Anda di halaman 1dari 26

PEMERIKSAAN FISIK PADA NEONATUS

DAN REFLEKS PRIMITIF

Sebelum melakukan pemeriksaan pada BBL perlu diketahui riwayat


keluarga, riwayat kehamilan sekarang dan sebelumnya, dan riwayat persalinan.1
Pemeriksaan bayi perlu dilakukan dalam keadaan telanjang di bawah lampu
yang terang yang berfungsi juga sebagai pemanas untuk mencegah kehilangan
panas. Tangan serta alat yang digunakan untuk pemeriksaan fisis harus bersih dan
hangat. Pemeriksaan fisis pad BBL dilakukan paling kurang tiga kali, yakni (1)
pada saat lahir, (2) pemeriksaan yang dilakukan dalam 24 jam di ruang perawatan,
dan (3) pemeriksaan pada waktu pulang.1,2
Pemeriksaan pertama pada BBL harus dilakukan di kamar bersalin.
Tujuannya adalah:
1. Menilai gangguan adaptasi BBL dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin
yang memerlukan resusitasi.
2. Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera
(misalnya atresia ani, atresia esophagus), trauma lahir.
3. Menentukan apakah BBL tersebut dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung)
atau di tempat perawatan khusus untuk diawasi, atau di ruang intensif, atau
segera dioperasi.1,2
Pemeriksaan kedua harus dilakukan kembali dalam waktu 24 jam, yaitu
sesudah bayi berada di tempat perawatan. Tujuannya adalah agar kelainan yang
luput dari pemeriksaan pertama akan ditemukan pada pemeriksaan ini.1,2
Bayi

tidak boleh dipulangkan sebelum diperiksa kembali pada

pemeriksaan terakhir. Hal ini disebabkan oleh adanya kelainan pada BBL yang
belum menghilang saat dipulangkan (hematoma sefal, ginekomastia, ikterus), atau
mungkin pula adanya bising yang hilang timbul pada masa BBL, atau bayi
1

menderita penyakit yang didapat di rumah sakit seperti aspirasi pneumonia,


infeksi nosokomial dan lain-lain. Yang harus penting dicatat pada pemeriksaan
adalah lingkar kepala, berat, panjang, kelainan fisis yang ditemukan, frekuensi
nafas dan nadi, serta keadaan tali pusat.1,3

A. Pemeriksaan Pada Saat Lahir (di kamar bersalin)


a. Penilaian adaptasi neonatus
Penilaian terhadap adaptasi neonatus dilakukan dengan cara
menghitung nilai Apgar (Apgar Score). Cara ini telah digunakan secara
luas di seluruh dunia. Kriteria yang dinilai adalah (1) laju jantung, (2)
usaha bernafas, (3) tonus otot, (4) reflex terhadap rangsangan, dan (5)
warna kulit. Setiap kriteria diberi nilai 0, 1, atau 2 sehingga neonatus dapat
memperoleh nilai 0-10.2
Tabel 1. Nilai Apgar
Tanda

Laju Jantung

Tidak ada

<100

100

Usaha Bernapas

Tidak ada

Lambat

Menangis kuat

Tonus Otot

Lumpuh

Refleks

Tidak bereaksi

Gerakan sedikit

Reaksi melawan

Seluruh tubuh

Tubuh kemerahan,

Seluruh tubuh

biru/pucat

ekstremitas biru

kemerahan

Warna Kulit

Ekstremitas fleksi
sedikit

Gerakan aktif

Dikutip dari: Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama Cetakan Kedua. Jakarta

Penilaian ini dilakukan pada menit pertama setelah lahir yang


memberikan petunjuk adaptasi neonatal. Neonatus yang beradaptasi
dengan baik mempunyai nilai Apgar antara 7 sampai 10. Nilai 4 sampai 6
menunjukkan keadaan asfiksia ringan sampai sedang, sedangkan nilai 0-3
menunjukkan derajat asfiksia yang berat.2,4

Penilaian Apgar ini perlu diulangi setelah 5 menit untuk


mengevaluasi apakah tindakan resusitasi kita sudah adekuat. Bila belum,
perlu dilakukan pemeriksaan penunjang lain. Nilai Apgar 5 menit ini
mempunyai nilai prognostik oleh karena berhubungan dengan morbiditas
neonatal.2,4,5
b. Mencari kelainan kongenital
Pada anamnesis perlu ditanyakan apakah ibu menggunakan obatobat teratogenik, terkena radiasi, atau infeksi virus pada trimester pertama.
Juga ditanyakan apakah ada kelainan bawaan pada keluarga. Di samping
itu, perlu diketahui apakah ibu menderita penyakit yang dapat
mengganggu pertumbuhan janin, seperti misalnya diabetes mellitus, asma
bronkial, dan sebagainya. Sebelum memeriksa bayi perlu diperiksa cairan
amnion, tali pusat, dan plasenta.1,2
1. Cairan amnion
Pada pemeriksaan cairan amnion perlu diukur volume. Bila
volumenya lebih dari 2000 ml disebut polihidramnion atau hidramnion
saja, apabila kurang dari 500 ml disebut sebagai oligohidramnion.2
Hidramnion sering dihubungkan dengan obstruksi traktus intestinal
bagian atas, anensefalus, bayi dari ibu diabetes atau eklampsi,
sedangkan oligohidramnion dihubungkan dengan agenesis ginjal
bilateral atau sindrom Potter.1,4
2. Plasenta
Pada pemeriksaan plasenta, plasenta perlu ditimbang dan
perhatikan apakah ada perkapuran, nekrosis, dan sebagainya. Pada bayi
kembar harus diteliti apakah terdapat satu atau dua korion (untuk
menentukan kembar identik atau tidak). Juga perlu diperhatikan
adanya anastomosis vaskular antara kedua amnion, bila ada perlu
dipikirkan kemungkinan terjadi transfusi feto-fetal.1,4
3. Tali pusat

Pada pemeriksaan tali pusat perlu diperhatikan kesegarannya, ada


tidaknya simpul, dan apakah terdapat dua arteri dan satu vena. Kurang
lebih 1% dari BBL hanya mempunyai satu arteri umbilikalis dan 15%
daripadanya mempunyai satu atau lebih kelainan kongenital terutama
pada

sistem

pencernaan,

urogenital,

respiratorik,

atau

kardiovaskuler.1,2,5
Setelah pemeriksaan cairan amnion, plasenta dan tali pusat
kemudian

dilakukan

pemeriksaan

bayi

secara

cepat

tetapi

menyeluruh.4,5
c. Berat lahir dan masa kehamilan
Kejadian kelainan kongenital pada bayi kurang bulan adalah 2 kali
lebih banyak dibanding pada bayi cukup bulan, dan pada bayi kecil untuk
masa kehamilan kejadian kelainan kongenital tersebut sampai 10 kali lebih
besar.1,3
d. Mulut
Pada pemeriksaan mulut perhatikan apakah terdapat labio-gnatopalatoskisis, harus diperhatikan juga apakah terdapat hipersalivasi yang
mungkin disebabkan oleh adanya atresia esophagus. Pemeriksaan patensi
esophagus dilakukan dengan cara memasukkan kateter di dalam lambung,
setelah kateter di dalam lambung, masukkan 5-10 mL udara dan dengan
stetoskop akan terdengar bunyi udara masuk ke dalam lambung. Dengan
demikian akan tersingkir atresia esophagus. Kemudian cairan amnion di
dalam lambung diaspirasi. Bila terdapat cairan melebihi 30 mL pikirkan
kemungkinan atresia usus bagian atas. Pemeriksaan patensi esophagus
dianjurkan pada setiap bayi yang kecil untuk masa kehamilan, aretri
umbulikalis hanya satu, polihidramnion, atau hipersalivasi.1,2,5
Pada pemeriksaan mulut perhatikan juga terdapatnya hypoplasia otot
depressor anguli oris. Pada keadaan ini terlihat asimetris wajah apabila
bayi menangis, sudut mulut dan mandibula akan tertarik ke bawah dan
garis nasolabialis akan kurang tampak pada daerah yang sehat (sebaliknya
4

pada paresis N. Fasialis). Pada 20% keadaan seperti ini dapat ditemukan
kelainan kongenital berupa kelainan kardiovaskular dan dislokasi panggul
kongenital.1,6
e. Anus
Perhatikan adanya anus imperforatus dengan memasukkan termometer
ke dalam anus. Walaupun seringkali atresia yang tinggi tidak dapat
dideteksi dengan cara ini, Bila ada atresia perhatikan apakah ada fistula
rekto-vaginal.1,2,4
f. Kelainan pada garis tengah
Perlu dicari kelainan pada garis tengah berupa spina bifida,
meningomielokel, sinus pilonidalis, ambigus genitalia, eksomfalos, dan
lain-lain.1,2
g. Jenis kelamin
Biasanya orang tua ingin segera mengetahui jenis kelamin anaknya.
Bila terdapat keraguan misalnya pembesaran klitoris pada bayi perempuan
atau terdapatnya hipospadia atau epispadia pada bayi lelaki, sebaiknya
pemberitahuan jenis kelamin ditunda sampai dilakukan pemeriksaan lain
seperti pemeriksaan kromosom.1,2,6

B. Pemeriksaan Di Ruang Gawat


Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam waktu 24 jam untuk mendeteksi
kelainan yang mungkin terabaikan pada pemeriksaan di kamar bersalin.
Pemeriksaan ini meliputi:3,5,7
a.

Warna kulit
Warna kulit neonatus normal adalah kemerahan, kadang-kadang
terlihat sianosis pada ujung-ujung jari pada hari pertama. Bila terdapat
sianosis pada seluruh tubuh pikirkan kemungkinan kelainan jantung
bawaan sianotik atau methemoglobimemia. Warna kulit yang pucat
5

terdapat pada anemia berat atau asfiksia palida. Plethora tampak pada
polisitemia.2,5
Warna kulit yang kuning disebabkan oleh kadar bilirubin yang tinggi
dalam serum darah, atau pewarnaan oleh mekonium. Kenaikan kadar
bilirubin indirek memberi warna kuning-jingga sedang penumpukan
bilirubin direk memberikan warna kuning kehijauan. Pada neonatus yang
berkulit gelap, ikterus sebaiknya diperiksa pada mukosa. Pada orang kulit
berwarna, dalam keadaan normal dapat terlihat warna kebiruan pada
punggung dan bokong yang disebut Mongolian Spots.2,5
b.

Aktivitas fisik
Keaktifan BBl dinilai dengan melihat posisi dan gerakan tungkai dan
lengan, Pada BBL cukup bulan yang sehat, ekstremitas berada dalam
keadaan fleksi, dengan gerakan tungkai serta lengan aktif dan simetris.
Bila ada asimetris pikirkan terdapatnya kelumpuhan atau patah tulang.
Aktivitas fisik mungkin saja tidak tampak pada BBL yang sedang tidur
atau lemah karena sakit atau pengaruh obat. Bayi yang berbaring tanpa
bergerak mungkin juga disebabkan oleh tenaga yang habis dipakai untuk
mengatasi kesulitan bernafas atau tangis yang melelahkan. Gerakan kasar
atau halus (tremor) yang disertai klonus pergelangan kaki atau rahang
sering ditemukan pad BBL, keadaan ini tidak berarti apa-apa.1,4

c.

Tangisan bayi
Tangisan bayi dapat memberikan keterangan tentang keadaan bayi.
Tangisan melengking ditemukan pada bayi dengan kelainan neurologis,
sedangkan tangisan yang lemah atau merintih terdapat pada bayi dengan
kesulitan pernapasan.1,2,5,6

d.

Wajah BBL
Wajah BBL dapat menunjukkan kelainan yang khas, misalnya sindrom
Down, sindrom Pierre-Robin, sindrom de Lange, dan sebagainya. 1

e.

Keadaan gizi
Diniai dari berat dan panjang badan, disesuaikan dengan masa
kehamilan, tebal lapisan subkutis serta kerutan pada kulit. Edema pada
bayi dapat memberi kesan bayi dalam status gizi baik karena kulitnya
halus dan licin. Pada penekanan kulit mungkin terjadi lekukan dan
mungkin juga tidak, tetapi lipatan halus pada buku jari kaki dan tangan
akan berkurang bila berisi cairan atau edema.1,5

f.

Pemeriksaan suhu
Suhu tubuh BBL diukur dari aksila. Suhu BBL normal Antara 36,537,50C. Suhu meninggi dapat ditemukan pada dehidrasi, gangguan
serebral, infeksi atau kenaikan suhu lingkungan. Kenaikan suhu merata
biasanya disebabkan oeh kenaikan suhu lingkungan. Apabila ekstremitas
dingin dan tubuh panas kemungkinan besar disebabkan oleh sepsis, perlu
diingat bahwa infeksi/sepsis pada BBL dapat saja tidak disertai dengan
kenaikan suhu tubuh, bahkan sering terjadi hipotermi.1,2,7

C. Pemeriksaan Lanjutan
a. Kulit
Kerapuhan sistem vasomotorik dan lambatnya sirkulasi perifer akan
menampilkan bayi yang berwarna merah sekali atau merah kebiruan pada
waktu menangis. Warnanya akan lebih gelap bila bayi menangis kuat
dengan glottis tertutup. Akrosianosis terdapat pada bayi yang kedinginan.
Tanda umum gangguan sirkulasi lainnya adalah kulit yang seperti marmer
(cutis marmorata/mottling), hal ini mungkin berhubungan dengan penyakit
berat atau flutuasi suhu yang sementara. Perbedaan warna merah antara
setengah tubuh bayi dengan warna pucat pada setengah bagian tubuh
lainnya, disebut perubahan warna Harlequin. Perubahan ini hanya bersifat
sementara dan tidak berbahaya, penyebabnya belum diketahui. Sianosis
pada bayi yang pucat karena sirkulasi buruk tidak tampak dengan jelas.
Hemoglobin yang relatif tinggi pada hari pertama disertai dengan kulit
7

tipis dan saturasi oksigen cukup akan menampakkan bayi yang sianotik.
Sianosis setempat bila ditekan akan pucat, keadaan ini membedakannya
dengan ekimosis. Cara yang sama dapat pula dipakai untuk melihat ikterus
dan tempat yang paling baik adalah di puncak hidung atau dahi. Kulit bayi
lebih bulan cenderung lebih pucat dari bayi cukup bulan atau bayi
prematur.1,5,6
Pada saat lahir seluruh tubuh bayi dilapisi oleh zat seperti lemak yang
berwarna putih kotor yang disebut verniks kaseosa. Zat ini mulai
diekskresi oleh kelenjar keringat janin pada masa gestasi 20 minggu.
Makin tua masa gestasi, makin tebal lapisan lemaknya dan akan menipis
pada bayi lebih bulan.1 Tebal jaringan subkutan pada neonatus cukup bulan
adalah sekitar 0,25 sampai 0,5 cm. 2,6 Verniks ini dapat menghilang sendriri
beberapa hari sesudah lahir. Zat ini tidak larut dalam air, fungsinya untuk
menjaga suhu tubuh janin dan mencegah infeksi di dalam uterus. Di luar
kandungan verniks ini dapat menjaga suhu tubuh. Bayi dibersihkan dengan
kapas dan minyak kelapa yang steril kemudian disabun dan dimandikan.
Memandikan bayi sebaiknya setelah suhu stabil.1,7
Bayi dengan anoksia akan mengeluarkan meconium ke cairan amnion.
Akibatnya verniks, kulit, kuku, dan tali pusat berwarna kuning kecoklatcoklatan dan disebut pewarnaan mekonium (meconium staining).1
Lanugo adalah rambut imatur yang halus, lunak dan sering menutupi
kulit kepala, dahi dan muka. Lanugo akan menghilang dan diganti oleh
rambut biasa. Seberkas rambut di daerah lumbosacral menunjukkan
adanya kelainan di daerah tersebut seperti spina bifida okulta, sinus tract,
atau tumor.1 Perhatikan terdapatnya petekie atau ekimosis yang dapat
disebabkan trauma lahir atau oleh sepsis, penyakit perdarahan, atau
trombositopenia.2
Turgor kulit yang jelek atau kulit yang keriput menandakan
terdapatnya dehidrasi atau gizi yang buruk. Pada lebih kurang 40%
neonatus cukup bulan, di kulit hidung dan pipi terlihat bintik-bintik putih

kekuningan yang disebut milia, yaitu kista epidermal yang berisi materi
keratin, yang biasanya menghilang dalam beberapa minggu.2
Kuku bayi yang sangat prematur belum sempurna (rudimeter).
Sebaliknya, kuku bayi lebih bulan akan lebih panjang dari ujung jari.1,6
b. Kepala
Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala
tumpang tindih karena molding. Keadaan ini akan normal kembali setelah
beberapa hari sehingga ubun-ubun besar dan kecil mudah diraba. 2,5 Bayi
yang lahir melalui vagina (terutama anak pertama atau kepala bayi terlalu
lama di ruang panggul) akan mengalami perubahan bentuk kepala. Letak
tulang parietal cenderung sedikit di atas tulang oksipital dan tulang forntal.
Kepala bayi yang letak sungsang atau lahir dengan bedah kaisar biasanya
bulat. Garis sutura, ukuran, dan tekanan fontanel anterior dan posterior
harus diperiksa dengan jari. Ukuran fontanel anterior bervariasi, maksimal
3x3 cm. Fontanel yang tegang menandakan peningkatan tekanan
intracranial seperti pada edema otak, hidrosefalus, atau meningitis.
Fontanel posterior biasanya masih terbuka, dengan ukuran seujung jari.1,3,4
Perhatikan juga trauma lahir pada kepala berupa:1,6,7
1. Kaput suksedaneum adalah edema pada kulit kepala, lunak tidak
berfluktuasi, batasnya tidak tegas dan menyeberangi sutura, dan akan
hilang dalam beberapa hari.
2. Hematoma sefal tidak tampak pada hari pertama karena tertutup oleh
kaput

suksedaneum.

Konsistensi

hematoma

sefal

ini

lunak,

berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi tulang tengkorak, jadi tidak


menyeberangi sutural. Hematoma sefal akan mengalami kalsifikasi
setelah beberapa hari, dan akan menghilang sempurna dalam waktu 26 bulan.
3. Bila hematoma sefal menyeberangi sutura berarti terdapat fraktur
tulang tengkorak.

4. Perdarahan subaponeurotik terjadi oleh karena pecahnya vena yang


menghubungkan jaringan di luar dengan sinus-sinus di tengkorak.
Perdarahan ini dapat terjadi pada tiap persalinan yang diakhiri dengan
alat.
c. Wajah
Wajah yang tidak simetris mungkin disebabkan oleh kelumpuhan saraf
ke-7, hipolpasia otot depressor sudut mulut, atau posisi janin yang tidak
normal. Bila rahang janin terletak di atas bahu atas di atas salah satu
ekstremitas selama hamil, maka mandibular akan ada jauh dari garis
tengah. Tulang tengkorak bayi prematur tampak seperti hidrosefalus oleh
karena pertumbuhan otak relatif lebih besar dari pertumbuhan organ
lainnya.1,8
d. Mata
Pemeriksaan mata neonatus seringkali sulit dilakukan karena biasanya
matanya tertutup. Dengan menggoyangkan kepalanya secara perlahanlahan mata neonatus akan terbuka sehingga dapat diperiksa. Mikroftalmia
kongenital dapat ditemukan dengan cara inspeksi dan palpasi. Glaukoma
kongenital mulanya terlihat sebagai pembesaran, kemudian sebagai
kekeruhan kornea. Katarak kongenital dapat mudah terlihat sebagai pupil
yang berwarna putih. Trauma pada mata terlihat sebagai edema palpebral,
perdarahan konjungtiva atau retina. Perhatikanlah adanya sekret mata.
Konjungtivitis oleh kuman gonokok dapat cepat menjadi panoftalmia dan
menyebabkan buta.2,5
e. Telinga
Perhatikan

bentuk,

ukuran,

dan

posisi

telinga,

dan

rasakan

kartilagonya. Pada BBL cukup bulan telah cukup berbentuk tulang rawan
sehingga bentuk telinga dapat dipertahankan. Daun telinga yang letaknya
rendah (low-set ears), yaitu yang batas atasnya berada di lebih rendah dari
kantus lateral mata, terdapat pada BBL dengan sindrom tertentu antara lain
sindrom Pierre-Robin. Pada telinga kadangkala ditemukan daun telinga
10

yang terlipat, dan biasanya pulih dengan sendirinya dalam 1 minggu


pertama.1,2
f. Hidung
Perlu diamati bentuk hidung dan lebar jembatannya (nasal bridge).
Jika tampak lebar, ukurlah jarak antara kantus medial mata. Jarak tersebut
tidak boleh lebih dari 2,5 cm pada BBL cukup bulan. Hidung dapat tampak
pesek karena tekanan yang dialami di intrauterine.1,2,7
BBL bernapas dengan hidung. Apabila ia bernafas dengan mulut, maka
harus dipikirkan kemungkinan terdapatnya obstruksi jalan napas oleh
karena atresia koana bilateral atau fraktur tulang hidung atau ensefalokel
yang menonjol ke nasofaring.1,8
g. Mulut
Pemeriksaan mulut dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Dengan
inspeksi dapat dilihat adanya labio dan gnatosikis, adanya gigi atau ranula,
yaitu kista lunak yang berasal dari dasar mulut. Perhatikan lidah apakah
membesar seperti pada sindrom Beckwith atau selalu bergerak seperti
sindrom Down. BBL dengan edema otak atau tekanan intrakranial
meninggi seringkali lidahnya keluar masuk (tanda Foote). Secara palpasi
dapat dideteksi terdapatnya high arch palate, palatoskisis, dan baik atau
tidaknya refleks isap.1
Sebelum bayi berumur 2 bulan saliva bayi sedikit. Bila terdapat
hipersaliva pada BBL perlu dipikirkan kemungkinan atresia esofagus
dengan atau tanpa fistula trakeo-esofagus.1,7
Palatum lunak dan keras harus diperiksa untuk melihat celah atau
tingginya lengkung palatum. Pada palatum keras kadang-kadang
ditemukan tumpukan sel epitel yang disebut mutiara Epstein (Epstein
pearls); kista retensi yang gambarannya sama tampak pula di gusi.
Keduanya menghilang dalam beberapa minggu. Sekelompok folikel kecilkecil yang berwarna putih atau kuning pada dasar eritema sering

11

ditemukan pada tonsil anterior bayi yang berumur 2-3 hari, sebabnya tidak
diketahui, akan menghilang tanpa pengobatan dalam 2-4 hari.1,5
h. Leher
Leher BBL tampak pendek akan tetapi pergerakannya baik. Apabila
terdapat keterbatasan pergerakan perlu dipikirkan kelainan tulang leher.
Tumor di daerah leher seperti tiroid, hemangioma, higroma kistik, selain
merupakan masalah sendiri dapat juga menekan trakea sehingga
memerlukan tindakan segera.1,2
Trauma leher dapat terjadi pada persalinan yang sulit. Trauma leher ini
dapat menyebabkan kerusakan pleksus brakialis sehingga terjadi paresis
pada tangan, lengan atau diafragma. Dapat terjadi perdarahan M.
Sternokleidomastoideus yang apabila tidak ditangani dengan baik dapat
menyebabkan tortikolis. Perhatikan pula adanya webbed neck yang
terdapat pada beberapa kelainan congenital antara lain sindrom Turner.
Kedua klavikula harus diperiksa untuk melihat fraktur.1,3,8
i. Dada
Dada BBL berbentuk seperti tong. Pektus ekskavatum atau karinatum
sering membuat orang tua khawatir, padahal biasanya tidak mempunyai
arti klinis. Pada respirasi normal, dinding dada bergerak bersama dengan
dinding perut. Apabila terdapat gangguan pernafasan, terlihat pernafasan
yang paradoksal dan retraksi pada inspirasi. Gerakan dinding dada harus
simetris. Bila tidak, pikirkan kemungkinan pneumothoraks, paresis
diafragma atau hernia diafragmatika.1,5
j. Payudara
Kelenjar payudara BBL baik pada wanita atau lelaki oleh karena
pengaruh hormon ibu kadangkala tampak membesar dan sering kali
disertai sekresi air susu. Keadaan ini tidak perlu dikhawatirkan kecuali
terdapat tanda-tanda peradangan. 1,8
k. Paru
12

Frekuensi nafas yang normal pada BBL adalah 40-60 kali per menit.
BBL dengan frekuensi nafas yang terus menerus di atas 60 kali per menit
perlu diamati lebih teliti untuk kemungkinan adanya kelainan paru,
jantung, atau metabolik. Fluktuasi frekuensi nafas tergantung dari aktivitas
fisis, menangis, tidur, atau bangun. Karena fluktuasinya cepat maka
frekuensi nafas BBL harus dihitung dalam satu menit penuh dan kalau
mungkin dihitung saat bayi tidur atau dalam keadaan tenang oleh karena
sering terdapat periodic breathing, yaitu henti nafas yang berlangsung 510 detik di antara pola pernafasan yang regular. Serangan apnea yang
sebenarnya biasanya lebih lama dari 20 detik dan sangat jarang terjadi
pada BBl cukup bulan.4,7 Amati pola pernafasan. Jika bayi tenang, dalam
keadaan normal tidak dijumpai pernafasan cuping hidung, merintih
ataupun retraksi dada. Sebagian bayi, khususnya bayi prematur, saat
menangis dapat menunjukkan retraksi sentral atau subkostal ringan. Nafas
yang tersendat-sendat dan tidak teratur (irregular gasping) yang kadangkadang diikuti oleh gerakan spasme mulut dan dagu menunjukkan
gangguan pusat pernafasan yang berat.1,4,7
Semua bayi baru lahir bernafas dengan diafragma, sehingga pada
waktu inspirasi bagian dada tertarik ke dalam dan pada saat yang sama
perut bayi membuncit. Bila bayi dalam keadaan relaksasi, tenang dan
warna kulitnya baik, maka vantilasinya baik. Sebaliknya pernafasan yang
berat (labored respiration) menandakan ventilasi paru yang abnormal,
pneumonia, cacat bawaan, atau gangguan mekanis lainnya di paru.
Kesukaran bernafas yang disebabkan oleh terlalu banyak atau terlalu
sedikit udara di paru dapat menyebabkan jaringan intrakostal tertarik ke
dalam. Oleh karena itu, untuk membedakan atelektasis dan emfisema
harus dinilai bentuk dan ukuran dada, perkusi, dan pemeriksaan rontgen.1,6

Tabel 2. Evaluasi gawat nafas dengan skor Downes.

13

Skor

Pemeriksaan

Frekuensi nafas

<60/menit

60-80/menit

>80/menit

Retraksi

Tidak ada retraksi

Retraksi ringan

Retraksi berat

Sianosis

Tidak ada sianosis

Air entry

Udara masuk

Merintih

Tidak merintih

Sianosis hilang
dengan O2

Sianosis menetap
walaupun diberi
O2

Penurunan ringan

Tidak ada udara

udara masuk

masuk

Dapat didengar

Dapat didengar

dengan stetoskop

tanpa alat bantu

Evaluasi
Total

Diagnosis

1-3

Sesak nafas ringan

4-5

Sesak nafas sedang

Sesak nafas berat

Dikutip dari: Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama Cetakan Kedua. Jakarta
l.

Kardiovaskular
Denyut nadi bervariasi dari 90/menit saat bayi tidur tenang sampai
180/menit selama aktivitas. Frekuensi senyut nadi yang tetap tinggi pada
takikardia paroksimal lebih baik dihitung dengan elektrokardiogram
daripada dengan telinga. Denyut jantung bayi prematur yang tenang
berkisar antara 140-150/menit. Nadi di kaki dan di tangan harus diperiksa
pada waktu lahir dan saat dipulangkan.1,6,9
Pulsasi yang lemah di semua ekstremitas menandakan curah jantung
buruk atau vasokontriksi perifer. Pulsasi femoral yang melemah atau tidak
ada mengarahkan dugaan pada lesi jantung ductal-dependent seperti
koarktasio aorta. Palpasi dan auskultasi mampu menunjukkan pergeseran
letak jantung seperti pada dekstrokardia.1,4

14

Sekitar 60% dari BBL normal memiliki bising sistolik pada usia 2 jam,
tetapi persentase ini berkurang sampai 1% pada pemeriksaan rutin bayi.
Sebaliknya, bising pada cacat jantung bawaan mungkin baru dapat
didengar beberapa hari kemudian. Diperkirakan hanya 1 dari 12 cacat
jantung bawaan yang bisingnya dapat didengar pada masa BBL dini.
Dugaan cacat jantung bawaan harus diikuti dengan pemeriksaan
radiologik, elektrokardiogram dan ekokardiogram. Karena itu perlu
dicermati bahwa pada BBL, bising tidak selalu menunjukkan adanya
kelainan jantung. Demikian pula sebaliknya, tidak adanya bising bukan
memastikan jantungnya normal.1,3
m. Abdomen
Dinding perut abdomen lebih datar daripada dinding dadanya. Bila
perut

sangat

cekung,

pikirkan

kemungkinan

terdapatnya

hernia

diafragmatika. Abdomen yang membuncit mungkin disebabkan hepatosplenomegali atau tumor lainnya ataupun cairan didalam rongga perut, bila
perut bayi kembung harus diteliti kemungkinan enterokolitis nekrorikans,
perforasi usus atau ileus. Omfalokel perlu dibedakan dari gastroskisis,
yaitu kegagalan dinding perut untuk menutup akibat defek pada muskulus
rektus abdominis.2,9
Hati biasanya teraba 2 sampai 3 cm dibawah arkus costae kanan.
Limpa juga sering teraba 1 cm di bawah arkus costae kiri, karena masih
terjadi hematopoiesis ekstramedular. Kadang-kadang hati dan limpa
sedemikian besarnya sehingga batas bawahnya berada di abdomen bagian
bawah, misalnya pada eritroblastosis fetalis. Dengan palpasi yang dalam
ginjal; dapat diraba apabila posisi bayi telentang dan tungkai bayi dilipat
agar otot-otot dinding perut dalam keadaan relaksasi. Batas bawah ginjal
dapat diraba setinggi umbilicus di antara garis tengah dan tepi perut.
Biasanya ginjal dapat diraba sekitar 2-3 cm. Pembesaran ginjal dapat
disebabkan oleh neoplasma, kelainan bawaan atau thrombosis vena
renalis. Trauma pada abdomen oleh karena kelahiran yang sukar, misalnya

15

pada letak sungsang, dapat mengakibatkan perdarahan hati, limpa, atau


kelenjar adrenal.2,9
n. Genitalia eksterna
Pada bayi perempuan cukup bulan labia minora tertutup oleh labia
mayora, dan ini adalah salah satu kriteria untuk menilai usia kehamilan
neonatus. Lubang uretra terpisah dari lubang vagina; bila hanya terdapat
satu lubang berarti ada kelainan. Kadang-kadang tampak sekret yang
berdarah dari vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu
(withdrawal bleeding).2,6,7
Pada bayi lelaki sering terdapat fimosis. Ukuran penis bayi berkisar
antara 3-4 cm (panjang) dan 1-1,3 cm (lebar). Hipospadia adalah kelainan
yang tidak jarang ditemukan, yang dapat berupa defek di bagian ventral
ujung penis saja atau berupa defek sepanjang penisnya. Epispadia yaitu
defek pada dorsum penis yang lebih jarang ditemukan, dan merupakan
varian ekstrofia kandung kencing.2,7
Scrotum bayi biasanya besar dan mempunyai banyak rugae. Hidrokel
seringkali ditemukan dan harus dibedakan dari hernia inguinalis. Testis
biasanya sudah turun ke dalam scrotum pada bayi cukup bulan; pada bayi
kurang bulan tidak jarang terdapat kriptorkismus (testis yang belum turun
ke dalam kantong skrotum). Torsi testis dapat terjadi in utero dan dapat
dilihat pada saat lahir berupa testis yang membesar dan keras.2,7
o. Anus
Pemeriksaan anus bukan hanya untuk mengetahui ada atau tidaknya
atresia ani, melainkan juga untuk mengetahui posisinya. Kadang-kadang
fistula yang besar dapat dianggap sebagai anus yang normal tetapi apabila
diperhatikan benar-benar maka akan terlihat bahwa fistula terletak di
depan atau dibelakang anus yang normal.2,8
Pengeluaran mekonium biasanya terjadi dalam 24 jam pertama. Bila
setelah 48 jam belum juga keluar mekonium, perlu dipikirkan

16

kemungkinan mekonium plug syndrome, megakolon, atau obstruksi


saluran pencernaan. Mekonium yang keluar in utero pada bayi yang letak
kepala adalah salah satu tanda gawat janin. Bila terdapat darah dalam
mekonium perlu dibedakan apakah darah berasal dari bayi atau dari darah
ibu yang tertelan. Cara membedakannya dengan uji Apt yaitu dengan
meneteskan basa kuat (NaOH atau KOH); darah ibu akan mengalami
hemolisis sedangkan darah bayi tidak oleh karena darah neonatus resisten
terhadap alkali.1,10

D. Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis pada neonatus seharusnya dilakukan pada semua
bayi, baik yang sehat maupun sakit. Pada nayi sehat dilakukan pemeriksaan
neurologis untuk meyakinkan orangtua, bahwa bayinya benar-benar tidak
menderita kelainan neurologis. Pada bayi sakit pemeriksaan neurologis untuk
menentukan diagnosis, pengobatan, dan prognosis.2,9
a. Refleks Rooting dan Sucking
Pada pasien yang sudah bangun harus diusahakan agar tetap bangun
selama pemeriksaan saraf otak dengan jalan memberi kesempatan kepada
pasien untuk mengisap. Refleks Rooting diperiksa dengan menyentuhkan
ujung jari di sudut mulut pasien, maka pasien akan menengok ke arah
rangsangan dan berusaha memasukkan ujung jari tersebut ke mulutnya,
kalau ujung jari dimasukkan ke dalam mulutnya 3 cm akan diisap, dan
disebut sucking reflex (refleks isap). Pemeriksaan refleks rooting dan
refleks isap dilakukan untuk menentukan kelainan saraf V, VII dan XII.
Reaksi refleks rooting sempurna terjadi pada bayi dengan umur kehamilan
32 minggu atau lebih, pada umur kehamilan 28 minggu reaksinya lambat
dan tidak sempurna. Pemeriksaan refleks rooting reaksinya tidak selalu
konstan, kalau hanya diperiksa sekali pada hari pertama hasilnya negatif
belum tentu abnormal.2,5,10
b. Refleks Moro
17

Ini adalah suatu reaksi kejutan dengan menimbulkan perasaan jatuh


pada bayi. Bayi dalam posisi telentang, kemudian kepalanya dibiarkan
jatuh dengan cepat beberapa sentimeter dengan hati-hati ke tangan
pemeriksa. Reaksinya bayi akan kaget, lengan direntangkan dalam posisi
abduksi ekstensi, dan tangan terbuka disusul dengan gerakan lengan
adduksi dan fleksi. Pada bayi prematur, setelah ia merentangkan lengan
tidak selalu diikuti oleh gerakan fleksi. Gerakan tungkai bukan merupakan
bagian yang khas untuk refleks Moro. Kalau tidak ada reaksi
merentangkan lengan sama sekali berarti abnormal, demikian pula kalau
rentangan lengan asimetris.2,4,6
c. Refleks Tonic Neck
Bayi diletakkan dalam posisi telentang, kepala di garis tengah dan
anggota gerak dalam posisi fleksi, kemudian kepala ditengokkan ke kanan,
maka akan terjadi ekstensi pada anggota gerak sebelah kanan, dan fleksi
pada anggota gerak sebelah kiri. Yang selalu terjadi adalah ekstensi lengan,
sedangkan tungkai tidak selalu ekstensi, dan fleksi anggota gerak
kontralateral juga tidak selalu terjadi. Setelah selesai ganti kepala
dipalingkan ke kiri. Tonus ekstensor meninggi pada anggota gerak arah
muka berpaling. Tonus fleksot anggota gerak kontralateral meninggi.2,6
d. Refleks Withdrawal
Pemeriksaan dilakukan dengan jarum untuk merangsang telapak kaki,
maka akan terjadi fleksi pada tungkai yang dirangsang dan terjadi ekstensi
pada tungkai kontralateral, tetapi ekstensi tungkai kontralateral ini tidak
selalu ada.2,5

e. Refleks Plantar Grasp


Refleks ini dilakukan dengan meletakkan sesuatu (misalnya jari
pemeriksa) pada telapak kaki pasien, maka akan terjadi fleksi jari-jari
kaki.2,6

18

f. Refleks Palmar Grasp


Pemeriksaan dilakukan dengan meletakkan sesuatu pada telapak
tangan pasien, maka akan terjadi fleksi jari-jari tangan.2,6

E. Pemeriksaan Usia Kehamilan


Usia kehamilan BBL dapat dinilai dengan beberapa cara, termasuk dengan
menghitungnya dari hari pertama haid terkhir sampai saat kelahiran, atau
dengan cara ultrasonografi.1
Mengetahui usia kehamilan dan keadaan gizi BBL sangat penting untuk
dapat mengkategorikan BBL apakah cukup bulan, atau lebih bulan dan apakah
sesuai, lebih kecil, atau lebih besar untuk usia kehamilannya.1

F. Pemeriksaan Pada Waktu Memulangkan


Pada waktu memulangkan dilakukan lagi pemeriksaan untuk meyakinkan
bahwa tidak ada kelainan kongenital atau kelainan akibat trauma yang
terlewatkan. Perlu diperhatikan:8,9
1. Susunan saraf pusat: aktivitas bayi, ketegangan ubun-ubun
2. Kulit: adanya ikterus, piodermia
3. Jantung: adanya bising yang baru timbul kemudian
4. Abdomen: adanya tumor yang tidak terdeteksi sebelumnya
5. Tali pusat: adanya infeksi
6. Di samping itu perlu diperhatikan apakah bayi sudah pandai menyusu dan
ibu sudah mengerti cara pemberian ASI yang benar.

19

STATUS PERINATOLOGI

Nama lengkap bayi

: By. Mimi

Umur

: jam

Lk./Pr

Nama Ibu

: Mimi

Nama Ayah

: Wel Trismen

20

MR

: 100887

Tanggal Lahir/Jam

Alamat

: Koto Baru

Tanggal Masuk/Jam :
Keluarga

Umur

Ibu

Ayah

29

30

Pendidikan

D3 Kebidanan

SMA

Pekerjaan

PNS

Wiraswasta

Perkawinan ke
Anamnesa

Keluhan Utama

: Bayi lahir dengan indikasi panggul sempit

Riwayat Penyakit Sekarang :


-

A/S : 7/8

Ketuban jernih, tali pusat segar

Menangis kuat

Riwayat Kehamilan Sekarang:


-

Antenatal Care

: Kontrol ke bidan pada usia


Kehamilan bulan ke 3, 5 dan 7

Penyakit Selama Hamil

:-

Komplikasi Kehamilan

:-

Kebiasaan Ibu Waktu Hamil :


-

Makanan

:-

Obat-obatan

:-

Merokok/Jamu

:-

21

Riwayat Persalinan

BB Ibu

: kg

Jenis Persalinan

: Sectio Caesar

Indikasi Persalinan

: Bekas Sectio Caesar

Pemimpin Persalinan

: Dokter

IDENTITAS BAYI

BBL

: 3.440 gr

PB

: 52 cm

Warna Kulit

: Kemerahan

Tali Pusat

: Segar

Anus

:+

Apgar Score : 6/7


Kelahiran : Tunggal/Multiple

Ketuban

: Jernih/Kehijauan/Keruh
Bau/Tidak

Pemeriksaan Fisik
Kesan Umum

Kepala

Mata

Keadaan Umum

: Aktif/Letargi

Frekuensi Jantung

: 129 x/menit

Frekuensi Nafas

: 56 x/menit

: Bentuk

: Bulat

Ubun-ubun besar 3 x 2 cm

Jejas Persalinan : -

Ubun-ubun kecil 1x1 cm

Lain-lain

:-

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, sekret mata

22

(-)
Telinga: Terlipat sempurna, sekret (-)
Hidung

: Simetris, bernapas melalui hidung, cuping hidung (-)

Mulut

: Labiopalatognatoskisis (-), sianosis (-), saliva (+), gigi (-)

Leher

: Pergerakannya baik, simetris, tortikolis (-)

Thorak

: Bentuk

: Simetris, seperti tong (Barrel Chest)

Jantung

: Bising (-)

Paru

: Simetris, retraksi (-), ronkhi -/-, wheezing


-/-

Abdomen

: Permukaan : Datar/cekung/buncit
Kondisi

: Lemas/tegang

Hati

: x

Limpa

:S

Tali Pusat

: Segar

Umbilikus

: Tidak ada hiperemis

Genitalia

: Labia minora tertutup oleh labia mayora, sekret (-)

Ekstremitas

: Atas
Bawah

: Aktif, simetris, jari lengkap


: Aktif, simetris, jari lengkap

Kulit

: Kemerahan, verniks kaseosa (++), lanugo (+)

Anus

: (+), mekonium (+)

Tulang-tulang : Tidak ada fraktur, tidak ada dislokasi


Refleks

: Moro
Rooting

: (+)

Isap

: (+)

: (+)

Pegang

: (+)

23

Ukuran

: Lingkar kepala : 37 cm

Panjang lengan : 19

cm
Lingkar dada

: 34 cm

Panjang kaki

Lingkar Perut

: 33 cm

Kepala-simpisis : 29 cm

Simpisis-Kaki : 27 cm

Dll

: LLA

: 25 cm

: 11 cm

KESIMPULAN

Pemeriksaan bayi perlu dilakukan dalam keadaan telanjang di bawah lampu


yang terang yang berfungsi juga sebagai pemanas untuk mencegah kehilangan
24

panas. Tangan serta alat yang digunakan untuk pemeriksaan fisis harus bersih dan
hangat. Pemeriksaan fisis pad BBL dilakukan paling kurang tiga kali, yakni (1)
pada saat lahir, (2) pemeriksaan yang dilakukan dalam 24 jam di ruang perawatan,
dan (3) pemeriksaan pada waktu pulang.
Pemeriksaan pertama pada BBL harus dilakukan di kamar bersalin.
Pemeriksaan kedua harus dilakukan kembali dalam waktu 24 jam, yaitu sesudah
bayi berada di tempat perawatan. Tujuannya adalah agar kelainan yang luput dari
pemeriksaan pertama akan ditemukan pada pemeriksaan ini.
Pada waktu memulangkan dilakukan lagi pemeriksaan untuk meyakinkan
bahwa tidak ada kelainan kongenital atau kelainan akibat trauma yang
terlewatkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama Cetakan
Kedua. Jakarta: Balai Penerbit IDAI; 2010. Hal 71-87
25

2. Matondang, Prof.Dr.Corry S. Wahidiyat, Prof.DR.Dr.Iskandar. Sastrasmoro,


Prof.DR.Dr.Sudigdo. Diagnosis Fisis pada Anak Edisi Kedua. Jakarta: CV.
Sagung Seto; 2003. Hal 146-158
3. Matondang, Prof.Dr.Corry S. Wahidiyat, Prof.DR.Dr.Iskandar. Sastrasmoro,
Prof.DR.Dr.Sudigdo. Diagnosis Fisis pada Anak Edisi Kedua. Jakarta: CV.
Sagung Seto; 2003. Hal 139-143
4. Pudjiaji Antonius H. Hegar Badriul. Handryastuti Setyo, dkk. Pedoman
Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia Jilid 1. Jakarta; Pengurus
Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010. Hal 50-54
5. Jackson, Marilynn. Seri Panduan Praktis Edukasi Pasien. Jakarta; Penerbit
Erlangga; 2009. Hal 52-55
6. Sukamti, Sri. Hastuti, Retno Puji. Aticeh. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik Pada
Bayi dan Anak. Bandung; Sagara Ilmu; 2009. Hal 30-44
7. Bickley, Lynn S. Buku Saku Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Bates
Edisi 5. Jakarta; EGC; 2008. Hal 67-81
8. Hidayat, Aiziz Alimul. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 1. Jakarta;
Salemba Medika; 2006. Hal 79-93
9. Behrman. Nelson: Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC; 1999. Hal 33-40
10. Soetjiningsih, Prof Dr. Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta; EGC; 2014.
Hal 42-49

26