Anda di halaman 1dari 58

BAB IPENDAHULUAN

A. Definisi Perpustakaan
Secara tradisional arti perpustakaan adalah
sebuah koleksi buku danmajalah
. Walaupun dapat juga diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangannamun lebih umum dikenal
sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dandioperasikan oleh sebuah kota atau institusi yang
dimanfaatkan oleh masyarakatyang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya
sendiri.Secara modern perpustakaan diartikan sebagai sarana menyimpan koleksi bukudigunakan
untuk menyimpan data yang sebagian besar berbentuk digital dandiakses melalui computer ( Digital
Library ).Definisi perpustakaan sendiri terus berkembang sesuai denganperkembangan bahan
pustaka dan manajemen perpustakaan itu sendiri. Beberapapengertian perpustakaan di antaranya
seperti di bawah ini :Menurut kamus The Oxford English Dictionary, kata library atau
perpustakaanmulai digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374, yang berarti sebagai suatutempat
buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahanrujukan.Pengertian
perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi suatugedung, ruangan atau sejumlah
ruangan yang berisi koleksi buku yanngdipelihara dengan baik, dapat digunakan oleh masyarakat
atau golonganmasyarakat tertentu.Dalam perkembangannya lebih lanjut, pengertian perpustakaan
memperolehpenghargaan yang tinggi, bukan sekadar suatu gedung yang berisi koleksibuku yang
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.Pada tahun 1970, The American Library Association
menggunakan istilahperpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk
pengertianpusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi,
pusatdokumenstasi dan pusat rujuka
Fungsi dan Tujuan Perpustakaan Sekolah SMP 1 Sragi Kabupaten Pekalongan antara lain :
menyediakan bahan-bahan pustaka (koleksi) yang dapat memperluas, memperdalam serta
memperkaya pengetahuan yang didapat di dalam kelas.
membantu peserta didik dalam mencari informasi atau melaksanakan penelitian sederhana yang
dapat memperluas pengetahuan dan menambah pengalaman.
membantu peserta didik dalam rangka pengembangan bakat, minat kegemaran serta ketrampilan.
memupuk kebiasaan membaca.
membantu kelancaran proses kegiatan pembelajaran di sekolah.
mewujudkan peserta didik yang melek informasi, mampu belajar secara mandiri, dan memiliki
karakter senang belajar sepanjang hayat.
Diposkan oleh PERPUSTAKAAN SMP 1 SRAGI di 19.10 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Bagikan ke Pinterest

Program Kerja Perpustakaan SMP 1 Sragi Kabupaten Pekalongan
Derasnya arus informasi yang tersebar begitu banyak dan cepat di segala bidang di dewasa ini, maka
tugas sekolah tidak cukup hanya menyampaikan ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik
yang terdiri dari beberapa mata pelajaran saja. Tetapi juga memberikan kesempatan pada anak didik
untuk ikut aktif dalam usaha membuka pikirannya, mengembangkan semua jenis bakat yang ada dan
memperluas wawasan pengetahuan yang dapat diperoleh di Perpustakaan.

Perpustakaan sekolah diadakan atau diselenggarakan adalah untuk membantu para siswa mengasah
otak, mempertajam tingkat pemikiran, memperluas dan memperdalam pengetahuan serta
melahirkan kecakapan dan kecekatan. Perpustakaan sekolah juga membantu para siswa dalam
kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Dengan kata lain, perpustakaan sekolah
merupakan satu kesatuan integral (terpadu) dengan alat-alat pendidikan yang lain.

Tujuan pembuatan program perpustakaan :
Sebagai pedoman pelaksanaan tugas
Sebagai alat kontrol apakah pelaksanaan sesuai dengan program
Sebagai alat/bahan evaluasi kegiatan
A. JANGKA PENDEK
Menyusun Program Perpustakaan Sekolah
Menyusun RAB Perpustakaan
Layanan Perpustakaan : peminjaman dan pengembalian buku
Administrasi Perpustakaan secara umum
B. JANGKA MENENGAH
Penyediaan Sarana Prasarana
Pengadaan buku perpustakaan, majalah, tabloid dan koran
Pengolahan bahan pustaka (inventarisasi, katalogisasi, labeling dan perlengkapan buku)
Perabot (rak koran dan tabloid)
2. Perawatan Sarana dan Prasarana Perpustakaan
Perbaikan buku rusak / penjilidan
Pemberian kamfer / kapur barus
Penyampulan buku
Perawatan taman bacaan
C. JANGKA PANJANG
Membangun Ruang Audio Visual
Membangun WC Perpustakaan
Pembelian software Sistem Informasi Manajemen (SIM) Perpustakaan
Study Banding
Perpustakaan
Profil Perpustakaan SMPN 1 Wonosari


A. LATAR BELAKANG

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 Pasal 35 tentang sistem pendidikan Nasional
dinyatakan bahwa pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bilamana tenaga
kependidikan dan peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk
penyelenggaraan kegiatan belajar yang bersangkutan. Salah satu sumber belajar yang amat penting
tetapi bukan satu-satunya adalah Perpustakaan Sekolah yang memungkinkan para tenaga pendidik,
tenaga kependidikan dan para peserta didik memperoleh pengetahuan, Sedangkan dalam Undang-
Undang Pendidikan Nasional yang baru Nomor 20 tahun 2003 pasal 45 tidak secara implisit
menyebutkan bahwa agar setiap satuan pendidikan jalur pendidikan harus menyediakan
perpustakaan sebagai sumber belajar. Namun undang-undang tersebut menyatakan bahwa setiap
satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi
keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan,
intelektual, social, emosional dan kejiwaan peserta didik. Secara implicit perpustakaan termasuk
dalam pengertian sarana dan prasarana pendidikan, maka pengadaannya harus memenuhi
ketentuan tersebut.


Dengan memperhatikan Undang-Undang tersebut maka Perpustakaan Sekolah perlu ditumbuh
kembangkan dan diberdayakan sesuai amanat tersebut, oleh karena itu Perpustakaan UPT SMP
Negeri 1 Wonosari berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan dalam Pengelolaan
Perpustakaan.


Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan fungsi dan peran perustakaan UPT SMP Negeri 1
Wonosari perlu diperhatikan hal-hal antara lain:

a. Kondisi gedung/ruang perpustakaan.

b. Petugas pengelola / Sumber Daya Manusia.

c. Bahan koleksi dan pengolahannya.

d. Sumber dana.

Dengan didukung gedung/ruang perpustakaan yang memadai serta petugas pengelola yang handal
akan mempercepat terwujudnya tujuan dan fungsi perpustakaan.


Perpustakaan sekolah akan lebih bermanfaat jika benar-benar memperlancar pencapaian tujuan
proses pembelajaran disekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya tingginya prestasi peserta
didik, tetapi lebih jauh lagi, antara lain peserta didik mampu mencarai, menemukan, menyaring dan
menilai informasi, terbiasa belajar sendiri, terlatih bertanggung jawab, serta selalu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


B. TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Selain untuk mengaktualisasi UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 35 tersebut, Perpustakaan Sekolah
mempunyai tujuan utama yaitu membantu proses belajar mengajar disekolah agar para pendidik,
para tenaga kependidikan dan para peserta didik mendapat kemudahan dalam mengembangkan
ilmu pengetahuan yang dipelajari.


C. FUNGSI PERPUSTAKAAN

Perpustakaan Sekolah juga mempunyai fungsi yang sangat strategis sebagaimana Surat keputusan
Nomor 108/1981 tentang Pokok-pokok Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan di
Indonesia. Menurut Surat Keputusan tersebut Perpustakaan Sekolah mengembangkan fungsi
sebagai berikut :

1. Sebagai pusat kegiatan belajar mengajar.

2. Sebagai pusat penelitian sederhana.

3. sebagai pusat sarana belajar mandiri dan meningkatkan minat baca.

4. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan peserta didik.,

5. Sebagai Tempat Rekreasi

6. Sebagai Pusat Dokumentasi dan Informati (PUSDOKINFO)..


A. VISI DAN MISI PERPUSTAKAAN UPT SMP NEGERI 1 WONOSARI

1. Visi Perpustakaan UPT SMP Negeri 1 Wonosari adalah:

PERPUSTAKAAN SEKOLAH BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI.


2. Misi Perpustakaan UPT SMP Negeri 1 Wonosari adalah:

MENINGKATKAN BUDAYA BACA MASYARAKAT SEKOLAH



SARANA DAN PRASARANA PERPUSTAKAAN


A. KEDUDUKAN PERPUSTAKAAN UPT SMP NEGERI 1 Wonosari

Keberadaan Perpustakaan UPT SMP Negeri 1 Wonosari seiring dengan berdirinya UPT SMP Negeri 1
Wonosari sejak tanggal 3 September 1952, dan termasuk ke dalam jenis Perpustakaan Sekolah yang
statusnya telah diakui dengan NSS :20.1.04.03.01.001 P.

Organisasi Intern Perpustakaan UPT SMP Negeri 1 Wonosari yaitu dibawah Pembinaan Kepala
Sekolah dengan seorang Koordinator sebagai Penanggungjawabnya. Adapun Organisasi Ekstern
dengan Organisasi Induknya keberadaan masih dalam satu lingkungan, yaitu lingkungan UPT SMP
Negeri 1 Wonosari hingga daya jangkau pelayanan Perpustakaan masih dapat dimungkinkan.

Perpustakaan UPT SMP Negeri 1 Wonosari melayani sirkulasi peminjaman bahan pustaka untuk
seluruh warga sekolah: tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.


B. SARANA PRASARANA

Perpustakaan UPT SMP Negeri 1 Wonosari telah mempunyai sarana prasarana pendukung yang
cukup memadai untuk keberadaan sebuah Perpustakaan Sekolah. Namun masih harus ditingkatkan
sehingga menjadi sebuah perpustakaan yang representatif yang mampu melayani para pengguna
jasanya sesuai dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang.
PROGRAM KERJA PERPUSTAKAAN
SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH
TAHUN PELAJARAN 2012/2013



Disusun Oleh :
Muhammad Abdurrohman Muslim

Copyright @ 2013





JL. TAMBUN TAMBELANG KM. 5, KP. BUWEK, KECAMATAN TAMBUN SELATAN, KAB. BEKASI
NO. TELP. (021) 8833 3529
KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh,

Alhamdulillahirabbil alamin, Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga pengelola Perpustakaan SMPIT & SMA PLUS
BINAAUL UMMAH dapat menyelesaikan Laporan dan Penyusunan Rencana Kerja Perpustakaan
tahun 2013-2014.

Laporan Program Kerja Perpustakaan ini disusun untuk memaparkan tujuan pengelolaan
perpustakaan itu sendiri. Salah satu tujuan umum perpustakaan adalah menyediakan bahan pustaka
untuk memenuhi kebutuhan anak didik dan pendidik dalam kegiatan belajar sehari-hari. Kemudian
tidak kalah penting adalah tujuan perpustakaan adalah sebagai sumber tempat pengembangan
kemampuan berpikir intelektual yang mandiri dan berwawasan global untuk membentuk sikap
kreatif, inovatif, dan mengembangkan minat dan bakat siswa, baik dalam kegiatan intrakulikuler
maupun kegiatan ekstrakulikuler. Oleh karena itu sangat penting sekali perpustakaan sekolah perlu
perhatian dari pihak warga sekolah dan memerlukan pengembangan khusus demi terbentuk sebuah
perpustakaan ideal di SMPIT dan SMA Plus Binaaul Ummah yang merupakan jantung sebuah
sekolah.

Guna meningkatkan mutu pendidikan serta pemanfaatan sarana penunjang yang terdapat
dalam perpustakaan. Maka laporan dan penyusunan rencana kerja kami buat seefisien dan
sesederhananya, walaupun dalam laporan dan penyusunan rencana kerja perpustakaan ini kurang
sempurna kami telah berusaha dengan maksimal tetapi kami menyadari keterbatasan kemampuan
kami. Oleh sebab itu kami mengharapkan saran yang dapat membantu dan menambah wawasan
kami dalam pengelolaan manajemen perpustakaan di SMPIT dan SMA Plus Binaaul Ummah.
Bekasi, 05 September 2013
Ttd.

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola
kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi. Perkembangan tersebut
juga membawa dampak kepada "pengelompokkan" perpustakaan berdasarkan pola-pola kehidupan,
kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi tadi. Istilah-istilah perpustakaan "membengkak"
menjadi sangat luas namun cenderung mempunyai sebuah spesifikasi tertentu. Dilihat dari
perkembangan teknologi informasinya perpustakaan berkembang dari perpustakaan tradisional,
semi-tradisional, elektronik, digital hingga perpustakaan "virtual". Kemudian dilihat dari pola
kehidupan masyarakat berkembang mulai perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan
pribadi, perpustakaan keliling, dan sebagainya. Kemudian juga dilihat dari perkembangan kebutuhan
dan pengetahuan sekarang ini banyak bermunculan istilah perpustakaan umum, perpustakaan
khusus, perpustakaan anak-anak, perpustakaan sekolah, perpustakaan akademik (perguruan tinggi),
perpustakaan perusahaan, dan lain sebagainya.

Pengertian perpustakaanpun berkembang dari waktu ke waktu. Pada abad ke-19 perpustakaan
didefinisikan sebagai " suatu gedung, ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yanng
dipelihara dengan baik, dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu.
Kemudian ALA (The American Library Association) menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu
pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian " pusat media, pusat belajar, pusat sumber
pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan ". Sedangkan menurut
Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa " perpustakaan merupakan salah satu sarana
pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi
ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan
menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Kemudian perpustakan jika tinjau secara umum adalah sebuah bangunan yang berisi kumpulan
koleksi buku dari berbagai kategori didalamnya dan koleksi penunjang pustaka lainnya. Sedangkan
Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah, dikelola
sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan dengan tujuan usaha membantu sekolah untuk
mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya (Sulistyo Basuki, 1993).

Di samping itu dalam penjelasan Undang-undang Pendidikan Nasional kita, di sebutkan bahwa salah
satu sumber belajar di sekolah yang amat penting tetapi bukan satu satunya adalah perpustakaan.
Sebagai salah satu sumber belajar di sekolah perpustakaan membantu tercapainya misi dan visi
sekolah tersebut. Mengingat pentingnya peran perpustakaan sekolah maka perlu adanya suatu
pengelolaan atau manajemen yang tepat dan cepat sehingga fungsi perpustakaan sekolah benar-
benar terwujud. Namun masalahnya sekarang adalah tidak sedikit perpustakaan sekolah yang
pengelolaannya masih kurang profesional. Kalaupun sudah baik, bagaimana perpustakaan sekolah
mampu memenuhi kebutuhan penggunanya akan berbagai pengetahuan dan informasi secara
mudah dan cepat di era globalisasi ini. Untuk itu diperlukan suatu sistem informasi managemen
perpustakaan (SIM Perpus) dengan memanfaatkan komputer. Akan tetapi mampukah para
pengelola perpustakaan terutama kepala sekolah sebagai stake holder di sekolah mewujudkan
perpustakaan sekolah yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) dengan
menggunakan SIM Perpustakaan?. Jawabannya sebenarnya tidak terlalu rumit karena rata-rata
sebuah sekolah hanya memiliki ratusan koleksi buku tidak seperti perpustakaan daerah atau provinsi
yang mempunyai ribuan atau ratusan ribu koleksi buku. Dengan kemampuan sederhana dan
pengelolaan sederhana, InsyaAllah manajemen perpustakaan sekolah akan tertata dengan benar
sesuai dengan yang diharapkan banyak pihak.
Karena pentingnya keberadaan perpustakaan sekolah maka ada sebuah pepatah mengatakan
"Perpustakaan sebagai jantung sebuah lembaga pendidikan". Oleh karena itu sudah selayaknya
mendapatkan porsi dan posisi yang strategis guna merealisasikan visi dan misi sekolah. Semua pihak,
khususnya kepala sekolah harus memberi perhatian lebih akan eksistensi perpustakaan di sekolah,
dan tidak lagi dianggap sebagai tempat menyimpan buku bekas, barang-barang tidak terpakai,
bahkan hanya sebagai tempat bermain anak-anak murid saat tidak ada KBM. Itulah yang kebanyakan
terjadi disekolah-sekolah yang ada dinegri ini. Hal ini tentu sangat ironis dan tidak mendidik.

Dari berbagai sudut pemikiran diatas, Pengelola Perpustakaan SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH
berupaya melakukan terobosan dan revitalisasi peran dan fungsi perpustakaan sekolah untuk
mendukung program dan visi-misi sekolah. Berbagai program dan terobosan yang direncanakan,
diharapkan dapat memberi ruang yang lebih besar agar perpustakaan sekolah sebagai center of
knowledge (pusat ilmu pengetahuan) dapat terealisasi secara optimal.


B. VISI DAN MISI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

VISI
Menjadikan perpustakaan SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH sebagai pusat layanan informasi
dan ilmu pengetahuan dengan standar pengelolaan yang berlaku.
Sebagai sumber belajar warga sekolah guna mendukung kegitan belajar mengajar yang terdepan
sebagai investasi sumber daya pengetahuan yang cukup lengkap.
Memberikan layanan kepada civitas akademika dan pengguna perpustakaan secara luas, dan ikut
merealisasikan visi misi serta suksesnya program utama perpustakaan sekolah yaitu sebagai pusat
belajar ilmu pengetahuan seluruh warga sekolah.

MISI
Pengembangan Organisasi dan Sumber Daya Manusia;
Pengembangkan Sumber Daya Informasi Tercetak dan Elektronik;
Pengembangan Layanan layanan prima berbasis internet;
Melaksanakan layanan perpustakaan berbasis ICT;
Mengelola informasi serta menyebarluaskan informasi
Mewujudkan qualitas dan quanitas buku bacaan dan referensi;
Melayani semua warga sekolah dengan layanan prima;
Menerapkan administrasi pustaka yang professional dan akuntabel;

C. LANDASAN PROGAM KEGIATAN
Terwujudnya perpustakaaan sekolah yang berdaya guna dan berhasil guna disetiap sekolah menjadi
pusat kegiatan belajar mengajar, terbinanya anak didik menjadi gemar membaca, bisa membaca
untuk pembinaan dan pengembangan tersebut dapat dipetik beberapa langkah sebagai landasan
antara lain :
1. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0103/0/1981 tanggal 11 Maret 1981.
Mengenai pokok-pokok kebijakan Pembinaan dan pengembangan perpustakaan sekolah di
Indonesia
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan;
5. Surat Keputusan Kepala SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH
NomorTahun...tentang pengangkatan pegawai Perpustakaan SMPIT & SMA PLUS
BINAAUL UMMAH Tahun 2013/2014
6. Hasil rapat "Pengelolaan Manajemen Sekolah SMPIT dan SMA Plus Binaaul Ummah" tanggal


D. MAKSUD DAN TUJUAN

Dengan melihat latar belakang maka maksud dan tujuan perpustakaan sekolah diselenggarakan
untuk :
Menyediakan buku-buku pengetahuan sebagai bahan ajar bagi guru dan sumber bacaan bagi siswa
Mengembangkan minat, kemampuan, dan kebiasaan membaca khususnya serta mendayagunakan
budaya tulisan, dalam berbagai sector kehidupan;
Mengembangkan kemampuan mencari dan mengolah serta memanfaatkan informasi;
Mendidik siswa agar memelihara dan memanfaatkan bahan pustakan secara tepat guna dan berhasil
guna;
Meletakkan dasar kearah proses pembelajaran mandiri;
Memupuk dan mengembangkan minat dan bakat siswa;
Menumbukan penghargaan siswa terhadap pengalaman imajinatif;
Mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi atas tanggungjawab dan
usaha sendiri;
Mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan inovatif dalam memecahkan
masalah
Membantu siswa, guru, dan staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi
Sumber pengembangan kebudayaan dan peradaban ilmu sekolah terkait.

E. FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Perpustakaan Sekolah berfungsi sebagai pusat belajar mengajar, pusat informasi, pusat penelitian
sederhana dan rekreasi sehat melalui bacaan hiburan. Dalam kaitan dengan kurikulum yang
diterapkan di SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH, perpustakaan sekolah berfungsi:
Wadah atau wahana pengetahuan, administrasi dan organisasi yang sesuai sehingga
memudahkan penggunaannya;
Sumber rujukan (reference centre) siswa, guru, tenaga bimbingan, tenaga administrasi dan
pegawai yang berada dibawah naungan SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH
Sarana pendukung dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan pendidikan nasional;
Pusat informasi bagi kegiatan belajar mengajar;
Sumber yang menyediakan bahan-bahan yang bermanfaat bagi kegiatan penunjang kegiatan
belajar mengajar, seperti kegiatan yang berkaitan dengan budaya, seni, kreasi dan budaya.


F. RUANG LINGKUP
Untuk memperjelas program pengembangan perpustakaan sekolah khususnya Perpustakaan SMPIT
& SMA PLUS BINAAUL UMMAH, ruang lingkup sekolah antara lain :
1. Administrasi
2. Pengadaan Sarana / Prasarana
3. Operasional
4. Laporan

G. SUMBER DANA

Untuk mengembangkan perpustakaan perlu adanya sumber dana. Adapun sumber dana untuk
pengembangan perpustakaan SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH antara lain :

RAPBS tahun 2012-2013;
Subsidi dana SKM 2012-2013;
Siswa baru tahun 2012-2013;
Bantuan alumni 2012-2013;
Pemerintah, lembaga swasta, penerbit dll. yang tidak mengikat;

H. PROGRAM KERJA PERPUSTAKAAN SMA PLUS BINAAUL UMMAH
Rencana kerja perpustakaan sekolah yang tertuang dalam program kerja perpustakaan secara umum
akan mengacu pada tugas pokok perpustakaan sekolah, tujuan institusi, visi dan misi sekolah. Hal ini
didasari oleh kepentingan bersama untuk menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang
efektif dan efisien.

1. Program jangka Pendek
Menyediakan dan menghimpun bahan pustaka, informasi, sesuai kurikulum sekolah;
Menyediakan dan melengkapi fasilitas perpustakaan sesuai kebutuhan;
Mengolah dan mengorganisasikan bahan pustaka dengan system tertentu sehingga memudahkan
penggunaannya;
Melaksanakan layanan perpustakaan yang sederhana, mudah dan menarik;
Meningkatkan minat baca murid, guru, dan staf tata laksana;
Menambahkan koleksi bahan pustaka secara berkala untuk memenuhi kebutuhan pegguna layanan
perpustakaan;
Pembuatan proposal permintaan buku/majalah/jurnal pada beberapa lembaga/instansi/penerbit
tertentu;
Memelihara bahan pustaka agar tahan lama dan tidak cepat rusak.
Menerbitkan kartu perpustakaan bagi siswa, guru dan staf tata laksana;
Menerbitkan berbagai administrasi perpustakaan (kartu buku, kantong, lebeling, catalog OPAC,
katalog buku, dll;
Inventarisasi, klasifikasi dan katalogisasi bahan pustaka;
Entry data anggota perpustakaan pada Sistim Informasi Perpustakaan (SIP);
Pelayanan peminjaman buku perpustakaan;
Penerbitan Surat Tandan Bebas Perpustakaan (STBP) bagi siswa kelas XII sebagai syarat pengambilan
Ijazah;
Mengikuti beberapa lomba perpustakaan sekolah, baik tingkat kabupaten, provinsi atau nasional.

2. Program Jangka Panjang
Menerapkan system layanan perpustakaan berbasis ICT;
Menerapkan E-Library learning;
Merealisasikan qualitas dan quantitas buku minimal 2000 Judul buku
Terciptanya ruangan perpustakaan yang memadai, kondusif dan menyenangkan.







BAB II
PENGORGANISASIAN

A. STRUKTUR ORGANISASI
Stuktur Organisasi
Perpustakaan SMPIT DAN SMA PLUS BINAAUL UMMAH

KEPALA SEKOLAH : Ayip Muksin, S.Th.I & Dian Ginanjar, S.Pd.
KEPALA PERPUSTAKAAN : C. Prisandiki, A.Md.
STAF BAG.TEKNIS & ADM : Abd. Muslim
STAF BAG.PELAYANAN : Syahril

B. TUGAS MASING-MASING BAGIAN DALAM SISTEM
ORGANISASI PERPUSTAKAAN
I. KEPALA SEKOLAH
Bertugas dan bertanggungjawab utama segala penyelenggaraan kegiatan dibidang perpustakaan
sekolah.
Membina dan membimbing pengembangan organisasi perpustakaan sekolah

II. KEPALA BAGIAN PERPUSTAKAAN :
Bertugas dan bertanggungjawab tentang penyelenggaraan dan pengelolaan seluruh unit
perpustakaan sekolah.
Mengorganisir dan mengkoordinir tata kerja dan tata hubungan seluruh staf perpustakaan
sekolah.
Menetapkan kebijakan intern yang khusus dalam bidangnya.
Pembuatan program / perencanaan bulanan.
Merancang program kerja dan rencana pengembangan perpustakaan setahun kedepan
Membuat laporan dsb.



III. BAGIAN TEKNIS & ADMINISTRASI
Bertugas mengadakan pengadaan bahan pustaka dan pengolahannya :
Administrasi Surat-Menyurat
Menginventaris Koleksi dan Sarana Perpustakaan
Membuat Katalogisasi deskriptif.
Mengklasifikasi Koleksi Perpustakaan
Menginput data di Komputer
Penyelesaian koleksi
Perencanaan dana dan penggunaannya.
Penyusunan koleksi dan kartu katalog/OPAC

IV. BAGIAN PELAYANAN
Bertugas mengadakan pekerjaan pelayanan sirkulasi :
Peminjaman dan pengembalian bahan pustaka
Pelayanan referensi.
Pelayanan jam perpustakaan.
Menyiapkan buku tamu, buku penunjang, dan buku induk dll.















BAB III
MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

A. Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan Sekolah dalam perannya di dunia pendidikan mempunyai fungsi sebagai :
a. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah
b. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan
imajinasinya.
c. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)
d. Pusat Belajar Mandiri bagi siswa
Dari beberapa fungsi tersebut maka dapat dilihat bahwa sudah semestinya perpustakaan menjadi
bagian integral dari sistem pembelajaran, bukan lagi menjadi 'pelengkap' saja bagi keberadaan
sebuah sekolah.

B. Konsep Dasar Manajemen Perpustakaan
Manajemen dalam perpustakaan sekolah bukan sekedar kegiatan menempatkan buku-buku di rak,
akan tetapi lebih dari itu, sangat kompleks, berkelanjutan, dan selalu berubah. Jadi manajemen
merupakan sebuah proses yang memfokuskan pada memperhatikan kegiatan dari hari ke hari,
menghadapi permasalahan isi dan integrasi dengan tujuan-tujuan sekolah. Kegiatan manajemen
adalah kegiatan yang mencerminkan adanya sebuah sistem, terkait dan terdiri dari beberapa aspek
atau factor untuk mendukungnya. Beberapa faktor yang dapat ditemui dalam sebuah proses
manajemen perpustakaan diantaranya adalah:
Kebijakan dan prosedur
Manajemen Koleksi
Pendanaan dan Pengadaan
Manajemen Fasilitas
Sumber Daya Manusia
Perencanaan

Bagi pengelola perpustakaan (guru-pustakawan), kegiatan manajemen merupakan bagian atau
peran serta dalam pendidikan di sekolah. Secara efektif perpustakaan harus mampu mendukung
kurikulum dan program-program sekolah. Untuk mewujudkan manajemen perpustakaan yang baik,
maka pengelola perpustakaan perlu:
Mengembangkan kemampuan professional sebagai guru-pustakawan.
Memperhatikan kemampuan yang diperlukan dan prosedur yang dibutuhkan untuk dapat
mengelola perpustakaan secara efektif dari perpustakaan yang sekedar bertahan hidup menjadi
perpustakaan yang benar-benar berjalan secara baik.
Mengembangkan kebijakan dan prosedur dengan prinsip-prinsip yang mengaktualisasikan visi dari
perpustakaan sekolah.
Memperlihatkan keterkaitan antara sumber-sumber informasi dan tujuan dan prioritas sekolah,
serta program perpustakaan.
Menunjukkan peran guru-pustakawan melalui rencana manajemen.

C. Faktor-faktor Manajemen Perpustakaan Sekolah
1. Prosedur dan Kebijakan
Prosedur merupakan 'CARA' atau 'BAGAIMANA' kegiatan dan aksi-aksi akan dapat
mengimplementasikan sebuah rencana spesifik atau menjalankan sebuah kebijakan. Kebijakan
sendiri mengarah pada 'MENGAPA' atau "APA' prinsip-prinsip dari organisasi
(sekolah/perpustakaan). Kadang kala sebuah kebijakan terhadap perpustakaan sekolah sangat
dipengaruhi oleh kondisi kebijakan di lingkungannya, baik dari sekolah atau pemilik sekolah, dinas
pendidikan, pemerintah atau mungkin departemen pendidikan. Sebagai pengelola perpustakaan
(guru-pustakawan), maka kita perlu secara jelas memahami bagaimana mengelola perpustakaan
secara efektif, dimana kebijakan sekolah, yayasan, pemerintah dan kebijakan lainnya harus
dijalankan, dan prosedur harus dapat merefleksikan kebutuhan-kebutuhan sekolah itu sendiri.
Kebijakan disini termasuk didalamnya pendanaan, pengelola, dukungan untuk guru-pustakawan dan
factor-faktor lain yang berhubungan. Hal-hal yang perlu dilakukan Guru-pustakawan atau pengelola
kaitannya dengan prosedur dan kebijakan adalah:
Melihat kembali sumber-sumber yang dimiliki dan mendefinisikannya sesuai kebutuhan dan
perkembangan kebijakan sekolah
Melihat, memperhatikan dan memperbaharui prosedur-prosedur lokal Sirkulasi, Pemesanan
pustaka, dll
Membuat sebuah pernyataan visi dari perpustakaan sekolah yang sesuai dengan kebijakan yang
ada.
Memperhatikan kebijakan-kebijakan baru dari sekolah mengenai perpustakaan sekolah.
Perpustaakaan juga perlu melakukan perencanaan strategis dalam menentukan prosedur dan
kebijakan dari perpustakaan itu sendiri, caranya:
o Mulailah dari sebuah visi,
o Kemudian lakukan 'assessment ' kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi
o Terakhir, buat sebuah kebijakan dan prosedur untuk berbagai macam wilayah manajemen dimana
anda bertanggungjawab di dalamnya.

Yakinkan dalam proses ini memperhatikan prinsip-prinsip dalam kelompok yang mempunyai minat
berbeda di sekolah. Selalu lakukan cek pada kebijakan yang telah kita buat, apakah ada
permasalahan atau complain? Yang terpenting bahwa setiap membuat sebuah kebijakan atau
prosedur harus selalu mempertimbangkan visi, kebutuhan, dan keadaan dari sekolah atau lembaga
induknya. Karena pada prinsipnya perpustakaan sekolah harus dapat mencerminkan visi dan misi
sebuah lembaga pendidikan sekolah.

2. Manajemen Koleksi
Manajemen koleksi merupakan area kunci dari tangungjawab seorang guru-pustakawan. Koleksi
sendiri dapat didefiniskan sebagai sebuah bahan pustaka atau sejenisnya yang dikumpulkan,
dikelola, dan diolah dengan criteria tertentu. Pengelolaan koleksi yang baik akan menentukan sukses
tidaknya sebuah program perpustakaan sekolah. Karena tanpa dikelola dengan baik, maka koleksi
akan tetap menjadi kumpulan atau tumpukan buku yang tidak bermakna. Salah satu karakteristik
dari sebuah koleksi perpustakaan sekolah adalah beragamnya jenis sumber atau bahan pustaka
tergantung pada kebutuhan pengajar, ukuran atau jumlah koleksi, bagaimana cara mengaksesnya
dan keterbaruan. Banyak hal sebetulnya yang dapat dilakukan untuk mengelola koleksi, mulai dari
pengadaan, pengolahan teknis (seperti inventarisasi, klasifikasi, pelabelan, penempatan, pemilihan),
dan memang tentunya itu membutuhkan perhatian yang serius dari guru-pustakawan. Dalam
manajemen koleksi sebetulnya jumlah bukan suatu hal yang menjadi sangat prinsip, akan tetapi
lebih penting bagaimana koleksi itu dapat dimanfaatkan dengan baik atau tidak.
"It does not matter how many books you may have, but whether they are good or not." - Lucius
Annaeus Seneca (3 B.C.-65 A.D.), Epistolae Morale
Beberapa hal yang masuk dalam manajemen koleksi diantaranya adalah:
Pemetaan koleksi dan kurikulum
Seleksi: Kebijakan dan Prosedur
Kegiatan Katalogisasi
Pemilahan / Weeding
Rencana Pengembangan Koleksi

3. Pendanaan dan Pengadaan
Pendanaan adalah masalah yang sering menjadi 'momok' bagi sebagian pengelola perpustakaan
dalam mengembangkan perpustakaannya. Untuk itu masalah pendanaan ini harus direncanakan
sedini mungkin. Melalui sebuah 'assesment' terhadap koleksi dan tujuan pengembangan program-
program, sebuah rencana pendanaan dapat dilakukan dan dikeluarkan dalam sebuah dokumen
perencanaan bagi perpustakaan sekolah. Sebuah rencana pendanaan akan membantu kita dalam
meyakinkan dewan sekolah atau pemilik sekolah untuk menyetujui dan juga sebagai bukti
akuntabilitas dari program-program perpustakaan. Rencana pendanaan harus menjadi bagian
'integral' dari pendanaan rutin sekolah. Langkah selanjutnya apabila sudah disetujui, maka tugas dari
pengelola perpustakaan untuk merancang dan mengawal penggunaan dana yang sudah diajukan.
Hal ini harus dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan prosedur yang sudah dirancang
sebelumnya. Kegiatan pendanaan ini sangat erat hubungannya dengan sebuah kegiatan pengadaan.
Pengadaan di perpustakaan dapat meliputi pengadaan koleksi, fasilitas, ruang, alat maupun lainnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rencana pendanaan:
Pertimbangkan biaya untuk pengiriman, biaya repackaging, biaya untuk pajak, dan sebagainya.
Usahakan agar pengadaan bahan pustaka 30% fiksi dan 70% non-fiksi namun perlu juga
dipikirkan atau disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Misal untuk anak-anak SD mungkin juga
proporsi tersebut akan berbeda dengan anak-anak SMP, karena biasanya untuk anak-anak SD
seringkali membutuhkan buku-buku yang mudah untuk dipahami.
Rencana pendanaan harus berkesinambungan dari tahun ke tahun.

Tiap sekolah atau institusi mungkin mempunyai format perbedaan dalam hal pendanaan, yakinkan
bahwa hal ini sesuai dengan kebijakan yang ada.
Masukan pendanaan untuk buku atau koleksi yang rusak atau hilang.
Yakinkan bahwa setiap pengeluaran dana tercatat dengan baik untuk keperluan akuntabilitas.
Dokumen pendanaan akan sangat membantu kita dalam merancang pengeluaran operasional
perpustakaan.
Yakinkan bahwa proses seleksi bahan pustaka memperhatikan rencana pendanaan yang ada.
Buatlah Diagram Alur Pendanaan yang menggambarkan semua proses selama 1 tahun misalnya.
Buatlah sebuah keterangan yang menunjukkan implikasi rencana pendanaan dengan tujuan
kurikulum dan program sekolah.
4. Fasilitas
Fasilitas perpustakaan menjadi sisi lain yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perpustakaan.
Seringkali yang terjadi masalah perpustakaan adalah masalah 'ketiadaan' atau 'ketidakberdayaan'
fasilitas. Mulai dari ketiadaan tempat, ketiadaan koleksi, ketiadaan sarana pendukung, dan sarana
prasarana lainnya. Biasanya tiap level sekolah mempunyai karakteristik masing-masing dalam
perencanan fasilitas. Namun yang penting dalam pengelolaan fasilitas harus diperhatikan 3 hal yakni:
Nyaman (Comfort)
Terbuka (Welcome)
Kemudahan bagi pengguna (User-friendly)

Ketika kita merancang sebuah fasilitas untuk perpustakaan sekolah, setidaknya ada beberapa prinsip
yang harus dipenuhi:
Tata letak harus dapat menunjukkan bahwa perpustakaan dapat difungsikan dengan baik.
Desain harus memperhatikan aspek estetika dan ergonomis.
Akses ke bahan pustaka ruang, dan informasi harus mudah bagi semua pengguna.
Harus diperhatikan masalah arus 'lalu-lintas' pengguna, keselamatan dan keamanan.
Ruangan sedapat mungkin mengakomodir kebutuhan pengguna, juga tentunya untuk keperluan
penyimpanan dan pengolahan.
Namun demikian guru-pustakawan dapat mengeksplorasi sendiri kebutuhan dan juga hal-hal lain
menyangkut fasilitas ini. Ya mungkin dengan terlebih dahulu melihat kemampuan dan kemauan
sekolah dalam pengembangan perpustakaan sekolahnya.

5. Manajemen SDM
Faktor lain yang penting dalam pengelolaan perpustakaan sekolah adalah masalah sumber daya
manusia (SDM) yang mengelolanya. Kita sering menemui bahwa pekerjaan yang berhubungan
dengan perpustakaan 'hanya' menjadi kerjaan 'sampingan' sehingga tidak dikelola secara baik.
Bahkan dalam beberapa kasus ketiadaan SDM ini membuat sekolah sama sekali tidak
memperdulikan adanya perpustakaan sebagai bagian integral dari sistem pendidikannya. SDM atau
staf pengelola perpustakaan merupakan kunci utama dalam kesuksesan sebuah perpustakaan.
Inovasi dan ide-ide kreatifnya akan membawa perpustakaan menjadi perpustakaan yang
berdayaguna dan juga nyaman digunakan oleh murid maupun guru. Untuk itu, pengelolaan
perpustakaan memang membutuhkan guru atau pengelola yang cukup tahu masalah manajemen,
mempunyai ide-ide segar dan bekerja secara professional di perpustakaan. Setidaknya ada beberapa
SDM dalam perpustakaan sekolah:
Guru Pustakawan: guru pustakawan merupakan orang yang bertanggungjawab secara penuh
terhadap perpustakaan. Guru pustakawan harus mempunyai kemampuan untuk mengelola
perpustakaan, memahami visi dan misi sekolah, dan juga memahami kurikulum yang diterapkan di
perpustakaan.
Staf Pendukung: Biasanya diambilkan dari staf yang mempunyai kemampuan teknis dalam bidang
perpustakaan, yang akan membantu guru-pustakawan dalam mengelola perpustakaan dalam
keseharian.
Staf Divisi: Biasanya seorang staf yang mempunyai kemampuan khusus dalam pengelolaan
perpustakaan, seperti dalam pembuatan OPAC, Katalogisasi, Pengelolaan koleksi referensi,
Pengelolaan Koleksi Multimedia, Rancangan Program Khusus seperti "kemampuan membaca", dan
sebagainya.
Murid Pustakawan: Murid atau siswa juga dapat dijadikan pengelola perpustakaan terutama
apabila adanya keterbatasan SDM di sekolah. Murid Pustakawan ini dengan diberikan pelatihan
singkat dapat membantu paling tidak pelayanan di perpustakaan.

6. Perencanaan
Perencanaan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah manajemen perpustakaan. Untuk
itu mulailah selalu dengan perencanaan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Perencanaan
akan menentukan sejauh mana perpustakaan sekolah dapat berjalan dengan baik dan mendukung
proses pembelajaran yang inovatif di sekolah.





BAB IV
PENUTUP

Dalam manajemen perpustakaan sebetulnya ada banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesannya.
Akan tetapi hal yang paling penting sebetulnya adalah sejauh mana pengelola dapat
mensinergikan program-program perpustakaan dengan visi-misi sekolah serta kebutuhan kurikulum
yang diterapkan. Proses manajemen perpustakaan adalah sebuah proses kreatif dan inovatif yang
mestinya menjadi bagian penting dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Akhir kata penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah program kerja
perpustakaan ini oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Terima Kasih

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh

















Daftar Pustaka

Anonim. 2006. School Library Management. Canada: Saskatchewan schools.
http://www.saskschools.ca/curr_content/teachlib/management/manmain.htm diakses tanggal 26
Juni 2007.
Sulistyo, Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Surahman, Arif. Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta : UGM.
Zulaikha, Nanik .2009. Laporan Kerja Perpustakaan. Mojokerto http://learn.wordpress.com.
http://htmlimg3.scribdassets.com/5n4965j5q8e5geb/images/17-0656f5b812.jpg
3. Katalogisasi
Katalogisasi adalah proses pembuatan katalog. Dalam istilahperpustakaan, katalog adalah

sebuah daftar menurut susunan tertentu, yangmemuat keterangan tentang semua pustaka yang
terdapat dalam koleksiperpustakaan tersebut. Biasanya katalog perpustakaan berupa deret
kartukatalog, yang tersimpan dalam laci katalog.Perpustakaan sebagai suatu sistem informasi
berfungsi menyimpanpengetahuan dalam berbagai bentuk serta pengaturannya sedemikian
rupa,sehingga informasi yang diperlukan dapat diketemukan kembali dengan cepatdan tepat. Jika
Anda ingin mengetahui apakah perpustakaan memiliki bukuyang anda perlukan, terlebih dulu anda
akan mencarinya dalam katalogperpustakaan itu. Untuk itu informasi yang ada diperpustakaan perlu
diprosesdengan system katalogisasi (cataloging).Adapun system katalogisasi yang dikembangkan
mengalami berbagaitahapan penyeragaman peraturan katalogisasi. perkembangan terakhir
yangsampai sekarang masing digunakan untuk pedoman katalogisasi secarainternasional adalah :
Anglo American Cataloguing Ruler 2 : Revised(1988)/ AACR2R.
Sedangkan perpustakaan mempunyai bentuk fisik catalog yangbermacam-macam:Katalog Kartu
(Card Catalog) ukuran 7,5cm x 12,5 cmKatalog Berkas (Sheaf Catalog) ukuran 10 cm x 20 cmKatalog
Cetak atau Katalog Buku (Printed Catalog)Katalog OPAC (Online Public Access Catalog)OPAC adalah
sarana (sistem) untuk mencari koleksi perpustakaan denganmenggunakan data digital yang
tersimpan di komputer.Sedangkan untuk jenis katalog perpustakaan ada beberapa jenis.Setiap
pustaka biasanya diwakili oleh tiga kartu atau lebih. Jenis-jenis katalogtersebut adalah:Katalog
ShelflistKatalog PengarangKatalog JudulKatalog SubyekKatalog Penerbit
16

Unsur-unsur yang perlu dicantumkan pada penulisan katalog:Identitas ( nomor klasifikasi, tiga huruf
pertama entri utama, satu huruf pertama judul).Nama Pengarang. Cara penulisannya seperti
peraturan pembuatanbibiografi (daftar pustaka).Judul buku. Ditulis sesuai dengan apa yang tertera
di halaman judul.Contoh kartu katalog:1. Contoh Kartu Katalog Utama (Pengarang)2. Contoh Kartu
Katalog berdasarkan Judul
17633.18 1WINcWINARNO, AgusCara Penanaman Sampai Pasca Panen/AgusWinarno.--Bogor: [IPB],
1996.ix, 85 p.: il; 23 cm.Bibl. P 82-85828/D/86633.18 1RICEI. JUDUL II. INSTITUT PERTANIAN
BOGOR 633.18 1WINcWINARNO, AgusCara Penanaman Sampai Pasca Panen/AgusWinarno.--Bogor:
[IPB], 1996.ix, 85 p.: il; 23 cm.Bibl. P 82-85828/D/86633.18 1RICEI. JUDUL II. INSTITUT PERTANIAN
BOGOR Cara Penanaman Sampai Pasca Panen.
3. Contoh Kartu Katalog berdasarkan Subyek (Klasifikasi)4. Contoh Kartu Katalog berdasarkan
Penerbit
18633.18 1WINcWINARNO, AgusCara Penanaman Sampai Pasca Panen/AgusWinarno.--Bogor: [IPB],
1996.ix, 85 p.: il; 23 cm.Bibl. P 82-85828/D/86633.18 1RICEI. JUDUL II. INSTITUT PERTANIAN
BOGOR 633.18 1633.18 1WINcWINARNO, AgusCara Penanaman Sampai Pasca Panen/AgusWinarno.-
-Bogor: [IPB], 1996.ix, 85 p.: il; 23 cm.Bibl. P 82-85828/D/86633.18 1RICEI. JUDUL II. INSTITUT
PERTANIAN BOGOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR
4. Nomor Panggil
Nomor Panggil atau Call Number adalah suatu kode yang dibuat untuksuatu bahan pustaka agar
bahan pustaka tersebut dapat dengan mudahdikenali, disusun dalam katalog, dalam rak, dan mudah
ditelusuri kembali.Penentuan nomor panggil dibuat pada saat proses katalogisasi. Kartu katalogyang
telah siap, segera dibuatkan nomor panggilnya.Nomor panggil terdiri dari 3 bagian:a. Nomor
klasifikasi subyekb. Tiga huruf pertama tajuk entri utama.Entri utama yang biasa digunakan adalah
nama pengarang (inverted name)atau entri utama lain tergantung jenis bahan pustaka, ditulis dalam
huruf capital.c. Satu huruf pertama judulDitulis dengan huruf kecil, pada baris terakhir setelah tajuk
entri utama.Untuk judul dalam Bahasa Inggris, kata sandang
a, an,
dan
the
tidakdipakai. Yang digunakan adalah kata yang berada di belakang katasandang tersebut.Contoh
Penulisan Nomor Panggil (Call Number):
5. Label Buku
Label buku adalah identitas yang ditempelkan pada punggung buku sebagaitanda kepemilikan buku
dan informasi tentang buku. Pemberian label jugabertujuan memudahkan pencarian buku di
rak.Contoh Label Buku :
19
Perpustakaan MTs AlNahdlahPondok Petir SawanganDepok
633.18 1WINcc.1
633.18 1WINc

633.18 1 : nomor klasifikasiWIN : 3 huruf pertama entri utamac : 1 huruf pertama judulc.1 :
menunjukkan copy buku jika koleksi lebih dari 1.
ADMINISTRASI PERPUSTAKAAN SECARA TEKNIS

0leh: Mursidin Romly *)


I. BUKU INDUK/ BUKU INVENTARIS

a. Inventarisasi Buku

Bila buku atau bahan pustaka lain yang akan menjadi koleksi perpustakaan tiba di perpustakaan, baik
bersumber dari pembelian maupun hadiah, maka :

1) Pengecekan buku atau bahan pustaka lain

Bahan pustaka khususnya buku yang diserahkan ke unit pengadaan/ pengolahan bahan pustaka
yang berasal dari berbagai sumber itu, perlu dilakukan pengecekan ulang. Pengecekan terutama
lebih ditekankan pada fisik buku seperti : jumlah nomor halaman dan urutannya, ketepatan
pengarang maupun kekuatan jilidan buku, apabila ditemukan buku-buku dengan jilidan kurang kuat,
lebih baik dilakukan jilidan ulang sebelum buku-buku tersebut siap diproses.

Khusus bagi bahan pustaka yang bersumber dari pembelian, cocokkan bahan pustaka yang diterima
dengan daftar pengantar, catat jika ada cocok, selesaikan dahulu sampai semuanya cocok, baru
diproses lebih lanjut.

2) Pencantuman Identitas

Semua bahan pustakan dalam hal ini khususnya bahan tercetak harus diberi tanda identitas
pemilikan. Tanda ini lazimnya berupa stempel yang memang khusus didesain untuk pemberian
tanda identitas pada bahan tercetak. Ada dua macam stempel identitas yaitu :

a) Stempel identitas berupa stempel memanjang untuk distempelkan pada sisi buku sebelah luar,
contoh :








b) Stempel identitas berupa Stempel Pendek, contoh:








3) Pemberian nomor induk

Setelah buku distempel, buku tersebut dicatat dalam buku induk. Buku-buku didaftarkan menurut
tanggal terima. Setiap eksemplar buku memiliki nomor urut/induk tersendiri, hal ini untuk
memudahkan kita mengetahui jumlah koleksi bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan. Misalnya
buku Ensiklopedia Americana ada 30 volume/jilid, berarti harus tersedia 30 nomor induk, satu
volume/jilid satu nomor induk.

Sebaiknya untuk buku pembelian, hadiah atau hasil tukar menukar mempunyai nomor induk
tersendiri. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengecekan, dalam mencatat nomor
induk pada buku itu sendiri.

Kolom buku induk/buku inventaris adalah sebagai berikut :

No.

Tgl.

Pengarang

Judul

Penerbit

Tahun Penerbit

Nomor Klasifikasi

Asal Sumber

Ket

1

2

3

4

5

6

7

8

9































Cara Pengisian Kolom Induk :

- Kolom 1 : Nomor (nomor induk), diisi dengan nomor urut pencatatan dalam daftar.

- Kolom 2 : Tangga, diisi lengkap tanggal, bulanan, tahun ketika buku dicatat.

- Kolom 3 : Pengarang, diisi dengan nama pengarang utama, penulisan sesuai dengan Perautran
Katalogisasi untuk nama-nama pengarang.

- Kolom 4 : Judul, diisi dengan judul buku yang tercantum pada halaman judul.

- Kolom 5 : Penerbit, diisi dengan nama penerbit dan kota tempat terbit, contoh : Jakarta, Gramedia

- Kolom 6 : Tahun terbit, diisi dengan tahun buku diterbitkan sesuai dengan edisi atau cetakan yang
terakhir.

- Kolom 7 : Nomor klasifikasi, diisi nomor klasifikasi dari buku tersebut.

- Kolom 8 : Asal/ sumber, pembelian atau hadiah, bagi buku yang berasal dari hadiah ditulis
nama/lembaga/instansi/orang yang menghadiahkan.

- Kolom 9 : Keterangan, diisi apabila buku rusak, ditarik dari peredaran atau diisi dengan
penempatan buku, misalnya referens, sirkulasi dan sebagainya, atau keterangan lain yang tidak bisa
dimasukkan pada kolom yang sudah ada.

Penempatan nomor induk beserta tanggal pencantuman biasanya dibuatkan stempel khusus, contoh
:


PERPUS MTs. SALAFIYAH

DI KALIMAS

No. Daft.

Tgl. sumber




Setelah pekerjaan ini selesai, buku diteruskan ke bagian katalog dan klasifikasi.


b. Inventarisasi Buku

(Surat Kabar, Majalah, dan Buletin)

Setiap koleksi berkala yang menjadi milik perpustakaan terlebih dahulu dibubuhi stempel
perpustakaan, kemudian didaftar/diinventarisir pada kartu yang dibuat dari karton manila berukuran
23x18 cm, gambar di bawah ini adalah kartu surat kabar dengan kolom dan keterangannya.

23 cm





Perpustakaan...........................................





Jalan.......................................................

Judul

: ................................



Harga Langganan Rp.................

Penerbit

: ................................



Catatan ......................................

Alamat

: ................................



...................................................

Tahun

: ................................



...................................................

Tanggal

1

2

3

4

5

6

s.d.

31

Keterangan

Januari



















Februari



















s.d.



















Desember



















Tampak Depan

Di bagian belakang kartu dibuat kolom-kolom yang sama seperti bagian depan, untuk keterangan
judul penerbit, dan sebagainya tidak perlu dicantumkan lagi, cukup nama bulan dan tanggal saja.

Untuk majalah dan buletin perlu dicap pada sampulnya di sebelah kanan atas, kemudian pada
halaman tertenru perlu juga dibubuhi cap sebagai kode perpustakaan, tetapi dijaga agar gambar
atau teks jangan terkena sehingga menjadi kabur.

Mejalah dan buletin ditentukan kartu sendiri dibuatkan dari karton manila berukuran 23 cm x 18 cm.
kolom-kolom dan keterangannya adalah sebagai berikut :

23 cm

Perpustakaan

:











Harga Langganan Rp

Judul

:











Catatan :

Penerbit

:













Alamat

:



















Tahun

:



















Tahun

Januari

Februari

s.d.

Juni

Tgl

No

Vol

Tgl

No

Vol



Tgl

No

Vol
















































Pada bagian belakang buatlah kolom-kolom yang sama mulai dari bulan Juli sampai Desember atau
disesuaikan dengan kartu.


c. Inventaris Guntingan Surat Kabar atau Majalah (Kliping)

Guntingan sarat kabar atau majalah hendaknya dihimpun dalam map atau sejenisnya amplop besar.
Pada bagian luar map atau amplop besar diberi catatan mengenai subjek atau bidang ilmu
pengetahuan guntingan tersebut dan nomor klasifikasi.

Map atau amplop ini sebaiknya disusun dan ditempatkan pada suatu tempat, misalnya pada file
vertikal atau kotak.penyusunan dapat diatur menurut abjad subjek atau menurut nomor klasifikasi
subjek.


II. BUKU PENGUNJUNG

Buku ini memuat tentang data pengunjung yang datang ke perpustakaan dan membedakan antara
jenis kelamin maupun status / golongan buku ini memuat kolom-kolom antara lain :

- Nomor : untuk mengetahui jumlah pengunjung yang datang ke perpustakaan.

- Tanggal : diisi pada waktu datang ke perpustakaan.

- Nama : nama pengunjung itu sendiri.

- Jenis kelamin : diisi jenis kelamin pengunjung untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan.

- Kelas/status : diisi untuk membedakan antara (bagi perpustakaan sekolah) dan untuk perpustakaan
masyarakat diisi status misal : mahasiswa, pelajar, pegawai, dsb.

- Keterangan : diisi bila diperlukan (bisa juga diisi pesan-pesan atau kesan, dll)

CONTOH BUKU PENGUNJUNG

Hari :

Tanggal :

No

Nama

J. Kel

Asal

Alamat

Tanda Tangan

Saran

L

p

SD

SMP

SMA

UMUM





























III. BUKU PEMINJAM

Buku ini mencatat tentang data peminjam dan buku yang dipinjam di perpustakaan. Buku ini
memuat tentang kolom-kolom antara lain :

- Nomor : untuk mengetahui banyak peminjam yang meminjam buku di perpustakaan.

- Nama : diisi nama si peminjam

- Kelas : untuk mengetahui kelas si peminjam

- Judul buku : diisi judul buku yang dipinjam

- Nomor inventaris : diisi sesuai dengan nomor inventaris yang telah dicantumkan dalam buku

- Tanggal pinjam : diisi tanggal saat meminjam

- Tanggal harus kembali : diisi buku itu harus mengembalikan tanggal berapa, sesuai dengan
ketentuan yang berlaku

- Tanggal kembali : diisi pada saat mengembalikan buku itu

- Keterangan : diisi dengan tanda tangan atau lainnya

BUKU PEMINJAM

No

Nama

Alamat

Status

Judul, Pengarang

No. Inv

Tgl. Pinjam

Tgl. Hrs Kembali

Tgl. Kembali

Ket
































Sistem Peminjaman

Sistem peminjaman yaitu serangkaian cara pencatatan peminjaman maupun pengembalian bahan
pustaka dengan aturan-aturan tertentu :

1. Sistem Buku Besar

Sistem sewa atau peminjaman dan pengembalian koleksi bahan pustaka memakai catatan buku
besar. Nama peminjam dicatat dalam salah satu halaman catatan buku besar dan halaman diberi
nomor urut satu halaman catatan buku besar dan halaman diberi nomor urut yang dianggap sebagai
nomor anggota. Pada halaman terse but terdapat kolom-kolom : nama, alamat peminjaman, tanda
tangan petugas, tanggal peminjaman dan tanggal kembali.

2. Sistem Slip/ Bon Pinjaman

Sistem peminjaman dengan menggunakan slip/bon pinjam yaitu : nama peminjaman, alamat
peminjam, data bahan pustaka, tanggal peminjaman, tanggal pengembalian, tanda tangan
peminjaman.

3. Sistem kartu Buku

Sistem peminjaman yang pencatatan peminjamna dilakukan pada kartu buku yang ada pada bahan
pustaka. Apabila bahan pustaka dipinjam, maka kartu buku dicabut oleh petugas dan kartu buku
dicabut oleh petugas dan kartu buku disusun berdasarkan tanggal pengembalian.


IV. KARTU ANGGOTA

Ada beberapa macam kartu anggota yang dapat dipilih salah satunya atau secara kombinasi untuk
digunakan di perpustakaan bersangkutan.

Kartu identitas yang hanya memuat nomor registrasi/anggota, nama, alamat, tanggal berlaku
keanggotaan.

Kartu peminjam yang memuat data yang sama seperti kartu identitas hanya ditambah dua kolom
untuk mencatat transaksi peminjaman.

Sistem bon, dibuat rangkap dua atau tiga, dimana setiap buku yang dipinjam harus ditulis dalam
satu bon, lengkap dengan nama peminjam, alamat, nomor buku, judul buku, nama pengarang,
dsbnya. Satu lembar untuk peminjam, yang lain untuk catatan perpustakaan. Sistem ini kurang
efisien dari segi waktu karena peminjam harus menulis bon sebanyak buku yang dipinjam.

Kantung buku, berupa kantung-kantung kecil berisi nama anggota, nomor registrasi, alamat,
tanggal berlaku keanggotaan,diberikan kepada anggota sesuai dengan jumlah buku yang boleh
dipinjam. Setiap kali anggota meminjam, ia harus menyerahkan satu kantong buku untuk setiap
judul yang dipinjam.

Untuk perpustakaan sekolah atau masyarakat sebaiknya menggunakan kartu identitas yang kini
lazim digunakan di banyak perpustakaan. Bentuknya yang seperti KTP memudahkan orang
menyimpannya dalam dompet sehingga selalu dibawa dan bisa sewaktu-waku datang ke
perpustakaan untuk meminjam buku. Pasangan kartu identitas ini adalah kartu peminjam untuk
setiap anggota yang disimpan di bagian peminjaman.

Catatan : untuk perpustakaan yang anggotanya terbatas dan buku yang akan dipinjamkan belum
banyak, kartu peminjam dapat diganti dengan buku tulis.

Buatlah kolom-kolom dalam buku untuk : 1) tanggal mulai dipinjam, 2) nama/nomor angota, 3) judul
buku, 4) tanggal harus kembali, 5) paraf peminjam. Cara ini juga tidak memerlukan kartu buku.
Ditiap buku cukup ditempelkan kartu (kertas) tanggal kembali saja.

Pas foto terbaru, setiap calon anggota umumnya diminta menyerahkan pas foto sekurang-kurangnya
dua buah, satu untuk ditempel di kartu anggota dan satu untuk ditempel di buku registrasi. Ini
terutama untuk perpustakaan masyarakat/umum di kota-kota besar yang anggotanya tersebar. Beda
dengan perpustakaan desa atau perpustakaan sekolah, yang penggunaannya sudah tertentu yaitu
anggota masyarakat sekitar dan murid-murid yang dikenal oleh petugas perpustakaan dan guru
setempat, faktor pas foto dapat diabaikan.

(1) Administrasi Pelayanan Kartu Anggota Perpustakaan Sekolah

Karena pengguna perpustakaan sudah tertentu orangnya, yaitu siswa dan guru di sekolah
tersebut,maka syarat keanggotaan terkait dengan pendaftaran masuk sebagai siswa di sekolah
tersebut. Oleh karena itu, kartu pelajar juga dapat berfungsi sebagai kartu anggota perpustakaan.
Namun demikian, tetap diperlukan peraturan perpustakaan untuk menentukan buku apa dan berapa
banyak yang boleh dipinjam serta lama peminjaman. Sanksinya pun perlu ditetapkan bagi yang
melanggar ketentuan, namun dengan penuh kebijaksanaan dan kehati-hatian agar tidak mematikan
minat siswa berkunjung ke perpustakaan. Peraturan in dipasang di meja sirkulasi, dipapan
pengumuman tiap kelas dan ditempat-tempat lain yang mudah terlihat oleh siswa. Tulisan peraturan
dibuat lebih besar dari ukuran mesin ketik biasa, agar mudah membacanya.

Berbeda dengan anggota masyarakat, perpustakaan sekolah memiliki anggota yang secara otomatis
terdaftar di perpustakaan begitu seseorang menjadi murid atau guru di sekolah bersangkutan.


(2) Tata cara penerimaan anggota Perpustakaan Masyarakat

Tata cara penerimaan anggota perpustakaan perlu ditetapkan sesederhana mungkin. Pertama
pendaftar diminta membaca dengan seksama peraturan perpustakaan sebelum ia mencatatkan
nama untuk menjadi anggota. Formulir pendaftaran diberikan kepada calon anggota untuk diisi
dengan nama pendaftar,alamat rumah/pekerjaan, jabatan atau pekerjaan, nomor telepon kalau ada,
dan tanggal mengajukan pendaftaran. Sebuah fotokopi KTP, atau tanda pengenal lain yang sah perlu
dilampirkan. Apabila fotokopi sulit diperoleh, cukup dicatat nomor KTP/SIM atau tanda pengenal
yang lain. Dalam formulir perlu dicantumkan kalimat yang menyatakan bahwa pendaftar setuju dan
patuh pada peraturan perpustakaan yang kemudian dibubuhi tanda tangannya.

Sekali lagi, harus diingat,kondisi masyarakat berbeda-beda dan ada masyarakat yang kurang paham
dan kurang menyenangi birokrasi berlebihan, sehingga urusan menjadi anggota perpustakaan ini
menjadi momok bagi mereka. Walaupun prosedur keanggotaan ini dimaksudkan untuk ketertiban,
haruslah dilakukan cara yang lebih kreatif dan inovatif untuk membuat orang tidak enggan menjadi
anggota. Peraturan yang terlalu ketat dan prosedur yang birokratis akan menyebabkan para calon
anggota mengurungkan niatnya.

Formulir yang telah diisi, lalu disusun dalam file menurut nama pendaftar. Disamping file formulir
pendaftaran ini, penting sekali kita memiliki buku registrasi atau lazim disebut buku induk angota
perpustakaan. Buku ini berfungsi sebagai alat untuk mengetahui jumlah anggota ganda, mencatat
uang pangkal, uang iuran tahunan bila diperpanjang dan catatan-catatan lainnya. Oleh karena itu,
urutan keterangan dalam kolom-kolom buku registrasi ini dimulai dengan tanggal mulai jadi
anggota,nomor registrasi, nama anggota, uang pangkal, uang iuran tahunan (misalnya untuk lima
tahun kolom).


V. STATISTIK

Statistik adalah ilmu tentang pengumpulan data, menggolongkan, mentabulasi, dan menganalisa
suatu kegiatan. Dalam perpustakaan yang disebut statistik adalah catatan angka-angka yang
dikumpulkan, ditabulasi, digolongkan mengenai kegiatan perpustakaan.

Statistik berfungsi dalam beberapa tujuan yakni :

a. Menyusun laporan.

b. Mengukur efisiensi berbagai kegiatan dan kinerja pustakawan.

c. Menyusun rencana dan jasa perpustakaan.

d. Bahan pertimbangan dalam penambahan anggaran dan staf.

e. Sebagai evaluasi kemajuan atau keberhasilan perpustakaan.

Unsur-unsur yang harus dilaporkan yakni :

a. Pengadaan bahan pustaka : jumlah koleksi yang dibeli, hadiah. Data ini kelompokkan berdasarkan
jenis koleksi dan subyek.

b. Pengolahan bahan pustaka : jumlah koleksi yang dikatalog dan yang diklasifikasi.

c. Keanggotaan : jumlah angota yang jumlah pengunjung.

d. Koleksi yang dipinjam : buku yang dipinjam berdasarkan subyek.

e. Layanan rujukan : jumlah pertanyaan yang masuk, pertanyaan yang terjawab dalam waktu
singkat.

f. Jasa reproduksi : jumlah koleksi yang direproduksi, jumlah yang difotokopi.


(sumber Badan Arsip dan Perpustakaan Jawa Tengah Materi Pelatihan Perpustakaan untuk
Madrasah 2011)


*) Tutor D2 Perpustakaan UPBJJ-UT Purwokerto Pokjar Randudongkal Kab. Pemalang

Diposkan oleh Romly's di 21.14
Label: administrasi, madrasah, perpus, perpustakaan, sekolah
STAF PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Staf menjadi tulang punggung perpustakaan, termasuk perpustakaan sekolah. Mereka diperlukan
untuk mendukung program-program pengajaran disekolah agar berhasil. Mereka diperlukan untuk
mengatur dan menjalankan kegiatansehari-hari di perpustakaan. Perpustakaan sekolah yang
mempunyai program-program kegiatan yang baik akan memerlukan tenaga-tenaga yang cakap dan
terampil agar mampu memberikan pelayanan yang efektif.

Pustakawan Sekolah
Pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan
pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu
perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan.
Pustakawan yang berada di lingkungan suatu sekolah inilah yang disebut pustakawan sekolah.
Pustakawan sekolah harus mempunyai kualifikasi dalam bidang pendidikan dan perpustakaan.
Kualifikasi pertama diperlukan karena pustakawan sekolah mempunyai tanggung jawab ikut
membina dan mendidik murid dalam proses belajar mengajar di sekolah, hingga sampai pada
perkembangan yang maksimal sesuai dengan tujuan pendidikan. Kualifikasi kedua diperlukan karena
jelas bahwa ia harus memainkan perannya sebagai pengelola perpustakaan. Tugas atau pekerjaan
pustakawan sekolah bersifat profesi. Meskipun demikian ia harus dapat pula mengerjakan pekerjaan
yang bersifat nonprofesi. Dari segi tingkatan kualifikasi, pustakawan dimasukkan ke dalam tingkat
professional.

Asisten Pustakawan
Sebagian besar tugas asisten pustakawan adalah membantu tugas pustakawan, terutama untuk jenis
pekerjaan yang bersifat profesi. Menurut jenjang jabatan pustakawan, asisten pustakawan
merupakan jenjang jabatan yang terendah. Dari segi tingkatan kualifikasi, asisten pustakawan
dimasukkan ke dalam tingkat semiprofessional.
Teknisi
Teknisi adalah tenaga perpustakaan yang sepenuhnya bertugas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan
yang bersifat nonprofesi, misalnya pengagendaan, pengetikan kartu-kartu, pelabelan, penggandaan,
pelayanan, peminjaman dan pengembalian bahan pustaka, dan sebagainya.

Sukarelawan Murid
Murid-murid bisa dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan sebagai petugas sukarelandan sifat
tugasnya sekedar membantu. Melibatkan murid-murid dalam kegiatan perpustakaan ini sangat
besar manfaatnya baik bagi pihak pustakawan, perpustakaan maupun murid itu sendiri. Hal ini akan
menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap bahan pustaka sehingga dapat menumbuhkan rasa
memiliki, merawat, dan memperlakukan bahan pustaka sebagaimana mestinya.
Sukarelawan murid ini sebaiknya diperbantukan di bagian pelayanan pembaca, baik pelayanan
sirkulasi, pelayanan referensi maupun pelayanan lainnya secara bergiliran.

Tugas-Tugas Staf Perpustakaan
Tugas-tugas staf perpustakaan mencakup dua jenis pekerjaan, yaitu pekerjaan yang besifat profesi
dan bersifat nonprofesi.

Pekerjaan yang bersifat profesi antara lain :
Membuat kebijakan-kebijakan tertentu dalam pembinaan dan pengembangan perpustakaan.
Membuat perencanaan mengenai pembinaan dan pengembangan perpustakaan.
Menjalin kerjasama/hubungan dengan berbagai pihak di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Membuat perencanaan anggaran pendapatan dan belanja perpustakaan.
Menetapkan standar bahan pustaka yang dipergunakan.
Menetapkan nomor klasifikasi bahan pustaka.
Menetapkan katalog yang akan dibuat.
Menetapkan sistem pelayanan peminjaman bahan pustaka serta pelayanan lain.
Memberi layanan informasi.
Memberi penyuluhan tentang perpustakaan.
Melatih murid menggunakan perpustakaan.
Pekerjaan yang bersifat nonprofesi antara lain :
Melakukan pencatatan bahan pustaka dalam buku inventaris.
Melakukan pengecapan bahan pustaka.
Menempelkan label pada bahan pustaka.
Menyusun bahan pustaka di rak (shelving).
Menyusun kartu-kartu katalog (filing).
Melayani peminjaman dan pengembalian bahan pustaka.
Mencatat data untuk statistik perpustakaan.
Jumlah Tenaga Perpustakaan Sekolah
Memang sulit untuk menetapkan secara tepat berapa jumlah tenaga yang diperlukan oleh suatu
perpustakaan sekolah. Berikut ini adalah ketentuan yang disampaikan Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Perpustakaan dalam Pedoman/Standar Perpustakaan Sekolah untuk menetapkan
tenaga perpustakaan sekolah yang mengacu pada banyaknya unit program pengajaran di masing-
masing tingkat sekolah (SD, SMP, SMA) :

Perpustakaan Sekolah Dasar
Untuk Sekolah Dasar yang mempunyai 3 unit program pengajaran pada dasarnya memerlukan 8
tenaga, yang terdiri atas : 1 Kepala, 1 Asisten, 2 Tenaga Administrasi (Teknisi), dan 4 tenaga Bantuan
Siswa (Sukarelawan Murid).

Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama
Untuk Sekolah Menegah Pertama yang mempunyai 4 unit pengajaran diperlukan 8 tenaga, yang
terdiri atas: 1 Kepala, 1 Asisten, 2 Tenaga Administrasi (Teknisi), dan 4 tenaga Bantuan Siswa
(Sukarelawan Murid).

Perpustakaan Sekolah Menengah Atas
Untuk Sekolah Menegah Atas yang mempunyai 4 unit pengajaran diperlukan 12 tenaga, yang terdiri
atas: 1 Kepala, 2 Asisten, 3 Tenaga Administrasi (Teknisi), dan 6 tenaga Bantuan Siswa (Sukarelawan
Murid).

Sebagai pengetahuan tambahan, berikut adalah gambaran mengenai kebutuhan pustakawan di
sekolah dari berbagai Negara lain seperti Australia, Kanada, Jerman dan Hungaria.
Australia
Untuk sekolah yang jumlah muridnya <250 diperlukan 1 tenaga pustakawan yang bekerja sebagian
waktu (part-time librarian). Sedangkan untuk sekolah yang muridnya >250 diperlukan seorang
tenaga pustakawan yang bekerja sepanjang waktu (full-time librarian).

Kanada
Untuk sekolah yang jumlah muridnya 30-150 diperlukan 1 tenaga pustakawan yang bekerja sebagian
waktu (part-time librarian). Sedangkan untuk sekolah yang muridnya 15-300 diperlukan minimum
1tenaga pustakawan yang bekerja sepanjang paruh waktu (part-time librarian). Dan apabila jumlah
muridnya >300 diperlukan 1 tenaga pustakawan untuk 300 murid pertama, kemudian untuk tiap 500
murid selebihnya diperlukan 1 tenaga pustakawan.

Jerman
Tiap 500 murid diperlukan 1tenaga pustakawan, 1 asisten pustakawan, dan 1 teknisi.

Hungaria
Untuk sekolah yang jumlah muridnya <dari 500 dan <16 kelas diperlukan 1 tenaga pustakawan yang
bekerja sebagian waktu (part-time librarian). Sedangkan untuk sekolah yang muridnya >500 dan >16
kelas diperlukan 1tenaga pustakawan yang bekerja sepanjang waktu (full-time librarian).