Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Beton
1. Pengertian Beton
Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, Beton adalah bahan
yang diperoleh dengan mencampur agregat halus, agregat kasar, semen
Portland dan air.
Menurut Pedoman Pengerjaan Beton berdasarkan SKSNI T-15-1991-03
beton adalah suatu komposit dari beberapa bahan batu-batuan yang
direkatkan oleh bahan ikat. Singkatnya adalah campuran antara semen,
agregat campuran dan air yang telah mengeras.
Sedangkan dalam SNI-03-2847-2002 definisi Beton adalah campuran
antara semen portland atau semen hidrolik yang lain, agregat halus,
agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang
membentuk massa padat. Seiring dengan penambahan umur, beton akan
semakin mengeras dan akan mencapai kekuatan rencana (fc) pada usia
28 hari.

2. Bahan Penyusun Beton
Beton adalah suatu bahan komposit yang terdiri dari campuran semen, air,
dan agregat. Pasta semen yang masih segar sebagai campuran antara
semen dan air berfungsi untuk menyelimuti seluruh permukaan agregat,
yang selanjutnya dalam proses pengerasan pasta semen akan menjadi
batu semen (Cemen stone) akan mengikat agregat membentuk suatu
kesatuan yang solid. Perbanding banyaknya air relatif terhadap
banyaknya semen dalam suatu campuran beton merupakan hal yang
sangat penting dalam menentukan kekuatan beton. Semakin besar rasio
air-semen semakin rendah kuat tekan beton yang dihasilkan. (Phil
M.Ferguson,1986,7-8) Mutu beton sangat dipengaruhi oleh kualitas dari
material pembentuknya (seman, air, agregat halus dan agregat kasar),
namun disamping itu dalam pelaksanaan di lapangan mutu beton yang
dihasilkan juga ditentukan oleh ketepatan pelaksanaan dan pemeliharaan
selama beton dalam proses pengerasan.
3. Karakteristik Beton
a. Kuat Tekan dan Tarik Beton
Beton lebih kuat menahan tekan daripada tarik, nilai kekuatan tekan
dari beton dapat diketahui dengan melakukan pengujian kuat tekan
terhadap benda uji silinder (diameter 100 mm, tinggi 200 mm) yang
dibebani dengan gaya tekan sampai benda uji hancur .
Nilai kuat tarik beton sangat kecil, berkisar antara 10% - 15% dari nilai
kuat tekannya. Sehingga untuk menambah kuat tarik beton dapat
dilakukan dengan diberi tulangan yang mampu menahan gaya tarik.

Kuat Tekan Beton
Beton yang baik adalah jika beton tersebut memiliki kuat tekan tinggi,
nilai susut kecil, kepadatan tinggi, ekonomis, tahan api, dll. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan beton, yaitu :
1. Faktor air semen (FAS) dan kepadatan
Kekuatan tekan beton ditentukan oleh pengaturan dari perbandingan
semen, agregat kasar dan halus, air, dan berbagai jenis campuran.
Perbandingan dari air terhadap semen merupakan faktor utama
didalam penentuan kekuatan beton Sehingga dapat disimpulkan
bahwa hampir untuk semua tujuan, beton yang mempunyai faktor air
semen rendah akan memiliki kepadatan yang lebih tinggi dan kuat
tekan serta masa pakai yang
lebih lama
2. Umur beton
Kuat tekan beton akan bertambah sesuai dengan bertambahnya
umur beton tersebut.
3. Jenis dan jumlah semen
Jenis semen berpengaruh terhadap kuat tekan beton, sesuai
dengan tujuan penggunaannya
4. Sifat agregat
Sifat agregat yang paling berpengaruh terhadap kekuatan beton
adalah kekasaran permukaan dan gradasi beton. Agregat ini harus
bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat
berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh,homogen dan rapat,
dimana agregat yang berukuran kecil berfugsi sebagai pengisi celah
yang ada diantara agregat berukuran besar. Dalam pengujian kuat
tekan beton, digunakan silinder berukuran diameter 10 cm dan tinggi
20. Sehingga perhitungan kuat tekannya menurut ASTM C 42-90
adalah sama dengan silinder berukuran diameter 15 cm dan tinggi
30, karena mempunyai perbandingan h/d yang sama, yaitu 2,00.


Kuat Tarik Beton
Kekuatan tarik beton adalah sifat yang penting yang mempengaruhi
perambatan dan ukuran dari retak didalam struktur. Kekuatan tarik
dapat ditentukan dengan menggunakan percobaan pembebanan
silinder (the split cylinder) dimana silinder ukuran diameter 10 cm dan
tinggi 20 cm diberikan beban tegak lurus terhadap sumbu
longitudinalnya dengan silinder ditempatkan secara horizontal diatas
pelat mesin percobaan. Benda uji akan terbelah dua pada saat
dicapainya kekuatan tarik.

b. Daktilitas Beton
Misalnya ada sebuah benda (material), jika diberi gaya (ditarik, ditekan,
atau dilenturkan), benda tersebut memanjang, memendek, atau
bengkok (berdeformasi). Kemudian gaya tersebut dihilangkan, dan
benda tersebut kembali persis ke bentuk dan ukuran semula. Kondisi
ini dinamakan kondisi ELASTIS.
Tapi, ada suatu kondisi jika gaya tersebut ditambah besarnya, benda
tersebut sudah tidak bisa kembali ke bentuk semula. Benda itu sudah
dalam kondisi PLASTIS atau INELASTIS.
Dalam kondisi elastis, besarnya gaya berbanding lurus dengan
besarnya deformasi. Misalnya kita ambil gaya tarik-penambahan
panjang. Semakin besar gaya tariknya, semakin besar pula
penambahan panjangnya. Dalam
pembahasan biasanya digunakan
tegangan untuk mewakili gaya ( = F/A),
dan regangan untuk mewakili
penambahan panjang ( = L/L)

Titik waktu pertama kali material tersebut
memasuki kondisi plastis disebut Titik
Leleh (Yield Stress). Pada kondisi plastis,
hubungan tegangan regangan sudah menyimpang jauh dari linear.
Diberi tambahan gaya sedikit saja, deformasinya bisa bertambah
berlipat-lipat kali dari deformasi elastis.
Jika gaya tersebut ditambah, maka material tersebut bisa putus. Titik
ini disebut titik putus, atau titik fraktur (Ultimate Stress).

Daktilitas adalah kemampuan material mengembangkan regangannya
dari pertama kali leleh hingga akhirnya putus. Atau, daktilitas bisa juga
kita artikan seberapa plastis material tersebut. Semakin panjang ekor
plastisnya, semakin daktail material tersebut.
Kebalikan dengan daktail, material yang GETAS tidak memiliki ekor
plastis yang panjang. Malah ada yang sama sekali tidak memiliki ekor
plastis. Artinya, titik lelehnya sama dengan titik putusnya. Begitu dia
leleh saat itu juga dia putus.
Dari pembahasan ini akan muncul istilah-istilah lain seperti:
1. Sendi Plastis.
Sendi plastis adalah kondisi ujung-ujung elemen struktur yang semula
kaku (rigid) atau terjepit sempurna, kemudian menjadi sendi (pinned)
karena material penyusunnya (dalam hal ini baja) telah mengalami
kondisi plastis. Misalnya sambungan balok ke kolom pada awalnya
didesain kaku (rigid), namun karena momen tumpuan sangatt besar
mengakibatkan semua tulang tarik pada balok mengalami leleh. Jika
sudah leleh, tentu sudah tidak elastis lagi.
Gaya gempa yang arahnya bolak balik menyebabkan sisi atas dan sisi
bawah balok secara bergantian mengalami tekanan tarik dan tekan
yang besar, bahkan dapat membuat beton menjadi retak atau hancur.
Dalam kondisi seperti ini, kekuatan ujung balok bergantung kepada
tulangan. Deformasinya (dalam hal ini putaran sudut) menjadi besar,
dan ujung balok tidak rigid lagi, alias sudah seperi sendi.
2. Daktilitas Penampang.
Daktilitas penampang adalah kemampuan penampang untuk
mengembangkan deformasinya setelah mengalami leleh pertama kali.
Atau bisa disebut juga seberapa lama suatu elemen struktur bisa
bertahan dengan kondisi sendi plastis di ujung-ujungnya.
3.Daktilitas Struktur
Daktilitas secara keseluruhan. Khususnya dalam memikul beban lateral
(gempa).
c. Modulus Elastis
Modulus Elastisitas biasa disebut juga Modulus Young. Walaupun
sebenarnya Modulus Young adalah bagian dari Modulus Elastisitas
(sumber: wikipedia). Modulus Elastisitas, dirumuskan sebagai:

adalah regangan, dan adalah regangan.
Pada grafik hubungan tegangan-regangan, kemiringan kurva elastis
menunjukkan besarnya Modulus Elastisitas. Semakin tegak kurva
elastisnya, maka semakin besar nilai E-nya. Sebaliknya semakin landai
kurvanya, semakin kecil nilai E-nya.
Beton sangat getas ketika mengalami tegangan tarik. Sedangkan
ketika mengalami tekan, perilaku elastisnya hanya terlihat sekitar 0
30% dari kuat tekan beton. Setelah itu tidak elastis lagi. Hal ini konon
diakibatkan karena munculnya retak-retak pada saat tegangan sudah
mulai tinggi.
d. Susut pada Beton
Menurut Gideon K,dkk,(Seri Beton 2), Bila pada suatu konstruksi yang
dapat bergerak bebas, terjadi perubahan bentuk (deformasi) bebas
sebagai akibat dari perbedaan temperatur, maka tegangan-tegangan
tak muncul. Pada perubahan bentuk yang terhalang akan
.
timbul
tegangan. struktur akan memanjang pada temperatur yang menaik
teratur l. Bila perpanjangan ini dihalangi maka akan timbul tegangan
normal.
Perpanjangan akibat kenaikan temperature Bila bagian sisi atas
struktur lebih panas daripada bagian sisi bawah maka disamping timbul
perpanjangan rata-rata l
l
juga akan timbul pelengkungan sebagai
akibat perbedaan temperatur dengan temperatur rata-rata. Bagian sisi
atas akan mendapat tambahan perpanjangan l
2
, sedangkan bagian
sisi bawah akan memendek l
2
. Pada perubahan bentuk yang
terhalang, selain tegangan normal akan timbul juga tegangan lentur.
Pada perubahan temperatur yang tidak merata dan tidak linier maka
pada penampang akan timbul; tegangan normal (akibat penghalangan
panjang), tegangan lentur (akibat dari lengkungan) dan tegangan
dalam sendiri (sebagai akibat perubahan temperatur yang tidak linier).
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap susut pada beton Susut
pada beton merupakan salah satu akibat dari hilangnya kelembaban
beton saat terjadi proses pengerasan. Karena tegangan-tegangan
susut dan temperatur sangat penting dalam disain, perubahan volume
yang berhubungan dengan perbedaan-perbedaan panas tersebut
menjadi hal yang penting. Berikut akan dibahas mengenai factor-faktor
yang berpengaruh terhadap susut pada beton, dimana secara garis
besar dibagi menjadi dua yaitu: susut plastis dan susut pengeringan.
Susut Plastis
Penguapan merupakan kendala yang sering mempengaruhi
pelaksanaan pekerjaan beton. Untuk daerah yang beriklim tropis,
penguapan dapat mengganggu sifat kemudahan pengerjaan campuran
beton, karena campuran dengan segera kehilangan keplastisannya
sebelum proses pemadatan dapat dilakukan secara sempurna. Selain
itu, angin yang kencang juga dapat berakibat terhadap proses
penguapan air dari campuran. Penguapan menjadi permasalahan bila
tingkat kecepatan penguapan melebihi kecepatan bleeding. Bila hal ini
terjadi maka akan terbentuk gaya kapiler yang akan menekan dan
memadatkan lapisan atas akibat bertambahnya kecepatan
pengendapan butiran semen pada lapisan ini. Apabila proses
penguapan berkurang setelah terjadinya penekanan kapiler, maka
bagian atas yang tertekan akan tetap mengendap akibat berat
gravitasi. Hal ini mempunyai efek yang sama bila proses finishing
dilakukan terlalu cepat. Apabila penguapan berlangsung sangat cepat
melampaui ketahanan terhadap tekanan selanjutnya yang melebihi
pengaruh gaya kapiler, maka akan terjadi gaya tarikan hidrostatis,
sehingga massa mulai menyusut dalam arah lateral yang sama
besarnya dengan penyusutan dalam arah vertikal. Penyusutan yang
terjadi sebelum beton mengeras disebut susut plastis. Retakan pada
permukaan terjadi karena penyusutan arah lateral pada lapisan atas
ditahan oleh lapisan yang di bawahnya. Retakan ini mempunyai pola
menyerupai bentuk hexagonal, dan hanya dapat dihilangkan dengan
memberikan getaran kembali. Besarnya tingkat penyusutan plastis
tergantung pada banyak factor seperti Ukuran agregat dan nilai slump.
Berikut table nilai penyusutan untuk berbagai kekentalan beton
Ukuran Agregat (inci) Slump (cm) Penyusutan per Unit Panjang
5
10
15
0,00063
0,00071
0,00079
1 5
10
15
0,00044
0,00050
0,00056
2 5
10
15
0,00037
0,00041
0,00045
Sumber: Syafei Amri, Teknologi Beton A-Z,2005
Semakin besar ukuran agregat, semakin kecil nilai penyusutan untuk
nilai slump yang sama, sedangkan besar penyusutan terhadap nilai
slump adalah semakin besar nilai slump maka penyusutan yang terjadi
semakin besar.

Pencegahan Susut Plastis
Penyusutan plastis hanya dapat dihindarkan dengan mencegah
penguapan yang terlalu cepat pada permukaan beton, dengan cara
melindungi beton dari panas matahari atau angin secara langsung.
Atau dengan cara mendinginkan dan menyiram permukaan yang baru
dicor. Semen ekspansif kadang-kadang digunakan untuk mengurangi
tegangan-tegangan susut. tersebut. Karena adanya bahan ekspansif di
dalam semen, beton ini mula-mula sedikit mengembang. Apabila
pengembangan ini sebagian ditahan oleh penulangan yang tertanam,
tarikan bertambah dalam baja dan tekanan dalam beton juga
bertambah. Karena kemudian beton menyusut dan menjadi dingin, ia
menuju ke keadaan seimbang dengan perubahan yang sedikit dari
panjangnya semula.
Susut Pengeringan
Susut pengeringan terjadi setelah beton mencapai bentuk akhirnya dan
proses hidrasi pasta semen telah selesai. Susut pengeringan adalah
berkurangnya volume elemen beton jika terjadi kehilangan uap air
karena penguapan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya susut
pengeringan, antara lain sebagai berikut : (Edward G. Nawi,1998)
1. Agregat. Agregat berlaku sebagai penahan susut pasta semen.
Jadi. beton dengan kandungan agregat yang semakin tinggi akan
semakin berkurang perubahan volumenya akibat susut. Lagipula,
derajat ketahanan beton ditentukan oleh sifat agregatnya, yaitu
dengan modulus elastisitas yang tinggi atau dengan permukaan
yang kasar akan lebih tahan terhadap proses susut.
2. Faktor air-semen. Semakin besar faktor air-semen, akan semakin
besar pula efek susut.
3. Ukuran elemen beton. Kelajuan dan besarnya susut akan
berkurang apabila volume elemen betonnya semakin besar. Akan
tetapi, terjadinya susut akan semakin lama untuk elemen yang
lebih besar karena lebih banyak waktu yang diperlukan untuk
pengeringan sampai ke bagian dalam. Sebagai contoh, mungkin
diperlukan waktu sampai satu tahun untuk tercapainya
pengeringan pada kedalaman 10 in. dari permukaan luar, dan
sepuluh tahun untuk mencapai 24 in.dari permukaan luar.
4. Kondisi lingkungan. Kelembaban relatif di sekeliling beton sangat
mempengaruhi besarnya susut; laju perubahan susut semakin kecil
pada lingkungan dengan kelembaban relatif yang tinggi.
Temperatur di sekeliling juga merupakan faktor yang menentukan,
yaitu susut akan bertahan pada temperatur rendah.
5. Banyaknya penulangan. Beton bertulang lebih sedikit susutnya
dibandingkan dengan beton sederhana; perbedaan relatifnya
merupakan fungsi dari persentase tulangan.
6. Bahan tambahan pada campuran beton. Pengaruh ini sangat
bervariasi, bergantung pada bahan tambahan yang digunakan.
Akselerator seperti kalsium klorida digunakan untuk mempercepat
proses pengerasan beton dan memperbesar susut. Pozzolan juga
dapat menambah susut, sedangkan bahan tambahan Super
plasticizers, Plasticity retarding agent, Retarder adalah bahan
tambahan yang dapat meningkatkan workability campuran beton
dan dapat mengurangi pemakaian air serta penundaan panas
hidrasi sehingga dapat memperkecil susut pada beton.
7. Jenis semen.. Sangat perlu diperhatikan penggunaan semen yang
mengandung kadar C
3
A yang terlalu tinggi. Jumlah C
3
A di dalam
semen harus dibatasi, agar hydrasi dari semen dapat
diperlambat.Begitu juga pembentukan panasnya (heat
generation). Penggilingan semen yang terlalu halus (3500 Blaine)
juga harus dihindari. Pada dasarnya adalah sangat beralasan bila
jumlah semen dalam 1m3 beton dibatasi. Jumlah semen harus
dibuat minimum dengan menggunakan admixture dan atau abu-
terbang. Sebaliknya makin besar kandungan
Gypsum(CaSO
4
.2H
2
O) dalam semen, akan menghasilkan setting
time yang makin panjang.


e. Hubungan Tegangan dan Regangan Beton
Regangan beton (tekan) paling maksimal sekitar 0.3-0.4 persen. Bila
dibandingkan dengan baja dan karet maka Regangan karet bisa
mencapai lebih dari 100%, artinya karet dapat memanjang 2 kali
(bahkan lebih) dari panjang semula.
sedangkan Regangan leleh baja sekitar 0.2 persen, dan regangan
putusnya mencapai 15%. Jadi, kalau menarik sebuah tulangan baja
hingga putus, paling tidak harus bisa menarik tulangan tersebut
menjadi 15% lebih panjang terlebih dahulu baru kemudian baja itu akan
putus. Jika digambarkan ketiganya kurang lebih perbandingannya
seperti gambar berikut.

4. Pengujian Mutu Beton
Pengujian beton dapat dilakukan terhadap kuat tekan dan tariknya.
Salah satu cara menentukan nilai kekuatan tekan dari beton dengan
melakukan pengujian kuat tekan terhadap benda uji silinder (diameter
100 mm, tinggi 200 mm) yang dibebani dengan gaya tekan sampai
benda uji hancur . Dan salah satu cara menetukan kekuatan tarik
dengan menggunakan percobaan pembebanan silinder (the split
cylinder) dimana silinder ukuran diameter 10 cm dan tinggi 20 cm
diberikan beban tegak lurus terhadap sumbu longitudinalnya dengan
silinder ditempatkan secara horizontal diatas pelat mesin percobaan.
Benda uji akan terbelah dua pada saat dicapainya kekuatan tarik.