Anda di halaman 1dari 17

BAB 1 PENDAHULUAN

Tidur adalah suatu fenomena dasar yang penting dari kehidupan. Tidur merupakan suatu proses di otak yang dibutuhkan seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Kira-kira sepertiga kehidupan manusia dijalankan dengan tidur. Masyarakat awam belum begitu mengenal gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Keluhan tidur umumnya berupa waktu tidur yang kurang, mudah terbangun malam hari, bangun pagi lebih awal, rasa mengantuk sepanjang hari dan sering tertidur sejenak. Banyak hal menyebabkan penurunan kualitas tidur antara lain perubahan irama sirkadian, adanya penyakit medik, psikiatrik, efek samping obatobatan dan kebiasaan tidur yang buruk.1 Gangguan tidur dapat meningkatkan biaya penyakit secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbiditas yang signifikan. Ada beberapa dampak serius gangguan tidur misalnya mengantuk berlebihan disiang hari, gangguan atensi dan memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian, angka sakit jantung dan kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama tidurnya lebih dari 9 jam atau kurang dari 6 jam per hari bila dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per hari.2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. FISIOLOGI TIDUR Tidur Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Tidur tidak dapat diartikan sebagai menifestasi proses deaktivasi Susunan saraf pusat. Jadi, seseorang yang tertidur, susunan saraf pusatnya sedang bekerja. Dimana neuron-neuron di substansia retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis batang otak yang disebut sebagai pusat tidur (sleep center). Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang otak disebut sebagai pusat penggugah (arousal center). Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu Tipe Rapid Eye Movement (REM) dan Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM). Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-6 kali siklus semalam. Tidur NREM yang meliputi 75% dari keseluruhan waktu tidur, dibagi dalam empat stadium, antara lain: Stadium 1, berlangsung selama 5% dari keseluruhan waktu tidur. Stadium ini dianggap stadium tidur paling ringan. EEG menggambarkan gambaran kumparan tidur yang khas, bervoltase rendah, dengan frekuensi 3 sampai 7 siklus perdetik, yang disebut gelombang teta. Stadium 2, berlangsung paling lama, yaitu 45% dari keseluruhan waktu tidur. EEG menggambarkan gelombang yang berbentuk pilin (spindle shaped) yang sering dengan frekuensi 12 sampai 14 siklus perdetik, lambat, dan trifasik yang dikenal sebagai kompleks K. Pada stadium ini, orang dapat dibangunkan dengan mudah. Stadium 3, berlangsung 12% dari keseluruhan waktu tidur. EEG menggambarkan gelombang bervoltase tinggi dengan frekuensi 0,5 hingga 2,5 siklus perdetik, yaitu gelombang delta. Orang tidur dengan sangat nyenyak, sehingga sukar dibangunkan.

Stadium 4, berlangsung 13% dari keseluruhan waktu tidur. Gambaran EEG hampir sama dengan stadium 3 dengan perbedaan kuantitatif pada jumlah gelombang delta. Stadium 3 dan 4 juga dikenal dengan nama tidur dalam, atau delta sleep, atau Slow Wave Sleep (SWS) Sedangkan tidur REM meliputi 25% dari keseluruhan waktu tidur. Tidak dibagi-bagi dalam stadium seperti dalm tidur NREM.

Gelombang otak berubah sesuai dengan pertambahan usia. Pada usia lanjut tidur NREM stadium 1 dan 2 cenderung meningkat, aktivitas gelombang alfa menurun, sementara pada stadium 3 dan 4 aktivitas gelombang delta menurun atau hilang. Sehingga kondisi terjaga yang dapat timbul 2-4 kali selama tidur normal pada dewasa muda, pada orang tua akan meningkat. Orang tua lebih mudah terjaga oleh stimulasi internal atau eksternal dan lebih menyolok pada pria dibandingkan wanita. Narkolepsi atau jatuh tertidur sebentar pada siang hari juga meningkat frekuensinya pada usia tua. Kontinuitas tidur berkurang sehingga menurunkan efisiensi tidur sebanyak 20% dibandingkan dewasa muda. Walau sebenarnya rata-rata waktu tidur total pada usia lanjut hampir sama dengan dewasa muda, tapi orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, selain karena efisiensi tidur yang berkurang, juga karena merasa lebih letih dan merasa harus lebih banyak tidur. Pada usia lanjut juga terjadi perubahan siklus sirkadian. Dewasa muda umumnya mengantuk pada jam 10-11 malam lalu tertidur selama 8-9 jam, terbangun sekitar jam 6-8 pagi. Pada usia lanjut jam biologik menjadi lebih pendek, fase tidur lebih maju, sehingga orangtua memulai tidur lebih awal dan bangun lebih awal pula. Selain itu orangtua sering terbangun pada malam hari sehingga bangun pagi terasa tak segar, siang hari mengalami kelelahan dan lebih sering tertidur sejenak. Waktu tidur malam tampak lebih kurang sehingga mereka merasa mengantuk sepanjang hari. Gejala ini sering disalahartikan sebagai kecemasan atau depresif. Walaupun demikian perlu dibedakan dengan gangguan tidur spesifik karena gangguan medis atau psikiatrik tertentu. Perubahan keadaan hormonal yang berjalan sesuai siklus sirkadian seperti pola tidur juga berubah sesuai usia. Sekresi melatonin berkurang. Hormon ini berperan juga dalam mengontrol irama sirkadian. Sekresinya terutama pada malam hari, berhubugan dengan rasa mengantuk.

B. ETIOLOGI Gangguan tidur disebabkan oleh banyak faktor, masing-masing tergantung dari jenis gangguan tidurnya, tetapi secara garis besar dapat disebabkan oleh penyebab organik

yaitu akibat kerusakan/kelainan fungsi organ tubuh kita dan non-organik yaitu bukan berasal dari organ tubuh kita.

C. KLASIFIKASI Menurut Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders edisi ke empat (DSMIV) mengklasifikasikan gangguan tidur berdasarkan kriteria diagnostik klinik dan perkiraan etiologi. Tiga kategori utama gangguan tidur dalam DSM-IV adalah: 1. Gangguan tidur primer, 2. Gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan mental lain 3. Gangguan tidur lain, khususnya gangguan tidur akibat kondisi medis umum atau yang disebabkan oleh zat.

1. GANGGUAN TIDUR PRIMER Gangguan tidur primer terdiri atas dissomnia dan parasomnia. Dissomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur yang heterogen termasuk Insomnia primer, Hipersomnia primer, Narkolepsi, Gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan dan Gangguan tidur irama sirkadian. Parasomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur termasuk Gangguan mimpi menakutkan (nightmare disorder), Gangguan teror tidur, Gangguan tidur berjalan. a. Dissomnia Dissomnia Adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesukaran tidur (failling as sleep), mengalami gangguan selama tidur (difficulty in staying as sleep), bangun terlalu dini atau kombinasi diantaranya. Insomnia primer, ditandai dengan keluhan sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur atau tetap tidak segar meskipun sudah tidur. Keadaan ini berlangsung paling sedikit satu bulan. Menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinik atau impairment sosial, okupasional, atau fungsi penting lainnya. Gangguan tidur tidak terjadi secara eksklusif selama ada gangguan mental lainnya. Tidak disebabkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik umum atau zat. Seseorang dengan insomnia primer sering mengeluh sulit masuk tidur dan terbangun berkali-kali. Bentuk keluhan tidur

bervariasi dari waktu ke waktu. Misalnya, seseorang yang saat ini mengeluh sulit masuk tidur mungkin suatu saat mengeluh sulit mempertahankan tidur. Meskipun jarang, kadang-kadang seseorang mengeluh tetap tidak segar meskipun sudah tertidur. Hipersomnia primer, merupakan rasa kantuk yang berlebihan sepanjang hari yang berlangsung sampai sebulan atau lebih. Rasa kantuk yang berlebihan (terkadang disebut mabuk tidur) dapat berbentuk kesulitan untuk bangun setelah periode tidur yang panjang (biasanya 8-12 jam tidur). Meskipun banyak dari kita yang merasa mengantuk sepanjang hari, orang dengan hipersomnia primer memiliki periode rasa kantuk yang lebih parah dan bertahan lebih lama mengakibatkan kesulitan untuk melakukan fungsi seharihari karena sulit untuk bangun tidur. Narkolepsi, ditandai oleh serangan mendadak tidur yang tidak dapat dihindari pada siang hari, biasanya hanya berlangsung 10-20 menit atau selalu kurang dari 1 jam, setelah itu pasien akan segar kembali dan terulang kembali 2- 3 jam berikutnya. Gambaran tidurnya menunjukkan penurunan fase REM 3070%. Pada serangan tidur dimulai dengan fase REM. Berbagai bentuk narkolepsi: Narkolepsi kataplesia, adalah kehilangan tonus otot yang sementara baik sebagian atau seluruh otot tubuh. Hypnagogic halusinasi auditorik/visual adalah halusinasi pada saat jatuh tidur sehingga pasien dalam keadaan jaga, kemudian ke kerangka pikiran normal. Sleep paralis adalah otot volunter mengalami paralis pada saat masuk tidur sehingga pasien sadar ia tidak mampu menggerakkan ototnya. Gangguan ini merupakan kelainan heriditer, kelainannya terletak pada lokus kromoson 6 didapatkan pada orangorang Caucasian white dengan populasi lebih dari 90%, sedangkan pada bangsa Jepang 20-25%, dan bangsa Israel 1:500.000. Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin laki dan wanita. Kelainan ini diduga terletak antara batang otak bagian atas dan kronik pada malam harinya serta tidak rstorasi seperti terputusnya fase REM. Gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan (sleep apnea). Terdapat tiga jenis sleep apnea yaitu central sleep apnea, upper airway obstructive apnea dan bentuk campuran dari keduanya. Apnea tidur adalah gangguan pernafasan yang terjadi saat tidur, yang berlangsung selama lebih dari 10 detik. Dikatakan apnea tidur patologis jika penderita mengalami

episode apnea sekurang kurang lima kali dalam satu jam atau 30 episode apnea selama semalam. Selama periodik ini gerakan dada dan dinding perut sangat dominan. Apnea sentral sering terjadi pada usia lanjut, yang ditandai dengan intermiten penurunan kemampuan respirasi akibat penurunan saturasi oksigen. Apnea sentral ditandai oleh terhentinya aliran udara dan usaha pernafasan secara periodik selama tidur, sehingga pergerakan dada dan dinding perut menghilang. Hal ini kemungkinan kerusakan pada batang otak atau hiperkapnia. Gangguan saluran nafas (upper airway obstructive) pada saat tidur ditandai dengan peningkatan pernafasan selama apnea, peningkatan usaha otot dada dan dinding perut dengan tujuan memaksa udara masuk melalui obstruksi. Gangguan ini semakin berat bila memasuki fase REM. Gangguan saluran nafas ini ditandai dengan nafas megap-megap atau mendengkur pada saat tidur. Mendengkur ini berlangsung 3-6 kali bersuara kemudian menghilang dan berulang setiap 20-50 detik. Serangan apnea pada saat pasien tidak mendengkur. Akibat hipoksia atau hipercapnea,

menyebabkan respirasi lebih aktif yang diaktifkan oleh formasi retikularis dan pusat respirasi medula, dengan akibat pasien terjaga dan respirasi kembali normal secara reflek. Baik pada sentral atau obstruksi apnea, pasien sering terbangun berulang kali dimalam hari, yang kadang-kadang sulit kembali untuk jatuh tidur. Gangguan ini sering ditandai dengan nyeri kepala atau tidak enak perasaan pada pagi hari. Gangguan tidur irama sirkadian . Gangguan dimana penderita tidak dapat tidur dan bangun pada waktu yang dikehendaki, walaupun jumlah tidurnya tetap. Bagian-bagian yang berfungsi dalam pengaturan sirkadian antara lain temperatur badan, plasma darah, urine, fungsi ginjal dan psikologi. Dalam keadan normal fungsi irama sirkadian mengatur siklus biologi irama tidur bangun, dimana sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga untuk bangun/aktivitas. Siklus irama sirkadian ini dapat mengalami gangguan, apabila irama tersebut mengalami pergeseran. Perubahan yang jelas secara organik yang mengalami gang guan irama sirkadian adalah tumor pineal. Gangguan irama sirkadian dapat dikategorikan dua bagian yaitu sementara (acut work shift, Jet lag) dan Menetap (shift worker). Berbagai macam gangguan tidur gangguan irama sirkadian adalah sebagai berikut:

1. Tipe fase tidur terlambat (delayed sleep phase type) yaitu ditandai oleh waktu tidur dan terjaga lebih lambat yang diinginkan. Gangguan ini sering ditemukan dewasa muda, anak sekolah atau pekerja sosial. Orang-orang tersebut sering tertidur (kesulitan jatuh tidur) dan mengantuk pada siang hari (insomnia sekunder). 2. Tipe Jet lag ialah mengantuk dan terjaga pada waktu yang tidak tepat menurut jam setempat, hal ini terjadi setelah berpergian melewati lebih dari satu zone waktu. Gambaran tidur menunjukkan sleep latensnya panjang dengan tidur yang terputus-putus. 3. Tipe pergeseran kerja (shift work type). Pergeseran kerja terjadi pada orang yang secara teratur dan cepat mengubah jadwal kerja sehingga akan mempengaruhi jadwal tidur. Gejala ini sering timbul bersama-sama dengan gangguan somatik seperti ulkus peptikum. Gambarannya berupa pola irreguler atau mungkin pola tidur normal dengan onset tidur fase REM. 4. Tipe fase terlalu cepat tidur (advanced sleep phase syndrome). Tipe ini sangat jarang, lebih sering ditemukan pada pasien usia lanjut,dimana onset tidur pada pukul 6-8 malam dan terbangun antara pukul 1-3 pagi. Walaupun pasien ini merasa cukup ubtuk waktu tidurnya. Gambaran tidur tampak normal tetapi penempatan jadwal irama tidur sirkadian yang tdk sesuai. 5. Tipe bangun-tidur beraturan 6. Tipe tidak tidur-bangun dalam 24 jam. b. Parasomnia merupakan kelompok heterogen yang terdiri dari kejadian episode yang berlangsung pada malam hari pada saat tidur atau pada waktu antara bangun dan tidur. Kasus ini sering berhubungan dengan gangguan perubahan tingkah laku dan aksi motorik potensial, sehingga sangat potensial menimbulkan angka kesakitan dan kematian, Insidensi ini sering ditemukan pada usia anak berumur 3-5 tahun (15%) dan mengalami perbaikan atau penurunan insidensi pada usia dewasa (3%). Ada 3 faktor utama presipitasi terjadinya parasomnia yaitu: Peminum alkohol, Kurang tidur (sleep deprivation) dan Stress psikososial Kelainan ini terletak pada aurosal yang sering terjadi pada stadium transmisi antara bangun dan tidur. Gambaran berupa aktivitas otot skeletal dan perubahan sistem otonom. Gejala khasnya berupa penurunan kesadaran (konfuosius), dan diikuti aurosal dan amnesia episode tersebut. Seringkali terjadi pada stadium 3 dan 4.

Gangguan tidur berjalan (slepp walking)/somnabulisme Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat komplek termasuk adanya automatis dan semi purposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, menutup pintu, duduk ditempat tidur, menabrak kursi, berjalan kaki, berbicara. Tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali tidur. Gambaran tipikal gangguan tingkah laku ini didapat dengan gelombang tidur yang rendah, berlangsung 1/3 bagian pertama malam selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4. Selama serangan, relatif tidak memberikan respon terhadap usaha orang lain untuk berkomunikasi dengannya dan dapat dibangunkan susah payah. Pada gambaran EEG menunjukkan irama campuran terutama theta dengan gelombang rendah. Bahkan tidak didapatkan adanya gelombang alpha.

Gangguan teror tidur merupakan berdiri ditempat tidur yang tampak seperti ketakutan dan bergerak-gerak. Serangan ini terjadi sepertiga malam yang berlangsung selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4. Kadang-kadang penderita tetap terjaga dalam keadaan terdisorientasi, atau sering diikuti tidur berjalan. Gambaran teror tidur mirip dengan teror berjalan baik secara klinis maupun dalam pemeriksaan polisomnografy. Teror tidur mungkin

mencerminkan suatu kelainan neurologis minor pada lobus temporalis. Pada kasus ini sering kali terjadi perubahan sistem otonomnya seperti takhicardi, keringat dingin, pupil dilatasi, dan sesak nafas. Gangguan mimpi menakutkan (nightmare disorder) Merupakan proses terjaga dari tidur secara berulang karena mimpi yang menakutkan (mimpi buruk). Mimpi buruk biasanya melibatkan cerita panjang seperti mimpi di mana terdapat ancaman akan adanya bahaya fisik yang sudah dekat dengan individu, seperti dikejar, diserang, atau dilukai. Orang yang mengalami biasanya dapat mengingat mimpi buruk ini dengan jelas pada saat bangun tidur. Meskipun kesadaran diperoleh segera setelah bangun, kecemasan dan ketakutan tetap bertahan dan menghalangi mereka untuk tidur kembali. Mungkin setengah dari populasi dewasa sesekali mengalami mimpi buruk, meskipun masih belum diketahui persentase dari orang-orang yang mengalami mimpi buruk intensif dan berulang yang menghasilkan suatu distres emosional atau kesulitan berfungsi yang mengacu pada diagnosis gangguan mimpi buruk. Mimpi buruk sering dihubungkan dengan pengalaman traumatis dan umumnya lebih sering terjadi ketika individu berada dalam kondisi stress. Mimpi buruk

biasanya muncul saat tidur REM. Biasanya muncul pada larut malam atau menjelang subuh. Meskipun mimpi buruk dapat berisi aktivitas motorik yang hebat, seperti melarikan diri dari serangan, para pemimpi menunjukkan sedikit aktivitas otot. Proses biologis yang sama yang mengaktifkan mimpi (termasuk mimpi buruk) akan menghambat gerakan tubuh, mengakibatkan suatu jenis kelumpuhan.

2. GANGGUAN TIDUR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANNGUAN MENTAL / PSIKIATRIK LAIN Pada depresi berat dapat dijumpai latensi REM yang pendek, menurunnya tidur stadium 4 dan kehilangan waktu tidur total. Onset tidur relatif normal, tapi sering terbangun lebih awal di pagi hari dan sulit tidur kembali. Pada anxietas terjadi perpanjangan`latensi tidur, tidur gelisah disertai mimpi yang menakutkan dan serangan panik muncul selama tidur itu sendiri. Pada psikosis dapat dijumpai insomnia atau mengantuk yang berlebihan. Pasien mungkin menunjukkan perpanjangan latensi tidur, pengurangan tidur delta, latensi REM yang pendek. Kondisi demensia dan delirium ditandai oleh peningkatan durasi dan frekuensi terjaga malam hari, peningkatan tidur stadium 1, berkurangnya gelombang lambat (stadium 3 dan 4) dan tidur REM, mengantuk berlebihan di luar masa tidur dan sering serangan tidur sejenak.

3. GANGGUAN TIDUR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONDISI MEDIS UMUM Tiap jenis gangguan tidur dapat disebabkan oleh kondisi medik umum seperti gangguan gastrointestinal, asma, bronkitis, nyeri kepala, nyeri karena artritis, neoplasma, infeksi, kelainan degeneratif, kelainan endokrin (diabetes melitus, hipertiroid), kelainan jantung (gagal jantung), arteriosklerosis dan kelainan neurologis. Kelainan medik umum ini sering didapat pada usia tua. Keluhan tidur yang dapat timbul berupa kesulitan untuk tertidur, sering terbangun malam hari dan keluhan lainnya.

Menurut PPGD III gangguan tidur dikelompokan berdasarkan etiologi gangguan tidur non-organik. Yang termasuk kelompok ini adalah:3

a. Dysomnia adalah kondisi psikogenik primer dimana gangguan utamanya adalah jumlah, kualitas atau waktu tidur yang disebabkan oleh hal-hal emosional, misalnya: insomnia, hipersomnia, gangguan jadwal tidur-jaga. b. Parasomnia adalah peristiwa episodik abnormal yang terjadi selama tidur (pada kanak-kanak hal ini terkait terutama dengan perkembangan anak, sedangkan pada dewasa terutama pengaruh psikogenik). Pada kebanyakan kasus, gangguan tidur adalah salah satu gejala dari gangguan lainnya, baik mental atau fisik. walaupun gangguan tidur yang spesifik terlihat secara klinis berdiri sendiri sejumlah faktor psikiatri dan atau fisik yang terkait memberikan kontribusi pada kejadiannya. Secara umum adalah lebih baik membuat diagnosis gangguan tidur yang spesfik bersamaan dengan diagnosis lain yang relevan untuk menjelaskan secara adekuat atau patofisiologinya.

D. DIAGNOSIS Dalam diagnosis gangguan tidur ada beberapa kriteria yang dijabarkan menurut DSM-IV atau PPGDJ III. Namun disini penulis lebih menjabarkan diagnosis menurut PPGDJ III. PPGDJ III mengelompokan gangguan tidur non-organik terdiri dari: 1. F51.0 Insomnia non-organik 2. F51.1 Hipersomia non-organik 3. F51.2 Gangguan jadwal tidur jaga non-organik 4. F51.3 Somnambulisme (sleep walking) 5. F51.4 Teror tidur (night terrors) 6. F51.5 Mimpi buruk (nightmares) 7. F51.8 Gangguan tidur non-organik lainnya 8. F51.9 Gangguan tidur non-organik YTT (Yang Tidak Tergolongankan) F51.0 Insomnia non-organik

Pedoman Diagnostik : Hal tersebut dibawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti: a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk b. Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu salama minimal satu bulan c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari sepanjang siang hari d. Ketidakpuasanan terhadap kuantitas dan kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan. Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti jiwa lain seperti depresi, anxietas atau obsesi tidak menyebabkan diagnosis insominia diabaikan. Semua ko-morbiditas harus dicantumkan karena membutuhkan terapi sendiri. Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria diatas (seperti pada transient insomnia) tidak didiagnosis disini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut atau gangguan penyesuaian.

F51.0 Hiperinsomnia non-organik Pedoman Diagnostik : Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti: a. Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur (tidak disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang), atau transisi yang memanjang dari saat mulai bangun tidur sampai sadar sepenuhnya (sleep drunkenness). b. Terjadi setiap hari selama 1 bulan atau berulang dengan kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi sosial dan pekerjaan. c. Tidak ada gejala tambahan narkolepsy (cataplexy, sleep paralysis, hypnagogic hallucination) atau bukti klinis untuk sleep apnoe (nocturnal breath cessation, typical intermittent snoring sound, etc). d. Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukan gejala rasa kantuk pada siang hari Bila hipersomnia hanya merupakan satu gejala dari gangguan jiwa lain, misalnya gangguan afektif, maka diagnosis harus sesuai dengan gangguan yang mendasarinya. Diagnosis hipersomnia psikogenik harus ditambahkan bila hipersomia merupakan keluhan yang dominan dari penderita gangguan jiwa lainnya.

F51.2 Gangguan jadwal tidur jaga non-organik Pedoman Diagnostik : Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti: a. Pola tidur-jaga dari individu tidak seirama (out of synchorny) dengan pola tidur-jaga yang normal bagi masyarakat setempat. b. Insomnia pada waktu orang-orang tidur dan hiperinsomina pada waktu kebanyakan orang jaga, dialami hampir setiap hari untuk sedikitnya 1 bulan atau berulang dalam kurun waktu yang lebih pendek c. Ketidakpuasan dalam kuantitas, kualitas dan waktu tidur yang menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan. Adanya gejala gangguan jiwa lain, seperti anxietas, depresi, hipomania, tidak menutup kemungkinan diagnosis gangguan jadwal tidur-jaga non-organik, yang penting adanya dominasi gambaran klinis gangguan ini pada penderita. Apabila gejala gangguan jiwa lain cukup jelas dan menetap harus dibuat diagnosis gangguan jiwa secara terpisah.

F51.3 Somnambulisme (sleep walking) Pedoman Diagnostik Gambaran klinis dibawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti: a. Gejala utama adalah satu atau lebih episode bangun dari tempat tidur, biasanya pada sepertiga awal tidur malam dan terus berjalan-jalan (kesadaran berubah) b. Selama satu episode, individu menunjukan wajah bengong (blank, staring face), relatif tak memberi respons terhadap upaya orang lain untuk mempengaruhi keadaan atau untuk berkomunikasi dengan penderita hanya dapat disadarkan atau dibangunkan dari tdurnya dengan susah payah. c. Somnambulisme harus dibedakan dari serangan epilepsi psikomotor dan fugue disosiatif.

F51.4 Teror tidur (night terrors) F51.5 Mimpi buruk (nightmares) F51.8 Gangguan tidur non-organik lainnya F51.9 Gangguan tidur non-organik YTT (Yang Tidak Tergolongankan)

E. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan gangguang tidur dibagi menjadi 2, yaitu penatalaksanaan umum dan penatalaksanaan khusus. 1. Penatalaksanaan Umum berupa edukasi dan pendekatan a. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya: untuk mencari penyebab dasarnya dan pengobatan yang adekuat. Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik. Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat hipnotik,alkohol, gangguan mental Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek

b. Konseling dan Psikotherapi

Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti (depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita dapat membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita tanpa penggunaan obat hipnotik. c. Sleep hygiene terdiri dari: Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan Hindari tidur pada siang hari/sambilan Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut kosong Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit) Hindari rasa cemas atau frustasi Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak

2. Penatalaksaan Khusus berupa terapi farmakologi Terapi ini perlu mempertimbangkan banyak faktor, antara lain bahwa pasien mungkin pernah mendapatkan resep obat bervariasi, kemungkinan dapat terjadi interaksi obat yang membahayakan dan pengobatan itu sendiri dapat menyebabkan gangguan tidur. Perlu dipertimbangkan bahwa pasien lanjut usia memiliki laju metabolisme dan ekskresi yang kurang efektif, sering mengalami efek farmakologis yang berkepanjangan (seperti mual, sedasi, gangguan kognitif, gangguan perilaku, psikomotor, dll). Karena itu dianjurkan penggunaan medikamentosa dosis rendah, waktu kerja singkat dan secara reguler diamati efek samping obat sehingga tidak menimbulkan efek kumulatif yang berbahaya. Tujuan pengobatan adalah

meningkatkan efektivitas tidur malam hari dengan tetap berfungsi baik di siang hari. Terapi menggunakan obat dapat diberikan setelah menentukan diagnosis. Beberapa contoh terapi obat pada pada lansia misalnya, insomnia jangka pendek (short term) dapat diberikan Triazolam 0,125 0,25 mg atau jenis benzodiazepin lainnya yang bekerja cepat dan hilang cepat dari tubuh. Sedangkan untuk insomnia jangka panjang (long term) diberikan neuroleptika dengan dosis kecil seperti klorpromazin, levomepromazin dan tioridazin. Pada pasien usia lanjut dengan insomnia dan depresi, diberikan antidepresan jenis tetrasiklik, serotonin selective receptor inhibitor (SSRI), dan mono amino oxisidase inhibitor (MAOI), misalnya

Maprotiline 10 25 mg, Fluxetine 20 mg pada pagi hari atau Moclobemide dua kali 150 mg.

BAB III KESIMPULAN

Tidur merupakan suatu proses di otak yang dibutuhkan seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Gangguan tidur ini merupakan masalah bagi setiap orang terutam para usia lanjut. Tiga kategori utama gangguan tidur dalam DSM-IV adalah gangguan tidur primer, gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan mental lain, dan gangguan tidur lain, khususnya gangguan tidur akibat kondisi medis umum atau yang disebabkan oleh zat. Gangguan tidur primer terdiri atas dissomnia dan parasomnia. Dissomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur yang heterogen termasuk insomnia primer, hipersomnia primer, narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, dan gangguan tidur irama sirkadian. Parasomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur termasuk gangguan mimpi menakutkan (nightmare disorder), gangguan teror tidur, dan gangguan tidur berjalan. Pendekatan secara sistematik terhadap gangguan tidur lebih ditekankan pada pendekatan komprehensif terhadap seluruh kondisi kesehatan fisik dan mentalnya dan lebih bersifat konservatif. Upaya meningkatkan higiene tidur perlu dilaksanakan di rumah maupun di panti werda. Terapi dengan obat-obatan psikotropika perlu diberikan dengan dimulai dosis efektif paling kecil sehingga tidak menimbulkan efek kumulatif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.l dan Saddock B.J. 2007. Normal sleep and sleep disorder in Comprehensive Textbook of Psychiatry vol.2 10th edition. USA: Williams and Wilikins Baltimore. pg.786-790 2. American Psychiatry Association. 1994. Sleep Disorder in Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 4th ed. DSM-IV. Birtish Libary: Washington DC . Pg.551-607 3. Maslim R. 2001. Ganguan Tidur Non-organik dalam Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasan dari PPGDJ-III. Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FKUNIKA Atmajaya: Jakarta. hal.92-96