Anda di halaman 1dari 26

PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS PADA USIA REMAJA

KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Perkuliahan Bahasa Indonesia yang Dibina oleh Drs. Yasip Gaotama, M.Pd.

Disusun Oleh : EYLA RAHAJENG M.A NIM 01.11.037

Program Studi S1 Keperawatan SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) HUTAMA ABDI HUSADA TULUNGAGUNG 2011

PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS PADA USIA REMAJA

KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Perkuliahan Bahasa Indonesia yang Dibina oleh Drs. Yasip Gaotama, M.Pd.

Disusun Oleh : EYLA RAHAJENG M.A NIM 01.11.037

Program Studi S1 Keperawatan SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) HUTAMA ABDI HUSADA TULUNGAGUNG 2011

LEMBAR PERSETUJUAN

Nama NIM Judul

: EYLA RAHAJENG M.A : 01.11.037 : PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS PADA USIA REMAJA

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

DOSEN PEMBIMBING

Drs. Yasip Gaotama, M.Pd. NIP:

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Nama NIM Judul

: EYLA RAHAJENG M.A : 01.11.037 : PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS PADA USIA REMAJA

Telah diuji dan disetujui oleh Tim Penguji pada ujian sidang di Program S1 Keperawatan STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung pada tanggal,

Dosen Penguji

Drs. Yasip Gaotama, M.Pd. NIP.

iii

HALAMAN PERSEMBAHAN

Terimakasih kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat serta hidayahnya Sehingga aku dapat menyeleseikan karya tulis ilmiah ini Karya Tulis Ini Kupersembahkan Untuk Orang Tua dan adikku yang selalu memberikan semangat dan doa kepadaku Untuk keberhasilanku Teman temanku yang telah banyak membantu dalam penyusunan karya tulisku Dosen dosen STIkes Hutama Abdi Husada Tulungagung yang senantiasa memberikan ilmunya dan sabar dalam membimbingku

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Pentinganya Pendidikan Seks Pada Usia Remaja. Karya Tulis Ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas perkuliahan Bahasa Indonesia yang dibimbing oleh Drs. Yasip Gaotama, M.Pd. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, saya mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada : 1. Orang tua yang telah memberikan dorongan, semangat dan selalu mendoakan keberhasilanku. 2. Bapak / Ibu dosen STIKes Hutama Abdi Husada Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang telah memberi pertimbangan, bimbingan, pengarahan, selama saya mengikuti pendidikan. 3. Semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya berusaha untuk dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan baik. Namun demikian saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu demi kesempurnaan, saya mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi rekan-rekan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Tulungagung, Juni 2011

Eyla Rahajeng M.A

DAFTAR ISI

JUDULi HAL PERSETUJUAN...ii HAL PENGESAHAN...iii HAL PERSEMBAHANiv KATA PENGANTARv DAFTAR ISI.vi ABSTRAK..viii BAB I : PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang...1 Rumusan Masalah..2 Tujuan.2 Manfaat...2

BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 Konsep Remaja...4 Perkembangan Psikologi Remaja...6 Konsep Pendidikan Seks8 2.3.1 2.3.2 2.3.3 Definisi Pendidikan Seks8 Materi Pendidikan Seks..9 Pendidikan Seks Berdasarkan Usia10

vi

2.3.4

Hal Penting Dalam Memberi Pendidikan Seks pada Usia Remaja..11

BAB III : METODE PENELITIAN 3.1 3.2 3.3 Waktu dan Tempat...13 Metode Pengumpulan Data..13 Tekni Analisa Data...13

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 4.2 4.3 Tujuan Pendidikan Seks...14 Manfaat Pendidikan Seks.14 Faktor Penyebab Perilaku Seksual pada Remaja.15

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 5.2 Kesimpulan...16 Saran.............16

DAFTAR PUSTAKA...17

vii

ABSTRAK

Pendidikan seks merupakan suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Pendidikan seks ini sangat penting, terutama bagi para remaja. Metode yang kami gunakan ini analisis dokumen, dan studi literatur yaitu data yang bersumber dari industri yang bersangkutan dengan pembahasan dan juga dari buku maupun internet. Setelah data terkumpul, data tersebut dinilai dengan memperhatikan validitas, obyektivitas, dan terperinci. Dengan pendidikan seks bisa memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja, mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggung jawab), membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi, dan agar para remaja mengerti dan menghindari perilaku seksual pra nikah. reabilitas. Lalu interpretasi dan deskripsi untuk menjelaskan secara

viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1

L ATAR BELAKANG Dewasa ini kehidupan seks bebas telah merebak di kalangan kehidupan remaja dan

anak, sehingga pendidikan seks atau pendidikan mengenai kesehatan reproduksi yang lebih trendnya sex education sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja baik malalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah penyimpangan seksual pada remaja . Selain itu pemberian informasi mengenai pengetahuan pendidikan seks menjadi sangat penting mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri. Pada dasarnya pendidikan seks pada usia remaja sangat diperlukan dan tidak perlu ditutupi dari ruang publik. Selama ini pendidikan seks dianggap tabu bagi sebagian orang yang kontra terhadap permasalahan seks. Di era yang serba canggih ini banyak anak remaja yang salah mempersepsikan mengenai seks dan mereka hanya mengenal permasalahan seks yaitu hal hal yang berhubungan dengan hubungan intim antara laki laki dan perempuan saja padahal permasalahan seks bukan semata mata hanya itu banyak permasalahan seks yang harus diketahui para remaja untuk modal mengarungi kehidupan yang akan datang dan para remaja dapat memanfaatkan pendidikan seks tersebut sebaik baiknya dan tidak disalah gunakan untuk kejahatan terutama kejahatan seksual . Dampak dari kurangnya pengetahuan tentang pendidikan seks pada remaja yaitu seperti pelecehan seksual, memegangi payudara, bahkan kasus pemerkosaan sudah tidak dapat dihitung lagi jumlahnya yang setiap tahun cenderung meningkat, serta adanya aborsi

yang merajalela seiring dengan kecanggihan teknologi yang salah dalam pengaplikasiannya. Pada dasarnya remaja menganggap bahwa masalah sex tersebut masih tabu dan menjijikkan. Oleh karena itu pendidikan sex harus diberikan kepada remaja sejak dini dengan catatan pemberian pendidikan seks harus melihat batasan umur yang dapat membedakan porsi porsi yang harus diterima remaja agar tidak terjadi pemikiran pemikiran negative yang dapat mendorong remaja untuk berbuat pelecehan seksual pada lawan jenis .

1.2

RUMUSAN MASALAH 1. Materi apa saja yang diberikan pada pendidikan seks? 2. Bagaimana pendidikan seks berdasarkan usia? 3. Apa saja factor penyebab terjadinya permasalahan seksual? 4. Apa saja manfaat pendidikan seks?

1.3 1.3.1

TUJUAN TUJUAN UMUM Pembaca bisa mengerti betapa pentingnya pendidikan seks pada usia remaja. Karena

dalam hal ini hubunganya sangat berkaitan dengan perilaku seksual pada remaja.

1.3.2

TUJUAN KHUSUS Para pembaca mengetahui tentang tujuan pendidikan sex Para pembaca mengetahui tentang materi pendidikan sex Para pembaca mengetahui pendidikan sex berdasarkan usia. Para pembaca mengetahui tentang faktor yang menyebabkan perilaku sex

1.4

MANFAAT

1.4.1 BAGI PEMBACA Diharapkan hasil penelitian ini dapat : menjadi bahan masukan bagi instasi kesehatan untuk meningkatkan

pelaksanaan penyuluhan pada siswa siswi tentang pentingnya pendidikan seks pada remaja. Meningkatkan peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada siswa sejak dini agar siswa tidak mencari sumber yang salah dalam pembelajaran mengenai seks. Menjadi media informasi bagi para remaja mengenai pendidikan seksual.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 KONSEP REMAJA 1. Definisi Remaja

a. Pada tahun 1974 WHO memberikan definisi yang telah bersifat konseptual yang mengndung 3 kriteria yaitu biologik, psikologik dan sosial ekonomi yang secara lengkap didefinisikan sebagai berikut : 1) Remaja adalah suatu masa dimana : a) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. b) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak kanak menjadi dewasa. c) Terjadi peralaihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri. b. Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama. c. Masa Remaja adalah suatu fase tumbuh kembang yang dinamis dalam kehidupan seorang individu, masa ini merupakan periode transisi dari masa kanak kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan social.

2. Tahap Perkembangan Remaja Dalam proses penyesuain diri menuju kedewasaan ada tiga tahap perkembangan remaja yaitu : a. b. c. Remaja Awal (Early Adolscense) Remaja Madya (Middle Adolescence) Remaja Akhir (Late Edolescense)

3.

Perubahan Fisik Pada Remaja a. Laki laki Terjadi perubahan kelamin primer dan sekunder perubahan kelamin primer ditandai berfungsinya organ genital yang ditandai dengan mulainya ejakulasi ( keluarnya air mani ) saat mimpi basah, pembesaran testis perubahan kelamin sekunder ditandai dengan perubahan suara, bulu mulai tumbuh dibagian ketiak, dada dan sekitar kelamin. b. Perempuan Perubahan kelamin primer ditandai dengan menstruasi , mulai berfungsinya organ seksual tersebut akan diikuti dengan kesiapan organ tersebut untuk dibuahi, sedangkan perubahan kelamin sekunder buah dada membesar, mulai tumbuh rambut di tempat tertentu ( di ketiak, disekitar kemaluan yang bulunya menjadi keriting ). Ciri Ciri Masa Remaja a. b. c. d. e. f. g. Masa Remaja Sebagai Periode Yang Penting. Masa Remaja Sebagai Periode Peralihan. Masa Remaja Sebagai Periode Perubahan. Masa Remaja Sebagai Usia Bermasalah. Masa Remaja Sebagai Masa Mencari Identitas. Masa Remaja Sebagai Usia Yang Menimbulkan Ketakutan. Masa Remaja Sebagai Masa Yang Tidak Realistik

4.

5.

Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono,1994 adalah sebagai berikut : a. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu b. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)

c.

Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.

d. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (contoh: VCD, Photo, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya. e. Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini. f. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

2.2

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI REMAJA Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Setiap tahap usia manusia pasti ada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui. Bila seseorang gagal melalui tugas perkembangan pada usia yang sebenarnya, maka pada tahap perkembangan berikutnya akan terjadi masalah pada diri seseorang tersebut. Untuk mengenal kepribadian remaja perlu diketahui tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan tersebut antaralain: 1. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif . 2. 3. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin

4. 5.

Mengetahui serta menerima kemampuan yang dimilikinya Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma

Selain tugas-tugas perkembangan, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain: - Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat - Emosinya tidak stabil - Perkembangan

Seksual sangat menonjol - Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat) - Terikat erat dengan kelompoknya

Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan. Dari kesimpulan yang diperoleh maka masa remaja

1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas Cirinya: - Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi - Anak mulai bersikap kritis b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya: - Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya - Memperhatikan penampilan - Sikapnya tidak menentu/plin-plan - Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke - Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya - Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja Pria .

2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah: - Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis - Mulai menyadari akan realitas - Sikapnya mulai jelas tentang hidup - Mulai nampak bakat dan minatnya Dengan mengetahui tugas perkembangan dan ciri - ciri usia remaja diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal -hal

yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.

2.3

KONSEP PENDIDIKAN SEX

2.3.1 Definisi Pendidikan Seks a. 1. Beberapa istilah yang berhubungan dengan pendidikan seks : Pendidikan seks adalah perlakuan sadar dan sistematis disekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menyampaikan proses perkelaminan menurut agama dan yang sudah diterapkan oleh masyarakat. Intinya pendidikan seks tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. 2. Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspekaspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. 3. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan tahun 2010, pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan

2.3.2 Materi Pendidikan Seks Menurut Tukan, 2000 menguraikan materi pendidikan seks di sekolah sebagai berikut: a. Siswa-siswi kelas 5 dan 6 SD Tentang ciri seksualitas primer dan sekunder seorang pria, proses terjadinya mimpi basah, menjaga kebersihan kelamin, memakai bahasa yang baik dan benar tentang seks, kepribadian seorang siswa kelas 5 dan 6 Tentang ciri seksualitas primer dan sekunder seorang wanita, proses terjadinya ovulasi dan menstruasi, keterbukaan pada orang tua, serta pendidikan dan kepribadian wanita. b. Siswa SMP kelas 1, 2 dan 3 Memperluas apa yang telah dibicarakan di SD kelas 5 dan 6, yakni identitas remaja, pergaulan, dari mana kau berasal, proses melahirkan, dan tanggung jawab moral dalam pergaulan. b. Siswa SMA kelas 1 dan 2 Mendalami lagi apa yang telah diberikan di SD dan SLTP yakni secara psikologi pria dan wanita, paham keluarga secara sosiologi, masalah pacaran dan tunangan, komunikasi, pilihan cara hidup menikah atau membujang, pergaulan pria dan wanita, tubuh manusia yang bermakna, penilaian etis yang bertanggung jawab sekitar masalah-masalah seksual dan perkawinan.

c.

Selain materi yang harus disampaikan diatas ada pernyataan lain mengenai pengajaran / materi yang harus disertakan pada pendidikan seks pada siswa disekolah menurut pendapat dari Flake-Hobson, 1996 pengajaran tersebut antara lain adalah : 1. Mengizinkan anak untuk berperan sesuai dengan jenis kelamin dalam ekspresi mereka, kepribadian mereka dan interaksi mereka dengan teman-temannya di kelas. 2. Mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang berkenaan dengan sopan santun terhadap lawan jenis. 3. Memperkenalkan siswa terhadap perkembangan peran seks. Misalnya seorang perempuan akan menjadi siswa yang berstatus ibu rumah tangga atau isteri.

4.

Menyediakan alat-alat audio visual (pandang dengar - red) mengenai perkembangan peran seks kepada siswa dan mengajak mereka untuk berdiskusi.

5.

Memperkenalkan siswa kepada bermacam-macam peran seks antara laki-laki

dan perempuan.

2.3.3 Pendidikan seks berdasarkan usia Menurut Dr. Boyke (2010) ada 4 tahap : Secara garis besar, Dr. Boyke membagi pendidikan seks bagi anak berdasarkan usia ke dalam empat tahap yakni usia 1 4 tahun, usia 5-7 tahun, 8-10 tahun dan usia 10-12 tahun : 1. Pada usia 1 sampai 4 tahun. Paparnya, orangtua disarankan mulai memperkenalkan anatomi tubuh, termasuk alat genital. Perlu juga ditekankan pada anak bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik, dan berbeda satu sama lain. Kenalkan, ini mata, ini kaki, ini vagina. Itu tidak apa-apa. Terangkan bahwa anak laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda, masing-masing dengan keunikannya sendiri, ujarnya. 2. Pada usia 5 7 tahun. Menurut Boyke, 2010 rasa ingin tahu anak tentang aspek seksual biasanya meningkat. Mereka akan menanyakan kenapa temannya memiliki organ-organ yang berbeda dengan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu itu merupakan hal yang wajar. Karena itu, orang tua diharapkan bersikap sabar dan komunikatif, menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anak. Kalau anak laki-laki mengintip temannya perempuan yang sedang buang air, itu mungkin karena ia ingin tahu. Jangan hanya ditegur lalu ditinggalkan tanpa penjelasan. Terangkan, bedanya anak laki-laki dan perempuan. Orangtua harus dengan sabar memberikan penjelasan pada anak, ujar Boyke. 3. Pada usia 8 10 tahun. Anak sudah mampu membedakan dan mengenali hubungan sebab akibat. Pada fase ini, orangtua sudah bisa menerangkan secara sederhana proses reproduksi, misalnya tentang sel telur dan sperma yang jika bertemu akan membentuk bayi.

10

4. Pada usia 11-13 tahun Anak sudah mulai memasuki pubertas. Ia mulai mengalami perubahan fisik, dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Ia juga sedang giat mengeksplorasi diri. Anak perempuan, misalnya, akan mulai mencoba-coba alat make up ibunya. Pada tahap inilah, menurut Boyke, peran orangtua amat sangat penting. Orangtua harus menerima perubahan diri anaknya sebagai bagian yang wajar dari pertumbuhan seorang anak-anak menuju tahap dewasa, dan tidak memandangnya sebagai ketidakpantasan atau hal yang perlu disangkal. Di sisi lain, lanjut Boyke, orangtua harus berusaha melakukan pengawasan lebih ketat, dengan cara menjaga komunikasi dengan anak tetap berjalan lancar. Kalau anak merasa yakin dan percaya ia bisa menceritakan apa saja kepada orang tuanya, orang tua akan bisa mengawasi si anak dengan lebih baik, ujarnya.Boyke juga menekankan pentingnya proses pembentukan identitas diri pada anak selama tahap pubertas ini. Karena itu, ia menyarankan anak perempuan memiliki hubungan lebih dekat dengan ibu, dan sebaliknya. Hal itu mempermudah anak membentuk identitas dirinya sendiri. Kalau anak perempuan jauh lebih dekat dengan ayahnya, dan kurang akrab dengan ibunya, ia bisa saja mencari sosok ayah jika ia mencari pasangan hidup kelak, tidak suka teman seusianya, tambahnya. 2.3.4 Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian materi pendidikan seks bagi remaja menurut Singgih D. Gunarsa (1995) berikut ini : a. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu. b. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional. c. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek

11

kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut. d. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak. e. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak.

12

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kampus STIKes Hutama Abdi Husada Tulungagung. Secara keseluran penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2011 sampai tanggal 6 Januari 2012. 3.2. Metode pengumpulan data Sesuai dengan bentuk pendekatan pengamatan kualitatif dan sumber data yang akan digunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan analisis dokumen, dan studi literatur. Untuk mengumpulkan data dalam kegiatan pengamatan diperlukan cara-cara atau metode pengumpulan data tertentu, sehingga proses pengamatan dapat berjalan lancar. Dokumentasi Analisis dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari industri yang bersangkutan dengan pembahasan. Dari beberapa informasi diatas, dilakukan kombinasi dan komunikasi antar anggota kelompok sehingga ditemukan bentuk informasi yang menjadi fokus pembicaraan. Litelatur Studi literatur dapat bersumber dari buku maupun dari internet yang semua data berkaitan dengan topik pembahasan.

3.3.Teknik Analisa Data Setelah data terkumpul, data tersebut dinilai dengan memperhatikan validitas, obyektivitas, dan reabilitas. Kemudian dilakukan interpretasi dalam tiga tahap: editing yaitu mengedit data yang diperolah dari buku dan internet, coding yaitu

mengklasifikasikan data menurut jenis masalah yang diteliti, dan deskripsi yaitu menjelaskan data yang terkait dengan rumusan masalah penelitian yang kemudian dijelaskan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci.

13

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dengan pendidikan seks (sex education) kita dapat memberitahu remaja bahwa seks (sex) adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada setiap orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

4.1

Tujuan Pendidikan Seks Penjabaran tujuan pendidikan seks sebagai berikut : a. Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja. b. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggung jawab) c. Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks manifestasi yang bervariasi d. Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga. e. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual. f. Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan kesehatan fisik dan mentalnya.( Zainun Mutadin, 2010). g. Agar remaja mengerti dan bisa menghindari perilaku seksual. seksual agar dalam semua perkembangan dan

individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu

4.2

Manfaat Pendidikan Seks antara lain: Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.

Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggung jawab) 14

Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi

Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.

Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensialuntuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.

Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.

Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.

Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orangtua, anggota masyarakat.

4.3

Faktor-faktor Penyebab Perilaku Seksual Pada Remaja

Sarwono (2006) mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan perilaku seksual pada remaja, diantaranya:
Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksual) remaja. Adanya tabu/larangan dalam masyarakat untuk melakukan perilaku seksual sebelum menikah. Kurangnya informasi yang didapat remaja tentang seksualitas dan hal-hal terkait di dalamnya. Pergaulan yang makin bebas. Penundaan usia perkawinan

15

BAB V PENUTUP

5.1. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari pendidikan seks terhadap sikap mengenai seks pranikah pada remaja. Selain itu, berdasarkan analisis tambahan diketahui bahwa remaja merasa senang dan merasa perlu diadakan pendidikan seks bagi remaja. 5.2 SARAN Berdasarkan hasil analisis menghasilkan saran bagi para remaja agar dapat membawa diri dalam lingkungannya sehari hari dan memilih pergaulan yang tepat agar tidak terjerumus pada perilku yang tidak baik. Bagi orang tua hendaknya meningkatkan kewaspadaan dan bimbingannya kepada putra putrinya dengan memberikan pendidikan dan informasi mengenai sexualitas yang benar pada anaknya sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan remaja tersebut agar tidak mencari informasi yang salah yang dapat berakibat buruk paa masa depan remaja tersebut

16

DAFTAR PUSTAKA

Andika, Alya. 2010. Bicara Seks Bersama Anak . Yogyakarta: Pustaka Anggrek.

Arikunto, S. 1998. Prosedur Pendekatan Penelitian Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta. Mutadin, Zainun. 2010. PendidikanSeksMenurutPerspektifAlquran .(Internet) 08 ,Desember 4 (3) Available from : http: // www. Scribd.com

Darsono, Budiono. 2010. Permasalahan Seks Pada Remaja.(Internet) 18, Agustus 6(5)Available from :http : //us. Surabaya.detik.com/read/2010/08/18/100221/

Tukan, Johan Suban. 1991. Bina Remaja . ( Internet Available from:http://wapto.me/users/sexdalamhidup/upload/550/Pendidikan_Seks_Disekolah_

duniabaca.com/pengertian-pendidikan-seks-dan-manfaatnya.html

17