Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

DEMODULASI






DISUSUN OLEH :
1. BERLIAN SIREGAR
2. DWI ERMAWATI /12410182
3. FITRIA SARI RACHMAWATI / 12410852
4. NAFTATY RUTH S.


SARMAG TEKNIK ELEKTRO V
UNIVERSITAS GUNADARMA
2012




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
DAFTAR ISI ................................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
1. PENDAHULUAN ............................................................................. 3
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH ................................................................ 3
1.2 PERUMUSAN MASALAH ........................................................................ 3
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN ......................................................................... 3
2. PEMBAHASAN ................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
2.1 PENGERTIAN ..................................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
2.2 JENIS DEMODULASI ........................... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.
2.3 Demodulasi Analog ................... Error! Bookmark not defined.
2.3.1. Demodulasi Amplituda (AM) .. Error! Bookmark not defined.
2.3.2. Modulasi Fasa (FM) Kuadratur Error! Bookmark not defined.
2.3.3. Modulasi Pasa (PM) ............... Error! Bookmark not defined.
2.4. Demodulasi Digital ................................................................... 10
2.4.1. Amplitude Shift Keying (ASK) ............................................... 10
2.4.2. Frewuency Shift Keying (FSK) .............................................. 10
2.4.3. Phase Shift Keying (PSK) ....... Error! Bookmark not defined.
2.4.4. QuadratureAmpltudeModulation (QAM) ............................... 11
2.4.5. QuarternaryPSK (QPSK) ...................................................... 12
2.5 CONTOH SOAL .................................................................................. 13
3. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 17
4. DAFTAR PUSTAKA....18







BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Makalah ini membahas tentang jenis demodulasi yaitu demodulasi analog dan
demodulasi digital. Demodulasi dapat didefinisikan mendapatkan kembali sinyal.
Informasi atau pesan yang ditumpangkan pada sinyal carrier. Sinyal yang
dikirimkan oleh transmiter berupa sinyal termodulasi. Ketika di receiver, sinyal
termodulasi tersebut akan didemodulasikan sehingga dapat kita baca
informasinya
Secara garis besar demodulasi terbagi menjadi demodulasi analog dan demodula
si digital.
Perbedaan mendasar antara demodulasi analog dan digital terletak pada
bentuk sinyal informasinya. Pada demodulasi analog, sinyal informasinya berben
tuk analog dan sinyal pembawanya analog. Sedangkan pada demodulasi digital,
sinyal informasinya berbentuk digital dan sinyal pembawanya analaog.
1.2 Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka perlunya mempelajari
demodulasi dan jenis-jenisnya terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana
informasi dapat diterima dari lokasi A (pengirim).
1.3 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah pembahasan
tentang jenis-jenis demodulasi untuk penerimaan sinyal.




Bab 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
Demodulasi adalah proses sebaliknya dari modulasi, yaitu, mendapatkan
kembali sinyal. informasi atau message yang ditumpangkan pada sinyal carrier.
Prosesnya terjadi pada demodulator atau detektor. Bergantung dari proses
modulasinya,

2.2 Jenis Demodulasi
demodulator terbagi menjadi tiga jenis, yaitu, demodulator AM (amplitude
modulation), demodulasi FM (frequency modulation), dan demodulator PM (phase
modulation).

2.3 Demodulasi AM
Modulasi gelombang pembawa mempunyai bentuk, misalnya, yanr terlihat dalam
gambar 5.4(b) tetapi apabila gelombang itu diterima setelah melewati saringan kirim
dan saringan terima akan mempunyai gelombang yang diperlihatkan dalam gambar
(c). oleh sebab arus elektris biasanya lemah, maka diperkuat oleh amplifier,
misalnya oleh transistor. Gelombang yang diperkuat direktifisir oleh full-wave type
rectifier; bentuk gelombang terlihat dalam gambar (d). Bentuk dari gelombang ini
selanjutnya diratakan dengan menggunakan kondensator dan tahanan seperti yang
terlihat dalam gambar (e). Arus yang direktifikasikan ini menggiatkan rele penerima
dimana arus bias setiap waktu mengalir. Apabila arus rektifikasi tidak mengalir, arus
(+) mengalir dalam rele seperti arus penerima dan apabila arus rektifikasi mengalir,
arus (-) penerima dan sinyal telegrap diproduksikan seperti yang terlihat dalam
gambar (f).

a. Mengirim kode telegrap





b. Bentuk gelombang modulasi

c. Bentuk gelombang yang diterima


d. Bentuk gelombang rektifikasi gelombang penuh/full-wave


e. Bentuk gelombang dari arus rele


f. Penerimaan kode telegrap

Teknik deteksi atau demodulasi AM bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu
deteksi snkron dan deteksi asinkron.
1. Deteksi sinkron
memerlukan elemen non-linear atau elemen yang bervariasi terhadap waktu,
yang disinkronisasi dengan frekuensi carrier input. Dalam deteksi asinkron, tidak
diperlukan sinkronisasi dengan frekuensi carrier.
Deteksi asinkron : deteksi selubung
Deteksi selubung adalah teknik demodulasi AM asinkron paling sederhana. Blok
diagram deteksi selubung ditunjukkan pada gambar berikut :




Gambar 18. Diagram blok deteksi selubung
Output penyearah :
V
r
(t) = S(t) S(t) > 0
0 S(t) <0
yang bisa ditulis
Vr(t) = S(t) P(t)
Jika S(t) adalah periodik dengan frekuensi c, maka
P(t) = 1 untuk S(t) > 0
P(t) = 0 untuk S(t) < 0
P(t) adalah sinyal segiempat dengan frekuensi sama c


Persamaan sinyal AM adalah :

Jika LPF yang terpasang membuang semua komponen frekuensi pada
c
dan
komponen frekuensi tinggi lainnya, maka output akan menjadi :

yang merupakan komponen DC ditambah dengan sinyal pesan.
Untuk sinyal pesan adalah sinyal sinus frekuensi tunggal :
f(t) = sin m t
maka :




Output akan mengandung komponen frekuensi c - m yang juga harus dibuang
oleh filter. Filter tidak bisa membuang komponen tersebut jika m terlalu dekat
dengan
c
. Untuk membatasi tidak terjadinya distorsi, frekuensi sinyal pemodulasi
harus dibatasi sehingga.

dan bandwidth B dari LPF dipilih sehingga :
Vr(t) > 0 jika S(t) >0
Kondisi ini hanya mungkin jika m tidak lebih besar dari satu dan sinyal carrier
tersedia.
Detektor selubung sederhana ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar Rangkaian deteksi selubung
Ketika rangkaian mendapat input, kapasitor diisi (charge) sampai input mulai turun.
Pada saat ini, diode menjadi open-circuit dan kapasitor membuang muatan
(discharge) melalui resistor RL.
VL = Vp e - t/RLC
Vp adalah nilai puncak dari sinyal input, diode terbuka saat t = 0. Nilai C yang lebih
besar menghasilkan output dengan ripple yang lebih kecil. Tapi C tidak bisa bernilai
terlalu kecil karena proses pengisian dan pembuangan tidak bisa mengikuti
perubahan sinyal input. Time constan t dipilih sehingga
RC = [(mc)-1]
Jika komponen frekuensi tertinggi dari sinyal pemodulasi mendekati frekuensi
carrier, teknik demodulasi lain yang harus digunakan.
Efek dari kapasitor C ditunjukkan pada gambar berikut.




Gambar Output deteksi selubung untuk beberapa nilai RC

1. Deteksi Sinkron
Deteksi selubung tidak bisa mendeteksi sinyal termodulasi amplituda seperti
sinyal DSB-suppressed carrier. Tapi jika dimungkinkan untuk mendapatkan sinyal
dengan frekuensi dan phasa yang sinkron dengan carrier, maka deteksi sinyal DSB-
SC bisa dilakukan. Beberapa sistem komunikasi mengirimkan sinyal pilot-carrier
kecil yang tersinkronisasi dengan sinyal carrier, seperti pada teknik FM stereo. Jika
suatu osilator lokal yang sinkron dengan sinyal carrier tersedia, demodulasi bisa
dilakukan dengan teknik berikut :

Gambar Deteksi sinkron
Tinjau sinyal DSB

Jika osilator lokal adalah :
VL = V sin ct
Maka sinyal output adalah
V0 = VL S(t)


Jika sinyal di-filter low pass dengan (m < B c ) maka




yang proporsional dengan sinyal pemodulasi. Teknik deteksi ini juga bisa
dipergunakan untuk memodulasi sinyal AM dan SSB.

2.4 Demodulasi FM Kuadratur
Teknik demodulasi FM kuadratur ialah teknik demodulasi FM dengan cara
memecah sinyal ke dua buah kanal, menggeser fasa sinyal salah satu kanal sebesar
90 derajat dikurangi dengan perkalian antara sebuah konstanta dengan selisih
frekuensi antara frekuensi tengah (IF) dengan frekuensi masukan. Diagram blok dari
demodulator FM kuadratur adalah sebagai berikut.

Gambar Diagram blok dari demodulator FM kuadratur
Sinyal yang masuk ( )
in
v dipecah ke dua kanal satu kanal masuk ke rangkaian
pengali analog, dan yang lain masuk ke rangkaian penggeser fasa 90 derajat
(implementasinya menggunakan kapasitor) sehingga menghasilkan sinyal ( )
o
v .
Coil tank adalah rangkaian LC paralel yang memiliki frekuensi resonansi sama
dengan frekuensi tengah (IF) dari sinyal FM yang masuk
c
f . Jika sinyal yang
masuk adalah sinyal dengan frekuensi tersebut, sinyal ini akan memilih jalur dengan
impedansi yang lebih rendah, yaitu langsung masuk ke modulator. Sebaliknya jika
sinyal tersebut memiliki frekuensi di atas atau di bawah frekuensi IF, maka sinyal
akan mengalami pergeseran fasa ) ( u A akibat adanya coil tank ini.

( ) t v v o in e sin =
......................................................................................(2.11)
( ) e e e
t
u A = = A K K 0
2
...................................................................(2.12)
Konstanta K muncul akibat pergeseran tambahan oleh coil tank.
Sinyal kedua ( )
t
v memiliki bentuk
Local
Osilator
Low Pass
Gaussian
Vt
Vout Vin




|
.
|

\
|
A + = e
t
e K t v v
o t
2
sin ...................................................................(2.13)
perkalian kedua sinyal ini menghasilkan
( ) ( ) | | e e e A + A K t K
v
o
2 sin sin
2
2
........................................................(2.14)
sinyal ini di filter dengan filter low-pass sehingga hanya menghasilkan sinyal
( ) e A K
v
o
sin
2
2
....(2.15)
untuk nilai yang kecil (kurang dari 0,25 radian) nilai ini dapat didekati dengan
( ) e A K
v
o
2
2
............................................................................................(2.16)
dari persamaan 2.16 ini terlihat bahwa amplitudo sinyal keluaran berbanding lurus
dengan selisih frekuensi masukan terhadap frekuensi tengah, dan juga terhadap
amplitudo sinyal masukan. Agar amplitudo sinyal masukan tidak mempengaruhi
proses demodulasi, maka sebelum masuk ke demodulator, sinyal terlebih dahulu
diproses oleh rangkaian limiter untuk menghilangkan variasi amplitudo sinyal.

2.4 Demodulasi Digital
Demodulasi adalah proses mendapatkan kembali sinyal informasi yang telah
ditumpangkan pada sinyal pembawa, sehingga output dari demodulasi adalah sinyal
informasi saja. Data ditransmisikan dengan mengubah bentuk frekuensi. Salah satu
frekuensi didesain sebagai frekuensi mark (f1) mewakili logika 1 dan frekuensi space
(f2) mewakili logika 0.



2.4.1 Amplitude Shift Keying (ASK)
ASK dikhususkan untuk mengebalkan noise pada komunikasi data nirkabel
infrared. Pada ASK ini, sebuah subcarrier inframerah dideteksi oleh fotodetektor
yang didigitalisasi menjadi pulsa level TTL antarmuka, dan subcarrier digital
didemodulasikan oleh 1-bit digital demodulator. Untuk meningkatkan kekebalan
kebisingan terhadap lampu neon, suara-suara optik dari lampu dianalisis dan
perilaku dari jaringan komunikasi ASK inframerah dimodelkan di bawah suara-suara.
Berdasarkan model ini, demodulator digital disintesis melalui suatu alat sintesis
tingkat tinggi, yang bertujuan menerapkan algoritma diskriminasi subcarrier dari



suara optik. Sebagian dari hasil percobaan menunjukkan bahwa penerima ASK
diwujudkan dengan penggunaan dari demodulator digital ini dapat mencapai link
bebas kesalahan inframerah bahkan di bawah suara intens dari lampu neon.
2.4.2 Frewuency Shift Keying (FSK)
Salah satu metode demodulasi FSK untuk mengoptimalkan ketepatan parameter
sinyal FSK pada konfigurasi demodulator adalah filter type FSK demodulator.
Komponen utama demodulator ini adalah sebuah match mark filter, sebuah space
match filter, dan sebuah comparator. Prinsip kerja demodulator ini adalah sinyal FSK
yang masuk demodulator dilewatkan match mark filter dan match space filter,
kemudian output dari match filter tersebut dibandingkan. Jika output dari mark filter
lebih besar dari space filter maka keluaran yang dihasilkan adalah mark. Sedangkan
jika keluaran dari space filter lebih besar dari mark filter maka keluaran yang
dihasilkan adalah space. Secara sederhana konsep kerja demodulator FSK adalah
membalik nilai dari frekuensi ke biner. Apabila f1 = 1200 Hz untuk nilai mark dan f2 =
2200 Hz untuk nilai space maka frekuensi 1200 Hz akan dikonversi ke biner 1 dan
frekuensi 2200 Hz dikonversi ke biner 0.
2.4.3 Quadrature Ampltude Modulation (QAM)
QAM dapat dilihat sebagai generalisasi dari QPSK (pada kenyataannya, kadang-
kadang disebut QPSK QAM-4). Salah satunya mengambil poin tambahan di
konstelasi, dan keduanya di amplitudo dan fase. Dalam QAM-16 (Gambar 14-16),
dipetakan empat bit per simbol. Sistem praktis saat ini menggunakan QAM-4
(QPSK), QAM-16, dan QAM-64. Quadrature demodulasi dengan penyesuaian untuk
fase adalah skema demodulasi yang digunakan pada penerima dengan QAM. Untuk
daya pemancar yang diberikan, tingkat sinyal yang sesuai untuk bit yang berbeda
pada masukan ditekan bersama-sama dalam amplitudo dimana salah satunya pergi
ke konstelasi dengan poin lebih. Ketahanan terhadap noise berkurang karena
adanya pemisahan, tapi coding dan teknik pemrosesan sinyal dapat dibawa
sehingga tahan terhadap efek noise untuk mencapai tingkat bit komunikasi yang
lebih tinggi. Di banyak dunia nyata system komunikasi, lapisan fisik menyediakan
konstelasi dengan beberapa kemungkinan dan pilihan kode; untuk setiap kumpulan
kondisi saluran (misalnya, variansi noise, jika saluran yang baik dijelaskan dengan
menggunakan model AWGN), ada beberapa kombinasi dari konstelasi, skema
coding, dan kode rate, yang memaksimalkan tingkat di mana bit dapat diterima dan
diterjemahkan secara andal. Layer yang lebih tinggi "bit rate seleksi" protokol
menggunakan informasi tentang kualitas saluran (signal-to noise rasio, tingkat
kehilangan paket, atau tingkat kesalahan bit) untuk membuat keputusan.




Gambar 2.12 QAM

2.4.4 QuarternaryPSK (QPSK)
QPSK adalah ide yang baik dalam menambahkan "derajat kebebasan" pada
sistem (dan dengan demikian mengekstrak kinerja yang lebih tinggi). Metode ini,
yang ditunjukkan pada Gambar 14-15, menggunakan quadrature skema pada kedua
pemancar dan penerima. Ketika pemetaan bit ke nilai tegangan dalam QPSK, kita
akan memilih nilai-nilai sehingga amplitudo t [n] adalah konstan.


Gambar 14-13: Quadrature demodulasi: tampilan sistem secara keseluruhan.
Representasi alternatif yang ditunjukkan mengimplementasikan demodulator
quadrature menggunakan perkalian eksponensial tunggal kompleks, yang
dimana lebih kompak dalam representasi dan deskripsi.




Selain itu, karena konstelasi sekarang melibatkan empat simbol, kita
memetakan dua bit untuk setiap simbol. Jadi mungkin 00 memetakan ke (A,
A), 01 sampai (-A, A), 11 untuk (-A,-A), dan 10 untuk (A,-A) (oleh karena itu
amplitudo 2A). Ada beberapa fleksibilitas dalam pemetaan ini, tetapi tidak
bisa asal-asalan, misalnya, kita berhati-hati untuk tidak memetakan 11
sampai (A,-A) dan 00 sampai (A, A). Alasannya adalah bahwa noise apapun
akan lebih menyebabkan (A, A) menjadi bingung fo (A,-A), dibandingkan
dengan (-A,-A), jadi kita ingin kesalahan simbol untuk korup sebagai bit
sesedikit mungkin.

Gambar 2.17 QPSK



2.5 Contoh Soal
1. Perhatikan sistem modulasi demodulasi-sederhana di bawah ini, dimana
semua sinyal diasumsikan periodik dengan periode N = 10000 dan
frekuensi sampling, fs, adalah 10000 sampel per detik. Selain itu, a = 2
(fa / fs) = (1000 * 2) / 10000.




Koefisien Fourier Series dengan frekuensi untuk input ke sistem modulasi
demodulasi-diplot di bawah ini untuk kasus N = 10000 dan fs = 10000.
Perhatikan bahwa koefisien Fourier adalah nol hanya untuk -100 k
100.

Plotlah koefisien deret Fourier terhadap frekuensi untuk sinyal di lokasi A
dan B dalam diagram di atas. Pastikan untuk label fitur kunci seperti nilai
dan indeks koefisien puncak. Tunjukkan juga lebar dari puncak.
Jawab:

Sinyal dimodulasi oleh 2 gelombang pembawa, sebuah kosinus pada
1000 dan kosinus pada 2000. Dua spektrum termodulasi ini kemudian
ditambahkan. Spektrum sinyal asli di titik asal, sehingga setelah modulasi



komponen spektral muncul di + / - 1000 dan + / - 2000. Spektrum di A
hanya menambahkan dua spectrum tersebut dan karenanya kita
mendapatkan 4 puncak yaitu pada + / - 1000 dan + / - 2000. Ketinggian
puncak adalah satu setengah dari aslinya dan lebar tetap sama seperti
sinyal asli yaitu 100Hz.

Untuk spektrum di B, masing-masing puncak dalam spektrum A dialihkan
dan diskala oleh masing-masing komponen modulasi. Ada 2 komponen
modulasi karena kita mengalikan dengan (cos Omega + cos 2 * Omega).
Ada 4 puncak pada spektrum asli A. Jadi puncak yang dihasilkan pada
frekuensi :
2000 + 2000 = 4000
2000 2000 = 0
1000 + 2000 = 3000
1000 - 2000 = -1000
2000 + 1000 = 3000
2000 - 1000 = 1000
1000 + 1000 = 2000
1000 1000 = 0
-2000 + 2000 = 0
-2.000-2000 = -4000
-1000 + 2000 = 1000
-1.000-2000 = -3000
-2000 + 1000 = -1000
-2.000-1000 = -3000



-1000 + 1000 = 0
-1.000-1000 = -2000
Kemudian hasil diatas diperkecil dengan 2 wrt tinggi puncak asli, sehingga
masing-masing 8 memiliki tinggi 1/4. Ada 2 puncak pada 3000 yang
ditambahkan hingga kembali ke ketinggian 1/2. Demikian pula pada -
3000, -1000 dan 1000. Oleh karena itu, semua puncak memiliki ketinggian
1/2. Akun ini untuk 4 * 2 = 8 puncak. 4 puncak terletak pada 0, dan semua
ditambahkan hingga memberikan puncak ketinggian 1 pada frekuensi 0.
Akun ini untuk 4 puncak lagi. Dan 4 yang tersisa (16-4 * 2 - 4), semua
"tunggal" puncak pada + / - 4000 dan + / - 2000 masing-masing dengan
tinggi 1/4.

Gambar 3.4 Plot Koefisien Deret Fouerier Terhadap Sinyal B
















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari penjelasan tentang demodulasi diatas telah diketahui bahwa demodulasi
mempunyai 2 jenis yaitu analog dan digital. Apabila menggunakan
demodulasi analog maka waktu yang akan kita terima kontinu dan jika digital
maka sinyal yang kita terima adalah waktu berupa angka biner yaitu 1 atau 0.
Sehingga untuk analog yag sering digunakan adalah AM, dan FM.
Sedangkan untuk digital adalah ASK, FSK, QAM dan QPSK.




























BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/56387819/Demodulator-Am
http://www.scribd.com/doc/57839679/Teknik-Modulasi-Dan-Demodulasi
http://www.scribd.com/doc/57834664/Demodulasi
http://syafaatpradipta.students-blog.undip.ac.id/2009/06/30/modulator-dan-
demodulator- m/
http://elektronika-dasar.com/search/demodulasi
http://syafaatpradipta.students-blog.undip.ac.id/2009/06/30/modulator-dan-
demodulator-am/
http://www.scribd.com/doc/56387819/Demodulator-Am
http://www.scribd.com/doc/57839679/Teknik-Modulasi-Dan-Demodulasi
http://www.scribd.com/doc/57834664/Demodulasi
http://syafaatpradipta.students-blog.undip.ac.id/2009/06/30/modulator-dan-
demodulator-am/
http://elektronika-dasar.com/search/demodulasi
http://syafaatpradipta.students-blog.undip.ac.id/2009/06/30/modu
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-15763-2206100074-paper.pdf