Anda di halaman 1dari 51

ANALISIS

SISTEM TENAGA LISTRIK I


Pustaka :
1. ELEMENT OF POWER SYSTEM ANALYSIS, W.D. STEVENSON
2. ELECTRICAL POWER SYSTEM, DESIGN AND ANALYSIS,
MOH. E. EL-HAWARY
3. POWER SYSTEM ANALYSIS , C.A. GROSS
1
MATERI KULIAH
1. KONSEP-KONSEP DASAR LISTRIK
DAYA LISTRIK, ALIRAN DAYA, SISTEM 3 PHASA, HUBUNGAN , Y.
2. REPRESENTASI SISTEM TENAGA LISTRIK
KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM TENAGA LISTRIK, DIAGRAM
SEGARIS, DIAGRAM IMPEDANSI/REAKTANSI, BESARAN
PERSATUAN.
3. MODEL RANGKAIAN
MATRIK [Y Bus], MATRIK [Z Bus]
4. METODE PENYELESAIAN ALIRAN DAYA
METODE GAUSS-SEIDEL, METODE NEWTON-RHAPSON
DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA LISTRIK 1, DIANALISIS SISTEM
TENAGA LISTRIK 3 PHASA YANG SEIMBANG / SIMETRI DAN DALAM
KEADAAN STEADY STATE
2
1. PENDAHULUAN
SISTEM TENAGA LISTRIK
SISTEM YANG MEMBANGKITKAN, MENGATUR, MENYALURKAN /
MEMBAGI, DAN AKHIRNYA YANG MEMAKAI TENAGA LISTRIK.
BAGIAN UTAMA SISTEM TENAGA LISTRIK
1. PEMBANGKIT
2. SALURAN TRANSMISI
3. DISTRIBUSI / BEBAN
PEMBANGKIT
- GENERATOR-GENERATOR YANG ( + PRIME MOVERNYA )
- TEGANGAN YANG DIBANGKITKAN : 13.8-24 kV
- PERALATAN PENGATUR TEGANGAN DAN FREKUENSI
- TRANSFORMATOR-TRANSFORMATOR TEGANGAN TINGGI
SALURAN-SALURAN TRANSMISI / SUBTRANSMISI
- SALURAN-SALURAN TRANSMISI TEGANGAN TINGGI
- TEGANGAN : 34.5 SAMPAI 765 Kv
- TRANSFORMATOR PENGATUR DAYA AKTIF DAN REAKTIF

3
DISTRIBUSI / BEBAN
- FEEDER-FEEDER YANG MENGHUBUNGKAN BERMACAM-MACAM
BEBAN
- TEGANGAN : 220 VOLT-35 Kv
KARAKTERISTIK SISTEM TENAGA LISTRIK
SISTEM TENAGA TIDAK DAPAT MENYIMPAN ENERGI ATAUPUN
BUKAN MERUPAKAN SUMBER ENERGI
SISTEM TENAGA LISTRIK HANYA MENGUBAH ENERGI YANG
TERSEDIA DARI SUMBER-SUMBER ALAM MENJADI ENERGI LISTRIK
DAN SISTEM TERSEBUT MENGATUR PEMAKAIAN ENERGI LISTRIK
SECARA EFISIEN.
SUMBER-SUMBER ENERGI ALAM :
1. FOSSIL FUEL ( BATUBARA, MINYAK, GAS ALAM )
2. FOSSIL MATERIAL ( URANIUM, THORIUM )
3. ALIRAN AIR
4. ANGIN, TENAGA MATAHARI, TENAGA AIR LAUT, DLL
4
PENGOPERASIAN SISTEM TENAGA LISTRIK
SISTEM TENAGA LISTRIK YANG PERTAMA-TAMA DIBANGUN TERDIRI
DARI PUSAT-PUSAT PEMBANGKIT YANG TERPISAH-PISAH DAN MASING-
MASING PEMBANGKIT MENCATU BEBANNYA JUGA SECARA TERPISAH.
SAAT INI SISTEM TENAGA LISTRIK TERDIRI DARI SEJUMLAH PUSAT-
PUSAT PEMBANGKIT YANG BEKERJA PARALEL DAN MENCATU
SEJUMLAH PUSAT-PUSAT BEBAN MELALUI SALURAN TRANSMISI
TEGANGAN TINGGI.
SISTEM TENAGA LISTRIK TERSEBUT BIASANYA DIHUBUNGKAN SECARA
INTERKONEKSI DENGAN BEBERAPA SISTEM TENAGA LISTRIK YANG LAIN
SEHINGGA BERBENTUK MULTI AREA SYSTEM
HAL INI DILAKUKAN AGAR SISTEM TENAGA LISTRIK DAPAT BEKERJA
SECARA EKONOMIS DAN UNTUK MENAIKKAN KEANDALAN SISTEM,
DENGAN AKIBAT :
PENGOPERASIAN SISTEM TENAGA LISTRIK BERTAMBAH KOMPLEKS
DENGAN TIMBULNYA LEBIH BANYAK PERSOALAN-PERSOALAN YANG
HARUS DIATASI.
PERSOALAN-PERSOALAN OPERASI :
1. LOAD FORECASTING
2. UNIT COMITMENT
3. ECONOMIC DISPATCH
4. ANALISIS ALIRAN DAYA
5. ANALISIS HUBUNG SINGKAT
6. ANALISIS STABILITAS
7. LOAD-FREQUENCY CONTROL
5
PERANAN KOMPUTER DALAM SISTEM TENAGA LISTRIK
KEUNTUNGAN :
- FLEXIBLE ( DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGANALISIS HAMPIR
SEMUA PERSOALAN)
- TELITI
- CEPAT
- EKONOMIS
LANGKAH-LANGKAH :
1. MEMBUAT MODEL-MODEL MATEMATIS DARI PERSOALAN YANG
AKAN DISELESAIKAN ( SATU SET PERSAMAAN ALJABAR /
DIFFERENSIAL)
2. DENGAN MENENTUKAN METODE NUMERIK ( KETELITIAN YANG
CUKUP TINGGI DAN WAKTU KOMPUTASI CUKUP BERAT )
3. MENULIS / MENYUSUN PROGRAM KOMPUTER
PENGGUNAAN :
1. OFF-LINE : DATA DIPEROLEH DARI OPERATOR ( MANUSIA ),
DENGAN DATA TERSEBUT ANALISIS / PERHITUNGAN DILAKUKAN
DENGAN KOMPUTER. UNTUK PERANCANAAN SISTEM, ANALISIS
BILA ADA PERUBAHAN / PERLUASAN SISTEM, PERHITUNGAN
PERIODIK SEHUBUNGAN DENGAN OPERASI SISTEM.
2. ON-LINE : KOMPUTER MENERIMA DATA LANGSUNG DARI SISTEM
YANG SEDANG OPERASI. PADA PENGATURAN BEBAN DAN
FREKUENSI, ECONOMIC DISPATCH, DLL.
6
II. KONSEP-KONSEP DASAR
1. DAYA LISTRIK PADA RANGAKAIAN SATU PHASA
PADA DASARNYA DAYA LISTRIK PADA SUATU ELEMEN ADALAH
TEGANGAN PADA ELEMEN TERSEBUT DIKALIKAN DENGAN ARUS
YANG MENGALIR MELALUI ELEMEN TERSEBUT.
wt V v cos .
max

) cos( .
max
wt I i
: +, UNTUK ARUS LAGGING
: -, UNTUK ARUS LEADING
MAKA DAYA SESAAT :
) cos( . cos . Im . max . wt wt ax V i v S
wt
ax V
wt
ax V
i v S 2 sin . sin
2
Im . max
) 2 cos 1 ( cos .
2
Im . max
. + +
ATAU
wt I V wt I V S 2 sin sin ) 2 cos 1 ( cos + +
DIMANA
V
DAN
I
ADALAH HARGA EFEKTIF DARI TEGANGAN
DAN ARUS.
) 2 cos 1 ( cos wt I V +
: SELALU POSITIF
DENGAN HARGA RATA-RATA :
cos I V P
P : DISEBUT DAYA NYATA / AKTIF ( WATT )
Cos : DISEBUT FAKTOR KERJA
LAGGING UNTUK RANGKAIAN INDUKTIF
LEADING UNTUK RANGKAIAN KAPASITIF
wt I V 2 sin sin
: MEMPUNYAI HARGA POSITIF DAN NEGATIF,
7
DENGAN HARGA RATA-RATA NOL
sin I V Q
Q: DISEBUT DAYA SEMU / REAKTIF (Var)
POSITIF UNTUK BEBAN INDUKTIF
NEGATIF UNTUK BEBAN KAPASITIF
2. BENTUK KOMPLEKS DARI BESARAN TEGANGAN DAN ARUS
LISTRIK

0 V v
(DIGUNAKAN SEBAGAI REFERENSI)
I i
(LAGGING)
3. DAYA LISTRIK DALAM BENTUK KOMPLEKS
DAYA LISTRIK :
jQ P S +
DIMANA :
S : DAYA LISTRIK (VA)
P :
cos I V
, DAYA AKTIF (WATT)
Q :
sin I V
, DAYA REAKTIF (Var)
V
,
I
: HARGA EFEKTIF TEGANGAN dan ARUS
: SUDUT PHASA
- I LAGGING TERHADAP V
+ I LEADING TERHADAP V
cos : FAKTOR KERJA
8
) )( 0 (
) sin (cos
sin cos





+
+

I V S
I V S
j I V S
I V j I V S
*
VI S
*
VI jQ P +
I V Q P S +
2 2
*
VI jQ P +

I V jQ P
*

*
VI jQ P S +
e e
V j V V sin cos +
i i
I j I I sin cos +
i i
I j I I sin cos
*

) sin cos )( sin cos (
*
i i e e
I j I V j V VI + +
) sin cos cos (sin ( ) sin sin cos cos (
*
i e i e i e i e
I V j I V VI + +
+
i e i e
cos cos ) cos(
i e
sin sin
1
sin cos cos sin ) sin(
e i e i e

{ } ) sin( ) cos(
*
i e i e
j I V VI +
sin cos
*
I V j I V VI +
S VI
jQ P VI

+
*
*
4. ALIRAN DAYA AKTIF
9
BILA
cos I
SEPHASE DENGAN V, BERARTI DAYA LISTRIK
DIBANGKITKAN (SUMBER ADALAH GENERATOR) DAN MENGALIR
MENUJU SISTEM (ARUS KELUAR DARI TERMINAL POSITIF)
) (
*
VI R P
e

MEMPUNYAI TANDA POSITIF


BILA
cos I
MEMPUNYAI BEDA PHASE 180
0
TERHADAP V, BERARTI DAYA
DISERAP ( SUMBER ADALAH MOTOR ), DAN ARUS MENUJU TERMINAL
POSITIF DARI SUMBER.
) (
*
VI R P
e

MEMPUNYAI TANDA NEGATIF.


5. ALIRAN DAYA REAKTIF
10
DAYA REAKTIF SEBESAR
L
X I
2
(DENGAN TANDA POSITIF) DIBERIKAN
PADA INDUKTANSI ATAU INDUKTANSI MENYERAP DAYA REAKTIF.
ARUS I TERBELAKANG (LAGGING) 90

TERHADAP V
) (
*
VI I Q
m

MEMPUNYAI TANDA POSITIF.



DAYA REAKTIF SEBESAR
C
X I
2
(DENGAN TANDA NEGATIF) DIBERIKAN
PADA KAPASITOR ATAU SUMBER MENERIMA DAYA REAKTIF DARI
KAPASITOR.
ARUS I TERBELAKANG (LEADING) 90

TERHADAP V
) (
*
VI I Q
m

MEMPUNYAI TANDA NEGATIF.


CONTOH :
11
DUA SUMBER TEGANGAN IDEAL MENGGAMBARKAN DUA BUAH MESIN
AC, DENGAN

0 100
1
E volt,

30 100
2
E DAN
+ 5 0 j Z
A j
j
j j
Z
E E
I
0 2 1
195 35 . 10 68 . 2 10
5
) 50 6 . 86 ( 0 100

+ +

VA j j I E 268 1000 ) 68 . 2 10 ( 100


*
1
+ +
VA j j j I E 268 1000 ) 68 . 2 10 )( 50 6 . 86 (
*
2
+ +
var 536 5 ) 35 . 10 (
2
2
x x I
MESIN 1 ADALAH MOTOR KARENA P MEMPUNYAI NILAI NEGATIF DAN Q
POSITIF, SEHINGGA MESIN 1 MEMAKAI ATAU MENERIMA DAYA NYATA
SEBESAR 1000 W DAN MENGELUARKAN DAYA REAKTIF SEBESAR 268 var.
MESIN 2 ADALAHv GENERATOR, KARENA P MEMPUNYAI NILAI NEGATIF
DAN Q NEGATIF, MESIN 2 MEMBANGKITKAN DAYA NYATA SEBESAR 1000
W DAN MENSUPLAI DAYA REAKTIF SEBESAR 268 var.
DAYA REAKTIF YANG DIBERIKAN OLEH KEDUA MESIN ADALAH
268+268=536 var. DAYA REAKTIF INI DIPAKAI OLEH REAKTANSI INDUKTIF
SEBESAR 5.
6. SISTEM TIGA PHASA
SISTEM TEGANGAN TIGA PHASA YANG SEIMBANG TERDIRI DARI
TEGANGAN SATU PHASA YANG MEMPUNYAI MAGNITUDE DAN
FREKUENSI YANG SAMA TAPI ANTARA SATU DENGAN LAINNYA
MEMPUNYAI BEDA PHASA SEBESAR 120
O
.
12
1
PHASOR TEGANGAN DENGAN URUTAN PHASA abc
7. HUBUNGAN ANTARA ARUS DAN TEGANGAN
HUBUNGAN BINTANG (Y)
13
n : TITIK NETRAL
Vab, Vbc, Vca : TEGANGAN LINE
Van, Vbn, Vcn : TEGANGAN PHASE
TEGANGAN-TEGANGAN PHASE MEMPUNYAI MAGNITUDE YANG
SAMA, DAN MASING-MASING MEMPUNYAI BEDA PHASE 120
0

TERHADAP LAINNYA.
SISTEM SEIMBANG :
P cn bn an
V V V V
HARGA EFEKTIF DARI HARGA MAGNITUDE TEGANGAN PHASA
) 120 1 1 (
120
120
0
0
0
0
0

+




P ab
bn an ab
bn an ab
P an
P an
P an
V V
V V V
V V V
V V
V V
V V
P l
p ca
p bc
p ab
V V
V V
V V
V V
3
150 3
90 3
30 3
0
0
0




V
l
: HARGA EFEKTIF TEGANGAN LINE
V
p
: HARGA EFEKTIF TEGANGAN PHASE
14
p l
I I
l
I
: HARGA EFEKTIF ARUS LINE
p
I
: HARGA EFEKTIF ARUS PHASA
HUBUNGAN DELTA ()
I
ab,
I
bc,
I
ca
: ARUS PHASE
I
aa`,
I
bb`,
I
cc`
: ARUS LINE
ARUS-ARUS PHASE MEMPUNYAI MAGNITUDE YANG SAMA, DAN
MASING-MASING MEMPUNYAI BEDA PHASE 120
0
TERHADAP LAINNYA.
15
SISTEM SEIMBANG :
P ca bc ab
I I I I
HARGA EFEKTIF DARI HARGA MAGNITUDE ARUS PHASA
0
`
0
`
0
`
0 0
`
`
0
0
0
90 3
30 3
150 3
) 0 1 120 1 (
120
120
0








P cc
P bb
P aa
p aa
ab ca aa
P ca
P bc
P ab
I I
I I
I I
I I
I I I
I I
I I
I I
P l
I I 3
I
l
: HARGA EFEKTIF ARUS LINE
I
p
: HARGA EFEKTIF ARUS PHASE
p l
V V
l
V
: HARGA EFEKTIF ARUS LINE
p
V
: HARGA EFEKTIF ARUS PHASA
8. DAYA PADA SISTEM TIGA PHASA
DAYA YANG DIBERIKAN OLEH GENERATOR TIGA PHASE ATAU YANG
DISERAP OLEH BEBAN TIGA PHASA :
JUMLAH DAYA DARI TIAP-TIAP PHASA
SISTEM SEIMBANG :
P P P
Cos I V P 3
P P P
Sin I V Q 3
P

=SUDUT ANTARA ARUS PHASA (LAGGING) DAN TEGANGAN PHASA


HUBUNGAN Y : HUBUNGAN :
16
l P P
I I
V
V ;
3
1

l P P
V V
I
I ;
3
1
DIMASUKKAN KE PERSAMAAN DI ATAS, DIPEROLEH :
P
Cos I V P
1 1
3
DENGAN CARA YANG SAMA DIPEROLEH :
P
Sin I V Q
1 1
3
SEHINGGA,
1 1
2 2
3 I V Q P S +
III. REPRESENTASI SISTEM TENAGA LISTRIK
SISTEM TENAGA LISTRIK MERUPAKAN HUBUNGAN ANTARA 3 BAGIAN
UTAMA, YAITU SISTEM PEMBANGKIT, SISTEM TRANSMISI SERTA
BEBAN.
SISTEM PEMBANGKIT :
GENERATOR SEREMPAK, SISTEM PENGATURAN TEGANGAN SISTEM
PENGGERAK UTAMA BESERTA MEKANISME GOVERNOR.
SISTEM TRANSMISI :
17
SALURAN TRANSMISI, TRANSFORMATOR, PERALATAN RELAY
PENGAMAN, PEMUTUS RANGKAIAN, STATIC CAPACITOR, SHUNT
REACTOR.
BEBAN :
TIDAK DIBERIKAN SECARA TERPERINCI, DIPRESENTASIKAN SEBAGAI
IMPEDANSI TETAP YANG MENYERAP DAYA DARI SISTEM.
KOMPONEN UTAMA :
1. GENERATOR SEREMPAK
2. SALURAN TRANSMISI
3. TRANSFORMATOR
4. BEBAN
DIGUNAKAN RANGKAIAN PENGGANTI DARI KOMPONEN-KOMPONEN
UTAMA DALAM MENGANALISIS SISTEM TENAGA LISTRIK.
RANGAKAIAN PENGGANTI YANG DIGUNAKAN ADALAH RANGKAIAN
PENGGANTI SATU PHASA DENGAN NILAI PHASA-NETRALNYA,
DENGAN ASUMSI SISTEM 3 PHASA YANG DIANALISIS DALAM
KEADAAN SEIMBANG PADA KONDISI NORMAL.
D.P.L :

UNTUK MEMPRESENTASIKAN SUATU SISTEM TENAGA LISTRIK
DIGUNAKAN DIAGRAM YANG DISEBUT :
DIAGRAM SEGARIS
(ONE LINE DIAGRAM)
18
DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA HANYA SATU PHASA DARI
SISTEM TENAGA LISTRIK TIGA PHASA YANG DIANALISIS.
A. RANGKAIAN PENGGANTI KOMPONEN UTAMA
1. GENERATOR SEREMPAK
ROTOR YANG DICATU OLEH SUMBER ARUS SEARAH MENGHASILKAN
MEDAN MAGNET YANG BERASAL DARI ARUS YANG MENGALIR PADA
BELITAN ROTOR.
ROTOR TERSEBUT DIPUTAR OLEH PRIME MOVER (TURBIN), SEHINGGA
MEDAN MAGNET YANG DIHASILKAN ROTOR TERSEBUT MEMOTONG
KUMPARAN-KUMPARAN PADA STATOR.
AKIBTNYA TEGANGAN DIINDUKSIKAN PADA KUMPARAN STATOR
TERSEBUT.
FREKUENSI DARI TEGANGAN YANG DIBANGKITKAN OLEH STATOR
ADALAH :
60 2
m P
f
Hz
DIMANA :
P : JUMLAH DARI KUTUB-KUTUB ROTOR
m : KECEPATAN ROTOR (rpm)
TEGANGAN YANG DIBANGKITKAN PADA KUMPARAN STATOR
DISEBUT TEGANGAN BEBAN NOL.
GENENRATOR 3 DENGAN BELITAN STATOR 3 MEMBANGKITKAN
TEGANGAN 3 YANG SEIMBANG.
19
BILA SUATU BEBAN 3 SEIMBANG DIHUBUNGKAN KE GENERATOR,
MAKA AKAN MENGALIR ARUS 3 SEIMBANG PADA BELITAN-BELITAN
STATOR 3-NYA ( BELITAN JANGKAR)
ARUS TERSEBUT MENIMBULKAN MMF YANG DISEBUT MMF DARI
REAKSI JANGKAR.
SEHINGGA MEDAN MAGNET YANG DI DALAM AIR GAP MERUPAKAN
RESULTAN DARI MMF YANG DIHASILKAN OLEH ROTOR DAN REAKSI
JANGKAR TERSEBUT.
DAN, MMF RESULTAN TERSEBUT YANG MEMBANGKITKAN
TEGANGAN PADA TIAP-TIAP PHASA DARI KUMPARAN STATOR.
ROTOR KUTUB MENONJOL
( SALIENT POLE)
ROTOR KURUB BULAT
( NON SALIENT POLE )
PADA ANALISIS SISTEM TENAGA I ( SISTEM DALAM KEADAAN
STEADY STATE), KARAKTERISTIK GENERATOR DENGAN KUTUB
MENONJOL MENDEKATI KARAKTERISTIK GENERATOR DENGAN
KUTUB BULAT.
GENERATOR DENGAN KUTUB BULAT
Ia = ARUS PADA KUMPARAN
STATOR
Ef =TEGANGAN BEBAN NOL
Ear=TEGANGAN AKIBAT REAKSI
JANGKAR
Er = TEGANGAN RESULTAN
20
ar a ar
X jI E
TEGANGAN YANG DIBANGKITKAN PADA PHASA a OLEH FLUX DI
DALAM AIR GAP ADALAH :
ar a f ar f r
X jI E E E E +
TEGANGAN TERMINAL PHASA a TERHADAP NETRAL :
1
X jI X jI E V
a ar a f t

ATAU DAPAT DITULIS
DIMANA X
s
= X
ar
+ X
1
= DISEBUT REAKTANSI SINKRON
R
a
= TAHANAN KUMPARAN STATOR
= HARGANYA BIASANYA SANGAT LEBIH KECIL TERHADAP
X
S
DAN BIASANYA DIABAIKAN.
RANGAKAIAN PENGGANTI
PHASOR DIAGRAM TEGANGAN
21
s a f t
s a a f t
X jI E V
X R I E V

+ ) (
URAIAN DI ATAS JUGA BERLAKU UNTUK MOTOR DENGAN ARAH ARUS
BERLAWANAN.
RANGAKAIAN PENGGANTI UNTUK MOTOR JUGA SAMA DENGAN ARAH
ARUS BERLAWANAN.
2. SALURAN TRANSMISI
UNTUK MEREPRESENTASIKAN SALURAN TRANSMISI KE DALAM
BENTUK RANGKAIAN PENGGANTINYA, TERGANTUNG PADA
PANJANG SALURAN SERTA KETELITIAN YANG DIINGINKAN.
MENURUT PANJANGNYA DAPAT DIKLASIFIKASIKAN :
1. SALURAN TRANSMISI PENDEK ( KURANG DARI 80 km )
2. SALURAN TRANSMISI MENENGAH ( ANTARA 80-240 km )
3. SALURAN TRANSMISI PANJANG ( LEBIH DARI 240 km )
RANGKAIAN PENGGANTI :
SALURAN TRANSMISI MEMPUNYAI PARAMETER-PARAMETER
SALURAN, TAHANAN, REAKTANSI, KAPASITANSI, SERTA
KONDUKTANSI YANG TERDISTRIBUSI SEPANJANG SALURAN,
SEHINGGA RANGKAIAN PENGGANTINYA DAPAT DIGAMBARKAN
SEBAGAI BERIKUT :
A. SALURAN RANSMISI PENDEK
PARAMETER SALURAN TERPUSAT ( DIUKUR DI UJUNG-UJUNG
SALURAN)
22
KAPASITANSI DIABAIKAN
B. SALURAN MENENGAH
1. RANGAKAIAN PENGGANTI

2. RANGAKAIAN PENGGANTI T

C. SALURAN TRANSMISI PANJANG
23
z : IMPEDANSI SERI PERSATUAN PANJANG
y : ADMITANSI SHUNT PER PHASA PERSATUAN PANJANG
l : PANJANG SALURAN
z
c
: IMPEDANSI KARAKTERISTIK (=
y
z
)
: KONSTANTA PROPAGASI(=
y z.
)
DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA LISTRIK HANYA DIGUNAKAN
RANGKAIAN PENGGANTI SALURAN TRANSMISI PENDEK DAN MENENGAH
3. TRANSFORMATOR
TRANSFORMATOR DUA BELITAN

1
1
2
2
V
N
N
V

1
1
2
2
i
N
N
i
RANGKAIAN PENGGANTI
BILA
2
1
N
N
a
Z
12
( DINYATAKAN TERHADAP SISI-1 ) : ) (
2 2
2
1 1
jX R a jX R + + +
24
2
2 '
2
2
2 '
2
X a X
R a R


ATAU
Z
21
(DINYATAKAN TERHADAP SISI-2) :
2 2 1 1
2
) (
1
jX R jX R
a
+ + +
RANGAKAIAN PENGGANTI BERIKUT JUGA BIASA DIGUNAKAN
ATAU :
21 12
Z ATAU Z X R
eq eq
+
25
RANGAKAIAN PENGGANTI DI ATAS DAPAT DISEDERHANAKAN SEBAGAI
BERIKUT :
jB G +
DIABAIKAN
R
eq
DIABAIKAN
2
2
1
2
2
1
,
X
a
X
X
ATAU X a X X
eq
eq

+
RANGAKAIAN PENGGANTI INI SERING DIGUNAKAN DALAM ANALISIS
SISTEM TENAGA LISTRIK
TRAFO TIGA BELITAN
26
RANGKAIAN PENGGANTI
RANGAKAIAN PENGGANTI TRAFO TIGA BELITAN YANG BIASA
DIGUNAKAN ADALAH :
4. BEBAN
BEBAN TERDIRI DARI :
1. MOTOR-MOTOR INDUKSI
2. PEMANAS ( HEATING ) DAN PENERANGAN ( LIGHTING )
3. MOTOR-MOTOR SINKRON
TERDAPAT TIGA CARA UNTUK MEREPRESENTASIKAN BEBAN :
1. REPRESENTASI BEBAN DENGAN DAYA TETAP
DAYA AKTIF ( MW ) DAN DAYA REAKTIF ( MVAR ) MEMPUNYAI
NILAI TETAP.
DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS ALIRAN DAYA.
27
2. REPRESENTASI BEBAN DENGAN ARUS TETAP.
) ( 1
*

V
jQ P
I
DIMANA :
P
Q
V V
1
tan

3. REPRESENTASI DENGAN BEBAN IMPEDANSI BEBAN TETAP


DIGUNAKAN UNTUK ANALISIS STABILITAS JIKA MW DAN Mvar
DARI BEBAN DIKETAHUI DAN TETAP.
MAKA :
jQ P
V
I
V
Z


2
B. DIAGRAM SEGARIS
DENGAN MENGANGGAP BAHWA SISTEM 3 DALAM KEADAAN
SEIMBANG, PENYELESAIAN/ANALISIS DAPAT DIKERJAKAN DENGAN
MENGGUNAKAN RANGKAIAN 1 DENGAN SALURAN NETRAL SEBAGAI
SALURAN KEMBALI.
UNTUK MEREPRESENTASIKAN SUATU SISTEM TENAGA LISTRIK 3 CUKUP
DIGUNAKAN DIAGRAM 1 YANG DIGAMBARKAN DENGAN MEMAKAI
SIMBOL-SIMBOL DAN SALURAN NETRAL DIABAIKAN.
DIAGRAM TERSEBUT DISEBUT DIAGRAM SEGARIS ( SINGLE LINE
DIAGRAM ). SINGLE LINE DIAGRAM BIASANYA DILENGKAPI DENGAN
DATA DARI MASING-MASING KOMPONEN SISTEM TENAGA LISTRIK.
DIDALAM MENGANALISIS SUATU SISTEM TENAGA LISTRIK, MAKA
DIMULAI DARI SINGLE LINE DIAGRAM.
DENGAN MENGGUNAKAN RANGKAIAN PENGGANTI DARI MASING-
MASING KOMPONEN SISTEM TENAGA LISTRIK, DIAGRAM SEGARIS
TERSEBUT DIUBAH MENJADI DIAGRAM IMPEDANSI/REAKTANSI.
BARU DAPAT DILAKUKAN PERHITUNGAN/ANALISIS TERHADAP SISTEM.
28
SIMBOL-SIMBOL YANG DIGUNAKAN DALAM DIAGRAM SEGARIS
SYMBOL USAGE SYMBOL USAGE
Rotating Machine Circuit Breaker
Bus Circuit Breaker
( Air )
Two-winding
Transformer
Disconect
Three-winding
Transformer
Fuse disconect
Delta Connection
(3,three wire )
Fuse
Wye Connection
(3,neutral
ungrounded )
Lightning
Arrester
29
Wye Connection
(3,neutral
grounded )
Current
Transformer
( CT )
Line Potential
Transformer ( PT
)
Static Load Capacitor
GEN. 1 : 20.000 KVA, 6.6 KV, X = 0.655 OHM
GEN. 2 : 10.000 KVA, 6.6 KV, X = 1.31 OHM
GEN. 3 : 30.000 KVA, 3.81 KV, X = 0.1452 OHM
T1 DAN T2 : MASING-MASING TERDIRI DARI 3 TRAFO 1
10.000 KVA, 3.81-38.1 KV, X = 14.52 OHM
DINYATAKAN TERHADAP SISI TEGANGAN TINGGI
TRANSMISI : X = 17.4 OHM
BEBAN A : 15.000 KW, 6.6 KV, PF = 0.9 LAGGING
BEBAN B :30.000 KW, 3.81 KV, PF = 0.9 LAGGING
DIAGRAM IMPEDANSI
30
DARI DATA YANG DIKETAHUI, DIAGRAM IMPEDANSI DI ATAS DAPAT
DISEDERHANAKAN :
PERHITUNGAN DILAKUKAN DENGAN MENYATAKAN SEMUA BESARAN
(TEGANGAN ARUS & IMPEDANSI) TERHADAP SALAH SATU SISI
TEGANGAN
BILA TERJADI H.S. 3 PHASA PADA SISI TEGANGAN RENDAH
TRANSFORMATOR T
2
, BEBAN A & B DAPAT DIABAIKAN.
UNTUK MENGHITUNG ARUS H.S. TERSEBUT, DIAGRAM IMPEDANSI DAPAT
DISEDERHANAKAN LAGI (DENGAN BESARAN DINYATAKAN TERHADAP
SISI TEGANGAN TINGGI) :
31
C. BESARAN PERSATUAN (PER UNIT)
BESARAN PERSATUAN =
) _ _( _
_
SAMA DIMENSI DASAR BESARAN
SEBENARNYA BESARAN
4 (EMPAT) BESARAN DALAM SISTEMTENAGA LISTRIK :
ARUS (AMPERE)
TEGANGAN (VOLT)
DAYA(VOLT-AMPERE)
IMPEDANSI (OHM)
DENGAN MENENTUKAN BESARAN DASAR, BESARAN PERSATUAN DAPAT
DIHITUNG.
DENGAN MENENTUKAN 2 (DUA) BESARAN DASAR, BESARAN YANG LAIN
DAPAT DITENTUKAN.
DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA TEGANGAN DASAR DAN DAYA DASAR
DITENTUKAN, BESARAN DASAR YANG LAIN (ARUS, IMPEDANSI)
DIHITUNG.
RUMUS-RUMUS UNTUK MENENTUKAN ARUS DASAR DAN
IMPEDANSI DASAR
ARUS DASAR
32
LN DASAR KV
DASAR KVA
I
B
_ _
1 _ _

IMPEDANSI DASAR

DENGAN MENGGUNAKAN DATA 3 :
ARUS DASAR
IMPEDANSI DASAR
CONTOH :
GEN 1 : 20.000 KVA, 6.6 KV, X = 0.655 OHM
GEN 2 : 10.000 KVA, 6.6 KV, X = 1.31 OHM
GEN 3 : 30.000 KVA, 3.81 KV, X = 0.1452 OHM
T1 DAN T2 : MASING-MASING TERDIRI DARI 3 TRAFO 1 :
10.000 KVA, 3.81-38.1 KV, X = 14.52 OHM
DINYATAKAN TERHADAP SISI TEGANGAN TINGGI.
TRANSMISI : X = 17.4 OHM
BEBAN A : 15.000 KW, 6.6 KV, POWER FACTOR : 0.9 LAG
BEBAN B : 30.000 KW, 3.81 KV, POWER FACTOR : 0.9 LAG
33
( )

1 _ _
1000 _ _
2
DASAR KVA
x LN DASAR KV
Z
B

( )

1 _ _
_ _
2
DASAR MVA
LN DASAR KVA
LL DASAR KV
DASAR KVA
I
B
_ _ 3
3 _ _

( )
3 _ _
_ _
2
DASAR MVA
LL DASAR KV
Z
B

I II III
000 . 30
B
kVA
kVA
000 . 30
B
kVA
kVA
000 . 30
B
kVA
kVA
6 , 6
B
kV
kV
66
B
kV
kV
81 , 3
B
kV
kV
6 , 6 . 3
30000

B
I
66 . 3
30000

B
I
81 , 3 . 3
30000

B
I
30
6 , 6
2

B
Z
30
66
2

B
Z
30
81 , 3
2

B
Z
TRAFO 1 PHASA
TRANSFORMATOR 1 PHASA DENGAN RATING 110/440 V, 2.5 KVA.
REAKTANSI BOCOR DIUKUR DARI SISI TEGANGAN RENDAH 0.06 OHM.
TENTUKAN HARGA REAKTANSI BOCOR DALAM p.u.
IMPEDANSI DASAR SISI TEGANGAN RENDAH :
84 . 4
5 . 2
1000 110 . 0
2

x
Z
B
OHM
REAKTANSI BOCOR :
012 . 0
84 . 4
06 . 0
X
p.u
REAKTANSI BOCOR DIUKUR DARI SISI TEGANGAN TINGGI
96 . 0
110
440
06 . 0
2

,
_

X OHM
IMPEDANSI DASAR SISI TEGANGAN TINGGI :
5 . 77
5 . 2
1000 440 . 0
2

x
Z
B
OHM
REAKTANSI BOCOR :
0124 . 0
5 . 77
96 . 0
X
p.u
34
HARGA X DALAM p.u SAMA UNTUK HARGA X DALAM OHM YANG
DINYATAKAN TERHADAP SISI TEGANGAN TINGGI MAUPUN SISI
TEGANGAN RENDAH.
TRAFO 3 PHASA
TRANSFORMATOR 3 PHASA DENGAN RATING 10.000 KVA, 138 Y 13.8
KV, REAKTANSI BOCOR 10% (DIGUNAKAN BASE 10.000 KVA PADA SISI
TEGANGAN TINGGI)
TUNJUKKAN BAHWA REAKTANSI BOCOR X SAMA, TIDAK TERGANTUNG
PADA HARGA IMPEDANSI (OHM) APAKAH DINYATAKAN TERHADAP SISI
TEGANGAN RENDAH ATAU SISI TEGANGAN TINGGI (TIDAK DIPENGARUHI
HUBUNGAN BELITAN).
REAKTANSI PERPHASA TERHADAP NETRAL PADA SISI TEGANGAN TINGGI
:
( ) 40 . 190
10
138
1 . 0 1 . 0
2

,
_


B
Z X
OHM
REAKTANSI PER PHASA PADA SISI TEGANGAN RENDAH :
72 . 5
3 / 138
8 . 13
4 . 190
2

,
_

X OHM
BELITAN SISI TEGANGAN RENDAH DIHUBUNGKAN , MAKA HARGA
REAKTANSI PER PHASA DARI RANGKAIAN PENGGANTI Y :
( )( )
9067 . 1
3
72 . 5
72 . 5 72 . 5 72 . 5
72 . 5 72 . 5

+ +
X OHM
IMPEDANSI DASAR SISI TEGANGAN RENDAH :
( )
044 . 19
10
8 . 13
2

B
Z OHM
HARGA REAKTANSI DI ATAS :
1 . 0
044 . 19
9067 . 1
X
p.u
MENGUBAH DASAR (BASE) DARI BESARAN PERSATUAN
1
]
1

1
]
1

Bo
Bn
Bn
Bo
O n
KVA
KVA
KV
KV
u p Z u p Z
2
) . ( ) . (
35
n
Z
= IMPEDANSI (p.u) DENGAN BASE BARU
o
Z
= IMPEDANSI (p.u) DENGAN BASE LAMA
Bn
KV
= TEGANGAN DASAR (KV) BARU
Bo
KV
= TEGANGAN DASAR (KV) LAMA
n
KVAB
= DAYA BESAR (KVA) BARU
o
KVAB
= DAYA BESAR (KVA) LAMA
CONTOH :
GENERATOR G : 30.000 KVA, 13.8 KV, 3, X = 15%
MOTOR M1 : 20.000 KVA, 12.5 KV, 3, X = 20%
M2 : 10.000 KVA, 12.5 KV, 3, X = 20%
TRAFO T1 : 35.000 KVA, 13.2 - 115 KV, X = 10%
T2 : TERDIRI DARI 3 SINGLE PHASA TRAFO 10.000 KVA,
12.5 - 67 KV, X = 10%
TRANSMISI : X = 80
GUNAKAN RATING GENERATOR PADA RANGKAIAN GENERATOR
SEBAGAI BASE SISTEM
BASE LAMA : RATING PERALATAN (NAMA PLATE)
BASE BARU : KVA
B
= 30.00 KVA

KV
B
= 13.8 KV (G)
120 KV (TRANSMISI)
,
_

120 8 . 13 .
2 . 13
115
12.9 KV( )
2 1
, M M

,
_

9 . 12 120 .
3 67
5 . 12
36
INPUT MOTOR M1 : 16.000 KW
M2 : 8.000 KW
KEDUA MOTOR BEKERJA DENGAN TEGANGAN TERMINAL 12.5 KV DAN
FAKTOR = 1
TEGANGAN TERMINAL GENERATOR ?
IMPEDANSI (p.u) DARI TRAFO 3 BELITAN
DARI TEST HUBUNG SINGKAT DAPAT DIPEROLEH 3 (TIGA) IMPEDANSI
SEBAGAI BERIKUT :
Z
12
: IMPEDANSI BOCOR DIUKUR PADA PRIMER DENGAN SEKUNDER
SHORT DAN TERSIER OPEN.
Z
13
: IMPEDANSI BOCOR DIUKUR PADA PRIMER DENGAN TERSIER
SHORT DAN SEKUNDER OPEN.
Z
13
: IMPEDANSI BOCOR DIUKUR PADA SEKUNDER DENGAN TERSIER
SHORT DAN PRIMER OPEN.
RANGKAIAN PENGGANTI TRAFO 3 BELITAN :
37
30000 kVA 30000kVA 30000kVA BASE BARU
13.8 kV 120 kV 12.9 kV
DAYA 3 (p.u) = DAYA 1 (p.u)
TEGANGAN LINE (p.u) = TEGANGAN PHASA (p.u)
ARUS LINE (p.u) = ARUS PHASA (p.u)


DIMANA :
2 1 12
Z Z Z +
3 1 13
Z Z Z +
3 2 23
Z Z Z +
ATAU
SUATU TRANSFORMATOR TIGA BELITAN MEMPUNYAI RATING
SEBAGAI BERIKUT :
PRIMER, Y, 66 KV, 15MVA
SEKUNDER, Y, 13.2 KV, 10 MVA
TERSIER, , 2.3 KV, 5 MVA
HARGA REAKTANSI BOCOR DARI TEST HUBUNG SINGKAT (TAHANAN
DIABAIKAN) :
X
12
= 7% PADA BASE 15 MVA, 66 KV
X
13
= 9% PADA BASE 15 MVA, 66 KV
X
23
= 8% PADA BASE 10 MVA, 13.2 KV
BASE BARU : 15 MVA
66 KV (PRIMER)
13.2 KV (SEKUNDER)
2.3 KV (TERSIER)
38
SEMUA IMPEDANSI DALAM p.u
( )
23 13 12 1
2
1
Z Z Z Z +
( )
13 23 12 2
2
1
Z Z Z Z +
( )
12 23 13 3
2
1
Z Z Z Z +
Z
23
HARUS DIKOREKSI :
% 12
10
15
2
2 . 13
2 . 13
% 8
23

,
_

,
_

Z
( ) 02 . 0 12 . 0 09 . 0 07 . 0
2
1
1
j j j j Z +
p.u.
( ) 05 . 0 09 . 0 12 . 0 07 . 0
2
1
2
j j j j Z +
p.u.
( ) 07 . 0 07 . 0 12 . 0 09 . 0
2
1
3
j j j j Z +
p.u.
GENERATOR 1 : 20 MVA, 6.9 KV, X=0.15 p.u.
GENERATOR 2 : 10 MVA, 6.9 KV, X=0.15 p.u.
GENERATOR 3 : 30 MVA, 13.8 KV, X=0.15 p.u.
TRAFO T
1
: 25 MVA, 6.9 115 Y KV, X = 10%
TRAFO T
2
: 12 MVA, 6.9 115 Y KV, X = 10%
TRAFO T
1
: 3 TRAFO 1 PHASA 10 MVA, 7.5 75 KV, X = 10%
39
GAMBARKAN DIAGRAM DIAGRAM REAKTANSI DENGAN SEMUA
REAKTANSI DALAM OHM, TEGANGAN DALAM KV, DAN
DINYATAKAN TERHADAP SISI TEGANGAN DALAM KV, DAN
DINYATAKAN TERHADAP SISI TEGANGAN TRANSMISI.
GAMBARKAN DIAGRAM REAKTANSI DENGAN SEMUA BESARAN
DALAM p.u. DAN GUNAKAN SEBAGAI BASE SISTEM 50 MVA, 20 KV
PADA RANGKAIAN GENERATOR 3.
BILA PADA BUS L TERDAPAT BEBAN : 40 MW, 115 KV P.F. O.85.
TENTUKAN ARUS YANG MENGALIR DAN TEGANGAN TERMINAL
DARI MASING-MASING GENERATOR.
IV. MODEL RANGKAIAN
1. MATRIK [ Y
BUS
]
PERSAMAAN NODE VOLTAGE
40
( ) ( )
13 3 1 12 2 1 10 1 1
y V V y V V y V I + +
( ) ( )
23 3 2 12 1 2 20 2 2
y V V y V V y V I + +
( ) ( ) ( )
23 2 3 34 4 3 13 1 3 30 3 3
y V V y V V y V V y V I + + +
( )
34 3 4 40 4 1
y V V y V I +
ELEMEN-ELEMEN Y
BUS
ELEMEN DIAGONAL

'

+
+ + +
+ +
+ +
34 40 44
34 23 12 30 33
23 22 20 22
13 12 10 11
y y Y
y y y y Y
y y y Y
y y y Y
ELEMEN

OFF DIAGONAL

'





34 43 34
23 32 23
13 31 13
12 21 12
y Y Y
y Y Y
y Y Y
y Y Y
0
0
42 24
41 14


Y Y
Y Y
4 3 13 2 12 1 11 1
0V V Y V Y V Y I + + +
4 3 23 2 22 1 21 2
0V V Y V Y V Y I + + +
4 32 3 33 2 23 1 13 3
V Y V Y V Y V Y I + + +
4 44 3 43 2 1 4
0 0 V Y V Y V V I + + +
41
bus bus bus
V Y I
1
1
1
1
]
1

4
3
2
1
I
I
I
I
I
bus
ARUS MASUK
1
1
1
1
]
1

4
3
2
1
V
V
V
V
V
bus
TEG. BUS TERHADAP PA
1
1
1
1
1
]
1

44 34 24 14
34 33 23 13
24 23 22 12
14 13 12 11
Y Y Y Y
Y Y Y Y
Y Y Y Y
Y Y Y Y
bus
Y
2. PERSAMAAN UMUM ALIRAN DAYA
( ) ( )


1
*
j
j ij i i i
V Y V jQ P

i i i
jf e V +
;
i i
j
i i
V e V V
i



RECTANGULAR FORM
( ) ( )

,
_

+ +

,
_




n
j
j ij j ij i
n
j
j ij j ij i i
e B f G f f B e G e P
1 1
( ) ( )

,
_

,
_




n
j
j ij j ij i
n
j
j ij j ij i i
e B f G e f B e G f Q
1 1
ij ij ij
B G Y +
POLAR FORM
( )


n
j
ij j i j ij i i
V Y V P
1
cos
42
( )


n
j
ij j i j ij i i
V Y V Q
1
sin
ij ij ij
Y Y
HYBRID FORM
( ) ( ) [ ]

+
n
j
j i ij j i ij j i i
B G V V P
1
sin cos
( ) ( ) [ ]


n
j
j i ij j i ij j i i
B G V V Q
1
cos sin
i i
j
i i
V e V V
i


ij ij ij
B G Y +
METODE GAUSS SEIDEL
DATA SALURAN
IMPEDANSI
Line,
Bus to bus
R,
per unit
X,
Per unit
1-2 0.10 0.40
1-4 0.15 0.60
1-5 0.05 0.20
2-3 0.05 0.20
2-4 0.10 0.40
3-5 0.05 0.20
ADMITANSI
Line,
Bus to bus
G,
per unit
B,
Per unit
1-2 0.588235 -2.352941
1-4 0.392157 -1.568627
1-5 0.176471 -4.705882
2-3 0.176471 -4.705882
2-4 0.588235 -2.352941
3-5 0.176471 -4.705882
DATA BUS
BUS P, per unit Q, per unit V, per unit remark
43
5
1
2
3
4
5
..........
-0.6
1.0
-0.4
-0.6
..........
-0.3
..........
-0.1
-0.2
1.020

1.000

1.040

1.000

1.000

Swing Bus
Load Bus (indictive)
Voltage Magnitude Constant
Load Bus (inductive)
Load Bus (inductive)
LOAD BUS (BUS#2)
2 2 2
*
2
jQ P I V
*
2
2 2
2
V
jQ P
I

4 24 3 23 2 22 1 21
*
2
2 2
V Y V Y V Y V Y
V
jQ P
+ + +

( )
1
]
1

+ +

4 24 3 23 1 21
*
2
2 2
22
2
1
V Y V Y V Y
V
jQ P
Y
V
ELEMEN Y
BUS
:
352941 . 2 588235 . 0
21
j Y +
per unit
411764 . 9 352941 . 2
22
j Y
per unit
705882 . 4 176471 . 1
23
j Y +
per unit
352941 . 2 588235 . 0
24
j Y +
per unit
0 0
25
j Y +

2
V

( )

'

+
+
+
352941 . 2 588235 . 0 02 . 1
0 0 . 1
3 . 0 6 . 0 1
22
j
j
j
Y
( ) ( ) } 352941 . 2 588235 . 0 00 . 1 705882 . 4 176471 . 1 04 . 1 j j + +
( ) 647058 . 9 411764 . 2 3 . 0 6 . 0
1
22
j j
Y
+ +
052500 . 0 980000 . 0
411764 . 9 352941 . 2
347058 . 9 811764 . 1
j
j
j

per unit

2
V

,
_

+
+
+
647058 . 9 411764 . 2
052500 . 0 980000 . 0
3 . 0 6 . 0 1
22
j
j
j
Y
411764 . 9 352941 . 2
647058 . 9 411764 . 2 337951 . 0 594141 . 0
j
j j

+ +

44
020965 . 0 976351 . 0 j
per unit
GENERATOR BUS (BUS#3)
ELEMEN Y
BUS
0 0
31
j Y +
705882 . 4 176471 . 1
32
j Y +
per unit
411764 . 9 352941 . 2
33
j Y
per unit
0 0
34
j Y +
per unit
705882 . 4 176471 . 1
35
j Y +
per unit
( ) ( ) [ { 050965 . 0 976351 . 0 411764 . 9 352941 . 2 04 . 1 Im
3
j j Q +

( ) ( ) ] } 4 0 . 1 705882 . 4 176471 . 1 705882 . 4 176471 . 1 j j + + +
444913 . 0 per unit
( )( ) [ 050965 . 0 976351 . 0 705882 . 4 176471 . 1
04 . 1
444913 . 0 0 . 1 1
33
3
j j
j
Y
V +

'


( ) ] } 0 0 . 1 705882 . 4 176471 . 1 j + +

( ) 360334 . 9 085285 . 2 427801 . 0 961538 . 0
1
33
j j
Y
+

059979 . 0 054984 . 1
411764 . 9 352941 . 2
788135 . 9 046823 . 3
j
j
j
+

per unit
056688 . 1
3
V
( ) 059032 . 0 038322 . 1 059979 . 0 054984 . 1
056688 . 1
04 . 1
3
j j V + +
per unit
45


N
n
n kn k k k
V Y V jQ P
1
*

'

N
n
n kn k k
V Y V Q
1
*
Im
PRINSIP PENYELESAIAN METODE NEWTON-RAPHSON
PERSAMAAN/FUNGSI DENGAN SATU VARIABEL :
( ) 0 x f
DENGAN MENGGUNAKAN DERET TAYLOR :
( ) ( )
( )
( )
( )
( ) ....
! 2
1
! 1
1
2
0
2
0
2
0
0
0
+ + + x x
dx
x df
x x
dx
x df
x f x f
( )
( ) 0
!
1
0
0
+
n
n
n
x x
dx
x df
n
DENGAN PENDEKATAN LINEAR
SEHINGGA DIPEROLEH :
( )
( ) dx x df
x f
x x
/
0
0
0 1

ATAU DAPAT DITULISKAN SBB :
( ) ( )
( )
( )
( )
( ) dx x df
x f
x x
/
0
0
0 1

46
( ) ( )
( )
( ) 0
0
0
0
+ x x
dx
x df
x f x f
( ) 0
x = Harga Awal
( ) 1
x = Harga pada Iterasi Ke 1
RUMUS UNTUK ITERASI KE ( K+1 )
( ) ( )
( )
( )
( )
( ) dx x df
x f
x x
k
x
k k
/
1

+
CONTOH PENERAPAN METODE NEWTON-RAPHSON
( ) 64
3
x x f
FUNGSI DENGAN SATU VARIABEL
( )
2
3 ' x x f
5
0
x
n n n
x x x
+1
( )
( )
n
n
n
x f
x f
x
'


3
3
3
64
n
n
x
x

75
64 125
1

x

1867 . 4 8133 . 0 5
1
x
( )
( )
64
1867 . 4 3
1867 . 4
2
3
2
x

1785 . 0

1785 . 0 1867 . 4
2
x

0082 . 4
DAN SETERUSNYA
CONTOH PENERAPAN METODE NEWTON RAPHSON
FUNGSI DENGAN DUA VARIABEL
0 5
1
2
2
2
1 1
+ x x x F
0 5 . 1
2
2
2
2
1 2
x x x F
5 2
1
1
1

x
x
F
2
2
1
2x
F
F

1
1
2
2x
x
F

5 . 1 2
2
2
2
+

x
x
F
( )

0
1
x
( )

0
2
x
47
( ) ( ) 3 3 5 3 3
2 2 0
1
+ X F
( ) ( ) 5 . 4 3 5 . 1 3 3
2 2 0
2
+ X F
( )( ) 1 5 3 2
1
0
1

x
F
( )( ) 6 3 2
2
0
1

x
F
( )( ) 6 3 2
1
0
1

x
F
( )( ) 4 5 . 1 3 2
2
0
1
+

x
F
( )
( )
1
]
1

1
]
1

1
2
1
1
5 . 4 6
6 1
x
x
( )
1
1
1
x
( )
33 . 0
1
2
x
( ) ( ) ( )
2 1 3
1
1
0
1
1
1
+ x x x
( ) ( ) ( )
667 . 2 333 . 0 9
1
2
0
2
1
2
+ x x x
( )
( ) ( ) ( ) 1129 . 1 2 5 667 . 2 2
2 2 1
1
+ F
( )
( ) ( ) ( ) 8876 . 0 667 . 2 5 . 1 667 . 2 2
2 2 1
2
+ F
( )
( )( ) 1 5 2 2
1
1
1

x
F
( )
( )( ) 334 . 5 667 . 2 2
2
1
1

x
F
( )
( ) ( ) 4 2 2
1
1
2

x
F
( )
( )( ) 834 . 3 5 . 1 667 . 2 2
2
1
2
+

x
F
( )
( )

1
]
1

1
]
1

2
2
2
1
834 . 3 4
334 . 5 1
x
x
( )
514 . 0
2
1
x
( )
305 . 0
2
2
x
( ) ( ) ( )
4857 . 1 5143 . 0 2
2
1
1
1
2
1
+ x x x
( ) ( ) ( )
361 . 2 3051 . 0 667 . 2
2
2
1
2
2
2
+ x x x
ITERATION
1
x
2
x
3 1.2239 2.17338
4 1.0935 2.0733
48
5 1.0316 2.0248
6 1.0065 2.0051
7 1.0004 2.0003
8 1.00000189 2.00000149
00 . 1
1
x
AND
00 . 2
2
x
METODE NEWTON RAPHSON
PERSAMAAN NON LINEAR :
( ) ( )
3 1 13 3 1 3 1 13 3 1 11 1 1 1
sin cos + + B V V G V V G V V P
( ) ( )
3 1 13 3 1 11 1 1 3 1 13 3 1 1
cos sin B V V B V V G V V Q
( ) ( )
3 2 23 3 2 3 2 23 3 2 22 2 2 2
sin cos + + B V V G V V G V V P
( ) ( )
3 2 23 3 2 22 2 2 3 2 23 3 2 2
cos sin B V V B V V G V V Q
( ) ( ) + + +
33 3 3 2 3 32 2 3 1 3 31 1 3 3
cos cos G V V G V V G V V P

( ) ( )
2 3 32 2 3 1 3 31 1 3
sin sin + B V V B V V
( ) ( ) + +
2 3 32 2 3 1 3 31 1 3 3
sin sin G V V G V V Q

( ) ( )
33 3 3 2 3 32 2 3 1 3 31 1 3
cos cos B V V B V V B V V
49
PERSAMAAN-PERSAMAAN DI ATAS DIGUNAKAN UNTUK
MENGHITUNG
V
DAN DARI TIAP-TIAP BUS.
(PERSAMAAN-PERSAMAAN DI ATAS MERUPAKAN FUNGSI DARI
V
DAN PADA TIAP-TIAP BUS)
PERSAMAAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGHITUNG
V
DAN
PADA SETIAP ITERASI ADALAH :
1
1
1
1
1
1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
]
1

3
3
2
2
1
1
3
3
3
3
2
3
2
3
1
3
1
3
3
3
3
3
2
3
2
3
1
3
1
3
3
2
3
2
2
2
2
2
1
2
1
2
3
2
3
2
2
2
2
2
1
2
1
2
3
1
3
1
2
1
2
1
1
1
1
1
3
1
3
1
2
1
2
1
1
1
1
1
V
V
V
V
Q Q
V
Q Q
V
Q Q
V
P P
V
P P
V
P P
V
Q Q
V
Q Q
V
Q Q
V
P P
V
P P
V
P P
V
Q Q
V
Q Q
V
Q Q
V
P P
V
P P
V
P P







1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
1
]
1

3
3
2
3
3
2
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
2
3
2
2
2




P
P
V
V
Q Q Q
V
P P P
V
P P P
1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
1
]
1

3
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
3
3
2
3
3
2
2
2
Q
P
P
V
V
V
Q
V
Q Q
V
P
V
P P
V
P
V
P P




( ) ( ) { }
3 2 23 3 2 3 2 23 3 2 22 2 2 2 2
sin cos + + B V V G V V G V V P P
( ) ( ) {
33 3 3 2 3 32 2 3 1 3 31 1 3 3 3
cos cos G V V G V V G V V P P + +

( ) ( )
2 3 32 2 3 1 3 31 1 3
sin sin + B V V B V V
50
( ) ( ) ( ) {
1 3 31 1 3 2 3 32 2 3 1 3 31 1 3 3 3
cos sin sin + B V V G V V G V V Q Q

( ) }
33 3 3 2 3 32 2 3
cos B V V B V V

( ) { } ( ) { }
3 2 32 3 2 3 2 32 3 2
2
2
cos . 1 . sin

B V V G V V
P
( ) ( ) ( ) { + + + +

1 3 1 33 3 3 3 32 2 1 3 31 1 3
3
3
3
sin 2 cos cos V G V G V G V V
V
P
V

( )}
3 3 32 2
sin B V
1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
1
1
]
1

,
_

,
_

,
_

3
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
3
3
2
3
3
2
2
2
Q
P
P
V
V
V
Q
V
Q Q
V
P
V
P P
V
P
V
P P




JACOBIAN
( ) ( )
2 2
1
2
+
+ n n
( ) ( )
3 3
1
3
+
+ n n

( ) ( )
3 3
1
3
V V V
n n
+
+
ELEMEN DARI JACOBIAN MATRIX :
j
i
ij
P
H

j
j
i
ij
V
V
P
N

j
i
ij
Q
J

j
j
i
ij
V
V
Q
L

1
1
1
]
1

1
1
1
1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

2
3
2
3
3
3
2
33 33 32
33 33 32
23 23 22
Q
P
P
V
V
L J J
N H H
N H H

JACOBIAN MATRIX
51