Sejarah Dan Perjuangan Bung Tomo

Diposkan oleh Odhi Bloggger di 14:36 Rabu, 18 Agustus 2010 Label: Sejarah Nasional

Sutomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Ia melewati masa kecil hingga dewasa di Surabaya. Arek Suroboyo asli. Tapi, nama masyhurnya bukan Cak Tomo, melainkan Bung Tomo. Inilah biodata singkat Cak, eh, Bung Tomo. Masa remaja: 1. Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) Lulus Ujian Pandu Kelas I (yang pertama di Jawa Timur dan kedua untuk seluruh Indonesia), di Indonesia waktu itu hanya ada tiga pandu kelas satu. 2. Sekretaris Parindra ranting anak cabang di tembok duku, Surabaya sekitar tabun 1937. 3. Ketua ke1ompok sandiwara Pemuda Indonesia raya di Surabaya, mementaskan cerita-cerita perjuangan tahun 1939 sampai balatentara Jepang datang. Masa Pemuda: 1. Wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937. 2. Wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939. 3. Redaktur Mingguan Pembela Rakyat, di Surabaya 1938. 4. Pembantu koresponden untuk Surabaya, Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta, sebelum perang di bawah asuhan almarhum Anjar Asmara. 5. Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang). 6. Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945. Masa Revolusi Fisik 1945-1949: 1. Ketua umum/pucuk pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dengan cabangnya di seluruh Indonesia. BPRI mendidik, melatih dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata ke seluruh wilayah tanah air. Setiap malam mengucapkan pidato dari Radio BPRI untuk mengobarkan semangat perjuangan yang selalu di relai oleh RRI di seluruh wilayah

Anggota Staf Gabungan Angkatan Perang RI. AL. 7. Membuat siaran pengumuman panggilan masuk kemiliteran RI yang pertama. kok. bersama Jenderal Sudinnan. 2. Ketua Panitia Angkutan Darat (membawahi bidang kereta api. Foto Legendaris Foto ini legendaris. Sulistina. 3. Komodor Soerjadarma. Sebagai pimpinan BPRI sejak 12 Oktober 1945 sampai Juni 1947 (sampai dilebur didalam Tentara Nasional Indonesia). Kepalanya dinaungi payung bergaris-garis dan corong bundar menghadang mulutnya. tangan kanannya menunjuk ke atas. di lapangan Mojokerto. 6. Laksamana Nazir dan sebagainya. selalu muncul di setiap publikasi 10 November. Istri Bung Tomo. mengakui foto itu tidak dijepret di Surabaya. tetapi beberapa tahun setelahnya.´ . menjadi ilustrasi buku sejarah jika mengulas perang 10 November. AU di bidang informasi dan perlengkapan perang. 4. Anggota Dewan Penasehat Panglima Besar Jenderal Sudirman. Waktu itu Bapak sedang berpidato. dengan tugas koordinator AD. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.Indonesia (1945-1949). foto itu sebenarnya bukan diambil saat perang 10 November 1945. dengan tugas mengkoordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah RI) dan bertanggung jawab langsung kepada Panglima Besar TNI. 5. Siapa pemotretnya dan bagaimana situasi yang melatarbelakanginya? Di foto itu Bung Tomo yang ceking terlihat gagah berpidato. Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata Seluruh Jawa dan Madura. ³Itu yang motret IPPHOS. Kumisnya tipis. dengan pangkat Mayor Jenderal TNI AD. Namun siapa sangka. Berseragam militer. matanya tajam. Dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia. bis antar kota dan sebagainya. Nggak dibuat-buat.

mendirikan IPPHOS pada 2 Oktober 1946 di Jakarta. Ada foto Bung Tomo dengan pose dahsyat ini. membenarkan ayahnya tidak sempat diabadikan pada perang 10 November karena perannya yang penting sehingga posisinya selalu dirahasiakan. ketika perang Surabaya berkecamuk. Sayang. Bung Tomo adalah pemimpin redaksi kantor Berita Domei yang kelak menjadi Kantor Berita Antara di Surabaya. Nanjang Post. Mendur tercatat sebagai kepala desk foto kantor berita Domei Jakarta. Faktanya. Di zaman Jepang. Alex Mamusung. Beruntung. ada sejumlah literatur terkait foto legendaris ini. IPPHOS Surabaya tidak aktif lagi. dan Oscar Ganda. FF Umbas. Hasil jepretan Mendur itu sudah berbicara banyak. IPPHOS kependekan dari Indonesia Press Photo Service.tanya ujar Sulistina. Dia satu-satunya fotografer yang memotret pembacaan proklamasi RI 17 Agustus 1945. Sulistina hanya mengenal nama Mendur. Putra kedua Bung Tomo. Frans Mendur. Beberapa nama lain juga tercatat sebagai pendiri IPPHOS. . Lantas siapa yang memotret Si Bung sehingga foto hitam putih ini mampu bercerita banyak tentang kegagahan 10 November? Surya mendatangi kantor IPPHOS Surabaya di Jl Urip Sumohardjo. Dijelaskan dalam keterangan foto itu bahwa Bung Tomo sedang berpidato di lapangan Mojokerto dalam rangka mengumpulkan pakaian untuk korban Perang Surabaya. Sementara Surabaya sedang diduduki Belanda. Tidak ada orang yang bisa memberi keterangan tentang foto ini. biro dokumentasi foto satu-satunya di zaman perang. Mereka bersahabat sejak lama karena sama-sama wartawan. ternyata tidak ada satupun surat kabar yang memuat foto Bung Tomo berpayung ini. Tanpa mendengar pidato Bung Tomo dan hanya melihat foto itu. orang sudah bisa membayangkan dengan jelas bagaimana situasi pada masa itu. Alex bukan orang asing bagi Bung Tomo. Sementara. Saat itu masih banyak warga Surabaya yang bertahan di pengungsian di Mojokerto dan jatuh miskin. Bambang Sulistomo. selama periode terakhir 1945. Dialah yang mengabadikan hampir semua peristiwa bersejarah periode 1945-1949. wartawan foto IPPHOS yang mengambil gambar µBapak¶. Lantas siapa Mendur? Nama lengkapnya Alexius Mendur (1907-1984). pendiri IPPHOS. Misalnya. edisi Februari 1947. Mandarin dan Indonesia. Foto itu pertama kali muncul dalam majalah dwi bahasa. Tak mengherankan kalau kemudian foto itu dianggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah dibuat di era perang kemerdekaan. Alex Mendur dan saudara kembarnya. Mendur adalah legenda fotografi era perang. JK Umbas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful