rappang 3.04" -1° 57' 25.55" 120° 7' 10.32" -4° 33' 52.67" -1° 57' 9. Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamuju B.72" -1° 55' 4.70" 134 x 232 Pangkajene 119° 27' 44. Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan 1.30" -1° 29' 31.

42" 122° 18' 28.39" -8° 23' 48.48" 120° 24' 27. Kabupaten Jembrana 2. Kabupaten Muna 2.26" -5° 46' 39.14" -8° 49' 5.82" 122° 15' 54.83" 122° 13' 44.25" 122° 23' 47.77" 114° 55' 43. Kabupaten Buleleng 5.99" 114° 25' 40.70" -4° 43' 42. Kabupaten Jeneponto 2.59" 122° 59' 42. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.30" 122° 56' 50. 2010 108 108 .08" -4° 37' 26.21" 122° 51' 27.64" 122° 0' 7. Kabupaten Muna 2. Kabupaten Jembrana Provinsi Bali Kabupaten Klungkung Provinsi Bali Kabupaten Badung Provinsi Bali 1. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.38" 122° 58' 45.39" -8° 11' 34.12" 114° 58' 7.89" -8° 10' 52.29" -8° 4' 1.03" - -5° 42' 24.71" -8° 28' 26. Kabupaten Buleleng 2. Kabupaten Bulukumba 4.81" -4° 11' 52.06" 121° 32' 28. Kabupaten Buton 2.62" -4° 32' 37.70" 122° 38' 57.25" -4° 1' 35. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 347 157 591 339 976 128 307 2080 LOKASI a Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara 1.36" -4° 30' 2.92" -5° 12' 13.29" -5° 13' 53.61" - -8° 20' 19.43" -4° 25' 38.51" 121° 42' 37.98" -8° 12' 24.03" - - -4° 50' 8.16" -4° 52' 5.22" 123° 9' 49. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Klungkung 7.77" 122° 25' 13.22" 115° 37' 41.89" 122° 56' 1.45" 1433 x 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 Bira Selayar Bungku Kolaka Raromeeto Rawua Tangketada Andoolo Ambesia Ewolangka Weputang Tinanggea Muna Labuhan Tobelo Bangbong 120° 16' 49.43" -4° 40' 27.72" -4° 22' 0.52" -4° 30' 43. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.87" -4° 27' 4.59" -4° 11' 54.43" -8° 30' 40.64" -4° 36' 32.47" 122° 22' 14. Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1. Kabupaten Buton 2.56" 122° 53' 54.96" -3° 48' 41. Kabupaten Bangli 4. Kabupaten Muna 2.44" - - 123° 4' 59. Kabupaten Karangasem 6.84" 122° 46' 6.84" -4° 27' 9.31" 123° 12' 45.95" 120° 33' 3.02" -4° 41' 15.21" 122° 7' 9.98" -5° 25' 26.87" 121° 47' 9.68" -5° 42' 5.74" 114° 26' 11.92" -4° 48' 22.58" -4° 37' 28.37" -8° 50' 52.01" -5° 26' 32. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Muna KETERANGAN b c d 236 Bantaeng 119° 43' 52.69" -5° 26' 35.45" 115° 9' 32. Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Tenggara 1.65" -4° 50' 56. Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan 1.22" -4° 41' 46.39" 123° 13' 31. Kabupaten Gianyar 8. Kota Denpasar 2.90" -8° 20' 10. 2010 107 107 NO.09" 121° 27' 17. Kabupaten Badung 3. Kabupaten Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara 1.26" -3° 38' 37.22" 122° 51' 22.10" 121° 39' 56.43" 121° 39' 35.23" -8° 6' 0.28" -3° 56' 45. Kabupaten Bangli x x KETERANGAN b c d 252 253 254 255 256 257 258 259 Lambale Ereke Lebo Konde Bau-Bau Kaliwinto Lasilimu Denpasar-Tabanan 122° 53' 45.75" -8° 40' 14.83" 505 200 418 131 198 99 750 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.97" 115° 14' 6.07" 122° 21' 7.91" x x x x x x 260 261 262 263 264 265 266 Singaraja Amlapura Negara Gilimanuk Nusa Penida Nusadua Tejakula 114° 55' 22. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Kabupaten Karangasem Provinsi Bali 1.88" -4° 19' 52.NO.59" 230 656 2269 129 126 256 347 163 162 436 66 144 213 260 69 x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.63" 122° 32' 16.37" 115° 30' 55.75" -5° 14' 15.74" 122° 44' 14.58" -5° 18' 11.58" 121° 51' 30.81" -5° 14' 14.58" -4° 6' 31.58" -4° 47' 48.59" 122° 33' 18. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Buton Provinsi Bali 1.94" - 115° 12' 54.62" 122° 53' 59.25" - 120° 27' 27.48" - -5° 38' 0.84" 122° 29' 25. Kabupaten Sinjai 5.72" 115° 43' 0.27" -4° 16' 7.09" 114° 40' 36.73" 122° 58' 32.94" 122° 49' 54. Kabupaten Tabanan Provinsi Bali 1.19" -5° 26' 21.11" 115° 42' 25.10" - 120° 16' 20. Kabupaten Kendari 2.48" 115° 29' 40.71" -8° 46' 30.80" 121° 27' 59. Kabupaten Bantaeng 3.41" -5° 13' 12.94" -4° 4' 54. Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara 1.61" -6° 30' 23.16" 121° 43' 11.01" -4° 22' 51.88" -8° 45' 3. Kabupaten Buleleng 2.36" 115° 26' 41.78" -8° 5' 33.25" -4° 33' 43.96" 123° 4' 7.59" 115° 4' 57. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.

Kabupaten Lombok Barat 2.44" -8° 46' 14.27" -8° 10' 8.34" 118° 53' 13. Kabupaten Dompu 2.96" 120° 30' 5.17" -8° 43' 18.17" 122° 3' 4.90" -8° 32' 14.75" 121° 52' 35. 2010 109 109 NO.88" -8° 29' 55.28" -8° 48' 39.49" 119° 47' 52.60" -8° 24' 49. Kabupaten Lombok Timur 3.25" -8° 38' 53.12" 118° 15' 43.87" -8° 37' 9.75" 121° 48' 32. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.8" 120° 3' 58.72" 123° 54' 24. Kabupaten Manggarai 3.28" 123° 20' 5.72" 123° 45' 22. 2010 110 110 .31" -8° 17' 5.45" - 116° 43' 20.86" -8° 25' 28.62" -8° 17' 48.55" -8° 10' 27.72" 122° 41' 19.76" 122° 57' 46. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.06" 123° 10' 11.91" -8° 57' 34.52" -8° 26' 29.28" 123° 17' 27. Kabupaten Badung 5. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.44" -8° 21' 58.18" 121° 33' 36.58" 118° 30' 8.63" 120° 27' 15.2" -8° 32' 14.83" -8° 12' 42. Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.53" -8° 27' 1.47" -8° 12' 33.08" 123° 0' 6.30" -8° 19' 8.74" -8° 11' 32.73" 121° 4' 23.16" 123° 55' 18. Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur KETERANGAN b c d 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 Bajawa Maurole Ende Maumere Larantuka Kutabura-Lamaayang Lewobunga Liberapan Balauwak Mananga Waiwadan Waiwerang Lewoleba Iliwatulolo Balaurik Wairiang Wapoe Takourang Delaki 120° 55' 25.10" 118° 33' 25.34" -8° 13' 32.NO. Kabupaten Ngada KETERANGAN b c d 267 Mataram-Selong 116° 3' 33.14" -8° 47' 44.Kilo Dompu Bima Tawali-Sape Labuanbajo Lempe Reo-Riung Ruteng 116° 3' 28.26" -8° 11' 37.04" 118° 35' 24.84" -8° 35' 11.56" 1124 1404 345 977 1419 375 1102 363 413 398 813 3724 x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.8" 120° 4' 32.71" 117° 41' 24" 117° 42' 39. Kota Mataram 3. Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.4" -8° 12' 46.57" - 121° 20' 51.24" 123° 55' 41.04" -8° 28' 10.44" 123° 10' 2.64" -8° 38' 32.68" 123° 43' 57. Kabupaten Dompu 2.35" -8° 31' 38.62" -8° 33' 21.904" 119° 50' 12.44" 116° 52' 46.83" 123° 44' 12.95" -8° 8' 20. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.03" 123° 41' 37.18" 121° 56' 37.86" -8° 22' 29.05" 122° 44' 3.96" -8° 38' 24.18" -8° 14' 47. Kabupaten Dompu Provinsi Nusa Tenggara Barat Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.28" -8° 4' 48.24" -8° 37' 8.68" 119° 3' 28.31" -8° 27' 41. Kabupaten \Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat 1. Kabupaten Manggarai 2.16" 122° 55' 23.89" 118° 56' 31.82" -8° 17' 51.15" -8° 25' 15.75" 123° 1' 26. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 2.35" -8° 12' 54.12" 122° 52' 23. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.43" -8° 17' 25.4" 122° 58' 1. Kabupaten Buleleng 3.45" 122° 58' 35.54" -8° 15' 30.50" -8° 40' 49.72" -8° 31' 10.26" -8° 15' 48. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1. Kabupaten Bima 2.93" -8° 24' 53.75" 10970 140 394 800 1030 330 139 82 70 70 333 173 535 542 27 60 98 376 367 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.01" -8° 14' 40.10" -8° 23' 51.40" -8° 32' 58.66" -8° 33' 8.59" -8° 53' 36. Kabupaten Lombok Timur 4.47" -8° 11' 47.82" 122° 3' 11.56" -8° 33' 1.59" 123° 12' 31. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.68" 123° 12' 46.31" 123° 44' 39.94" -8° 13' 42.52" -8° 33' 33. Kabupaten Tabanan Provinsi Nusa Tenggara Barat 1. Kabupaten Dompu 2.19" - -8° 28' 59.84" 123° 0' 35.84" 121° 22' 35.73" 123° 46' 47. Kabupaten Lombok Barat 2. Kabupaten Manggarai 2.50" 122° 57' 1. Kabupaten Karangasem 4.69" 117° 53' 45.59" 122° 36' 53.06" 123° 54' 39.84" - 116° 43' 19.65" -8° 22' 7.38" -8° 3' 54.69" 124° 19' 26.29" -8° 29' 49. Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat 1.28" 117° 34' 9.43" 2366 x 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 Tanjung -Sambelia Sumbawa Besar Empang Pekat Sanggar .84" 124° 19' 10.71" -8° 45' 59. Kabupaten Flores Timur 2.74" 118° 18' 50.41" - -8° 50' 8.76" -8° 41' 59.84" 118° 12' 58.66" - -8° 51' 57. Kabupaten Bima 2.

77" 127° 58' 53.67" 1° 15' 2.74" - 2° 38' 24.62" 123° 25' 33.17" 127° 32' 37.48" -8° 13' 21.63" 1° 48' 8.29" -8° 26' 28.77" - 124° 36' 16.14" 124° 32' 34.09" -8° 27' 47.63" 128° 8' 47.82" 128°1' 2. Kabupaten Kupang 2.76" 127° 19' 46.55" 1° 36' 41. Kabupaten Halmahera Tengah 2.48" 128° 4' 28.008" 0° 17' 27.38" 128° 22' 14.43" -9° 56' 14.73" 127° 18' 5. Kabupaten Sumba Barat 2.99" 127° 49' 4.248" - -8° 15' 33.75" 1° 35' 22.17" x x x x x 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 Jailolo-Sidangoli Payahe Mafa Sagea Wasile Akelamo Patani Wusi Kasiruta Mandioli Labuha 127° 23' 49.34" -10° 44' 20.56" 124° 9' 13. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.97" 0° 27' 13. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 112 1104 885 2860 1427 660 232 311 162 1008 LOKASI a Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.79" -0° 9' 29.43" 0° 45' 15.87" 123° 14' 26.71" -10° 13' 15.99" 122° 57' 56. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.79" 0° 52' 3.62" -8° 7' 34.46" -0° 14' 51.77" 128° 45' 23.91" 127° 6' 14.38" 124° 47' 3.50" 1° 45' 46. Kabupaten Halmahera Tengah 2.48" -9° 24' 21.86" -9° 22' 40.21" 123° 9' 57.92" 127° 55' 21. Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1. Kabupaten Halmahera Barat 2.36" 0° 45' 34.15" -10° 56' 20.81" -10° 43' 24.80" 127° 49' 53.48" -9° 21' 34. Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara 1.41" 124° 21' 47.96" 128° 6' 42.75" 2° 8' 50.38" - 1° 28' 38.32" 1° 58' 56.54" 1576 95 178 95 565 362 753 74 259 162 166 x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.92" 0° 44' 26.58" -10° 7' 13. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.12" 127° 27' 33.35" -9° 43' 21.78" -9° 37' 41.98" 127° 17' 24.88" 127° 35' 25.92" 127° 38' 47.59" 128° 2' 1.43" 0° 12' 38.NO.57" -8° 8' 53.31" 127° 56' 52. Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara 1.66" -9° 51' 31.87" 118° 55' 41.34" 481 88 236 229 250 106 108 x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.02" -10° 10' 39.052" -10° 0' 12.98" 0° 26' 14.96" 124° 5' 30. Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur 1. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara 1. Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.68" 2° 13' 25.72" 127° 21' 41.05" -9° 53' 44. Kabupaten Belu 2. 2010 111 111 NO.92" 125° 8' 35. Kabupaten Timor Tengah Selatan 3.75" 1° 18' 1.69" 127° 43' 27.92" 124° 20' 53.02" -0° 19' 59.89" 123° 27' 24. Kabupaten Halmahera Tengah 2. Kabupaten Halmahera Utara 2.654" 0° 23' 30.32" 127° 44' 51.99" -0° 47' 46.45" -10° 0' 43.4" 128° 54' 9" 128° 55' 47. 2010 112 112 .04" 124° 19' 55.14" 1° 1' 20. Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan x KETERANGAN b c d 316 317 318 319 320 321 Daruba-Bere-Bere Posi-Posi Galela Tobelo Ibu Kau 128° 12' 9.04" -10° 39' 7. Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Rote Ndao Provinsi Maluku Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Kota Tidore Kepulauan x x x KETERANGAN b c d 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 Pasirputih Kalabahi Werula Waikabubak Ngalu Kupang Camplong Mina Soe Oemeu 124° 23' 29. Kabupaten Timor Tengah Selatan 2.28" 120° 1' 25.30" 1° 33' 44. Kabupaten Halmahera Timur 3.04" 124° 21' 30. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.18" 1° 54' 24. Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.72" 127° 57' 20. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 486 58 704 763 756 1941 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.18" -0° 19' 57.35" - 128° 41' 48.96" 120° 49' 28.2" 0° 26' 9.12" 128° 36' 37.144" 122° 57' 53.87" 128° 2' 15.42" -10° 21' 45.65" -0° 39' 32.77" 122° 48' 9. Kabupaten Halmahera Barat 2. Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur 1.276" 0° 20' 25. Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara 1.77" 0° 37' 22.56" -0° 9' 27.08" 124° 53' 6.51" 128° 5' 12.27" -10° 25' 41.92" -9° 23' 28.14" 128° 1' 2.56" 123° 56' 31.74" x x x x x x x 309 310 311 312 313 314 315 Besikama Aroki Nemberala Batutua Rote Ternate Tidore 124° 42' 38.88" 125° 8' 41.16" 120° 19' 4.46" 127° 23' 57.88" 1° 11' 27.4" - 125° 5' 16.03" -0° 29' 38.24" -0° 6' 36.16" 1° 27' 48. Kabupaten Timor Tengah Utara 2.15" 127° 23' 12.38" -10° 51' 48.85" 127° 55' 47.54" 0° 33' 48.25" -9° 46' 51.48" 123° 55' 11.48" 124° 9' 51.51" - -9° 52' 36.4" 127° 9' 27" - 127° 52' 44.64" 124° 53' 52.798" -9° 13' 17.

08" -6° 32' 56.76" 134° 45' 39.13" 134° 10' 34.43" 127° 49' 19.92" 134° 42' 48.68" 128° 16' 13.58" -7° 41' 53.65" 131° 4' 45.59" -5° 59' 59.88" 134° 47' 55. 2010 113 113 NO.13" -0° 38' 45.33" 134° 26' 55. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1070 811 306 81 513 218 300 1006 1737 137 100 163 406 2069 294 169 66 131 66 44 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tengah Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat x Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x Kabupaten Kepulauan Aru x x x x Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Kepulauan Aru Kabupaten Maluku Tenggara x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 Sawal Waru Kai Kecil Kai Dulah Kai Besar Kola Komfane Wokam Kobror Penambulan Baun Workai Koba Trangan Maikoor Watidal Larat Saumlaki Selaru Seira 129° 4' 28.88" 134° 46' 1.95" 127° 41' 45.47" -2° 54' 4.14" -6° 17' 9.41" -7° 37' 52.11" -3° 6' 9.81" 134° 19' 46.15" - -0° 41' 1.14" -3° 2' 16.10" -1° 17' 33.50" -5° 55' 32.03" 134° 30' 32.6" 128° 43' 7.16" 128° 57' 36.34" -3° 29' 18.92" 130° 57' 46.49" 131° 59' 4.8" 132° 49' 22.42" -2° 18' 33.51" 134° 38' 25.63" -3° 16' 33.02" -3° 10' 23.13" -6° 28' 44.84" -5° 15' 58.86" -5° 34' 0.07" -1° 27' 42.45" -3° 29' 55.84" -8° 4' 18.48" 128° 33' 57.19" 125° 57' 12.70" -3° 25' 39.44" - 129° 53' 50.09" -7° 13' 47.52" 134° 45' 55.56" 131° 44' 44.67" 128° 23' 23.24" 127° 45' 30.47" 126° 37' 35.93" -2° 50' 58.76" -3° 3' 34.11" -3° 2' 6.49" -5° 25' 30.77" -5° 34' 8.52" 131° 21' 19.21" 126° 15' 36.45" -5° 44' 46.89" -6° 1' 45.83" 133° 11' 23.20" -3° 9' 15. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 79 157 56 159 71 97 301 1438 381 124 275 52 98 272 467 134 122 278 92 1276 LOKASI a Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Buru Selatan Provinsi Maluku Kabupaten Buru Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku 1.44" 128° 25' 36.29" -5° 35' 27.80" -6° 22' 31.69" 128° 0' 1.44" -6° 2' 6.68" 127° 48' 19.09" 129° 12' 44.45" -5° 35' 3.98" 127° 57' 34.72" - -3° 19' 5.12" 127° 7' 8.99" -3° 29' 13.49" -2° 28' 23.61" 3° 37' 55.48" 131° 6' 0.18" -5° 41' 47.66" -6° 56' 42.48" 127° 54' 24.95" 134° 46' 55.79" -3° 12' 32.21" 132° 49' 16.04" -3° 21' 14.89" -6° 16' 39.14" 131° 42' 42.80" 134° 54' 35.31" -3° 37' 40.88" -0° 27' 12.37" -0° 46' 12.57" 128° 3' 40.34" -3° 42' 58.87" 128° 20' 48.77" -3° 48' 53.65" -7° 14' 53.92" -2° 45' 55.08" 127° 44' 42.49" -3° 47' 6. 2010 114 114 .90" 127° 37' 33.65" -7° 5' 56.66" 129° 4' 21.52" 134° 31' 55.NO.82" -3° 22' 13.96" 127° 49' 32.77" -2° 54' 17.92" 128° 4' 6.45" -5° 31' 12.46" -3° 6' 3.70" -1° 25' 24.54" 127° 54' 24.88" 129° 7' 56.47" -6° 26' 42.06" -1° 11' 26.70" -3° 11' 45.39" -2° 47' 18.76" x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Maluku Tengah x x x x x x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 Lansa Bisa Taino Sesepe Jobubu Sanana Air Buaya Leksula Waeapo Boano Kawa Laela Waesamu Hitulama Ambon Haruku Saparua Masohi Namea Wahai 127° 27' 25.81" 134° 37' 22.96" 130° 30' 23.90" -7° 49' 4.36" 130° 29' 9.44" 128° 51' 46.28" -3° 33' 57.01" Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.69" -6° 20' 40.44" 134° 38' 42.91" 134° 42' 29.44" 131° 10' 27.39" -5° 57' 6.50" -8° 1' 22.35" 126° 0' 11.37" 130° 52' 49.95" 132° 51' 6.88" 126° 48' 7.06" -6° 34' 55.26" - 127° 36' 35.99" -2° 56' 1.05" 127° 27' 46.24" 127° 53' 10. Kabupaten Seram Bagian Timur 2.89" 134° 31' 57.85" -6° 34' 23.62" 134° 15' 54.14" 134° 2' 59.67" -1° 34' 3.69" -6° 47' 7.95" 126° 4' 14.44" -7° 8' 1.54" 132° 36' 53.20" -3° 33' 39. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.76" 132° 44' 43.64" 134° 20' 54.73" 126° 50' 16.43" 128° 23' 37.84" 130° 45' 16.30" -8° 20' 33.43" -3° 30' 20.35" 128° 18' 38.12" 131° 36' 47.98" -1° 21' 7.27" -6° 13' 50. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.7" -3° 52' 38.28" 128° 32' 43.

55" -3° 45' 29.42" 136° 5' 55.68" -1° 21' 32.42" -0° 5' 7.88" 134° 33' 14.50" 134° 2' 15.45" -7° 23' 59.49" 130° 40' 40.77" - -1° 54' 5.81" -1° 51' 9.79" - -7° 34' 21.40" - -2° 18' 24.36" -0° 5' 25.78" -1° 39' 31.24" -3° 11' 1.08" 129° 58' 30.6" 129° 30' 23.83" -2° 2' 18.94" -3° 35' 56.38" 23130 x 388 389 390 391 Atkari Zaag Timoforo Kanoka-Babo 129° 43' 4.4" 128° 13' 53.08" 129° 41' 19.70" -8° 16' 54.56" 134° 40' 10.6" 130° 19' 6.72" 129° 55' 9. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 1452 307 345 431 513 6078 516 208 1214 155 110 293 140 1382 343 403 1372 1033 22630 Provinsi Papua Barat LOKASI a Kabupaten Manokwari x x KETERANGAN b c d 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 Manokwari Oransbari Takubo Numfor Urema Kaimana Omba Warsa Biak Pom Ansas Serui Timur Samberbada Nabire Legare Ulawa Agamanan Parekebo Warem-Demta 133° 31' 15.32" -7° 52' 59.02" 135° 41' 44.69" -7° 29' 31.42" 134° 57' 29.92" -8° 13' 0.16" -0° 8' 38.96" -3° 52' 40.32" 130° 32' 5.40" 140° 30' 54.12" 985 309 579 16870 x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.59" -0° 18' 19.95" 135° 13' 25.86" -1° 43' 36.52" -2° 13' 36. Kabupaten Teluk Bintuni 2.12" -8° 6' 15.8" - 130° 59' 54.52" -1° 25' 33.56" 130° 41' 34.88" 135° 33' 7.92" 134° 16' 43.57" -7° 57' 30. Kabupaten Nabire x x x x x x x x x x x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.83" 135° 50' 47.19" -3° 31' 28.65" 135° 36' 43.4" 135° 21' 25.44" -7° 57' 38. Kabupaten Sorong 4.66" 133° 37' 35.62" -3° 11' 12.32" 135° 39' 6.86" -4° 7' 22.12" 129° 39' 10. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 50 53 50 300 31 53 38 113 319 334 118 348 98 765 Provinsi Maluku Provinsi Maluku LOKASI a Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku Provinsi Maluku Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat 1.36" 127° 45' 12.53 -1° 52' 0.69" -4° 5' 2.75" -1° 41' 13.96" -1° 52' 12.59" -3° 10' 23.28" - 134° 2' 55.NO.24" 131° 10' 12.62" -7° 57' 33. 2010 115 115 NO.62" -3° 55' 56.65" -7° 50' 59.12" -8° 3' 38.92" 135° 43' 56.19" -0° 22' 16.44" 130° 41' 10.01" -1° 11' 40.04" 128° 7' 19.44" 136° 16' 16.42" 136° 23' 19.00" - -1° 1' 58.42" 130° 42' 31.71" -4° 14' 20.20" Provinsi Papua Barat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat 1.86" -4° 17' 39.50" 133° 8' 58.29" 134° 7' 55.17" - 134° 8' 13.36" -3° 31' 51.2" 130° 28' 12.10" 135° 38' 26.83" 134° 47' 57.67" -0° 51' 30.26" 129° 33' 59.88" -1° 35' 50.12" -8° 15' 46.76" -1° 33' 6.11" -0° 44' 45.06" 133° 30' 52.04" 135° 24' 32.80" 133° 43' 15.96" -8° 12' 1. Kabupaten Fak Fak 2.05" 129° 34' 33.48" 134° 23' 21.89" 135° 20' 2.90" 135° 59' 36. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.16" -1° 46' 44.91" -3° 9' 49. Provinsi Papua Barat Kabupaten Fak Fak B.08" -4° 2' 54.31" -1° 39' 52.68" 132° 43' 28. Kota Sorong Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat 1.06" -8° 5' 51.79" -7° 47' 28.50" -0° 37' 12.64" 130° 58' 9.39" -1° 51' 23.48" 129° 34' 54.51" 135° 1' 23.4" -1° 7' 58.68" 134° 0' 6.76" 134° 37' 26.43" -1° 45' 20.44" -0° 42' 42.31" 130° 46' 30.74" -1° 12' 13.62" -0° 52' 37.35" -3° 24' 2.32" -0° 55' 18.67" -3° 26' 35.4" 135° 38' 35.84" -1° 3' 25.57" 131° 5' 52.20" -8° 1' 30.94" 136° 29' 59. Kabupaten Manokwari 2.4" 128° 4' 21. Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Provinsi Papua Kabupaten Mimika Provinsi Papua 1.84" 129° 48' 15.92" 129° 42' 26.82" -1° 38' 29.2" - 130° 27' 16. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kabupaten Maluku Tenggara Barat x x x x x x x x x x x x x x KETERANGAN b c d 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 Wuru Wiliaru Masela Tutuwawang Tela Emraing Wetan Lakor Moa Waigeo Bokpapo Wairemah Batanta Salawati 130° 49' 56. Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua Kabupaten Nabire A.8" -0° 32' 53. Kabupaten Sorong Selatan 3.2136" 134° 59' 40.84" 129° 51' 43.54" -7° 29' 49.56" -4° 3' 6.84" 135° 55' 36.96" -1° 45' 53.57" -1° 27' 32.08" -0° 47' 35.31" 130° 35' 34.42" 131° 4' 15.19" 136° 17' 2.99" 135° 54' 47.97" -0° 52' 58.50" 135° 46' 41.08" 387 Teminabuan-Bintuni 130° 55' 38.88" 134° 52' 16. 2010 116 116 .

88" 131609 Kabupaten Wamena Provinsi Papua Kabupaten Keerom A. Kabupaten Jayapura 2. Keterangan                       a b c d : CAT dalam kabupaten/kota : CAT lintas kabupaten/kota : CAT lintas provinsi : CAT lintas negara Jumlah Cekungan Air Tanah 206 cekungan 176 cekungan 35 cekungan 4 cekungan 421 cekungan Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.Senggi Jayapura Timur Arso Lereh-Leweh Ubrub Mandala Nalco-Bime 135° 46' 26.67" 141° 0' 0" -3° 42' 6.NO. Provinsi Papua 1.85" - -3° 51' 31. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA.51" -3° 0' 8. Kabupaten Yahukimo 8.20" 140° 18' 1. 2010 118 118 .47" - -4° 22' 40.82" 25380 x 412 413 414 415 416 417 418 419 420 Enarotali Wamena Hulu S. Kabupaten Wamena Papua Nugini KETERANGAN b c d B.51" 139° 57' 44.15" - 141° 0' 0" -4° 5' 29.70" 140° 31' 15.92" -2° 28' 48. 2. Kabupaten Pegunungan Bintang 2.62" -2° 32' 32.87" -4° 40' 4.99" -3° 1' 45. 6.44" -3° 13' 12.97" -4° 8' 10.21" -4° 13' 50. 2010 Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Papua 1. Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua 1. 7.11" 139° 55' 6. 2.07 -3° 59' 59.94" 139° 21' 0. Kabupaten Yahukimo A. Provinsi Papua 1. 4.17" 140° 45' 32.20" 140° 40' 59.32" - 138° 57' 18.15" 8160 1766 180 1685 165 7235 573 754 2902 x 421 Timika-Merauke 134° 49' 35. 2010 117 117 NO. Kabupaten Pegunungan Bintang 7. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) 2. Kabupaten Merauke 5.29" - 140° 23' 4.17" - -9° 7' 59.66" 139° 27' 23.03" -3° 32' 36.34" 140° 33' 30. CAT NAMA CAT KOORDINAT (BUJUR) KOORDINAT (LINTANG) LUAS CAT (Km2) LOKASI a 6.87" 140° 25' 20.05" -3° 7' 17. 3. 8.71" 140° 31' 55. Papua Nugini Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua Kabupaten Keerom Provinsi Papua 1.20" 141° 0' 0" 140° 55' 37. 3. 5. Kabupaten Pegunungan Bintang 2. Kabupaten Mimika 2.88" 140° 52' 46.82" -3° 3' 56. 4.43" -5° 11' 28.45" -4° 12' 25. Provinsi Papua 1.70" -3° 46' 10.55" -2° 56' 38. Kabupaten Mappi 4. Kabupaten Keerom B. Kabupaten Asmat 3. Kabupaten Boven Digul x x x x x x x Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal Dan Irigasi Air Tanah Dalam TA. Provinsi Papua LOKASI a Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Waropen Kabupaten Sarmi Kabupaten Jayapura Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Tolikara Kabupaten Paniai Kabupaten Keerom Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Paniai Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Wamena x x KETERANGAN b c d 411 Taritatu 136° 49' 23. 3.37" -3° 41' 38.89" 138° 42' 41.