Anda di halaman 1dari 131

http://inzomnia.wapka.

mobi

THE MYSTERY OF THE WANDERING CAVE MAN by Alfred Hitchcock Text by MV. Carey TRIO DETEKTIF MISTERI MANUSIA GUA Alihbahasa: Aryotomo Markam Penerbit: PT Gramedia. Jakarta, Oktober 1988 Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi PESAN HECTOR SEBASTIAN SELAMAT berjumpa, Para penggemar misteri! Kalau di antara kalian ada yang sudah sangat mengenal Trio Detektif, silakan lompati bagian ini dan langsung mulai dengan Bab 1. Tetapi jika ada yang belum pernah berjumpa dengan Trio Detektif, dengan senang hati saya akan memperkenalkan mereka. Jupiter Jones, alias Jupe, yang sangat gemar membaca dan memiliki otak cerdas serta ingatan yang amat kuat, adalah pimpinan Trio Detektif. Ia bangga sekali dengan julukan Penyelidik Satu yang disandangnya. Pete Crenshaw, Penyelidik Dua, memang tidak sepandai Jupe, tetapi ia memiliki kelebihan lain. Ia pandai berolahraga. Tidak heran jika tubuhnya jangkung dan kekar. Selain itu ia juga memiliki rasa setia kawan yang besar. Bob Andrews menangani urusan Data dan Riset. Orangnya pendiam, dan walaupun tidak sehebat Pete dalam olahraga, tapi ia seorang pemberani.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kali ini Trio Detektif menghadapi persoalan yang tak masuk akal. Mereka mencari makhluk yang telah mati berabad-abad yang lalu! Makhluk itu pernah terlihat berjalan di malam hari, di suatu desa. Dalam perburuan itu, mereka menjumpai tiga orang ilmuwan yang melakukan eksperimen-eksperimen yang aneh dan menakutkan. Tanpa disadari mereka terperangkap dalam suatu bangunan kuno, lalu... Saya tidak berani menceritakannya lagi. Pengalaman mereka membuat saya ngeri. Lebih baik kalian membacanya sendiri. Saya hanya bisa mengucapkan selamat bertualang dan bermisteri. HECTOR SEBASTIAN Bab 1 PENDATANG DARI BALIK KABUT SUARA seorang wanita bernada prihatin terdengar memecah kesunyian. Jupiter Jones tertegun dan memasang telinganya. Kabut tebal menyelimuti Rocky Beach sore itu, menghalangi pemandangan dari Pangkalan Jones ke rumah-rumah di seberangnya. Jupe berdiri seorang diri. Ke mana-mana ia memandang, hanya kabut yang dilihatnya. Ia merasa kesepian. Namun suara itu menggugahnya. Dan sekarang terdengar suara langkah yang mendekat. Perlahan-lahan Jupe mendekati pintu gerbang. Kini samar-samar terlihat bayang-bayang dua orang yang sedang berjalan, makin lama makin jelas, seakan-akan muncul dari kabut itu sendiri. Seorang laki-laki tua bungkuk berjalan

http://inzomnia.wapka.mobi

tertatih-tatih di trotoar, dipapah seorang wanita muda kurus dengan rambut panjang terurai. "Ini ada tempat duduk," wanita itu berkata sambil menuntun orang tua itu ke arah tempat duduk di samping kantor. "Istirahatlah dulu. Anda tentu lelah sekali." "Adakah yang dapat saya bantu?" Jupe mendekati kedua orang itu. Orang tua itu memandang dengan linglung, satu tangannya ditempelkan di kepalanya. "Kami mencari... mencari..." Ia menoleh kepada wanita itu. "Tolong ceritakan padanya. Kami ingin... ingin..." "Harborview Lane," wanita muda itu membantu menjelaskan pada Jupe. "Kami harus pergi ke sana." "Ikuti saja jalan besar terus ke barat," dengan sigap Jupe memberi petunjuk. "Tetapi kelihatannya teman Anda sakit. Akan saya panggilkan dokter, segera, dan-" "Jangan!" potong orang tua itu. "Nanti kami terlambat!" Jupe mengamat-amati orang itu dengan saksama. Wajah orang itu pucat dan penuh keringat. "Aduh!" orang itu menggumam. "Capek sekali!" Kedua tangannya menekan kepalanya. "Mau pecah rasanya kepalaku ini! Heran, belum pernah aku mengalami sakit kepala seperti ini!" "Saya panggilkan dokter, ya!" Jupe mendesak. Tiba-tiba orang itu berdiri. "Tidak apa-apa, sebentar lagi juga sembuh, tetapi sulit sekali untuk... untuk..." Ia jatuh terduduk ke bangku itu, napasnya berat dan tersengal-sengal, berusaha menahan sakitnya. "Aahhh," gumamnya. Lalu terdiam. Jupe memegang tangan orang itu. Dingin!

http://inzomnia.wapka.mobi

Mata orang itu melotot, tidak berkedip dan... pandangannya kosong! Suasana hening kembali menyelimuti Pangkalan Jones. Si wanita muda memegang orang itu sambil terisak-isak. Terdengar derap langkah yang sigap di trotoar. Bibi Mathilda muncul di gerbang dan segera menghampiri mereka. Ia langsung melihat orang tua di bangku, si gadis, dan Jupiter yang berlutut di hadapan orang tua itu. "Jupiter, ada apa?" seru Bibi Mathilda cemas. "Akan kupanggilkan dokter, segera!" "Ya," Jupiter berkata. "Panggil saja... tapi kukira tidak ada gunanya lagi. Ia sudah meninggal!" Setelah itu ingatan Jupe kabur. Ada sirene, ambulans, dan orang-orang yang sibuk dalam kepekatan kabut. Orang ramai berkumpul di depan gerbang untuk mengetahui apa yang terjadi. Gadis berambut pirang itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Bibi Mathilda. Jupe dan bibinya bersama-sama dengan gadis pirang itu ikut ke rumah sakit, menyertai ambulans yang membawa jenazah orang tua itu. Sirene ambulans meraung-raung dalam perjalanan menuju rumah sakit. Semua itu bagaikan mimpi bagi Jupe. Tetapi setibanya di rumah sakit, Jupe sadar bahwa itu benar-benar terjadi. Jupe, Bibi Mathilda, dan si gadis menunggu tanpa berkata-kata di ruang tunggu yang penuh asap rokok. Tegang. Akhirnya datang seorang dokter. "Tabahkan dirimu," kata dokter pada si gadis sambil menyalaminya. "Mungkin lebih baik begitu, daripada hidup menderita. Apakah Anda saudaranya?" Si gadis menggelengkan kepalanya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Akan dilakukan otopsi," kata dokter, "untuk menyelidiki sebab-sebab kematiannya. Ini biasa dilakukan pada orang yang meninggal tanpa sebab-sebab yang jelas. Tetapi kami memerlukan izin dari salah seorang saudaranya sebelum kami dapat melakukannya. Bagaimanakah menghubungi saudaranya?" Si gadis menggeleng lagi. "Saya tidak tahu. Saya akan tanyakan pada yayasan." Kembali ia tersedu-sedu. Seorang perawat datang menenangkan, sambil menuntunnya meninggalkan tempat itu. Jupe dan Bibi Mathilda menunggu dengan sabar. Tak lama kemudian gadis itu kembali. Ia telah menelepon dari kantor. "Akan datang orang dari yayasan," ia menjelaskan pada Jupiter dan Bibi Mathilda. Yayasan apa, ya? Jupe bertanya dalam hati, tetapi ia cukup maklum bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan hal itu. "Yuk, kita minum di kantin rumah sakit, sambil menunggu," Bibi Mathilda mengajak. Ia menggamit lengan si gadis dan dengan lemah-lembut menuntunnya menuju kantin. Mereka minum tanpa berkata-kata. Akhirnya gadis itu memulai. "Ia sangat baik hati," gadis itu berkata lirih. "Namanya DR. Kari Birkensteen, ahli genetika yang ternama. Ia bekerja pada Yayasan Spicer, mempelajari berbagai macam hewan. Pada hewan-hewan itu dilakukan eksperimen untuk menguji kecerdasan mereka-dan juga kecerdasan keturunan mereka. Saya juga bekerja di sana, membantu memelihara hewan-hewan itu." "Aku pernah dengar tentang Yayasan Spicer," kata Jupe. "Bukankah letaknya di dekat pantai? Dekat San Diego?" Si

http://inzomnia.wapka.mobi

gadis mengangguk. "Ya, letaknya di kota kecil dekat daerah berbukit pada jalan yang menuju padang pasir." "Aku tahu, kota itu bernama Citrus Groove." Jupe melanjutkan. Untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum. "Betul. Saya senang sekali. Maksud saya, biasanya orang tidak tahu nama kota itu. Yayasan Spicer cukup dikenal, tetapi kota itu tidak." "Jupiter banyak membaca, karena itu ia tahu," kata Bibi Mathilda, "dan ingatannya kuat sekali. Apa yang dibacanya tentu diingatnya. Saya saja tidak tahu tentang kota dan yayasan itu. Yayasan apa itu?" "Yayasan itu adalah suatu lembaga yang melakukan riset di bidang sains," Jupiter yang menjawab. Ia tiba-tiba merasa sebagai seorang profesor yang sedang menerangkan suatu persoalan kecil. Ia memang selalu begitu kalau sedang menerangkan sesuatu yang ia kuasai. Bibi Mathilda telah terbiasa mendengarnya, jadi ia tidak begitu peduli. Tetapi gadis pirang itu terheran-heran. "Almarhum Abraham Spicer adalah pengusaha plastik," Jupe meneruskan. "Perusahaannya memproduksi peralatan rumah tangga. Jutaan yang sudah dihasilkannya semasa hidupnya. Namun, sesungguhnya ia tidak pernah mencapai ambisinya, yaitu menjadi ahli fisika. Karena itu, ketika meninggal, ia mewariskan seluruh kekayaannya pada suatu badan yang mengumpulkan dana untuk aktivitas sosial. Dari situ dana disalurkan kepada yayasan tempat para saintis melakukan riset-riset orisinal dan bahkan revolusioner -di bidang masingmasing." Gadis itu melongo melihat cara Jupe berbicara.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bibi Mathilda tersenyum. "Ia memang begitu. Habis, bacaannya banyak sekali sih!" "Ooo, pantas," gadis itu memaklumi. "Oke. Maksud saya, itu baik sekali, yah begitulah. Oh ya, sampai lupa saya memperkenalkan diri. Nama saya Hess. Lengkapnya Eleanor Hess, kalau kalian ingin tahu." "Tentu saja kami ingin tahu," kata Bibi Mathilda. "Tetapi, maksud saya, saya kan bukan orang terkenal." "Tapi itu bukan berarti aku tidak mau mengenal Anda," jawab Bibi Mathilda. "Aku Nyonya Titus Jones, dan ini keponakanku, Jupiter Jones." Eleanor Hess tersenyum. Tiba-tiba ia membuang muka, seolaholah takut orang lain tahu lebih banyak tentang dirinya. "Ceritakan dong, apa saja yang Anda lakukan di Yayasan Spicer," pinta Bibi Mathilda. "Hewan apa saja yang Anda pelihara?" "Hewan-hewan untuk eksperimen," jawab Eleanor seraya menoleh perlahan-lahan. "Ada tikus putih, ada simpanse, dan ada seekor kuda." "Kuda?" Bibi Mathilda kaget. "Ada kuda dalam laboratorium?" "Oh, bukan. Blaze tinggal di kandangnya. Tetapi ia juga hewan untuk eksperimen. DR. Birkensteen menyuntikkan isotop pada induknya, sebelum Blaze dilahirkan. Katanya, itu berpengaruh pada kromosomnya. Saya tidak paham betul, tetapi ia kuda yang amat pandai. Ia bisa aritmatika." Bibi Mathilda dan Jupiter melongo mendengarnya. "Ah, cuma berhitung yang sederhana saja," tukas Eleanor. "Jika diletakkan dua buah apel, lalu tiga buah apel, Blaze tahu bahwa ada lima buah apel. Ia kemudian mengetuk lima kali

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan kakinya. Saya kira itu tidak terlalu hebat, tetapi biasanya kuda kan tidak bisa begitu. Yang benar-benar cerdas adalah simpanse-simpanse. Mereka itu mengerti bahasa isyarat, bahkan bisa mengutarakan beberapa hal yang sulit." "Aku mengerti sekarang," kata Bibi Mathilda. "Lalu apa rencana DR. Birkensteen setelah mendidik hewan-hewan itu?" "Sebenarnya bukan hewan-hewan itu yang menjadi tujuannya," kata Eleanor pelan. "Ia tidak peduli dengan kuda yang pandai atau simpanse yang cerdas. Ia sebenarnya ingin menolong manusia, dan itu dimulainya dengan melakukan eksperimen pada hewan. Tidak boleh kan, melakukan eksperimen langsung pada bayi manusia." Bibi Mathilda merasa ngeri. Eleanor kembali membuang muka. Ia menjadi tertutup lagi. "Anda tidak perlu repot-repot menemani saya terus," katanya. "Terima kasih atas bantuan Anda. Sebentar lagi DR. Terreano dan Mrs. Coolinwood datang. Mereka akan mengurusnya dengan dokter di sini, dan... dan..." Ia menunduk. Air matanya mengalir lagi. "Tenanglah," kata Bibi Mathilda dengan lemah-lembut. "Kami tidak kerepotan menemani Anda." Mereka tetap menunggu, sampai seorang laki-laki kurus, jangkung, beruban, masuk ke kantin. Eleanor memperkenalkannya sebagai DR. Terreano. Ia ditemani seorang wanita bertubuh gemuk, berumur sekitar enam-puluhan, memakai bulu mata palsu hitam tebal yang amat lentik, dan wig keriting berwarna merah menyala. Ia adalah Mrs. Coolinwood, yang lalu mengajak Eleanor ke mobil, sementara DR. Terreano menghubungi dokter yang mengurus jenazah DR. Birkensteen.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bibi Mathilda menggeleng-geleng ketika mereka sudah pergi. "Orang-orang aneh," katanya. "Tega benar melakukan percobaan pada hewan agar keturunannya berubah. Si Terreano itu-menurutmu siapa dia?" "Pasti seorang peneliti, kalau ia bekerja di Yayasan Spicer," kata Jupe. Bibi Mathilda berkerut dahinya. "Benar-benar orang aneh," ulangnya lagi. "Ih, seram. Seenaknya saja mengutak-atik makhluk-makhluk lain. Itu tidak alamiah! Mengerikan!" Bab 2 UANG ATAU PENGETAHUAN? MALAMNYA Bibi Mathilda menceritakan kepada Paman Titus apa yang terjadi tadi sore di pangkalan mereka. Ia berusaha menghindarkan pembicaraan mengenai Yayasan Spicer, dan jika Jupiter menyinggung-nyinggung tentang itu, dengan cepat dialihkannya ke masalah lain. Eksperimen tentang genetika membuatnya merasa ngeri. Tetapi meskipun sudah berusaha keras untuk melupakan Yayasan Spicer, mau tak mau ia akan teringat kembali, karena berita tentang yayasan itu sering muncul di koran-koran. Mula-mula berita tentang kematian DR. Birkensteen. Seperti yang sebelumnya telah diduga oleh para dokter di rumah sakit, ia meninggal karena serangan jantung. Diceritakan pula apa yang telah dikerjakannya selama hidupnya, apa yang ditelitinya, dan apa yang berhasil ditemukannya di bidang genetika. Sebagai penutup diberitakan bahwa jenazahnya akan dikirim ke

http://inzomnia.wapka.mobi

tempat asalnya di wilayah Amerika Timur untuk dikebumikan di sana. Tidak sampai seminggu kemudian muncul kembali berita tentang Yayasan Spicer, kali ini mengenai penemuan yang mengejutkan. Para wartawan membanjiri kota kecil Citrus Groove untuk meliput peristiwa itu. Seorang ahli arkeologi, James Brandon, yang juga bekerja di yayasan sebagai peneliti, telah menemukan tulang-belulang makhluk zaman prasejarah dalam sebuah gua di pinggir kota. "Ini misteri besar!" Jupe berteriak. Waktu itu sore hari di bulan Mei. Jupe dan kawan-kawannya sedang berada dalam karavan yang merupakan kantor sekaligus laboratorium Trio Detektif di pangkalan barang bekas yang dikelola oleh keluarga Jones. Jupe sedang membaca koran dengan teliti. Bob Andrews mengatur berkas-berkas, sementara Pete Crenshaw membersihkan peralatan dalam laboratorium kriminal mini itu. Pete menoleh. "Misteri apa?" tanyanya. "Manusia gua dari Citrus Groove," kata Jupe. "Apakah ia sudah dapat dibilang manusia? Berapa ribu tahun umurnya sekarang? James Brandon, ahli arkeologi yang menemukannya, menyebutnya hominid. Itu dapat berarti manusia, dapat pula berarti hewan yang menyerupai manusia. Semacam pramanusia begitulah." "He, sore ini James Brandon akan muncul di TV," kata Bob. "Ia akan menjadi bintang tamu dalam acara Bob Engel Show. Jam 5 sore disiarkannya." "Sekarang sudah jam 5. Mau nonton?" tanya Pete sambil mengelap meja. "Ya, pasti dong," jawab Jupiter Jones.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kantor Trio Detektif memiliki sebuah TV hitam-putih kecil yang diletakkan di rak buku dekat meja Jupiter. Paman Titus memperolehnya dalam keadaan rusak ketika ia berburu barang bekas. Jupiter yang tangannya gatal kalau melihat barang rusak, dengan cekatan memperbaiki TV itu sehingga dapat dipakai kembali. TV itu langsung dinyalakan, dan muncullah wajah Bob Engel, pembawa acara yang hangat dan murah senyum. "Tamu kita kali ini DR. James Brandon," kata Engel. "Ia adalah penemu sisa-sisa fosil manusia prasejarah dalam sebuah gua di sini, di California Selatan." Kamera diarahkan pada James Brandon yang kurus dengan raut muka tegas dan rambut terpotong pendek. Di sebelahnya ada seorang laki-laki pendek, berperut buncit dan memakai baju koboi lengkap dengan ikat pinggang lebar dan sepatu bot bertumit tinggi. "Hari ini DR. James Brandon ditemani Mr. Newt McAfee. Mr. McAfee seorang pedagang di kota Citrus Groove, dan ia pemilik tanah tempat manusia gua itu ditemukan." "Betul!" kata manusia tembam itu. "Aku McAfee. Ingat-ingat itu, karena mulai saat ini namaku akan sering disebut-sebut." Bob Engel tersenyum pahit, lalu mengalihkan perhatiannya pada DR. James Brandon. "DR. Brandon," kata Bob Engel. "Dapatkah Anda menceritakan bagaimana Anda sampai pada penemuan fosil-fosil itu?" "Itu terjadi secara kebetulan sekali," kata James Brandon sambil membetulkan posisi duduknya. "Saya sedang berjalanjalan sekitar seminggu yang lalu. Waktu itu hujan baru saja berhenti, dan saya tertarik pada tanah longsor di bukit, di atas

http://inzomnia.wapka.mobi

padang rumput milik McAfee. Longsornya tanah itu menyebabkan ada bagian yang terbuka di sisi bukit. Ketika saya mendekat, saya melihat sebuah gua, dan seperti ada tengkorak di dalamnya. Hanya tengkoraknya saja yang kelihatan, sisanya tertimbun dalam lumpur di dasar gua itu. Mula-mula saya tidak tahu apa yang saya temukan itu, maka-" "Bukan Anda yang menemukan, Sobat," McAfee memotong. "Tapi aku!" Brandon tidak mempedulikannya. "Saya kembali ke Yayasan Spicer untuk mengambil senter," katanya. "Dan ketika ia kembali ke tanahku, aku telah menunggunya dengan senapan di tangan," kata McAfee. "Seenaknya saja ia memasuki wilayahku tanpa permisi!" Brandon menghela napas. Kelihatan sekali ia dengan susahpayah menahan emosinya. "Saya jelaskan apa yang telah saya lihat," katanya. "Kami melihat lebih dekat, dan saya yakin bahwa itu memang tengkorak." "Tengkorak tua!" seru McAfee. "Beribu-ribu tahun umurnya!" "Sebagian besar kerangkanya masih utuh. Saya belum sempat mempelajarinya, tetapi ada kesamaannya dengan fosil yang amat tua yang ditemukan di Afrika." "Apakah ia seorang lakilaki?" tanya Engel. Brandon mengerutkan dahinya. "Belum tentu ia manusia. Dilihat dari ciri-cirinya, ia termasuk hominid, tetapi tidak termasuk golongan manusia modern. Saya hampir merasa pasti bahwa ia lebih tua dari hominid-hominid yang pernah ditemukan di Amerika sampai saat ini." Brandon semakin bersemangat. "Ada teori yang mengatakan bahwa orang Indian adalah keturunan kaum pemburu Mongolia

http://inzomnia.wapka.mobi

yang bermigrasi dari Siberia ke Alaska selama zaman es terakhir. Itu terjadi kira-kira delapan ribu tahun yang lalu. Saat itu banyak lautan yang membeku. Selat di antara Siberia dan Alaska membeku seluruhnya, sehingga kaum pemburu dari Asia dengan mudah melintasinya, lalu menetap di tempat yang baru itu. Selanjutnya mereka menyebar ke berbagai daerah, sampai ada yang mencapai Amerika Selatan. "Sampai sekarang teori ini yang diterima. Anda bisa menjumpainya dalam sebagian besar buku-buku sekolah. Tetapi kadang-kadang muncul teori lain. Ada yang mengatakan bahwa sudah ada manusia di Amerika sebelum kaum pengembara melintasi selat antara Siberia dan Alaska. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa manusia modern berasal dari Amerika. Manusia Amerikalah yang bermigrasi ke Asia dan Eropa." "Fosil manusia gua di Citrus Groove itu mendukung teori yang mana?" tanya Engel. "Saya belum tahu," kata Brandon. "Umurnya saja saya belum tahu pasti. Tetapi kerangka yang kami miliki akan dapat-" "Kerangka itu milikku," potong Newt McAfee dengan bernafsu sekali. "Pasti milikku itu seorang manusia, tidak salah lagi. Jadi, jika ia telah di sana sejak dua atau tiga juta tahun yang lalu, maka-" "Saya tidak bilang begitu!" protes Brandon. "Anda sendiri yang mengatakan Anda tidak tahu berapa umurnya!" McAfee mengotot. "Anda bilang lebih dari delapan atau sepuluh ribu tahun. Aku tidak salah! Dua atau tiga juta kan lebih dari delapan atau sepuluh ribu. Pasti manusia modern berasal dari Amerika, bukan Asia atau Eropa. Manusia Amerika

http://inzomnia.wapka.mobi

yang menyeberangi selat menuju Eropa dan Asia. Bisa jadi makhluk di guaku itu merupakan nenek moyang kita semua!" "Anda sembrono dalam mengambil kesimpulan," kata Brandon kesal. "Kita akan lakukan penelitian dengan saksama untuk memastikan-" "Tidak boleh ada penelitian terhadap makhluk milikku!" kata McAfee dengan lantang. Brandon menoleh pada McAfee dengan mata terbelalak. "Makhluk itu terkubur dalam tanahku, jadi merupakan milikku, dan tak seorang pun boleh menyentuhnya!" kata McAfee. "Makhluk itu harus tetap berada di sana, karena akan kujadikan obyek wisata. Orang-orang pasti akan membanjiri tempatku untuk melihat manusia gua itu." "Fosil itu bukan barang tontonan!" tukas Brandon. "Itu adalah benda yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan!" "Masa bodoh!" ujar McAfee tak peduli. "Yang penting orang berminat untuk melihatnya. Aku tinggal mengaturnya saja." "Anda ngaco! Bicaramu ngawur!" teriak Brandon. "Sama sekali tidak," kata McAfee seraya memandang lekatlekat ke kamera TV. "Aku akan mempersiapkan tempatku, dan segera kubuka gua itu bagi setiap pengunjung yang ingin menyaksikan keajaiban terbesar saat ini. Saksikanlah nenekmoyang kita yang telah berumur jutaan tahun. Aku jamin, tempatku tidak kalah dengan tempat-tempat hiburan yang indah-indah di California, dan-" "Kau sinting!" Brandon berteriak sambil melompat dari tempat duduknya. Kamera cepat-cepat dialihkan sehingga yang terlihat hanyalah wajah Bob Engel. Terdengar teriakan-teriakan dan suara orang

http://inzomnia.wapka.mobi

yang baku hantam. Dengan tergesa-gesa Bob Engel berkata, "Sayang sekali, Para pemirsa sekalian, waktu tidak mengizinkan kita untuk melanjutkan acara yang menarik ini. Sampai jumpa dalam acara yang sama, minggu depan. Tamu kita minggu depan ialah..." Pete mematikan TV. "Wah!" katanya. "Gawat sekali. Tampaknya Brandon akan memukul KO si McAfee!" "Aku sendiri sebal pada McAfee," kata Jupe. "Kalau ia tidak mengizinkan Brandon meneliti tulang-belulang itu..." "Apakah ia berhak melarang Brandon?" kata Bob. "Aku kira begitu, sebab gua itu terletak dalam tanah miliknya. Kasihan ahli arkeologi itu, ia menemukan sesuatu yang sangat berharga, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa! Mungkin memang sudah ada ketidakcocokan antara keduanya sejak awal pertemuan mereka. Bayangkan... McAfee sambil membawa senjata memergoki Brandon di gua itu, lalu Brandon menjadi emosi. Itu dapat berakhir dengan... dengan..." "Pertumpahan darah?" kata Pete. "Ya, ya... pertumpahan darah!" Bab 3 SAMBUTAN ANEH SETELAH wawancara itu, James Brandon tidak pernah muncul di TV lagi. Justru McAfee yang sering tampil pada beberapa show, mengiklankan manusia gua Citrus Groove. Sampai pertengahan Juli, hampir semua orang di California Selatan sudah tahu tentang manusia gua itu. McAfee menyatakan bahwa gua itu akan dibuka untuk umum mulai awal Agustus.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di minggu terakhir bulan Juli, Jupiter bertemu dengan tetangganya, Les Wolf. Wolf bekerja sebagai kontraktor pemasangan peralatan dapur restoran dan hotel. Ia menempati rumah besar, tidak jauh dari Pangkalan Jones. Jupiter sedang bersepeda melewati rumah itu ketika ia melihat Mr. Wolf yang sedang berusaha menangkap kucingnya yang bersembunyi di bawah pagar semak. Jupe berhenti untuk membantu. Sambil berjingkat-jingkat didekatinya kucing itu dari belakang. Tiba-tiba ia membuat gerakan mengejut. Kucing kecil itu melompat ke arah yang berlawanan, tak sadar bahwa Mr. Wolf sudah menunggunya. Dengan mudah Mr. Wolf menangkap kucing itu, lalu mengangkatnya dengan gemas. "Kutangkap kau, Kucing nakal," kata Wolf sambil tersenyum lebar pada Jupe. "Terima kasih, Jupe. Istriku pasti marahmarah kalau kucing ini sampai hilang." Wolf berjalan masuk ke rumahnya sambil menggendong kucingnya. Namun di pintu ia berhenti lalu menoleh pada Jupiter. "Kau tahu, ya, cerita tentang kota kecil dekat pantai itu? Kota tempat ditemukannya manusia gua? Aku sedang melakukan pemasangan peralatan dapur di sebuah restoran di sana. Bibimu menceritakan pada istriku bahwa kau mengikuti terus berita-berita di koran tentang manusia gua itu." "Tentu saja aku tahu!" kata Jupe bersemangat. "Gua itu akan dibuka untuk umum Sabtu ini. Apakah Anda membawa truk besar ke Citrus Groove nanti? Adakah yang bisa kubantu?" "Sayang sekali tidak, kau terlalu muda dan bukan pegawai perusahaanku," kata Mr. Wolf. "Hal Knight yang akan

http://inzomnia.wapka.mobi

membantuku. Tetapi kalau kau mau ikut boleh saja, kau dapat membonceng di belakang bersama-sama dengan peralatanku...." "Aku mau!" sahut Jupe cepat. "Boleh kan kuajak Bob dan Pete, teman-temanku itu?" "Tentu. Hanya kalian harus mencari tempat menginap sendiri. Pihak restoran menyediakan tempat untukku dan Hal, tetapi tidak ada tempat buat kalian. Kira-kira pekerjaan itu akan selesai dalam tiga hari." "Tidak apa-apa," kata Jupe. "Kami bisa berkemah di suatu tempat." Jupe bergegas pulang untuk memberi tahu teman-temannya serta minta izin pada Bibi Mathilda dan Paman Titus. Jumat pagi mereka berangkat dengan membonceng truk Mr. Wolf. Mereka berkendaraan ke arah selatan selama dua jam, lalu membelok ke timur mengarah ke bukit-bukit. Jalan-jalannya berkelok-kelok serta turun-naik. Selama perjalanan anak-anak itu menikmati pemandangan yang indah. Pohon-pohon jeruk berbuah lebat banyak dijumpai di kiri-kanan jalan, ada pula padang rumput yang luas dengan sapi-sapi yang sedang merumput. Setengah jam kemudian truk itu menurunkan kecepatannya, yakni ketika melalui kota Centerdale. Akhirnya mereka menjumpai papan bertuliskan: Anda memasuki wilayah Citrus Groove. Maksimal 60 km/jam. Citrus Groove hanya sebuah desa kecil. Meskipun demikian, desa kecil itu mempunyai fasilitas yang cukup lengkap. Ada sebuah supermarket, dua pompa bensin, sebuah dealer mobil, dan sebuah motel kecil bernama The Elms. Mereka melewati satu-satunya kolam renang di kota itu, kemudian stasiun tua kereta api, yang sudah tidak dipakai lagi. Di tengah kota

http://inzomnia.wapka.mobi

terdapat pusat pertokoan yang berbaris memanjang, sebuah bank, toko besi, apotek, dan perpustakaan umum. Meskipun kecil, kota itu ramai sekali. Papan bertuliskan "Penuh" dipasang di depan Motel The Elms, dan orang-orang membentuk antrian panjang untuk membeli makanan di Kantin Lazy Daze. "Semua ini gara-gara iklan tentang manusia gua," kata Jupe. Jupe geli melihat kerumunan orang-orang di stand hamburger, di Kantin Lazy Daze yang menjual dinosaurus burger. "Lihat, Jupe, mereka menjual dinosaurus burger. Isinya daging dinosaurus, ya?" kata Pete. Jupe terbahak-bahak. "Aduh, Pete! Kau terlalu! Mana ada dinosaurus zaman sekarang?" katanya. "Paling-paling cuma ukuran hamburger-nya saja yang besar." "Macam-macam saja kau, Pete," kata Bob yang turut geli mendengar kata-kata Pete. Pete dongkol sekali mendengar tanggapan Jupe. Tetapi ia diam saja, karena kesalahan memang terletak pada dirinya. Yang bisa ia lakukan cuma berusaha menyembunyikan rasa malunya. Les Wolf menghentikan truknya di pinggir jalan. Ia turun dan keluar untuk berbicara dengan anak-anak itu. "Restoran Happy Hunter tempat aku bekerja terletak dijalan ini, setengah mil lagi ke arah sana," kata Wolf. "Aku menelepon pemiliknya semalam dan ia bilang tempat berkemah dekat kota penuh. Ia menganjurkan agar kalian menemui Newt McAfee. McAfee yang biasa mencarikan penginapan bagi pendatang baru. Rumahnya abu-abu dan terletak di ujung jalan utama itu." "Mudah-mudahan bukan McAfee yang di TV itu!" seru Pete. "Kelihatannya memang yang itu," kata Jupe. Anak-anak itu turun dari truk.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hubungi aku di Happy Hunter hari Senin," Wolf berpesan. Ia lalu melanjutkan perjalanannya. Dari jauh rumah Newt McAfee kelihatan cukup menyenangkan. Di depannya terdapat halaman rumput dan teras kecil. Tetapi ketika didekati baru terlihat bahwa rumah itu kurang terawat. Catnya banyak yang mengelupas, kain gordennya kumal, dan halamannya banyak ditumbuhi rumput liar. "Kok tidak terawat, ya?" kata Bob. "Padahal McAfee pemilik toko besi dan dealer mobil." "Mungkin tokonya kurang laku, kota ini kan kecil," kata Jupe. Papan pengumuman yang tertempel di teras mempersilakan para tamu yang ingin menanyakan tentang penginapan supaya pergi ke bagian belakang rumah. Anak-anak mengitari rumah menuju ke belakang. Mereka melihat padang rumput yang terbentang luas sampai ke sebuah hutan kecil di belakang. Terdapat sebuah gudang tua tak jauh dari rumah itu. Di sisi yang berlawanan dengan pusat kota, padang rumput itu dibatasi bukit-bukit dan jalan yang menuju bukit itu. Di lereng bukit berdiri sebuah bangunan baru. Bangunan itu modern, terbuat dari kayu merah, dan tak mempunyai jendela. Di atas pintunya tertulis: Pintu Masuk Menuju Gua. "Wah, wah!" kata Pete. "Rupanya tempat ini benar-benar dikomersilkan." "Kalian mencari apa?" terdengar suara lembut di belakang anak-anak itu. Mereka berbalik, dan Jupe melihat seorang gadis berambut pirang dengan wajah pucat. Ia langsung teringat pada sore berkabut di muka rumahnya, tatkala seorang laki-laki tua yang muncul dari balik kabut meninggal dunia. "Oh!" kata Eleanor

http://inzomnia.wapka.mobi

Hess terkejut. "Kau di sini?" "Hai!" Jupe mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Saya... ngngng... saya baru saja mau menulis surat kepada bibimu," katanya sambil menjabat tangan Jupe. "Tapi saya takut merepotkan." "Ah, tidak, kami akan senang sekali menerima surat Anda," kata Jupe, lalu memperkenalkan Bob dan Pete pada Eleanor. Ketika itu pintu belakang terbuka, dan seorang wanita gemuk berambut pendek dan kusut melongok ke luar. "Ellie, mau apa anak-anak itu?" ia berseru. Ia berbicara dengan kasar, seolaholah anak-anak itu tidak mendengarnya. "Bibi Thalia, ini Jupiter Jones," kata Eleanor. Ia kelihatan tidak enak. "Ia yang saya ceritakan waktu itu. Ia dan bibinya yang menolong saya ketika DR. Birkensteen sakit di Rocky Beach. Dan ini Pete Crenshaw dan Bob Andrews, teman-teman Jupiter. Mungkin mereka mau melihat manusia gua itu. Bolehkah mereka menginap di rumah kita, Bibi Thalia?" Tiba-tiba seorang laki-laki muncul dan berdiri di samping Bibi Thalia. Wajahnya sudah sering terlihat dalam acara-acara TV. Eleanor Hess kembali memperkenalkan teman-temannya pada orang itu. Jupe terbengong-bengong ketika menyadari bahwa Bibi Thalia adalah istri Newt McAfee-dan itu berarti bahwa Newt adalah paman Eleanor! "Jadi kau yang telah berbaik hati pada Ellie," kata Newt. "Well, kalian boleh menginap di sini. Rumah kami kecil, tetapi kalian dapat menggelar kasur di loteng gudang itu. Kalian boleh menggunakan kakus tua di belakangnya, di sampingnya ada keran air."

http://inzomnia.wapka.mobi

Mata McAfee yang kecil memandang dengan licik. "Akan kuberi tarif yang murah, cuma sepuluh dolar semalam bagi kalian bertiga." "Paman Newt!" Eleanor Hess memprotes. "Diam!" kata McAfee sambil memandang tajam pada Eleanor. Eleanor langsung tertunduk. "Tidak ada tempat lain yang semurah ini," katanya pada anak-anak itu. "Kita cari tempat berkemah saja, mungkin ada dekat hutan kecil itu," usul Bob. Ia menunjuk ke arah hutan kecil di seberang padang rumput. "Sekarang musim kering, hutan itu mudah terbakar," kata McAfee. "Berbahaya." Jupe mengeluarkan dompetnya, menyerahkan uang sepuluh dolar pada McAfee. "Ini," katanya. "Untuk malam ini." "Bagus." McAfee mengantungi uang itu dengan perasaan penuh kemenangan. "Ellie, antarkan mereka ke gudang." "Hati-hati di sana, Anak-anak," Bibi Thalia mengingatkan. "Jangan mengotori tempat itu, dan jangan menyalakan api." "Kalian tidak merokok, bukan?" tanya McAfee. "Kami tidak merokok," kata Pete merasa tersinggung. "He, Jupe, kita pindah saja. Di kota tadi aku melihat taman, mungkin..." "Dilarang berkemah di taman," kata McAfee. "Lagi pula ada alat penyiram otomatis yang setiap tengah malam menyala." McAfee masuk ke dalam rumah, dan Eleanor mengantarkan anak-anak ke gudang. Mukanya merah karena malu. "Maaf, ya," katanya. "Kalau kalian masih tinggal di sini besok, tidak usah bayar. Saya punya uang, biar saya yang mengurusnya." "Tidak usah," kata Jupe. "Tidak apa-apa."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya sebal kalau ia bersikap begitu," kata Eleanor pahit. "Pendapat saya tidak pernah dianggap, karena... karena mereka selalu bilang bahwa merekalah yang mengurus saya sejak saya berumur delapan tahun. Orang tua saya meninggal karena kecelakaan mobil." Anak-anak itu merasa kasihan melihat Eleanor. "Bibi Thalia saudara kandung ibuku," katanya melanjutkan. "Saya harus tinggal di rumah yatim-piatu jika Bibi Thalia tidak mengurusi saya." Mereka memasuki gudang yang penuh debu. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah pick-up baru yang masih mengkilat catnya, dan sebuah mobil sedan besar yang berkilauan. Terdapat pula bertumpuk-tumpuk koran-koran tua, kertaskertas tidak terpakai, serta seonggok peralatan yang sudah berkarat. Sebuah tangga tersandar di dinding belakang. Anak-anak itu menaikinya dan sampai di sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Ada sebuah jendela berlapis debu tebal, dan penuh sarang labah-labah. Jupe melap kaca jendela itu. Dibukanya jendela itu lebar-lebar, udara segar menerobos masuk memenuhi loteng itu. "Kalian perlu handuk?" terdengar suara Eleanor dari bawah. "Terima kasih," Pete menyahuti. "Kami sudah bawa sendiri." Eleanor tetap menunggui di bawah tangga. Akhirnya ia berkata, "Saya akan mengunjungi yayasan sebentar lagi. Mau ikut? Nanti akan saya perlihatkan binatang-binatang peliharaan saya." Ia berusaha sekali untuk bersikap ramah. Jupe melongok ke bawah. "Kenalkah kau dengan ahli arkeologi penemu tulangbelulang itu?" tanya Jupe.

http://inzomnia.wapka.mobi

"DR. Brandon? Kenal sekali! Kalian ingin berkenalan? Saya dapat mengenalkannya kalau ia ada di rumah." "Sejak pertama kali aku mendengar tentang penemuan itu, aku sudah tak sabar ingin berjumpa dengannya," kata Jupe. "Apakah ia sudah merumuskan teorinya tentang tulang-belulang itu? Tahukah ia asal-usul fosil-fosil itu?" Eleanor mengernyit. "Rupanya setiap orang jadi tertarik pada manusia gua itu. Padahal ia jelek sekali. Seperti gorila, tetapi jauh lebih kecil." Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Jangan pergi ke gua itu kalau tidak ada orang di sana," ia memperingatkan. "Paman Newt punya senjata. Ia bilang orang harus membayar untuk dapat melihat manusia gua. Kalau ada yang berani-berani melanggarnya, ia tidak akan segan-segan menembaknya." "Pasti ia benci pada ahli arkeologi itu," tebak Jupe. "Ya, dan juga pada setiap orang yang mencoba mengusik-usik manusia gua itu. Saya takut akan terjadi sesuatu- sesuatu yang mengerikan!" Bab 4 ELEANOR BERBOHONG YAYASAN SPICER terletak di sebuah rumah di bukit dan berjarak setengah mil dari jalan yang melalui rumah McAfee. Rumah itu dikelilingi kebun-kebun indah, tidak dibatasi dengan pagar, tetapi hanya dengan tonggak-tonggak serta sebuah gerbang. Anak-anak mengikuti Eleanor menuju rumah itu. Eleanor masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka langsung berada di ruang tamu besar. Ada James Brandon di sana. Ia berjalan cepat dengan langkah-langkah panjang. Ketika Eleanor memanggilnya, ia berhenti. Dengan kening dikerutkan ia berpaling pada Eleanor dan anak-anak. "Ada apa, Eleanor?" tanya Brandon. "Teman-teman saya ingin berkenalan dengan Anda, mereka tertarik sekali pada manusia gua itu," kata Eleanor sambil memperkenalkan anak-anak satu per satu. "Kalian mau nonton sirkus di sini?" kata Brandon dengan nada mengejek. "Maksud Anda melihat manusia gua, barangkali," kata Pete. "Kami ingin sekali melihatnya." "Kalian semua sama saja," kata Brandon. Ia mengernyit. "Mereka akan merusak segalanya. Kalau ada fosil-fosil lain di sekitar bukit-bukit ini, pasti akan hancur. Untung aku tidak punya senjata, kalau tidak..." "Kau akan menembaki mereka semua," terdengar suara bernada tenang. Anak-anak berpaling. Seorang laki-laki tinggi berwajah sayu memasuki ruangan. Segera Jupiter mengenalinya sebagai orang yang datang ke rumah sakit di Rocky Beach, ketika Karl Birkensteen meninggal. Kalau waktu itu ia mengenakan baju kelabu yang telah usang, sekarang ia memakai celana pendek dan polo shirt-kaus olahraga berkerah. Ia duduk di kursi dekat perapian sambil memandang ke bawah. "DR. Terreano, ini Jupiter? Masih ingat?" kata Eleanor Hess. "Oh, siapa ya?" Terreano keheranan.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Itu, yang menolong saya waktu saya di Rocky Beach bersama DR. Birkensteen," Eleanor menjelaskan. "Anda menjumpainya di rumah sakit itu, ingat?" "Oh ya, sekarang aku ingat. Halo, apa kabar?" Terreano tersenyum. Tiba-tiba ia seperti muda kembali. "DR. Terreano juga ahli arkeologi," kata Eleanor. "Ia banyak menulis buku tentang arkeologi." Terreano menyeringai. "Menulis memang merupakan salah satu pekerjaan kami." "Ya, ya!" kata Jupe bersemangat. "Aku ingat! Anda yang menulis buku Ancient Enemy, kan?" Alis mata Terreano terangkat. "Kau tahu? Pernah baca?" "Ya," jawab Jupe. "Aku membacanya di perpustakaan. Bukunya menarik sekali, tetapi juga menyeramkan. Kalau manusia selalu ingin memerangi sesamanya, dan kalau manusia selalu ingin..." "Menyedihkan, bukan?" kata Terreano. "Sifat merusak memang merupakan bawaan kita sejak lahir. Itulah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya, di samping akal dan kecerdasan." "Tidak!" seru Brandon. "Manusia tidak dilahirkan dengan membawa sifat merusak. Anda salah tafsir." "Oh, ya?" balas Terreano sambil memandangi Brandon. "Kita lihat saja almarhum Abraham Spicer. Spicer dikenang karena jasa-jasanya dalam menolong umat manusia. Dialah pendiri yayasan ini. Mulia sekali, bukan? Tetapi sebenarnya ia juga seorang pembunuh. Coba lihat, berapa banyak hewan yang jadi korbannya." Terreano menoleh ke arah rak di atas perapian. Di situ terpajang kepala hewan-hewan buruan bertanduk yang biasa dijadikan hiasan. Di atasnya terdapat juga kepala-kepala hewan

http://inzomnia.wapka.mobi

lainnya-seekor macan, seekor puma, dan seekor kuda nil. Kulitkulit beruang, singa, dan macan tutul, tergelar di lantai. "Sekarang dibolehkan membunuh hewan," kata Terreano, "memotong kepalanya, serta mengambil kulitnya untuk dijadikan pajangan. Suatu saat nanti, orang akan diperbolehkan pula untuk berbuat serupa terhadap musuhnya, sesama manusia." "Mustahil!" seru Brandon. "Anda selalu menjadi emosi kalau kita berdiskusi tentang hal ini," kata Terreano. "Mungkin itu menunjukkan bahwa akulah yang benar." Seorang laki-laki botak bertubuh pendek tiba-tiba menyelonong masuk. "Kalian berdebat soal itu lagi?" katanya. "Aku sudah bosan mendengarnya." Eleanor memperkenalkan DR. Elwood Hoffer pada anak-anak. "DR. Hoffer, ahli imunologi-ilmu yang mempelajari kekebalan makhluk hidup terhadap penyakit," kata Eleanor pada anakanak. "Ia punya banyak tikus putih. Lucu-lucu, deh. Bolehkah saya memperlihatkan tikus-tikus itu pada kawan-kawan saya?" "Boleh, tapi jangan sentuh apa pun di laboratorium," pesan Hoffer. "Baik, DR. Hoffer," jawab Eleanor. Anak-anak mengikuti Eleanor ke luar, menuju sebuah gedung panjang yang dibangun membentuk sudut siku-siku dengan rumah bagian depan. "Laboratorium-laboratorium terletak di dalam gedung ini," kata Eleanor. "Tempat DR. Hoffer bekerja di sebelah sini."

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka masuk ke ruangan kecil. Eleanor mengambil empat buah kedok operasi. "Ini," katanya. "Pakai dulu." Ia memakai kedoknya, lalu mengenakan sarung tangan karet. Mereka masuk ke ruangan besar yang terang-benderang. Di sana terdapat puluhan kandang kecil terbuat dari kaca. Seekor tikus berlari mondar-mandir di kandang-kandang itu. "Jangan dekat-dekat, dan jangan pegang-pegang, ya," kata Eleanor. Ia memberi makan tikus-tikus itu satu per satu. "Ini tikus-tikus istimewa," ia menjelaskan. "Kau tahu kan, seperti manusia, tikus juga memiliki imunitas- kekebalan tubuh. Gunanya untuk menahan penyakit. Nah, DR. Hoffer telah mengambil sebagian imunitas mereka. Jadi harus dijaga agar mereka tidak terserang penyakit. Beberapa di antara mereka ada yang tidak memiliki imunitas terhadap infeksi, lho. Inilah gunanya kita memakai kedok. Bakteri-bakteri yang terdapat di mulut kita akan tertahan oleh kedok ini." "Kasihan!" komentar Bob. "Kalau mereka tidak mempunyai imunitas, kan mereka akan mati." "Saya kira beberapa di antaranya akan mati juga," kata Eleanor. "Tetapi menurut DR. Hoffer, kadang-kadang orang terserang penyakit justru karena imunitasnya sendiri. Imunitas itu kan berupa sel-sel tertentu yang akan memakan bakteri dan virus yang masuk ke tubuh. Tetapi sel-sel itu juga yang kadang-kadang membuat kita sakit. Penyakit yang disebabkan sel-sel itu misalnya saja penyakit encok, maag, atau bahkan beberapa jenis penyakit jiwa." "Hiii!" Pete tampak ketakutan. "Tapi kalau tidak ada imunitas, kita kan bisa terserang cacar," kata Bob. "dan... dan campak, dan..."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Memang," sahut Eleanor. "Apa yang diusahakan DR. Hoffer ialah supaya kita dapat mengontrol imunitas kita. Imunitas itu harus melindungi kita, jangan malahan membuat kita sakit." "Hebat!" kata Jupiter. "Apakah hasilnya akan dimuat dalam buku karangan DR. Terreano yang terbaru?" "Tidak tahu, ya," jawab Eleanor. "Soalnya DR. Brandon juga sedang menyusun buku barunya. Isinya tentang manusia yang disimpan dalam sebuah lemari di kamarnya." "Manusia disimpan dalam lemari?" tanya Pete keheranan. "Bukan manusia hidup," Eleanor menjelaskan, "tetapi fosil manusia. DR. Brandon menemukan tulang-belulangnya di Afrika. Ia tertarik sekali untuk mempelajari fosil itu. Kalau sedang meneliti fosil itu, ia sampai lupa makan, bahkan kadang-kadang lupa tidur. Yang dipikirkannya hanyalah fosil tadi." "Busyet!" seru Pete. "Apa saja yang dilakukannya?" "O, banyak," jawab Eleanor. "Mula-mula ia menyusun tulangbelulang itu sampai tersusun menjadi sebuah kerangka utuh. Lucu deh, itu lho, seperti teka-teki menyusun potongan gambar. Lalu kerangka itu difoto dan diukur. Dan selanjutnya DR. Brandon mempelajarinya dari buku-buku." "Aku paham sekarang," kata Jupiter. "DR. Brandon pasti ingin sekali melakukan penelitian serupa terhadap manusia Citrus Groove." "Ya," Eleanor nampak murung. "Tapi pamanku tidak mengizinkan." Eleanor sudah selesai memberi makan tikus-tikus. Ia dan anakanak kembali ke kamar kecil tadi. Kedok-kedok operasi dilepaskan dan diletakkan dalam sebuah tempat dekat bak cuci.

http://inzomnia.wapka.mobi

Eleanor juga melepas sarung tangan plastiknya. Anak-anak mengikutinya. "Sekarang kita ke tempat simpanse," kata Eleanor. Laboratorium yang dulu digunakan DR. Birkensteen terletak di ujung gedung. Laboratorium itu lebih besar dari laboratorium DR. Hoffer. Dua ekor simpanse terkurung dalam sebuah kandang dekat jendela. Banyak mainan di kandang itu, bahkan ada juga papan tulis dan kapur warna-warni. Kedua simpanse itu menjerit-jerit kegirangan melihat Eleanor. Simpanse yang besar menjulur-julurkan tangannya. "Halo!" Eleanor menyapa. Ia membuka pintu kandang. Simpanse besar keluar dan menjabat tangan Eleanor. "Apa kabar?" tanya Eleanor. "Nyenyakkah tidurmu semalam?" Simpanse itu memejamkan kedua matanya, dan memiringkan kepalanya ke kiri. Lalu ia menunjuk ke arah jam dinding dan satu jarinya diputar-putarkan membentuk lingkaran. "Wah, lama ya, kau tidurnya?" tebak Eleanor. Simpanse itu melompat-lompat kegirangan sambil bertepuktepuk tangan. Simpanse kedua keluar kandang. Ia langsung menaiki sebuah rak yang penuh botol-botol berisi zat kimia. "Jangan. Jangan! Jangan sentuh!" seru Eleanor. "Ayo, turun! Duduk di sini!" Eleanor menoleh pada anak-anak sambil tertawa. "Mereka memang nakal, seperti anak kecil. Apa saja ingin dipegang dan dimainkan." Simpanse itu segera turun, dan duduk dengan manisnya di lantai, menghadap ke Eleanor. Simpanse besar duduk di sampingnya. Eleanor mengambilkan susu, makanan, dan dua buah mangkuk dari lemari es.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ih, lucunya!" kata Jupiter. "Mereka seperti orang saja." "Memang," kata Eleanor sambil menuang susu dan makanan ke dalam mangkuk. "Mereka menggunakan bahasa isyarat. Menurut DR. Birkensteen mereka dapat berkomunikasi seperti anak-anak TK. Saya tidak mengerti bahasa isyarat, jadi cuma bisa menebak-nebak saja. Tetapi mereka memang benar-benar lucu." "Mereka akan diapakan?" tanya Bob. Eleanor mendesah. "Tak tahu, ya. Bulan depan pengurus inti yayasan ini akan rapat. Merekalah yang akan menentukan nasib simpanse-simpanse ini. Dulu yayasan membeli mereka buat diteliti oleh DR. Birkensteen. Ada banyak simpanse dulunya. Sekarang tinggal dua." Eleanor meletakkan kedua mangkuk itu di sebuah meja kecil. Kedua simpanse berlarian mengikuti Eleanor. Mereka duduk di kursi kecil di samping meja tadi, lalu makan. Setelah mereka selesai, Eleanor membujuk mereka untuk masuk ke kandang. Mereka menjerit-jerit protes sambil menggelantung pada Eleanor. "Iya deh," kata Eleanor menenangkan. "Saya akan kembali secepatnya. Sabar, ya." Anak-anak memperhatikan. Jupe merasa bahwa baru kali ini ia melihat Eleanor begitu gembira dan percaya diri. Berbeda sekali dengan keadaannya ketika di rumah McAfee. "Mereka kehilangan DR. Birkensteen," kata Eleanor. "Saya juga kehilangan dia. Ia sangat baik, sekalipun sedang marah." "Pernahkah ia sakit sebelumnya?" tanya Jupe. "Aku kira serangan jantung waktu itu terjadi secara mendadak."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Memang mendadak," kata Eleanor, "tetapi ia agak lain beberapa saat sebelum kejadian itu. Ia pernah tertidur di kursinya. Pernah juga ia terlelap ketika simpanse-simpansenya sedang di luar kandangnya. Wah, semua jadi berantakan. Saya temani dia pada hari... hari kematiannya itu, sebab saya takut terjadi apa-apa padanya." "Apa tujuannya ke Rocky Beach waktu itu?" tanya Jupe. Jupe bertanya tanpa maksud apa-apa. Ia hanya ingin mengobrol saja. Tetapi tiba-tiba wajah Eleanor bersemu merah. "Ia... ia... saya tidak tahu apa-apa." Eleanor membuang muka. Ia lari meninggalkan anak-anak. Pete dan Jupe berpandang-pandangan keheranan. "Ada apa lagi ini?" Pete bingung. "Kenapa ia lari meninggalkan kita?" Jupe mengernyit. "Ia berbohong. Kau tentu juga merasakan hal itu. Tetapi kenapa? Apa yang disembunyikannya?" Bab 5 KUNJUNGAN PERTAMA KE GUA ANAK-ANAK kembali ke ruang tamu. Eleanor ada di situ. Terlihat seorang wanita gemuk sedang merapikan tempat duduk, dan seorang laki-laki muda berpakaian necis sedang membersihkan kaca. Melalui kaca terlihat sebuah kolam renang. "Selamat pagi, Eleanor," sapa wanita itu. "Itu teman-temanmu, ya. Senang ya, kau punya teman sekarang." Jupe segera mengenali suara itu. Ia Mrs. Coolinwood, orang yang datang ke rumah sakit di Rocky Beach ketika DR.

http://inzomnia.wapka.mobi

Birkensteen meninggal. Wig yang dipakainya sekarang berwarna kuning, namun bulu mata palsunya tetap yang dulu, hitam tebal dan amat lentik. Bulu matanya dikedip-kedipkan dengan genit ketika Eleanor memperkenalkan anak-anak. "Oh," katanya ketika berjabat tangan dengan Jupe. "Bukankah kau anak muda yang baik hati yang menolong Eleanor waktu itu di Rocky Beach? Tahukah kau, kau mirip sekali dengan Charles, Charles Coolinwood. Bahkan gemuknya pun serupa. Ia suamiku yang terakhir. Orangnya sangat bertanggung jawab." Jupe cemberut mendengar komentar Mrs. Coolinwood tentang dirinya. Tetapi ia diam saja, karena Mrs. Coolinwood nyerocos terus. Mrs. Coolinwood gemar berbicara. Anak-anak segera menyadari hal itu. Tapi tak bisa lain, anak-anak terpaksa mendengarkan celotehnya. Dengan bersemangat Mrs. Coolinwood menceritakan suamisuaminya. Panjang-lebar diceritakannya tentang suami pertama yang memiliki asuransi. Lalu dipaparkan pula tentang suami kedua yang berprofesi editor film. Kemudian tentang Charles, yang paling disayanginya, yang bekerja sebagai dokter hewan. "Mereka semua baik kepadaku," lanjutnya. "Namun mereka mati muda. Sedih sekali. Setelah Charles meninggal, aku harus mencari pekerjaan sendiri. Itulah latar belakang mengapa aku di sini sekarang. Aku menjadi pembantu rumah tangga. Mulamula seram juga melihat para ilmuwan itu. Muka mereka selalu tegang. Tapi setelah mengenal mereka, aku menjadi tenang. Laki-laki memang begitu. DR. Terreano yang baik hati itu selalu mengatakan betapa kasarnya manusia itu. Tetapi ia sendiri tidak tega membunuh seekor lalat sekalipun. Sebaliknya dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

DR. Brandon. Menurutnya manusia itu baik. Namun ia sendiri sering marah-marah. Ia tidak boleh dekat-dekat dengan pamanmu, Eleanor, pasti mereka akan berantem." "Memang," jawab Eleanor singkat. Mrs. Coolinwood lalu pergi. Anak-anak merasa lega. "Capek juga mendengarnya," kata Pete polos. "Ia nyerocos terus." Laki-laki muda yang membersihkan kaca tadi melempar kain pelnya ke dalam ember. "Kau mengajak teman-temanmu keliling, ya? Berapa ongkosnya? Sepuluh dolar?" tanyanya dengan nada mengejek. Eleanor merasa tersinggung. Namun begitu, ia tetap bersikap ramah. "Ini Frank," kata Eleanor memperkenalkan. "Frank DiStefano. Pekerjaannya seperti saya juga, membantu yayasan ini." DiStefano menyeringai. "Hai, Ellie. Maaf ya, semalam ban mobilku bocor, sehingga... Well, kupikir kau pasti sudah tidak menungguku lagi. Sudah terlalu malam." "Yah, sudahlah," kata Eleanor. Ia lalu mengajak anak-anak ke luar, mengunjungi kandang kuda yang terletak lima puluh meter dari rumah itu. Sepanjang jalan Eleanor diam saja. Ketika bertemu Blaze, kuda eksperimen DR. Birkensteen, ia kembali gembira. Ia menepuk-nepuk leher kuda itu, membelai-belainya dengan penuh rasa sayang, dan mengajaknya bicara seolah-olah kuda itu manusia. Dengan bangga ia mendemonstrasikan kepandaian kuda itu. Diletakkannya empat buah apel di depan kandang. "Berapa?" tanyanya. Blaze menghentakkan kakinya empat kali. "Bagus!" kata Eleanor memuji. Apel itu diberikan pada Blaze.

http://inzomnia.wapka.mobi

Begitu asyiknya Eleanor dan anak-anak bermain-main dengan kuda itu sehingga tak terasa hari sudah siang. "Wah, perutku berbunyi," kata Jupe. "Makan, yuk!" "Usul yang bagus," sahut Bob. "Perutku juga sudah keroncongan." "Usulku," kata Pete, "kita makan dinosaurus burger saja." Jupe tertawa. "Rupanya kau masih penasaran, ya? Tapi aku setuju usulmu itu." Anak-anak pamit pada Eleanor. Bergegas-gegas mereka kembali ke kota untuk makan siang, tak sabar ingin mencicipi dinosaurus burger. Ternyata kota sudah semakin ramai, anakanak baru memperoleh burger setelah hampir satu jam antri di depan Kantin Lazy Daze. Sambil menikmati dinosaurus burger, mereka berjalan-jalan keliling kota, melihat-lihat keramaian serta toko-toko yang berlomba-lomba memanfaatkan manusia gua sebagai sarana promosi. Sehari menjelang pembukaan gua itu, terlihat kesibukan luar biasa para penjaja yang berusaha keras untuk membuat dagangannya laku. Macam-macam upaya mereka. Ada yang menempelkan reklame bergambar manusia gua mengenakan kulit binatang sambil membawa busur dan anak panah, ada pula yang bergambar manusia gua dengan istri manusia gua yang dilukiskan berambut panjang. Tentu ini hanya karang-karangan saja. Di taman sedang dilakukan persiapan terakhir untuk merayakan hari pembukaan gua, pita-pita warna-warni menjuntai dari pohon ke pohon, spanduk dan balon-balon dijumpai di mana-mana. Meriah sekali suasananya. Banyak yang menawarkan suvenir berupa gantungan kunci berbentuk manusia gua. Pedagang es krim tak menyia-nyiakan

http://inzomnia.wapka.mobi

kesempatan itu dengan menjual dagangannya dari sebuah truk yang diparkir dekat stasiun kereta api. Setelah puas melihat-lihat, anak-anak kembali ke gudang di belakang rumah McAfee. Seorang laki-laki tinggi dengan wajah penuh cambang dan berpakaian lusuh terlihat sibuk membersihkan sebuah karavan yang diparkir di sana. "Ini tidak boleh!" terdengar ia mengomel. "Sama sekali tidak boleh. Mereka akan sadari ini nanti. Lihat saja." Anak-anak mendekat. Ada peralatan makan, tungku kecil, dan sebuah lemari es di dalam karavan. Sebuah tempat tidur terbujur di dalamnya. "Apakah orang itu tinggal di dalam karavan?" pikir Jupe. Orang itu menoleh pada anak-anak. "Kalian akan merasakannya kalau kalian menjadi dia." Saat itu terdengar seseorang berteriak. "Itu bukan kau punya," terdengar suara James Brandon. Ia berdiri di luar bangunan dari kayu merah di sisi bukit. "Pergi kau dari sini!" teriak McAfee dari pintu bangunan itu. Ia membidikkan senjatanya. Brandon surut ke belakang. Tinjunya dikepalkan. "Awas kau!" ancamnya pada McAfee. "Kau tak berhak atas tulang-belulang itu. Seenaknya kau membuatnya menjadi barang tontonan!" "Cepat angkat kaki dari sini!" McAfee membalas. "Kalau memang mau melihat manusia gua milikku, datang saja besok. Karcisnya lima dolar!" "Dasar mata duitan!" Dengan geram Brandon berbalik dan pergi dari situ. McAfee menyeringai. "Ini cuma kesalahpahaman," katanya pada anak-anak.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Perbuatan ini salah!" gerutu orang dekat karavan itu. "Well, salah atau benar ini bukan urusanmu," tukas McAfee. "Kerjakan saja apa yang kuperintahkan! Mengerti?" McAfee lalu menoleh pada anak-anak. "Anak-anak, kalian mau melihatlihat ke dalam? Karena kalian menginap di tempatku, kalian boleh melihat manusia guaku dan museum yang kubangun untuknya." Ia masuk, diikuti Trio Detektif dengan bersemangat. Baru di bagian depan mereka sudah ternganga. Dinding museum penuh dengan foto-foto besar: foto-foto tulang-belulang dan sebuah tengkorak dilihat dari berbagai sudut. Di sana-sini disisipkan foto-foto pemandangan indah yang telah banyak dikenal: semburan air panas di Lassen, air terjun di Yosemite, pantai indah dekat Big Sur. Di sebuah meja di tengah ruangan terdapat model perkemahan Indian lengkap dengan api unggun dan kuda-kuda. Di sampingnya didapati model manusia prasejarah sedang bertempur melawan mammoth raksasa. "Unik, bukan?" kata McAfee. "Ini cuma pembuka. Yang sesungguhnya terletak di sana." Sebuah panggung berdiri di seberang pintu masuk. Mulut gua terletak di balik panggung itu, disinari cahaya lampu sorot. Jupiter, Pete, dan Bob menaiki panggung itu. Mereka melongok ke mulut gua. Dilihatnya fosil-fosil itu. Jupe menghela napas. Bob mendesah. Manusia gua itu terbaring di sana. Tulang-belulangnya telah berwarna cokelat. Mengerikan. Rongga matanya seakan mengancam orang yang melihatnya. Rahang atas menyeringai menakutkan. Beberapa tulang rusuk masih ada, mencuat dari

http://inzomnia.wapka.mobi

dasar gua. Tulang paha masih lengkap, tetapi tulang kaki bagian bawah tidak ada. Tulang tangan kirinya dekat sekali dengan mulut gua, terjulur, seolah ingin meraih sesuatu. McAfee telah memasang lampu-lampu sorot pada langit-langit gua. Di dasar gua, dekat fosil, telah dibuatnya api unggun tiruan. Di sebelah fosil tergeletak keranjang anyaman Indian, dan sebuah selimut Navajo. Seketika itu juga anak-anak bersimpati pada DR. Brandon. Pemandangan itu cukup menyedihkan. Tapi yang lebih parah lagi, banyak bekas tapak kaki di sekitar fosil. Bahkan beberapa tulang telah rusak karena terinjak-injak. "Kalau kakinya masih lengkap, pasti kutambah dengan sepasang moccasin-sepatu Indian," kata McAfee. "Pasti lebih dramatis kelihatannya." Anak-anak tidak mempedulikan. Mereka keluar dari gua. Di salah satu sisi pintu masuk dipamerkan dan dijual gantungan kunci dengan hiasan patung-patung plastik kecil berujud manusia gua, serta T-shirt bertuliskan Citrus Groove. Awal Peradaban Manusia. Anak-anak tidak mengacuhkannya, melirik pun tidak. "Oke, sekarang kita bisa istirahat," kata Newt McAfee. Ia mematikan lampu, dan mengunci pintu gua. "John the Gypsy akan berjaga-jaga di luar malam ini. Tak seorang pun bisa masuk." "John the Gypsy?" kata Jupe. McAfee menoleh ke arah laki-laki kurus yang sekarang duduk di dalam karavan. "Itu dia. Kami menyebutnya John the Gypsy karena ia tinggal di karavan itu, bukan di rumah biasa."

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika McAfee berjalan menuju rumahnya, John the Gypsy keluar dari karavannya. "Oke," katanya. "McAfee membayarku untuk berjaga-jaga. Tetapi makhluk gua itu pasti tidak suka diawasi. Aku saja tidak senang kalau tulang-tulangku diawasi." "Tapi, ia kan sudah mati," sahut Pete. "Orang mati kan tidak bisa melihat." "Siapa bilang?" kata John the Gypsy. Bab 6 MANUSIA GUA GENTAYANGAN! MENJELANG petang anak-anak menyikat hamburger lagi di Kantin Lazy Daze. Setelah itu mereka mencicipi es krim yang dijual di truk dekat stasiun. Hari sudah gelap ketika mereka tiba kembali di gudang tempat menginap. Melalui jendela mereka memandang bulan yang mulai muncul, dikelilingi bintang-bintang yang berkelap-kelip. Padang rumput mulai diselimuti kabut tipis, namun pandangan belum terhalang. Dinginnya malam membuat anak-anak segera tertidur. Lewat tengah malam Jupe terbangun. Ia mendengar suara. Ada orang masuk gudang. Orang itu terengah-engah seperti habis lari dikejar hantu. Jupe berdiri. Ia memasang telinga. Suara itu hilang sebentar, lalu terdengar kembali. Pete bangun dan berdiri. "Apa itu?" bisiknya. Jupe merangkak menuju tangga. Ia mengintip ke bawah. Gelap. Tidak terlihat apa-apa. "Anak-anak?" terdengar suara serak. "Kaliankah itu?" Itu suara John the Gypsy. Tiba-tiba terdengar suara berdebam.

http://inzomnia.wapka.mobi

Bob berteriak kaget. Pete meraba-raba mencari senter di ranselnya. Begitu menemukannya, ia segera lari ke tangga dan menyenter ke bawah. John the Gypsy jatuh tersandung barang rongsokan. Ia lalu berdiri dan memandang ke arah datangnya sinar senter. "Siapa itu?" ia berteriak dengan panik. "Siapa? Jawab!" "Kami, John," kata Jupe. Ia, Bob, dan Pete menuruni tangga. John the Gypsy bersandar pada sisi truk milik McAfee. Badannya gemetar. "Ada apa?" tanya Jupe. "Makh... makhluk itu!" kata John the Gypsy. "Apa kubilang?! Ia tidak suka diamat-amati." "Kenapa?" kata Pete. "Apa yang terjadi?" "Ia... ia ba... bangun dan... gentayangan!" kata John the Gypsy terbata-bata. "Aku lihat sendiri Pasti tulang-tulang itu telah hilang." Melalui pintu gudang yang terbuka anak-anak melihat ke arah museum. Dengan bantuan sinar bulan tampak pintu museum masih tertutup rapat. "Kau mimpi barangkali," kata Bob menenangkan. "Tidak mungkin." John the Gypsy menggeleng. "Aku sedang di dalam karavan ketika ada suara pintu dibuka. Aku melihat ke luar, dan kulihat manusia gua itu berjalan ke luar. Tubuhnya penuh bulu, seperti gorila. Matanya menakutkan sekali. Seperti ada api memancar dari kedua matanya. Dan rambutnya... rambutnya panjang dan acak-acakan. Ia melewati karavanku, lalu berlari melintasi padang rumput." John the Gypsy memejamkan matanya, seakan-akan berusaha menghapus pengalaman menakutkan itu dari ingatannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Mari kita cek," kata Jupe. Mereka berjalan berdekatan dengan sikap waspada, seolah takut disergap makhluk zaman prasejarah itu. Tetapi ternyata pintu museum masih terkunci. Ketika Jupe memeriksa pintu, Newt McAfee muncul di teras rumah. "He, ada apa di sana?" seru McAfee. "Sedang apa kalian?" "Cuma menyelidik," sahut Jupe. "John the Gypsy melihat sesosok manusia keluar dari gua." Thalia McAfee muncul di teras. Newt berlari-lari menghampiri mereka. "Siapa?" tanyanya. "Si Brandon gila itu, ya?" "Bukan," jawab John the Gypsy, "tapi manusia gua itu. Ia melarikan diri." "Mana mungkin?" McAfee tak percaya. Ia lalu melambaikan tangannya sambil berteriak, "Thalia! Ambilkan kunciku!" Thalia McAfee datang berlari membawa kunci. McAfee bergegas membuka pintu museum dan menyalakan lampu. Ia segera menuju panggung. Anak-anak mengikuti. Mereka melihat ke dalam gua. Manusia gua masih ada di situ. Posisinya tidak berubah. McAfee menoleh pada John the Gypsy. "Kau mimpi!" serunya. "Buktinya, ia masih ada di sini." "Aku melihatnya keluar gua," kata John the Gypsy bersikeras. "Ia memakai bulu binatang berwarna gelap! Dan ada rambutnya! Panjang dan acak-acakan!" "Diam kau!" bentak McAfee. "Kau mengigau!" Ia mematikan lampu dan keluar dari museum. Yang lain mengikuti. "Mana mungkin?" gerutunya sambil mengunci pintu museum. Ia lalu kembali ke rumah. Di teras Eleanor sedang menunggu.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Masuk kau, Eleanor," perintah McAfee. "Tidak ada apa-apa. John gila itu mengigau." Ia berpaling. "John, kaujaga yang benar. Kau kubayar untuk menjaga, bukan untuk mimpi, tahu!" Ia dan Eleanor masuk. Sambil menggerutu John the Gypsy mengeluarkan kursi lipatnya dari karavan. Diletakkannya kursi itu di tengah-tengah -antara gua dengan karavan. Ia mengambil senapannya dan duduk sambil berjaga di kursi. Trio Detektif kembali ke loteng gudang. "Pasti ia mimpi," kata Pete. "Kelihatannya orang itu tidak terpelajar," kata Bob. "Memang," Jupe menyetujui. "Tapi itu tidak berarti ia salah lihat, kan? Mungkin saja memang ada seseorang yang menyelinap." "Iya, memang. Tapi kan orang bisa saja bermimpi seolah-olah melihat sesuatu," kata Bob. "John nampaknya yakin sekali," tukas Jupe. "Tapi kan pintunya terkunci. Jadi tidak ada orang keluar dari gua," Pete mengajukan pendapatnya. "Mungkin seseorang punya kunci palsunya," kata Jupe. Ia duduk memandang ke seberang padang rumput melalui jendela. Hutan kecil di seberang sana tampak hitam menyeramkan, namun embun yang turun membuat rerumputan di padang rumput tampak berkilau. Samar-samar dilihatnya jejak-jejak di rerumputan yang menuju hutan kecil. Mungkinkah seseorang telah berjalan di sana, merebahkan rerumputan yang dilaluinya dan menghapus embun di permukaannya?

http://inzomnia.wapka.mobi

Jupe berdiri mendekat ke jendela. Dilihatnya John the Gypsy bangkit dari tempat duduknya dan memandang ke seberang padang rumput. John mengepit senjatanya. Kepalanya dimiringkan ke kiri, seolah-olah hendak mendengarkan sesuatu. Ia berjalan menuju karavannya, mengambil selimut dari tempat tidur. Ia menyelimuti tubuhnya, lalu duduk kembali di kursinya dengan sikap waspada. "Mungkin memang mimpi," kata Jupe perlahan. "Dan ia lalu ketakutan." Pete memandang dengan gugup ke luar jendela. "Kalau aku yang melihat manusia gua gentayangan malam-malam," katanya, "aku akan lari ketakutan. Hiii!" Bab 7 MENJELANG PEMBUKAAN GUA JUPE-LAH yang pertama kali bangun. Ia segera keluar gudang menuju padang rumput. Sabtu pagi itu matahari bersinar cerah, menerangi padang rumput dan hutan kecil di seberangnya. Hutan itu tidak terlihat menyeramkan lagi sekarang. Jupe mulai berjalan perlahan-lahan menuju hutan. Matanya mengamati rerumputan dengan cermat, namun tidak terlihat bekas tapak kaki. Jejak-jejak yang ia lihat semalam telah hilang tersaput embun pagi. Setelah kira-kira seratus meter melangkah, ia menjumpai tempat yang rumputnya tipis. Di sana-sini terdapat tanah yang tidak ditumbuhi rumput sama sekali. Ia berlutut. Matanya bersinar-sinar. Pete muncul di sampingnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apa itu?" kata Pete. "Kau menemukan sesuatu?" "Bekas tapak kaki," kata Jupe. "Seseorang telah berjalan di sini belum lama ini-ia bertelanjang kaki." Pete membungkuk untuk melihat jejak itu lebih dekat. Tiba-tiba ia berdiri tegak. Matanya melihat ke hutan. Wajahnya pucat. "Bertelanjang kaki?" katanya. "Di... di tanah yang kasar ini? Jadi John the Gypsy benar-benar melihat sesuatu?" Ia memandang berkeliling. Jupe diam saja. Ia malah berjalan mendekati hutan. Dengan tergesa-gesa Pete mengikutinya. Dengan hati-hati mereka mengikuti jejak itu. Tetapi sampai di suatu tempat, jejak itu menghilang. "Rumputnya tebal di sini," kata Jupe, "tapi di sebelah sana mungkin ada lagi." Sambil berkata begitu Jupe terus berjalan makin mendekat ke hutan. "He, tunggu dulu!" seru Pete. "Jangan masuk ke sana! Mungkin... mungkin ada orang di dalamnya... dan..., dan kita belum sarapan, kan? Di kantin pasti banyak orang. Nanti kita kehabisan, lho!" "Pete, ini penting sekali!" kata Jupe. "Apanya yang penting?" balas Pete. "Ayolah, kita sarapan dulu. Nanti saja kita ke sini lagi." Dengan enggan Jupe menurut. Ia dan Pete kembali ke gudang. Bob muncul ketika mereka tiba. Saat itu pula Newt McAfee menampakkan dirinya di teras. "Pagi," sapa Newt pada anak-anak. "Pagi yang ceria, bukan? Upacara pembukaan guaku pasti meriah." Ia tersenyum puas. "He. John!" panggil Newt John the Gypsy keluar dari karavan sambil memegang semangkuk makanan. "Kau ketemu manusia

http://inzomnia.wapka.mobi

gua lagi semalam?" Newt tertawa kecil, tetapi John menggerutu. "Satu sudah cukup, aku tak mau ketemu yang lain lagi," omel John sambil masuk kembali ke karavan. Newt berseru lagi, "Jangan pergi dulu, John. Setelah sarapan aku perlu bantuanmu. Museum itu harus dicek sekali lagi. Lalu kau tetap berjaga di sini sementara aku mengikuti upacara pembukaan di taman." Newt masuk kembali ke rumah, dan anak-anak menuju pusat kota untuk sarapan. Lagi-lagi Kantin Lazy Daze penuh sesak. Ketika akhirnya anak-anak mendapat tempat duduk, mereka sudah sangat lapar. Ketika menunggu pesanan makanan, anak-anak mendengar nadanada meriah yang berasal dari marching band. Sebuah grup yang terdiri dari pemusik-pemusik muda terlihat sedang melakukan pemanasan di taman, dikerumuni orang-orang yang menontonnya. "Itu pasti band dari SMA sini," Bob menebak. Di balik kerumunan itu Jupe dan kawan-kawannya masih dapat melihat seragam merah menyala yang dikenakan pemain marching band. Mereka mengenakan topi tinggi berwarna kuning emas, serta selempang biru berumbai-rumbai. Tidak jauh dari situ terlihat kendaraan dari beberapa stasiun televisi sibuk mengatur peralatannya. Ketika anak-anak baru saja mulai sarapan, DR. Terreano masuk ke kantin. Ia ditemani Hoffer, ahli imunologi. Kedua orang itu mencari-cari tempat duduk. DR. Terreano melihat Jupe, lalu tersenyum. "Kita ajak mereka ke sini yuk," kata Jupe.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Yuk," kata Pete. Jupe menghampiri mereka dan mengajak mereka duduk bersama. Kedua ilmuwan itu menerima tawaran Jupe dengan senang hati. "Terima kasih," kata Terreano sambil duduk. "Kota ini semrawut sekali. Selama para turis masih di sini, kota ini akan tetap semrawut." "Biasanya kami sarapan di yayasan, tapi kami bosan mendengar omelan Jim Brandon di sana. Namun aku mengerti perasaannya. Keadaan ini membuatnya sangat tertekan." Elwood Hoffer bersin, lalu tersenyum. "Aku alergi debu," ia menjelaskan pada anak-anak. Berpaling pada DR. Terreano, ia berkata, "Aku senang kau bisa memahami keadaannya, Phil, tapi aku rasa Brandon keterlaluan mengata-ngataimu seperti tadi." "Brandon memang cepat naik darah," kata Terreano kalem. "Ia frustrasi memikirkan fosil itu. Ia begitu bersemangat untuk melakukan penelitian lebih lanjut sehingga putus asa ketika tidak dapat berbuat apa-apa sekarang ini, apalagi ia sendiri yang menemukannya. Aku akan sangat marah juga, kukira, kalau menjadi dia." "Apa yang akan dilakukan DR. Brandon kalau ia boleh meneliti tulang-belulang itu?" tanya Bob. "Aku dengar ia memakai metode waktu karbon-14." "Mungkin dalam kasus ini metode waktu karbon-14 tidak dapat digunakan," Terreano menjelaskan. "Metode ini bisa dipakai untuk menghitung umur suatu makhluk. Caranya ialah dengan mengukur jumlah karbon-14 yang dikandung makhluk itu. Kita tahu bahwa suatu makhluk yang masih hidup mengandung karbon-14 dalam jumlah tertentu. Karbon-14 merupakan zat

http://inzomnia.wapka.mobi

radioaktif. Waktu paruh karbon-14 ialah lima ribu tujuh ratus tahun. Jadi setelah lima ribu tujuh ratus tahun jumlah karbon14 yang dikandung suatu makhluk tinggal setengah dari jumlah karbon-14 semula. Lalu lima ribu tujuh ratus tahun kemudian, jadi setelah sebelas ribu empat ratus tahun, jumlah karbon-14 yang dikandung makhluk itu tinggal seperempat dari jumlah karbon14 semula. Begitulah seterusnya. Dengan begini kita dapat menghitung umur suatu makhluk yang telah mati beberapa ribu tahun yang lampau. Tetapi, kukira fosil manusia gua itu sudah terlalu tua. Setelah lebih dari empat puluh ribu tahun, jumlah karbon-14 yang tersisa terlalu kecil, sehingga tidak dapat diukur lagi." Bob memandang dengan takjub. "Anda pikir umur manusia gua itu lebih dari empat puluh ribu tahun?" "Aku berani bertaruh," kata Terreano. "Namun, metode waktu karbon-14 bukan satu-satunya cara untuk menghitung umur makhluk yang telah mati. Masih ada beberapa metode lain. Begitu pula terdapat beberapa cara untuk menentukan apakah suatu makhluk dapat disebut manusia. Itu bisa dilihat dari caranya berjalan, apakah sudah berdiri atau masih merangkak. Bisa juga dilihat dari ukuran kepalanya, atau giginya..." "Gigi?" seru Bob. "Apa hubungannya dengan gigi?" "Gigi manusia mempunyai susunan seperti setengah lingkaran," jawab Terreano. "Sedangkan gigi hewan seperti monyet atau kera susunannya seperti huruf U. Juga terdapat perbedaan dalam ukuran geraham, pada..." "Ah, ini dia makanan kita datang," sela Hoffer.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Maaf," kata Terreano. "Aku tak bermaksud membuatmu bosan, Elwood." "Menarik sekali," ujar Bob. "Sekarang aku bisa mengerti mengapa DR. Brandon sangat marah. Kalau Newt McAfee sampai merusak fosil manusia..." "Ia sedang merusaknya," potong Terreano. "Padahal kami belum sempat melakukan penelitian dengan saksama." "Sudahlah, Phil," kata Hoffer. "Manfaat penelitian itu bagi kemanusiaan juga tidak banyak." Terreano menyeringai. "Mentang-mentang, ya," katanya pada Elwood. Ia lalu menoleh pada anak-anak. "Penelitian yang dilakukan DR. Hoffer memang segera dapat dimanfaatkan. Ia sedang menyelidiki mengapa tubuh kita panas saat kita demam." "Aku yakin bahwa gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh kita akan menimbulkan berbagai penyakit," kata Hoffer. "Cuma sedikit sekali penyakit yang merupakan bawaan sejak lahir. Ini pendapatku. Kalau Kari Birkensteen berpendapat lain, itu terserah dia." Terreano nampak sedih mendengar ucapan Hoffer yang terakhir. "Manusia briliyan," ia berkata dengan serius. "Kita kehilangan seorang manusia besar." "Mungkin," kata Hoffer. "Tetapi rekayasa genetika sama bahayanya dengan eksperimen nuklir. Bisa merusak umat manusia." "Apakah DR. Birkensteen ingin memperbaiki manusia?" tanya Jupiter. "Kemarin Eleanor bercerita tentang simpanse DR. Birkensteen. Apakah akan diciptakannya manusia super?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Terreano kebingungan menjawabnya. "Kupikir tidak sejauh itu, ia cuma ingin memperbaiki keadaan manusia. Menurutnya, pendidikan sekarang terlalu bertele-tele. Manusia dilahirkan dengan otak yang cerdas. Kemampuan otak manusia itulah yang ingin ia manfaatkan sepenuhnya." "Tetapi aku tidak setuju dengan caranya!" seru Elwood Hoffer. "Lihat saja hewan-hewan itu. Seenaknya saja ia menyinari mereka dengan sinar yang mengandung radiasi, lalu menyuntikkan berbagai zat kimia ke dalam tubuh mereka. Memang, kuda dan simpanse itu menjadi lebih pandai, namun umurnya juga jadi lebih pendek!" "Ya," kata Terreano. "Hewan-hewan itu lebih cepat mati. Karena itu DR. Birkensteen mencoba memperlambat proses penuaan. Ia menemukan formula yang bisa mengontrol otak. Dengan formula itu kapan hewan harus tidur dan kapan harus bangun bisa diatur sesukanya." "Penemuan itu sangat orisinal. DR. Birkensteen dapat memperoleh penghargaan Spicer. Penghargaan itu diberikan setahun sekali pada ilmuwan yang berjasa menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. DR. Birkensteen dapat memperoleh lebih dari sejuta dolar." "Lalu," tanya Pete, "sekarang siapa yang bakal memperoleh uang sebanyak itu?" Terreano mengangkat bahu. "Tak tahu, ya. Mungkin DR. Hoffer, mungkin pula Jim Brandon kalau saja ia berhasil menemukan sesuatu, yang baru tentang asal-usul manusia, atau..." "He, lihat!" seru Hoffer. "Itu Brandon." Mereka melihat ke luar jendela. Brandon sedang berjalan menembus kerumunan orang, menuju kantin. Terreano

http://inzomnia.wapka.mobi

melambaikan tangannya ketika Brandon masuk. Brandon mengambil sebuah kursi kosong, lalu duduk di samping Jupe. "Beres!" ia berkata dengan tajam. "Sacramento sudah kuhubungi. Nanti siang aku akan menelepon lagi. Aku akan bicara langsung dengan gubernur." "Apakah gubernur mau menolongmu mengeluarkan hominid itu?" tanya Terreano. Hoffer memandang Terreano dengan heran. "Kukira kalian tidak saling menegur." "Itu dulu," kata Terreano. "Jim, menurutmu apakah gubernur mau turun tangan dalam kasus ini?" "Mengapa tidak?" jawab Brandon. "Penemuan bersejarah ini terjadi di wilayahnya. Ia tentu malu kalau tidak membantu menyelamatkannya. Dan aku yakin ia mampu melindungi fosil itu. Pemerintah mempunyai hak untuk menyita milik seseorang demi kepentingan rakyat banyak." Brandon berhenti. Di taman marching band mulai memainkan lagu-lagu mars. Upacara pembukaan akan dimulai. "Terlambat!" kata Hoffer. "Kau terlambat, Brandon. Pembukaan sebentar lagi dimulai. Begitu selesai, orang akan berbondong-bondong mengunjungi gua. Rusaklah fosil-fosil itu. Kau takkan dapat menahan mereka!" Bab 8 KOTA CITRUS GROOVE TERBIUS UPACARA pembukaan agak terlambat dimulainya. Brandon, Terreano, Hoffer, dan anak-anak mengambil tempat di taman, berdesak-desakan dengan penonton lainnya. Newt McAfee

http://inzomnia.wapka.mobi

telah duduk di panggung didampingi istrinya, Thalia, yang mengenakan gaun panjang serba putih serta sarung tangan panjang yang juga putih. Di sebelah McAfee duduk seorang laki-laki ramping memakai jaket bergaris-garis. "Itu Harry Chenoweth," Terreano berbisik pada Jupe. "Dialah walikota Citrus Groove, dan juga pemilik apotek. Ia yang akan membawakan acara pembukaan ini, orangnya memang gemar berpidato." Seseorang yang mengenakan jubah berwarna gelap tampak menyalami McAfee dan istrinya serta walikota. "Yang baru datang itu pendeta dari Gereja Komunita," Terreano melanjutkan. Terreano tampaknya banyak mengenal tokoh-tokoh di kota Citrus Groove. Mulai dari pemilik Restoran Happy Hunter dan Motel The Elms, manajer supermarket, sampai pemilik Kantin Lazy Daze dikenalnya. Hampir semua tokoh-tokoh kota berkumpul di situ. Mereka mengambil tempat duduk yang disediakan di panggung. "Tentu toko-toko tutup semua," kata Terreano. "Semua orang berkumpul di sini. Bukan main! Manusia gua itu membangkitkan gairah setiap penduduk di kota ini, belum pernah kulihat yang seperti ini. Mereka berlomba-lomba memanfaatkan kesempatan emas ini. Tak seorang pun melewatkannya." Jupe memandang ke sekeliling taman dan melihat bahwa kaum muda pun tak mau ketinggalan dalam mengikuti upacara itu. Banyak wakil dari organisasi kemasyarakatan yang turut ambil bagian, dari kepanduan, organisasi pecinta alam, kelompok pecinta musik, sampai perkumpulan keagamaan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Penjaja es krim memindahkan tempat mangkal truknya ke dekat kerumunan orang-orang. Es krimnya laris bagai kacang goreng. Di samping truk itu tampak penjual balon gas memegang seikat besar balon gas dikerumuni anak-anak kecil. Kerepotan sekali ia melayani para pembelinya. Walikota bangkit dan menuju mikrofon, lalu mengangkat kedua belah tangannya meminta hadirin untuk diam. Jupiter sekilas melihat Eleanor Hess. Seperti biasanya, mukanya tampak pucat. "Hadirin sekalian!" walikota memulai. "Selamat datang di kota Citrus Groove yang mungil tapi indah ini. Di pagi yang cerah ini kita akan bersama-sama membuka suatu peristiwa yang akan dicatat dunia. Sebentar lagi Anda akan bisa menyaksikan fosil manusia yang menggemparkan. Bagaimanakah rupa manusia gua itu? Silakan Anda lihat sendiri setelah upacara ini. Terlebih dulu pendeta dari Gereja Komunita akan memberi sambutan. Lalu marching band dari SMA Centerdale akan memperlihatkan kebolehannya. Mereka akan berparade dijalan menuju museum manusia gua. Dan bintang kita. Miss Patty Ferguson-gadis teladan dari kota Citrus Groove-akan melakukan pemotongan pita pertanda pembukaan museum manusia gua. Hadirin sekalian, selamat menyaksikan!" Para penonton bertepuk tangan riuh sambil bersorak ketika walikota selesai berbicara. Tiba-tiba terdengar suara berdesing. Alat penyiram otomatis di taman menyala! Semua terkejut. Mereka saling mendorong berusaha menjauhi taman. Sia-sia. Massa terlalu padat. Kepanikan melanda taman.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jupiter merasakan air dingin menerjang mukanya. Sekujur tubuhnya basah. Ia berpaling pada Pete, tetapi tiba-tiba Pete ambruk ke tanah. Lutut Jupe terasa lemah. Ia tak dapat lagi berdiri. Tubuhnya serasa mengambang. Bagai pohon diterjang topan, ia pun tumbang tak sadarkan diri. Pandangannya menjadi gelap. Segalanya terasa dingin. Jupe mencium bau tanah. Ia merasa sekujur tubuhnya kaku. Dengan susah-payah dibukanya matanya. Ia tertelungkup di tanah. Mukanya mencium rumput. Alat penyiram otomatis telah berhenti. "Ooohhh..." terdengar suara yang dikenalnya. Jupiter menopang tubuhnya dengan siku kanannya. Itu Brandon. Kepala Pete tertindih tubuh Brandon. Kini terdengar desahan dan tangisan. Orang-orang mencoba bangkit. Jam besar di Gereja Komunita mulai berdentang. Jupe tidak dapat melihat jam itu. Pandangannya masih kabur. Ia menghitung dentang jam. Jam sebelas! Entah kenapa, ia dan seluruh orang-orang di taman telah tak sadarkan diri. Selama empat puluh menit! Otak Jupe mulai dapat bekerja. Alat penyiram otomatis itu. Seseorang telah mencampurkan zat pembius ke dalamnya membuat seluruh penduduk kota terbius. Beberapa anak kecil menangis di pinggir taman. Si penjual balon memandangi langit. Balon-balonnya hilang terbang, tidak ada yang tersisa. Jupe mencoba bangkit. Dari arah rumah McAfee terlihat John the Gypsy berjalan sempoyongan mendekatinya. "Manusia gua!" teriak John the Gypsy. Suaranya parau. "Ia hilang! Dicuri orang!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Bab 9 MENGAPA DICURI? SELAMA beberapa jam petugas kepolisian setempat sibuk meneliti daerah di sekitar rumah McAfee. Setiap sudut di museum difoto, dan disebari serbuk pencari sidik jari. Mereka memasang pita kuning sebagai batas daerah penyelidikan polisi. Orang-orang dilarang melanggar batas itu, jadi hanya bisa berkerumun di luarnya. Reporter televisi tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mewawancarai beberapa orang yang dianggap penting dalam kasus itu. Mula-mula McAfee dan Thalia yang diwawancara sebagai pemilik museum manusia gua. Seorang kru televisi sibuk mengabadikan wawancara itu. James Brandon menyusul diwawancara, ia tampak sangat kesal terhadap peristiwa yang baru saja terjadi. Reporter itu juga berhasil mewawancara walikota Citrus Groove, dan beberapa tokoh lainnya. Terakhir mereka mewawancara John the Gypsy. "Ada sesuatu di belakangku!" kata John the Gypsy pada reporter itu. "Aku sedang berjaga-jaga, seperti yang diperintahkan oleh McAfee. Aku mendengar sesuatu di belakangku, dan... dan... aku menoleh..." Ia berkata begitu sambil memperagakan apa yang ia perbuat. "Ada sesuatu yang menyeramkan!" katanya. "Matanya cuma satu, besar membelalak, dan... dan ia mempunyai belalai seperti belalai gajah! Ia bukan manusia! Tiba-tiba aku tak sadarkan diri, terbaring di tanah. Ketika sadar, kulihat pintu museum terbuka. Aku lihat ke dalam. Makhluk gua itu telah lenyap!"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ia mabuk barangkali!" terdengar suara seseorang dari kerumunan. Tetapi John tidak mabuk. Dan manusia gua itu memang telah lenyap. Akhirnya reporter televisi merasa cukup, dan meninggalkan tempat itu. Kepala polisi menempatkan dua polisi untuk menjaga museum dan sekitarnya, lalu pergi. Orang-orang pun bubar. Sementara McAfee berbincang-bincang dengan salah seorang polisi yang bertugas jaga, Trio Detektif berjalan menuju museum. "Maaf, Anak-anak," kata polisi yang menjaga museum, "kalian tidak diperbolehkan masuk ke dalam." Jupe mengamat-amati pintu museum yang setengah terbuka. "Si pencuri pasti punya kunci palsu, bukan?" katanya. Polisi itu tampak keheranan. Ia sendiri lalu memandangi pintu itu. "Pintu itu tidak rusak sedikit pun," Jupe meneruskan. "Bingkai pintunya pun demikian. Kalau pencuri itu tidak punya kunci, pasti ada bekasnya di pintu dan di bingkainya." Polisi tadi menyeringai. Ia memberi jalan, "Baiklah. Sherlock Holmes," katanya. "Silakan masuk, dan meneliti di dalam Beri tahu hasilnya padaku." Jupe masuk ke dalam museum bersama Pete dan Bob. Tidak ada yang berubah di dalam, kecuali kini terdapat bekasbekas serbuk pencari sidik jari. Jupe memandang berkeliling, lalu menuju panggung, dan mengamati gua. Tanah di dasar gua itu tampak rapi, kecuali di tempat tulang-tulang itu berada sebelumnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah beberapa saat. Jupe batu melihat ada sebuah jejak di samping tempat tulang-belulang itu. "Jejak itu berasal dari alas sepatu karet," kata Jupe. "Newt McAfee memakai sepatu koboi, John the Gypsy memakai sepatu bot kulit. Aku berkesimpulan bahwa jejak itu berasal dari si pencuri, karena hanya McAfee dan John the Gypsy yang memasuki museum ini sejak tadi malam. Si pencuri memakai sepatu olahraga dengan motif bintang dekat bagian tumit." Polisi itu mengangguk, "Cocok dengan penelitian kami. Juru foto kami telah mengambil fotonya. Kami tentu tidak dapat menggeledah setiap rumah untuk mencari siapa orang yang memiliki sepatu itu. Tetapi, paling tidak, ini bisa dijadikan bukti." Jupe mengeluarkan alat pengukur dari kantungnya, lalu mengukur jejak itu. Panjangnya dua belas inci. "Orangnya pasti cukup besar," kata Jupe. Si polisi menyeringai. "Hebat! Apakah kau ingin menjadi detektif nanti?" "Aku sudah menjadi detektif sekarang," tukas Jupe. Ia begitu yakinnya sehingga tidak mempedulikan si polisi yang terheranheran. Sambil bergaya seolah-olah ia yang paling tahu, Jupe melanjutkan. "Tetapi mengapa?" katanya. "Aku belum paham apa tujuan pencuri itu. Seseorang telah mencampurkan zat kimia di alat penyiram otomatis itu sehingga seluruh kota terbius, dan..." "Persis dengan gambaran kami," kata polisi. "Kami telah mengambil contoh air dari alat itu untuk diuji di laboratorium kami. Kami akan menguji air di waduk juga, letaknya di bagian utara kota. Dari situlah air disalurkan ke kota."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ajaib," ujar Jupe. "Seperti dalam cerita fiksi saja. Ketika seluruh kota terbius, si pencuri mengendap-endap menuju museum. John the Gypsy berhasil dibiusnya, sehingga dengan tenang ia dapat mengambil fosil itu." "Tetapi, mengapa? Buat apa pencuri itu capek-capek mencuri tulang-belulang. Itu kan tidak bisa dijual, tidak seperti permata atau berlian. Tak seorang pun berminat membelinya. Hanya dua orang yang paling ingin memiliki tulang itu, McAfee dan Brandon. Padahal kedua-duanya pingsan saat pencurian itu terjadi. Jadi pertanyaanku belum terjawab: mengapa fosil itu dicuri?" "Memang ini perbuatan kriminal yang aneh," si polisi menyetujui. "Apakah kalian dapat menangkap pencuri itu?" tanya Bob. "Mungkin tidak," jawab polisi itu ragu-ragu. "Banyak pencuri yang lebih cerdik dari polisi. Kami sering sekali menjumpai kasus-kasus yang tidak dapat kami selesaikan. Tenaga di kepolisian terlalu sedikit, sedangkan kasus yang dihadapi banyak sekali." Anak-anak termenung. Si polisi berjalan menuju pintu museum. "Oke, Anak-anak. Museum akan ditutup sekarang." Anak-anak keluar dengan patuh. Di luar mereka melihat Newt, polisi yang satu lagi, Thalia, dan Eleanor sedang berkumpul. Eleanor baru saja mengambil kiriman di kotak pos. Di tangannya tergenggam beberapa pucuk surat dan sebuah majalah. Newt McAfee tampak membuka sebuah amplop dan mengambil surat di dalamnya dengan terburu-buru. Ketika Trio Detektif

http://inzomnia.wapka.mobi

mendekat, mereka melihat bahwa surat itu ditulis dengan tinta hijau menyala. McAfee pucat-pasi. Tangannya gemetar ketika ia membaca surat itu. Dengan gugup ia melihat ke arah polisi dan istrinya berganti-ganti. "Kurang ajar!" kata McAfee. "Lihat ini!" Ia memegang surat itu sehingga yang lain dapat membacanya. Surat itu bertuliskan: "MANUSIA GUA ITU ADA DI TANGANKU AKAN KUTAHAN TERUS SAMPAI KUPEROIEH $10.000. KAIAU KAU TIDAK MEMBERIKU UANG, AKAN KULUMATKAN TUIANGTUIANG ITU. BERITA SELANJUTNYA MENYUSUL. " "Sekarang kita tahu," kata Jupe, "mengapa orang itu mencurinya-untuk meminta tebusan!" Bab 10 JEJAK BERJARI EMPAT "SEPULUH RIBU DOLAR!" seru Eleanor Hess. "Banyak sekali!" Newt McAfee mendengus. "Kalau maling itu berhasil kutangkap, kuhabisi dia!" Polisi mengambil surat itu dari tangan McAfee. Ia mengamatamati cap perangkonya, kemudian melihat tulisan di suratnya. "Tulisan tangannya jelek," kata polisi itu. "Tetapi si pencuri bekerja dengan terencana. Surat ini dikirim kemarin dari kantor pos di Centerdale." Sambil menyimpan surat itu di kantungnya, ia bertanya. "McAfee, siapa saja yang memiliki kunci museum?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Newt McAfee mengeluarkan serangkai kunci dari kantungnya. "Aku punya selalu kubawa di sini," katanya. "Kunci cadangannya kusimpan di dapur." Eleanor bergegas masuk ke rumah. Dalam sekejap ia kembali lagi. "Kunci itu tidak ada!" kata Eleanor. "Hilang! Tapi beberapa kunci yang lain masih di tempat semula." "Bagaimana pencurinya bisa tahu, ya?" tanya Jupe. "Ada labelnya," jawab Eleanor. "Kami biasa memberi label pada tiap-tiap kunci." "Kalian tidak mengunci pintu belakang, ya," kata si polisi. "Orang di kota ini memang tidak biasa mengunci pintu belakang rumahnya. Pencuri sambil berlenggang-kangkung bisa memasuki rumahmu. Dan kalaupun pintu belakang dikunci, tetap mudah baginya masuk ke dalam. Kunci pintu belakang itu sudah kuno, dicongkel dengan kawat saja pasti terbuka." Newt dan Thalia McAfee masuk ke rumah dengan lunglai. Eleanor mengikuti. Trio Detektif naik ke loteng, dan duduk dekat jendela. Jupe mengerutkan keningnya. "Bagaimana pencurinya bisa tahu, ya," kata Jupe, "bahwa kunci itu disimpan di dapur?" "Jelas dong," sahut Pete. "Dapur kan memang biasa dijadikan tempat menyimpan kunci cadangan." Sambil berkata begitu hidung Pete kembang-kempis penuh rasa kemenangan. Ia selalu senang jika dapat menerangkan sesuatu pada Jupe, sebab biasanya ia yang selalu bertanya pada Jupe. "Betul juga," kata Jupe. "Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Jejak di gua itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Pete terheran-heran. "Kenapa memangnya?" ia bertanya sambil berkerut dahi. "Kau sendiri yang menyimpulkan bahwa itu jejak si pencuri yang bersepatu karet. Lalu kenapa?" "Kau ingat, waktu pertama kali kita melihat gua," ujar Jupe. "Ada jejak-jejak di sekitar fosil itu kan?" Bob tersentak. Sementara Pete memandang kedua kawannya dengan pandangan tidak mengerti. "Ya, ya Jupe," kata Bob. "Kau benar. Ada yang aneh." "Ada apa, sih?" Pete bertanya dengan penasaran. "Kalian beri tahu aku dong." "Begini, Pete," Jupe menjelaskan. "Waktu pertama kali kita melihat gua itu, banyak terdapat jejak-jejak kaki di sekitar tulang-tulang itu, bukan?" Jupe memejamkan matanya sambil membayangkan kejadian malam itu. "Lalu John the Gypsy mengaku melihat manusia gua itu berjalan keluar. Kemudian McAfee membuka museum, dan kita semua masuk. Manusia gua itu masih di dalam, tetapi jejak-jejak itu hilang. Tanah di dasar gua itu sudah rapi." Kini Pete mengerti. "Oh, iya! Betul, betul!" seru Pete. Dalam hati ia mengakui kejelian Jupiter. "Tetapi... barangkali McAfee sendiri yang membersihkannya." "Kita cek saja," kata Jupe sambil bangkit. Ia turun dari loteng, dan segera berlari menuju rumah McAfee. Diketuknya pintu belakang. Newt McAfee sendiri yang membukakan pintu. Ia dan Jupe tampak berbincangbincang sebentar. Jupe berbalik dan berlari kembali ke gudang. "Kata McAfee ia tidak membersihkan jejak-jejak itu," Jupe melapor pada kawan-kawannya, "dan John the Gypsy juga

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak. McAfee tidak semenit pun pernah membiarkan John berada sendiri di dalam gua." "Berarti ada seseorang yang memasuki gua malam itu," kata Bob. "Ia membersihkan dasar gua itu. Buat apa? Aneh!" "Atau mungkin manusia gua itu sendiri yang merapikannya," sahut Pete. "Tapi... itu tak mungkin, kan?" "Well, jejak di padang rumput yang tadi pagi kutemukan mungkin berguna," kata Jupe. "Aku akan pergi sebentar ke toko hobi. Ada yang perlu kubeli. Kalian tunggu di sini. Pasang mata kalian." Jupe segera menghilang. Setengah jam kemudian ia kembali membawa sebuah bungkusan. "Kapur gips," katanya. "Aku akan membuat cetakan dari jejak di padang rumput itu, sebelum jejak itu hilang." Tangannya yang cekatan mulai beraksi di gudang dengan barang-barang rongsokan yang terdapat di situ. Tak lama kemudian ia memperoleh sebuah kaleng kosong, dan beberapa potong kayu kecil dengan ukuran berbeda-beda. Jupe memasukkan kapur gips ke dalam kaleng, lalu menuangkan air keran ke dalamnya. Diaduknya campuran itu sampai menjadi kental. "Kalau cetakan itu sudah jadi, apakah kita akan mencari orang yang kakinya seperti itu?" tanya Pete saat mereka melintasi padang rumput. "Tentu saja tidak, Pete," tukas Jupe tak sabar. "Aku cuma ingin memperoleh suatu bukti. Barangkali saja ada gunanya nanti." Ketika mereka menemukan jejak itu. Jupe berlutut dan menyemprotnya dengan penyemprot rambut yang ia beli di toko hobi.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Buat apa itu?" tanya Pete. "Untuk melapisi tanah agar tidak menempel pada gips," jawab Jupe. Setelah itu Jupe membentuk sebuah bingkai kecil dari kayukayu yang diperolehnya di gudang. Dengan hati-hati diletakkannya bingkai itu di sekeliling jejak tadi. Perlahan-lahan adonan gips dituangkan ke dalam jejak. Mulamula tipis saja. Untuk memperkuat cetakan, ditaruh beberapa ranting kecil ke dalamnya. Lalu Jupe menunggu sampai lapisan itu mengeras, baru menuangkan adonan gips lagi. "Bagus sekali cara kerjamu, Jupe!" seru Pete. "Sayang ya, tidak ada klien kita," kata Bob. "Apakah kaupikir Newt McAfee mau menyewa kita?" "Apakah kaupikir Trio Detektif mau disewa dia?" Jupe membalikkan pertanyaan Bob. "Tidak, Sir! " sahut Pete dengan gaya militer. "Ia suka curang, istrinya sama saja. Kasihan Eleanor." Jupe mendesah. "Wanita penjaga toko hobi itu kenal dengan mendiang ibunya Eleanor," ia mulai bercerita. "Mrs. Hess cantik sekali sehingga membuat Thalia iri, menurut wanita itu. Karena itu Thalia melampiaskan iri hatinya pada Eleanor. Kata wanita itu, Newt sangat pelit. Eleanor harus membayar sewa kamar untuk tinggal di situ. Dan ini sudah terjadi sejak orang tua Eleanor meninggal dunia." "Bagaimana bisa? Waktu itu ia kan baru delapan tahun?" tanya Bob dengan heran. "Dari mana uangnya? Apakah orang tuanya memberi uang padanya?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Orang tuanya memiliki rumah di Hollywood," jawab Jupe. "McAfee mengontrakkan rumah itu, tetapi ia sendiri yang mengambil uang kontraknya." "Benar-benar tak tahu diri!" seru Bob kesal. "Kok, kau bisabisanya membuat wanita penjaga toko itu mau bercerita? Apalagi yang diceritakannya?" "Well, aku cuma bilang bahwa aku menginap di gudang McAfee. Lalu ia bertanya berapa ongkos sewanya. Ketika kuberi tahu, ia langsung bercerita panjang-lebar. Ia juga bilang bahwa John the Gypsy buta huruf, jadi John selalu mencari pekerjaan yang aneh-aneh yang tidak memerlukan kemampuan membaca atau menulis. Menurutnya, Newt McAfee menipu John dalam soal upah, karena John tidak bisa menghitung berapa jam ia telah bekerja." "Malang juga nasib John the Gypsy," kata Bob. "Tapi, kalau ia buta huruf berarti bukan ia yang mengirim surat ancaman itu." "Aku mula-mula curiga bahwa John cuma bersandiwara saja semalam," kata Jupe. "Tetapi setelah kejadian tadi pagi aku yakin ia tidak terlibat. Ia sangat polos, dan benar-benar ketakutan waktu itu. Jadi ia tidak perlu dicurigai. Kasus ini cukup rumit tanpa dia." "Jadi kita akan menangani kasus ini," keluh Pete. "Siapa klien kita? Masa Eleanor?" "Memangnya kita harus selalu punya klien?" seru Jupe. "Kasus ini kan sangat menarik. Fosil manusia, berumur ribuan tahun, dicuri. Si pencuri menggunakan zat pembius yang ampuh sehingga bisa membius seluruh kota. Sangat menantang, bukan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Bob menyeringai. "Itu gila! Tapi aku suka." Ia duduk di tanah, mengeluarkan catatan dan penanya, lalu mulai menulis. "Manusia gua hilang," katanya sambil menulis. "Zat misterius membius kota. Surat ancaman dengan tulisan tangan yang jelek. Tetapi itu tidak berarti apa-apa, mungkin tulisan itu sengaja dibuat supaya jelek. Orang-orang yang dicurigai..." Bob menoleh ke arah kawan-kawannya. "Brandon?" katanya. "Ia sangat ingin menyelidiki fosil itu. Dapatkah ia dicurigai?" "Ia ikut pingsan di taman," sahut Pete. "Aku tertindih olehnya. He, seluruh penduduk kota terbius. Tidak ada orang yang bisa dicurigai!" "Belum tentu," kata Jupe. "Kita tidak tahu apakah setiap orang terbius waktu itu. Lagi pula mungkin saja pencuri itu punya suatu cara supaya tidak ikut terbius. Jadi, justru setiap orang di kota dapat dicurigai." "Ssstt," bisik Bob. "Eleanor datang." Jupe menengok dan melihat Eleanor berjalan ke arah mereka. Dengan cepat namun tak kentara, Jupe mengambil posisi sehingga Eleanor tak dapat melihat cetakan jejak itu. "Hai," sapanya pada Eleanor. "Kami sedang... sedang mengobrol soal kejadian-kejadian tadi pagi." Eleanor mengangguk. Ia tampak bimbang, takut kalau-kalau ia mengganggu acara mereka. "Anu... saya mau ke yayasan sekarang. Kalian... kalian mau ikut?" "Mau," kata Jupe, "tapi sekarang..." "Kalau begitu tak usah," cepat-cepat Eleanor memotong. "Tidak apa-apa, saya sendiri saja." Tiba-tiba ia mendesah, "Sepuluh ribu dolar! Bukan main banyaknya! Paman Newt akan mengumpulkan dana dari penduduk kota untuk menebus fosil itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Mata Eleanor berkaca-kaca. "Tenanglah," kata Bob dengan lemah-lembut. "Itu kan cuma sekumpulan tulang saja. Tidak ada nyawa yang dipertaruhkan." "Tapi Paman Newt tidak mau tahu. Ia makin sering marahmarah pada saya. Apalagi akhir-akhir ini tokonya kurang laku," isak Eleanor. "Kau bekerja di toko juga?" tanya Jupe. Eleanor mengangguk. "Tetapi saya tidak betah. Saya ingin di yayasan saja. Mereka semua baik, tidak ada yang suka marahmarah." Tiba-tiba ia tersenyum lagi. "Paling-paling DR. Brandon, tetapi ia sebenarnya baik. Ia menganjurkan agar saya bersekolah di San Diego." "Kenapa kau tidak menurutinya?" tanya Bob. "Saya kan perlu biaya sekolah, tetapi Bibi Thalia tidak mau memberi," kata Eleanor. "Ia selalu bilang bahwa menyekolahkan seorang anak perempuan itu percuma, membuang-buang biaya saja. Dan menurutnya, saya harus ingat dari mana saya berasal." "Maksudnya apa itu?" tanya Pete. "Saya kira yang ia maksud ialah saya akan jadi sombong kalau saya bersekolah," kata Eleanor. "Bibi Thalia selalu mengatakan ibu saya sombong, sehingga tidak mau tinggal di kota ini. Menurut dia, karena kesombongannya itulah Ibu mengalami kecelakaan." Eleanor diam sejenak. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat. "Saya sakit hati mendengarnya!" Suara Eleanor bergetar. "Ibu orangnya baik, tak pernah mau menyakiti hati orang lain Hati saya sakit kalau ada orang yang menjelek-jelekkan Ibu. Ayah juga orang baik. Ia pemain oboe di Los Angeles Philharmonic.

http://inzomnia.wapka.mobi

Saya senang mendengarkan ia berlatih, suara oboe merdu sekali. Saya sampai pernah bercita-citajadi pemain oboe, tetapi... hhh, mana mungkin sekarang?" Ia diam lagi. Tampak sekali ia berusaha menahan gejolak hatinya. "Aku ingin pergi!" Eleanor meledak. "Akan kutabung gajiku dari yayasan. Lalu aku pergi!" "Sabar dulu," kata Jupe menenangkan. "Kalau kau pergi kan mereka tak perlu membayar ongkos hidupmu. Lalu bagaimana dengan uang kontrak rumahmu di Hollywood?" Eleanor terkesima. "Oh iya, tetapi saya tidak enak untuk menanyakannya pada mereka. Mereka akan tersinggung. Saya akan diusirnya." "Lho?" kata Pete. "Katanya kau mau pergi." "Ya, tetapi... ke mana?" "Kenapa kau tidak ke Hollywood saja?" usul Bob. "Kan kau punya rumah di sana." "Tidak bisa. Orang yang mengontraknya kan tinggal di sana." Eleanor menegakkan kepalanya. "Aku akan menabung. Kalau sudah cukup, aku akan pergi," katanya tegas. "Sekarang aku ke yayasan dulu. Mau ikut?" "Nanti kami menyusul," kata Jupe. "Sekarang kami masih ada beberapa urusan." Eleanor melangkah dengan yakin menuju yayasan. "Kelihatannya ia sungguh-sungguh ingin pergi," kata Pete. "Ya," Jupe menimpali, "aku senang melihat sikapnya yang terakhir. Itu akan sangat membantunya untuk mandiri." Anakanak segera merubungi cetakan yang sedang dibuat Jupe. Gips itu sudah mengeras. Dengan hati-hati Jupe mengangkatnya. Gips itu membentuk cetakan tapak kaki. "Berhasil!" seru Pete.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Lihat!" seru Jupe. "Cuma ada empat jarinya. Satu yang besar, lalu kosong, lalu tiga kecil-kecil. Kelihatannya seperti jari keduanya terangkat sehingga tidak meninggalkan bekas." "Kaki siapa itu?" kata Bob. "Manusia gua?" Pete meneguk ludah. Jupe mengukur cetakan itu. Sembilan inci. "Jejak pencuri di gua itu dua belas inci, yang ini cuma sembilan inci," kata Jupe. "Ja... jadi itu jejak ma... manusia gua?" Pete pucat. "Manusia gua itu sudah mati," kata Jupe. "Ia mati ribuan tahun yang lalu. Makhluk yang sudah mati tidak dapat berjalan, apalagi meninggalkan jejak. Pemilik jejak ini bisa siapa saja, tetapi pasti bukan orang mati!" Bab 11 CATATAN YANG HILANG ANAK-ANAK menjumpai Eleanor Hess sedang memberi makan Blaze di kandangnya. DiStefano ada di situ juga, menyandar di dinding kandang sambil memperhatikan mereka. Ia berpakaian necis seperti biasanya. "Kudengar manusia gua itu hilang dicuri," kata DiStefano. "Untung aku tidak berada di taman waktu itu. Aku terkena flu sehingga harus berbaring di rumah." "Kau sudah sembuh sekarang?" tanya Jupe. "Ya, lumayanlah. Biasanya juga cuma sebentar." "Kejadian di taman itu benar-benar aneh," kata Pete. "Semuanya terbius tak sadarkan diri." "Masa!" DiStefano tercengang. "Kok, bisa?" Dalam sekejap penampilannya biasa kembali. "Kukira cuma di sini saja orang

http://inzomnia.wapka.mobi

suka tidur siang," ejek DiStefano sambil memandang pada Eleanor. Melihat Eleanor memasang muka masam, cepat-cepat ia berkata, "Begitu saja kau marah, aku kan cuma bergurau." Tanpa menunggu jawaban Eleanor ia nyelonong pergi. Pete mengawasi kepergian DiStefano. "Eh, ia memakai sepatu olahraga, ya?" "Memangnya kenapa? Di kota ini hampir setiap orang suka memakai sepatu olahraga," kata Eleanor. "Ah, tidak kenapakenapa," buru-buru Pete menimpali. Setelah selesai memberi makan Blaze. Eleanor pergi menuju laboratorium tempat DR. Birkensteen dulu bekerja. Anak-anak menyusul di belakangnya. Begitu mereka masuk, kedua simpanse langsung menjerit-jerit kegirangan, tangan mereka menggapai-gapai ke luar kandang. "Oke! Oke!" Eleanor tertawa sambil membuka pintu kandang. Kedua simpanse melompat, dan bergelayutan di pundak Eleanor. "Busyet!" seru Pete. "Mereka suka sekali padamu." Eleanor tersenyum. "Memang. Saya juga suka sekali pada mereka. Habis lucu-lucu sih, dan manjanya bukan main pada saya. Pada mendiang DR. Birkensteen sama saja." "Tentu dong," kata Bob. Jupe tidak berkomentar apa-apa. Perhatiannya terpancing oleh buku catatan di meja almarhum DR. Birkensteen. Dibukanya buku itu, lalu dibolak-baliknya halaman-halamannya. Tiba-tiba dilihatnya sesuatu yang mencurigakan. Dibalik halaman bertanggal 28 April langsung didapati halaman bertanggal 19 Mei.

http://inzomnia.wapka.mobi

"He, ke mana catatan pada awal-awal Mei?" Jupe bertanya. Alis matanya berkerut. "Menarik sekali! Dia meninggal pada awal Mei, bukan? Aku ingat betul." Eleanor diam membisu. Mukanya dipalingkan dari Jupiter. "Kenapa ia menyobek halaman-halaman ini?" Jupiter bertanya lagi tanpa melihat pada Eleanor. Ia terlalu tertarik pada catatan itu. "Saya... saya tidak tahu kenapa. Benar-benar tidak tahu," kali ini Eleanor menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar. Simpanse kecil ditimang-timangnya bagai seorang bayi. Bob dan Pete mengamat-amati dengan saksama dan curiga. "Kau kan menemani DR. Birkensteen pergi ke Rocky Beach waktu itu," ujar Jupe. "Mungkinkah halaman yang hilang ini ada hubungannya dengan kematiannya?" "Tidak," kata Eleanor. "Saya... saya kira tidak mungkin." "Atau mungkin ada hubungannya dengan simpanse-simpanse itu?" desak Jupe. "Mungkin. Bisa saja. Tapi saya tidak tahu apa-apa. Sungguh. Saya hanya membantu mengurus hewan-hewan. Saya menemaninya karena... karena ia baik padaku dan kondisinya kurang sehat saat itu." "Di mana tepatnya tujuan yang kaucari di Harborview Lane? Siapa yang tinggal di sana?" Jupe terus mendesak. Eleanor tampak gugup. Ia meneguk ludah. Kepalanya tertunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Saya merasa kurang enak badan hari ini," katanya. "Terima kasih ya, kalian mau menemani saya." Anak-anak mengerti maksud Eleanor Mereka pergi meninggalkan Eleanor di ruangan itu. Di luar mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

berpapasan dengan Mrs. Coolinwood. Kali ini ia mengenakan rok merah dan wig coklat tua yang ikal. "Halo!" sapanya sambil tersenyum lebar. "Mana Eleanor?" Tiba-tiba terlintas dalam benak Jupe bahwa Mrs. Coolinwood mungkin tahu sesuatu. Jupe lalu memasang tampang sedih. "Kami membuat Eleanor sedih," katanya dengan nada memelas. "Kami bertanya tentang DR. Birkensteen padanya. Lalu ia menangis." Mrs. Coolinwood menghela napas panjang. "Ia memang suka sekali pada DR. Birkensteen. Almarhum merupakan orang yang paling ramah di sini." "Tahukah Anda, mengapa ia pergi ke Los Angeles waktu itu?" tanya Jupe. "Adakah temannya di sana?" "Aku tak tahu. Ia jarang bercerita tentang hal itu. Mungkin saja ada urusan dengan hewan-hewannya. Akhir-akhir ini ia sibuk sekali mengurusi piaraannya itu. Simpanse-simpansenya dirawatnya seperti merawat anak-anaknya sendiri. Ketika satu demi satu simpanse-simpanse itu mati, ia sedih sekali, seperti orang yang ditinggal sahabat karibnya." "Berapa yang sudah mati?" tanya Pete. "Banyak. Dan ia melakukan otopsi untuk menyelidiki penyebab kematian itu. Bahkan kadang-kadang ia mengoperasi simpanse yang masih hidup untuk memeriksa keadaan kesehatan simpanse itu. Bukan main memang, perhatiannya pada hewanhewan itu." Sekonyong-konyong terdengar bunyi benda jatuh dari ruang sebelah. "Apa itu?" seru Mrs. Coolinwood sambil berlari ke pintu. "Hatihati dong, Frank!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Frank DiStefano muncul. Ia membawa ember dan kain lap. "Tidak ada apa-apa," katanya tanpa rasa bersalah. "Ember ini kosong, kok." "Lain kali kau harus lebih berhati-hati!" kata Mrs. Coolinwood. DiStefano tidak mengacuhkannya, malahan ia tertawa-tawa sambil melihat pada anak-anak. "Kenapa kau masih di sini?" Mrs. Coolinwood berseru dengan tak sabar. "Kan sudah dari tadi kau kusuruh pergi ke toko." "Iya, iya!" balas DiStefano. "Itu kan cuma urusan kecil." Mrs. Coolinwood menggeram ketika DiStefano menghilang di balik pintu menuju ke luar gedung. Sewaktu anak-anak keluar, mereka melihat DiStefano menaiki sebuah sedan tua yang sedang diparkir. Setelah menghidupkan mesinnya, ia menunggu anak-anak. "Gara-gara wanita cerewet itu aku harus buru-buru pergi ke toko," kata DiStefano sambil menyeringai. "Kalian mau numpang?" Anak-anak melihat ke kursi belakang mobil. Di sana terdapat setumpuk majalah, sepasang sepatu bot kotor berlumpur, sekotak tisu, masker, dan pakaian selam basah. "Trims, tidak usah deh," kata Jupe. "Penginapan kami dekat, kok." Tanpa menoleh lagi DiStefano langsung tancap gas. "Sebal aku," kata Pete. "Mulutnya besar sekali." Jupe hanya menyahut, "Hmm!" Ia sedang memusatkan pikirannya pada percakapan mereka dengan Mrs. Coolinwood tadi. "Sayang sekali DR. Birkensteen tidak banyak bercerita tentang perjalanannya ke Rocky Beach," kata Jupe akhirnya. "Kalau saja dia bercerita pada Mrs. Coolinwood, pasti misteri ini

http://inzomnia.wapka.mobi

cepat terungkap. Mrs. Coolinwood orangnya sangat terbuka, ia tidak akan menyembunyikan hal-hal yang sekecil apa pun pada kita. Berbeda sekali dengan Eleanor Hess. Aku yakin Eleanor menyembunyikan sesuatu pada kita. Tetapi mengapa? Apa yang disembunyikannya?" "Barangkali ada hubungannya dengan manusia gua," tebak Bob. "Mana aku tahu?" Jupe menghela napas. Trio Detektif baru saja hendak memasuki gudang McAfee, ketika Thalia keluar dari pintu belakang. "Kalian lihat Eleanor?" kata Thalia. "Ia ada di yayasan," Bob menyahuti. "Dasar!" kata Thalia. "Bisanya main dengan binatang saja! Tidak pernah ia mau membantu di rumah! Masa ia pernah mau membawa binatang itu ke rumahku. Kubilang saja padanya, 'Boleh asal kau sanggup membayar sewanya!"' "Ngomong-ngomong," kata Jupiter mengalihkan pembicaraan, "polisi waktu itu mengatakan hendak memeriksa air dari sistem alat penyiram otomatis. Bagaimana hasilnya?" "Nol besar!" kata Thalia. "Salah seorang polisi barusan mengabari kami. Mereka tidak menemukan apa-apa dalam air dari alat penyiram otomatis, dan dari tempat penyimpanan air. Polisi itu menduga bahwa kota ini dihipnotis!" Bab 12 MISTERI BANGUNAN TUA JUPE mendesah saat Thalia McAfee masuk ke rumah. "Aku tak percaya kota ini dihipnotis," katanya pada kedua temannya. "Aku masih penasaran pada ilmuwan yang telah meninggal itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Memang, orang mati selalu membuat orang lain penasaran," kata Pete dengan gaya sok yakin. "Bukan itu maksudku," tukas Jupe. "Maksudku adalah halamanhalaman yang hilang pada catatannya. Itu penting sekali artinya bagi penyelidikan kita. Ah, kalau saja aku dapat membaca catatan-catatan DR. Birkensteen yang lain, pasti banyak hal dapat terungkap." "Aku berani bertaruh bahwa itu tidak mungkin, Jupe," Bob memperkirakan. "Pekerjaannya sangatlah penting, pasti catatan-catatannya disimpan di tempat yang aman." "Hm," kata Jupe. Wajahnya terlihat muram. Tetapi sesaat kemudian matanya bersinar-sinar. "He, Frank DiStefano tidak berada di taman tadi pagi," serunya dengan bersemangat. Bob tersentak. "Ya, ya," gumamnya. "Semua orang yang kita kenal berada di taman, kecuali Frank DiStefano dan... John the Gypsy." Pete melotot. "He!" serunya. "John the Gypsy! Kita tidak boleh meremehkan dia. Mungkin saja dia cuma berpura-pura bodoh supaya tidak dicurigai. Mungkin saja dia sesungguhnya pintar sekali." "Itu tidak masuk akal," kata Bob. "Ia telah bertahun-tahun di sini. Kalau ia memang pintar, tentunya ia akan melakukan pekerjaan yang lebih baik." "Ini baru masuk akal," kata Jupe. "Tetapi mari kita lakukan penyelidikan dengan lebih sistematis. Tadi malam John the Gypsy mengaku melihat manusia gua gentayangan. Tadi pagi kita menemukan jejak, yang sudah kita buat cetakannya itu, di padang rumput. Ke mana arah jejak itu?" "O, iya, mari kita cek ke sana sebelum gelap," ajak Bob.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pete memandang ke arah hutan kecil di seberang padang rumput. Trio Detektif menuju tempat ditemukannya jejak berjari empat di padang rumput. Perlahan-lahan mereka berjalan menuju hutan kecil. Jupe memimpin di depan. Dengan saksama diamatinya tanah yang dilalui. Bob paling belakang. Seperti Jupe, ia asyik mencari jejak selanjutnya. Pete di tengah. Dengan gelisah ia memandang sekelilingnya. Persis di pinggir hutan mereka baru menemukan jejak itu kembali. Rumput tidak tumbuh di situ, sehingga jejak jelas sekali terlihat. Dengan hati-hati Trio Detektif memasuki hutan, mengikuti arah jejak tanpa bersuara. Mereka mengendap-endap seperti kucing mengintai mangsa. Di tengah hutan mereka menjumpai sebuah tempat terbuka ditumbuhi alang-alang yang tinggi. Dari sela-sela alang-alang itu berdiri sebuah bangunan tua yang hampir runtuh. Temboknya yang terbuat dari bata telah hancur di sana-sini. Atapnya berlubang-lubang, sehingga rangka atapnya terlihat jelas. Dan catnya yang telah mengelupas membuat penampilan bangunan itu suram dan menyeramkan. "Kuduga dulunya itu gereja," Bob memperkirakan. Anak-anak menghampiri gereja tua itu. Ada dua pintu masuk. Salah satunya telah ambruk karena engselnya patah. Pintu yang ambruk itu tergeletak di lantai. Anak-anak melangkah masuk melaluinya. "Apakah makhluk itu masuk ke sini tadi malam?" kata Pete. Ia memandang ke sekelilingnya dengan gelisah. "Mungkin ya, mungkin tidak," sahut Jupe. "Lantai ini keras, tidak mungkin meninggalkan jejak."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dengan ragu-ragu Bob melangkah ke bagian depan gereja. Di depan terdapat sebuah tempat yang lebih tinggi. "Itu altar gereja," kata Bob. "Lihat. Ada sebuah pintu di sana. Pasti menuju ruangan lain. Kelihatannya seperti ruang tempat menyimpan jubah." Trio Detektif saling menunggu. Masing-masing tidak berani memulai mendekati altar itu. Tetapi masing-masing ingin sekali tahu apa isi ruangan tersembunyi itu. Tiba-tiba ada suara. Ada seseorang di balik pintu yang tertutup itu! Terdengar suara gemertak dan gemerisik. Sesaat hening kembali. Pete meneguk ludah. Bob bergerak mendekati pintu itu. Pete menahannya. "Jangan!" bisik Pete. "Jangan-jangan itu... dia!" Pete tidak menjelaskan lebih lanjut. Itu sudah cukup jelas. Bob dan Jupe segera mengerti maksudnya. Jangan-jangan manusia gua itu memang gentayangan ke sini. Jangan-jangan makhluk zaman prasejarah melarikan diri dari si pencuri. Lantas bersembunyi di ruangan itu. Bersenjata! Bersenjata? Senjata apa? "Tidak mungkin!" seru Jupe. Dengan berani ia berlari mendekati pintu, lalu menaiki altar. Ketika itu terdengar lagi suara. Seolah-olah ada sesuatu yang menyentuh pintu itu. Jupe memegang gagang pintu itu. Tiba-tiba ia pucat. Bulu kuduknya berdiri. Gagang pintu itu bergerak sendiri! Engsel-engsel yang sudah berkarat berbunyi berderak-derak. Pintu itu membuka! Bab 13

http://inzomnia.wapka.mobi

PENCURIAN LAGI "OH!" kata DR. Hoffer terkejut. Tangannya memegang gagang pintu ruangan tempat menyimpan jubah di gereja tua itu. "Aku tak menyangka kalian ada di sini. Tetapi kenapa kau memandangiku seperti itu?" Jupiter masih gemetar, tetapi dipaksakannya untuk tersenyum. "Kami sedang menyelidik," katanya. Hoffer melangkah keluar ruangan penyimpanan. Anak-anak dapat melihat bahwa ruang itu kecil dan ada pintu lagi yang menuju ke luar bangunan. "Kalian harus hati-hati di sini," kata Hoffer. "Tempat ini milik keluarga Lewison. Mereka memiliki rumah besar di balik bukit ini. Aku dapat izin untuk masuk ke sini, tetapi kalian tidak. Mereka tidak suka kalau orang asing masuk-masuk ke tanah mereka tanpa izin." Ia duduk di suatu tempat di pinggir altar. "Melihat kalian ini aku seperti melihat diriku sendiri," katanya. "Kalau aku jadi kalian, pasti aku juga akan masuk ke bangunan tua ini untuk menyelidik. Sejak kecil aku paling hobi bertualang. Ketika seumur kalian, aku pernah berlibur ke suatu tempat di Milwaukee. Di sana aku dan kawan-kawanku menjumpai rumah kosong. Melalui sebuah jendela yang tak terkunci kami masuk lalu menemukan sebuah ruangan di bawah tanah. Asyik sekali!" DR. Hoffer bersin. Ia mengambil sapu tangan yang selalu tersedia di kantungnya. "Ini sudah jadi langganan," katanya. "Alergi debu. Aku memang tak tahan terhadap debu. Mungkin karena itu aku tertarik pada imunologi."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oke, Anak-anak," lanjutnya sambil berdiri, "aku harus pulang sekarang. Kalian pulang juga, kan? Jangan lama-lama di sini. Edward Lewison terkenal suka mengancam akan menembak orang-orang yang melanggar wilayahnya." "Persis dengan seseorang yang kita kenal," kata Jupe. "Newt McAfee." "Kita pulang saja, yuk," ajak Pete. Anak-anak mengikuti DR. Hoffer melalui ruangan penyimpanan. "Lucu, ya," kata Jupe sambil berjalan. "Anda alergi, tetapi Anda mempelajari imunologi. Kenapa Anda tidak mempelajari alergi itu sendiri?" "Kau keliru," tukas Hoffer, "justru aku mempelajari alergi. Alergi termasuk reaksi imunitas, jadi termasuk dalam imunologi." "Oh, ya?" ujar Bob. Hoffer mengangguk. "Tubuh kita memiliki beragam cara untuk mempertahankan diri dan menolak penyakit. Di antaranya ialah dengan antibodi. Antibodi dihasilkan oleh tubuh untuk menghancurkan virus dan bakteri, atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Kalau kau terkena cacar air, tubuhmu akan membuat antibodi yang akan melawan cacar air itu. Lalu untuk seterusnya kau tidak akan terkena cacar air lagi, karena antibodi tadi menetap dalam tubuhmu. Dalam hal ini dikatakan kau telah imun-kebal -terhadap cacar air." Anak-anak mendengarkan uraian itu dengan penuh perhatian. "Nah, kadang-kadang ada orang yang menghasilkan antibodi yang tidak dihasilkan orang lain," kata Hoffer melanjutkan. "Contohnya aku ini. Aku alergi debu, kalian tidak. Ini disebabkan tubuhku menghasilkan antibodi untuk melawan debu, sedangkan tubuh kalian tidak. Dalam tubuhku, antibodi

http://inzomnia.wapka.mobi

itu bereaksi dengan debu. Hasil reaksi itu menyebabkan hidungku pilek dan mataku berair. "Jadi sistem imunitas kita dapat menyelamatkan kita dari penyakit, tetapi dapat juga menyusahkan kita. Aku yakin bahwa banyak penyakit lain yang justru disebabkan oleh sistem imunitas tubuh kita sendiri. "Sebagai contoh, menurut teoriku, kanker disebabkan oleh sistem imunitas tubuh kita yang tidak terkendali. Coba kalian bayangkan orang-orang yang berbuat kriminal." "Kriminal?" Pete terkejut. "Perbuatan kriminal merupakan reaksi dari suatu ancaman," lanjut DR. Hoffer. "Bayangkan seseorang yang dibesarkan di daerah yang penuh bahaya. Untuk mempertahankan hidupnya, ia harus bereaksi terhadap setiap orang asing. Reaksinya bisa sangat merusak. Tanpa berpikir panjang lagi, ia akan melawan si orang asing itu dengan membabi buta. Nah, kalian lihat bukan. Cara orang itu bertahan menjadi tidak terkendali. Berbahaya. Demikian pula halnya dengan kanker." Pete cemas. "Aku sedang mengembangkan teoriku dengan melakukan serangkaian eksperimen terhadap tikus-tikus," kata DR. Hoffer meneruskan. "Aku berusaha mengatur sistem imunitas mereka. Kalau aku berhasil, mereka akan dapat hidup lebih lama dan lebih tahan terhadap penyakit. "Ini akan besar artinya bagi kepentingan umat manusia. Jauh lebih besar dari penelitian yang dilakukan Birkensteen dan Brandon. Kalau aku berhasil dunia akan lebih bebas dari penyakit."

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka telah sampai di padang rumput McAfee. Hoffer berhenti untuk bersalaman dengan anak-anak. Lalu ia langsung menuju yayasan. Sambil memandangi DR. Hoffer, Pete berkata, "Luar biasa. Aku pilih dia untuk menjadi pemenang penghargaan Spicer." Jupe mengangguk kecil. Anak-anak berjalan menuju kantin. Kota tidak lagi seramai sebelumnya, sehingga anak-anak segera mendapatkan tempat duduk di kantin. Mereka makan sambil mendiskusikan kejadian-kejadian hari itu. "Kasus aneh," Pete memulai. "Seluruh kota terbius. Manusia gua gentayangan. Benar-benar aneh." "Kita mempunyai cetakan jejak berjari empat itu," ujar Jupe. "Mungkin dapat dimanfaatkan. Hmm," Jupe berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kita tanyakan pada DR. Brandon. Ia kan ahli arkeologi. Pasti ia dapat mengenali jejak apa yang kita peroleh itu." "Tapi, mana mau DR. Brandon mengurusi jejak di padang rumput," kata Bob. "Ia kan orang sibuk." "Kita coba saja. Kukira dia akan tertarik. Apalagi jejak ini kita temukan setelah malamnya John the Gypsy mengaku melihat manusia gua gentayangan." "Oke," sahut Bob menyetujui. "Tidak ada salahnya dicoba." Dengan terburu-buru anak-anak menghabiskan makan malam mereka, lalu kembali ke gudang McAfee untuk mengambil cetakan jejak berjari empat. Mereka segera menuju Yayasan Spicer. James Brandon sedang berada di ruang kerjanya. Brandon sedang duduk di mejanya yang penuh dengan tumpukan kertas dan buku. Ia melotot melihat anak-anak datang ke ruang kerjanya. Anak-anak masuk dengan perasaan waswas. Tetapi

http://inzomnia.wapka.mobi

ketika melihat DR. Brandon menutup bukunya, mereka lega karena ternyata DR. Brandon tidak marah. Ia cuma sedang asyik mempelajari buku-bukunya. "Well?" kata Brandon. "Ada apa?" "Kami ingin minta saran," kata Jupiter, "dan mungkin informasi. DR. Brandon, kami tinggal di loteng gudang McAfee. Dari sana kami dapat melihat museum manusia gua dengan jelas. Tadi malam ada suatu peristiwa yang cukup mengejutkan." Jupiter lalu menceritakan pengalaman John the Gypsy, dan penemuan jejak berjari empat di padang rumput keesokan paginya. "Tentu saja jejak itu mustahil berasal dari manusia gua," kata Jupe. "Tetapi kalau begitu itu jejak siapa? Dengan pengalaman dan keahlian Anda, mungkin Anda bisa menolong kami." Brandon tersenyum. "Kalian bicara seperti detektif saja. Well, kalau kalian mau tahu," lanjutnya sambil memandang sekilas pada cetakan jejak itu, "ini bukan jejak manusia prasejarah. Ini jejak manusia biasa. Ia pasti biasa memakai sepatu. Kalau orang tidak biasa memakai sepatu atau sandal, kakinya akan melebar dan jarak jari-jarinya merenggang. Tapi kaki ini tidak melebar, dan jarak jari-jarinya rapat, bahkan ada yang terdorong ke atas. Pasti orang ini sering memakai sepatu." "Lalu, apa yang dilihat John the Gypsy kalau begitu?" tanya Bob. "Ia bilang makhluk itu berambut panjang acak-acakan dan menyeramkan." James Brandon mengerutkan keningnya. "Manusia gua itu tidak mempunyai rambut lagi. Aku tak tahu apa persisnya yang dilihat oleh John the Gypsy, tetapi yang jelas jejak itu bukan jejak manusia gua. Jejak itu terlalu kurus dan besar."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Terlalu besar?" Pete nampak bingung. "Jejak itu kecil! Cuma sembilan inci!" "Manusia primitif itu sangat kecil," Brandon menjelaskan. "Aku sempat mengukur fosil di gua itu. Dari ukuran tulangnya, aku taksir tingginya tak lebih dari sembilan puluh lima sentimeter. Itu tak lebih dari tiga kaki. Sedangkan orang yang membuat jejak ini paling sedikit lima kaki tiga inci tingginya." Brandon mendekati sebuah lemari yang menempel di dinding. "Waktu aku di Afrika," katanya, "aku sangat beruntung dapat menemukan sebuah fosil yang masih cukup lengkap. Umurnya hampir dua juta tahun. Yang itu lebih kecil sedikit dari ukuran manusia gua. Akan kutunjukkan pada kalian." Brandon membuka pintu lemari itu lebar-lebar. Lalu ia berdiri terpaku. Mulutnya ternganga. "Hilang!" bisiknya. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Lalu berteriak. "Hilang! Dicuri! Hominid-ku dicuri orang!" Bab 14 CATATAN DR. BIRKENSTEEN JUPITER berhasil membalas mengerjai Newt McAfee malam itu. Ia bilang kota Citrus Groove tidak lagi sangat ramai sehingga tempat perkemahan lebih kosong. Mereka bertiga akan berkemah saja. Dengan terpaksa McAfee menurunkan tarif menginap di gudangnya dari sepuluh dolar menjadi tiga dolar per malam. Anak-anak membayar tiga dolar malam itu, lalu mereka masuk ke gudang sambil tertawa geli.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sambil berbaring, mereka merenungkan kembali peristiwa hari itu. Akhirnya Pete memulai. "Semakin tak masuk akal saja. Sepertinya sekarang ini lagi musim pencurian tulang-belulang." "Belum tentu fosil milik DR. Brandon dicuri dalam beberapa hari belakangan ini," kata Bob. "Ia sedang sibuk sekali. Sudah sekitar dua atau tiga bulan lemari itu tidak pernah dibukanya." "Jadi kira-kira sejak saat kematian DR. Birkensteen," ujar Jupe. Pete protes. "Itu lagi. DR. Birkensteen kan sudah meninggal. Kenapa orang mati dibawa-bawa? Dia kan tak punya urusan apaapa dengan fosil-fosil itu." "Siapa bilang ia tak punya urusan apa-apa?" tukas Jupe. "Kalau memang begitu, mengapa Eleanor Hess seolah-olah menyembunyikan sesuatu pada kita. Mestinya kan ia tahu pasti alamat yang dituju DR. Birkensteen di Jalan Harborview Lane itu." "Tepat!" sahut Bob. "Ada yang disembunyikan Eleanor. Ia tak pernah berani memandangmu langsung ketika berbicara mengenai masalah ini." "Dan mengapa sebagian catatan harian DR. Birkensteen hilang?" Jupe penasaran. "Apa isi catatan itu? Apakah dia menyobeknya sendiri? Tapi buat apa? Atau orang lain yang menyobeknya? Mengapa?" "He!" seru Pete seraya berdiri. "Mungkin DR. Birkensteen hendak menghubungi seseorang di Rocky Beach. Lalu ia mengatakan sesuatu tentang manusia gua pada orang itu. Lalu timbul ide untuk mencurinya di benak orang itu. Mungkin sekali, kan? Kenapa kita selalu curiga pada penduduk kota Citrus

http://inzomnia.wapka.mobi

Groove? Padahal kan banyak pendatang dari kota lain akhirakhir ini?!" "Itu memang mungkin," kata Jupe. "Tetapi ingat, DR. Brandon mengumumkan penemuan manusia gua itu setelah DR. Birkensteen meninggal." "Oh, iya," Pete terduduk menyadari kekeliruannya. "Namun mungkin masih ada hubungannya," kata Jupe. "Kita saja yang belum tahu. Ah, kalau saja kita tahu apa isi catatan yang hilang itu. Dan aku jadi ingin sekali mengetahui catatancatatannya yang lain. Mungkin itu bisa memberi petunjuk." "Atau mungkin ada petunjuk dari Rocky Beach," Bob melanjutkan dengan bergairah. "Aku tahu Jalan Harborview Lane. Aku punya akal untuk menanyai orang-orang yang tinggal di jalan itu. Akan kutanyakan apakah tas milik almarhum DR. Birkensteen tertinggal di sana. Tas itu hilang saat ia ke sini di bulan Mei yang lalu. Padahal sih, DR. Birkensteen tidak sempat mengunjungi siapa-siapa di Rocky Beach. Tapi mudah-mudahan saja ada orang yang kenal dengannya. Oke, kalau begitu aku akan kembali ke Rocky Beach besok pagi dengan bis." "Bagus sekali," seru Jupe. "Aku sendiri akan ke yayasan untuk mencoba menyelidiki catatan kerja DR. Birkensteen. Semoga DR. Brandon mau membantu." "Dan aku akan ke Centerdale!" seru Pete. "Ada apa di Centerdale?" tanya Bob. "Tak tahu, ya," jawab Pete. "Tapi kan surat ancaman itu dikirim dari sana. Mungkin ada petunjuk yang bisa kuperoleh di sana." "Bagus, besok pagi kita akan menyebar untuk mencari petunjuk," kata Jupe. Ia lalu memejamkan matanya sambil menghitung dentang jam di menara gereja yang baru saja

http://inzomnia.wapka.mobi

berbunyi. Belum selesai menghitung, ia sudah terlelap. Pulas sekali. Rasanya baru semenit ia tidur, ketika Pete mengguncang-guncang badannya. "Bangun! Bangun!" kata Pete. "Sudah hampir jam delapan!" Bob sudah bangun lebih dulu. Jupe dan Pete menggabungkan diri dengannya di keran air di bawah. Ketiganya mencuci muka sambil menggigil di pagi yang dingin itu. Anak-anak sarapan di kantin dengan tergesa-gesa. Begitu selesai, mereka langsung berpisah. Jupe segera pergi ke Yayasan Spicer. Pintu depan sedang terbuka. Ia dapat mendengar suara Mrs. Coolinwood di dalam. "Aku yakin barang ini tidak berada di sini kemarin," kata Mrs. Coolinwood. "Aku kan selalu mengeceknya." Jupe melongok. Mrs. Coolinwood sedang di ruang tamu. Pagi ini ia mengenakan wig coklat tua yang panjangnya sampai ke bahu. "Sudah kubilang kau jangan teledor menaruh barang," kata seorang wanita lain. Ia mengenakan seragam biru dan rok kerja putih. Sambil memandangi Mrs. Coolinwood bercermin dan membenahi wignya, ia berkata lagi, "Lagi-lagi kau teledor menaruh wigmu di ruang tamu ini." "Tidak mungkin!" seru Mrs. Coolinwood bersikeras. "Masa wig saja lupa menaruhnya." Wanita itu melanjutkan mengelap barang-barang. Saat itu Mrs. Coolinwood baru menyadari kehadiran Jupe di depan pintu. "Eleanor belum datang," kata Mrs. Coolinwood. "Aku mencari DR. Brandon, Ma'am, "Jupe mengoreksi. "Ada?" "Kau sudah tahu kamarnya, kan?" kata Mrs. Coolinwood. "Datangi saja kalau kau berani."

http://inzomnia.wapka.mobi

Jupe mengucapkan terima kasih padanya, dan menuju kamar kerja DR. Brandon. Belum sampai di sana, Jupe sudah dapat mendengar suara DR. Brandon. Ahli arkeologi itu sedang berteriak-teriak. Terdengar pula suara berdebam dari arah kamarnya, seakan-akan ia sedang melempari barang-barangnya. Jupe ragu-ragu di depan kamar itu. Ia bimbang untuk mengetuk pintunya. Tahu-tahu pintu terbuka. "Ada apa?" bentak Brandon ketika melihat Jupe. "Mau apa kau di sini?" Jupe gelagapan menghadapi bentakan Brandon. "Kau jangan membuat anak itu gemetaran dong," kata seseorang dari dalam kamar Brandon. Terreano nampak duduk dengan tenangnya di kursi dekat meja Brandon. Brandon menarik napas dengan cepat seperti hendak berteriak lagi, tetapi tiba-tiba ia tersenyum. "Maaf," katanya. "Mari masuk." Jupe masuk. "Untung ada DR. Terreano," pikirnya. Di lantai berserakan buku dan kertas. Meja mesin tik terbalik. Kamar itu seperti kapal pecah. DR. Terreano tersenyum pada Jupe. "Maklum saja. Beginilah cara DR. Brandon melampiaskan rasa marahnya." Muka Brandon memerah. Ia mengangkat meja mesin tik dan membetulkan posisinya dekat meja kerjanya. Lalu ia mengambil mesin tik dari lantai. Tutupnya jatuh ketika diangkat. "Brengsek!" umpat Brandon. "DR. Brandon tak pernah melukai orang," kata Terreano, "tapi sering berlaku kasar terhadap barang-barang miliknya." "Siapa yang tidak keki?" Brandon mengumpat lagi. "Si McAfee gendut itu sembarangan menuduhku. Aku dituduhnya mencuri manusia guanya, lalu mengirim surat ancaman dengan tulisan

http://inzomnia.wapka.mobi

yang sengaja dijelek-jelekkan. Lalu ia menuduh aku sengaja menyembunyikan fosil milikku agar orang terkecoh mengira dicuri orang lain. Seenaknya saja si Gendut itu." Mata Brandon memerah. "McAfee baru saja meneleponku dan bilang begitu. Akan kuhajar dia!" "Jim, tak seorang pun percaya bahwa kau pencurinya," kata Terreano. "McAfee memang lagi sewot karena manusia guanya lenyap." "DR. Brandon, mencurigakan ya, fosil milik Anda itu dicuri juga," ujar Jupe. "Bukan mencurigakan," seru Brandon. "Itu perbuatan busuk!" "Mungkinkah ada pencuri lain yang terlibat?" tanya Jupe. "Siapa saja yang tahu tentang fosil milik Anda itu?" Brandon tersentak. "Astaga! Kau benar! Aku tidak mengumumkan fosil milikku pada siapa-siapa di kota ini. Well, beberapa orang di yayasan tahu. Mrs. Coolinwood. DR. Terreano ini." "Eleanor Hess?" tanya Jupe. "Gadis kecil serba tertutup itu?!" kata Brandon. "Ia tak punya nyali untuk mencuri seandainya ia tahu bahwa aku punya hominid. Tapi, tapi... sebentar... aku ingat ia pernah memperhatikanku. Ya, ya, betul. Ia memperhatikanku dari balik lemari. Aneh sekali pandangannya." Terreano tertawa. "Kau tak tahu, ya?" ujarnya. "Ia takut sekali padamu. Kalau kau berada di dekatnya, ia pasti jadi gugup. Ia kan masih muda sekali." "Aku baru tahu," Brandon merasa tidak enak. "Begitu, ya?" Mukanya makin memerah. "Eleanor Hess berada dalam posisi yang tidak menguntungkan," kata Jupe. "Ia tahu banyak tentang yayasan ini, dan ia juga tahu tentang kediaman McAfee."

http://inzomnia.wapka.mobi

Brandon memandang Jupe sambil memicingkan matanya. "Kelihatannya kau tertarik sekali pada kasus ini. Mengapa?" tanyanya. "Karena kami detektif," jawab Jupe dengan wajah bangga. "Detektif?" Brandon tersenyum mengejek. "Ya," jawab Jupe sambil mengeluarkan kartu kecil dari kantungnya. "Ini," katanya sambil menyerahkan kartu itu pada Brandon. Di situ tertulis: TRIO DETEKTIF "Kami Menyelidiki Apa Saja" ? ? ? Penyelidik Satu - Jupiter Jones Penyelidik Dua - Peter Crenshaw Data dan Riset - Bob Andrews "Hm. Mengesankan sekali!" kata Brandon. Ia memperlihatkan kartu itu pada Terreano sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kami bukan amatiran, Mr. Brandon," kata Jupe dengan wajah serius. "Kami telah memecahkan kasus-kasus yang membingungkan orang-orang yang lebih tua dari kami. Biasanya kami bertindak atas nama klien kami. Tapi kali ini kami tidak punya klien. Meskipun demikian, karena kasus ini unik sekali, kami beranggapan kasus ini perlu kami selesaikan." "Kita dapat bekerja sama kalau begitu," kata Brandon dengan tulus. "Baiklah, Kawan muda, aku sependapat denganmu bahwa Eleanor patut dicurigai karena posisinya. Ia bekerja di yayasan ini, dan sekaligus keponakan McAfee. Tapi ia tak punya cukup keberanian untuk mencuri." "Ia bersahabat dengan DR. Birkensteen," kata Jupe. "Mungkinkah ada kaitan antara pencurian manusia gua dan kunjungan DR. Birkensteen ke Rocky Beach?" "Itu terjadi hampir tiga bulan yang lalu!" tukas Terreano. "Saat itu manusia gua belum ditemukan!"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Meskipun begitu," lanjut Jupe, "tahukah Anda mengapa DR. Birkensteen berkunjung ke Rocky Beach?" Brandon mengernyit. "Tidak. Dia tak pernah bicara soal itu." "Aku kira Eleanor tahu," kata Jupe, "tapi ia juga tak pernah mau bicara soal itu. Dan ada beberapa halaman yang hilang dari catatan harian DR. Birkensteen. Catatan pada akhir April sampai awal Mei. Aku sangat ingin tahu catatan-catatannya yang lain. Bolehkah aku melihatnya? Mungkin ada yang dapat dijadikan petunjuk." Brandon memandang Terreano. Ia lalu mengangguk. "Semuanya masih tersimpan di kamar almarhum," katanya pada Jupiter. "Belum ada yang dipindahkan." Mereka meninggalkan kamar kerja Brandon menuju laboratorium mendiang DR. Birkensteen. Terdapat catatan yang tersusun rapi. Dengan apik catatan itu disimpan dalam map-map yang diberi tanda bertuliskan "Waktu Reaksi", "Latihan Ketangkasan", dan "Kecakapan Berkomunikasi". Ada buku-buku catatan berisi laporan eksperimen dengan reaksi kimia, sinar-X, dan banyak lagi yang judulnya saja tidak dimengerti oleh Jupe. "Kita harus memanggil seorang ahli genetika untuk menerangkan arti catatan-catatan ini," kata Terreano. Jupe mengangguk sambil membolak-balik catatan-catatan itu. Beberapa saat kemudian Jupe berkata. "Aneh, tidak ada catatan sama sekali tentang eksperimen setelah tanggal 1 April." Brandon memperhatikan buku yang dipegangnya. "Benar," ujarnya. "Catatan terakhir di buku ini bertanggal 25 Maret."

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka memeriksa buku demi buku yang terdapat di sana. Tidak ada satu pun yang dibuat setelah tanggal 1 April. "Padahal ia tak pernah berhenti bereksperimen," kata Brandon keheranan. "Ia bekerja tiap hari. Dan ia selalu bekerja dengan rapi. Tidak pernah ada yang luput dari catatannya. Ke mana catatan-catatan itu?" "Ya, ke mana?" sahut Jupe. "Catatan hariannya pun demikian." Di meja kerja terdapat setumpuk majalah. Jupe mengambil satu lalu mulai membukanya halaman demi halaman. Ada kertas pembatas yang diselipkan di antara halaman majalah itu. Majalah itu bercap "Milik Perpustakaan Negara Bagian California". "DR. Birkensteen mempelajari pengaruh Natrium Pentothal pada fungsi otak," kata Jupe. "Natrium Pentothal adalah zat anestesi-pemati rasa," kata Terreano. "Kalau terhirup akan menyebabkan orang tak sadarkan diri." Jupe mengambil majalah lainnya. Di dalamnya terdapat artikel tentang oksida nitrogen. "Anestesi lagi," kata Brandon. "Ini memang banyak digunakan dalam pembedahan." Selalu dijumpai artikel tentang anestesi dalam tumpukan majalah itu. "Lumrah saja," kata Terreano. "Ia mengoperasi simpanse-simpansenya. Ia butuh anestesi." "Dan kemarin seluruh kota terbius," gumam Jupe perlahan. Mereka melanjutkan pemeriksaan dalam laboratorium itu. Tidak dijumpai setitik pun zat yang dapat digunakan sebagai anestesi. Tidak ada ether, tidak ada Natrium Pentothal. Bahkan tidak ada Novocain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ketika Jupe meninggalkan laboratorium, pikirannya dipusatkan pada Eleanor. Diakah yang mengambil catatan-catatan itu? Kalau ya, apa sebabnya? Ia sangat tertutup dan kelihatan lemah, tak mungkin terlibat dalam kasus pencurian. Tetapi, benarkah ia memang lemah dan tertutup? Bab 15 PERSOALAN SEMAKIN RUNYAM SAMPAI tengah hari Pete Crenshaw tidak memperoleh hasil apa-apa. Centerdale sedikit lebih besar dari Citrus Groove, tetapi tidak banyak perbedaannya. Ada dua supermarket dan empat pompa bensin di kota itu, sedikit lebih banyak dari yang terdapat di Citrus Groove. Bis yang dinaiki Pete berhenti di depan Hotel Centerdale. Tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Dan sesungguhnya, Pete sendiri tak tahu persis apa yang hendak dilakukannya. "Tahu begini aku lebih baik menemani Jupe ke Yayasan Spicer," pikir Pete sambil menghela napas. Baru saja berpikir begitu sebuah mobil tua penuh debu melewatinya di jalan. Mobil itu membelok di sebuah tikungan, tak jauh dari lokasi Pete berdiri. Frank DiStefano yang mengendarainya. Pete berlari cepat ke tikungan itu. Ia melihat DiStefano meminggirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang kotor tak terawat. DiStefano masuk ke rumah itu membawa bungkusan berwarna coklat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pete menunggu. Tak lama kemudian DiStefano keluar dan langsung menuju mobilnya. Ia memutar mobilnya, dan mengendarainya ke arah Pete. Pete cepat-cepat membuang muka ketika DiStefano melewatinya. Setelah mobil DiStefano jauh, Pete berjalan mendekati rumah yang dihampiri DiStefano itu. Di depannya Pete berdiri memandanginya. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Tahu-tahu seorang wanita bertubuh montok berambut pendek muncul di pintu. "Kau perlu sesuatu?" tanya wanita itu. "Tidak, Ma 'am, " kata Pete. Ia bengong sebentar. Lalu nyengir. "Saya cuma ingin ikut dengan DiStefano kalau dia ke Citrus Groove. Itu kalau ia kembali lagi ke sini. Barusan saya melihatnya mengendarai mobil." "Oh, harusnya kaupanggil saja dia tadi," kata wanita itu. "Kelihatannya ia tak kembali lagi hari ini." Wanita itu melihat dengan rasa kasihan pada Pete. "Kau bisa naik bis ke Citrus Groove. Kau punya uang?" kata wanita itu dengan iba. "Aku punya uang," sahut Pete. "Tapi kalau ada teman ke sana kan lebih enak." "Oke, kalau begitu." Wanita itu lalu membuka atap terpal yang menutupi mobilnya, lalu mengangkat sebuah kardus berisi bahan-bahan makanan. Dengan sigap Pete membantu. "Terima kasih," kata wanita itu sambil menunjukkan jalan ke dalam rumah. "Anda Mrs. DiStefano?" tanya Pete. "Ibunya Frank? Oh, bukan. Aku ibu kostnya, pemilik rumah ini. Ia menyewa kamar padaku." Pete meletakkan kardus di meja dapur.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kau tinggal di Citrus Groove?" tanya wanita itu. Tanpa menunggu jawaban dari Pete ia langsung bertanya lagi, "Kau ikut mengalami kejadian aneh kemarin di sana, ketika seluruh kota terbius? Aku yakin, pasti ada sesuatu yang mencemari sumber air itu. Yang berwajib harus segera menyelidikinya." "Sudah," sahut Pete. "Mereka menyelidiki air itu di laboratorium kriminal mereka. Tapi tak ada apa-apa dalam air itu." Wanita itu menggeleng. "Aneh tapi nyata. Tapi si Frank itu keterlaluan. Masa kemarin ia sakit. Seperti tidak ada hari lain saja untuk sakit. Ia jadi tidak ikut mengalami peristiwa langka itu. Sepanjang pagi ia tidur saja di rumah, bersin melulu kerjanya. Kalau ia tidak sakit kan aku bisa dengar cerita tentang kejadian itu darinya. Di sini ia cuma tidur saja tak tergerak sambil menyelimuti tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tadinya aku ingin ke Citrus Groove sendiri untuk melihat manusia gua itu, tapi tidak jadi. Habis semua tempat penginapan penuh sih." "Memang, kami saja menginap di loteng gudang," kata Pete sambil keluar dari dapur. "Siapa namamu?" tanya wanita itu. "Barangkali saja Frank akan menanyakan siapa tamunya, biasanya sih tidak." "Pete," jawab Pete. "Mungkin ia sudah lupa pada saya." "Tidak apa-apa, akan tetap kukatakan padanya," janji wanita itu. Setelah permisi, dengan gesit Pete menuju jalan utama. Di depan Hotel Centerdale ia naik bis menuju Citrus Groove. Pete menjumpai Jupe sedang duduk di ayunan tua di halaman belakang rumah McAfee. Jupe mendengarkan laporan dari Pete tentang Centerdale.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jadi Frank DiStefano memang sakit kemarin pagi," kata Jupe sambil menghela napas. "Kalau begitu ia tidak bisa dicurigai sebagai pencuri manusia gua itu. Ia tidak berada di taman kemarin pagi, tetapi ternyata ia mempunyai alibi lain." Jupe mengangkat bahunya. "Lenyaplah satu kemungkinan." Pete duduk berselonjor di rumput. Jupe berpikir sambil mengerut-ngerutkan keningnya. Alis mata Jupe nampak naik turun kalau ia sedang berkonsentrasi. Jam empat sore Bob baru kembali. "Bagaimana?" kata Jupe ketika Bob mendekat. "Birkensteen mempunyai janji dengan DR. Henry Childers waktu itu," ujar Bob dengan penuh kebanggaan. "Childers tinggal di Harborview Lane. Ia ahli anestesi dan praktek di Rumah Sakit Brendan di Santa Monica. Waktu aku tanyakan apakah tas DR. Birkensteen tertinggal di sana, ia terkejut setengah mati seperti tersengat tawon. Ia telah menunggu Birkensteen sepanjang hari itu, namun Birkensteen tak kunjung datang. Belakangan baru ia tahu bahwa Birkensteen telah meninggal." "Ahli anestesi?" tanya Jupe. "Ia temannya Birkensteen?" "Bukan. Ia dan Birkensteen punya seorang teman di Universitas California Los Angeles. Orang itu yang menceritakan pada Birkensteen tentang DR. Childers. DR. Childers dan orang itu sama-sama tidak tahu keinginan Birkensteen yang sebenarnya. Menurut DR. Childers, tampaknya Birkensteen sangat menggebu-gebu ketika membuat janji untuk menemuinya di Harborview Lane. Ini super menarik bahwa ia ahli anestesi. Kutanyakan apakah ia tahu suatu zat yang dapat membius seluruh kota seperti yang terjadi di Citrus Groove."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah!" seru Jupe sambil bangkit. "Apa katanya?" "Tidak ada. Ia telah mendengar berita tentang kejadian di Citrus Groove, tapi ia bilang tidak ada zat yang mempunyai efek seperti itu." "Hhh!" Jupe terduduk kembali. Saat itu Eleanor keluar dari pintu belakang menuju gudang. Ia masih sempat mengangguk pada anak-anak. Pamannya menyusul keluar. "Ellie, mau ke mana kau?" seru Newt. "Dorris Clayton mengajak saya makan malam," kata Eleanor. "Well, jangan malam-malam pulangnya," Newt mengingatkan. Pick-up berderung. Eleanor keluar dari gudang mengendarainya. Newt masih mengawasinya dari teras belakang. Jupe bangkit meninggalkan ayunan itu. Ia berdehem sehingga McAfee menoleh. "Aku ingin tahu," kata Jupe, "apakah si pencuri sudah mengirim berita lagi?" "Belum!" McAfee sewot. "Sekalipun sudah, kau tidak akan kuberi tahu." Ia masuk sambil membanting pintu. Anak-anak menghabiskan waktu dengan makan di Kantin Lazy Daze dan berjalan-jalan keliling kota. Anestesi menjadi topik pembicaraan yang hangat malam itu. Eleanor baru pulang lewat tengah malam. Di loteng gudang anak-anak mendengar dengan jelas derungan truk masuk gudang. Ia disambut teriakan McAfee yang menanyakan ke mana saja gadis itu pergi. Setelah Eleanor masuk, terdengar suara pintu dibanting. Sayup-sayup terdengar bentakan McAfee dan tangisan Eleanor. "Astaga!" kata Pete. "Berapa sih umurnya? Masa masih diperlakukan seperti anak kecil begitu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sebenarnya ia sudah cukup umur untuk hidup mandiri," kata Bob. Akhirnya suara-suara ribut dari rumah berhenti. Anak-anak baru bisa tidur setelah itu. Senin pagi-pagi sekali mereka sudah bangun dan keluar. Sehabis sarapan mereka menelepon Les Wolf menanyakan kepastian rencana kembali ke Rocky Beach. Untung Les Wolf menunda kepulangannya sehari, masih ada yang harus diselesaikannya di Citrus Groove. Anak-anak sedang menyusuri jalan utama ketika Eleanor melewatinya dengan naik pick-up. Ia berhenti di pompa bensin. "Pasti jauh juga ia berkeliling dengan teman wanitanya semalam," kata Bob. "Aku melihat McAfee baru kemarin mengisi bensin mobil itu, dan jika sekarang bensinnya telah kosong lagi berarti..." Bob terdiam. Bel di pompa bensin telah berbunyi untuk kedua kalinya. Eleanor mematikan selang pompa dan meletakkannya pada mesin pompa. Setelah membayar ongkos, Eleanor bergegas pergi. "Sepuluh liter lebih," ujar Jupe sambil memperhatikan Eleanor pergi. "Itu cukup untuk empat puluh kilometer dengan mobil seperti itu. Jarak ke Centerdale pulang-pergi." "Barangkali teman wanitanya tinggal di Centerdale," kata Pete. "Atau ia pergi menemui temannya yang lain. Ia mengisi tangki bensin penuh-penuh supaya tidak ketahuan oleh pamannya." Jupe meringis. "Tidak ada alasan untuk curiga seperti itu," katanya. "Sama sekali tidak ada alasan untuk mencurigainya. Kita jangan berspekulasi. Mungkin lebih bijaksana, dan lebih efisien, untuk menanyainya langsung secara terbuka dari hati ke hati."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Percuma," kata Bob, "kita pernah mencobanya, kan? Waktu itu saja ia berbohong. Ia bilang tidak tahu apa-apa tentang perjalanan ke Rocky Beach." "Mungkin waktu itu ia malu menceritakannya pada kita bertiga. Aku yakin ia tidak dapat menyimpan rahasia itu selamanya. Ia perlu orang yang dapat dijadikan tempat mencurahkan isi hatinya. Tidak ada salahnya untuk mencoba lagi, kan?" "Memang tidak salah," kata Bob, "tapi kali ini kau sendiri sajalah yang menanyainya. Paling-paling ia menangis lagi. Aku tak tahan melihatnya menangis. Dan aku tak ingin kita terlihat seperti berkomplot dengannya." "Sepakat!" kata Jupe singkat. Eleanor sudah pergi ke yayasan ketika anak-anak sampai di rumah McAfee. Sesuai dengan kesepakatan, Jupe seorang diri yang menyusul ke yayasan untuk menanyai Eleanor. Baru saja hendak memijit bel, ia mendengar Eleanor berteriak. "Apa? Terlambat?" seru Eleanor. "Tidak mungkin terlambat!" Jendela ruang tamu itu terbuka. Jupe mendekat dan mengintip. Tidak ada siapa-siapa. Cuma ada kepala-kepala hewan buruan yang diawetkan saja yang memandang dengan tatapan kosong. "Aku tak peduli sudah berapa kali ia kauhubungi," seru Eleanor. "Hubungi lagi dia. Katakan padanya ini cuma main-main!" Jupe ingat bahwa ada telepon di lorong di samping laboratorium. Eleanor tentu menggunakan telepon itu. "Kau pembohong!" teriak Eleanor. "Kau bohong. Kau tidak peduli apa yang terjadi padaku!" Sepi sejenak. Lalu Eleanor berkata lagi, "Baik kalau begitu, tunggu saja balasanku." Telepon itu dibanting. Jupe menjauh dari jendela. Sedetik kemudian pintu depan terbuka. Eleanor keluar. Tangannya mengepal dan bibirnya

http://inzomnia.wapka.mobi

dikatupkan rapat-rapat. Tanpa menengok ke kanan-kiri ia melangkah menuju pintu gerbang. Jupe mengikuti dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Setengah jalan, ia melihat Eleanor membuka pintu gudang McAfee. Pete dan Bob muncul di jendela loteng sewaktu pickup mundur keluar. Eleanor memutar, lalu mengebut menuju kota. Pete dan Bob keluar gudang ketika Jupe sampai di sana. "Ke mana dia?" tanya Pete. "Aku tak tahu," sahut Jupe. "Ia sedang marah. Nampaknya ia nekat mau melakukan sesuatu." "Bukan hanya dia yang nekat," kata Bob. "Newt McAfee juga. Sepuluh menit yang lalu ia keluar dengan wajah tegang. Istrinya marah-marah padanya. Ia bilang sudah cukup banyak uang yang dikeluarkan untuk membiayai museum itu. McAfee seolah tak mendengarnya. Ia berjalan terus menuju kota." "Tebusan," ujar Jupe setelah terdiam sejenak. "Ia akan membayar tebusan itu! Si pencuri menang juga akhirnya!" Bab 16 KEJUTAN BESAR "CEPAT!" seru Jupe. "Kita lihat bagaimana McAfee menyerahkan uang tebusan itu!" Ia berlari-lari menuju kota. "Bagaimana caranya?" tanya Pete sewaktu berhasil menyusul Jupe. "Ia tak bawa mobil." "Itulah yang ingin kita lihat," jawab Jupe sambil terengah-engah. "Kita harus cepat!" Anak-anak sedang menyeberangi taman ketika mereka melihat McAfee keluar dari Kantin Lazy Daze. Mr. Carlson, pemilik

http://inzomnia.wapka.mobi

kantin, menemaninya. Juga dua orang lagi. Jupe mengenali salah satunya sebagai pemilik apotek. Keempat orang itu bergegas menuju bank. Seseorang dari motel tampak datang bergabung dengan tergopoh-gopoh. "Tepat seperti dugaanku," ujar Jupe. "Seluruh pengusaha di kota ini bergabung untuk membayar tebusan demi manusia gua itu." Jupe duduk di salah satu tempat duduk di taman. Melalui kaca bank, Jupe masih dapat melihat manajer bank itu berbicara dengan serius kepada kelima orang itu. Manajer itu berjabat tangan dengan Newt, lalu mereka segera masuk ke sebuah ruangan di dalam bank itu. "Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Bob. "Menunggu saja," sahut Jupe. "Tidak akan lama kita menunggu." Lima menit kemudian, saat jam gereja berdentang sepuluh kali, Newt McAfee keluar dari bank. Ia membawa sekantung uang. Pemilik kantin mendampinginya. "Aha!" seru Jupe. McAfee dan pemilik kantin menuju pojok taman dekat kantin. Mereka masuk ke sebuah mobil VW yang diparkir di situ, lalu pergi. "Firasatku mengatakan bahwa mereka tak akan lama pergi," kata Jupe. Ia memberi isyarat ke arah bank. Dua orang yang menemani McAfee tadi keluar ditemani manajer bank. Mereka menunggu di trotoar dengan gelisah. Lalu mereka masuk ke Kantin Lazy Daze, dan duduk di dekat kasir. Jam berdentang lagi. Jam sepuluh lima belas. Lalu jam sepuluh tiga puluh. Saat itu Newt dan pemilik kantin kembali dengan kendaraan yang sama. Mereka langsung masuk ke kantin. McAfee sudah tidak lagi membawa kantung uang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Jupe ragu-ragu untuk menemui mereka. Ia hanya mondarmandir di taman sambil sesekali melirik ke kantin. Bob dan Pete hanya memandangi tingkah laku Jupe, menunggu apa yang hendak dilakukannya. "Percuma kita capek-capek kalau menemui mereka saja tidak berani," seru Jupe sambil melangkah tegap ke arah kantin. Kedua temannya segera menyusul. Kecuali McAfee dan rekan-rekannya, hanya ada seorang kasir dan seorang pelayan di kantin, ketika anak-anak masuk. McAfee melihat anak-anak, lalu membuang muka. Jupe, Pete, dan Bob mengambil meja di seberang meja McAfee. Sambil tersenyum Jupe mengangguk ke arah McAfee. "Anda sedang menunggu telepon dari si pencuri?" tanya Jupe dengan yakin tapi sopan. McAfee ternganga. "Anda baru membayar tebusan itu, bukan?" Jupe melanjutkan. McAfee melompat dari kursinya. Dengan kedua tangannya dipegangnya kerah baju Jupe. "Dari mana kau tahu?" serunya dengan nada mengancam. "Kau... kau pasti berkomplot dengan pencuri itu! Kau memata-mataiku selama ini!" Jupe tidak melawan. Dengan tenang ia berkata, "Aku tidak berkomplot dengan siapa pun." "He, Newt, tenanglah," kata pemilik kantin. McAfee menggeram, tetapi Jupe dilepaskannya juga. "Perkara kriminal itu kegemaranku, dan juga kawan-kawanku," ujar Jupe kalem. "Bahkan lebih dari sekadar kegemaran. Ini pekerjaan kami. Kami tidak pernah menyetujui perbuatan kriminal. Malah kami mencoba memecahkannya. Sering kali kami berhasil." "Anak ingusan!" umpat McAfee.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Apakah pencuri itu akan memberi tahu di mana tulangbelulang itu diletakkan?" lanjut Jupe tanpa memperhatikan umpatan McAfee. McAfee diam saja, tetapi pemilik kantin menjawab. "Kami... kami tidak yakin. Kami cuma bisa berharap." Jupe mengangguk-angguk. Ia mondar-mandir sambil memandang ke bawah. Sesekali dipegangnya bibirnya. Memang selalu begitu jika ia sedang berkonsentrasi. "Andaikan seseorang menemukan uang itu," akhirnya manajer bank itu berkata. "Andaikan seseorang yang sedang berpiknik secara kebetulan menemukan uang itu dan..." "Diam!" teriak McAfee. Ia tegang sekali. Keringat dingin mulai mengucur dari wajahnya. Sambil bertopang dagu Bob berpikir di mana kira-kira orang menyembunyikan manusia gua. "Dalam bioskop," katanya. "Penjahat selalu menyimpan barang curiannya justru di tempat yang umum, seperti di terminal bis. Tidak akan ada orang yang curiga. Tetapi di sini tidak ada terminal bis, ya." "Ada stasiun kereta api!" seru Jupiter. Untuk sesaat mereka tercengang. McAfee dan pemilik kantin bergegas keluar dan melihat ke arah stasiun di salah satu ujung taman. Tidak ada yang istimewa, stasiun begitu-begitu saja penampilannya-kotor dan berdebu. "Astaga!" tiba-tiba pemilik kantin berseru. Yang di dalam kantin semua menyerbu keluar. Dipimpin McAfee mereka berjalan menuju stasiun. Anak-anak mengikuti dari belakang. Begitu sampai, McAfee melongok melalui jendela yang dilapisi debu tebal. "Jangan!" seru Jupe. "Mungkin ada sidik j ari!"

http://inzomnia.wapka.mobi

McAfee surut ke belakang. Ia menuju pintu stasiun yang sudah lama tidak pernah dibuka. Dicobanya membuka pintu kayu itu. Sia-sia. Ditekannya gagang pintu dengan seluruh badannya. Gagang pintu itu malah patah. Dalam sekejap orang datang berduyun-duyun. Para pelayan supermarket, orang-orang di taman berlarian menuju stasiun. James Brandon dan Philip Terreano yang kebetulan sedang lewat segera memarkir mobilnya, lalu turun untuk melihat apa yang terjadi. Elwood Hoffer hanya berdiri di depan apotek, memperhatikan kerumunan orang di stasiun. McAfee mendobrak pintu itu. Berulang kali. Akhirnya terdengar suara berderak. Pintu itu terdobrak dan McAfee tersuruk ke dalam. Orang-orang menyerbu ke dalam stasiun. "Diam di tempat!" teriak McAfee dengan suara menggelegar. "Jangan sentuh apa-apa!" Semua terdiam. Hanya ada sebuah kopor lusuh di dalam, tergeletak di lantai di tengah-tengah ruangan. Di sekitarnya ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa pembawa kopor itu masuk melalui jendela. Pemilik kantin perlahan-lahan mendekati kopor. Dengan cepat dibukanya kopor itu. "Ahh!" serunya tertahan. James Brandon menyeruak di antara kerumunan. Ia melihat isi kopor itu; tulang-tulang berserakan dan sebuah tengkorak memandang ke atap stasiun. Brandon terkejut. Mukanya pucat, lalu merah padam. Ia mendorong McAfee. "Apa-apaan ini?" bentaknya. McAfee mundur terdorong. Wajahnya memancarkan kebingungan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Philip Terreano menggamit lengan Brandon. "Tenanglah, Jim," katanya, "biar aku yang mengurusnya." Ia menoleh pada McAfee. "Ada suatu... kekeliruan fatal," katanya. "Sepanjang pengetahuanku, tulang-tulang ini adalah hominid Afrika yang dibawa Jim Brandon ke sini, dan..." "Kau mencoba menipuku!" teriak McAfee. "Ini manusia guaku!" Brandon menahan dirinya. Dengan geram ia berkata, "Ada buktinya. Aku menempelkan label untuk menunjukkan tanggal dan lokasi penemuannya." "Mr. Carlson!" teriak seseorang dari luar. "Mr. McAfee!" Orang-orang memberi jalan pada kasir kantin. "Seseorang telah menelepon," lapornya. "Ia bilang Anda dapat menemukan tulang-belulang itu di kopor yang" -ia tergagap melihat isi kopor itu- "yang Anda temukan itu!" "Benar, kan?" seru McAfee. "Tulang-belulang ini berasal dari guaku. Tidak salah lagi. Pencurinya saja bilang begitu. Dari mana lagi kalau bukan dari guaku. Kecuali... kecuali kalau semua ini penipuan belaka!" McAfee melotot dengan marah. "Penipuan!" teriaknya. "Dari semula ini cuma penipuan! Semuanya!" McAfee menerjang Brandon dan mencoba mencekiknya. "Kau menaruh tulang-tulang itu di guaku!" jeritnya. "Kau cuma berpura-pura menemukannya! Kau cuma ingin dikenal orang. Kau memperalatku!" Terreano melerai kedua orang itu. "Stop, stop!" serunya sambil memegangi McAfee. Kepala polisi masuk. Saat itu sekilas Jupe dapat melihat DR. Hoffer di antara kerumunan orang. Hoffer sedang mengamati

http://inzomnia.wapka.mobi

Brandon. Matanya yang kecil dan hitam tampak bersinar-sinar. Senyum tersungging di bibirnya. Bab 17 JUPE MEMECAHKAN PERSOALAN "JAMES BRANDON telah mempunyai reputasi baik," ujar Terreano. "Ia tidak perlu melakukan penipuan untuk membuatnya terkenal. Ia sudah terkenal." "Masa bodoh dengan tetek-bengek itu," kata McAfee dengan sengit. "Siapa lagi selain pencuri itu yang tahu bahwa tulangbelulang ini ada di sini?" Jupiter melangkah maju. "Si pencuri memang yang meletakkan tulang-tulang ini," katanya dengan tenang. Brandon membelalak. "Jangan turut campur kau, Anak muda...." "Dengar!" seru Jupe. "Dengar dulu! Ini jelas sekali! Ada dua set fosil di kota ini. Benar?" "Benar," kata Brandon. "Pada malam sebelum hari pembukaan museum, Mr. McAfee menyewa seseorang yang biasa disebut John the Gypsy untuk mengawasi museum. John the Gypsy berjaga-jaga di dekat pintu masuk museum. Malam itu ia mengaku melihat manusia gua gentayangan. Ia ketakutan setengah mati sehingga membangunkan kami. Ia bilang manusia gua itu mengenakan rambut yang acak-acakan. "Apa pun yang dilihat John the Gypsy, itu pasti bukan manusia gua. Aku yakin bahwa John the Gypsy salah lihat. Ia melihat seseorang keluar dari gua, dan itu dikiranya manusia gua. Orang itu pasti mempunyai kunci museum, mungkin dicurinya pula dari dapur McAfee. Orang itu mengambil manusia gua dan

http://inzomnia.wapka.mobi

menukarnya dengan fosil hominid Afrika milik DR. Brandon yang disimpan di kantor DR. Brandon. Orang itu mengunci pintu kembali, lalu menghilang di hutan kecil di belakang rumah McAfee sambil membawa manusia gua." "Gila!" seru Newt McAfee. "Buat apa dia capek-capek berbuat begitu?" "Untuk mencemarkan DR. Brandon," sahut Jupe. "Cepat atau lambat tulang-tulang itu akan diselidiki oleh para ahli. Mereka akan segera menemukan bahwa tanda-tanda yang dibuat DR. Brandon-menunjukkan bahwa itu adalah hominid Afrika. Dan itu akan sangat mempermalukan DR. Brandon." Terreano menggeleng-geleng. "Tapi Brandon telah memotret manusia gua itu. Akan jelas terlihat bahwa memang ada dua set tulang-tulang purbakala. Satu yang disimpan Brandon, dan satu lagi yang dipotretnya di gua McAfee." "Dapatkah foto-foto itu dijadikan bukti?" ujar Jupe. "Tengkorak manusia gua itu sebagian masih terkubur. Foto yang dihasilkan tidak akan jelas. Orang dapat saja mengatakan DR. Brandon telah menaruh hominid Afrika-nya di sana." "Dan itulah yang dilakukannya!" seru McAfee. "Ia menaruh hominid-nya agar orang lain menemukannya. Aku dan kawankawanku yang akhirnya kena getahnya-sepuluh ribu dolar amblas begitu saja!" Ia berpaling pada Brandon. "Akan kuseret kau ke pengadilan!" ancamnya. Lalu pergi. Brandon menatap tajam. Lalu ia berlutut untuk mengambil tulang-tulang itu dari dalam kopor. "Maaf, DR. Brandon," kata kepala polisi. "Anda tidak dapat membawa tulang-tulang itu. Kami harus menahannya untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

sementara, berikut dengan kopornya untuk dijadikan barang bukti." Brandon menjadi masam mukanya. Dengan kesal ia berbalik, lalu pergi. Kerumunan orang mulai bubar. Trio Detektif juga keluar dan berkumpul dijalan utama. Pete nyengir. "Kau berhasil memecahkan problem ini!" serunya. "Belum tuntas," kata Jupe. "Aku baru menyajikan satu penjelasan. Masih banyak teka-teki yang harus dipecahkan. Siapa yang menukar fosil itu? Siapa yang membius kota? Siapa yang mengirim surat ancaman? Dan di mana fosil manusia gua itu saat ini berada? Sebelum masalah itu terjawab, tugas kita belum selesai." Anak-anak berjalan pulang. Baru beberapa meter, mereka dipanggil oleh Frank DiStefano. Ia sedang memarkir kendaraannya di pinggir jalan sambil memandangi orang-orang yang baru keluar dari stasiun. "He, apa yang terjadi?" tanya DiStefano dari dalam mobil. "Apakah mereka berhasil menangkap pencuri itu? Apakah McAfee dan rekan-rekannya sudah membayar tebusan?" "Tebusan sudah dibayar," kata Jupe, "pagi tadi." DiStefano mengangguk. "Bagus," ujarnya. "Sekarang semua pihak puas, kan?" "Tidak juga," sahut Jupe. "Ada beberapa permasalahan baru yang timbul." Tiba-tiba Jupe mendapat ilham. "Kau lihat Eleanor Hess?" tanyanya. DiStefano menggeleng. "Tidak. Kenapa?" "Ada yang ingin kutanyakan padanya," kata Jupe. "Mungkin ia pergi ke Centerdale. Kau akan ke sana?" "Ya. Mau ikut?"

http://inzomnia.wapka.mobi

DiStefano membukakan pintu dari dalam. Pete dan Bob meminggirkan peralatan selam yang terdapat di bangku belakang, lalu duduk di sana. Jupe duduk di samping DiStefano. DiStefano menghidupkan mesinnya, lalu mulai berjalan perlahan-lahan menghindari penyeberang jalan yang keluar dari stasiun. Setelah stasiun dilewati, ia mempercepat laju kendaraannya. Mereka melewati toko-toko, lalu sebuah kolam renang. Di menara luncur terlihat anak-anak kecil sedang menunggu giliran meluncur dengan tak sabar. "Senang sekali mereka," kata DiStefano. "Aku iri melihat mereka pandai berenang, aku sendiri tak bisa berenang." Sampai di batas kota DiStefano makin mempercepat kendaraannya. Jupe menengok ke belakang. Pete sedang memegang peralatan selam dengan heran. Ketika mengangkat kepala, ia bertemu pandang dengan Jupe. Jupe memberi kode dengan alisnya. Pete meletakkan kembali peralatan selam itu, lalu menyandar di bangkunya. Jupe menoleh pada DiStefano. Orang itu seperti tersenyum pada dirinya sendiri sembari mengemudi. Kadang-kadang ia bersiul perlahan. Ada beberapa benda di antara bangku Jupe dan DiStefanobungkus permen karet, kotak plastik tanpa tutup, kaleng kosong, dan amplop terbuka dengan tulisan hijau menyala di bagian belakang. Jupe mengambil amplop itu. Isinya daftar pekerjaan yang harus dilakukan DiStefano. "Pompa bensin" tercantum dalam daftar itu. Juga "A & J Suplai, siap hari Selasa" dan "Servis

http://inzomnia.wapka.mobi

Lab, Wadlee Road". Jupe meletakkan amplop itu kembali. "Kau tidak bisa berenang," katanya pada DiStefano. "Tidak." "Tapi kau punya peralatan selam, buat apa?" tanya Jupe lebih lanjut. "Oh, itu. Itu bukan punyaku. Temanku menitipkannya padaku." "Oh, ya?" kata Jupe. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat DiStefano menoleh padanya. Mereka sudah cukup jauh dari kota. Di kiri-kanan jalan pohon-pohon besar berbaris. DiStefano menginjak rem. Dengan perlahan dikuranginya kecepatan. Kepalanya dimiringkan sedikit seperti hendak mendengarkan sesuatu. "Suara apa itu?" katanya. "Apa?" tanya Jupe. "Suara mesin mobilku aneh," kata DiStefano. "Kau tak mendengarnya?" Ia meminggirkan kendaraannya, lalu berhenti. Setelah menarik rem tangan, ia keluar. Di belakang, Pete berkerut dahinya. "Aku tidak dengar apaapa," katanya. "Mungkin kau tidak memperhatikan tadi," ujar DiStefano. Ia berdiri di samping mobil. Sambil membungkuk melihat ke dalam ia tersenyum sinis. Jupe menghela napas. "Peralatan selam itu," desahnya. "Aku paham sekarang. Ada zat anestesi di laboratorium DR. Birkensteen-yang bereaksi cepat dan kuat sehingga dapat membius seluruh kota. Zat itu mudah menguap sehingga tidak meninggalkan bekas sama sekali. Orang tidak akan ikut terbius jika ia mengenakan masker dan pakaian selam. Dia tidak menghirup udara luar, dan kulitnya terlindung. John the Gypsy mengira ia melihat monster bermata satu dan berbelalai.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebenarnya apa yang dilihatnya sekilas itu adalah masker selam dan selang udara." DiStefano memandang Jupe. Tatapannya dingin tanpa ekspresi. "Eleanor mencari Anda tadi pagi," kata Jupe. "Di mana dia sekarang?" Tahu-tahu ada botol semprot plastik di tangan DiStefano. Jupe menyadarinya. Namun terlambat. DiStefano telah menyemprotkannya pada Jupe. Pete berteriak. Ia segera bergerak meraih pegangan pintu di sisinya. DiStefano tak memberi ampun. Disemprotkannya isi botol itu ke wajah ketiga anak itu. DiStefano membanting pintu mobil, lalu melangkah mundur menjauh. Lutut Jupe terasa lemas. Lalu ia roboh ke samping. Kegelapan menyelimuti pandangannya, seperti kabut tebal. Makin lama makin tebal. Makin gelap, dan gelap, dan gelap. Namun ada sesuatu yang menggembirakannya. Sekarang ia tahu jawabannya! Bab 18 TERPERANGKAP-LALU MENANGKAP! JUPE tersadar. Tercium bau lumpur. Di dekatnya ada sesuatu yang bergerak. Bernapas. Namun sekelilingnya tetap gelap! Tangan Jupe meraba-raba tanah di sekitarnya. Lembab. Tibatiba ia menyentuh sesuatu yang bergerak. "Siapa itu?" kata Jupe. Ia mencoba memegangnya. Terdengar suara teriakan. "Eleanor?" panggil Jupe. "Eleanor Hess?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan!" seru Eleanor dengan ketakutan. "Jangan ganggu saya!" Terdengar erangan Pete dan gumaman Bob. "Tenanglah, Eleanor," kata Jupe dengan kalem. "Aku temanmuJupiter Jones. Pete, di mana kau? Bob?" "Aku... aku di sini," sahut Pete. "Di mana kita?" "Bob?" panggil Jupe. "Oke," sahut Bob. "Eleanor, kau tahu di mana kita berada?" tanya Jupe. "Di ruang bawah tanah gereja kuno," jawab Eleanor. "Tempat ini sudah lama tidak didatangi orang. Bangunannya sudah rapuh, bisa rubuh sewaktu-waktu. Dan ruang bawah tanah ini biasa digunakan untuk menyimpan... menyimpan mayat-mayat!" Ia mulai menangis. Tangisnya menyedihkan dan menyayat. "Kita tak bisa keluar! Tidak ada yang akan menolong kita!" "Aduh, gawat!" seru Pete. "Ruang bawah tanah," kata Jupe, "di gereja kuno. Tapi... tapi lewat mana kita masuk sini, Eleanor?" "Ruang ini mempunyai tingkap, di atas jalan tangga itu," kata Eleanor sambil terisak. "Tapi dikunci. Aku melihatnya sebentar sewaktu Frank membukanya. Tapi ia membuatku pingsan lagi." "Dengan botol semprot itu," kata Jupe. Eleanor berusaha menghentikan tangisnya. Ia menarik napas panjang beberapa kali. "Aku marah sekali pada Frank," katanya. "Aku mencarinya tadi pagi. Kuancam dia. Kubilang padanya akan kutelepon polisi bila ia tidak mengembalikan manusia gua itu. Ia akan dipenjara. Lalu dia bilang, aku akan ikut dipenjara bila ia dipenjara. Tapi aku tak peduli!" "Oo, karena itu kau dibiusnya dengan semprotan itu?" tanya Pete.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya. Dan ketika sadar, aku sudah berada di sini. Aku takut sekali. Aku berteriak-teriak. Tapi tidak ada yang datang. Aku ngeri. Bergerak pun aku tak berani. Takut kalau-kalau ada lubang perangkap atau ular. Semuanya gelap. Beberapa lama kemudian Frank datang dan membuka tingkap itu. Saat itu aku baru sadar di mana aku berada. Aku menaiki jalan tangga itu. Tapi Frank membiusku lagi. Kukira saat itu ia hendak menjebloskan kalian kemari." "Formula yang digunakan Frank ditemukan oleh DR. Birkensteen, kan?" tanya Jupe. "Ya. Ia menyebutnya 4-23 karena pertama kali ia memakainya pada bulan April tanggal 23. Ia bilang simpanse-simpansenya terlalu pendek umurnya. DR. Birkensteen berharap formula itu dapat memperpanjang umur mereka. Tetapi kenyataannya itu cuma membuat simpanse-simpanse itu pingsan. Ia kecewa. Lalu ia berniat menghubungi seorang ahli di Rocky Beach. Katanya mungkin formula yang ditemukannya dapat berguna bagi suatu operasi bedah, karena efek sampingannya tidak ada." "Jadi itulah tujuannya menemui ahli anestesi di Rocky Beach," kata Jupe. "Kasihan, dia telah meninggal sebelum keinginannya tercapai. Selebihnya kami sudah dapat menduga. Kau memberi tahu DiStefano tentang formula itu. Dan salah satu di antara kalian punya ide untuk membius seluruh kota dengan formula itu, lalu mencuri manusia gua." Jupe mengira Eleanor akan menangis lagi, namun ternyata ia keliru. "Tadinya aku cuma ingin memperoleh uang secukupnya saja," kata Eleanor. "Aku cuma perlu beberapa ratus dolar untuk membiayai hidupku sendiri sampai aku mendapat pekerjaan

http://inzomnia.wapka.mobi

yang memadai. Tapi Frank menipuku. Sejak awal harusnya aku sudah tahu itu. Ia memang curang. Aku mendapat banyak pelajaran dari pengalamanku ini. Aku memang salah. Tapi kalau ada yang berani-berani mempermainkanku lagi, tak akan kuberi ampun!" "Hebat kau, Eleanor!" kata Pete. "Sekarang yang penting adalah bagaimana kita keluar dari sini." Ia bangkit. Dengan hati-hati ia melangkah. Baru beberapa langkah ia sudah tersandung. Untung tidak terjatuh. "Jalan tangga!" katanya. "Tunggu aku," kata Bob. Ia lalu meraba-raba mencari posisi Pete. "Bob, kau di depan, ya!" pinta Pete. Bob meletakkan tangan Pete di pundaknya. Kedua anak itu menaiki tangga perlahan-lahan. Tangan kanan Bob memegangi dinding ruang bawah tanah itu, sedang tangan kirinya merabaraba ke depan. Pete mengikuti dari belakang sambil memegang pundak Bob erat-erat. Tiba-tiba kepala Bob terbentur. "Aduh!" seru Bob seraya terjongkok. "Ini pasti tingkapnya." Ia lalu mencoba mendorongnya ke atas. Tingkap itu tidak bergeming sedikit pun. "Pete, bantu aku!" katanya. Pete segera membantu. Mereka berjongkok dengan kedua tangan ke atas mendorong tingkap. "Satu, dua, tiga!" Pete memberi aba-aba. "Uuhh!" erang Pete sambil mengerahkan tenaganya. Beberapa kali mereka melakukan itu, namun sia-sia. Tingkap itu tetap tak bergerak. "Percuma," kata Bob. "Kita cari jalan lain saja." "Tidak ada jalan lain," kata Eleanor dengan nada putus asa. Ia tidak menangis, tetapi suaranya bergetar. "Kita akan terkurung terus. Kalau Frank tidak kembali pasti kita akan... akan..."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan takut," kata Jupe, "ia pasti kembali." Jupe berkata begitu hanya untuk menghibur Eleanor. Ia sendiri tak yakin apakah DiStefano akan kembali. "Mana mungkin ia kembali!" seru Pete. Rupanya Pete tak menangkap maksud Jupe itu. "Kalau ia kembali untuk membebaskan kita kan seluruh rahasianya akan terbongkar." "He, Pete!" ujar Bob. "Kau pegang ini. Ada bagian tembok yang sudah rapuh." Pete tidak menyahuti. Tapi kedua anak itu segera meraba-raba tembok itu. Memang, di suatu bagian ada tembok yang sudah rapuh. Semen pelapisnya telah lepas sehingga mereka bisa merasakan bata di dalamnya. Mereka memukul-mukul tembok itu. Semen di sekitarnya mulai berjatuhan. Bob makin bersemangat. Ia mencakar-cakar tembok itu dengan kedua tangannya. Pete, yang bertenaga lebih besar dari Bob, menggunakan sisi tangannya untuk mengkarate tembok itu. Kemudian, "Bata ini mulai longgar!" seru Bob sambil mempercepat cakaran-cakarannya. "Ayo, sedikit lagi!" Bob mencakari semen di pinggir-pinggir batu bata itu sampai didapat pegangan yang cukup kuat. Lalu dengan sekuat tenaga ditariknya bata itu. "Berhasil!" teriaknya. Semen di sekeliling bata itu ambrol dan sebagian meluncur ke bawah. Dari bawah Jupe berteriak, "Aduh, hati-hati dong!" "Maaf," kata Bob. Ia mencengkeram bata berikutnya, mengorek semen di sekitarnya dan menariknya sampai terlepas. Pete tak mau ketinggalan. Dengan meniru cara Bob, ia berhasil mencopot dua buah bata. Pekerjaan selanjutnya lebih mudah, karena sudah terdapat bagian yang bolong.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kini Pete mulai menggunakan kakinya. "Ciaaat!" serunya menirukan gaya karateka. Dengan sekali tendang dua bata ambrol. Eleanor dan anak-anak mulai melihat sinar matahari! Beberapa bata lagi berhasil dicopot oleh Bob dan Pete. Mereka terus bekerja sampai didapat lubang yang cukup untuk Bob. Bob menyusup keluar melalui lubang itu. Wajahnya tampak kotor dan jari-jarinya berdarah. Tak lama kemudian terdengar suara di atas tingkap. Bob sedang menggeser batu-batu yang diletakkan DiStefano di atas tingkap. Seraya menunggu Bob membuka tingkap, Jupe memperhatikan keadaan ruang bawah tanah dengan bantuan sinar yang menerobos melalui lubang tadi. Ruang itu panjang sempit dan tidak terlalu besar. Sepanjang dinding bagian dalam, terdapat lekukan-lekukan yang tentunya bekas tempat menyimpan peti mayat. Ia merinding ketika membayangkan bahwa mereka sendiri hampir menjadi mayat di sana. Akhirnya Bob berhasil membuka tingkap. Ketiga temannya keluar dari ruang bawah tanah. Wajah Eleanor kotor dan matanya sembab. Celana panjang yang dikenakannya sobek di bagian lututnya. Namun ia tampak yakin dan dapat menguasai diri. Baru kali ini anak-anak melihat rasa percaya diri Eleanor begitu besar. "Oke," kata Eleanor seraya berjalan ke luar gereja kuno. "Kita harus menangkap Frank sebelum ia melarikan diri. Kalau sampai lolos, ia berbahaya. Ia mencuri catatan DR. Birkensteen. Dan ia punya formula 4-23!" "Maksudmu ia dapat membuat sendiri zat pembius itu?" kata Pete.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tentu. Kalau kau tahu caranya tak akan ada masalah. Lebihlebih lagi Frank pernah mempelajari kimia sebelum ia dikeluarkan dari college. " "Wah, gawat!" seru Pete. Mereka berlari menembus hutan kecil dan melalui padang rumput. Sesampainya di gudang McAfee, mereka melihat mobil McAfee di dalam dengan kunci tergantung di tempat kontak. Rupanya Thalia McAfee baru kembali dari berbelanja, karena masih terdapat beberapa bungkus bahan makanan di dalam mobil. Eleanor masuk ke kursi pengemudi, dan menghidupkan mesin. "He, tunggu!" teriak Pete. Ia membuka pintu belakang lalu melompat masuk. Bob menyusulnya di belakang. Sementara Jupe berlari mengitari mobil dan mengambil tempat di samping Eleanor. Thalia McAfee muncul di teras belakang. Ia berteriak-teriak ketika melihat Eleanor berada di balik kemudi mobil. Eleanor tidak mengacuhkannya. Ia menekan pedal gas dalam-dalam. Ban berdecit-decit ketika Eleanor menjalankan mobil itu. Ia ngebut menuju kota. "Ke mana kita?" tanya Jupe. Kali itu Eleanor tampak bingung. Ia mengurangi kecepatan dan memandang Jupe dengan panik. "Aku... aku pikir sebaiknya ke Centerdale," katanya kemudian. Jupe ragu-ragu. "Frank mungkin sudah kabur dari sana," katanya. "Ia tentu takut kalau-kalau kita berhasil meloloskan diri." "Tidak!" tukas Eleanor. "Justru ia tidak akan terburu-buru. Ia tidak menyangka bahwa kita bisa lolos secepat ini. Tapi kita

http://inzomnia.wapka.mobi

harus cepat. Ia dapat memproduksi zat pembius itu secara besar-besaran." Eleanor berhenti di tempat parkir dekat kantin. "Aku akan menghubungi polisi," katanya. "Aku harus memperingatkan polisi agar berhati-hati." "Sebentar," kata Jupe. Ia memejamkan matanya, mencoba mengingat apa yang dilihatnya di amplop dalam mobil DiStefano. "Apa lagi?" tanya Eleanor tak sabar. "Cepat, jangan membuangbuang waktu!" serunya sambil mengguncang-guncang lengan Jupe. "Jangan ganggu dia!" Pete memperingati. "Jupe sedang berusaha mengingat sesuatu." "Wadlee Road," kata Jupe. "Di mana Wadlee Road?" "Itu daerah industri kecil di Centerdale." "Itu dia!" seru Jupe. "Ada tulisan itu di amplopnya Servis Lab. Mungkin itu berarti Servis Laboratorium. Mestinya itu nama sebuah perusahaan yang menjual zat-zat kimia. DiStefano akan membeli zat-zat untuk memproduksi formula itu." "Oh!" kata Eleanor. Bergegas ia keluar mobil sambil merogohrogoh kantungnya mencari uang logam. "Ini!" Bob berdiri di sampingnya seraya menyodorkan beberapa keping uang logam. Sekeping uang logam dicemplungkan ke dalam telepon umum, lalu Eleanor memutar nomor telepon polisi. Ketika diangkat Eleanor berkata, "Saya Eleanor Hess, keponakan McAfee. Pencuri manusia gua Citrus Groove ialah Frank DiStefano. Sekarang mungkin ia berada di Servis Lab di Wadlee Road Centerdale. Ia akan membeli zat-zat kimia yang dapat dijadikan formula pembius. Hati-hati! Pembius itu sangat ampuh!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Eleanor menggantung telepon. Ia dan Bob berlari masuk ke mobil. Kembali Eleanor menancap gas menuju Centerdale. "Mudah-mudahan polisi itu tidak terkecoh oleh Frank," kata Eleanor dengan waswas. "Ya, ya," Jupe mengiyakan. Mereka berada di luar kota sekarang. Pedal gas diinjak habis oleh Eleanor. Pohon-pohon di kiri-kanan jalan tampak berkelebat ketika mobil melewatinya. Ketika melalui tikungan tajam ban mendecit-decit. Anak-anak menahan napas sambil menyandar erat ke kursi. Tidak seorang pun berkata-kata sampai di batas kota Centerdale. Eleanor mendadak menginjak rem membuat anakanak terhenyak ke depan. Kecepatan mobil dikurangi sampai batas yang diizinkan. "Pasang mata baik-baik," kata Eleanor. "Barangkali saja kita berpapasan dijalan dengan Frank." Mereka membelok setelah melewati supermarket. Tak lama kemudian mereka melihat suatu kompleks industri. Eleanor membelok lagi. "Ini Wadlee Road," kata Eleanor. "Tapi mana mobil polisinya?" "Itu dia!" kata Jupe sambil menunjuk ke suatu gedung. Di depan gedung itu ada sebuah mobil polisi. Mobil DiStefano diparkir tak jauh dari situ. DiStefano sedang berdiri di samping mobil polisi sambil memegang botol semprot. Ketika melihat mereka, DiStefano terkejut. Ia lari menuju mobilnya. Eleanor membelok masuk ke jalan yang menuju gedung. Anakanak sempat melihat bahwa si polisi terkulai lemas pada kemudi mobilnya. Sementara DiStefano sedang berusaha

http://inzomnia.wapka.mobi

menghidupkan mesin mobilnya. Wajahnya tampak gugup. Berkali-kali dikontakkan kuncinya. Mesin tidak mau hidup. Akhirnya DiStefano berhasil. Mobilnya melompat mendecitdecit ketika ia menginjak gas dalam-dalam. Asap mengepul dari ban yang bergesekan dengan aspal. Eleanor nekat mengarahkan kemudinya ke mobil DiStefano dengan kecepatan penuh. Kedua mobil itu bertabrakan. Logam-logam yang berbenturan dan kaca-kaca yang pecah menimbulkan bunyi yang memekakkan. Eleanor berhasil menubruk sisi kiri mobil DiStefano. DiStefano terlonjak ke samping. DiStefano menyumpah-nyumpah sambil keluar dari mobilnya. Ia lari menyerbu ke arah Eleanor. Di tangannya tergenggam botol semprot. Secepat kilat Pete keluar dari kursi belakang. Tangannya meraih suatu benda yang keras dan bundar. Ia melemparnya sekuat tenaga. Tepat mengenai kepala DiStefano. DiStefano terhuyung-huyung. Botol semprot di tangannya terlepas. Ia sendiri menggeloyor jatuh. Sirene polisi meraung-raung dari kejauhan. Dalam sekejap polisi tiba di tempat kejadian. Mobilnya direm mendadak, beberapa meter saja dari tempat DiStefano tergeletak. Dengan sigap mereka keluar dengan senjata di tangan. Mereka melihat DiStefano, lalu menoleh pada Eleanor dan anak-anak. "Ada barang-barang belanjaan di kursi belakang mobil," kata Pete sambil nyengir. "Aku timpuk saja ia dengan keju Belanda!" Bab 19 MUSUH DALAM SELIMUT

http://inzomnia.wapka.mobi

KEPALA POLISI duduk di teras, di belakang Yayasan Spicer sambil memandang ke arah kolam renang yang berkilau-kilau ditimpa sinar mentari pada Selasa pagi. "Kami memiliki bukti-bukti yang memberatkan DiStefano," katanya. "Kami menemukan sidik jarinya pada kopor yang kalian temukan di stasiun tua. Dan, kopor itu ternyata milik yang empunya rumah di Centerdale. DiStefano menyewa kamar padanya." Polisi itu memandangi orang-orang yang duduk mengelilinginya. Newt dan Thalia hadir setelah ditelepon Terreano. Eleanor Hess duduk dekat Mrs. Coolinwood. Semalam ia menginap di rumah Mrs. Coolinwood. Jupiter, Pete, dan Bob sempat berbicara panjang-lebar dengan polisi di Centerdale tadi malam. Mereka kembali ke Citrus Groove bersama Eleanor. Phillip Terreano dan James Brandon menyempatkan diri untuk meninggalkan kantornya pagi itu. Dan DR. Hoffer, yang sedang berenang ketika kepala polisi datang, segera naik dan menyelimuti tubuhnya dengan kimono handuk. Ia bergabung dengan tamu-tamu lainnya di teras. "Mana manusia guaku?" kata McAfee. "Kapan aku bisa memperolehnya kembali?" "Tulang-tulang di kopor itu bukan kau punya!" bentak Brandon. "Itu tulang-tulang hominid Afrika!" "Memang ada dua fosil hominid, Mr. McAfee," kata Terreano. "Dan yang telah ditemukan bukan manusia gua Citrus Groove."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kalau begitu kausembunyikan di mana manusia guaku, Ellie?" tanya McAfee sambil melotot pada Eleanor. "Kau yang bertanggung jawab atas pencurian ini!" Eleanor mengangkat dagunya. "Tidak!" katanya dengan garang. "Aku tidak tahu apa-apa lagi. Semuanya sudah kukatakan pada kalian." "Kalau memang bukan kau pencurinya, mengapa kau dipenjara sekarang?" sindir Thalia. Ia berpaling pada kepala polisi. "Kau harus memberi hukuman berat. Ia telah berkomplot dengan bajingan DiStefano itu." "Miss Hess sekarang bebas dengan jaminan," kata kepala polisi. "Jaminan?" gerutu McAfee. "Siapa yang mau menjamin dia? Aku sendiri amit-amit! Buat apa?" "Aku yang menjamin dia," kata James Brandon dengan suara dingin. McAfee tergagap. "Kau? Kau menjamin dia? Kenapa?" "Karena aku mau," jawab Brandon singkat. "Penderitaan yang dialaminya selama tinggal di rumahmu sudah cukup banyak." Thalia McAfee bergetar karena marah. "Enak saja kau bicara!" jeritnya. "Kami tidak melakukan kesalahan apa-apa. Dia yang bersalah! Padahal kami telah susah-payah mengurusnya!" Eleanor balas memandang Thalia dengan tajam. "Aku cuma ingin mengambil apa yang jadi milikku! Aku akan meninggalkan tempat ini untuk bekerja di San Diego dan melanjutkan sekolah di sana. Selama ini kalian merampas apa-apa yang jadi milikku. Aku tak punya apa-apa, semuanya kalian makan sendiri!" Thalia McAfee mendengarkan dengan perasaan kecut. "Tadinya tak banyak yang kuinginkan," kata Eleanor. "Cuma sekitar lima ratus dolar. Well, sekarang aku sudah lebih mengerti. Aku akan meminta pengacara untuk mengurus apa

http://inzomnia.wapka.mobi

yang sebenarnya kumiliki." "Memangnya kau punya apa?" seru Thalia. "Kau tak punya apa-apa!" "Mendiang ayahku mendapat asuransi kecelakaan, bukan?" kata Eleanor sambil bangkit mendekati Thalia. Thalia membuang muka, tak berani membalas tatapan tajam Eleanor "Dan rumah di Hollywood itu sebenarnya warisan dari orang tuaku," lanjut Eleanor. "Itu juga milikku, bukan? Ke mana larinya uang sewanya selama bertahun-tahun? Aku tak pernah menerima sepeser pun!" Newt McAfee berdehem. "Baik, baik, Ellie," katanya. "Kita selesaikan urusan ini sendiri saja. Kita kan masih bersaudara, mengapa harus pakai pengacara segala? Kalau kau mau bersekolah di San Diego, atau di Oceanside, akan kami carikan apartemen. Kau akan kami beri beberapa ratus dolar. Beres, kan?" "Beberapa ratus?" seru Eleanor. "Kalian pikir aku bodoh mau ditipu begitu saja?" "Iya deh, seribu," kata Thalia. "Dua ribu. Dua ribu." Eleanor membelalak pada Thalia. "Lima ribu?" kata Thalia. "Sepuluh!" kata Eleanor dengan tegas. "Baik, baik, Ellie," kata Newt. "Sepuluh ribu. Kau akan menerimanya. Nah, sebenarnya kami baik hati, kan?" Eleanor duduk kembali. "Seharusnya sudah lama aku lakukan ini," katanya. "Cuma dulu aku masih takut-takut dan pemalu." "Bagus, Eleanor," kata Terreano. "Kau harus berani. Tak seorang pun akan berani mempermainkanmu lagi." "Sekarang bagaimana dengan tulang-tulang itu," kata Newt McAfee, "kapan aku bisa membawanya pulang. Aku ingin..."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Untuk sementara ini tulang-tulang dalam kopor itu akan kami tahan untuk diperiksa," kata kepala polisi. "Baik kau maupun Mr. Brandon tidak bisa membawanya pulang sampai kasus ini dituntaskan." "Apakah Anda ingin memeriksa fosil yang satu lagi?" tanya Jupiter pada kepala polisi. "Fosil manusia gua Citrus Groove?" Semua orang menoleh pada Jupe. "Itu ada di ruang bawah tanah di gereja tua, bukankah demikian, DR. Hoffer?" kata Jupe. Hoffer terdiam seribu bahasa. "Anda ingin mencemarkan nama DR. Brandon," Jupe melanjutkan. "Anda ingin mendapat penghargaan Spicer. Namun Anda bersaing dengan tidak sehat. Anda berusaha menyingkirkan saingan Anda-DR. Brandon-dengan cara mencemarkan namanya. Andalah yang memasuki museum pada malam menjelang hari pembukaannya. Anda merencanakannya dengan baik sekali. Anda tak lupa untuk mengambil kunci pintu museum dari dapur McAfee dan membuat tiruannya. Lalu Anda menukar manusia gua dengan hominid Afrika milik DR. Brandon. Anda dengan teliti menghapus jejak-jejak yang terdapat di gua. "Sewaktu Anda keluar membawa manusia gua, John the Gypsy terbangun dan melihat Anda. Perhitungan Anda tidak meleset. Dengan cerdik Anda sudah mempersiapkan mantel dari bulu binatang dan wig panjang. John the Gypsy lalu menyangka ia melihat manusia gua gentayangan." Hoffer menyeringai. "Tak masuk akal!" cemoohnya. "Mula-mula aku tak mencurigai Anda," Jupe meneruskan. "Namun ketika yang ditemukan di stasiun itu ternyata hominid

http://inzomnia.wapka.mobi

Afrika, aku sekilas melihat Anda tersenyum penuh kepuasan. Itu sudah cukup buatku untuk mencurigai Anda. "Aku ingat bahwa terdapat lusinan bulu binatang di yayasan. Begitu pula, pada hari dicurinya manusia gua, wig panjang milik Mrs. Coolinwood hilang dan siangnya ditemukan lagi. Itu menunjukkan pelakunya adalah orang yayasan. "Sewaktu Pete, Bob, dan aku melintasi padang rumput mengikuti jejak sampai di gereja tua itu, Anda melihat kami. Anda kuatir kalau-kalau rahasia Anda terbongkar. Jadi Anda mengikuti kami, dan pura-pura kaget. Lalu Anda duduk tepat di atas tingkap agar kami tak menyangka bahwa ada ruang bawah tanah di situ." Hoffer tersenyum kecut. "Siapa yang mau percaya dongengan anak-anak ingusan ini?" katanya sambil melihat berkeliling. "Anak muda, kalau kau tak ingin berurusan denganku, berhentilah berkhayal. Aku sama sekali tidak punya urusan dengan manusia gua." "Sebagian dari cerita itu memanghasil imajinasi kami," tukas Jupe. "Namun kami juga punya barang bukti. Anda bekerja dengan teliti sekali Mr. Hoffer, tetapi justru itu kelemahan Anda. Manusia gua bertelanjang kaki, jadi Anda malam itu juga bertelanjang kaki. Dengan kaki telanjang Anda berjalan melalui padang rumput McAfee. Jejak Anda ada yang tertinggal di sana. Aku sudah membuat cetakannya. Aku jadi tahu bahwa si pencuri memiliki kaki kecil, dan salah satu jarinya terangkat." Semua mata melihat ke kaki Hoffer yang tak bersepatu. Tanpa disadarinya Hoffer berusaha menyembunyikan kakinya di bawah kursi. Tetapi ia lalu menyadari bahwa percuma ia berbuat begitu. Ia bangkit seraya mengangkat kaki kanannya,

http://inzomnia.wapka.mobi

memperlihatkan jari-jarinya. "Silakan lihat kakiku ini, indah bukan?" tantangnya. "Aku akan panggil pengacaraku." "Hoffer, tega benar kau," kata Terreano. Suaranya tegas, tetapi wajahnya sedih. Hoffer menghindari pandangan Terreano. Ia langsung masuk ke dalam, diikuti kepala polisi. Brandon menyeringai riang. "Aku juga akan panggil pengacaraku," ujarnya. "Mungkin saja aku akan diberi kesempatan untuk menyelidiki manusia gua itu sebelum kau memamerkannya lagi, McAfee." Brandon bangkit. Ia masuk ke ruang tamu sambil tersenyum puas. "Kau tak mempunyai hak secuil pun!" seru McAfee. "Itu milik-ku!" "Belum tentu, McAfee," kata Terreano. "Kecuali kalau kau dan manusia gua itu bersaudara!" Bab 20 MR. SEBASTIAN TERKESAN BEBERAPA hari setelah Trio Detektif kembali ke Rocky Beach, mereka mengunjungi suatu tempat di Cypress Canyon Drive di Malibu. Tempat itu dulunya sebuah restoran bernama Charlie's Place. Kini Hector Sebastian yang memilikinya dan menyulapnya menjadi rumah yang nyaman. Sebelum menjadi penulis cerita misteri, Mr. Sebastian bekerja sebagai detektif. Sejak kecelakaan yang membuat kakinya luka parah, ia berganti profesi menjadi penulis. Trio Detektif senang berkunjung ke sana untuk mendengar pengalamannya selama menjadi detektif. Tak jarang pula mereka yang bercerita mengenai kasus-kasus yang berhasil mereka

http://inzomnia.wapka.mobi

pecahkan. Meskipun sibuk, Mr. Sebastian selalu bersedia meluangkan waktunya untuk mereka. Jupe, Pete, dan Bob memasuki ruangan besar yang dulunya adalah ruang makan utama Charlie's Place. Mereka diantar Hoang Van Don, pelayan berkebangsaan Vietnam. Mr. Sebastian tidak nampak di sana, tetapi anak-anak mendengar suara halus seperti suara mesin tik. "Hai, Anak-anak! Mari ke sini!" sapa Mr. Sebastian dari balik rak buku pemisah ruangan. Di meja Mr. Sebastian, mereka melihat sebuah mesin berukuran sebesar tas kantor yang kelihatan seperti setengah mesin tik dan setengah televisi. Ia dengan asyik mengetik. Di layar muncul huruf-huruf yang diketiknya. "Komputer!" seru Jupe. "Kecil sekali ukurannya?" "Hebat ya!" kata Mr. Sebastian. "Ini komputer portable-mudah dibawa-bawa. Sebenarnya sudah lama aku ingin membeli komputer, tetapi aku masih sayang dengan mesin tik tuaku. Akhirnya ketika mesin tik itu bolak-balik rusak, aku beli juga komputer. Aku cukup beruntung, karena model ini baru keluar dan amat cocok dengan kebutuhanku. Keyboard-bagian yang seperti mesin tik itu-dan layarnya dapat dilipat ke dalam sehingga membentuk tas kecil. Beratnya cuma empat kilogram! Mudah dibawa ke mana-mana, padahal kemampuannya sama dengan komputer biasa. Selain itu praktis sekali, dapat menggunakan baterai atau listrik di rumah." "Wah!" seru Peter kagum. "Komputer ini amat membantu dalam penyusunan naskah cerita-cerita yang kubuat. Aku dapat mengubah-ubah formatnya sesuai dengan kebutuhan, dapat memperbaiki

http://inzomnia.wapka.mobi

kesalahan dengan mudah, dapat memindahkan satu kalimat atau paragraf dengan cepat semuanya tanpa harus mengetik ulang secara keseluruhan. Naskahku cukup disimpan dalam disket penyimpan data berbentuk piringan tipis dan kecil. Praktis sekali!" "Lalu bagaimana orang lain dapat membaca naskah itu kalau ia tidak punya komputer?" tanya Jupe. "Ooo, mudah," sahut Mr. Sebastian dengan tersenyum. "Kalau naskahku sudah beres, aku dapat mencetaknya di kertas biasa. Perhatikan ini." Ada sebuah mesin lain di samping komputer. Mr. Sebastian mengetikkan sesuatu pada keyboard. Dan... hup! Mesin itu mulai bekerja. Dengan gerakan bolak-balik yang cepat mesin itu mencetak apa yang telah diketik Mr. Sebastian pada komputernya. "Hiii, lucu!" kata Bob. "Mesin itu juga dapat mencetak dari kanan ke kiri!" "Itulah bedanya," kata Mr. Sebastian. "Mesin tik biasa umumnya digunakan untuk mencetak dari kiri ke kanan, bukan?" "Ck ck ck!" Pete hanya bisa berdecak kagum. "Baik, sekarang giliran kalian menceritakan pengalaman kalian," Mr. Sebastian melanjutkan. "Bagaimana kisah kalian dengan manusia gua Citrus Groove itu?" Bob menyerahkan catatan yang sudah dilengkapinya dalam dua hari belakangan ini. Mr. Sebastian membaca dengan penuh perhatian. "Bukan main!" katanya begitu selesai membaca. "Menyeramkan juga! Hampir saja DiStefano lolos!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Jupiter mengangguk. "Meskipun ceroboh, hampir saja ia berhasil lolos. Mungkin ia menganggap dirinya cerdik dengan menyobek catatan harian DR. Birkensteen, padahal justru itu yang membuatku curiga. Ketika kutanyakan pada Eleanor, ia menjawab tidak tahu-menahu tentang catatan itu. Tetapi aku yakin ia sebenarnya tahu." "Kasihan Eleanor," kata Mr. Sebastian. "Menurutmu apakah DiStefano berniat membebaskan kalian dari ruang bawah tanah itu?" "Entah, ya," sahut Jupe sambil mengangkat bahu. "Kelihatannya ia sudah tak peduli lagi dengan nasib kami." "Cara kerja DiStefano acak-acakan," kata Pete. "Ia amat ceroboh. Masa peralatan selamnya dibawa-bawa terus di mobilnya, padahal ia tidak bisa berenang. Begitu juga penanya yang bertinta hijau menyala." "Dialah yang mengambil uang tebusan dari suatu tempat di antara Citrus Groove dan Centerdale," kata Bob. "Kantung uang itu digeletakkan begitu saja dalam bagasi mobilnya. Sepatu olahraganya ditemukan polisi di kolong tempat tidurnya di Centerdale. Tapaknya cocok dengan foto jejak yang diambil polisi di gua." "Sebenarnya apa yang membuat kalian mencurigai dia?" tanya Mr. Sebastian. "Banyak alasan yang memberatkan dia," Jupe menyahuti. "Siang hari itu ia tiba-tiba muncul di yayasan, padahal katanya paginya ia baru sakit. Tak nampak tanda-tanda ia baru sakit waktu itu. Dan pada saat orang-orang meributkan penemuan tulang-tulang itu di stasiun tua, ia tenang-tenang saja melihatnya dari jauh.

http://inzomnia.wapka.mobi

Wajarnya kan orang akan tertarik dan ikut berkerumun di stasiun. "Lalu ia kenal dengan Eleanor sehingga ia bisa tahu banyak tentang zat pembius yang ditemukan DR. Birkensteen. Dan dengan mudah ia dapat mencuri kunci gua dari dapur McAfee karena mendapat informasi dari Eleanor." "Kalau begitu bagaimana DR. Hoffer bisa masuk ke gua malam sebelumnya?" tanya Mr. Sebastian. "DR. Hoffer jauh lebih cerdik dari DiStefano," kata Jupe. "Jauh-jauh hari ia sudah mencurinya. Setelah membuat tiruannya ia lalu mengembalikan kunci itu ke tempat semula. Ia begitu cepat kerjanya sehingga tidak ada orang yang sadar bahwa kunci itu pernah dicuri." "Lalu bagaimana dengan kesaksian ibu kost DiStefano di Centerdale?" tanya Mr. Sebastian lebih lanjut. "Ia kan melihat DiStefano terbaring sakit." "Aku sempat bingung ketika mendengar berita itu dari Pete," kata Jupe. "Tapi ibu kost itu kan tidak melihat DiStefano secara langsung. Ia mengatakan bahwa DiStefano menyelimuti tubuhnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Itu tipuan yang mudah sekali dibuat. Yang lebih membingungkan ialah suara bersinnya DiStefano. Ternyata itu pun tidak terlalu sulit. DiStefano membuat rekaman suara bersinnya sendiri. Ia menyalakannya pagi itu untuk mengelabui ibu kostnya, lalu menyelinap keluar lewat jendela. "Ia lalu pergi ke waduk di bagian utara Citrus Groove. Mungkin ia mengambil jalan memutar supaya tak terlihat. Dicampurnya air waduk dengan anestesi itu. Ia menyetel alat penyiram otomatis agar menyala pada pukul sepuluh lewat dua puluh.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Segera setelah alat penyiram otomatis itu menyala ia pergi ke museum gua sambil mengenakan perlengkapan selam. Dibiusnya John the Gypsy, diambilnya kunci museum dari dapur, dan dicurinya tulang-tulang yang ada di sana. Ia tak sadar bahwa tulang-tulang itu telah ditukar oleh DR. Hoffer malam sebelumnya. Dimasukkannya tulang-tulang itu ke dalam kopor tua yang dibawanya, lalu ditaruhnya di stasiun. Ia telah keluar lagi dari stasiun melalui jendela, sebelum orang-orang tersadar. "Ini semua merupakan kesimpulan kami. Walaupun DiStefano sama sekali tidak mau buka mulut, ada beberapa fakta yang mendukung kesimpulan kami ini. Pertama, ada orang yang melihat mobil DiStefano diparkir dekat waduk pada pagi hari itu. Dan kedua, Eleanor melihatnya membawa perlengkapan selam sore-sore, sehari sebelum pencurian itu. "Eleanor sangat terkejut dan ketakutan ketika mendengar bahwa DiStefano meminta uang tebusan sebanyak itu. Tapi ia juga takut untuk memperingatkan DiStefano." "Kasihan gadis itu!" kata Mr. Sebastian lagi. "Bagaimana nasibnya?" "Ia akan menjadi saksi utama di pengadilan," sahut Pete. "Ia menjalani masa percobaan sekarang ini, tetapi tidak dipenjara." "Ia juga sudah berani mengungkapkan seluruh isi hatinya tentang perlakuan McAfee padanya," tambah Jupe. "Sebenarnya ia amat menghormati paman dan bibinya itu, tapi ia benci diperlakukan semena-mena oleh mereka. Ia tak berani melawan selama ini. Dan yang paling menyedihkan ialah, ia tak diperkenankan bersekolah lagi sejak umur delapan tahun!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Mr. Sebastian menggeleng-geleng. "Orang tua macam apa itu?" gumamnya. "Mereka seharusnya dipenjara juga seperti DiStefano." "Memang," sahut Bob menimpali, "mereka juga patut mendapat hukuman. Tapi Ibu bilang orang semacam itu tidak tenang hidupnya." "Siapa yang mempunyai ide mencuri fosil itu?" kata Mr. Sebastian. "Eleanor atau DiStefano? Mungkinkah Eleanor ingin membalas dendam terhadap perlakuan pamannya?" "Eleanor tidak ingat siapa yang mula-mula mengusulkan ide itu," kata Jupiter. "Ketika ia memberi tahu DiStefano tentang penemuan DR. Birkensteen, DiStefano sambil bercanda mengatakan anestesi itu dapat dimanfaatkan untuk mencari uang. "Eleanor menyangka DiStefano memang bergurau waktu itu. Ia ingat ia sendiri pernah berkata, 'Kita bius Paman Newt, lalu kita curi manusia guanya. Kalau kita jual ke suatu museum, kita bisa dapat uang.' Eleanor benar-benar bercanda sewaktu mengatakan hal itu. DiStefano menimpali dengan berkata, 'Tak usah dijual, cukup kita sandera saja untuk dimintai uang tebusan.' "Eleanor masih menganggapnya main-main kala itu. Namun lama-kelamaan pembicaraan menjadi serius. Eleanor menjadi takut. Ia tahu bahwa perbuatan itu salah, dan ia sendiri sebenarnya tidak suka dengan DiStefano yang tidak simpatik itu. Tetapi DiStefano nyerocos saja dengan idenya. Malah ia memanas-manasi Eleanor agar memberontak melawan pamannya. 'Kapan lagi kau bisa balas dendam terhadap Paman Newt?' katanya pada Eleanor. Akhirnya Eleanor terpengaruh

http://inzomnia.wapka.mobi

juga sehingga menyetujui rencana DiStefano. Meskipun demikian ia sama sekali tidak menyangka bahwa DiStefano akan meminta tebusan sebesar itu." "DiStefano pantas diganjar hukuman berat," kata Bob. "Ia melakukan beberapa kejahatan sekaligus. Pencurian, pemerasan, dan penculikan. Tidak ada kata ampun baginya." "Ya, dia memang pantas dihukum berat," Mr. Sebastian mengiyakan. "Bagaimana dengan DR. Hoffer? Di mana dia?" "Ia keluar dari Yayasan Spicer-dipecat dengan tidak hormat," ujar Jupe. "Mungkin ia hanya dikenakan denda saja, namun reputasinya telah jatuh. Yang jelas, ia tak bakal meraih penghargaan Spicer. Pengurus yayasan memutuskan tak ada yang memperoleh penghargaan itu tahun ini." "Ironisnya, kalau saja ia tidak berbuat begitu, ia berpeluang besar untuk meraih penghargaan itu. Penelitiannya sangat berharga." "Fosil-fosil itu diapakan sekarang?" tanya Mr. Sebastian. "Dua-duanya ditahan polisi sampai kasus ini dituntaskan," jawab Jupe. "McAfee menjadi berang karena tidak dapat memamerkan manusia guanya. Sementara itu DR. Brandon pergi ke Sacramento menemui gubernur untuk meminta agar diperkenankan meneliti manusia gua itu dan menyelidiki kalaukalau ada fosil lain di sekitar bukit itu. "Eleanor Hess pindah ke rumahnya di Hollywood. Kebetulan sekali rumah itu sudah selesai masa kontraknya. Eleanor menjadikan rumah itu sebagai penginapan bagi wanita yang ingin tinggal di kota itu. Ia akan mendapat uang dan sekaligus teman di sana."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hm, tentunya ia akan menjalani hidup yang lebih menyenangkan di sana," ujar Mr. Sebastian. "Lalu siapa sekarang yang menyimpan formula anestesi itu?" "Formula itu berada dalam perut DiStefano sekarang!" kata Bob. "Ketika borgolnya dilepas di sel penjara, ia menelan catatan DR. Birkensteen. Kelihatannya itu catatan tentang formula anestesi DR. Birkensteen. Lenyaplah sudah karya ilmiah yang menakjubkan itu!" "Ia datang bagai angin, dan hilang bagai asap," kata Mr. Sebastian berdeklamasi. "Sayang, ya," kata Jupe. "Padahal manfaatnya bagi kemanusiaan belum diketahui." "Dua pertanyaan lagi, Jupe," kata Mr. Sebastian. "Dari mana kau tahu tempat Hoffer menyembunyikan manusia gua?" "Dari sini," kata Jupe sambil menunjuk kepalanya. "Ia tidak mungkin menyembunyikannya di yayasan, dan tidak mungkin pula menguburkannya di suatu tempat di tengah malam itu. Dengan menggunakan logika aku menyimpulkan bahwa manusia gua itu disembunyikan di ruang bawah tanah gereja kuno itu." "Kesimpulanku ternyata tepat," lanjutnya. "Polisi menemukan fosil manusia gua itu di salah satu lekukan di ruang bawah tanah gereja kuno. Lekukan itu dulunya tempat menyimpan peti mati. Sewaktu gereja itu ditinggalkan, mayat-mayat dikuburkan di Centerdale." "Mr. Sebastian," kata Jupe kemudian, "sebelum Anda mengajukan pertanyaan yang terakhir, aku ingin meminta sesuatu. Maukah Anda menuliskan kata pengantar untuk kisah misteri kami kali ini?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Mr. Sebastian tersenyum. "Dengan segala senang hati, Trio Detektif. Apalagi kini aku punya komputer. Ingat! Lain kali tak usah pakai tanya segala, aku bangga bisa menulis kata pengantar itu. "Dan sekarang giliranku lagi. Pertanyaanku yang terakhir adalah," kata Mr. Sebastian lambat-lambat, "maukah kalian kutraktir Marvin Marvellous Burger?" "Mau! Mau!" seru anak-anak kegirangan. TAMAT