Anda di halaman 1dari 7

PROSES KEHAMILAN A.

Fertilisasi Menurut Sri Sudarwati (1990) fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam gamet sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetic yang berasal dari kedua parentalnya. Sedangkan menurut Wildan Yatim (1990) fertilisasi merupakan masuknya spermatozoa kedalam ovum. Setelah spermatozoa masuk, ovum dapat tumbuh menjadi individu baru. Fertilisasi atau pembuahan adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita yang terjadi di daerah ampula tuba falopii. Bagian ini adalah bagian terluas pada saluran telur dan teretak dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama kira-kira 24 jam. Spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu membuahi osit. Mereka harus mengalami proses kapasitasi dan reaksi akrosom. Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu, suatu gelembung glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang menjalani kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom. Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan zona pelusida dan diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida antara lain akrosin dan zat serupa tripsin. Fase fertilisasi mencakup fase 1 (penembusan korona radiata), fase 2 (penembusan zona pelusida) dan fase 3 (fusi oosit dan membran plasma)

Tahap 1 Penembusan Korona Radiata Dari 200 300 juta sperma yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita hanya 300 sampai 500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang akan dibuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona. Tahap 2 Penembusan Zona Pelusida Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein disekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida sehingga akan bertemu dengan membran plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang melapisi membran plasma oosit. Pada gilirannya enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma dan membuat tak aktif tempat-tempat reseptor bagi spermatozoa pada permukaan zona yang spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida tetapi hanya satu yang terlihat mampu menembus oosit.

Tahap 3 Penyatuan Oosit dan membran sel sperma Segera setelah spermatozoa menyentuh membran sel oosit, kedua selput plasma sel tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang membungkus kepala akrosom telah hilang pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertinggal di permukaan oosit. Segera setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan cara yang berbeda. 1. Reksi kortikal dan zona. Sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit (a) selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lainnya dan (b) zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan dan penetrasi sperma. Dengan cara ii terjadinya polispermi dicegah. 2. Melanjutkan pembelahan mitosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah ada spermatozoa yang masuk. Salah satu dari sel anaknya hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitif. Kromosomnya (22+X) tersusun didalam sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita 3. Penggiatan metabolik sel telur. Faktor penggiat diperkirakan dibawa oleh spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengulangi kembali peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungan dengan awal embriogenesis. Sementara itu spermatozoa bergerak terus maju hingga dekat sekali dengan pronukleus wanita. Intinya embengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka. Selama masa pertumbuhan, baik pronukleus pria maupun wanita (keduanya haploid), masing-masing pronukleus harus menggandakan DNA-nya. Jika tidak, masing-masing sel dalam zigot tahap dua sel tersebut akan mempunyai separuh dari jumlah DNA normal. Segera setelah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal. 23 kromosom ibu dan 23 kromosam ayah (rangkap) membelah memanjang pada sentromer dan kromatid-kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak ke arah kutub yang berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom dan DNA yang normal. Sementara kromatid-kromatid berpasangan bergerak ke arah kutub yang berlawanan, munculah satu alur yang dalam pada permukaan sel yang berangsur-angsur membagi sitoplasma menjadi 2 bagaian. Hasil utama pembuahan adalah : 1. Pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi, separuh dari ayah dan separuhnya dari ibu. Oleh karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom baru yang berbeda dari kedua orang tuanya. 2. Penentuan jenis kelamin individu baru. Spermatozoa pembawea X akan menghasilkan satu mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y menghasilkan satu mudigah pria (XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kromosom mudigah tersebut ditentukan saat pembuahan 3. Dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan, oosit biasanya akan berdegenerasi 24 jam setelah ovulasi. Setelah zigot mencapai tingkat dua sel, ia menjalani serangkaian pembelahan mitosis, mengakibatkan bertambahnya jumlah sel dengan cepat. Sel yang menjadi semakin kecil pada setiap

pembelahan ini dikenal sebagai blastomer. Sampai pada tingkat delapan sel, sel-selnya membentuk sebuah gumpalan bersusun longgar. Tetapi, setelah pembelahan ketiga, hubungan antara blastomer semkin rapat, sehingga membentuk sebuah bola sel yang padat yang disatukan oleh persambungan yang kuat. Proses ini yang dikenal sebagai pemadatan, memisahkan sel-sel bagian dalam yang saling berkomunikasi secara ekstensif dengan gap junction dari sel-sel bagain luar. Kira-kira 3 hari setelah pembuahan, sel-sel embrio yang termampatkan tersebut membelah lagi membentuk morula dengan 16 sel. Sel-sel bagian dalam morula merupakan massa sel dalam, sedangkan sel-sel sekitar membentuk massa sel luar. Massa sel dalam akan membentuk jaringan-jaringan embrio sebenarnya, sementara massa sel luar membentuk trofoblas yang kemudian ikut membentuk plasenta. Kira-kira pada waktu morula memasuki rongga rahim, cairan mulai menembus zona pelusida masuk ke dalam ruang antar sel yang ada di massa sel dalam. Berangsur-angsur ruang antar sel menyat dan akhirnya terbentuklah sebuah rongga blastokel. Pada saat ini, mudigah dikenal sebagai blastokista. Sel-sel di dalam massa sel dalam yang sekarang disebut embrioblas terletak pada salah satu kutub, sedangkan selsel di massa sel luar ata trofoblas, menipis membentuk dinding epitel untuk blastokista. Zona pelusida kini sudah menghilang, sehingga implantasi bisa dimulai. Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Hal ini dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan enzim. Segera setelah pembelahan ini terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya berjalan dengan lancar dan dalam 3 hari terbentuk sel-sel yang sama besarnya. Hasil konsepsi berada dalam stadium morula. Energi untuk pembelahan ini diperoleh dari vitellus, hingga volume vitelus makin berkurang dan terisi seluruhnya oleh morula. Dengan demikian, zona pelusida tetap untuk atau dengan perkataan lain, besarnya hasil konsepsi tetap sama. Dalam ukuran yang sama ini ahsil konsepsi disalurkan terus ke pars istmika dan pars interstitialis tuba (bagian-bagian tuba yang mnyempit) dan terus ke arah kavum uteri oleh arus serta getaran silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. Dalam kavum uteri hasil konsepsi mencapai stadium blastula. Pada stadium blastula ini sel-sel yang lebih kecil yang membentuk dinding blastula akan mejadi trofoblas. Denga demikian, blastula diselubungi oleh suatu simpai yang disebut trofobas. Trofoblas yang mempunyai kemampuan menghancurkan dan mencairkan jaringan menemukan endometrium dalam masa sekresi dengan sel-sel desidua. Sel-sel desidua ini besar-besar dan mengandung lebih banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas. Blastula dengan bagian yang mengandung inner cell mass aktif mudah masuk ke dalam lapisan desidua dan luka pada desidua kemudian menutup kembali. Kadang-kadang pada saat nidasi yakni masuknya ovum ke dalam endometrium terjadi perdarahan pada luka desidua. Spermatozoa yang mengelilingi ovum akan menghasilkan enzim hialuronidase, yaitu enzim yang memecah protoplasma pelindung ovum agar dapat menembus ovum dengan sedikit lebih mudah. Enzim tersebut merusak korona radiata dan memudahkan penembusan zona pellucida hanya untuk satu sperma saja. Badan dan ekor sperma terpisah dari kepala segera setelah masuk ke dalam ovum. Segera setelah kedua sel bersatu, kumparan kutub kedua dalam inti (nukleus) ovum mengalami pembelahan meiosis kedua dan mampu bersatu dengan inti sperma, sehingga terbentuk kromosom diploid (2n). B. Perkembangan Janin di Rahim 1. Pembelahan

Menurut yatim (1990:155) pada manusia pembelahan terjadi secara holoblastik tidak teratur. Dimana bidang dan waktu tahap-tahap pembelahan tidak sama dan tidak serentak pada berbagai daerah zigot. Awalnya zigot membelah menjadi 2 sel, kemudian terjadi tingkat 3 sel, kemudian tingkat 4 sel, diteruskan tingkat 5 sel, 6 sel, 7 sel, 8 sel, dan terus menerus hingga terbentuk balstomer yang terdiri dari 60-70 sel, berupa gumpalan massif yang disebut morula. Pembelahan atau segmentasi terjadi setelah pembelahan. Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil yang disebut blastomer. Pembelahan itu bias meliputi seluruh bagian, bias pula hanya sebagian kecil zigot. Pembelahan ini terjadi secara mitosis. Bidang yang ditempuh oleh arah pembelahan ketika zigot mengalami mitosis terus-menerus menjadi banyak sel, disebut bidang pembelahan. Ada 4 macam bidang pembelahan yaitu meridian, vertical, ekuator dan latitudinal 2. Blastulasi dan Nidasi Setelah sel-sel morula mengalami pembelahan terus-menerus maka akan terbentuk rongga di tengah. Rongga ini makin lama makin besar dan berisi cairan. Embrio yang memiliki rongga disebut blastula, rongganya disebut blastocoel, proses pembentukan blastula disebut blastulasi. Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduk dan berlangsung selama 5 hari. Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam uterus. Setelah memasuki uterus, mula-mula blastosis terapung-apung di dalam lumen uteus. Kemudian, 6-7 hari setelah fertilisasi embryo akan mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya. Peristiwa terpautnya antara embryo pada endometrium uterus disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada 12 hari setelah fertilisasi (Yatim, 1990: 136) 3. Gastrulasi Menurut Tenzer (2000:212) Setelah tahap blastula selesai dilanjutkan dengan tahap gastrulasi. Gastrula berlangsung pada hari ke 15. Tahap gastrula ini merupakan tahap atau stadium paling kritis bagi embryo. Pada gastrulasi terjadi perkembangan embryo yang dinamis karena terjadi perpindahan sel, perubahan bentuk sel dan pengorganisasian embryo dalam suatu sistem sumbu. Kumpulan sel yang semula terletak berjauhan, sekarang terletak cukup dekat untuk melakukan interkasi yang bersifat merangsang dalam pembentukan sistem organ-organ tbuh. Gastrulasi ini menghasilkan 3 lapisan lembaga yaitu laisan endoderm di sebelah dalam, mesoderm disebelah tengah dan ectoderm di sebelah luar. Dalam proses gastrulasi disamping terus menerus terjadi pembelahan dan perbanyakan sel, terjadi pula berbagai macam gerakan sel di dalam usaha mengatur dan menyusun sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu dari spesies yang bersangkutan. 4. Tubulasi Tubulasi adalah pertumbuhan yang mengiringi pembentukan gastrula atau disebut juga dengan pembumbungan. Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyusun diri sehingga berupa bumbung, berongga. Yang tidak mengalami pembumbungan yaitu notochord, tetapi masif. Mengiringi proses tubulasi terjadi proses differensiasi setempat pada tiap bumbung ketiga lapis benih, yang pada pertumbuhan berikutnya akan menumbuhkan alat (organ) bentuk definitif. Ketika tubulasi ectoderm saraf berlangsung, terjadi pula differensiasi awal pada daerah-daerah bumbung itu, bagian depan tubuh menjadi encephalon (otak) dan bagian belakang menjadi medulla spinalis bagi bumbung neural (saraf). Pada bumbung endoderm terjadi diferensiasi awal saluran atas bagian depan, tengah dan belakang. Pada bumbung mesoderm terjadi diferensiasi awal untuk menumbuhkan otot rangka, bagian dermis kulit dan jaringan pengikat lain, otot visera, rangka dan alat urogenitalia.

5. Organogenesis Organogenesis atau morfogenesis adalah embryo bentuk primitif yang berubah menjadi bentuk yang lebih definitif dan memiliki bentuk dan rupa yang spesifik dalam suatu spesies. Organogensisi dimulai akhir minggu ke 3 dan berakhir pada akhir minggu ke 8. Dengan berakhirnya organogenesis maka ciri-ciri eksternal dan sistem organ utama sudah terbentuk yang selanjutnya embrio disebut fetus (Amy Tenzer,dkk, 2000) Pada periode pertumbuhan antara atau transisi terjadi transformasi dan differensiasi bagian-bagian tubuh embrio dari bentuk primitif sehingga menjadi bentuk definitif. Pada periode ini embryo akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu spesies. Pada periode pertumbuhan akhir, penyelesaian secara halus bentuk definitif sehingga menjadi ciri suatu individu. Pada periode ini embrio mengalami penyelesaian pertumbuhan jenis kelamin, watak (karakter fisik dan psikis) serta wajah yang khusus bagi setiap individu. Organogenesis pada bumbung-bumbung: Eksoderm terbagi atas epidermis dan neural Epidermis 1. Lapisan epidermis kulit, dengan derivatnya yang bertekstur (susunan kimia) tanduk: sisik, bulu, kuku, tanduk, cula, taji. 2. Kelenjar-kelenjar kulit: kelenjar minyak bulu, kelenjar peluh, kelenjar ludah, kelenjar lender, kelenjar air mata. 3. Lensa mata, alat telinga dalam, indra bau dan indra peraba. 4. Stomodeum menumbuhkan mulut, dengan derivatnya seperti lapisan email gigi, kelenjar ludah dan indra pengecap. 5. Proctodeum menumbuhkan dubur bersama kelenjarnya yang menghasilkan bau tajam. 6. Lapisan enamel gigi. Neural (saraf) 1. Otak dan sumsum tulang belakang. 2. Saraf tepi otak dan punggung. 3. Bagian persyarafan indra, seperti mata, hidung dan kulit. 4. Chromatophore kulit dan alat-alat tubuh yang berpigment. Mesoderm 1. Otot : lurik, polos dan jantung. 2. Mesenkim yang dapat berdifferensiasi menjadi berbagai macam sel dan jaringan. 3. Gonad, saluran serta kelenjar-kelenjarnya. 4. Ginjal dan ureter. 5. Lapisan otot dan jaringan pengikat (tunica muscularis, tunica adventitia, tunica musclarismucosa dan serosa) berbagai saluran dalam tubh, seperti pencernaan, kelamin, trakea, bronchi, dan pembuluh darah. 6. Lapisan rongga tubuh dan selaput-selaput berbagai alat: plera, pericardium, peritoneum dan mesenterium. 7. Jaringan ikat dalam alat-alat seperti hati, pancreas, kelenjar buntu. 8. Lapisan dentin, cementum dan periodontum gigi, bersama pulpanya. Endoderm 1. Lapisan epitel seluruh saluran pencernaan mulai faring sampai rectum. 2. Kelenjar-kelenjar pencernaan misalnya hepar, pancreas, serta kelenjar lender yang mengandung enzim dlam esophagus, gaster dan intestium.

3. Lapisan epitel paru atau insang. 4. Kloaka yang menjadi muara ketiga saluran: pembuangan (ureter), makanan (rectum), dan kelamin (ductus genitalis). 5. Lapisan epitel vagina, uretra, vesika urinaria dan kelenjar-kelenjarnya. Pada minggu ke 5 embryo berukuran 8 mm. Pada saat ini otak berkembang sangat cepat sehingga kepala terlihat sangat besar. Pada minggu ke 6 embrio berukuran 13 mm. Kepala masih lebih besar daripada badan yang sudah mulai lurus, jari-jari mulai dibentuk. Pada minggu ke 7 embryo berukuran 18 mm, jari tangan dan kaki mulai dibentuk, badan mulai memanjang dan lurus, genetalia eksterna belum dapat dibedakan. Setelah tahap organogenesis selesai yaitu pada akhir minggu ke 8 maka embrio akan disebut janin atau fetus dengan ukuran 30 mm.

III. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN FETUS A. Pertumbuhan Fetus Umur fetus (janin) yang sebenarnya, harus dihitung dari saat fertilisasi atau karena fertilisasi selalu berdekatan dengan ovulasi, sekurang-kurangnya dari saat ovulasi. Dalam praktek, tuanya kehamilan dihitung dari haid yang terakhir. Sesuai dengan tingkat pertumbuhannya, berbagai nama diberikan pada anak yang dikandung itu. 1. Ovum : Umurnya dari 0-2 minggu setelah fertilisasi. 2. Embrio : Umurnya dari 3-5 minggu, mulai terjadi pembentukan alat- alat badan dalam bentuk dasar. 3. Fetus : Janin yang sudah mempunyai bentuk manusia. B. Perkembangan Fetus Hasil konsepsi terpendam dalam endometrium uterus, mendapat makanan dari darah ibu, selama 10 minggu organ-organ terbentuk. Embrio terbungkus dalam dua membran sebelah dalam amnion dan sebelah luar korion. Selama perkembangan 8 minggu pertama, terbentuk plasenta sehingga fetus akan terikat oleh tali pusar. Permulaan periode embrional sebagai mulainya Minggu ke-3 setelah ovulasi. Akhir periode embrional dan mulainya periode janin ditetapkan oleh sebagian ahli embriologi, terjadi 8 minggu setelah fertilisasi, atau 10 minggu setelah mulainya periode menstruasi terakhir. Pada akhir Minggu ke-8 ini, tubuh bayi mulai terbentuk, dan kini disebut fetus (berasal dari bahasa latin yang berarti keturunan) atau janin. Pada usia ini, fetus berukuran kira-kira 3,5 cm dan terus tumbuh cepat hingga Minggu ke-20, baru kemudian laju pertumbuhannya melambat. Kepalanya tampak besar jika dibandingkan dengan tubuhnya tapi wajahnya mulai terbentuk. Matanya lebih besar dan kini terletak di bagian depan muka untuk mempersiapkan kemampuan melihatnya. Pembuluh air mata juga telah terbentuk pada Minggu ke delapan dan telinganya yang terletak di leher berlahan-lahan jari-jari tangan dan kaki tampak jelas meskipun masih diliputi selaput tipis.

Walaupun jenis kelamin bayi telah ditentukan sejak konsepsi, namun belum dapat diketahui hingga Minggu ke-9 setelah alat kelaminnya muncul, dan jenis kelaminnya dapat dibedakan sejak fetus berusia 12 minggu. Pada Minggu ke-12 fetus sudah terbentuk sempurna, kini panjangnya sekitar 8,5 cm. Kantong amniotik berisi 100 ml cairan amniotik. Kepala fetus kini tampak membulat, leher dan wajahnya telah terbentuk, dan telinganya sudah berada di tempat yang tepat. Bila dahi fetus disentuh, maka kepalanya akan berpaling dan keningnya berkerut. Fetus telah mampu menelan dan menggerakkan bibir atasnya. Kini bagian luar alat kelamin fetus sudah cukup berkembang sehingga sudah bisa dilihat dan ditetapkan jenis kelaminnya. Pertumbuhan tangan janin pada Minggu ke-12 yakni mula-mula berupa kuncup di ujung lengan lalu diakhir Minggu ke-4 pada Minggu ke-6 tampak seperti dayung beralur-alur yang kelak akan berbentuk jari, Lalu jaringan alur-alur tadi memecah dan membentuk jari-jari dan pada Minggu ke-7, jari-jari telah terbentuk Ujungnya tampak bengkak , karena pembentukan lapisan peraba. Kuku jari berbentuk, mulai Minggu ke-10; mula-mula dilapisi selaput kulit tipis, tapi kukunya belum sempurna hingga usia janin mencapai Minggu ke-32. Pada Minggu ke-12 jari-jari janin telah berbentuk seluruhnya. Pada usia 16 minggu panjang janin sekitar 14 cm, beratnya sekitar 130g, tubuhnya ditumbuhi bulubulu halus yang disebut lanugo (latin : lana, wol). Fungsi lanugo belum diketahui. Mula-mula lanugo tumbuh pada alis mata dan bibir bagian atas tapi pada minggu ke 20 mulai menutupi seluruh tubuh. Pada Minggu ke 16, vernix caseosa, sal licin berwarna putih mulai terbentuk. Dapat terlihat jelas di wajah dan kulit kepala pada Minggu ke 18. mula-mula muncul di punggung, rambut dan lipatan sendi, namun kemudian menutupi seluruh tubuh. Lapisan luar yang terbentuk pada bagian kulit tapak kaki dan jari-jarinya, juga tangan dan jari-jarinya memiliki pola khusus pada setiap manusia. Pada Minggu ke 28, panjang fetus menjadi kira-kira 1,1 kg. Antara Minggu ke 26 dan 29, kelopak matanya sudah tumbuh, sementara rambut di kepalanya sudah panjang, lanugo mulai menghilang dan warna kulitnya berubah dari merah menjadi warna kulit manusia umumnya. Pada Minggu ke 28, testis bayi lelaki yang mulanya di perut mulai turun ke bawah, dan mencapai scrotum pada Minggu ke 32, testis pada bayi.