Anda di halaman 1dari 86

Konstruksi Beton Pratekan

Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

1. PENDAHULUAN
Seperti yang telah diketahui bahwa beton adalah suatu material yang tahan terhadap
tekanan, akan tetapi tidak tahan terhadap tarikan. Sedangkan baja adalah suatu material
yang sangat tahan terhadap tarikan. Dengan mengkombinasikan antara beton dan baja
dimana beton yang menahan tekanan sedangkan tarikan ditahan oleh baja akan menjadi
material yang tahan terhadap tekanan dan tarikan yang dikenal sebagai beton bertulang
( reinforced concrete ). Jadi pada beton bertulang, beton hanya memikul tegangan tekan,
sedangkan tegangan tarik dipikul oleh baja sebagai penulangan ( rebar ). Sehingga pada
beton bertulang, penampang beton tidak dapat efektif 100 % digunakan, karena bagian
yang tertarik tidak diperhitungkan sebagai pemikul tegangan.
b
c
h
d
bagian tarik
bagian tekan
grs. netral
penulangan

Gambar 001

Gaya tarik pada beton bertulang dipikul oleh besi penulangan ( rebar ). Kelemahan lain
dari konstruksi beton bertulang adalah bera t sendiri ( self weight ) yang besar, yaitu
2.400 kg/m
3
, dapat dibayangkan berapa berat penampang yang tidak diperhitungkan
untuk memikul tegangan ( bagian tarik ). Untuk mengatasi ini pada beton diberi tekanan
awal sebelum beban-beban bekerja, sehingga seluruh penampang beton dalam keadaan
tertekan seluruhnya, inilah yang kemudian disebut beton pratekan atau beton prategang
( prestressed concrete ).
Perbedaan utama antara beton bertulang dan beton pratekan.
Beton bertulang :
Cara bekerja beton bertulang adalah mengkombinasikan antara beton dan baja tulangan
dengan membiarkan kedua material tersebut bekerja sendiri-sendiri, dimana beton be-
kerja memikul tegangan tekan dan baja penulangan memikul tegangan tarik. Jadi de-
ngan menempatkan penulangan pada tempat yang tepat, beton bertulang dapat sekaligus
memikul baik tegangan tekan maupun tegangan tarik.
Beton pratekan :
Pada beton pratekan, kombinasi antara beton dengan mutu yang tinggi dan baja bermutu
tinggi dikombinasikan dengan cara aktif, sedangan beton bertulang kombinasinya secara
pasif. Cara aktif ini dapat dicapai dengan cara menarik baja dengan menahannya
kebeton, sehingga beton dalam keadaan tertekan. Karena penampang beton sebelum be-
ban bekerja telah dalam kondisi tertekan, maka bila beban bekerja tegangan tarik yang
terjadi dapat di-eliminir oleh tegangan tekan yang telah diberikan pada penampang se-
belum beban bekerja.


01
Hal ini dapat dilihat pada sketsa gambar
disamping ini. Suatu penampang beton
bertulang dimana penampang beton yang
diperhitungkan untuk memikul tegangan
tekan adalah bagian diatas garis netral
( bagian yang diarsir ), sedangkan bagian
dibawah garis netral adalah bagian tarik
yang tidak diperhitungkan untuk memikul
gaya tarik karena beton tidak tahan terha-
dap tegangan tarik.
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Keuntungan Beton Prategang
Konstruksi beton prategang ( Prestressed concrete ) mempunyai beberapa keuntungan
bila dibandingkan dengan konstruksi beton bertulang biasa, antara lain :
a. Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik, sehingga beton prategang akan lebih
tahan terhadap korosi.
b. Lebih kedap terhadap air, cocok untuk pipa dan tangki air.
c. Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban rencana
bekerja, maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan lebih kecil dari
pada beton bertulang biasa.
d. Penampang struktur akan lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang
dipergunakan secara efektif.
e. Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dari pada jumlah berat besi penulangan
pada konstruksi beton bertulang biasa.
f. Ketahanan geser balok dan ketahanan puntirnya bertambah.
Dengan ini, maka suatu struktur dengan bentangan besar penampangnya akan lebih
langsing, hal ini mengakibatkan Natural Frequency dari struktur berkurang, sehingga
menjadi dinamis instabil akibat beban getaran gempa atau angin, kecuali bila struktur
itu memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
Bila ditinjau dari segi ekonomis, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Jumlah voluma beton yang diperlukan lebih kecil.
b. Jumlah baja/besi yang dipergunakan hanya 1/5 1/3 nya.
c. Tetapi biaya awalnya tidak sebanding dengan pengurangan beratnya. Harga baja
dan beton mutu tinggi lebih mahal, selain itu formwork dan penegangan baja prate-
gang perlu tambahan biaya. Perbedaan biaya awal ini akan menjadi lebih kecil, jika
beton prategang yang dibuat adalah beton pracetak dalam jumlah yang besar.
d. Sebaliknya beton prategang hampir-hampir tidak memerlukan biaya pemeliharan,
lebih tahan lama karena tidak adanya retak-retak, berkurangnya beban mati yang di-
terima pondasi, dapat mempunyai bentang yang lebih besar, dan tinggi penampang
konstruksinya berkurang.
Ada beberapa keuntungan dari beton prategang bila dibandingkan dengan beton bertu-
lang biasa :
1. Karena pada beton prategang dipergunakan material yang bermutu tinggi, baik
beton dan baja prategang, maka voluma material yang dipergunakan lebih kecil bila
dibandingkan dengan beton bertulang biasa untuk beban yang sama.
Menurut pengalaman dengan meningkatkan mutu beton 2x lipat akan menghemat
biaya sekitar 30 %.
2. Pada beton prategang seluruh penampang beton aktif menerima beban, sedangkan
pada beton bertulang biasa hanya penampang yang tidak retak saja yang menerima
beban.
3. Beton pratekan akan lebih ringan atau langsing ( karena volumanya lebih kecil ) se-
hingga secara estetika akan lebih baik. Untuk bentangan-bentangan yang besar
seperti jembatan dimana pengaruh berat sendiri sangat besar, maka penggunaan
beton prategang akan sangat menguntungkan, karena lebih ringan dapat menghemat
pondasinya.

02
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

4. Karena tidak terjadi retak pada beton prategang, maka baik baja penulangan dan
baja prategang akan lebih terlindungi terhadap bahaya korosi, sehingga akan lebih
cocok untuk struktur yang bertempat didaerah korosif.
5. Lendutan efektif untuk beban jangka panjang dapat terkontrol lebih baik pada beton
prategang penuh maupun prategang sebagian.

2. PRINSIP DASAR BETON PRATEKAN
Beton pratekan dapat didefinisikan sebagai beton yang diberikan tegangan tekan inter-
nal sedemikian rupa sehingga dapat meng-eliminir tegangan tarik yang terjadi akibat
beban ekternal sampai suatu batas tertentu.
Ada 3 ( tiga ) konsep yang dapat di pergunakan untuk menjelaskan dan menganalisa
sifat-sifat dasar dari beton pratekan atau prategang :
Konsep Pertama :
Sistem pratekan/prategang untuk mengubah beton yang getas menjadi bahan yang
elastis.
E Eu ug ge en ne e F Fr re ey ys ss si in ne et t menggambarkan dengan memberikan tekanan terlebih dahulu ( pra-
tekan ) pada bahan beton yang pada dasarnya getas akan menjadi bahan yang elastis.
Dengan memberikan tekanan ( dengan menarik baja mutu tinggi ), beton yang bersifat
getas dan kuat memikul tekanan, akibat adanya tekanan internal ini dapat memikul te-
gangan tarik akibat beban eksternal.
Hal ini dapat dijelaskan dengan gambar dibawah ini :
F F
c
c
F/A M.c/I
y
M.y/I
c
c
+ =
F M. c
A
+
I
F M. c
A I
-
F M. c
A
+
I
Tendon konsentris
c.g.c
AKIBAT
GAYA PRATEGANG F MOMEN EKSTERNAL M
AKIBAT AKIBAT
F DAN M
GARIS NETRAL

Gambar 002

Akibat diberi gaya tekan ( gaya prategang ) F yang bekerja pada pusat berat penampang
beton akan memberikan tegangan tekan yang merata diseluruh penampang beton
sebaesar F/A, dimana A adalah luas penampang beton tsb.


03
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Akibat beban merata ( termasuk berat sendiri beton ) akan memberikan tegangan tarik
dibawah garis netral dan tegangan tekan diatas garis netral yang besarnya pada serat
terluar penampang adalah :
Tegangan lentur : f =
I
c M.

Dimana : M : momen lentur pada penampang yang ditinjau
c : jarak garis netral ke serat terluar penampang
I : momen inersia penampang.
Kalau kedua tegangan akibat gaya prategang dan tegangan akibat momen lentur ini di-
jumlahkan, maka tegangan maksimum pada serat terluar penampang adalah :
a. Diatas garis netral :
f
Total
=
A
F
+
I
c M.
tidak boleh melampaui tegangan hancur beton.
b. Dibawah garis netral :
f
Total
=
A
F

I
c M.
0 tidak boleh lebih kecil dari nol.
Jadi dengan adanya gaya internal tekan ini, maka beton akan dapat memikul beban tarik.
Konsep Kedua :
Sistem Prategang untuk Kombinasi Baja Mutu Tinggi dengan Beton Mutu Tinggi.
Konsep ini hampir sama dengan konsep beton bertulang biasa, yaitu beton prategang
merupakan kombinasi kerja sama antara baja prategang dan beton, dimana beton mena-
han betan tekan dan baja prategang menahan beban tarik. Hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut :
C
T
q
kabel prategang
BETON PRATEGANG
C
T
q
Besi Tulangan
BETON BERTULANG
( A ) ( B )

Gambar 003
Pada beton prategang, baja prategang ditarik dengan gaya prategang T yang mana
membentuk suatu kopel momen dengan gaya tekan pada beton C untuk melawan mo-
men akibat beban luar.
Sedangkan pada beton bertulang biasa, besi penulangan menahan gaya tarik T akibat
beban luar, yang juga membentuk kopel momen dengan gaya tekan pada beton C untuk
melawan momen luar akibat beban luar.


04
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Konsep Ketiga :
Sistem Prategang untuk Mencapai Keseimbangan Beban.
Disini menggunakan prategang sebagai suatu usaha untuk membuat keseimbangan
gaya-gaya pada suatu balok. Pada design struktur beton prategang, pengaruh dari pra-
tegang dipandang sebagai keseimbangan berat sendiri, sehingga batang yang mengalami
lendutan seperti plat, balok dan gelagar tidak akan mengalami tegangan lentur pada
kondisi pembebanan yang terjadi.
Hal ini dapat dijelaskan sbagai berikut :
L
Kabel prategang dg.
lintasan parabola
Beban merata
w
b
F F
F F
h

Gambar 004

Suatu balok beton diatas dua perletakan ( simple beam ) yang diberi gaya prategang F
melalui suatu kabel prategang dengan lintasan parabola. Beban akibat gaya prategang
yang terdistribusi secara merata kearah atas dinyatakan :
w
b
=
2
. . 8
L
h F

Dimana : w
b
: beban merata kearah atas, akibat gaya prategang F
h : tinggi parabola lintasan kabel prategang.
L : bentangan balok.
F : gaya prategang.
Jadi beban merata akibat beban ( mengarah kebawah ) diimbangi oleh gaya merata
akibat prategang w
b
yang mengarah keatas.
Inilah tiga konsep dari beton prategang ( pratekan ), yang nantinya dipergunakan untuk
menganalisa suatu struktur beton prategang.




05
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

3. METHODE PRATEGANGAN
Pada dasarnya ada 2 macam methode pemberian gaya prategang pada beton, yaitu :
3.1. Pratarik ( Pre-Tension Method )
Methode ini baja prategang diberi gaya prategang dulu sebelum beton dicor, oleh
karena itu disebut pretension method.
Adapun prinsip dari Pratarik ini secara singkat adalah sebagai berikut :
LANDASAN
KABEL ( TENDON ) PRATEGANG
ABUTMENT
ANGKER
BETON DICOR
F F
F F
F F
TENDON DILEPAS
GAYA PRATEGANG DITRANSFER KE BETON
( A )
( B )
( C )

Gambar 005
Tahap 1 : Kabel ( Tendon ) prategang ditarik atau diberi gaya prategang kemu-
dian diangker pada suatu abutment tetap ( gambar 005 A ).
Tahap 2 : Beton dicor pada cetakan ( formwork ) dan landasan yang sudah dise-
diakan sedemikian sehingga melingkupi tendon yang sudah diberi ga-
ya prategang dan dibiarkan mengering ( gambar 005 B ).
Tahap 3 : Setelah beton mengering dan cukup umur kuat untuk menerima gaya
prategang, tendon dipotong dan dilepas, sehingga gaya prategang di-
transfer ke beton ( gambar 005 C ).
Setelah gaya prategang ditransfer kebeton, balok beton tsb. akan melengkung ke-
atas sebelum menerima beban kerja. Setelah beban kerja bekerja, maka balok be-
ton tsb. akan rata.


06
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

3.2. Pasca tarik ( Post-Tension Method )
Pada methode Pascatarik, beton dicor lebih dahulu, dimana sebelumnya telah di-
siapkan saluran kabel atau tendon yang disebut duct.
Secara singkat methode ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
( A )
( B )
( C )
SALURAN TENDON
BETON DICOR
F F
TENDON ( KABEL/BAJA PRATEGANG )
ANGKER
GROUTING
F F

Gambar 006
Tahap 1 : Dengan cetakan ( formwork ) yang telah disediakan lengkap dengan
saluran/selongsong kabel prategang ( tendon duct ) yang dipasang me-
lengkung sesuai bidang momen balok, beton dicor ( gambar 006 A ).
Tahap 2 : Setelah beton cukup umur dan kuat memikul gaya prategang, tendon
atau kabel prategang dimasukkan dalam selongsong ( tendon duct ),
kemudian ditarik untuk mendapatkan gaya prategang. Methode pem-
berian gaya prategang ini, salah satu ujung kabel diangker, kemudian
ujung lainnya ditarik ( ditarik dari satu sisi ). Ada pula yang ditarik di-
kedua sisinya dan diangker secara bersamaan. Setelah diangkur, ke-
mudian saluran di grouting melalui lubang yang telah disediakan.
( Gambar 006 B ).
Tahap 3 : Setelah diangkur, balok beton menjadi tertekan, jadi gaya prategang
telah ditransfer kebeton. Karena tendon dipasang melengkung, maka
akibat gaya prategang tendon memberikan beban merata kebalok yang
arahnya keatas, akibatnya balok melengkung keatas ( gambar 006 C ).


07
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Karena alasan transportasi dari pabrik beton kesite, maka biasanya beton prate-
gang dengan sistem post-tension ini dilaksanakan secara segmental ( balok dibagi-
bagi, misalnya dengan panjang 1 1,5 m ), kemudian pemberian gaya prategang
dilaksanakan disite, setelah balok segmental tsb. dirangkai.
4. TAHAP PEMBEBANAN
Tidak seperti pada perencanaan beton bertulang biasa. pada perencanaan beton pra-
tegang ada dua tahap pembebanan yang harus dianalisa. Pada setiap tahap pembebanan
harus selalu diadakan pengecekan atas kondisi pada bagian yang tertekan maupun
bagian yang tertarik untuk setiap penampang.
Dua tahap pembebanan pada beton prategang adalah Tahap Transfer dan Tahap Service
( Layan ).
4.1. Tahap Transfer
Untuk metode pratarik, tahap transfer ini terjadi pada saat angker dilepas dan gaya
prategang direansfer ke beton. Untuk metode pascatarik, tahap transfer ini terjadi
pada saat beton sudah cukup umur dan dilakukan penarikan kabel prategang.
Pada saat ini beban yang bekerja hanya berat sendiri struktur, beban pekerja dan
peralatan, sedangkan beban hidup belum bekerja sepenuhnya, jadi beban yang
bekerja sangat minimum, sementara gaya prategang yang bekerja adalah
maksimum karena belum ada kehilangan gaya prategang.
4.2. Tahap Service
Setelah beton prategang digunakan atau difungsikan sebagai komponen struktur,
maka mulailah masuk ke tahap service, atau tahap layan dari beton prategang
tersebut. Pada tahap ini beban luar seperti live load, angin, gempa dll. mulai
bekerja, sedangkan pada tahap ini semua kehilangan gaya prategang sudah harus
dipertimbangkan didalam analisa strukturnya.
Pada setiap tahap pembebanan pada beton prategang harus selalu dianalisis terhadap
kekuatan, daya layan, lendutan terhadap lendutan ijin,nilai retak terhadap nilai batas
yang di-ijinkan. Perhitungan untuk tegangan dapat dilakukan dengan pendekatan kom-
binasi pembebanan, konsep kopel internal ( internal couple concept ) atau methode be-
ban penyeimbang ( load balancing method ), yang akan dibahas pada kuliah-kuliah
berikutnya.
5. PERENCANAAN BETON PRATEGANG
Ada 2 (dua) metode perencanaan beton prategang, yaitu :
1. W Wo or rk ki in ng g s st tr re es ss s m me et th ho od d ( metode beban kerja )
Prinsip perencanaan disini ialah dengan menghitung tegangan yang terjadi akibat
pembebanan ( tanpa dikalikan dengan faktor beban ) dan membandingkan dengan
tegangan yang di-ijinkan. Tegangan yang di-ijinkan dikalikan dengan suatu faktor
kelebihan tegangan ( overstress factor ) dan jika tegangan yang terjadi lebih kecil
dari tegangan yang di-ijinkan tersebut, maka struktur dinyatakan aman.

08
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

2. L Li im mi it t s st ta at te e m me et th ho od d ( metode beban batas )
Prinsip perencanaan disini didasarkan pada batas-batas tertentu yang dapat dilampaui
oleh suatu sistim struktur. Batas-batas ini ditetapkan terutama terhadap kekuatan,
kemampuan layan, keawetan, ketahanan terhadap beban, api , kelelahan dan per-
syaratan-persyaratan khusus yang berhubungan dengan penggunaan struktur tersebut.
Dalam menghitung beban rencana maka beban harus dikalikan dengan suatu faktor
beban ( load factor ), sedangkan kapasitas bahan dikalikan dengan suatu faktor
reduksi kekuatan ( reduction factor ).
Tahap batas ( limit state ) adalah suatu batas tidak di-inginkan yang berhubungan de-
ngan kemungkinan kegagalan struktur.
Kombinasi pembebanan untuk Tahap Batas Kekuatan ( Strength Limit State ) adalah :
Berdasarkan SNI 03-2874-2002
1. U = 1,4 D . .. ( 4 )
2. U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( A atau R ) . ( 5 )
3. U = 1,2 D + 1,0 L 1,6 W + 0,5 ( A atau R ) ( 6 )
4. U = 0,9 D 1,6 L ... ( 7 )
5. U = 1,2 D + 1,0 L 1,0 E .. ( 8 )
6. U = 0,9 D E . ( 9 )
Dimana : U = Kuat perlu
D = Dead Load ( Beban Mati )
L = Live Load ( Beban Hidup )
A = Beban Atap
R = Beban Air Hujan
W = Beban Angin
E = Beban Gempa
Catatan : a. Jika ketahanan terhadap tekanan tanah H diperhitungkan didalam peren-
canaan, maka pada persamaan 5, 7 dan 9 ditambahkan 1,6 H, kecuali
bila akibat tekanan tanah H akan mengurangi pengaruh beban W dan E,
maka pengaruh tekanan tanah H tidak perlu diperhitungkan.
b. Jika ketahanan terhadap pembebanan akibat berat dan tekanan fluida F
diperhitungkan dalam perencanaan, maka beban fluida 1,4 F harus ditam-
bahkan pada persamaan 4, dan 1,2 F pada persamaan 5.
C . Untuk kombinasi beban ini selanjutnya dapat dipelajari dalam buku code
beton SNI 03 2874 2002
Perencanaan struktur untuk tahap batas kekuatan ( Strength Limit State ), menetapkan
bahwa aksi design ( R
u
) harus lebih kecil dari kapasitas bahan dikalikan dengan suatu
faktor reduksi kekuatan .
R
u
R
n
( 5.1 )
Dimana : R
u
= aksi desain
R
n
= kapasitas bahan
= faktor reduksi

09
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Sehingga untuk aksi design , momen, geser, puntir dan gaya aksial berlaku :
M
u
M
n

V
u
V
n

T
u
T
n

P
u
P
n

Harga-harga M
u
, V
u
, T
u
dan P
u
diperoleh dari kombinasi pempebanan yang paling
maksimum, sedangkan M
n
, V
n
, T
n
dan P
n
adalah kapasitas penampang terhadap Momen,
Geser, Puntir dan Gaya Aksial.
Faktor Reduksi kekuatan menurut SNI 03 2874 2002 untuk :
Lentur tanpa gaya aksial .. : = 0,80
Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur .. : = 0,80
Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur : tulangan spiral : = 0,70
: tulangan sengkang : = 0,65
Gaya geser dan Puntir .. : = 0,75
Untuk lebih memahami hal ini agar mempelajari sumbernya, yaitu SNI 0328742002
Desain untuk tahap batas kemampuan layan ( serviceability limit state ) harus diperhi-
tungkan sampai batas lendutan, batas retakan atau batasan-batasan yang lain.
Untuk batas kekuatan lentur ( bending stress limit ), suatu komponen struktur dianalisis
dari tahap awal ( beban layan ) sampai tahap batas ( beban batas/ultimate load ). Se-
dangkan untuk geser dan puntir , analisis dilakukan pada suatu tahap batas saja, karena
pada geser dan puntir batas dari kedua tahap tersebut tidak sejelas pada analisis lentur.
Karena kekuatan beton prategang sangat tergantung pada tingkat penegangan ( besarnya
gaya prategang ) maka dikenal istilah : P Pr ra at te eg ga an ng g P Pe en nu uh h ( fully prestressed ) dan
P Pr ra at te eg ga an ng g S Se eb ba ag gi ia an n ( partially prestressed ).
Untuk komponen-kompenen struktur dari beton prategang penuh, maka komponen ter-
sebut direncanakan untuk tidak mengalami retak pada beban layan, jadi pada komponen
tersebut ditetapkan tegangan tarik yang terjadi = nol (
tt
=
ts
= 0 ).
Dimana :
tt
: tegangan tarik ijin pada saat transfer gaya prategang

ts
: tegangan tarik ijin pada saat servis
Untuk kompomen struktur yang direncanakan sebagai beton prategang sebagian, maka
komponen tersebut dapat didesain untuk mengalami retak pada beban layan dengan
batasan tegangan tarik pada saat layan diperbolehkan maksimum :

ts
= 0,50
'
c
f ( 5.2 )
Dimana : f
c
: kuat tekan beton
Oleh karena itu konstruksi beton prategang harus didesain sedemikian sehingga
mempunyai kekuatan yang cukup dan mempunyai kemampuan layan yang sesuai ke-
butuhan. Disamping itu konstruksi harus awet, tahan terhadap api, tahan terhadap kele-
lahan ( untuk beban yang berulang-ulang dan berubah-ubah ), dan memenuhi persyarat-
an lain yang berhubungan dengan kegunaannya.


10
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Perhitungan tegangan pada beton prategang harus memperhitungkan hal-hal sbb. :
1. Kondisi pada saat transfer gaya prategang awal dengan beban terbatas ( dead load
dan beban konstruksi ).
2. Kehilangan gaya prategang. Untuk perhitungan awal kehilangan gaya prategang ini
biasanya ditentukan 25 % untuk sistem pratarik ( pre-tension ) dan 20 % untuk sistem
pascatarik ( post-tension ).
3. Pada kondisi servis dengan gaya prategang efektif ( sudah diperhitungkan kehilang-
an gaya prategangnya ) dan beban maksimum ( beban mati, beban hidup dan penga-
ruh-pengaruh lain ).
4. Perlu diperhitungkan pengaruh-pengaruh lain yang mempengaruhi struktur beton
prategang seperti adanya pengaruh sekunder pada struktur statis tak tentu, pengaruh P
delta pada gedung bertingkat tinggi, serta perilaku struktur dari awal sampai waktu
yang ditentukan.
Tegangan-tegangan yang di-ijinkan beton untuk struktur lentur SNI 03 2874 2002
A.Tegangan sesaat setelah penyaluran gaya prategang dan sebelum terjadinya kehilang-
an gaya prategang sebagai fungsi waktu, tidak boleh melampaui :
1. Tegangan tekan serat terluar .. : 0,60 f
ci

2. Tegangan tarik serat terluar ( kecuali item 1 dan 3 ) . : 0,25
'
ci
f
3. Tegangan tarik serat terluar diujung struktur diatas tumpuan : 0,50
'
ci
f
Apabila tegangan melampaui nilai-nilai tersebut diatas, maka harus dipasang tulang-
an extra ( non prategang atau prategang ) untuk memikul gaya tarik total beton yang
dihitung berdasarkan asumsi penampang penuh sebelum retak.
B. Tegangan pada saat kondisi beban layan ( sesudah memperhitungkan semua kehi-
langan gaya prategang yang mungkin terjadi ), tidak boleh melampaui :
1. Tegangan tekan serat terluar akibat gaya prategang, beban mati dan
beban hidup tetap .. : 0,45 f
c

2. Tegangan tekan serat terluar akibat gaya prategang, beban mati dan
beban hidup total : 0,60 f
c

3. Tegangan tarik serat terluar dalam daerah tarik yang pada awalnya
mengalami tekanan .. : 0,50
'
c
f
Dari uraian-uraian diatas, pada prinsipnya konsep beton prategang dan beton bertulang
biasa adalah sama, yaitu sama-sama dipasangnya tulangan pada daerah-daerah dimana
akan terjadi tegangan tarik. Bedanya pada beton bertulang biasa, tulangan akan memi-
kul tegangan tarik akibat beban, sedangkan pada beton prategang tulangan yang berupa
kabel prategang ( tendon ) ditarik lebih dahulu sebelum bekerjanya beban luar. Penarik-
an kabel ini menyebabkan tertekannya beton, sehingga beton menjadi mampu menahan
beban yang lebih tinggi sebelum retak.
Pada dasarnya elemen struktur beton prategang akan mengalami keretakan pada beban
yang lebih tinggi dari beban yang dibutuhkan untuk meretakan elemen struktur dari
beton bertulang biasa. Demikian pula dengan lendutan, untuk beton prategang lendutan-
nya relatif lebih kecil dibandingkan dengan beton bertulang biasa, oleh karena itu
konstruksi beton prategang itu banyak dipergunakan untuk bentangan-bentangan yang
panjang.

11
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

6. MATERIAL BETON PRATEGANG
6.1. Beton
Seperti telah di ketahui bahwa beton adalah campuran dari Semen, Agregat
kasar ( split ), Agregat halus ( pasir ), Air dan bahan tambahan yang lain.
Perbandingan berat campuran beton pada umumnya Semen 18 %, Agregat
kasar 44 %, Agregat halus 31 % dan Air 7 %. Setelah beberapa jam campuran
tersebut dituangkan atau dicor pada acuan ( formwork ) yang telah disediakan,
bahan-bahan tersebut akanlangsung mengeras sesuai bentuk acuan ( formwork )
yang telah dibuat. Kekuatan beton ditentukan oleh kuat tekan karakteristik ( f
c
)
pada usia 28 hari.
Kuat tekan karakteristik adalah tegangan yang melampaui 95 % dari pe-
ngukuran kuat tekan uniaksial yang diambil dari tes penekanan contoh ( sample )
beton dengan ukuran kubus 150 x 150 mm, atau silinder dengan diameter 150 mm
dan tinggi 300 mm.
Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai benda uji ( sample ).
Benda Uji Perbandingan Kekuatan
Kubus 150 x 150 x 150 mm 1.00
Kubus 200 x 200 x 200 mm 0.95
Silinder ( Dia. 150 ) x ( H = 300 ) mm 0.83
Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai umur beton ( benda uji ).
Umur Benda Beton ( hari ) 3 7 14 21 28 90 365
Perbandingan kekuatan 0.40 0.65 0.88 0.95 1.00 1.20 1.35

Pada konstruksi beton prategang biasanya dipergunakan beton mutu tinggi de-
ngan kuat tekan f
c
= 30 40 MPa, hal ini diperlukan untuk menahan tegangan
tekan pada pengangkuran tendon ( baja prategang ) agar tidak terjadi keretakan-
keretakan.
Kuat tarik beton mempunyai harga yang jauh lebih rendah dari kuat tekannya. SNI
03 2874 2002 menetapkan untuk kuat tarik beton
ts
= 0,50
'
c
f sedang-kan
ACI menetapkan
ts
= 0,60
'
c
f .
Modulus elastisitas beton E dalam SNI 03 2874 2002 ditetapkan :
E
c
= (w
c
)
1,5
x 0,043
'
c
f
Dimana : E
c
: modulus elastisitas beton ( MPa )
w
c
: berat voluna beton ( kg/m
3
)
f
c
: tegangan tekan beton ( MPa )
Sedangkan untuk beton normal diambil : E
c
= 4700
'
c
f MPa


12
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

6.2. Baja Prategang
Didalam praktek baja prategang ( tendon ) yang dipergunakan ada 3 ( tiga )
macam, yaitu :
a. Kawat tunggal ( wire ).
Kawat tunggal ini biasanya dipergunakan dalam beton prategang dengan
sistem pra-tarik ( pretension method ).
b. Untaian kawat ( strand ).
Untaian kawat ini biasanya dipergunakan dalam beton prategang dengan
sistem pasca-tarik ( post-tension ).
c. Kawat batangan ( bar )
Kawat batangan ini biasanya digunakan untuk beton prategang dengan sistem
pra-tarik ( pretension ).
Selain baja prategang diatas, beton prategang masih memerlukan penulangan
biasa yang tidak diberi gaya prategang, seperti tulangan memanjang, sengkang,
tulangan untuk pengangkuran dan lain-lain.
Tabel Tipikal Baja Prategang
Jenis Diameter Luas Beban Putus Tegangan Tarik
Baja Prategang ( mm ) ( mm
2
) ( kN ) ( MPa )
3 7.1 13.5 1900
Kawat Tunggal 4 12.6 22.1 1750
( wire ) 5 19.6 31.4 1600
7 38.5 57.8 1500
8 50.3 70.4 1400
Untaian Kawat 9.3 54.7 102 1860
( strand ) 12.7 100 184 1840
15.2 143 250 1750
23 415 450 1080
Kawat Batangan 26 530 570 1080
( bar ) 29 660 710 1080
32 804 870 1080
38 1140 1230 1080

Jenis-jenis lain tendon yang sering digunakan untuk beton prategang pada sitem
pre-tension adalah seven-wire strand dan single-wire. Untuk seven-wire ini, satu
bendel kawat teriri dari 7 buah kawat, sedangkan single wire terdiri dari kawat
tunggal.
Sedangkan untuk beton prategang dengan sistem post-tension sering digunakan
tendon monostrand, batang tunggal, multi-wire dan multi-strand. Untuk jenis
post-tension method ini tendon dapat bersifat bonded ( dimana saluran kabel diisi
dengan material grouting ) dan unbonded saluran kabel di-isi dengan minyak
gemuk atau grease. Tujuan utama dari grouting ini adalah untuk :
Melindungi tendon dari korosi
Mengembangkan lekatan antara baja prategang dan beton sekitarnya.


13
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Material grouting ini biasanya terdiri dari campuran semen dan air dengan w/c
ratio 0,5 dan admixe ( water reducing dan expansive agent )
Common Types from CPCI Metric Design Manual
Grade Size Mass
f
pu
Desig- Diameter Area ( kg/m )
MPa nation
( mm )
( mm
2
)
1860 9 9.53 55 0.432
Seven - wire
1860 11 11.13 74 0.582
Strand
1860 13 12.70 99 0.775
1860 15 15.24 140 1.109
1760 16 15.47 148 1.173
1550 5 5.00 19.6 0.154
Prestressing
1720 5 5.00 19.6 0.154
Wire
1620 7 7.00 38.5 0.302
1760 7 7.00 38.5 0.302
1080 15 15.0 177 1.44
1030 26 26.5 551 4.48
Deformed
1100 26 26.5 551 4.48
Prestressing
1030 32 32.0 804 6.53
Bar
1100 32 32.0 804 6.53
1030 36 36.0 1018 8.27
Nominal Dimension
Tendon Type

Kabel pratekan yang berupa strand atau untaian kawat
ASTM A 416 Uncoated seven wire stress relieved strand ini ada 2 macam
grade, yaitu :
Grade 250
Tegangan tarik batas minimumnya f
pu
= 250.000 psi ( 17.250 kg/cm
2
)
Grade 270
Tegangan tarik batas minimumnya f
pu
= 270.000 psi ( 18.600 kg/cm
2
)
in mm in
2
mm
2
ksi MPa
0.250 6.35 0.036 23.22 250 1,725
0.313 7.94 0.058 37.42 250 1,725
0.375 9.53 0.080 51.61 250 1,725
0.438 11.11 0.108 69.68 250 1,725
0.500 12.54 0.144 92.90 250 1,725
0.600 15.24 0.216 139.35 250 1,725
0.375 9.53 0.085 54.85 270 1,860
0.438 11.11 0.115 74.19 270 1,860
0.500 12.54 0.153 98.71 270 1,860
0.563 14.29 0.192 123.87 270 1,860
0.600 15.24 0.216 139.35 270 1,860
Grade
Diameter Nominal Luas Penampang Nominal Tegangan Tarik Batas f
pu
250
270
Berat jenis tendon 7.850 kg/m
3

Modulus elastisitas G 250 maupun G 270 adalah :
E = 27.500.000 psi = 1,925 x 10
6
kg/cm
2



14
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 1 :
Suatu balok beton prategang dengan mutu f
c
= 45 MPa, bentangan L = 10 m, memikul
beban hidup W
L
= 350 kg/m. Ukuran balok 20 x 60 cm dan diberi gaya prategang P te-
pat dipusat titik berat penampang balok, seperti sketsa dibawah ini.
5.000 5.000
L = 10.000
A B
C
W
L
'
b = 200
Titik Kerja Gaya
Prategang
PENAMPANG BALOK
x x
h

=

6
0
0
= 350 kg/m

Gambar 007
Hitung gaya prategang efektif yang diperlukan balok tersebut agar mampu memikul
beban hidup W
L
= 350 kg/m dengan catatan tidak diperbolehkan terjadi tegangan tarik
pada penampang beton.
Penyelesaian :
Properti Penampang : Luas penampang A
c
= b x h = 20 x 60 = 1.200 cm
2

Momen inersia I =
12
1
b x h
3
=
12
1
20 x 60
3
= 360.000 cm
4

Jarak garis netral keserat terluar atas dan bawah :
y
a
= y
b
= h = x 60 cm = 30 cm
Beban mati ( berat sendiri balok ) : W
D
= 0,20 x 0,60 x 1,00 x 2.400 = 288 kg/m
Momen maksimum akibat beban mati :
M
D
=
8
1
W
D
L
2
=
8
1
288 x 10
2
= 3.600 kgm
Momen maksimum akibat beban hidup :
M
L
=
8
1
W
L
L
2
=
8
1
350 x 10
2
= 4.375 kgm
Momen maksimum akibat Beban Mati dan Beban Hidup :
M
u
= 1,2 M
D
+ 1,6 M
L
= 1,2 3.600 + 1,6 4.375 = 11.350 kgm
Momen nominal yang dapat dipikul penampang :
M
n
=

u
M
=
80 , 0
350 . 11
= 14.187 kgm
Syarat tegangan tekan pada beton akibat beban mati dan beban hidup pada saat layan
yang di-ijinkan sesuai dengan SNI 03 2874 2002 ( halaman 11 ) adalah :
Tegangan tekan maksimum : f
cu
= 0,60 x f
c
= 0,60 x 450 kg/cm
2
= 270 kg/cm
2

Tegangan tarik pada soal ini tidak diperkenankan.
Agar hal ini dapat tercapai, maka diagram tegangan balok akibat beban mati, beban
hidup dan gaya prategang harus seperti ganbar 008 dihalaman berikut ini.


15
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Titik Kerja Gaya
Prategang
PENAMPANG BALOK
x x
+ =
+
+
-
Pe/A
Mn.
y
I
Mn.
y
b
I
a Pe
A
Mn.
y
I
a
+
+
TEG. AKIBAT
GAYA PRESTRESS
TEG. AKIBAT
MOMEN
TEGANGAN TOTAL
GRS. NETRAL
b
h

Gambar 008

Tegangan tarik pada serat bawah balok :
f
t
=
c
e
A
P

I
y M
b n
.
= 0 ( tidak diperkenankan terjadi tarik )

200 . 1
e
P

000 . 360
30 700 . 418 . 1 x
= 0
P
e
= 1.200 x
000 . 360
30 700 . 418 . 1 x
= 141.870 kg
Kontrol tegangan tekan pada serat atas balok :
f
ca
=
c
e
A
P
+
I
y M
a n
.
=
200 . 1
870 . 141
+
000 . 360
30 700 . 418 . 1 x

f
ca
= 118,23 + 118,23 = 236,46 kg/cm
2
f
cu
= 270 kg/cm
2
OK
Kesimpulan :
Jadi gaya prategang efektif harus diberikan pada balok agar mampu menahan beban
hidup W
L
= 350 kg/m adalah :
P
e
= 141.870 kg
Gaya prategang efektif adalah gaya prategang setelah diperhitungkan kehilangan-
kehilangan gaya prategang yang akan dibicarakan pada bab-bab berikut ini.
Contoh Soal 2 :
Seperti pada contoh no. 1 diatas, tetapi titik kerja gaya prategang digeser kebawah sejauh
20 cm dari garis netral. Sekarang dengan gaya prategang efektif sebesar P
e
= 143.240 kg,
maka hitunglah beban hidup yang dapat dipikul oleh balok prategang tersebut.
Penyelesaian :
Dengan digesernya garis kerja gaya prategang sejauh 20 cm dari garis netral, maka terjadi
eksentrisitas terhadap garis netral sebesar :
e = 20 cm

16
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Prategang
PENAMPANG BALOK
x x
+ =
+
+
-
Pe/ A
Mn.
y
I
Mn.
y
b
I
a
Pe
A
Mn.
y
I
a
+
+
TEG. AKIBAT
GAYA PRESTRESS
TEG. AKIBAT
MOMEN
TEGANGAN TOTAL
b
h
Pe
e
Me = Pe x e
Kabel / Baja
Prategang
-
+
e
+
BEBAN
M .
y
b
I
e M .
y
I
a
--
e M .
y
I
a
Ttk. Kerja Gaya

Gambar 009
Tegangan pada serat bawah :
f
t
=
c
e
A
P
+
I
y M
b e
.

I
y M
b n
.
= 0 ( dalam soal ini tidak boleh terjadi teg. tarik ).
M
e
= P
e
x e = 141.870 x 20 = 2.837.400 kgcm Momen akibat eksentrisitas
f
t
=
200 . 1
870 . 141
+
000 . 360
30 400 . 837 . 2 x

000 . 360
30 x M
n
= 0
118,23 + 236,45
000 . 360
30
M
n
= 0
M
n
= ( 118,23 + 236,45 ) x
30
000 . 360
= 4.256.160 kgcm
Check tegangan tekan pada serat atas balok :
f
ca
=
c
e
A
P

I
y M
a e
.
+
I
y M
a n
.

f
ca
=
200 . 1
870 . 141

000 . 360
30 400 . 837 . 2 x
+
000 . 360
30 160 . 256 . 4 x

f
ca
= 118,23 236,45 + 354,68 = 236,46 kg/cm
2
f
cu
= 270 kg/cm
2
OK
M
u
= M
n
= 0,80 x 4.256.160 = 3.404.928 kgcm = 34.049,28 kgm
M
u
= 1,2 M
D
+ 1,6 M
L
= 34.049,28 kgm
M
L
=
6 , 1
600 . 3 2 , 1 28 , 049 . 34 x
= 18,581 kgm

8
1
W
L
x L
2
= 18.581
W
L
=
2
10
581 . 18 8x
= 1.486 kg/m
Dari sini kelihatan bahwa dengan memberi eksentrisitas e = 20 cm, maka beban hidup
yang dapat dipikul balok meningkat dari 350 kg/m ( contoh 1 ) menjadi 1.486 kg/m

17
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


7. KEHILANGAN GAYA PRATEGANG.
Kehilangan gaya prategang itu adalah berkurangnya gaya yang bekerja pada tendon
pada tahap-tahap pembebanan.
Secara umum kehilangan gaya prategang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Immediate Elastic Losses ( Kehilangan Prategang dalam Jangka Pendek )
Ini adalah kehilangan gaya prategang langsung atau segera setelah beton diberi gaya
prategang. Kehilangan gaya prategang secara langsung ini disebabkan oleh :
Perpendekan Elastic Beton ( Elastic shortening )
Kehilangan akibat friksi atau geseran sepanjang kelengkungan dari tendon, ini ter-
jadi pada beton prategang dengan sistem post tension.
Kehilangan pada sistem angkur, antara lain akibat slip diangkur
2. Time dependent Losses
Ini adalah kehilangan gaya prategang akibat dari pengaruh waktu, yang mana hal ini
disebabkan oleh :
Rangkak ( creep ) pada beton.
Susut pada beton.
Relaksasi baja prategang.
Karena banyaknya faktor yang saling terkait, perhitungan kehilangan gaya pra-
tegang ( losses ) secara eksak sangat sulit untuk dilaksanakan, sehingga banyak
dilakukan me-toda pendekatan, misalnya metoda lump-sum ( AASHTO ), PCI
method dan ASCE-ACI methods.
7.1. Perpendekan Elastis Beton
Antara sistem pra-tarik dan pasca tarik pengaruh kehilangan gaya prategang akibat
perpendekan elastis beton ini berbeda. Pada sistem pra-tarik perubahan regangan
pada baja prategang yang diakibatkan oleh perpendekan elastis beton adalah sama
dengan regangan beton pada baja prategang tersebut.
1. Sistem Pra-Tarik
Kehilangan tegangan akibat perpendekan elastis ( elastic shortening ) tergan-
tung pada rasio antara modulus elastisitas beton dan tegangan beton dimana
baja prategang terletak.
Ditinjau balok prategegang dengan sistem pra-tarik ( pretension )
L
Pi Pi
Grs. Netral
1
2 / L
1
2 L /

Gambar 010

18
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Suatu balok panjang L diberi gaya prategang P
i
yang garia kerjanya tepat di-
garis netral seperti gambar 010 diatas.
Akibat gaya prategang ini balok beton mengalami perpendekan dalam arah
axial ( searah panjang balok ).
Perpendekan balok beton :
L
beton
=
c c
i
E A
L P
.
.

Perpendekan kabel prategang :
L
kabel
=
sp sp
i
E A
L P
.
.

Dimana : P
i
: Gaya prategang awal.
A
C
: Luas penampang balok beton.
A
sp
: Luas penampang kabel prategang.
E
c
: Modulus elastisitas beton.
E
sp
: Modulus elastisitas kabel prategang.
L
beton
= L
kabel


c c
i
E A
L P
.
.
=
s s
i
E A
L P
.
.


sp
i
A
P
=
c
i
c
sp
A
P
x
E
E

c
sp
E
E
= n

sp
i
A
P
= n
c
i
A
P
Kehilangan tegangan pada kabel :
sp
i
A
P

f
p
= n . f
c
( 7.1.1 )
Prosentase kehilangan prategang :
ES =
p
p
f
f
x 100 % f
p
=
sp
A
p

Dimana : f
p
= kehilangan prategang
f
c
= tegangan beton ditempat baja prategang.
n = ratio antara modulus elastisitas baja prategang dan mo-
dulus elastisitas beton.
ES = prosentase kehilangan prategang akibat.
P = gaya prategang
f
p
= prategang.

19
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Jika gaya prategang ditransfer ke beton, maka beton akan memendek ( per-
pendekan elastis ) dan di-ikuti dengan perpendekan baja prategang yang
mengikuti perpendekan beton tersebut. Dengan adanya perpendekan baja
prategang maka akan menyebabkan terjadinya kehilangan tegangan yang ada
pada baja prategang tersebut.
Tegangan pada beton akibat gaya prategang awal ( P
i
) adalah :
f
c
=
sp c
i
A n A
P
. +
Jika luas penampang kabel diperhitungkan
Sehingga kehilangan gaya prategang akibat perpendekan elastis dapat dirumus-
kan sebagai berikut :
f
p
=
sp c
i
A n A
P n
.
.
+
( 7.1.2 )
Prosentase kehilangan prategang :
ES =
p
p
f
f
x 100 %
Dimana : f
p
= kehilangan prategang
P
i
= gaya prategang awal
A
c
= luas penampang beton
A
sp
= luas penampang baja prategang
n = ratio antara modulus elastisitas baja ( E
sp
) dan modulus
elastisitas beton pada saat transfer gaya ( E
Ci
)
ES = prosentase kehilangan prategang akibat perpendekan elastis
Jika kabel prategang dipasang eksentris seperti gambar 011 dibawah ini :
b
e
h
Pi
Ac
+
-
+
y
Pi . e. y
I
cgc
Tendon
Penampang
Beton
Tegangan
akibat Pi
Tegangan
akibat Pi. e

Gambar 011



20
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Dari persamaan ( 7.1.1 ) diatas kehilangan gaya prategang adalah :
ES = n f
c

Dimana : f
c
adalah tegangan beton akibat gaya prategang P
i
dilevel ( posisi )
kabel prategang. Jadi dalam hal ini besarnya tegangan beton pada level kabel
prategang adalah :
f
c
=
c
i
A
P
+
I
y e P
i
. .

f
p
= n
|
|

\
|
+
I
y e P
A
P
i
c
i
. .
( 7.1.3 )
Dimana : e = eksentrisitet gaya prategang terhadap cgc
I = momen inersia penampang
y = jarak dari serat dimana tegangan beton f
c
diukur dari cgc.
disini kebetulan y = e


Contoh Soal 3 :
Suatu balok pratekan dengan sistem pratarik ( pretension method ) ukuran 25/60 cm.
Dipasang kabel prategang dengan lintasan ( trace ) lurus dan eksentrisitas 10 cm dari
garis netral ( cgc ). Gaya prategang awal P
i
= 30 ton, sedangkan mutu beton K 350
dan mutu kabel prategang G 270 dengan modu-lus elastisitas E
sp
= 2,03 x 10
6
kg/cm
2
.
Luas penampang kabel atau baja prategang A
sp
= 376 mm
2
.
Hitunglah kehilangan prategang akibat perpendekan elastis beton.
Penyelesaian :
L
b
h
Pi Pi
cgc
Kabel Prategang
e

Gambar 012
Properti penampang beton :
A
c
= b x h = 25 x 60 = 1.500 cm
2

I =
12
1
b x h
3
=
12
1
25 x 60
3
= 450.000 cm
4

Mutu beton K 350 ( PBI 71 Contoh benda uji kubus 15 x 15 x 15 cm )
Jadi : f
c
= 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm
2
( benda uji silinder )


21
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Modulus elastisitas beton : E
c
= 4.700 '
c
f = 4.700 05 , 29 = 25.332 MPa
E
c
= 253.320 kg/cm
2

n =
320 . 253
000 . 030 . 2
= 8
Tegangan tekan beton pada level ( posisi ) kabel prategang :
f
c
=
c
i
A
P
+
I
y e P
i
. .
=
500 . 1
000 . 30
+
000 . 450
10 10 000 . 30 x x

f
c
= 20 + 6,67 = 26,67 kg/cm
2

Kehilangan prategangan akibat perpendekan elastis :
f
p
= n . f
c
= 8 x 26,67 = 213,36 kg/cm
2

Jadi prosentase kehilangan prategangan :
ES =
76 , 3
000 . 30
36 , 213
x 100 % = 2,67 %

2. Sistem Pasca Tarik ( Post Tension )
Pada methode post tension ( pasca tarik ) yang hanya menggunakan kabel
tunggal tidak ada kehilangan prategang akibat perpendekan elastis beton, kare-
na gaya prategang di-ukur setelah perpendekan elastis beton terjadi. Jika kabel
prategang menggunakan lebih dari satu kabel, maka kehilangan gaya
prategang ditentukan oleh kabel yang pertama ditarik dan memakai harga
setengahnya untuk mendapatkan harga rata-rata semua kabel.
Kehilangan gaya prategang pada methode post tension dapat ditentukan
dengan persamaan sebagai berikut :
f
p
= f
c
=
c
i
A
P n.
( 7.1.4 )
Dimana : f
p
= kehilangan prategangan
f
c
= tegangan pd penampang beton pada level baja prategang.
P
i
= gaya prategang awal
A
c
= luas penampang beton
n =
c
sp
E
E

E
s
= modulus elastisitas kabel/baja prategang
E
c
= modulus Elastisitas beton
Atau secara praktis untuk beton prategang dengan methode pasca
tarik kehi-langan gaya prategang dapat dihitung dengan persamaan :
f
p
= 0,5
C
S
E
E
f
c
( 7.1.5 )
22
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Dimana : f
p
= kehilangan prategangan
f
c
= tegangan pada penampang beton pada level baja
prategang.
E
s
= modulus elastisitas kabel/baja prategang
E
c
= modulus elastisitas beton
Contoh Soal 4
Suatu balok prategang dengan sistem pasca tarik ( post tension ) ukuran
penampang 400 x 600 mm. Kabel prategang terdiri dari 4 bh kabel prategang
yang dipasang secara sentris dengan lintasan lurus dengan luas penampang
kabel masing-masing A
sp
= 195 mm
2
. Kabel prategang ditarik satu persatu
dengan tegangan sebesar 1.035 N/mm
2
.
Modulus elastisitas beton E
c
= 33.000 N/mm
2
dan modulus elastisitas kabel
prategang E
sp
= 200.000 N/mm
2
.
Hitunglah kehilangan prategang akibat perpendekan elastis beton.
Penyelesaian :
Luas penampang beton A
c
= 400 x 600 = 240.000 mm
2

n =
c
sp
E
E
=
000 . 33
000 . 200
= 6,06
Kehilangan prategang pada kabel 1
Ini disebabkan oleh gaya prategang pada ketiga kabel lainnya
Gaya prategang pada ke 3 kabel :
P
i
= 3 x A
sp
x f
pi
= 3 x 195 x 1.035 = 605.475 N
Kehilangan prategang pada kabel 1 dapat dihitung dengan persa-maan ( 7.1.4 )
f
p1
=
c
i
A
P n.
=
000 . 240
475 . 605 06 , 6 x
= 15,29 N/mm
2
Kehilangan prategang tendon 2
Kehilangan gaya prategang pada tendon 2 ini diakibat gaya prategang pada
kedua kabel pratengan yang ditarik kemudian.
Dengan cara yang sama seperti diatas dapat dihitung gaya prategang pada ke 2
tendon yang akan ditarik setelah tendon ke 2, yaitu :
P
i
= 2 x 195 x 1.035 = 403.650 N
Kehilangan prategang pada kabel 2 :
f
p2
=
000 . 240
650 . 403 06 , 6 x
= 10,19 N/mm
2



23
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Kehilangan prategang tendon 3
Gaya prategang pada kabel ke 4 ( yang terakhir ditarik )
P
i
= 1 x 195 x 1.035 = 201.825 N
f
sp3
=
000 . 240
825 . 201 06 , 6 x
= 5,10 N/mm
2
Kehilangan prategang tendon 4
Pada kabel yang ditarik terakhir tidak terjadi kehilangan prategang akibat
perpendekan elastis beton.
Jadi kehilangan gaya prategang rata-rata :
f
p
=
4
0 10 , 5 19 , 10 29 , 15 + + +
= 7,64 N/mm
2

Jadi prosentase kehilangan prategang :
ES =
pi
p
f
f
x 100 % =
035 . 1
64 , 7
x 100 % = 0,74 %
Kehilangan gaya prategang rata-rata ini mendekati nya kehilangan gaya pra-
tegang pada tendon ke 1, yaitu :
x f
p1
= x 15,29 = 7,65 N/mm
2

Kalau dihitung dengan menggunakan persamaan ( 7.1.5 ), sebagai berikut.
Gaya prategang total P
i
= 4 x 195 x 1.035 = 807.300 N
Jadi : f
c
=
C
i
A
P
=
000 . 240
300 . 807
= 3,36 N/mm
2

Jadi : f
p
= 0,5 x
C
S
E
E
x f
c
= 0,5 x 6,06 x 3,36 = 10,18 MPa
Presentase kehilangan prategangan : ES =
035 . 1
18 , 10
x 100 % = 0,98 %
Jika dibandingkan dengan hasil diatas, ternyata lebih besar.






24
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 5 :
Suatu balok prategang dengan sistem Post Tension ukuran balok 30 x 60 cm
mutu beton K 350. Kabel prategang dengan mutu G 270 terdiri dari 3 buah
kabel dengan trace lurus dan dipasang dengan eksentrisitas e = 20 cm dari cgc.
Diameter kabel prategang 1/2, dan modulus elastisitas baja prategang
adalah E
s
= 2,00 x 10
6
kg/cm
2
.
Kabel ditarik satu persatu dengan prategangan awal sebesar 13.230 kg/cm
2
.
Hitunglah prosentasi kehilangan prategangan.
Penyelesaian :
1
2
3
0.300
0
.
2
0
0
0
.
6
0
0
cgc
Kabel prategang

Gambar 013

Sesuai dengan tabel dihalaman 14 diktat ini, maka untuk mutu G 270 dan
1/2 A
s
= 98,71 mm
2
( untuk satu kabel )
Gaya pratekan awal ( untuk 1 kabel ) :
P
i
= f
pi
x A
s
= 13.230 x 0,9871 = 13.059 kg
Tegangan beton pada level/lokasi kabel :
f
c
=
c
i
A
P
+
I
y e P
i
. .
=
800 . 1
059 . 13
+
000 . 540
20 20 059 . 13 x x

f
c
= 7,26 + 9,67 = 16,93 kg/cm
2


Kabel no. 1 ditarik dan di-angkur
Tidak ada kehilangan prategangan akibat perpendekan elastis beton
Kabel no. 2 ditarik dan di-angkur
Kehilangan prategang pada kabel 1
f
p1,2
= n . f
c
= 7,90 x 16,93 = 133,75 kg/cm
2

Kehilangan prategang pada kabel 2 tidak ada.




25
Mutu beton K 350, jadi :
f
c
= 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm
2

Properti penampang :
A
c
= 30 x 60 = 1.800 cm
2

I =
12
1
30 x 60
3
= 540.000 cm
4

E
c
= 4.700 05 , 29 = 25.332 MPa
E
c
= 253.320 kg/cm
2

n =
c
s
E
E
=
320 . 253
000 . 000 . 2
= 7,90
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Kabel no. 3 ditarik dan di-angkur
Kehilangan prategang pada kabel 1
f
p1,3
= n . f
c
= 7,90 x 16,93 = 133,75 kg/cm
2

Kehilangan prategangan pada kabel 2
f
p2,3
= n . f
c
= 7,90 x 16,93 = 133,75 kg/cm
2

Pada kabel 3 tidak ada kehilangan prategangan akibat perpendekan elastis.
Total kehilangan prategangan :
Kabel no. 1 = 2 x 133,75 = 267,50 kg/cm
2

Kabel no. 2 = 133,75 kg/cm
2

Kabel no. 3 = 0,00 kg/cm
2

Total = 401,25 kg/cm
2

Kehilangan prategang rata-rata :
f
sp
=
3
1
x 401,25 = 133,75 kg/cm
2

Prosentase kehilangan prategang :
ES =
pi
sp
f
f .
x 100 % =
230 . 13
75 , 133
x 100 % = 1,01 %
Dapat pula penyelesaian dilakukan langsung dengan persamaan ( 7.1.5 )
Gaya prategang awal total adalah :
P
i
= 3 x A
sp
x f
pi
= 3 x 0,9871 x 13.230 = 39.178 kg
Tegangan beton akibat P
i
pada posisi/level kabel prategang :
f
ci
=
c
i
A
P

I
y e P
i
. .
=
800 . 1
178 . 39
+
000 . 540
20 20 178 . 39 x x
= 50,79 kg/cm
2

Kehilangan prategang :
f
p
= 0,50 x
c
s
E
E
f
c
= 0,50 x 7.90 x 50,79 = 200,62 kg/cm
2

Prosentase kehilangan prategang :
ES =
pi
p
f
f
x 100 % =
230 . 13
62 , 200
x 100 % = 1,52 %
Kesimpulan : Sama dengan pada contoh soal 4, kalau kehilangan prategangan
dihitung dengan persamaan ( 7.1.5 ) hasilnya akan selalu lebih besar.









26

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Sistim Pasca Tarik dengan kabel yang lintasannya melengkung
Pada umumnya pada konstruksi beton prategang dengan sistem pasca tarik ( post
tension method ) lintasan kabel prategangnya tidak lurus akan tetapi melengkung
seperti pada gambar 014 dibawah ini.
L
1
2 / L
1
2 /
Kabel 3
Kabel 2
Kabel 1
1
2 3
b
h
3
1
2
e
b
a
e
b
h
A B
D
f
CA
CD
f
SECTION D SECTION A & B
f
rata2 C
Teg. Beton pd saat kabel ditarik
cgc

Gambar 014

Pada saat kabel 1 ditarik dan diangkur tidak terjadi kehilangan prategang.
Pada saat kabel 2 ditarik, terjadi kehilangan gaya prategang pada :
K Ka ab be el l 1 1 a ak ki ib ba at t g ga ay ya a p pr ra at te eg ga an ng g p pa ad da a k ka ab be el l 2 2.
Tegangan beton pada level kabel 1 akibat gaya prategang pada kabel 2
Ditengah bentang ( D ) : f
CD1
=
c
i
A
P

I
e e P
b b i
. .

Ditumpuan ( A ) : f
CA1
=
c
i
A
P
+
I
e e P
a b i
) .( .
=
c
i
A
P

Ditumpuan A eksentrisitas kabel 2 e
b
= 0 cm
Tegangan beton akibat gaya prategang pada posisi kabel 1 rata-rata :
f
c1
= [ f
CA1
+
3
2
( f
CD1
f
CA1
) ] karena lintasan kabel Parabola.
Sehingga kehilangan prategang pada kabel 1 :
f
p1,2
= n f
c1

Dimana : P
i
= gaya prategang awal pada kabel 2
e
b
= eksentisitas kabel 1 dan 2 ditengah-tengah bentangan
e
a
= eksentrisitas kabel 1 ditumpuan A atau B
f
CD1
= tegangan beton pada level kabel 1 akibat gaya prate-
gang pada kabel 2 ditengah-tengah bentangan.
f
CA1
= tegangan beton pada level kabel 1 akibat gaya prate-
gang pada kabel 2 ditumpuan A.
f
c1
= tegangan beton rata-rata pada level kabel 1 akibat gaya
prategang dikabel 2.
f
p1,2
= kehilangan prategang kabel 1 akibat gaya pratekan pada
kabel 2.

27

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


K Ka ab be el l 2 2 t ti id da ak k a ad da a k ke eh hi il la an ng ga an n p pr ra at te eg ga an ng g, akibat gaya prategang pada kabel 2.
Pada saat kabel 3 ditarik dan diangkur, terjadi kehilangan prategang pada :
K Ka ab be el l 1 1 a ak ki ib ba at t g ga ay ya a p pr ra at te eg ga an ng g p pa ad da a k ka ab be el l 3 3
Dengan cara yang sama seperti dijelaskan diatas :
Sehingga kehilangan prategang pada kabel 1 :
f
p1,3
= n f
c1

K Ka ab be el l 2 2 a ak ki ib ba at t g ga ay ya a p pr ra at te eg ga an ng g p pa ad da a k ka ab be el l 3 3
Tegangan beton pada level kabel 2 akibat gaya prategang pada kabel 3.
Ditengah bentang ( D ) : f
CD2
=
c
i
A
P

I
e e P
b b i
. .

Ditumpuan ( A ) : f
CA2
=
c
i
A
P
Eksetrisitas kabel 2 ditumpuan 0
Tegangan beton akibat gaya prategang pada posisi kabel 2 rata-rata :
f
c2
= [ f
CA2
+
3
2
( f
CD2
f
CA2
) ] karena lintasan kabel Parabola.
Sehingga kehilangan prategang pada kabel 2 :
f
p2,3
= n f
c2

K Ka ab be el l 3 3 t ti id da ak k a ad da a k ke eh hi il la an ng ga an n p pr ra at te eg ga an ng ga an n akibat gaya prategang pada kabel 3
Jadi total kehilangan prategang adalah :
f
p
= f
p1,2
+ f
p1,3
+ f
p2,3
Dimana : f
p
= kehilangan prategang total.
f
p1,2
= kehilangan prategang pada kabel 1 akibat gaya prategang
pada kabel 2.
f
p1,3
= kehilangan prategang pada kabel 1 akibat gaya prategang
pada kabel 3.
f
p2,3
= kehilangan prategang pada kabel 2 akibat gaya prategang
pada kabel 3.










28
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 6
Suatu konstruksi balok beton prategang dengan bentangan L = 10 m dan ukuran balok
b = 20 cm , h = 50 cm. Mutu beton K 350, sedangkan baja prategang mutu G 270 dan
methode prategang menggunakan pasca tarik ( post tension ). Tiap kabel terdiri dari 2
strand 1/2.
Lintasan ( trace ) kabel parabola, dengan posisi kabel sebagai berikut :
Ditengah-tengah bentangan
Kabel 1 dari serat/sisi bawah balok 15 cm
Kabel 2 dari serat/sisi bawah balok 10 cm
Kabel 3 dari serat/sisi bawah balok 5 cm
Ditumpuan balok
Kabel 1 dari serat/sisi bawah balok 35 cm
Kabel 2 dari serat/sisi bawah balok 25 cm
Kabel 3 dari serat/sisi bawah balok 5 cm
Hitunglah % ( presentase ) kehilangan prategang pada masing-masing kabel bila kabel
distressing secara bergantian mulai dari kabel 1,2 dan 3
Penyelesaian :

1/2 L = 5.000 1/2 L = 5.000
b
h
b
h
Kabel 3
Kabel 2
Kabel 1
1
2
3
1
2
3
cgc
A B
C
SECTION C SECTION A & B

Gambar 015
Luas penampang beton : A
c
= b x h = 20 x 50 = 1.000 cm
2

Momen inersia I =
12
1
b h
3
=
12
1
20 x 50
3
= 208.333 cm
4

29
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Mutu beton K 350 f
c
= 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm
2

Modulus elastisitas beton E
c
= 4.700 '
c
f = 4.700 05 , 29 = 25.332 MPa
Setiap kabel terdiri dari 2 strand 1/2, dari tabel halaman 14 untuk Grade 270 luas
penampang 1 ( satu ) kabel 98,71 mm
2
.
Jadi luas penampang kabel : A
sp
= 2 x 0,9871 = 1,974 cm
2

Tegangan tarik batas untuk Grade 270 f
pu
= 18.600 kg/cm
2

Sesuai dengan SNI 03 2847 2002 pasal 20.5 dan SNI T 12 2004 pasal 4.4.3.2 maka
tegangan tarik maksimum pada saat pengangkuran 0,70 x f
pu

Jadi prategangan awal yang dapat diberikan pada kabel :
f
p
= 0,70 x 18.600 = 13.020 kg/cm
2
P
i
= A
sp
x f
p
= 1,974 x 13.020 = 25.701 kg
n =
c
sp
E
E
=
320 . 253
000 . 000 . 2
= 7,9
Kabel 1 ditarik/distressing
Tidak ada kehilangan prategang pada kabel 1
Kabel 2 ditarik/distressing
Kehilangan prategang pada kabel 1
Ditengah bentang ( Titik C )
Tegangan beton pada level kabel 1 ditengah-tengah bentang ( Titik C )
f
C1,2
=
c
i
A
P

I
y e P
i 1 2
. .
=
000 . 1
701 . 25

333 . 208
) 15 25 ( ) 10 25 ( 701 . 25 x x
= 44,21 kg/cm
2

Ditumpuan A
Tegangan beton pada level kabel 1 ditumpuan A
f
A1,2
=
c
i
A
P
+
I
y e P
i 1 2
. .
=
000 . 1
701 . 25
+
333 . 208
) 25 35 ( ) 0 ( 701 . 25 x x
= 24,70 kg/cm
2

Tegangan beton rata-rata : f
c1,2
= f
A1,2
+
3
2
( f
C1,2
f
A1,2
)
f
c1,2
= 24,70 +
3
2
( 44,21 24,70 ) = 37,71 kg/cm
2

Kehilangan prategang pada kabel 1 akibat stressing kabel 2 :
f
p1,2
= n x f
c1,2
= 7,9 x 37,71 = 297,91 kg/cm
2

Kehilangan prategang pada kabel 2
Tidak ada kehilangan prategang pada kabel 2 akibat stressing pada kabel 2
Kabel 3 ditarik/distressing
Kehilangan prategang pada kabel 1
Ditengah bentang ( Titik C )
f
C1,3
=
c
i
A
P
-
I
y e P
i 1 3
. .
=
000 . 1
701 . 25
-
333 . 208
) 15 25 ( ) 5 25 ( 701 . 25 x x
= 50,37 kg/cm
2
30
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Ditumpuan A
f
A1,3
=
c
i
A
P

I
y e P
i 1 3
. .
=
000 . 1
701 . 25

333 . 208
) 25 35 ( ) 5 25 ( 701 . 25 x x
= 1,03 kg/cm
2

Tegangan beton rata-rata : f
c1,3
= f
A1,3
+
3
2
( f
C1,3
f
A1,3
)
f
c1,3
= 1,03 +
3
2
( 50,37 1,03 ) = 33,92 kg/cm
2

Kehilangan prategangan pada kabel 1 akibat stressing kabel 3
f
p1,3
= n . f
c1,3
= 7,9 x 33,92 = 267,97 kg/cm
2

Kehilangan prategang pada kabel 2
Ditengah bentang ( Titik C )
f
C2,3
=
c
i
A
P
+
I
y e P
i 2 3
. .
=
000 . 1
701 . 25
+
333 . 208
) 10 25 ( ) 5 25 ( 701 . 25 x x
= 62,71 kg/cm
2

Ditumpuan A
f
A2,3
=
c
i
A
P

I
y e P
i 2 3
. .
=
000 . 1
701 . 25
+
333 . 28
) 0 )( 5 25 ( 701 . 25 x
= 25,70 kg/cm
2

Tegangan beton rata-rata : f
c2,3
= f
A2,3
+
3
2
( f
C2,3
f
A2,3
)
f
c2,3
= 25,70 +
3
2
( 62,71 25,70 ) = 50,37 kg/cm
2

Kehilangan prategangan pada kabel 2 akibat stressing kabel 3
f
p2,3
= n . f
c2,3
= 7,9 x 50,37 = 397,92 kg/cm
2

Kehilangan prategang pada kabel 3
Tidak ada kehilangan prategang pada kabel 3 akibat stressing pada kabel 3
J Ja ad di i t to ot ta al l k ke eh hi il la an ng ga an n p pr ra at te eg ga an ng g p pa ad da a m ma as si in ng g- -m ma as si in ng g k ka ab be el l :
Kabel 1 : f
p1
= f
p1,2
+ f
p1,3
= 297,91 + 267,97 = 565,88 kg/cm
2

Kabel 2 : f
p2
= 397,92 kg/cm
2

Kabel 3 : f
p3
= 0
Prosentase kehilangan prategang :
ES
1
=
p
p
f
f
1

x 100 % =
020 . 13
88 , 565
x 100 % = 4,35 %
ES
2
=
p
p
f
f
2

x 100 % =
020 . 13
92 , 397
x 100 % = 3,06 %






31
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

7.2. Geseran ( Friksi ) sepanjang kelengkungan
Pada struktur beton prategang dengan tendon yang dipasang melengkung ada ge-
sekan antara sistem penarik ( jacking ) dan angkur, sehingga tegangan yang ada pa-
da tendon atau kabel prategang sehungga akan lebih kecil dari pada bacaan pada alat
baca tegangan ( pressure gauge ).
Kehilangan prategang akibat gesekan pada tendon akan sangat dipengaruhi oleh :
Efek gerakan/goyangan dari selongsong ( wobble ) kabel prategang, untuk
itu dipergunakan koefisien wobble K .
Kelengkungan tendon/kabel prategang, untuk itu digunakan koefisien
geseran u .
Untuk tendon type 7 wire strand pada selongsong yang fleksibel, harga koefisien
wobble K = 0,0016 ~ 0.0066 dan koefisien kelengkungan u = 0,15 0,25
Kita tinjau gambar 016 dibawah ini.

1
2
R

R

1
2
Ujung pendongkrakan

P
P
1
P u
1
P
2
P
1
P
Kehilangan Gaya Prategang
Akibat Gesekan
1
P u
Tekanan Normal Akibat
Gaya Prategang

Gambar 016
Kehilangan Gaya Prategang total akibat geseran disepanjang tendon yang dipasang
melengkung sepanjang titik 1 dan 2 adalah :
P
1
P
2
= u P
1
=
R
L
( 7.2.1 )
Jadi : P
1
P
2
= u P
1

R
L

Untuk pengaruh gerakan/goyangan selongsong ( wobble ) seperti yang telah
dijelaskan di-atas, disubstitusikan : K L = u . pada persamaan ( 7.2.1 ), sehingga
didapat :
P
1
P
2
= K L P
1
( 7.2.2 )


32
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Persamaan ( 7.2.1 ) adalah kehilangan gaya prategang akibat geseran disepanjang
tendon, sedangkan peramaan ( 7.2.2 ) adalah kehilangan gaya prategang akibat pe-
ngaruh gerakan/goyangan dari selongsong kabel prategang ( cable duct ).
Jadi kehilangan gaya prategang total sepanjang kabel akibat lenkungan kabel
adalah :
P
1
P
2
= K L P
1
u P
1


1
2 1
P
P P
= K L u ( 7.2.3 )
Dimana : P
1
= gaya prategang dititik 1
P
2
= gaya prategang dititik 2
L = panjang kabel prategang dari titik 1 ke titik 2
= sudut pada tendon
u = koefisien geseran
K = koefisien wobble
Tabel koefisien Wobble ( K ) dan Koefisien Friksi ( u )
Jenis Baja Koef. Wobble Koef. Friksi
Prategang K ( 1/m ) ( u )
Tendon Kawat 0,0033 0,0049 0,15 - 0,25
Batang Kekuatan
Tinggi
Strand 7 Kawat 0,0016 0,0066 0,15 0,25
Mastic Tendon Kawat 0,0033 0,0066 0,05 0,15
Tendon tanpa Coated Strand 7 Kawat 0,0033 0,0066 0,05 0,15
Lekatan Pre Tendon Kawat 0,0010 0,0066 0,05 0,15
greassed
Strand 7 Kawat 0,0010 0,0066 0,05 0,15
0.0003 0,0020 0,08 - 0,30

Menurut SNI 03 2874 2002 kehilangan gaya prategang akibat geseran pada
tendon post tension ( pasca tarik ) harus dihitung dengan rumus :
P
s
= P
x
e
( K Lx + u )
( 7.2.4 )

Jika nilai ( K L
x
+ u ) < 0,3 maka kehilangan gaya prategang akibat geseran
pada tendon dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini :
P
s
= P
x
( 1 + K L
x
+ u ) ( 7.2.5 )

Dimana : P
s
= gaya prategang diujung angkur
P
x
= gaya prategang pada titik yang ditinjau.
K = koefisien wobble


33
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

u = koefisien geseran akibat kelengkungan kabel.
= sudut kemiringan tendon
L
x
= panjang tendon dari angkur sampai titik yang ditinjau.
e = 2,7183
Koefisien friksi tendon pasca tarik untuk persamaan ( 7.2.4 ) dan ( 7.2.5 ) dapat
digunakan Tabel Koefisien Wobble dan Koefisien Friksi diatas.
Sedangkan menurut ACI 318, kehilangan gaya prategang akibat gesekan pada
tendon dapat dihitung dengan persamaan :
P
s
= P
x
. e
u ( t + p Lpa )
( 7.2.6 )
Dimana : P
s
= gaya prategang di-ujung angkur
P
x
= gaya prategang pada titik yang ditinjau
L
pa
= jarak dari tendon yang ditarik

t
= jumlah nilai absolut pada semua deviasi angular dari ten-
don sepanjang L
pa
dalam radian.

p
= deviasi angular atau dalam wobble, nilainya tergantung
pada diameter selongsong ( d
s
).
Untuk sbenelongsong berisi strand & mempunyai diameter
dalam :
d
s
50 mm 0,016
p
0,024
50 mm < d
s
90 mm 0,012
p
0,016
90 mm < d
s
140 mm 0,008
p
0,012
Selongsong metal datar 0,016
p
0,024
Batang yang diberi gemuk ( greased ) dan dibungkus

p
= 0,008
u = koefisien geseran akibat kelengkungan, dengan nilai :
u 0,2 untuk strand dengan selongsong besi yang mengkilap
dan dilapisi zinc.
u 0,15 untuk strand yang diberi gemuk dan dibungkus.
u 0,5 untuk strand pada selongsong beton yan tidak diben-
tuk ( unlined ).













34
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 7
Suatu komponen struktur beton prategang dengan bentangan 18,30 m diberi gaya
prategangan dengan kabel/tendon yang dipasang melengkung seperti gambar di-
bawah ini.
3.80 5.35 3.80 5.35
18.30
0
.
6
0
A
B
D
C

1

0
.
6
0

Tentukan kehilangan gaya prategang total akibat geseran pada tendon, jika
koefisien geseran u = 0,4 dan koefisien wobble K = 0,0026 per m.
P Pe en ny ye el le es sa ai ia an n : :
Segmen A B ( Tendon lurus )
Tegangan dititik A : P
A
= 1,0
L = 5,35 m K L = 0,0026 x 5,35 = 0,014

A
A B
P
P P
= K L = 0,014
Kehilangan gaya prategang :
P
B
1 = 0,014
Tegangan dititik B : P
B
= 1 0,014 = 0,986

Segmen B C ( Tendon melengkung )
L = 2 x 3,80 = 7,60 m

1
=
80 , 3 35 , 5
60 , 0
+
= 0,066 = 2 x
1
= 2 x 0,066 = 0,132

B
B C
P
P P
= KL u
Kehilangan gaya prategang :
P
C
P
B
= ( K L + u ) x P
B

= ( 0,0026 x 7,60 + 0,4 x 0,132 ) x 0,986 = 0,072
Tegangan dititik C : P
C
= P
B
0,072 = 0,986 0,072 = 0,914


35

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Segmen C D ( Tendon lurus )
L = 5,35 m K L = 0,0026 x 5,35 = 0,014

C
C D
P
P P
= KL = 0,014
Kehilangan gaya prategang :
P
D
P
C
= 0,014 x 0,914 = 0,013
Tegangan dititik D : P
D
= 0,914 0,013 = 0,901
Jadi kehilangan prategang total dari titik A sampai dengan titik D :
P
A
P
D
= 1 0,901 = 0,099 atau

A
D A
P
P P
x 100 % =
1
099 , 0
x 100 % = 9,9 %
Cara penyelesaian diatas dihitung segmen per segmen, tetapi dapat pula dihitung
sekaligus seperti dibawah ini :
L = 5,35 + 3,80 + 3,80 + 5,35 = 18,3 m
= 0,132 ( sudah dihitung diatas )
Dengan menggunakan persamaan ( 7.2.3 )

A
A D
P
P P
= K L u = 0,0026 x 18,3 0,4 x 0,132 = 0,10 atau 10 %























36
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Contoh Soal 8
Suatu balok beton prategang pasca tarik dengan bentangan L = 15,20 m. Tendon
terdiri dari 10 Baja ASTM A 416 Grade 270 ( lihat tabel halaman 14 ). Lintas-
an kabel berbentuk lingkaran R = 42 m dan eksentrisitas ditengah tengah bentangan
e = 27,94 cm, seperti sketsa dibawah ini.
Gaya prategang awal P
i
= 1.378 kN
1/2 L = 7,600 1/2 L = 7,600
0
,
2
7
9
4
cgc
TENDON : 10 1/2" STRAND
Pi Pi
A B
C
R

=

1
0
3
,
5
0
4


Hitunglah kehilangan prategang akibat gesekan tendon
P Pe en ny ye el le es sa ai ia an n : :
A
sp
= 10 x 98,71 = 987,1 mm
2

Prategang awal : f
i
=
sp
i
A
P
=
1 , 987
000 . 378 . 1
= 1.396 MPa
= 2 x arc sin
R
L
2
1
= 2 arc sin
504 , 103
20 , 15
2
1
x
= 8,4217 derajat
=
360
4217 , 8
x 2 =
360
4217 , 8
x 2 = 0,1470 rad
Dari tabel pada halaman 33 dapat diambil
Koefisien wobble K = 0,0066
Koefisien friksi u = 0,20
Sehingga kehilangan prategang akibat friksi sepanjang tendon :
f
PS
= f
pi
( u + K L ) = 1.396 ( 0,20 x 0,1470 + 0,0066 x 15,2 = 181,09 Mpa
Prosentase kehilangan prategang :

pi
PS
f
f
x 100 % =
396 . 1
09 , 181
x 100 % = 12,97 %







37
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

7.3. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Slip di Pengangkuran
Hal ini terjadi pada saat baja/kabel prategang dilepas dari mesin penarik ( dongkrak )
kemudian kabel ditahan oleh baji dipengangkuran dan gaya prategang ditransfer dari
mesin penarik ke angkur. Besarnya slip pada pengankuran ini tergantung pada type
baji dan tegangan pada kabel prategang ( tendon ). Slip dipengangkuran itu rata-rata
biasanya mencapai 2,5 mm.
Besarnya Perpanjangan Total Tendon :
L =
S
C
E
f
L ( 7.3.1 a )
Kehilangan gaya prategang akibat slip : ANC =
L
S
Rata Rata

x 100 % ( 7.3.1 b )
Dimana : ANC : prosentasi kehilangan gaya prategang akibat slip diangkur.
L : deformasi pada angkur
f
c
: tegangan pada beton
E
S
: modulus elastisitas baja/kabel prategang
L : panjang kabel.
S
rata2
: harga rata-rata slip diangkur

Kehilangan gaya prategang akibat pemindahan gaya dapat digambarkan seperti
gambar diagram dibawah ini :
A
L
B
C
X
Px
Ps
Px-Ps
Z
1
2 / Ps
1/2 X
D
Ps(X)
g
e
s
e
r
P

Diagram kehilangan Tegangan
Gambar 017

Garis ABC adalah tegangan pada baja prategang ( tendon ) sebelum pengangkuran
dilaksanakan. Garis DB adalah tegangan pada tendon setelah pengangkuran tendon
dilaksanakan.

38
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Disepanjang bentangan L terjadi penurunan tegangan pada ujung pengangkuran dan
gaya geser berubah arah pada suatu titik yang berjarak X dari ujung pengangkuran.
Karena besarnya gaya geser yang berbalik arah ini tergantung pada koefisien geseran
yang sama dengan koefisien geseran awal, maka kemiringan garis DB akan sama
dengan garis AB akan tetapi arahnya berlawanan.
Perpendekan total tendon sampai X adalah sama dengan panjang penyetelan angker
( anchorage set ) d, sehingga kehilangan tegangan pada ujung penarikan kabel dapat
dituliskan sebagai berikut :
P
s
= 2 E
p

X
d
( 7.3.2 )

Dimana : P
s
: Gaya prategang pada ujung angkur
P
s
= P
x
. e
( u + K Lx )

P
x
: Tegangan pada baja prategang pada ujung pengangkuran.
L : Panjang bentang, atau jarak yang ditentukan sepanjang kabel
( dengan asumsi kabel ditarik dari satu sisi saja ).
K : Koefisien wobble
u : Koefisien geseran tendon
L
x
: Panjang tendon dari angkur sampai titik yang ditinjau.
d : Penyetelan angkur ( Anchorage Set )
E
p
: Modulus Elastisitas Baja Prategang
Nilai X tergantung dari tegangan pada tendon akibat gaya penarikan tendon P
x
dan
karateristik gesekan dari tendon ( ) yang didapat pada tabel 7.3. dibawah ini :
Profil Tendon
Linear
Parabolis
Melingkar
Bentuk Lain

u+ K X
X
= X jika kurang dari L Gambar
Ps
=
K X X =
Ep d
K Px
b
a
Ps
2u
=
a
b
2
+ K X =
Ep d
2ua
b
2
/ +K ( ) Px
R
Ps
=
u
R
+ K X =
Ep d
/
u
R
( + K ) Px
Px
L
z
X
=
Z
( )
L
1
Px
X =
Ep d
/
Z
L
( )
Tabel 7.3. Nilai dan X untuk Berbagai Profil Tendon ( Naaman, 1982 )

Kehilangan tegangan sepanjang L : Z = P
x
P
s
( L )
39
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 9
Tentukan kehilangan tegangan akibat slip pada angkur, jika panjang tendon L = 3 m,
tegangan beton pada penampang f
c
= 1.035 N/mm
2
. Modulus elastisitas baja prate-
gang E
s
= 200.000 N/mm
2
dan harga rata-rata slip adalah 2,5 mm.
Penyelesaian :
Perpanjangan kabel tendon total :
L =
S
C
E
f
L =
000 . 200
035 . 1
x 3.000 = 15,53 mm
Jadi prosentase kehilangan gaya prategang akibat slip diangkur :
ANC =
53 , 15
5 , 2
x 100 % = 16,10 %
Contoh Soal 10
Suatu balok prategang sistem post-tension dengan lintasan kabel parabolis seperti
gambar sketsa dibawah ini.
0
.
4
5
7,50 7,50
TENDON PARABOLIK


Tegangan tendon pada ujung pengangkuran P
x
= 1.200 N/mm
2
. Modulus elastisitas
baja prategang E
p
= 195.000 MPa, koefisien wobble K = 0,0025/m, koefisien geseran
tendon u = 0,15 / rad. Jika anchorage set d = 5,0 mm, maka :
a. Tentukan nilai X dan gaya prategang pada ujung angkur ( P
s
)
b. Tentukan nilai tegangan di pengangkuran.
c. Gambar diagram tegangan sebelum dan sesudah pengangkuran.
Penyelesaian :
Pada gambar diatas dapat diketahui : a = 0,45 m dan b = 7,50 m
Penyetelan angkur ( anchorage set ) : d = 5,00 mm = 0,005 m
Dari tabel 7.3 untuk untuk profil tendon parabolik diperoleh :
=
2
. 2
b
a u
+ K =
2
50 , 7
45 , 0 15 , 0 2 x x
+ 0,0025 = 0,0049
P
x
= 1.200 N/mm
2
= 1,2 x 10
9
N/m
2

E
p
= 195.000 N/mm
2
= 1,95 x 10
11
N/m
2




40
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Dari tabel 7.3 diatas, untuk profil tendon parabolik diperoleh
X =
X
p
P K
b
a
d E
.
. 2
.
2
|

\
|
+
u
=
X
p
P
d E
.
.

=
9
11
10 2 , 1 0049 , 0
005 , 0 10 95 , 1
x x
x x
= 12,88 m
Dari persamaan 7.3.2, diperoleh :
Gaya prategang di ujung angkur :
P
S
= 2 E
p

X
d
= 2 x 1,95 x 10
11
x
88 , 12
005 , 0
= 151,4 MPa
P
x
P
s
= 1.200 151,4 = 1.048,6 MPa
Px = 1.200
Px s P - =1.048,6
s
P
=
1
5
1
,
4
X = 12,88 m
Z = 151,4 MPa
X
2
Ps
( ) X

Ps /
1
2
L = 15 m
A
B
C D
G
e
s
e
r
Ps


Diagram diatas adalah diagram kehilangan tegangan akibat slip diangkur pada saat
pemindahan ( transfer ) gaya prategang.
















41
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

7.4. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Creep ( Rangkak )
Kehilangan Gaya Prategang yang diakibatkan oleh Creep ( Rangkak ) dari beton ini
merupakan salah satu kehilangan gaya prategang yang tergantung pada waktu ( time
dependent loss of stress ) yang diakibatkan oleh proses penuaan dari beton selama
pemakaian.
Ada 2 cara dalam menghitung kehilangan gaya prategang akibat creep ( rangkak )
beton ini, yaitu :
7.4.1. Dengan methode regangan rangkak batas.
Besarnya kehilangan tegangan pada baja prategang akibat creep ( rangkak )
dapat ditentukan dengan persamaan :
f
CR
=
ce
. f
c
. E
s
( 7.4.1 )
Dimana : f
CR
: Kehilangan tegangan akibat creep ( rangkak )

ce
: Regangan elastis
f
c
: Tegangan beton pada posisi baja prategang.
E
s
: Modulus elastisitas baja prategang.
7.4.2. Dengan mothode koefisien rangkak
Besarnya kehilangan tegangan pada baja prategang akibat creep ( rangkak )
dapat ditentukan dengan persamaan :
f
CR
=
cr
. E
s
=
c
c
E
f
E
s
= f
c

c
s
E
E
= f
c
n ( 7.4.2 )

=
ce
cr


cr
= .
ce
= .
c
c
E
f

n =
c
s
E
E

Dimana : : koefisien rangkak

cr
: regangan akibat rangkak

ce
: regangan elastis
E
c
: modulus elastisitas beton
E
s
: modulus elastisitas baja prategang
f
c
: tegangan beton pada posisi/level baja prategang
n : angka ratio modular
Creep ( Rangkak ) pada beton ini terjadi karena deformasi akibat adanya te-
gangan pada beton sebagai fungsi dari waktu. Pada struktur beton prategang
creep ( rangkak ) mengakibatkan berkurangnya tegangan pada penampang.



42
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Untuk struktur dengan lekatan yang baik antara tendon dan beton ( bonded
members ) kehilangan tegangan akibat rangkak dapat diperhitungkan de-
ngan persamaan :
f
CR
= K
cr

c
s
E
E
( f
ci
f
cd
) ( 7.4.3 )

Dimana : f
CR
: kehilangan prategang akibat creep ( rangkak )
K
cr
: koefisien rangkak, yang besarnya :
pratarik ( pretension ) : 2,0
pasca tarik ( post-tension ) : 1,6
E
s
: modulus elastisitas baja prategang
E
c
: modulus elastisitas beton
f
ci
: tegangan beton pada posisi/level baja prategang
sesaat
setelah transfer gaya prategang.
f
cd
: tegangan beton pada pusat berat tendon akibat beban
mati ( dead load ).
Untuk struktur dimana tidak terjadi lekatan yang baik antara tendon dan be-
ton ( unbonded members ), besarnya kehilangan gaya prategang dapat diten-
tukan dengan persamaan :
f
CR
= K
cr

c
s
E
E
f
cp
( 7.4.4 )

Dimana : f
cp
: tegangan tekan beton rata-rata pada pusat berat tendon
K
cr
: koefisien rangkak, yang besarnya :
pratarik ( pretension ) : 2,0
pasca tarik ( post-tension ) : 1,6
E
s
: modulus elastisitas baja prategang
E
c
: modulus elastisitas beton















43
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Contoh Soal 11
Suatu balok beton prategang dimensi 250 x 400 mm dengan lintasan tendon berbentuk
parabola. Sketsa penampang balok ditengah-tengah bentangan seperti gambar dibawah
ini.
250
7
5
2
0
0
2
0
0
TENDON 5 Dia 12,7 mm

Tegangan tarik pada tendon akibat gaya prategang awal f
i
= 1.200 N/mm
2
. Regangan
elastis
ce
= 35 x 10
6
dan kosfisien rangkak = 1,6 maka :
Hitunglah kehilangan gaya prategang akibat creep ( rangkak ) dengan cara regangan
rangkak batas dan dengan cara koefisien rangkak.
Penyelesaian :
Perhitungan section properties penampang
Luas penampang beton : A
c
= 250 x 400 = 100.000 mm
2

Momen inersia : I =
12
1
250 x 400
3
= 1,33 x 10
9
mm
4

Section Modulus : W =
6
1
250 x 400
2
= 6,67 x 10
6
mm
3

Eksentrisitas tendon : e = x 400 75 = 125 mm
Luas penampang total kabel prategang : A
p
= 5 x 12,7
2
= 633,4 mm
2
Gaya prategang awal :
P
i
= A
p
x f
i
= 633,4 x 1.200 = 760.080 N
Jadi tegangan beton ditengah-tengah bentangan balok
f
c
=
c
i
A
P
+
I
y e P
i
. .
=
000 . 100
080 . 760
+
9
10 33 , 1
125 125 080 . 760
x
x x
= 7,60 + 8,93 = 16,53 N/mm
2

Perhitungan dengan regangan rangkak batas
Dari persamaan ( 7.4.1 ), kehilangan tegangan pada baja prategang :
f
CR
=
ce
. f
c
. E
s
= 35 x 10
-6
x 16,53 x 200.000 = 115,71 N/mm
2

Jadi prosentase kehilangan prategang terhadap tegangan awal tendon :
CR =
i
CR
f
f
x 100 % =
200 . 1
71 , 115
x 100 % = 9,64 %


44
Modulus elastisitas beton :
E
c
= 33.330 MPa
Modulus elastisitas baja prategang :
E
s
= 200.000 MPa
Tendon terdiri dari 5 buah kawat,
masing-masing dg. Diameter 12,7 mm
Posisi tendon ditengah-tengah bentang
seperti gambar disamping.
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Perhitungan dengan koefisien rangkak
Dari persamaan ( 7.4.2 ) diatas, kehilangan tegangan pada baja prategang :
f
CR
= f
c

c
s
E
E
= 1,6 x 16,53 x
330 . 33
000 . 200
= 158,70 N/mm
2

Jadi prosentase kehilangan tegangan pada baja prategang :
CR =
i
CR
f
f
x 100 % =
200 . 1
70 , 158
x 100 % = 13,23 %
Contoh 12
Suatu simple beam prategang dengan sistem post tension bentangan 19,80 m.
Dimensi penampang ditengah-tengah bentangan seperti sketsa dibawah ini.

6
0
0
1
0
0
400
TENDON PRATEGANG

Tegangan tarik batas ( ultime tensile stress ) kabel prategang f
pu
= 1.862 N/mm
2

Kosfisien rangkak ( creep coefficient ) K
cr
= 1,6
Hitunglah prosentase kehilangan tegangan pada baja pratrgang akibat rangkak.
Penyelesaian :
Section Properties :
A = 400 x 600 = 240.000 mm
2

I =
12
1
x 400 x 600
3
= 7,20 x 10
9
mm
4

W =
6
1
x 400 x 600
2
= 24 x 10
6
mm
3
Eksentrisitas tendon ditengh bentang : e = x 600 100 = 200 mm
Kita ambil tegangan awal kabel prategang 75 % dari tegangan tarik batas prategang,
jadi :
f
si
= 75 % x f
pu
= 75 % x 1.862 = 1.396,50 N/mm
2

Momen akibat beban mati ( dead load ) :
M
g
=
8
1
x 6,9 x 19,80
2
= 338,13 kNm
Momen akibat beban mati tambahan :
M
s
=
8
1
x 11,6 x 19,80
2
= 568,46 kNm

45
Beban mati ( Dead Load ) : 6,9 kN/m
dan beban mati tambahan : 10,6 kN/m
Balok tersebut diberi gaya prategang
sebesar 2.758 kN.
Modulus elastisitas baja prategang :
E
s
= 189.750 N/mm
2

Modulus elastisitas beton :
E
c
= 30.290 N/mm
2
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Tegangan beton pada pusat baja prategang ( tendon ) akibat gaya prategang :
6
0
0
1
0
0
e
P
P/A
P.e
W
P.e
2
W.y
DIAGRAM TEGANGAN
AKIBAT GAYA PRATEGANG
TEKAN
TEKAN
TARIK
Mg
W
Mg
W
. e
y .
DIAGRAM TEGANGAN
AKIBAT DEAD LOAD
TEKAN
TARIK
e
y
y
neutral axis

f
cp
=
A
P
+
y W
e P
.
.
2
lihat diagram tegangan diatas.
f
cp
=
000 . 240
758 . 2
+
300 10 24
200 758 . 2
6
2
x x
x
= 1,15 x 10
-2
+ 1,53 x 10
-2
= 2,68 x 10
-2
kN/mm
2

f
cp
= 26,8 N/mm
2
( tegangan tekan )
Tegangan beton pada pusat tendon akibat beban mati ( Dead Load )
f
g
=
y W
e M
g
.
.
=
300 10 24
200 130 . 338
6
x x
x
= 9,39 x 10
-3
kN/mm
2
= 9,4 N/mm
2
( tegangan tarik )
Jadi tegangan beton di pusat tendon pada saat transfer gaya prategang :
f
ci
= f
cp
f
g
= 26,8 9,4 = 17,4 N/mm
2

Tegangan beton di pusat tendon akibat beban mati tambahan :
f
cd
=
y W
e M
S
.
.
( ingat rumusnya sama dengan untuk M
g
)
f
cd
=
300 10 24
200 458 . 568
6
x x
x
= 1,58 x 10
-2
kN/mm
2
= 15,80 N/mm
2

Kehilangan tegangan pada tendon akibat rangkak dapat dihitung dengan persamaan
( 7.4.3 ), diperoleh :
f
CR
= K
cr

c
s
E
E
( f
ci
f
cd
) = 1,6
290 , 30
750 . 189
( 17,40 15,80 ) = 16,04 N/mm
2

Jadi presentase kehilangan tegangan pada tendon adalah:
CR =
si
CR
f
f
x 100 % =
50 , 396 . 1
04 , 16
x 100 % = 1,15 %
46
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

7.5. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Penyusutan Beton
Seperti telah dipelajari dalam Beton Teknologi, penyusutan beton dipengaruhi oleh :
Rasio antara voluma beton dan luas permukaan beton.
Kelembaban relatif waktu antara akhir pengecoran dan pemberian gaya
prategang.
Kehilangan tegangan akibat penyusutan beton dapat dihitung dengan persamaan :
f
SH
=
cs
. E
s
( 7.5.1 )

Dimana : f
SH
: kehilangan tegangan akibat penyusutan beton
E
s
: modulus elastisitas baja prategang

cs
: regangan susut sisa total beton
Untuk pra-tarik ( pre-tension )

cs
= 300 x 10
-6

Untuk pasca tarik ( post-tension )

cs
=
) 2 ( log
10 200
10
6
+

t
x
( 7.5.1a )
Dimana t adalah usia beton ( hari ) pada waktu transfer gaya
Kehilangan tegangan akibat penyusutan beton dapat pula dihitung dengan persamaan
f
SH
=
sh
. K
sh
. E
s
( 7.5.2 )
Dimana : f
SH
: Kehilangan tegangan pada tendon akibat penyusutan beton
E
s
: Modulus elastisitas baja prategang

sh
: Susut efektif yang dapat dicari dari persamaan berikut ini :

sh
= 8,2 x 10
-6

|

\
|

S
V
06 , 0 1 ( 100 RH ) ( 7.5.3 )
V : Volune beton dari suatu komponen struktur beton prategang
S : Luas permukaan dari komponen struktur.beton prategang
RH : Kelembaban udara relatif
K
sh
: Koefisien penyusutan, harganya ditentukan terhadap waktu antara
Akhir pengecoran dan saat pemberian gaya prategang, dan dapat di-
Pergunakan angka-angka dalam tabel dibawah ini.

Tabel Koefisien Susut K
sh
Selisih waktu antara pengeciran dan
Prategangan ( hari )
K
sh
0.92 0.85 0.80 0.77 0.73 0.64 0.58 0.45
30 60 1 3 5 7 10 20

47

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 13
Suatu komponen struktur berupa balok beton prategang. Gaya prategangan diberikan
setelah 48 jam setelah pengecoran beton. Kelembaban udara relatif 75 % dan ratio
voluma terhadap luas permukaan V/S = 3. Tegangan tarik batas ( ultimate tensile
stress ) baja prategang f
pu
= 1.862 N/mm
2
dan modulus elastisitas baja prategang
adalah E
s
= 189.750 N/mm
2

Hitunglah prosentase kehilangan gaya prategang akibat penyusutan beton :
Penyelesaian :
Gaya prategang diberikan 48 jam setelah pengecoran atau 2 hari setelah pengecoran,
jadi menurut persamaan ( 7.5.1a ) diatas, diperoleh :
Regangan susut sisa total :

cs
=
) 2 ( log
10 200
10
6
+

t
x
t = 2 hari

cs
=
) 2 2 ( log
10 200
10
6
+

x
= 0,00033
Jadi kehilangan tegangan pada baja prategang akibat penyusutan beton dapat dihitung
dengan persamaan ( 7.5.1 ) sebagai berikut :
f
SH
=
cs
x E
s
= 0,00033 x 189.750 = 62,62 N/mm
2

Kita ambil tegangan awal baja prategang 75 % dari tegangan batas kabel prategang,
jadi, tegangan awal :
f
si
= 75 % x f
pu
= 75 % x 1.862 = 1.396,5 N/mm
2

Jadi prosentase kehilangan tegangan pada baja prategang akibat penyusutan beton
adalah :
SH =
si
SH
f
f
x 100 % =
5 , 396 . 1
62 , 62
x 100 % = 4,48 %
Sekarang dicoba dengan menggunakan persamaan ( 7.5.2 )
Penyusuan efektif dihitung dengan persamaan ( 7.5.3 ), diperoleh :

sh
= 8,2 x 10
-6

|

\
|

S
V
06 , 0 1 ( 100 RH )

sh
= 8,2 x 10
-6
( 1 0,06 x 3 ) ( 100 75 ) = 1,68 x 10
-4

Dari tabel koefisien susut ( K
sh
) untuk pemberian gaya prategang setelah 2 hari di-
peroleh : K
sh
= 0,885 ( dengan interpolasi linear ), sehingga kehilangan tegangan
pada baja prategang adalah :
f
SH
=
sh
. K
sh
. E
s
= 1,68 x 10
-4
x 0,885 x 189.750 = 28,21 N/mm
2

Jadi prosentase kehilangan gaya prategang :
SH =
si
SH
f
f
x 100 % =
5 , 396 . 1
21 , 28
x 100 % = 2,02 %


48
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


7.6. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Relaksasi Baja Prategang
Relaksasi baja prategang terjadi pada baja prategang dengan perpanjangan tetap
selama suatu periode yang mengalami pengurangan gaya prategang. Pengurangan
gaya prategang ini akan tergantung pada lamanya waktu berjalan dan rasio antara
prategang awal ( f
pi
) dan prategang akhir ( f
py
).
Besarnya kehilangan tegangan pada baja prategang akibat relaksasi baja prategang
dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini :
f
CE
= C [ K
re
J ( f
SH
+ f
CR
+ f
ES
) ] ( 7.6.1 )

Dimana : f
CE
: Kehilangan tegangan akibat relaksasi baja prategang
C : Faktor Relaksasi yang besarnya tergantung pada jenis kawat/
baja prategang.
K
re
: Koefisien relaksasi, harganya berkisar 41 ~ 138 N/mm
2

J : Faktor waktu, harganya berkisar antara 0,05 ~ 0,15
f
SH
: Kehilangan tegangan akibat penyusutan beton.
f
CR
: Kehilangan tegangan akibat rangkak ( creep ) beton
f
ES
: Kehilangan tegangan akibat perpendekan elastis
Kehilangan tegangan akibat relaksasi terhadap prosentase nilai prategangan awal
dapat pula ditentukan dengan persamaan berikut ini :
RE = R
|
|

\
|

pi
f
xECS 2
1 ( 7.6.2 )
Dimana : RE : Kehilangan tegangan akibat relaksasi baja prategang
R : Relaksasi yang direncanakan ( % )
ECS : Kehilangan tegangan akibat rangkak ditambah akibat
penyusutan.
f
pi
: Tegangan pada tendon sesaat setelah pemindahan gaya
gaya prategang.








49
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

8. TATA LETAK KABEL ( TENDON ) PRATEGANG
Tegangan tarik pada serat beton yang terjauh dari garis netral akibat beban layan tidak
boleh melebihi nilai maksimum yang di-ijinkan oleh peraturan yang ada, seperti pada
SNI 03 2847 2002 menetapkan :
Tegangan tarik serat terluar akibat beban layan '
c
f ( lihat halaman 10 )
Oleh karena itu perlu ditentukan daerah batas pada penampang beton, dimana pada
daerah tersebut gaya prategang dapat diterapkan pada penampang tanpa menyebabkan
terjadinya tegangan tarik pada serat beton.
P
e
b
cb
t c
e
x
c.g.c
TENDON

Gambar 018
Tegangan pada serat beton paling atas pada gambar 018 diatas :
f
ct
=
c
A
P
+
c
t
I
c e P . .
( 8.1 )
Dimana : f
ct
: tegangan pada serat beton paling atas.
e : eksentrisitas kabel prategang.
A
c
: luas penampang beton.
I
c
: momen inersia penampang beton.
c
t
: jarak serat beton paling atas ke garis berat ( cgc )
c
b
: jarak serat beton paling bawah ke garis berat ( cgc )
P : gaya prategang
Seperti telah diketahui didalam ilmu mekanika teknik :
r =
c
c
A
I
r : jari-jari inersia
I
c
= r
2
. A
c
Kalau disubstitusikan kedalam persamaan ( 8.1 ) didapat
f
ct
=
c
A
P
+
c
t
A r
c e P
.
. .
2
=
|

\
|
+
2
.
1
r
c e
A
P
t
c

Jika tegangan pada serat paling atas beton harus nol, maka batas besarnya eksentrisitas
dapat dihitung sebagai berikut :

50
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

|

\
|

r
t
c
r
c e
A
P
.
1 = 0
c
A
P
0. maka :
1 -
2
.
r
c e
t
= 0 e =
t
c
r
2

Jadi batas paling bawah letak kabel prategang agar tidak terjadi tegangan tarik pada
serat paling atas beton adalah :
k
b
=
t
c
r
2
.. ( 8.2 )
Tegangan pada serat beton paling bawah :
f
cb
=
c
A
P

c
b
I
c e P . .
=
c
A
P

c
b
A r
c e P
.
. .
2
= |

\
|
+
2
.
1
r
c e
A
P
b
c

Tegangan pada serat beton paling bawah harus sama dengan nol :
1 +
2
.
r
c e
b
= 0
- e =
b
c
r
2
tanda minus berarti posisi e diatas cgc
Jadi batas paling atas letak babel prategang agar tidak terjadi tegangan tarik pada serat
paling bawah beton adalah :
k
t
=
b
c
r
2
...( 8.3 )
Untuk penampang persegi dengan lebar b dan tinggi h, maka :
r
2
=
A
I
=
bh
bh
3
12
1
=
12
1
h
2
c
t
= c
b
= h
Jadi : k
t
= k
b
=
h
h
.
.
2
1
2
12
1
=
6
1
h
ct
b c
h
b
kt
b k
1
6 / b
Inti ( Kern )

Gambar 019
51
Dengan cara yang sama batas kiri dan kanan dapat di-
tentukan yaitu sebesar 1/6 b
Selama gaya tekan pada beton C akibat prategangan
berada didalam inti ( kern ) tidak akan terjadi tegangan
tarik pada serat beton terluar.
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

8.1. Daerah batas eksentrisitas disepanjang bentangan
Eksentrisitas rencana dari tendon ( baja prategang ) harus sedemikian rupa , sehingga
tegangan tarik yang timbul pada serat penampang pada titik-titik kontrol sepanjang
bentang balok sangat terbatas ( tidak melampaui peraturan yang ditetapkan ) atau
sama sekali tidak ada ( nol ).
Jika : M
D
: momen akibat Dead Load ( beban mati ) dan
M
T
: momen total akibat Dead Load dan Live Load ( beban hidup )
Sedangkan lengan momen antara garis pusat tekan ( C line) dan garis tendon ( cgs )
akibat M
D
adalah a
min
, maka :
a
min
=
i
D
P
M
Ini terjadi pada saat transfer gaya prategang.
Nilai ini menunjukan jarak maksimum dibawah batas bawah ( kern ) dimana cgs ha-
rus ditempatkan agar C line tidak jatuh dibawah garis terendah kern.
e
k C
P
a
cgs
cgc
C Line
min
b
i
b

Gambar 020
Lengan momen akibat M
T
adalah a
maks
, sehingga :
a
maks
=
E
T
P
M
Ini terjadi pada saat layan.
Ini menunjukkan jarak minimum dibawah batas teratas daerah kern, dimana cgs harus
ditempatkan agar C line tidak jatuh diatas garis teratas daerah kern.
e
k
t
t
C
PE
amaks
cgs
cgc
C Line

Gambar 021

Tegangan tarik dengan nilai tertentu, biasanya di-ijinkan oleh beberapa peraturan
yang ada, baik pada saat transfer maupun pada kondisi beban layan. Jika ini
diperhitungkan, maka cgs dapat ditempatkan sedikit diluar batas e
b
dan e
t
.

52
Kalau ini dilakukan tegangan ta-
rik pada serat teratas tidak terjadi.
Sehingga batas ekstrim bawah :
e
b
= a
min
+ k
b
Kalau ini dilakukan, maka tegangan
tarik pada serat terbawah tidak akan
terjadi .
Sehingga batas eksentrisitas atas :

e
t
= a
makx
- k
t

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

9. PERENCANAAN UNTUK KEKUATAN LENTUR dan DAKTILITAS
Analisa penampang akibat lentur pada bagian-bagian diatas berdasarkan theori elastis.
Berdasarkan SNI 03 2874 2002 pasal 20.7 kekuatan lentur penampang beton
prategang dapat dihitung dengan methode kekuatan batas seperti pada peremcanaan
beton bertulang biasa.
Dalam perhitungan kekuatan, tegangan pada tendon prategang diambil sebesar f
ps
,
seba-gai gantinga f
y
, dimana f
ps
adalah tegangan pada tendon prategang pada saat
tercapainya kekuatan nominal penampang.
Nilai f
ps
dapat dihitung dengan methoda kompatibilitas regangan. Sebagai alternatif
jika tegangan efektif ( setelah kehilangan prategangan ) f
se
0,5 f
pu
, maka f
ps
dapat
dihitung sebagai berikut :
a a. . U Un nt tu uk k t te en nd do on n d de en ng ga an n l le ek ka at ta an n p pe en nu uh h ( ( b bo ou un nd de ed d ) )
f
ps
= f
pu
( )

+ '
'
1
1

p c
pu
p
p
d
d
f
f
( 9.1 )
Dimana : f
ps
= tegangan pada tendon pada saat penampang mencapai kuat nomi-
nalnya ( MPa ).
f
pu
= kuat tarik tendon prategang yang disyaratkan ( MPa ).
f
se
= tegangan efektif pada baja prategang ( tendon ) sesudah memper-
hitungkan total kehilangan prategang yang terjadi ( MPa ).

p
= suatu faktor yang memperhitungkan tipe tendon prategang
untuk
pu
py
f
f
0,80
p
= 0,55
untuk
pu
py
f
f
0,85
p
= 0,40
untuk
pu
py
f
f
0,90
p
= 0,28
f
py
= kuat leleh tendon prategang ( MPa )

1
= suatu faktor yang besarnya sesuai SNI 03 2875 - 2002 pasal
12.2, dimana :
Untuk f
c
30 MPa
1
= 0,85
Untuk 30 < f
c
< 55 MPa
1
= 0,85 0,008 ( f
c
- 30 )
Untuk f
c
55
1
= 0,65
f
c
= kuat tekan beton ( MPa ).
d = tinggi effektif penampang ( jarak dari serat tekan terjauh dari ga-
ris netral kepusat tulangan tarik non prategang ).
d
p
= jarak dari serat tekan terjauh kepusat tendon prategang


53
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

p
= ratio penulangan prategang,
p
=
p
ps
d b
A
.

A
ps
= luas penampang baja prategang.
b = lebar efektif flens tekan dari komponen struktur.
=
'
.
c
y
f
f
=
d b
A
s
.

=
'
'.
c
y
f
f
=
d b
A
s
.
'

A
s
= luas penulangan tarik non prategang
A
s
= luas penulangan tekan non prategang
Jika dalam menghitung f
ps
pengaruh tulangan tekan non prategang diper-
hitungkan, maka suku :
( )
)
`

+ '
'

dp
d
f
f
c
pu
p
0,17 dan d 0,15 d
p

b. U Un nt tu uk k t te en nd do on n t ta an np pa a l le ek ka at ta an n
D De en ng ga an n r ra at ti io o a an nt ta ar ra a b be en nt ta an ng ga an n d da an n t ti in ng gg gi i k ko om mp po on ne en n 3 35 5
f
ps
= f
se
+ 70 +
p
c
f
. 700
'
f
y
atau f
se
+ 400 ( 9.2 )
D De en ng ga an n r ra at ti io o a an nt ta ar ra a b be en nt ta an ng ga an n d da an n t ti in ng gg gi i k ko om mp po on ne en n > > 3 35 5
f
ps
= f
se
+ 70 +
p
c
f
. 300
'
f
y
atau f
se
+ 200 ( 9.3 )
Untuk menjamin terjadinya leleh pada tulangan non prategang, maka SNI
membatasi indeks tulangan sebagai berikut
1. Untuk komponen struktur dengan tulangan prategang saja :

p
0,36
1

p
=
p

'
c
ps
f
f
( 9.4 )
2. Untuk komponen struktur dengan tulangan prategang, tulangan tarik dan tu-
langan tekan non prategang :

p
+ ( - )
p
d
d
0,36
1
( 9.5.)




54
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

3. Untuk penampang bersayap

pw
+ (
w

w
)
p
d
d
0,36
1
( 9.6 )
Dinama :
pw
,
w
,
w
adalah indeks tulangan untuk penampang yang
mempunyai flens, dihitung sebagai
p
, dan dengan b sebe-
sar lebar badan.
9.1. Proses Desain Penampang
Dalam desain komponen struktur prategang terhadap lentur , harus bisa menjamin
agar batasan tegangan ijin tidak dilanggar ( dilampaui ), defleksi atau lendutan yang
terjadi masih dalam batasan yang di-ijinkan dan kompomen struktur mempunyai
kekuatan yang cukup.
Kita lihat penampang beton prategang seperti dibawah ini :
dp
d
Ap
b
As
As
'
d
'
y
c
p i
s
'

'
cu
=
0,003
a
0,85 fc
'
fs
'
fps
fy Ts
Tp
Cc
'
Cs
'
Z
s
=
d
-
1
2
a
/
Z
p
=
d
p
-
a
/
2
d- d
'
h
Grs. Berat
Grs. Netral

Gambar 022
Dari keseimbangan :
C
s
+ C
c
= T
p
+ T
s

Dimana : C
s
= A
s
x f
s

C
c
= 0,85 f
c
a b
T
p
= A
p
x f
ps

T
s
= A
s
x f
y

Keseimbangan momen terhadap garis berat ( titik berat ) :
M
n
= C
c

|

\
|

2 2
a h
+ C
s

|

\
|
'
2
d
h
+ T
s

|

\
|

2
h
d + T
p

|

\
|

2
h
d
p
( 9.1.1 )



55
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Bila penulangan tekan diabaikan :
Momen luar hanya ditahan oleh tulangan tarik dan baja pratekan :
M
n
= T
s
. Z
s
+ T
p
. Z
p

M
n
= T
s
( d a ) + T
p
( d
p
a )
Dimana : T
s
( d a ) : momen nominal yang dipikul tulangan tarik
T
p
( d
p
a ) : momen nominal yang dipikul baja prategang
Prosentasi pratekan :
=
) ( ) (
) (
2
1
2
1
2
1
a d T a d T
a d T
s p p
p p
+

100 %
Bila merupakan Prategang Penuh ( tulangan non prategang tidak diperhitungkan ),
momen nominal hanya dipikul oleh baja prategang
M
n
= T
p
( d
p
a )
Contoh Soal 14 :
Suatu balok beton prategang dengan penampang berbentuk I dengan system Bonded Pre
stressing Tendon Mutu kabel prategang sesuai ASTM A 416 grade 270 sedangkan mutu
beton K 350. Jumlah kabel 1, jumlah kawat untaian 18 1/2 dalam kabel. Loss of
prestress 15 %. Bentangan balok 18 m, sedangkan posisi kabel ditengah-tengah bentang
berjarak 10 cm dari serat bawah penampang. Dimensi penampang seperti pada sketsa
dibawah ini, dan tulangan biasa ( non prategang ) tidak diperhitungkan.
Hitunglah momen batas yang dapat dipikul oleh penampang.
450
5
5
0
1
7
5
1
7
5
150
100
9.000 9.000
A B
C
TENDON
TENDON
POTONGAN C

P Pe en ny ye el le es sa ai ia an n : :
Mutu kabel G 270 Tegangan tarik batas f
pu
= 18.900 kg/cm
2

Luas penampang kabel : A
p
= 18 bh x 98,71 mm
2
= 1.777 mm
2

Tegangan tarik yg di-ijinkan pada tendon :
f
s
= f
i
= 0,70 x f
pu
= 0,70 x 18.900 = 13.230 kg/cm
2

Kehilangan tegangan ( loss of prestress ) 15 %, maka :
Tegangan tarik efektif tendon : f
se
= 0,85 f
i
= 0,85 x 13.230 = 11.245,50 kg/cm
2


56
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Mutu Beton K 350 f
c
= 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm
2
= 29,05 MPa 30 MPa
1
=0,85
Perhitungan Tegangan Tarik Nominal Kabel Prategang :
Karena tegangan efektif : f
se
= 11.245,50 kg/cm
2
> 0,5 f
pu
= 0,5 x 18.900 = 9.450 kg/cm
2
,
maka tegangan nominal dapat dihitung dg. persamaan ( 9.1 ) SNI 03 2874 2002
Karena : f
py
= 0,85 f
pu

p
= 0,4
d
p
= ( 17,5 + 55 + 17,5 ) 10 = 80 cm
Rasio kabel prategang :

p
=
p
p
bxd
A
=
80 45
77 , 17
x
= 0,00494
Persamaam ( 9.1 ) SNI 03 2874 2002 diatas :
f
ps
= f
pu

|
|

\
|

+ ) ' (
'
1
1

p c
pu
p
p
d
d
f
f

f
ps
= 18.900
|
|

\
|

5 , 290
900 . 18
00494 , 0
85 , 0
4 , 0
1 = 16.041,45 kg/cm
2

C Ch he ec ck k a ap pa ak ka ah h u un nd de er r r re ei in nf fo or rc ce em me en nt t
Sesuai SNI 03 2874 2002 Pasal 20.8 mengenai batasan penulangan ( termasuk baja
prategang ), maka :

p
=
p
.
'
c
ps
f
f
< 0,36
1
Persamaan ( 9.4 ) halaman 63 diatas.
0,00494
5 , 290
45 , 041 . 16
< 0,36 x 0,85
0,273 < 0,306 OK
Menentukan Momen Batas :
Anggap garis neutral memotong flens, seperti gambar dibawah ini
dp
c
C
P
a
f 0,85 c
'
d
p
--
1
2
/
a
450
1
7
5
1
7
5
5
5
0
450
GRS. NETRAL
150
GRS. BERAT

57
Gaya Tarik pd. Tendon :
P = A
ps
. f
ps

P = 17,77 x 16.041,45 = 285.056,57 kg
Gaya Tekan pd. Beton :
C = 0,85 . f
c
. a . b
C = 0,85 x 290,5 x a x 45
C = 11.111,63 a kg
Karena keseimbangan, maka : C = P

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

11.111,63 a = 285.056,57 a =
63 , 111 . 11
57 , 056 . 285
= 25,65 cm
c =
1

a
=
85 , 0
65 , 25
= 30,18 cm > h
f
= 17,50 cm
Jadi ternyata letak garis netral dibawah flens, ini berarti balok I murni
Sehingga asumsi diatas tidak benar.
dp
f 0,85 c
'
450
1
7
5
1
7
5
5
5
0
450
GRS. NETRAL
150
GRS. BERAT
c
=
bw
hf
b- bw
2
b- bw
2
f 0,85 c
'
C1
P1
d
p
-
1
2
/
h
f
+
bw
b
a a
f 0,85 c
'
C2
P2
d
p
-
1
2
/
a

Menentukan posisi garis neutral :
Dari keseimbangan gaya : C = P
C
1
+ C
2
= P
0,85 f
c
h
f
( b b
w
) + 0,85 f
c
a b
w
= A
ps
. f
ps

0,85 x 290,5 x 17,5 x ( 45 15 ) + 0,85 x 290,5 x a x 15 = 17,77 x 16.041,45
129.635,63 + 3.703,88 a = 285.056,57
a =
88 , 703 . 3
63 , 635 . 129 57 , 056 . 285
= 41,96 cm
c =
1

a
=
85 , 0
96 , 41
= 49,36 cm OK Penampang I murni
Momen nominal yang dapat dipikul :
C
1
= 0,85 f
c
h
f
( b b
w
) = 0,85 x 290,5 x 17,5 x ( 45 15 ) = 129.635,63 kg
C
2
= 0,85 f
c
a b
w
= 0,85 x 290,5 x 41,96 x 15 = 155.414,60 kg
M
n
= C
1
( d
p
h
f
) + C
2
( d
p
a )
= 129.635,63 x ( 80 17,5 ) + 155.414,60 x ( 80 41,96 )
= 9.236.538,64 + 9.172.569,69 = 18.409.108,33 kgcm
Momen batas yang dapat dipikul penampang :
M
u
= M
n
= 0,80 x 18.409.108,33 = 14.727.286,67 kgcm = 147.272,87 kgm




58
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

BALOK KOMPOSIT
Didalam praktek dilapangan, pada umumnya balok beton prategang ( precast )
dikombinasikan dengan plat ( konstruksi lantai ) yang dicor setempat, sehingga kombinasi
plat dan balok merupakan suatu konstruksi komposit.
Balok prategangnya pada umumnya berbentuk I. Setelah balok prategang dipasang pada
posisinya, kemudian form work untuk plat dipasang seperti pada gambar dibawah ini.
B B
PRECAST
RANGKA FORM WORK
PAPAN FORM WORK
PENULANGAN PLAT
PLAT LANTAI BETON
STEK
BALOK PRATEGANG

Gambar 023
Setelah rangka dan papan formwork terpasang, kemudian penulangan plat lantai dipasang
sesuai gambar perencanaan. Setelah penulangan selesai dipasang baru pengecoran lantai
dilaksanakan. Didalam skesa gambar diatas tidak diperlukan perancah ( penopang ) untuk
memikul pelat lantai yang akan dicor, tetapi memanfaatkan balok prategang yang telah di-
pasang lebih dahulu untuk menopang formwork. Untuk menahan geseran horisontal antara
balok prategang dan pelat beton pada balok prategang dipasang stek-stek yang akan ber-
fungsi sebagai shear connector.
PAPAN FORM WORK
PENULANGAN PLAT
PLAT LANTAI BETON
BALOK PRATEGANG
PRECAST
STEK
TIANG PERANCAH

Gambar 024
Pada gambar 025 diatas, formwork dan balok prategang precast disangga oleh tiang-tiang
perancah untuk pelaksanaan pengecoran plat lantai. Perancah dan formwork baru dibong-
kar setelah pelat beton cukup kuat untuk memikul beban.

59
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Pada kedua methode diatas perlakuan beban pada balok prategang precast sangat berbeda,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
Methode tanpa perancah :
1. Pada saat transfer gaya prategang : Konstruksi belum berlaku sebagai komposit
Beban yang harus dipikul balok : a. Berat sendiri balok ( g )
b. Gaya prategang awal ( P
i
)
2. Pada saat pengecoran plat sampai curing : Konstruksi belum berlaku sebagai komposit
Beban yang harus dipikul balok : a. Berat sendiri balok ( g )
b. Berat sendiri plat cor setempat ( g
c
)
c. Berat formwork ( g
fw
)
d. Gaya prategang efektif ( P
E
)
c. Beban-beban lain ( beban konstruksi ) yang di-
perkirakan terjadi pada saat pelaksanaan pe-
ngecoran ( g
k
).
3. Pada saat layan : Konstruksi berlaku sebagai komposit
Beban yang harus dipikul balok : a. Berat sendiri balok ( g )
b. Berat sendiri plat cor setempat ( g
c
)
c. Beban finishing seperti keramik ( gedung ), la-
pisan perkerasan asphalt ( untuk jembatan ).
d. Beban hidup ( g
L
).
Catatan :
Tegangan-tegangan yang diperhitungkan sebagai balok komposit hanya akibat :
Beban mati tambahan seperti finishing dan Beban Hidup
Methode dengan perancah :
1. Pada saat transfer gaya prategang : Konstruksi belum berlaku sebagai komposit
Tegangan yang terjadi akibat : a. Berat sendiri balok ( g ).
b. Gaya prategang awal ( P
i
).
2. Pada saat pengecoran plat sampai curing : Konstruksi belum berlaku segabai komposit
Karena disangga perancah praktis balok tidak memikul beban.
Sama seperti diatas, pada tahap 1 dan 2 konstruksi belum bersifat sebagai komposit.
3. Pada saat layan : Konstruksi bersifat komposit
Tegangan yang terjadi akibat : a. Berat sendiri balok ( g ).
b. Berat pelat beton ( g
c
).
c. Beban mati tambahan seperti finishing ( g
fs
)
d. Gaya prategang efektif ( P
E
).
e. Beban hidup ( g
L
).
Catatan :
Tegangan-tegangan yang diperhitungkan sebagai balok komposit adalah akibat :
Berat plat cor setempat, Beban mati tambahan ( finishing ) dan Beban Hidup.

60
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Pada saat bekerja sebagai balok komposit ( composite action ) lebar flens ( pelat ) efektif
dapat ditentukan sebagai berikut :
B B o o b Bo
BE BE
tf

Gambar 025
SNI 03 2847 2002
Balok Tengah : B
E
L }
B
E
B
o
} ambil yang terkecil
B
E
8 t
f
}
Balok Tepi : B
E

12
1
L }
B
E
B
o
+ b } ambil yang terkecil
B
E
6 t
f
}
Properti Penampang Komposite :
Balok prategang komposit diasumsikan elastis pada beban kerja, sehingga akibat momen
lentur distribusi regangannya linear sepanjang penampang. Karena disini ada 2 ( dua ) ma-
cam material yang berbeda yang disatukan yang mempunyai harga modulus elastisitas
yang berbeda, maka tegangan yang berbeda akan terjadi pada regangan yang sama. Untuk
mengatasi perbedaan ini, salah satu elemen ditransformasikan kedalam elemen fiktif yang
mempunyai harga modulus elastisitas yang sama.
Seperti gambar 026 diatas untuk balok tengah, pelat dengan tebal t
f
dan lebar B
E
ditransfor-
masikan menjadi penampang ekuivalen dengan tebal/tinggi t
f
dan lebar transformasi B
TR
,
dimana :
B
TR
= B
E

Balok
Pelat
E
E
= B
E
. n
c

Dimana : B
TR
: Lebar penampang transformasi.
B
E
: Lebar efektif
E
Pelat
: Modulus Elastisitas Pelat
E
Balok
: Modulus Elastisitas Balok
n
c
: Rasio modulus elastisitas pelat dan modulus elastisitas balok.



61
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 15
Suatu konstruksi jembatan komposit diatas 2 tumpuan ( simple beam ) dengan bentangan
L = 25 m, dan jarak antara balok induk B = 1,85 m seperti gambar dibawah .
TIANG SANDARAN
C
PONDASI SUMURAN
2 300 cm,
KEDALAMAN = 200 cm
L
BESI SANDARAN 3 ''
CL
1.850 1.850 1.850 1.850 1.150 1.150
7.000 1.000
0.150
1.000
0.150
6.250 6.250 0.300
PLAT BETON 20 cm
COR SETEMPAT
DIAFRAGMA
COR SETEMPAT
BALOK INDUK
PRATEGANG PRECAST
BETON
LAPISAN ASPAL
TEBAL RATA-RATA 7,5 cm
25.000
BALOK INDUK BETON
PRATEGANG PRECAST
PLAT BETON 20 cm
COR SETEMPAT
DIAFRAGMA
COR SETEMPAT
LAPISAN ASPAL
TEBAL RATA-RATA 7,5 cm
POTONGAN MEMANJANG
POTONGAN MELINTANG

Gambar 026
Mutu Beton : Balok Prategang Precast K 450
Pelat dan diafragma yang dicor setempat K 225
Baja Prategang : ASTM A 416 Grade 270
Kehilangan gaya prategang total 15 %
Pembebanan : RSNI T 02 2005 ( Standard Pembebanan untuk Jembatan ).
Rencanakan : Balok Jembatan tersebut dan tentukan posisi serta kabel prategangnya untuk
ditengah-tengah bentangan, jika pada saat pelaksanaan pengecoran pelat
lantai jembatan tidak dipergunakan perancah untuk penyokong (unpropped).
Penyelesaian :
Perhitungan modulus elastisitas beton :
Balok beton prategang precast : K 450 f
c
= 0,83 x 450 = 373,50 kg/cm
2

w
c
= 2.500 kg/m
3
( untuk beton prategang )
E
Balok
= 0,043 w
c
1,5
'
c
f MPa
E
Balok
= 0,043 2.500
1,5
35 , 37 = 32.849,12 MPa
E
Balok
= 328.491 kg/cm
2



62
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Pelat Beton cor setempat : K 225 f
c
= 0,83 x 225 = 186,75 kg/cm
2

W
c
= 2.400 kg/m
3
( untuk beton normal )
E
Pelat
= 0,043 w
c
1,5
'
c
f = 0,043 2.400
1,5
675 , 18
E
Pelat
= 21.848,20 MPa = 218.482 kg/cm
2

Ratio modulus elastisitas :
Balok
Pelat
c
E
E
n = =
491 . 328
482 . 218
= 0,665
Perhitungan Live Load :
Sesuai RSNI T 02 2005 beban hidup untuk balok jembatan ( Beban D ) seperti skesa
dibawah ini :
BEBAN MERATA
( BTR )
ARAH LALU LINTAS
p kN/m
q kPa
L
A
J
U
R
BEBAN GARIS ( BGT )

Gambar 027
Lebar lajur ditetapkan 2,75 m
1. Beban merata (BTR) :
Untuk bentangan L 30 m q = 9 kPa = 900 kg/m
2

Beban per m lebar jembatan q =
75 , 2
900
= 327,27 kg/m
Beban hidup merata per m panjang balok induk tengah
q
L
= 327,27 x B = 327,27 x 1,85 = 605,45 kg/m
2. Beban garis (BTG) :
Intensitas beban garis ditetapkan p = 4,9 kN/m = 4.900 kg/m
Beban titik untuk balok induk tengah : P
L
= B x p = 1,85 x 4.900 = 9.065 kg
Faktor Beban Dinamis ( FBD ) :
Sesuai pasal 6,6 RSNI T 02 2005 besarnya FBD untuk L 50 m adalah 40 %
Jadi momen total akibat beban hidup ditengah-tengah bentangan :
M
L
=
8
1
x q
L
x L
2
+ ( 1 + FBD ) x x P
L
x L
M
L
=
8
1
x 605,45 x 25
2
+ ( 1 + 0,40 ) x x 9.065 x 25 = 126.619,53 kgm



63
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Estimate Penampang :
7
.
5
35
1
5
17
65
1
2
.
5
2
2
.
5
1
2
5
1
0
5
1
2 2
3
4 4
5
y
b
t
y
grs. berat prefab.
Xp
Yp
Xp
Yp

Gambar 028
Perhitungan Properti Penampang Precast
Jarak titik berat Statis momen thd.
bagian ke serat bawah Serat bawah ( cm
3
)
1 262.50 121.25 31,828.125
2 67.50 115.00 7,762.500
3 1,785.00 65.00 116,025.000
4 240.00 15.83 3,799.200
5 812.50 6.25 5,078.125
Total 3,167.50 164,492.950
Luas ( cm
2
)
Bagian


50 , 167 . 3
950 , 492 . 164
=
b
y = 51,93 cm y
t
= 125 51,93 = 73,07 cm
Luas (cm
2
) Jarak ke pusat berat
A y ( cm )
1 1,230 262.50 69.32 1,261,381 1,262,611
2 211 67.50 63.07 268,503 268,714
3 1,639,969 1,785.00 13.07 304,922 1,944,891
4 1,333 240.00 36.10 312,770 314,103
5 10,579 812.50 45.68 1,695,413 1,705,992
I
xp
5,496,313
A . y
2
I = I
o
+ A y
2
Bagian I
o


64
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com



A
c
= 3.167,50 cm
2

80 , 840 . 105
93 , 51
313 . 496 . 5
= = =
b
xp
b
y
I
S cm
3
83 , 219 . 75
07 , 73
313 . 496 . 5
= = =
t
xp
t
y
I
S cm
3

Perhitungan Properti Penampang Komposit
Lebar pelat effektif sesuai SNI 03 2847 2002 untuk balok induk tengah :
B
E
L = x 25 = 6,25 m = 625 cm
B
E
B
o
= 1,85 m = 185 cm
B
E
8 t
f
= 8 x 20 = 160 cm
Diambil yang terkecil : B
E
= 160 cm
Untuk penampang transformasi : B
TR
= n
c
x B
E
= 0,665 x 160 = 106,4 cm.
65
1
2
5
grs. berat prefab.
BTR = 106,4
20
y
bc
tc
y
y
t
b
y
grs. berat komposit

Gambar 029

Luas Penampang Jarak kesisi bawah Statis momen
A ( cm
2
)
y ( cm )
A . y ( cm
3
)
Pelat 2,128.00 135.00 287,280.00
Balok 3,167.50 51.93 164,488.28
Total 5,295.50 451,768.28
Bagian

5 , 295 . 5
28 , 768 . 451
=
bc
y = 85,31 cm y
tc
= 125 85,31 = 39,69 cm
65
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Luas ( cm
2
)
Jarak ke pusat berat
I ( cm
4
)
Io
Ixc ( cm
4
)
A y ( cm )
A y
2
( cm
4
)
Io + I
Pelat 2,128.00 49.69 5,254,237 70,933 5,325,170
Balok 3,167.50 33.38 3,529,306 5,496,313 9,025,619
Total 5,295.50 Ixc 14,350,788
Bagian

31 , 85
788 . 350 . 14
= =
bc
xc
bc
y
I
S = 168.219 cm
3
= = =
69 , 39
788 . 350 . 14
tc
xc
tc
y
I
S 361.572 cm
3

Perhitungan Berat Sendiri pada saat layan :
Berat balok : 0,317 x 1,00 x 2.500 = 792 kg/m
Berat pelat : 1,85 x 0,20 x 1,00 x 2.400 = 888 kg/m
Berat aspal : 0,075 x 1,85 x 1,00 x 2.240 = 311 kg/m
g
D
= 1.991 kg/m
Dimensi diafragma ( diestimasi ) = 30 x 102,50 cm
Panjang diafragma : l = 1,85 0,17 = 1,68 m
Berat diafragma : P
D
= 0,30 x 1,025 x 1,68 x 2.400 = 1.239,84 kg
Perhitungan Momen akibat Berat Sendiri :
6.250 0.300 6.250 6.250 6.250
1
4 L /
1
8 L /
1
8 L /
0.006 L 0.006 L
0.300
L = 25.000
A
C
B
g
PD
D
PD PD PD PD
GARIS PENGARUH Mc

Gambar 030

M
D
= g
D
{ ( x L x L ) 2 x 0,30 x 0,006 L } + P
D
{ 2 x ( 1/8 L ) + L }
M
D
= 1.991 { ( x 25 x x 25 ) 2 x x 0,30 x 0,006 x 25 }
+ 1.239,84 { 2 x 1/8 x 25 + x 25 }
M
D
= 155.457,28 + 15.498 = 170.955,28 kgm
M
U
= M
D
+ M
L
= 170.955,28 + 126.619,53 = 297.574,81 kgm
Momen nominal penampang pada saat layan :

80 , 0
81 , 574 . 297
= =

U
n
M
M = 371.968,51 kgm
66
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Perkiraan Gaya Prategang :
Fbs
Fts
c.g.c
c.g.c
'
y
bc
y
tc
e
y
t
y
b
20
BTR
TEKAN
TARIK
Ap
DISTRIBUSI TEGANGAN PADA KONDISI LAYAN

Gambar 031
Sesuai dengan SNI 03 2847 2002 Tegangan yang di-ijinkan pada saat layan :
Tegangan tarik ijin pada serat bawah : F
bs
= '
c
f = 50 , 373 = 9,66 kg/cm
2

Tegangan tekan ijin pada serat atas : F
ts
= 0,60 f
c
= 0,60 x 373,50 = 224,10 kg/cm
2

Kita tetapkan e = 36 cm dari c.g.c
Pada saat komposite e
c
= y
bc
(y
b
e ) = 85,31 ( 51,93 36 ) = 69,38 cm
Tegangan tarik pada sisi bawah :
F
bs
=
A
P
E
+
bc
c E
S
xe P
-
bc
n
S
M

9,66 =
50 , 167 . 3
E
P
+
219 . 168
38 , 69 x P
E

219 . 168
851 . 196 . 37

9,66 = 0,00032 P
E
+ 0,00041 P
E
221,12
00041 , 0 00032 , 0
12 , 221 66 , 9
+
+
=
E
P = 316.137 kg
Tegangan tekan pada sisi atas :
F
ts
=
A
P
E

tc
E
S
x P 38 , 69
+
tc
n
S
M

224,12 =
50 , 167 . 3
E
P

572 . 361
38 , 69 x P
E
+
572 . 361
851 . 196 . 37

224,12 = 0,00032 P
E
0,00019 P
E
+ 102,88

00019 , 0 00032 , 0
88 , 102 12 , 224

=
E
P = 935.154 kg

67
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Diambil yang terkecil : P
E
316.137 kg
Gaya prategang awal : P
i
= 1,15 x 316.137 kg = 363.557 kg
Baja prategang dipakai Grade G 270 f
pu
= 1.860 MPa = 18.600 kg/cm
2

Sesuai SNI T -12 2004 ( Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan )
Prategang maksimum f
pmaks
= 0,74 x f
pu
= 0,74 x 18.600 = 13.764 kg/cm
2

Luas baja prategang yang diperlukan :
A
p-perlu
=
pmaks
i
f
P
=
764 . 13
557 . 363
= 26,41 cm
2

Dipasang 3 buah tendon, masing-masing berisi baja/kawat prategang 9 1/2
A
p
= 3 x 9 x 0,9871 = 26,65 cm
2

Gaya Prategang Awal Maksimum : P
i
= A
p
x f
pmaks
= 26,65 x 13.764 = 366.811 kg
Kontrol Tegangan pada saat Transfer
grs. berat prefab.
y
t
y
b
e
c.g.c
Fbi
Fti
TENDON
PRATEGANG
TEKAN
TARIK
DISTRIBUSI TEGANGAN SAAT TRANSFER

Gambar 032

Momen luar yang bekerja hanya akibat berat sendiri balok dengan tumpuan diujung-ujung
balok :
M
G
=
8
1
792 25,60
2
= 64.881,64 kgm
Tegangan tekan pada serat bawah :
f
bi
=
A
P
i
+
b
i
S
xe P

b
G
S
M
=
50 , 167 . 3
811 . 366
+
80 , 840 . 105
36 811 . 366 x

80 , 840 . 105
164 . 488 . 6

f
bi
= 115,80 + 124,76 61,30 = 179,26 kg/cm
2
0,60 x 373,50 = 224,10 kg/cm
2
OK
Tegangan tarik pada serat bagian atas :
f
ti
=
A
P
i

t
i
S
xe P
+
t
G
S
M
=
50 , 167 . 3
811 . 366

83 , 219 . 75
36 811 . 366 x
+
83 , 219 . 75
164 . 488 . 6

f
ti
= 115,80 175,55 +86,26 = 26,51 kg/cm
2
( tekan ) 224,10 kg/cm
2
OK

68
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Kontrol Tegangan Pada Saat Pekerjaan Pelar
Estimasi berat formwork :
6 x 12
2 x 6/12
6 x 12
6 x 12
2 x 6/12
PLAT TEBAL 3,5 cm
185.00
9
8
.
8
6
150.00
168.00
RANGKA FORMWORK SETIAP 0,50 M

Gambar 033
Berat volume kayu : = 750 kg/m
3

Berat setiap rangka : 2 x 0,06 x 0,12 x 1,50 x 750 = 16,20 kg
2 x 0,06 x 0,12 x 1,68 x 750 = 7,34 kg
2 x 0,06 x 0,12 x 1,00 x 750 = 10,80 kg
1 x 0,06 x 0,12 x 1,90 x 750 = 10,26 kg
Total . = 44,60 kg
Berat formwork per m panjang gelagar :
Rangka formwork : 2 x 44,60 = 89,20 kg/m
Papan : 0,035 x 1,50 x 1,00 x 750 = 39,38 kg/m
Total Formwork . = 128,58 kg/m
Dead Load : Berat balok prategang : 0,31675 x 1,00 x 2.500 = 791,87 kg/m
Berat pelat beton : 0,20 x 1,85 x 1,00 x 2.500 = 925,00 kg/m
Berat formwork . = 128,58 kg/m
q
D
= 1.845,45 kg/m
Live Load : Pada pelaksanaan pengecoran diperhitungkan 75 kg/m
2

Beban hidup per m balok q
L
= 1,85 x 75 = 138,75 kg/m
0.300
1
4 L /
0.006 L 0.006 L
0.300
L = 25.000
A
C
B
GARIS PENGARUH Mc
q
D
q
L

Gambar 034
69
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Momen akibat Dead Load :
M
D
= q
D
{ ( L x L ) ( 2 x x 0,30 x 0,006 L ) }
M
D
= 1.845,45 { ( 25 x 25 ) ( 2 x x 0,30 x 0,006 x 25 ) } = 144.092,74 kgm
Momen akibat Live Load :
M
L
= q
L
{ L x L } = 138,75 { 25 x 25 } = 10.839,84 kgm
Momen total : M
Total
= M
D
+ M
L
= 144.092,74 + 10.839,84 = 154.932,58 kgm
Pada saat pelaksanaan pekerjaan pelat di-estimate kehilangan gaya prategang sudah
mencapai 25 % dari total kehilangan gaya prategang.
Gaya Prategang : P
o
= ( 1 0,25 x 0,15 ) x P
i
= 0,9625 x 366.811 = 353.056 kg
Dalam tahap ini konstruksi belum sebagai balok komposit, sehingga :
Tegangan pada serat bawah :

b
Total
b
o o
b
S
M
S
xe P
A
P
f + = =
80 , 840 . 105
258 . 493 . 15
80 , 840 . 105
36 056 . 353
50 , 167 . 3
056 . 353
+
x

f
b
= 111,46 + 120,09 146,38 = 85,17 kg/cm
2
( Tekan ) 224,10 kg/cm
2
OK
Tegangan pada serat atas :

t
Total
t
o o
t
S
M
S
xe P
A
P
f + = =
83 , 219 . 75
258 . 493 . 15
83 , 219 . 75
36 056 . 353
50 , 167 . 3
056 . 353
+
x

f
t
= 111,46 168,97 +205,97 = 148,46 kg/cm
2
( Tekan ) 224,10 kg/cm
2
OK
Kontrol Tegangan pada Saat Layan
Fbs
Fts
c.g.c
c.g.c
'
y
bc
y
tc
e
y
t
y
b
20
BTR
TEKAN
TARIK
Ap
DISTRIBUSI TEGANGAN PADA KONDISI LAYAN

Gambar 035
P
E
= 0,85 x P
i
= 0,85 x 366.811 = 311.789 kg
Tegangan pada serat bawah :
bc
n
bc
c E E
bc
S
M
S
xe P
A
P
f + = =
219 . 168
851 . 196 . 37
219 . 168
38 , 69 789 . 311
50 , 167 . 3
789 . 311
+
x
= 5,9 kg/cm
2

tc
n
tc
c E E
tc
S
M
S
xe P
A
P
f + = =
572 . 361
851 . 196 . 37
572 . 361
38 , 69 789 . 311
50 , 167 . 3
789 . 311
+
x
= 141,48 kg/cm2
Ternyata kedua tekan dan 224,10 kg/cm
2
OK
70
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Perhitungan Kekuatan Batas ( Ultimate Design ) untuk Balok Komposit
Perhitungan kekuatan batas untuk balok komposit dapat dilakukan berdasarkan Code ACI
318 maupun SNI 02 2874 2002, dengan mengasumsikan bahwa pemindahan gaya ge-
ser horisontal dapat dilakukan dengan baik, sehingga seluruh penampang komposit dapat
diperhitungkan dengan teori kekuatan batas ( ultimate theory ).
Oleh SNI 02 2874 2002, persamaan yang dipergunakan untuk menghitung kekuatan
batas penampang komposit seperti persamaan ( 9.1 ) dihalaman 62, yaitu :
( )

+ = ' 1
'
1

p c
pu
p
p
pu ps
d
d
f
f
f f
Dimana : f
ps
: tegangan pada tendon saat penampang mencapai kuat nominalnya ( MPa )
f
pu
: kuat tarik tendon yang disyaratkan ( MPa )

p
: suatu faktor bila :
80 , 0
pu
py
f
f

p
= 0,55
85 , 0
pu
py
f
f

p
= 0,40
90 , 0
pu
py
f
f

p
= 0,28
f
py
: kuat leleh baja prategang ( MPa )

1
: suatu faktor yang besarnya :
untuk f
c
30 MPa
1
= 0,85
30 < f
c
< 55 MPa
1
= 0,85 0,008 ( f
c
- 30 )
f
c
55 MPa
1
= 0,65
f
c
: kuat tekan beton ( MPa ).
d : tinggi effekif penampang komposit ( jarak dari serat tekan terjauh dari ga-
ris netral komposit kepusat tulangan tarik non prategang ).
d
p
: jarak dari serat tekan terjauh kepusat tendon prategang.

p
: ratio penulangan pratekan :
p
=
p
ps
d b
A
.

A
ps
: luas penulangan baja prategang.
b : lebar effektif flens tekan.
=
'
.
c
y
f
f

d b
A
s
.
=
=
'
'.
c
y
f
f

d b
A
s
.
'
'
=
A
s
: luas penulangan tarik non prategang
A
s
: luas penulangan tekan non prategang
71
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 16
Suatu balok prategang komposite diatas dua tumpuan dengan bentangan L = 16,5 m dan
jarak antar balok B = 2,5 m, seperti sketsa dibawah ini.
2.500 2.500
300 300
1
5
0
6
0
0
1
5
0
1
5
0
1
2
5
9
0
0
300
TENDON
1
2
5
100
100

Gambar 038
Balok dari beton prategang pracetak dengan f
c
= 40 MPa, sedangkan plat lantai dicor se-
tempat dengan f
c
= 35 MPa. Tendon 14 12,7 mm dengan f
pu
= 1.720 MPa ditempatkan
12,5 cm dari sisi bawah balok pracetak ditengah-tengah bentangan.
Tentukan kekuatan lentur batas dari penampang tersebut.
Penyelesaian :
Luas penampang baja prategang : A
p
= 14 x 1,27
2
= 17,73 cm
2

Penentuan lebar efaktif plat lantai
B
E
L = x 16,5 = 4,125 m
B
E
B = 2,50 m
B
E
16 h
f
+ b
f
= 16 x 0,15 + 0,30 = 2,70 m
Diambil yang paling kecil : B
E
= 2,50 m
Mutu beton plat : f
c
= 35 MPa E
Plat
= 4.700 35 = 27.805,57 MPa
Mutu beton balok pracetak : f
c
= 40 Mpa E
Balok
= 4.700 40 = 29.725,41 MPa
n =
balok
plat
E
E
=
41 , 725 . 29
57 , 805 . 27
= 0,935
Lebar plat penampang transformasi : B
TR
= n x B
E
= 0,935 x 2,50 = 2,34 m
GRS. NETRAL
300
fps
0,85 fc
'
a
Ap
150
150
600
125
100
BTR = 2.340
150
PENAMPANG TRANFORMASI
C
T
Z

Gambar 039

1
= 0,85 0,008 ( f
c
30 ) = 0,85 0,008 ( 40 30 ) = 0,77


72
d
p
= ( 90 + 15 ) 12,5 = 92,5 cm

p
=
p TR
p
d B
A
.
=
5 , 92 234
73 , 17
x

p
= 0,00082
Karena penampang sudah di-
Transformasikan ke balok, maka
mutu beton semua disamakan de-
ngan mutu beton balok :
f
c
= 40 MPa > 30 MPa
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Sesuai dengan SNI T 12 2004 pasal 4.4.3.2.1, untuk semua strand dan tendon baja
f
py
= 0,85 f
pu

p
= 0,40
Tegangan tendon pada saat penampang mencapai kuat nominal :
( )

+ = ' 1
'
1

p c
pu
p
p
pu ps
d
d
f
f
f f
Karena baik penulangan tarik maupun penulangan tekan non prategang tidak diperhitung-
kan untuk memikul beban, maka :
= 0 dan = 0

)
`

=
40
1720
00082 , 0
77 , 0
40 , 0
1 1720
ps
f = 1.688,49 MPa
T = A
p
x f
ps
= 17,73 x 16.884,90 = 299.369,28 kg
Diasumsikan a < t
f
= 15 cm
C = 0,85 f
c
B
TR
a = 0,85 x 400 x 234 x a = 79.560 a kg
Dari keseimbangan gaya :
H = 0 C = T
79.560 a = 299.369,28
a =
560 . 79
28 , 369 . 299
= 3,76 cm < t
f
= 15 cm Asumsi sudah benar
Lengan momen : Z = d
p
a = 92,5 x 3,76 = 90,62 cm
Momen nominal penampang :
M
n
= T x Z = 299.369,28 x 90,62 = 27.128.844,15 kgcm = 271.288,44 kgm
Jadi kekuatan lentur batas dari penampang :
M
u
= . M
n
= 0,80 x 271.288,44 = 217.030,75 kgm














73
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Kuat Geser Balok Komposit
Agar terjalin kerjasama yang baik antara balok pracetak dan pelat lantai yang dicor setem-
pat dalam memikul beban, maka gaya geser horisontal antara kedua komponen tersebut ha-
rus ditahan oleh Shear connector
Telah diketahui didalam ilmu mekanika teknik, tegangan geser horisontal ( ) akibat gaya
geser V adalah :

b I
S V
.
.
=
Dimana : : gaya geser horisontal
V : gaya geser pada penampang yang ditinjau
S : statis momen penampang terhadap garis berat
I : momen inersia penampang
b : lebar bidang kontak
Sesuai dengan SNI 03 2874 2002
Besarnya tegangan geser horisontal ( ) diperhitungkan sebagai berikut :

d b
V
u
. .
=
Dimana : : gaya geser horisontal
V
u
: gaya geser terfaktor pada penampang yang ditinjau
: faktor reduksi kekuatan ( = 0,85 )
b : lebar bidang kontak
d : tinggi balok komposit efektif, diukur dari serat tertekan keluar sampai
kepusat penulangan tarik non prategang.
Kebutuhan tulangan geser dapat dihitung dengan persamaan :
A
v
=
u . .
y
u
f
V

Dimana : A
v
: luas penulangan geser yang diperlukan
: faktor reduksi kekuatan ( = 0,85 )
f
y
: tegangan leleh dari tulangan geser.
u : kosfisien geser, dimana besarnya :
Untuk beton yang dicor pada balok beton pracetak u = 0,10
Untuk beton yang dicor pada metal/baja sheet bergelombang u = 0,70







74
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 17
Jika pada contoh soal 16 ( halaman 72 ) dipergunakan besi ulir dengan tegangan leleh
j
y
= 390 MPa untuk shear connector ( tulangan geser horizontal ), maka rencanakan shear
connectornya.
Penyelesaian :
q
u
L = 16,5 m

Gambar 040
Dari perhitungan pada contoh soal 17 didapat momen maksimum yang dapat dipikul oleh
penampang : M
u
= 217.030,75 kgm.
M
u
=
8
1
q
u
L
2

Jadi beban merata ( termasuk berat sendiri ) yang dapat dipikul konstruksi adalah :

2 2
5 , 16
75 , 030 . 217 8 . 8 x
L
M
q
u
u
= = = 6.377,40 kg
Gaya geser maksimum : V
u
= q
u
L = x 6.377,40 x 16,5 = 52.613,55 kg
Sesuai dengan SNI 03 2874 2002
Tegangan geser horisontal :
d b
V
u
. .
=
Dimana : b = 10 cm, diambil tebal webnya karena tulangan geser ( shear connector)
ditanam sampai di webnya, jadi tidak hanya di flens balok.
d = ( 90 + 15 ) 5 = 100 cm, tinggi effektif balok komposit, dihitung da-
ri serat tertekan paling atas kepusat tulangan tarik non prate-
gang, disini jarak pusat tulangan tarik tsb. dari sisi bawah ba-
lok diperhitungkan 5 cm.
= =
100 10 85 , 0
55 , 613 . 52
x x
61,90 kg/cm
2

Untuk shear connector dicoba dengan D 13
A
s
= 2 x d
2
= 2 x 1,3
2
= 2,65 cm
2

Jarak shear connector :

90 , 61 10
65 , 2 900 . 3
.
x
x
bx
A f
s
s y
= =

= 16,69 cm diambil s = 15 cm
Jadi shear connector dipakai : D13 15




75
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Perencanaan Balok Komposit
Perencanaan balok komposit dapat dilakukan baik dengan pendekatan theori elastis mau-
pun dengan pendekatan theori kekuatan batas. Bila perencanaan dilakukan dengan pende-
katan theori elastis, maka untuk pengecekan kapasitas penampang sebaiknya dilakukan de-
ngan pendekatan theori kekuatan batas, demikian pula sebaliknya.
Design dengan pendekatan theori elastis.
c.g.c
fb
-
fa
e
y
a
y
b
BTR = n . BE
ka
b k
z
Pi
C
( A )
+ +
fa
fb
- a
C
Pe
zb
( B )
fb
+
' '
-
fa
'
( C )
Balok Pracetak
Plat cor ditempat
c.g.c
c.g.s
h
t

Gambar 041
Pada gambar 041 diatas suatu struktur komposit terdiri dari balok prategang pracetak dan
plat beton yang dicor ditempat. Pada umumnya mutu beton pracetak lebih tinggi dari mutu
plat beton yang dicor ditempat, sehingga disini ada 2 material dengan modulus elastisitas
yang berbeda bekerja sama dalam memikul beban.
Tahapan-tahapan analisa :
Gambar 041 A
Tahap ini pada saat transfer gaya prategang, jadi tegangan-tegangan yang timbul pada pe-
nampang diakibatkan oleh : Gaya prategang awal ( P
i
)
Momen akibat berat sendiri balok pracetak ( M
G
)
Tegangan Tekan pada sisi bawah balok Pracetak
f
b
=
b
G
b
i i
S
M
S
xe P
A
P
+

Tanda ( minus ) tekan dan + ( positip ) tarik


Tegangan Tarik pada sisi atas balok Pracetak
f
a
=
a
G
a
i i
S
M
S
xe P
A
P
+


Dimana : P
i
: gaya prategang awal
A : luas penampang bruto balok pracetak
e : eksentrisitas tendon terhadap pusat berat balok pracetak ( c.g.c )
S
a
: modulus penampang ( section modulus ) atas balok pracetak
S
b
: modulus penampang ( section modulus ) bawah balok pracetak
M
G
: momen akibat berat sendiri balok pracetak
S
a
=
a
y
I
dan S
b
=
b
y
I

I : momen inersia penampang balok pracetak


76
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com


Disini momen luar M
G
di-imbangi oleh internal momen kopel P
i
x z
a
atau C x z
a
. Selama
posisi C berada dibawah batas kern bawah k
b
, maka pada serat atas ( sisi atas ) balok
pracetak akan terjadi tegangan tarik. Jika posisi C tepat berada pada batas bawah kern k
b

tegangan tarik pada sisi atas = 0. Besarnya lengan kopel momen z
a
tergantung pada besar-
kecilnya M
G
. Tegangan tarik pada sisi atas balok pracetak diperbolehkan asal tidak
melampaui tegangan tarik yang di-ijinkan sesuai code atau peraturan yang dipergunakan
untuk perencanaan ( ACI atau SNI ).
Demikian pula untuk tegangan tekan pada sisi bawah balok pracetak f
b
tidak diperboleh-
kan melebihi tegangan tekan yang di-ijinkan.
Gambar 041 B
Tahap ini sesaat setelah transfer gaya prategang selesai, jadi pada tahap ini kehilangan gaya
prategang sudah harus diperhitungkan. Tegangan-tegangan yang timbul pada balok prace-
tak diakibatkan oleh : Gaya prategang efektif ( P
e
)
Momen akibat berat sendiri balok pracetak ( M
G
)
Tegangan Tekan pada sisi bawah balok Pracetak
f
b
=
b
G
b
e e
S
M
S
e P
A
P
+
.

Tegangan Tarik pada sisi atas balok Pracetak
f
a
=
a
G
a
e e
S
M
S
e P
A
P
+
.

Gambar 041 C
Tahap pekerjaan plat lantai yang dicor setempat. Disini pekerjaan plat diperhitungkan
tanpa perancah, jadi disini belum terjadi composite action.
Tegangan pada balok pracetak yang diakibatkan oleh momen akibat berat plat yang dicor
ditempat ( M
P
) adalah :
Tegangan Tarik pada sisi bawah balok Pracetak :
f
b
=
b
P
S
M

Tegangan Tekan pada sisi atas balok Pracetak :
f
a
=
a
P
S
M

Dimana : M
p
: momen akibat berat plat yang dicor ditempat.
Catatan :
Disini berat formwork tidak diperhitungkan karena tegangan-tegangan ini akan dijumlah-
kan dan dikontrol terhadap tegangan yang di-ijinkan secara total pada saat layan dimana
pada saat tersebut formwork sudah dibongkar. Tetapi bila berai formwork tersebut cukup
signifikan perlu dikontrol tersendiri pada saat setelah tahap pengecoran selesai apakah te-
gangan pada balok pracetak ada yang melebihi tegangan yang di-ijinkan.

77
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

c.g.c
fb
e
y
a
y
b
BTR = n . BE
ka
b k
Balok Pracetak
Plat cor ditempat
c.g.c'
'
'
-
+
fa
'
( D )
fa
'
f
'
-
-
+
fb
( E )
Pe
C
'
'
c.g.s
ze
'
0,85 fc
a
Cu
Pe
z
h
t
( F )
fps
'

Gambar 042
Gambar 042 D
Pada tahapan ini konstruksi sudah berfungsi sebagai struktur komposit. Tegangan tegang-
an yang timbul pada balok komposit akibat beban mati tambahan ( finishing dll ) dan beban
hidup adalah :
Tegangan Tarik pada serat bawah Balok Komposit :
f
b
=
'
b
S
S
M

Tegangan Tekan pada serat atas Balok Komposit :
f
a
=
'
a
S
S
M

Dimana : M
S
: momen pada balok komposit akibat beban mati tambahan ( finishing lantai,
plafond yang digantung dibawah lantai dll ) dan momen akibat beban hidup
maksimum.
S
a
: modulus penampang ( section modulus ) atas balok komposit.
S
b
: modulus penampang ( secion modulus ) bawah balok komposit.
S
a
=
'
a
c
y
I
dan S
b
=
'
b
c
y
I

I
c
: momen inersia penampang balok komposit
Catatan : Untuk pengecoran plat lantai dengan penyokong ( perancah ), maka tahap gam-
bar 041 C ditiadakan, dan langsung kegambar 042 D dengan M
S
adalah momen
akibat berat plat yang dicor setempat + beban mati tambahan ( finising dll ) +
beban hidup maksimum.
Gambar 042 E
Diagram tegangan disini merupakan resultante tegangan-tegangan pada gambar 041 B +
gambar 041 C + gambar 042 D, jadi :
Tegangan Tarik pada serat bawah balok komposit :
f
b
=
'
.
b
S
b
P
b
G
b
e e
S
M
S
M
S
M
S
e P
A
P
+ + +

( I )

78

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Tegangan Tekan pada serat atas balok Komposit
f
a
=
'
a
S
S
M
( II ) tegangan tekan pada permukaan atas plat
Tegangan Tekan pada serat atas balok Pracetak
f =
c
a S
a
P
a
G
a
e e
I
t y M
S
M
S
M
S
e P
A
P ) ' ( .
+ ( III )
Dari ketiga persamaan diatas I, II, III dikontrol agar tegangan yang terjadi f
b
, f
a
dan f
tidak melampaui tegangan yang di-ijinkan oleh code ( ACI dan SNI ) yang dipergunakan
dalam desain.
Untuk pengecoran plat yang menggunakan penyokong atau perancah, persamaan menjadi :
Tegangan Tarik pada serat bawah balok Pracetak
f
b
=
'
.
b
S
b
G
b
e e
S
M
S
M
S
e P
A
P
+ +

( A )
Tegangan Tekan pada serat atas balok Komposit
f
a
=
'
a
S
S
M
( B )
Tegangan Tekan pada serat atas balok Prategang
f =
c
a S
a
G
a
e e
I
t y M
S
M
S
e P
A
P ) ' ( .
+ ( C )
Dalam hal ini M
S
adalah momen yang diakibatkan oleh berat pelat lantai dengan finishing-
nya dan beban hidup diatas pelat lantai.
Sama seperti pada pengecoran yang tanpa perancah diatas, dari ketiga persamaan A, B dan
C dikontrol agar tegangan yang terjadi f
b
, f
a
dan f tidak melampaui tegangan yang di-
ijinkan oleh code ( ACI atau SNI ) yang dipergunakan dalam desain.
Gambar 042 F
Diagram tegangan dengan methode kekuatan batas untuk mengontrol kapasitas balok
dalam memikul momen.
Tegangan pada baja prategang saat balok mencapai kuat nominalnya ( f
ps
) dapat dihitung
dengan rumus ( 9.1 ) pada halaman 62 diatas. Dengan luas penampang baja prategang yang
dipasang ( A
p
) dapat dihitung :
P
e
= A
P
x f
ps

Diasumsikan a t dimana t = tebal plat yang dicor ditempat
Jadi : C = 0,85 f
c
B
TR
a
H = 0 C = P
e
a =
TR c
ps p
B f
f A
'. . 85 , 0
.

Bila : a t Asumsi betul Z = d
p
+ t a M
n
= P
e
x Z M
u
= M
n

Bila : a > t Asumsi salah, dihitung sebagai balok T murni (lihat contoh-contoh diatas)


79
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Contoh Soal 19
Suatu jembatan simple beam dengan bentangan L = 25 m, jarak antara balok induk
prategang pracetak B = 1,80 m. Plat lantai yang dicor ditempat tanpa perancah tebalnya
adalah t = 25 cm, sedangkan lapisan perkerasan aspal tebal rata-rata 7 cm, sketsa seperti
gambar dibawah ini.
1.80
h
0.25
BALOK PRACETAK
PLAT DICOR SETEMPAT
LAPISAN ASPHALT

Gambar 043
1. Rencanakan dengan pendekatan theori elastis balok pracetak tersebut, gaya prategang
yang diperlukan, ukuran baja prategangnya dan posisi tendon untuk ditengah-tengah
bentangan balok.
2. Bila untuk penulangan geser dipergunakan besi ulir dengan f
y
= 3.900 kg/cm
2
, rencana-
kan shear connectornya.
3. Kontrol kapasitas balok pracetak tsb. dengan pendekatan theori kekuatan batas.
Penyelesaian :
Estimasi penampang balok pracetak :
0.60
0.60
0
.
2
5
0
.
1
5
1
.
3
5
0.20
0
.
2
5
0
.
3
5
y
a
y
b
c.g.c
A
B
B
C
D
D
E
Luas penampang balok pracetak A = 4.700 cm
2
Gambar 044

y
b
=
00 , 700 . 4
00 , 250 . 300
= 63,88 cm dan y
a
= 135 63,88 = 71,12 cm



80

Mutu balok pracetak K 500 dengan berat
w
c
= 2.500 kg/m
3
.
Mutu plat yang dicor ditempat K 250 de-
ngan berat w
c
= 2.400 kg/m
3
.
Baja prategang dipergunakan :
ASTM A 416 Grade 270
f
pu
= 1.860 MPa
Kehilangan gaya prategang total 15 %
Luas ( cm
2
) Jarak kesisi bawah
Statis Momen
A y ( cm ) A x y
A 900.00 127.50 114,750.00
B 200.00 116.67 23,334.00
C 1,900.00 72.50 137,750.00
D 200.00 28.33 5,666.00
E 1,500.00 12.50 18,750.00
Jumlah 4,700.00 300,250.00
Bagian
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Luas ( cm
2
) Jarak ke c.g.c I ( cm
4
)
A y ( cm ) I
o
+ A . y
2
A 16,875.00 900.00 63.62 3,659,628.96
B 1,111.11 200.00 52.79 558,467.93
C 1,428,958.30 1,900.00 8.62 1,570,136.66
D 1,111.11 200.00 35.55 253,871.61
E 78,125.00 1,500.00 51.38 4,037,981.60
4,700.00 10,080,086.76
10,080,087.00
I
o
( cm
4
) Bagian
Jumlah

S
a
=
a
y
I
=
12 , 71
087 . 080 . 10
= 141.734 cm
3
S
b
=
88 , 63
087 . 080 . 10
=
b
y
I
= 157.797 cm
3

Perhitungan lebar efektive plat ( B
E
)
B
E
L = x 25 = 6,25 m }
B
E
B = 1,80 m } diambil B
E
= 1,80 m
B
E
16 t + b
f
= 16 x 0,25 + 0,60 = 4,60 m }
Plat K 250 f
c
= 0,83 x 250 = 207,5 kg/cm
2
= 20,75 MPa
E
pt
= 0,043 w
c
1,5
'
c
f = 0,043 ( 2.400 )
1,5
75 , 20 = 23.030 MPa
Balok K 500 f
c
= 0,83 x 500 = 415 kg/cm
2
= 41,50 MPa
E
blk
= 0,043 w
c
1,5
'
c
f = 0,043 ( 2.500 )
1,5
50 , 41 = 34.626 MPa
n =
blk
pt
E
E
=
626 . 34
030 . 23
= 0,665 B
tr
= n B
E
= 0,665 x 1,80 = 1,196 m 1,20 m
1
.
3
5
y
a
y
b
c.g.c
0
.
2
5
Btr = 1.20
y
a
'
c.g.c
'
y
b
'
BALOK PRACETAK
PLAT COR DITEMPAT

Gambar 045

y
b
=
00 , 700 . 7
00 , 736 . 742
= 96,46 cm y
a
= ( 135 + 25 ) 96,46 = 63,54 cm

81

Luas ( cm
2
) Jarak kesisi bawah
Momen
A y ( cm ) A . y
Plat 3,000.00 147.50 442,500.00
Balok 4,700.00 63.88 300,236.00
Jumlah 7,700.00 742,736.00
Bagian
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Luas ( cm
2
) Jarak ke c.g.c' I
c
= I
o
+ A y
2
A
y ( cm
2
)
( cm
4
)
Plat
156,250.00 3,000.00 51.04 7,971,494.80
Balok 10,080,086.76 4,700.00 32.58 15,068,931.84
7,700.00 23,040,426.64
23,040,427.00
I
o
( cm
4
) Bagian
Jumlah

S
a
=
'
a
c
y
I
=
54 , 63
427 . 040 . 23
= 362.613 cm
3
S
b
=
'
b
c
y
I
=
46 , 96
427 . 040 . 23
= 238.860 cm
3
Perhitungan Beban Mati ( Dead Load )
Berat sendiri ( self weight ) balok pracetak :
g
blk
= A x 1,00 x w
c
= 0,47 x 1,00 x 2.500 = 1.175 kg/m
M
G
=
8
1
g
blk
L
2
=
8
1
1.175 25
2
= 91.796,875 kgm = 9.179.687 kgcm
Berat plat lantai yang dicor ditempat :
g
pl
= t x B x 1,00 x w
c
= 0,25 x 1,80 x 1,00 x 2.400 = 1.080 kg/m
M
P
=
8
1
g
pl
L
2
=
8
1
1.080 25
2
= 84.375 kgm = 8.437.500 kgcm
Berat lapisan asphalt :
g
asp
= t x B x 1,00 x
aspal
= 0,07 x 1,80 x 1,00 x 2.240 = 282,24 kg/m
M
asp
=
8
1
g
asp
L
2
=
8
1
282,24 25
2
= 22.050 kgm
Perhitungan Beban Hidup ( Live Load )
a. Beban Merata
Untuk L 30 m q = 900 kg/m
2

Beban merata per m panjang balok pracetak : g
L
= 1,80 x 900 = 1.620 kg/m
b. Beban Garis
p = 4.900 kg/m lebar jembatan
Beban titik pada balok pracetak : P = 1,80 x 4.900 = 8.820 kg
Faktor beban dinamis ( FBD ) untuk L 50 m FBD = 40 %
Jadi : M
L
=
8
1
g
L
L
2
+ ( 1 + FBD ) x x P x L
M
L
=
8
1
1.620 25
2
+ ( 1 + 0,40 ) x x 8.820 x 25 = 203.737,50 kgm
M
S
= M
asp
+ M
L
= 22.050 + 203.737,50 = 225.787,50 kgm = 22.578.750 kgcm
Resume Momen akibat beban :
Akibat berat sendiri balok pracetak : M
G
= 9.179.687 kgcm
Akibat plat cor ditempat : M
P
= 8.437.500 kgcm
Akibat beban pada plat : M
S
= 22.578.750 kgcm
Dari ketiga beban ini, karena pengecoran plat tanpa perancah, maka aksi komposit baru
terjadi pada M
S
.


82

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com
1
.
3
5
y
a
y
b
c.g.c
0
.
2
5
Btr =1.20
y
a
'
c.g.c
'
y
b
'
BALOK PRACETAK
PLAT COR DITEMPAT
do
e
Ap
25
35
20
60

Gambar 046
1. Tegangan Tarik Total pada serat bawah balok pracetak :
f
b
=
'
.
b
S
b
P
b
G
b
E E
S
M
S
M
S
M
S
e P
A
P
+ + + F
ts

Sesuai dengan SNI 03 2847 2002 tegangan tarik yang di-ijinkan pada saat service
atau layan : F
ts
= '
c
f =
2
1
50 , 41 = 3,22 1 MPa = 32,21 kg/cm
2

860 . 238
750 . 578 . 22
797 . 157
500 . 437 . 8
797 . 157
687 . 179 . 9
797 . 157
88 , 48 .
700 . 4
+ + +
E E
P P
= 32,21
0,000213 P
E
0,000310 P
E
+ 58,17 + 53,47 + 94,53 = 32,21
0,000523 P
E
= 58,17 + 53,47 + 94,53 32,21
P
E
=
000523 , 0
21 , 32 53 , 94 47 , 53 17 , 58 + +
= 332.619,50 kg
Tegangan Tekan Total pada serat atas balok pracetak :
f
a
=
( )
c
a S
a
P
a
G
a
E E
I
t y M
S
M
S
M
S
e P
A
P
+
' . .

f
a
=
784 . 141
500 . 437 . 8
784 . 141
687 . 179 . 9
784 . 141
88 , 48 50 , 619 . 332
700 . 4
50 , 619 . 332
+
x


( )
427 . 040 . 23
00 , 25 54 , 63 750 . 578 . 22

x

f
a
= 70,77 + 114,67 64,74 59,51 37,77 = 118,12 kg/cm
2
( tekan )
Sesuai SNI 03 2847 2002 tegangan tekan ijin pada saat service adalah :
F
cs
= 0,60 x f
c
= 0,60 x 415 = 249 kg/cm
2

f
a
= 118,12 kg/cm
2
< F
cs
= 249 kg/cm
2
OK
83

Dicoba untuk ditengah-tengah bentangan
posisi tendon d
o
= 15 cm dari sisi bawah
balok pracetak.
Jadi eksentrisitas :
e = y
b
d
o
= 63,88 15 = 48,88 cm
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Kontrol tegangan tekan pada sisi atas plat :
f
a
=
'
a
S
S
M
=
613 . 362
750 . 578 . 22
= 62,27 kg/cm
2
F
cs
= 249 kg/cm
2
OK
Kehingan gaya prategang total 15 %
P
i
= 1,15 x P
E
= 1,15 x 332.619,50 = 382.512,42 kg
f
py
= 0,85 x f
pu
= 0,85 x 1.860 = 1.581 MPa = 15.810 kg/cm
2

A
p-perlu
=
810 . 15
42 , 512 . 382
=
py
i
f
P
= 24,19 cm
2
Dipakai kawat 1,25 cm A
p-tunggal
= 1,25
2
= 1,227 cm
2

Jadi diperlukan : n
p
=
tunggal p
perlu p
A
A

=
227 , 1
19 , 24
= 19,71 20 buah
Dipasang 2 tendon @ berisi 10 1,25
Gaya prategang awal maksimum yang dapat diberikan :
P
i-mak
= f
py
x A
p-terpasang
= 15.810 x 20 x 1,227 = 387.977 kg
Tegangan Tarik pada sisi atas balok pracetak pada saat transfer
f
a
=
a
G
a
mak i mak i
S
M
S
xe P
A
P
+


=
784 . 141
687 . 179 . 9
784 . 141
88 , 48 977 . 387
700 . 4
977 . 387
+
x

= 82,55 + 133,75 64,74 = 13,54 kg/cm
2
( tekan )
Jadi tidak terjadi tarikan disisi atas, dan tegangan tekan yang terjadi F
ci
OK
Dimana : F
ci
= tegangan tekan ijin pada saat transfer = 0,60 x 415 = 249 kg/cm
2

Tegangan Tekan pada sisi bawah balok pracetak pada saat transfer
f
b
=
b
G
b
mak i mak i
S
M
S
xe P
A
P
+


=
797 . 157
687 . 179 . 9
797 . 157
88 , 48 977 . 387
700 . 4
977 . 387
+
x

= 82,55 120,18 + 58,17 = 144,56 kg/cm
2
( tekan ) < F
ci
= 249 kg/cm
2
, OK
Kesimpulan : Design penampang, Gaya Prategang dan Baja Prategang telah OK
2. Perencanaan Shear Connector

L = 25 m
PL
1,00
q
T
A B
Grs. Pengaruh Reaksi A

84
q
T
= g
blk
+ g
pl
+ g
asp
+ g
L

q
T
= 1.175 + 1.080 + 282,24 + 1.620
q
T
= 4.157,24 kg/m
P
L
= 8.820 kg
Faktor Beban Dinamis ( FBD ) = 40 %
Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

Gaya geser maksimum :
V
u
= x 1,00 x L x q
T
+ ( 1 + FBD ) x P
L

V
u
= x 1,00 x 25 x 4.157,24 + ( 1 + 0,40 ) x 8.820 = 64.313,50 kg
Sesuai dengan SNI 03 2874 2002
Tegangan geser horisontal :
d b
V
u
. .
=
Dimana : b = 20 cm, diambil tebalnya web, karena shear connector-nya ditanam
di-webnya
d = tinggi effektif balok komposit, dihitung dari serat tertekan paling
atas kepusat tulangan tarik non prategang.
Jarak pusat tulangan tarik non prategang dari sisi bawah balok pra-
cetak 7,5 cm.
d = 135 + 25 7,5 = 152,50 cm
faktor reduksi untuk geser 0,85
=
5 , 152 20 85 , 0
50 , 313 . 64
. . x x d b
V
u
=

= 24,81 kg/cm
2

Untuk shear connector dicoba dengan D 13
A
s
= 2 x d
2
= 2 x 1,3
2
= 2,65 cm
2

Jarak shear connector :

81 , 24 20
65 , 2 900 . 3
.
x
x
bx
A f
s
s y
= =

= 20,82 cm diambil s = 20 cm
Jadi shear connector dipakai : 2 D13 20
1
.
3
5
y
a
y
b
c.g.c
0
.
2
5
Btr = 1.20
y
a
'
c.g.c
'
y
b
'
BALOK PRACETAK
PLAT COR DITEMPAT
e
25
35
20
60
15
2 Tendon @ 10 12.5
2 13 - 20
0,85 fc
'
fps
T
C
Z
a
t
TEGANGAN THEORI KEKUATAN BATAS

Gambar 047


85

Konstruksi Beton Pratekan
Ir. Soetoyo
online_sty@yahoo.com

3. Kontrol Kapasitas Penampang
Kapasitas penampang dikontrol dengan pendekatan theori kekuatan batas
Tegangan tendon pada saat penampang mencapai kekuatan nominal, dapat dihitung
dengan rumus dari SNI 03 2874 - 2002
( )

+ = ' 1
'
1

p c
pu
p
p
pu ps
d
d
f
f
f f
Untuk : f
py
= 0,85 f
pu

p
= 0,40
f
c
= 415 kg/cm
2
= 41,50 MPa 30 MPa

1
= 0,85 0,008 ( f
c
- 30 ) = 0,85 0,008 ( 41,50 30 ) = 0,758

p
=
p TR
p
d B
A
.
A
p
= A
p-terpasang
= 20 x 1,227 = 24,54 cm
2

d
p
= 135 + 25 15 = 145 cm

p
=
145 120
54 , 24
x
= 0,001394
Karena baik penulangan tarik maupun penulangan tekan non prategang tidak diperhi-
tungkan untuk memikul beban, maka : = 0 dan = 0
f
ps
=

)
`

50 , 41
860 . 1
001394 , 0
758 , 0
40 , 0
1 860 . 1 = 1.798,66 MPa = 17.987 kg/cm
2

T = A
p
x f
ps
= 24,54 x 17.987 = 441.401 kg
Di-asumsikan a t = 25 cm C = 0,85 f
c
B
tr
a = 0,85 x 415 x 120 a
H = 0 C = T
0,85 x 415 x 120 a = 441.401
a =
120 415 85 , 0
401 . 441
x x
= 10,43 cm < t = 25 cm OK
Lengan momen Z = 135 + 25 15 x 10,43 = 139,8 cm = 1,398 m
M
n
= T x z = 441.401 x 1,398 = 617.078 kgm
Momen maksimum yang dapat dipikul penampang :
M
u
= M
n
= 0,80 x 617.078 = 493.662 kgm
Aktual momen yang harus dipikul :
M
aktual
= M
G
+ M
P
+ M
S

M
aktual
= 91.796,87 + 84.375 + 225.787,50 = 401.959,37 kgm < M
u
OK



86