Anda di halaman 1dari 12

PENILAIAN STATUS KOGNITIF PADA LANJUT USIA P.

Purnomo Agung

Pendahuluan Pada beberapa dekade terakhir, kemajuan ilmu kedokteran sangat berpengaruh pada perawatan kesehatan dan akan mempengaruhi pertumbuhan populasi lanjut usia. Di Indonesia, jumlah jiwa anggota keluarga umur 60 tahun ke atas, secara nasional tahun 2009 diperkirakan sebanyak 15.504.089 jiwa atau 6,8% dari seluruh jiwa dalam keluarga (BKKBN,2009). Menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia, persentase jumlah penduduk berusia lanjut pada tahun 1985 adalah 3,4% dari total penduduk dan pada tahun 2000 mencapai 7,4%. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa peningkatan warga berusia lanjut di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu 414% hanya dalam waktu 35 tahun (1990-2025), sedangkan tahun 2020 mencapai 25,5 juta jiwa (Soejono,2006). Akibat populasi usia lanjut yang meningkat maka akan terjadi transisi epidemiologi yaitu bergesernya pola penyakit dari penyakit infeksi dan gangguan gizi menjadi penyakit-penyakit degeneratif, diabetes, hipertensi, neoplasma, dan penyakit jantung koroner. Konsekuensi dari peningkatan warga usia lanjut adalah meningkatnya jumlah pasien geriatri dengan kerakteristiknya yang berbeda dengan warga usia lanjut atau dewasa muda. Karakteristik pasien geriatrik adalah multipatologi, menurunnya daya cadangan faali, berubahnya gejala dan tanda penyakit dari yang klasik, terganggunya status fungsional pasien geriatri, dan kerap terdapat gangguan nutrisi, gizi kurang atau buruk (Soejono,2006). Jika karena sesuatu hal pasien geriatri mengalami kondisi akut seperti infeksi, maka seringkali akan timbul gangguan fungsi kognitif, depresi, imobilisasi, instabilisasi, dan inkontinensia (atau lazim disebut sebagai geriatric giants). Keadaan akan semakin rumit jika secara psikososial terdapat hendaya seperti neglected atau miskin (finansial). Sehingga pendekatan untuk pasien geriatri harus bersifat holistik dan paripurna, yaitu bio-psiko-sosial, juga dari sisi kuratif, reehabilitatif , preventif, dan promotif (Soejono,2006). Pendekatan klinis yang lazim dikerjakan seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang ditambah pengkajian untuk mendeteksi gangguan yang terutama sering terdapat pada usia lanjut yaitu fungsi kognitif dan afek, mobilitas, gait, keseimbangan, kontinens, nutrisi, penglihatan dan pendengaran. Pengkajian status fungsional untuk mengatasi hendaya menjadi penting karena sering hal ini yang menjadi skala prioritas penyelesaian masalah (Supartondo,2001). Penilaian status kognitif Definisi kognisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan atau proses Tinjauan Kepustakaan Departemen-SMF Ilmu Penyakit Dalam,

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSU dr. Soetomo, Surabaya 2010

memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri atau hasil pemerolehan pengetahuan. Gangguan kognitif pada penderita dewasa dihubungkan dengan penurunan fungsi aktifitas sehari-hari, peningkatan risiko cedera sendiri, adanya kebutuhan terhadap orang yang merawat, dan meningkatkan risiko mortalitas (Weisskopf,2004). Sebagai pengguna utama layanan kesehatan primer, para lanjut usia harus dinilai aspek kognitifnya terutama terkait dengan kemampuan menjalankan tugas sehari-hari. Dokter sering membuat prediksi yang salah terhadap fungsi kognitif pasien berdasarkan evaluasi non kognitif saja. Penilaian kognitif merupakan kemampuan klinis dan dapat untuk mendiagnosis kelainan berpikir, yang membuat estimasi kelainan fungsional lebih akurat. Penilaian kognisi dapat memprediksi mortalitas selama perawatan di rumah sakit. Penilaian kognitif digunakan untuk skrining kelainan kognitif, diagnosis banding faktor penyebab, dan derajat beratnya kelainan, atau monitoring laju penyakit (Brown,2003). Faal kognitif yang paling sering terganggu pada pasien geriatri yang dirawat inap antara lain memori segera dan jangka pendek, persepsi, proses pikir dan fungsi eksekutif. Gangguan tersebut dapat menyulitkan dokter dalam pengambilan data anamnesis, demikian pula dalam pengobatan dan tindak lanjut adanya gangguan tetntu akan mempengaruhi kepatuhan dan kemampuan pasien untuk melaksanakan program yang telah direncakan. Gangguan faal kognitif bisa timbul mulai derajat yang ringan sampai yang berat. Hal tersebut memerlukan pendekatan diagnosis dan terapi tersendiri. Berbagai instrumen untuk mendiagnosis telah dikembangkan dengan variasi yang luas. Variasi tersebut mulai dari instrumen yang singkat dan dapat dikerjakan <1 menit sampai penilaian neuropsikologi yang membutuhkan beberapa jam. Pemilihan instrumen yang akan digunakan tergantung pada waktu yang tersedia dan tujuan diagnosis. Untuk mengevaluasi gangguan kognitif dapat digunakan sistem skor menurut Abbreviated Mental Test (AMT) yang memuat sepuluh pertanyaan dan dapat digunakan sebagai penapis. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci dapat digunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Evaluasi depresi mengacu kepada Diagnostic and Statistical Manual, third edition, Revised (DSM-III-R), untuk penapisan dapat digunakan Back Depression Inventory (BDI) (Supartondo,2001). . Makalah ini berisi teknik yang digunakan untuk mengevaluasi kognisi, terutama menggunakan the Mini Mental State Examination (MMSE), dan the Abbreviated Mental Test (AMT) yang biasa digunakan dalam penilaian fungsi kognisi pada pengkajian paripurna pasien lanjut usia. The Mini Mental State Examination (MMSE) Di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris, psikogeriatris menggunakan the Mini Mental State Examination (MMSE) sebagai instrumen untuk menilai kognitif pasien. Tes ini meski paling sering digunakan, memiliki kelemahan pada waktu yang dibutuhkan untuk tes tersebut. MMSE

menggunakan instrumen penilaian 30 poin. Instrumen ini pertama dikembangkan sebagai skrining kelainan kognitif untuk membedakan antara kelainan organik dan non organik (misalnya schizophrenia). Pada saat ini, MMSE merupakan metode untuk skrining dan monitoring perkembangan demensia dan delirium. MMSE berkorelasi baik dengan skor tes skrining kognitif yang lain. Waktu yang dibutuhkan rata-rata 8 menit dengan rentang 4-21 menit. Skor pada MMSE bisa bias karena pengaruh tingkat pendidikan, perbedaan bahasa, dan hambatan budaya. Pasien dengan tingkat pendidikan lebih rendah dapat keliru diklasifikasikan sebagai gila, dan pada pasien dengan tingkat pendidikan tinggi bisa tidak terdeteksi. Skor MMSE umumnya menurun dengan bertambahnya usia. Beberapa penulis menyarankan untuk menurunkan batas pada usia lanjut, yaitu <20 untuk indikasi adanya kelainan. Meskipun rata-rata skor yang rendah pada usia lanjut dapat disebabkan tingginya prevalensi demensia pada kelompok ini (Tangalos,1996; Parker,2004). Skor 30 tidak selalu berarti fungsi kognitif normal dan skor nol bukan berarti tidak ada kognisi secara absolut. Tes ini tidak punya kapasitas mencukupi untuk tes fungsi frontal/ eksekutif atau fungsi visuospasial (khususnya parietal kanan). Tugas segilima pada MMSE memerintahkan pasien menirukan gambar dan tidak menilai kemampuan merencanakan. Sebagai akibatnya tes ini mempunyai keterbatasan untuk mendeteksi demensia non Alzheimer, seperti kelainan kognitif pasca stroke, dan demensia frontotemporal atau subkortikal pada fase awal (Tangalos,1996). Untuk mengurangi bias atau kelemahan MMSE, dikembangkan beberapa tes lain seperti Standardized Mini-Mental State Examination (SMMSE) diperkenalkan sebagai upaya menurunkan variasi skor inter rater (Parker,2004). The Abbreviated Mental Test (AMT), Mini-Cog (dapat dikerjakan dalam 3 menit) dan Six-Item Screener (SIS) (mempunyai 6 pertanyaan) sehingga lebih memungkinkan penggunaan tes ini secara rutin pada pasien usia lanjut di rumah sakit yang sibuk atau di UGD. Clock Drawing Test (CDT) mempunyai keuntungan relatif terhindar dari bias karena faktor tingkat intelektual, bahasa, dan budaya. The General Practitioner Assessment of Cognition (GPCOG) digunakan untuk menguji memori kejadian yang baru terjadi dan orientasi. Six-Item Cognitive Impairment Test (6CIT) menggunakan beban skor yang berbeda pada masingmasing item (Holmes,1996; Tangalos,1996; Swain,1999).

Nama Responden Umur Responden Pendidikan Nilai Maksimum 5 5

: Nama Pewawancara : : Tanggal Wawancara : : Jam mulai : MINI MENTAL STATE EXAMINATION (MMSE)

Nilai Responden ORIENTASI Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) berapa dan musim apa? Sekarang kita berada di mana? (Nama rumah sakit atau instansi) (Instansi, jalan, nomor rumah, kota, kabupaten, propinsi) REGISTRASI Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda, misalnya: (bola, kursi, sepatu). Satu detik untuk tiap benda. Kemudian mintalah responden mengulang ketiga nama benda tersebut. Berilah nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar, bila masih salah ulangi penyebutan ketiga nama tersebut sampai responden dapat mengatakannya dengan benar: Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah : ______ kali ATENSI DAN KALKULASI

Hitunglah berturut-turut selang 7 angka mulai dari 100 ke bawah. Berhenti setelah 5 kali hitungan (93-86-79-72-65). Kemungkinan lain ejaan kata dengan lima huruf, misalnya 'DUNIA' dari akhir ke awal/ dari kanan ke kiri :'AINUD' Satu (1) nilai untuk setiap jawaban benar. MENGINGAT Tanyakan kembali nama ketiga benda yang telah disebut di atas. Berikan nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar BAHASA a. Apakah nama benda ini? Perlihatkan pensil dan arloji (2 nilai) b. Ulangi kalimat berikut :"JIKA TIDAK, DAN ATAU TAPI" (1 nilai) c. Laksanakan 3 perintah ini : Peganglah selembar kertas dengan tangan kananmu, lipatlah kertas itu pada pertengahan dan letakkan di lantai (3 nilai) d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut "PEJAMKAN MATA ANDA" (1 nilai) e. Tulislah sebuah kalimat ! (1 nilai) f. Tirulah gambar ini ! (1 nilai)

Jam selesai Tempat wawancara

: :

Gambar 1. Mini Mental State Examination (MMSE) (Setiati,2007).

Teknik pemakaian dan penilaian MMSE MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai pertanyaan. Daftar pertanyaan terdapat pada gambar 1. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut (Folstein, 1975; Setiati,2007): Penilaian Orientasi (10 poin) Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan dapat lebih spesifik jika ada bagian yang lupa (misalnya :Dapatkah anda juga memberitahukan sekarang musim apa?). Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian diganti dengan ,Dapatkah anda menyebutkan nama rumah sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?. Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin). Penilaian Registrasi (3 poin). Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan dengan jelas dan lambat. Setelah itu pasien diperintahkan untuk mengulanginya. Jumlah benda yang dapat disebutkan pasien pada kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien tidak dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama, lanjutkan dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang semuanya, sampai 6 kali percobaan. Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien untuk mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi ketiga kata tersebut, berarti pemeriksa harus menguji ingatan pasien tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa memberitahukan kepada pasien agar mengingat ketiga kata tersebut, karena akan ditanyakan sebentar lagi. Perhatian dan kalkulasi (5poin) Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan selisih 7. hentikan setelah 5 angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika pasien tidak dapat atau tidak dapat mengerjakan tugas tersebut, maka dapat digantikan dengan mengeja kata DUNIA dari belakang. Cara menilainya adalah menghitung kata yang benar. Contohnya jika menjawab AINUD maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab AINDU diberi nilai 3. Ingatan (3poin) Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya kepada pasien dan disuruh mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang benar. Bahasa dan praktek (9 poin) Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan menggunakan pensil. Skor 1 poin setiap nama benda yang benar (0-2).

Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta untuk mengulangi sebuah kalimat yang diucapkan oleh penguji pada hanya sekali kesempatan. Skor 0 atau 1. Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan diperintahkan, Taruh kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di lantai. Skor 1 poin diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3). Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan Tutup mata anda (hurufnya harus cukup besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan melakukan apa yang tertulis. Skor 1 diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan. Tes ini bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien dengan mengatakan silakan melakukan apa yang tertulis setelah pasien membaca kalimat tersebut. Menulis : Pasien diberikan kertas kosong dan diminta menuliskan suatu kalimat. Jangan mendikte kalimat tersebut, biarkan pasien menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus mengandung subjek, kata kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan tanda baca dapat diabaikan. Menirukan : pasien ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta untuk menggambarnya semirip mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut yang berpotongan unruk mendapatkan skor 1 poin. Tremor dan rotasi dapat diabaikan.

Interpretasi penilaian MMSE Setelah dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil akhir. Hasil yang didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis. Ada beberapa interpretasi yang bisa digunakan. Metode yang pertama hanya menggunakan single cutoff, yaitu abnormalitas fungsi kognitif jika skor <24. metode lain menggunakan range. Jika skor <21 kemungkinan demensia akan meningkat, sedangkan jika skor >25 kecil kemungkinan demensia. Interpretasi lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan pasien. Pada pasien dengan tingkat pendidikan rendah (di bawah SMP) ambang batas abnormal diturunkan menjadi 21, pada tingkat pendidikan setingkat SMA abnormal jika skor <23, pada tingkat perguruan tinggi skor abnormal jika <24. Berat ringannya gangguan kognitif dapat diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30 menunjukkan tidak didapatkan kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan kognitif ringan. Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat (Folstein, 1975).

Tabel 1. Interpretasi MMSE (Folstein, 1975). Metode Single Cutoff Range Pendidikan Keparahan Skor <24 <21 >25 21 <23 <24 24-30 18-23 0-17 Interpretasi Abnormal Kemungkinan demesia lebih besar Kemungkinan demesia lebih kecil Abnormal pada tingkat pendidikan kelas 2 SMP Abnormal pada tingkat pendidikan SMA Abnormal pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi Tidak ada kelainan kognitif Kelainan kognitif ringan Kelainan kognitif berat

Abbreviated Mental Test Score (AMT) Perkiraan penggunaan waktu pelaksanaan harus diperhatikan, karena waktu penilaian lebih panjang pada penderita dengan kelainan kognitif daripada yang tidak. Oleh sebab itu, dikembangkan beberapa instrumen untuk menilai fungsi kognitif pada penderita lanjut usia dengan waktu yang lebih pendek daripada MMSE. Salah satu instrumen yang dikembangkan adalah Abbreviated Mental Test Score (AMT) (MacKenzie,1996; Tangalos,1996). AMT mempunyai sensitifitas dan spesivisitas yang lebih rendah dalam mendeteksi adanya kelainan kognitif daripada MMSE. AMT tampaknya kurang menyenangkan, meskipun lebih mudah dan cepat untuk digunakan. (Tombaugh,1992; MacKenzie,1996). Interpretasi skor pada AMT adalah jika skor AMT <6 menunjukkan adanya demensia. The Abbreviated Mental Test (AMT) lebih singkat, terdiri dari 10 soal yang digunakan untuk skrining kelainan. Tes ini terdiri dari 10 pertanyaan yang diseleksi berdasarkan nilai diskriminatif dari Mental Test Score yang lebih panjang. AMT termasuk komponen-komponen yang mengikuti memori baru dan lama, atensi, dan orientasi. Skor <8 merupakan batas yang menunjukkan defisit kognitif yang bermakna. Tes ini menunjukkan secara cepat penilaian beratnya penyakit dibandingkan tes yang lebih panjang. Tes ini mampu mendeteksi perubahan kognisi yang berhubungan dengan perkembangan pasca operatif pada delirium. Pada pasien usia lanjut, tes ini dapat dikerjakan dalam 3 menit. Terdapat versi 4 pertanyaan AMT (AMT4), dengan pertanyaan tentang umur, tanggal lahir, tempat, dan tahun saja. Tes ini lebih cepat, lebih mudah digunakan, dan lebih mudah diingat oleh pemeriksa. Sehingga lebih meningkatkan kemungkinan penggunaan tes ini secara rutin pada pasien usia lanjut di rumah sakit yang sibuk atau di UGD.

SETIAP JAWABAN BENAR MENDAPAT SKOR SATU POIN 1. Umur 2. Waktu (jam) 3. Alamat lengkap (pertanyaan diulang saat akhir wawancara) 4. Tahun 5. Nama rumah sakit, institusi atau alamat rumah (tergantung tempat wawancara) 6. Mengenal 2 orang (misalnya dokter, perawat, istri, dll) 7. Tanggal lahir 8. Tahun Perang Dunia I mulai 9. Nama raja sekarang 10. Menghitung mundur dari 20 ke 1 Total skor SKOR KURANG DARI 6 MENUNJUKKAN ADANYA DEMENSIA

Gambar 2. Daftar pertanyaan pada AMT

MMSE versi yang diperluas Keterbatasan pada penilaian kognitif pada MMSE, membuat beberapa peneliti membuatnya lebih lengkap. Beberapa peneliti menganjurkan untuk mengkombinasikan dengan CDT dan MMSE untuk skrining demensia yang ditunjukkan dengan instrumen berikut. Addenbrookes Cognitive Examination (ACE). ACE mempunyai skala 100 poin yang awalnya dikembangkan untuk membedakan AD dan frontotemporal dementia (FTD). Instrumen ini mempunyai komponen lebih detil untuk memeriksa memori dan fungsi frontal/ eksekutif. Tes ini menggunakan rangkaian gambar. Skor <87 merupakan indikasi adanya kelainan yang bermakna. Skor yang rendah pada individu yang tidak mempunyai tanda klinis demensia merupakan prediksi perkembangan demensia di masa depan. ACE dilaporkan mempunyai kemampuan yang lebih baik daripada MMSE untuk mendeteksi sindroma subkortikal demensia. Meskipun begitu, kemampuan tes ini membedakan AD dan FTD masih diragukan (Rothlind,1993). Modified Mini Mental Status Examination (3MS) 3MS merupakan pengembangan MMSE, dengan penambahan kelancaran verbal, dan pengujian memori, yang membuat skor tidak 100. tes ini mempunyai sensitivitas 88% dan spesifisitas 90% untuk mendeteksi demensia pada sampel dengan umur > 65 tahun, dan menggunakan batas <78. Pada sampel yang lebih besar, 3MS mempunyai sensitivitas 86% dan spesifisitas 87% saat dibandingkan dengan MMSE (86% dan 77%) (Tombaugh,1992). Cognitive Abilities Screening Instrument (CASI) Pada CASI terdapat pertanyaan dari MMSE dan 3MS. Tes ini juga mempunyai skor tidak sampai 100, dan diperkirakan selesai dalam 15-20 menit. CASI mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang sedikit lebih baik pada populasi terbatas jika dibandingkan dengan MMSE yang lebih pendek (Tombaugh,1992).

Cambridge Cognitive Examination (CAMCOG) The Cambridge Mental Disorders of the Elderly Examination (CAMDEX) tersusun pada waktu penilaian kognitif pada usia lanjut, termasuk riwayat yang diambil dari penderita atau informan, pemeriksaan, dan penilaian status mental (CAMCOG). Pemeriksaan lengkap membutuhkan waktu sekitar 80 menit. Secara keseluruhan, CAMDEX tidak hanya mendeteksi masalah yang ada, tetapi juga mengidentifikasi penyebab dan derajat keparahannya (Athey,2005).. Pada CAMCOG terdapat komponen MMSE, juga terdapat tes tambahan untuk aspek kognitif (kegiatan sehari-hari, pemikiran abstrak, dan persepsi) total skor diatas 107, dengan batas <80 didiagnosis kelainan kognitif. Diperkirakan membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikannya. Pada sampel pasien terseleksi dengan suspek kelainan kognitif, CAMCOG mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang lebih baik untuk mendeteksi demensia dibandingkan AMT atau MMSE. Tes ini mempunyai sensitivitas 92% dan spesifisitas 96% untuk mendeteksi kelainan mental organik (MMSE 94% dan 85% pada sampel yang sama (Athey,2005). Middlesex Elderly Assessment Memory Score (MEAMS) MEAMS saat ini lebih sering digunakan oleh seorang terapis daripada dokter. Skornya mencapai 47, semakin rendah skor menunjukkan kelainan kognitif yang makin berat. MMSE mempunyai komponen yang dirancang untuk menilai fungsi lobus frontalis dan parietal kanan (kelancaran verbal, motorik dan persepsi huruf yang terfragmentasi). Tes ini membutuhkan kartu gambar serial khusus. MEAMS dibandingkan dengan MMSE pada beberapa pasien psikiatri dengan rentang diagnosa yang berbeda. Pada umumnya kedua tes ini sama baiknya, tetapi MEAMS mempunyai keunggulan pada kemampuan deteksi non demensia, dan isolated cognitive impairments (Rothlind,1993). Derajat keparahan gangguan, dan pemantauan perkembangan penyakit Beberapa skala penilaian memberikan nilai numerik derajat keparahan yang berguna bagi penilaian perkembangan penyakit daripada kesimpulan dengan skala biner 'ada' atau 'tidak ada'. Sehingga mempengaruhi pemilihan tes. Pada AD biasanya terjadi penurunan MMSE tahunan 3-4 poin, sehingga menjadikan MMSE dapat digunakan untuk memantau perkembangan penyakit dalam kondisi tertentu. MMSE juga telah diusulkan sebagai alat untuk menentukan tingkat keparahan gangguan kognitif. Skor antara 23 - 18 digolongkan ringan, skor < 17 digolongkan berat. Skala kualitatif yang lebih panjang dapat memberikan kepekaan lebih besar untuk mendeteksi perubahan kognitif. Namun, terjadinya kerusakan fungsional tampaknya lebih relevan dengan pasien dan perawat mereka daripada skor numerik sederhana. Kemampuan menggunakan alat sehari-hari, misalnya penggunaan telepon, alat transportasi, mengambil obat sendiri dan penanganan keuangan, berkorelasi baik dengan kerusakan kognitif. Meskipun pada orang dengan 10

ko-morbiditas, mungkin sulit untuk membedakan secara khusus efek penurunan fungsi kognitif (Graham,1997). Kesimpulan Penilaian fungsi kognitif pada lanjut usia penting karena dengan bertambahnya umur, terjadi perubahan pada otak yang memicu perubahan proses berpikir dan perilaku. Perbedaan tersebut mempunyai bentuk yang berbeda-beda pada tahap awal proses, yang dipengaruhi oleh fungsi sosial dan aktifitas pekerjaan. Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah The Mini Mental State Examination (MMSE) dan Abbreviated Mental Test Score (AMT). MMSE menilai orientasi, registrasi, perhatian dan kalkulasi, ingatan, bahasa dan praktek, dan menirukan. Interpretasi penilaian MMSE adalah kelainan kognitif didapatkan pada skor < 24. AMT merupakan instrumen untuk menilai fungsi kognitif pada lanjut usia dengan waktu yang lebih singkat dan sederhana daripada MMSE. Sensitifitas dan spesifisitas AMT lebih rendah daripada MMSE. AMT menilai memori baru dan lama, atensi, dan orientasi. Skor <8 menunjukkan adanya defisit kognitif yang bermakna. Daftar Pustaka Athey RJ, Porter RW, Walker RW, 2005. Cognitive assessment of a representative community population with Parkinsons disease (PD) using the Cambridge Cognitive Assessment Revised (CAMCOG-R). Age and Ageing 34: 268273 BKKBN, 2009. Profil Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2009 Brown SC, Park DC, 2003. Theoretical Models of Cognitive Aging and Implications for Translational Research in Medicine. The Gerontologist 43, Special Issue I, 5767 Folstein MF, Folstein SE, McHugh PR, 1975. ""Mini-mental state". A practical method for grading the cognitive state of patients for the clinician". Journal of psychiatric research 12 (3): 18998 Graham JE, Rockwood K, Beattie BL, et al., 1997. Prevalence and severity of cognitive impairment with and without dementia in an elderly population. Lancet 349:17936 Holmes J, Gilbody S,1996. Differences in use of Abbreviated Mental Test score by geriatricians and psychiatrists. Br Med J; 313:465. MacKenzie DM, Copp P, Shaw RJ, et al,1996. Brief cognitive screening of the elderly: a comparison of the Mini-Mental State Examination (MMSE), Abbreviated Mental Test (AMT) and Mental Status Questionnaire (MSQ). Psychological Medicine; 26:42730. Parker C, Philp I, 2004. Screening for cognitive impairment among older people in black and minority ethnic groups. Age and Ageing 33: 447452 Resnick NM, Dosa D, 2008. Geriatric Medicine. In: Harrisons Principle of Internal Medicine, 17th ed. The Mc Graw-Hill Companies Inc. Pp: 43-53 Rothlind JC, Brandt J, 1993. A Brief Assessment of Fontal and Subcortical Functions in Dementia. J Neuropsychiatry Clin Neurosci, 5:73-77

11

Setiati S, Laksmi PW, Sari NK. 2007. Usia Lanjut. Dalam : Kedokteran Peri Operatif, Evaluasi dan Tata Laksana di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Editor : Mansjoer A, Sudoyo AW, Alwi I, Rinaldi I, Harimurti K, Laksmi PW, dkk. Pusat Penerbitan Penyakit Dalam Universitas Indonesia, Jakarta. Hlm 222-240 Soejono CH, 2006. Pengkajian Paripurna pada Pasien Geriatri. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi Keempat-Jilid III. Editor: Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, Setiati. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hlm: 1425-1430 Swain DG, OBrien AG, Nightingale PG, 1999. Cognitive assessment in elderly patients admitted to hospital: the relationship between the Abbreviated Mental Test and the MiniMental State Examination. Clin Rehabil 13:5038. Supartondo, Soejono CH. 2001. Pendekatan Klinis Pada Pasien Geriatri. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi Ketiga-Jilid II. Editor: Suyono, Waspadji, Lesmana, Alwi, Setiati, Sundaru, et.al. Penerbit: Balai Penerbit FKUI Jakarta. Hlm: 264-269 Tangalos EG, Smith GE, Ivnik RJ, et al. 1996.The Mini-Mental State Examination in general medical practice: clinical utility and acceptance. Mayo Clin Proc 71:82937 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed 2- cet 7. Jakarta, Balai Pustaka Tombaugh TN, McIntyre NJ, 1992. The Mini-Mental State Examination: a comprehensive review. JAGS; 40:92235. Weisskopf MG, Wright RO, Schwartz J, Spiro III A, Sparrow D, Aro A, Hu H. 2004. Cumulative Lead Exposure and Prospective Change in Cognition among Elderly Men, The VA Normative Aging Study. Am J Epidemiol 2004;160:11841193

12