Anda di halaman 1dari 25

Para Penguasa warung Kopi

Komposisi kopi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Komposisi Pengantar Kopi Para Penguasa Warung Kopi [1] Para Penguasa Warung Kopi [2] Para Penguasa Warung Kopi [3] Para Penguasa Warung Kopi [4] Para Penguasa Warung Kopi [5] Peracik Kopi 1 2 3 5 11 13 19 24

Para Penguasa warung Kopi

PENGANTAR KOPI
Menulis, bagi sebagian orang, bisa lahir setelah diawali oleh beberapa pengantar ide dan imajinasi. Ada yang menulis setelah membaca buku, setelah melakukan perjalanan jauh, setelah menonton film, melihat peristiwa yang mengguncang, diserbu perasaan aneh, jatuh cinta beda kelamin, atau hanya sekedar menggali dari obrolan karib antar dua sahabat. Dan masih banyak lagi pemantik gagasan yang berserakan di setiap jenak kehidupan. Tentu tidak semua renik peristiwa bisa kita fosilkan dalam kata-kata, tapi membiarkan semua yang terjadi di kehidupan sehari-hari atau di lalu lintas pikiran dan kontemplasi tanpa diikat dengan catatan juga sangat disayangkan. Menulis bukan berarti ingin terus hidup di masalalu, tapi sebuah sikap tentang sadar kemampuan, bahwa kita tidak bisa menuturkan semuanya dengan lisan. Tulisan di bawah ini saya ambil dari sebuah obrolan dengan seorang kawan. Dari kata-kata yang dia hamburkan, terlihat bahwa dia sedang resah, sedang mencari jalan eksistensi. Malam itu, jejentik jam tengah bersiap menyongsong fajar 1 Syawal. Udara tercium syahdu oleh suara takbir yang menggema dari seluruh pengeras suara mesjid. Begini kira-kira keluh kesahnya itu : Kawan, kita telah tahu mana jalan kebenaran itu, namun kita pun kerap tidak sanggup untuk menempuhnya. Hati kita ibarat matahari yang setiap hari terbit dan terbenam. Sampai kapan kita akan begini terus?. Kita seperti orang yang bekerja shift. Jadwal posisi hati kita kerap bergantiganti. Alangkah tidak mudah berdiri tegar dalam istiqomah. Kita tidak pernah bertahan lama tegak berdiri dalam kebenaran. Sebegitu rapuhkan iman kita?. Kita telah berpeluh dalam mengeja katakata. Menggali nasehat dari buku-buku agama dan sastra, namun setiap kali kita mendapatkan mutiara, setiap itu pula dia cepat menguap dari titik kesadaran kita. Seperti menuangkan spirtus dalam piring lebar, petuah-petuah itu tidak pernah bertahan lama. Sampai kapan kita akan begini terus?. Sangat tidak enak hidup menjadi bunglon. Berganti warna, menyesuaikan dengan tempat berpijak. Sementara untuk jujur pun kita tidak pernah berani. Melindungi sayap rapuh ini dari jangkauan sorot mata manusia. Kita seperti yoyo, ke bawah untuk kemudian naik lagi. Kawan, apakah kau kerap merasakan hal ini juga?. Menghabiskan kesenangan dalam durasi yang sangat pendek, lalu jeda kosong yang panjang dan mencemaskan menawanmu. Kemudian duduk sendirian dalam sepi di kamarmu. Mengkalkulasi waktu dan kesempatan yang semakin sempit, sementara scenario sejarah telah jauh-jauh hari kita gantungkan di dinding kamar, dia sedang menagih masadepan. Kawan, kita telah bosan berbicara tentang pilihan, karena sesungguhnya kita tidak pernah mampu untuk memilih. kita terseret oleh angan-angan pendek, dibawa arus absurditas yang sering kita kagumi. Ketika cigarette sudah habis empat batang, dia akhirnya pamit pulang. Saya bergegas mencari buku catatan. Tak lama datang lagi seorang kawan, yang ini aroma bicaranya dipenuhi oleh kegembiraan, mukanya cerah seperti seorang menantu yang baru dapat pujian dari mertua. Type seperti ini pasti cepat berlalu, betul saja, belum ada sepuluh menit dia sudah pamit. Dan saya mencari buku catatan lagi. [ ]

Para Penguasa warung Kopi

Para Penguasa Warung Kopi [1]

ira-kira usianya 19 tahun, abang saya, Bisma, mulai masuk kuliah. Tiga bulan dari pertama kali masuk kampus,

rambutnya sudah terlihat gondrong. Hampir setiap sore, sepulang kuliah, dia pergi ke warung kopi Bu Risna di ujung gang. Saya tidak boleh turut dengannya. Sebagai alat pengusir, kadang-kadang dia memberi saya uang lima ribu agar saya tidak ikut-ikutan nongkrong dengannya dan kawan-kawannya. Sepengetahuanku, kawannya tak banyak, di warung kopi itu yang paling sering ku lihat adalah Bang Joni dan Bang Erlan. Dua-duanya mahasiswa rantau, tapi entah dari daerah mana, saya tidak tahu. Kadang-kadang saya melihat abang saya itu membakar cigarette, itu mungkin alasannya kenapa saya tidak boleh turut. Antara sebentar, kulihat juga mereka sedang mantap betul membicarakan banyak hal, tapi entah mengenai apa, jarak saya terlalu jauh untuk bisa dengan jelas mendengarkan isi pembicaraannya. Warung kopi itu persis di ujung gang, di pinggir jalan gang yang banyak di lalui orang, terutama oleh para mahasiswa dan mahasiswi, karena itulah salah satu akses untuk mencapai kampus tempat Bang Bisma dan kawan-kawannya kuliah. Kalau ada mahasiswi lewat, sendirian ataupun bergerombol, cantik ataupun lumayan cantik, mereka; abang saya dan kawan-kawannya, seperti tidak berminat untuk menggoda, ataupun sekedar untuk mengeluarkan suara batuk yang dibuat-buat. Mereka asyik saja dengan kopi, cigarette, pembicaraannya. Kadang-kadang saya berpikir, mungkinkah abang saya itu belum puber?, ah, tapi bagaimana mungkin?, saya saja yang baru duduk di kelas dua SMP sudah sering merasa deg-degan kalau berdekatan dengan teman-teman saya yang cantik dan roknya di atas lutut. Orang-orang dewasa, atau mereka yang beranjak dewasa, kadang-kadang susah dimengerti, dunia mereka terlihat serius, dan itu menurut saya tidak menarik. Karena tidak menarik, makanya saya jarang memperhatikan apa yang dibicarakan oleh abang saya dan kawankawannya. Saya lebih sering bermain dengan teman-teman sebaya di lapangan kecil dekat rumah Pak Eka. Kata ibu, dia adalah seorang professor, seorang sangat cerdas yang mengajar di kampus terkenal di kota kami. Setiap kali aku bermain sepeda atau hanya ngobrol-ngobrol saja, Pak Eka selalu terlihat duduk sendirian di teras rumahnya, membaca koran atau mungkin jurnal-jurnal penelitian. Kacamatanya sudah agak merolot ke bawah, melewati garis normal tempat biasanya sepasang lensa itu nyangkut di hidung. Kalau saya dan anak-anak mulai bermain bola, dia selalu mengusir kami, sebab bermain bola terlalu ribut katanya, mengganggu konsentrasinya sebagai seorang cerdas yang selalu haus akan penelitian. Kalau jendela rumahnya kebetulan terbuka lebar, terlihat barisan buku dalam rak kayu yang sangat kuat, bukunya banyak sekali dan tebal-tebal. Menurut saya dan juga kawan-kawan sebaya, Pak Eka termasuk orangtua yang rating menyebalkannya cukup tinggi, orangtua seperti itu tidak pernah menarik simpati anak-anak seusia saya yang mulai banyak dialiri adrenalin. Tapi sikap menyebalkan Pak Eka masih kalah oleh Bu Nina. Dia adalah istri seorang juragan besi yang kaya raya, tapi pelitnya nomor wahid. Rumahnya dikelilingi oleh halaman yang luas ditumbuhi pohon-pohon buah. Ada rambutan, mangga, jambu, belimbing, dan alpukat, tapi kini pohon alpukatnya sudah habis ditebang karena sering dihinggapi ulat bulu yang menggelikan. Setiap kali pohon-pohon itu berbuah, kami; anak-anak tetangganya yang mulai pandai melempar, hanya dapat melihatnya dari luar pagar dengan air liur yang kadang-kadang seperti ingin menetes, membayangkan betapa manisnya rambutan merah itu, atau betapa enaknya mangga aromanis itu, atau betapa segarnya belimbing kuning itu. Tapi apa boleh buat, Bu Nina tak pernah membagi kami buah-buahan yang dilimpahkan kepadanya oleh Tuhan. Maka kami pun bersiasat, kalau rumahnya terlihat sepi, kami membagi tugas; dua orang melempar buah dengan kayu, dua orang mengawasi keadaan, dan saya bertugas sebagai pengambil buah yang berhasil kami jatuhkan dengan cara mengendap-ngendap dan menyelinap masuk ke halaman rumahnya, dan untung saja rumahnya tidak dilengkapi dengan anjing penjaga yang selalu bikin ribut. Saya dan kawan-kawan sebaya, atau orang-orang tua menyebalkan menyebut kami dengan istilah gerombolan pengacau, memang sering merepotkan orang-orang tua yang tidak kooperatif dengan rencana-rencana hebat kami. Seperti siang itu, waktu kami berencana mengadakan lomba balap sepeda di sebuah kebun kosong yang tidak terurus, tidak jauh dari rumahnya Bu Makie. Acara belum dimulai tapi Bu Makie sudah mengusir kami, dia tidak bisa mendengar suara berisik anak-anak puber pertama, karena mau tidur siang. Karena kesal, waktu dia sudah terlelap dalam tidur siang, kami kembali lagi dan mencoret-coret dinding belakang rumahnya dengan spidol, arang, dan pilok sisa yang dipungut dari bengkel dekat jalan raya. Sore hari, tetangga dekatnya dibuat heboh, sebab Bu Makie muntab, marah bercampur jengkel, sebab para tersangka sudah tidak ada di tempat.

Para Penguasa warung Kopi

Bang Bisma bukan tidak tahu kelakuan saya dan kawan-kawan, begitu juga dengan kawan-kawannya yang suka ngumpul di warung kopi Bu Risna. Mereka tahu, tapi sudah saya bilang, orang-orang dewasa dan yang beranjak dewasa kadang-kadang susah dimengerti, mereka diam saja, tak pernah memarahi kami para gerombolan pengacau. Ah, lagi pula mereka mungkin sibuk dengan dunianya sendiri yang mungkin saja lebih menarik daripada dunia saya yang baru kelas dua SMP ini. Tapi sebagai mahasiswa, kelakuan abang saya dan kawan-kawannya berbeda dengan mahasiswa yang lain, setidaknya dalam beberapa hal. Selain tidak doyan menggoda perempuan yang cantik dan yang lumayan cantik, mereka juga tidak suka keluyuran jauh malam-malam, paling jauh ya di warung kopi Bu Risna itu. Bang Bisma rute malam harinya sudah saya hapal : selepas maghrib dia akan naik jemuran, mengambil baju yang sudah kering, lalu pergi ke dapur menghajar menu malam. Waktu isya datang dia akan pergi ke mesjid memakai sarung dan tanpa peci sebab rambutnya sudah terlalu mengembang dan gondrong. Setelah kewajiban tunai, dia akan pulang dulu ke rumah mengganti sarung dengan celana pendek selutut, mengambil uang dari dompet dan pergi ke warung kopi. Ibu tak pernah banyak cakap dengan aktivitas malam bang Bisma yang monoton seperti itu, beliau hanya sesekali berucap : kurangi merokoknya!, oh, ibu ternyata sudah tahu kalau Bang Bisma sering membakar cigarette, tapi kok kenapa tidak marah ya??. Sedang dua orang kawannya, bang Joni dan Bang Erlan, meskipun saya tidak tahu persis rute malamnya, tapi mereka juga sama-sama akan berlabuh di warung kopi Bu Risna, menikmati kopi dan cigarette, sesekali makan mie rebus, dan banyak membicarakan entah apa. Saya rasa pemuda-pemuda seperti mereka patut dicurigai, pemuda-pemuda seperti itu terlihat kehilangan gejolak darah mudanya yang seharusnya sedang mendidih, yang seharusnya seperti yang lain, yang doyan menggoda perempuan-perempuan cantik, suka keluyuran ke tempat-tempat hiburan, lesehan di depan Circle K, atau minimal ngobrolnya di kafe-kafe yang ada life music. Sebagai pemuda, mereka terlihat terlalu misterius. Tapi saya menjadi penasaran. Dan saya pikir, saya harus mulai melakukan penyelidikan dari Bang Bisma, dari kakak saya sendiri. Tiba-tiba saya merasa menjadi detektif Mouri. Ya, Kogoro Mouri. [ ]

Para Penguasa warung Kopi

Para Penguasa Warung Kopi [2]

emang pada awalnya, sebelum saya mendeklarasikan diri untuk menjadi detektif, saya jarang sekali

memperhatikan aktivitas bang Bisma. Walaupun kami kakak beradik, dan hidup di bawah atap yang sama, tapi saya pikir tidak penting betul untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh abang saya itu. Suka-suka dialah mau berbuat apapun, saya tak punya urusan. Tapi itu dulu, sebelum saya menyadari bahwa bang Bisma dan dua orang kawannya; bang Joni dan Bang Erlan, adalah semacam anak muda yang mempunyai gelagat berbeda jika dibandingkan dengan para pemuda kebanyakan. Arus darah muda mereka entah mengalir ke mana, yang jelas tidak mengalir ke Circle K, Caf dengan live music, menggoda perempuan-perempuan cantik, atau sekedar mencicipi local wine untuk mengusir dingin. Tidak, darah muda mereka tidak mengalir ke hal-hal seperti itu. Lalu ke mana?, itulah yang sedang saya selidiki. Terberkatilah dia yang punya warung kopi di ujung gang, sebab pelanggannya akan bertambah satu orang. Ya, saya akan mulai menjadi pelanggan tetapnya. Penyelidikan harus dimulai dari base camp mereka. Walaupun bang Bisma seringkali melarangku untuk turut ke warung kopi bu Risna, tapi selalu saya jawab, Siapa yang ikut?, orang mau makan mie rebus!. Dan dia akhirnya bungkam, tak banyak cakap lagi. Kawan-kawannya yang jumlahnya dua orang itu awalnya bertanya juga, kenapa saya sekarang jadi sering makan mie rebus di warung bu Risna, tapi ini adalah pertanyaan paling mudah sedunia, lebih mudah daripada soal bahasa Inggris yang ada di ulangan, kujawab saja, Lagi banyak duit bang, sekali-kali makan di warung, bolehlah. Mereka hanya tertawa saja dan sedikit berucap manis,

Balaga siah!!.
Bu Risna tahu kombinasi seperti apa mie rebus yang sering saya pesan; Indomie rasa kari ayam, telornya setengah matang, pakai sayur, dan airnya agak banyak karena saya pasti menghiasinya dengan dua potong bakwan yang tersedia di meja. Tak lupa saya tambahkan sedikit saus, kecap, lada halus, dan kalau kebetulan turun hujan, air tampias hujan menampar-nampar kaki sehingga sensasi dingin terasa mantap, maka saya tambahkan juga beberapa irisan cabe rawit untuk melawannya. Kalau cabe rawitnya kebanyakan, biasanya saya akan berlama-lama di kamar mandi, merasakan derita sakit perut, bencana selalu datang dari tingkah manusia. Cilaka ku polah sorangan, begitu ungkapan orang Jerman. Tapi yang saya lakukan bukan sekedar makan mie rebus, bahwa saya menikmati sensasi kari ayamnya memang iya, tapi ketahuilah bahwa yang saya lakukan adalah semata-semata demi kepentingan penyelidikan, demi mendeteksi ke mana darah muda mereka dialirkan. Saya sengaja tidak membawa semacam catatan kecil yang biasa dilakukan oleh para kuli tinta, saya hanya merekam pembicaraan bang Bisma dan kawan-kawannya dengan bantuan kuping saja lalu diendapkan di lereng ingatan. Lagi pula, tak elok rasanya makan mie rebus sambil sibuk mencatat, terdengarnya saja cukup merepotkan. Tentu tak cukup hanya sekali dua kali untuk mengetahui arah pembicaraan mereka, sebab kadang-kadang apa yang mereka bicarakan tidak dapat saya mengerti, seperti malam itu, pada sebuah malam yang basah, ketika hujan baru saja menyelesaikan tugasnya. Bu Risna sedang menuangkan bumbu Indomie ke dalam mangkuk, tiba-tiba terdengar bunyi cigarette kretek dibakar dan asap seketika mengambang di ruangan yang agak terasa hangat oleh hawa kompor. Bang Joni melepas obrolan, Bung, malam kemarin akhirnya saya selesai baca Negeri 5 Menara, apa kata Fuadi, man jadda wajada, jadi tak usahlah kita ragu-ragu, kalau kita orang bekerja keras, melebihkan usaha, insyaAllah rencana kita akan berhasil. Bang Erlan terlihat menghirup kopi hitamnya, mendekatkan gelas ke hidung, lalu kemudian memindahkan ke mulut, dan terdengar suara merdu orang menyeruput. Dia lalu berucap, Wah ente baru khatam rupanya Bung, kalau hal itu saya juga sudah tahu, tapi persoalannya harus dari mana kita mulai bergerak?!. Bang Joni terdiam sesaat, lalu mulutnya mulai terbuka lagi, tapi tiba-tiba bang Bisma melancarkan manuver, Bung, kalau kita mau bergerak, kita tentunya harus punya peta dulu, harus mempertegas tujuan-tujuan dari rencana kita, bukan hanya mengumpulkan lintasan ide saja dan mengucapkannya. Kita harus mulai maping, membuat rute, dan membagi tugas dengan jelas. Bukan main, saya meraba-raba makna pada obrolan awal itu. Dari sudut mata terlihat, bang Bisma kemudian mengeluarkan sebuah pena dan kertas agak lusuh dari kantong celana sontognya, dia lalu menulis, atau mungkin menggambar, saya kurang begitu jelas melihatnya. Dua orang kawannya masih tetap pada posisi sedap betul; duduk di

Para Penguasa warung Kopi

kursi kayu yang memanjang, satu kakinya diangkat ke atas kursi, dan cigarette berkarib dengan kopi panas, sementara gorengan hangat tersaji di atas meja, kombinasi yang memikat. Melihat gaya mereka, membuat saya kadang-kadang ingin cepat besar, ingin segera bisa menikmati cigarette seperti bang Bisma dan kawan-kawannya. Ternyata kebiasaan merokok bisa menular kepada oranglain yang tidak merokok, setidaknya itu yang terjadi pada saya. Bang Bisma terus saja menulis, atau mungkin menggambar, sesekali dia menghisap cigarettenya, rupanya dia sudah tidak takut lagi kalau kebiasaan buruknya itu saya laporkan pada ibu. Tak terasa mie rebus pesanan saya sudah siap saji, siap berpindah ke lambung seorang anak kelas dua SMP. Bung, coba perhatikan ini, bang Bisma tiba-tiba berhenti menulis, atau mungkin berhenti menggambar, dia mengangkat hasil karyanya. Saya ingin sekali melihat hasil karyanya itu, tapi takut tidak boleh sama bang Bisma, takut dianggap pipilueun urusan kolot, akhirnya saya berkonsentrasi saja pada mie rebus dan memasang kuping setajam mungkin seperti radar. Tapi ternyata dia tidak berbicara lagi, malah menyerahkan kertas lusuh itu kepada dua orang kawan karibnya. Lalu hening, radar tidak menangkap suara apapun kecuali hujan yang masih titik-titik turun, dan suara bang Iwan Fals yang dari tadi bernyanyi pelan, volume radio butut milik bu Risna bagai disengaja untuk tidak bersuara keras, tapi aku masih bisa mendengar lirik penyanyi legendaris itu :

Pernah kita sama sama susah Terperangkap di dingin malam Terjerumus dalam lubang jalanan Digilas kaki sang waktu yang sombong Terjerat mimpi yang indah Lelah
Bang Joni dan bang Erlan terlihat khusyu melihat catatan bang Bisma, keduanya belum mengeluarkan komentar. Hening masih mengusai. Lalu hujan yang tadi mulai reda, kini menjadi deras kembali, dari jendela warung saya lihat langit, oh gelap betul. Angin mulai berhembus kencang, tampias air hujan mulai menyerbu ke dalam warung, saya bergeser agak ke dalam. Mestakung, semesta mendukung. Hujan seperti tahu bahwa saya harus berlama-lama di warung kopi itu demi kepentingan penyelidikan, maka dia pun turun lagi dengan deras untuk menahan saya. Mie rebus sudah hampir habis, tapi dua kawan bang Bisma masih saja membisu. Demi padu padan dengan suhu di luar yang semakin turun, maka saya memesan air jeruk panas. Dan lihatlah bu Risna bersicepat menjalankan tugasnya. Ha..ha..ha.., naon maneh rek ngadongeng?!, tiba-tiba bang Joni tertawa dan berkicau. Bang Bisma diam saja dengan tenang, dia seperti tidak merasa terganggu dengan sikap bang Joni yang jelas-jelas menertawakannya. Lalu bang Joni berkicau lagi, Tapi bung, bagus juga ente punya ide, bolehlah saya kasih jempol, macam like this di facebook,ha..ha..ha.. lagi-lagi dia tertawa, dan kali ini bang Erlan pun ikut tertawa, tawa mereka berderai-derai, dan bang Bisma hanya tersenyum. Gimana?, edan kan ide urang mah?, kali ini giliran bang Bisma yang berkicau. Bolehlah bung, tapi tunggu dulu, nanti yang bakalan bermain di lini keagamaan siapa?, kita orang kan tahu sendiri, kalau Andrea bilang, Islam kita mah masih berantakan, itu suara bang Erlan. Oh iya ya, siapa ya kira-kira?, kalau ada mah harus perempuan euy, bang Bisma seperti tersadar bahwa ada kekurangan sumber daya manusia dalam rencana yang dia tulis di kertas lusuh itu. Sudah dua kata yang saya kumpulkan; dongeng dan keagamaan. Sepertinya dua kata ini adalah kata-kata kunci yang akan membantu saya dalam mengembangkan penyelidikan, tapi mungkin akan ada kata-kata lain yang nantinya semacam akan menjadi benang merah yang berjejalin, berkaitan satu sama lain, dan ke mana darah muda anak-anak muda misterius ini mengalir, tentu nanti akan semakin terang. Mereka kemudian tak banyak cakap, hanya bergiat minum kopi dan menghisap cigarette. Bang Joni mulai pesan mie rebus, porsinya lumayan jumbo, dia pesan dua mie dalam satu mangkok besar plus dua telor, dan bu Risna tentu punya mangkok seperti itu, disediakan khusus buat para pelanggannya yang bertype macam kantong nasi alias RW 06 alias rakus. Edan kamu Jon, porsi belum berubah juga, pastas saja perut kau macam Semar, maju perut pantat mundur," nada bicara bang Bisma beraroma serangan balik setelah tadi dia yang ditertawakan oleh bang Joni. Tak apalah bung, biar begini, biar terlihatnya kurang seksi, tapi setidaknya saya semacam sudah laku, amboi, dia mengelak dengan sebuah jurus sakti, membuat bang Bisma mati kutu. Tapi tunggu dulu, laku?, apakah maksudnya dia sudah punya pacar?, saya kurang percaya, saya pasang lagi radar dengan posisi siaga. Bang Bisma terlihat mengambil nafas cukup dalam, lalu berkicau lagi, nampaknya ini sebuah pembelaan terhadap dirinya sendiri, Bung, bukan salah saya kalau tidak ada satupun perempuan yang tahu, bahwa saya ini sebenarnya ganteng dan keren. Ini hanya soal waktu saja bung, nanti ketika mereka tersadar, jangankan satu, tiga perempuan pun bolehlah mengejar-ngejar saya.

Para Penguasa warung Kopi

Nah, betul, ternyata mereka sedang membicarakan perempuan, dan yang dimaksud oleh bang Joni laku, tentu adalah bahwa dia semacam sudah punya pacar, posisinya berseberangan dengan kakak saya, bang Bisma, yang karena tidak ada satupun perempuan yang tahu bahwa dia sebenarnya ganteng dan keren (klaim seperti ini membuat selera makan saya hilang), maka dia masih oke untuk dibilang jomblo. Bang Erlan hanya tersenyum saja, kalau membicarakan perempuan, dia terlihat semacam cool, hanya saja di wajahnya terbit juga rona yang aneh. Rona yang pernah saya lihat di cermin kamar, itulah dia wajah saya sendiri, waktu saya merasa senang oleh kedatangan murid baru yang baru pindah dari Jakarta, perempuan tentu saja, rambutnya kira-kira sebahu, tapi dia ikat dua seperti Shizuka temannya Nobita, namanya terdengar cukup manis : Olva. *** Kostannya persis di sebelah mesjid komplek. Jilbabnya panjang, dan setahu saya, kalau pergi kuliah, dia tidak pernah memakai celana panjang, dia selalu mengenakan rok panjang. Kata ibu, namanya Regina, panggilannya Ina, seperti singkatan untuk Indonesia, kalau saya tentu harus memakai kata Kak di depan namanya jika mau memanggilnya. Nah, perempuan inilah yang ternyata diincar oleh bang Bisma dan kawan-kawan warung kopinya untuk ditempatkan di lini keagamaan. Kontras memang, jika kakak yang anggun ini mau bergaul dengan bang Bisma dan kawan-kawannya yang jelas-jelas cerobong asap semua dan penampilannya terkesan abstrak alias tidak jelas. Tapi saya ingat sebuah percakapan di warung kopi yang entah malam ke berapa dalam operasi penyelidikan saya ini, waktu itu bang Bisma sempat bicara, Bung, tapi saya sedikit ragu, mungkinkah dia mau kita ajak dalam rencana kita?, bung kan tahu sendiri, dia itu seorang akhwat, seorang yang menjaga betul hijab, akhlaknya bagus, dan membenci rokok, ingat ya : membenci rokok!!. Bang Erlan dengan tenang menjawab, setenang asap cigarette yang berhamburan dari mulutnya, Bung, semua itu tak jadi soal. Dia orang memang akhwat, menjaga hijab, akhlaknya bagus, dan membenci rokok, lalu kenapa dengan semua itu?. Begini bung, asal kita juga bersikap baik, tidak kurang ajar, dan tidak merokok di depannya, saya yakin dia mau bantu kita. Lagi pula, ini bisa kita jadikan sebagai pembuktian, apakah orang-orang yang sholeh secara pribadi adalah dia yang juga sholeh secara sosial?, tentu bung sudah tahu belaka dalilnya, hablum minAllah hablum minannas. Kita lihat saja nanti, yang penting kita usaha dulu, kita sampaikan tujuan dari rencana-rencana kita, dan ingat bung, kita harus tetap mengedepankan prasangka baik. Bang Joni yang dari tadi hanya diam saja tiba-tiba ikut bicara, Ya, betul bung, kita harus mengedepankan husnudzon, lalu disambung dengan cepat oleh bang Erlan, Tah bener eta

pisan.
Maka pada sebuah sore yang lumayan cerah, waktu saya dan kawan-kawan gerombolan pengacau main sepeda di depan mesjid, bang Bisma, bang Joni, dan Bang Erlan terlihat sedang berdiri di depan kostan kak Ina, tumben penampilan mereka agak rapi, mereka serempak berucap Assalamualaikum, setelah ucapan salam diulang sebanyak tiga kali, barulah ada sosok berkerudung keluar dari balik pintu. Saya tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, juga tidak tahu bagaimana sikap bang Bisma dan kawan-kawannya di depan kak Ina yang anggun itu, sebab si Ajat, kawan saya mengajak pergi ke perkebunan, Pez, hayu ah kita ke perkebunan, banyak mangga yang sudah matang tuh, saatnya kita panen. Jelas itu adalah ajakan untuk mencuri mangga di halaman belakang rumah bu Nina yang terkenal pelit. Oh, siaplets go!!, dan kami meluncur ke TKP. Tapi sebelum pergi sempat juga saya lihat bang Bisma kepalanya manggut-manggut, pandangannya menunduk, dan tidak ada tawa kelakar dari tiga orang pemuda cerobong asap itu. Saya kira mereka sedang berusaha untuk bersikap sopan di depan seorang perempuan berjilbab panjang itu. *** Di pojok lapangan komplek, tidak jauh dari rumah pak Eka sang professor tua menyebalkan, di situ ada sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, luasnya sekira 3,5x4,5 meter, bentuknya persegi panjang, itulah dia kantor RT. Di depannya tumbuh sebuah pohon mangga yang jarang berbuah tapi daunnya rimbun sehingga memberikan efek teduh ke kantor dan halaman bangunan tersebut. Di bawah pohon itu terdapat dua buah kursi kayu yang memanjang dan ada sandarannya, tempat para pemuda dan orang-orang tua setiap sore asyik bermain kerambol, catur, dan domino. Dan kopi serta cigarette rupanya telah menjadi Tuhan bagi para lelaki yang doyan berkumpul, nongkrong, dan berbanyak ngobrol. Di warung kopi ataupun di depan kantor RT, tetap saja kedua benda itu yang menjadi primadona. Sesekali suka ada yang membawa gitar, kalau yang mainnya orantua pasti yang terdengar adalah lagu-lagu zaman purbakala macam Kisah Sedih di Hari Minggu, Cinta Hampa, Kisah Seorang Pramuria, Fatwa Pujangga, dan Semalam di Malaysia. Sendu betul suaranya, seperti di acara Zona Memori yang ditayangkan Metro tv. Tapi kalau kebetulan anak muda yang main, lagu-lagunya lumayan up to date, mereka sering membawakan lagu dari band-band mendayu-dayu

Para Penguasa warung Kopi

seperti ST12, Armada, Ungu, Bagindas, dan Kangen Band. Tapi tetap saja tidak cocok dengan kuping saya yang seharihari, kalau sedang di rumah, terlalu banyak mendengarkan music yang bang Bisma putar dari kamarnya dengan kencang. Dia suka sekali mendengarkan Monkey to Millionare, Nudist Island, Alone At Least, Van De Brews, dan Homogenic. Anggota tetap alias yang tiap hari hadir untuk nongkrong di depan kantor RT adalah kang Agus, atau lebih populer dengan nama Agus Godeg. Rambut agak tebal tumbuh subur dari cambang sampai dagunya, sambung menyambung sampai bertemu dengan jenggotnya yang tidak terlalu panjang. Sekilas mukanya tidak jauh berbeda dengan para laskar mujahidin Afganistan. Senyumnya sering mengembang kalau dia menang catur. Usianya ada sekira 40 tahun, istrinya satu, anaknya juga satu. Dia pandai bercerita, apalagi cerita yang nyerempet-nyerempet porno. Kalu dia mulai bercerita, yang main gitar tiba-tiba berhenti, yang main kerambol menjauh dari papan permainan, yang main catur kehilangan konsentrasi, semuanya bagai ditarik oleh pesona cerita kang Agus Godeg. Awal cerita biasanya para pendengar hening, tapi di tengah dan di akhir cerita, tawa nikmat berderai-derai. Gaya bicara kang Agus Godeg agak mirip dengan Komeng, kosa kata kocaknya berloncatan dengan cepat, mulutnya seperti mesin otomatis yang memproduksi banyolan-banyolan segar. Kalau ada perempuan cantik nan seksi lewat di jalan yang tidak jauh dari kantor RT itu, kang Agus Godeg pasti akan berbicara setengah bergumam, Aduh, si eneng cantik kuda euy... Awalnya yang nongkrong di sana tidak tahu apa itu cantik kuda, tapi kang Agus Godeg lalu menjelaskan, Iya, cantik kuda. Kalau dari jauh cantik, kalau dari dekat kepengen dinaikin, dan tawa pun pecah berderai-derai, Ah, gelo euy si kang Agus mahha.ha.ha..,. Saya, walaupun masih kelas 2 SMP dan belum menjadi pemuda, tapi sering nongkrong di situ, sehingga tahu kelakuannya. Walapun pintar membanyol, suka menggoda perempuan-perempuan yang lewat, dan mukanya tidak terlalu jelek, bahkan masuk kategori lumayan, tapi kang Agus Godeg tak goyah dari satu istri. Dia tak mau ikut-ikutan seperti para pelawak yang di sering muncul di televisi, yang beberapa diantaranya mempunyai istri lebih dari satu. Selain setia dengan istrinya, dia juga setia dengan pekerjaannya, sudah hampir 12 tahun dia menjadi sales berbagai macam produk, mau apa? : sales raket pembasmi nyamuk, sandal berduri untuk kesehatan, pembalut wanita, multivitamin berenergi, bumbu penyedap rasa, susu permentasi, rokok kretek, jas hujan, obat sembelit, balsem panas berganda, pakan burung, salep gata-gatal, panci anti karat, dan masih banyak lagi. Tapi dia tidak pernah tertarik untuk menjadi sales gelang Power Balance. Bang Bisma dan dua orang kawannya jarang nongkrong di kantor RT itu, mereka lebih betah berlama-lama di warung kopi bu Risna, hampir setiap hari mereka duduk di sana, ada saja yang mereka obrolkan, mulai dari pelajaran kuliah sampai film terbaru Natalie Portman, dari novel Pramoedya Ananta Toer sampai tulisan di mading jurusan, dari album terbaru The Sigit sampai lagu campur sari yang sering diputar mas Joko di rumah kontrakannya, meraka doyan betul membahas banyak hal, semuanya mereka perbincangkan di warung kopi bu Risna, mereka benar-benar para penguasa warung kopi. Saya kadang-kadang frustasi untuk menyambungkan terlalu banyak benang merah dari obrolan mereka. Rupanya minat mereka sangat luas, dari masalah musik sampai masalah politik, sedangkan saya baru kelas 2 SMP, tahu apa tentang politik?, saya meraba-raba jalan pikiran mereka, abang-abang mahasiswa itu. Merkipun di tempat kuliah, jurusan dan program studi mereka berbeda-beda, tapi minat mereka di luar hal-hal akademik sepertinya sama. Bang Bisma kuliah di program studi (prodi) Teknik Sipil, bang Joni prodi Administrasi Bisnis, dan bang Erlan prodi Keuangan dan Perbankan. Baru-baru saya tahu, bahwa kak Ina, yang mereka ajak untuk bergabung untuk menjalankan rencana-rencana mereka (yang belum sepenuhnya saya ketahui), adalah mahasiswi prodi Refrigerasi dan Tata Udara. Mereka semuanya kuliah pada satu kampus yang sama; Politeknik Gajah Duduk. Kalau sudah besar saya tidak mau kuliah di kampus itu, soalnya terlalu dekat dengan rumah, lagi pula kalau saya perhatikan, jarang sekali mahasiswinya yang cantik, hanya beberapa saja yang terlihat lumayan. Akhir-akhir ini saya lihat bang Bisma dan kawan-kawannya mulai rajin datang ke depan kantor RT, mereka mulai ikut main kerambol, main catur, main domino dan sesekali main gitar. Para penguasa warung kopi itu sepertinya mulai mencari base camp baru, semacam base camp cadangan. Di sana, di depan kantor RT itu, segala hal yang sering mereka bicarakan ketika nongkrong di warung kopi bu Risna, tiba-tiba lenyap. Di sana mereka tidak pernah lagi membicarakan soal film, buku, musik, dan tulisan. Mereka melebur dan menikmati tema-tema obrolan yang mengalir begitu saja, mereka juga mulai akrab dengan kang Agus Godeg si Raja Goda. Melihat kenyataan ini, insting detektifku kembali menyala. Apa hal ini?, kenapa mereka seperti sedang melupakan dunianya?. Belum selesai otakku bergerak, tiba-tiba mereka menjadi sering ngobrol dengan pak Ajo (ketua DKM mesjid komplek), dengan pak RT, dan bahkan dengan ibu-ibu penghuni komplek. Mereka juga mulai sering terlihat bercanda dengan anak-anak kecil, dengan para ababil, dan dengan pemuda-pemuda sebaya. Setahu saya, dulu mereka hanya pandai duduk di warung kopi, tapi

Para Penguasa warung Kopi

sekarang mereka keluyuran dan banyak berinteraksi dengan hampir seluruh warga komplek. Ada apa ini?, para penguasa warung kopi seperti sedang melakukan gerakan semesta. Saya harus melakukan penyelidikan dengan lebih cermat. *** Sore, cuaca cerah, langit gilang gemilang. Bang Joni duduk di tepi lapangan komplek. Rambutnya sudah agak gondrong, berkibar ditiup angin, maklum mahasiswa. Tumben dia tidak terlihat sedang menghisap cigarette. Gitar berada di pangkuannya. Segerombol anak kecil tampak berdiri di dekatnya, wajah mereka cerah ceria. Oke, sekarang coba tebak, siapa penyanyinya, setiap tebakan lagu yang benar berhadiah satu permen fox, tapi nanti permennya jangan rebutan, jangan khawatir abang punya banyak sekali, demikian ucapnya pada anak-anak kecil itu, tentu saja anak-anak itu senang. Siap?, sebuah aba-aba. Siaaap!!, anak-anak kecil berteriak penuh semangat. Gitar berbunyi, semacam intro, lalu nadanya berubah menjadi seperti reff, Aku tak mau bicara, sebelum kau cerita semuaaa / Waliii.., anak kecil hafal betul lagu ini, permen fox keluar dari kantongnya. Bang Joni mulai bersiap dengan lagu kedua, Andai ku tahu, kapan tiba, / Unguuu.., anak kecil memang jago menghafal, permen kedua melayang ke tangan anak-anak. Bang Joni seperti mulai mencari lagu yang agak susah. Setelah batuk, dia mulai mainkan gitar lagi , Kau bawa diriku ke dalam hidupmu / Gigiii.., oh rupanya anak-anak kecil itu tahu juga lagu Gigi, permen fox warna biru dan tentu saja transparan, keluar dari kantongnya. Saya yang memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu dekat, dapat melihat dengan jelas bahwa tiba-tiba dari muka bang Joni terbit sebuah senyum yang bagai disengaja untuk ditahan, dia seperti mendapatkan sebuah ide bagus untuk menaklukkan anak-anak kecil ini, agar mereka tidak bisa menjawab lagu yang akan dia nyanyikan, agar dia bisa menghemat permen yang ada di kantongnya. Kemudian dia batuk kecil lagi, dan gitar mulai berbunyi, intronya lumayan panjang, dan, Eh ujan gerimis aje, ikan teri diasinin, eh jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin., kali ini anak-anak itu bungkam, tapi ada lagi teriak penuh kemenangan karena bisa menebak si penyanyi. Bang Joni tersenyum puas, lalu meneruskan lagu, Eh ujan gerimis aje, ikan lele ada kumisnye, eh jangan menangis aje, kalo boleh cari gantinye, anak-anak tetap saja bungkam. Ayo ada yang tahu gak?, anak-anak semuanya geleng kepala. Lagu barusan penyanyinya adalah Bang Bens, alias Benyamin. S, alias Benyamin Sueb, bang Joni mencoba menjelaskan, sementara anak-anak itu masih saja membisu. Kemudian bang Joni memulai lagi, Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya / Nidjiii.., kali ini bang Joni KO lagi, fox merah melayang. Sore belum juga dijemput malam, beberapa burung gereja bermanuver di atas tanah lapang, dan bang Joni mulai lagi dengan lagunya, Bertahan satu cinta, bertahan satu C.I.N.T.A, / Bagindaaas.., edan, skor menjadi 5-1, bang Joni kalah telak, fox hijau menjadi korban. Tapi pertandingan belum selesai, bang Joni belum menyerah, dia langsung memetik gitar lagi, dan, Aduh ema asyiknye, nonton dua-duaan, kayak nyonya dan tuan di gedongan, anak-anak kembali bungkam, dan bang Joni langsung menjelaskan lagi, Penyanyinya adalah Bang Bens, sama seperti yang tadi. Ooohh, anak-anak serempak membulatkan mulutnya. Bang Joni semakin bersemangat, berhasil memperkecil skor sementara menjadi 5-2. Lalu bang Joni menarik nafas panjang, mukanya mulai gilang gemilang, sementara anak-anak masih menanti lagu selanjutnya, masih ada satu orang yang belum kebagian permen, dan dengarlah ini, Do you hear me, Im talking to you, across the water across the deep blue ocean, under the open sky, oh my, baby Im trying, anak-anak terdiam, tapi rupanya mereka sudah belajar, bahwa setiap lagu yang tidak mereka ketahui penyanyinya pasti Bang Bens, maka dengan serempak mereka menjawab, Bang Beeens!!, / Ha.ha.ha, bang Joni tertawa keras, anak-anak saling berpandangan, mereka mungkin sadar bahawa tebakannya salah. Kemudian sore perlahan mulai temaram, sebentar lagi maghrib, udara mulai turun, fox kuning keluar dari kantongnya karena masih ada satu anak yang belum kebagian. Bang Joni pulang, anak-anak juga pulang. Sebelum berpisah, anak-anak itu berucap dengan agak keras, Terimakasih Bang Beens!. ***

Walking on the edge of an empty pool That we thought it was cool We lower down our voices Were holding our laughs Cos the moon are standing There without a noise

Para Penguasa warung Kopi

(Strange In The Song In Our Conversation : Monkey To Millionare) Ahad. Dari tadi, dari jam delapan pagi, sampai sekarang ketika jarum pendek jam sudah duduk di angka sembilan, lagu itu terus aja menjadi penghuni tetap playlist bang Bisma, lalu berturut-turut lagu yang lain, yang hampir setiap hari daftarnya jarang berubah. Pintu kamarnya sedikit terbuka, saya tengok ke dalam, bang Bisma sedang duduk di lantai dan masyaAlloh di depannya berserak beberapa mainan anak-anak dan beberapa topeng dari plastic. Rencana apa lagi ini?. Bang, itu mainan buat apaan?, dia hanya menggerakkan tangan kirinya menyuruh saya menjauh dari kamarnya. Dasar orang aneh, sudah kuliah masih saja doyan mainan bocah. Saya banting pintu kamarnya dan pergi main sepeda. Sekitar jam 12 saya pulang ke rumah karena perut minta jatah. Lagi pula cuaca panas sekali, matahari bersinar garang, saya berleleran keringat, dan akhirnya mengundang kaki untuk melangkah mengunjungi lemasi es. Kali ini kamar bang Bisma tertutup rapat. Kata ibu, bang Bisma sedang banyak membaca buku cerita anak-anak, jangan diganggu katanya. Buku cerita anak-anak?, apa lagi ini?. Tapi sebentar..mainan anak-anak, topeng, buku cerita anak-anak.ooohh, saya tahu sekarang, bang Bisma pasti akan menjalankan rencananya : mendongeng. Dan setiap kali sehabis makan, perut selalu saja menggoda mata, apalagi angin bertiup manja dan hari panas sekali. Duduk di sofa mata mulai lima watt, kepala saya mulai sedikit miring, asli ngantuk sekali. Saya ambil bantal dan dengarlah, ini pasti suara ibu, Jangan tidur dulu, sholat dzuhur heula!!. Oh, baiklah ibu, dan saya pergi ke kamar mandi. Saya melewati lagi kamar bang Bisma, masih tertutup. Saya intip dia lewat lubang kunci yang lumayan besar, hanya terlihat tangannya yang sedang memegang buku tipis. Tiba-tiba kuping saya ada yang menjewer, Ayo sholat dulu, jangan suka mengintip!!, ini pasti suara ibu. Andai saja ibu tahu kalau saya sesungguhnya sedang melakukan penyelidikan, pasti beliau tidak akan melarang saya untuk mengintip kamar bang Bisma. Bangun sudah sore, sholat ashar heula!!, saya buka mata, ibu sudah berdiri di pinggir sofa. Saya lirik jam dinding, sudah jam setengah lima. Aduh, saya masih ngantuk, cape sekali hari ini. Ini pasti gara-gara si Ajat yang tadi siang ngajak saya dan kawan-kawan untuk panen rambutan di rumah bu Nina. Dan sialnya, tanpa sepengetahuan kami, bu Nina ternyata sudah memelihara seekor anjing penjaga. Tadi siang, waktu saya menyelinap lewat pintu pagar yang tidak dikunci, untuk mengambil rambutan yang berhasil dijatuhkan oleh si Ajat, tanpa sepengetahuan saya tiba-tiba dari arah halaman depan, seekor anjing herder berlari kencang sambil menyalak keras, edan, bikin saya kaget. Dengan reflek saya langsung lari menuju ke arah pintu, sial pintu yang tadi tidak terkunci tiba-tiba menjadi susah dibuka, sementara anjing semakin dekat, suaranya terdengar sangat keras, jantung saya hampir copot. Tapi untunglah di tengah situasi panik seperti itu akal saya masih berjalan. Saya panjat pagar besi yang lumayan tinggi, anjing herder tinggal beberapa langkah lagi dari pantat, saya sampai di puncak pagar, anjing menyalak keras sekali, saya loncat ke luar pagar, anjing gila telah gagal menangkap tersangka pencurian, dia masih perlu penataran, dan saya berlari dengan nafas yang hampir tamat. Sehabis sholat saya tengok langit, oh sudah lumayan teduh. Matahari sudah tergelincir ke barat, angin musim kemarau menyapu jalan gang. Ibu sedang menggoreng pisang di dapur, ada enam potong yang sudah matang tapi masih panas, saya comot dua potong dengan menggunakan kertas, lalu bersiap dengan tunggangan, sepeda berwarna biru kesayangan, dan meluncur ke lapangan komplek. Di sana, di pinggir lapangan, anak-anak kecil terlihat sedang berkerumun, di tengahnya terlihat ada seorang pemuda yang rambutnya gondrong mengembang, tapi mukanya tidak begitu jelas, dia seperti memakai topeng. Saya dekati mereka, ternyata yang berdiri di tengah anak-anak itu adalah Gorgom. [ ] Itp, 11/2/11

Para Penguasa warung Kopi

10

Para Penguasa Warung Kopi [3]

udah

beberapa tahun ini cuaca tidak bisa lagi ditakar oleh ramalan BMG. Memprediksi cuaca sama susahnya

dengan membongkar kasus Century dan mafia pajak. Pagi-pagi langit cerah, udara gilang gemilang, bulir-bulir embun menciut digoda sinar matahari yang datang pelan-pelan, kabut perlahan menghilang digantikan jarak pandang maksimal, alam terkembang menjadi semangat. Mbak-mbak pegawai kantoran bergegas ke tempat kerja dengan rambut setengah basah, mungkin habis keramas. Kalau mereka lewat di depan rumah, aromanya tercium seperti campuran puluhan permen, mungkin minyak wanginya sengaja dioplos. Kakak-kakak mahasiswi berangkat ke kampus dengan ceria, hanya beberapa orang saja yang terlihat layu, mungkin tugasnya belum selesai atau uang kiriman dari kampung belum datang. Mereka, para mahasiswi yang ceria itu, pasti merasa dirinya adalah tunas-tunas pilihan bangsa, hanya karena tugas dari dosen sudah selesai, uang saku masih cukup, tidak terdeteksi mempunyai penyakit kulit, dan punya pacar yang keren. Ibu-ibu rumah tangga berhamburan keluar dari rumah, suami dan anak-anak mereka sudah berangkat, mereka mengerumuni tukang sayur keliling sambil tebar gossip. Pagi selalu menjadi saksi, bagaimana aktivitas sosial banyak dimulai. Tapi alam kemudian berubah terlalu cepat, matahari tiba-tiba disaput awan, mendung menggantung di langit, mengusir warna biru yang tadi sempat berkuasa. Suhu perlahan menjadi turun, angin berhembus kencang, dan serbuk hujan mulai berhamburan. Rasakan itu. Mbak-mbak pegawai kantor menyesali diri karena tak membawa payung, rambutnya yang hampir kering menjadi basah kembali. Kakak-kakak mahasiswi berebut masuk ke angkot, dan ibu-ibu mengakhiri pesta gosipnya. Hujan kadang-kadang bersikap seperti pencuri; mengendap-ngendap, beraksi, dan membuat kalang kabut. Sementara kemarau kini tabiatnya mulai menyerupai para politikus; sering ingkar janji dan tak pernah lama memegang pendirian. Tukang es kelapa, tukang gorengan, dan ojeg payung tahu benar pahit manisnya hidup akibat cuaca yang cepat berubah ini. Tapi buat saya, semenjak ada murid baru yang pindah dari Jakarta, semenjak ada Olva, cuaca seperti apapun tak pernah terasa pahit, semuanya manis melulu. *** Saya tidak tahu, kenapa saya yang baru kelas dua SMP sudah dihinggapi perasaan suka kepada lawan jenis. Suara saya mulai agak berat, terdengar seperti suara bass tetapi bukan, belum pernah mimpi basah tapi mulai suka berlama-lama di depan cermin. Apakah ini yang disebut masa puber?, saya kurang yakin, tapi biarlah para psikolog yang bertugas untuk menjawab semuanya. Sekarang saya hanya ingin mendengar bel istirahat berbunyi, dan segera menuju ke sana, ke tempat duduk Olva. Ini hari ke lima dia di sekolahnya yang baru. Teman perempuannya baru satu orang, teman sebangkunya yang hari ini tidak masuk karena sakit. Dan saya siapanya dia?. Kemarin dan hari sebelum kemarin, waktu pulang sekolah, saya satu mobil dengannya, satu angkot jurusan Station Hall - Sarijadi. Dia diam saja, maklum anak baru, belum berani menyapa penghuni lama. Matanya melihat buku yang berada di tangan, dan mata saya melihat wajahnya yang berada di depan, kami memang berhadap-hadapan. Masa sih tidak kenal?, kan saya teman sekelasnya. Olva, turunnya di mana?, pandangannya meninggalkan buku, dan tiba-tiba saya dihantam tatapannya. Sekarang baru jelas, dari jarak tidak kurang dari satu meter, ternyata matanya sangat bagus. Dia tersenyum malu, mungkin grogi disapa seorang laki-laki keren, Eh, Ivankirain siapa, euh.., aku turun di Soerya Soemantri Oh, tetangga rupanya, lumayanlah tidak terlalu jauh dari Sarijadi. Kalau kamu turun di mana Van?, dia telah menutup bukunya, selintas saya lihat covernya; Robohnya Surau Kami A.A. Navis. Di Sarijadi, di ujung rute angkot. Sebelum turun, dia berucap, Aku duluan ya. Itu adalah percakapan super pendek pada hari sebelum kemarin, dan di hari kemarin percakapannya mulai agak panjang, dia sudah tidak lagi membaca buku, hanya memegangnya saja, matanya sudah sepenuhnya beralih kepada laki-laki from Sarijadi. Sama seperti hari sebelumnya, sebelum turun dari angkot, dia berucap lagi, Aku duluan ya Van Dan langsung saya jawab, Iya, hati-hati ya cantik, tentu kata cantik saya ucapkan dalam hati, saya belum berani untuk berkata seperti itu.

Para Penguasa warung Kopi

11

Dan bel istirahat benar-benar berbunyi, saya dekati mejanya, anak-anak telah berhambur ke luar kelas. Tinggal Olva, saya, dan Dian; anak perempuan berkerudung. Tahu saya datang, dia hanya tersenyum. Wajahnya cerah, terutama matanya. Kami ngobrol sebentar, tapi saya tak ingin demonstrative dengan mengajaknya makan bareng, maka saya panggil Dian untuk menemaninya makan. Dan mereka berlalu, meninggalkan saya yang masih tersenyum di dalam kelas yang kosong, entah kenapa. Para psikolog harus bertanggungjawab untuk menjelaskan semuanya. *** Pohon mangga berdaun rimbun tumbuh di depan rumahnya. Beberapa ekor burung membuat sarang di tempat yang agak gelap itu, tapi sayang pohonnya jarang berbuah, hal ini membuat saya belum bisa meninggalkan kegiatan memanen mangga di rumahnya bu Nina. Walaupun kini sudah ada anjing penjaga, tapi semangat saya dan kawankawan tak pernah surut, apalagi si Ajat, pemimpin gerombolan pengacau yang nyali dan nakalnya nomor wahid. Selain pohon mangga, tumbuh juga pohon jambu batu, melinjo, jeruk limau, dan tanaman-tanaman apotek berdaya khasiat lumayan, untuk mengobati mereka yang berpenyakit tapi segan ke rumah sakit. Pagar halaman rumahnya pun terbuat dari tanaman tanaman obat macam baluntas dan ki beling. Ibunya rajin betul merawat tanaman-tanaman itu. Kalau ada kurikulum paling bagus dalam dunia pendidikan di negeri ini, tak lain dan tak bukan itu pasti disematkan kepada tugas kerja kelompok. Tugas ini membuat saya bisa tahu dan berlama-lama di rumahnya Olva. Kami berenam, laki-laki dua, perempuan empat. Saya dan si Ajat dikelilingi empat perempuan, tapi dari yang empat itu, di mata saya, yang istimewa hanyalah Olva, entah bagi si Ajat. Dan sedap betul, ibunya selalu punya sirup dan kue-kue enak untuk dihidangkan di tengah kerja kelompok yang bagiku, sangat menyenangkan. Kami biasanya duduk berkeliling di teras depan, di atas sebuah karpet berwarna biru bermotif kembang kol. Kalau anak-anak konsentrasi pada tugas, saya malah konsentrasi pada Olva. Memperhatikan caranya mengemukakan pendapat, menggigit ujung pulpen, minum sirup, dan cara dia menahan gigitan kue karena ada sesuatu yang mau diungkapkan; menggemaskan. Semenjak ada Olva, dan kalau dia tak berhalangan untuk hadir, maka saya tak pernah absen kalau ada tugas kerja kelompok. Acara panen buah dan lomba balap sepeda di belakang rumah bu Makie yang dinding temboknya sering kami kotori, kalau kebetulan waktunya sama dengan tugas kerja kelompok, maka acara-acara tersebut akan saya korbankan. Ini bukan soal rajin belajar atau haus ilmu pengetahuan, tapi tentang sisi lain yang lebih mendebarkan. Hal ini tentu saja menyulut semacam gegar sosial, apa pasal?. Sebenarnya saya paling malas mengerjakan tugas kelompok, apalagi jika tempatnya di rumah kawan yang jauh, yang mengharuskan naik angkot. Maka tak heran jika kemudian banyak komentar-komentar miring berdesingan di kuping saya. Hujan deras, petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang, menunggu angkot lama, tapi saya tetap datang untuk mengerjakan tugas kelompok, maka Dian, kawan saya yang berkerudung akan berucap manis, Kamu salah minum obat ya?. Panas terik, matahari seperti sedang badai, debu beterbangan ditiup angin, jalanan dikuasai fatamorgana, dan kantuk bergelantungan di pelupuk mata, tapi saya tetap hadir di rumah Olva untuk mengerjakan tugas kelompok, maka ibunya Olva akan menambahan es batu yang cukup banyak pada sirup yang disuguhkan, kemudian Dwi, kawan perempuan saya yang masih satu kelompok akan berkicau, Ini bukan mimpi kan?, sambil mencubit tangannya sendiri, dan sorot matanya penuh heran melihat saya. Gerimis, langit pucat, badan sedikit meriang, tenggorokan tak enak, di bawah lindungan payung, saya tetap datang pada sebuah sore untuk mengerjakan tugas kelompok, maka Melda, kawan saya yang agak cerewet akan berkata, Puji Tuhan, kamu rajin sekali!, matanya berbinar bagai kagum kepada saya, tapi kekaguman yang aneh, kagum bercampur dengan tidak percaya. Sementara Olva, ini dia yang saya tunggutunggu, tangannya memegang kening saya sambil berucap, Kamu seharusnya tak usah memaksakan diri sayang, tentu di ujungnya dia tidak mengucapkan kata sayang, karena itu hanyalah harapan saya. Anjing herder milik bu Nina mati, pohon rambutan, mangga, jambu, dan belimbing siap panen, pasukan penjarah sudah bersiap dengan semangat tinggi, dan si Ajat berada pada kondisi terbaiknya sebagai seorang leader, tapi saya tak menghiraukan semuanya demi datang ke rumah Olva untuk mengerjakan tugas kelompok, maka si Ajat akan berdoa, Mudah-mudahan kamu cepat sembuh, dan berlalu dengan muka disesaki kecewa. Mereka, kawan-kawan saya yang berkomentar itu, semuanya tidak tahu, atau lebih tepatnya belum tahu, bahwa cinta, sesuatu yang nantinya juga akan datang menyerang perasaan mereka, adalah semacam motor penggerak, adalah semacam roh yang membuat orang malas menjadi rajin, yang membuat orang lemah menjadi kuat, yang membuat orang penakut menadi berani, yang membuat orang putus asa akan kembali menabur bibit harapan, adalah dia yang membuat saya menjadi begini, menjadi ketagihan akan tugas kelompok; sesuatu yang dulu pernah saya benci.

Para Penguasa warung Kopi

12

Orang rumah; bang Bisma, ibu, dan bapak, tak pernah banyak cakap dengan perubahan ini. Setiap kali pamit untuk pergi kerja kelompok, ibu hanya berkata, hati-hati di jalan. Sementara bapak hanya diam saja, karena sedang serius mendengarkan murotal Al Quran yang diputar dengan MP4, kupingnya tertutup suara yang memancar dari airphone, jadi saya pamit beliau tidak mendengar. Dan bang Bisma, kadang-kadang dia menyindir, Pulangnya jangan lupa bawa rambutan ya. Walaupun selama ini tak pernah banyak cakap, tapi rupanya dia tahu bahwa saya sering mencuri buah-buahan di halaman rumahnya bu Nina. Ketika pergi ke rumah Olva, sebelum sampai di jalan raya untuk menunggu angkot, kadang-kadang saya bertemu dengan bang Joni atau dengan bang Erlan, Mau kemana kau, sudah siang masih bawa-bawa tas?, saya jawab dengan takjim, Mau les bahasa Korea bang. Mereka hanya tertawa sambil mengacak-ngacak rambut saya, Ha.ha.ha..gaya siah!. *** Kalau saja beliau bukan guru, tentu sudah saya labrak. Pak wawan memang menyebalkan. Guru pelajaran bahasa Indonesia itu, kalau sedang mengajar, selalu saja berjalan ke arah meja Olva dan berlama-lama berdiri di sana, di sebelah Olva. Beliau selalu saja menyuruh Olva, ada saja tugasnya, kadang-kadang menyuruh membacakan puisi, kadang-kadang cerpen, kadang-kadang penggalan novel, sambil tangannya menepuk-nepuk bahu Olva, beliau berkata, yang dalam pendengaran saya terdengar genit, Ayo Nak, bacakan dengan lantang, kabarkan pada teman-temanmu tentang indahnya sastra!. Memang bukan Olva saja yang disuruh oleh beliau, anak-anak yang lain juga pernah kebagian tugas, termasuk saya, tapi yang paling sering adalah Olva, entah kenapa, dan ini buat saya terasa menyebalkan. Usianya belum terlalu tua, juga tidak terlalu muda, ada sekira 40 tahunan, mungkin seangkatan dengan kang Agus Godeg alias Si Raja Goda. Jalannya tegap, suaranya agak berat, dan beberapa helai rambutnya berwarna agak putih mirip uban. Pak Wawan memanggil semua murid laki-laki dengan panggilan Bung, entah kenapa, tapi beliau sempat mengemukakan alasan yang menurut saya kurang masuk akal. Sengaja bapak memanggil Bung kepada semua murid laki-laki, biar jiwa kalian disesaki oleh semangat, biar kalian tidak loyo, melainkan penuh gairah belaka, penuh semangat pergerakan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo. Bapak tidak mau melihat kalian lembek dan tak berdaya!!. Apa maksudnya coba?, bukankah setiap generasi punya sejarahnya masing-masing?, apakah anak-anak muda sekarang tidak bisa bergerak dan bersemangat seperti para pahlawan yang disebutkan oleh Pak wawan?, ah masa sih?, saya kurang yakin. Tapi tunggu dulu, Bung, kata itu sepertinya sering saya dengar, tapi di mana?. Oh, saya ingat, kata itu sering dipakai oleh bang Bisma dan kawan-kawannya yang suka nongkrong di warung kopi. Apakah mereka juga mantan muridnya pak Wawan?, ah mana mungkin. Bang Joni dan bang Erlan jelas bukan orang Bandung, buktinya mereka sekarang menyewa kamar kost-kostan, lagi pula tampang mereka tidak mewakili orang Bandung kebanyakan, mereka pasti orang-orang daerah. Bang Bisma juga tidak mungkin, sebab dia beda almamater dengan saya. Jadi kenapa mereka bertiga berkelakuan macam pak Wawan, memanggil orang dengan kata Bung, apakah alasan mereka sama seperti yang pernah diungkapkan pak Wawan?, apakah mereka juga ingin meniru semangatnya Bung karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo?, ini juga harus saya selidiki, siapa tahu ada hubungannya dengan kegiatan mereka akhir-akhir ini yang cukup menarik perhatian anak-anak komplek. Lupakan dulu hal itu. Kenyataannya, Olva memang selalu terlihat paling jago dan paling luas wawasannya kalau sudah berhubungan dengan bahasa dan sastra. Waktu pak Wawan memberi tugas untuk mencari dan membacakan sebuah puisi karangan para penyair terkenal, ternyata puisi yang dibacakan oleh anak-anak, semuanya adalah karya Chairil Anwar. Puisi dikuasai oleh; Aku, Krawang-Bekasi, Doa, Diponegoro, dan Derai-derai Cemara. Anak-anak yang pengetahuan puisinya sangat purba, dan kemungkinan besar waktu balitanya pernah cacingan, hanya tahu puisi Krawang-Bekasi. Anak-anak yang pengetahuan puisinya lumayan purba, belajar membacanya dari sobekan koran bekas bungkus gorengan, sudah mulai tahu, bahwa karya Chairil Anwar bukan hanya satu, melainkan lebih dari satu, maka mereka pun mengenal yang berjudulAku dan Diponegoro. Anak-anak yang mulai meninggalkan jaman kegelapan, kemungkinan besar orangtuanya seorang penjaga perpustakaan, sudah benar-benar tahu, bahwa ternyata Chairil Anwar pernah menulis puisi yang berjudul Doa. Anak-anak yang sudah melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal kepada jaman kegelapan, sudah tersentuh akses internet, sudah sangat tahu, Chairil Anwar juga ternyata dengan sangat bagus pernah menulis puisi yang berjudul Derai-derai Cemara. Dan saya, walaupun pengetahuan puisi saya tidak memalukan, tapi tetap memilih puisi Chairil Anwar. Bagi saya, dia tetap tak tergantikan, dia masih menjadi raja kata-kata, tapi saya sedikit berbeda, walaupun masih karya Chairil Anwar,

Para Penguasa warung Kopi

13

tapi puisi yang saya bacakan tidak sama dengan kawan-kawan sekelas, saya memilih yang berjudul Nisan. Dari semenjak absen pertama, dinding kelas yang berwarna putih kusam, sudah terlihat bosan dengan suara anak-anak yang membacakan puisi yang itu-itu juga, hanya waktu saya maju saja dia terlihat tenang. Tapi dia, dinding kelas itu terlihat kaget waktu seorang anak perempuan dengan nama depan berawalan O maju ke depan kelas. Kecuali pak Wawan, tak seorang tahu dan pernah mendengar puisi yang dibacakannya, termasuk saya. Olva membacakan sebuah puisi karya Joko Pinurbo. Nama penyair ini sangat asing di telinga saya dan anak-anak. Tapi, oh, saya sangat suka dengan puisinya, juga dengan orang yang membacakan puisinya di depan kelas itu, perpanduan yang indah, lihat dan dengarlah, dan Olva memulainya:

Kepada Cium Karya : Joko Pinurbo Seperti anak rusa menemukan sarang air di celah batu karang tersembunyi, Seperti gelandangan kecil menenggak sebotol mimpi di bawah rindang matahari, Malam ini aku mau minum dari bibirmu. Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi yang masih hangat dan murni, Seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri pada luka lambung yang tak terobati.
Sementara anak-anak masih terdiam setelah Olva selesai membacakan puisi itu, pak Wawan langsung tepuk tangan seperti sebuah komando, maka kelas pun menjadi ramai oleh tepuk tangan, dan Olva hanya tersenyum sambil, pandangannya menunduk seperti malu. Jauh sebelum pak Wawan memberi kami tugas untuk mencari, membaca, dan memberikan komentar pada sebuah cerpen, Olva sudah sering membawa buku kumpulan cerpen ke sekolah. Waktu kami bertemu di angkot, dia sedang membaca buku Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, lalu berturut-turut setelah itu dia membawa buku kumpulan cerpen karya Hamsad Rangkuti, Budi Darma, Joni Ariadinata, Helvy Tiana Rosa, Pramoedya Ananta Toer, Asma Nadia, dan kumpulan cerpen terbaik koran Kompas. Maka waktu tugas itu datang, anak-anak sekelas langsung sibuk mendekatinya, kecuali saya. Sudah saya bilang, walaupun Olva yang paling jago dan paling luas wawasan sastranya, tapi saya ini bukanlah seorang siswa yang memalukan, saya tidak ikut-ikutan meminjam buku Olva. Sehari sebelum tugas itu dikumpulkan, saya mendatangi kostan bang Joni dan meminjam buku karangan Leo Tolstoy; Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu. [ ] itp, 23/2/2011

Para Penguasa warung Kopi

14

Para Penguasa Warung Kopi [4]

ehari sebelumnya, sebelum tugas cerpen itu dikumpulkan, saya berdiri di balik pintu yang tertutup, pintu yang

dipenuhi oleh tempelan stiker, coretan spidol, dan sebuah poster. Di dalam terdengar suara orang tengah mengobrol menggunakan ponsel. Saya ketuk pintu sambil menghantamnya dengan ucapan keselamatan, Assalamualaikum. Pintu tak bergeming, yang berbicara masih terdengar. Saya ulangi sampai tiga kali, pintu belum juga terbuka. Saya hantam dengan ucapan yang lain, Sepadaa, tetap tak ada perubahan. Akhirnya saya duduk di depan pintu itu dan membelakanginya sambil mulai bertanya-tanya, Sejak kapan bang Joni berubah menjadi Bolot?, apakah kamarnya yang kedap suara?. Tak lama, tiba-tiba saya mendengar suara di belakang, Sudah lama ente duduk di sini?, saya lihat ke belakang, bang Joni sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan dalam kondisinya yang sangat memprihatinkan. Tak ada yang lebih mengenaskan selain seorang mahasiswa yang belum mandi, rambutnya acakacakan, mukanya lengket oleh minyak alami, berjerawat, bibirnya menghitam karena cigarette, dan perutnya tidak simetris karena terlalu sering dijejali mie instant. Dan sekarang, di depan saya, makhluk seperti itu tengah berdiri. Lumayanlah bang sudah satu jam menunggu, kata saya sambil mulai berdiri. Kenapa tidak kamu ketuk saja pintunya?, atau teriak ucapkan salam?, ini dia salah satu penyakit orang budeg, dia selalu menanyakan hal yang sebenarnya telah oranglain ucapkan. Saya tak mau berlama-lama dengan menjelaskan secara detail apa yang telah saya lakukan tadi, saya hanya mau pinjam buku kumpulan cerpen. Bang, punya buku kumpulan cerpen ga?, dia tidak menjawab malah masuk lagi ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang berbunyi. Kalau dilihat dari muka dan cara bicaranya, dia pasti bukan sedang berbicara dengan laki-laki, karena dia terkesan melembut-lembutkan suara dan seperti ada senyum yang tertahan. Ayo masuk, jangan di luar saja, cari tuh di rak buku?, ponselnya agak dijauhkan dari kuping waktu dia menyuruh saya masuk. Dia duduk di ambang pintu waktu saya mengacak-ngacak rak bukunya. Koleksi bukunya lumayan banyak, tapi anehnya, dari yang banyak itu, sangat sedikit saya temui buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran kuliah. Bang Joni kuliah di program studi Administrasi Bisnis, tapi bukunya hampir 99 persen didominasi oleh novel, memoar, biography, catatan perjalanan, cerpen, sejarah, dan puisi. Buku yang berhubungan dengan mata kuliah hanya ada karangan The Liang Gie untuk mata kuliah kearsipan, dan. Lalu saya menemukan sebuah buku bersampul coklat bergambar seorang kakek berjenggot lebat yang sedang menulis, saya buka secara acak dan berhenti pada sebuah cerita berjudul Matinya Ivan Ilych. Sementara bang Joni masih bicara di telepon dengan suara yang dilembut-lembutkan, dan masih dengan senyum yang tertahan tanda ada kebahagiaan di pedalaman dirinya, saya hanyut dalam cerita yang ditulis oleh pengarang buku bersampul coklat itu. Alangkah tragis kisah hidup Ivan Ilych. Tanpa melihat lagi buku cerita yang lain, saya langsung putuskan, bahwa buku yang covernya berwarna coklat ini, yang pengarangnya adalah ternyata Leo Tolstoy, adalah buku yang akan saya pinjam buat memnuhi tugas pelajaran bahasa Indonesia. Sambil membereskan lagi buku yang tadi sempat keluar dari rak, saya mulai berpikir, tiba-tiba seperti ada yang menyalakan pemantik lalu membakar dan mengingatkan saya, bahwa penyelidikan saya terhadap bang Bisma, bang Joni, dan bang Erlan belumlah berakhir, bahkan sesungguhnya baru dimulai. Maka demi ingat misi tersebut, saya langsung memasang radar dan memutar otak, dan sebuah lampu berwatt tinggi langsung menyala terang di kepala saya. Pengamatan saya yang dulu, yang meyakini bahwa bang Joni adalah bertype seorang pemuda misterius karena tidak pernah menggoda perempuan-perempuan cantik yang lewat di depan warung kopi bu Risna, yang menyebabkan saya menarik semacam kesimpulan sementara, bahwa bang Joni belum puber, belum suka dengan makhluk yang bernama perempuan, saat ini keyakinan itu goyah. Kalau bicara dengan seorang laki-laki, mana mungkin tutur bicaranya halus dan lembut?, pasti kata-kata seperti aing, maneh, lo, urang dan sia akan berhamburan dari mulutnya. Tapi kali ini, oh bukan main, untuk kata ganti diri sendiri dia pakai kata aku, dan untuk kata ganti orang yang berbicara di ujung ponsel, dia pakai kata kamu. Ini sangat tidak lazim, pasti sesuatu telah terjadi. Mungkinkah hati bang Joni sedang ditawan ranger pink?. Siapa pula perempuan malang yang berhasil dirayunya?. *** Lapangan komplek, kalau sore, semenjak trio penguasa warung kopi sering nongkrong di sana, sudah hampir menyerupai taman kanak-kanak. Dua kali seminggu, bang Bisma akan duduk atau berdiri di pinggir lapang sambil

Para Penguasa warung Kopi

15

membawa topeng dan beberapa mainan anak, dan yang paling sering dia bawa, apalagi kalau bukan topeng Gorgom. Lalu anak-anak akan berkumpul di dekatnya, mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh bang Bisma. Saya tidak pernah sekali pun mendekati kerumunan yang diciptakan bang Bisma itu, saya sudah besar, masa harus bergabung dengan bocah-bocah SD?. Lagipula, saya yakin, dongeng bang Bisma itu pasti garing alias tidak menarik, pasti akan terdengar kaku, seperti dirinya yang sering berlama-lama di kamar dan di warung kopi. Bang Joni tidak mau kalah, dua kali seminggu dia akan membawa gitarnya yang ramai ditempeli stiker ke lapangan komplek, dia selalu mengadakan semacam kuis tebak judul lagu, tebak penyanyi, atau tebak lirik. Tebak-tebakan yang diciptakan bang Joni itu sudah menyerupai macam acara Kuis Dangdut yang disiarkan TPI yang pembawa acaranya Djadja Miharja. Anak-anak senang dengan apa yang dilakukan oleh bang Bisma dan bang Joni, sebab selama ini mereka hanya bisa bermain bola, main sepeda, dan main gundu. Sementara anak-anak perempuannya hanya tahu permainan loncat tali dan petak umpet. Pernah sekali waktu saya ikut nimbrung dalam kerumunan anak-anak yang sedang main tebak lagu dengan bang Joni. Tentu saya tidak ikut menebak, sebab saya bukan bocah SD lagi, sudah tidak doyan permen, lagipula semua lagu yang dibawakan bang Joni, saya tahu belaka. Waktu itu saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, bang Joni terlihat kaget waktu seorang anak bertanya mengenai arti sebuah tulisan berbahasa Inggris yang ada pada stiker yang menempel pada gitar bang Joni. Stiker itu memang tidak terlalu besar, tapi karena bentuknya yang menyerupai bercak air dan berwarna dasar biru, maka telihat jelas menempel pada gitar yang berwarna krem. Tulisannya terdengar prokokatif :Onani is not a crime. Ditanya arti tulisan seperti itu, tentu saja bang Joni kaget sebab yang bertanyanya anak kecil, bahkan masih dalam fase ingusan. Dia garuk-garuk kepala sebentar, menarik nafas, lalu berkata, Euh.., itu artinya : Jangan meludah sembarangan. Beberapa hari setelah itu, saya melihat lagi gitarnya, dan stiker itu telah tidak ada. Bang Joni tidak ingin terperosok dua kali pada lubang yang sama, karena yang berhak melakukan hal seperti itu adalah keledai. Tapi yang agak aneh, dari trio penguasa warung kopi itu hanya bang Erlan yang belum terlihat beraksi. Hampir setiap sore, dia terlihat hanya duduk-duduk saja di depan kantor RT; mendengarkan cerita kang Agus Godeg, tertawa nikmat, menghisap cigarette, main domino, main kerambol, main catur, dan ngobrol dengan orang-orang yang nongkrong di sana. Jika dibandingkan dengan dua kawannya, bang Erlan terlihat kurang ada kontribusinya dalam gerakan semesta yang mereka lakukan. Tapi kemudian pengamatan saya ini terbukti tidak benar, sebab pada sebuah malam yang kering, ketika mereka kembali berkumpul di warung kopi bu Risna, saat jalan gang tidak disinari cahaya bulan, sebab dia sedang berbentuk sabit, dan waktu saya memesan segelas susu coklat panas, strategi mereka sedikit terungkap. Mereka ternyata sengaja membagi kerja seperti itu. Bang Erlan yang terlihat santai-santai saja ternyata sedang melaksanakan tugas yang sangat keren, dia berlaku macam intel sekaligus diplomat yang bergerak menyusup ke dalam denyut nadi pergaulan sosial, berbaur, mencoba mewarnai tema pembicaraan, dan sekaligus menjadi juru bicara kalau ada yang bertanya, Apa sih yang sedang dilakukan oleh si Joni sama si Bisma?. Meskipun begitu, sampai saat ini, saya belum benar-benar paham apa sesungguhnya tujuan di balik semua yang mereka lakukan. Tapi saksikanlah, saya tidak menyerah untuk itu, saya akan terus mencoba menyambungkan semua benang merah kegiatan mereka. Semenjak saya berjanji pada diri sendiri, bahwa saya akan menyelidiki semuanya dengan mendeklarasikan diri menjadi detektif Kogoro Mori, maka lebih baik saya harakiri dari pada mundur dari arena penyelidikan ini. Saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Siapa memulai tidak boleh melarikan diri, sebab melarikan diri hanya pantas dilakukan oleh para criminal, dan karena saya bukan seorang criminal, maka saya akan jalan terus. Dan ketika saya jalan terus, saya menemukan kembali kenyataan lain yang membuat keyakinan saya kembali goyah, keyakinan tentang pemuda-pemuda misterius yang belum dihinggapi masa puber itu. Setelah mendapati bang Joni berbicara di ponselnya dengan suara sengaja dilembut-lembutkan, yang terdengar seperti sedang merayu seorang perempuan, kini saya mendapati bang Bisma berpindah aliran. Music yang dia dengarkan setiap hari kini mengalami perubahan. Biasanya setiap pagi, sesudah mandi dan sebelum pergi kuliah, dia akan memutar The Sigit dengan volume keras, tapi sekarang dia malah menggantinya dengan Mocca. Kalau sore, sesudah pulang kuliah dan sebelum mandi, dia biasanya akan mendengarkan Nudist Island dan Alone At Least, tapi kini malah sering mendengarkan Ten2five. Sampai larut malam, kadang-kadang lagu-lagu bersuara perempuan itu masih terdengar dari kamarnya dengan volume yang sangat sopan. Meskipun lirik lagu Mocca dan Ten2five yang didengarkan bang Bisma berbahasa Inggris, tapi jangan sepelekan saya, meskipun saya akui, saya ini suka mencuri rambutan, mangga, dan belimbing, tapi di kelas, Alhamdulillah saya paling keren dalam mata pelajaran English. Maka waktu Arina, vokalis Mocca benyanyi, saya dengan otomatis tahu artinya. Alangkan mudahnya menterjemahkan lirik lagu seperti ini :

Para Penguasa warung Kopi

16

What if I give you my smile? Are you gonna stay for a while? What if I put you in my dreams tonight? Are you gonna stay till its bright? What if I give you my story? Are you gonna listen to me? What if I give you my heart?
Are we never gonna be apart?

Tidak saya sangka sebelumnya, ternyata darah muda bang Bisma tetap mengalir dengan lancar, hanya saja dia sembunyikan arusnya itu dengan rapi dalam lirik-lirik lagu, dalam hening malam, dan mungkin juga dalam pisau cukur yang berhasil menggugurkan kumis tipisnya yang terlihat menyerupai lele. Ya, dia sekarang terlihat lebih rapi dengan penampilan tanpa akar bibir walaupun rambutnya masih eksis bergaya sarang burung. Siapakah gerangan perempuan kurang beruntung yang telah berhasil menawan hatinya bang Bisma?, ini menambah daftar panjang poin penyelidikan saya selanjutnya. Dua orang sudah diketahui kondisi arus darah mudanya, setidaknya dalam gelanggang eceng gondok, kondisi dua orang pemuda itu, walaupun masih bersifat kesimpulan sementara, namun sudah mulai dapat saya deteksi. Kini tinggal menyelidiki bang Erlan, apakah hati dia juga sudah mulai tertawan oleh ranger pink?, apakah dia juga menyimpan semacam misteri seperti tugasnya yang bersifat macam intel dan diplomat dalam kegiatan trio penguasa watung kopi tersebut?. Dan lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan saya itu akhirnya dapat terjawab, di mana lagi kalau bukan di warung kopinya bu Risna. Malam itu cuacanya sedang lembab, sore; beberapa jam sebelumnya, hujan baru saja menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Apakah laki-laki diciptakan untuk menghisap cigarette?, karena hei lihatlah, ketiga penguasa kopi itu sedang nikmat betul membakar tembakau yang berkolaborasi dengan cengkeh dari merek yang berbeda-beda. Bang Bisma menghisap cigarette bermerek benda tajam yang sangat kecil, bang Joni bermerek alphabet urutan pertama, dan bang Erlan menghisap cigarette legendaris bermerek deret hitung dengan susunan yang konstan. Sementara saya belum cukup umur untuk diijinkan berani mengotori paru-paru. Saya hanya serius meniup susu putih cap bendera yang masih panas di gelas bening. Perbincangan kali ini sedikit beraroma infotainment, sebab virus ranger pink dilemparkan dalam wacana yang masih abu-abu, masih butuh klarifikasi. Bang Bisma angkat bicara sambil menepuk-nepuk lutut bang Joni yang sengaja diangkat ke atas kursi panjang, Amboi Bung, apakah tadi siang saya tak salah lihat ya?, rupanya kawan kita ini, kawan calon manager bank ini, sudah ambil start duluan ternyata. Bang Joni langsung menyambar bagai bensin mencium api, Apa yang telah terjadi Bung?. Lalu bang Bisma bercerita bahwa tadi siang, waktu dia makan di kantin kampus, dia melihat bang Erlan makan bersama seorang perempuan, yang kalau dalam pandangan bang Bisma, perempuan itu bukan hanya teman, tapi teman kuadrat, artinya sudah setara dengan pangkat ranger pink yang sering dia rindukan lewat lagu Mocca. Tafsir sederhananya, bang Erlan divonis telah punya pacar. Dan bang Erlan hanya senyum kecil saja sambil menghembuskan asap cigarette yang kemudian menyesaki warung kopi. Ente tahu siapa perempuan itu bung?, bang Joni geleng kepala, lalu bang Bisma bicara lagi, Dia tak lain adalah kawan satu program studi dengan saya bung, anak Teknik Sipil. Kagum saya pada pergerakan bung Erlan ini, tak pernah saya lihat dia nongkrong di gedung saya, tapi tiba-tiba sudah berhasil menawan seorang ranger pink made in Teknik Sipil. Bang Erlan tak bergeming, dia tetap tidak berkicau, memang kadang-kadang dia semacam suka tampil cool. Siapa namanya bung?, lalu bang Bisma menjawab, Syafitri. Wajah bang Joni tiba-tiba sedikit berubah, mungkin ada yang kurang beres dengan nama yang disebutkan oleh bang Bisma tersebut. Kenapa muka ente jadi berubah begitu bung?, bang Joni tidak langsung menjawab, tapi hanya menghisap cigarette dan menghembuskan asapnya ke atas. Dan dengarlah ini, bang Joni mulai berkicau, Bung, nama perempuan seperti ini, menurut saya, adalah nama yang kurang bagus untuk dipanggil. Bang Bisma mengkerutkan dahi, Maksud bung?. Lalu bang Joni berkicau lagi, kali ini cukup panjang, Coba bung bayangkan, kalau dia dipanggil dengan nama lengkap, dengan nama Syafitri, akan terdengar terlalu panjang dan repot mengucapkannya. Terus misalkan saja dia dipanggi Pipit, oh, ini akan sangat beraroma sawah menjelang panen padi. Dan bung harus ingat, burung pipit itu bertabiat agak oportunis. Waktu padi masih hijau dan buahnya masih belum berisi, dia jarang menyatroni padi, tapi ketika padi mulai menguning, dia akan mengganggu para petani, sehingga dia harus ditakut-takuti oleh orang-orangan sawah. Terus kalau sosok manusia tipuan itu sudah tidak membuat mereka takut, terpaksa bapak tani harus berjaga sepanjang hari dengan

Para Penguasa warung Kopi

17

menarik-narik tali yang dibentangkan sampai ke tengah sawah, oh, pengganggu yang sejati. Lagipula bung, menurut saya, di dunia ini, yang namanya Pipit dan terdengar tidak janggal hanyalah Pipit Senja, itulah dia sang penulis produktif, yang telah melahirkan puluhan bahkan ratusan novel, yang royaltynya dia gunakan untuk membiayai cuci darah yang harus dia lakukan setiap minggu. Bukan main Pipit Senja ini, penyakit yang menggerogotinya tak membuat dia mundur sejengkal pun dari aktivitas menulis. Iya juga ya, bang Bisma rupanya setuju dengan kicauan bang Joni, tapi kemudian bang Bisma berkata lagi, Tapi bung, bukankah dia juga bisa dipanggil Syasya atau Sasa, atau mungkin Riri?. Demi mendengar perkataan bang Bisma, bang Joni langsung tertawa keras dan terdengar nikmat betul. Setelah tawanya reda, dia langsung berkicau lagi, Bung..bung, kalau dia dipanggil Syasya, akan terdengar terlalu mendesis, persis seperti suara orang sedang mengusir ayam. Kalau dia dipanggil Sasa, apakah bung tidak ingat dengan merek dagang sebuah pruduk MSG?, ah, akan buruk terdengarnya bung. Dan apa satu lagi, Riri?, ah ini juga berat, sebab yang pantas dipanggil Riri, di kolong langit ini hanya dua orang; DJ Riri dan Riri Riza. Bang Bisma belum menyerah, dia lemparkan lagi alternatif terakhir, Kenapa dari tidak kita susah-susah mencari nama panggilannya, bukankah dia bisa dipanggil Fitri?!. Tapi bang Joni ternyata tidak tinggal diam, dia mengelus dadanya lalu menepuk bahu bang Bisma, Bung, janganlah kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendukung sinetron bersekuel-sekuel yang membuat perut kita mulas, apakah bung lupa dengan sinetron Cinta Fitri?, saya kira, cukuplah perut kita saja yang dibikin mulas, jangan kita tularkan juga pada nama panggilan girlfriend-nya bung Erlan ini. Dari tadi, dari semenjak bang Bisma dan bang Joni asyik membahas nama panggilkan Syafitri, bang Erlan tak mengeluarkan komentar sedikit pun, dia tetap terlihat syahdu dengan kopi hitam dan cigarette kreteknya, dan saya tetap pura-pura fokus pada susu panas cap bendera, dan di luar, malam semakin gelap dan udara masih lembab, dingin mulai berkuasa. Kemudian terdengarlah lagi sebuah kicauan, Bung, saya kira, tak usahlah kita terlampau banyak cakap mengenai nama panggilan ini, lebih baik kita serahkan saja pada bung Erlan, karena dia yang lebih berhak, demikian kata bang Joni, dia rupanya insyaf, bahwa nama yang tadi dia jelek-jelekkan itu adalah sebuah nama yang sangat berarti bagi kawannya yang agak pendiam, bagi bang Erlan. Diam. Tak ada suara. Bang Erlan tidak merespon perkataan bang Joni. Dia hanya tersenyum kecil. Dua orang kawannya kembali bertanya, Siapa panggilan bung?, bagaimana kau bisa memanggilnya?, kata bang Bisma dan bang Joni serempak. Saya memasang kuping dengan awas, menunggu jawaban bang Erlan. Warung kopi masih tersandera aroma kopi dan asap cigarette. Bu Risna duduk di pojok sedang sibuk mengisi TTS, wajahnya belum terlihat ngantuk, maklum saja masih di bawah jam sepuluh malam. Saya fokuskan pandangan pada bang Erlan, dia menghisap cigarettenya yang hampir habis, bara api sudah mendekati bibirnya yang tidak estetik. Akhirnya, setelah meneguk kopinya yang habis, dan menghisap cigarettenya yang sudah semakin pendek, dia dengan setengah berbisik berkata, Saya biasa memanggilnya.Bintang Jatuh. [ ] itp, 27/2/2011

Para Penguasa warung Kopi

18

Para Penguasa Warung Kopi [5]

M
***

aka mereka, para penguasa warung kopi itu---ini masih kesimpulan sementara, sesungguhnya adalah para

pemuda yang sama seperti orang kebanyakan; ada yang berdenyut ngilu di pedalamannya, ada getar-getar halus yang merambat di langit jiwanya, ada saat-saat ketika mereka ingin menikam waktu dan jarak, ada perasaan yang tidak bisa mereka dijalani sendirian.

Pada beberapa hal tertentu, bunuh diri adalah ketika kita membenamkan pendapat, tidak berani bersuara, dan hanya membebek mengikuti pendapat oranglain. Sekalipun itu orang yang kamu cintai, kalau kamu tidak setuju, maka tidak ada alasan untuk diam. Hanya ada satu kata, "Lawan!!", begitu kata Wiji Thukul. Dan begitulah, maka pada sebuah siang yang terik, ketika bayangan pohon di luar kelas terlihat seperti sketsa wajah monster, pak Wawan duduk di kursinya yang berwarna coklat tua. Kali ini beliau ingin kembali menggali keberanian murid-muridnya untuk belajar menyampaikan pendapat di dalam kelas. Sebulan yang lalu, beliau memberi tugas untuk membaca novel karangan Ahmad Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara, dan kami disuruh untuk memberikan tanggapan kepada novel tersebut. Cara pak Wawan mengajar, terlepas dari dia sering menepuk-nepuk bahu Olva, menurut saya, sangat mengesankan. Beliau tidak pernah menyembunyikan karya sastra seperti yang biasa dilakukan oleh buku-buku pelajaran bahasa Indonesia. Kami murid-muridnya, tahu para sastrawan dan karyanya bukan dari buku pelajaran bahasa Indonesia yang peredarannya diwajibkan, tapi dari pak Wawan, dari koran, dan dari internet. Beliau mewajibkan kami untuk menabung minimal 500 rupiah setiap hari, dan setiap tiga bulan sekali beliau pasti mewajibkan kami untuk membeli sebuah novel yang harganya sekitar lima puluh ribuan, dengan judul yang telah beliau tentukan. Dengan asumsi bahwa setiap bulan dipukul rata menjadi 30 hari, maka setelah tiga bulan, dengan simpanan minimal 500 rupiah per hari, maka uang tabungan kami akan terkumpul sebesar 45,000 rupiah.

Negeri 5 Menara adalah novel wajib kedua yang kami beli, sebelumnya kami telah membeli novel Laskar Pelangi
karangan Andrea Hirata. Waktu itu, waktu saya dan teman-teman sekelas secara bergiliran mengemukakan pendapat dan tanggapan terhadap novel Laskar Pelangi, serta sesekali berdebat, Olva belum hadir, dia masih di Jakarta, masih belum bertemu dengan seseorang yang diam-diam mencintainya. Selain hal itu, sebulan sekali kami disuruh membuat cerpen, dan dua minggu sekali disuruh membuat puisi. Pak Wawan sering berkata, Bacalah karya sastra, karena akan memperhalus jiwamu. Kata anak-anak kelas tiga yang pernah diajar oleh pak Wawan, dulu novel wajib mereka adalah Bukan Pasar Malam (Paramoedya Ananta Toer), Burung-burung Manyar (Romo Mangunwijaya),Orang-orang Proyek (Ahmad Tohari), dan The Old and The Sea (Ernest Hamingway). Kata mereka, dari empat novel yang wajib dibeli dan dibaca dalam kurun waktu satu tahun, pak Wawan pasti akan menyelipkan satu buah novel karya satrawan asing. Sekarang tibalah waktunya, seperti ketika membahas novel Laskar Pelangi, sekarang juga setiap murid harus berbicara, harus berani memberikan tanggapan dan mengungkapkan pendapat. Anak-anak yang namanya berinisial alphabet awal terlihat tenang saja, sebab kali ini pak Wawan mengacak nama semau dia, dan yang namanya dipanggil pertama kali adalah Dian, teman saya yang berkerudung. Silahkan Nak, bagaimana tanggapanmu terhadap novel Negeri 5 Menara?, Dian lalu berdiri, tapi tetap di tempatnya. Menurut saya, ini adalah novel yang sangat bagus. Mantra Man Jadda Wajada yang dijalankan oleh si penulis sangat menawan. Siapa saja yang membaca novel ini, pasti akan dialiri oleh semangat yang lebih mencerahkan, ada motivasi yang menggigit, bahwa nasib buruk tidak akan pernah berpihak kepada orang-orang yang melebihkan usahanya, kepada orang-orang yang berusaha di atas rata-rata. Selain itu, novel ini juga seperti sebuah sikap perlawanan terhadap anggapan orang kebanyakan, yang seringkali menyepelekan lembaga pendidikan agama yang bernama pesantren. Ahmad Fuadi membuktikan bahwa alumni pesantren pun bisa bersaing, bisa bersosialisasi, dan yang lebih penting adalah bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya kira, itu yang saya tangkap dari novel ini. Kemudian Dian duduk kembali, dan pak Wawan memanggil nama yang lain untuk menyampaikan pendapatnya. Kesempatan kedua diberikan kepada Ajat, kawan saya sebangku, juga kawan saya dalam urusan mencuri buah milik bu Nina. Ajat berdiri, teman-teman sekelas banyak yang tersenyum. Selama ini, kalau ada guru, Ajat dikenal sebagai siswa yang jarang berbicara di depan kelas. Hal tersebut bukan berarti dia pendiam, tapi dia malas berbicara secara formal. Waktu

Para Penguasa warung Kopi

19

berdiri, tangannya memegang bibir meja, kemudian dia mulai berbicara, Euh, kalau kata saya sih novel ini biasa saja. Dian terlihat langsung memasang muka tidak setuju, tapi pak Wawan malah bertanya dengan nada penuh simpati dan ingin tahu, Ini terdengar mantap sekali, coba jelaskan bung, bagaimana sampai bisa mengatakan bahwa novel ini biasa saja?. Kemudian Ajat melanjutkan, Jiwa dari novel ini hanyalah satu kalimat, yang tadi sempat disinggung oleh Dian, hanya kalimat Man jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Dan menurut saya, ungkapan tersebut tidak istimewa, bahkan sangat biasa. Bukankah setiap hari kita terbiasa dituntut untuk mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh?. Orangtua kita, guru-guru kita, saudara-saudara kita, bahkan teman-teman kita pun seringkali mengungkapkan hal tersebut. Nenek saya sering bilang, Sing soson-soson jang diajar teh, mh gancang pinter!. Jadi apanya yang istimewa?, tapi memang harus diakui bahwa semangat belajar keras yang ditulis oleh Ahmad Fuadi cukup bisa membangunkan siapa saja yang selama ini ditawan oleh malas atau siapa saja yang selama ini belajar dengan gaya minimalis alias alakadarnya. Dian langsung mengangkat tangan dan berdiri, dia kemudian mendebat pendapatnya Ajat. Pak wawan mempersilahkan, lalu kelas mulai menjadi ramai, karena ternyata Ajat pun tidak tinggal diam, dia bertahan dengan pendapatnya disertai argument-argument yang kuat. Anak-anak yang tadi sempat tersenyum karena meragukan Ajat, kini terlihat pucat, mereka menjadi ragu dengan pendapat mereka sendiri, mereka dibungkam dengan kenyataan. Kalau saja pak Wawan tidak menengahi, debat pendapat antara Dian dan Ajat pasti tidak akan berakahir. Anak-anak yang lain kemudian secara bergantian dan acak dipanggil namanya dan disuruh menyampaikan pendapatnya masing-masing, tapi setelah perseteruan antara Dian dan Ajat, kelas tidak terlalu ramai karena tidak ada lagi perdebatan, sebelum akhirnya nama Olva dipanggil. Semua sudah tahu, Olva pasti akan memberikan kejutan, dia diyakini akan menyampaikan pendapat yang tidak biasa, yang tidak sama dengan pendapat anak-anak yang cenderung seragam. Silahkan Nak, sampaikan pendapatmu dengan lantang, kata pak Wawan pada Olva, tapi kali ini tidak sambil dengan menepuk-nepuk bahu, beliau tetap duduk di kursinya yang berwarna coklat tua. Olva berdiri dan mulai menyampaikan pendapatnya, dan pandangan saya lekat, tidak lepas dari dirinya, Mengenai semangat dan pesan yang diusung oleh novel ini saya kira teman-teman sudah banyak yang membahasnya, oleh karena itu saya akan menyampaikan pendapat lain. Dalam novel ini penokohan yang ditulis oleh Ahmad Fuadi sangat menarik, dia membangun karakter tokoh-tokoh ceritanya dengan sangat jelas, tidak abu-abu, sehingga pembaca dapat mengingat dengan kuat mana tokoh A dan mana tokoh B, ini sangat membantu pembaca dalam memahami cerita dan menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Sebuah cerita, menurut saya, memang seharusnya seperti ini, seperti apa yang ditulis oleh Ahmad Fuadi, harus jelas karakter setiap tokohnya, karena kalau ada yang karakter yang tidak kuat, maka cerita akan terasa buyar dan membingungkan. Seperti yang sudah diduga oleh semuanya, Olva keluar dari pembicaraan mayoritas yang dari tadi tidak beranjak dari pembahasan kalimat Man Jadda Wajada. Entah kenapa, saya yang dari tadi lekat memandanginya, memandangi Olva, tiba-tiba diserbu oleh keinginana untuk mendebat pendapatnya, dan belum sempat saya menimbang, tiba-tiba saya sudah mengacungkan tangan sambil berdiri. Silahkan Bung, kata pak Wawan, yang artinya lampu hijau buat saya untuk mulai mendebat pendapat Olva. Apa yang diutarakan Olva adalah anggapan umum, pandangan apa yang seharusnya, tapi apakah setiap cerita harus seperti itu?, apakah harus membangun perbedaan karakter setiap tokohnya dengan jelas?, saya tidak setuju. Saya punya contoh nyata. Kakak saya punya kawan dua orang, semuanya laki-laki. Mereka berteman sangat dekat, dan mereka punya minat dan hobi yang sama, gaya bicara sama, wajah juga sama; sama-sama sederhana. Misalkan saja ada penulis hebat yang mau menuliskan kehidupan mereka bertiga dalam sebuah cerita, apakah kemudian cerita mereka menjadi membingungkan?, belum tentu bukan?. Sebelum saya melanjutkan, Olva yang biasanya terlihat tenang, kali ini langsung berdiri dan mengacungkan tangan, Silahkan Nak, kata pak Wawan yang bertindak sebagai wasit. Maaf, kita sedang membicarakan novel Negeri 5 Menara, bukan cerita di luar buku ini, jadi kemungkinan-kemungkinan yang lain kita benamkan dulu. Saya hanya mengomentari tokoh Alif, Atang, Baso, dan kawan-kawannya, bukan kakakmu dan kawan-kawannya. Saya langsung berdiri lagi, dan tanpa menunggu pak Wawan mempersilahkan, saya langsung menyerang, Justru karena kita sedang membicarakan Negeri 5 Menara, makanya saya mengungkapkan kemungkinan lain. Bukankah saya tidak harus menyanjung puja novel tersebut?, apakah tidak boleh ada kritik terhadap novel tersebut?, boleh kan?. Nah, untuk menjelaskan apa yang saya tidak setuju dalam novel ini, yang kebetulan menurutmu adalah sisi menarik, makanya saya memberikan pembanding, memberikan contoh nyata, bahwa sebenarnya tidak semua cerita harus seperti itu. Olva tidak mau kalah, dia berdiri lagi dan juga tidak menunggu insyarat lampu hijau dari pak Wawan, Hai Bung--mungkin karena emosi dia akhirnya berkata Bung---siapa yang melarang untuk mengkritik?,tidak pernah ada yang

Para Penguasa warung Kopi

20

berkata bahwa pendapat kita harus sama, yang saya garis bawahi adalah karakter tokoh dalam cerita di buku ini sangat menarik, sangat membantu para pembacanya untuk memahami inti cerita, bukan soal adanya kemungkinan cerita lain dengan karakter tokoh yang seragam seperti yang bung ungkapkan. Saya tidak terima, dan langsung berdiri lagi. Selesai saya berbicara dia pun berdiri lagi dan terus terjadi perdebatan. Siang itu kelas menjadi saksi bahwa saya dan Olva berdebat dengan sengit. Pak Wawan memang wasit yang peka, sebelum menjadi debat kusir, beliau langsung menengahi dan memberikan kesempatan pada anak-anak yang lain untuk mengungkapkan pendapat mereka masingmasing. Dan hari menjadi sangat siang setelah itu, matahari masih garang menyengat waktu akhirnya kelas bubar dan kami pulang. Kali itu kami, saya dan Olva, tidak satu mobil, kami naik angkot yang berbeda. Mobil berjalan di atas aspal yang berfatamorgana, debu di pinggir jalan beterbangan di tiup angin, langit gilang gemilang dan beberapa awan terlihat berarak, kemarau sedang berkuasa. Cuaca ini membuat saya teringat lagu yang akhir-akhir ini sering diputar bang Bisma, lagu The Monophones yang diputar waktu malam mulai merayap menjemput senja :

I'm standing here in the sky of july With the blue and cloudy sky With the land there's dry The sun its burning all of the land Turn the stone into the sand Leave my world in pain
*** Ahmad Sumarjo namanya, tapi entah mulai kapan warga komplek memanggilnya hanya dengan panggilan Ajo, dan karena saya masih kelas dua SMP, sedang beliau sudah berusia sekira 50 tahun, maka saya memanggilnya pak Ajo. Beliau adalah punggawa mesjid komplek. Jika ada anak yang bernasib malang, yang bapaknya terlalu sibuk mencari uang dan ibunya dijajah sinetron produksi dinasti Punjabi, sehingga anak tersebut tidak pernah punya kesempatan untuk belajar Iqro dan tajwid, maka beliau pun menjadi benteng moral cadangan bagi anak-anak malang tersebut. Dulu waktu masih kelas dua SD, saya pernah diajar oleh beliau, tapi karena yang ngajinya terlalu banyak sementara pak Ajo tidak bisa difotocopy, maka kemudian bapak mengambil alih, saya akhirnya belajar Iqro di rumah bersama bapak. Sekarang, ketika ilmu tajwid saya sudah lumayan jago, saya kembali belajar ke pak Ajo, belajar ilmu tajwid yang belum saya ketahui semuanya sambil mencoba menghafal Al quran yang bagi saya sangat sulit; sekarang hafal besok lupa. Kata bang Bisma, selama saya masih suka panen buah di rumah bu Nina, maka hafalan saya tidak akan majumaju, tapi saya tidak mudah percaya, walaupun kepada kakak sendiri, maka saya tetap bersemangat kalau si Ajat mengajak ke sana, ke halaman rumah bu Nina yang ramai oleh pohon buah. Sekarang pak Ajo sudah punya semacam asisten, dua orang pula, laki-laki dan perempuan, mereka adalah kak Ina dan bang Muhidin. Kedua orang asisten pak Ajo tersebut adalah kawannya para penguasa warung kopi. Tempo hari, waktu bang Bisma, bang Joni, dan bang Erlan datang ke kostannya kak Ina, mereka ternyata mengajak kak Ina untuk bergabung ke dalam gerakan semesta mereka. Saya masih ingat pembicaraan mereka di warung kopi, waktu bang Erlan bingung mencari orang yang akan bergerak di lini keagamaan, rupanya orang yang mereka cari itu sekarang sudah ada, dialah kak Ina dan bang Muhidin, kawannya kak Ina. Aroma yang menguap dari wajah kak Ina dan bang Muhidin tak lain adalah aroma orang-orang baik. Kehadiran mereka setiap bada maghrib sangat membantu pak Ajo yang sering kewalahan mengajar anak-anak yang cukup banyak dan sering susah tertib. Anak-anak yang masih belajar Iqro sekarang ditangani oleh kak Ina dan bang Muhidin, kak Ina mengajar anak perempuan dan bang Muhidin mengajar anak laki-laki, mereka sekarang dipisah. Sementara anak-anak yang belajar tajwid tetap ditangani oleh pak Ajo, termasuk saya. Setiap selesai mengaji, sambil menunggu waktu sholat isya, bang Muhidin pasti bercerita tentang sahabat-sahabat Rasulullah yang berjuang demi Islam. Saya sering bergabung untuk mendengarkan ceritanya, karena cara bang Muhidin menuturkan riwayat-riwayat tersebut amat berkesan, sehingga membuat anak-anak betah, termasuk saya. Bahkan kadang-kadang saya berharap agar waktu isya tidak cepat datang karena akan menghentikan cerita bang Muhidin. Saya yakin gaya bang Muhidin lebih menarik daripada gaya bang Bisma yang sering mendongeng di lapangan komplek dengan topeng Gorgomnya. Saya paling terkesan dengan cerita bang Muhidin tentang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Abdullah terlahir dalam keadaan buta, maka ibunya bergelar Ummi Maktum (ibunya orang buta). Suatu hari ketika Rasullullah sedang berdialog dengan pemimpin-pemimpin suku Quraisy, dengan harapan pemimpin-pemimpin suku Quraisy itu masuk Islam, dengan sungguh-sungguh tiba-tiba Abdullah minta dibacakan ayat-ayat Al Quran. Kata Abdullah, Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!. Rasulullah tidak

Para Penguasa warung Kopi

21

memperdulikan permintaan Abdullah, lalu beliau membelakangi Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy. Setelah Rasulullah selesai berbicara dengan mereka dan bermaksud pulang, maka turunlah wahyu :

Dia bermuka masam dan berpaling karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya atau dia mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya?. Adapun orang yg merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri. Adapun orang yang datang kepadamu degan bergegas sedangkan ia takut kepada Allah maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan!. Sesungguhnya ajaran itu suatu peringatan. Maka siapa yg menghendaki tentulah ia memperbaikinya. Terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan yang ditinggikan lagi disucikan di tangan para utusan yang mulia lagi berbakti. (QS. Abasa : 1-16)
Riwayat tersebut sering membuat saya menjadi merasa tidak enak ketika malas untuk belajar mulai menyerang, saya sering membayangkan bagaimana Abdullah yang tidak bisa melihat tapi semangatnya untuk belajar begitu tinggi. Kalian yang kondisi fisiknya sempurna, bisa melihat dengan baik, jangan sampai malas belajar. Contohlah Abdullah bin Ummi Maktum, walaupun beliau matanya buta, tapi hatinya tidak buta, semangat belajarnya harus kalian tiru, begitu kata bang Muhidin. Tapi waktu itu, waktu bang Muhidin bercerita mengenai riwayat Abdullah bin Ummi Maktum, kawan saya si Ajat, team leader aksi panen buah, tidak ikut hadir. [ ] itp, 3/3/11

Para Penguasa warung Kopi

22

PERACIK KOPI PARA PENGUASA WARUNG KOPI

TOKOH UTAMA 1. BANG BISMA: - Berambut gondrong mengembang - Suka music Indie : Monkey To Millionare, Nudist Island, Alone At Least, Van De Brews, Homogenic - Perokok - Mendongeng (membaca dan mempelajari buku cerita anak-anak) - Mulai terpengaruh oleh gerakan ikhwan (mendengarkan nasyid, sholat lebih khusu) 2. BANG JONI : - Perokok - Gondrong agak lurus mengembang - Suka Menulis catatan harian - Suka kegiatan di laut - Suka lagu benyamin, iwan fals 3. BANG ERLAN : - Perokok - Rambut gondrong tanggung - Agak pendiam - Suka Naik gunung - suka membaca buku sejarah 4. IPEZ (IVAN) : PENCERITA - anak SMP - agak nakal, jahil, puber - woman interesnya adalah Olva - Obsesi menyelidiki 3 pemuda

Para Penguasa warung Kopi

23

TOKOH SAMPINGAN : 1. KANG AGUS GODEG : - suka bercerita porno & agak doyan menggoda perempuan - tapi setia pada istri dan profesi - godegnya lebat - lumayan jago main gitar 2. PAK EKA (PROFESOR TUA) - TOKOH PENDIDIKAN YG TIDAK PEKA SOSIAL 3. BU NINA : - ORANG KAYA ASOSIAL 4. BU MAKIE : - ISTRI PEJABAT - DOYAN BELANJA -AGAK ASOSIAL

Para Penguasa warung Kopi

24