Anda di halaman 1dari 14

A.

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Tanah merupakan tubuh alam bebas yang dihasilkan oleh interaksi dari factor-

faktor pembentuk tanah seperti : iklim, bahan induk, organisme, relief dan waktu. Jadi
tanah merupakan fungsi dari faktor dan bahan induk, organisme, relief dan waktu dan
semua faktor tersebut dapat bervariasi. Proses pembentukan tanah disuatu daerah erat
hubungannya dengan sejarah pembentukan tanah atau evolosi tanah. Menurut
E.Saifudin Sarief (1986), tanah adalah benda alami yang terdapat dipermukaan bumi
yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan dan bahan
organik (pelapukan sisa tumbuhan dan hewan), yang merupakan medium pertumbuhan
tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor
alami, iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu
pembentukan.
Tanah sebagai material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi,
sebagai media untuk menumbuhkan tanaman. Secara kasat mata, tanah berwarna
coklat dan ada pula yang kemerah-merahan. Namun, sebenarnya klasifikasi tanah
sangatlah banyak. Jenis tanah merupakan salah satu faktor penting dalam
pertumbuhan tanaman karena perbedaan jenis tanah mempengaruhi sifat-sifat dari
tanah tersebut. Oleh karea itu akan terbentuk berbagai jenis tanah yang dapat banyak
dengan sifat dan cirinya yang juga dapat beragam. Berkenaan dengan hal tersebut
maka tanah perlu digolong-golongkan untuk mempermudah mempelajarinya. Dalam
melakukan penggolongan tanah, terdapat beberapa klasifikasi tanah

yang bisa

digunakan. Tanah yang diklasifikasikan menurut Soil Survey Staff (1990) didefinisikan
sebagai kumpulan benda-benda alam yang terdapat di permukaan bumi, setempatsetempat dimodifikasi atau bahkan dibuat oleh manusia dari bahan-bahan yang berasal
dari tanah,mengandung jasad hidup dan mendukung atau mampu mendukung tanaman
atau tumbuhtumbuhan yang hidup di alam terbuka. Definisi tanah di atas menunjukkan
bahwa tanah tersebut tidak saja tanah yang terbentuk secara alami, tetapi juga tanahtanah yang terbentuk karena modifikasi manusia. Biasanya tanah tersebut mengandung
horison-horison (lapisan-lapisan).
Klasifikasi tanah adalah ilmu yang mempelajari cara-cara membedakan sifat-sifat

tanah

satu

sama

lain,

dan

mengelompokkan

tanah

ke

dalam

kelas-kelas

tertentuberdasarkan atas kesamaan sifat yang dimiliki. Dalam mengelompokkan tanah


diperlukan sifat dan ciri tanah yang dapat diamati di lapangan dan di laboratorium.
Klasifikasi tanah merupakan bagian dari Pedologi. Pedologi mencakup genesis tanah,
klasifikasi tanah dan pemetaan tanah. Ketiga ilmu di atas saling berkaitan, sehingga
merupakan suatu rangkaian. Dalam melakukan klasifikasi tanah para ahli pertama kali
melakukannya berdasarkan ciri fisika dan kimia, serta dengan melihat lapisan-lapisan
yang membentuk profil tanah. Berdasarkan kriteria itu, ditemukan banyak sekali jenis
tanah di dunia. Untuk memudahkannya, seringkali para ahli melakukan klasifikasi
secara lokal. Untuk Indonesia banyak menggunakan sistem klasifikasi Puslittanak
(Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimatologi) dan USDA (Departemen Pertanian AS).
Hal ini karena kedua sistem ini lebih mudah digunakan untuk kepentingan pertanian.
Salah satu sistem klasifikasi tanah yang baik digunakan dalam pengelompokan
tanah yakni sistem klasifikasi USDA, dimana Sistem klasifikasi tanah ini lebih banyak
menekankan pada morfologi dan kurang menekankan pada faktor-faktor pembentuk
tanah. Hal ini akan sangat membantu dalam kesesuaian lahan di suatu

wilayah.

Kesesuaian lahan sebagai salah satu sumberdaya pendukung untuk pengembangan


pertanian. Pemanfaatan lahan yang kurang memperhatikan kelas kesesuaian lahan dan
agroekologi, cenderung usaha pertanian yang dihasilkan tidak maksimal, bahkan akan
membawa kerugian bagi petani karena akan memberikan input yang sangat besar guna
untuk peningkatan kesuburan tanah. Kegiatan evaluasi lahan dan survei tanah, sangat
dianjurkan dalam rangka untuk merencanakan dan mengkoordinir upaya perbaikan dan
pengelolaan lahan pada masingmasing tipe penggunaan atau usahatani. Kegiatan
evaluasi lahan ini mensuplai petani dengan informasi secara tepat dan akurat tentang
apa yang seyogyanya dikerjakan, dan perbaikan apa saja yang diperlukan untuk
pengelolaan lahannya.
Pengembangan lahan merupakan proses penting dalam perubahan suatu
penggunaan lahan ke penggunaan lainnya. Batasan pengembangan lahan sangat luas
karena termasuk di dalamnya beberapa kegiatan seperti konversi lahan hutan menjadi
lahan pertanian intensif dan pemukiman. Dewberry (1996) menyatakan bahwa desain
pengembangan lahan merupakan proses sistematik dari pengumpulan data, studi,

ekstrapolasi data dan analisis agar didapatkan hasil yang lebih baik. Evaluasi lahan
merupakan suatu proses analisis untuk mengetahui potensi lahan untuk penggunaan
tertentu yang berguna untuk membantu perencanaan penggunaan dan pengelolaan
lahan. Evaluasi lahan meliputi interpretasi data fisik kimia tanah, potensi penggunaan
lahan sekarang dan sebelumnya (Jones etal., 1990), yang bertujuan untuk
memecahkan masalah jangka panjang terhadap penurunan kualitas lahan yang
disebabkan oleh pengunaannya saat ini, memperhitungkan dampak penggunaan lahan,
merumuskan alternatif penggunaan lahan dan mendapatkan cara pengelolaan yang
lebih baik (Sys,1985; Rossiter, 1994). Kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu
biasanya dievaluasi dengan menggunakan karakteristik lahan atau kualitas lahan.
Karakteristik lahan merupakan kelengkapan lahan itu sendiri, yang dapat dihitung atau
diperkirakan seperti curah hujan, tekstur tanah dan ketersediaan air, sedangkan kualitas
lahan lebih merupakan sifat tanah yang lebih kompleks, seperti kesesuaian kelembaban
tanah, ketahanan terhadap erosi dan bahaya banjir (FAO, 1977).
Kabupaten Brebes merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki
keanekaragaman jenis tanah di wilayah nya, hal ini tidak terlepas dari kondisi morfologi
wilayahnya yang terletak sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah. Bagian
barat daya merupakan dataran tinggi (dengan puncaknya Gunung Pojoktiga dan
Gunung Kumbang), sedangkan bagian tenggara terdapat pegunungan yang merupakan
bagian dari Gunung Slamet. Kondisi itu menjadikan kawasan tesebut sangat potensial
untuk pengembangan produk pertanian. Akan tetapi, fakta yang sering terjadi di
lapangan pemanfaatan tanahnya tidak sesuai dengan jenis potensi tanahnya. Untuk
memahami hubungan antara jenis tanah dengan kesesuaian lahan, diperlukan
pengetahuan yang mampu mengelompokkan tanah secara sistematik dengan
menggunakan sistem klasifikasi tanah. Dimana sistem yang digunakan dalam
pengklasifikasian

tanah

di

Kabupaten

Brebes

yakni

sistem

USDA.

Setelah

mendapatkan klasifikasi tanahnya maka dilanjutkan dengan menentukan kesesuain


lahan, sehingga dapat memprakirakan potensi lahan untuk penggunaan lahan pertanian
di Kabupaten Brebes.
1.2.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalahnya yakni:

1. Jenis tanah apa sajakah yang terdapat di Kabupaten Brebes?


2. Bagaimanakah kesesuaian lahan terhadap jenis tanaman di tinjau dari aspek
ekonomis dan ekologis?
1.3.

Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dari tulisan ini yakni:
1. Untuk mengetahui jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Brebes
2. Untuk mengetahui kesesuaian lahan terhadap jenis tanaman di tinjau dari
aspek ekonomis dan ekologis
Manfaat dari tulisan ini yakni untuk memberikan informasi mengenai evaluasi
kesesuaian lahan di Kabupaten Brebes.

B. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Brebes


2.1.

Gambaran Umum Kabupaten Brebes


Kabupaten Brebes terletak di sepanjang pantai utara Laut Jawa, merupakan

salah satu daerah otonom di Provinsi Jawa Tenbgah, memanjang keselatan berbatasan
dengan wilayah karsidenan Banyumas. Sebelah timur dengan Kota dan Kabupaten
Tegal, serta sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Brebes
secara geografis terletak diantara 60 4456,5 - 70 2051,48 LS dan 1080 4137,7 - 1090
1128,92 BT. Kabupaten Brebes memiliki luas wilayah sebesar

1.662,96 km 2 yang

terdiri dari 17 kecamatan dan 297 desa/kelurahan.


Kabupaten Brebes memiliki tipe iklim sangat basah dengan rata-rata curah hujan
1.877 mm dan musim hujan berkisar antara bulan Nopember hingga April. Curah hujan
terendah sekitar 1.077 mm/tahun terjadi di wilayah Desa Slatri, sedangkan curah hujan
tertinggi terjadi di wilayah Paguyangan, Waduk Penjalin dan Bantarkawung.
Morfologi Kabupaten Brebes terbagi menjadi tiga wilayah, yakni wilayah dataran
rendah yang tersebar di sebagian besar wilayahnya, Bagian barat daya merupakan
dataran tinggi (dengan puncaknya Gunung Pojoktiga dan Gunung Kumbang),
sedangkan bagian tenggara terdapat pegunungan yang merupakan bagian dari Gunung
Slamet. Sebagian besar jenis tanah di Kabupaten Brebes adalah Alluvial Kelabu.
Hampir seluruh Kecamatan memiliki tanah Entisol (luasnya sekitar 42.416 Ha atau
sekitar 25,53 % dari luas tanah di Kabupaten Brebes secara keseluruhan) kecuali di
Kecamatan Salem, Bantarkawung, Bumiayu, Paguyangan dan Sirampog.
Dengan iklim tropis, curah hujan rata-rata 156 mm per bulan. Kondisi itu
menjadikan kawasan Kabupaten Brebes sangat potensial untuk pengembangan produk
pertanian seperti tanaman padi, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan
sebagainya.

Peta ADministrasi

2.2.

Jenis jenis Tanah di Kabupaten Brebes


Persebaran Jenis tanah di kabupaten Brebes terdiri dari entisol, vertisol,

inceptisol, ultisol, dan alvisol.


1. ENTISOL
Entisols merupakan tanah-tanah yang belum mengalami perkembangan
penampang, sehingga mempunyai susunan horizon AC. Di Kabupaten Brebes
Entisols terbentuk dari bahan induk alluvium. Pada landform pesisir pasir tanah
terbentuk

dari

endapan

pasir

marin,

dan

diklasifikasikanmenjadi

Typic

Udipsamments. Pada landform dataran alluvial kondisi drainase terhambat


sehingga terjadi proses glisasi didalam penampang tanahnya. Tanah-tanah
tersebut umumnya mempunyai warna kelabu, dan secara berkala memperoleh
tambahan bahan batu dan diklasifikasikan sebagai Typic Fluvaquents
Ciri-ciri tanah entisol yaitu tanah yang tidak memepunyai horison kambik,
argilik, kandik, atau natrik di dalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah
mineral, tidak memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, atau rekahan-rekahan
yang terbuka dan tertutup secara periodik pada kedalaman tersebut. Entisols
tergolong tanah yang masih sangat muda,terdapat di dataran aluvial, pantai,
lereng volkan aktif misalnya: gunung berapi dan lereng curam yang mengalami
erosi berat, dapat beriklim basah atau kering. Bahan tanah yang relatif tua dan
bersifat resisten terhadap pelapukan juga tergolong dalam Entisols, diantaranya
pasir kuarsa dan mineral lain yang resisten. Sifat tanah ini sangat bervariasi,
demikian juga dengan kesuburan, kesesuaian dan potensinya yang tergantung
dari bahan

induk,topografi,lingkungan,dan tingkat erosinya. Pada tingkat

subordo, dijumpai Aquents, Fluvents, Orthents, dan Psamments. Turunan sub


ordo ini yang tersebar di Kabupaten Brebes adalah sulfaquents dan
hydraquents ,yang diuraikan sebagai berikut:
a. Sulfaquents
Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini
mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua
horison dibawah kedalaman 25 cm,dan memiliki bahan sulfidik di dalam 50 cm
dari permukaan tanah mineral.

b. Hydraquents
Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini
mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua
horison dibawah kedalaman 25 cm.

Pada seluruh horison diantara kedalaman

20 cm dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral tergolong belum matang,


memiliki nilai-n lebih besar dari 0,7, dan mengandung liat sebesar 8 persen atau
lebih pada fraksi tanah-halusnya.
Kedua jenis tanah ini berbahan induk aluvium, terdapat pada sub landform
dataran pasang surut dengan relief yang datar. Di kabupaten Brebes persebaran
tanah sulfaquents dan hidraquents terdapat dibagian utara.
2. Vertisol
Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan
batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir
atau ped berbentuk baji, rata-rata tertimbang kandungan liat sebesar 30 persen
atau lebih, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik.
Biasanya tanah berwarna hitam, miskin bahan organik, dan dominan mineral liat
golongan smektit yang berkembang dari bahan induk relatif kaya basa-basa dan
agak sulit melalukan air.
Meskipun tanah ini kaya basa-basa, tetapi miskin nitrogen dan fosfat.Apabila
cukup tersedia air, potensinya sangat baik untuk persawahan, walaupun berat
pengolahannya di musim kemarau. Penyebaran Vertisols terutama di daerah
beriklim kering dengan bentuk wilayah datar sampai bergelombang. Pada tingkat
subordo dijumpai Aquerts, Uderts, dan Usterts. Di Kabupaten Brebes tersebar
turunan sub ordo ini yaitu hapluderts yang diuraikan sebagai berikut:
a. Hapluderts
Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan
batas atas di dalam100 cmdari permukaan tanah mineral, memiliki bidangkilir
atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara
periodik.
Jenis tanah ini berbahan induk aluvium dengan sub landform dataran
aluvial dan relief datar.

3. INCEPTISOL
Inceptisols merupakan tanah-tanah yang telah mengalami alterasi
sehingga terjadi perubahan warna,terbentuk struktur, dan ada peningkatan liat di
horizon bawah permukaan tetapi belum memenuhi syarat sebagai horizon Argilik,
atau terdapat karatan pada tanah-tanah yang mempunyai drainase terhambat. Di
Kabupaten Brebes inceptisols berbahan induk sedimen dengan sub landform
dataran tektonik dan relief berombak-bergelombang.
Tanah yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam100
cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan
tanah mineral, atau tidak terdapat bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan
tanah mineral. Pada satu atau lebih horison di antara kedalaman 20 dan 50 cm
di bawah permukaan tanah mineral yang memiliki nilai-n sebesar0,7 atau kurang
dan mempunyai epipedonhistik,molik,atau umbrik. Tanah ini tergolong masih
muda, sifat tanahnya sangat bervariasi bergantung bahan induknya, diantaranya:
tekstur lebih halus dari pasir halus berlempung, sangat masam sampai netral,
tergantung dari sifat bahan asal dan keadaan lingkungannya. Banyak data
menunjukkan

penampang

tanahnya

dangkal

dan

berbatu

terutama

di

pegunungan atau perbukitan berlereng curam. Terdapat juga Inceptisols yang


berbahaya untuk tanaman karena mengandung pirit atau aluminium yang tinggi.
Pada Tingkat subordo dijumpai Aquepts,Udepts,danUstepts yang masing-masing
turunan sub ordo yang terdapat di kabupaten Brebes dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. Endoaquepts
Tanah yang mempunyai horison kambik,pada lapisan diantara kedalaman
40 cm dan 50cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahuntahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di
dalam 50cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta tidak
terdapat bahan sulfidik.

b. Eutrudepts
Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam
100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, memiliki
kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 60 persen atau lebih pada satu
horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah
mineral, serta memiliki rejim kelembaban udik.
c. Dystrudepts
Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam
100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, memiliki
kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar kurang dari 60 persen pada satu
horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah
mineral, serta memiliki rejim kelembaban udik.
4. ULTISOL
Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik dan memiliki
kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm atau
lebih di bawah batas atas horison argilik atau kandik. Tanah ini telah mengalami
pelapukan lanjut dan terjadi translokasi liat pada bahan induk yang umumnya
terdiri dari bahan kaya aluminium-silika dengan iklim basah. Sifat-sifat utamanya
mencerminkan kondisi telah mengalami pencucian intensif, diantaranya: miskin
unsur hara N, P, dan K,sangat masam sampai masam, miskin bahan organik,
lapisan bawah kaya aluminium (Al), dan peka terhadap erosi. Potensinya
bervariasi dari rendah sampai sedang dan biasanya digunakan untuk tanaman
keras. Pada tingkat subordo dijumpai Humults, Udults, dan Ustults, turunan sub
ordo ini yang terdapat di kabupaten Brebes yaitu :

1. Hapludults
Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa
sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas
horison kandik.Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.

5. ALVISOL
Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik. Tanah ini mengalami
pelapukan lanjut, dan terjadi translokasi liat, pencucian basa-basa tidak intensif,
dan mempunyai horison argilik yang umumnya beriklim kering (mempunyai bulan
kering nyata). Kandungan basa-basa tertukar tinggi (KB>35%), miskin N, P, dan
K, reaksi tanah agak masam sampai netral,dan peka terhadap erosi. Dua
subordo Udalfs dan Ustalfs menurunkan great group yang diantaranya dijumpai
di Kabupaten Brebes yaitu:
1.

Hapludalfs
Tanah yang mempunyai horison argilik yang berada di dalam 150 cm dari

permukaan tanah mineral dan rejim kelembaban udik. Horison argiliknya


mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari
kandungan liat maksimum dan 50 persen atau lebih pada setengah bagian
matriks bawahnya memiliki hue 10YR atau lebih kuning.

Tabel 1. Karakteristik Tanah Kabupaten Brebes


No

Karakteristik Tanah
Inceptisol

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Great Group
Tekstur tanah
pH tanah
Kemiringan lereng
Kelembaban tanah
Kedalaman tanah
Warna tanah
Suhu
Bahan Induk
Sub Landform
Relief

Alfisol

Ordo Tanah
Entisol
Andisol

Vertisol

Tabel 2. Persebaran Jenis Tanah di Kabupaten Brebes


No.
Kecamatan
Jenis Tanah
di Kabupaten Brebes
1.
SALEM
Eutrudepts Hapludalfs
2.
BANTAR KAWUNG
Eutrudepts Hapludalfs
3.
BUMI AYU
Eutrudepts Hapludalfs
4.
PAGUYANGAN
Hapludands Dystrudept
5.
SIRAMPOG
Hapludands Dystrudept
6.
TONJONG
Eutrudepts Hapludalfs
Hapludults Dystrudept
7.
LARANGAN
Eutrudepts Hapludalfs
Hapludults Dystrudept
8.
KETANGGUNGAN
Eutrudepts Hapludalfs
Endoaquepts Hapludents
9.
BANJAR HARJO
Eutrudepts Hapludalfs
Endoaquepts Hapludents
10.
LOSARI
Hapludults Dystrudept
Hydraquents Sulfaquents
Endoaquepts Hapludents
11.
TANJUNG
Hydraquents Sulfaquents
Endoaquepts Hapludents
12.
KERSANA
Endoaquepts Hapludents
13.
BULAKAMBA
Hydraquents Sulfaquents
Endoaquepts Hapludents
14.
WANASARI
Hydraquents Sulfaquents
Endoaquepts Hapludents
15.
SONGGOM
Hapludults Dystrudept
Endoaquepts Hapludents
16.
JATIBARANG
Endoaquepts Hapludents
17.
BREBES
Hydraquents Sulfaquents
Endoaquepts Hapludents
(Sumber: USDA)
Peta Jenis Tanah

C. Pembahasan

Kabupaten Tegal merupakan Kabupaten yang penggunaan lahannya banyak di


manfaatkan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. Hal ini
Pembagian wilayah secara jenis tanah yang sama:
3.1. Wilayah 1
Terdiri dari jenis tanah blablabla yang terdapat di kec. Blablabla. Jenis tanah ini
merupakan jenis tanah blablablabla,

analisis ekonomis

Berdasarkan penjabaran mengenai klasifikasi tanah di Kabupaten Brebes, rata-rata


penggunaan lahannya banyak digunakan dalam sektor pertanian dan perkebunan. Hal ini
karena jenis tanahnya yang memang sesuai untuk daerah pertanian. Sektor pertanian amat
dominan dalam perekonomian Kabupaten Brebes. Kontribusinya bagi PDRB daerah ini lebih dari
56 persen dengan nilai ekonomi lebih dari Rp 2,4 triliun. Subsektor yang signifikan adalah tanaman
bahan makanan yang menumbang Rp 1,9 tiliun rupiah bagi PDRB. Jenis tanaman yang banyak
di manfaatkan untuk pertanian yakni tanaman padi sawah yang terdapat di seuruh
Kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes dengan luas areal sawah 105.728 Ha dengan
hasil produksi mencapai 572.580 ton dan harga jual beras perkilo sebesar Rp. 11.500
(Maret 2015). Kabupaten Brebes merupakan produsen padi keenam terbesar di Propinsi Jawa
Tengah, sehingga Kabupaten Brebes di jadikan salah satu daerah swasembada pangan nasional.
Selain padi, tanaman yang banyak ditanam yakni bawang merah dengan produksi lebih dari 2 juta
kwintal dengan harga jual bawang merah perkilo Rp. 20.000 (Maret 2015) daerah ini merupakan
sentra produksi bawang merah tingkat nasional. Kecamatan andalan untuk produksi bawang merah
ini adalah Larangan, Wanasari, Brebes, Bulakamba, dan Jatibarang. Kelima kecamatan tersebut
cocok disebut dan dijadikan sebagai klaster bawang merah. Meskipun demikian, tanaman bawang
bagi masyarakat Kabupaten Brebes bukan di jadikan sebagai tanaman pokok tetapi sebagai tanaman
sampingan. Tanaman bawang biasanya akan ditanam setelah para petani panen tanaman pokok
yakni padi. Karena tanaman bawang merah biasanya akan tumbuh dengan baik pada saat musim
kemarau.
Kedua komuditas tanaman ini, jika kita lihat dari hasil produksi dengan hasil harga jual per ton nya,
sama-sama memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat, hal ini disebabkan karena kedua
komoditas tanaman ini merupakan komoditas tanaman unggulan bagi Kabupaten Brebes. Sehingga
tidak mengherankan jika Kabupaten Brebes dijadikan salah satu daerah swasembada pangan
nasional dan sentra bawang merah untuk di Pulau Jawa.
Untuk subsektor perkebunan, komoditi yang diproduksi secara signifikan adalah tebu,
dan kopi robusta. Kecamatan andalan untuk produksi tebu adalah Losari, dan untuk
produksi kopi adalah Sirampog dan Salem. Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Brebes
sebagian besar tanaman perkebunan rakyat . Luas dan produksi tanaman perkebunan rakyat pada tahun
2011 sampai dengan tahun 2012 mengalami fluktuasi. Dilihat dari
sisi luas, tanaman perkebunan rakyat yang mempunyai area yang cukup pada tahun 2012 adalah
tanaman tebu sebesar 2.523,25 ha terjadi penurunan bila dibanding tahun 2011 sebesar 3.072 Ha.

analsis ekologis

rekomendasi

D. Kesimpulan