Anda di halaman 1dari 6

KEAKHWATAN

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Allah menciptakan mahluk bukan tanpa tujuan apalagi sia-sia, bahkan penciptaan itu mempunyai hikmah besar yang intinya agar manusia mampu menikmati kehidupan bahagia di dunia dan akherat, Allah berfirman: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al-Mukminun: 115) Nabi kita, Muhammad saw, diutus pada masa tidak ada rasul, dimana manusia hidup dengan beragam kejahiliyaan dan dekadensi moral, kekuasaan saat itu hanyalah milik mereka yang kuat, kaum wanita tak ubahnya laksana barang dagangan yang murah yang bisa diwariskan tapi tidak bisa mewarisi bahkan seringkali dikubur hidup-hidup karena takut aib. Allah Taala mengisahkan dalam fimanNya : Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padam) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya kedalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS An-Nahl : 58-59). Islam kemudian datang untuk mengubah berbagai presepsi dan perlakuan yang sangat tidak adil terhadap kaum perempuan. Islam datang untuk melakukan pemberdayaan terhadap potensi kebaikan manusia, laki-laki maupun perempuan, agar mereka menjadi hamba yang mentaati tuhannya. Kejahiliyaan telah dihapus dengan cahaya Islam, lewat sentuhan tarbiyah Islamiyah yang dilaksanakan oleh Nabi kepada umatnya. Disisi Nabi, kaum perempuan amat yang dimuliakan. Mereka mendapatkan tarbiyah dari Nabi saw, dengan diarahkan menuju kepada posisi dan peran yang adil antara laki-laki dan perempuan, tidak ada diskriminasi status kemanusiaan dan potensi keduanya. Tarbiyah telah mencerahkan kaum perempuan, sehingga mereka mendapatkan kesetaraan dalam harkat kemanusiaan dan potensi kebaikan.

Materi-materi tarbiyah khas keakhwatan menjelaskan tentang kedudukan, peran, juga tanggung jawab akhwat muslimah, baik selaku individu, anak, istri, ataupun anggota masyarakat dan warga negara. Ada tuntutan berpenampilan yang tidak sama dengan antara laki-laki dan perempuan, misalnya dalam berpakain, berdandan atau menggunakan perhiasan. Masing-masing memiliki tuntunan yang dalam beberapa segi tidak sama persis. Sejauh itulah Rosulullah mentarbiyah umatnya, sehingga masingmasing pihak memiliki presepsi yang sama tentang peran, kedudukan dan tanggung jawab dalam mengarungi medan dakwah. Kegiatan tarbiyah merupakan sebuah proses yang bermaksud menghantarkan pelakunya menuju kepada sebuah kesempurnaan dalam batas kemanusiaan , yaitu usaha-usaha perbaikan dan ummat untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Para akhwat Muslimah adalah bagian dari masyarakat, sebagaimana juga laki-laki, yang harus dipersiapkan segala peran kebaikannya dalam sebuah proses tarbiyah. Beberapa urgensi mengapa kegiatan tarbiyah bagi akhwat Muslimah di era sekarang ini diperlukan: 1. Penanaman dan penjagaan iman menghajatkan kerja yang serius. 2. Amal Islami menuntut kerja sama antar personil daiyah. 3. Penyiapan akhwat Muslimah adalah darurat dan bagian dari tuntutan zaman. 4. Mempersiapkan generasi mendatang yang saleh mengharuskan penyiapan para ibu yang salehah. 5. Akhwat Muslimah adalah unsur pokok bagi pembangunan masyarakat yang sehat. 6. Fitrah perempuan harus diberdayakan untuk menjadi salah satu fondasi kehidupan. Tarbiyah bagi para akhwat Muslimah memiliki tujuan yang utama dan luhur. Perempuan bukanlah manusia kelas dua dibandingkan dengan laki-laki, karena itu mereka harus mendapatkan hak untuk dididik dan dibina dalam Islam. Potensi para perempuan telah ditunjukkan sepanjang sejarah gerakan Islam sejak jaman pertama dimasa kenabian. Potensi tersebut tidak akan muncul tanpa adanya pembinaan yang bertahap (Mutadarijah) dan terus menerus atau (Mustamirah).

Berikut peran-peran yang yang sesungguhnya dimainkan oleh sahabiyat dalam mendampingi para suaminya menjalani kehidupan yang sarat dengan perjuangan. Namun sayangnya publikasi peran mereka tidak menonjol, tentunya bukan berarti peran mereka tidak memiliki dinamika kegiatan bersama kaum laki-laki. Untuk membantu memberi gambaran kepada kita dan akhwat Muslimah khususnya ihwal dinamika kaum sahabiyat dalam memainkan peran-peran kehidupan seutuhnya, tanpa ragu dan canggung. Misalnya: Sebagai istri yang sholehah ada Khadijah binti Khuwailid (istri Rosulullah), Asma binti Abu Bakar, Fatimah binti Muhammad. Sebagai ibu pendidik ada ibu Haritsah, Asma binti Abu Bakar. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya: Fatimah binti Muhammad, Asmabinti Abu Bakar. Sebagai penuntut ilmu antara lain dalam sebuah riwayat justru istri-istri para sahabat begitu antusias mempelajari masalah-masalah agama, Asma binti Syaki, Aisyah binti Abu Bakar, Subaiah binti Al-Harits Al-Aslamiyah, putri Jafar bin Abdul Mutholib dsb. Terlibat dalam keperawatan kesehatan ada Ummul Ala, Asy-Syifa binti Abdullah. Sebagai pelaku kegiatan ekonomi ada Khadijah, perempuan-permpuan di Wadil Quro dll. Sebagai pelaku dakwah ada Ummu Sulaim Al-Ghumaisha binti Milham, Ummu Salamah. Terlibat di kehidupan politik ada Ruqayah Binti Muhammad saw, Sahlah binti Sahal, Ummu Salamah, dsb. Yang membantu dimedan jihad ada Rubayyi binti Muawidz, Ummu Athiyah, Ummu Haram binti Milhan dll. Tujuan tertinggi dari proses tarbiyah adalah menciptakan keadaan yang kondusif bagi manusia untuk hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidupdi akherat dengan naungan ridha dan pahala Allah SWT. Bagi kalangan perempuan tujuan tarbiyah Islamiyah apabila dijabarkan ada beberapa bagian penting sebagai berikut:

1. Bagi Individu
Tujuan tarbiyah Islamiyah bagi akhwat Muslimah pada dasarnya ditujukan kepada diri pribadinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya nanti memberikan kontribusi bagi yang lain. Adapun tujuan tarbiyah bagi pribadi perempuan Muslimah adalah sebagai berikut : a. Membentuk kepribadian Muslimah yang integral. Menurut syaikh Hasan Al-Banna kepribadian tersebut meliputi sepuluh aspek antara lain sebagai berikut: Salim Al-Aqidah (bersihnya akidah), Shahih Al-Ibadah (lurusnya ibadah), Matin Al-Khuluq (kukuhnya akhlak), Qadir ala Al-Kasb (mampu mencari penghidupan), Mutsaqaf Al-Fikr (luas

wawasan berfikirnya), Qawiy Al-Jism (kuat fisiknya), Mujahid Linafsih (pejuang diri sendiri), Munazham fi Syuunih (teratur urusannya), Nafi li Ghairih (bermanfaat bagi orang lain). b. Membentuk Kepribadian Daiyah c. Memberikan Pelatihan Aktivitas dan Mendapatkan Pengalaman d. Memberikan Keterampilan Praktis

2. Bagi Keluarga
Berikut adalah tujuan tarbiyah parempuan Muslimah bagi keluarga sebagai berikut : a. Mendapatkan suami muslim yang mendukung dakwah . b. Membentuk keluarga yang dipenuhi bimbingan Islam . c. Membentuk keluarga yang terlibat dalam amal Islami .

3. Bagi Masyarakat
a. Menumbuhkan kepekaan hati dan jiwa sosial. b. Mempersiapkan akhwat untuk peran-peran peradaban. c. Mempersiapkan akhwat untuk peran kepemimpinan.

4. Bagi Dakwah Islamiyah

Diantara tujuan tarbiyah perempuan Muslimah yang berhubungan dengan dakwah adalah:

a. Terpenuhinya kualifikasi sumberdaya Muslimah yang berpotensi diberbagai bidang. b. Terwujudnya perluasan wilayah kerja dakwah. c. Termotifasinya akhwat Muslimah untuk menjalin kerja sama dakwah dengan organisasi perempuani Islam pada khususnya dan berbagai lapisan masyarakat pada umumnya.

Sebagai hamba Allah yang beriman, akhwat Muslimah sudah seharusnya menyadari bahwa hidup menuntut banyak sekali peran untuk mengatasi berbagai tantangan yang demikian kompleks. Akhwat Muslimah adalah sosok yang ditunggu perannya ditengah masyarakat karena persoalan perempuan sesungguhnya sangat banyak dan semua membutuhkan peran akhwat Muslimah yang berkualitas. Namun sebesar apaun beban dan tanggung jawab yang diembannya, tugas dan kewajiban kepada Allah lah yang harus diutamakan terlebih dahulu. Mengapa? Karena nilai dan kadar sesuatu kewajiban diukur berdasarkan kedudukan pihak yang member tugas dan kewajiban itu. Sebagai apapun manusia hidup di dunia ini, maka predikat hamba Allah adalah di atas segala-galanya. Rosulullah saw mempertegas dan mengingatkan kepada umatnya terutama kapada kaum laki-laki di dalam haditsnya betapa besar hak seorang istri yang harus ditunaikan suami dan betapa seorang suami harus menjaga dan melindungi istrinya. Beliau saw bersabda: kaum perempuan tidak lain adalah saudara kandung kaum laki-laki. (HR. Ahmad) Sabda beliau lagi: Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku. (HR. Ibnu Majah dan Hakim). Sabda beliau lagi: Sesungguhnya sebagian dari orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling lembut kepada istrinya. (HR. Tirmidzi)

KESIMPULAN
Implikasi tarbawi yang dikandung dalam wasiat Rosullah kepada kaum perempuan adalah mengabdi dan melayani sang suami, serta memperhatikan hak-haknya. Pada saat yang sama Rosulullah juga berwasiat kepada kaum laki-laki untuk melakukan hal yang sama terhadap istrinya. Dimensi tarbawi yang terkandung dalam wasiat Rosulullah tersebut adalah agar suami dan istri dapat saling berlomba untuk merebut hati masing-masing demi menuju keridhoan Allah Swt. Muslimah memiliki peran yang sangat besar sepanjang sejarah dakwah Islam. Tidak ada keberhasilan dakwah tanpa melibatkan potensi peran para akhwat Muslimah. Tarbiyah di kalangan akhwat Muslimah memiliki tujuan yang sama dengan tarbiyah pada umumnya yang dilakukan di kalangan ikhwan, namun memiliki kekhasan masing-masing. Di dalam tarbiyah keakhwatan dijelaskan tentang kedudukan, peran, juga tanggung jawab akhwat Muslimah, baik selaku individu, anak, istri, ataupun anggota masyarakat dan warga Negara. Keserasian dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan beratnya medan dakwah antara suami dan istri sangat dibutuhkan satu dan lainnya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat antara kedudukan, peran dan tanggung jawab masing-masing maka tujuan dakwah akan terlaksana dengan baik. Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 2 dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan .