Anda di halaman 1dari 9

SABTU, 19 NOVEMBER 2011

FEBRIS (DEMAM)
I. DEFINISI Febris (demam) yaitu meningkatnya temperature tubuh secara abnormal (Asuhan Keperawatan Anak 2001). Febris (demam) yaitu meningkatnya suhu tubuh yang melewati batas normal yaitu lebih dari 38 0C (Fadjari Dalam Nakita 2003). Febris (demam) yaitu merupakan rspon yang sangat berguna dan menolong tubuh dalam memerangi infeksi (KesehatanAnak 1999). Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal. Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain : 1. Demam septik Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. 2. Demam remiten Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik. 3. Demam intermiten Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana. 4. Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia. 5. Demam siklik

Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yangself-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.

JENIS DEMAM Demam septik

Demam remitten

CIRI-CIRI Malam hari suhu naik sekali, pagi hari turun hingga diatas normal, sering disertai menggigil dan berkeringat Suhu badan dapat turun setiap hari tapi tidak pernah mencapai normal. Perbedaan suhu

mungkin mencapai 2 derajat namun perbedaannya tidak sebesar demam septik. Demam intermiten Suhu badan turun menjadi normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam terjadi dua hari sekali disebut tertiana dan apabila terjadi 2 hari bebas demam diantara 2 serangan demam disebut kuartana. Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang diikuti kenaikan suhu seperti semula

Demam kontinyu

Demam siklik

(Nelwan, 2007). II. ETIOLOGI Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lain yang menyertai demam. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah

diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya. III. PATOFISIOLOGI Demam dapat disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh menyebabkan demam selama keadaan sakit. Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri ke dalamcairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit. Zat ini ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8 10 menit. Zat ini juga menginduksi pembentukan prostaglandin E2 zat ini, yang selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam. PATHWAY Exogenous pyrogens (seperti : bakteri, virus, kompleks antigen antibody) Sel host inflamasi (seperti : makrofag, netrofil, sel kuffer, makrofag splenic dan alveolar) Memproduksi endogenous pyrogens (interleukin 1, interieukin 6, factor nekrosis tumor, dan cytokine pyrogenic lain)

Sintesis PGE2 dalam hipotalamus Pusat termoregulator (neuron preoptik pada hipotalamus anterior) Perubahan fisiologi dan tingkah laku

demam

IV.

TANDA DAN GEJALA Demam. Suhu meningkat > 37,10 C. Menggigil. Lesu, gelisah dan rewel serta sulit tidur. Berkeringat, wajah merah dan mata berair. Selera makan turun. (Fadjari dalan Nakita 2003 dan Kesehatan Anak 1999). PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi. TERAPI MEDIS

V.

VI.

a. Antipiretik (Parasetamol) b. Anti biotik sesuai program c. Hindari kompres alkohol atau es

VII. PENGKAJIAN 1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah, nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan. 2. Melakukan pemeriksaan fisik. 3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign. 4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium, foto rontgent ataupun USG.

VIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi. 2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme. 3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaporsis.

IX.

RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa No Keperawatan hasil Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi

Hypertermi b/d proses infeksi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama.x24jam dalan batas normal

1. Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforsis batasi/tambahkan linen tempat tidur

menujukan temperatur 2. Pantau suhu lingkungan, dengan kriteria: sesuai indikasi -Suhu Tubuh dalam 3. Berikan kompres hangat hindri batas normal penggunaan akohol -bebas dari kedinginan -suhu tubuh stabil 360- 4. Berikan miman sesuai kebutuhan 370c 5. Kolaborasi untuk pemberian -termoregulasi dbn antipiretik (parasetamol) -nadi dbn <1 bln : 90-170 <1 thn : 80-160 2 thn : 80-120 6 thn : 75-115 10 thn : 70-110 14 thn : 65-100 >14thn : 60-100 -respirasi dbn BBL : 30-50 x/m Anak-anak : 15-30 x/m Dewasa : 12-20 x/m 2 Resiko injuri b/d infeksi mikroorganisme Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .....x 24 jam 1. Kaji tanda-tanda komplikasi lanjut 2. Kaji status kardiopulmonar 3. Kolaborasi untuk pemantauan

anak bebas dari cidera laboratorium: monitor darah rutin dengan kriteria: 4. Kolaborasi untuk pembereian - menunjukan homeostatis - tidak ada perdarahan mukosa dan bebas dari komplikasi lain 3 Resiko kurang Setelah dilakukan 1. Ukur/catat haluaran urine dan berat jenis. Catat ketidak seimbangan volume cairan b/d tindakan perawatan antibiotik

intake yang kurang dan deperosis

selama .x 24 jam volume cairn adekuat dengan kriteria: normal - nadi perifer teraba kuat - haluran urine adekuat - tidak ada tanda-tanda dehidrasi

masukan dan haluran kumulatif 2. Pantau tekanan darah dan denyut jantung ukur CVP 4. Kaji membran mukosa kering, tugor kulit yang kurang baik dan rasa halus 5. Kolaborasi untuk pemberian cairan IV sesuai indikasi 6. Pantau nilai laboratorium, Ht/jumlah sel darah merah, BUN,cre, Elek,LED, GDS

- tanda vital dalam batas 3. Palpasi denyut perifer

Cemas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2 x 24 jam cemas hilang dengan kriteria: - klien dapat yang dapat meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh - klien mau berpartisipasi dalam setiap tidakan yang dilakukan - klien mengungkapkan penurunan cemas yang berhubungan dengan hipertermi, proses penyakit

1. Kaji dan identifikasi serta luruskan informasi yang dimiliki klien mengenai hipertermi 2. Berikan informasi yang akurat tentang penyebab hipertermi 3. Validasi perasaan klien dan merupakan respon yang normal 4. Diskusikan rencana tindakan yang dilakukan berhubungan dengan hipertermi dan keadaan penyakit

mengidentifikasi hal-hal yakinkan klien bahwa kecemasam

X. DAFTAR PUSTAKA 1. Komite medik RSUP Dr. Sardjito, 2000. Standar Pelayanan Medis, Edisi 2, Cetakan I, Medika FK UGM, Yogyakarta 2. Mc Closkey, Joanne C and Bulechek, Gloria M, 1996, Nursing Intervention Classification (NIC), Second edition, Mosby Year Book Inc, St. Louis 3. Nanda, 2001, Nursing Diagnosis: Definitions & Classification 2001-2002, Ed-, United States of America 4. http://health.yahoo.com/ency/adam/00615.last reviewed: 1/7/2003 5. www.google.com/askep febris demam