Anda di halaman 1dari 18

PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH

January 16th, 2013Teknik0 Comments

Teori Dasar Dinding penahan tanah gravitasi umumnya di buat dari pasangan batu. Perencanaan dinding penahan dilakukan dengan metode coba-coba/trial and error untuk memperoleh ukuran yang paling ekonomis. Prosedur perencanaan dilakukan berdasarkan analisa terhadap gaya-gaya yang bekerja pada dinding penahan tanah tersebut. Dinding juga harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada tegangan tarik pada tiap titik pada dinding untuk setiap kondisi pembebanan Tiap tiap potongan dinding horisontal akan menerima gaya-gaya seperti terlihat pada Gambar 1.1 dibawah. a. Gaya vertikal akibat berat sendiri dinding penahan tanah b. Gaya luar yang bekerja pada dinding penahan tanah c. Gaya akibat tekanan tanah aktif d. Gaya akibat tekanan tanah pasif AnalisIS Yang Diperlukan Pada perencanaan dinding penahan tanah, beberapa analisisyang harus dilakukan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Analisis kestabilan terhadap guling Analisis ketahanan terhadap geser Analisis kapasitas daya dukung tanah pada dasar dinding penahan Analisis tegangan dalam dinding penahan tanah Analisis penurunan

6.

Analisis stabilitas secara umum Gambar 1.1 Tegangan pada Dinding atau Kepala Jembatan Tipe Gravitasi

Kestabilan Terhadap Guling Kestabilan struktur terhadap kemungkinan terguling dihitung dengan persamaan berikut :

SMO = jumlah dari momen-momen yang menyebabkan struktur terguling dengan titik pusat putaran di titik O. SMO disebabkan oleh tekanan tanah aktif yang bekerja pada elevasi H/3. SMR = jumlah dari momen-momen yang mencegah struktur terguling dengan titik pusat putaran di titik O. SMR merupakan momen-momen yang disebabkan oleh gaya vertikal dari struktur dan berat tanah diatas struktur. Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 2.8, nilai minimum dari angka keamanan terhadap geser yang digunakan dalam perencanaan adalah 2.2 Ketahanan Terhadap Geser Ketahanan struktur terhadap kemungkinan struktur bergeser dihitung berdasarkan persamaan berikut

SFD = jumlah dari gaya-gaya horizontal yang menyebabkan stuktur bergeser. SFD disebabkan oleh tekanan tanah aktif yang bekerja pada struktur

SFR = jumlah gaya gaya horizontal yang mencegah struktur bergeser. SFR merupakan gaya gaya penahan yang disebabkan oleh tahanan gesek dari struktur dengan tanah serta tahanan yang disebabkan oleh kohesi tanah.

Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 4.4.4, nilai f2 biasanya diambil sama dengan f tanah dasar untuk beton pondasi yang dicor ditempat dan 2/3 dari nilai f tanah dasar untuk pondasi beton pracetak dengan permukaan halus. Sedangkan nilai c2 biasanya diambil 0.4 dari nilai c (kohesi) tanah dasar. Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 2.8, nilai minimum dari angka Keamanam terhadap guling yang digunakan dalam perencanaan adalah 2.2. Daya Dukung Ijin dari Tanah Tekanan yang disebabkan oleh gaya-gaya yang terjadi pada dinding penah ke tanah harus dipastikan lebih kecil dari daya dukung ijin tanah. Penentuan daya dukung ijin pada dasar dinding penahan/abutmen dilakukan seperti dalam perencanaan pondasi dangkal. Hal pertama yang perlu diperiksa adalah eksentrisitas dari gaya-gaya ke pondasi yang dihitung dengan rumus berikut

Tekanan ke tanah dihitung dengan rumus :

Jika nilai eks > B/6 maka nilai qmin akan lebih kecil dari 0. Hal tersebut adalah sesuatu yang tidak diharapkan. Jika hal ini terjadi maka lebar dinding penahan B perlu di perbesar. Angka keamanan terhadap tekanan maksimum ke tanah dasar dihitung dengan rumus

Nilai minimum dari angka keamanan terhadap daya dukung yang biasa digunakan dalam perencanaan adalah 3. Tegangan Tarik pada Dinding Pasangan Batu Prinsip yang digunakan untuk menentukan besarnya tegangan pada dinding pasangan batu sama seperti menentukan tegangan pada tanah dasar dimana tegangan pada bidang horisontal dihitung dengan rumus :

Berdasarkan Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, dinding pasangan batu dianggap aman jika tegangan minimum pada suatu bidang horizontal lebih besar atau sama dengan nol.

Tekanan Tanah Lateral Besarnya tekanan tanah dalam arah lateral ditentukan oleh: 1. 2. 3. Besarnya koefisien tekanan tanah aktif, pasif dan keadaan diam Besarnya kohesi tanah Besarnya beban yang bekerja pada permukaan tanah timbunan

Tekanan Tanah Aktif , Pasif, dan Keadaan Diam Tekanan tanah lateral dalam keadaan aktif terjadi apabila tanah bergerak menekan misalnya pada dinding penahan tanah sehingga dinding penahan tanah bergerak menjauhi tanah di belakangnya. Tekanan tanah lateral dalam keadaan pasif terjadi pada tanah yang berada didepan dinding penahan tanah karena dinding menekan dinding tanah tersebut. Tekanan tanah lateral dalam keadaan diam adalah tekanan lateral yang ada dalam tanah yang tidak disebabkan oleh adanya dorongan lateral. Dalam menganalisa tekanan tanah aktif dan pasif ada 2 pendekatan yang umum digunakan yaitu Teori Coulomb dan Teori Rankine. Perbedaan utama antara Teori Rankine dan Teori Coulomb diilustrasikan pada Gambar 1.2 di bawah ini.

Gambar 1.2. Bidang Keruntuhan Menurut Rankine dan Coulomb Jika garis keruntuhan tidak terganggu oleh keberadaan dinding, maka pendekatan Rankine bisa digunakan. Pada Gambar 1.2 kiri, tumit yang terletak di dasar kantilever menyebabkan garis keruntuhan tidak mengganggu dinding, sehingga pendekatan Rankine bisa digunakan. Sementara pada Gambar 1.2 kanan, teori Rankine tidak bisa digunakan karena garis keruntuhan mengenai dinding penahan tersebut. Tekanan tanah aktif dan pasif dihitung dengan rumus dibawah ini :

Ka dan Kp adalah koefisien tekanan tanah Aktif dan Pasif, c adalah kohesi tanah dan q adalah beban merata diatas permukaan tanah (surcharge) Teori Rankine Untuk Tanah Non-Kohesif Koefisien Tekanan Tanah Aktif dan Pasif (Ka dan Kp) untuk tanah non-kohesif menurut pendekatan dari Rankine dihitung dengan rumus dibawah ini :

Bidang keruntuhan serta besarnya gaya tekan aktif Rankine untuk tanah non-kohesif dapat dilihat pada Gambar 1.3 dibawah.

Gambar 1.3. Pola Keruntuhan Rankine untuk Tanah Non-Kohesif Teori Coulomb Untuk Tanah Non-Kohesif Menurut teori Coulomb, koefisien tekanan tanah Ka dan Kp untuk tanah non-kohesif dihitung dengan rumus

f = sudut gesek dalam dari tanah w = kemiringan timbunan tanah terhadap bidang horisontal d
s

sudut

geser

dinding-tanah

biasanya

dimabil 2/3 f

/d 1.0f

b = kemiringan dinding terhadap bidang vertikal

Diagram bidang keruntuhan dan juga gaya tekan aktif untuk tanah non-kohesif menurut teori Coulomb dapat dilihat pada Gambar 1.4

Gambar 1.4. Pola Keruntuhan Coulomb untuk Tanah Non-Kohesif Pengaruh Kohesi Tanah Dari persamaan (1.8), persamaan (1.9) dan persamaan (1.10), terlihat bahwa tekanan aktif pada dinding penahan adalah disebabkan oleh tekanan aktif tanah dikurangi dengan pengaruh kohesi tanah. Kohesi tanah akan menyebabkan terjadinya tekanan tanah yang bernilai negatif. Hal ini tidak terjadi di lapangan sehingga sebagai konsekuensinya pada daerah dengan tekanan tanah aktif lebih kecil dari nol, besarnya tekanan tanah aktif yang yang terjadi akan sama dengan 0. Kedalalaman lapisan dimana tekanan tanah aktif mempunyai nilai lebih kecil dari 0 disebut kedalaman retak Zc, dan dihitung dengan rumus dibawah ini.

Pola keruntuhan menurut teori Rankine dan Coulomb untuk tanah kohesif dapat dilihat pada Gambar 1.5 dan Gambar 1.6 di bawah.

Gambar 1.5. Pola Keruntuhan Rankine untuk Tanah Kohesif

Gambar 1.6. Pola Keruntuhan Coulomb untuk Tanah Kohesif

Koefisien Tekanan Tanah Dalam Keadaaan Diam Dalam perencanaan dinding penahan tanah atau abutmen yang memperhitungkan pengaruh tahanan pasif daru tanah, tekanan tanah pasif dibatasi sampai tekanan pada kondisi diam. Koefisien tekanan tanah pasif pada kondisi diam dihitung dengan rumus berikut.

Beban Gempa Pada Struktur PENAHAN TANAH Pengaruh beban gempa pada dinding penahan tanah dapat diperhitungkan dengan menggunakan analisa statik ekivalen. Dalam analis statik ekivalen, beban gempa dihitung dengan persamaan berikut.

TEQ

= Gaya geser dasar total dalam arah yang ditinjau (kN)

Kh C I Wr

= Koefisien beban gempa horizontal = Koefisien gempa dasar untuk daerah, waktu, dan kondisi setempat yang sesuai. = Faktor Keutamaan = Berat total nominal bangunan yang mempengaruhi percepatan gempa, diambil sebagai beban

mati tambahan

Koefisien Gempa Dasar C Nilai Koefisien Gempa dasar C diperoleh dari kurva respon spektra pada Gambar 1.8, sesuai dengan daerah gempa, tipe tanah dibawah permukaan, dan waktu getar alami dari struktur tersebut. Daerah gempa di Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa/zona. Kondisi tanah dibawah permukaan untuk setiap wilayah gempa dibagi menjadi 3 jenis yaitu tanah Teguh, tanah Sedang dan tanah Lunak. Masing-masing wilayah gempa/zona mempunyai kurva respon spektra gempa untuk setiap kondisi tanah yang diperlihatkan pada Gambar 1.8.

Gambar 1.7. Peta Daerah Gempa untuk Koefisien Gempa Dasar Untuk menentukan tipe tanah dalam memilih kurva respon spektra yang akan digunakan dapat digunakan Table 1.1.

Tabel 1.1 Kondisi Tanah untuk Koefisien Geser Dasar Kedalaman Batuan Tanah Teguh 3 meter Untuk seluruh jenis tanah Untuk tanah kohesif dengan kekuatan geser undrained rata-rata tidak melebihi 50 kg Pada tempat dimana hamparan tanah salah satunya mempunyai sifat kohesif dengan kekuatan geser undrained rata-rata lebih besar dari 100 kg atau tanah berbutir yang sangat padat Untuk tanah kohesif dengan kekuatan geser undrained rata-rata tidak melebihi 200 kPa 6 meter 9 meter 12 meter 20 meter Untuk tanah berbutir dengan ikatan matrik padat > 6 m sampai 25 m > 9 m sampai 25 m > 12 m sampai 30 m > 20 m sampai 40 m > 25 meter > 25 meter > 30 meter > 40 meter Tanah Lunak > 25 meter

Tipe tanah

Tanah sedang > 3 m sampai 25 m

Waktu Getar Alamiah Waktu getar alamiah jembatan yang digunakan untuk menghitung Gaya Geser Dasar harus dihitung dari analisa yang meninjau seluruh elemen bangunan yang memberikan kekakuan dan fleksibitas dari sistim pondasi. Untuk bangunan yang sederhana, dapat menggunakan rumus berikut.

(1.19) T g WTP = Waktu getar dalam detik = Percepatan gravitasi (m/s2) = Berat total nominal bangunan atas termasuk beban mati tambahan ditambah setengah berat

dari pilar (bila dipertimbangkan) dalam kN Kp = Kekakuan gabungan sebagai gaya horisontal yang diperlukan untuk menimbulkan satu satuan lendutan pada bagian atas pilar/abutmen.

Dinding penahan tanah biasanya mempunyai waktu getar yang berbeda pada arah memanjang dan melintang sehingga beban rencana statis ekivalen yang berbeda harus dihitung untuk masing-masing arah. Faktor Keutamaan I Besarnya Faktor Keutamaan I ditentukan berdasarkan Table 1.2 dibawah.

Tabel 1.2. Faktor Keutamaan Harga I minimum

No

Klasifikasi Jembatan memuat lebih dari 2000 kendaraan per hari, jembatan pada jalan raya utama atau arteri dan jembatan dimana tidak ada rute alternatif Seluruh jembatan permanen lainnya dimana jalur alternatif tersedia, tidak termasuk jembatan yang direncanakan untuk mengurangi pembebanan lalu lintas Jembatan sementara (misalnya Bailey) dan jembatan yang direncanakan untuk mengurangi pembebebanan lalu lintas

1.2

1.0

0.8

Tekanan Tanah Lateral Gempa Untuk Tanah Non-Kohesif Gaya gempa arah lateral akibat tekanan tanah (tekanan tanah dinamis) dihitung dengan menggunakan pendekatan yang diusulkan oleh Mononobe-Okabe. Pendekatan ini merupakan metode yang paling umum digunakan. Besarnya tekanan tanah akibat pengaruh gempa ditentukan berdasarkan koefisien gempa horizontal

Ch dan Faktor Keutamaan I. Pengaruh gempa diasumsikan sebagai gaya horisontal statis yang sama dengan koefisien gempa rencana dikalikan dengan berat irisan. Koefisien Tekanan Tanah Aktif Pada saat gempa dihitung dengan rumus

Kh = Koefisien gempa untuk tekanan tanah dinamis = Ch*I Diagram gaya-gaya yang bekerja pada saat terjadinya gempa ditampilkan pada Gambar 1.9 dibawah. Untuk menentukan titik tangkap PaG, maka tekanan aktif gempa total dibagai dalam 2 komponen yaitu 1. 2. Pa dari pembebanan statis Komponen dinamis tambahan DPaG = PaG Pa

Gaya Pa bekerjaq pada 1/3 H dari dasar dinding sedangkan DPaG bekerja 2/3 H dari dasar dinding. Koefisien geser dasar untuk tekanan tanah lateral Ch dapat ditentukan berdasarkan Tabel 1.3 dibawah.

Tabel 1.3. Koefisien Geser Dasar untuk Tekanan Tanah Lateral

Koefisien Geser Dasar C Daerah Gempa Tanah Teguh 0.20 1 0.17 2 0.14 3 0.10 4 0.07 5 0.06 6 0.06 0.07 0.12 0.12 0.15 0.15 0.18 0.18 0.21 0.21 Tanah Sedang 0.23 Tanah Lunak 0.23

Gambar 1.9. Tekanan Tanah Gempa Untuk Tanah Tidak Kohesif Tekanan Tanah Lateral Gempa Untuk Tanah Kohesif Untuk tanah Kohesif, persamaan persamaan untuk menentukan Pa dan Pae sangat rumit. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah dengan metode Irisan Percobaan atau Trial Wedge Section (tidak dijelaskan disini). Contoh Kasus Suatu dinding penahan tanah terbuat dari pasangan batu setinggi 3 meter direncanakan untuk dibangun dengan data-data perencanaan sebagai berikut 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tanah urugan g = 1.8 t/m3 = 18 kN/m3, dan f = 35 Tanah dasar g = 1.7 t/m3 = 17 kN/m3, dan f = 35 , c = 5 t/m2 = 50 kPa Kemiringan tanah timbunan = 20 Beban merata pada permukaan tanah = 0.8 t/m2 = 8 kPa Angka keamanan terhadap guling yang diinginkan = 2.2 Angka keamanan terhadap geser yang diinginkan = 2.2 Tegangan ijin tanah = 12 t/m2 = 120 kPa Tidak diijinkan adanya tegangan tarik pada dinding penahan pasangan batu tersebut. Dinding penahan tanah tersebut terletak di wilayah gempa/zona 6 dengan Koefisien Gempa Chuntuk bangunan penahan = 0.6, Ch untuk tekanan tanah = 0.6, dan Faktor Keutamaan I = 0.8

Dimensi Coba

Dimensi, Berat, dan Gaya Gempa dari Elemen Dinding

Nomor elemen 1 2 3

Lebar (m) 3.95 0.5 2.45

Tinggi (meter) 0.5 2.5 2.5

Berat=W (kN) 47.4 30.0 73.5

Gaya Gempa (kN) 2.28 1.44 3.53

Gaya Gempa = W*Ch*I

Tekanan Tanah Aktif Coulomb Kemiringan dinding penahan b Sudut gesek dinding-tanah d Sudut gesek dinding-tanah d

= arc tan (2.45/2.5) = 44.42 = 0 ( pada saat terjadi gempa ) = f ( pada saat tidak terjadi gempa ) = 20

Sudut kemiringan tanah timbunan

Koefisien Tekanan Tanah Aktif

Ka = 1.223

Koefisien Tekanan Tanah Aktif Gempa

Kh = coefisien gempa untuk tanah = Ch*I

KaG = 1.324 Sudut kemiringan tekanan tanah aktif dan tekanan tanah akibat gempa = b + d = 44.423

Tekanan Tanah Akibat Beban Merata Surcharge (per meter) Resultante tekanan tanah akibat beban merata bekerja pada elevasi H dari dasar dengan kemiringan b

= 16.443 kN Komponen arah vertikal Komponen arah horisontal = V6 = -16.443*sin 44.423 = -11.51 kN ( ke bawah) = H7 = 16.443*cos 44.423 = 11.74 kN ( ke kanan)

Tekanan Tanah Aktif Coulomb Resultante tekanan tanah aktif Coulomb bekerja pada elevasi 1/3 H dari dasar dengan kemiringan b Pa = gKa H2= 99.063 kN Komponen arah vertikal Komponen arah horisontal = V4 = -99.063*sin 44.423 = -69.34 kN (ke bawah) = H5 = 99.063*cos 44.423 = 70.75 kN ( ke kanan)

Tekanan Tanah Tambahan Akibat Gempa Resultante Tekanan tanah tambahan akibat gempa bekerja pada elevasi 2/3 H dari dasar dengan kemiringan b Pa = g(KaG-Ka)H2 = 8.18 kN Komponen arah vertical Komponen arah horisontal = V4 = -8.18*sin 44.423 = -5.72 kN (ke bawah) = H5 = 8.18*cos 44.423 = 5.84 kN ( ke kanan)

Gaya-Gaya Yang Bekerja Gaya-gaya pada dinding penahan ditabelkan sebagai berikut Deskripsi kode kN -47.40 V1 V2 V3 V4 H5 V6 H7 H8 H9 H10 V11 V12 Elemen 1 pasangan batu -30.00 Elemen 2 pasangan batu -73.50 Elemen 3 pasangan batu -69.35 Tekanan tanah aktif 70.76 Tekanan tanah aktif -11.51 Tekanan tanah surcharge 11.75 Tekanan tanah surcharge 2.28 Gempa elemen 1 1.44 Gempa elemen 2 3.53 Gempa elemen 3 -5.72 Tekanan tanah gempa 5.83 Tekanan tanah gempa = -237.48 kN = 95.59 kN = 107.84 kN-meter = -494.67 kN-meter a. Total Gaya Vertikal b. Total Gaya Horisontal -1.980 2.000 11.67 -1.980 2.000 -11.32 -1.817 1.333 4.70 -0.750 1.750 2.52 -1.975 0.250 0.57 -2.470 1.500 17.62 -2.470 1.500 -28.43 -2.960 1.000 70.76 -2.960 1.000 -205.27 -1.817 1.333 -133.53 -0.750 1.750 -22.50 meter -1.975 meter 0.250 kN-meter -93.62 Gaya (kN) X thd O Y thd O Momen

c. Total Momen Guling thd ttk O d. Total Momen Penahan thd ttk O

Tegangan Pada Tanah Dasar Eksentrisitas gaya-gaya pada dasar dinding penahan dihitung sebagai berikut

Tekanan ke tanah dihitung dengan rumus :

Tekanan maksimum ke tanah Tekanan minimum ke tanah

= 91.73 kN/m2 < 120 kN/m2 = 28.51 kN/m2

Tekanan maksimum ternyata lebih kecil dari daya dukung ijin sehingga memenuhi persyaratan. Kestabilan Terhadap Guling Kestabilan struktur terhadap kemungkinan terguling dihitung dengan persamaan berikut :

Angka keamanan terhadap guling lebih besar dari persyaratan (2.2) Kestabilan terhAdap geser Ketahanan struktur terhadap kemungkinan struktur bergeser dihitung berdasarkan persamaan berikut dimana Nilai f2 biasanya diambil sama dengan f tanah untuk beton pondasi yang dicor ditempat dan 2/3 dari nilai f tanah untuk pondasi beton pracetak dengan permukaan halus. Sedangkan nilai c2 biasanya diambil 0.4 dari nilai c tanah

Angka keamanan terhadap geser lebih besar dari persyaratan (2.2) TEGANGAN TARIK PADA PASANGAN BATU Pengecekan Tegangan Pada Elevasi 1.75 meter Dari Dasar Pondasi Lebar penampang pada elevasi tersebut adalah 1.73 meter. Dengan cara yang sama seperti diatas dapat ditentukan tekanan tanah yang terjadi sehingga dapat dihitung besarnya gaya-gaya yang bekerja pada potongan 1. Gaya-gaya yang terjadi ditabelkan sebagai berikut Gaya Deskripsi kode -15.00 V1 V2 V3 H4 V5 H6 H7 Sebagian dari elemen 2 -18.38 Sebagian dari elemen 3 -4.80 Tekanan tanah aktif 4.89 Tekanan tanah aktif -12.04 Tekanan tanah surcharge 12.29 Tekanan tanah surcharge 0.72 Gempa sebagian elemen 2 0.625 0.45 0.417 5.12 1.317 -15.85 0.625 3.06 1.113 -5.34 0.908 -16.69 0.250 -03.75 (kN) Lengan gaya ke tepi potongan (m) Momen (kN-meter)

0.88 H8 V9 H10 Gempa sebagian elemen 3 -0.99 Tekanan tanah gempa 01.01 Tekanan tanah gempa

0.417 0.908 0.833

0.37 -0.90 0.84

Total gaya vertikal pada potongan 1

= -51.2 kN = -32.7 kN-meter

Total momen terhadap tepi kanan pada potongan 1

Eksentrisitas pada potongan 1 dihitung sebagai berikut

meter Tegangan pada potongan dengan rumus berikut

Tegangan maksimum pada potongan 1 Tegangan minimum pada potongan 1

= 52.8 kN/m2 = 6.6 kN/m2

Nilai tegangan positif pada potongan menunjukkan tegangan tekan. Tegangan minimum yang terjadi ternyata lebih besar dari 0, yang artinya pada potongan 1 tersebut semua tegangan yang terjadi adalah tekan, sehingga memenuhi persyaratan

Pengecekan Tegangan Pada Elevasi 0.5 meter Dari Dasar Pondasi Lebar penampang pada elevasi tersebut adalah 2.95 meter. Dengan cara yang sama seperti diatas dapat ditentukan tekanan tanah yang terjadi sehingga dapat dihitung besarnya gaya-gaya yang bekerja pada potongan 1. Gaya-gaya yang terjadi ditabelkan sebagai berikut Gaya deskripsi kode -30.00 V1 V2 V3 H4 V5 H6 Sebagian dari elemen 2 -73.50 Sebagian dari elemen 3 -9.59 Tekanan tanah aktif 9.79 Tekanan tanah aktif -48.16 Tekanan tanah surcharge 49.14 Tekanan tanah surcharge .833 40.95 2.133 -102.74 1.250 12.23 1.725 -16.55 1.317 -96.78 .250 -7.50 (kN) Lengan gaya ke tepi potongan (m) Momen (kN-meter)

1.44 H7 H8 V9 H10 Gempa sebagian elemen 2 3.53 Gempa sebagian elemen 3 -3.97 Tekanan tanah gempa 4.05 Tekanan tanah gempa

1.250 .833 1.317 1.667

1.80 2.94 -5.23 6.75

Total gaya vertikal pada potongan 2

= -165.2 kN = -164.1 kN-meter

Total momen terhadap tepi kanan pada potongan 2 Eksentrisitas gaya-gaya pada potongan 2 adalah

meter Teganan pada potongan dihitung dengan rumus berikut

Tegangan maksimum pada potongan 2 Tegangan minimum pada potongan 2

= 110.9 kN/m2 = 1.1 kN/m2

Nilai tegangan positif pada potongan menunjukkan tegangan tekan. Tegangan minimum yang terjadi ternyata lebih besar dari 0, yang artinya pada potongan 2 tersebut semua tegangan yang terjadi adalah tekan, sehingga memenuhi persyaratan