Anda di halaman 1dari 179

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL PENINDAKAN DAN PENGAWASAN

DI BIDANG KEPABEANAN

CUKAI MODUL PENINDAKAN DAN PENGAWASAN DI BIDANG KEPABEANAN OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN

OLEH :

TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA

2008

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL I

RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

MODUL I RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN

OLEH :

TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA

2008

i

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

ii

1. PENDAHULUAN

1.1 Deskripsi Singkat

1

1.2 Tujuan Instruksional Umum (TIU)………………………………

2

1.3 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)………………………………

2

1.4. Petunjuk Pembelajaran ……………………………………………

2

2. Kegiatan Belajar (KB 1) :

SEJARAH PERKEMBANGAN WILAYAH TERITORIAL DAN YURISDIKSI KEDAULATAN NKRI

2.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh …………………………………

3

2.1.a. Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia ………………

3

2.1.b. Batas Landas Laut Teritorial

6

1. Zona Pesisir

6

2. Zona Laut Indonesia

7

2.1.c. Peta NKRI Sebagai Informasi Wilayah Negara

11

2.2 Latihan

12

2.3 Rangkuman

12

3. Kegiatan Belajar (KB) 2 PETA GEOGRAFI INDONESIA

3.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh……………………………………

14

3.1.a. Konsep Geografi ……………… …………………………

14

3.1.b. Konsep Kepulauan Indonesia ………………………………

15

3.1.c. Hakekat Wawasan Nusantara ………………………………

15

3.2 Latihan …………………………………………………………

16

3.3 Rangkuman………………………………………………………….

16

4.

Kegiatan Belajar (KB) 3

KOORDINAT PETA GEOGRAFI

4.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh …………………………………

4.1.a. Perairan dan Laut Teritorial Indonesia …………………… 4.1.b. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) .………………………… 4.1.c. Landas Kontinen ……………………………………………

4.2. Latihan …………………………………………………………….

4.3. Rangkuman ………………………………………………………

5.

Kegiatan Belajar (KB) 4

BATAS WILAYAH PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

5.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

5.1.a. Batas Wilayah Negara ………….………………………… 5.1.b. Kewenangan Negara Menetapkan Batas Negara …………

5.2. Latihan ……………………………………………………………

6.

7.

8.

7.

5.3. Rangkuman …………………………………………………………

Test Formatif………………………………………………………

Kunci Jawaban Tes Formatif…………………………………………

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Daftar Pustaka

18

18

20

21

23

24

25

25

27

28

28

30

41

41

43

MODUL I

RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

1.

PENDAHULUAN

1.1.

Deskripsi Singkat

Latar belakang disusunnya modul ruang lingkup pengawasan dan penindakan kepabeanan dalam rangka memenuhi dan melengkapi siswa atau peserta didik mengetahui, memahami, melaksanakan pengawasan dan penindakan kepabeanan untuk mendukung, menunjang tujuan organisasi DJBC mengoptimalkan penerimaan negara, dan dilaksanakannya/dipatuhinya Undang-undang Kepabeanan dan peraturan pelaksanaanya. Pelaksanaan pengawasan dilakukan dalam rangka kegiatan prefentif, yang termasuk ruang lingkup administrasi kepabeanan, sedangkan penindakan itu sendiri dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup perbuatan yang dilakukan secara fisik. Dengan demikian diharapkan siswa atau peserta diklat memperbaiki dan menambah pengetahuan, agar lebih terampil dalam pelaksanaan tugas kepabeanan yang menjadi sisi sentral dari upaya organisasi untuk menegakkan citranya di masyarakat. Hukum adalah kaedah-kaedah yang diberlakukan disuatu masyarakat yang dipatuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi bagi pelakunya. Hukum sebagai suatu perangkat aturan yang mengatur tata cara hidup bermasyarakat, dari pengertian singkat ini maka istilah ’pelanggaran hukum’ adalah adanya upaya melanggar aturan-aturan yang telah dibuat dan telah ditetapkan. Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan, yang dimaksud dengan kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu-lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar. Dari pengertian tersebut sangat jelas bahwa institusi bea dan cukai memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, yaitu melakukan pengawasan terhadap barang yang keluar atau masuk ke dan/atau dari daerah pabean Indonesia serta melakukan pungutan bea masuk, dan pajak dalam rangka impor sebagai penerimaan negara.

1.2.

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Dengan mengetahui, memahami, melaksanakan isi kegiatan pembelajaran ini, siswa atau peserta didik diharapkan lebih terampil dalam pelaksanaan tugas yang dimaksudkan oleh modul ruang lingkup pengawasan dan penindakan kepabeanan.

1.3. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari modul tentang ruang lingkup pengawasan dan penindakan kepabeanan ini, siswa atau peserta didik diharapkan

-

mampu menjelaskan,dan memahami tentang Sejarah Perkembangan Wilayah Teritorial dan Yuridiksi Kedaulatan Nkri

-

mampu menjelaskan, dan memahami Peta Geografi Indonesia

-

mampu menjelaskan, memahami, menetapkan Koordinat Peta Geografi.

-

mampu menjelaskan, memahami, dan melaksanakan tugas sampai pada Batas Wilayah Pengawasan dan Penindakan Kepabeanan

1.4.

Petunjuk Pembelajaran

Bacalah dengan cermat dan teliti modul tentang ruang lingkup pengawasan dan penindakan kepabeanan ini, setelah selesai membaca dan memahami materi pembelajaran, jawablah soal latihan dan pahami rangkuman pembelajaran. Dalam hal siswa atau peserta diklat merasa jawaban soal latihan hasilnya belum mencapai enam puluh lima persen, agar membaca dan memahami kembali modul ini utamanya yang belum dimengerti. Dalam hal masih belum dapat dimengerti materi pembelajaran ini tanyakan kepada pengajar, dan/atau kelompok belajar Anda. Pada menjelang akhir pembelajaran kerjakan atau jawablah seluruh test formatif, setelah selesai dikerjakan jawaban agar dicocokan hasil/jawaban dengan kunci jawaban yang telah disediakan pada modul ini. Bila berhasil menjawab dengan benar lebih dari enam puluh lima persen, dinyatakan cukup berhasil, dalam hal ingin lebih baik lagi hasilnya agar mengulangi membaca kembali bagian yang belum dipahami atau dimengerti.

2. KEGIATAN BELAJAR (KB) 1

SEJARAH PERKEMBANGAN WILAYAH TERITORIAL DAN YURIDIKSI KEDAULATAN NKRI

2.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

2.1.a.

Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengilustrasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia beserta batas-batasnya. Peta ini memberikan informasi spasial bagi publik tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peta ini menggambarkan pencapaian hasil berbagai perundingan bilateral, trilateral maupun multilateral sejak Deklarasi Djuanda sampai sekarang. Dalam peta NKRI juga dicantumkan nama-nama geografis pulau-pulau terluar milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal kepulauan Indonesia, serta digambarkan letak alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Selain itu peta NKRI juga menggambarkan proyeksi batas menurut hukum Indonesia. Atas dasar tersebut, maka perlu untuk dinyatakan bahwa peta NKRI bersifat dinamis dan akan selalu di-update sesuai dengan perkembangan. Wilayah Indonesia di dalam perkembangannya mengalami pertambahan luas yang sangat besar. Wilayah Indonesia ditentukan pertama kali dengan Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie (TZMKO) 1939.Selanjutnya seiring dengan perjalanan NKRI, Pemerintah RI memperjuangkan konsepsi Wawasan Nusantara mulai dari Deklarasi Djuanda, berbagai perundingan dengan negara tetangga, sampai pada akhirnya konsep Negara Kepulauan diterima di dalam Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nation Convention on the Law of the Sea/UNCLOS ’82). Berdasarkan konsepsi TZMKO tahun 1939, lebar laut wilayah perairan Indonesia hanya meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut. Sedang kan menurut UUD 1945, wilayah negara Indonesia tidak jelas menunjuk batas wilayah negaranya. Wilayah negara proklamasi adalah wilayah negara ex kekuasaan Hindia Belanda, selain itu UUD 1945 tidak mengatur tentang kedudukan laut teritorial. Produk hukum mengenai laut teritorial baru dilakukan secara formal pada tahun 1958 dalam Konvensi Geneva. Pada tahun 1957, Pemerintah

Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, mengumumkan secara unilateral /sepihak bahwa lebar laut wilayah Indonesia adalah 12 mil. Barulah dengan UU No. 4/Prp tahun 1960 tentang Wilayah Perairan Indonesia ditetapkan ketentuan tentang laut wilayah Indonesia selebar 12 mil laut dari garis pangkal lurus. Perairan Kepulauan ini dikelilingi oleh garis pangkal yang menghubungkan titik-titik terluar dari Pulau Terluar Indonesia. Semenjak Deklarasi Djuanda, Pemerintah Indonesia terus memperjuangkan konsepsi Wawasan Nusantara di dalam setiap perundingan bilateral, trilateral, dan multilateral dengan negara-negara di dunia ataupun di dalam setiap forum-forum internasional. Puncak dari diplomasi yang dilakukan adalah dengan diterimanya Negara Kepulauan di dalam UNCLOS 1982. Melalui UU No.17 tahun 1985,Pemerintah Indonesia meratifikasi/ mengesahkan UNCLOS 1982 tersebut dan resmi menjadi negara pihak. Sebagai tindak lanjut dari pengesahan UNCLOS 1982, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan UU No. 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia dan Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Dua Landasan hukum tersebut, khususnya PP No.38 tahun 2002, telah memagari wilayah perairan Indonesia yang sejak dicabutnya UU No. 4 Prp tahun 1960 melalui UU No.6 tahun 1996, Indonesia tidak memiliki batas wilayah perairan yang jelas. Bagi Indonesia, UNCLOS 1982 merupakan tonggak sejarah yang sangat penting, yaitu sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap konsep Wawasan Nusantara yang telah digagas sejak tahun 1957. Khusus mengenai Timor– Timur, semenjak integrasinya pada tahun 1975 sampai dengan merdeka pada 1999 tentunya membawa perubahan pada wilayah Indonesia baik pada batas darat maupun batas lautnya. Batas darat Indonesia dengan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) didasarkan atas perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan Portugis pada tahun 1904 dan Permanent Court Award (PCA) 1914. Saat ini telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia dan RDTL Provisional Agrreement on the Land Boundary yang ditandatangani 8 April 2005 oleh Menteri Luar Negeri kedua negara. Sedangkan batas laut RI-RDTL, sejak periode kolonial tidak ada perjanjian maupun pengaturan yang terkait dengan batas laut antara Portugal dan Belanda di sekitar P. Timor [Deeley, 2001]. Begitu juga setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, dan juga setelah Timor Leste menjadi bagian Indonesia pada tahun 1975, tidak ada perjanjian tentang batas laut antara Indonesia dengan Portugal. Dan bahkan sampai saat ini batas laut RI-RDTL yang meliputi laut wilayah, zona tambahan, ZEE dan landas kontinen belum mulai dirundingkan karena masih menunggu penyelesaian batas darat terlebih dahulu. Seiring

dengan perkembangan, PP No.38/2002 memerlukan penyempurnaan karena menyisa kan beberapa bagian wilayah Indonesia yang belum ditetapkan garis pangkalnya, diantaranya adalah di sekitar P.Timor yang berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Untuk dapat menetapkan batas perairan pada wilayah yang

berbatasan dengan RDTL, selain menunggu penyelesaian segment batas darat, perlu pula ditetapkan calon-calon titik dasar sebagai acuan dalam penarikan garis pangkal untuk menetapkan batas antara kedua negara, disamping memanfaatkan beberapa titik- titik dasar yang sudah ada di sekitar wilayah tersebut. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut) (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319); dasar pengertian yang meliputi, sebagai berikut :

– Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain.

– Pulau adalah daerah daratan yang terbentuk secara alamiah dikelilingi oleh air dan yang berada di atas permukaan air pada waktu air pasang.

– Kepulauan adalah suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, dan perairan di antara pulau-pulau tersebut, dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau, perairan, dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan politik yang hakiki, atau yang secara historis dianggap sebagai demikian.

– Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya.

– Garis air rendah adalah garis air yang bersifat tetap di suatu tempat tertentu yang menggambarkan kedudukan permukaan air laut pada surut yang terendah.

– Elevasi surut adalah daerah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi dan berada di atas permukaan laut pada waktu air surut, tetapi berada di bawah permukaan laut pada waktu air pasang.

– Teluk adalah suatu lekukan jelas yang penetrasinya berbanding sedemikian rupa dengan lebar mulutnya sehingga mengandung perairan tertutup yang lebih dari sekedar suatu lengkungan pantai semata-mata, tetapi suatu lekukan tidak merupakan suatu teluk kecuali apabila luasnya adalah seluas atau lebih luas daripada luas setengah lingkaran yang garis tengahnya ditarik melintasi mulut lekukan tersebut.

– Alur laut kepulauan adalah alur laut yang dilalui oleh kapal atau pesawat udara asing di atas alur laut tersebut, untuk melaksanakan pelayaran dan penerbangan dengan cara normal semata-mata untuk transit yang terus-menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang melalui atau di atas perairan kepulauan dan laut teritorial yang berdampingan antara satu bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia lainnya.

– Konvensi adalah United Nations Convention on the Law of the Sea Tahun 1982, sebagaimana telah diratifikasi dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut).

– Negara Republik Indonesia adalah Negara Kepulauan.

2.1.b.

Batas Landas Laut Teritorial

Dengan demikian batas landas laut teritorial meliputi Zona Pesisir dan Zona Laut. Yang dimaksud zone itu dapat diartikan daerah atau wilayah, yang dapat dirinci sebagai berikut :

Tahukah Anda yang dimaksud zone. Zone itu dapat diartikan daerah atau wilayah.

1. Zona Pesisir Berdasarkan kedalamannya zona pesisir dapat dibedakan menjadi 4 wilayah (zona)yaitu:

a. Zona “Lithoral”, adalah wilayah pantai atau pesisir atau “shore”. Di wilayah ini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering disebut juga wilayah pasang surut.

b. Zona “Neritic” (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuhan-tumbuhan, contoh Jaut Jawa, Laut Natuna, Selat Malaka dan laut-laut disekitar kepulauan Riau.

c. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di zona meritic.

d. Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman lebih dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, jenis hewan yang hidup di wilayah ini sangat terbatas.

Untuk lebih memahami penjelasan di atas perhatikan gambar berikut ini.

memahami penjelasan di atas perhatikan gambar berikut ini. Gambar 2. Klasifikasi wilayah laut menurut kedalamannya 2.

Gambar 2. Klasifikasi wilayah laut menurut kedalamannya

2. Zona Laut Indonesia Sebagai negara kepulauan yang wilayah perairan lautnya lebih luas dari pada wilayah daratannya, maka peranan wilayah laut menjadi sangat penting bagi kehidupan bangsa dan negara.

a. Batas wilayah laut Indonesia. Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2. Ini berarti luas wilayah laut Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Sesuai dengan Hukum Laut Internasional yang telah disepakati oleh PBB tahun 1982. berikut ini adalah gambar pembagian wilayah laut menurut konvensi Hukum Laut PBB. Berikut ini adalah gambar pembagian wilayah laut menurut konvensi hukum laut PBB

Gambar 3. Pembagian wilayah menurut Konvensi Hukum Laut PBB, Montego, Caracas tahun 1982 Wilayah perairan

Gambar 3. Pembagian wilayah menurut Konvensi Hukum Laut PBB, Montego, Caracas tahun 1982

Wilayah perairan laut Indonesia dapat dibedakan tiga macam, yaitu zona laut Teritorial, zona Landas kontinen, dan zona Ekonomi Eksklusif

1)

Zona Laut Teritorial. Batas laut Teritorial ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut lepas. Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu lautan, sedangkan lebar lautan itu kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara tersebut. Laut yang terletak antara garis dengan garis batas teritorial di sebut laut teritorial. Laut yang terletak di sebelah dalam garis dasar disebut laut internal. Garis dasar adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung pulau. Sebuah negara mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya sampai batas laut teritorial, tetapi mempunyai kewajiban menyediakan alur pelayaran lintas damai baik di atas maupun di bawah permukaan laut. Pengumuman pemerintah tentang wilayah laut teritorial Indonesia dikeluarkan tanggal 13

Desember 1957 yang terkenal dengan Deklarasi Djuanda dan kemudian diperkuat dengan Undang-undang No.4 Prp. 1960.

2)

Zona Landas Kontinen. Landas kontinen ialah dasar laut yang secara geologis maupun morfologi merupakan lanjutan dari sebuah kontinen (benua). Kedalaman lautnya kurang dari 150 meter. Indonesia terletak pada dua buah landasan kontinen, yaitu landasan kontinen Asia dan landasan kontinen Australia. Adapun batas landas kontinen tersebut diukur dari garis dasar, yaitu paling jauh 200 mil laut. Jika ada dua negara atau lebih menguasai lautan di atas landasan kontinen, maka batas negara tersebut ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing negara. Sebagai contoh di selat malaka, batas landasan kontinen berimpit dengan batas laut teritorial, karena jarak antara kedua negara di tempat itu kurang dari 24 mil laut. Di selat Malaka sebelah utara, batas landas kontinen antara Thailand, Malaysia, dan Indonesia bertemu di dekat titik yang berkoordinasi 98 °BT dan 6 °LU. Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, dengan kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai. Pengumuman tentang batas landas kontinen ini dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 17 Febuari 1969.

3)

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar 200 mil laut ke arah laut terbuka diukur dari garis dasar. Di dalam zona ekonomi eksklusif ini, Indonesia mendapat kesempatan pertama dalam memanfaatkan sumber daya laut. Di dalam zona ekonomi eksklusif ini kebebasan pelayaran dan pemasangan kabel serta pipa di bawah permukaan laut tetap diakui sesuai dengan prinsip-prinsip Hukum Laut Internasional, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi eksklusif antara dua negara yang bertetangga saling tumpang tindih, maka ditetapkan garis-garis yang menghubungkan titik yang sama jauhnya dari garis dasar kedua negara itu sebagai batasnya. Pengumuman tetang zona ekonomi eksklusif Indonesia dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia tanggal 21 Maret 1980.

Agar Anda lebih jelas tentang batas zona laut Teritorial, zona landas kontinen dari zona ekonomi eksklusif lihatlah peta berikut.

Gambar 4. Batas wilayah laut Indonesia Berdasarkan undang-undang nomor: 1 tahun 1973 (1/1973) tanggal: 6

Gambar 4. Batas wilayah laut Indonesia

Berdasarkan undang-undang nomor: 1 tahun 1973 (1/1973) tanggal: 6 Januari 1973 (Jakarta) sumber: LN 1973/1; TLN No. 2994 tentang: landas kontinen Indonesia. Negara Republik Indonesia mempunyai kedaulatan atas kekayaan alam di landas kontinen Indonesia, sebagaimana telah ditegaskan dalam pengumuman pemerintah Republik Indonesia tanggal 17 Pebruari 1969; Undang-undang yang mengatur penyelenggaraan usaha pemanfaatan kekayaan alam termaksud untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan negara.

Pengertian yang ada pada ketentuan sebagai dasar hukum landas kontinen Indonesia, adalah:

– Landas Kontinen Indonesia adalah dasar laut dan tanah dibawahnya diluar perairan wilayah Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 4 Prp. Th.1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam.

– Kekayaan alam adalah mineral dan sumber yang tak bernyawa lainnya didasar laut dan/atau di dalam lapisan tanah dibawahnya bersama-sama dengan organisme hidup yang termasuk dalam jenis sedinter yaitu organisme yang pada masa perkembangannya tidak bergerak baik diatas maupun dibawah dasar laut atau tak

dapat bergerak kecuali dengan cara selalu menempel pada dasar laut atau lapisan tanah dibawahnya.

– Eksplorasi dan eksploitasi adalah usaha-usaha pemanfaatan kekayaan alam dilandas kontinen sesuai dengan istilah yang digunakan dalam peraturan perundangan yang berlaku dibidang masing-masing. Penyelidikan ilmiah adalah penelitian ilmiah atas kekayaan alam dilandas kontinen.

– Penguasaan penuh dan hak eksklusif atas kekayaan alam di Landas Kontinen Indonesia serta pemilikannya ada pada Negara. Dalam hal landas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di landas Kontinen Indonesia, berbatasan dengan negara lain, penetapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai suatu persetujuan.

2.1.c.

Peta NKRI Sebagai Informasi Wilayah Negara

Lembaga otoritas survei dan pemetaan nasional, bekerjasama dengan beberapa instansi terkait (Deplu, Depdagri, , DKP, Ditwilhan, Dishidros TNI AL, ESDM, Dittop TNI AD) telah menerbitkan Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan dari penerbitan peta ini adalah agar seluruh masyarakat beserta seluruh stake holder dapat memiliki gambaran umum tentang wilayah NKRI sampai pada saat ini. Peta NKRI merupakan peta ilustrasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan eksistensi hak-hak berdaulatnya yang menginformasikan gambaran secara umum wilayah negara kesatuan Republik Indonesia darat dan laut beserta informasi batas-batas hak berdaulatnya. Dalam peta NKRI selain informasi tersebut di atas, juga menyantumkan nama-nama geografis pulau-pulau milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal kepulauan Indonesia baik pulau kecil terluar dan pulau–pulau besar lainnya, alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Mengingat keterbatasan skala peta yang digunakan (skala 1:5.000.000), tentunya informasi garis batas baik darat dan laut pada segmen-segmen tertentu tidak tergambar secara detail. Demikian juga dengan pulau– pulau kecil yang jumlahnya sangat banyak tentunya tidak dapat tergambar secara keseluruhan. Namun demikian nilai dari angka-angka koordinat batas antar negara yang telah disepakati, koordinat dari titik pangkal PP 38/tahun 2002 yang terletak pada pulau-pulau kecil terluar dan lain lainnya telah diplotkan dengan benar. Dengan demikian peta NKRI tersebut telah memenuhi aspek geometris dan kartometris. Untuk

melengkapi informasi spasial lainnya dari peta NKRI tersebut, maka peta NKRI perlu dilengkapi dengan informasi peta tematik lainnya terutama informasi tentang wilayah perbatasan darat dan laut pada segmen–segmen khusus dengan skala yang memadai atau lebih besar. Peta NKRI juga dimaksudkan guna menggambarkan hasil Border Diplomacy, yang menyatakan bahwa Indonesia perlu memiliki peta NKRI yang menggambarkan batas-batas negara yang telah dicapai sejak Deklarasi Djuanda sampai sekarang baik yang belum maupun yang sudah disepakti melalui berbagai perundingan bilateral, trilateral maupun multilateral. Seperti yang telah dicoba dijabarkan di atas bahwasannya wilayah NKRI memiliki dinamika perkembangan yang panjang.

2.2. Latihan

1). Jelaskan perkembangan Wilayah Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan saat ini! 2). Jelaskan apa saja yang ada hubungannya antara pengawasan dan penindakan dengan Negara Kepulauan.! 3). Jelaskan apa tujuan dari penerbitan Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia dikaitkan dengan pengawasan dan penindakan kepabeanan ! 4). Jelaskan yang termasuk dalam wilayah perairan laut Indonesia itu apa saja.! 5). Jelaskan peranan wilayah laut Indonesia dan hubungannya dengan pengawasan dan penindakan kepabeanan yang dilakukan oleh DJBC.!

2.3. Rangkuman

Berdasarkan konsepsi TZMKO tahun 1939, lebar laut wilayah perairan Indonesia hanya meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut. Pada tahun 1957, Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, mengumumkan secara unilateral /sepihak bahwa lebar laut wilayah Indonesia adalah 12 mil. Barulah dengan UU No. 4/Prp tahun 1960 tentang Wilayah Perairan Indonesia ditetapkan ketentuan tentang laut wilayah Indonesia selebar 12 mil laut dari garis pangkal lurus. Perairan Kepulauan ini dikelilingi oleh garis pangkal yang menghubungkan titik-titik terluar dari Pulau Terluar Indonesia. Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2. Ini berarti luas wilayah laut Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Sesuai Pembagian wilayah menurut

Konvensi Hukum Laut PBB, Montego, Caracas tahun 1982, Hukum Laut Internasional yang telah disepakati oleh PBB tahun 1982 . Semenjak Deklarasi Djuanda, Pemerintah Indonesia terus memperjuangkan konsepsi Wawasan Nusantara di dalam setiap perundingan bilateral, trilateral, dan multilateral dengan negara-negara di dunia ataupun di dalam setiap forum-forum internasional. Puncak dari diplomasi yang dilakukan adalah dengan diterimanya Negara Kepulauan di dalam UNCLOS 1982.

3. KEGIATAN BELAJAR (KB) 2

PETA GEOGRAFI INDONESIA

3.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

3.1.a.

Konsep geografi

Salah satu persyaratan mutlak harus dimiliki oleh sebuah negara adalah wilayah kedaulatan, di samping rakyat dan pemerintahan yang diakui. Konsep dasar wilayah negara kepulauan telah diletakkan melalui Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Deklarasi tersebut memiliki nilai sangat strategis bagi bangsa Indonesia, karena telah melahirkan konsep Wawasan Nusantara yang menyatukan wilayah Indonesia. Laut Nusantara bukan lagi sebagai pemisah, akan tetapi sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang disikapi sebagai wilayah kedaulatan mutlak Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada bangsa yang secara eksplisit mempunyai cara bagaimana ia memandang tanah airnya beserta lingkungannya. Cara pandang itu biasa dinamakan wawasan nasional. Sebagai contoh, Inggris dengan pandangan nasionalnya berbunyi: "Brittain rules the waves". Ini berarti tanah Inggris bukan hanya sebatas pulaunya, tetapi juga lautnya. Tetapi cukup banyak juga negara yang tidak mempunyai wawasan, seperti: Thailand, Perancis, Myanmar dan sebagainya. Indonesia wawasan nasionalnya adalah wawasan nusantara yang disingkat wasantara. Wasantara ialah cara pandang bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang sarwa nusantara dan penekanannya dalam mengekspresikan diri sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah lingkungannya yang sarwa nusantara itu. Unsur-unsur dasar wasantara itu ialah: wadah (contour atau organisasi), isi, dan tata laku. Dari wadah dan isi wasantara itu, tampak adanya bidang-bidang usaha untuk mencapai kesatuan dan keserasian dalam bidang-bidang satu kesatuan wilayah, satu kesatuan bangsa, satu kesatuan budaya, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan hankam.Jelaslah disini bahwa wasantara adalah pengejawantahan falsafah Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara Republik Indonesia. Kelengkapan dan keutuhan pelaksanaan wasantara akan terwujud dalam terselenggaranya ketahanan nasional Indonesia yang senantiasa harus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan zaman.

Ketahanan nasional itu akan dapat meningkat jika ada pembangunan yang meningkat, dalam "koridor" wasantara.

3.1.b.

Konsep Kepulauan Indonesia

Bila diperhatikan lebih jauh kepulauan Indonesia yang duapertiga wilayahnya adalah laut membentang ke utara dengan pusatnya di pulau Jawa membentuk gambaran kipas. Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik Indonesia dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. , sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Dengan mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi besar (grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa bagian terluar wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman. Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Laut yang menghubungkan dan mempersatukan pulau-pulau yang tersebar di seantero khatulistiwa. Sedangkan Wawasan Nusantara adalah konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan, yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam. Wawasan Nusantara sebagai konsepsi politik dan kenegaraan yang merupakan manifestasi pemikiran politik bangsa Indonesia telah ditegaskan dalam GBHN dengan ap.MPR No.IV Th 1973. Penetapan ini merupakan tahapan akhir perkembangan konsepsi negara kepulauan yang telah diperjuangkan sejak Dekrarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957.

3.1.c.

Hakekat Wawasan Nusantara

Wawasan Nusantara adalah cara pandang Bangsa Indonesia terhadap rakyat, bangsa dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi darat, laut dan

udara di atasnya sebagai satu kesatuan Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pertahanan Keamanan. Kepulauan adalah kumpulan dari pulau-pulau. Negara kepulauan dikenal

Republik Indonesia

sebagai Archipelago State yang diakui oleh Konvensi PBB.

merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, disusul kemudian oleh (tidak urut) Filipina, Jepang, dan Selandia Baru. Pengertian hakekat wawasan nusantara ini dengan tujuan memberi kemudahan untuk melakukan perjalanan di wilayah Indonesia dengan menggunakan perangkat GPS. Dengan bantuan perangkat GPS disamping akan mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan. Keterbatasan dan/atau ketidak- tersediaan peta GPS wilayah Indonesia bukanlah suatu penghalang dalam menggunakan perangkat GPS. Dengan kerjasama dan saling tukar-menukar informasi akan letak (kordinat) suatu lokasi, diharapkan akan membantu tercapainya tujuan perjalanan.(Admin).

3.2. Latihan

1). Jelaskan dimanakah diletakannya konsep dasar wilayah negara kepulauan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.! 2). Jelaskan geografi Negara Kesatuan Republik Indonesia, kaitannya dengan wawasan nasional, pengawasan dan penindakan kepabeanan.! 3). Berdasarkan geografi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, apakah pengawasan dan penindakan masih diperlukan? Jelaskan.! 4). Jelaskan dengan cara bagaimana agar mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan dalam rangka pengawasan dan penindakan.! 5). Jelaskan apa perbedaan dan persamaannya antara peta navigasi dan peta geografi. !

3.3. Rangkuman

peta geografi Indonesia, harus

mengetahui bahwa salah satu persyaratan mutlak harus dimiliki oleh sebuah negara adalah wilayah kedaulatan, di samping rakyat dan pemerintahan yang diakui. Unsur- unsur dasar wawasan nusantara yang juga disebut wasantara itu ialah wadah (contour atau organisasi), isi, dan tata laku. Dari wadah dan isi wasantara itu, tampak adanya bidang-bidang usaha untuk mencapai kesatuan dan keserasian dalam bidang-bidang satu kesatuan wilayah, satu kesatuan bangsa, satu kesatuan budaya, satu kesatuan ekonomi, dan satu kesatuan pertahanan dan keamanan. Mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi besar (grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa bagian terluar wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman. Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Kondisi geografi Indonesia dimana duapertiga nya adalah lautan dimungkinkan dikemudian hari akan menjadi negara maritim yang handal, bahkan maritim sebagai potensi penerimaan negara dalam mendukung pembangunan nasional Indonesia. Untuk itu pentingnya pengawasan dan penindakan kepabeanan dalam penegakan hukum dilaut, dengan demikian siswa atau peserta diklat diharapkan lebih meningkat pengetahuan dan keterampilannya.

Dalam rangka untuk mengetahui pentingnya

4. KEGIATAN BELAJAR (KB) 3

KOORDINAT PETA GEOGRAFI

4.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

4.1.a.

Perairan dan Laut Teritorial Indonesia

Koordinat peta geografi dan koordinat peta navigasi harus selalu dipedomani dalam pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan yang dilakukan oleh sarana pengangkut. Koordinat tersebut diwajibkan harus ada pada setiap sarana pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang dapat diperoleh di Kantor Departemen Perhubungan atau perwakilannya didaerah, atau dapat diperoleh di Bagian Topografi-TNI AL atau perwakilannya didaerah. Pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan dilakukan dengan cara memperhatikan posisi sarana pengangkut dengan memperhatikan GPS (global position system) yang menggunakan jasa satelit, atau dapat memperhatikan peta navigasi tersebut. Letak atau posisi sarana pengangkut ditentukan dengan tanda 0 untuk derajat, untuk menit, dan ’’untuk detik, masing-masing dari 1.°= 60’, dan 1’=60 ’’. Pada peta navigasi terdapat garis atau data angka yang sejajar dengan katulistiwa dinamakan bujur, untuk wilayah Indonesia hanya memiliki daerah bujur timur (BT), untuk garis atau data angka yang tegak lurus dengan katulistiwa dinamakan lintang, sedangkan yang berada diatas khatulistiwa disebut lintang utara, sedangkan yang berada dibawa katulistiwa disebut lintang selatan. Walaupun telah ditetapkan koordinat pada peta navigasi namun penindakan terhadap sarana pengangkut yang diduga melakukan pelanggaran pelayaran, penerbangan, dan keberangkatan bila tidak sesuai jalur yang ditetapkan belum optimal karena posisi sarana pengangkut wajib harus dapat diketahui atau ditetapkan posisinya untuk menentukan menuju keluar daerah pabean Indonesia atau masuk kedalam daerah pabean Indonesia. Untuk dapat diketahui posisi sarana pengangkut disamping menggunakan GPS, juga dapat menggunakan kompas (jenis kompas berupa kompas magnitik, kompas electric, liquit compas dan

sarana lain secara tradisional), kompas berbedoman pada arah utara atau selatan, misalnya dengan berpedoman pada arah utara dan dengan memperhatikan posisi haluan sarana pengangkut, arah haluan pada posisi jam berapa. Misalnya menunjuk angka tiga, berarti posisi haluan sarana pengangkut adalah disebelah kanan, dalam hal sebelah kanan kita adalah menuju luar daerah pabean Indonesia, berarti sarana pengangkut tersebut bermaksud menuju luar daerah pabean Indonesia (kegiatan ekspor barang). Tindak lanjut dalam kesempatan pertama kordinat dan posisi haluan sarana pengangkut ditulis pada peta navigasi yang ditandatangani oleh pejabat bea dan cukai yang melakukan penindakan, nakhoda atau navigator, dan seorang saksi (oleh para pihak), selanjutnya juga dibuat berita acara yang ditandatangani oleh para pihak, dan diteruskan kepada penyidik pegawai negeri sipil bea dan cukai. Wilayah Laut Teritorial, adalah kedaulatan negara pantai atas laut teritorialnya termasuk udara di atasnya; dan dasar laut dan tanah di bawahnya, dibatasi dengan ‘hak lintas damai’ bagi kapal asing, lebar laut teritorial adalah 12 mil laut diukur dari garis pangkal.

teritorial adalah 12 mil laut diukur dari garis pangkal. Contoh : Pada posisi angka 23 peta

Contoh : Pada posisi angka 23 peta lingkungan laut Indonesia, adalah posisi

LU 320’ 40’’ dan

BT 12115’ 30’’

Pada masa ‘ordonansi laut teritorial dan lingkungan maritim stbl 1939 No 442’ lebar laut territorial adalah selebar 3 mil; Berdasarkan Deklarasi Juanda tahun 1962 lebar

laut territorial adalah selebar 12 mil; Dan berdasarkan Konvensi hukum laut 1982 lebar laut territorial adalah selebar 12 mil.

– Yang dimaksudkan dengan garis pangkal adalah :

Garis yang digunakan untuk mengukur laut teritorial suatu negara; Garis yang menghubungkan titik-titik dari pulau terluar, pada saat air rendah.

– Konsekwensi dari diberlakukannya laut territorial selebar 12 mil adalah bahwa di Indonesia tidak ada lagi laut lepas di antara pulau. Hal ini juga sebagai konsekwensi logis diakuinya Republik Indonesia sebagai Negara Kepulauan.

– Penentuan batas laut teritorial ditentukan oleh negara yang pantainya berhadapan dan berdampingan, dengan ketentuan sebagai berikut dihitung berdasarkan garis tengah, yaitu garis yang titik-titiknya sama jarak dari titik-titik terdekat pada ‘garis pangkal’ yang digunakan untuk mengukur lebar laut teritorial masing-masing negara; Kecuali ada persetujuan lain yang dibuat antara Negara-negara yang bersangkutan.

Jalur Tambahan Di samping laut territorial tersebut, berdasarkan Konvensi Hukum Laut tahun

1982 tersebut, dikenal juga adanya jalur tambahan selebar 24 mil yang dihitung dari garis pangkal. Hak negara pantai pada jalur tambahan adalah

– Melakukan pencegahan atas pelanggaran kepabeanan, imigrasi, fiskal, pencemaran, dan peraturan lainnya yang berlaku dalam laut teritorialnya;

– Mengenakan hukuman atas pelanggaran ketentuan atau peraturan yang terjadi di dalam wilayah laut teritorial.

Perairan Pedalaman Perairan Pedalaman adalah perairan yang berada pada arah darat ‘garis pangkal’. Di dalam Perairan Pedalaman ini, kedaulatan suatu negara pada perairan pedalaman tidak disertai dengan keharusan untuk menjamin ‘hak lintas damai’ bagi kapal asing.

Perairan Kepulauan Perairan Kepulauan adalah bagian laut yang terletak di antara kepulauan yang menjadi wilayah Darat Republik Indonesia. Sama halnya dengan perairan pedalaman,

wilayah ini tidak ada keharusan bagi Negara Republik Indonesia untuk menjamin ‘hak lalu lintas damai’ bagi kepala asing.

4.1.b.

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Lebar Zona Ekonomi Eksklusif adalah selebar 200 mil diukur dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur lebar laut teritorial; ZEE tidak tunduk kepada kedaulatan negara pantai; hak negara pantai di ZEE ‘hanya’ menikmati ‘hak –hak berdaulat’ tetapi tidak berdaulat. Kedaulatan negara pantai pada ZEE hanya kedaulatan ekonomis sumber daya yang ada dalam zona tersebut; Di ZEE semua negara berhak berlayar dan terbang di atasnya, bebas meletakan pipa dan kabel bawah laut, penggunaan sah lainnya yang berhubungan dengan kebebasan tersebut; Batu karang/pulau yang tidak mendukung adanya kediaman manusia atau kehidupan tidak berhak memiliki ZEE; Hak Negara Republik di Zona Ekonomi Eksklusif adalah melakukan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan sumber kekayaan alam di dasar laut dan tanah di bawahnya, serta perairan di atasnya, eksploitasi ekonomis lainnya, seperti produk energi dari air, arus, dan angin), yurisdiksi atas pendirian dan penggunaan pulau-pulau buatan, riset ilimiah kelautan, dan perlindungan lingkungan laut, yurisdiksi atas pulau buatan, instalasi-instalasi, dan bangunan- bangunan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perundang-undangan kepabeanan, fiskal, kesehatan, keselamatan, dan imigrasi, hak untuk melaksanakan hot persuit terhadap kapal asing yang melakukan pelanggaran atas ketentuan ZEE, hak untuk menerima dan menolak kegiatan ilmiah permohonan 4 bulan harus dijawab, bila tidak dijawab dalam waktu 6 bulan, sejak diterimanya permohonan, yang bersangkutan dapat melakukan riset kelautan.

4.1.c.

Landas Kontinen

Pada konvensi jenewa 1958 yang dimaksud dengan Landas Kontinen (Continental Self) adalah , daerah dasar laut dan tanah di bawahnya yang berada di luar laut teritorial yang merupakan kelanjutan alamiah dari daratan, daerah dasar laut sampai kedalaman 200 m atau sampai kedalaman yang masih memungkinkan dilakukan

eksplorasi dan eksploi tasi, sedangkan pada konvensi tentang Dataran Kontinen tahun 1982 diatur sebagai berikut, bila tepian luar kontinen tidak mencapai jarak 200 mil »» sampai jarak 200 mil, bila di luar jarak 200 mil masih terdapat daerah dasar laut yang merupakan kelanjutan alamiah dari wilayah daratan »» maksimal 350 mil, maksimal 100 mil dari garis kedalaman (isobat) 2.500 meter. Kemudahan-kemudahan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di Landas Kontinen meliputi membangun instalasi-instalasi, menggunakan kapal-kapal dan/atau alat-alat untuk kepentingan kegiatan tersebut, dan memelihara instalasi dan alat tersebut.

Pada instalasi di Landas Kontinen dapat ditetapkan adanya Daerah Terlarang dan Daerah Terbatas, dimana pengaturannya adalah sebagai berikut:

Daerah Terlarang:

Lebarnya maksimal 500 meter dihitung dari setiap titik terluar dari instalasi- instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat tersebut. Di wilayah ini tidak boleh dilakukan kegiatan lain kecuali kegiatan yang ada sebelumnya. Kapal pihak ketiga tidak boleh melintasi dan membuang sauh.

Daerah Terbatas :

1.250 meter dihitung dari titik terluar dari Daerah

Terlarang. Kapal-kapal pihak ketiga dilarang membongkar atau membuang sesuatu di wilayah tersebut. Kapal pihak ketiga dapat melewati, tetapi dilarang membuang sauh.

Memiliki lebar maksimal

Lalu Lintas Laut Damai Yang dimaksudkan dengan Lalu Lintas Damai adalah melintasi laut wilayah Republik Indonesia dengan tujuan damai. Kendaraan laut yang melintasi wilayah laut Republik Indonesia yang membahayakan perdamaian, keamanan, ketertiban umum dan kepentingan negara tidak lagi dianggap damai. Pelayaran dalam rangka lintas damai harus dilakukan tanpa berhenti, membuang sauh, dan mondar-mandir tanpa alasan, kecuali terdapat alasan ‘keadaan memaksa (force majeur). Begitu juga bila hal tersebut dilakukan di laut bebas dengan jarak 100 mil dari perairan Indonesia. Laut wililayah Republik Indonesia disini adalah laut teritorial, perairan pedalaman , perairan kepulauan/daratan. Hak lintas damai di laut teritorial di jamin oleh hukum Internasional. Hak lintas damai di perairan pedalaman diatur oleh negara Republik Indonesia. Di perairan kepulauan di tentukan Hak Lintas Transit. Lalu Lintas Laut

Damai adalah melintasi perairan pedalaman dari laut bebas ke satu pelabuhan indonesia, atau sebaliknya, dan laut bebas ke laut bebas, Lalu Lintas Laut Damai harus mengikuti jalur yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang telah diumumkan terlebih dahulu ke dunia pelayaran. Kapal penangkapan ikan diwajibkan menyimpan alat-alat penangkap ikannya dalam keadaan terbungkus di atas palka Riset ilmiah oleh kapal asing di perairan pedalaman hanya boleh dilakukan atas izin Presiden Republik Indonesia. Hak lintas damai bagi kapal perang dan kapal pemerintah asing yang bukan kapal niaga ditentukan sebagai berikut harus seizin Kasal, harus melalui jalur yang telah ditetapkan, kapal selam asing harus berlayar dipermukaan laut, melanggar ketentuan-ketentuan tersebut dan melintasi perairan pedalaman dianggap bukan lintas damai, dan diwajibkan segera meninggalkan perairan pedalaman.

Laut Lepas Semua bagian laut yang tidak termasuk ZEE, Laut teritorial, perairan pedalaman, perairan kepulauan adalah rezim Laut Lepas. Laut lepas terbuka bagi semua negara.Digunakan untuk maksud-maksud damai. Di wilayah Laut Lepas semua negara bebas untuk berlayar, terbang di atasnya, meletakan kabel dan pipa di bawah laut, membangun pulau-pulau buatan dan instalasi lainnya, menangkap ikan, dan melakukan riset ilmiah.

Berdasarkan pembahasan dalam Modul ini maka dapat dirangkum sebagai berikut batas wilayah negara adalah manifestasi kedaulatan teritorial suatu negara, batas wilayah ini ditentukan oleh proses sejarah, politik, dan hubungan antar negara, yang dikulminasikan ke dalam aturan atau ketentuan hukum nasional maupun hukum internasional, penanganan masalah dan pengelolaan perbatasan sangat penting saat ini untuk digunakan bagi berbagai kepentingan dan keperluan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu diperlukan strategi yang tepat untuk melakukan pengelolaan wilayah perbatasan nasional Indonesia. Laut sebagai bagian dari wilayah negara memiliki dua aspek utama, yaitu keamanan (security) dan kesejahteraan (prosperity). Oleh karena itu pengelolaan wilayah ini perlu dilakukan melalui kombinasi pendekatan ekonomi dan pendekatan pertahanan-keamanan. Disamping itu,pengelolaan sumber daya kelautan memerlu kan suatu kebijaksanaan pemerintah yang bersifat makro, terpadu, dan didukung oleh perangkat peraturan perundang- undangan yang lengkap. Penyempurnaan batas-batas wilayah dan yurisdiksi negara di

wilayah laut dapat menciptakan tegaknya wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia, terwujudnya rasa aman bagi segenap bangsa, dan terwujudnya perekonomian yang kuat melalui pemanfaatan sumber daya alamnya.

4.2. Latihan

1). Koordinat peta geografi dan koordinat peta navigasi harus selalu dipedomani dalam pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan yang dilakukan oleh sarana pengangkut, dengan cara bagaimana petugas DJBC melakukan pengawasan dan penindakan kepabeanan.? Jelaskan.! 2). Jelaskan apa saja konsekwensi logis diakuinya Republik Indonesia sebagai Negara Kepulauan.? Jelaskan pengawasan dan penindakan kepabeanannya.! 3). Jelaskan apa saja Hak Negara Republik di Zona Ekonomi Eksklusif.! 4). Jelaskan apa saja yang diatur pada instalasi di Landas Kontinen dengan ditetapkan adanya Daerah Terlarang dan Daerah Terbatas, dan bagaimana kaitannya dengan pengawasan dan penindakan kepabeanan.! 5). Laut sebagai bagian dari wilayah negara memiliki dua aspek utama. Jelaskan apa saja yang dimaksud dengan aspek utama tersebut, dan bagaimana pengawasan dan penindakan kepabeanannya.!

4.3. Rangkuman

Kemudahan-kemudahan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di Landas Kontinen meliputi membangun instalasi-instalasi, menggunakan kapal-kapal dan/atau alat-alat untuk kepentingan kegiatan tersebut, dan memelihara instalasi dan alat tersebut. Walaupun telah ditetapkan koordinat pada peta navigasi namun penindakan terhadap sarana pengangkut yang diduga melakukan pelanggaran pelayaran, penerbangan, dan keberangkatan bila tidak sesuai jalur yang ditetapkan belum optimal karena posisi sarana pengangkut wajib harus dapat diketahui atau ditetapkan posisinya untuk menentukan menuju keluar daerah pabean Indonesia atau masuk kedalam daerah pabean Indonesia. Untuk dapat diketahui posisi sarana pengangkut disamping menggunakan GPS, juga dapat menggunakan kompas. Bagi sarana pengangkut yang dilengkapi dengan peta navigasi dan peta geografi, petugas DJBC yang melakukan pengawasan dan penindakan dengan mudah dapat melihat pada peta tersebut arah haluan sarana pengangkut. Dalam hal tidak dilengkapi dengan peta tersebut maka dapat

digunakan Kompas, dengan cara berbedoman pada arah utara atau selatan, misalnya dengan berpedoman pada arah utara dan dengan memperhatikan posisi haluan sarana pengangkut, arah haluan pada posisi jam berapa. Misalnya menunjuk angka tiga, berarti posisi haluan sarana pengangkut adalah disebelah kanan, dalam hal sebelah kanan kita adalah menuju luar daerah pabean Indonesia, berarti sarana pengangkut tersebut bermaksud menuju luar daerah pabean Indonesia (kegiatan ekspor barang).

5. KEGIATAN BELAJAR (KB) 4

BATAS WILAYAH PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

5.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

5.1.a.

Batas Wilayah Negara

Pengertian batas wilayah tidak terbatas pada wilayah kedaulatan, akan tetapi mencakup yurisdiksi negara di bagian-bagian laut yang bukan wilayah negara. Bagi Indonesia, kepentingan nasional di laut tidak terbatas hanya pada zona-zona maritim yang merupakan wilayah negara, tetapi juga meliputi bagian-bagian laut di luar wilayah negara di mana Indonesia memiliki hak-hak berdaulat dan yurisdiksi untuk penggunaannya. Masalah batas wilayah dan yurisdiksi negara di laut sampai saat ini masih menjadi persoalan sehingga perlu memperoleh perhatian untuk dijadikan sebagai prioritas dalam penyusunan legislasi nasional. Indonesia berbatasan laut langsung dengan 10 negara tetangga, yaitu Australia, Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, Papua New Guinea, Vietnam, India, Palau. Sebagian besar penetapan batas wilayah dan yurisdiksinya di laut telah berhasil diselesaikan, akan tetapi masih ada beberapa bagian daerah perbatasan Indonesia yang belum jelas garis batasnya dengan negara tetangga. Untuk itu, Indonesia harus membuat skala prioritas dan segera menyelesaikan seluruh permasalahan batas laut melalui perundingan dengan negara-negara tetangga untuk menetapkan batas wilayah laut, yang dituangkan dalam peta dan mendaftarkannya di lembaga PBB sesuai dengan ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982. Di luar laut wilayahnya, Indonesia masih memiliki hak-hak berdaulat atas

kekayaan alam yang ada di Zona Ekonomi Eksklusif, Zona Tambahan, dan Landas Kontinen serta mempunyai kepentingan di laut Bebas. Untuk itu, perlu segera dilakukan hal-hal batas ZEE Indonesia dengan negara tetangga harus ditetapkan melalui perjanjian. Batas-batas yang telah disepakati dalam perjanjian harus ditunjukkan dalam peta, atau dengan daftar koordinat geografis yang disertai data-data geodeticnya. Peta atau daftar koordinat geografis tersebut harus dipublikasikan secara wajar dan didaftarkan pada Sekretaris Jenderal PBB. Zona Tambahan perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan untuk mengawasi dan mencegah pelanggaran imigrasi, kepabeanan, keuangan, dan karantina kesehatan dalam laut wilayah Indonesia. Peraturan perundang-undangan ini sangat diperlukan agar pengawasan atas pentaatan ketentuan imigrasi, bea cukai dan karantina Indonesia dapat dilakukan jauh di luar perairan nusantara dan laut wilayah Indonesia. UU No. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen perlu segera direvisi karena UU tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Di samping itu, batas-batas landas kontinen dengan negara-negara tetangga harus segera diselesaikan melalui perjanjian dan didepositkan pada Sekretaris Jenderal PBB. Batas-batas yang telah diperjanjikan tersebut harus ditunjukkan dalam peta atau daftar koordinat geografis yang dipublikasikan. Indonesia sangat berkepentingan untuk mengelola dan ikut memanfaatkan sumber-sumber perikanan di laut lepas di luar batas 200 mil ZEEnya, baik untuk pelestarian sumber-sumber perikanan maupun untuk pemeliharaan lingkungan laut dan laut bebas itu sendiri. Indonesia juga perlu melindungi nelayan-nelayan dan pelaut-pelautnya yang memanfaatkan dan melayari laut bebas tersebut.Pengawasan dan penindakan kepabeanan di laut dan sistem pengawasan kegiatan di laut harus lebih dicermati. Kepemilikan laut yang luas dan kaya membawa konsekuensi akan mengundang pihak asing untuk mencoba mengambil kekayaan yang terkandung di dalamnya. Di sisi lain fakta menunjukkan bahwa kemampuan aparat laut dalam pengamanan wilayah, yaitu untuk memonitor, melakukan pengendalian dan menjaga keamanan yang dilakukan TNI-AL dan POLRI masih sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk melakukan sistem pengamanan di wilayah laut selain diperlukan dasar hukum yang jelas, juga diperlukan peningkatan sarana dan prasarana pertahanan-keamanan laut, seperti armada kapal patroli dan kapal perang yang memadai serta penambahan anggaran pemeliharaan kapal.

Sistem Monitoring, Controling and Surveliance (MCS) yang telah dikembangkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan belum dimanfaatkan secara optimal oleh instansi lain yang terkait dengan penegakan hukum di laut. Oleh karena itu, sistem ini perlu dimanfaatkan secara integral dan terpadu oleh seluruh stakeholders, sehingga dapat memfasilitasi kegiatan hankam di laut. Untuk dapat merealisasikan potensi ekonomi di wilayah perbatasan, khususnya pulau-pulau terluar, perlu dilaksanakan program pembangunan ekonomi yang berbasis potensi kelautan setempat yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang kondusif bagi investasi di wilayah perbatasan ini. Sebagai suatu negara kepulauan, Indonesia ditengarai masih “inward looking“ dalam arti belum menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan di wilayah laut yang berada di luar yurisdiksi nasional, seperti perikanan di laut lepas dan penambangan di dasar laut internasional. Indonesia perlu meningkatkan partisipasinya dalam berbagai Organisasi Perikanan Regional, dan mulai berpartisipasi dalam penambangan dasar laut internasional. trategi dan kebijakan pembangunan atau pengembangan kawasan perbatasan laut yang harus ditempuh Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah adalah meningkatkan koordinasi yang dilandasi oleh tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan dan pendayagunaan potensi nasional untuk mendukung pertahanan negara yang meliputi segala kegiatan peningkatan dan pemeliharaan sumber daya laut secar berkelanjutan.

5.1.b.

Kewenangan Negara Menetapkan Batas Negara.

Wilayah dapat diartikan sebagai ruang dimana manusia yang menjadi warga negara atau penduduk negara yang bersangkutan hidup serta menjalankan segala aktifitasnya. Di dalam kondisi dunia yang sekarang ini, maka sebuah wilayah negara tentunya akan berbatasan dengan wilayah negara lainnya, dan di dalamnya akan banyak terkait aspek yang saling mempengaruhi situasi dan kondisi perbatasan yang bersangkutan. Perbatasan negara seringkali didefinisikan sebagai garis imajiner di atas permukaan bumi yang memisahkan wilayah satu negara dengan wilayah negara lainnya. Sejauh perbatasan itu diakui secara tegas dengan traktat atau diakui secara umum tanpa pernyataan tegas, maka perbatasan merupakan bagian dari suatu hak negara terhadap wilayah. Atas dasar itu pula, maka setiap negara berwenang untuk menetapkan batas terluar wilayahnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

berbatasan dengan 10 (sepuluh) negara tetangga. Di darat, Indonesia berbatasan dengan Malaysia, Papua New Guinea (PNG) dan dengan Timor-Leste. Sedangkan di laut, Indonesia berbatasan dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Niugini, Australia dan Timor-Leste. Wilayah darat NKRI terdiri atas semua pulau-pulau milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal kepulauan Indonesia. Sedangkan sebagai negara kepulauan, maka wilayah Indonesia terdiri atas perairan pedalaman, perairan kepulauan (archipelagic waters), laut wilayah, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen. Pemerintah Indonesia sampai dengan saat ini masih sangat intens menyelesaikan penataan batas wilayah NKRI, termasuk di dalamnya adalah melakukan berbagai perundingan dengan negara tetangga untuk menentukan batas wilayah di segment-segment yang belum diperjanjikan. Hal ini merupakan bagian dari kewenangan dan kewajiban Pemerintah terhadap wilayahnya. Pendepositan titik dasar NKRI kepada PBB sesuai dengan ketentuan UNCLOS juga merupakan sebuah kewenangan yang diberikan oleh Hukum Internasional, dimana sebuah negara dapat menentukan titik dasar wilayahnya. Sedangkan pendepositan itu sendiri hanyalah merupakan pemenuhan dari asas publisitas yang harus dipenuhi. Berdasarkan perkiraan tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang yang semakin kompleks, maka penegakan hukum kepabeanan dan cukai akan senantiasa terkait erat dengan tugas dan fungsi untuk mengamankan potensi penerimaan keuangan negara (tax collector) dan memfasilitasi perdagangan internasional (trade facilitator) sehingga diperlukan upaya-upaya adalah revitalisasi sumber daya manusia,pemanfaatan sistem informasi dan sistem teknologi, aplikasi manajemen resiko yang handal, peningkatan sistem koordinasi antar lembaga terkait, kerjasama internasional di bidang kepabeanan.

5.2. Latihan

1). Jelaskan sejarah perkembangan wilayah teritorial dan yuridiksi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia? 2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan kewenangan negara menetapkan batas negara.? 3). Jelaskan apa yang dimaksud wawasan nusantara hubungannya dengan daerah pabean Indonesia?

4). Jelaskan batas laut teritorial yang ditentukan oleh negara yang pantainya berhadapan dan berdampingan, dalam rangka pengawasan dan penindakan kepabeanan.? 5). Untuk dapat diketahui posisi, dan haluan sarana pengangkut disamping mengguna kan GPS, juga dapat menggunakan kompas. Jelaskan bagaimana cara nya menentukan peta geografi dan posisi haluan sarana pengangkut tersebut.?

5.3. Rangkuman

Bagi Indonesia, kepentingan nasional di laut tidak terbatas hanya pada zona-zona maritim yang merupakan wilayah negara, tetapi juga meliputi bagian-bagian laut di luar wilayah negara di mana Indonesia memiliki hak-hak berdaulat dan yurisdiksi untuk penggunaannya. Masalah batas wilayah dan yurisdiksi negara di laut sampai saat ini masih menjadi persoalan sehingga perlu memperoleh perhatian untuk dijadikan sebagai prioritas dalam penyusunan legislasi nasional. Wilayah Indonesia memiliki perkembangan yang sangat pesat semenjak proklamasi kemerdekaan, Deklarasi Djuanda, Pengesahan UNCLOS, dan sampai saat ini. Perkembangan itu tidak dapat terlepas dari perjuangan diplomasi Indonesia di forum- forum internasional. Wilayah Indonesia tidak dapat dibatasi perkembangannya di masa lampau, sekarang ataupun di masa datang. Perkembangan yang ada di dunia dari berbagai sisi, seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya tentunya akan ikut mempengaruhi kewilayahan Indonesia. Semua hal yang ada di dalam peta NKRI ini akan selalu mengikuti perkembangan dari wilayah NKRI karena bertujuan untuk memberikan gambaran umum wilayah Indonesia. Peta NKRI bukanlah “barang“ yang sakral dari sebuah perubahan. Itulah sebabnya peta NKRI juga disebut sebagai atlas yang dinamis. Pencantuman peta NKRI di dalam sebuah ketentuan perundangan tentunya akan mempersempit ruang gerak perkembangan kewilayahan Indonesia, termasuk di dalamnya juga terkait dengan border diplomacy yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia selama ini. Dengan bantuan perangkat GPS disamping akan mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan. Jelaslah disini bahwa wasantara adalah pengejawantahan falsafah Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara Republik Indonesia. Kelengkapan dan keutuhan pelaksanaan wasantara akan terwujud dalam terselenggaranya ketahanan nasional Indonesia yang senantiasa harus

ditingkatkan sesuai dengan tuntutan zaman. Walaupun telah ditetapkan koordinat pada peta navigasi namun penindakan terhadap sarana pengangkut yang diduga melakukan pelanggaran pelayaran, penerbangan atau perjalanan tidak sesuai jalur yang ditetapkan belum optimal karena posisi sarana pengangkut wajib harus dapat diketahui atau ditetapkan posisinya untuk menentukan menuju keluar daerah pabean Indonesia atau masuk kedalam daerah pabean Indonesia. Untuk dapat diketahui posisi sarana pengangkut disamping menggunakan GPS, juga dapat menggunakan kompas (jenis kompas berupa kompas magnitik, kompas electric, liquit compas dan sarana lain secara tradisional), kompas berbedoman pada arah utara atau selatan, misalnya dengan berpedoman pada arah utara dan dengan memperhatikan posisi haluan sarana pengangkut, arah haluan pada posisi jam berapa. Upaya penegakan hukum di bidang kepabeanan dan cukai mutlak harus dilakukan, hal ini disebabkan oleh karena pelanggaran terhadap ketentuan kepabeanan dan cukai memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap roda kehidupan suatu bangsa. Pelanggaran terhadap ketentuan kepabeanan dan cukai memiliki dampak yang beraspek ekonomis, sosial dan budaya, serta keamanan. Di sisi lain penegakan hukum di bidang kepabeanan dan cukai tidaklah semudah membalikan telapak tangan, tidak semudah mengemukan teorinya, oleh karena hambatannya pun tidak kalah beratnya. Sebagai aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai selayaknya kita membekali diri dengan beragam pengetahuan dan kecakapan guna mendukung pelaksanaan tugas kelak dengan jujur dan profesional di masa mendatang. Oleh karenanya, sudah sepantasnya sebagai peserta didik hendaknya selalu menyimak tatkala mendapat kesempatan curahan bahagian pengalaman berdinas dari fasilitator, pengajar, widyaiswara, dosen maupun senior lainnya di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

6. TEST FORMATIF

6.1. Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling benar dan tepat, dengan cara memberikan tanda lingkaran pada huruf a, b, c, d untuk tiap Nomor pada soal dibawa ini.

Soal ini bobot nilai nya jumlah 30% untuk tiga puluh soal yang dapat Saudara kerjakan

bobot nilai nya jumlah 30% untuk tiga puluh soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabnya benar.

dan jawabnya benar. (contoh: 1. a b c

d ).

1). Agar pelaksanaan penindakan menjadi optimal, dilakukan kegiatan

a. Penegahan

b. penelitian

c. pengawasan

d. penyelidikan

2). Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pegawai Bea dan Cukai dalam

pelaksanaan tugasnya

pemeriksaan fisik barang dengan menggunakan pancaindera utamanya mata dan

tanggungjawab

a. keuangan

b. terhadap barang

mempunyai tanggungjawab yaitu tanggungjawab

c. terhadap semua barang

d. administrasi yang akuntabilitas

3). Konvensi

Perserikatan

Bangsa-Bangsa

tentang

Hukum

Laut yang telah

diratifikasi

dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan

United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut), yang dikenal dengan nama

a. Laut teritorial

b. Unclos 1982

c. ZEE

d. Landas Kontinen

4). Penentuan batas landas lautan teritorial diukur dari garis yang menghubungkan

titik-titik

ujung

yang

terluar

pada

pulau-pulau

Negara

Indonesia, adalah

berjarak

a. 12 mil laut

b. 8 mil laut

c. 5 mil laut

d. 3,5 mil laut

5). Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2 ini berarti luas wilayah laut Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Yang telah disepakati oleh PBB tahun 1982 yang dikenal dengan disepakatinya

a. hukum Laut

b. hukum Laut Internasional

c. laut Teritorial

d. wilayah laut Indonesia.

6). Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, dengan kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran

a. internasional

b. nasional

c. lintas damai.

d. lintas laut

7). Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya ,diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia dan air di atasnya dengan batas terluar adalah

a. 3,5 mil laut

b. 5 mil laut

c. 12 mil laut

d. 200 mil laut

8). Barangsiapa di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia dan hukum internasional yang berlaku di bidang penelitian ilmiah mengenai kelautan dan mengakibatkan kerugian, wajib memikul tanggung jawab dan membayar ganti rugi kepada

a. pemerintah Republik Indonesia.

b. menteri Keuangan RI

c. DJBC

d.

kantor Pabean

9). Konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan, yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam,adalah

a. daerah pabean Indonesia

b. kepabeanan

c. wilayah Negara

d. wawasan Nusantara

10).Aparatur penegak hukum di bidang penyidikan di Zona Ekonomi Eksklusif

yang ditunjuk oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik

Indonesia,

Indonesia adalah

a. Polisi AIRUD

b. Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut

c. Perwira Polri

d. Bakorkamla

11).Aparatur penegak hukum yang pelanggarannya dilakukan di Zona Ekonomi

Indonesia, di bidang penuntutan perkara tindak pidana pada

Eksklusif

pengadilan negeri adalah

a. polisi AIRUD

b. perwira Polri

c. penuntut umum atau jaksa

d. Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut

12).Kegiatan untuk eksplorasi dan/atau eksploitasi sumber daya alam atau kegiatan- kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan/atau eksploitasi ekonomis seperti pembangkitan tenaga dari air, arus dan angin di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang dilakukan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia harus berdasarkan izin dari

a. Pemerintah Republik Indonesia

b. Menteri dalam negeri

c. Menteri perdagangan

d. Menteri keuangan

13).Produk hukum mengenai laut teritorial baru dilakukan secara formal pada tahun 1958 dalam

a. Sidang umum PBB

b. WTO

c. Konvensi Geneva.

d. Deklarasi Juanda

14).Dasar laut dan tanah dibawahnya diluar perairan wilayah R.I. sebagaimana diatur dalam UU No 4 Prp.Th 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan

alam,adalah.

a. ZEE

b. Landas Kontinen Indonesia

c. Laut teritorial

d. Wilayah Republik Indonesia

15).Pada tahun 1957, Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, mengumumkan secara unilateral/sepihak bahwa lebar laut wilayah Indonesia adalah 12 mil. Barulah dengan UU No. 4/Prp tahun 1960 tentang Wilayah

Perairan Indonesia ditetapkan ketentuan tentang laut wilayah Indonesia yang diukur dari garis pangkal lurus selebar

a. 350 mil laut

b. 200 mil laut

c. 15 mil laut

d. 12 mil laut.

16).Barangsiapa melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ketentuan- ketentuan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia dan hukum internasional yang bertalian dengan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan

Eksklusif Indonesia dan

mengakibatkan kerugian, membayar ganti rugi kepada pemilik pulau-pulau

buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya tersebut,dan kepada orang yang melakukan pelanggaran

a. dihukum

b. dipidana

c. dikenakan sanksi administrasi berupa denda

d. wajib memikul tanggung jawab

bangunan-bangunan

lainnya

di

Zona

Ekonomi

17).Bagi

sangat

penting, yaitu sebagai bentuk pengakuan internasional yang telah digagas sejak tahun 1957 terhadap konsep

a. Wawasan Nusantara

b. Daerah Pabean Indonesia

c. Kepabeanan

d. Wilayah Negara

Indonesia,

UNCLOS

1982

merupakan

tonggak

sejarah

yang

18).Wilayah darat NKRI terdiri atas semua pulau-pulau milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal

a. pulau Indonesia

b. pepulauan Indonesia.

c. pulau terluar

d. pulau nusantara

19).Sedangkan sebagai negara kepulauan, maka wilayah Indonesia terdiri atas perairan pedalaman, perairan kepulauan (archipelagic waters), laut wilayah, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan

a. pulau Indonesia

b. kepulauan Indonesia

c. landas kontinen

d. pulau nusantara

20).Usaha

pemanfaatan

kekayaan

alam

dilandas

perundangan yang berlaku adalah

kontinen

sesuai

peraturan

a. eksplorasi dan eksploitasi

b. eksplorasi

c. eksploitasi

d. budidaya

21).Negara kepulauan dikenal sebagai Archipelago State yang diakui oleh

a. Konvensi PBB.

b. Konvensi meja bundar

c. Deklarasi juanda

d. Konvensi hukum laut

22).Manifestasi kedaulatan teritorial suatu negara adalah

a. batas teritorial

b. batas wilayah negara

c. batas ZEE

d. batas Landas kontinen

23).Laut sebagai bagian dari wilayah negara memiliki dua aspek utama, yaitu keamanan (security) dan

a. kedaulatan

b. kemerdekaan

c. kesejahteraan (prosperity).

d. kebudayaan

24).Batas-batas yang telah disepakati dalam perjanjian harus ditunjukkan dalam peta, atau dengan daftar koordinat geografis yang disertai data geodetic-nya, adalah

a. Daerah perbatasan

b. Daerah Pabean

c. Wilayah Hukum

d. Wilayah Negara

25).Daerah daratan yang terbentuk secara alamiah di-kelilingi oleh air dan yang berada di atas permukaan air pada waktu air pasang, adalah

a. pulau

b. daratan

c. teritorial

d. wilayah Republik Indonesia

26).Garis air yang bersifat tetap di suatu tempat tertentu yang menggambarkan kedudukan permukaan air laut pada surut yang terendah, adalah

a. garis air tertinggi

b. garis air rendah

c. garis perairan

d. garis laut tertinggi

27).Indonesia terletak pada dua buah landasan kontinen, yaitu landasan kontinen Australia dan

a. landasan kontinen Indonesia

b. landasan kontinen nusantara

c. landasan kontinen Asia

d. landasan kontinen Asia tenggara.

28).Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan

yang

penekanan

bahwa

wilayah

negara

Indonesia

terdiri

dari

pulau-pulau

dihubungkan oleh

a. perairan

b. darat

c. daratan

d. laut

29).Setiap penelitian ilmiah kelautan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia hanya dapat dilaksanakan setelah permohonan untuk penelitian disetujui oleh

a. Departemen Perhubungan

b. Pemerintah Republik Indonesia.

c. Departeman dalam negeri

d. Departemen luar negeri

30).Wilayah darat NKRI terdiri atas semua pulau-pulau milik Indonesia yang berada

di sebelah dalam garis pangkal

a. kepulauan Indonesia

b. pulau Indonesia

c. perairan Indonesia

d. laut Indonesia

6.2. Soal Pilihan Benar dan Salah

Pilihlah jawaban yang menurut Saudara adalah yang paling benar dan tepat, dengan

cara memberikan tanda lingkaran pada huruf B (bila jawaban yang dipilih adalah yang

benar), dan S (bila jawaban yang dipilih adalah yang Salah) untuk tiap nomor pada

soal dibawa ini:

Soal ini bobot nilai nya jumlah 10% untuk sepuluh soal yang dapat Saudara kerjakan

dan jawabannya benar.

S
S

(contoh: 1. B,

)

1).

B

– S

Setelah konvensi hukum laut 1982 yang diberlakukan sebagai

 

hukum positif sejak tanggal 16 Nopember 1994 wilayah RI.

bertambah lagi 3 juta km² ( zee indonesia dan landas kontinen).

2).

B

– S

United

nations

convention

on the law of the sea dikenal dengan

 

Uncle 1982

 

3).

B

– S

Pemerintah Indonesia terus memperjuangkan agar konsepsi hukum

 

negara kepulauan diterima dan diakui masyarakat internasional.

Perjuangan tersebut akhirnya telah menghasilkan pengakuan

masyarakat internasional secara universal (semesta) yaitu dengan

diterimanya pengaturan mengenai asas dan rezim hukum negara

kepulauan (Archipelagic State) dalam Bab IV Konvensi Perserikatan

Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982

4).

B

– S

Bahwa segala air di sekitar, di antara dan yang menghubungkan

 

pulau-pulau yang termasuk Negara Indonesia dengan tidak

memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar

daripada wilayah daratan Negara Indonesia dan dengan demikian

bagian daripada perairan pedalaman atau nasional yang berada di

bawah kedaulatan mutlak Negara Indonesia.

5).

B

– S

Penguasaan penuh dan hak eksklusif atas kekayaan alam di Landas Kontinen Indonesia serta pemilikannya ada pada Pejabat Negara. Dalam hal landas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di landas Kontinen Indonesia, berbatasan dengan negara lain, penetapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai suatu persetujuan.

6).

B– S

Berdasarkan konsepsi TZMKO Th1939, lebar laut wilayah perairan Indonesia hanya meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut.

7).

B

– S

Penetapan Perwira

Tentara

Nasional

Indonesia Angkatan Laut

 

sebagai

aparat

penuntut

umum

di

Zona

Ekonomi Eksklusif

Indonesia.

8).

B

– S

Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia.

9).

B

– S

Wilayah negara proklamasi adalah wilayah negara ex kekuasaan Jepang, hal ini sejalan dengan prinsip hukum internasional uti possidetis juris.

10).

B

– S

Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya.

6.3. Soal Isian / mengisi kalimat atau kata (Soal melengkapi kalimat)

Lengkapilah kalimat dibawah ini agar menjadi kalimat atau pernyataan yang lengkap dan benar, dengan cara mengisi pernyataan atau jawaban Saudara dituliskan pada kolom atau ruang kosong yang bertanda titik-titik ( )

Soal ini bobot nilai nya jumlah 20% untuk lima soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabannya benar.

1). Pada peta navigasi terdapat garis atau data angka yang sejajar dengan katulistiwa dinamakan bujur,untuk wilayah Indonesia hanya memiliki daerah ………

2). Setelah konvensi hukum laut 1982 (unclos 1982) yang diberlakukan sebagai hukum positif sejak tanggal 16 Nopember 1994 wilayah Republik Indonesia bertambah lagi 3 juta km² ( zee Indonesia dan landas kontinen). Dengan demikian, luas keseluruhan wilayah Indonesia menjadi ………………

3). Dalam peta NKRI juga dicantumkan nama-nama geografis pulau-pulau terluar milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal kepulauan Indonesia, serta digambarkan letak …………………………………………….

4). Wilayah Indonesia ditentukan pertama kali dengan ……………………………

5). Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar ……………………. ke arah laut terbuka diukur dari garis dasar.

6.4. Soal Uraian.

Jawablah soal dibawah ini dengan cara menulis uraian jawabannya diatas kertas yang disediakan atau diatas lembar soal yang disediakan untuk menjawab soal uraian. Soal ini bobot nilai nya jumlah 40% untuk dua soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabannya benar. 1). Jelaskan pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan yang dilakukan oleh sarana pengangkut harus selalu berpedoman pada apa saja !

2). Jelaskan bagaimana caranya Saudara menetapkan atau membuat koordinat pada peta navigasi dalam hal dapat diputuskan apakah sarana pengangkut tersebut telah melanggar daerah pabean Indonesia.!

7. Kunci Jawaban Test Formatif

7.1.

Kunci Jawaban untuk latihan 6.1. Pilihan Ganda:

 

1.c

2.d

3.b

4.a

5.b

6.c

7.d

8.a

9.d

10.b

11.c

12.a

13.c

14.b

15.d

16.d

17.a

18.c

19.c

20.a

21.a

22.b

23.c

24.d

25.a

26.b

27.c

28.d

29.b

30.a

7.2.

Kunci Jawaban untuk latihan 6.2. Betul Salah:

 

1B

2S

3B

4S

5S

6B

7S

8B

9S

10B

7.3.

Kunci Jawaban untuk latihan 6.3. Melengkapi kalimat (mengisi titik-titik):

1).

bujur timur (BT),

2).

8 juta km²

3).

alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).

4).

Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939 ( TZMKO 1939 )

5).

200 mil laut

7.4.

Kunci Jawaban untuk latihan 6.4. Soal Uraian. (Lihat Materi Modul)

8. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul ini. Hitung jawaban Anda dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi.

TP =

Jumlah Jawaban Yang Benar Jumlah keseluruhan Soal

X 100%

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai :

91

%

s.d

100 %

:

Amat Baik

81

%

s.d.

90,00 %

:

Baik

71

%

s.d.

80,99 %

:

Cukup

61

%

s.d.

70,99 %

:

Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka disarankan mengulangi materi.

9. Daftar Pustaka :

- Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20 ayat. (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945;

- Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara;

- Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942);

- Undang-undang No. 44 Prp Th 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Th 1960 No. 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor

2070);

- Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831);

- Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Th 1973 Nomor 1,Tambahan Lembaran Negara Nomor 2294);

- Undang-undang Nomor. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

- Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);

- Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234);

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL II

KEWENANGAN PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

MODUL II KEWENANGAN PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

OLEH :

TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA

2008

DAFTAR ISI

Halaman

Daftar Isi

i

1. PENDAHULUAN

2.1

Deskripsi Singkat

1

1.4

Tujuan Instruksional Umum (TIU)………………………………

2

1.5

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)………………………………

2

2.4. Petunjuk Pembelajaran ……………………………………………

2

2. Kegiatan Belajar (KB 1) :

PENGAWASAN KEPABEANAN

2.1

Uraian, Contoh dan Non Contoh …………………………………

3

2.3.a.

Latar Belakang Pengawasan Kepabeanan

………………

3

2.3.b. Perlunya Pengawasan Kepabeanan

9

2.4

Latihan

12

2.5

Rangkuman

12

3. Kegiatan Belajar (KB) 2 PENINDAKAN KEPABEANAN

3.1

Uraian, Contoh dan Non Contoh……………………………………

14

3.1.d. Penghentian Sarana Pengangkut .…………………………

15

3.1.e. Penghentian Pembongkaran Barang

17

……………………… 3.1.f. Pemeriksaan Sarana Pengangkut ……………………………

18

3.1.g. Pemeriksaan Barang ………………………………………

21

3.1.h. Pemeriksaan Bangunan atau Tempat Yang Bukan Merupakan Rumah Tinggal ………………………………………………

34

3.1.i. Pemeriksaan Badan Orang …………………………………

37

3.1.j. Penegahan di Bidang Kepabeanan …………………………

40

3.1.k. Penyegelan …………………………………………………

48

3.2

Latihan …………………………………………………………

55

3.2

Rangkuman………………………………………………………….

55

4. Test Formatif………………………………………………………

5. Kunci Jawaban Tes Formatif…………………………………………

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

7. Daftar Pustaka

56

67

68

69

MODUL II

KEWENANGAN PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

1.

PENDAHULUAN

1.1.

Deskripsi Singkat

Latar belakang disusunnya modul kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan dalam rangka memenuhi dan melengkapi siswa atau peserta didik mengetahui, memahami, melaksanakan pengawasan dan penindakan kepabeanan untuk mendukung, menunjang tujuan organisasi DJBC mengoptimalkan penerimaan negara, dan dilaksanakannya/dipatuhinya Undang-undang Kepabeanan dan peraturan pelaksanaanya. Pelaksanaan pengawasan dilakukan dalam rangka kegiatan prefentif, yang termasuk ruang lingkup administrasi kepabeanan, sedangkan penindakan itu sendiri dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup perbuatan yang dilakukan secara fisik. Dengan demikian diharapkan siswa atau peserta diklat memperbaiki dan menambah pengetahuan, agar lebih terampil dalam pelaksanaan tugas kepabeanan yang menjadi sisi sentral dari upaya organisasi untuk menegakkan citranya di masyarakat. Hukum adalah kaedah-kaedah yang diberlakukan disuatu masyarakat yang dipatuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi bagi pelakunya. Hukum sebagai suatu perangkat aturan yang mengatur tata cara hidup bermasyarakat, dari pengertian singkat ini maka istilah ’pelanggaran hukum’ adalah adanya upaya melanggar aturan-aturan yang telah dibuat dan telah ditetapkan. Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan, yang dimaksud dengan kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu-lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar. Dari pengertian tersebut sangat jelas bahwa institusi bea dan cukai memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, yaitu melakukan pengawasan terhadap barang yang keluar atau masuk ke dan/atau dari daerah pabean Indonesia serta melakukan pungutan bea masuk, dan pajak dalam rangka impor sebagai penerimaan negara.

1.2.

Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Dengan mengetahui, memahami, melaksanakan isi kegiatan pembelajaran ini, siswa atau peserta didik diharapkan lebih terampil dalam pelaksanaan tugas yang dimaksudkan oleh modul kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan.

1.3. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari modul tentang kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan ini, siswa atau peserta didik diharapkan:

– mampu menjelaskan, dan melaksanakan pengawasan kepabeanan

– mampu menjelaskan, dan melaksanakan penindakan kepabeanan

1.4. Petunjuk Pembelajaran

Bacalah dengan cermat dan teliti modul tentang kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan ini, setelah selesai membaca dan memahami materi pembelajaran, jawablah soal latihan dan pahami rangkuman pembelajaran. Dalam hal siswa atau peserta diklat merasa jawaban soal latihan hasilnya belum mencapai enam puluh lima persen, agar membaca dan memahami kembali modul ini utamanya yang belum dimengerti. Dalam hal masih belum dapat dimengerti materi pembelajaran ini tanyakan kepada pengajar, dan/atau kelompok belajar Anda. Pada menjelang akhir pembelajaran kerjakan atau jawablah seluruh test formatif, setelah selesai dikerjakan jawaban agar dicocokan hasil/jawaban dengan kunci jawaban yang telah disediakan pada modul ini. Bila berhasil menjawab dengan benar lebih dari enam puluh lima persen, dinyatakan cukup berhasil, dalam hal ingin lebih baik lagi hasilnya agar mengulangi membaca kembali bagian yang belum dipahami atau dimengerti.

2. KEGIATAN BELAJAR (KB) 1

PENGAWASAN KEPABEANAN

2.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

2.1.a. Latar Belakang Pengawasan Kepabeanan

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara yang memiliki letak yang sangat strategis karena berada di antara dua benua, yaitu benua Asia dan Australia, serta berada di antara dua samudra, samudra Hindia dan samudra Pasifik, oleh karena itu, sejak zaman dahulu kala Indonesia merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai.

Di era sekarang perdagangan internasional jauh lebih maju dibandingkan pada era penjajahan dulu kala, komoditinya pun bermacam – macam. Perkembangan dunia perdagangan internasional menunjukkan perkembangan yang cukup pesat pada awal abad 20-an. Perkembangan yang cukup pesat ini diimbangi kemajuan dari segi teknologi informasi yang memungkinkan peredaran arus barang dan dokumen semakin cepat. Arus perdagangan antar negara yang semakin meningkat ini, menyebabkan pemeriksaan 100% atas sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya atau diangkutnya yang masuk ke wilayah Indonesia semakin mustahil untuk dilakukan. Keadaan yang demikian menyebabkan Indonesia rawan terhadap ancaman yang datang dari luar wilayah Indonesia, baik itu berupa ancaman yang secara langsung dapat dirasakan maupun ancaman yang bersifat tidak langsung yang efeknya dapat kita rasakan setelah beberapa waktu, yang merupakan dampak dari perkembangan perdagangan inernasional itu sendiri. Tugas bea dan cukai yang berada digaris depan wilayah Indonesia sebagai pintu penjaga perbatasan atas masuk dan keluarnya barang impor dan ekspor, memiliki peran yang sangat penting bagi kelancaran arus barang yang keluar masuk wilayah Negara kesatuan republik Indonesia ini. Berdasarkan pasal 1 Undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentang kepabeanan, kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu-lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean dan pemungutan bea masuk.

Berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 tentang kepabeanan, kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu- lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan bea keluar. Dari pengertian pada pasal 1 tersebut sangat jelas bahwa institusi bea dan cukai memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, yaitu melakukan pengawasan terhadap barang yang keluar atau masuk ke daerah pabean Indonesia serta melakukan pungutan uang untuk negara.

DAERAH PABEAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA SLIDESLIDE PHKCPHKC (DTSS/STAN)(DTSS/STAN) 3 LAUT TERITORIAL 200 MIL ZEE
DAERAH PABEAN
WILAYAH
REPUBLIK
INDONESIA
SLIDESLIDE PHKCPHKC (DTSS/STAN)(DTSS/STAN)
3
LAUT
TERITORIAL
200 MIL
ZEE
TEMPAT
TERTENTU
DI ZEE
350 MIL
LANDAS
KONTINEN
TEMPAT
TERTENTU
DI
LANDAS
KONTINEN

Negara kesatuan Republik Indonesia yang terletak pada koordinat 6 0 LU-11 0 LS dan 95 0 BT-141 0 BT serta keadaan geografis dari negara kesatuan republik Indonesia yang sangat luas dan berupa kepulauan merupakan suatu kendala yang cukup berarti bagi terlaksanaan tugas pengawasan karena jumlah personil di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kurang cukup memadai jika dibandingkan dengan luas wilayah yang menjadi tanggung jawab dari institusi tersebut. Kendala–kendala serta hambatan – hambatan seperti ini sering dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghindar dari kewajiban terhadap negara, yaitu kewajiban pembayaran bea masuk atau bea keluar.

Institusi kepabeanan dan cukai yang memiliki peranan yang sangat vital dalam hal perdagangan internasional dituntut untuk melakukan pengawasan terhadap barang – barang yang masuk ke wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Insitusi kepabeanan dan cukai memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan penjagaan terhadap stabilitas keamanan dan stabilitas perekonomian dalam negeri. Oleh karena itu, institusi kepabeanan dan cukai harus mengeluarkan peraturan – peraturan yang dapat mendukung terlaksananya perdagangan internasionl tanpa harus menghambat kegiatan perdagangan itu sendiri, serta harus dapat melakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perkembangan situasi yang terjadi saat ini. Banyaknya tuntutan terhadap tugas dari institusi kepabeanan dan cukai, tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia yang demikian luasnya. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya praktik – praktik penyelundupan yang dapat merugikan negara Indonesia, dibuatlah ketentuan – ketentuan yang menjadi landasan bagi pegawai institusi kepabeanan dan cukai untuk melakukan tindakan pengamanan terhadap hak – hak negara terhadap ancaman penyelundupan serta kegiatan pelanggaran hukum di bidang kepabeanan dan cukai dengan cara melakukan pengawasan untuk dapat diketahuinya ada atau tidaknya pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku. Untuk mengetahui apa yang dimaksud pelanggaran hukum, maka disampaikan pengertian hukum. Hukum adalah kaedah-kaedah yang diberlakukan disuatu masyarakat yang dipatuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi bagi pelakunya. Soerjono Soekanto mendefinisikan hukum sebagai suatu perangkat aturan yang mengatur tata cara hidup bermasyarakat (Soekanto, 1987, hal. 23). Dari pengertian singkat ini maka istilah ’pelanggaran hukum’ adalah adanya upaya melanggar aturan-aturan yang telah dibuat dan telah ditetapkan. Dalam hukum pidana, dikenal adanya hukum pidana materiel dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiel adalah ketentuan-ketentuan hukum yang berisi tentang perbuatan-perbuatan apa saja yang dilarang dan diharuskan, subyek hukum, dan ancaman pidana bila perbuatan-perbuatan tersebut dilarang. Namun, hukum pidana materiel ini tidak akan mempunyai arti apa-apa bila tidak dapat ditegakan atau dipertahankan. Untuk itulah dibutuhkan apa yang disebut hukum pidana formil, yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur bagaimana mempertahankan dan menegakan hukum pidana materiel tersebut. Hukum pidana

formil berisikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana melakukan penyelidikan adanya suatu tindak pidana materiel dan siapa penyelidik itu, bagaimana dan siapa yang dapat melakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Jadi hukum pidana formil ini adalah inti dari suatu proses penegakan

hukum.

Dalam tata hukum pidana Indonesia ketentuan hukum materiel tersebut diatur

dalam KUHP dan ketentuan-ketentuan pidana lain yang tersebar dibeberapa ketentuan hukum di bidang-bidang tertentu, antara lain ketentuan pidana yang terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Amandemen atas Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan. Sedangkan hukum pidana formil ber-induk pada Undang- Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana serta beberapa ketentuan hukum pidana formil yang terdapat dibeberapa ketentuan hukum di bidang tertentu lainnya. Mengacu pada uraian tersebut diatas, maka pengawasan dan penindakan kepabeanan sesungguhnya meliputi kegiatan-kegiatan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di persidangan. Namun berdasarkan PP No.21 tahun 1996, penindakan meliputi:

a. Penghentian dan pemeriksaan terhadap sarana pengangkut;

b. Pemeriksaan terhadap barang, bangunan atau tempat lain, surat atau dokumen yang berkaitan dengan barang, atau terhadap orang;

c. Penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut; dan

d. Penguncian, penyegelan, dan/atau pelekatan tanda pengaman yang diperlukan

terhadap barang maupun sarana pengangkut. Dalam konteks pembelajaran pengawasan dan penindakan kepabeanan, pokok bahasan hanya akan dibatasi pada pembahasan tentang penindakan dan penyidikan di bidang kepabeanan saja. Salah satu tugas yang harus diemban oleh instansi bea dan cukai adalah tugas pengawasan yang memiliki peranan yang sangat vital terhadap ditaatinya peraturan- peraturan yang telah dibuat. Pengawasan adalah suatu kegiatan untuk menjamin atau menjaga agar rencana dapat diwujudkan dengan efektif. Organisasi mempunyai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk menjaga agar organisasi itu dapat mencapai tujuannya mutlak diperlukan pengawasan. Pengawasan berfungsi menjaga agar seluruh jajaran berjalan di atas rel

yang benar. Pengawasan dapat dilakukan dari jauh maupun dari dekat. Pengawasan dari jauh disebut pemantauan atau monitoring ini dapat dilakukan menggunakan sarana

telepon, fax, atau radio. Wujud pengawasan cara ini adalah permintaan laporan kepada bawahan dan jawaban dari bawahan atas permintaan tersebut. Jika pengawasan dari jauh tidak efektif dapat dilakukan pengawasan langsung ke obyeknya. Dalam hal ini pengawasan yang dilakukan disebut sebagai pemeriksaan yang berarti pemeriksa berhadapan langsung dengan obyek yang diperlukan. Menurut Colin Vassarotti, tujuan pengawasan Pabean adalah memastikan semua pergerakan barang, kapal, pesawat terbang, kendaraan dan orang-orang yang melintas perbatasan Negara berjalan dalam kerangka hukum, peraturan dan prosedur pabean yang ditetapkan (lihat Colin Vassarotti, “Risk Management – A Customs Prespective”,

dan

orang yang keluar/masuk dari dan ke suatu negara mematuhi semua ketentuan kepabeanan. Yang dimaksud dengan sarana pengangkut, adalah kapal laut, pesawat udara, mobil, dan kereta api. Sedangkan yang dimaksud pengangkut untuk kapal laut adalah nakoda, pesawat udara adalah pilot, mobil adalah sopir, dan kereta api adalah masinis. Setiap administrasi pabean harus melakukan kegiatan pengawasan. Kegiatan pengawasan pabean meliputi seluruh pelaksanaan wewenang yang dimiliki oleh petugas pabean dalam perundang-undangannya yaitu memeriksa sarana pengangkut, barang, penumpang, dokumen, pembukuan, melakukan penyitaan, penangkapan, penyegelan, dan lain-lain. Dalam modul pencegahan pelanggaran kepabeanan yang dibuat oleh World Customs Organization (WCO) disebutkan bahwa pengawasan pabean adalah salah satu metode untuk mencegah dan mendeteksi pelanggaran kepabeanan. Berdasarkan modul WCO tersebut dinyatakan bahwa pengawasan Bea Cukai yang mampu mendukung pendeteksian dan pencegahan penyelundupan paling tidak harus mencakup kegiatan penelitian dokumen, pemeriksaan fisik, dan audit pasca-impor. Kewenangan bea dan cukai berupa patroli juga termasuk kegiatan pengawasan, pelaksanaan patroli di darat, laut, dan udara yang bertujuan untuk mencegah, menindak dan melakukan penyidikan tindak pidana kepabeanan, di samping itu kegiatan patroli juga merupakan pengawasan Bea Cukai untuk mencegah penyelundupan. Pengawasan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penindakan, saling terkait dan saling mengisi. Pengawasan merupakan kegiatan untuk meyakinkan bahwa sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Pengawasan lebih cenderung kepada upaya-upaya pencegahan

hal.19). Untuk menjaga dan memastikan agar semua barang, sarana pengangkut

yang bersifat preventif dan persuasif daripada tindakan yang bersifat represif.Apabila dipandang dari sifatnya pengawasan dapat dikategorikan menjadi beberapa macam yaitu :

– Pengawasan yang bersifat Built in. Pengawasan ini berdasarkan satu paket dan terbagi atas spesialisasi dari masing- masing bidang.

PERAIRAN INDONESIA DAN YURISDIKSI NASIONAL INDONESIA 0 MIL 12 MIL 24 MIL 200 MIL 350
PERAIRAN INDONESIA DAN
YURISDIKSI NASIONAL INDONESIA
0 MIL
12 MIL
24 MIL
200 MIL
350 MIL
ZONA
TAMBA
HAN
ZEE
ZONA
LANDAS
LAUT
EKONOMI
KONTINEN
TERITO
RIAL
EKSKLOSIF
KAWASAN
DARATAN
DARATAN
LANDAS KONTINEN
PERAIRAN
KEPULAUAN

Dengan demikian unit pengawasan harus terpisah dari unit pelaksana. Contohnya pengawasan internal seperti halnya dalam pengawasan terhadap kinerja pejabat bea dan cukai, sedangkan pengawasan eksternal akan dilakukan oleh pengawas diluar DJBC.

– Pengawasan yang bersifat intelijen Pengawasan dengan pengumpulan data dan informasi, identifikasi dan analisis terhadapnya sehingga akan menghasilkan apa yang disebut sebagai hasil intilijen. Hasil ini akan disebarkan kepada unit opersional untuk melaksanakan pengawasan. Unit intelijen seharusnya terpisah dengan unit operasional karena sistem dan cara kerjanya beda.

– Pengawasan pemeriksaan pembukuan / Post Clearance Audit Pengawasan yang dilakukan setelah selesainya beberapa prosedur pemberitahuan dan pemeriksaan yang disebut dengan bersifat audit (pemeriksaan pembukuan).

Dilaksanakan setelah semua dokumen pabean dinyatakan selesai secara prosedural dan setelah melalui proses pemeriksaan verifikasi. Kegiatan penindakan dan penyidikan selanjutnya merupakan tindak lanjut dari pengawasan pabean. Jika menemukan adanya pelanggaran atau tindak pidana akan ditindaklanjuti dengan penindakan atau bahkan penyidikan. Penelitian dokumen atau audit yang menemukan dokumen palsu akan segera ditindaklanjuti dengan penyidikan. Demikian juga apabila dalam pemeriksaan fisik ditemukan barang yang dilarang akan ditindaklanjuti dengan penyidikan.

2.1.b. Perlunya Pengawasan Kepabeanan

Dewasa ini masyarakat dunia semakin dikejutkan dengan perkembangan yang pesat dari permasalahan lintas batas negara. Semakin maraknya kenyataan bahwa isu nasional bisa sewaktu-waktu berkembang dengan tidak terkendali menjadi isu internasional, telah menyadarkan bangsa-bangsa bahwa batas antara masalah-masalah nasional dan masalah-masalah internasional tidak lagi dapat dipisahkan oleh batas yang ”rigid”, melainkan hanya dibatasi oleh selapis membran yang sangat tipis. Sejak awal, para pendiri negara Indonesia sebagaimana para cendekia dunia lainnya juga telah menyadari hal ini, sehingga di dalam konstitusi Indonesia pun tertuang pernyataan bahwa bangsa Indonesia harus hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab di dunia. Oleh karena itu, tentunya tidak mengherankan jika Indonesia kemudian dalam perjalanan kenegaraannya banyak menunduk kan diri kepada hukum internasional, hampir di semua aspek kehidupan bermasyarakat. Bahkan seringkali suatu ketentuan hukum internasional yang tertuang dalam satu konvensi internasional, misalnya, hanya dibuatkan Undang-Undang Pengesahannya, dimana ketentuan ketentuan yang termuat dalam konvensi tersebut sebenarnya dapat langsung berlaku sebagai hukum di wilayah yurisdiksi Indonesia. Akan tetapi sayangnya, meskipun semangat untuk terlibat di dalam pembentukan dan pelaksanaan hukum internasional itu begitu besar, kenyataan di lapangan sering bicara lain. Banyak sekali konvensi yang telah diratifikasi oleh Indonesia belum dapat dilaksanakan dengan efektif karena berbagai dalih, seperti belum ada peraturan pelaksanaannya, kurangnya pengetahuan aparat penegak hukum mengenai hukum internasional yang terkait dengan Indonesia, sampai dengan belum pahamnya jajaran pemerintah dan masyarakat awam atas pemberlakuan hukum internasional di Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri,

kepastian hukum internasional, baik dalam daya mengikatnya, pengawasannya dan penindakannya sangat rentan, karena digantungkan pada kemauan suatu negara berdaulat untuk menundukkan diri kepadanya. Namun demikian sifat koordinatif hukum internasional itulah yang membuat hukum internasional tetap ada di antara bangsa-bangsa di dunia, sehingga dengan alasan apapun keberadaannya untuk menjaga keseimbangan hidup negara-negara beradab tetap diperlukan. Oleh karenanya pemahaman terhadapnya dan upaya-upaya mengimplementasi kannya serta penindakkan nya tetap harus dilakukan, khususnya di Indonesia. Terdorong oleh pemikiran di atas, maka perlu untuk mengkaji masalah-masalah hukum internasional yang ada, khususnya yang mempunyai implikasi dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia. Termasuk tentu untuk menganalisa sejauh mana suatu ketentuan hukum internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia telah dilaksanakan dengan efektif, dan kendala-kendala yang ditemukan dalam pengimplementasiannya. Sosialisasi hukum internasional pun menjadi suatu agenda, mengingat peran hukum internasional yang tidak bisa diabaikan jika negara-negara di dunia ingin hidup dalam suasana yang saling menghargai kepentingan satu sama lain. Secara luas tentunya perlu mengambil peran aktif dalam menjembatani kepentingan masyarakat dan negara Indonesia di satu sisi dengan kepentingan masyarakat internasional di sisi lain, agar keduanya bisa berjalan berdampingan dengan harmonis. Hal-hal yang sepatutnya dilaksanakan dalam pelaksanaan penindakan dibidang kepabeanan meliputi, penetapan dan penentuan batas wilayah Indonesia dan yurisdiksi negara di laut menurut hukum laut internasional dan peraturan perundang-undangan nasional, masalah penamaan pulau-pulau, pulau-pulau terluar, dan batas-batas terluar yurisdiksi Indonesia. Perspektif penyelesaian perjanjian batas maritim antara Indonesia dan negara tetangga, peningkatan peranan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam penegakan hukum di wilayah perbatasan Indonesia, aspek hukum pencegahan trans-national organized crimes di wilayah perbatasan, pengelolaan dan pengembangan wilayah perbatasan Indonesia, penerapan dan penegakan suatu produk hukum internasional di Indonesia, sosialisasi suatu produk hukum internasional yang telah mengikat Indonesia; membantu instansi pemerintah terkait dalam menelaah penerapan, penegakan dan pengembangan suatu produk hukum internasional; Bekerjasama dengan berbagai lembaga baik pemerintah (governmental organization) maupun swasta (non governmental organization), nasional maupun asing, termasuk dengan berbagai organisasi internasional (international organization) dalam pengembangan hukum internasional.

Indonesia sebagai sebuah negara besar yang berupa kepulaun tentunya memiliki wilayah kedaulatan hukum yang luas pula. Wilayah kedaulatan hukum Indonesia yang lebih kita kenal sebagai wilayah yurisdiksi Indonesia memiliki batas-batas wilayah yang ”seolah” tidak permanen. Hal ini mengingat bentuk wilayah Indonesia yang berupa kepulauan sehingga batas wilayah sangat bergantung pada keadaan pesisir pulau-pulau terluar dan keadaan pasang surut perairan terluar Indonesia. Geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan posisi di antara benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, menempatkan Indonesia menjadi daerah kepentingan bagi negara-negara dari berbagai kawasan. Posisi strategis ini menyebabkan kondisi politik, ekonomi, dan keamanan di tingkat regional dan global menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kondisi Indonesia. Dalam era globalisasi abad ke 21 ini, perkembangan lingkungan strategis regional dan global lebih menguat pengaruhnya terhadap kondisi nasional karena diterimanya nilai-nilai universal seperti perdagangan bebas, demokratisasi, serta hak asasi dan lingkungan hidup. Eksistensi kepentingan negara-negara besar di kawasan ini mendorong terjalinnya hubungan timbal balik yang erat antara permasalahan dalam negeri dan luar negeri yang memiliki kepentingan bersama. Informasi kejadian di dalam negeri dengan cepat menyebar ke segala penjuru dunia, selanjutnya negara- negara lain akan memberikan responnya sesuai kepentingannya masing-masing. Sebaliknya, informasi kejadian di negara lain, khususnya negara-negara besar dan negara-negara di kawasan ini, dengan cepat mencapai seluruh wilayah, dan mempengaruhi kondisi nasional. Demikian pula halnya dengan isu keamanan, ancaman yang berasal dari luar dan ancaman yang timbul di dalam negeri selalu memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi, sehingga sulit untuk dapat dipisahkan. Perbedaan hanya mungkin dilakukan dalam konteks bentuk dan organisasi ancaman, sementara perbedaan berdasarkan sumber timbulnya ancaman, sangat sulit ditentukan. Dimulai dari dasar kenyataan tersebut, upaya pertahanan tidak hanya mengacu pada isu keamanan tradisional, yakni kemungkinan invasi atau agresi dari negara lain, tetapi juga pada isu keamanan non-tradisional, yaitu setiap aksi yang mengancam kedaulatan hukum, keutuhan wilayah, kestabilan nasinal, serta keselamatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mencermati kecenderungan perkembangan lingkungan strategis, ancaman invasi atau agresi militer negara lain terhadap wilayah teritorial Indonesia diperkirakan kecil kemungkinannya terjadi. Upaya diplomasi, peran PBB, dan opini dunia internasional menjadi faktor yang akan

mencegah, atau sekurang-kurangnya membatasi negara lain untuk mengguna kan kekuatan bersenjatanya terhadap Indonesia. Sehingga ruang lingkup pengawasan di bidang kepabeanan adalah seluruh wilayah Indonesia meliputi laut teritorial sejauh 12 mil laut yang diukur dari pulau terluar, ZEE (zone ekonomi eksklusif) sejauh 200 mil laut yang diukur dari pulau terluar, landas kontinen sejauh 350 mil laut yang diukur dari pulau terluar, dan seluruh ketentuan yang pelaksanaannya dibebankan kepada bea dan cukai.

2.2. Latihan

1). Apa saja ancaman yang secara langsung dapat dirasakan maupun ancaman yang bersifat tidak langsung yang efeknya dapat kita rasakan setelah beberapa waktu, yang merupakan dampak dari perkembangan perdagangan Internasional itu sendiri. Jelaskan? Bagaimana hubungannya dengan kewenangan pengawasan dan penindakannya ? 2). Kendala dan hambatan apa sajakah yang ditemui DJBC dalam pelaksanaan kewenangan pengawasan dan penindakan terhadap kegiatan yang sering dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghindar dari kewajiban terhadap negara untuk pemenuhan pembayaran bea masuk atau bea keluar.? Jelaskan! 3). Pengawasan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penindakan, saling terkait dan saling mengisi. Jelaskan mengapa pengawasan tidak terpisahkan dari penindakan kepabeanan! 4). Jelaskan apa saja pelaksanaan penindakan dibidang kepabeanan dalam hubungannya dengan kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan! 5). Jelaskan bentuk kerjasama apa sajakah antara pemerintah dengan swasta nasional maupun asing, termasuk dengan berbagai organisasi internasional dalam hubungan nya dengan kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan!.

2.3. Rangkuman

Pelaksanaan pengawasan dilakukan dalam rangka kegiatan prefentif, yang termasuk ruang lingkup administrasi kepabeanan, sedangkan penindakan itu sendiri

dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup perbuatan yang dilakukan secara fisik. Tugas bea dan cukai yang berada digaris depan wilayah Indonesia sebagai pintu penjaga perbatasan atas masuk dan keluarnya barang impor dan ekspor, memiliki peran yang sangat penting bagi kelancaran arus barang yang keluar masuk wilayah Negara kesatuan republik Indonesia ini. Untuk dapat diketahui kepatuhan terhadap pemenuhan kewajiban pabean maka DJBC melakukan pengawasan atas barang yang masuk dan/atau keluar wilayah Indonesia, dengan cara mewajibkan barang yang masih terhutang pungutan negara yang diangkut oleh sarana pengangkut wajib dilindungi dokumen pengangkutan dan wajib menuju tujuan pertama di kantor pabean. Dalam era globalisasi abad ke 21 ini, perkembangan lingkungan strategis regional dan global lebih menguat pengaruhnya terhadap kondisi nasional karena diterimanya nilai-nilai universal seperti perdagangan bebas, demokratisasi, serta hak asasi dan lingkungan hidup. Eksistensi kepentingan negara-negara besar di kawasan ini mendorong terjalinnya hubungan timbal balik yang erat antara permasalahan dalam negeri dan luar negeri yang memiliki kepentingan bersama. Informasi kejadian di dalam negeri dengan cepat menyebar ke segala penjuru dunia, selanjutnya negara-negara lain akan memberikan responnya sesuai kepentingannya masing-masing. Sebaliknya, informasi kejadian di negara lain, khususnya negara-negara besar dan negara-negara di kawasan ini, dengan cepat mencapai seluruh wilayah, dan mempengaruhi kondisi nasional

3. KEGIATAN BELAJAR (KB) 2

PENINDAKAN KEPABEANAN

3.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

Perbedaan antara Penindakan dan Penyelidikan Penyelidikan sebagaimana tercantum dalam pasal 1 butir 4 KUHAP disebutkan sebagai serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang.Sedangkan penyelidik itu sendiri sebagaimana disebutkan dalam pasal 4 KUHAP adalah seluruh pejabat POLRI, dengan kata lain hak untuk melakukan penyelidikan secara yuridis merupakan wewenang tunggal petugas POLRI. Sehingga petugas Bea dan Cukai tidak dapat melakukan penyelidikan sebagaimana yang dimaksudkan dalam ketentuan KUHAP tersebut. Pertanyaan nya sekarang, oleh karena petugas Bea dan Cukai tidak dapat melakukan penyelidikan, adalah apa instrumen yuridis bagi petugas Bea dan Cukai untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai suatu tindakan guna dapat tidaknya dilakukan penyidikan atau tindakan administratif. Didalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 1996 tentang Penindakan di Bidang Kepabeanan disebutkan bahwa untuk menjamin hak-hak negara dan dipatuhinya ketentuan Undang-undang , Pejabat Bea dan Cukai mempunyai wewenang untuk melakukan penindakan di bidang Kepabeanan sebagai upaya untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran ketentuan Undang- undang. Hak penindakan inilah yang nampaknya merupakan wewenang khusus bagi petugas Bea dan Cukai yang dapat disamakan dengan penyelidikan sebagaimana yang disebut dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sehingga instrumen hukum bagi petugas Bea dan Cukai untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang dapat diduga suatu pelanggaran pidana atau pelanggaran administratif adalah wewenang

penindakan. Dalam melaksanakan tugas di bidang kepabeanan DJBC dapat melakukan kegiatan secara fisik berupa penindakan. Penindakan itu sendiri dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup perbuatan fisik. Penindakan di bidang Kepabeanan sebagai upaya untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran ketentuan Undang- undang. Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan Nomor 10 Tahun 1995 tanggal 30 Desember 1995 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tanggal 15 Nopember 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan, bahwa penindakan meliputi :

– Penghentian, Pemeriksaan, Penegahan Sarana Pengangkut dan Barang Di Atasnya Serta Penghentian Pembongkaran dan Penegahan Barang

– Pemeriksaan terhadap barang, bangunan atau tempat lain, surat atau dokumen yang berkaitan dengan barang, atau terhadap orang;

– Penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut; dan

– Penguncian, penyegelan, dan/atau pelekatan tanda pengaman yang diperlukan terhadap barang maupun sarana pengangkut.

3.1.a.

Penghentian Sarana Pengangkut.

Dalam rangka upaya pencegahan pelanggaran peraturan perundang- undangan yang berlaku diperlukan cara penindakan yang efektif dan efisien serta tidak menghambat kelancaran arus barang. Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menghentikan dan memeriksa sarana pengangkut serta barang diatasnya. Sarana Pengangkut yang disegel oleh penegak hukum lain atau dinas pos dikecualikan dari pemeriksaan. Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menghentikan pembongkaran barang dari sarana pengangkut apabila ternyata barang yang dibongkar tersebut bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Untuk keperluan pemeriksaan sarana pengangkut, atas permintaan atau isyarat Pejabat Bea dan Cukai pengangkut wajib menghentikan sarana pengangkutnya. Pejabat Bea dan Cukai berwenang meminta agar sarana pengangkut dibawa ke Kantor Pabean atau tempat lain yang sesuai untuk keperluan pemeriksaan. Atas permintaan Pejabat Bea dan Cukai, pengangkut wajib membuka sarana pengangkut atau bagiannya untuk diperiksa. Segala biaya yang timbul sebagai akibat pelaksanaan pemeriksaan merupakan tanggung jawab pengangkut, apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran ketentuan Undang-

undang; Merupakan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, apabila dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya pelanggaran ketentuanUndang-undang. Tindak lanjut dari pemeriksaan sarana pengangkut dan barang di atasnya dilakukan, apabila terdapat pelanggaran, segera dilakukan penegahan terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya; apabila tidak terdapat pelanggaran, segera mengizinkan pengangkut beserta sarana pengangkut berikut barang yang ada diatasnya untuk meneruskan perjalanan. Penghentian sarana pengangkut untuk pemeriksaan terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dalam rangka penindakan dilakukan berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang. Surat Perintah diterbitkan berdasarkan petunjuk yang cukup. Penghentian dapat dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai tanpa Surat Perintah hanya dalam keadaan mendesak dan berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya belum dipenuhi/diselesaikan kewajiban pabeannya, tersangkut pelanggaran Kepabeanan, atau peraturan larangan/ pembatasan impor atau ekspor. Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penghentian segera melaporkan penghentian sarana pengangkut kepada Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1X24 jam terhitung sejak penghentian dilakukan. Dalam hal Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang tidak menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1X24 jam sejak menerima laporan dari Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penghentian, pengangkut/sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dapat segera meneruskan perjalanannya. Keadaan mendesak adalah suatu keadaan dimana penegahan harus seketika itu dilakukan dan apabila tidak dilakukan dalam arti harus menunggu surat perintah terlebih dahulu, barang dan sarana pengangkut tidak dapat lagi ditegah sehingga penegakan hukum tidak dapat lagi dilakukan. Petunjuk yang cukup adalah bukti permulaan ditambah dengan keterangan dan data yang diperoleh antara lain laporan pegawai; laporan hasil pemeriksaan biasa; keterangan saksi dan/atau informan; hasil intelijen; atau hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan. Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang menerbitkan Surat Perintah ialah Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk; Pejabat Eselon II pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang menangani Pencegahan dan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor Wilayah; Pejabat Eselon III pada Kantor Wilayah yang menangani Pencegahan dan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor Pabean; atau Pejabat Eselon IV dan V pada Kantor Pabean yang menangani Pencegahan dan

Investigasi. Surat Perintah memuat tentang nomor Surat Perintah; dasar dan pertimbangan pemberian perintah; nama, pangkat, dan NIP Pejabat Bea dan Cukai yang diberi perintah; perintah penindakan yang harus dilaksanakan; uraian/identitas obyek penindakan; tempat dimana tugas dilaksanakan; jangka waktu penugasan; sarana yang digunakan termasuk senjata api; pakaian yang digunakan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang diberi perintah; kewajiban pelaporan hasil penindakan; tempat dan tanggal penerbitan Surat Perintah; jabatan, tanda tangan, nama, dan NIP pejabat pemberi perintah serta cap dinas; dan m. tembusan kepada pihak terkait apabila dianggap perlu. Bentuk Surat Perintah seperti pada lampiran. Surat Perintah diberi nomor urut dari Buku Surat Perintah yang bentuk dan isinya seperti pada lampiran.Penghentian sarana pengangkut dilakukan oleh Satuan Tugas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2 (dua) Pejabat Bea dan Cukai. Satuan Tugas dipimpin oleh seorang Kepala Satuan Tugas/Komandan Patroli Bea dan Cukai. Dalam menghentikan sarana pengangkut, Satuan Tugas dapat menggunakan kapal patroli; atau sarana pengangkut lainnya; dan senjata api dalam hal diperlukan. Setiap penghentian sarana pengangkut dengan menggunakan kapal patroli, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib mencatat dalam jurnal kapal patroli. Penghentian sarana pengangkut di laut dan di perairan lainnya terlebih dahulu harus diberi isyarat yang lazim bagi pengangkut di laut dan di perairan lainnya. Penghentian sarana pengangkut di darat terlebih dahulu harus diberi isyarat yang lazim bagi pengangkut di darat. Isyarat dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku dan pengangkut wajib mematuhi. Dalam hal isyarat tidak dipatuhi dilanjutkan dengan tembakan peringatan ke atas sebanyak 3 (tiga) kali.Apabila peringatan tidak dipatuhi, tembakan peringatan diarahkan ke bagian yang menghambat/ melumpuhkan sarana pengangkut. Setiap tindakan Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan.

3.1.b.

Penghentian Pembongkaran Barang

Pembongkaran barang dari sarana pengangkut yang ternyata barang tersebut bertentangan dengan ketentuan yang berlaku, Pejabat Bea dan Cukai dari Kantor Pabean yang mengawasi wilayah/tempat dimana dilakukan pembongkaran berwenang menghentikan pembongkaran. Terhadap barang yang dibongkar dari sarana pengangkut Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penegahan. Atas penghentian pembongkaran Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan.

Atas penegahan Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Surat Bukti Penindakan. Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penegahan, menyerahkan sarana pengangkut dan barang kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas penyerahan tersebut Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Serah Terima. Penghentian pembongkaran barang yang ternyata bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dari sarana pengangkut di tempat lain di luar Kawasan Pabean yang diizinkan Kepala Kantor Pabean dilakukan berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang. Penghentian pembongkaran dilakukan oleh Satuan Tugas Bea dan Cukai. Satuan Tugas Bea dan Cukai yang melakukan penghentian pembongkaran melakukan penindakan.Terhadap sarana pengangkut dan/atau barang yang ditegah, Satuan Tugas Bea dan Cukai memerintahkan pengangkut untuk membawa sarana pengangkut dan barang ke Kantor Pabean yang memberikan izin bongkar. Dalam hal pengangkut tidak mematuhi perintah penghentian pembongkaran, Satuan Tugas Bea dan Cukai dapat melakukan upaya paksa membawa sarana pengangkut dan barang ke Kantor Pabean. Setiap upaya paksa, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan.

3.1.c.

Pemeriksaan Sarana Pengangkut

Berdasarkan tempat pemeriksaannya, maka pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang diatasnya dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

Pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya di tempat penghentian atau tempat yang sesuai untuk pemeriksaan Dalam hal di tempat penghentian tidak mungkin dilakukan pemeriksaan karena alasan mengganggu ketertiban umum; dan membahayakan keselamatan pengangkut, sarana pengangkut atau Pejabat Bea dan Cukai, pengangkut tidak patuh. Satuan Tugas Bea dan Cukai dapat memerintahkan pengangkut untuk membawa sarana pengangkut ke tempat lain yang sesuai untuk pemeriksaan, Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Pengangkut yang tidak mematuhi perintah, Satuan Tugas Bea dan Cukai dapat melakukan upaya paksa untuk membawa sarana pengangkut ke tempat lain yang

sesuai untuk pemeriksaan; kantor Pabean muda dicapai; atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Untuk Setiap upaya paksa yng dilakukan tersebut, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan. Satuan Tugas Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan sarana pengangkut wajib menunjukkan Surat Perintah kepada pengangkut; dan memberitahukan maksud dan tujuan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan, pengangkut wajib menunjukkan semua surat dan dokumen yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah situasi bagi sarana pengangkut di laut kepada Pejabat Bea dan Cukai. Dalam hal pengangkut tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan semua surat dan dokumen yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah situasi bagi sarana pengangkut di laut, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang mencari semua surat dan dokumen dan memeriksa tempat-tempat dimana disimpan surat atau dokumen yang diperlukan. Setiap tindakan tersebut, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan. Untuk keperluan pemeriksaan barang di atas sarana pengangkut, pengangkut atau kuasanya wajib menunjukkan bagian-bagian/tempat-tempat dimana disimpan barang; menyerahkan barang dan membuka peti kemas/kemasan barang; dan menyaksikan pemeriksaan. Dalam hal pengangkut atau kuasanya tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan bagian-bagian/tempat-tempat dimana disimpan barang; menyerahkan barang dan membuka peti kemas/kemasan barang; dan menyaksikan pemeriksaan, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan karena jabatan. Untuk setiap tindakan tersebut, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan. Dalam hal hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya pelanggaran, pengangkut/sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dapat segera meneruskan perjalanannya. Dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya ditegah dan dibawa ke Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah dan diserahkan kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas hasil pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya, Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Pemeriksaan, atas penyerahan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib

membuat Berita Acara Serah Terima dan Atas pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya Satuan Tugas Bea dan Cukai, wajib membuat Surat Bukti Penindakan dengan menyebutkan alasan dan hasil pemeriksaan atau jenis pelanggaran.

Pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dan/atau barang di atasnya di kantor pabean terdekat atau kantor pabean tempat kedudukan pejabat penerbit surat perintah Pemeriksaan dilakukan di Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah, Satuan Tugas Bea dan Cukai yang melakukan penghentian sarana pengangkut menyerahkan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya kepada Kepala Kantor Pabean atau Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan dengan Berita Acara Serah Terima. Pemeriksaan terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk oleh Pejabat yang berwenang. Dalam pemeriksaan, pengangkut wajib menunjukkan semua surat dan dokumen yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah situasi bagi sarana pengangkut di laut kepada Pejabat Bea dan Cukai. Dalam hal pengangkut tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan semua surat dan dokumen yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah situasi bagi sarana pengangkut di laut, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang mencari semua surat dan dokumen dan memeriksa tempat-tempat dimana disimpan surat atau dokumen yang diperlukan. Dalam hal pengangkut atau kuasanya tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan bagian-bagian/tempat-tempat dimana disimpan barang; menyerahkan barang dan membuka peti kemas/kemasan barang; dan menyaksikan pemeriksaan, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan karena jabatan.

Atas hasil pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya, Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Pemeriksaan. Pemeriksaan tidak ditemukan adanya pelanggaran, pengangkut/ saranapengangkut dan/atau barang di atasnya dapat segera meneruskan perjalanannya. Dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai melakukan penegahan dan menyerahkan sarana pengangkut dan/atau barang di

atasnya kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas penyerahan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dari Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai dibuatkan Berita Acara Serah Terima dan atas pemeriksaan dan atau penegahan Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Surat Bukti Penindakan dengan menyebutkan alasan dan hasil pemeriksaan atau jenis pelanggaran.

3.1.d. Pemeriksaan Barang Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan terhadap barang. Untuk melaksanakan pemeriksaan importir, eksportir, pengusaha Tempat Penimbunan Sementara, pengusaha Tempat Penimbunan Berikat, atau kuasanya wajib menyerahkan barang dan membuka setiap bungkusan atau kemasan barang yang akan diperiksa. Jika permintaan tidak dipenuhi, Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan atas resiko dan biaya pihak yang diperiksa. Bahwa terhadap barang impor dilakukan pemeriksaan pabean. Pemeriksaan pabean terhadap barang impor meliputi penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang. Pemeriksaan barang impor dan ekspor adalah merupakan kewenangan pejabat Bea dan Cukai setelah diserahkan pemberitahuan Pabean. Pemeriksaan pabean dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan di pelabuhan tujuan atau pemeriksaan pra pengapalan di negara atau tempat ekspor barang. Bahan, alat dan mesin-mesin beserta suku cadangnya yang diperlukan untuk kegiatan operasional dalam rangka proyek pengembangan industri. Barang yang diimpor untuk dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikut; Binatang hidup; Organ tubuh manusia, serum dan vaksin; barang impor yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui udara;

Pemeriksaan fisik terhadap barang impor dilakukan secara selektif dalam arti pemeriksaan barang hanya dilakukan terhadap importasi yang beresiko tinggi, antara lain barang bea masuknya tinggi, barang berbahaya bagi negara dan masyarakat, serta impor yang dilakukan oleh importir yang mempunyai catatan kurang baik. Pemeriksaan fisik barang dapat dilakukan setelah pemberitahu/kuasanya mengajukan pemberitahuan impor barang yang dilampiri dokumen pelengkap pabean dan bukti pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor kepada pejabat Bea dan Cukai.

Terhadap barang impornya karena sesuatu hal harus diekspor kembali, pemberitahu wajib menyerahkan Pemberitahuan Ekspor kembali kepada pejabat Bea dan Cukai untuk dilakukan pemeriksaan pabean. Terhadap barang ekspor yang karena sesuatu hal diimpor kembali, pemberitahu wajib menyerahkan pemberitahuan impor barang kepada pejabat Bea dan Cukai untuk dilakukan pemeriksaan pabean. Pemberitahuan pabean yang telah diberi nomor menjadi dasar bagi pejabat Bea dan Cukai untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan fisik barang impor, yang diberitahukan dalam pemberitahuan impor barang berdasarkan indikator resiko.

Dengan memahami pemeriksaan barang impor ini, diharapkan pembaca mampu menjelaskan bagaimana mempersiapkan diri dalam tugas pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan dan membuat nota pemeriksaan atau laporan pemeriksaan. Dalam setiap pelaksanaan tugas harus ada pedoman atau perintah tugas, perintah tugas tersebut diwujudkan dalam instruksi pemeriksaan yang memuat uraian tentang petugas yang diperintah melakukan pemeriksaan barang, jumlah kolli atau pengemas atau kontener yang harus diperiksa dalam bentuk prosentasi atau dalam jumlah. Instruksi pemeriksan juga memuat identitas pemilik barang atau PPJK, dalam hal pemilik barang tidak mengurus barangnya sendiri dapat menguasakan kepada pengusaha pengurusan jasa kepabeanan atau PPJK, memuat data tempat barang ditimbun, memuat identitas pemberi tugas, memuat jenis dokumen pemberitahuan pebean, nomor, tanggal pemberitahuan pabean dan nomor, tanggal instruksi pemeriksaan. Pejabat Bea dan Cukai setelah menerima instruksi pemeriksaan mencatat datanya pada buku catatan bagi pemeriksa barang. Instruksi pemeriksaan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan dokumen atau pejabat pada seksi pabean, Instruksi pemeriksaan harus berasal dan diterima dari pegawai Bea dan Cukai selaku kurir dari pejabat Bea dan Cukai yang menerbitkan instruksi pemeriksaan tersebut, pada saat itu juga menerbitkan surat pemberitahuan jalur merah atau SPJM dan dikirimkan kepada pemberitahu sebagaimana tertera pada pemberitahuan pabean. Pemberitahu dokumen pabean setelah menerima SPJM wajib melampirkan minimal dokumen pelengkap pabean berupa daftar data kemasan barang atau packing list atau P/L atas barang yang diberitahukan dalam dokumen pabean dan menyerahkan SPJM dilampiri P/L tersebut kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan barang. Packing list atau P/L ini diperlukan untuk mempermudah dan mempercepat cara pemeriksaan fisik barang, karena memuat data

importer, data eksportir diluar negeri, jenis pengemas/kolli, jumlah pengemas, merk pengemas, jumlah barangnya dan secara umum nama uraian jenis barangnya. Untuk itu dalam hal pemberitahu atau PPJK tidak menyerahkan, tidak melampirkan packing list atau P/L, pejabat yang melakukan pemeriksaan fisik barang dapat melakukan pemeriksaan seluruhnya atau seratus persen atas barang yang diberitahukan untuk dilakukan pemeriksaan fisik. Di dalam menjalankan tugas pemeriksaan barang, seorang pemeriksa harus mempunyai fisik yang baik, tubuh yang sehat, mengingat tugas pemeriksaan barang sering dilakukan ditempat yang udaranya panas, mungkin keadaannya lembab dan berbau tidak enak (pemeriksaan barang kimia). Bermental baik dan berdedikasi tinggi terhadap negara sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain, berbuat dan berpikirlah yang terbaik untuk bangsa dan Negara.Mempunyai pengetahuan yang luas tentang peraturan kepabeanan dan peraturan pelaksanannya, peraturan larangan dan pembatasan, peraturan lainnya dari instansi lain yang pelaksanaannya dibebankan kepada Bea dan Cukai. Seorang pemeriksa barang impor sebelum melaksanakan tugas wajib mempersiapkan diri dengan melengkapi kelengkapan administrasi, fisik dan mental pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang, pengetahuan tentang jenis pengemas, pengetahuan tentang tanda-tanda yang tertera pada pengemas yang merupakan lambang-lambang bahan atau barang berbahaya, pengetahuan tentang jenis pengemas yang lazim dipergunakan dalam perdagangan, persiapan alat dan perlengkapan untuk keperluan pemeriksaan fisik barang. Setiap kali akan dilakukan pemeriksaan barang. Pemeriksa atau pejabat yang diberi kewenangan melakukan pemeriksaan fisik barang wajib melakukan analisa jenis barang yang diberitahukan oleh Importir atau kuasanya dengan cara membuka atau melihat ketentuan umum untuk menginterpretasikan buku tarif bea masuk untuk sekarang ini dipergunakan harmonized' system, klasifikasi barang dalam nomenklatur dilakukan menurut ketentuan judul bagian, bab dan sub-bab, serta catatan, dan pengetahuan tentang barang. Setelah dapat dianalisa jenis barangnya, pemeriksa wajib memperhatikan klasifikasi, spesifikasi, data teknis maupun data fisik yang dapat mempengaruhi besarnya tarif, besarnya bea masuk dan PDRI, harga barang. Tujuan persiapan pemeriksaan disamping dapat mengoptimalkan penerimaan negara juga keselamatan dan perlindungan pemeriksa terhadap dampak terhadap penanganan barangnya, untuk itu diperlukan pengetahuan tanda dan atau ciri-ciri

khusus barang tersebut, yaitu dengan cara melihat data, catatan pada kamus kimia maupun kamus lainnya yang dapat dipergunakan untuk analisa. Pada waktu pemberitahu atau kuasanya/PPJK datang kepada pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atau tempat yang disamakan dengan itu, pemberitahu atau kuasanya/PPJK menunjukan dan menyerahkan lembar asli SPJM kepada pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang, untuk itu pejabat pemeriksa fisik barang tersebut wajib menanyakan kepada pemberitahu atau PPJK yang mengurus barangnya, dengan pertanyaan: "apakah semua barang yang akan dilakukan pemeriksaan . fisik barang telah datang dan telah ditimbun ditempat penimbunan barang yang pengawasannya dibawa Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimana pemberitahuan pabean diserahkan". Dalam hal belum seluruhnya barang tersebut datang dan ditimbun ditempat penimbunan barang yang pengawasannya dibawa Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimana pemberitahuan pabean diserahkan, pemberitahu wajib memberikan penjelasan, keterangan atas barang yang belum dan atau tidak datang tersebut kepada pejabat pemeriksa fisik barang. Dasar pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksa fisik barang bertanya tentang barang yang telah datang dan telah ditimbun, adalah setiap pemilik barang atau kuasanya yang menginginkan barangnya diurus atau diselesaikan wajib ditunjukan, diperlihatkan jumlah kolli, jumlah pengemas barang, wajib juga membuka pengemasnya dan mempelihatkan barang yang diurusnya untuk dilakukan, pemeriksaan fisik barang oleh pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang. Dalam hal seluruh barang tersebut telah datang dan ditimbun ditempat penimbunan barang yang pengawasannya dibawa Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimana pemberitahuan pabean diserahkan, pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang wajib memilih/menunjuk pengemas atau kolli yang akan dibuka dan diperiksa barangnya, untuk ditimbun ditempat penimbunan yang khusus digunakan untuk pemeriksaan fisik barang. Pada waktu pemberitahu menyiapkan barang untuk ditimbun ditempat penimbunan yang khusus untuk pemeriksaan fisik barang, pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksa fisik barang tersebut mempelajari uraian jenis barang, spesifikasi, data teknis dan data lainnya dengan cara membuka buku klasifikasi tarip bea masuk, membaca uraian maupun catatan yang ada pada buku tarip bea masuk

indonesia (BTBMI) atau Indonesian Customs Tariff Book berdasarkan The Asean Harmonised Tariff Nomenclature (AHTN) agar dapat diketahui hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi besarnya tarip atau pembeaan, sebagai prioritas utama dalam melakukan pemeriksaan fisik barang yang akan diperiksa. Dalam melakukan pengujian atau untuk pembuktian pemberitahu memberitahukan harga barang impor sesuai harga transaksinya, diperlukan pengujian mutu, spesifikasi dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif dengan cara dilakukan pemeriksaan pabean dengan cara dilakukan pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik barang. Pemeriksaan terhadap fisik barangnya dan kebenaran harga barang yang diimpornya pada setiap kegiatan importasi, terhadap barang impor wajib dilakukan pemeriksaan fisik barang setelah diajukan pemberitahuan pabean, pemberitahuan pabean ini meliputi pemberitahuan impor barang untuk barang impor dan pemberitahuan ekspor barang untuk barang ekspor. Pemeriksaan fisik adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pejabat Pemeriksa Barang untuk mengetahui jumlah dan jenis barang impor yang diperiksa; Tujuan pemeriksaan fisik Barang adalah dalam rangka memperoleh data barang secara lengkap agar dapat digunakan untuk mencegah adanya uraian barang yang tidak jelas/benar (misdescription); mencegah adanya barang yang tidak diberitahukan (unreported); mencegah kesalahan pemberitahuan negara asal barang; mencegah pembukkan barang larangan dan pembatasan; menetapkan klasifikasi dan Nilai Pabean dengan benar NDPBM yaitu daftar nilai kurs sebagai dasar pelunasan bea masuk, PPN, PPnBM, Pajak Ekspor, dan PPh berdasarkan keputusan Menteri Keuangan yang disusun untuk jangka waktu berlakunya dalam periode tertentu. Pemeriksaan fisik barang untuk setiap PIB dilakukan oleh 1 (satu) orang Pejabat Pemeriksa Barang yang ditujukan secara langsung melalui Sistem Aplikasi atau oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen. Pejabat Pemeriksa Dokumen dapat menunjuk Pejabat Pemeriksa Barang lebih dari satu orang, dalam hal jumlah dan atau jenis barang yang akan diperiksa mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, dan menghambat kecepatan penyelesaian suatu importasi. Dalam hal pemeriksaan barang impor dibutuhkan pengetahuan teknis tertentu, maka Pejabat Pemeriksa Barang dapat meminta bantuan pihak lain (internal maupun eksternal) yang memiliki pengetahuan teknis tersebut, dan hal tersebut dicatat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Dalam hal pemeriksaan fisik barang dilakukan bersama dengan pejabat dari instansi lain

berdasarkan ketentuan di bidang impor yang berlaku, Pejabat Pemeriksa Barang mencatat hal tersebut dalam LHP.

Pemeriksaan fisik barang oleh petugas pemeriksaan dilakukan berdasarkan perintah, atensi atau disposisi dari pejabat fungsional pemeriksa dokumen (PFPD) atau Kepala Seksi Pabean, yang tercantum pada Instruksi Pemeriksaan. Agar

pemeriksaan barang terlaksana dengan akurat, lengkap dan benar, petugas pemeriksa dalam melaksanakan tugasnya harus mengikuti langkah-langkah secara berurutan sebagai berikut :

– Membaca dan memahami instruksi yang diberikan atasan sebagaimana tertulis pada instruksi pemeriksaan, petugas yang melakukan pemeriksaan dapat membaca dan memahami hal-hal yang perlu diperiksa dan dicocokkan antara data yang diberitahukan dengan data sebenamya. Dalam hal instruksi yang diterima dirasa kurang jelas pemeriksa agar menghubungi pejabat yang memberi instruksi untuk mendapatkan penjelasannya.

– Mempelajari isi pemberitahuan (PIB) dan seluruh lampirannya (dokumen pelengkap pabean). Dengan mempelajari isi pemberitahuan dimaksud, seorang pemeriksa dapat segera mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan yang akan dilakukannya. Dalam hal diberitahukan jelas barang Wire Mesh, untuk mengetahui ukuran ketebalan Wire Mesh tersebut digunakan alat ukur Caliper.

– Menanyakan kepada pemberitahu/Importir, apakah lokasi penimbuunan partai barang impor yang akan diperiksa atau apabila diangkut dengan peti kemas, apakah peti kemas yang barang-barangnya akan diperiksa sudah ditemukan di lokasi. Hal ini perlu dilakukan, karena apabila volume barang impor tinggi seperti di Pelabuhan Tanjung Priok atau pelabuhan udara Sukarno Hatta.

– Mencari penumpukan kontener atau stapelan barang atas peti kemas sering memakan waktu lama karena padatnya penimbunan barang. Dalam hal sudah diketemukan lokasinya atau partai barangnya, maka pemeriksa langsung menuju tempat partai barang atau peti kemas ditimbun dan segera melakukan pemeriksaan fisik barangnya.

– Mencocokkan jumlah, jenis, merk, dan nomor kolli secara keseluruhan, cara pemeriksaan ini dimaksud untuk didapatkan kepastian apakah jumlah, jenis, merk, dan nomor kolli yang diperiksa sesuai dengan yang diberitahukan dalam PIB.

– Meminta kepada importir/kuasanya untuk menyiapkan kolli-kolli yang akan diperiksa sesuai nomor yang diinstruksikan. Penunjukan nomor-nomor kolli untuk diperiksa dilakukan secara random melalui perangkat komputer, dalam hal tertentu, penunjukkan nomor-nomor kolli untuk pemeriksaan dapat dilakukan secara manual.

– Dalam hal pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan dokumen atau pejabat yang berwenang dibidang kepabeanan menerima catatan, data, keterangan atau nota Intelijen, menemukan perbedaan antara jumlah dan jenis kolli yang tercantum dalam pemberitahuan pabean dengan manifest atau pemberitahuan impor barang yang telah ditetapkan jalur hijau, pemeriksaan dilakukan random terhadap pemberitahuan impor barang yang telah ditetapkan jalur hijau.

– Mengukur kolli-kolli yang akan diperiksa. Pengukuran terhadap kolli-kolli dimaksud dapat digunakan untuk memudahkan menghitung jumlah barang yang berada di dalam kolli-kolli itu.

– Meminta kepada importir/kuasanya untuk membuka kolli-kolli yang akan diperiksa isinya. Dalam hal perintah petugas pemeriksa tidak dituruti oleh importir/kuasanya, maka pembukuan kolli-kolli dilakukan oleh petugas dan segala biaya dan resiko karena pemeriksaan menjadi tanggung jawab si pemberitahu. Pembukaan kolli-kolli dilakukan oleh pemberitahu dapat memberikan kepastian bahwa kolli-kolli tersebut memang milik pemberitahu yang bersangkutan.

– Mengeluarkan seluruh barang dari masing-masing kolli. Cara ini dilakukan untuk memastikan apakah pada bagian dalam dari kolli tersebut tidak ada tempat- tempat yang dipergunakan untuk menyembunyikan barang.

– Mencocokkan data yang diinstruksikan untuk diperiksa, petugas Pemeriksaan mencatat data tentang; uraian barang; jenis-jenis barang, jumlah tiap jenis barang; tipe tiap jenis barang; ukuran tiap jenis barang; merk-tipe jenis barang; Negara asal tiap jenis barang dan spesitikasi tiap jenis barang. Pemeriksa mencocokan data yang diinstruksikan dengan cara membandingkan antara yang diberitahukan dengan keadaan barang sebenarnya, pengambilan contoh barang.

– Dalam melakukan pemeriksaan fisik barang, pemeriksa menentukan perlu tidaknya mengambil contoh barang masing-masing jenis satu buah. Contoh barang diberi identitas dari mana / dari kolli nomor dan tanggal PIB nya, serta dibubuhi tanda tangan pemeriksa. Dalam hal barang tidak dapat diambil contoh

dan tidak ada gambar atau brosur maka barang itu difoto. Gambar, brosur atau foto dibubuhi catatan dari kolli mana dan PIB tanggal dan nomor berapa serta tanda tangan pemeriksa.

– Importir atau kuasanya memasukkan kembali semua barang yang selesai diperiksa ke dalam kolli/pengemas. Pemeriksa dapat menyuruh memasukkan kembali semua barang yang selesai diperiksa kedalam kolli/pengemas yang bersangkutan, kecuali contoh barang yang diambil untuk keperluan penelitian klasifikasi dan penetapan harga, hal ini perlu dilakukan agar tidak ada barang yang terecer, menghindari dari tuntutan importir / kuasanya apabila ada barang yang hilang.

– Setelah barang selesai dimasukkan kedalam kolli masing-masing, petugas meminta kepada importir atau kuasanya untuk menutup kembali kolli-kolli yang dibuka karena pemeriksaan. Penutupan kembali kolli-kolli yang telah diperiksa oleh pemberitahu dimaksudkan agar importir/kuasanya yakin bahwa kolli-kolli tersebut d a l a m keadaan lengkap dan utuh sebagaimana adanya. Salah satu alasan mengapa setiap pemeriksaan barang harus selalu diketahui dan disaksikan oleh importir/kuasanya adalah untuk mendapatkan kepastian atau untuk mencegah gugatan yang bersangkutan terhadap kemungkinan adanya kehilangan dan kerusakan barang.

– Memberi tanda pada tiap kolli yang telah diperiksa, hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pemeriksaan ganda terhadap kolli yang sama.

– Pemeriksaan fisik adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang untuk mengetahui jumlah, jenis, spesifikasi barang yang diperiksanya. Jadi yang dimaksud disini dengan pemeriksaan fisik adalah suatu kegiatan dari Pejabat Pemeriksa Barang dengan cara meneliti jumlah, jenis serta keadaan fisik barang sebenarnya untuk memperoleh data dan penilaian yang tepat mengenai Pemberitahuan Pabean yang diajukan.

– Pemeriksaan fisik barang dilakukan secara selektif dalam artian hanya terhadap importasi tertentu saja yang dilakukan pemeriksaan fisik, selebihnya tidak dilakukan pemeriksaan fisik, hanya dilakukan pemeriksaan dokumen. Hal ini dilakukan mengingat begitu besarnya volume barang yang keluar dan masuk daerah pabean, sehingga tidak mungkin untuk dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh walaupun sebenarnya hal tersebut mutlak diperlukan guna mengamankan keuangan negara dan juga pertahanan dan keamanan negara. Namun demi efektifitas dan

efisiensi waktu dan tenaga, pemeriksaan fisik hanya dilakukan terhadap barang- barang tertentu saja.

Tujuan dari

Pemeriksaan Fisik Barang adalah dalam rangka memperoleh data

barang secara lengkap agar dapat digunakan untuk :

- mencegah adanya uraian barang yang tidak jelas/benar (misdescription);

- mencegah adanya barang yang tidak diberitahukan (unreported);

- mencegah kesalahan pemberitahuan negara asal barang;

- mencegah pemasukan barang larangan dan pembatasan;

- menetapkan klasifikasi dan Nilai Pabean dengan benar

Kriteria Barang yang Terkena Pemeriksaan Fisik

- Barang yang diimpor oleh Importir baru.

- Importir yang belum memiliki Surat Pemberitahuan Register dan baru pertama kali melakukan impor, maka importasinya akan dilakukan pemeriksaan fisik dengan tingkat pemeriksaan fisik seratus persen.

- Barang yang diimpor oleh Importir yang termasuk dalam kategori risiko tinggi. Risiko importir berdasar pada Profil Importir yang disusun dari hasil registrasi importir, laporan pelanggaran yang ditemukan pada pemeriksaan barang, pemeriksaan dokumen dan hasil audit.

- Barang impor sementara.

- Barang impor yang menggunakan fasilitas impor sementara dilakukan pemeriksaan fisik saat diimpor dan saat direekspor untuk memastikan apakah barang yang dimasukkan akan sesuai dengan barang yang dikeluarkan.

- Barang Operasi Perminyakan (BOP) golongan II.

- Barang Operasi Perminyakan golongan II termasuk ke dalam barang yang diimpor dengan fasilitas impor sementara.

- Barang re-impor.

- Barang impor yang terkena pemeriksaan acak ( random ) oleh sistem komputer.

- PIB yang diterima oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setiap saat dapat terkena penetapan jalur merah berdasarkan pemeriksaan acak/random yang telah diprogramkan pada komputer.

- Barang impor tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.

- Barang impor yang termasuk dalam kategori ketetapan pemerintah dilakukan pemeriksaan fisik barang untuk mencegah adanya pemasukan barang-barang yang termasuk dalam kategori barang pembatasan dan larangan.

- Barang impor yang termasuk dalam komoditi berisiko tinggi dan/atau berasal dari negara yang berisiko tinggi.

Tingkat Pemeriksaan Barang

- Tingkat pemeriksaan 10 (sepuluh)%, adalah pemeriksaan fisik barang dengan jumlah kemasan yang dibuka adalah jumlah yang dapat mewakili 10% dari setiap jenis barang yang tertulis dalam fotocopy invoice dan atau packing list dengan jumlah minimal 2 (dua) koli;

- Tingkat pemeriksaan 30 (tiga puluh)%, adalah pemeriksaan fisik barang dengan jumlah kemasan yang dibuka adalah jumlah yang dapat mewakili 30% dari setiap jenis barang yan tertulis dalam fotocopy invoice dan atau packing list dengan jumlah minimal 2 (dua) koli;

- Tingkat Pemeriksaan 100(seratus) %, adalah pemeriksaan fisik barang dengan jumlah kemasan yang dibuka adalah seluruh kemasan setiap jenis barang;

Dalam hal barang impor diangkut dalam peti kemas (container), Pejabat Pemeriksa Barang :

- Mencocokkan nomor, ukuran, jumlah dan jenis peti kemas barang impor yang akan diperiksa;

- Memeriksa segel peti kemas barang impor yang akan diperiksa;

- Mengawasi stripping barang dari dalam peti kemas;

- Menghitung jumlah kemasan dan mencocokkan jenis kemasan dari setiap peti kemas barang impor yang akan diperiksa:

Dalam hal jumlah dan jenis kemasan kedapatan sesuai:

- Untuk party barang impor yang terdiri dari 1 (satu) jenis barang yang dikemas dalam kemasan standar (standard of packing), kemasan yang dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) atau 30 % (tiga puluh persen) dari jumlah kemasan yang terdapat dalam setiap peti kemas barang impor yang akan diperiksa;

- Untuk party barang impor yang lebih dari 1 (satu) jenis barang, kemasan yang dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) atau 30 % (tiga puluh persen) dari tiap jenis barang yang terdapat dalam setiap peti kemas barang impor yang akan diperiksa;

- Apabila hasil pemeriksaan fisik barang, kedapatan jumlah dan atau jenis barang tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen);

- Terhadap jenis barang yang memerlukan penanganan khusus (diangkut dengan reefer container) pemeriksaan dapat dilakukan di gudang/tempat penimbunan milik importir;

Dalam hal jumlah dan atau jenis kemasan kedapatan tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen).

Dalam hal barang impor diangkut dalam kemasan lain dari petikemas, Pejabat Pemeriksa Barang:

- Mencocokkan nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan barang impor yang akan diperiksa;

- Menghitung/mencocokkan jumlah dan jenis kemasan barang impor yang akan diperiksa, dalam hal jumlah dan jenis kemasan kedapatan sesuai:

° Untuk party barang impor yang terdiri dari 1 (satu) jenis barang yang dikemas dalam kemasan standar (standard of packing), kemasan yang dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) atau 30 % (tiga puluh persen) dari jumlah kemasan yang terdapat dalam setiap petikemas barang impor yang akan diperiksa;

° Untuk party barang impor yang lebih dari 1 (satu) jenis barang, kemasan yang dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) atau 30 % (tiga puluh persen) dari tiap jenis barang yang terdapat dalam setiap petikemas barang impor yang akan diperiksa;

° Apabila hasil pemeriksaan fisik barang, kedapatan jumlah dan atau jenis barang tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen);

Dalam hal jumlah dan atau jenis kemasan kedapatan tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen).

Dalam hal barang impor dalam bentuk curah, Pejabat Pemeriksa Barang :

1). Menghitung/mengukur jumlah atau volume barang 2). Mencocokkan jenis barang dengan copy invoice dan packing list yang telah dilegalisir oleh Pejabat Penerima Dokumen.

Dalam melakukan pemeriksaan fisik barang, disamping menghitung jumlah barang dan mencocokkan jenis barang dengan copy invoice dan atau packing list yang telah ditandasahkan oleh Pejabat Penerima Dokumen, Pejabat Pemeriksa Barang wajib memeriksa data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

- Jumlah satuan barang dari setiap jenis barang yang diperiksa

- Merk, tipe, ukuran, data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa

- Memberikan paraf pada kemasan yang telah dibuka dan telah dilaku kan pemeriksaan fisik

- Dalam hal jumlah satuan dan atau jenis barang kedapatan tidak sesuai, pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen)

- Dalam hal copy invoice dan atau packing list tidak dapat digunakan sebagai dasar pemeriksaan fisik barang, maka pemeriksaan ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen). Dalam hal jenis barang atau data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa tidak jelas, diajukan contoh barang dan atau photo barang untuk keperluan penetapan klasifikasi dan atau penetapan nilai pabean. Pengambilan contoh barang dilakukan dengan membuat Berita Acara Pengambilan Contoh Barang yang ditandatangani oleh Importir/PPJK, dengan tetap memperhatikan sifat barang yang peka terhadap pengaruh luar sehingga tidak dapat diambil contohnya (untuk itu dimintakan keterangan yang berasal dari negara asal barang). Sebagai suatu konsekuensi terhadap dilaksanakannya sistem self assesment terhadap pungutan pabean, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sistem ini juga mengandung beberapa kelemahan, walaupun pada penerapannya sistem ini menawarkan pelayanan yang cepat, sistem self assesment sendiri memberikan keleluasaan kepada wajib pajak untuk menghitung dan memberitahukan jumlah

pajak yang dibebankan kepadanya, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama sudah menjadi kodrat bahwa seseorang cenderung untuk mengelak dari pajak yang dikenakan kepadanya, hal seperti ini juga tentu berlangsung di dalam dunia perdagangan. Pada perkembangannya, terhadap pelaksanaan sistem self assesment yang diterapkan dalam perpajakan kita khususnya bea masuk yang merupakan penerimaan negara yang dipungut oleh DJBC, mutlak akan adanya suatu kontrol terhadap pelaksanaan sistem tersebut, terlebih lagi dalam dunia usaha dimana para pengusaha cenderung untuk memperbesar laba tak terkecuali dengan cara yang kurang terpuji yaitu mengelak dari pajak yang dikenakan terhadapnya. Adanya kekhawatiran semacam inilah yang menyebabkan diperlukan adanya suatu sistem yang dapat meng-counter terhadap kelemahan-kelemhan yang telah ada. Pada awal perkembangannya, terhadap barang yang masuk maupun keluar dari pabean dilakukan pemeriksaan fisik oleh bea dan cukai akan tetapi seiring dengan perkembangan dunia dan pesatnya dunia perdagangan maka praktek seperti ini lambat laun sudah tidak digunakan lagi. Salah satu dari sistem yang telah sejak lama telah diterapkan oleh DJBC dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan dan pelayanannya adalah pemeriksaaan pabean, pemeriksaan pabean terdiri atas pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik barang sebagaimana yang telah kami singgung diatas, akan tetapi dalam praktek sebenarnya di lapangan, Pemeriksaan fisik sangat sulit untuk dilaksanakan mengingat banyaknya kegiatan impor maupun ekspor barang setiap harinya, sehingga sangat mustahil untuk melaksanakan pemeriksaan fisik barang tersebut secara menyeluruh karena akan menimbulkan stagnansi di kawasan pabean dan biaya ekonomi yang tinggi. Guna melindungi hak-hak negara yang melekat pada barang impor maupun ekspor dan juga guna menghindari terjadinya stagnansi di kawasan pabean serta mengurangi biaya ekonomi maka perlu diterapkan suatu manajemen risiko kepabeanan dan cukai. Manajemen Resiko adalah serangkaian upaya sistematis, terpadu dan menyeluruh, dengan menerapkan kebijakan dan prosedur yang ada menentukan konteks, mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, memperlakukan, memonitor, dan mengkomunikasikan risiko-risiko yang mungkin terjadi di bidang kepebeanan dan cukai. Alasan yang melatarbelakangi diberlakukannya manajemen risiko adalah

perkembangan pesat bidang IT dan transportasi; keinginan meningkatkan kualitas hidup; Globalisasi yang memberikan kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan perjanjian-perjanjian dan membuka akses pasar; Meningkatnya arus uang, modal dan barang; Peranan bea dan cukai merupakan salah satu ukuran economic competitiveness; Ancaman terhadap negara dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan pertahanan dan keamanan meningkat; Sumber daya yang dimiliki oleh bea dan cukai tidak sepadan dengan luas wilayah serta sarana dan prasarana yang dimiliki; Tuntutan dunia usaha terhadap kinerja bea dan cukai meningkat; Banyaknya peraturan-peraturan instansi lain yang pelaksanaannya dititipkan kepada bea dan cukai Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa ekspetasi terhadap kinerja bea cukai yang efektif dan efisien sangatlah didambakan oleh dunia usaha, hal ini tentu akan menciptakan suatu iklim usaha yang kondusif dan sudah pasti akan menarik investor-investor ke dalam negeri, yang pada akhirnya akan menciptakan suatu keseimbangan perekonomian negara. Jika kita melihat konsep dari manajemen resiko kita tentu juga berharap akan tercapainya tujuan-tujuan sebagaimana yang dinginkan dan telah dicita-citakan, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana menerapkan konsep manajemen resiko tersebut di lapangan. Bea dan cukai sendiri dalam usahanya untuk meningkatkan kinerjanya telah menerapkan konsep manajemen resiko dalam melaksanakan pengawasan serta pelayanannya kepada masyarakat, penerapan konsep manajemen resiko dapat terlihat dari diterapkan sistem penjaluran terhadap pengeluaran barang, sistem ini membagi sistem pengeluaran barang menjadi tiga bagian, yaitu jalur prioritas, jalur hijau dan jalur merah.

3.1.e.

Pemeriksaan Bangunan Atau Tempat Yang Bukan Merupakan Rumah Tinggal

Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan terhadap bangunan atau tempat lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bangunan atau tempat lain yang penyelenggaraannya dengan izin yang diberikan berdasarkan Undang-undang; atau bangunan atau tempat lain yang menurut Pemberitahuan Pabean berisi barang dibawah pengawasan pabean. Pejabat Bea dan Cukai berwenang memasuki dan memeriksa bangunan atau tempat yang bukan

merupakan rumah tinggal yang berdasarkan Undang-undang penyeleng-garaan nya tidak berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dapat memeriksa setiap barang yang ditemukan. Pejabat Bea Cukai berwenang untuk memeriksa bangunan atau tempat lain dan surat atau dokumen yang berkaitan dengan barang. Hal ini dilakukan apabila dianggap perlu dalam proses pemeriksaan barang. Yang dimaksud dengan bangunan atau tempat lain adalah bangunan atau tempat lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bangunan atau tempat lain yang penyelenggaraannya dengan izin yang diberikan berdasarkan undang-undang atau bangunan atau tempat lain yang menurut Pemberitahuan Pabean berisi barang di bawah pengawasan pabean, dan yang kedua adalah bangunan atau tempat lain yang bukan merupakan rumah tinggal yang berdasarkan undang-undang penyelenggaraannya tidak berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dalam pemeriksaan bangunan atau tempat lain, harus dengan surat perintah dari Direktur Jenderal, kecuali pemeriksaan bangunan atau tempat yang menurut undang-undang berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; pengejaran orang dan/atau barang yang memasuki bangunan atau tempat lain.Pengelola bangunan atau tempat lain tersebut tidak boleh menghalangi Pejabat Bea dan Cukai yang masuk ke dalam bangunan atau tempat lain kecuali banguna atau tempat lain tersebut adalah rumah tinggal. Memasuki bangunan atau tempat lain yang bukan merupakan tempat tinggal yang berdasarkan undang-undang penyelenggaraannya tidak berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk pemeriksaan barang dan surat atau dokumen yang berkaitan dengan barang dalam rangka penindakan, dilakukan berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea Cukai yang berwenang. Surat Perintah tersebut diterbitkan petunjuk yang cukup. Memasuki bangunan atau tempat lain dan pemeriksaan sebagaimana dimaksud di atas dapat dilakukan oleh Pejabat Bea Cukai tanpa Surat Perintah dalam hal keadaan mendesak dan berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa barang yang ditimbun/disimpan dalam bangunan atau tempat lain belum dipenuhi/ diselesaikan kewajiban pabeannya, tersangkut pelanggaran kepabeanan atau peraturan larangan/atau pembatasan impor atau ekspor atau cukai. Pejabat Bea Cukai yang melakukan pemeriksaan tersebut segera melaporkan kepada Pejabat Bea Cukai yang berwenang menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1 x 24 jam terhitung sejak pemeriksaan dilakukan. Apabila Pejabat Bea Cukai yang berwenang tidak menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1 x 24 jam sejak menerima laporan dari Pejabat Bea Cukai yang melakukan pemeriksaan bangunan atau tempat lain, maka

pemeriksaan harus segera dihentikan. Adapun yang dimaksud dengan keadaan yang mendesak adalah suatu keadaan dimana penegahan harus seketika itu dilakukan dan apabila tidak dilakukan dalam arti harus menunggu Surat Perintah terlebih dahulu, barang dan sarana pengangkut tidak dapat lagi ditegah sehingga penegakan hukum tidak dapat lagi dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan petunjuk yang cukup adalah bukti permulaan ditambah dengan keterangan dan data yang diperoleh antara lain laporan pegawai; laporan hasil pemeriksaan biasa; keterangan saksi dan/atau informan; hasil intelejen; atau hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan. Surat Perintah tersebut diberi nomor urut dari Buku Surat Perintah. Pemeriksaan bagunan atau tempat lain sebagaimana disebut di atas dilakukan oleh Satuan Tugas Bea dan Cukai yang beranggotakan paling sedikit dua orang dan dipimpin oleh seorang Kepala Satuan Tugas/Komandan Patroli Bea dan Cukai. Dalam pelaksanaan tugas Satuan Tugas tersebut dapat menggunakan kapal patroli; sarana pengangkut lainnya; dan senjata api dalam hal diperlukan. Pada saat memasuki bangunan atau tempat lain Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib menunjukkan Surat Perintah kepada pemilik atau yang menguasai bangunan atau tempat lain, dan memberitahukan maksud dan tujuan pemeriksaan.Sebelum pemeriksaan, pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain wajib menunjukkan semua surat dan dokumen yang berkaitan dengan barang yang ditimbun/disimpan di dalamnya serta denah bangunan atau tempat lain kepada Satuan Tugas Bea dan Cukai. Apabila pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain tidak memenuhi kewajibannya tersebut, maka Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang mencari semua surat dan dokumen dan memeriksa tempat-tempat dimana disimpan surat atau dokumen yang diperlukan. Untuk keperluan pemeriksaan barang yang ditimbun/disimpan di dalam bangunan atau tempat lain, pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain wajib menunjukkan bagian-bagian/tempat-tempat di mana disimpan barang; menyerahkan barang dan membuka peti kemas/kemasan barang; dan menyaksikan pemeriksaan. Apabila pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain tidak memenuhi kewajibannya, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan karena jabatan. Setiap tindakan yang dilakukan Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat laporan tentang Pemeriksaan Barang Bangunan atau Tempat Lain dan Surat atau Dokumen yang Berkaitan Dengan Barang. Pemeriksaan jabatan dilakukan terhadap barang-barang impor yang dicurigai oleh Kantor Pusat, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Kantor Pelayanan dan Perwakilan Bea dan Cukai di Luar Negeri atau barang-barang impor yang berdasarkan informasi dari dalam maupun luar

yang diterima oleh Kantor Pusat, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Kantor Pelayanan yang diduga keras akan menimbulkan kerugian pada penerimaan keuangan Negara. Pemeriksaan Jabatan dilakukan atas perintah tertulis dari Kepala Kantor Wilayah atau Kepala Kantor Pelayanan dan dilakukan secara menyeluruh atas party barang yang bersangkutan. Pemeriksaan Jabatan dilakukan setelah Pemberitahuan Umum (BC.1.1) diserahkan kepada Kantor Pelayanan, tetapi sebelum Pemberitahuan Impor Barang yang bersangkutan diserahkan. Pemeriksaan jabatan dilakukan dengan tidak mengganggu kelancaran arus barang. Terhadap barang yang telah dilakukan pemeriksaan yang kemudian dibuatkan Pemberitahuan Impor Barang oleh imprtir, dapat dilakukan pemeriksaan ulang oleh Kepala Bidang Pencegahan Penindakan atau Kepala Seksi Manifest Informasi apabila terdapat hal-hal yang mencurigakan. Apabila hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya pelanggaran Pejabat Bea dan Cukai segera menghentikan pemeriksaan. Sedangkan jika hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, maka barang yang ditimbun/ disimpan di dalam bangunan atau tempat lain ditegah dan dapat ditimbun/ disimpan di dalam bangunan atau tempat lain yang diperiksa; atau ditegah dan dibawa ke Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Terhadap pemeriksaan bangunan atau tempat lain dan barang yang ditimbun di dalamnya serta surat atau dokumen yang berkaitan dengan barang atau penegahan barang, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Surat Bukti Penindakan dengan menyebut alasan pemeriksaan/ penegahan atau jenis pelanggaran. Sedangkan hasil pemeriksaan atas barang yang ditimbun/disimpan di dalam bangunan atau tempat lain tersebut , Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Pemeriksaan. Barang yang ditegah sebagaimana telah disebutkan, diserahkan kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai dan dibuatkan Berita Acara Serah Terima. Pembuatan Surat Bukti Penindakan, Berita Acara Pemeriksaan, dan Berita Acara Serah Terima berdasarkan kepada Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Apabila barang yang ditegah karena alas an pengamanan hak-hak Negara tidak memungkinkan untuk ditimbun/disimpan di dalam bangunan atau tempat lain yang diperiksa, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang memerintahkan kepada pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain unutk membawa barang yang ditegah ke Kantor Pabean terdekat; atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Dalam hal pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain yang diperiksa tidak memenuhi perintah, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan upaya paksa membawa barang yang ditegah. Setiap

upaya paksa yang dilakukan wajib dibuat Laporan Penindakan. Terhadap barang yang ditegah dilakukan penyegelan . Dalam hal ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Dalam hal tidak ditemukan pelanggaran maka segala resiko dan biaya yang timbul menjadi beban dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Sedangkan apabila tidak ditemukan pelanggaran tetapi pemilik barang atau kuasanya tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai guna kepentingan pemeriksaan maka segala resiko dan biaya yang timbul menjadi beban dan tanggung jawab pemilik barang atau kuasanya. Untuk barang yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak, berbahaya, atau pengurusannya. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya.

3.1.f. Pemeriksaan Badan Orang

Pejabat Bea dan Cukai berwenang memeriksa badan setiap orang yang berada di atas atau baru saja turun dari sarana pengangkut yang masuk ke dalam Daerah Pabean;

yang berada di atas atau siap naik ke sarana pengangkut yang tujuannya adalah tempat

di luar Daerah Pabean; yang sedang berada di atau baru saja meninggalkan Tempat

Penimbunan Sementara atau Tempat Penimbunan Berikat; atau yang sedang berada di atau baru saja meninggalkan Kawasan Pabean. Pemeriksaan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan pemeriksaan badan dan atau pakaian tersangka untuk mencari barang-barang yang diduga keras ada pada badannya atau dibawanya serta untuk disita . Berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa seseorang membawa barang yang tersangkut pelanggaran kepabeanan atau peraturan larangan/pembatasan impor dan ekspor, Pejabat Bea dan Cukai berwenang memeriksa badan setiap orang yang berada di atas atau baru saja turun dari sarana pengangkut yang masuk ke dalam

Daerah Pabean; berada di atas atau siap naik ke sarana pengangkut yang tujuannya adalah tempat di luar Daerah Pabean; sedang berada di atau baru saja meninggalkan Tempat Penimbunan Sementara atau Tempat Penimbunan Berikat; atau sedang berada

di atau baru saja meninggalkan Kawasan Pabean. Orang yang diperiksa sebagaimana

dimaksud wajib memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai menuju tempat pemeriksaan. Pemerikssan badan harus diusahakan sedemikian rupa sesuai norma

kesusilaan dan kesopanan. Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan di tempat tertutup oleh orang yang sama jenis kelaminnya, serta dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Berdasarkan petunjuk yang cukup sabagaimana dimaksud adalah bukti permulaan ditambah dengan keterangan dan data yang diperoleh antara lain Laporan pegawai; Laporan hasil pemeriksaan biasa; Keterangan saksi dan/atau informan; Hasil intelijen; atau Hasil pengembangan penyelidikan. Pemeriksaan badan dilakukan di tempat tertutup oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) Pejabat Bea dan Cukai yang sama jenis kelaminnya dengan yang diperiksa dan wajib dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Badan. Pejabat Bea dan Cukai adalah Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk. Tempat tertutup adalah ruangan yang dapat dikunci dan bagian dalam ruangan tidak dapat dilihat dari luar yang luasnya memadai untuk pemeriksaan badan. Dalam hal diperlukan pemeriksaan badan yang lebih teliti. berdasarkan petunjuk yang cukup, Pejabat Bea dan Cukai berwenang meminta orang yang diperiksa melepaskan pakaiannya dan/atau dilakukan pengujian medis. Pemeriksaan badan di tempat lain selain dari tempat yang telah ditentukan, dalam hal diperlukan dalam rangka pengejaran atau penyerahan yang diawasi (Controlled Delivery) dilakukan oleh Satuan Tugas Bea dan Cukai berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang. Satuan Tugas terdiri dari sekurang-kurangnya 2 (dua) Pejabat Bea dan Cukai. Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang mengeluarkan Surat Perintah adalah Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk; Pejabat Eselon II pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang menangani Pencegahan dan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor Wilayah; Pejabat Eselon III pada Kantor Wilayah yang menangani Pencegahandan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang ditunjuk. Dalam hal orang yang diperiksa badan menolak untuk dilakukan pemeriksaan badan, Pejabat Bea dan Cukai yang bersangkutan menyerahkan yang bersangkutan kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk pemeriksaan badan dan penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas penyerahan tersebut dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima berdasarkan. Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang menerima penyerahan Surat Perintah tersebut melakukan wawancara dengan menanyakan alasan-alasan yang bersangkutan menolak untuk diperiksa badannya; melakukan upaya paksa pemeriksaan badan setelah wawancara dilaksanakan; membuat Berita Acara Pemeriksaan Badan dan melampirkan hasil wawancara pada Berita Acara Pemeriksaan Badan. Dalam hal hasil pemeriksaan badan tidak ditemukan adanya

pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan badan membuat Berita Acara Pemeriksaan Badan dan orang yang diperiksa dapat segera meninggalkan tempat pemeriksaan atau meneruskan perjalanannya. Dalam hal hasil pemeriksaan badan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan badan melakukan pencacahan barang; membuat Berita Acara Pemeriksaan Badan; menyerahkan barang yang ditemukan dalam pemeriksaan badan dan orang yang diperiksa kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai; dan membuat Berita Acara Serah Terima barang dan orang. Atas barang yang ditegah dari hasil pemeriksaan badan tidak dapat diajukan keberatan; dan menjadi barang bukti. Atas barang yang ditegah dari hasil pemeriksaan badan dilakukan penyegelan di depan yangbersangkutan; dan Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Penyegelan. Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan dalam hal orang tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai;setiap pemeriksaan badan dengan pengujian medis; setiap pemeriksaan badan yang dilakukan. Berita Acara tersebut dibukukan dalam Buku Berita Acara Pemeriksaan Badan; ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan dan orang yang diperiksa. Atas barang yang ditegah dilakukan penyegelan. Atas penegahan barang, Kepala Kantor Pabean menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal; Kepala Kantor Wilayah; dan Pejabat Eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang menangani Pencegahan dan Investigasi, dengan melampirkan Laporan Kejadian; Berita Acara Pemeriksaan; dan Berita Acara Serah Terima. Ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan badan menjadi beban dan tanggung jawab orang yang diperiksa. Tidak ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan badan menjadi beban dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tidak ditemukan adanya pelanggaran tetapi orang yang diperiksa tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai/kewajibannya dan/atau menunjukkan sikap melawan/tidak menghormati Pejabat Bea dan Cukai, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan badan menjadi beban dan tanggung jawab orang yang diperiksa.

3.1.g.

Penegahan Dibidang Kepabeanan

Penegahan ini dasar hukumnya sesuai dengan bunyi Pasal 77 Undang-undang Kepabeanan yang memberikan kewenangan kepada Pejabat Bea dan Cukai untuk

melakukan tugas administrasi berupa penegahan barang dan/atau sarana pengangkut. Yang dimaksud dengan menegah barang adalah tindakan administratif untuk menunda pengeluaran, pemuatan, dan pengangkutan barang ekspor maupun impor sampai dipenuhinya kewajiban pabean. Yang dimaksud dengan menegah sarana pengangkut adalah tindakan untuk mencegah keberangkatan sarana pengangkut. Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penegahan terhadap barang impor yang berada di Kawasan Pabean yang oleh pemiliknya akan dikeluarkan ke peredaran bebas tanpa memenuhi kewajiban pabean, barang impor yang keluar dari Kawasan Pabean yang berdasarkan petunjuk yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban pabeannya, barang impor yang telah mendapatkan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) yang terkena NHI, barang impor yang berdasarkan hasil pemeriksaan mendadak kedapatan tidak sesuai, barang ekspor yang berdasarkan petunjuk yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban pabeannya, aransa pengangkut yang memuat barang yang belum dipenuhi kewjiban pabeannya atau sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya. Penegahan tidak dapat dilakukan terhadap; paket atau barang yang disegel oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos, barang yang diduga merupakan hasil pelanggaran hak atas kekayaan intelektual yang tidak dimaksudkan untuk tujuan komersial berupa; barang bawaan penumpang; barang awak sarana pengangkut, barang pelintas batas; barang kiriman melalui pos atau jasa titipan; barang yang berdasarkan hasil pemeriksaan ulang atas Pemberitahuan atau Dokumen Pelengkap Pabean menunjukan adanya kekurangan pembayaran Bea Masuk; sarana pengangkut yang disegel oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; sarana pengangkut Negara atau Negara Asing ; Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penegahan membuat laporan Kejadian dan menyerahkan barang kepada PPNS Bea dan Cukai dengan Berita Acara Serah Terima untuk penyelidikan/ penyidikan lebih lanjut; barang yang ditegah dapat ditimbun di tempat yang bersangkutan Dalam hal penegahan dilakukan di tempat importir atau pemilik barang, sepanjang dapat dijamin hak-hak negara. Dalam hal hasil penyelidikan tidak ditemukan adanya pelanggaran, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai harus menghentikan Penegahan, segala resiko dan biaya yang timbul menjadi beban dan tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Dalam hal hasil penyelidikan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai melakukan penyidikan. Atas pemeriksaan dan penegahan, Pejabat Bea dan Cukai membuat surat bukti penindakan yang menyebutkan alasan penindakan atau

jenis pelanggaran; menyampaikan Surat Bukti Penindakan kepada Pengangkut/pemilik barang atau kuasanya dengan mendapat tanda terima dari yang bersangkutan. Barang dan/atau sarana pengangkut yang dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai serta dibawa ke Kantor Pabean yang mudah dicapai atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit surat perintah dan diserahkan kepada Pejabat PPNS Bea dan Cukai untuk dilakukan penyelidikan/penyidikan lebih lanjut dimana selama dalam proses tersebut dilakukan penyegelan oleh Pejabat PPNS Bea dan Cukai dengan membuat Berita Acara Penyegelan yang ditandatangani oeh Pejabat PPNS Bea dan Cukai dan diberi nonor urut dari Buku Berita Acara Penyegelan. Barang diatas sarana pengangkut yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak, berbahaya, atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, dilelang oleh kantor yang melakukan penegahan sesuai peraturan yang berlaku, sepanjang bukan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya. Pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukaidapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Surat Bukti Penindakan (penegahan) dengan menyebutkan alasan-alasan keberatan dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan. Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor maupun ekspornya, tidak dapat diajukan keberatan. Permohonan keberatan dilengkapi dengan bukti-bukti yang menguatkan berupa dokumen Pabean dan dokumen pendukung; dokumen lain yang berkaitan dengan barang dan/atau sarana pengangkut, keputusan dan risalah lelang dalam hal sarana pengangkut dan/atau barang diatasnya telah dilelang; atau Berita Acara Pemusnahan dalam hal barang yang ditegah telah dimusnahkan. Permohonan keberatan dapat disampaikan dengan cara diserahkan langsung kepada direktur Jenderal ; atau dengan pos tercatat. Permohonan keberatan yang diserahkan langsung atau disampaikan dengan pos tercatat, sudah harus diterima Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk sebelum melewati 30 (tiga puluh) hari sejak dilakukan penegahan. Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk setelah mendapat laporan Kepala Kantor Pabean yang melakukan penegahan Wajib memberi putusan selambat- lambatnya 90 (sembilan puluh ) hari sejak diterimanya permohonan keberatan. Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang berkaitan dengan; Impor yang diancam dengan sanksi administrasi, uang hasil lelang atau uang pengganti barang dan/atau

sarana pengangkut, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atas nama Menteri diserahkan kepada pemiliknya setelah dikurangi Bea Masuk dan sanksi administrasi berupa denda dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka impor telah dipenuhi. Ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi, uang hasil lelang atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atas nama Menteri diserahkan kepada pemiliknya setelah dikurangi pungutan ekspor dan sanksi administrasi berupa denda dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka ekspor telah dipenuhi.Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang berkaitan dengan eskpor dan impor yang diancam dengan sanksi pidana, barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk Keberatan ditolak ; dan Barang dan/atau sarana pengangkut menjadi barang bukti. Keputusan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk atas keberatan penegahan yang diajukan segera diberitahukan kepada pemilik barang dan/atau sarana pengangkut atau kuasanya. Permohonan keberatan penegahan yang dilakukan pejabat Bea dan Cukai setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh pejabat Bea dan Cukai tidak mendapat keputusan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk dianggap diterima/disetujui. Terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, pemilik/atau kuasanya dapat mengajukan keberatan secara tertuli kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Surat bukti Penindakan (Penegahan), dengan ketentuan; menyebutkan alasan-alasan keberatan; dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan. Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau diibatasi impor atu ekspornya, tidak dapat diajukan keberatan. Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah diselesaikan dengan cara diserahkan kembali kepada pemiliknya, dalam hal; telah memenuhi kewajiban pebean; penegahan barang dan/atau sarana pengangkut yang dilakukan tanpa surat perintah penegahan karena alasan mendesak dan perlu, tidak mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal; Keberatan yang diajukan oleh pemilik barang dan/atau sarana pengangkut diterima oleh Menteri; Keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 PP Nomor 21 tahun 1996 tidak mendapat putusan Menteri setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan ; atau tidak diperlukan untuk bukti di pengadilan, setelah diserahkan uang pengganti yang besarnya tidak

melebihi harga barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; dimusnahkan karena barang tersebut busuk; dilelang, karena sifatnya tidak tahan lama, merusak, berbahaya, atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi; Diserahkan kepada Penyidik sebagai bukti dalam proses peradilan; Untuk barang yang dilarang atau dibatasi, menjadi milik Negara. Dalam hal keberatan diterima karena tidak ditemukan adanya pelanggaran; barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang berkaitan dengan impor yang diancam dengan sanksi administrasi barang dan/atau sarana yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan Sanksi Administrasi berupa denda telah dibayar yang diperlukan dalam rangka impor dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang- Undang yang berkaitan dengan ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi; barang dan/atau sarana yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan Sanksi Administrasi berupa denda dan pungutan Negara dalam rangka ekspor telah dibayar dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka ekspor telah dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang diancam denngan sanksi pidana; barang dan/atau sarana yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti. Dalam hal setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk tidak memberikan; Keberatan dianggap diterima; dan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah diselesaikan sesuai dengan ketentuan. Surat Bukti Penindakan dibukukan dalam Buku Surat Bukti Penindakan seperti pada lampiran. Pejabat Bea dan Cukai menandatangani Surat Bukti Penindakan dan memberi nomor urut. Lembar pertama Surat Bukti Penindakan diserahkan kepada pengangkut. Sebagai tanda terima pengangkut membubuhkan nama dan tanda tangan pada Surat

Bukti Penindakan.

Bentuk dan isi Laporan Penindakan seperti pada lampiran.Laporan Penindakan dibukukan dalam Buku Laporan Kejadian seperti pada lampiran. Laporan penindakan ditanda tangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan/penegahan dan diberi nomor urut. Bentuk dan isi Berita Acara Pemeriksaan pada lampiran.Berita Acara dibukukan dalam Buku Berita Acara. Berita Acara ditanda tangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan dan pengangkut/pemilik barang atau kuasanya dan diberi nomor urut. Bentuk dan isi Berita Acara Serah Terima sebagaimana dimaksud pada lampiran. Berita Acara Serah Terima dibukukan dalam Buku Berita Acara Serah Terima seperti pada lampiran. Berita Acara Serah Terima ditanda tangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang menyerahkan dan yang menerima sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dan diberi nomor urut. Terhadap penegahan sarana pengangkut dan/atau barang, Kepala Kantor Pabean menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal; Kepala Kantor Wilayah; dan Pejabat Eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang menangani, Pencegahan dan Investigasi, dengan melampirkan Laporan Kejadian;. Berita Acara Pemeriksaan; dan Berita Acara Serah Terima. Pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai dapat mengajukan permohonan keberatan secara tertulis kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Surat Bukti Penindakan (penegahan) dengan menyebutkan alasan-alasan keberatan dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan. Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya, tidak dapat diajukan keberatan. Bentuk Surat Permohonan Keberatan seperti pada lampiran. Permohonan keberatan dilengkapi dengan buk ti-bukti yang menguatkan berupa Dokumen pabean dan dokumen pendukung; Dokumen lain yang berkaitan dengan barang dan/atau sarana pengangkut; dan Keputusan dan risalah lelang dalam hal sarana pengangkut dan/atau barang diatasnya telah dilelang; atau Berita Acara Pemusnahan dalam hal barang yang ditegah telah dimusnahkan. Permohonan keberatan dapat disampaikan dengan cara diserahkan langsung kepada Direktur Jenderal; atau dengan pos tercatat. Permohonan keberatan yang diserahkan langsung atau disampaikan dengan pos tercatat, sudah harus diterima Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk sebelum melewati 30 (tiga

puluh) hari sejak dilakukan penegahan.Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk setelah mendapat laporan Kepala Kantor Pabean yang melakukan penegahan wajib memberi putusan selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan. Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan undang- undang yang berkaitan dengan impor yang diancam dengan sanksi administrasi, barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan sanks i administrasi berupa denda dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka impor telah dipenuhi, ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi, barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk diserahkan kepada pemiliknya setelah pungutan ekspor dan sanksi administrasi berupa denda dan/atau semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka ekspor telah dipenuhi. Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan undang-undang yang berkaitan dengan ekspor dan impor yang diancam dengan sanksi pidana, barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk keberatan ditolak; dan barang dan/atau sarana pengangkut menjadi barang bukti. Keputusan Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk segera diberitahukan kepada pemilik barang dan/atau sarana pengangkut atau kuasanya. Permohonan keberatan setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh Pejabat Bea dan Cukai, tidak mendapat Keputusan Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk dianggap diterima/ disetujui. Terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya yang ditegah, selama dalam proses penyelidikan/penyidikan dilakukan penyegelan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai. Penyegelan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Penyegela n seperti pada lampiran. Berita Acara Penyegelan ditandatangani oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai dan diberi nomor urut dari Buku Berita Acara Penyegelan seperti pada lampiran. Ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat penghentian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Tidak ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat penghentian,pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan

tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tidak ditemukan adanya pelanggaran tetapi pengangkut atau pemilik barang dan/atau sarana pengangkut tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai, segala resiko dan biaya yang timbul akibat penghentian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Barang diatas sarana pengangkut yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak, berbahaya, atau pengurusan nya memerlukan biaya tinggi, dilelang oleh kantor yang melakukan penegahan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya. Dalam melaksanakan tugas di bidang kepabeanan DJBC dapat melakukan penindakan, penindakan dilakukan penegahan. Penegahan di bidang kepabeanan dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai terhadap barang impor yang berada di Kawasan Pabean yang oleh pemiliknya akan dikeluarkan ke peredaran bebas tanpa memenuhi kewajiban pabean; barang impor yang keluar dari Kawasan Pabean yang berdasarkan petunjuk yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban pabeannya; barang ekspor yang berdasarkan petunjuk yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban pabeannya; sarana pengangkut yang memuat barang yang belum dipenuhi kewajiban pabeannya; sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya. Penegahan tidak dapat dilakukan terhadap paket atau barang yang disegel oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; barang yang berdasarkan hasil pemeriksaan ulang atas Pembe-ritahuan atau Dokumen Pelengkap Pabean menunjuk kan adanya kekurangan pembayaran Bea Masuk Sarana pengangkut yang disegel oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; Sarana pengangkut Negara atau Negara Asing. Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai dikuasai negara dan disimpan di Tempat Penimbunan Pabean. Pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai dapat meng-ajukan keberatan secara tertulis kepada Menteri dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya surat bukti penegahan, dengan ketentuan menyebutkan alasan-alasan keberatan; dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan keberatan. Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah diselesaikan dengan cara diserahkan kembali kepada pemiliknya, dalam hal telah memenuhi kewajiban pabean; penegahan barang dan/atau sarana pengangkut yang dilakukan tanpa surat perintah penegahan karena alasan mendesak dan perlu, tidak mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal; keberatan yang diajukan oleh pemilik barang dan/atau sarana pengangkut diterima oleh Menteri;

keberatan tidak mendapat putusan Menteri setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan; atau tidak diperlukan untuk bukti di pengadilan, setelah diserahkan uang pengganti yang besarnya tidak melebihi harga barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, dimusnahkan karena barang tersebut busuk; dilelang, karena sifatnya tidak tahan lama, merusak, berbahaya, atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi; diserahkan kepada penyidik sebagai bukti dalam proses penyidikan; dalam hal menyangkut barang yang dilarang atau dibatasi, menjadi milik negara. Keberatan diterima karena tidak ditemukan adanya pelanggaran, menteri memerintahkan agar barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya. Dalam hal keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-undang yang berkaitan dengan impor yang diancam dengan sanksi administrasi, Menteri memerintahkan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah,diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan sanksi administrasi berupa denda telah dibayar dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka impor telah dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-undang yang berkaitan dengan ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi, Menteri memerintahkan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya setelah sanksi administrasi berupa denda dan pungutan negara dalam rangka ekspor telah dibayar dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka ekspor telah dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-undang yang diancam dengan sanksi pidana, Menteri memerintahkan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah,diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti. Apabila setelah lewat 90(sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan Menteri tidak memberikan putusan, keberatan dianggap diterima serta barang dan/atau sarana pengangkut diselesaikan sesuai ketentuan. Putusan Menteri segera diberitahukan kepada pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah.

3.1.h.

Penyegelan

Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap Barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya; Barang ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain; atau Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah. Segel dan/atau tanda pengaman yang digunakan oleh instansi pabean di negara lain atau pihak lain dapat diterima sebagai pengganti segel. Pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut atau tempat-tempat yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua kunci, segel, atau tanda pengaman tidak rusak atau hilang. Kunci, segel, atau tanda pengaman yang telah dipasang tidak boleh dibuka, dilepas atau dirusak tanpa izin dari Pejabat Bea dan Cukai. Penyegelan dihentikan dalam hal Barang dan/atau sarana pengangkut telah diselesaikan kewajiban pabeannya; Penyegelan sebagai tindak lanjut dari penegahan yang dilakukan tanpa surat perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal; atau Barang dan/atau sarana pengangkut diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti. Untuk melaksanakan penindakan berupa pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan, Pejabat Bea dan Cukai harus dilengkapi dengan surat perintah dari Direktur Jenderal. Surat perintah tidak diperlukan dalam hal Pemeriksaan bangunan atau tempat lain yang menurut Undang-undang berada dibawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Dalam keadaan mendesak diperlukan tindakan untuk menghenti-kan atau menegah sarana pengangkut dan/atau barang;Melakukan pengejaran terhadap orang pribadi dan/atau sarana pengangkut yang membawa barang yang diduga melanggar Undang-undang. Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan tindakan segera melaporkan kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya, dalam waktu selambat-lambatnya 1 x 24 jam terhitung sejak penindakan dilakukan. Surat perintah sekurang-kurangnya memuat nama pejabat Bea dan Cukai yang diberi perintah; bentuk dan alasan penindakan; jangka waktu berlakunya surat perintah; dan kewajiban pelaporan hasil penindakan. Atas penegahan barang dan/atau sarana pengangkut, Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat surat bukti penegahan dengan menyebutkan alasannya. Surat bukti disampaikan kepada pemilik barang dan/atau sarana pengangkut atau kuasanya dengan mendapatkan tanda terima dari yang bersangkutan. Tindakan pemeriksaan terhadap sarana pengangkut, barang, bangunan atau tempat lain, dan/atau surat atau dokumen yang bertalian dengan barang, serta

penegahan dan penyegelan wajib dibuatkan berita acara. Segel adalah tanda atau alat pengaman yang terbuat dari kertas, plastic, logam dan atau bahan lainnya dengan bentuk tertentu berupa lembaran, pita, kunci, kancing dan atau bentuk lainnya untuk mempertahankan keadaan barang agar tidak terjadi perubahan dan atau sebagai tanda bahwa barang tersebut di bawah pengawasan Bea dan Cukai. Penyegelan adalah tindakan pejabat melekatkan atau memasang segel Bea dan Cukai pada barang, sarana pengangkut, pabrik,bangunan atau tempat lain sebagai tanda bahwa barang, sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain tersebut masih di bawah pengawasan Bea dan Cukai. Tujuan penyegelan, memberitahukan kepada kalayak ramai bahwa barang yang disegel tersebut dalam penguasaan DJBC, dan dalam rangka pengamanan terhadap barang untuk mengamankan penerimaan negara, pelaksaanaan kewenangan pabean dalam rangka pencegahan, penindakan, penyidikan, audit dan penyitaan oleh juru sita Bea dan Cukai. Penindakan di bidang kepabeanan adalah mengunci, menyegel,dan atau melekatkan tanda pengaman yang bertujuan untuk menjamin pengawasan yang lebih baik dalam rangka pengamanan keuangan negara karena tidak diperlukan adanya penjagaan/pengawalan secara terus menerus oleh pejabat Bea dan Cukai.

Macam Segel Segel kertas, berupa lembaran kertas berperekat atau tidak dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai, dengan ukuran, bentuk, warna dan isi: ukuran 45 x 35 cm ,bentuk empat persegi panjang,warna dasar merah ,warna lambang kuning, warna huruf hitam. Segel Pita, berupa pita yang terbuat dari kertas atau plastik berperekat atau tidak dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai dengan lebar 2,5-5 cm,warna dasar putih, warna huruf merah,dengan lambang Bea dan Cukai dibelakang tulisan. Segel timah, berupa timah dalam bentuk kancing dengan ukuran tertentu yang dipasang dengan kawatb segel tali, mengikat menggunakan tang, segel berlambang Bea dan Cukai dan nomor pengawasan. Berdiameter 12 mm, tebal segel timah 5 mm. Segel kancing, terbuat dari logam dan atau plastik dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai dan nomor pengawasan dengan warna putih, warna lambang kuning, warna huruf Bea Cukai merah, female: panjang 3,5 cm, diameter 1,8 cm, male: panjang 6,7 cm, nomor pengawas sesuai dengan urutan. Segel kunci,berbentuk gembok dengan anak terbuat dari logam dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai dan nomor pengawasan. Segel bentuk lainnya adalah alat berupa kertas yang digunakan sebagai pengganti segel yang

dipakai dalam keadaan di mana tidak tersedianya segel, yang memuat pernyataan pejabat serta ditandatangani untuk mengesahkan sebagai segel.

Nomor Pengawas Nomor pengawasan Bea dan Cukai dalam bentuk kertas atau lainnya dan tanda pengaman Bea dan Cukai dalam bentuk kertas merupakan nomor urut dari buku berita acara penyegelan dan buku catatan tanda pengaman Bea dan Cukai. Nomor pengawasan pada tang segel dan stempel merupakan kode tetap yang tercatat pada tang segel dan stempel. Segel yang digunakan oleh instansi penegak hukum negara lain dapat diterima sebagai pengganti segel Bea dan Cukai. Tanda pengaman yang digunakan oleh pihak lain dapat diterima sebagai pengganti tanda pengaman Bea dan Cukai.

Pelekatan Tanda Pengaman Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai adalah tindakan pejabat melekatkan atau memasang tanda pengaman Bea dan Cukai pada barang, sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain sebagai tanda bahwa barang, sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain tersebut di bawah pengawasan Bea dan Cukai. Pejabat yang berwenang melekatkan tanda pengaman adalah Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai terhadap barang, sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain; Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai dilakukan dalam rangka selain pencegahan, penindakan, penyidikan, audit dan penyitaan oleh Juru Sita Bea dan Cukai; Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak memerlukan Surat Perintah; Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai pada tempat yang ditentukan Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tanpa merusak tanda pengaman, agar peti kemas/kemasan barang yang dilekatkan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak dapat dibuka; barang curah yang dilekatkan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak dapat dimuat atau dibongkar; tempat/ruang yang dilekatkan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak dapat dibuka; pemindahan sarana pengangkut, peti kemas barang, dan barang curah yang dipasang tanda pengaman Bea dan Cukai hanya dapat dilakukan atas persetujuan Kepala Kantor Bea dan Cukai. Pengamanan dan laporan keadaan tanda pengaman Bea dan Cukai; tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada sarana pengangkut, barang atau bangunan/tempat lain tidak boleh dibuka, dilepas, atau dirusak

tanpa izin Pejabat Bea dan Cukai; pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut, barang atau bangunan/tempat lain yang dilekatka/dipasang tanda pengaman Bea dan Cukai oleh Pejabat/Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua tanda pengaman Bea dan Cukai tidak rusak atau hilang; Pejabat yang menemukan tanda pengaman Bea dan Cukai yang dibuka, dilepas, atau dirusak wajib membuat Laporan Kejadian untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Keadaan bahaya yang dapat menimbulkan resiko rusaknya tanda pengaman Bea dan Cukai; dalam keadaan bahaya yang dapat menimbulkan resiko rusaknya sarana pengangkut atau barang yang dilekatkan/dipasang tanda pengaman Bea dan Cukai dan/atau hilangnya hak-hak negara, pemilik dan/atau yang menguasai barang, sarana pengangkut atau bangunan/tempat lain wajib segera memberitahukan kepada pejabat yang mengawasi; dalam hal yang bersangkutan tidak melakukan hal yang dapat dianggap merusak atau menghilangkan tanda pengaman Bea dan Cukai. Tidak wajib Berita Acara pelekatan/pemasangan tanda pengaman Bea dan Cukai; atas setiap pelekatan/pemasangan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak wajib dibuatkan Berita Acara; setiap tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/ dipasang wajib ditandatangani oleh pejabat yang bersangkutan serta diberi nomor urut dari Buku Catatan Tanda Pengaman Bea dan Cukai. Izin pelepasan/pembukaan tanda pengaman Bea dan Cukai; tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada barang, sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain dapat dibuka oleh atau setelah mendapat izin dari Pejabat Bea dan Cukai.

Tatacara Penyegelan Pelekatan atau pemasangan segel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tanpa merusak segel; sarana pengangkut yang disegel tidak dapat digerakkan atau dipindahkan; petikemas/kemasan barang yang disegel tidak dapat dibuka; barang curah yang disegel tidak dapat dimuat atau dibongkar; tempat/ruang yang disegel tidak dapat dibuka. Pemindahan sarana pengangkut, peti kemas barang, dan barang curah yang disegel hanya dapat dilakukan atas persetujuan kepala kantor Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Segel Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada sarana pengangkut, barang atau bangunan/tempat lain tidak boleh dibuka, dilepas ,attau dirusak tanpa ijin pejabat Bea dan Cukai. Pemilik atau yang menguasai sarana pengangkut, barang atau bangunan/tempat lain yang disegel wajib menjaga agar semua segel Bea dan Cukai agar tidak rusak/hilang. kalau kedapatan segel rusak, pejabat Bea dan Cukai harus membuat

laporan kejadian untuk diadakan penyelidikan/penyiodikan lebih lanjut. Dalam keadaan bahaya dan menimbulkan resiko rusaknya sarana pengangkut atau barang yang disegel dan/atau hilangnya hak-haknya negara, pemilik dan/atau yang menguasai barang, sarana pengangkut atau bangunan/tempat lain wajib segera memberitahukan kepada pejabat yang mengawasi. Kalau tidak melapor, dianggap merusak segel, setiap penyegelan harus dibuatkan berita acara.

Penyegelan dengan Surat Perintah Penyegelan dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Perintah penindakan, penyidikan, audit, dan penyitaan oleh Juru Sita Bea dan Cukai. Penyegelan dengan Surat Perintah harus dilakukan oleh Satuan Tugas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Pejabat Bea dan Cukai.

Penyegelan tanpa Surat Perintah Sebagai tindak lanjut atas penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut. Penagguhan pengeluaran barang hasil pelanggaran Hak Atas Kekayaan Intelektual.Pengeluaran barang dari suatu TPS/TPB ke TPB, TPS, atau tempat penimbunan lain yang diizinkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai.Pengeluaran barang untuk dikirim dari suatu tempat ke tempat lain dalam Daerah Pabean melalui suatu tempat di luar Daerah Pabean.Barang ekspor yang menyinggahi (transit) suatu tempat di dalam atau di luar Daerah Pabean. Penjagaan, pengawasan atau pengawalan terhadap barang atau sarana pengangkut yang harus dilakukan oleh Bea dan Cukai tidak memungkinkan. Dalam keadaan mendesak dan berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa barang dan sarana pengangkut belum dipenuhi/diselesaikan kewajiban pebeannya tersangkut pelanggaran kepabeanan atau peraturan lartas impor/ekspor. Keadaan perlu dan mendesak adalah suatu keadaan dengan mana penyegelan harus seketika itu dilakukan dan apabila tidak dilakukan dalam arti harus menunggu Surat Perintah terlebih dahulu penegakan hukum tidak dapat dilakukan lagi. Pejabat yang melakukan penyegelan dalam keadaan perlu dan mendesak segera melaporkan kepada pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak penyegelan dilakukan.

Wewenang Penyegelan

Menurut Pasal 14 Undang-undang kepabeanan,Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya; barang ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain; barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah. Menurut Pasal 78 Undang-undang kepabeanan, terhadap barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya dan barang ekspor atau barang lain yang harus diawasi menurut undang-undang ini yang berada di sarana pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain, Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk mengunci, dan/atau melekatkan tanda pengaman yang diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menjamin pengawasan yang lebih baik dalam rangka pengamanan keuangan negara karena tidak diperlukan adanya penjagaan/pengawalan secara terus-menerus oleh Pejabat Bea dan Cukai.Pasal ini memberikan wewenang kepada Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penyegelan.Penyegelan merupakan tindakan Pejabat Bea dan Cukai melekatkan atau memasang segel Bea dan Cukai pada barang, sarana pengangkut, pabrik dan bangunan atau tempat lain sebagai tanda bahwa barang, sarana pengangkut, pabrik dan bangunan atau tempat lain tersebut berada di bawah pengawasan Bea dan Cukai Pejabat DJBC berwenang melakukan penyegelan di bidang Kepabeanan, terhadap barang yang ditegah dilakukan ; dalam hal ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya; dalam dal tidak ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan manjadi beban dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; dalam hal tidak ditemukan adanya pelanggaran tetapi pemilik barang atau kuasanya tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai/kewajibannya, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab pemilik barang atau kuasanya; barang yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak, berbahaya, atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, dilelang oleh kantor yang melakukan penegahan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya; terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya yang ditegah, selama dalam proses penyelidikan/penyidikan dilakukan penyegelan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai; penyegelan yang dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Penyegelan; Berita Acara

Penyegelan ditandatangani oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negerio Sipil Bea dan Cukai dan diberi nomor. Pejabat Bea da Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya ; barang ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain ; atau barang dan/atau sarana pengangkut yag ditegah Segel dan/atau tanda pengaman yang digunakan oleh instansi pabean di negara lain atau pihak lain dapat diterima sebagai pengganti segel. Pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut atau tempa-tempat yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua kunci, segel, atau tanda pengaman tidak rusak atau hilang. Kunci, segel, atau tanda pengaman yang telah dipasang tidak boleh dibuka, dilepas atau dirusak tanpa izin dari Pejabat Bea dan Cukai. Penyegelan dihentikan dalam hal barang dan/atau sarana pengangkut telah diselesaikan kewajiban pabeannya; penyegelan sebagai tindak lanjut dari penegahan yang dilakukan tanpa Surat Perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal ; atau barang dan/atau sarana pengangkut diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti. Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menyegel terhadap barang impor yang belum dipenuhi atau diselesaikan kewajiban pabeannya; barang ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau tempat penyimpanan atau tempat lain; barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; bangunan atau tempat lain yang didalamnya ditimbun barang impordan/atau ekspor yang ditegah; barang hasil pemeriksaan barang, sarana pengangkut, orang yang melanggar ketentuan pabean dan/atau peraturan larangan pembatasan ekspor impor dan ditegah; barang dan atau sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya yang tidak mungkin dijaga, diawasi, dikawal terus menerus oleh Pejabat Bea dan Cukai; barang yang diperlukan guna kepentingan pengamanan hak-hak negara dan penangguhan pengeluaran barang. Pemilik atau kuasanya wajib menjaga agar semua kunci, segel atau tanda pengaman tidak rusak; Pembukaan , pelepasan atau perusakan kunci, segel atau tanda pengaman tidak boleh tanpa seizin pejabat Bea dan Cukai; Segel dibuka bila telah diselesaikan kewajiban pabeannya; penegahan yang surat perintahnya tidak mendapat persetujuan Dirjen BC atau pejabat yang ditunjuk; diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti. Penyegelan yang dilakukan dengan surat perintah harus dilakukan oleh satuan tugas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2(dua) orang pejabat Bea dan Cukai.

Penempatan/ pelekatan segel Bea dan Cukai harus dilakukan sedemikian rupa supaya yang disegel tidak dapat dipindahkan/ digerakkan; peti kemas/kemasan barang tidak dapat dibuka; dan barang curah tidak dapat dimuat atau dibongkar tempat/ruang yang disegel tidak dapat dibuka.

3.2. Latihan

1). Jelaskan apa tujuan penindakan di bidang kepabeanan ? Apa saja kewenangan pejabat Bea dan Cukai dalam melakukan penindakan.?. 2). Jelaskan apa saja kewenangan pejabat Bea dan Cukai atas bangunan atau tempat lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bangunan

atau tempat lain yang penyelenggaraannya dengan izin yang diberikan berdasarkan Undang-undang; atau bangunan atau tempat lain yang menurut pemberitahuan pabean berisi barang dibawah pengawasan pabean?. 3). Jelaskan penanganan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai ?. 4). Jelaskan tujuan dan maksud penyegelan yang dilakukan oleh pejabat Bea dan Cukai? 5). Jelaskan apa saja hak-hak pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh pejabat Bea dan Cukai?.

3.3. Rangkuman

Ketentuan penindakan di bidang kepabeanan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran di bidang kepabeanan, maka pejabat bea dan cukai mempunyai wewenang untuk melakukan penindakan. Hak penindakan inilah yang nampaknya merupakan wewenang khusus bagi pejabat bea dan cukai, yang dapat disamakan dengan penyelidikan sebagaimana yang disebut dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana. Sehingga instrumen hukum bagi pejabat bea dan cukai untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang dapat diduga suatu pelanggaran pidana atau pelanggaran administratif adalah wewenang penindakan. Pejabat Bea dan Cukai berwenang memasuki dan memeriksa bangunan atau tempat yang bukan merupakan rumah tinggal yang berdasarkan Undang-undang penyelenggaraannya tidak berada di

bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dapat memeriksa setiap barang yang ditemukan. Penegahan tidak dapat dilakukan terhadap paket atau barang yang disegel oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; barang yang berdasarkan hasil pemeriksaan ulang atas Pemberitahuan atau Dokumen Pelengkap Pabean menunjukkan adanya kekurangan pembayaran Bea Masuk Sarana pengangkut yang disegel oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; Sarana pengangkut Negara atau Negara Asing. Pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut atau tempat-tempat yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua kunci, segel, atau tanda pengaman tidak rusak atau hilang. Kunci, segel, atau tanda pengaman yang telah dipasang tidak boleh dibuka, dilepas atau dirusak tanpa izin dari Pejabat Bea dan Cukai.

4.

Test Formatif

4.1.

Soal Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling benar dan tepat, dengan cara memberikan tanda lingkaran pada huruf a, b, c, d untuk tiap nomor pada soal dibawa ini. Soal ini bobot nilai nya jumlah 30% untuk dua puluh soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabnya benar.

(contoh:1. a

b

c
c

d ).

1). Patroli Bea dan Cukai adalah

patroli yang dilaksanakan oleh satuan tugas Bea

dan Cukai di laut, di darat, dan di udara untuk pencegahan, penyidikan terhadap

pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai, tujuan lain berdasarkan ketentuan yang berlaku, dan….

a. penegahan

b. penindakan

c. pemeriksaan

d. penagihan hutang negara

2). Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 30/KMK.05/1997 tanggal 16 januari 1997 Tentang Tata laksana penindakan di bidang

kepabeanan, sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya tersangkut pelanggaran kepabeanan, peraturan larangan/pembatasan ekspor atau impor atau belum dipenuhi/diselesaikan kewajiban pabeannya, pejabat bea dan cukai berwenang melakukan penindakan berdasarkan….

a. pelanggaran tindak pidana

b. pelanggaran Kepabeanan

c. petunjuk yang cukup

d. pelanggaran dibidang Kepabeanan

3). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2008

tanggal 11 April 2008 tentang pengenaan sanksi administrasi berupa denda di bidang kepabeanan. Sanksi administrasi berupa denda dikenakan hanya terhadap pelanggaran yang diatur dalam….

a. undang-undang Kehakiman

b. undang-undang Larangan dan Pembatasan

c. undang-undang Kepabeanan

d. undang-undang Perbendaharaan Negara

4). Pejabat Bea dan Cukai berwenang menghentikan sarana pengangkut; memeriksa sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya; menegah sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya, berdasarkan ….

a. petunjuk yang cukup

b. pemberitahuan impor barang

c. pemberitahuan ekspor barang

d. pemberitahuan pabean

5). Suatu perbuatan untuk menghentikan sarana pengangkut; memeriksa sarana

menegah sarana pengangkut

pengangkut

dan/atau

barang

di

atasnya;

dan

dan/atau barang di atasnya, adalah ….

a. Pengawasan

b. penindakan.

c. penegahan

d. penyelidikan

6). Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pegawai Bea dan Cukai dalam

pelaksanaan tugasnya

pemeriksaan fisik barang dengan menggunakan pancaindera utamanya mata dan tanggungjawab

a. keuangan

b. terhadap barang

c. terhadap semua barang

d. administrasi yang akuntabilitas

mempunyai tanggungjawab yaitu tanggungjawab

7). Penghentian sarana pengangkut oleh Pejabat Bea dan Cukai dilakukan dengan cara memberikan isyarat kepada pengangkut. Dalam hal upaya penghentian sarana pengangkut tidak dipatuhi, Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pengejaran dan

a. upaya penghentian secara paksa.

b. melumpuhkan baling-balingnya

c. melumpuhkan radarnya.

d. melumpuhkan anjungannya

8). Pejabat Bea dan Cukai berwenang memerintahkan pengangkut membawa sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya ke tempat lain yang sesuai untuk pemeriksaan atau ….

a. ke kantor yangbersangkutan

b. ke kantor pabean.

c. ke Kantor Pusat DJBC

d. ke Kantor Wilayah DJBC/Kantor Pelayanan Utama

9). Dalam

adanya

pelanggaran, pengangkut dan sarana pengangkut serta barang yang ada di

atasnya dapat segera ….

a. melunasi BM dan PDRI

b. memberitahukan dengan PIB

c. memberitahukan PIB dan dokumen pelengkap pabean.

d. meneruskan perjalanannya.

hal

hasil

pemeriksaan

sarana

pengangkut

tidak

ditemukan

10).Dalam hal ditemuinya pelanggaran tindak pidana kepabeanan, maka terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya diserahkan kepada

a. bagian penindakan Bea dan Cukai

b. PPNS Bea dan Cukai

c. bagian pengawasan Bea dan Cukai

d. Kepala Kantor Pabean

11).Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menghentikan pembongkaran barang dari sarana pengangkut apabila ternyata barang yang dibongkar tersebut

a. barang curah

b. barang cair

c. bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.

d. barang berupa daya listrik

12).Pemeriksaan sarana pengangkut dan penghentian pembongkaran, pejabat Bea dan Cukai menyampaikan surat bukti penindakan kepada pengangkut/pemilik barang atau kuasanya dengan mendapat

a. tanda terima dari yang bersangkutan.

b. berita acara

c. bukti penegahan

d. bukti penindakan

13).Dalam hal kewajiban tidak dipatuhi, Pejabat Bea dan Cukai membuka sendiri kemasan barang dan

a. melakukan pemeriksaan kolli

b. melakukan pemeriksaan merk dan jenis kolli

c. melakukan pemeriksaan atas barang

d. melakukan pemeriksaan atas pengemas barang

14).Terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah pemilik/atau kuasanya dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Surat Bukti Penindakan (Penegahan), dengan ketentuan menyebutkan alasan-alasan keberatan; dan

a. melampirkan hasil pemeriksaan

b. melampirkan hasil penindakan

c. melampirkan bukti-bukti yang menguatkan.

d. melampirkan hasil pencegahan.

15).Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya, maka

a. Dapat diajukan Banding

b. Tidak dapat diajukan Banding

c. Dapat diajukan keberatan

d. Tidak dapat diajukan keberatan.

16).Bentuk dan ciri-ciri kunci, segel, dan tanda pengaman yang dipergunakan dalam penyegelan, serta cara penyegelan dan penghentian penyegelan diatur oleh

a. kepala Kantor Pabean

b. Direktur Jenderal.

c. menteri Keuangan.

d. peraturan Pemerintah.

17).Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang

ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau tempat lain yang disamakan dengan tempat penimbunan atau di

a. gudang

b. lapangan penimbunan

c. gudang importir

d. tempat penimbunan

18).Dalam melakukan pemeriksaan sarana pengangkut dan barang di atasnya, pejabat Bea dan Cukai berwenang memasuki sarana pengangkut dan/atau bagiannya; memerintahkan pengangkut untuk membuka sarana pengangkut dan

kemasan barang di atasnya; meminta yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya berupa

a. narkotika yang diangkutnya

b. senjata api dan amunisi yang diangkutnya

c.

barang larangan dan pembatasan yang diangkutnya

d. surat atau dokumen

19).Untuk

eksportir, pengusaha Tempat

Penimbunan Sementara, pengusaha Tempat Penimbunan Berikat atau kuasanya wajib menyerahkan barang dan

a. menyiapkan tempat pemeriksa

b. membuka setiap kemasan barang yang akan diperiksa .

c. menyiapkan tempat untuk pemeriksaan barang

d. membuka peti kemas

melaksanakan

pemeriksaan,

importir,

20).Dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai wajib melakukan

a. penegahan.

b. pencegahan

c. penindakan

d. penyidikan

21).Wewenang penyegelan keputusan Menteri Keuangan nomor 30/KMK.05/ 1997 tanggal 16 Januari 1997 tentang penghentian, pemeriksaan, dan penegahan sarana pengangkut, dan/atau barang diatasnya, Bea dan Cukai berwenang menyegel barang impor yang….

a. belum membayar BM

b. belum membayar PDRI

c. belum dipenuhi atau diselesaikan kewajiban pabeannya

d. belum membayar BM dan PDRI

22).Dalam hal penjagaan, pengawasan atau pengawalan yang harus dilakukan secara terus-menerus oleh pejabat Bea dan Cukai terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya tidak dimungkinkan; pejabat Bea dan Cukai dapat melakukan

a. penyegelan.

b. penguncian

c. memberi tanda pengaman

d.

memberitahukan pada masyarakat

23).Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau tempat lain yang disamakan dengan tempat penimbunan atau di

a. gudang

b. lapangan penimbunan

c. gudang importir

d. tempat penimbunan

24).Untuk melakukan penyegelan pejabat Bea dan Cukai mempergunakan kunci, segel, dan/atau

a. tanda pengaman.

b. berita Acara

c. penempelan segel

d. berita Acara Penyegelan

25).Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya, maka

a. dapat diajukan Banding

b. tidak dapat diajukan Banding

c. dapat diajukan keberatan

d. tidak dapat diajukan keberatan.

26).Pemeriksaan badan dilakukan di tempat tertutup oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) Pejabat Bea dan Cukai yang sama jenis kelaminnya dengan yang diperiksa dan dituangkan dalam

a. Laporan kepada Kepala Kantor Pabean

b. Berita Acara Pemeriksaan.

c. Berita Acara Penindakan.

d. Berita Acara Penegahan

27).Atas pemeriksaan sarana pengangkut dan penghentian pembongkaran, pejabat Bea dan Cukai membuat surat bukti penindakan yang menyebutkan

a. lmportir

b. eksportir

c. pengangkut

d. alasan penindakan atau jenis pelanggaran.

28).Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang impor yang belum dipenuhi atau diselesaikan

a. kewajiban melunasi BM;

b. kewajiban melunasi PDRI

c. kewajiban pabeannya.

d. kewajiban memberitahukan pemberitahuan pabean

29).Bahwa

besar

kecilnya denda yang dikenai dipengaruhi oleh

berat ringannya

minimum

pelanggaran yang dilakukan oleh si pelanggar. Pengenaan

sampai

a. timbal balik

b. praduga tak bersalah

c. domisili

d. pro-porsionalitas.

denda

dengan maksimum menganut asas

30).Pemilik atau yang menguasai bangunan atau tempat lain wajib menyerahkan barang kepada Pejabat Bea dan Cukai untuk

a. ditegah

b. dilakukan Penindakan

c. penyitaan

d. diperiksa.

4.2.

Soal Pilihan Benar dan Salah

Pilihlah jawaban yang menurut Saudara adalah yang paling benar dan tepat, dengan cara memberikan tanda lingkaran pada huruf B (bila jawaban yang dipilih adalah yang benar), dan S (bila jawaban yang dipilih adalah yang Salah) untuk tiap nomor pada

soal dibawa ini: (contoh: 1. B, S
soal dibawa ini:
(contoh: 1. B,
S

)

Soal ini bobot nilai nya jumlah 10% untuk sepuluh soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabannya benar.

1).

B

– S

Untuk melaksanakan penindakan berupa penghentian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan, Pejabat Bea dan Cukai harus dilengkapi dengan Surat Perintah dari Kepala Kantor Pabean.

2).

B

– S

Penyegelan dihentikan dan segel dapat dibuka dalam hal penyegelan sebagai tindak lanjut dari penegahan yang dilakukan tanpa surat perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau pejabat yang ditunjuk.

3).

B

– S

Untuk melakukan penyegelan pejabat Bea dan Cukai mempergunakan segel, dan/atau tanda pengaman lainnya.

4).

B

– S

Yang dimaksud sarana pengangkut laut yang telah menuju kantor pabean, adalah sarana pengangkut laut tersebut telah lego jangkar di luar perairan pelabuhan atau redee

5).

B

– S

Penghentian sarana pengangkut oleh Pejabat Bea dan Cukai dilakukan dengan cara memberikan isyarat kepada pengangkut. Dalam hal upaya penghentian sarana pengangkut tidak dipatuhi, Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya

6).

B

– S

Penyegelan dapat dilakukan oleh pejabat Bea dan Cukai dalam hal

   

penjagaan, pengawasan atau pengawalan yang harus dilakukan secara terus-menerus oleh pejabat Bea dan Cukai terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya tidak dapat dilakukan.

7).

B

– S

Penyegelan dihentikan dan segel dapat dibuka dalam hal penyegelan sebagai tindak lanjut dari penegahan yang dilakukan tanpa surat perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau pejabat yang ditunjuk.

8).

B – S

Untuk melaksanakan penindakan berupa penghentian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan, Pejabat Bea dan Cukai harus dilengkapi dengan Surat Perintah dari Kepala Kantor Pabean.

9).

B

– S

Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah;

10).

B

– S

Penyidikan tindak pidana kepabeanan untuk kepentingan penerimaan negara, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana kepabeanan atas permintaan Menteri Keuangan RI.

4.3. Soal Isian / mengisi kalimat atau kata (Soal melengkapi kalimat)

Lengkapilah kalimat dibawah ini agar menjadi kalimat atau pernyataan yang lengkap

dan benar, dengan cara mengisi pernyataan atau jawaban Saudara dituliskan pada kolom atau ruang kosong yang bertanda titik-titik ( )

Soal ini bobot nilai nya jumlah 20% untuk lima soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabannya benar

1). Berdasarkan

berwenang

menghentikan sarana pengangkut; memeriksa sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya; menegah sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya.

petunjuk

yang

cukup

pejabat

Bea

dan

Cukai

2). Batas wilayah pengawasan dan penindakan kepabeanan meliputi daerah pabean Indonesia yang merupakan wilayah Republik Iindonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlakuundang- undangkepabeanan

3). Berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa suatu barang tersangkut pelanggaran kepabeanan, peraturan larangan/pembatasan impor atau ekspor, pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan terhadap barang ekspor; atau barang yang dikirim dari suatu tempat ke tempat lain di dalam daerah pabean melalui suatu tempat di luar daerah pabean, dan barang impor;

4). Terhadap barang, sarana pengangkut atau bangunan/tempat lain atau tempat- tempat di dalamnya yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai, pemilik atau kuasanya wajib menjaga agar semua kunci, segel, atau tanda pengaman tidak rusak atau hilang

5). Penyegelan harus dilakukan dengan surat perintah, kecuali dalam hal sebagai tindak lanjut atas penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut

4.4. Soal Uraian. Jawablah satu soal dari tiga soal dibawah ini dengan cara menulis uraian jawabannya diatas kertas yang disediakan atau diatas lembar soal yang disediakan untuk menjawab soal uraian. Soal ini bobot nilai nya jumlah 40% untuk satu soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabannya benar.

1). Jelaskan apa yang dimaksud dengan menyegel. Jelaskan dengan cara bagaimana agar penyegelan menjadi optimal! Dan jelaskan maksud dan tujuan menyegel! 2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penindakan, dan jelaskan bagaimana cara penindakan agar menjadi optimal ! 3). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penegahan, dan jelaskan bagaimana caranya melakukan penegahan sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya, agar penegahan menjadi optimal.

5.

Kunci Jawaban Test Formatif

5.1.

Kunci Jawaban Untuk 4.1. Soal Pilihan Ganda

 

1,b

2.c

, 3.c

,4.a

,5.b

,6.d

,7.a

,8.b

,9.d

,10.b,

11,c

12.a

, 13.c

,14.c

,15.d

,16.b

,17.d

,18.d

,19.b

,20.a

21.c

22.a

23.c

24.a

25.d

26.b

27.d

28.c

29.d

30.d

5.2.

Kunci Jawaban Untuk 4.2. Soal Pilihan Benar dan Salah

1, S

2. B

, 3. S

,4. S

, 5. S

,6. B

,7. B

,8. S

,9. B

,10. B

5.3.

Kunci Jawaban Untuk 4.3. Soal Isian/mengisi kalimat atau kata (Soal melengkapi kalimat)

1). menegah

2). undang-undang kepabeanan

3). barang impor;

4). tidak rusak atau hilang

5). penegahan

5.4. Kunci Jawaban Untuk 4.4. Soal Uraian (ada pada materi modul)

1). Jelaskan apa yang dimaksud dengan menyegel. Jelaskan dengan cara bagaimana agar penyegelan menjadi optimal! Dan jelaskan maksud dan tujuan menyegel!

2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penindakan, dan jelaskan bagaimana cara penindakan agar menjadi optimal !

3). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penegahan, dan jelaskan bagaimana caranya melakukan penegahan sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya, agar penegahan menjadi optimal.

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul ini. Hitung jawaban Anda dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi.

TP =

Jumlah Jawaban Yang Benar Jumlah keseluruhan Soal

X 100%

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai

91

%

s.d

100

%

:

Amat Baik

81

%

s.d.

90,00 %

:

Baik

71

%

s.d.

80,99 %

:

Cukup

61

%

s.d.

70,99 %

:

Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka disarankan mengulangi materi.

7. Daftar Pustaka

- Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20 ayat. (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945;

- Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara;

- Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942);

- Undang-undang Nomor 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2070);

- Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831);

- Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor

2294);

- Undang-undang Nomor. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

- Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);

- Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234);

- Undang-undang Tarip Indonesia Stbl. 1873 No. 135 sebagaimana telah dirubah dan ditambah;

- Ordonansi Bea Stbl. 1882 No. 240 sebagaimana telah dirubah dan ditambah;

- Undang-undang Nomor 19 Tahun 1961 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1961 Nomor 276; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

2318);

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL III

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN INTELIJEN,TINDAK PIDANA KEPABEANAN, PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC

PIDANA KEPABEANAN, PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT

OLEH :

TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA

2008

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

ii

1. PENDAHULUAN

3.1

Deskripsi Singkat

1

1.6

Tujuan Instruksional Umum (TIU)………………………………

2

1.7

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)………………………………

2

3.4. Petunjuk Pembelajaran ……………………………………………

2

2. Kegiatan Belajar (KB) 1

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN INTELEJEN, TINDAK PIDANA KEPABEANAN, PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC

2.1

Uraian, Contoh dan Non Contoh …………………………………

3

2.5.a. Pengertian Intelejen ……………………….………………

3

2.5.b. Yang Melakukan Kegiatan Intelejen

7

2.5.c. Fungsi Intelijen

12

2.6

Latihan

21

2.7

Rangkuman

21

3. Kegiatan Belajar (KB) 2 PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KEPABEANAN

3.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh……………………………………

23

 

3.2.a.

Tindak Pidana Penyelundupan

…………………………

23

3.2.b. Barang Hasil Tindak Pidana

32

……………………………… 3.2.c. Kedaluarsa Tuntutan Pelanggaran Kepabeanan .……………

33

3.2 Latihan …………………………………………………………

35

3.3 Rangkuman………………………………………………………….

35

4.

Kegiatan Belajar (KB) 3

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC

5.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh …………………………………

5.1.a. Azas-azas Hukum dan Upaya Hukum Yang Digunakan Dalam Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan .…………………… 5.1.b. PPNS DJBC 5.1.c. Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan ……………………

4.2. Latihan ……………………………………………………………

4.3. Rangkuman ………………………………………………………

5. Test Formatif………………………………………………………

6. Kunci Jawaban Tes Formatif…………………………………………

7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

8. Daftar Pustaka

37

37

38