Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN UMUM LAPANGAN

Lapangan X adalah blok lapangan minyak yang secara geografis terletak


di Laut Jawa, Provinsi Jawa Timur, berada disebelah barat laut dari Pulau Madura.
Rincian stratigrafi Cekungan Jawa Timur bagian Utara Zona Rembang terbagi
menjadi 15 formasi, yaitu Batuan Pra-Tersier, Formasi Ngimbang, Formasi
Kujung, Formasi Prupuh, Formasi Tuban, Formasi Tawun, Formasi Ngrayong,
Formasi Bulu, Formasi Wonocolo, Formasi Ledok, Formasi Mundu, Formasi
Selorejo, Formasi Paciran, Formasi Lidah, dan Formasi Undak Solo.
Saat ini lapangan X memiliki cadangan berupa gas dan minyak. Litologi
pada lapangan X adalah karbonat dengan dominasi batuan limestone dan terdapat
shale juga. Pada makalah ini, yang akan dibahas adalah sumur KE23B-1 yang
merupakan Formasi Kujung.

BAB III
TEORI DASAR

Evaluasi formasi adalah ilmu atau keahlian untuk dapat melihat atau
meneliti keadaan subsurface baik untuk keperluan pemboran, produksi, penelitian
reservoir dan lain-lain. Evaluasi formasi disebut juga proses analisis ciri dan sifat
batuan di bawah tanah dengan menggunakan pengukuran lubang sumur atau
logging. Evaluasi formasi meliputi penilaian litologi, petrofisik, isi atau
kandungan batuan, dan produktifitas batuan. Evaluasi tersebut dilakukan dengan
cara pemeriksaan di laboratorium (analisa core) maupun dengan cara pengukuran
langsung di sumur (well logging, drill stem test, dan lain-lain). Tujuan utama dan
evaluasi formasi adalah :
1. Identifikasi reservoir.
2. Perkiraan cadangan hidrokarbon di tempat.
3. Perkiraan perolehan hidrokarbon.
3.1

Sifat Fisik Batuan Reservoir


Parameter petrofisik yang diperlukan untuk mengevaluasi reservoir adalah

porositas, saturasi hidrokarbon, ketebalan lapisan, luas area, dan permeabilitas. Di


samping itu, suhu dan tekanan formasi, serta litologi juga mempunyai peran
penting dalam evaluasi formasi.
3.1.1

Porositas ()
Porositas merupakan perbandingan antara volume pori dengan

volume total suatu batuan. Ruang kosong (pori-pori) merupakan ronggarongga yang saling berhubungan antara satu sama lain, tetapi dapat pula

merupakan rongga yang saling terpisah atau tersekat. Oleh karena itu ada
dua pengertian porositas, yaitu :
1) Porositas absolut adalah perbandingan antara seluruh volume pori dengan
volume batuan.
2) Porositas efektif adalah perbandingan antara volume pori yang saling
berhubungan dengan volume total batuan.
Secara matematis porositas dapat dituliskan sebagai berikut :
=

PV
X 100
....................................................................................
BV

(2.1)
Atau
=

PV GV
X 100
..............................................................................
BV

(2.2)

Dimana :

= Porositas, %

PV

= Volume Pori, cm3

BV

= Volume total batuan, cm3

GV

= Volume butiran, cm3


Porositas batuan reservoir dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu

dengan analisa log dan analisa core di laboratorium. Porositas dari analisa
log dapat ditentukan dari alat density log, neutron log, dan sonic log.

Gambar 2.1
Porositas

3.1.2

Permeabilitas (k)
Permeabilitas yang dilambangkan dengan k, adalah kemampuan

batuan mengalirkan atau meloloskan fluida tanpa merusak batuan tersebut.


Permeabilitas dinyatakan dalam milidarcy (mD). Kondisi pengaruh
permeabilitas adalah laju aliran, gerakan, dan pengurasan dari fluida.
Permeabilitas tergantung pada ukuran keseragaman butir batuan.
Berdasarkan jumlah jenis fluida yang mengalir dalam sebuah batu berpori,
permeabilitas dibedakan menjadi :
1) Permeabilitas absolut, bila fluida yang mengalir di dalam pori-pori batuan
hanya ada satu jenis fluida (gas, minyak, atau air).
2) Permeablitas efektif, jika ada lebih dari satu jenis cairan mengalir di pori
batuan.
3) Permeabilitas relatif, yang merupakan perbandingan antara permeabilitas
efektif dengan absolutnya.
(kro=

ko
kw
kg
, krw=
, krg )
k
k
k

(2.3)
Dimana :

.....

= Permeabilitas efektif

ko

= Permeabilitas absolut (ko,kw,kg)

kro

= Permeabilitas relatif (kro,krw,krg)

3.1.3

Saturasi Air (Sw)


Asumsi umum adalah reservoir mula-mula terisi air dari selang

masa perubahan geologi, minyak atau gas yang terbentuk di tempat lain
kemudian berpindah ke formasi berpori, menggantikan air pada ruang pori
yang lebih besar. Akan tetapi hidrokarbon pindahan ini tidak pernah dapat
mengantikan hidrokarbon yang ada. Bagian ruang pori yang berisi air
disebut kejenuhan air atau saturasi air, ditandai dengan symbol S w. sisa
bagian yang terisi minyak atau gas disebut saturasi hidrokarbon (Sh), atau
sama dengan (1-Sw). dalam evaluasi formasi, saturasi air dapat
diperkirakan dengan melakukan interpretasi log secara kuantitatif. Tujuan
utama evaluasi formasi adalah menentukan kuantitas saturasi air, sehingga
banyaknya hidrokarbon formasi dapat dihitung.
3.1.4

Faktor Formasi (F)


Factor formasi atau F adalah perbandingan resistivitas batuan yang

mengandung 100% air terhadap resistivitas air formasi. Persamaannya :


F=

Ro
Rw

......

(2.4)
F ditentukan dari parameter porositas yang diperoleh dari porosity log
(Sonic log, Density log, Neutron log)

F=

a
m

..........................

(2.5)
Dimana :
a

= Koefisien yang tergantung litologi berkisar antara 0.6 dan 2.

= Faktor sementasi yang tergantung dari jenis sedimen bentuk


pori, macam porositas serta kemampuannya. Nilai m berkisar
antara 1 - 3 .

n
3.2

= saturasi eksponen,Nilai n berkisar antara 1.22.2

Logging
Log adalah gambar kurva yang memberikan informasi tentang sifat- sifat

batuan dan fluida yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur.
Dengan tersedianya alat komputer saat ini sebuah log dapat meruakan gabungan
dari beberapa log. Logging adalah suatu metoda penelitian dengan pekerjaan
mencatat atau merekam data-data di bawah permukaan untuk setiap kedalaman,
mulai dari dasar sumur sampai ke permukaan dengan menggunakan peralatan log.
Data yang dihasilkan merupakan gambaran hubungan antara kedalaman dengan
karakter atau sifat-sifat formasi batuan.
Jadi tujuan dari logging adalah untuk memperoleh data sumur yang akan
diinterpretasikan. Kegiatan logging dapat dilakukan setelah proses pemboran

(open hole logging) atau bersamaan dengan proses pemboran (LWD) maupun
pada tahap produksi (cased hole logging). Pada waktu pelaksanaan pemboran
akan terjadi filtrasi lumpur yang merembes atau masuk ke dalam formasi
(perbedaan tekanan) akibatnya akan terbentuk tiga zona akibat pengaruh lumpur
pemboran, yaitu :
Gambar 2.2
Penampang Lubang Bor

3.2.1

Zona Terinvasi (Invaded Zone atau Flushed Zone)


Zona ini terletak paling dekat dengan lubang bor dan terisi oleh air

filtrasi lumpur yang mendesak kandungan semula, namun mungkin saja


tidak semua kandungan fluida awal terdesak ke dalam zona yang lebih
dalam.
3.2.2

Zona Peralihan (Transition Zone)


Zona peralihan terletak di sebelah dalam zona terinvasi, sebagian

isinya adalah kandungan fluida awal dan filtrat lumpur pemboran yang
masuk ke dalam zona ini.

3.2.3

Zona Tidak Terinvasi (Uninvaded Zone)


Zona ini terletak paling jauh dari lubang bor, serta seluruh pori

batuan masih terisi oleh kandungan semula. Oleh karena itu sifat petrofisik
yang ada pada zona ini merupakan sifat asal dari formasi atau reservoir

tersebut. Sifat petrofisik yang bias dikaji secara kuantitatif pada zona ini
adalah Rt (Resistivitas formasi sebenarnya), Rw (Resistivitas air), dan Sw .
3.3

Alat Logging
Alat logging yang digunakan pada tugas akhir ini terdiri atas , Gamma Ray

Log, Density Log, Neutron Log, dan Sonic Log. Alat logging tersebut untuk
mengukur parameter petrofisik pada setiap kedalaman secara tepat dan
berkesinambungan dari informasi yang sesuai dengan kegunaan masing-masing
alat logging tersebut. Konsep dan dasar interpretasi logging ini didasarkan pada
jenis deteksi yang digunakan. Untuk melakukan suatu interpretasi atau analisa log
baik kualitatf maupun kuantitatif, digunakan tiga jenis log utama, yaitu :
1. Log listrik atau elektrik
2. Log radioaktif
3. Log akustik atau sonic log
Disamping ketiga jenis log tersebut di atas, digunakan pula Log Caliper
yang merupakan log penunjuk kondisi lubang sumur.
3.4

Jenis Log Listrik atau Elektrik


Log listrik atau elektrik adalah jenis log yang digunakan untuk mengukur

resistivitas atau tahanan jenis batuan dan potential diri batuan. Adapun jenis log
listrik atau elektrik diantaranya adalah :
1. SP Log (Spontaneous Potential Log)
2. Resistivity Log
3.4.1

Spontaneous Potensial Log (SP Log)

Spontaneous Potensial (SP) Log adalah rekaman selisih potesial antara


sebuah elektroda yang ditempatkan di permukaan tanah dengan suatu elektroda
yang diturunkan ke dalam lubang. Satuannya adalah millivolt (mV). SP Log tidak
dapat direkam di dalam lubang sumur yang diisi oleh lumpur yang tak konduktif
karena diperlukan medium yang dapat menghantarkan arus listrik antara elektroda
alat dan formasi. Pada lapisan serpih (shale), kurva SP log umumnya berupa garis
lurus yang disebut garis dasar serpih (shale base line), sedangkan pada formasi
permeable kurva SP log menyimpang dari garis dasar serpih yaitu garis pasir
(sand line). Penyimpangan kurva SP log dapat ke kiri shale base line (disebut
defleksi negatif) atau kekanan (disebut defleksi positif), hal ini karena adanya
perbedaan kadar garam atau salinitas dan air formasi dan filtrasi lumpur.
3.4.2

Resistivity Log
Resistivitas atau tahanan jenis suatu batuan adalah suatu

kemampuan batuan untuk menghambat jalannya arus listrik yang mengalir


melalui batuan tersebut. Resistivitas rendah bila batuan mudah
mengalirkan arus listrik dan resistivitas tinggi bila batuan sulit
mengalirkan arus listrik. Resistivitas kebalikan dari konduktivitas, satuan
dari resistivitas adalah ohm-meter. Adapun tujuan pengukuran resistivitas
ini adalah untuk menentukan resistivitas batuan didaerah uninvided zone.
Besarnya resistivitas suatu batuan tergantung pada sifat atau
karakter fisik dari batuan tersebut. Sifat atau karakter fisik dari batuan
diantaranya adalah porositas, salinitas dan jenis batuan. Disamping itu,
factor kandungan fluida juga ikut menentukan besarnya harga resistivitas.

Resistivity log biasanya ditampilkan pada track 2 dan ditampilkan dengan


gabungan dari log log resistivitas lainnya yang memiliki perbedaan
jangkaun pengukuran antara satu resistivity log dengan resistivity log
lainnya.
3.4.2.1 Induction Log
Alat logging ini terdiri dari transmitter dan receiver. Prinsip kerja
induction log yaitu didalam kumparan pemancar mengalir arus dengan
amplitude konstan dan frekuensi sebesar 20 kHz. Arus ini menimbulkan
sebuah medan magnet yang menyebabkan suatu arus circular mengalir
dalam media di sekitar alat yang disebut arus eddy. Arus eddy ini lalu
menimbulkan medan magnet dan menghasilkan arus sekunder didalam
formasi batuan. Arus sekunder (arus induksi) yang dihasilkan akan
diterima kumparan penerima sebagai arus konduktivitas yang sebanding
dengan konduktivitas formasi, dimana selanjutnya dikonversikan kedalam
resistivitas. Induction Log dapat dipakai untuk lubang bor yang berisi
selain lumpur air tawar.
3.4.2.2 Lateral Log
Lateral Log merupakan alat electric survey log yang telah
ditingkatkan kemampuannya karena dilengkapi dengan pelindung
(guarded) electrode sehingga dapat bekerja tanpa dipengaruhi efek lubang
bor yang tidak diinginkan. Arus listrik dengan kuat arus tertentu
dipancarkan dari transmitter masuk ke dalam formasi. Arus listrik yang
dipancarkan dapat dipaksakan mengalir masuk ke formasi karena arus

listrik yang dipancarkan dapat diatur. Alat ini terdiri dari dua elektroda
arus A dan B serta dua elektroda potensial M dan N.
Lateral Log akan sangat baik digunakan pada lubang bor yang
berisi lumpur air tawar dan rasio Rmf/Rw kurang dari 3. Selain itu, Lateral
Log akan memberikan hasil yang lebih baik ketika lapisan formasi yang
tebalnya minimal 10 ft. Lateral Log akan menghasilkan hasil yang lebih
baik dari induction log. Tujuan log ini adalah untuk mengukur Rt, yaitu
resistivitas formasi yang terinvasi.

Gambar 2.4
Skema Rangkaian Dasar Lateral Log
3.4.2.3 Micro Lateral Log
Micro Lateral Log merupakan alat resistivitas yang dirancang
khusus untuk menentukan resistivity flushed zone (Rxo) pada lumpur
dasar air (water base mud). Prinsip kerja alat tersebut adalah elektrodaelektroda yang ada, terbuat dari bahan konduktif yang berbentuk lingkaran
atau persegi yang melekat pada sebuah bantalan hidrolik, dan mempunyai
jangkauan pengukuran yang sangat dangkal.

3.5

Jenis Log Radioaktif


Log Radioaktif pad adasarnya adalah log yang menggunakan detektor

radioaktif Hingga kini berbagai log yang menggunakan detektor radioaktif telah
dikembangkan untuk memperkirakan karakteristik formasi, diantaranya adalah
Gamma Ray Log, Densitas Log, dan Neutron Log. Alat tersebut antara lain
digunakan untuk menentukan litologi formasi, porositas dan volume shale.
3.5.1

Gamma Ray Log (GR Log)


Gamma Ray Log merupakan log radioaktif yang baik untuk

memisahkan antara lapisan shale dan lapisan permeabel. Prinsip dasar


Gamma Ray Log adalah perekaman radioaktif alami yang dikandung suatu
batuan yang berasal dari tiga unsur utama, yaitu, Uranium-U,Thorium-T,
dan Potasium-K yang secara kontinu memancarkan Gamma Ray dalam
bentuk pulsa-pulsa energi radiasi tinggi. Sinar Gamma ini mampu
menebus batuan dan diseteksi oleh detector. Selama proses perubahan
geologi batuan, umumnya tingkat radiasi shale lebih tinggi dibandingkan
dengan batuan lain, ini disebabkan karena unsur radioaktif. Lebih
cenderung mengendap dilapisan shale yang impermeable.
Rekaman Gamma Ray Log diukur dalam satuan API dan biasanya
ditampilkan pada kolom pertama bersama-sama dengan kurva SP Log dan
Caliper. Hubungan antara kandungan shale dengan Gamma Ray Log
dirumuskan sebagai berikut.

V s h ale=

GR log GR min
GR max GR min

............................................................................

(2.6)
Dimana:
Vshale = Volume Shale, fraksi
GRlog = Pembacaan log pada lapisan yang diteliti, API
Grmin = Pembacaan log pada lapisan yang bersih, API
Grmax =Pembacaan log pada lapisan 100% shale (clay), API
Kegunaan dari Gamma Ray Log adalah:
1. Menghitung besarnya volume shale.
2. Menentukan lapisan permeabel.
3. Korelasi lg pada sumur dengan sumur lainnya.
3.5.2

Density Log
Density Log mengukur perbedaan intensitas radiasi sinar gamma

yang dipancarkan dan diterima detektor dan merupakan kurva yang


menunjukkan besarnya densitas batuan. Sinar gamma merupakan partikel
dengan kecepatan yang tinggi akan membentur elektro-elektron yang
terdapat dalam formasi, sehingga benturan tersebut akan menyebabkan
sinar gamma kehilangan energi. Bila jumlah elektron diformasi meningkat
maka jumlah sinar gamma yang kehilangan juga meningkat,meyebabkan
sinar gamma yang tercatat pada detektor menurun. Jadi sinar gamma yang
terukur oleh alat pencatat (detektor) tergantung pada jumlah elektron yang
berbenturan.

Rekaman densitas log ini diukur denga satuan gr/cc dan biasanya
ditampilkan pada track 3 (tiga) bersama-sama dengan Neutron Log.
Densitas dari batuan (pma) dalam gr/cc adalah sebagai berikut:
Sandstone

=2.65 g/cc

Limestone

=2.71 gr/cc

Dolomite

=2.85 gr/cc

Anhydrite

=2.95 gr/cc

Penentuan porositas dari densitas batuan dinyatakan dengan rumus:


=

ma b
ma f

............................................................................................

(2.7)
Dimana:
Pma

= Densitas alatrik (gr/cc)

Pb

= Pembacaan dari Densitas log (gr/cc)

Pf

= Densitas fluida lumpur pemboran (gr/cc)

3.5.3

Neutron Log
Neutron Log digunakan untuk menentukan porositas total bantuan

formasi. Biasanya semakin banyak fluida (minyak atau air) yang


terkandung dalam formasi akan memberikan pembacaan porositas yang
tinggi. Sedangkan pada formasi yang mengandung gas akan memberikan
pembacaan porositas yang lebih rendah karena pada gas konsentrasi
hidrogen lebih rendah. Neutron Log ini biasanya ditampilkan pada Track 3
(tiga), bersama-sama dengan Densitas Log.

3.6

Log Akustik atau Sonic Log


Log Akustik atau Sonic Log berfungsi untuk mendapatkan porositas

batuan. Walaupun Sonic Log mengukur kelajuan gelombang suara akan tetapi
secara praktis Sonic Log diskalakan menurut besaran waktu transit yang
mempunyai satuan

s/ ft . Pada alat Sonic log ini terdapat transmitter

(pemancar) yang mengirimkan gelombang suara kedala formasi yang diterima


oleh receiver (penerima).
3.7

Caliper Log
Caliper Log digunakan sebagai log penunjang, untuk mengetahui

perubahan diameter sepanjang lubang bor. Log ini mengukur diameter lubang bor
yang bervariasi akibat adanya invasi lumpur pada saat pemboran ataupun adanya
caving pada lapisan unconsolidated. Peralatan caliper log dilengkapi dengan pegas
yang dapat mengembang secara fleksibel. Satuan caliper log ini adalah inch.
Adapun fungsi dan log caliper yaitu:
1. Menentukan lapisan permeable dan impermeable dengan melihat
kandungan kerak lumpur.
2. Untuk menghitung volume lubang bor guna menentukan volume semen
pada operasi cementing.
3.8

Penentuan Volume Shale (Vsh)


Volume shale dapat dihitung dengan menggunakan 4 (empat) rekaman log,

yaitu Resistivity, Neutron, Spontaneous Potensial dan Gamma Ray.Adanya shale

atau serpih dalam lapisan formasi dapat menyebabkan kekeliruan dalam


perhitungan porositas dan saturasi air. Shale dapat mengurangi keakuratan
interpretasi log.
3.9

Persamaan Saturasi Air (SW)


Ada beberapa persamaan yang umum digunakan untuk mengevaluasi nilai

saturasi air (Sw) seperti Archie, Simandoux, dan Persamaan Indonesia serta
beberapa persamaan lain. Tetapi pada formasi yang terdapat shale secara cukup
besar maka digunakan metode saturasi, antara lain metode Simandoux, Persamaan
Indonesia dan Waxman & Smith Model.
3.9.1

Metode Archie
Metode archie sangat cocok untuk dipakai pada formasi clean baik

itu sand maupun karbonat. Metode archie tidak cocok digunakan untuk
formasi yang terdapat Volume Shale yang cukup besar. Berikut ini adalah
rumus untuk metode Archie:
Sw=

a Rw

m Rt

.....................................................................................

(2.8)
Dimana:
Rt

= Resistivitas formasi, ohm meter


= Porositas, fraksi

= Koefisien Iitologi, berkisar antara 0.6 dan 2

= Faktor sementasi Nilai m berkisar antara 1 dan 3

= Saturasi eksponen, berkisar anatara 1.2 2.2

Rw

= Resistivitas air formasi, ohm meter

Sw

= Saturasi air, fraksi

3.9.2

Metode Simandoux
Dasarnya adalah:

c .R
S w= 2 w
e

5 2e
V
V
+ sh sh
R w R t R sh
R sh

( )

.......................................................

(2.9)
Dengan:

2nc +2dc
e =
2

.....................................................................................

(2.10)
dc =d (V sh . dsh ) .....................................................................(2.11)
nc =n(V sh . nsh ) .....................................................................(2.12)
Dimana:
Rw
e

: Resistivitas air formasi, ohm-m


: Porositas efektif, fraksi

Rt

: Resistivitas formasi, ohm-m

Rsh

: Resistivitas pada lapisan shale, ohm-m

Vsh

: Volume shale pada shally foralation, fraksi

: Konstanta sandstone 0.40 dan karbonat, limestone = 0.45

dc

: Porositas koreksi dan density, fraksi

nc

: Porositas koreksi dan neutron, fraksi

d sh

: Porositas density pada lapisan shale, fraksi

nsh

: Porositas neutron pada lapisan shale, fraksi

3.9.3

Metode Indonesia
Persamaan

Indonesia

merupakan

modifikasi

dari

metoda

Simandoux yang diciptakan Schlumberger untuk digunakan di Indonesia.

V
1
(
)
V 2

1
=
Rt

sh

Rsh

sh

2
+
S m /2
a . Rw w

..................................................................

(2.13)
1

S mw /2=

( Rt )

V
1 )
(
2
V

sh

sh

R sh

2
+
a . Rw

...................................................................

(2.14)
Atau:

1
=
R xo

V
1 )
(
V 2

m
2

sh

sh

R sh

S m/ 2
a . R mf xo

..............................................................

(2.15)
Dimana:
Rt

= Resistivitas formasi, ohm-m

3.10

Rxo

= Resistivitas batuan pada flushed zone, ohm-m

Vsh

= Volume shale pada shaly formation, fraksi

= Koefisien litologi, berkisar antara 0.6 dan 2

= Faktor sementasi, berkisar antara 1 dan 3

= Saturasi eksponen, berkisar antara 1.2 2.2

Rw

= Resistivitas air formasi, ohm-m

Rmf

= Resistivitas filtrat lumpur, ohm-m

Ketebalan Formasi
Net pay atau ketebalan formasi adalah ketebalan formasi batuan yang

prosuktif. Simbol biasa digunakan untuk ketebalan formasi adalah h.

Untuk

dapat membedakan net pay atau interval produktif (h) dan non produktif
digunakan beberapa cut off reservoir. Cut off adalah penghilangan beberapa
bagian reservoir yang tidak produktif untuk menentukan ketebalan formasi yang
prosuktif. Secara umum yang dimaksud dengan net pay adalah ketebalan formasi
yang dihitung menggunakan harga cut off Vsh, , dan Sw.
3.11

Perhitungan Cadangan Minyak Secara Volumetrik


Apabila suatu pemboran eksplorasi migas berhasil menemukan adanya

cadangan minyak dan gas di suatu reservoir, penentuan besarnya cadangan migas
tersebut penting untuk diketahui. Hal ini berkaitan dengan kelanjutan
pengembangan terhadap reservoir tersebut, apakah cadangan minyak dan gas
tersebut ekonomis atau tidak untuk diproduksikan.
Salah satu metode yang digunakan untuk menghitung besarnya cadangan
minyak dan gas tersebut adalah dengan menggunakan metode volumetrik. Metode

volumetrik lebih banyak menggunakan data-data geologi dari bawah permukaan


dan parameter petrofisik batuan formasi sehingga dapat menghitung cadangan
migas ditempat.
Metode perhitungan cadangan secara volumetrik membutuhkan peta
cadangan atau reserve map. Peta cadangan tersebut dibuat atas dasar peta struktur
dan peta geologi bawah tanah. Reserve map adalah peta bawah tanah yang
menggambarkan bentuk akumulasi minyak dan gas yang meliputi luas akumulasi
dan penyebaran ketebalan (h) lapisan gas. Dengan bantuan peta tersebut maka
volume batuan yang mengandung hidrokarbon dapat di hitung. Sebelum
mendapatkan nilai dari Original Gas In Place (OGIP) dan Original Oil In Place
(OOIP) terlebih dahulu menghitung nilai dari saturasi air (Sw) rata- rata dan
porositas efektif rata-rata. Berikut adalah persamaan untuk menghitung saturasi
air dan porositas efektif rata-rata.
n

( ei hi)

eff = i=1

hi

..........................................................................................

i=1

(2.16)
n

(Swi ei hi)

Sw = i=1

ei hi
i=1

(2.17)
Dimana:

........................................................................................

ei = Porositas rata-rata, fraksi


hi

= Net pay rata-rata semua umur, meter

Swi

= Saturasi air rata-rata, fraksi


Untuk menghitung cadangan minyak menggunakan metode volumetrik

dibutuhkan data-data seperti porositas, saturasi air, faktor volume formasi minyak,
dan volume batuan. Berikut adalah persamaan untuk menghitung cadangan
minyak secara volumetrik:
OOIP=

7758 Vb (1Sw)
Boi

.........................................................................

.....(2.18)
Dimana:
OOIP = Volume minyak awal ditempat, STB
Vb

= Volume batuan, acre-ft


= Porositas, fraksi

Swi

= Saturasi air formasi awal, fraksi

Boi

= Faktor volume formasi minyak awal, bbl/STB


Berikut adalah persamaan untuk menghitung cadangan gas secara

volumetrik:
OGIP=

43560 Vb (1Sw )
B gi

.......................................................................

......(2.19)
Dimana:
OGIP = Volume gas awal ditempat, SCF

Vb

= Volume batuan, acre-ft


= Porositas, fraksi

Swi

= Saturasi air formasi awal, fraksi

Bgi

= Faktor volume formasi gas awal, cuft/SCF

BAB V
PEMBAHASAN

Interpretasi log pada makalah ini dilakukan dilapangan X pada sumursumur KE23B-1. Litologi pada zona sumur-sumur ini adalah karbonat dengan
didominasi oleh limestone. Interpretasi log dilakukan secara kualitatif dan
kuantitatif. Secara kualitatif adalah melihat bentuk kurva-kurva log untuk
menentukan lapisan permeabel dan isi kandungan batuan serta batas-batas fluida.
Sebelum dilakukan interpretasi log secara kuantitatif terlebih dahulu dilakukan
persiapan data awal, untuk menentukkan sifat fisik batuan seperti, porositas,
porositas efektif, tebal net pay, saturasi air, dan luas area. Pada makalah ini, tiga
data awal yang diteliti adalah porositasn(efektif), tebal net pay, dan saturasi air
yang diperoleh dari interpretasi, pembacaan log dan perhitungan.
Rekaman log yang digunakan untuk interpretasi log pada tulisan ini adalah
GR log dan caliper log yang digunakan untuk menentukan lapisan yang
permeabel dan volume shale. Selain itu, pada tulisan ini juga digunakan
kombinasi antara neutron log dan density log untuk menghitung porositas dan
porositas efektif batuan.
Melalui GR log, dapat dibedakan zona permeabel dan zona impermeabel.
Pengukuran GR log ini didasarkan pada tingkat radioaktivitas suatu batuan. Pada
zona permeabel,pembacaan kurva GR akan memberikan harga yang kecil. Hal
tersebut dikarenakan pada zona permeabel tingakt radioaktivitasnya cenderung

lebih

rendah

dibandingkan

dengan

tingkat

radioaktivitas

pada

lapisan

impermeabel.
Setelah menentukan zona permeabel, kemudian dibaca resistivity log
untuk mengetahui resistivitas batuan dan memperkirakan ada tidaknya kandungan
hidrokarbon. Resistivitas air formasi diperoleh dari analisa air dari laboratorium
atau dapat dengan perhitungan yang berasal dari data log. Resistivitas air formasi
disetiap sumur pada lapangan X berbeda-beda. Resistivitas air ini akan menjadi
referensi untuk resistivitas air dilapisan yang terdapat hidrokarbon. Adapun
resistivitas air formasi tersebut akan digunakan untuk menentukan perhitungan
selanjutnya, sperti saturasi air.
Langkah selanjutnya adalah menghitung kandungan shale, karena
kandungan shale suatu lapisan sangat mempengaruhi porositas efektif dan saturasi
airnya. Oleh karena itu, penentuan volume shale merupakan langkah awal
kegiatan interpretasi log secara kuantitatif, penentuan volume shale pda makalah
ini menggunkan metode GR log. Adanya shale akan menurunkan harga porositas
dan menaikkan saturasi air.
Porositas batuan pada tulisan ini ditentukan ari kombinasi antara kurva
density log dan neutron log. Defleksi kurva neutron log terjadi akibat adanya
jumlah atom hidrogen dalam suatu formasi. Atom hidrogen ini banyak ditemukan
pada lapisan yang mengandung hidrokarbon. Sebaliknya adanya hidrokarbon akan
menurunkan densitas formasi. Karena itu, porositas dari neutron log dan density
log harus dikoreksi terhadap volume shale sehingga didapatkan porositas efektif.
Dengan melakukan kombinasi ini, diharapkan log-log tersebut dapat saling

mengkoreksi kesalahan yang ada. Porositas efektif batuan masing-masing sumur


berkisar antara 15% - 24%.
Untuk menentukan saturasi air pada makalah ini digunakan metode Archie
dan Indonesia. Berdasarkan perhitungan saturasi air dilapangan X berkisar 36% 54%. Untuk perhitungan saturasi air diperlukan data-data seperti, resistivitas
batuan formasi, resistivitas air formasi, volume shale, porositas efektif dan
parameter lain yang mendukung seperti faktor tortuosity (a), faktor sementasi (m),
saturasi eksponen (n), dan resistivitas shale. Pada makalah ini, harga a, m, dan n
menggunakan asumsi yaitu a=1, m=2, n=2 yang digunakan pada semua sumur.
Metode Indonesia dipilih untuk perhitungan saturasi air pada lapisan shally karena
lebih teliti jika dibandingkan dengan metode lain.
Net pay merupakan ketebalan lapisan produktif atau lapisan yang benarbenar mengandung celan sand atau clean carbonat.
Untuk menghitung OOIP dan OGIP secara volumetrik, data yang
dibutuhkan adalah volume batuan reservoir (Vb), porositas efektif, dan saturasi
air. Sedangkan untuk menghitung volume batuanreservoir dibuthkan data net pay
untuk setiap sumur. Harga net pay dari setiap sumur diperoleh dari net pay zone
dengan mempertimbangkan harga cut off. Berdasarkan data boundary yang
diberikan, maka luas area reservoir pada lapangan X adalah 1x106 acre. Faktor
volume formasi minyak merupakan parameter yang diperlukan untuk mengubah
volume minyak dari kondisi reservoir ke kondisi standar permukaan. Faktor
volume formasi gas awal bernilai 0.95 cuft/SCF dan faktor volume formasi
minyak awal bernilai 1.05 bbl/STB. Setelah semua data yang diperlukan

diperoleh, maka dapat langsung dihitung cadangan minyak dan gas awal
(menggunakan software) dilapangan X secara berturut-turut, yaitu 2130 MMSTB
dan 21095 MMSCF.

BAB V
KESIMPULAN

1. Lapangan X merupakan lapangan karbonat yang didominasi oleh limestone.


2. Nilai porositas untuk sumur dimulai dari KE23B-1 adalah 21.7%.
3. Nilai porositas efektif untuk sumur mulai dari KE23B-1 adalah 15.5%.
4. Nilai saturasi air untuk tiap-tiap sumur mulai dari KE23B-1 adalah 54%.
5. Total cadangan gas dan minyak awal dilapangan X pada sumur KE23B-1
yaitu 3700 BSCF dan 596 BSTB.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sumantri, R dan Asri Nugrahanti, Penilaian Formasi I, Calakan Mediatama,


Bogor, 2010.
2. Linggani, Horeb L., Analisa Hasil Logging dan Perhitungan Cadangan pada
Zona Produktif di Lapangan X, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Perminyakan
Trisakti, Jakarta, 2014.

DAFTAR SIMBOL

= Densitas Batuan, gr/cc

= Densitas Fluida, gr/cc

ma

= Densitas Matrix, gr/cc

= Porositas, %

ei

= Porositas Rata-rata, fraksi

= Koefisien Litologi

Bgi

= Faktor Volume Formasi Gas Awal, cuft/STB

Boi

= Faktor Volume Formasi Minyak Awal, bbl/STB

BV

= Volume Total Batuan, cm3

= Faktor Formasi

GRlog

= Pembacaan Log Pada Lapisan Yang Diteliti, API

GRmin

= Pembacaan Log Pada Lapisan Yang Bersih, API

GRmax

= Pembacaan Log Pada Lapisan 100% Shale, API

GV

= Volume Butiran, cm3

= Net Pay, ft

hi

= Net Pay Rata-rata Semua Sumur, ft

= Permeabilitas, darcy

= Faktor Sementasi

= Saturasi Eksponen

OOIP

= Volume Minyak Awal Ditempat, STB

OGIP

= Volume Gas Awal Ditempat, SCF

PV

= Volume Pori, cm3

Rmf

= Resistivitas Air Formasi, ohm-m

Rt

= Resistivitas Batuan Pada Uninvaded Zone, ohm-m

Sw

= Saturasi Air, %

Swi

= Saturasi Air Formasi Awal, fraksi

Vsh

= Volume Shale, fraksi