Anda di halaman 1dari 19

CASE BASED DISCUSSION SINUSITIS MAXILLARIS KRONIK BILATERAL

Pembimbing: Dr. Djoko PA, Sp.THT-KL

Disusun oleh: Caesar Riefdi A Rifqi Ali Zaki Lisa Rachmayanti 01.207.5361 01.208.5765 01.208.5702

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu THT-KL RSUD Kota Semarang Fakultas Kedokteran UNISSULA 2013

LAPORAN KASUS 1. Identitas Pasien a. Nama : Ny. Supriyatun b. Umur : 34 tahun c. Pekerjaan : Ibu rumah tangga d. Alamat : Karangawen e. Agama : Islam f. No. CM : 252904 g. Tanggal periksa:13 Mei 2013 2. Anamnesis a. Keluhan Utama Nyeri pada daerah dahi, sekitar hidung, dan daerah pipi kiri. b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Poliklinik THT pada tanggal 13 Mei 2013. Autoanamnesis dengan pasien didapatkan pasien mengeluh pusing, nyeri pada daerah dahi, sekitar hidung, dan daerah pipi kiri. Keluhan sudah dirasakan sejak sekitar 6 bulan yang lalu. Pasien juga mengeluh sering bersin, dan mengeluarkan ingus, ingus berwarna jernih, encer, tidak berbau. Nyeri telan disangkal . Pasien juga mengeluhkan hidung sering tersumbat, tersumbat bergantian kanan-kiri tergantung pada saat posisi tidur, keluhan berkurang setelah minum obat. Pasien pernah merasa demam dan telinga terasa gatal. Gangguan telinga dan nyeri pada telinga disangkal. c. Riwayat Penyakit Dahulu Sudah bertahun-tahun sering sakit pilek yang kambuh-kambuhan. Sebelumnya juga pernah mengeluh seperti ini, tetapi tidak sampai nyeri di daerah dahi, sekitar hidung, dan daerah pipi kiri. Riwayat Asma (-) Riwayat Gigi Berlubang (-) Riwayat Hipertensi (-) Riwayat Diabetes Mellitus (-) Riwayat Operasi Sebelumnya (-) d. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini. e. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien menggunakan asuransi Jamkesmas. Kesan ekonomi cukup.

3. Pemeriksaan Fisik 3.1. Status Generalis: Keadaan Umum Kesadaran 3.2. Status Lokalis (THT): 3.2.1. Telinga Kanan Kiri Aurikula Bentuk Normal, nyeri tarik (-) Normal, nyeri tarik (-) Pre-aurikula Bengkak (-), nyeri tekan (-) fistula (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-) fistula (-) Retro-aurikula Bengkak (-), nyeri tekan (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-) Mastoid Bengkak (-), nyeri tekan (-) Bengkak (-), nyeri tekan (-) Kanalis Eksternus: 1/3 liang telinga luar Kanan : Discharge (-), Serumen (-), laserasi meatus (-), hiperemis (-), edema (-) Kiri :Discharge (-), Serumen (-), laserasi meatus (-), hiperemis (-), edema (-) 2/3 liang telinga dalam Kanan :Discharge (-), Serumen (-), laserasi meatus (-), hiperemis (-), edema (-) Kiri :Discharge (-), Serumen (-), laserasi meatus (-), hiperemis (-), edema (-) Membran Timpani Kanan :Warna putih mengkilat Reflek cahaya (+), Perforasi (-), retraksi (-) Kiri :Warna putih mengkilat Reflek cahaya (+), Perforasi (-), retraksi (-) 3.2.2 Hidung dan Sinus Paranasal Pemeriksaan Luar - Hidung : Bentuk normal, sekret (+), septum deviasi(-) - Sinus maksilaris : Nyeri tekan (+), nyeri ketok (+)

: Baik : Composmentis

Rinoskopi Anterior - Sekret Mukosa Konka - Meatus inf-med - Tumor - Septum deviasi

Kanan Kiri Mukoid (+) Mukoid (+) hiperemis (+), basah(+) hiperemis (+), basah(+) hipertrofi (+) , hiperemis (+) hipertrofi (+) hiperemi (+) +/+ +/+ (-) (-) (-) (-)

3.2.3 Faring dan Orofaring Palatum : hiperemis (-) Arkus laring : simetris (+), hiperemis (-) Mukosa : hiperemis (-) Tonsil Kanan Kiri - Ukuran : T0 T0 - Warna : hiperemis (-) hiperemis (-) - Permukaan : licin licin - Kripte : melebar (-) melebar (-) - Detritus : (-) (-) - Nasofaring (rinoskopi posterior) : tidak dilakukan - Laringofaring (laringoskopi indirek) : tidak dilakukan 3.2.4. Kepala dan Leher : Kepala : mesocephale Wajah : simetris Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-) 3.2.5. Gigi dan Mulut - Gigi-geligi : dbN - Lidah : normal, kotor (-), tremor (-) - Pipi : bengkak (-) 4. Pemeriksaan Penunjang 4.1 Radiologi : X FOTO SPN

Kesan : Curiga Sinusitis Maxillaris Duplex

4.2 Laboratorium

5. Diagnosis Banding DD Anatomi : - Hidung - Sinus Paranasal - Nasofaring DD Patologi : - Radang (inflamasi) - Neoplasma - Corpus Alienum - Trauma 6. Diagnosis Sinusitis Maksilaris Kronik Bilateral 7. Terapi - Non Medikamentosa : - Kompres air hangat untuk mengurangi nyeri pada sekitar wajah. - Menjaga daya tahan tubuh, makan cukup gizi, istirahat yang cukup, - Rujuk Sp.THT untuk tatalaksana lebih lanjut. Medikamentosa : - Antibiotik : Cefadroxil 2x500 mg - Decongestan: Pseudoefedrin 3x1 tab - Analgetik: Asam mefenamat 3x500 mg

8. Prognosis Quo ad vitam Quo ad fungsionam Quo ad sanam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

PEMBAHASAN

A. Anatomi Hidung

1. Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah : 1. Pangkal hidung (bridge) 2. Dorsum nasi 3. Puncak hidung 4. Ala nasi 5. Kolumela 6. Lubang hidung (nares anterior)1,2,3 Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi.1,2,3 Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh : - Superior : os frontal, os nasal, os maksila

- Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor 1,2,3

Gambar 1. Bagian-bagian pembentuk hidung luar Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. Pendarahan : 1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna).1,2,3 2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna, cabang dari A. Karotis interna)1,2,3 3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis) Persarafan : 1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis) 2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior) 3. Nervus Olfaktorius (N I) untuk fungsinya sebagai organ penghidu1,2,3 2. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media.1,2,3 Batas batas kavum nasi : Posterior : berhubungan dengan nasofaring Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer

Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.

Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela.

Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.1,2,3

Gambar 2. Septum nasi Gambar 4. Konka nasalis Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini. 2,3 Pendarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri.1,2,3

Persarafan : 1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior 2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.1,2,3

Gambar 3. Vaskularisasi hidung 3. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet.1,2,3 Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung.

Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan.1,2,3 Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.1,2,3

B. Fisiologi hidung 1. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.3 2. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus.3 Fungsi ini dilakukan dengan cara : a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.3 b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37oC.3 3. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh :

a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi b. Silia c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime.3 4. Indra penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.3 5. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau.3 6. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk aliran udara.3

7. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.3 B. Anatomi Sinus Paranasal Sinus paranasal merupakan rongga-rongga yang terdapat di dalam maxilla os frontale, os sphenoidale, dan os ethmoidale. Dindingnya terdiri atas tulang kompakta dengan dilapisi muco-endosteum yang berhubungan dengan mucosa respiratoria pada cavitas nasi. Sinus paranasal diinervasi oeleh cabang-cabang n.ophthalmicus dan n.maxillaris. Sinus merupakan

penonjolan/evaginasi dari cavitas nasi sehinga drainage keluar dari cairannya menuju cavitas nasi secara langsung atau tidak langsung. Dengan adanya hubungan ini maka rhinitis atau radang pada cavitas nasi dapat menjalar ke sinus menyebabkan sinusitis. Sinus pada waktu lahir kecil tapi mengalami perkembangan pada waktu pubertas atau dewasa.1,2,3

Gambar 4. Sinus Paranasal

1. Sinus Maxillaris Merupakan sinus paranasal yang terbesar. Terdapat dalam corpus maxillae. Berbentuk piramid berbaring dengan basis di sebelah medial sedang apex di processus zygomaticus maxillae. Dinding medialnhya merupakan dinding lateral cavitas nasi. Atapnya merupakan lantai orbita. Sedangkan alasnya merupakan processus alveolaris.1,2,3 Muara sinus maxillaris pada meatus nasi medius yaitu pada hiatus -

semilunaris.

Saluran

ini

terdapat

pada

dinding

medial

sebelah

anterosuperior.1,2,3 Innervasi oleh n.alveolaris superior dan n.infraorbitalis Vaskularisasi oleh a.maxillaris interna, a.infraorbitalis, a.palatina mayor.1,2,3

2. Sinus Ethmoidalis Terdiri atas beberapa ruangan (4-17 pada tiap sisi), terletak di dalam labyrinthus ethmoidalis di antara orbita dan cavitas nasi.1,2,3Bagian-bagian dari sinus ethmoidalis disebut cellulae ethmoidales. Dindingnya dibentuk oleh os frontale, maxilla, os lacrimale, os sphenoidale, dan os palatina.1,2,3Berdasarkan muaranya, cellulae ethmoidales digolongkan menjadi: 1. Cellulae ethmoidales anterior yang bermuara di meatus nasi medius

2. Cellulae ethmoidales posterior yang bermuara di meatus nasi superior dan suprema1,2,3 Inervasi oleh n.ethmoidalis posterior dan n.ethmoidalis anterior. Vaskularisasi oleh a.ethmoidalis posterior dan a.ethmoidalis anterior.1,2,3

3. Sinus Frontalis Dapat dianggap sebagai akibat meluasnya cellulae ethmoidalis anterior ke os frontale. Kanan dan kiri tidak sama besar dan dipisahkan oleh keping tulang yang terdapat di linea mediana. Sinus ini sering meluas sampai atap orbita. Sinus frontalis bermuara ke meatus nasi medius secara langsung atau melalui saluran yang disebut duktus frontonasalis.1,2,3 Inervasi: n.supraorbitalis cabang dari n.ophthalmicus Vaskularisasi: a.supraorbitalis

4. Sinus Sphenoidalis Terdapat di dalam corpus sphenoidale dan dapat meluas ke os occipitale. Bermuara pada recessus sphenoethmoidalis. Sinus sphenoidalis terbagi menjadi belahan kanan dan kiri oleh septum tulang yang biasanya mengalami deviasi ke salah satu pihak. Dinding depannya merupakan dua keping tulang tipis disebut conchae sphenoidale.1,2,3
-

Inervasi n.ethmoidalis posterior Vaskularisasi a.maxillaris

SINUSITIS
A.DEFINISI Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansunusitis. Sinus paranasal adalah suatu celah, rongga, atau kanal antara tulang di sekitar rongga hidung. Sinus paranasal terdiri dari empat sinus yaitu sinus maksilaris (terletak di pipi), sinus etmoidalis (kedua mata), sinus frontalis (terletak di dahi), dan sinus sfenoidalis (terletak di belakang dahi). Sinusitis bisa terjadi pada masing-masing sinus tersebut tetapi yang paling sering terkena adalah sinus maksilaris. Hal ini disebabkan sinus maksila adalah sinus yang terbesar dan dasarnya mempunyai hubungan dengan dasar akar gigi, sehingga dapat berasal dari infeksi gigi. B. EPIDEMIOLOGI Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Sinusitis menyerang 1 dari 7 orang dewasa di United States, dengan lebih dari 30 juta individu yang didiagnosis tiap tahunnya. Individu dengan riwayat alergi atau asma berisiko tinggi terjadinya rhinosinusitis.Prevalensi sinusitis tertinggi pada usia dewasa 18-75 tahun dan kemudian anakanak berusia 15 tahun. Pada anak-anak berusia 5-10 tahun. Infeksi saluran pernafasan dihubungkan dengan sinusitis akut. Sinusitis jarang pada anak-anak berusia kurang dari 1 tahun karena sinus belum berkembang dengan baik sebelum usia tersebut.Sinusitis maksila paling sering terjadi daripada sinusitis paranasal lainnya karena : 1.Ukuran: Sinus paranasal yang terbesar. 2.Posisi ostium: Posisi ostium sinus maksila lebih tinggi daripada dasarnya sehingga aliran sekret / drainasenya hanya tergantung dari gerakan silia. 3.Letak ostium : Letak ostium sinus maksila berada pada meatus nasi medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat. 4.Letak dasar :Letak dasar sinus maksila berbatasan langsung dengan dasar akar gigi (prosesus alveolaris) sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila.

C. ETIOLOGI Sinusitis dapat disebabkan oleh: 1.Bakteri : Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, Streptococcus group A,

Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella, Basil gram -, Pseudomonas. 2.Virus :Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus

3.Bakteri anaerob: fusobakteria 4.Jamur

D. PATOFISIOLOGI Infeksi virus akan menyebabkan terjadinya udem pada dinding hidung dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan pada ostium sinus, dan berpengaruh pada mekanisme drainase di dalam sinus. Virus tersebut juga memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri patogen. Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus.Konsumsi oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang menguntungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan silia dan aktiviitas leukosit. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat , obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri patogen.

E. FAKTOR PREDISPOSISI i. Obstruksi mekanis : Deviasi septum, corpus alienum, polip, tumor, hipertrofi konka ii. Infeksi ; a. Rhinitis kronis dan rhinitis alergi yang menyebabkan obstruksi ostium sinus serta

menghasilkan banyak lendir yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. iii. Adanya infeksi pada gigi

iv. Lingkungan berpolusi, udara dingan dan kering yang dapat merubah mukosa dan merusak silia

F. GEJALA KLINIS Gejala khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun pada pagi hari. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh sinusitis dapat dibagi dua, yaitu; gejala subyektif (dirasakan) dan gejala obyektif (dilihat). Gejala subyektif antara lain: demam, lesu, hidung tersumbat, sekresi lendir hidung yang kental dan terkadang berbau, sakit kepala yang menjalar dan lebih berat pada pagi hari. Pada sinusitis yang merupakan komplikasi penyakit alergi sering kali ditandai bersin, khususnya pagi hari atau kalau dingin. Gejala objektif kemungkinan ditemukan pembengkakan pada daerah bawah orbita (mata) dan lama kelamaan akan bertambah lebar sampai ke pipi. Sinusitis akut dan kronis memiliki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang terkena: 1. Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi dan sakit kepala. 2. Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi. 3. Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung di tekan, berkurangnya indera penciuman dan hidung tersumbat. 4. Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit telinga dan sakit leher. Gejala lainnya adalah: tidak enak badan, demam, letih, lesu, batuk, yang mungkin semakin memburuk pada malam hari, hidung meler atau hidung tersumbat . Demam dan menggigil menunjukkan bahwa infeksi telah menyebar ke luar sinus. Selaput lendir hidung tampak merah dan membengkak, dari hidung mungkin keluar nanah berwarna kuning atau hijau

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Beberapa pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis diantaranya adalah :

1. Transiluminasi : sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap 2. Rontgen sinus paranasalis : sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa ; penebalan mukosa, spasifikasi sinus (berkurangnya pneumatisasi) gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto waters. CT Scan, Sinoscopy, 3. Pemeriksaan mikrobiologi dan tes resistensi

H. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang.Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterioir, pemeriksaan nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khasnya ialah adanya pus di meatus medius ( pada sinusitis maksila dan ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior ( pada sinusitis ethmoid posterioir dan sphenoid).Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius.CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagi penunjang diagnostis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pre-operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus.

I. TERAPI a. Sinusitis akut Untuk sinusitis akut biasanya diberikan: - Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan - Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri - Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri. Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung).Untuk mengurangi penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat semprot hidung yang mengandung steroid. b. Sinusitis kronis Diberikan antibiotik dan dekongestan.Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat

semprot hidung yang mengandung steroid.Jika penyakitnya berat, bisa diberikan steroid per-oral (melalui mulut). Hal-hal berikut bisa dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman: - Menghirup uap dari sebuah vaporizer atau semangkuk air panas - Obat semprot hidung yang mengandung larutan garam - Kompres hangat di daerah sinus yang terkena. Jika tidak dapat diatasi dengan pengobatan tersebut, maka satu-satunya jalan untuk mengobati sinusitis kronis adalah pembedahan.Pada anak-anak, keadaannya seringkali membaik setelah dilakukan pengangkatan adenoid yang menyumbat saluran sinus ke hidung.Pada penderita dewasa yang juga memiliki penyakit alergi kadang ditemukan polip pada hidungnya. Polip sebaiknya diangkat sehingga saluran udara terbuka dan gejala sinus berkurang.Teknik pembedahan yang sekarang ini banyak dilakukan adalah pembedahan sinus endoskopik fungsional. J. KOMPLIKASI Komplikasi yang mungkin terjadi adalah 1. Radang amandel 2. Kelainan pada orbita ; Terutama disebabkan oleh sinusitis ethmoidalis karena letaknya yang berdekatan dengan mata, Penyebaran infeksi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum, Edema palpebra, Preseptal selulitis, Selulitis orbita tanpa abses, Selulitis orbita dengan sub atau extraperiostel abses, Selulitis orbita dengan intraperiosteal abses, Trombosis sinus cavernosus 3. Kelainan intrakranial : Abses extradural, subdural, dan intracerebral, Meningitis, Encephalitis, Trombosis sinus cavernosus atau sagital 4. Kelainan pada tulang : Osteitis, Osteomyelitis 5. Kelainan pada paru : Bronkitis kronik, Bronkhiektasis 6. Otitis media 7. Toxic shock syndrome 8. Mucocele, pyococele

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. Efiaty Arsyad Soepardi, dkk. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi keenam. 2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2. Adam Boies H. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi keenam. 1997. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 3. Endoscopic Middle Meatal Antrostomy. Available at .

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1288/00005537-198708002-00001/abstract Accessed on 24th September 2010

4. Bedah sinus. Available at http://www.scribd.com/doc/8533063/Bab-a-3 . Accessed on 25th September 2010.