Anda di halaman 1dari 24

Halaman |1 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada zaman sekarang banyak sekali alat-alat yang digunakan untuk mengukur baik suhu, tekanan, maupun lainnya. Disini, kami ingin menjelaskan bagaimana pengukuran suhu efek radiasi, baik dari pengertian, maupun dari prinsip kerja, dan aplikasi dari alat-alat nya. Pengukuran suhu efek radiasi memiliki dua metode untuk mengukur radiasi, yaitu pirometer optis (pirometer pita sempit) dan pirometer radiasi total. Pirometer optis digunakan untuk mengukur logam panas karena jika alat ini dikalibrasi dengan baik akan sangat sempurna mengukur temperatur logam diatas 1500 F (816C). Sedangkan pirometer radiasi total dapat digunakan untuk aplikasi aplikasi dengan benda bergarak atau yang berada pada jarak jauh.

Alat pengukuran adalah suatu alat yang dapat mendeteksi keberadaan suatu fenomena alam dan mengukurnya salam suatu kuantitas fisik dan mengubahnya menjadi suatu sinyal yang dapat dibaca oleh pengamat atau alat tertentu. Begitu banyaknya besaran fisik yang dapat diamati dari sekian banyak fenomena alam yang ada di dunia ini, maka ada begitu banyak sensor yang diciptakan dan ditemukanoleh manusia, masing-masing spesifik untuk jenis besaran dan obyek yang diukurnya. Karenanya, teknologi sensor terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sensor-sensor erticalt dikaji dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan rasa ingin tahu manusia, dan menciptakan suatu standar pengukuran yang universal.

Panas dan suhu adalah dua hal berbeda. Panas adalah energi total dari gerak molekular di dalam zat, energi panas bergantung pada kecepatan partikel di dalam sebuah benda. Sedangkan suhu adalah ukuran energi rata rata dari gerak molekular di dalam zat. Suhu tidak bergantung pada ukuran

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |2 atau jenis benda (Hermans et al, 2005). Secara sederhana suhu didefinisikan sebagai derajat panas atau dinginnya suatu benda. Hal ini berhubungan dengan seberapa cepat atom atau molekul zat bergerak. Pada level molekul, temperatur didefinisikan sebagai energi rata rata gerak mikroskopik partikel yang menyusun zat (Carpy et al, 2008). Untuk zat padat umumnya gerak mikroskopik ini adalah vibrasi atom unsur utama substansi yang pada tempatnya zat padat.

Pengukuran suhu dapat dilakukan menggunakan sensor. Sensor yang digunakan untuk mengukur suhu terbagi dua yakni sensor kontak dan sensor non-kontak. Beberapa sensor kontak adalah termokopel, termistor, dan RTDs. Salah satu sensor non- kontak adalah pirometer. Alat ini mengukur panas (energi infra merah) dari objek dengan memfokuskan energi ini melalui sistem optik menggunakan detektor. Signal dari detektor kemudian disajikan dalam suhu setelah melalui serangkaian proses.

Pyrometer digunakan untuk mengukur temperatur tinggi, biasanya diatas 510 oC. Sedangkan termometer digunakan untuk mengukur temperatur dibawah 510 oC.

Pyrometer optik memiliki keuntungan yaitu sangat cocok digunakan untuk mengukur logam panas karena jika alat ini dikalibrasi dengan baik akan sangat sempurna mengukur temperatur logam diatas 1500F (816C). Sehingga alat ini sangat ideal untuk digunakan pada industri industri yang melibatkan proses pemanasan logam seperti boiler, perlakuan panas untuk logam dan lain sebagainya. Ini dikarenakan sensor serat optik memiliki bahan isolasi elektrikal. Sedangkan pyrometer radiasi menangkap pancaran radiasi logam panas dengan nilai tertentu untuk menentukan temperatur logam tersebut dan memiliki sensitifitas yang tingggi, kepresisian, serta rentan pembacaan temperatur yang lebih lebar. Sangat luar biasa karena tidak membutuhkan kontak langsung dengan material yang temperaturnya akan

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |3 diukur dan tidak dibutuhkannya pembacaan temperatur secara visual, sehingga ia dipasang di sebuah titik yang tidak terjangkau oleh pandangan manusia, seperti di dalam furnace boiler.

1.2 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana pengukuran suhu efek radiasi dengan menggunakan pirometer.

1.3 Rumusan Masalah Untuk mengarahkan penulisan pada makalah ini, permasalahan yang dihadapi dibatasi, yakni hanya membahas bagaimana pengukuran suhu efek radiasi menggunakan pirometer pita sempit (pirometer optis) dan pirometer radiasi total dengan memanfaatkan radiasi yang dipancarkan objek.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |4 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Radiasi Termal

Definisi formal dari radiasi termal adalah radiasi elektromagnetik yang dipancarkan dari permukaan sebuah objek yang bergantung pada temperatur objek. Konsep dari radiasi termal sendiri agak berdasar pada intuisi. Apa yang dirasakan sebagai panas dari objek, tanpa menyentuh objek itulah radiasi termal. Benda apa saja yang memiliki nilai nol absolut, akan memiliki energi temal yang berhubungan hanya dengan suhunya sendiri dan akan meradiasi bagian dari energi termal ini sebagai energi inframerah.

Radiasi termal dihasilkan ketika energi panas dari partikel bermuatan yang bergerak dalam atom termal dihasilkan ketika energi panas dari partikel bermuatan yang bergerak dalam atom pada objek diubah menjadi radiasi elektromagnetikpada permukaan benda. Frekuansi dari gelombang yang dipancarkan radiasi termal adalah suatu kemungkinan yang hanya bergantung pada tempertaur benda. Untuk benda hitam, hal ini diberikan oleh hukum radiasi Plank. Hukum Wien menjelaskan tentang frekuensi radiasi yang dipancarkan, dan hukum Stefan-Boltzman menjelaskan tentang intensitas panas (Taylor, 2008).

Radiasi termal, tetap pada suhu khusus, terjadi melebihi rentang frekuensi atau panjang gelombang yang lebar. Seberapa banyak pada masing masing panjang gelombang yang diberikan oleh hukum radiasi Plank yang menyatakan,

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |5

Jxr
Dimana :

Jxr

= radiasi benda hitam yang dipancarkan pada temperatur T, oK

C1 = konstanta Plank pertama 3,17 x 10-16 Wm2 C2 = konstanta Plank kedua 1,4388 x 10-2 mK Panjang gelombang akan meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Hubungan ini diberikan oleh hukum wien, sebuah penyederhanaan hukum Plank dan memberikan harga puncak emisi energi.

Hukum Kirchhoff tentang radiasi termal adalah pernyataan umum dalam menghitung emisi dan absorpsi objek yang dipanaskan. Hukum ini diajukan oleh Gustav Kirchhoff pada tahun 1859, dibuat berdasarkan hukum keseimbangan termodinamika.

Suatu objek pada temperatur bukan nol mutlak meradiasikan energi elektromagnetik. Jika benda ini adalah benda hitam sempurna, benda itu akan memancarkan energi setara dengan energi yang diserapnya berdasarkan persamaan radiasi benda hitam. Secara umum, jika benda itu bukan benda hitam sempurna, maka akan meradiasikan sejumlah energi yang memiliki rasio berdasarkan benda hitam sempurna, yang disebut emisivitas.

Hukum Kirchhoff menyatakan bahwa pada keseimbangan termal, tingkat emisi suatu benda atau permukaan setara dengan jumlah penyerapannya. Penyerapan (absorptivitas) yang dimaksud adalah fraksi cahaya (atau energi) yang diserap suatu benda atau permukaan. Dalam bentuk yang lebih umum, energi ini harus diintegralkan berdasarkan semua jenis panjang gelombang cahaya dan sudut datang cahaya. Dalam beberapa Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |6 kasus, tingkat emisi dan penyerapan hanya dapat didefinisikan berdasarkan panjang gelombang dan sudut datang tertentu.

Hukum Kirchhoff memiliki kesimpulan bahwa emisivitas tidak bisa melebihi jumlah energi yang diserap (berdasarkan hukum kekekalan energi), sehingga tidak mungkin suatu benda memancarkan energi radiasi yang lebih besar dibandingkan benda hitam sempurna pada kesetimbangan.

Dalam luminesensi negatif, sudut datang dan panjang gelombang penyerapan melebihi emisi material, namun sistem tersebut digerakkan oleh sumber eksternal sehingga dapat dikatakan bahwa sistem tersebut tidak dalam kesetimbangan termal.

Energi yang diemisikan suatu benda berbeda dengan energi yang dipantulkan benda. Hukum Kirchhoff kadang-kadang dinyatakan sebagai, pemantul energi yang buruk adalah pemancar energi yang baik, namun pemantul energi yang baik merupakan pemancar energi yang buruk. Konsep ini digunakan dalam benda yang harus menyimpan energi termal agar temperatur tidak menurun, misalnya pada termos. Permukaan bagian dalam termos adalah pemantul energi yang baik sehingga panas tidak diserap badan termos dan diemisikan atau dipancarkan ke lingkungan

Hukum 2 radiasi termal Energi panas selalu bergerak dari benda panas ke benda yang lebih dingin. Panas bergerak secara konduksi melalui benda padat dan benda cair, dan secara konveksi melalui benda cair saja. Radiasi adalah energi panas yang bergerak sebagai sinar inframerah pada radiasi elektromagnet (Setford, 1997).

Radiasi termal adalah radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh permukaan sebuah benda semata mata berdasarkan suhunya. Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |7 benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu

menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut ( www.wikipedia.com ). Pada temperatur kamar, seluruh benda mengeluarkan radiasi inframerah. Benda yang lebih panas mengeluarkan lebih banyak dari pada benda yang dingin (Setford, 1997 ).

Setiap permukaan suatu benda dapat memancarkan radiasi termal yang mempunyai spektrum intensitas bergantung pada suhu dan karakteristik permukaan benda tersebut. Karakteristik radiasi termal dari permukaan benda mengikuti hukum kuadrat terbalik dan hukum Stefan-Botlzman (Maddu, 2008).

Frekuensi gelombang yang dipancarkan radiasi termal mengikuti sebuah distribusi probabilitas yang bergantung hanya pada temperatur. Untuk sebuah benda hitam sempurna distribusi ini dinyatakan oleh hukum radiasi Planck. Hukum Wien menyatakan frekuensi paling mungkin dari radiasi yang dipancarkan, dan hukum Stefan-Boltzmann menyatakan intensitas panasnya (www. wikipedia. com ).

Saat temperatur T > 0 K, semua objek akan mengalami radiasi gelombang elektromagnetik. Sinar radiasi R, daya radiasi per luasan area tergantung dari suhu dan karakteristik dari permukaan bahan yang diradiasi. Ketika radiasi mengenai benda yang tidak tembus cahaya, sebagian radiasi akan diserap atau sebagian lagi akan dipantulkan. Berdasarkan warna cahaya, permukaan yang terang akan dipantulkan lebih banyak dibandingkan dengan permukaan yang lebih gelap, permukaan kasar. Objek yang memiliki permukaan yang dapat menyerap seluruh radiasi yagn dipancarkan disebut dengan benda hitam ( blackbody ). Objek yang berada pada kesetimbangan

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |8 termal dengan radiasi lingkungan akan lebih banyak menyerap energi. Hal ini menunjukkan bahwa benda hitam sebagai emiter penyerapan radiasi yang baik ( Blatt, 1992 )

2.2. Radiasi Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses simana energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserrap oleh benda lain. Orang awam sering menghubungkan kata radiasi ionisasi (misalnya, sebagaimana terjadi pada senjata nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat merujuk kepada radiasi elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, cahaya inframerah, cahaya tampak, sinar ultra violet, dan X-ray), radiasi akustik, atau untuk proses lain yang lebih jelas. Apa yang membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu, bergerak ke luar dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku untuk semua jenis radiasi. Beberapa radiasi dapat berbahaya.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

Halaman |9 2.3. Radiasi Elektromagnetik

Radiasi elektromagnetik adalah dengan komponen listrik dan

rambatan magnet.

gelombang Radiasi

dalam ruang

elektromagnetik

dikelompokkan berdasarkan frekuensi gelombang yakni : gelombang radio, gelombang mikro, radiasi infra merah, cahaya tampak, radisi ultraviolet, sinar X, sinar gamma.

Panjang gelombang elektromagnetik tergantung pada frekuensi dimana,

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 10

2.4. Spektrum Elektromagnetik Spektrum adalah intensitas campuran dari gelombang elektromagnetik sebagai fungsi panjang gelombang atau frekuensi. Semua tipe radiasi elektromagnetik prinsip difraksi, refraksi, damn polarisasi. Radiasi infra merah mencakup bagian terbatas dari spektrum elektromagnetik, yakni dari range cahaya tampak 0.78 m sampai 14 m yang berguna dalam pengukuran suhu. Diatas panjang gelombang ini level energi sangat rendah,dimana detektor tidak cukup peka untuk mendeteksi. (Raleigh, 2008)

Gambar spektrum elektromagnetik, dengan range 0,7 14 m.

2.5. Emisivitas Perpindahan panas secara radiasi terjadi tanpa adanya media yang menghubungkan antara pengirim radiasi (benda panas) ke penerima radiasi (benda tidak panas). Sebenarnya, semua benda yang suhunya di atas 0 K akan melepaskan panasnya secara radiasi ke benda di sekelilingnya, tinggal tergantung, benda mana yang paling panas, itulah yang akan menjadi pemberi radiasi panas, sementara yang lebih dingin akan menjadi penerima.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 11 Karena semua benda diatas suhu oK meradiasikan panas, maka basis untuk melakukan penghitungan perpindahan panas secara radiasi adalah menggunakan suhu mutlak ( Kelvin).

Besarnya panas yang diradiasikan oleh suatu benda dirumuskan melalui hukum Stefan-Boltzmann.

dimana A adalah luas permukaan radiasi, Ts adalah suhu mutlak permukaan benda yang mengemisikan panas secara radiasi. Konstanta StefanBoltzmann dinyatakan dengan huruf yunani sigma dan besarnya adalah:

Sementara adalah emisivitas permukaan (emissivity) yang nilainya bervariasi antara 0 hingga 1. Benda dengan emisivitas 1 disebut dengan black body. Sementara emisivitas dari beberapa material pada suhu 300 K dapat dilihat pada tabel berikut.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 12

Selisih antara laju perpindahan panas radiasi antara dua benda adalah menjadi ukuran untuk menentukan laju perpindahan panas radiasi dari kedua benda tersebut. Namun, harus kita ketahui, bahwa dari seluruh energi panas yang diradiasikan oleh suatu benda, tidak seluruhnya akan diterima oleh benda peneria radiasi. Ini tergantung pada nilai absorsivitas dari benda penerima tersebut. Benda blackbody, tidak hanya dapat mengirimkan seluruhnya energi panas yang diradiasikan, namun juga dapat menerima seluruh energi yang dipancarkan kepadanya.

Pada kasus khusus, dimana sebuah benda (surface, s) dengan luas permukaan yang relatif kecil dibandingkan permukaan benda yang

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 13 mengelilinginya (surrounding, surr), laju perpindahan panas radiasi dapat dirumuskan dengan:

Definisi emisi adalah mengirim, memberi, mengeluarkan yaitu pancaran electron yang keluar dari katode karena suatu pemanasan dalam suatu tabung sinar katode misalnya pada peristiwa efek fotolistrik, emisi berarti electron terlepas dari permukaan logam setelah dikenai cahaya berfrekuensi tinggi. Terlepasnya electron ini juga disebut emisi (pancaran) electron.

Ada beberapa cara emisi (pancaran) electron sebagai berikut : 1. Emisi termionik 2. Emisi katode dingin atau emisi medan tegangan tinggi 3. Emisi radioaktif 4. Emisi ionisasi 5. Emisi sekunder

Emisivitas adalah rasio energi yang diradiasikan oleh material tertentu dengan energi yang diradiasikan oleh benda hitam (black body)

pada temperatur yang sama. Ini adalah ukuran dari kemampuan suatu benda untuk meradiasikan energi yang diserapnya. Benda hitam sempurna memiliki emisivitas sama dengan 1 (e=1) sementara objek sesungguhnya memiliki emisivitas kurang dari satu. Emisivitas adalah satuan yang tidak berdimensi. Pada umumnya, semakin kasar dan hitam benda tersebut, emisivitas meningkat mendekati 1

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 14 Emisivitas bergantung pada faktor diantaranya temperatur, sudut

elevasi emisi, dan panjang gelombang 9 lamda ) radiasi. Sering diasumsikan dalam dunia teknik bahwa emisivitas tidak bergantung pada panjang gelombang, sehingga emisivitas konstan. Hal ini dikenal dengan istilah "asumsi benda abu-abu".

Ketika menyinggung tentang permukaan benda yang tidak hitam, deviasi dari ciri khas benda hitam ditentukan oleh struktur geometri dan kompisisi kimia, dan mengikuti hukum Kirchoff tentang radiasi termal: emisivitas setara dengan rasio penyerapan energi (untuk benda pada equilibrium termal), sehingga objek yang tidak menyerap semua energi cahaya yang meradiasinya tidak akan meradiasikan energi yang sama banyak dengan benda hitam ideal.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 15 2.6. Hukum Kirchoff

Hukum I: Kekekalan muatan Pada dasarnya, arus adalah aliran muatan. Karena muatan kekal, maka jumlah arus yang masuk kesuatu titik cabang pada rangkaian sama dengan jumlah arus yang meninggalkannya.

I1 I2 I3

Hukum I Kirchoff : Jumlah kuat arus yang masuk pada suatu titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik itu.

Hukum II Kirchoff: Kekekalan Energi Jumlah aljabar dari perubahan potensial yang dilalui dalam suatu rangkaian tertutup adalah nol

Ketentuan dalam menerapkan Hk. II Kirchhoff : 1. Jika resistor dilewati searah dengan arah arus, perubahan potensial adalah - iR, sebaliknya adalah + iR. 2. Jika resisitor dilewati dari kutub negatif ke kutub positif, perubahan

potensial adalah +, sebaliknya adalah - .

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 16 3.PEMBAHASAN

3.1. Pirometer Optis (Pirometer pita sempit) Pirometer optis adalah sebuah instrumen pengukuran temperatur yang menggunakan prinsip radiasi benda panas. Pyrometer optis secara visual membandingkan tingkat kecerahan permukaan benda dengan referansi sebuah sumber radiasi tertentu. Benda referensi yang digunakan biasanya berupa filamen tungsten yang dipanaskan secara elektrik. Di dalam alat ini juga digunakan sebuah filter warna merah sehingga secara visual didapatkan gelombang tertentu yang dapat dikomparasi dengan titik referensi. Alat ini dapat menentukan temperatur permukaan benda dengan angka emisivitas ( ) 1,0.

Prinsip kerja pirometer optis

Pirometer optik, lebih dikenal dengan nama dissapearing filament pyrometer, memanfaatkan sifat tampak (kasat mata) dari radiasi yang diemisikan oleh sebuah benda panas. Radiasinya terfokuskan pada sebuah

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 17 filamen sehingga baik radiasi dan filamen dapat dilihat pada lensa mata (gambar 2.55). Filamen dipanaskan oleh arus listrik sampai filamen dan benda panas terlihat berwarna sama, gambar filamen lalu menghilang ke dalam latar belakang benda panas. Arus filamen dengan demikin adalah ukuran temperatur. Filter merah antara lensa mata dana filamen biasa digunakan untuk mempermudah penyesuaian warna filamen dan benda panas. Filter merah yang lain dapat memperluas jangkauan pengukuran instrumen.

Pirometer optik atau disappearing filament pyrometer memiliki jangkauan pengukuran sekitar 6000C sampai 30000C, akurasi pembacaan sekitar 0,5 %, dan tidak ada kontak langsung dengan benda panas. Dengan demikian instrumen ini dapat digunakan untuk aplikasi aplikasi dengan benda bergerak atau yang berada pada jarak jauh. Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 18

Pyrometer optik sangat cocok digunakan untuk mengukur logam panas karena jika alat ini dikalibrasi dengan baik akan sangat sempurna mengukur temperatur logam diatas 1500F (816C). Sehingga alat ini sangat ideal untuk digunakan pada industri industri yang melibatkan proses pemanasan logam seperti boiler, perlakuan panas untuk logam dan lain sebagainya. Ini dikarenakan sensor serat optik memiliki bahan isolasi elektrikal. Namun pyrometer ini tidak cocok jika digunakan untuk mengukur temperatur gas, karena gas panas tidak memancarkan radiasi secara kasat mata.

Kelas lain dari pyrometer tergantung dari variasi dalam pancaran energi radiasi monokromatik dengan temperatur. Piranti ini sering dinamakan

sebagai pyrometer optis karena mereka biasa melibatkan panjang gelombang hanya pada bagian gelombang tampak dari spektrum. Kita mengetahui bahwa intensitas pada beberapa panjang gelombang tertentu adalah sebanding dengan temperatur. Apabila intensitas dari satu objek cocokdengan yang lain, maka temperaturnya adalah sama. Dalam pyrometer optis, intensitas dari filamen platinum yang dipanaskan akan berubah-ubah hingga menjadi cocok dengan objek yang akan ditentukan temperaturnya. Karena sekarang temperaturnya sama dan temperatur filamen dikalibrasikan terhadap seuatu setting panas, temperatur dari suatu objek dapat ditentukan.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 19 GAMBAR 6.16 Suatu pyrometer optis yang cocok dengan intensitas dari objek yang dipanaskan, filamen yang dikalibrasikan, biasanya sebagai panjang gelombang dalam merah

Gambar 6.16 memperlihatkan sistem khusus untuk implementasi dari suatu pyrometer optis. Dalam gambar tersebut, sistem difokuskan pada objek yang akan diukur temperaturnya, dimana pem-filter-an dilakukan hanya pada panjang gelombang yang diinginkan, yang biasanya adalah merah. Pengamat juga melihat filamen platinum yang ditumpangkan pada citra dari objek. Pada pemanasan rendah filamen akan terlihat gelap terhadap latar belakang objek, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.17a. pada saat filamen dipanaskan, akan muncul sebagai filamen yang terang terhadap latar belakang objek, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6.17c. Di suatu tempat dintara nya adalah titik pada saat kecerahan dari filamen dan objek yang diukur adalah cocok. Pada setting inim filamen tidak muncul dengan pembandingan latar belakang objek, dan temperatur objek dapat dibaca dari penghubung filamen pemanas.

(a)

Filamen dipanaskan terlalu rendah

(b)

Panas filamen di-set tepat

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 20

(c)

Panas filamen terlalu tinggi

GAMBAR 6.17

Contoh dari penampakan filamen selama

pengesetan pyrometer optis.

Jangkauan dari piranti pyrometer optis ditentukanditentukan dalam bagian akhir pada titik dimana objek menjadi cahaya tampak dalam merah (~500 K) dan secara jelas dibatasi oleh titik leleh dari platinum pada batas akhir (~3000 K). Akurasi adalah tipikal pada 5 K hingga 10K yang merupakan fungsi dari operator kesalahan (error) dalam penyesuaian intensitas dan koreksi emisivitas untuk objek. Piranti tersebut tidak mudah diadaptasikan untuk mengontrol proses, karena mereka membutuhkan perbandingan optis yang teliti., biasanya oleh operator manusia. Aplikasiaplikasinya lebih menonjol dalam pengukuran spot dimana monitoring secara konstan atau kontrol temperatur tidak diperlukan.

3.2. Pirometer Radiasi Total

Termometer radiasi (juga dikenal sebagai radiasi pyrometers) mengukur radiasi ini dalam rangka untuk menghitung suhu benda. Tingkat total radiasi emisi per detik diberikan oleh: E =KT4

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 21

Pilihan metode terbaik mengukur radiasi yang dipancarkan tergantung pada suhu. Pada temperatur rendah, yang puncak dari fungsi kepadatan spektral daya terletak pada daerah inframerah kisaran (0,72-1.000 m).

Logam panas memancarkan radiasi dengan nilai tertentu yang besarnya ditangkap oleh pyrometer jenis ini untuk menentukan temperatur logam tersebut. Pyrometer tipe ini memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi, kepresisian, serta rentan pembacaan temperatur yang lebih lebar. Alat ini sangat baik membaca temperatur logam 538oC. Satu kelebihan yang paling penting dari alat ini adalah tidak membutuhkan kontak langsung dengan material yang temperaturnya akan diukur dan pembacaan temperatur secara visual, sehingga ia dipasang di sebuah titik yang tidak terjangkau oleh pandangan manusia, seperti di dalam furnace boiler.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 22

.Instrumen ini mengukur jumlah radiasi yang diemisikan oleh sesuatu benda panas melalui sebuah elemen rasistansi atau termofil (rangkaian beberapa termokopel).

Pirometer radiasi total memfokuskan radiasi dari benda panas ke dalam dettektor radiasi. Gambar 2.56 menampilkan bentuk kasar dari sebuah instrumen yang menggunakan sebuah cermin untuk memfokuskan radiasi pada detektor. Beberapa bentuk instrumen yang lain menggunakan lensa untuk memfokuskan radiasinya.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 23 Detektor pada umumnya berupa sebuah termofil dengan sambungan termokopel yang dapat mencapai 20 atau 30 buah, sebuah elemen resistansi, ataupun sebuah termistor. Detektor ini dikatakan sebagai sebuah detektor broad band karena dapat mendeteksi radiasi pada pita frekuensi lebar sehingga keluarannya merupakan penjumlahan dari daya yang diemisikan pada setiap panjang gelombangnya, serta berbanding lurus dengan pangkat empat temperaturnya (hukum stefan-boltzman). Akurasi dari pirometer radiasi total broadband biasanya sekitar 0,5% dengan rentang pengukuran antara 00C 30000C. Konstanta waktu (ukuran seberapa cepat sistem bereaksi terhadap perubahan temperatur dan merupakan waktu yang diperlukan untuk mencapai sekitar 63% nilai akhir) untuk instrumen ini bervariasi antara 0,1 detik bagi detektor yang hanya tediri dari 1 termokopel atau termistor manik manik kecil, hingga beberapa detik bagi detektor termofil yang melibattkan banyak termokopel. Beberapa instrumen menggunakan chopper (pemotong) mekanis berputar uuntuk memotong radiasi sebelum mengenai detektor. Tujuannya untuk memperoleh keluaran detektor yang berubah ubah mengingat penguatan sinyal akan lebih mudah jika tegangannya merupakan tegangan bolak balik. Dengan demikian akan merupakan sebuah keuntungan apabila level radiasinya rendah. Akan tetapi chopper hanya dapat digunakan untuk detektor yang mempunyai konstanta waktu yang sangat kecil, sehingga cenderung digunakan untuk detektor, termistor berbentuk manik manik kecil.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran

H a l a m a n | 24 4.KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan Pengukuran suhu efek radiasi didasarkan pada suhu suatu benda yang dapat ditentukan melalui pengukuran radiasi termal benda itu. Instrumen yang digunakan yaitu pyrometer optik dan pyrometer radiasi. Pyrometry adalah salah satu teknik pengukuran suhu tanpa kontak fisik, tetapi suhu fluida dideteksi dengan mengukur radiasi elektromagnetik. Pada pyrometer optik lensa digunakan untuk menyatukan (focus) energi radiasi dari bodi, pada pyrometer radiasi total radiasi energi diterima oleh detector (thermocouple, thermophile), dan diteruskan ke recorder, sehingga suhu fluida dapat dibaca. Dalam pyrometer radiasi, sebuah bodi hitam digunakan untuk menyerap panas.

Politeknik Negeri Sriwijaya | Instrumen dan Pengukuran