Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada jaman perdagangan bebas seperti saat ini, salah satu


sarananya

adalah

transportasi

laut.

Untuk

dapat

menunjang

pengangkutan barang atau penumpang dan lain-lain mengunakan


transportasi laut yaitu kapal niaga.
Kapal niaga sendiri mempunyai beberapa jenis disesuaikan
dengan jenis muatannya. Salah satu jenis kapal angkut niaga adalah
kapal peti kemas. Kapal peti kemas adalah dibuat secara khusus oleh
galangan kapal untuk dapat memuat muatan jenis peti kemas.
Sedangkan isi dalam peti kemas adalah muatan yang jenisnya
bermacam-macam. Peti kemas yang dimuat ke atas kapal juga harus
sangat diperhatikan cara pengikatannya dengan baik dan benar sesuai
dengan prosedur yang ada. Sehingga peti kemas tersebut dapat
dijamin keamanannya dari kerusakan, kehilangan, jatuh ke laut,
ataupun akibat lain yang dapat menimbulkan kerusakan pada peti
kemas yang sangat berpengaruh terhadap muatan yang ada di dalam
peti kemas. Banyak kejadian yang dilaporkan oleh pemilik muatan
tentang rusaknya muatan didalam peti kemas, hingga banyaknya
pemilik

muatan

yang mengajukan klaim terhadap perusahaan

pelayaran pengangkut muatan dan perusahaan asuransi. Hal-hal


seperti ini dapat merugikan suatu perusahaan pelayaran dan dapat
menurunkan reputasi dari perusahaan pelayaran sebagai penyedia
jasa pengangkut muatan yang menjamin keselamatan muatan serta
jaminan muatan tiba tepat pada waktunya.
Ada beberapa factor yang menyebabkan mengapa pengikatan
peti kemas di atas kapal sering menemui kesalahan, misalnya

Pengawasan yang kurang baik dalam proses pemuatan ,komunikasi


yang kurang baik antara pihak darat dan pihak kapal, hingga jumlah
ikatan

material

yang

terbatas,

Sehingga

semua

pihak

yang

menanggani pengikatan peti kemas memahami prosedur bagaimana


caranya mengikatan peti kemas yang baik dan benar, agar setidaknya
mengurangi tingkat resiko kerusakan muatan di dalam peti kemas.
Dengan begitu akan berdampak positif bagi reputasi perusahaan
pelayaran sebagai pelayan jasa yang menjamin keamanan muatan
yang dikirimkan melalui kapal yang dioperasikan oleh perusahaan
pelayaran tersebut.
Pengalaman yang dialami penulis sebagai mualim dikapal MV.
SINAR JEPARA sering terjadi pada waktu pemuatan didalam palka
basecone tidak ada ditempatnya,kurangnya komunikasi antara pihak
darat dan pihak kapal. Bila basecone tidak ada pada tempatnya maka
akan menimbulkan pergeseran peti kemas,perlunya komunikasi antara
pihak darat dan pihak kapal untuk memperlancar proses pengikatan
peti

kemas.

Berdasarkan

pengalaman

yang

penulis

alami

sebagaimana diuraikan diatas maka pada makalah ini penulis


mengambil judul Usaha Peningkatan Pengaman Muatan Dalam
Rangka Mengurangi Kerusakan Muatan Di Kapal MV. SINAR
JEPARA.

B. Tujuan Dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan Penulisan

a. Untuk

dapat

memenuhi

persyaratan

dalam

mengikuti

pendidikan dan pelatihan kepelautan tingkat 1 ( DP 1 ).


b. Untuk memberikan pedoman bagi teman teman seprofesi
khususnya bagi mereka yang bekerja pada kapal kontainer.

2. Manfaat Penulisan

a. Manfaat bagi lembaga pendidikan dapat menambah bagaimana


menangani ikatan peti kemas di atas kapal yang baik dan benar,
agar dapat menjamin keamanan muatan didalamnya, sehingga
dapat menunjang pengoperasian kapal supaya dapat berjalan
dengan aman dan lancar.
b. Manfaat bagi dunia praktis diharapkan dapat memberikan suatu
masukan yang berarti kepada pelaut-pelaut yang berkeinginan
untuk bekerja di atas kapal peti kemas, ataupun kepada pelautpelaut yang sedang bekerja di atas kapal peti kemas. Manfaat lain
juga dapat menjadi suatu tambahan informasi kepada perusahaan
pelayaran terkait yang mengoperasikan kapal jenis peti kemas,
maupun

perusahaan

sejenis

lainnya

dalam

meningkatkan

pelayanan yang baik dan bertanggung jawab sebagai pelayan jasa


pengiriman muatan kepada para pemilik muatan.

C. Ruang Lingkup

Pembahasan mengenai usaha peningkatan pengamanan muatan


dalam hal ini pengikatan peti kemas yang baik dan benar harus
memperhatikan prinsip pemuatan yaitu prinsip dasar pembuatan
rencana pemuatan/ stowage plan.
Untuk menghindari muatan yang berada diatas palka bergerak
ataupun jatuh pada saat pelayaran,maka muatan yang berada diatas
palka diikat kekapal sehingga walaupun kapal mengalami badai dan
gelombang tinggi selama pelayaran muatan tetap pada tempatnya dan
tidak jatuh kelaut.
Masalah lain yang timbul perencana muatan selalu salah paham
dalam memberi perintah mengikatan peti kemas diatas kapal,kepada

buruh yang melaksanakan pengikatan peti kemas.Hal ini sangat


berpengaruh terhadap keadaan muatan yang ada didalam peti kemas.
Hal yang sangat penting dalam pengikatan peti kemas yaitu alat
yang

digunakan,dengan

tidak

memadainya

ataupun

kurangnya

material diatas kapal juga menyebabkan pekerjaan pengikatan peti


kemas menjadi kurang optimal.

D. Metode Penelitian

1. Studi Lapangan

a. Pengalaman secara langsung yang dialami penulis selama


bekerja di perusahaan PT. SAMUDERA INDONESIA sebagai
mualim satu di atas kapal jenis peti kemas selama dua periode
terhitung sejak Mei 2013 hingga Juli 2014, MV.SINAR JEPARA
melayani rute pelayaran domestik/lokal.
b. Berdasarkan

diskusi-diskusi

yang

dilakukan oleh penulis

dengan sesama perwira kapal, rekan sejawat yang pernah dan


sedang bekerja di atas kapal-kapal peti kemas.
c. Penulis juga melakukan beberapa kali wawancara secara
langsung terhadap pihak buruh darat dan perencana muatan di
semua pelabuhan selama penulis bekerja di atas kapal MV
SINAR JEPARA.

2. Studi Kepustakaan

Dengan mengumpulkan bahan dari buku-buku, jurnal, berita,


atau sumber tertulis lainnya yang ada di atas kapal, serta bukubuku yang ada di perpustakaan BP3IP.
Pada metode ini penulis telah membaca serta menelaah semua
bahan-bahan tertulis tersebut dan mencari data atau informasi yang

berupa teoritis yang ada hubungan erat pada penulisan makalah ini
selama penulis masih berada diatas kapal maupun pada saat
penulis mengikuti program ANT-1 seperti ;
a. Cargo Securing Manual MV SINAR JEPARA
b. Peti kemas ikatan and stowage
c. Bahan-bahan pelajaran selama mengambil ANT-I di BP3IP
Jakarta
d. Buku referensi perpustakaan

BAB II
FAKTA DAN PERMASALAHAN

A. Objek Penelitian.

1. Pengawasan yang kurang baik dalam pelaksanaan pemuatan .

a. Base cone tidak ada ditempatnya

Pada tanggal 18 maret 2014 dipelabuhan Makassar


MV.SINAR JEPARA sandar dan melakukan kegiatan bongkar
muat.Pada saat kegiatan pemuatan dipalka dua didapatkan
tempat

dudukan sepatu/base cone sebagian tidak

ada

ditempatnya karena pergantian muatan dari peti kemas ukuran


40 kaki ke ukuran 20 kaki,akan tetapi pemuatan peti kemas
terus dilaksanakan tanpa memperhatikan keadaan tempat
kedudukan sepatu peti kemas yang benar.Hal ini sangat
berbahaya karena pemasangan alat tersebut adalah agar peti
kemas susunan paling bawah tidak bergeser selama dalam
pelayaran.Maka sangatlah perlu diperhatikan dalam proses
pemuatan terutama yang berkaitan dengan pemasangan alat
pengikatan peti kemas. Kapal peti kemas dilengkapi dengan
cell guide didalam palka fungsinya mengikat peti kemas ke
bagian kapal, membantu stabilitas kapal akibat pergeseran peti
kemas, membantu operator crane menurunkan peti kemas.
Pengikatan peti kemas diatas deck,peti kemas susunan yang
paling bawah yang dimuat diatas deck harus terikat dengan
aman ke bagian kapal untuk memastikan stabilitas kapal
selama pelayaran.Perangkat yang digunakan pada umumnya
adalah sepatu peti kemas(twist lock),lashing rods,turnbuckles.

Dalam hal pengikatan muatan harus juga memperhatikan


keselamatan kapal, melindungi muatan agar tidak rusak saat
dimuat,selama berada diatas kapal dan selama pembongkaran
dipelabuhan tujuan,melindungi awak kapal dan buruh dari
bahaya muatan.
Kesalahan dalam pengikatan muatan akan menimbulkan
kerusakan fisik dari kontaineryaitu penyok,robek,pergeseran
peti kemas,sudut peti kemas terangkat.
b. Cara Pengikatan peti kemas
Hal hal yang perlu dihindari pada pengikatan peti kemas
yaitu

kecelakaan

yang

terjadi

pada

awak

kapal

dan

buruh.Contohnya Cedera punggung akibat cara angkat lashing


bar yang salah,cedera akibat tertabrak dan disenggol peti
kemas,tertimpa

maretial

Lashing/benda

lain,jatuh

dari

ketinggian ketika bekerja atau melewati daerah yang tidak ada


pelindung(pagar),Bahaya

kesetrum

akibat

kabel

listrikpeti

kemas refer yang rusak,petugas yang berada didermaga


tertimpa maretial lashing yang jatuh dari atas kapal,luka atau
lecet pada saat penangganan twist lock.
Sebelum pelaksanaan pengikatan

peti kemas

harus

memperhatikan prinsipnya yaitu:


-

Kebutuha tenaga kerja atau sumber daya manusia,tugas


pengikatan peti kemas dikerjakan oleh dua orang dimana
satu orang memegang lashing bar dan satu orang
memegang turnbuckles

Memakai alat pelindung diri

Penyimpanan material lashing yang tidak digunakan.

Perlindungan terhadap pekerja dan awak kapal.

Penerangan

yang

cukup

untuk

keselamatan

saat

pelaksanaan pengikatan peti kemas


7

Tindakan bila ada material lashing yang mengalami


kerusakan.
Oleh karena itu semua awak kapal bagian dek harus

mempunyai

pemahaman

yang

baik

bagaimana

cara

mengikatan peti kemas yang baik dan benar sesuai prosedur,


untuk dapat mengurangi atau menghilangkan resiko muatan
yang ada didalam peti kemas rusak, supaya kapal dan
muatannya dapat beroperasi dengan aman dan lancar.

2. Koordinasi antara ABK, Perencana dan pekerja lashing


Pelaksanaan pengikatan peti kemas yang salah
Pada tanggal 24 Maret 2014 dipelabuhan Tanjung
Perak Surabaya terjadi penambahan muatan sekitar sepuluh
box ukuran dua puluh kaki,sedangkan peti kemas yang
sudah diatas kapal sudah diikat.Dari pihak buruh keberatan
untuk mengadakan pengikatan peti kemas dengan alasan
sudah

selesai.

Masing-masing

pihak

tersebut

saling

berkomunikasi agar tujuan dari setiap pihak dapat tercapai


atau terpenuhi. Untuk menghindari hal tersebut diatas dari
pihak kapal yang mengadakan pengikatan peti kemas
dengan dibuatkan berita acara mengenai hal tersebut.
Pihak yang sangat erat kaitannya dalam pengikatan
peti kemas ialah pihak darat, yang diwakili oleh perencana
muat dan para buruh yang akan mengerjakan pengikatan
peti kemas diatas kapal. Apa yang mereka kerjakan
mempunyai peranan yang sangat penting, karena sebelum
kapal tiba dipelabuhan, perencana muat akan diberi
informasi secara mendetail tentang bangunan kapal yang
akan dilayaninya beserta peti kemas yang akan dibongkar
dari kapal termasuk juga peti kemas yang akan dimuat diatas
8

kapal. Maka dari itu perencana muat harus memahami


dengan jelas bagaimana cara memuatnya, dan bagaimana
cara mengikatannya.
Setelah beberapa kali penulis dapatkan seringkali
perencana muatan selalu salah paham dalam memberi
perintah mengikatan peti kemas diatas kapal, kepada para
buruh. Hal ini sangat berpengaruh terhadap keadaan muatan
yang ada didalam peti kemas. Hingga haruslah diikatan
kembali menurut prosedur yang ada. Dengan begitu muatan
akan terjamin keamanannya dan kapalpun pada kondisi siap
beroperasi dengan aman dan lancar.
3. Material lashing peti kemas yang tersedia
Kurangnya material lashing diatas kapal menyebabkan
pengikatan peti kemas kurang optimal.
Salah satu objek yang tidak luput oleh penulis yang
dianggap juga berperan penting ialah material ikatan yang
tersedia diatas kapal. Dengan tidak memadainya ataupun
kurangnya

ikatan

material

diatas

kapal

juga

dapat

menyebabkan pekerjaan ikatan peti kemas menjadi kurang


optimal, sehingga perlu dilakukan pengecekan secara
berkala dan terpadu yang dilakukan oleh awak kapal. Untuk
menghindari atau menjaga material ikatan dapat secara
terus-menerus siap untuk segala kondisi muat.
Adapun material ikatan yang dimaksud serta fungsinya
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Twist Lock sebagai pengunci pada ujung atas dan
bawah peti kemas yang dimuat diatas palka.
b. Twist Stacker sebagai pengunci pada ujung atas dan
bawah peti kemas yang dimuat didalam palka.

c.

Lashing bar sebagai tongkat yang dipasang pada peti


kemas untuk membantu mengencangkan kedudukan
peti kemas yang dimuat diatas palka.

d. Turnbuckle sebagai alat pengencang yang dipasangkan


kepada ikatan rod.
e. Adjust Hook sebagai pengait bantu untuk dipasangkan
pada lashing bar jika mengikatan peti kemas lebih dari 2
tingkat.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan apa yang telah penulis kemukakan pada bab II,
telah memberikan gambaran mengenai ikatan muatan yang sering
hasilnya tidak maksimal atau tidak sesuai dengan prosedur ikatan
muatan yang baik dan benar. Kemudian mengapa bisa terjadi hal
demikian dikarenakan adanya beberapa poin permasalahan yang
harus

penulis

cermati

dengan

seksama.

Permasalahan-

permasalahan tersebut antara lain sebagai berikut ;


a. Pengawasan yang kurang baik dalam pelaksanaan pemuatan..
b. ABK dek belum mengetahui prosedur ikatan peti kemas.
c. Kurang

familiarnya

perencana

muat

dalam

menangani

pengikatan peti kemas.


d. Lemahnya tanggung jawab dalam bekerja.
e. Komunikasi yang kurang antara pihak kapal dan pihak darat.
f. Material ikatan yang tidak memadai.

10

a. Pengawasan

yang

kurang

baik

dalam

pelaksanaan

pemuatan.
Pada saat kapal melakukan pemuatan sering menjumpai
material

lashing

yang

tidak

pada

tempatnya,hal

ini

menyebabkan terjadinya susunan peti kemas didalam palka


tidak

sesuai

menyebabkan

dengan
peti

yang

kemas

sebenarnya

bergeser

yang

karena

bisa

mana

akan

mempengaruhi keselamatan berlayar. Pergeseran peti kemas


akan menyebabkan kerusakan fisik pada peti kemas seperti
penyok,robek,sudut peti kemas terangkat. Setiap awak kapal
bagian dek harus tetap pelakasanakan pengawasan dalam
kegiatan pemuatanuntuk mencegah kerusakan muatan dan
menjaga keselamatan kapal, karena itu adalah salah satu tugas
dan tanggung jawab awak kapal yang harus dijalankan sesuai
peraturan.

b. ABK dek belum mengetahui prosedur pengikatan peti


kemas
Di setiap kapal peti kemas mempunyai beberapa buku
manual yang fungsinya untuk dapat mengoperasikan kapal
tersebut dengan baik dan benar. Untuk pengikatan peti kemas
juga dilengkapi oleh suatu buku panduan agar dapat dijadikan
pada saat proses ikatan peti kemas. Buku tersebut yang
dimaksud adalah Cargo Securing Manual yang dikeluarkan
oleh galangan kapal dan disahkan oleh klas kapal. Para abk
kapal sering sekali tidak tahu bahwasanya buku ini dapat
dijadikan sebuah panduan prosedur untuk mengikatan peti
kemas dengan baik dan benar. Yang mengakibatkan pada saat
ikatan peti kemas dilakukan, para abk bagian dek selalu tidak
memberikan suatu arahan kepada pekerja ikatan untuk
11

mengikuti prosedur ikatan peti kemas yang sesuai di kapal MV


SINAR

JEPARA.

Hasilnya

ikatan

peti

kemas

tidak

sebagaimana mestinya, kadang-kadang banyak bagian yang


tidak terikat karena dianggap sudah mencukupi ikatan dan
aman jika hanya diikatan pada titik-titik tertentu saja. Tentu saja
dengan sangat jelas penulis mengkategorikan hal tersebut
sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan oleh karena abk
bagian dek belum mengetahui prosedur ikatan peti kemas yang
ada dikapal.

c. Kurang familiarnya perencana muat dalam menangani


pengikatan peti kemas.
Untuk dapat mendapatkan hasil pengikatan peti kemas
yang baik dalam rangka pengamanan muatan yang ada di
dalam peti kemas tersebut agar tidak rusak, selain peranan
pihak kapal juga tidak kalah pentingnya peranan pihak dari
darat yang mensupervisi kegiatan pengikatan peti kemas (peti
kemas ikatan and stowage, Thomas Miller Capt, Penerbit UK
P&I Club London) yaitu perencana muat. Penulis selama
penelitiannya

yang

dilakukan

mendapati

semua

hasil

pengikatan peti kemas yang dikerjakan oleh pekerja ikatan


tidak sebagaimana mestinya, pekerja ikatan mendapatkan
perintah

bekerja

oleh

perencana

muat,

dan

mereka

menjalankannya dilapangan sesuai dengan perintah. Oleh


karena itu penulis dapat mengidentifikasi masalah pada poin
ketiga ini ialah karena didasari oleh kurang familiarnya
perencana muat dalam menangani ikatan peti kemas, tetapi
bukan berarti tidak tahu atau tidak mengerti, karena penulis
juga melakukan tanya jawab dengan perencana muat. Jika
memang mereka tidak tahu atau tidak mengerti maka

12

perencana muat tidak akan bisa memberi perintah kepada


pekerja ikatan untuk mengikatan peti kemas di atas kapal.
Hanya saja kurang familiar sehingga hasilnya ikatan peti kemas
tidak sebagaimana mestinya sesuai dengan prosedur ikatan di
kapal peti kemas.
d. Lemahnya tanggung jawab dalam bekerja
Dalam pekerjaan dikapal peti kemas dibutuhkan tingkat
tanggung

jawab

yang

tinggi

karena

kalau

tidak

akan

menimbulkan bahaya bagi kru kapal itu sendiri, seperti yang


dialami penulis di kapal MV SINAR JEPARA, masih seringnya
di jumpai kru ataupun perwira yang tidak dengan sepenuh hati
dan bertanggung jawab sewaktu pengawasan dan pelaksanaan
ikatan peti kemas. Apabila hal tersebut terus terjadi bukan tidak
mungkin, setiap peti kemas yang telah dimuat diatas kapal
dalam keadaan tidak aman karena tidak terikatan dengan baik
dan benar, yang akibat umumnya juga kapal akan dalam
kondisi yang tidak aman. Sehingga resiko kerusakan muatan
yang ada didalam peti kemas tersebut sangatlah besar karena
sangat mungkin peti kemas-peti kemas tersebut akan jatuh
kelaut jika kapal berlayar dan menemui cuaca buruk, akibatnya
lagi pemilik kapal akan mendapatkan klaim dari pemilik muatan.
e. Komunikasi yang kurang antara pihak kapal dan pihak
darat
Salah satu kendala yang sudah tidak asing lagi ialah
komunikasi. Dengan tidak adanya komunikasi yang lancar
pengoperasian kapal akan sangat terganggu sekali, termasuk
komunikasi antara pihak kapal dan pihak darat. Sehingga
koordinasi arahan ataupun petunjuk dari pihak kapal untuk

13

pihak darat tidak dapat diketahui atau dimengerti, begitu pula


sebaliknya.

Senantiasa

terjadi

kesalahpahaman

antara

pengertian pihak darat dan pihak kapal dalam pengikatan peti


kemas, misalnya jika penulis memberi arahan kepada ABK
yang bertugas jaga untuk memperbaiki ikatan peti kemas yang
tidak benar pada suatu posisi peti kemas, maka abk-pun
sewajarnya akan melanjutkan arahan tersebut supaya diikuti
oleh pekerja ikatan, pada kenyataannya pekerja ikatan juga
akan minta konfirmasi dari perencana muat yang pada saat itu
jarang berada di lapangan. Sudah tentu hal demikian
membutuhkan suatu system komunikasi yang baik dan
terencana, guna menunjang proses pekerjaan ikatan peti
kemas diatas kapal.
f.

Material lashing yang tidak memadai


Terkait dengan semua uraian masalah-masalah pada poinpoin sebelumnya, penulis juga menemui situasi dari ikatan
material diatas kapal. Material ikatan peti kemas suatu unsur
yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan yang
sempurna ikatan peti kemas itu sendiri. Bayangkan jika akan
mengikatan peti kemas tetapi tidak ada material ikatan yang
tersedia, sudah barang tentu pekerjaan itu tidak dapat
dilakukan karena salah satu unsur penting tidak ada atau
tersedia. Penulis sudah melakukan penelitian dengan seksama
akan hal ini, dan mendapati bahwa ikatan material yang ada
diatas kapal sangat kurang persediaannya, hingga seringkali
beberapa peti kemas tidak dapat diikatan dikarenakan hal itu.
Maka dari itu penulis mengidentifikasi salah satu permasalahan
juga dikarenakan material ikatan di atas kapal tidak memadai

14

2. Masalah utama
Dari semua permasalahan seperti dikemukakan oleh penulis
diatas, maka penulis menentukan 2 yang menjadi masalah utama
yaitu :
a. Kurangnya pelatihan yang diberikan perusahaan pelayaran
pada saat ABK naik kapal
b. Sikap ABK yang acuh menyebabkan lemahnya tanggung
jawab dalam bekerja

15

BAB III
PEMBAHASAN

A. Landasan Teori
Agar kapal dapat melaksanakan salah satu funsinya yaitu
pengiriman barang dengan selamat tanpa ada kerusakan dan
kehilangan muatan, maka perlu diperhatikan prinsip prinsip dasar
dalam pemuatan yaitu :
1. Melindungi kapal
2. Melindungi muatan
3. Melindungi awak kapal dan buruh
4. Pemuatan secara sistematis untuk mencapai proses

bongkar

muat yang efisient dan efektif


5. Faktor pemadatan muatan
Setiap pemilik muatan umumnya menginginkan muatan miliknya
dapat dikirim ke tempat tujuan dengan aman tanpa ada kerusakan,
hilang, berkurang serta tepat pada waktunya. Demikian halnya
dengan setiap perusahaan pengangkut yang diwakilkan oleh kapal
pengangkut.

Oleh

sebab

itu

perusahaan

pelayaran

sering

mengingatkan ataupun memberi perintah secara jelas dan tegas


kepada kapal, bahwa muatan yang telah berada diatas kapal menjadi
suatu tanggung jawab bersama antara kapal dan perusahaan.
Penanganan Muatan Capt. Arso Martopo (2001) dimana tanggung
jawab tersebut adalah menjaga muatan dari hal-hal yang dapat
membuat muatan tersebut, hilang, rusak, berkurang ataupun hal yang
akan berdampak negative terhadap muatan tersebut. Pengikatan
muatan adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh pihak kapal,
karena pihak kapal yang secara langsung berhubungan dengan
16

muatan, maka dari itu pihak kapal harus mempunyai pengetahuan,


kemampuan, dan ketrampilan yang baik dalam mengikatan peti
kemas.
Didalam ISM code No. 6 SUMBER DAYA DAN PERSONEL
Code No.6.2 Perusahaan harus menjamin bahwa setiap kapal diawaki
oleh pelaut yang berkemampuan,bersertifikat,sehat sesui dengan
persyaratan nasional dan internasional.
Code No.6.3 Perusahaan harus menetapkan prosedur yang
menjamin bahwa personel baru dan personel yang dipindahkan ke
jabatan

baru

yang

berhubungan

dengan

keselamatan

dan

pencegahan pencemaran mendapat familiarisasi dengan baik..


Penulis telah melakukan pendekatan metode deskriptif dan dapat
mengidentifikasikan masalah prioritas sebagai berikut : Terbatasnya
kemampuan ABK bagian dek dalam hal pengikatan muatan.
B. Analisa Penyebab Masalah
Adapun yang menjadi penyebab dari pokok permasalahan
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kurangnya

pelatihan

yang

diberikan

oleh

perusahaan

pelayaran pada saat ABK akan naik kapal.


Tidak adanya pelatihan atau bimbingan khusus tentang
pengikatan

peti

kemas

sehingga

bagian

penerimaan

kru

mendapat kesulitan dalam menyeleksi penerimaan tenaga baru


yang berkualitas. Bila dianalisa lebih lanjut kelancaran pada
pekerjaan ikatan muatan pada garis besarnya terdiri dari dua
faktor utama yaitu : pertama, faktor dari dalam kapal adalah
manusia diatas kapal, dan kedua faktor dari luar kapal adalah
perusahaan pelayaran dan pihak darat.

17

a. Faktor manusia di atas kapal


Sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat
penting dan berpengaruh terhadap efekfifnya kerja di atas
kapal. Begitupun sumber daya manusia yang bekerja dikapal
peti kemas khususnya dalam hal kemampuan ikatan peti
kemas, tanpa adanya dukungan sumber daya manusia yang
terampil dan berkualitas, maka segala usaha akan sia-sia.
Orang-orang yang bekerja di atas kapal peti kemas adalah
pekerja yang profesional serta mempunyai kemampuan kerja
dalam kerja perorangan maupun dalam kelompok.
Dalam hal ini, perwira-perwira dan kru lainnya tidak
terkecuali Nahkoda sangatlah mempengaruhi keberhasilan
pekerjaan

yang

dilaksanakan

diatas

kapal.

Disamping

kemampuan profesionalisme yang tinggi, orang yang bekerja


di atas kapal peti kemas juga harus memiliki sikap loyalitas
dan kesadaran, serta rasa tanggung jawab yang tinggi
sehingga

selalu

siap

untuk

menerima

perintah

dari

perusahaan dan melaksanakan perintah itu dengan cepat,


aman, dan tepat waktu.
Seorang perwira harus dapat memahami benar perintah
dari

Nahkoda

karena

perwira-perwira tersebutlah

yang

mengatur langsung pekerjaan di atas dek, dimana diperlukan


juga pengetahuan mengenai kelemahan kapalnya, dan juga
kekurangan serta kelebihan dari anak buahnya. Dengan
demikian akan dapat membantu Nahkoda dalam memberi
masukan untuk memutuskan sesuatu dalam memecahkan
masalah dengan baik.

18

b. Faktor perusahaan pelayaran


Perusahaan pelayaran sebagai pemilik kapal yang sangat
berkompeten dengan kelancaran operasi kapal-kapalnya,
pihak perusahaan sudah selayaknya berusaha dengan keras
untuk

mempertahankan

kelangsungan

operasi

kapal-

kapalnya, termasuk didalamnya dalam hal tanggung jawab


atas pengamanan muatan yang dilayaninya.
Tanggung jawab perusahaan yang dimaksud oleh penulis
adalah dengan berbagai cara perusahaan pelayaran harus
semaksimal mungkin mengupayakan pengamanan muatan
yang dibawa oleh salah satu kapal dari miliknya. Banyak hal
yang tidak dilakukan oleh perusahaan pelayaran untuk dapat
mengupayakan

pengamanan

muatan,

khususnya

pengamanan muatan jenis peti kemas atau biasa disebut


ikatan peti kemas. Misalnya penulis mengalami kekurang
perhatian perusahaan dalam hal ikatan peti kemas yaitu
sangat jarang hingga hampir tidak pernah diberikan sebuah
objek yang dapat memfasilitasi agar awak kapal dapat belajar
mengenai ikatan peti kemas diatas kapal, biasa dalam bentuk
sebuah sirkular atau mungkin juga dalam bentuk audio video
yang biasa dipakai belajar oleh para awak kapal.
Selanjutnya, mengenai penggantian dan penempatan kru
yang sesuai dengan kemampuan dan pengalaman dari kru
tersebut kadang-kadang kurang mencerminkan kontinuitas
atau kesinambungan dengan sistem penerimaan yang baik,
dimana selama ini dilakukan dengan asal-asalan tanpa
mempertimbangkan akibat buruk yang mungkin timbul karena
contohnya kru yang sudah berpengalaman dikapal jenis curah
dan tidak mempunyai pengalaman dan kemampuan di kapal
jenis lain ditempatkan dikapal jenis peti kemas, yang sudah

19

barang tentu akan butuh waktu yang lama dan sulit bagi kru
tersebut menyesuaikan diri dalam pekerjaan sehari-hari,
apalagi dalam hal ikatan peti kemas pastinya kru tersebut
sangat tidak mengerti. Sudah selayaknya bagi perusahaan
atau owner untuk menjalankan management kepegawaian
dengan baik untuk menunjang kelancaran operasi kapal
supaya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan dapat
dicapai, yaitu meningkatkan pelayanan kapal kepada pihak
pengguna jasa.
Para perwira dan kru dari kapal peti kemas harus benarbenar

terampil

dalam

pengikatan

peti

kemas

untuk

mengantisipasi resiko kerusakan muatan, hilang, atapun efek


negative lainnya terhadap muatan didalam peti kemas. Hingga
pengoperasian kapalpun akan dapat berjalan dengan lancar
dan baik tanpa ada keluhan dari pemilik muatan, dan tidak
ada kekhawatiran akan terjadinya kerusakan muatan yang
ada didalam peti kemas.
2. Sikap ABK yang acuh menyebabkan lemahnya tanggung
jawab dalam bekerja.
a. Kurangnya kerja sama awak kapal
Dikapal MV.SINAR JEPARA terdiri dari bermacam-macam
suku bangsa, dan mayoritas kru berasal dari Indonesia dan
walaupun kru tersebut sama-sama berasal dari Indonesia
ternyata masih saja terjadi perpecahan di dalam kapal selama
melaksanakan pekerjaan. Contoh yang diamati oleh penulis
sendiri selama bekerja di kapal bahwa kru dari pulau Jawa
tidak semuanya satu hati atau seia sekata dalam pekerjaan
dengan kru dari pulau selain pulau Jawa. Karena perbedaan

20

daerah asal tersebut menyebabkan kurang komunikasi dan


kerja sama didalam bekerja.
b. Kecemburuan sosial antara awak kapal
Kemudian hal lain yang menyebabkan ABK kapal MV.
Sinar Jepara memiliki sikap yang acuh yaitu dari segi gaji
atau insentif, karena perusahaan tidak memberi insentif
tambahan yang sama dengan kapal-kapal lain yang awak
kapalnya

berasal

dari

Negara

lain,

sedangkan

pada

kenyataannya memiliki tugas pekerjaan dan tanggung jawab


yang sama di atas kapal.
Masalah yang lain lagi adalah masalah masa kerja kru,
dimana kru yang memiliki pengalaman lebih lama dalam arti
juga memiliki masa kerja yang lebih lama selalu merasa
dirinya sebagai ABK senior di atas kapal, hal ini sering kali
menyebabkan kecemburuan social bagi mereka kru yang baru
naik di kapal tersebut, ada sebagian kru dengan masa kerja
yang banyak atau kru yang sudah lama bekerja di satu
perusahaan dan tidak pernah berpindah-pindah kadang malah
malas di dalam bekerja, dan perwira yang baru bergabung di
perusahaan tersebut yang notabene sebagai orang baru
merasa kurang dihormati karena kru atau ABK yang memiliki
masa kerja lebih tersebut merasa sudah kenal banyak orang
kantor sehingga ada yang membela. Dengan demikian kru
tersebut merasa seolah-olah apa yang diperbuatnya tidak
akan ada teguran dari perwira dan merasa bahwa dialah yang
dibutuhkan perusahaan, jika tidak ada dirinya maka seakan
kapal tidak dapat beroperasi
.

21

C. Analisa Pemecahan Masalah


1. Peningkatan

Pelatihan

Dari

Perusahaan

Tentang

Cara

pengikatan Peti kemas.


a. Pendidikan dan Latihan di Atas Kapal
Para anak buah kapal baru ( nol pengalaman ) yang
diterima tidak mempunyai kemampuan secara penuh untuk
melaksanakan tugas tugas pekerjaan mereka. Bahkan para
anak buah kapal yang sudah berpengalaman pun perlu belajar
dan menyesuaikan dengan kondisi kapal, orang orangnya,
kebijaksanaannya,dan prosedurnya.Mereka juga memerlukan
latihan dan pengembangan lebih lanjut untuk mengerjakan
tugas tugas secara baik.
Ada dua tujuan utama program pendidikan dan pelatihan
anak buah kapal. Pertama, pendidikan dan pelatihan dilakukan
untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman dalam
meikatan peti kemas. Kedua program program tersebut
diharapkan dapat meningkatkan efesiensi dan efektifitas kerja
anak buah kapal dalam mencapai sasaran sasaran kerja
yang

telah ditetapkan sesuai prosedur ikatan peti kemas.

Sekali lagi meskipun usaha usaha tersebut memakan waktu,


tetapi akan mengurangi perputaran tenaga kerja dan membuat
anak buah kapal menjadi lebih produktif. Lebih lanjut,
pendidikan

dan

menghindarkan

latihan
diri

membantu

dari

mereka

ketertinggalan

dan

dalam
dapat

melaksanakan pekerjaan ikatan peti kemas dengan lebih baik.


Meskipun ABK baru telah menjalani orientasi yang baik,
mereka jarang melaksanakan pekerjaan dengan memuaskan.
Mereka harus dilatih dan dikembangkan dalam bidang tugas
tugas

mereka.

Begitu

pula

ABK

lama

yang

telah

22

berpengalaman memerlukan juga latihan latihan untuk


mengurangi atau menghilangkan kebiasaan kebiasaan yang
jelek.
Pendidikan dan latihan mempunyai berbagai manfaat
jangka panjang yang membantu ABK untuk bertanggung jawab
lebih besar diwaktu yang akan datang. Program latihan tidak
hanya penting untuk individu tetapi juga organisasi dan
hubungan manusiawi dalam kelompok kerja, dan bahkan bagi
negara.
Program
keterampilan

berupaya
tertentu,

untuk

mengajarkan

menyampaikan

berbagai

pengetahuan

yang

dibutuhkan untuk meikatan peti kemas. Agar program efektif,


prinsip prinsip belajar harus diperhatikan. Prinsip prinsip ini
adalah

bahwa

pengulangan

program

dan

bersifat

memberikan

partisipasif,

umpan

balik

relevan,
mengenai

kemajuan peserta pelatihan. Semakin terpenuhi prinsip prinsip


tersebut

latihan

perancangan

akan

program

semakin
juga

perlu

efektif.

Disamping

menyadari

itu

perbedaan

individual, karena pada hakekatnya para ABK mempunyai


kemampuan, sifat dan sebagainya yang berbeda satu dengan
yang lainnya.
Metode latihan yang digunakan dalam proses pelatihan
terhadap awak kapal adalah mencoba metode praktis, awak
kapal dilatih langsung oleh seorang yang berpengalaman
seperti seorang Mualim atau Bosun.
Berbagai bentuk teknik yang digunakan dalam praktek
adalah sebagai berikut :
1) Latihan Instruksi Pekerjaan :
Petunjuk

petunjuk

pengerjaan

diberikan

secara

langsung pada pekerjaan dan digunakan terutama untuk

23

para ABK tentang cara pelaksanaan ikatan peti kemas


dengan baik dan benar.
2) Coaching :
Atasan memberikan bimbingan dan pengarahan kepada
ABK dalam pelaksanaan ikatan peti kemas. Hubungan
atasan dan ABK sebagai bawahan serupa dengan
hubungan tutor siswa.
3) Penugasan Sementara :
Penempatan ABK pada posisi tertentu untuk jangka
waktu yang ditetapkan. ABK terlibat dalam pemecahan
masalah masalah organisasional nyata.
4) Vestibule Training :
Program latihan tidak mengganggu operasi operasi
normal, dapat dilakukan dengan cara seorang mualim satu
atau bosun memberikan training/praktek kepada anak buah
dek yang dikatakan baru dengan pekerjaan diatas kapal,
khususnya ikatan peti kemas.
5) Latihan Sensitivitas / Responsif:
Suatu metode dimana ABK belajar menjadi lebih sensitif
(peka) terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Latihan
ini juga berguna untuk mengembangkan berbagai prilaku
bagi tanggung jawab pekerjaan.
Bagaimanpun juga, orang seharusnya tidak berhenti
belajar, karena belajar adalah proses seumur hidup. Oleh
karena itu program pendidikan dan latihan harus bersifat
terus-menerus dan dinamis.
Pengembangan sumber daya manusia jangka panjang
adalah aspek yang semakin penting dalam organisasi.
24

Melalui pengembangan ABK yang ada sekarang, akan


mengurangi ketergantungan perusahaan pada penarikan
tenaga kerja baru. Bila para anak buah kapal dikembangkan
secara tepat, promosi dan transfer lebih mungkin dipenuhi
terlebih dahulu secara internal dan juga menunjukkan
kepada ABK bahwa mereka mempunyai kesempatan karir.
Manfaat pengembangan juga akan dirasakan perusahaan
melalui peningkatan kontinyunitas operasi operasi dan
semakin besar rasa keterikatan ABK terhadap perusahaan.
b. Mengikuti Familiarisasi yang Baik di Atas Kapal
Sesuai dengan ISM Code yang diberlakukan oleh IMO
bahwa salah satu dari peraturan yang diharuskan adalah
familiarisasi bagi personil yang baru ditempatkan untuk
memahami

benar

berhubungan

tugas

dengan

dan

tanggung

keselamatan

dan

jawab

yang

perlindungan

Iingkungan. Kodefikasi Manajemen Keselamatan Internasional


(ISM CODE ) Capt. Rozaimi Yatim (2003). Jelas disini bahwa
tugas

seorang

perwira

harus

mempelajari

dan

dapat

didokumentasikan. Dengan ini perusahaan menjamin bahwa


seluruh personil yang terlibat di dalam Safety Management
System (SMS) memiliki pengetahuan yang baik mengenai
peraturan dan pelaksanaannya. Berdasarkan hal tersebut
personil diatas kapal baik perwira maupun ABK akan dapat
juga mengikuti dan menjalankan ikatan peti kemas dengan baik
dan benar sesuai prosedur, karena hal ini juga tertuang didalam
SMS dikapal.
Dalam familiarisasi, seorang perwira dek sesuai dengan
bidangnya secara umum dan khusus, proses pengenalan akan
memakan waktu yang agak lama karena berkaitan dengan sifat
kerja dari kapal ini. Khusus bagi perwira dek yang baru pertama
25

kali ditempatkan di kapal peti kemas, Nahkoda mempunyai


tugas tambahan untuk mendidik perwira tersebut oleh karena
pembiasaan anak buah kapal dengan tugas baru sangat
diperlukan demi untuk mempertahankan Safety Management
System secara terus-menerus dengan tingkat kinerja yang
efektif dalam operasi normal maupun dalam keadaan darurat.
Haruslah dipilih metode yang paling sesuai yang dapat
didasarkan atas latihan-latihan jadwal pembiasaan yang ada,
berdasarkan prosedur operasi dari perusahaan.
2. Sikap ABK yang acuh menyebabkan lemahnya tanggung
jawab dalam bekerja
a. Meningkatkan Kerja Sama Awak Kapal
Kerja sama dalam suatu kelompok kerja merupakan hal
yang sangat penting, sebab dengan kerja sama tersebut
diharapkan tujuan dari pembiasaan atau familiarisasi seperti
yang disyaratkan akan tercapai secara efektif dan efisien.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peningkatan
kerjasama awak kapal dalam rangka pembiasaan atau
familiarisasi program prosedur ikatan peti kemas, untuk
meminimalisasi kendala dalam pelaksanaan pembiasaan
atau familarisasi adalah sebagai berikut:
1) Saling Memperhatikan
Saling memeperhatikan antara atasan dan bawahan
adalah aspek penting dalam pembiasaan. Hubungan
akan sangat harmonis jika sikap saling memperhatikan
tersebut berjalan baik.

26

2) Saling Menghormati
Saling menghormati adalah aspek terakhir indikator
penyampaian materi dalam pembiasaan, tanpa saling
menghormati antara sesama awak kapal penyampaian
materi

pembiasaan

tetap

tersendat

dan

tujuan

pembiasaan itu tidak akan berhasil.


Sebagai seorang perwira yang berkualitas, harus dapat
mengkoordinasi anak buahnya di dalam melaksanakan suatu
pekerjaan yang dihadapi sebab ada kalanya kita mendapat
suatu tugas pekerjaan yang mungkin memakan waktu lama,
misalnya penggantian tali kawat baja krani, ataupun dalam
mengikatan peti kemas. Disinilah perlunya membuat kelompok
kerja yang berkesinambungan hingga tercapai hasil kerja yang
diharapkan. Bekerja di kapal peti kemas selain harus merawat
kapalnya sendiri (daily maintenance) juga harus melayani tugas
dan pekerjaan dari pencharter yang berupa pengikatan peti
kemas dan pengawasannya selama dalam pelayaran. Setelah
membentuk kelompok-kelompok kerja, disusunlah prosedur
pelaksanaan pekerjaan tersebut yang langsung dipimpin
Mualim I. Perwira senior yang juga sebagai kepala kerja di dek
haruslah memiliki jiwa kepemimpinan yang baik seperti :
1) Loyal terhadap Nahkoda.
2) Berperilaku sebagai pemimpin yang baik.
3) Berpengetahuan luas tentang pekerjaannya.
4) Mengatur serta mengarahkan anak buahnya.
5) Memuji anak buah yang berprestasi dan menegur yang
membuat kesalahan.
6) Memberi kesempatan kepada anak buah untuk berpartisipasi
dengan menerima masukan-masukan yang kemudian akan
dipertimbangkan.

27

7) Mendengar keluhan dan mengatasi masalah yang terjadi di


antara anak buah.
8) Pembinaan

dengan

duplikasi,

yaitu

latihan

serta

pengawasan melalui tindakan ikut melakukan pekerjaan.


Untuk mengajak awak atau ABK supaya bisa bekerja
sama seringkali dilakukan pada saat kapal berlayar lebih dari
satu minggu, tergantung daripada posisi kapal.
Nakhoda dan perwira dek maupun perwira mesin
berusaha untuk menumbuhkan rasa kebersamaan melalui
acara-acara refreshing seperti makan bersama di dek
belakang, dan dilakukan dua minggu sekali supaya dengan
rasa santai bisa lebih saling kenal satu sama lain.
Dengan cara seperti ini pun kadang kala masih agak
susah untuk membuat mereka jadi kompak ataupun satu
hati, tapi memang hanya cara inilah yang sering kami
lakukan berulang-ulang dan pada akhirnya berhasil, dari
suasana santai sampai dibawa pada saat bekerja.
b. Mengatasi kecemburuan sosial antara awak kapal
Masalah gaji memang sangat sensitif, oleh karena gaji
bisa menyebabkan hal-hal yang bisa merugikan perusahan
dan kapalnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan
uang memang selalu menjadi hal yang sangat utama.
Pendapatan yang diterima di atas kapal seharusnya lebih
diperhatikan, karena dilihat dari segi pekerjaan sudah jauh
lebih beresiko dan memerlukan sikap yang hati-hati. Dalam
hal ini Nakhoda memberikan masukan kepada perusahaan
melalui surat elektronik atau email, yang menyatakan bahwa
pihak perusahaan harus mengerti dengan keadaan di kapal,
biar bagaimanapun orang yang bekerja di kantor atau

28

perusahaan dimana kapal dioperasikan merupakan orangorang yang berpengalaman dan sebelumnya juga pernah
bekerja di kapal, sehingga paling tidak mengetahui kondisi di
kapal.
Dengan masukan-masukan yang dikirim kekantor oleh
beberapa

Nakhoda

mengenai

perlunya

ditambah

pendapatan untuk awak kapal yang bekerja, akhirnya


mendapatkan respon yang baik dari Manajer Personalia,
mereka sadar bahwa hal ini berpengaruh besar pada
kelancaran operasi kapal, dan hal ini juga tidak berpengaruh
banyak kepada perusahaan yang sudah mendapatkan
keuntungan yang cukup dari hasil operasi kapal.
ABK dengan masa kerja yang lebih banyak seringkali
berbuat ulah di kapal, sikap yang paling buruk adalah
kemalasan. Mereka merasa sudah mengetahui seluk beluk
kapal dan merasa sudah senior daripada awak kapal yang
lain, sehingga menyebabkan kecemburuan sosial dan
perkelahian dengan awak kapal yang lain. Dengan keadaan
ini para perwira kapal bersama dengan Nakhoda berinisiatif
untuk memberikan appraisal report selama masa kontrak
kerja di atas kapal, dan hasil dari penilaian tersebut
diserahkan ke perusahaan sebagai bahan pertimbangan
bahwa awak kapal yang bermasalah atau malas dalam
bekerja

tidak

akan

dipekerjakan

lagi

untuk

periode

selanjutnya. Cara ini berhasil dan lambat laun sikap dari


awak kapal yang memiliki masa kerja lebih banyak pun
berubah menjadi baik.

29

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah

diadakan

identifikasi

masalah

dan

alternatif

pemecahannya oleh penulis, ternyata yang menyebabkan kurangnya


pemahaman ABK dikapal peti kemas dalam hal mengikatan muatan :
1.

Kurangnya pelatihan yang diberikan oleh perusahaan pelayaran


pada awak kapal yang akan bertugas dikapal menyebabkan
terbatasnya kemampuan dalam pengikatan peti kemas.

2.

Kurangnya pendidikan dan latihan serta familiarisasi diatas kapal


menyebabkan terbatasnya kemampuan dalam pengikatan peti
kemas.

3.

Kurangnya tanggung jawab dalam bekerja disebabkan oleh


kerjasama yang kurang baik antar awak kapal.

4.

Sebagian besar sikap awak kapal yang acuh disebabkan oleh


kecemburuan sosial akibat dari perbedaan pendapatan dan
intensif yang diterima awak kapal.

30

B. Saran-saran
1.

Hendaknya

perusahaan

pelayaran

memberikan

pelatihan

kepada awak kapal sebelum bekerja diatas kapal.


2.

Hendaknya Nakhoda mengoptimalkan familiarisasi terhadap


awak kapal yang baru naik dan pelatihan diatas kapal bersifat
terus menerus.

3.

Hendaknya

Nakhoda

mampu

menambah

kembangkan

kerjasama antar awak kapal.


4.

Hendaknya

perusahaan

dapat

memberikan

kesetaraan

pendapatan serta memberikan insentif kepada ABK sesuai


dengan masa kerjanya diperusahaan tersebut.

31

DAFTAR PUSTAKA

1.

Arso Martopo Capt, Penanganan Muatan (2001), Polytehnic Ilmu


Pelayaran Semarang.

2.

Istopo Capt, (1999), Kamus Istilah Pelayaran & Ensiklopedia


Maritim, Jakarta

3.

R. Moedjiman, SH (2006), Prosedur Penulisan Makalah, Penerbit


BP3IP Jakarta.

4.

Rozaimi Yatim, Capt (2003), Kodefikasi Manajemen Internasional


(ISM CODE), Penerbit Yayasan Bina Citra Samudra Jakarta.

5.

Thomas Miller, Capt (Januari 2004), Peti kemas Ikatan and


Stowage, Penerbit UK P&I Club London.

32

Anda mungkin juga menyukai