Anda di halaman 1dari 5

DEFINISI TARBIYAH DZATIYAH Tarbiyah Dzatiyah adalah pembinaan terhadap diri sendiri yang dilakukan oleh dirinya sendiri

dengan beragam metode dan beragam sisi guna kepribadian islami baik iman, ilmu dan akhlak. URGENSI TARBIYAH DZATIYAH Urgensi tarbiyah dzatiyah penting untuk diketahui karena urgensi tersebut menjadi pendorong bagi kita dalam melakukan tarbiyah dzatiyah itu sendiri. Urgensinya antara lain : 1. Menjaga diri harus didahulukan daripada orang lain, salah satunya menjaga diri dari murka dan neraka Allah SWT 2. Tidak akan ada yang mentarbiyah diri kita secara terus menerus melainkan diri kita sendiri, seiring berjalannya waktu, kita adalah orang yang paling mengerti kebutuhan diri kita dan orang lain akan menganggap kita semakin dewasa sehingga mampu mengatasi kebutuhan diri kita sendiri 3. Hisab Allah kelak bersifat individual, semua makhluk akan mempertanggungjawabkan sendiri setiap tindakan yang diperbuatnya 4. Tarbiyah dzatiyah lebih mampu mengadakan perubahan, ketika kita mempunyai kekurangan atau aib, hanya diri kita lah yang mampu mengatasi dan memperbaikinya karena kita lebih paham dan dengan rahasia yang mungkin terdapat di dalamnya 5. Tarbiyah dzatiyah adalah sarana tegar dan istiqomah, dengan adanya tarbiyah dzatiyah, keteguhan hati akan semakin terbangun, rayuan dan nafsu yang tidak baik seperti rasa malas dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar dapat diatasi jika kita senantiasa mentarbiyah dan mengevaluasi diri 6. Sarana dakwah yang paling kuat pengaruhnya, dakwah tidak hanya melalui lisan tetapi juga melalui tindakan atau perilaku. Dalam hal ini kita berusaha menjadi panutan atau contoh bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Untuk menjadi panutan, diperlukan bekal ilmu kebaikan yang dapat kita peroleh melalui tarbiyah dzatiyah. 7. Cara benar untuk memperbaiki realitas yang ada, banyak penyimpangan yang terjadi di kehidupan masa sekarang, contohnya di Indonesia, yang menjadi penyebab hal ini tidak lain adalah perilaku tiap individu Indonesia yang menyimpang pula. Dengan tarbiyah dzatiyah dan izin Allah SWT, jika setiap invidu baik, maka baik pula keluarga dan masyarakatnya. Hingga akhirnya perlahan-lahan bangsa kita akan menjadi baik pula 8. Tarbiyah dzatiyah istimewa, hal ini karena urgensi tarbiyah ini mudah diaplikasikan, sarananya banyak, dan selalu ada pada setiap muslim diberbagai waktu, kondisi, dan tempat SEBAB-SEBAB KETIDAKPEDULIAN TERHADAP TARBIYAH DZATIYAH 1. Minimnya ilmu, banyak masyarakat sekarang yang kurang mengetahui dalil-dalil Al-Quran yang menyeru untuk melakukan tarbiyah dzatiyah, kurang memahami manfaat positif yang muncul ketika kita melakukan tarbiyah dzatiyah, dan lain sebagainya 2. Ketidakjelasan sasaran dan tujuan, Allah menerangkan secara jelas tujuan hidup kita yakni untuk beribadah pada-Nya. Akan tetapi, realita yang terjadi sekarang banyak orang-orang yang kurang memiliki orientasi dalam hidupnya. Akhirnya mereka menjadikan harta, nafsu, dan materi sebagai tujuan utamanya.

3. Ketergantungan terhadap dunia, prioritas untuk memenuhi kebutuhan dunia membuat kita lupa untuk memperhatikan tarbiyah diri kita sendiri, salah satunya kita tidak mampu mengendalikan keinginan kita untuk sukses di dunia sehingga apa yang kita lakukan tidak semata-mata dilakukan untuk beribadah pada Allah 4. Pemahaman yang salah tentang tarbiyah, terkadang seseorang merasa tidak perlu melakukan tarbiyah dzatiyah karena berpikir dengan melakukan kewajiban agama yang paling penting itu sudah cukup sehingga tidak perlu lagi bagi dirinya untuk melakukan ibadah-ibadah lain 5. Minimnya basis tarbiyah yang baik, lingkungan seperti rumah, tempat bermain, tetangga, media informasi merupakan basis tarbiyah yang berpengaruh besar bagi perkembangan perilaku seseorang. Seseorang menjadi baik, jikan basis tarbiyah ini baik, begitupun sebaliknya, akan menjadi buruk tarbiyah seseorang jika lingkungan ini tidak kondusif 6. Panjang angan-angan, perasaan ini menghadirkan keraguan dalam diri seseorang, apakah ia perlu mentarbiyah dirinya atau enggan melakukannya, dalam hal ini tidak lain bisikan setan mengambil peran. Setan mengatakan pada diri setiap orang yang ingin melakukan kebaikan bahwa untuk apa buru-buru melakukan kebaikan padahal umur kita masih panjang, kita digoda untuk menunda-nunda dalam berbuat baik sampai tiba waktu tepatnya kita memikirkan tarbiyah 7. Kecenderungan untuk berpangku tangan dan bermalas-malasan, terrkadang muncul rasa malas dan jenuh dalam diri kita. Apabila kita tidak berusaha melawan perasaan negatif itu maka tarbiyah kita akan terganggu dan malah terbawa untuk terus malas dan berpangku tangan Sebab-sebab ini menjadikan diri kita kehilangan kesempatan untuk melakukan tarbiyah dzatiyah. Penentunya adalah diri kita sendiri. Godaan dan tantangan itu kelak akan muncul, kita perlu mengambil sikap dan memilih jalan yang baik sehingga kita dapat melakukan amalan shalih dan tidak kalah dengan godaan setan. SARANA TARBIYAH DZATIYAH 1. Muhasabah (evaluasi), setiap tindakan yang akan atau telah kita perbuat hendaknya senantiasa berusaha untuk dievaluasi, apakah lebih banyak mendatangkan mnafaat atau kerugian bagi diri dan orang-orang disekitar kita. Sebelum tidur adalah waktu yang baik untuk melakukan muhasabah, memohon ampun dan bertobat pada Allah dengan sungguhsungguh hingga pada pagi hari ketika kita terbangun, kita telah siap untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti hari kemarin. Umar bin Khathtab mengatakan hisablah diri kalian sebelum dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Menghisab diri pada hari ini akan memudahkan hisab pada hari esok. 2. Taubat dari segala dosa, setelah muhasabah dilakukan selanjutnya kita membersihkan diri kita, menghadirkan rasa takut dan harap pada Allah SWT. Rasa ini tidak akan muncul sebelum kita membersihkan diri dari semua dosa dan kekurangan pada diri-Nya. Kita tidak boleh merasa dalam kondisi yang aman karena pada hakikatnya manusia selalu berada di atas nikmat Allah yang perlu disyukuri dan dosa yang perlu ia mintakan ampun. Dalam hadits dikatakan Rasulullah beristighfar setiap harinya sebanyak seratus kali, bagaimana dengan diri kita. Kita tidak boleh meremehkan dosa kecil karena sebenarnya setiap dosa baik besar maupun kecil adalah kesalahan.

3. Mencari ilmu dan memperluas wawasan, sebagai seorang muslim yang ingin melakukan tarbiyah dzatiyah, maka diperlukan ilmu yang cukup misalnya tentang haram dan halal, kebenaran, kebatilan, aqidah, dan lain sebagainya. Ilmu yang menunjang tarbiyah dzatiyah adalah ilmu syarI yang bersumber dari Al-Quran, sunnah Rasulullah SAW, dan pemahaman salafus shaleh. Setelah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh kelak akan mendatangkan ketaqwaan, perasaan takut, dan perasaan senantiasa diawasi oleh Allah SWT. 4. Mengerjakan amalan-amalan iman, cara ini adalah realisasi konkrit dari nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam tarbiyah dzatiyah sehingga ragamnya sangat bervariatif. Contohnya, mengerjakan ibadah wajib semaksimal mungkin, meningkatkan porsi ibadah sunnah, peduli dan memperbanyak dzikir. Ketiganya memiliki urgensi masing-masing dan dalam pelaksanaannya, kita harus belajar untuk tidak melakukannya sebagai ritual atau adat istiadat semata, melainkan benar-benar dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat berpengaruh kuat pada jiwa dan kehidupan kita yang tercermin dalam perilaku kita. 5. Memperhatikan aspek akhlak (moral), ibadah yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh akan selalu berdampak positif bagi kehiudpan kita termasuk dalam aspek pergaulan atau sosial. Menanamkan sikap-sikap seperti pengertian, sabar, cinta, tawadhu (rendah hati), dermawan, jujur, dan adil oleh karenanya merupakan salah satu sarana untuk melakukan tarbiyah dzatiyah. 6. Terlibat dalam aktivitas dakwah, aktivitas dakwah yang banyak dilakukan sekarang berangkat dari realita yang ada yang semakin menyimpang dari apa yang Allah perintahkan. Kesedihan yang muncul dalam benak kita tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan ini begitupun dengan tarbiyah diri kita. Aktivitas dakwah dapat dijadikan sarana tarbiyah dzatiyah dengan memperhatikan bahwa setiap pribadi kita memilki kewajiban berdakwah. Oleh karena itu, jikan kesempatan berdakwah itu ada, kita harus memnafaatkan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ilmu dan kapasitas yang kita miliki. Hal ini perlu dilakukan secara kontinu meskipun tidak banyak (sedikit tetapi berkelanjutan). 7. Mujahadah (jihad), keinginan untuk berjihad harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Dalam tarbiyah dzatiyan, seorang muslim di antaranya berjihad melawan empat hal, yakni jihad melawan jiwa, jihad melawan nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan dunia. Melawan hal-hal tersebut dilakukan dengan mnegerjakan amalan-amalan shalih dan memanfaatkan sarana tarbiyah dzatiyah yang telah disebutkan sebelumnya. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan berjuang dan mengikhlaskan niat karena Allah, keinginan dan tindakan nyata untuk terus beramal shalih akan semakin terbangun. Yang perlu kita lakukan adalah memulai dari sekarang untuk melalukan amalan-amalan shalih tersebut dan berdoa dengan jujur pada Allah SWT. PENGARUH DAN BUAH TARBIYAH DZATIYAH 1. Mendapatkan keridhaan Allah SWT dan Surga-Nya, jika seseorang melakukan tarbiyah dzatiyah dengan baik hingga membuatnya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi larangannya maka ia akan ditempatkan di surga-Nya kelak. Derajat seseorang dalam surga-Nya sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka melakukan tarbiyah dan tazkiyah. Allh berfirman, Dan barangsiapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia).

2. Kebahagiaan dan ketentraman, kebahagiaan dan ketentraman yang sebenarnya akan kita dapatkan ketika seorang hamba kembali pada Allah dan mentarbiyah diri berkomitmen untuk melaksanakan perintah Allah. Itulah kebahagiaan yang sebenarnya, kita harus bisa mengendalikan dari kita dari godaan akan kebahagiaan semu yang sekarang banyak dirasakan masyarakat terutama kaum muda. 3. Dicintai dan diterima Allah SWT, dengan mentarbiyah diri sendiri kita akan mendapatkan hadiah besar dari Allah yaitu kita dicintai dan diterima Allah SWT. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan (melakukan) ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. (HR. Bukhari). 4. Kesuksesan dan bimbingan, dengan tarbiyah dzatiyah seseorang akan memperoleh bimbingan dari Allah SWT yang tentu akan mempermudah jalan hidup-Nya. Dengan kemudahan tersebut bukan berarti hidup seseorang bebas dari masalah karena pada hakikatnya seorang manusia adalah makhluk yang punya aib dan kekurangan. Akan tetapi, hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara orang yang hidupnya didominasi oleh bimbingan dan orang yang hidupnya didominasi oleh kegagalan. 5. Terjaga dari segala hal yang tidak disenangi, Allah akan menjaga orang-orang yang mentarbiyah dirinya dari musibah dunia pada umumnya, dari hal-hal yang tidak mengenakkan, dari pihak-pihak yang menginginkan keburukan pada dirinya, dan dari penggunaan panca indera seperti penglihatan, pendengaran,potensi akal dan fisik yang tidak baik. 6. Keberkahan dalam waktu dan harta, setiap orang mempunyai porsi waktu yang sama untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Orang yang melakukan tarbiyah dzatiyah akan berupaya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat baik bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Begitu pula dengan hartanya, mereka akan dapat mengalokasikan hartanya untuk kepentingan umat dan membelanjakannya untuk kebaikan. 7. Sabar atas penderitaan dan semua kondisi, Allah tidak menjadikan kehidupan hamba-Nya terus menerus dalam kondisi yang harmonis, aman, dan sejahtera. Akan tetapi, Allah memberikan ujian dan kesulitan untuk menguji ketakwaan hamba-Nya. Seorang yang mentarbiyah dirinya akan memiliki daya tahan dan daya juang yang kuat dalam menghadapi ujian dari Allah. Mereka senantiasa berusaha untuk bersabar dan ridha terhadap keputusan Allah yang diberikan padanya. Hal ini mereka lakukan karena mereka tahu bahwa derita dan ujian itu akan menghapus dosa-dosanya dan meninggikan derajatnya. 8. Perasaan aman dalam jiwa, seorang mumin hendaknya tidak merasa sedih dan takut terhadap apa yang terjadi pada masa lalunya, masa kininya, dan masa silamnya. Ia meyakini insya Allah akan rahmat dan ampunan-Nya atas dosa yang telah diperbuatnya kendati menggunung. Ia merasa aman terhadap rizki dan mata pencaharian yang telah Allah gariskan untuknya. Ia merasa aman dengan ajalnya dan yakin bahwa ajal tidak dapat dimajukan atau dimundurkan. Ia pun merasa aman dan ridha dengan takdir Allah yang berisikan kebaikan setelah sebelumnya berusaha untuk memanfaatkan sarana yang disyariatkan dan menjadi sunnatullah.

Tarbiyah dzatiyah adalah sebuah proses pembinaan diri yang berperan penting terhadap pembentukan iman, ilmu, dan akhlak tiap pribadi kita. Hanya masing-masing dari kita yang paham betul tentang apa yang kita butuhkan, dalam hal ini termasuk pula pembinaan di dalamnya. Dengan

mengetahui dan mencoba menanamkan nilai-nilai yang kita butuhkan dan memnafaatkan saran tarbiyah dzatiyah yang ada, insya Allah diri ini akan terbimbing pada apa yang Allah cintai dan ridhai. Alhamdulillahirabbilalamin

Beri Nilai