Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Teori Terkait
Untuk memberikan arahan dalam penelitian ini, peneliti akan menguraikan
landasan teori atau konsep terkait serta penelitian terkait tentang Gambaran Kejadian
Gangguan Pendengaran : Otitis Media Pada Anak Usia 5-12 Tahun di Poli THT RS Dr
Mintohardjo Jakarta Pusat Tahun 2010.
1. Otitis Media
a. Pengertian
Radang telinga atau otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh
mukosa telinga tengah, tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga
tengah dan rongga mulut), antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Hampir 70 %
anak-anak pernah mengalami radang telinga dan tidak sedikit yang mengalami
gangguan pendengaran akibat penanganan yang terlambat atau kronis.
Gambar 2.1 Otitis media
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti
radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran
Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan
infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran,
7
tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri.
Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka
sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu
pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang
dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu
karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga
dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.
Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan
halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan
pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga
juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut
akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.
b. Jenis Otitis Media
1) Otitis Media Akut
a). Pengertian
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh
periosteum telinga tengah. Otitis media akut dalah keadaan terdapatnya
cairan didalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi, dan dapat
disebabkan berbagai patogen. Termasuk streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, streptoccocus pyogenes, moraxella
cataralis,virus dan anaerob tertentu. Pada neonatos organisme enterik
gram negatif dapat pula menjadi organisme penyebab.
Gambar 2.2 Otitis media akut
b). Etiologi
Bakteri piogenik streptococcus hemolyticus, staphyis, lococcus aureus,
influenzae, e.coli, sanhemolyticus, p.vulgaris, dan p.aeruginosa.
c). Patofisiologi
Terjadi akibat terganggunya factor pertahanan tubuh yang bertugas
menjaga keseterilan telingah tengah. Factor penyebab utama adalah
sumbatan tuba Eustachius sehingga pencegahan invasi kuman
terganggu. Pencetusnya adalah infeksi saluran nafas atas. Penyakit ini
mudah terjadi pada bayi karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar, dan
letaknya agak horizontal.
Gambar 2.3 Peradangan pada rongga telinga tengah
d). Manifestasi klinis
Gejala klinis OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.
Stadium OMA berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah.
i). Stadium oklusi tuba Eustacchius
Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif
didalam telingah tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat.
Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media
serosa akibat virus atau alergi.
ii). Stadium Supurasi
Membran timpani menonjol kearah telingah luar akibat edema yang
hebat pada mukosa telingah tengah dan hancurnya sel epitel
superfisial, serta terbentuknya eksudat purulen dikavum tertimpani.
iii). Stadium Perforasi
Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman
yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar
mengalir dari telingah tengah ke telingah luar.
iv). Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal
kembali. Bila terjadi perforasi, maka sekret maka akan berkurang dan
mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah,
maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi
otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengn sekrt yang
keluar terus menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu disebut
otitis media supuratif kronik. Pada anak keluhan utama adalah rasa
nyeri didalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi.Biasanya terdapat
riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada bayi dan anak-anak kecil gejala
khas OMA adalah suhu tubuh yang tinggi (39,5
o
C), gelisah, sulit
tidur, tiba tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadang
kadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran
tympani, suhu tubuh akan turun, dan anak tertidur.
e). Komplikasi
Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi mulai
dari abses subperiostal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang
semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapat pada OMSK.
f). Penatalaksanaan
Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung pada evektivitas terapi
(misalnya dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi
terapi),virulensi bakteri,dan status fisik pasien. Dengan terapi antibiotika
spektrum luas yang tepat dan awal, otitis media dapat hilang tanpa gejala
sisa yang serius. Bila terjadi pengeluaran , biasanya perlu diresepkan
preparat otik antibiotika. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut
(misalnya. Berlangsung 3 minggu sampai 3 bulan), dengan pengeluaran
cairan purulen menetap dari telinga. Jarang sekali terjadi kehilangan
pendengaran permanen. Komplikasi sekunder mengenai mastoid dan
komplikasi intrakranial serius, seperti meningitis atau abses otak dapat
terjadi meskipun jarang.
Gambar 2.4 Penarikan serumen dengan otoskop
Gambar 2.5 Terapi Ear Candle
2) Otitis media Supuratif Kronik
Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah infeksi kronik telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari telinga
tengah secara terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer
atau kental, bening, atau nanah. Biasanya disertai gangguan pendengaran.
Gambar 2.6 Otitis media Supuratif Kronik
a). Etiologi
Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan OMA yang prosesnya
sudah berjalan lebih dari 2 bulan. Beberapa faktor penyebab adalah
terapi yang terlambat, terapi tidak adekuat, virulensi kuman tinggi,
daya tahan tubuh rendah, atau kebersihan buruk. Bila kurang dari 2
bulan disebut subakut. Sebagian kecil perforasi membran timpani
terjadi akibat trauma telinga tengah. Kuman penyebab biasanya Gram
positif aerob, sedangkan pada infeksi yang telah berlangsung lama
sering juga terdapat sering juga terdapat kuman Gram negatif dan
anaerob.
b). Patofisiologi
OMSK dibagi dalam 2 jenis, yaitu benigna atau tipe mukosa, dan
maligna atau tipe tulang. Berdasarkan sekret yang keluar dari kavum
timpani secara aktif juga dikenal tipe aktif dan tipe tenang. Pada
OMSK benigna peradangan terbatas pada mukosa saja, tidak
mengenai tulang. Perforasi terletak disentral. Jarang menimbulkan
komplikasi berbahaya dan tidak terdapat kolesteatong. OMSK tipe
maligna disertai dengan kolesteatom. Perforasi terletak marginal,
subtotal, atau diatik. Sering menimbulkan komplikasi yang berbahaya
atau fatal.
Gambar 2.7 Perforasi gendang telinga
c). Manifestasi Klinis
Pasien mengeluh otore, vertigo, tinitus, rasa penuh ditelinga, atau
gangguan pendengaran. Mengingat bahaya komplikasi, OMSK
malligna harus dideteksi sejak dini. Diagnosis pasti ditegakkan pada
penemuan dikamar operasi. Beberapa tanda klinis sebagai pedoman
adalah perporasi pada marginal atau atik, abses atau
fistelretroaurikuler, polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar
yang berasal dari telingah tengah, kolesteatom pada telinga tengah,
sekret berbentuk nanah dan berbau khas.
Gambar 2.8 Pengobatan otitis media akut dengan cara pencangkokan
d). Komplikasi
Paralisis nervus fasialis, fistula labirin, labirititis, labirintitis supuratif,
petrositis, tromboflebitis sinus lateral, abses subdural, meningitis,
abses otak, dan hidrosefalus otitis.
Otitis media kronis mengakibatkan defisit pendengaran konduktif yang
di sebabkan oleh gangguan kompleks timpano-okular. Namun bila
infeksi terjadi pada telinga tengah juga, kita dapat menemukan semua
komplikasi yang telah diuraikan pada otitis media akut. Infeksi
berulang dengan perforasi menetap juga dikaitkan dengan kehilangan
pendengaran sensorineural progresif.
2. Cairan Serumen
Serumen adalah hasil dari produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa yang
terdapat dibagian kartilago liang telinga luar dan epitel kulit yang terlepas dan
pertikel debu, yang berguna untuk melicinkan dinding liang telinga dan mencegah
masuknya serangga kecil kedalam liang telinga. Dalam keadaan normal serumen
terdapat disepertiga luar liang telinga karena kelenjar tersebut hanya ditemukan
didaerah ini dan keluar dengan sendirinya dari liang telinga akibat migrasi epitel
kulit yang bergerak dari arah membrane timpani menuju keluar serta dibantu oleh
gerakan rahang sewaktu mengunyah.
Gambar 2.9 Cairan serumaen yang keluar pada telinga.
Faktor yang menyebabkan serumen terkumpul dan mengeras di liang telinga
sehingga menyumbat, antara lain:
a). Dermatitis kronik liang telinga luar
b). Liang telinga sempit
c). Produksi serumen banyak dan kental
d). Adanya benda asing di liang telinga
e). Adanya eksostosis liang telinga
f). Serumen terdorong oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi atau
kebiasaan mengorek telinga.
Gejala yang timbul akibat sumbatan serumen adalah pendengaran berkurang.
Rasa nyeri timbul apabila serumen keras membatu dan menekan dinding liang
telinga. Telinga berdengung (tinitus), pusing (vertigo) bila serumen telah menekan
membrane timpani, kadang-kadang disertai batuk oleh karena rangsangan nervus
vagus melalui cabang aurikuler.
Penatalaksanaan disesuaikan dengan konsistensi serumen. Jika serumen
lembek hanya dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada aplikator. Serumen
yang sudah keras dikeluarkan dengan cara dikait dengan alat pengait. Serumen yang
terlalu dalam (mendekati membrane timpani), dikeluarkan dengan cara mengirigasi
liang telinga. Pada serumen yang keras membatu sebelum dikeluarkan harus
dilembekkan terlebih dahulu dengan karbol gliserin 10% tiga kali tiga tetes sehari,
selama tiga sampai lima hari, setelah itu dikait dengan alat pengait atau diirigasi jika
serumen telah terdorong jauh kedalam liang telinga.
3. Gangguan Pendengaran
a). Fisiologi pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke
koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani, diteruskan ketelinga
tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran
melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas
membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah di amplikasi ini
akan diteruskan kestapes yang menggerakan tingkap lonjong, sehingga perlimfa
pada sekala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner
yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara
membran besalis dan membran tektoria. Peroses ini merupakan rangsang mekanik
yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal
ion bernuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi
sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter kedalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi oada saraf auditorius, lalu dilanjutkan kenukleus
auditorius sampai kekorteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.
b). Pengertian
Gangguan pendengaran adalah istilah umum yang menandakan
ketidakmampuan dengan keparahan dari ringan sampai sangat berat dan sebagian
dan kesulitan mendengar. Tuli merujuk pada seorang yang ketidakmampuan
pendengarannya mencegah keberhasilan memproses informasi bahasa melalui
pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu pendengaran. Kesulit, memiliki sisa
pendengaran yang cukup memungkinkan memproses informasi bahasa dengan
sukses melalui pendengaran. Gangguan pendengaran dapat diklasifikasikan
berdasarkan etiologi, patologi, atau keparahan gejala. Setiap klasifikasi ini penting
dalam hal pengobatan, kemungkinan pencegahan, dan rehabilitas.
c). Etiologi
Kehilangan pendengaran dapat disebabkan oleh sejumlah Kebisingan
lingkungan merupakan perhatian khusus. Bunyi yang cukup keras cukup
merusakan sel rambut telinga bagian dalam yang sensitif dapat menyebabkan
kehilangan pendengaran yang permanen. Bunyi singkat yang sangat keras, seperti
letusan senjata, dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang segera, berat
dan permanen., musik dapat juga menyebabkan kehilangan pendengaran (lepage
dan murray 1998:Roizen, 1999). Tingkat suara yang pastimenyebabkan
kehilangan pendengaran tidak diketahui.
d). Patologi
Gangguan pendengaran dibagi berdasarkan lokasi defek: Kehilangan
pendengaran telinga bagian tengah atau konduktif disebabkan karena
terganggunya transmisi suara ke telinga bagian tengah. Gangguan ini adalah yang
paling umum dari semua jenis kehilangan pendengaran dan yang paling sering
disebabkan oleh otitis media serosa. Gangguan pendengaran konduktif terutama
disebabkan oleh kekerasan suara. Kehilangan pendengaran sensorineural disebut
juga tuli saraf atau perseptif, melibatkan kerusakan pada struktur telinga bagian
dalam atau saraf auditorius (pendengaran) penyebab paling umum adalah defek
kongenital pada struktur telinga tengah bagian dalam atau akibat kondisi yang
didapat, seperti kornikterus, infeksi, pemberian obat-obatan ototokik atau bunyi
berlebihan. Kehilangan pendengaran sensorineural menyebabkan distorsi suara
dan masalah dalam membedakan suara. Walaupun anak mendengar beberapa hal
yang berlangsung disekitarnya, namun suara tersebut terdistorsi, sehingga sangat
mempengaruhi pembedaan dan pemahaman.
Kehilangan pendengaran sensorineural konduktif campuaran disebabkan
karena gangguan transmisi suara pada telingah bagian tengah dan
disepanjangjaras neural sering diakibatkan oleh otitis media yang berulang dan
komplikasinya.
Gangguan persepsi pendengaran pusat/ sentral meliputi semua kehilangan
pendengaran yang tidak menunjukan defek pada struktur sensorineural atau
konduktif. Gangguan persepsi pendengaran sentaral dibagi dalam kehilangan
organik atau atau kehilangan fungsi. Pada tipe organik dalam gangguan persepsi
pendengaran sentarl, defek yang terjadi meliputi penerimaan stimulus
pendengaran sepanjang jalur sentral dan pengunkapan pesan kedalam komunikasi
yang bermakna, contohnya adlah afasia, ketidakmampuan untuk mengungkapkan
ide ke dalam bentuk apapun, baik tertilis maupun secara verbal.
Pada tipe kehilangan pendengaran fungsional, tidak ada lesi organik yang
menyebabkan kehilangan pendengaran sentral. Contoh kenilangan pendengaran
fungsional adalah histeria konversi(menarik diri secara tidak sadar dari
pendengaran untuk menghambat ingatan akan suatu kejadian traumatik), autisme
pada bayi, dan skizofrenia pada masa anak-anak.
4. Prinsip dan Konsep Tumbuh Kembang
a. Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak
Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling
berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1) Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya,
sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan
perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak
memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi
yang dimiliki anak.
2) Pola perkembangan dapat diramalkan.
Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian
perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung
dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan.
b. Konsep Tumbuh Kembang
Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan dari
mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus
yang samapun tindakan yang diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang
adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh
kembang.
Tumbuh kembang merupakan hasil dari 2 faktor yang berinteraksi yaitu
1) faktor herediter
2) faktor lingkungan.
Manusia dalam tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kondisi:
1) Fisik
2) Kogniti
3) Psikologis
4) Moral
5) Spiritual
Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus.
c. Prinsip tumbuh kembang
1) tumbuh kembang terus menerus dan komplek
2) tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi
3) tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi
4) setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat
dimodifikasi
5) tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang
Tumbuh kembang adalah Orderly (tertib) dan sequential tetapi juga terus menerus
dan komplek.
1) Setiap orang memiliki pengalam yang sama bentuknya
2) Setiap bentuk dan tingkat perkembangan adalah khas
Tumbuh kembang memiliki pola teratur dan dapat diprediksi;
1) Cephalocaudal (head to tail)
2) Proximaldistal
3) Symetrical
d. Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi
Perbedaan aspek dalam tumbuh kembang terjadi karena beda tahap, jumlah dan
dapat dimodifikasi.
1) tulang tumbuh cepat pada tahun pertama, selama tahun sebelum sekolah
pertumbuhan tulang melambat
2) bicara berkembang cepat pada usia 3 5 tahun
Tahapan tumbuh kembang spesifik untuk setiap orang. Keterampilan dan
kematangan fisik dan psikologis berbeda dan khusus dari setiap orang.
e. Teori tumbuh kembang
1) Psichososial dari Erik Erikson
Setiap tahap memiliki krisis personal yang melibatkan konflik utama
yang krisis pada saat itu. Perkembangan ego sangat dipengaruhi oleh pengaruh
sosial dan kultural dan kesuksesan dari setiap krisis yang melibatkan
perkembangan dari kebaikan yang khusus. Kesuksesan penguasaan pada
setiap konflik dibangun pada keberhasilan, penyelesaian pusat konflik
sebelumnya. Teori ini menunjukkan pentingnya hereditas dan lingkungan
yang memiliki dasar epigenetic. Perkembangan ditentukan oleh prinsip
genetik dan berlangsung terus-menerus sepenjang tahapan usia.
2) Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget
Melihat perkembangan pikiran sebagai kejadian melalui adaptasi
terhadap lingkungan. Anak menyesuaikan (mengisi) informasi yang baru ke
dalam struktur pemikiran yang sudah ada (skema) dan mengakomodasi
(mengubah) skema tersebut untuk menerima informasi yang baru. Usaha
untuk keseimbangan (ekuilibrasi) terjadi melalui dua proses ini. Piaget yang
menyatukan prinsip epigenetic kedalam teorinya. Prinsip ini menyebutkan
bahwa perkembangan bergantung pada program genetic seseorang dan bahwa
setiap aspek atau bagian memiliki waktunya sendiri untuk berpengaruh.
Pengaruh genetic yang konstan, maturasi, pengalaman dan interaksi memberi
hasil dalam perkembangan kognitif. Teori ini menempatkan manusia dalam
peran belajar yang aktif dan adalah hal yang penting bagaimana anak belajar.
5. Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Pada Anak Masa Sekolah
a. Masa usia sekolah (5-12 tahun)
Pada usia ini anak disebut juga priode intelektual, karena merupakan tahap
pertama anak menggunakan sebagian waktunya untuk mengembangkan
kemampuan intelektualnya. Anak usia ini sedang belajar di sekolah dasar (SD)
dan mendapat pelajaran tentang Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan
Sosial. Perhatian anak sedang ditujukan kepada dunia pengetahuan tentang dunia
dan alam sekelilingnya serta senang sekali membaca tentang cerita petualangan
yang menambah pengalamannya. Pada usia ini terjadi perubahan-perubahan dari
usia sebelumnya diantaranya ialah :
b. Bermain
Dengan kemajuan usianya dan bertambah popularnya bentuk hiburan seperti
bacaan, film dan televisi maka kegiatan bermain menjadi berkurang.
c. Permasalahan
Dunianya makin luas demikian pula minatnya dengan pelajaran formal di sekolah,
pembahasan mengenai lingkungan meningkat.melalui kemampuan membaca anak
dapat bertukar pikiran dengan teman-teman sebayanya. Dengan demikian anak
mengembangkan sikap yang realistis mengenai hidup.
d. Moral
Kontaknya anak dengan orang lain membuat pandangan atau konsepnya semakin
luas. Ia menemukan apa yang selama ini dianggap benar atau salah di rumah yang
tidak selamanya sesuai dengan di luar rumah. Sehingga ukuran-ukuran baru
mengenai moral anak tumbuh secara bertahap yang kadang-kadang bertentangan
dengan yang dianut orang tua. Anak mengemban rasa kejujuran dan keadil;an
yang tinggi dan ia tidak segan-segan memprotes bila ia diperlakukan tidak adil.
e. Hubungan Keluarga
Walaupun lingkungan anak telah bertambah luas pengaruh orang tua
masih membekas dalam perkembangan kepribadiannya. Misalnya orang tua yang
berambisi, dapat mempengaruhi anak menjadi kurang tenang, tidak aman dan
tidak menerima bila gagal mencapai harapan-harapan orang tua.
f. Salah Didikan
Jika salah didikan akan timbul berbagai masalah prilaku seperti
mengompol, berbohong, suka berkelahi, nakal dan malas belajar, mengganggu
adik-adiknya, melancong, melamun, lari dari rumah, tidak naik kelas, merokok,
dsb. Untuk memperbaiki salah penyesuaiian diri perlu diteliti latar belakang
kehidupan anak, mengapa hal itu terjadi, sering ditemukan sebabnya, karena
kurang perhatian orang tua.
6. Macam-macam Penyakit pada Anak usia 5-12 tahun
a. Tuberkulosis (TB)
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang
paru - paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
b. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
ISPA adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan atas maupun bawah
yang disebabkan oleh masuknya kuman mikroorganisme (bakteri dan virus) ke
dalam organ saluran pernafasan yang berlangsung selama 14 hari.
c. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
ISK sendiri adalah suatu keadaan adanya infeksi (ada pertumbuhan dan
perkembangbiakan bakteri) dalam saluran kemih meliputi infeksi dari parenkim
ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria yang
bermakna.
d. Diare
Perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik rekuensi/jumlah
buang air yang menjadi sering dan keluar alam konsistensi cair daripada padat,
maka itu adalah diare.
e. Konstipasi
Konstipasi adalah kondisi dimana feses memiliki konsistensi eras dan sulit
dikeluarkan. Masalah ini umum ditemui pada nak-anak. Buang air besar mungkin
disertai rasa sakit dan enjadi lebih jarang dari biasa.
f. Asma
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas engalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap angsangan tertentu, yang menyebabkan
peradangan.
g. Bronkitis
Secara harfiah, bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
inflamasi bronkus. Secara klinis, para ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu
penyakit atau gangguan respiratorik dimana batuk merupakan gejala yang utama
dan dominan.
h. Otitis Media
Adalah radang telinga tengah, sering dipicu oleh infeksi-infeksi yang
menyebabkan sakit tenggorokan dan selesma-selesma atau persoalan-persoalan
pernapasan lainnya yang menyebar ke telinga tengah. Penyebabnya bisa virus atau
bakteri yang menjadi akut atau kronis.
i. Demam Berdarah
Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah
penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran
geografis yang mirip dengan malaria. Demam berdarah disebarkan kepada
manusia oleh nyamuk Aedes aegypti
7. Kerangka Teori


Bagan 2.1 Kerangka Teori
Pasien otitis media dengan karakteristik : jenis kelamin, usia 5-12 tahun dengan riwayat otitis
media akut yaitu dapat diukur dari adanya cairan serumen yang berwarna kuning kecoklatan
dan suhu tubuh yang tinggi diatas 39,5
0
C. Dan otitis media kronik yang ditandai dengan
cairan serumen yang berwarna kuning kecoklatan dan berbau,kemudian terasa perih ditelinga
dan terdapat benjolan di dalam teling. Hasilnya dapat dideskripsikan dalam bentuk gangguan
pendengaran yaitu terjadi dan tidak terjadi.
Pasien Poli THT
dengan karakteristik
responden :
- Usia 5-12 tahun
- Jenis Kelamin
Otitis Media
1. OMA :
- Cairan serumen
- Suhu tubuh tinggi (39,5
0
C)
2. OMK :
- Cairan serumen yang
berbau
- Terasa perih di telinga.
- Terdapat benjolan dalam
telinga.
Gangguan
Pendengaran
- Terjadi
- Tidak Terjadi
OUTPUT PROSES INPUT