Anda di halaman 1dari 179

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL
PENINDAKAN DAN PENGAWASAN
DI BIDANG KEPABEANAN

OLEH :
TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA
2008
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR
KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL I

RUANG LINGKUP PENGAWASAN DAN


PENINDAKAN KEPABEANAN

OLEH :
TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA
2008
i
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar.................................................................................................... i

Daftar Isi............................................................................................................. ii

1. PENDAHULUAN
1.1 Deskripsi Singkat................................................................................ 1
1.2 Tujuan Instruksional Umum (TIU)………………………………..... 2
1.3 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)……………………………….... 2
1.4. Petunjuk Pembelajaran …………………………………………….. 2
2. Kegiatan Belajar (KB 1) :
SEJARAH PERKEMBANGAN WILAYAH TERITORIAL DAN
YURISDIKSI KEDAULATAN NKRI
2.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh ………………………………….. 3
2.1.a. Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia ………………... 3
2.1.b. Batas Landas Laut Teritorial ................................................ 6
1. Zona Pesisir .................................................................... 6
2. Zona Laut Indonesia ....................................................... 7
2.1.c. Peta NKRI Sebagai Informasi Wilayah Negara .................... 11

2.2 Latihan .............................................................................................. 12


2.3 Rangkuman........................................................................................ 12

3. Kegiatan Belajar (KB) 2


PETA GEOGRAFI INDONESIA
3.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh…………………………………… 14
3.1.a. Konsep Geografi ………………..………………………….. 14
3.1.b. Konsep Kepulauan Indonesia ……………………………… 15
3.1.c. Hakekat Wawasan Nusantara ……………………………… 15
3.2 Latihan …………………………………………………………....... 16
3.3 Rangkuman…………………………………………………………. 16

ii
4. Kegiatan Belajar (KB) 3

KOORDINAT PETA GEOGRAFI

4.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh ………………………………… 18


4.1.a. Perairan dan Laut Teritorial Indonesia …………………….. 18
4.1.b. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) .…………………………... 20
4.1.c. Landas Kontinen …………………………………………… 21
4.2. Latihan ……………………………………………………………. 23

4.3. Rangkuman ……………………………………………………….. 24

5. Kegiatan Belajar (KB) 4


BATAS WILAYAH PENGAWASAN DAN PENINDAKAN
KEPABEANAN
5.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh ..................................................... 25

5.1.a. Batas Wilayah Negara ………….…………………………... 25


5.1.b. Kewenangan Negara Menetapkan Batas Negara …………... 27
5.2. Latihan …………………………………………………………….. 28

5.3. Rangkuman ………………………………………………………… 28

6. Test Formatif………………………………………………………...... 30

7. Kunci Jawaban Tes Formatif………………………………………… 41

8. Umpan Balik dan Tindak Lanjut......................................................... 41

7. Daftar Pustaka ...................................................................................... 43

iii
MODUL I

RUANG LINGKUP PENGAWASAN


DAN PENINDAKAN KEPABEANAN

1. PENDAHULUAN

1.1. Deskripsi Singkat

Latar belakang disusunnya modul ruang lingkup pengawasan dan penindakan


kepabeanan dalam rangka memenuhi dan melengkapi siswa atau peserta didik
mengetahui, memahami, melaksanakan pengawasan dan penindakan kepabeanan untuk
mendukung, menunjang tujuan organisasi DJBC mengoptimalkan penerimaan negara,
dan dilaksanakannya/dipatuhinya Undang-undang Kepabeanan dan peraturan
pelaksanaanya. Pelaksanaan pengawasan dilakukan dalam rangka kegiatan prefentif,
yang termasuk ruang lingkup administrasi kepabeanan, sedangkan penindakan itu
sendiri dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup
perbuatan yang dilakukan secara fisik.
Dengan demikian diharapkan siswa atau peserta diklat memperbaiki dan
menambah pengetahuan, agar lebih terampil dalam pelaksanaan tugas kepabeanan yang
menjadi sisi sentral dari upaya organisasi untuk menegakkan citranya di masyarakat.
Hukum adalah kaedah-kaedah yang diberlakukan disuatu masyarakat yang dipatuhi dan
bila dilanggar mempunyai sanksi bagi pelakunya. Hukum sebagai suatu perangkat
aturan yang mengatur tata cara hidup bermasyarakat, dari pengertian singkat ini maka
istilah ’pelanggaran hukum’ adalah adanya upaya melanggar aturan-aturan yang telah
dibuat dan telah ditetapkan. Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan, yang dimaksud
dengan kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas
lalu-lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk
dan bea keluar. Dari pengertian tersebut sangat jelas bahwa institusi bea dan cukai
memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,
yaitu melakukan pengawasan terhadap barang yang keluar atau masuk ke dan/atau dari
daerah pabean Indonesia serta melakukan pungutan bea masuk, dan pajak dalam rangka
impor sebagai penerimaan negara.

1
1.2. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Dengan mengetahui, memahami, melaksanakan isi kegiatan pembelajaran ini,


siswa atau peserta didik diharapkan lebih terampil dalam pelaksanaan tugas yang
dimaksudkan oleh modul ruang lingkup pengawasan dan penindakan kepabeanan.

1.3. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari modul tentang ruang lingkup pengawasan dan penindakan


kepabeanan ini, siswa atau peserta didik diharapkan ....
- mampu menjelaskan,dan memahami tentang Sejarah Perkembangan Wilayah
Teritorial dan Yuridiksi Kedaulatan Nkri
- mampu menjelaskan, dan memahami Peta Geografi Indonesia
- mampu menjelaskan, memahami, menetapkan Koordinat Peta Geografi.
- mampu menjelaskan, memahami, dan melaksanakan tugas sampai pada Batas
Wilayah Pengawasan dan Penindakan Kepabeanan

1.4. Petunjuk Pembelajaran

Bacalah dengan cermat dan teliti modul tentang ruang lingkup pengawasan dan
penindakan kepabeanan ini, setelah selesai membaca dan memahami materi
pembelajaran, jawablah soal latihan dan pahami rangkuman pembelajaran. Dalam hal
siswa atau peserta diklat merasa jawaban soal latihan hasilnya belum mencapai enam
puluh lima persen, agar membaca dan memahami kembali modul ini utamanya yang
belum dimengerti. Dalam hal masih belum dapat dimengerti materi pembelajaran ini
tanyakan kepada pengajar, dan/atau kelompok belajar Anda. Pada menjelang akhir
pembelajaran kerjakan atau jawablah seluruh test formatif, setelah selesai dikerjakan
jawaban agar dicocokan hasil/jawaban dengan kunci jawaban yang telah disediakan
pada modul ini. Bila berhasil menjawab dengan benar lebih dari enam puluh lima
persen, dinyatakan cukup berhasil, dalam hal ingin lebih baik lagi hasilnya agar
mengulangi membaca kembali bagian yang belum dipahami atau dimengerti.

2
2. KEGIATAN BELAJAR (KB) 1

SEJARAH PERKEMBANGAN WILAYAH TERITORIAL


DAN YURIDIKSI KEDAULATAN NKRI

2.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

2.1.a. Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengilustrasikan Negara


Kesatuan Republik Indonesia beserta batas-batasnya. Peta ini memberikan informasi
spasial bagi publik tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peta ini
menggambarkan pencapaian hasil berbagai perundingan bilateral, trilateral maupun
multilateral sejak Deklarasi Djuanda sampai sekarang. Dalam peta NKRI juga
dicantumkan nama-nama geografis pulau-pulau terluar milik Indonesia yang berada di
sebelah dalam garis pangkal kepulauan Indonesia, serta digambarkan letak alur laut
kepulauan Indonesia (ALKI). Selain itu peta NKRI juga menggambarkan proyeksi
batas menurut hukum Indonesia. Atas dasar tersebut, maka perlu untuk dinyatakan
bahwa peta NKRI bersifat dinamis dan akan selalu di-update sesuai dengan
perkembangan.
Wilayah Indonesia di dalam perkembangannya mengalami pertambahan luas
yang sangat besar. Wilayah Indonesia ditentukan pertama kali dengan Territoriale Zee
en Maritime Kringen Ordonantie (TZMKO) 1939.Selanjutnya seiring dengan
perjalanan NKRI, Pemerintah RI memperjuangkan konsepsi Wawasan Nusantara mulai
dari Deklarasi Djuanda, berbagai perundingan dengan negara tetangga, sampai pada
akhirnya konsep Negara Kepulauan diterima di dalam Konvensi Hukum Laut PBB
1982 (United Nation Convention on the Law of the Sea/UNCLOS ’82). Berdasarkan
konsepsi TZMKO tahun 1939, lebar laut wilayah perairan Indonesia hanya meliputi
jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian pulau Indonesia yang
lebarnya hanya 3 mil laut. Sedang kan menurut UUD 1945, wilayah negara Indonesia
tidak jelas menunjuk batas wilayah negaranya. Wilayah negara proklamasi adalah
wilayah negara ex kekuasaan Hindia Belanda, selain itu UUD 1945 tidak mengatur
tentang kedudukan laut teritorial. Produk hukum mengenai laut teritorial baru dilakukan
secara formal pada tahun 1958 dalam Konvensi Geneva. Pada tahun 1957, Pemerintah

3
Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, mengumumkan secara unilateral /sepihak
bahwa lebar laut wilayah Indonesia adalah 12 mil. Barulah dengan UU No. 4/Prp tahun
1960 tentang Wilayah Perairan Indonesia ditetapkan ketentuan tentang laut wilayah
Indonesia selebar 12 mil laut dari garis pangkal lurus. Perairan Kepulauan ini dikelilingi
oleh garis pangkal yang menghubungkan titik-titik terluar dari Pulau Terluar Indonesia.
Semenjak Deklarasi Djuanda, Pemerintah Indonesia terus memperjuangkan konsepsi
Wawasan Nusantara di dalam setiap perundingan bilateral, trilateral, dan multilateral
dengan negara-negara di dunia ataupun di dalam setiap forum-forum internasional.
Puncak dari diplomasi yang dilakukan adalah dengan diterimanya Negara Kepulauan di
dalam UNCLOS 1982. Melalui UU No.17 tahun 1985,Pemerintah Indonesia
meratifikasi/ mengesahkan UNCLOS 1982 tersebut dan resmi menjadi negara pihak.
Sebagai tindak lanjut dari pengesahan UNCLOS 1982, Pemerintah Indonesia telah
menerbitkan UU No. 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia dan Peraturan
Pemerintah No. 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis
Pangkal Kepulauan Indonesia. Dua Landasan hukum tersebut, khususnya PP No.38
tahun 2002, telah memagari wilayah perairan Indonesia yang sejak dicabutnya UU No.
4 Prp tahun 1960 melalui UU No.6 tahun 1996, Indonesia tidak memiliki batas wilayah
perairan yang jelas. Bagi Indonesia, UNCLOS 1982 merupakan tonggak sejarah yang
sangat penting, yaitu sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap konsep
Wawasan Nusantara yang telah digagas sejak tahun 1957. Khusus mengenai Timor–
Timur, semenjak integrasinya pada tahun 1975 sampai dengan merdeka pada 1999
tentunya membawa perubahan pada wilayah Indonesia baik pada batas darat maupun
batas lautnya. Batas darat Indonesia dengan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL)
didasarkan atas perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan Portugis pada tahun
1904 dan Permanent Court Award (PCA) 1914. Saat ini telah disepakati oleh
Pemerintah Indonesia dan RDTL Provisional Agrreement on the Land Boundary yang
ditandatangani 8 April 2005 oleh Menteri Luar Negeri kedua negara. Sedangkan batas
laut RI-RDTL, sejak periode kolonial tidak ada perjanjian maupun pengaturan yang
terkait dengan batas laut antara Portugal dan Belanda di sekitar P. Timor [Deeley,
2001]. Begitu juga setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, dan juga setelah Timor
Leste menjadi bagian Indonesia pada tahun 1975, tidak ada perjanjian tentang batas laut
antara Indonesia dengan Portugal. Dan bahkan sampai saat ini batas laut RI-RDTL yang
meliputi laut wilayah, zona tambahan, ZEE dan landas kontinen belum mulai
dirundingkan karena masih menunggu penyelesaian batas darat terlebih dahulu. Seiring

4
dengan perkembangan, PP No.38/2002 memerlukan penyempurnaan karena menyisa
kan beberapa bagian wilayah Indonesia yang belum ditetapkan garis pangkalnya,
diantaranya adalah di sekitar P.Timor yang berbatasan dengan Republik Demokratik
Timor Leste (RDTL). Untuk dapat menetapkan batas perairan pada wilayah yang
berbatasan dengan RDTL, selain menunggu penyelesaian segment batas darat, perlu
pula ditetapkan calon-calon titik dasar sebagai acuan dalam penarikan garis pangkal
untuk menetapkan batas antara kedua negara, disamping memanfaatkan beberapa titik-
titik dasar yang sudah ada di sekitar wilayah tersebut.
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar
1945; Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations
Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang
Hukum Laut) (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3319); dasar pengertian yang meliputi, sebagai berikut :
– Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih
kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain.
– Pulau adalah daerah daratan yang terbentuk secara alamiah dikelilingi oleh air dan
yang berada di atas permukaan air pada waktu air pasang.
– Kepulauan adalah suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, dan perairan di
antara pulau-pulau tersebut, dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu
sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau, perairan, dan wujud alamiah
lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi, ekonomi, pertahanan keamanan, dan
politik yang hakiki, atau yang secara historis dianggap sebagai demikian.
– Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan
perairan pedalamannya.
– Garis air rendah adalah garis air yang bersifat tetap di suatu tempat tertentu yang
menggambarkan kedudukan permukaan air laut pada surut yang terendah.
– Elevasi surut adalah daerah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi
dan berada di atas permukaan laut pada waktu air surut, tetapi berada di bawah
permukaan laut pada waktu air pasang.
– Teluk adalah suatu lekukan jelas yang penetrasinya berbanding sedemikian rupa
dengan lebar mulutnya sehingga mengandung perairan tertutup yang lebih dari
sekedar suatu lengkungan pantai semata-mata, tetapi suatu lekukan tidak merupakan
suatu teluk kecuali apabila luasnya adalah seluas atau lebih luas daripada luas
setengah lingkaran yang garis tengahnya ditarik melintasi mulut lekukan tersebut.

5
– Alur laut kepulauan adalah alur laut yang dilalui oleh kapal atau pesawat udara
asing di atas alur laut tersebut, untuk melaksanakan pelayaran dan penerbangan
dengan cara normal semata-mata untuk transit yang terus-menerus, langsung dan
secepat mungkin serta tidak terhalang melalui atau di atas perairan kepulauan dan
laut teritorial yang berdampingan antara satu bagian laut lepas atau Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia dan bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia
lainnya.
– Konvensi adalah United Nations Convention on the Law of the Sea Tahun 1982,
sebagaimana telah diratifikasi dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985
tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut).
– Negara Republik Indonesia adalah Negara Kepulauan.

2.1.b. Batas Landas Laut Teritorial

Dengan demikian batas landas laut teritorial meliputi Zona Pesisir dan Zona
Laut. Yang dimaksud zone itu dapat diartikan daerah atau wilayah, yang dapat dirinci
sebagai berikut :
Tahukah Anda yang dimaksud zone. Zone itu dapat diartikan daerah atau wilayah.
1. Zona Pesisir
Berdasarkan kedalamannya zona pesisir dapat dibedakan menjadi 4 wilayah (zona)yaitu:

a. Zona “Lithoral”, adalah wilayah pantai atau pesisir atau “shore”. Di wilayah ini
pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi
daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering disebut juga wilayah pasang surut.
b. Zona “Neritic” (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut
hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar
matahari sehingga wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan
baik hewan maupun tumbuhan-tumbuhan, contoh Jaut Jawa, Laut Natuna, Selat
Malaka dan laut-laut disekitar kepulauan Riau.

6
c. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki
kedalaman antara 150 hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus
sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang
terdapat di zona meritic.
d. Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki
kedalaman lebih dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak
ada tumbuh-tumbuhan, jenis hewan yang hidup di wilayah ini sangat terbatas.

Untuk lebih memahami penjelasan di atas perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 2. Klasifikasi wilayah laut menurut kedalamannya


2. Zona Laut Indonesia
Sebagai negara kepulauan yang wilayah perairan lautnya lebih luas dari pada wilayah
daratannya, maka peranan wilayah laut menjadi sangat penting bagi kehidupan bangsa
dan negara.

a. Batas wilayah laut Indonesia.


Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2. Ini berarti luas wilayah laut
Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Sesuai dengan Hukum Laut
Internasional yang telah disepakati oleh PBB tahun 1982. berikut ini adalah gambar
pembagian wilayah laut menurut konvensi Hukum Laut PBB. Berikut ini adalah
gambar pembagian wilayah laut menurut konvensi hukum laut PBB

7
Gambar 3. Pembagian wilayah menurut Konvensi Hukum Laut PBB,
Montego, Caracas tahun 1982

Wilayah perairan laut Indonesia dapat dibedakan tiga macam, yaitu zona laut
Teritorial, zona Landas kontinen, dan zona Ekonomi Eksklusif

1) Zona Laut Teritorial.


Batas laut Teritorial ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis
dasar ke arah laut lepas. Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu
lautan, sedangkan lebar lautan itu kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial
di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara tersebut. Laut yang
terletak antara garis dengan garis batas teritorial di sebut laut teritorial. Laut
yang terletak di sebelah dalam garis dasar disebut laut internal. Garis dasar
adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung pulau.
Sebuah negara mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya sampai batas laut
teritorial, tetapi mempunyai kewajiban menyediakan alur pelayaran lintas
damai baik di atas maupun di bawah permukaan laut. Pengumuman
pemerintah tentang wilayah laut teritorial Indonesia dikeluarkan tanggal 13

8
Desember 1957 yang terkenal dengan Deklarasi Djuanda dan kemudian
diperkuat dengan Undang-undang No.4 Prp. 1960.
2) Zona Landas Kontinen.
Landas kontinen ialah dasar laut yang secara geologis maupun morfologi
merupakan lanjutan dari sebuah kontinen (benua). Kedalaman lautnya kurang
dari 150 meter. Indonesia terletak pada dua buah landasan kontinen, yaitu
landasan kontinen Asia dan landasan kontinen Australia. Adapun batas landas
kontinen tersebut diukur dari garis dasar, yaitu paling jauh 200 mil laut. Jika
ada dua negara atau lebih menguasai lautan di atas landasan kontinen, maka
batas negara tersebut ditarik sama jauh dari garis dasar masing-masing negara.
Sebagai contoh di selat malaka, batas landasan kontinen berimpit dengan
batas laut teritorial, karena jarak antara kedua negara di tempat itu kurang dari
24 mil laut. Di selat Malaka sebelah utara, batas landas kontinen antara
Thailand, Malaysia, dan Indonesia bertemu di dekat titik yang berkoordinasi
98 °BT dan 6 °LU. Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia
mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di
dalamnya, dengan kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai.
Pengumuman tentang batas landas kontinen ini dikeluarkan oleh Pemerintah
Indonesia pada tanggal 17 Febuari 1969.
3) Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar 200 mil laut ke arah laut
terbuka diukur dari garis dasar. Di dalam zona ekonomi eksklusif ini,
Indonesia mendapat kesempatan pertama dalam memanfaatkan sumber daya
laut. Di dalam zona ekonomi eksklusif ini kebebasan pelayaran dan
pemasangan kabel serta pipa di bawah permukaan laut tetap diakui sesuai
dengan prinsip-prinsip Hukum Laut Internasional, batas landas kontinen, dan
batas zona ekonomi eksklusif antara dua negara yang bertetangga saling
tumpang tindih, maka ditetapkan garis-garis yang menghubungkan titik yang
sama jauhnya dari garis dasar kedua negara itu sebagai batasnya.
Pengumuman tetang zona ekonomi eksklusif Indonesia dikeluarkan oleh
pemerintah Indonesia tanggal 21 Maret 1980.

Agar Anda lebih jelas tentang batas zona laut Teritorial, zona landas kontinen dari
zona ekonomi eksklusif lihatlah peta berikut.

9
Gambar 4. Batas wilayah laut Indonesia

Berdasarkan undang-undang nomor: 1 tahun 1973 (1/1973) tanggal: 6 Januari 1973


(Jakarta) sumber: LN 1973/1; TLN No. 2994 tentang: landas kontinen Indonesia.
Negara Republik Indonesia mempunyai kedaulatan atas kekayaan alam di landas
kontinen Indonesia, sebagaimana telah ditegaskan dalam pengumuman pemerintah
Republik Indonesia tanggal 17 Pebruari 1969; Undang-undang yang mengatur
penyelenggaraan usaha pemanfaatan kekayaan alam termaksud untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dan negara.

Pengertian yang ada pada ketentuan sebagai dasar hukum landas kontinen Indonesia,
adalah:
– Landas Kontinen Indonesia adalah dasar laut dan tanah dibawahnya diluar perairan
wilayah Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 4 Prp.
Th.1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin
diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam.
– Kekayaan alam adalah mineral dan sumber yang tak bernyawa lainnya didasar laut
dan/atau di dalam lapisan tanah dibawahnya bersama-sama dengan organisme hidup
yang termasuk dalam jenis sedinter yaitu organisme yang pada masa
perkembangannya tidak bergerak baik diatas maupun dibawah dasar laut atau tak

10
dapat bergerak kecuali dengan cara selalu menempel pada dasar laut atau lapisan
tanah dibawahnya.
– Eksplorasi dan eksploitasi adalah usaha-usaha pemanfaatan kekayaan alam dilandas
kontinen sesuai dengan istilah yang digunakan dalam peraturan perundangan yang
berlaku dibidang masing-masing. Penyelidikan ilmiah adalah penelitian ilmiah atas
kekayaan alam dilandas kontinen.
– Penguasaan penuh dan hak eksklusif atas kekayaan alam di Landas Kontinen
Indonesia serta pemilikannya ada pada Negara. Dalam hal landas kontinen
Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di landas Kontinen Indonesia,
berbatasan dengan negara lain, penetapan garis batas landas kontinen dengan negara
lain dapat dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai suatu
persetujuan.

2.1.c. Peta NKRI Sebagai Informasi Wilayah Negara

Lembaga otoritas survei dan pemetaan nasional, bekerjasama dengan beberapa


instansi terkait (Deplu, Depdagri, , DKP, Ditwilhan, Dishidros TNI AL, ESDM, Dittop
TNI AD) telah menerbitkan Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan dari
penerbitan peta ini adalah agar seluruh masyarakat beserta seluruh stake holder dapat
memiliki gambaran umum tentang wilayah NKRI sampai pada saat ini. Peta NKRI
merupakan peta ilustrasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan eksistensi
hak-hak berdaulatnya yang menginformasikan gambaran secara umum wilayah negara
kesatuan Republik Indonesia darat dan laut beserta informasi batas-batas hak
berdaulatnya. Dalam peta NKRI selain informasi tersebut di atas, juga menyantumkan
nama-nama geografis pulau-pulau milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis
pangkal kepulauan Indonesia baik pulau kecil terluar dan pulau–pulau besar lainnya,
alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Mengingat keterbatasan skala peta yang
digunakan (skala 1:5.000.000), tentunya informasi garis batas baik darat dan laut pada
segmen-segmen tertentu tidak tergambar secara detail. Demikian juga dengan pulau–
pulau kecil yang jumlahnya sangat banyak tentunya tidak dapat tergambar secara
keseluruhan. Namun demikian nilai dari angka-angka koordinat batas antar negara yang
telah disepakati, koordinat dari titik pangkal PP 38/tahun 2002 yang terletak pada
pulau-pulau kecil terluar dan lain lainnya telah diplotkan dengan benar. Dengan
demikian peta NKRI tersebut telah memenuhi aspek geometris dan kartometris. Untuk

11
melengkapi informasi spasial lainnya dari peta NKRI tersebut, maka peta NKRI perlu
dilengkapi dengan informasi peta tematik lainnya terutama informasi tentang wilayah
perbatasan darat dan laut pada segmen–segmen khusus dengan skala yang memadai
atau lebih besar. Peta NKRI juga dimaksudkan guna menggambarkan hasil Border
Diplomacy, yang menyatakan bahwa Indonesia perlu memiliki peta NKRI yang
menggambarkan batas-batas negara yang telah dicapai sejak Deklarasi Djuanda sampai
sekarang baik yang belum maupun yang sudah disepakti melalui berbagai perundingan
bilateral, trilateral maupun multilateral. Seperti yang telah dicoba dijabarkan di atas
bahwasannya wilayah NKRI memiliki dinamika perkembangan yang panjang.

2.2. Latihan

1). Jelaskan perkembangan Wilayah Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan


Republik Indonesia sampai dengan saat ini!
2). Jelaskan apa saja yang ada hubungannya antara pengawasan dan penindakan
dengan Negara Kepulauan.!
3). Jelaskan apa tujuan dari penerbitan Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia
dikaitkan dengan pengawasan dan penindakan kepabeanan !
4). Jelaskan yang termasuk dalam wilayah perairan laut Indonesia itu apa saja.!
5). Jelaskan peranan wilayah laut Indonesia dan hubungannya dengan
pengawasan dan penindakan kepabeanan yang dilakukan oleh DJBC.!

2.3. Rangkuman

Berdasarkan konsepsi TZMKO tahun 1939, lebar laut wilayah perairan


Indonesia hanya meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap pulau atau bagian
pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut. Pada tahun 1957, Pemerintah Indonesia
melalui Deklarasi Djuanda, mengumumkan secara unilateral /sepihak bahwa lebar laut
wilayah Indonesia adalah 12 mil. Barulah dengan UU No. 4/Prp tahun 1960 tentang
Wilayah Perairan Indonesia ditetapkan ketentuan tentang laut wilayah Indonesia selebar
12 mil laut dari garis pangkal lurus. Perairan Kepulauan ini dikelilingi oleh garis
pangkal yang menghubungkan titik-titik terluar dari Pulau Terluar Indonesia. Luas
wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2. Ini berarti luas wilayah laut Indonesia
lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Sesuai Pembagian wilayah menurut

12
Konvensi Hukum Laut PBB, Montego, Caracas tahun 1982, Hukum Laut Internasional
yang telah disepakati oleh PBB tahun 1982 . Semenjak Deklarasi Djuanda, Pemerintah
Indonesia terus memperjuangkan konsepsi Wawasan Nusantara di dalam setiap
perundingan bilateral, trilateral, dan multilateral dengan negara-negara di dunia ataupun
di dalam setiap forum-forum internasional. Puncak dari diplomasi yang dilakukan
adalah dengan diterimanya Negara Kepulauan di dalam UNCLOS 1982.

13
3. KEGIATAN BELAJAR (KB) 2

PETA GEOGRAFI INDONESIA

3.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

3.1.a. Konsep geografi

Salah satu persyaratan mutlak harus dimiliki oleh sebuah negara adalah wilayah
kedaulatan, di samping rakyat dan pemerintahan yang diakui. Konsep dasar wilayah
negara kepulauan telah diletakkan melalui Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.
Deklarasi tersebut memiliki nilai sangat strategis bagi bangsa Indonesia, karena telah
melahirkan konsep Wawasan Nusantara yang menyatukan wilayah Indonesia. Laut
Nusantara bukan lagi sebagai pemisah, akan tetapi sebagai pemersatu bangsa Indonesia
yang disikapi sebagai wilayah kedaulatan mutlak Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ada bangsa yang secara eksplisit mempunyai cara bagaimana ia memandang tanah
airnya beserta lingkungannya. Cara pandang itu biasa dinamakan wawasan nasional.
Sebagai contoh, Inggris dengan pandangan nasionalnya berbunyi: "Brittain rules the
waves". Ini berarti tanah Inggris bukan hanya sebatas pulaunya, tetapi juga lautnya.
Tetapi cukup banyak juga negara yang tidak mempunyai wawasan, seperti: Thailand,
Perancis, Myanmar dan sebagainya. Indonesia wawasan nasionalnya adalah wawasan
nusantara yang disingkat wasantara. Wasantara ialah cara pandang bangsa Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tentang diri dan lingkungannya
dalam eksistensinya yang sarwa nusantara dan penekanannya dalam mengekspresikan
diri sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah lingkungannya yang sarwa nusantara
itu. Unsur-unsur dasar wasantara itu ialah: wadah (contour atau organisasi), isi, dan tata
laku. Dari wadah dan isi wasantara itu, tampak adanya bidang-bidang usaha untuk
mencapai kesatuan dan keserasian dalam bidang-bidang satu kesatuan wilayah, satu
kesatuan bangsa, satu kesatuan budaya, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan
hankam.Jelaslah disini bahwa wasantara adalah pengejawantahan falsafah Pancasila
dan UUD 1945 dalam wadah negara Republik Indonesia. Kelengkapan dan keutuhan
pelaksanaan wasantara akan terwujud dalam terselenggaranya ketahanan nasional
Indonesia yang senantiasa harus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan zaman.

14
Ketahanan nasional itu akan dapat meningkat jika ada pembangunan yang
meningkat, dalam "koridor" wasantara.

3.1.b. Konsep Kepulauan Indonesia

Bila diperhatikan lebih jauh kepulauan Indonesia yang duapertiga wilayahnya


adalah laut membentang ke utara dengan pusatnya di pulau Jawa membentuk gambaran
kipas. Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik Indonesia
dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan
politik luar negeri bebas aktif. , sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui
konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Dengan mengacu pada
kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi besar (grand strategy)
maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa bagian terluar
wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim
adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin
kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman. Nusantara (archipelagic)
dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah
negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Laut yang
menghubungkan dan mempersatukan pulau-pulau yang tersebar di seantero
khatulistiwa. Sedangkan Wawasan Nusantara adalah konsep politik bangsa Indonesia
yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air
(laut) termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak
terpisahkan, yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup
segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial
budaya, dan hankam. Wawasan Nusantara sebagai konsepsi politik dan kenegaraan
yang merupakan manifestasi pemikiran politik bangsa Indonesia telah ditegaskan dalam
GBHN dengan ap.MPR No.IV Th 1973. Penetapan ini merupakan tahapan akhir
perkembangan konsepsi negara kepulauan yang telah diperjuangkan sejak Dekrarasi
Juanda tanggal 13 Desember 1957.

3.1.c. Hakekat Wawasan Nusantara

15
Wawasan Nusantara adalah cara pandang Bangsa Indonesia terhadap rakyat,
bangsa dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi darat, laut dan
udara di atasnya sebagai satu kesatuan Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pertahanan
Keamanan. Kepulauan adalah kumpulan dari pulau-pulau. Negara kepulauan dikenal
sebagai Archipelago State yang diakui oleh Konvensi PBB. Republik Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, disusul kemudian oleh (tidak urut)
Filipina, Jepang, dan Selandia Baru. Pengertian hakekat wawasan nusantara ini dengan
tujuan memberi kemudahan untuk melakukan perjalanan di wilayah Indonesia dengan
menggunakan perangkat GPS. Dengan bantuan perangkat GPS disamping akan
mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko
tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan. Keterbatasan dan/atau ketidak-
tersediaan peta GPS wilayah Indonesia bukanlah suatu penghalang dalam menggunakan
perangkat GPS. Dengan kerjasama dan saling tukar-menukar informasi akan letak
(kordinat) suatu lokasi, diharapkan akan membantu tercapainya tujuan
perjalanan.(Admin).

3.2. Latihan

1). Jelaskan dimanakah diletakannya konsep dasar wilayah negara kepulauan bagi
Negara Kesatuan Republik Indonesia.!
2). Jelaskan geografi Negara Kesatuan Republik Indonesia, kaitannya dengan
wawasan nasional, pengawasan dan penindakan kepabeanan.!
3). Berdasarkan geografi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengacu pada
kondisi geografi bercirikan maritim, apakah pengawasan dan penindakan masih
diperlukan? Jelaskan.!
4). Jelaskan dengan cara bagaimana agar mempermudah untuk menentukan arah
juga akan mecegah atau memperkecil resiko tersesat maupun kehilangan arah
saat dalam perjalanan dalam rangka pengawasan dan penindakan.!
5). Jelaskan apa perbedaan dan persamaannya antara peta navigasi dan peta
geografi. !

3.3. Rangkuman

16
Dalam rangka untuk mengetahui pentingnya peta geografi Indonesia, harus
mengetahui bahwa salah satu persyaratan mutlak harus dimiliki oleh sebuah negara
adalah wilayah kedaulatan, di samping rakyat dan pemerintahan yang diakui. Unsur-
unsur dasar wawasan nusantara yang juga disebut wasantara itu ialah wadah (contour
atau organisasi), isi, dan tata laku. Dari wadah dan isi wasantara itu, tampak adanya
bidang-bidang usaha untuk mencapai kesatuan dan keserasian dalam bidang-bidang
satu kesatuan wilayah, satu kesatuan bangsa, satu kesatuan budaya, satu kesatuan
ekonomi, dan satu kesatuan pertahanan dan keamanan. Mengacu pada kondisi geografi
bercirikan maritim, maka diperlukan strategi besar (grand strategy) maritim sejalan
dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa bagian terluar wilayah yang
harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim adalah mewujudkan
kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas
wilayah dari berbagai ancaman. Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep
kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari
pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Kondisi geografi Indonesia dimana
duapertiga nya adalah lautan dimungkinkan dikemudian hari akan menjadi negara
maritim yang handal, bahkan maritim sebagai potensi penerimaan negara dalam
mendukung pembangunan nasional Indonesia. Untuk itu pentingnya pengawasan dan
penindakan kepabeanan dalam penegakan hukum dilaut, dengan demikian siswa atau
peserta diklat diharapkan lebih meningkat pengetahuan dan keterampilannya.

17
4. KEGIATAN BELAJAR (KB) 3

KOORDINAT PETA GEOGRAFI

4.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

4.1.a. Perairan dan Laut Teritorial Indonesia

Koordinat peta geografi dan koordinat peta navigasi harus selalu dipedomani
dalam pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan yang dilakukan oleh
sarana pengangkut. Koordinat tersebut diwajibkan harus ada pada setiap sarana
pengangkut yang mengangkut barang dan/atau orang dapat diperoleh di Kantor
Departemen Perhubungan atau perwakilannya didaerah, atau dapat diperoleh di Bagian
Topografi-TNI AL atau perwakilannya didaerah. Pergerakan atau perjalanan atau
pelayaran dan penerbangan dilakukan dengan cara memperhatikan posisi sarana
pengangkut dengan memperhatikan GPS (global position system) yang menggunakan
jasa satelit, atau dapat memperhatikan peta navigasi tersebut. Letak atau posisi sarana
pengangkut ditentukan dengan tanda 0 untuk derajat, ’ untuk menit, dan ’’untuk detik,
masing-masing dari 1.°= 60’, dan 1’=60 ’’.
Pada peta navigasi terdapat garis atau data angka yang sejajar dengan
katulistiwa dinamakan bujur, untuk wilayah Indonesia hanya memiliki daerah bujur
timur (BT), untuk garis atau data angka yang tegak lurus dengan katulistiwa dinamakan
lintang, sedangkan yang berada diatas khatulistiwa disebut lintang utara, sedangkan
yang berada dibawa katulistiwa disebut lintang selatan. Walaupun telah ditetapkan
koordinat pada peta navigasi namun penindakan terhadap sarana pengangkut yang
diduga melakukan pelanggaran pelayaran, penerbangan, dan keberangkatan bila tidak
sesuai jalur yang ditetapkan belum optimal karena posisi sarana pengangkut wajib harus
dapat diketahui atau ditetapkan posisinya untuk menentukan menuju keluar daerah
pabean Indonesia atau masuk kedalam daerah pabean Indonesia. Untuk dapat diketahui
posisi sarana pengangkut disamping menggunakan GPS, juga dapat menggunakan
kompas (jenis kompas berupa kompas magnitik, kompas electric, liquit compas dan

18
sarana lain secara tradisional), kompas berbedoman pada arah utara atau selatan,
misalnya dengan berpedoman pada arah utara dan dengan memperhatikan posisi haluan
sarana pengangkut, arah haluan pada posisi jam berapa. Misalnya menunjuk angka tiga,
berarti posisi haluan sarana pengangkut adalah disebelah kanan, dalam hal sebelah
kanan kita adalah menuju luar daerah pabean Indonesia, berarti sarana pengangkut
tersebut bermaksud menuju luar daerah pabean Indonesia (kegiatan ekspor barang).
Tindak lanjut dalam kesempatan pertama kordinat dan posisi haluan sarana pengangkut
ditulis pada peta navigasi yang ditandatangani oleh pejabat bea dan cukai yang
melakukan penindakan, nakhoda atau navigator, dan seorang saksi (oleh para pihak),
selanjutnya juga dibuat berita acara yang ditandatangani oleh para pihak, dan diteruskan
kepada penyidik pegawai negeri sipil bea dan cukai. Wilayah Laut Teritorial, adalah
kedaulatan negara pantai atas laut teritorialnya termasuk udara di atasnya; dan dasar
laut dan tanah di bawahnya, dibatasi dengan ‘hak lintas damai’ bagi kapal asing, lebar
laut teritorial adalah 12 mil laut diukur dari garis pangkal.

Contoh : Pada posisi angka 23 peta lingkungan laut Indonesia, adalah posisi
LU 3◦ 20’ 40’’ dan BT 121◦ 15’ 30’’
Pada masa ‘ordonansi laut teritorial dan lingkungan maritim stbl 1939 No 442’ lebar
laut territorial adalah selebar 3 mil; Berdasarkan Deklarasi Juanda tahun 1962 lebar

19
laut territorial adalah selebar 12 mil; Dan berdasarkan Konvensi hukum laut 1982 lebar
laut territorial adalah selebar 12 mil.

– Yang dimaksudkan dengan garis pangkal adalah :


Garis yang digunakan untuk mengukur laut teritorial suatu negara; Garis yang
menghubungkan titik-titik dari pulau terluar, pada saat air rendah.
– Konsekwensi dari diberlakukannya laut territorial selebar 12 mil adalah bahwa di
Indonesia tidak ada lagi laut lepas di antara pulau. Hal ini juga sebagai konsekwensi
logis diakuinya Republik Indonesia sebagai Negara Kepulauan.
– Penentuan batas laut teritorial ditentukan oleh negara yang pantainya berhadapan
dan berdampingan, dengan ketentuan sebagai berikut dihitung berdasarkan garis
tengah, yaitu garis yang titik-titiknya sama jarak dari titik-titik terdekat pada ‘garis
pangkal’ yang digunakan untuk mengukur lebar laut teritorial masing-masing
negara; Kecuali ada persetujuan lain yang dibuat antara Negara-negara yang
bersangkutan.

Jalur Tambahan
Di samping laut territorial tersebut, berdasarkan Konvensi Hukum Laut tahun
1982 tersebut, dikenal juga adanya jalur tambahan selebar 24 mil yang dihitung dari
garis pangkal. Hak negara pantai pada jalur tambahan adalah....
– Melakukan pencegahan atas pelanggaran kepabeanan, imigrasi, fiskal, pencemaran,
dan peraturan lainnya yang berlaku dalam laut teritorialnya;
– Mengenakan hukuman atas pelanggaran ketentuan atau peraturan yang terjadi di
dalam wilayah laut teritorial.

Perairan Pedalaman
Perairan Pedalaman adalah perairan yang berada pada arah darat ‘garis
pangkal’. Di dalam Perairan Pedalaman ini, kedaulatan suatu negara pada perairan
pedalaman tidak disertai dengan keharusan untuk menjamin ‘hak lintas damai’ bagi
kapal asing.

Perairan Kepulauan
Perairan Kepulauan adalah bagian laut yang terletak di antara kepulauan yang
menjadi wilayah Darat Republik Indonesia. Sama halnya dengan perairan pedalaman,

20
wilayah ini tidak ada keharusan bagi Negara Republik Indonesia untuk menjamin ‘hak
lalu lintas damai’ bagi kepala asing.

4.1.b. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

Lebar Zona Ekonomi Eksklusif adalah selebar 200 mil diukur dari garis
pangkal yang digunakan untuk mengukur lebar laut teritorial; ZEE tidak tunduk kepada
kedaulatan negara pantai; hak negara pantai di ZEE ‘hanya’ menikmati ‘hak –hak
berdaulat’ tetapi tidak berdaulat. Kedaulatan negara pantai pada ZEE hanya kedaulatan
ekonomis sumber daya yang ada dalam zona tersebut; Di ZEE semua negara berhak
berlayar dan terbang di atasnya, bebas meletakan pipa dan kabel bawah laut,
penggunaan sah lainnya yang berhubungan dengan kebebasan tersebut; Batu
karang/pulau yang tidak mendukung adanya kediaman manusia atau kehidupan tidak
berhak memiliki ZEE; Hak Negara Republik di Zona Ekonomi Eksklusif adalah
melakukan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan sumber kekayaan
alam di dasar laut dan tanah di bawahnya, serta perairan di atasnya, eksploitasi
ekonomis lainnya, seperti produk energi dari air, arus, dan angin), yurisdiksi atas
pendirian dan penggunaan pulau-pulau buatan, riset ilimiah kelautan, dan perlindungan
lingkungan laut, yurisdiksi atas pulau buatan, instalasi-instalasi, dan bangunan-
bangunan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan perundang-undangan kepabeanan,
fiskal, kesehatan, keselamatan, dan imigrasi, hak untuk melaksanakan hot persuit
terhadap kapal asing yang melakukan pelanggaran atas ketentuan ZEE, hak untuk
menerima dan menolak kegiatan ilmiah permohonan 4 bulan harus dijawab, bila tidak
dijawab dalam waktu 6 bulan, sejak diterimanya permohonan, yang bersangkutan dapat
melakukan riset kelautan.

4.1.c. Landas Kontinen

Pada konvensi jenewa 1958 yang dimaksud dengan Landas Kontinen


(Continental Self) adalah , daerah dasar laut dan tanah di bawahnya yang berada di luar
laut teritorial yang merupakan kelanjutan alamiah dari daratan, daerah dasar laut sampai
kedalaman 200 m atau sampai kedalaman yang masih memungkinkan dilakukan

21
eksplorasi dan eksploi tasi, sedangkan pada konvensi tentang Dataran Kontinen tahun
1982 diatur sebagai berikut, bila tepian luar kontinen tidak mencapai jarak 200 mil »»
sampai jarak 200 mil, bila di luar jarak 200 mil masih terdapat daerah dasar laut yang
merupakan kelanjutan alamiah dari wilayah daratan »» maksimal 350 mil, maksimal
100 mil dari garis kedalaman (isobat) 2.500 meter. Kemudahan-kemudahan untuk
melakukan eksplorasi dan eksploitasi di Landas Kontinen meliputi membangun
instalasi-instalasi, menggunakan kapal-kapal dan/atau alat-alat untuk kepentingan
kegiatan tersebut, dan memelihara instalasi dan alat tersebut.

Pada instalasi di Landas Kontinen dapat ditetapkan adanya Daerah Terlarang


dan Daerah Terbatas, dimana pengaturannya adalah sebagai berikut:
Daerah Terlarang:
Lebarnya maksimal 500 meter dihitung dari setiap titik terluar dari instalasi-
instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat tersebut. Di wilayah ini tidak boleh dilakukan
kegiatan lain kecuali kegiatan yang ada sebelumnya. Kapal pihak ketiga tidak boleh
melintasi dan membuang sauh.

Daerah Terbatas :
Memiliki lebar maksimal 1.250 meter dihitung dari titik terluar dari Daerah
Terlarang. Kapal-kapal pihak ketiga dilarang membongkar atau membuang sesuatu di
wilayah tersebut. Kapal pihak ketiga dapat melewati, tetapi dilarang membuang sauh.

Lalu Lintas Laut Damai


Yang dimaksudkan dengan Lalu Lintas Damai adalah melintasi laut wilayah
Republik Indonesia dengan tujuan damai. Kendaraan laut yang melintasi wilayah laut
Republik Indonesia yang membahayakan perdamaian, keamanan, ketertiban umum dan
kepentingan negara tidak lagi dianggap damai. Pelayaran dalam rangka lintas damai
harus dilakukan tanpa berhenti, membuang sauh, dan mondar-mandir tanpa alasan,
kecuali terdapat alasan ‘keadaan memaksa (force majeur). Begitu juga bila hal tersebut
dilakukan di laut bebas dengan jarak 100 mil dari perairan Indonesia. Laut wililayah
Republik Indonesia disini adalah laut teritorial, perairan pedalaman , perairan
kepulauan/daratan. Hak lintas damai di laut teritorial di jamin oleh hukum
Internasional. Hak lintas damai di perairan pedalaman diatur oleh negara Republik
Indonesia. Di perairan kepulauan di tentukan Hak Lintas Transit. Lalu Lintas Laut

22
Damai adalah melintasi perairan pedalaman dari laut bebas ke satu pelabuhan
indonesia, atau sebaliknya, dan laut bebas ke laut bebas, Lalu Lintas Laut Damai harus
mengikuti jalur yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang telah
diumumkan terlebih dahulu ke dunia pelayaran. Kapal penangkapan ikan diwajibkan
menyimpan alat-alat penangkap ikannya dalam keadaan terbungkus di atas palka Riset
ilmiah oleh kapal asing di perairan pedalaman hanya boleh dilakukan atas izin Presiden
Republik Indonesia. Hak lintas damai bagi kapal perang dan kapal pemerintah asing
yang bukan kapal niaga ditentukan sebagai berikut harus seizin Kasal, harus melalui
jalur yang telah ditetapkan, kapal selam asing harus berlayar dipermukaan laut,
melanggar ketentuan-ketentuan tersebut dan melintasi perairan pedalaman dianggap
bukan lintas damai, dan diwajibkan segera meninggalkan perairan pedalaman.

Laut Lepas
Semua bagian laut yang tidak termasuk ZEE, Laut teritorial, perairan
pedalaman, perairan kepulauan adalah rezim Laut Lepas. Laut lepas terbuka bagi semua
negara.Digunakan untuk maksud-maksud damai. Di wilayah Laut Lepas semua negara
bebas untuk berlayar, terbang di atasnya, meletakan kabel dan pipa di bawah laut,
membangun pulau-pulau buatan dan instalasi lainnya, menangkap ikan, dan melakukan
riset ilmiah.

Berdasarkan pembahasan dalam Modul ini maka dapat dirangkum sebagai berikut batas
wilayah negara adalah manifestasi kedaulatan teritorial suatu negara, batas wilayah ini
ditentukan oleh proses sejarah, politik, dan hubungan antar negara, yang
dikulminasikan ke dalam aturan atau ketentuan hukum nasional maupun hukum
internasional, penanganan masalah dan pengelolaan perbatasan sangat penting saat ini
untuk digunakan bagi berbagai kepentingan dan keperluan, baik oleh pemerintah
maupun masyarakat. Untuk itu diperlukan strategi yang tepat untuk melakukan
pengelolaan wilayah perbatasan nasional Indonesia. Laut sebagai bagian dari wilayah
negara memiliki dua aspek utama, yaitu keamanan (security) dan kesejahteraan
(prosperity). Oleh karena itu pengelolaan wilayah ini perlu dilakukan melalui
kombinasi pendekatan ekonomi dan pendekatan pertahanan-keamanan. Disamping
itu,pengelolaan sumber daya kelautan memerlu kan suatu kebijaksanaan pemerintah
yang bersifat makro, terpadu, dan didukung oleh perangkat peraturan perundang-
undangan yang lengkap. Penyempurnaan batas-batas wilayah dan yurisdiksi negara di

23
wilayah laut dapat menciptakan tegaknya wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia,
terwujudnya rasa aman bagi segenap bangsa, dan terwujudnya perekonomian yang kuat
melalui pemanfaatan sumber daya alamnya.

4.2. Latihan
1). Koordinat peta geografi dan koordinat peta navigasi harus selalu dipedomani
dalam pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan yang
dilakukan oleh sarana pengangkut, dengan cara bagaimana petugas DJBC
melakukan pengawasan dan penindakan kepabeanan.? Jelaskan.!
2). Jelaskan apa saja konsekwensi logis diakuinya Republik Indonesia sebagai
Negara Kepulauan.? Jelaskan pengawasan dan penindakan kepabeanannya.!
3). Jelaskan apa saja Hak Negara Republik di Zona Ekonomi Eksklusif.!
4). Jelaskan apa saja yang diatur pada instalasi di Landas Kontinen dengan
ditetapkan adanya Daerah Terlarang dan Daerah Terbatas, dan bagaimana
kaitannya dengan pengawasan dan penindakan kepabeanan.!
5). Laut sebagai bagian dari wilayah negara memiliki dua aspek utama. Jelaskan apa
saja yang dimaksud dengan aspek utama tersebut, dan bagaimana pengawasan
dan penindakan kepabeanannya.!

4.3. Rangkuman

Kemudahan-kemudahan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di Landas


Kontinen meliputi membangun instalasi-instalasi, menggunakan kapal-kapal dan/atau
alat-alat untuk kepentingan kegiatan tersebut, dan memelihara instalasi dan alat
tersebut. Walaupun telah ditetapkan koordinat pada peta navigasi namun penindakan
terhadap sarana pengangkut yang diduga melakukan pelanggaran pelayaran,
penerbangan, dan keberangkatan bila tidak sesuai jalur yang ditetapkan belum optimal
karena posisi sarana pengangkut wajib harus dapat diketahui atau ditetapkan posisinya
untuk menentukan menuju keluar daerah pabean Indonesia atau masuk kedalam daerah
pabean Indonesia. Untuk dapat diketahui posisi sarana pengangkut disamping
menggunakan GPS, juga dapat menggunakan kompas. Bagi sarana pengangkut yang
dilengkapi dengan peta navigasi dan peta geografi, petugas DJBC yang melakukan
pengawasan dan penindakan dengan mudah dapat melihat pada peta tersebut arah
haluan sarana pengangkut. Dalam hal tidak dilengkapi dengan peta tersebut maka dapat

24
digunakan Kompas, dengan cara berbedoman pada arah utara atau selatan, misalnya
dengan berpedoman pada arah utara dan dengan memperhatikan posisi haluan sarana
pengangkut, arah haluan pada posisi jam berapa. Misalnya menunjuk angka tiga, berarti
posisi haluan sarana pengangkut adalah disebelah kanan, dalam hal sebelah kanan kita
adalah menuju luar daerah pabean Indonesia, berarti sarana pengangkut tersebut
bermaksud menuju luar daerah pabean Indonesia (kegiatan ekspor barang).

5. KEGIATAN BELAJAR (KB) 4

BATAS WILAYAH PENGAWASAN DAN


PENINDAKAN KEPABEANAN

5.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

5.1.a. Batas Wilayah Negara

Pengertian batas wilayah tidak terbatas pada wilayah kedaulatan, akan tetapi
mencakup yurisdiksi negara di bagian-bagian laut yang bukan wilayah negara. Bagi
Indonesia, kepentingan nasional di laut tidak terbatas hanya pada zona-zona maritim
yang merupakan wilayah negara, tetapi juga meliputi bagian-bagian laut di luar wilayah
negara di mana Indonesia memiliki hak-hak berdaulat dan yurisdiksi untuk
penggunaannya. Masalah batas wilayah dan yurisdiksi negara di laut sampai saat ini
masih menjadi persoalan sehingga perlu memperoleh perhatian untuk dijadikan sebagai
prioritas dalam penyusunan legislasi nasional.
Indonesia berbatasan laut langsung dengan 10 negara tetangga, yaitu Australia,
Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, Papua New Guinea, Vietnam,
India, Palau. Sebagian besar penetapan batas wilayah dan yurisdiksinya di laut telah
berhasil diselesaikan, akan tetapi masih ada beberapa bagian daerah perbatasan
Indonesia yang belum jelas garis batasnya dengan negara tetangga.
Untuk itu, Indonesia harus membuat skala prioritas dan segera menyelesaikan
seluruh permasalahan batas laut melalui perundingan dengan negara-negara tetangga
untuk menetapkan batas wilayah laut, yang dituangkan dalam peta dan
mendaftarkannya di lembaga PBB sesuai dengan ketentuan Konvensi Hukum Laut
1982. Di luar laut wilayahnya, Indonesia masih memiliki hak-hak berdaulat atas

25
kekayaan alam yang ada di Zona Ekonomi Eksklusif, Zona Tambahan, dan Landas
Kontinen serta mempunyai kepentingan di laut Bebas. Untuk itu, perlu segera
dilakukan hal-hal batas ZEE Indonesia dengan negara tetangga harus ditetapkan melalui
perjanjian. Batas-batas yang telah disepakati dalam perjanjian harus ditunjukkan dalam
peta, atau dengan daftar koordinat geografis yang disertai data-data geodeticnya. Peta
atau daftar koordinat geografis tersebut harus dipublikasikan secara wajar dan
didaftarkan pada Sekretaris Jenderal PBB.
Zona Tambahan perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan untuk
mengawasi dan mencegah pelanggaran imigrasi, kepabeanan, keuangan, dan karantina
kesehatan dalam laut wilayah Indonesia. Peraturan perundang-undangan ini sangat
diperlukan agar pengawasan atas pentaatan ketentuan imigrasi, bea cukai dan karantina
Indonesia dapat dilakukan jauh di luar perairan nusantara dan laut wilayah Indonesia.
UU No. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen perlu segera direvisi karena UU
tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Di samping itu, batas-batas
landas kontinen dengan negara-negara tetangga harus segera diselesaikan melalui
perjanjian dan didepositkan pada Sekretaris Jenderal PBB. Batas-batas yang telah
diperjanjikan tersebut harus ditunjukkan dalam peta atau daftar koordinat geografis
yang dipublikasikan. Indonesia sangat berkepentingan untuk mengelola dan ikut
memanfaatkan sumber-sumber perikanan di laut lepas di luar batas 200 mil ZEEnya,
baik untuk pelestarian sumber-sumber perikanan maupun untuk pemeliharaan
lingkungan laut dan laut bebas itu sendiri.
Indonesia juga perlu melindungi nelayan-nelayan dan pelaut-pelautnya yang
memanfaatkan dan melayari laut bebas tersebut.Pengawasan dan penindakan
kepabeanan di laut dan sistem pengawasan kegiatan di laut harus lebih dicermati.
Kepemilikan laut yang luas dan kaya membawa konsekuensi akan mengundang pihak
asing untuk mencoba mengambil kekayaan yang terkandung di dalamnya. Di sisi lain
fakta menunjukkan bahwa kemampuan aparat laut dalam pengamanan wilayah, yaitu
untuk memonitor, melakukan pengendalian dan menjaga keamanan yang dilakukan
TNI-AL dan POLRI masih sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk melakukan sistem
pengamanan di wilayah laut selain diperlukan dasar hukum yang jelas, juga diperlukan
peningkatan sarana dan prasarana pertahanan-keamanan laut, seperti armada kapal
patroli dan kapal perang yang memadai serta penambahan anggaran pemeliharaan
kapal.

26
Sistem Monitoring, Controling and Surveliance (MCS) yang telah
dikembangkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan belum dimanfaatkan secara
optimal oleh instansi lain yang terkait dengan penegakan hukum di laut. Oleh karena
itu, sistem ini perlu dimanfaatkan secara integral dan terpadu oleh seluruh stakeholders,
sehingga dapat memfasilitasi kegiatan hankam di laut.
Untuk dapat merealisasikan potensi ekonomi di wilayah perbatasan, khususnya
pulau-pulau terluar, perlu dilaksanakan program pembangunan ekonomi yang berbasis
potensi kelautan setempat yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang kondusif bagi
investasi di wilayah perbatasan ini. Sebagai suatu negara kepulauan, Indonesia
ditengarai masih “inward looking“ dalam arti belum menunjukkan kepedulian terhadap
perkembangan di wilayah laut yang berada di luar yurisdiksi nasional, seperti perikanan
di laut lepas dan penambangan di dasar laut internasional.
Indonesia perlu meningkatkan partisipasinya dalam berbagai Organisasi
Perikanan Regional, dan mulai berpartisipasi dalam penambangan dasar laut
internasional. trategi dan kebijakan pembangunan atau pengembangan kawasan
perbatasan laut yang harus ditempuh Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah adalah
meningkatkan koordinasi yang dilandasi oleh tugas dan tanggung jawab dalam
pembinaan dan pendayagunaan potensi nasional untuk mendukung pertahanan negara
yang meliputi segala kegiatan peningkatan dan pemeliharaan sumber daya laut secar
berkelanjutan.

5.1.b. Kewenangan Negara Menetapkan Batas Negara.

Wilayah dapat diartikan sebagai ruang dimana manusia yang menjadi warga
negara atau penduduk negara yang bersangkutan hidup serta menjalankan segala
aktifitasnya. Di dalam kondisi dunia yang sekarang ini, maka sebuah wilayah negara
tentunya akan berbatasan dengan wilayah negara lainnya, dan di dalamnya akan banyak
terkait aspek yang saling mempengaruhi situasi dan kondisi perbatasan yang
bersangkutan. Perbatasan negara seringkali didefinisikan sebagai garis imajiner di atas
permukaan bumi yang memisahkan wilayah satu negara dengan wilayah negara
lainnya. Sejauh perbatasan itu diakui secara tegas dengan traktat atau diakui secara
umum tanpa pernyataan tegas, maka perbatasan merupakan bagian dari suatu hak
negara terhadap wilayah. Atas dasar itu pula, maka setiap negara berwenang untuk
menetapkan batas terluar wilayahnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

27
berbatasan dengan 10 (sepuluh) negara tetangga. Di darat, Indonesia berbatasan dengan
Malaysia, Papua New Guinea (PNG) dan dengan Timor-Leste. Sedangkan di laut,
Indonesia berbatasan dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina,
Palau, Papua Niugini, Australia dan Timor-Leste. Wilayah darat NKRI terdiri atas
semua pulau-pulau milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal
kepulauan Indonesia. Sedangkan sebagai negara kepulauan, maka wilayah Indonesia
terdiri atas perairan pedalaman, perairan kepulauan (archipelagic waters), laut wilayah,
zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen. Pemerintah Indonesia
sampai dengan saat ini masih sangat intens menyelesaikan penataan batas wilayah
NKRI, termasuk di dalamnya adalah melakukan berbagai perundingan dengan negara
tetangga untuk menentukan batas wilayah di segment-segment yang belum
diperjanjikan. Hal ini merupakan bagian dari kewenangan dan kewajiban Pemerintah
terhadap wilayahnya. Pendepositan titik dasar NKRI kepada PBB sesuai dengan
ketentuan UNCLOS juga merupakan sebuah kewenangan yang diberikan oleh Hukum
Internasional, dimana sebuah negara dapat menentukan titik dasar wilayahnya.
Sedangkan pendepositan itu sendiri hanyalah merupakan pemenuhan dari asas
publisitas yang harus dipenuhi.
Berdasarkan perkiraan tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang yang
semakin kompleks, maka penegakan hukum kepabeanan dan cukai akan senantiasa
terkait erat dengan tugas dan fungsi untuk mengamankan potensi penerimaan keuangan
negara (tax collector) dan memfasilitasi perdagangan internasional (trade facilitator)
sehingga diperlukan upaya-upaya adalah revitalisasi sumber daya manusia,pemanfaatan
sistem informasi dan sistem teknologi, aplikasi manajemen resiko yang handal,
peningkatan sistem koordinasi antar lembaga terkait, kerjasama internasional di bidang
kepabeanan.

5.2. Latihan

1). Jelaskan sejarah perkembangan wilayah teritorial dan yuridiksi


kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia?
2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan kewenangan negara menetapkan batas
negara.?
3). Jelaskan apa yang dimaksud wawasan nusantara hubungannya dengan daerah
pabean Indonesia?

28
4). Jelaskan batas laut teritorial yang ditentukan oleh negara yang pantainya
berhadapan dan berdampingan, dalam rangka pengawasan dan penindakan
kepabeanan.?
5). Untuk dapat diketahui posisi, dan haluan sarana pengangkut disamping
mengguna kan GPS, juga dapat menggunakan kompas. Jelaskan bagaimana cara
nya menentukan peta geografi dan posisi haluan sarana pengangkut tersebut.?

5.3. Rangkuman

Bagi Indonesia, kepentingan nasional di laut tidak terbatas hanya pada zona-zona
maritim yang merupakan wilayah negara, tetapi juga meliputi bagian-bagian laut di luar
wilayah negara di mana Indonesia memiliki hak-hak berdaulat dan yurisdiksi untuk
penggunaannya. Masalah batas wilayah dan yurisdiksi negara di laut sampai saat ini
masih menjadi persoalan sehingga perlu memperoleh perhatian untuk dijadikan sebagai
prioritas dalam penyusunan legislasi nasional.
Wilayah Indonesia memiliki perkembangan yang sangat pesat semenjak proklamasi
kemerdekaan, Deklarasi Djuanda, Pengesahan UNCLOS, dan sampai saat ini.
Perkembangan itu tidak dapat terlepas dari perjuangan diplomasi Indonesia di forum-
forum internasional. Wilayah Indonesia tidak dapat dibatasi perkembangannya di masa
lampau, sekarang ataupun di masa datang. Perkembangan yang ada di dunia dari
berbagai sisi, seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya tentunya akan ikut
mempengaruhi kewilayahan Indonesia. Semua hal yang ada di dalam peta NKRI ini
akan selalu mengikuti perkembangan dari wilayah NKRI karena bertujuan untuk
memberikan gambaran umum wilayah Indonesia. Peta NKRI bukanlah “barang“ yang
sakral dari sebuah perubahan. Itulah sebabnya peta NKRI juga disebut sebagai atlas
yang dinamis. Pencantuman peta NKRI di dalam sebuah ketentuan perundangan
tentunya akan mempersempit ruang gerak perkembangan kewilayahan Indonesia,
termasuk di dalamnya juga terkait dengan border diplomacy yang dijalankan oleh
pemerintah Indonesia selama ini. Dengan bantuan perangkat GPS disamping akan
mempermudah untuk menentukan arah juga akan mecegah atau memperkecil resiko
tersesat maupun kehilangan arah saat dalam perjalanan. Jelaslah disini bahwa wasantara
adalah pengejawantahan falsafah Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara
Republik Indonesia. Kelengkapan dan keutuhan pelaksanaan wasantara akan terwujud
dalam terselenggaranya ketahanan nasional Indonesia yang senantiasa harus

29
ditingkatkan sesuai dengan tuntutan zaman. Walaupun telah ditetapkan koordinat pada
peta navigasi namun penindakan terhadap sarana pengangkut yang diduga melakukan
pelanggaran pelayaran, penerbangan atau perjalanan tidak sesuai jalur yang ditetapkan
belum optimal karena posisi sarana pengangkut wajib harus dapat diketahui atau
ditetapkan posisinya untuk menentukan menuju keluar daerah pabean Indonesia atau
masuk kedalam daerah pabean Indonesia. Untuk dapat diketahui posisi sarana
pengangkut disamping menggunakan GPS, juga dapat menggunakan kompas (jenis
kompas berupa kompas magnitik, kompas electric, liquit compas dan sarana lain secara
tradisional), kompas berbedoman pada arah utara atau selatan, misalnya dengan
berpedoman pada arah utara dan dengan memperhatikan posisi haluan sarana
pengangkut, arah haluan pada posisi jam berapa. Upaya penegakan hukum di bidang
kepabeanan dan cukai mutlak harus dilakukan, hal ini disebabkan oleh karena
pelanggaran terhadap ketentuan kepabeanan dan cukai memiliki dampak yang cukup
signifikan terhadap roda kehidupan suatu bangsa. Pelanggaran terhadap ketentuan
kepabeanan dan cukai memiliki dampak yang beraspek ekonomis, sosial dan budaya,
serta keamanan. Di sisi lain penegakan hukum di bidang kepabeanan dan cukai tidaklah
semudah membalikan telapak tangan, tidak semudah mengemukan teorinya, oleh
karena hambatannya pun tidak kalah beratnya. Sebagai aparat Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai selayaknya kita membekali diri dengan beragam pengetahuan dan kecakapan
guna mendukung pelaksanaan tugas kelak dengan jujur dan profesional di masa
mendatang. Oleh karenanya, sudah sepantasnya sebagai peserta didik hendaknya selalu
menyimak tatkala mendapat kesempatan curahan bahagian pengalaman berdinas dari
fasilitator, pengajar, widyaiswara, dosen maupun senior lainnya di lingkungan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

6. TEST FORMATIF

6.1. Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling benar dan tepat, dengan cara memberikan tanda lingkaran
pada huruf a, b, c, d untuk tiap Nomor pada soal dibawa ini.

Soal ini bobot nilai nya jumlah 30% untuk tiga puluh soal yang dapat Saudara kerjakan
dan jawabnya benar. (contoh: 1. a b c d ).

30
1). Agar pelaksanaan penindakan menjadi optimal, dilakukan kegiatan....
a. Penegahan
b. penelitian
c. pengawasan
d. penyelidikan

2). Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pegawai Bea dan Cukai dalam
pelaksanaan tugasnya mempunyai tanggungjawab yaitu tanggungjawab
pemeriksaan fisik barang dengan menggunakan pancaindera utamanya mata dan
tanggungjawab ....
a. keuangan
b. terhadap barang
c. terhadap semua barang
d. administrasi yang akuntabilitas

3). Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut yang telah


diratifikasi dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan
United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut), yang dikenal dengan nama ....
a. Laut teritorial
b. Unclos 1982
c. ZEE
d. Landas Kontinen

4). Penentuan batas landas lautan teritorial diukur dari garis yang menghubungkan
titik-titik ujung yang terluar pada pulau-pulau Negara Indonesia, adalah
berjarak....
a. 12 mil laut
b. 8 mil laut
c. 5 mil laut
d. 3,5 mil laut

31
5). Luas wilayah laut Indonesia sekitar 5.176.800 km2 ini berarti luas wilayah laut
Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Yang telah disepakati
oleh PBB tahun 1982 yang dikenal dengan disepakatinya ....
a. hukum Laut
b. hukum Laut Internasional
c. laut Teritorial
d. wilayah laut Indonesia.

6). Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia mempunyai kewenangan untuk
memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, dengan kewajiban
untuk menyediakan alur pelayaran....
a. internasional
b. nasional
c. lintas damai.
d. lintas laut

7). Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan
laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang
yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di
bawahnya ,diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia dan air di atasnya
dengan batas terluar adalah ....
a. 3,5 mil laut
b. 5 mil laut
c. 12 mil laut
d. 200 mil laut

8). Barangsiapa di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia melakukan tindakan-tindakan


yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan
Republik Indonesia dan hukum internasional yang berlaku di bidang penelitian
ilmiah mengenai kelautan dan mengakibatkan kerugian, wajib memikul
tanggung jawab dan membayar ganti rugi kepada ....
a. pemerintah Republik Indonesia.
b. menteri Keuangan RI
c. DJBC

32
d. kantor Pabean

9). Konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu
kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah
di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan, yang menyatukan
bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan
nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan
hankam,adalah....
a. daerah pabean Indonesia
b. kepabeanan
c. wilayah Negara
d. wawasan Nusantara

10). Aparatur penegak hukum di bidang penyidikan di Zona Ekonomi Eksklusif


Indonesia, yang ditunjuk oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia adalah ....
a. Polisi AIRUD
b. Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
c. Perwira Polri
d. Bakorkamla

11). Aparatur penegak hukum yang pelanggarannya dilakukan di Zona Ekonomi


Eksklusif Indonesia, di bidang penuntutan perkara tindak pidana pada
pengadilan negeri adalah....
a. polisi AIRUD
b. perwira Polri
c. penuntut umum atau jaksa
d. Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut

12). Kegiatan untuk eksplorasi dan/atau eksploitasi sumber daya alam atau kegiatan-
kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan/atau eksploitasi ekonomis seperti
pembangkitan tenaga dari air, arus dan angin di Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia yang dilakukan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum
Indonesia harus berdasarkan izin dari ...

33
a. Pemerintah Republik Indonesia
b. Menteri dalam negeri
c. Menteri perdagangan
d. Menteri keuangan

13). Produk hukum mengenai laut teritorial baru dilakukan secara formal pada tahun
1958 dalam ....
a. Sidang umum PBB
b. WTO
c. Konvensi Geneva.
d. Deklarasi Juanda

14). Dasar laut dan tanah dibawahnya diluar perairan wilayah R.I. sebagaimana
diatur dalam UU No 4 Prp.Th 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih,
dimana masih mungkin diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan
alam,adalah.
a. ZEE
b. Landas Kontinen Indonesia
c. Laut teritorial
d. Wilayah Republik Indonesia

15). Pada tahun 1957, Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda,


mengumumkan secara unilateral/sepihak bahwa lebar laut wilayah Indonesia
adalah 12 mil. Barulah dengan UU No. 4/Prp tahun 1960 tentang Wilayah
Perairan Indonesia ditetapkan ketentuan tentang laut wilayah Indonesia yang
diukur dari garis pangkal lurus selebar ....
a. 350 mil laut
b. 200 mil laut
c. 15 mil laut
d. 12 mil laut.

16). Barangsiapa melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ketentuan-


ketentuan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia dan hukum
internasional yang bertalian dengan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan

34
bangunan-bangunan lainnya di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan
mengakibatkan kerugian, membayar ganti rugi kepada pemilik pulau-pulau
buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya tersebut,dan kepada
orang yang melakukan pelanggaran....
a. dihukum
b. dipidana
c. dikenakan sanksi administrasi berupa denda
d. wajib memikul tanggung jawab

17). Bagi Indonesia, UNCLOS 1982 merupakan tonggak sejarah yang sangat
penting, yaitu sebagai bentuk pengakuan internasional yang telah digagas sejak
tahun 1957 terhadap konsep ....
a. Wawasan Nusantara
b. Daerah Pabean Indonesia
c. Kepabeanan
d. Wilayah Negara

18). Wilayah darat NKRI terdiri atas semua pulau-pulau milik Indonesia yang berada
di sebelah dalam garis pangkal....
a. pulau Indonesia
b. pepulauan Indonesia.
c. pulau terluar
d. pulau nusantara

19). Sedangkan sebagai negara kepulauan, maka wilayah Indonesia terdiri atas
perairan pedalaman, perairan kepulauan (archipelagic waters), laut wilayah, zona
tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan ....
a. pulau Indonesia
b. kepulauan Indonesia
c. landas kontinen
d. pulau nusantara

20). Usaha pemanfaatan kekayaan alam dilandas kontinen sesuai peraturan


perundangan yang berlaku adalah ....

35
a. eksplorasi dan eksploitasi
b. eksplorasi
c. eksploitasi
d. budidaya

21). Negara kepulauan dikenal sebagai Archipelago State yang diakui oleh ....
a. Konvensi PBB.
b. Konvensi meja bundar
c. Deklarasi juanda
d. Konvensi hukum laut

22). Manifestasi kedaulatan teritorial suatu negara adalah ....


a. batas teritorial
b. batas wilayah negara
c. batas ZEE
d. batas Landas kontinen

23). Laut sebagai bagian dari wilayah negara memiliki dua aspek utama, yaitu
keamanan (security) dan ....
a. kedaulatan
b. kemerdekaan
c. kesejahteraan (prosperity).
d. kebudayaan

24). Batas-batas yang telah disepakati dalam perjanjian harus ditunjukkan dalam
peta, atau dengan daftar koordinat geografis yang disertai data geodetic-nya,
adalah ....
a. Daerah perbatasan
b. Daerah Pabean
c. Wilayah Hukum
d. Wilayah Negara

25). Daerah daratan yang terbentuk secara alamiah di-kelilingi oleh air dan yang
berada di atas permukaan air pada waktu air pasang, adalah ....

36
a. pulau
b. daratan
c. teritorial
d. wilayah Republik Indonesia

26). Garis air yang bersifat tetap di suatu tempat tertentu yang menggambarkan
kedudukan permukaan air laut pada surut yang terendah, adalah ....
a. garis air tertinggi
b. garis air rendah
c. garis perairan
d. garis laut tertinggi

27). Indonesia terletak pada dua buah landasan kontinen, yaitu landasan kontinen
Australia dan ....
a. landasan kontinen Indonesia
b. landasan kontinen nusantara
c. landasan kontinen Asia
d. landasan kontinen Asia tenggara.

28). Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan


penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang
dihubungkan oleh ....
a. perairan
b. darat
c. daratan
d. laut

29). Setiap penelitian ilmiah kelautan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia hanya
dapat dilaksanakan setelah permohonan untuk penelitian disetujui oleh....
a. Departemen Perhubungan
b. Pemerintah Republik Indonesia.
c. Departeman dalam negeri
d. Departemen luar negeri

37
30). Wilayah darat NKRI terdiri atas semua pulau-pulau milik Indonesia yang berada
di sebelah dalam garis pangkal ....
a. kepulauan Indonesia
b. pulau Indonesia
c. perairan Indonesia
d. laut Indonesia

6.2. Soal Pilihan Benar dan Salah

Pilihlah jawaban yang menurut Saudara adalah yang paling benar dan tepat, dengan
cara memberikan tanda lingkaran pada huruf B (bila jawaban yang dipilih adalah yang
benar), dan S (bila jawaban yang dipilih adalah yang Salah) untuk tiap nomor pada
soal dibawa ini: (contoh: 1. B,S )
Soal ini bobot nilai nya jumlah 10% untuk sepuluh soal yang dapat Saudara kerjakan
dan jawabannya benar.

1). B–S Setelah konvensi hukum laut 1982 yang diberlakukan sebagai
hukum positif sejak tanggal 16 Nopember 1994 wilayah RI.
bertambah lagi 3 juta km² ( zee indonesia dan landas kontinen).
2). B–S United nations convention on the law of the sea dikenal dengan
Uncle 1982
3). B–S Pemerintah Indonesia terus memperjuangkan agar konsepsi hukum
negara kepulauan diterima dan diakui masyarakat internasional.
Perjuangan tersebut akhirnya telah menghasilkan pengakuan
masyarakat internasional secara universal (semesta) yaitu dengan
diterimanya pengaturan mengenai asas dan rezim hukum negara
kepulauan (Archipelagic State) dalam Bab IV Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982
4). B–S Bahwa segala air di sekitar, di antara dan yang menghubungkan
pulau-pulau yang termasuk Negara Indonesia dengan tidak
memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar
daripada wilayah daratan Negara Indonesia dan dengan demikian
bagian daripada perairan pedalaman atau nasional yang berada di
bawah kedaulatan mutlak Negara Indonesia.

38
5). B–S Penguasaan penuh dan hak eksklusif atas kekayaan alam di Landas
Kontinen Indonesia serta pemilikannya ada pada Pejabat Negara.
Dalam hal landas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang
terdapat di landas Kontinen Indonesia, berbatasan dengan negara
lain, penetapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat
dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai
suatu persetujuan.
6). B– S Berdasarkan konsepsi TZMKO Th1939, lebar laut wilayah perairan
Indonesia hanya meliputi jalur-jalur laut yang mengelilingi setiap
pulau atau bagian pulau Indonesia yang lebarnya hanya 3 mil laut.
7). B–S Penetapan Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
sebagai aparat penuntut umum di Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia.
8). B–S Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan
berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan
berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan
Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di
atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari
garis pangkal laut wilayah Indonesia.
9). B–S Wilayah negara proklamasi adalah wilayah negara ex kekuasaan
Jepang, hal ini sejalan dengan prinsip hukum internasional uti
possidetis juris.

10). B – S Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan


kepulauan dan perairan pedalamannya.

6.3. Soal Isian / mengisi kalimat atau kata (Soal melengkapi kalimat)

Lengkapilah kalimat dibawah ini agar menjadi kalimat atau pernyataan yang lengkap
dan benar, dengan cara mengisi pernyataan atau jawaban Saudara dituliskan pada
kolom atau ruang kosong yang bertanda titik-titik (.....)

39
Soal ini bobot nilai nya jumlah 20% untuk lima soal yang dapat Saudara kerjakan dan
jawabannya benar.

1). Pada peta navigasi terdapat garis atau data angka yang sejajar dengan katulistiwa
dinamakan bujur,untuk wilayah Indonesia hanya memiliki daerah ………

2). Setelah konvensi hukum laut 1982 (unclos 1982) yang diberlakukan
sebagai hukum positif sejak tanggal 16 Nopember 1994 wilayah Republik
Indonesia bertambah lagi 3 juta km² ( zee Indonesia dan landas kontinen).
Dengan demikian, luas keseluruhan wilayah Indonesia menjadi ………………

3). Dalam peta NKRI juga dicantumkan nama-nama geografis pulau-pulau terluar
milik Indonesia yang berada di sebelah dalam garis pangkal kepulauan
Indonesia, serta digambarkan letak …………………………………………….

4). Wilayah Indonesia ditentukan pertama kali dengan ……………………………

5). Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar ……………………. ke arah
laut terbuka diukur dari garis dasar.

6.4. Soal Uraian.

Jawablah soal dibawah ini dengan cara menulis uraian jawabannya diatas kertas yang
disediakan atau diatas lembar soal yang disediakan untuk menjawab soal uraian. Soal
ini bobot nilai nya jumlah 40% untuk dua soal yang dapat Saudara kerjakan dan
jawabannya benar.
1). Jelaskan pergerakan atau perjalanan atau pelayaran dan penerbangan yang
dilakukan oleh sarana pengangkut harus selalu berpedoman pada apa saja !

2). Jelaskan bagaimana caranya Saudara menetapkan atau membuat koordinat pada
peta navigasi dalam hal dapat diputuskan apakah sarana pengangkut tersebut
telah melanggar daerah pabean Indonesia.!

40
7. Kunci Jawaban Test Formatif

7.1. Kunci Jawaban untuk latihan 6.1. Pilihan Ganda:


1.c 2.d 3.b 4.a 5.b 6.c 7.d 8.a 9.d 10.b
11.c 12.a 13.c 14.b 15.d 16.d 17.a 18.c 19.c 20.a
21.a 22.b 23.c 24.d 25.a 26.b 27.c 28.d 29.b 30.a

7.2. Kunci Jawaban untuk latihan 6.2. Betul Salah:


1B 2S 3B 4S 5S 6B 7S 8B 9S 10B

7.3. Kunci Jawaban untuk latihan 6.3. Melengkapi kalimat (mengisi titik-titik):
1). bujur timur (BT),
2). 8 juta km²
3). alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).
4). Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939 ( TZMKO 1939 )
5). 200 mil laut

41
7.4. Kunci Jawaban untuk latihan 6.4. Soal Uraian. (Lihat Materi Modul)

8. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul
ini. Hitung jawaban Anda dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman terhadap materi.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai :
91 % s.d 100 % : Amat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

42
Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka
disarankan mengulangi materi.

9. Daftar Pustaka :
- Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20 ayat. (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-
Undang Dasar 1945;
- Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara;
- Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran
Negara Tahun 1960 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942);
- Undang-undang No. 44 Prp Th 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Th 1960 No. 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2070);
- Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2831);
- Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia
(Lembaran Negara Th 1973 Nomor 1,Tambahan Lembaran Negara Nomor 2294);

43
- Undang-undang Nomor. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3209);
- Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);
- Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun
1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234);

44
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR
KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL II
KEWENANGAN PENGAWASAN DAN
PENINDAKAN KEPABEANAN

OLEH :
TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA
2008
DAFTAR ISI

Halaman

Daftar Isi............................................................................................................. i

1. PENDAHULUAN
2.1 Deskripsi Singkat................................................................................ 1
1.4 Tujuan Instruksional Umum (TIU)………………………………..... 2
1.5 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)……………………………….... 2
2.4. Petunjuk Pembelajaran …………………………………………….. 2
2. Kegiatan Belajar (KB 1) :
PENGAWASAN KEPABEANAN
2.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh ………………………………….. 3
2.3.a. Latar Belakang Pengawasan Kepabeanan ..………………... 3
2.3.b. Perlunya Pengawasan Kepabeanan ....................................... 9
2.4 Latihan .............................................................................................. 12
2.5 Rangkuman........................................................................................ 12

3. Kegiatan Belajar (KB) 2


PENINDAKAN KEPABEANAN
3.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh…………………………………… 14
3.1.d. Penghentian Sarana Pengangkut .………………………….. 15
3.1.e. Penghentian Pembongkaran Barang ..……………………… 17
3.1.f. Pemeriksaan Sarana Pengangkut …………………………… 18
3.1.g. Pemeriksaan Barang ………………………………………... 21
3.1.h. Pemeriksaan Bangunan atau Tempat Yang Bukan Merupakan
Rumah Tinggal ……………………………………………… 34
3.1.i. Pemeriksaan Badan Orang ………………………………….. 37
3.1.j. Penegahan di Bidang Kepabeanan ………………………….. 40
3.1.k. Penyegelan …………………………………………………... 48
3.2 Latihan …………………………………………………………....... 55
3.2 Rangkuman…………………………………………………………. 55

i
4. Test Formatif………………………………………………………...... 56

5. Kunci Jawaban Tes Formatif………………………………………… 67

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut......................................................... 68

7. Daftar Pustaka ...................................................................................... 69

ii
MODUL II

KEWENANGAN PENGAWASAN DAN


PENINDAKAN KEPABEANAN

1. PENDAHULUAN

1.1. Deskripsi Singkat

Latar belakang disusunnya modul kewenangan pengawasan dan penindakan


kepabeanan dalam rangka memenuhi dan melengkapi siswa atau peserta didik
mengetahui, memahami, melaksanakan pengawasan dan penindakan kepabeanan untuk
mendukung, menunjang tujuan organisasi DJBC mengoptimalkan penerimaan negara,
dan dilaksanakannya/dipatuhinya Undang-undang Kepabeanan dan peraturan
pelaksanaanya. Pelaksanaan pengawasan dilakukan dalam rangka kegiatan prefentif,
yang termasuk ruang lingkup administrasi kepabeanan, sedangkan penindakan itu
sendiri dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup
perbuatan yang dilakukan secara fisik.
Dengan demikian diharapkan siswa atau peserta diklat memperbaiki dan
menambah pengetahuan, agar lebih terampil dalam pelaksanaan tugas kepabeanan yang
menjadi sisi sentral dari upaya organisasi untuk menegakkan citranya di masyarakat.
Hukum adalah kaedah-kaedah yang diberlakukan disuatu masyarakat yang dipatuhi dan
bila dilanggar mempunyai sanksi bagi pelakunya. Hukum sebagai suatu perangkat
aturan yang mengatur tata cara hidup bermasyarakat, dari pengertian singkat ini maka
istilah ’pelanggaran hukum’ adalah adanya upaya melanggar aturan-aturan yang telah
dibuat dan telah ditetapkan. Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan, yang dimaksud
dengan kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas
lalu-lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk
dan bea keluar. Dari pengertian tersebut sangat jelas bahwa institusi bea dan cukai
memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,
yaitu melakukan pengawasan terhadap barang yang keluar atau masuk ke dan/atau dari
daerah pabean Indonesia serta melakukan pungutan bea masuk, dan pajak dalam rangka
impor sebagai penerimaan negara.

1
1.2. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Dengan mengetahui, memahami, melaksanakan isi kegiatan pembelajaran ini,


siswa atau peserta didik diharapkan lebih terampil dalam pelaksanaan tugas yang
dimaksudkan oleh modul kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan.

1.3. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari modul tentang kewenangan pengawasan dan penindakan


kepabeanan ini, siswa atau peserta didik diharapkan:
– mampu menjelaskan, dan melaksanakan pengawasan kepabeanan
– mampu menjelaskan, dan melaksanakan penindakan kepabeanan

1.4. Petunjuk Pembelajaran

Bacalah dengan cermat dan teliti modul tentang kewenangan pengawasan dan
penindakan kepabeanan ini, setelah selesai membaca dan memahami materi
pembelajaran, jawablah soal latihan dan pahami rangkuman pembelajaran. Dalam hal
siswa atau peserta diklat merasa jawaban soal latihan hasilnya belum mencapai enam
puluh lima persen, agar membaca dan memahami kembali modul ini utamanya yang
belum dimengerti. Dalam hal masih belum dapat dimengerti materi pembelajaran ini
tanyakan kepada pengajar, dan/atau kelompok belajar Anda. Pada menjelang akhir
pembelajaran kerjakan atau jawablah seluruh test formatif, setelah selesai dikerjakan
jawaban agar dicocokan hasil/jawaban dengan kunci jawaban yang telah disediakan
pada modul ini. Bila berhasil menjawab dengan benar lebih dari enam puluh lima
persen, dinyatakan cukup berhasil, dalam hal ingin lebih baik lagi hasilnya agar
mengulangi membaca kembali bagian yang belum dipahami atau dimengerti.

2
2. KEGIATAN BELAJAR (KB) 1

PENGAWASAN KEPABEANAN

2.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

2.1.a. Latar Belakang Pengawasan Kepabeanan

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara yang memiliki letak


yang sangat strategis karena berada di antara dua benua, yaitu benua Asia dan Australia,
serta berada di antara dua samudra, samudra Hindia dan samudra Pasifik, oleh karena
itu, sejak zaman dahulu kala Indonesia merupakan daerah perdagangan yang cukup
ramai.
Di era sekarang perdagangan internasional jauh lebih maju dibandingkan pada
era penjajahan dulu kala, komoditinya pun bermacam – macam. Perkembangan dunia
perdagangan internasional menunjukkan perkembangan yang cukup pesat pada awal
abad 20-an. Perkembangan yang cukup pesat ini diimbangi kemajuan dari segi
teknologi informasi yang memungkinkan peredaran arus barang dan dokumen semakin
cepat. Arus perdagangan antar negara yang semakin meningkat ini, menyebabkan
pemeriksaan 100% atas sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya atau
diangkutnya yang masuk ke wilayah Indonesia semakin mustahil untuk dilakukan.
Keadaan yang demikian menyebabkan Indonesia rawan terhadap ancaman yang datang
dari luar wilayah Indonesia, baik itu berupa ancaman yang secara langsung dapat
dirasakan maupun ancaman yang bersifat tidak langsung yang efeknya dapat kita
rasakan setelah beberapa waktu, yang merupakan dampak dari perkembangan
perdagangan inernasional itu sendiri.
Tugas bea dan cukai yang berada digaris depan wilayah Indonesia sebagai pintu
penjaga perbatasan atas masuk dan keluarnya barang impor dan ekspor, memiliki peran
yang sangat penting bagi kelancaran arus barang yang keluar masuk wilayah Negara
kesatuan republik Indonesia ini. Berdasarkan pasal 1 Undang-undang nomor 10 tahun
1995 tentang kepabeanan, kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
pengawasan atas lalu-lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean dan
pemungutan bea masuk.

3
Berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 tentang kepabeanan,
kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu-
lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea masuk dan
bea keluar.
Dari pengertian pada pasal 1 tersebut sangat jelas bahwa institusi bea dan cukai
memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,
yaitu melakukan pengawasan terhadap barang yang keluar atau masuk ke daerah
pabean Indonesia serta melakukan pungutan uang untuk negara.

DAERAH PABEAN

UT AL
LA ORI
R IT
T E

WILAYAH
REPUBLIK AT U
MP T
L TE TEN E
MI INDONESIA R
T E DI Z
E
0
20
E
ZE

IL AT
M MP TU
50
TE EN AS
RT D N
3 AS N TE LAN INE
AND INE DI NT
L NT KO
KO SLIDE PHKC (DTSS/STAN) 3

Negara kesatuan Republik Indonesia yang terletak pada koordinat 60 LU-110LS dan 950
BT-1410 BT serta keadaan geografis dari negara kesatuan republik Indonesia yang
sangat luas dan berupa kepulauan merupakan suatu kendala yang cukup berarti bagi
terlaksanaan tugas pengawasan karena jumlah personil di lingkungan Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai kurang cukup memadai jika dibandingkan dengan luas wilayah
yang menjadi tanggung jawab dari institusi tersebut. Kendala–kendala serta hambatan –
hambatan seperti ini sering dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab
untuk menghindar dari kewajiban terhadap negara, yaitu kewajiban pembayaran bea
masuk atau bea keluar.

4
Institusi kepabeanan dan cukai yang memiliki peranan yang sangat vital dalam
hal perdagangan internasional dituntut untuk melakukan pengawasan terhadap barang –
barang yang masuk ke wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Insitusi
kepabeanan dan cukai memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan penjagaan terhadap
stabilitas keamanan dan stabilitas perekonomian dalam negeri. Oleh karena itu, institusi
kepabeanan dan cukai harus mengeluarkan peraturan – peraturan yang dapat
mendukung terlaksananya perdagangan internasionl tanpa harus menghambat kegiatan
perdagangan itu sendiri, serta harus dapat melakukan adaptasi terhadap perkembangan
teknologi dan perkembangan situasi yang terjadi saat ini.
Banyaknya tuntutan terhadap tugas dari institusi kepabeanan dan cukai, tidak
diimbangi dengan sumber daya manusia yang digunakan untuk melakukan pengawasan
terhadap seluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia yang demikian luasnya.
Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya praktik – praktik penyelundupan yang
dapat merugikan negara Indonesia, dibuatlah ketentuan – ketentuan yang menjadi
landasan bagi pegawai institusi kepabeanan dan cukai untuk melakukan tindakan
pengamanan terhadap hak – hak negara terhadap ancaman penyelundupan serta
kegiatan pelanggaran hukum di bidang kepabeanan dan cukai dengan cara melakukan
pengawasan untuk dapat diketahuinya ada atau tidaknya pelanggaran terhadap
ketentuan yang berlaku. Untuk mengetahui apa yang dimaksud pelanggaran hukum,
maka disampaikan pengertian hukum.
Hukum adalah kaedah-kaedah yang diberlakukan disuatu masyarakat yang
dipatuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi bagi pelakunya. Soerjono Soekanto
mendefinisikan hukum sebagai suatu perangkat aturan yang mengatur tata cara hidup
bermasyarakat (Soekanto, 1987, hal. 23). Dari pengertian singkat ini maka istilah
’pelanggaran hukum’ adalah adanya upaya melanggar aturan-aturan yang telah dibuat
dan telah ditetapkan.
Dalam hukum pidana, dikenal adanya hukum pidana materiel dan hukum pidana formil.
Hukum pidana materiel adalah ketentuan-ketentuan hukum yang berisi tentang
perbuatan-perbuatan apa saja yang dilarang dan diharuskan, subyek hukum, dan
ancaman pidana bila perbuatan-perbuatan tersebut dilarang.
Namun, hukum pidana materiel ini tidak akan mempunyai arti apa-apa bila tidak
dapat ditegakan atau dipertahankan. Untuk itulah dibutuhkan apa yang disebut hukum
pidana formil, yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur bagaimana
mempertahankan dan menegakan hukum pidana materiel tersebut. Hukum pidana

5
formil berisikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana melakukan
penyelidikan adanya suatu tindak pidana materiel dan siapa penyelidik itu, bagaimana
dan siapa yang dapat melakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang
pengadilan. Jadi hukum pidana formil ini adalah inti dari suatu proses penegakan
hukum.
Dalam tata hukum pidana Indonesia ketentuan hukum materiel tersebut diatur
dalam KUHP dan ketentuan-ketentuan pidana lain yang tersebar dibeberapa ketentuan
hukum di bidang-bidang tertentu, antara lain ketentuan pidana yang terdapat di dalam
Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dan Undang-Undang
Nomor 17 tahun 2006 tentang Amandemen atas Undang-Undang Nomor 10 tahun
1995 tentang Kepabeanan. Sedangkan hukum pidana formil ber-induk pada Undang-
Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana serta
beberapa ketentuan hukum pidana formil yang terdapat dibeberapa ketentuan hukum di
bidang tertentu lainnya.
Mengacu pada uraian tersebut diatas, maka pengawasan dan penindakan
kepabeanan sesungguhnya meliputi kegiatan-kegiatan penyelidikan, penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di persidangan. Namun berdasarkan PP No.21 tahun
1996, penindakan meliputi:
a. Penghentian dan pemeriksaan terhadap sarana pengangkut;
b. Pemeriksaan terhadap barang, bangunan atau tempat lain, surat atau dokumen yang
berkaitan dengan barang, atau terhadap orang;
c. Penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut; dan
d. Penguncian, penyegelan, dan/atau pelekatan tanda pengaman yang diperlukan
terhadap barang maupun sarana pengangkut.
Dalam konteks pembelajaran pengawasan dan penindakan kepabeanan, pokok
bahasan hanya akan dibatasi pada pembahasan tentang penindakan dan penyidikan di
bidang kepabeanan saja.
Salah satu tugas yang harus diemban oleh instansi bea dan cukai adalah tugas
pengawasan yang memiliki peranan yang sangat vital terhadap ditaatinya peraturan-
peraturan yang telah dibuat. Pengawasan adalah suatu kegiatan untuk menjamin atau
menjaga agar rencana dapat diwujudkan dengan efektif.
Organisasi mempunyai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Untuk menjaga agar organisasi itu dapat mencapai tujuannya mutlak diperlukan
pengawasan. Pengawasan berfungsi menjaga agar seluruh jajaran berjalan di atas rel

6
yang benar. Pengawasan dapat dilakukan dari jauh maupun dari dekat. Pengawasan
dari jauh disebut pemantauan atau monitoring ini dapat dilakukan menggunakan sarana
telepon, fax, atau radio. Wujud pengawasan cara ini adalah permintaan laporan kepada
bawahan dan jawaban dari bawahan atas permintaan tersebut. Jika pengawasan dari
jauh tidak efektif dapat dilakukan pengawasan langsung ke obyeknya. Dalam hal ini
pengawasan yang dilakukan disebut sebagai pemeriksaan yang berarti pemeriksa
berhadapan langsung dengan obyek yang diperlukan.
Menurut Colin Vassarotti, tujuan pengawasan Pabean adalah memastikan semua
pergerakan barang, kapal, pesawat terbang, kendaraan dan orang-orang yang melintas
perbatasan Negara berjalan dalam kerangka hukum, peraturan dan prosedur pabean
yang ditetapkan (lihat Colin Vassarotti, “Risk Management – A Customs Prespective”,
hal.19). Untuk menjaga dan memastikan agar semua barang, sarana pengangkut dan
orang yang keluar/masuk dari dan ke suatu negara mematuhi semua ketentuan
kepabeanan. Yang dimaksud dengan sarana pengangkut, adalah kapal laut, pesawat
udara, mobil, dan kereta api. Sedangkan yang dimaksud pengangkut untuk kapal laut
adalah nakoda, pesawat udara adalah pilot, mobil adalah sopir, dan kereta api adalah
masinis.
Setiap administrasi pabean harus melakukan kegiatan pengawasan. Kegiatan
pengawasan pabean meliputi seluruh pelaksanaan wewenang yang dimiliki oleh petugas
pabean dalam perundang-undangannya yaitu memeriksa sarana pengangkut, barang,
penumpang, dokumen, pembukuan, melakukan penyitaan, penangkapan, penyegelan,
dan lain-lain. Dalam modul pencegahan pelanggaran kepabeanan yang dibuat oleh
World Customs Organization (WCO) disebutkan bahwa pengawasan pabean adalah
salah satu metode untuk mencegah dan mendeteksi pelanggaran kepabeanan.
Berdasarkan modul WCO tersebut dinyatakan bahwa pengawasan Bea Cukai yang
mampu mendukung pendeteksian dan pencegahan penyelundupan paling tidak harus
mencakup kegiatan penelitian dokumen, pemeriksaan fisik, dan audit pasca-impor.
Kewenangan bea dan cukai berupa patroli juga termasuk kegiatan pengawasan,
pelaksanaan patroli di darat, laut, dan udara yang bertujuan untuk mencegah, menindak
dan melakukan penyidikan tindak pidana kepabeanan, di samping itu kegiatan patroli
juga merupakan pengawasan Bea Cukai untuk mencegah penyelundupan. Pengawasan
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penindakan, saling terkait dan saling mengisi.
Pengawasan merupakan kegiatan untuk meyakinkan bahwa sesuatu berjalan
sebagaimana mestinya. Pengawasan lebih cenderung kepada upaya-upaya pencegahan

7
yang bersifat preventif dan persuasif daripada tindakan yang bersifat represif.Apabila
dipandang dari sifatnya pengawasan dapat dikategorikan menjadi beberapa macam
yaitu :
– Pengawasan yang bersifat Built in.
Pengawasan ini berdasarkan satu paket dan terbagi atas spesialisasi dari masing-
masing bidang.
PERAIRAN INDONESIA DAN
YURISDIKSI NASIONAL INDONESIA

0 MIL 12 MIL 24 MIL 200 MIL 350 MIL


KEPULAUAN

ZONA
PERAIRAN

TAMBA
HAN

ZEE
ZONA LANDAS
LAUT
EKONOMI KONTINEN
TERITO
RIAL EKSKLOSIF

DARATAN DARATAN

LANDAS KONTINEN

KAWASAN
Dengan demikian unit pengawasan harus terpisah dari unit pelaksana. Contohnya
pengawasan internal seperti halnya dalam pengawasan terhadap kinerja pejabat bea
dan cukai, sedangkan pengawasan eksternal akan dilakukan oleh pengawas diluar
DJBC.
– Pengawasan yang bersifat intelijen
Pengawasan dengan pengumpulan data dan informasi, identifikasi dan analisis
terhadapnya sehingga akan menghasilkan apa yang disebut sebagai hasil intilijen.
Hasil ini akan disebarkan kepada unit opersional untuk melaksanakan pengawasan.
Unit intelijen seharusnya terpisah dengan unit operasional karena sistem dan cara
kerjanya beda.
– Pengawasan pemeriksaan pembukuan / Post Clearance Audit
Pengawasan yang dilakukan setelah selesainya beberapa prosedur pemberitahuan
dan pemeriksaan yang disebut dengan bersifat audit (pemeriksaan pembukuan).

8
Dilaksanakan setelah semua dokumen pabean dinyatakan selesai secara
prosedural dan setelah melalui proses pemeriksaan verifikasi.
Kegiatan penindakan dan penyidikan selanjutnya merupakan tindak lanjut dari
pengawasan pabean. Jika menemukan adanya pelanggaran atau tindak pidana akan
ditindaklanjuti dengan penindakan atau bahkan penyidikan. Penelitian dokumen atau
audit yang menemukan dokumen palsu akan segera ditindaklanjuti dengan penyidikan.
Demikian juga apabila dalam pemeriksaan fisik ditemukan barang yang dilarang akan
ditindaklanjuti dengan penyidikan.

2.1.b. Perlunya Pengawasan Kepabeanan

Dewasa ini masyarakat dunia semakin dikejutkan dengan perkembangan yang


pesat dari permasalahan lintas batas negara. Semakin maraknya kenyataan bahwa isu
nasional bisa sewaktu-waktu berkembang dengan tidak terkendali menjadi isu
internasional, telah menyadarkan bangsa-bangsa bahwa batas antara masalah-masalah
nasional dan masalah-masalah internasional tidak lagi dapat dipisahkan oleh batas yang
”rigid”, melainkan hanya dibatasi oleh selapis membran yang sangat tipis. Sejak awal,
para pendiri negara Indonesia sebagaimana para cendekia dunia lainnya juga telah
menyadari hal ini, sehingga di dalam konstitusi Indonesia pun tertuang pernyataan
bahwa bangsa Indonesia harus hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang diakui
oleh bangsa-bangsa beradab di dunia. Oleh karena itu, tentunya tidak mengherankan
jika Indonesia kemudian dalam perjalanan kenegaraannya banyak menunduk kan diri
kepada hukum internasional, hampir di semua aspek kehidupan bermasyarakat. Bahkan
seringkali suatu ketentuan hukum internasional yang tertuang dalam satu konvensi
internasional, misalnya, hanya dibuatkan Undang-Undang Pengesahannya, dimana
ketentuan ketentuan yang termuat dalam konvensi tersebut sebenarnya dapat langsung
berlaku sebagai hukum di wilayah yurisdiksi Indonesia. Akan tetapi sayangnya,
meskipun semangat untuk terlibat di dalam pembentukan dan pelaksanaan hukum
internasional itu begitu besar, kenyataan di lapangan sering bicara lain. Banyak sekali
konvensi yang telah diratifikasi oleh Indonesia belum dapat dilaksanakan dengan efektif
karena berbagai dalih, seperti belum ada peraturan pelaksanaannya, kurangnya
pengetahuan aparat penegak hukum mengenai hukum internasional yang terkait dengan
Indonesia, sampai dengan belum pahamnya jajaran pemerintah dan masyarakat awam
atas pemberlakuan hukum internasional di Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri,

9
kepastian hukum internasional, baik dalam daya mengikatnya, pengawasannya dan
penindakannya sangat rentan, karena digantungkan pada kemauan suatu negara
berdaulat untuk menundukkan diri kepadanya. Namun demikian sifat koordinatif
hukum internasional itulah yang membuat hukum internasional tetap ada di antara
bangsa-bangsa di dunia, sehingga dengan alasan apapun keberadaannya untuk menjaga
keseimbangan hidup negara-negara beradab tetap diperlukan. Oleh karenanya
pemahaman terhadapnya dan upaya-upaya mengimplementasi kannya serta
penindakkan nya tetap harus dilakukan, khususnya di Indonesia. Terdorong oleh
pemikiran di atas, maka perlu untuk mengkaji masalah-masalah hukum internasional
yang ada, khususnya yang mempunyai implikasi dengan kehidupan bermasyarakat dan
bernegara di Indonesia. Termasuk tentu untuk menganalisa sejauh mana suatu
ketentuan hukum internasional yang telah diratifikasi oleh Indonesia telah dilaksanakan
dengan efektif, dan kendala-kendala yang ditemukan dalam pengimplementasiannya.
Sosialisasi hukum internasional pun menjadi suatu agenda, mengingat peran
hukum internasional yang tidak bisa diabaikan jika negara-negara di dunia ingin hidup
dalam suasana yang saling menghargai kepentingan satu sama lain. Secara luas
tentunya perlu mengambil peran aktif dalam menjembatani kepentingan masyarakat dan
negara Indonesia di satu sisi dengan kepentingan masyarakat internasional di sisi lain,
agar keduanya bisa berjalan berdampingan dengan harmonis. Hal-hal yang sepatutnya
dilaksanakan dalam pelaksanaan penindakan dibidang kepabeanan meliputi, penetapan
dan penentuan batas wilayah Indonesia dan yurisdiksi negara di laut menurut hukum
laut internasional dan peraturan perundang-undangan nasional, masalah penamaan
pulau-pulau, pulau-pulau terluar, dan batas-batas terluar yurisdiksi Indonesia. Perspektif
penyelesaian perjanjian batas maritim antara Indonesia dan negara tetangga,
peningkatan peranan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam penegakan hukum di
wilayah perbatasan Indonesia, aspek hukum pencegahan trans-national organized
crimes di wilayah perbatasan, pengelolaan dan pengembangan wilayah perbatasan
Indonesia, penerapan dan penegakan suatu produk hukum internasional di Indonesia,
sosialisasi suatu produk hukum internasional yang telah mengikat Indonesia; membantu
instansi pemerintah terkait dalam menelaah penerapan, penegakan dan pengembangan
suatu produk hukum internasional; Bekerjasama dengan berbagai lembaga baik
pemerintah (governmental organization) maupun swasta (non governmental
organization), nasional maupun asing, termasuk dengan berbagai organisasi
internasional (international organization) dalam pengembangan hukum internasional.

10
Indonesia sebagai sebuah negara besar yang berupa kepulaun tentunya memiliki
wilayah kedaulatan hukum yang luas pula. Wilayah kedaulatan hukum Indonesia yang
lebih kita kenal sebagai wilayah yurisdiksi Indonesia memiliki batas-batas wilayah yang
”seolah” tidak permanen. Hal ini mengingat bentuk wilayah Indonesia yang berupa
kepulauan sehingga batas wilayah sangat bergantung pada keadaan pesisir pulau-pulau
terluar dan keadaan pasang surut perairan terluar Indonesia. Geografis Indonesia
sebagai negara kepulauan dengan posisi di antara benua Asia dan Australia serta di
antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, menempatkan Indonesia menjadi daerah
kepentingan bagi negara-negara dari berbagai kawasan. Posisi strategis ini
menyebabkan kondisi politik, ekonomi, dan keamanan di tingkat regional dan global
menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kondisi Indonesia.
Dalam era globalisasi abad ke 21 ini, perkembangan lingkungan strategis
regional dan global lebih menguat pengaruhnya terhadap kondisi nasional karena
diterimanya nilai-nilai universal seperti perdagangan bebas, demokratisasi, serta hak
asasi dan lingkungan hidup. Eksistensi kepentingan negara-negara besar di kawasan ini
mendorong terjalinnya hubungan timbal balik yang erat antara permasalahan dalam
negeri dan luar negeri yang memiliki kepentingan bersama. Informasi kejadian di
dalam negeri dengan cepat menyebar ke segala penjuru dunia, selanjutnya negara-
negara lain akan memberikan responnya sesuai kepentingannya masing-masing.
Sebaliknya, informasi kejadian di negara lain, khususnya negara-negara besar dan
negara-negara di kawasan ini, dengan cepat mencapai seluruh wilayah, dan
mempengaruhi kondisi nasional. Demikian pula halnya dengan isu keamanan, ancaman
yang berasal dari luar dan ancaman yang timbul di dalam negeri selalu memiliki
keterkaitan dan saling mempengaruhi, sehingga sulit untuk dapat dipisahkan.
Perbedaan hanya mungkin dilakukan dalam konteks bentuk dan organisasi
ancaman, sementara perbedaan berdasarkan sumber timbulnya ancaman, sangat sulit
ditentukan. Dimulai dari dasar kenyataan tersebut, upaya pertahanan tidak hanya
mengacu pada isu keamanan tradisional, yakni kemungkinan invasi atau agresi dari
negara lain, tetapi juga pada isu keamanan non-tradisional, yaitu setiap aksi yang
mengancam kedaulatan hukum, keutuhan wilayah, kestabilan nasinal, serta keselamatan
bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mencermati kecenderungan
perkembangan lingkungan strategis, ancaman invasi atau agresi militer negara lain
terhadap wilayah teritorial Indonesia diperkirakan kecil kemungkinannya terjadi. Upaya
diplomasi, peran PBB, dan opini dunia internasional menjadi faktor yang akan

11
mencegah, atau sekurang-kurangnya membatasi negara lain untuk mengguna kan
kekuatan bersenjatanya terhadap Indonesia. Sehingga ruang lingkup pengawasan di
bidang kepabeanan adalah seluruh wilayah Indonesia meliputi laut teritorial sejauh 12
mil laut yang diukur dari pulau terluar, ZEE (zone ekonomi eksklusif) sejauh 200 mil
laut yang diukur dari pulau terluar, landas kontinen sejauh 350 mil laut yang diukur
dari pulau terluar, dan seluruh ketentuan yang pelaksanaannya dibebankan kepada bea
dan cukai.

2.2. Latihan

1). Apa saja ancaman yang secara langsung dapat dirasakan maupun ancaman yang
bersifat tidak langsung yang efeknya dapat kita rasakan setelah beberapa waktu,
yang merupakan dampak dari perkembangan perdagangan Internasional itu
sendiri. Jelaskan? Bagaimana hubungannya dengan kewenangan pengawasan
dan penindakannya ?
2). Kendala dan hambatan apa sajakah yang ditemui DJBC dalam pelaksanaan
kewenangan pengawasan dan penindakan terhadap kegiatan yang sering
dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghindar dari
kewajiban terhadap negara untuk pemenuhan pembayaran bea masuk atau bea
keluar.? Jelaskan!
3). Pengawasan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penindakan,
saling terkait dan saling mengisi. Jelaskan mengapa pengawasan tidak
terpisahkan dari penindakan kepabeanan!
4). Jelaskan apa saja pelaksanaan penindakan dibidang kepabeanan dalam
hubungannya dengan kewenangan pengawasan dan penindakan kepabeanan!
5). Jelaskan bentuk kerjasama apa sajakah antara pemerintah dengan swasta
nasional maupun asing, termasuk dengan berbagai organisasi internasional
dalam hubungan nya dengan kewenangan pengawasan dan penindakan
kepabeanan!.

2.3. Rangkuman

Pelaksanaan pengawasan dilakukan dalam rangka kegiatan prefentif, yang


termasuk ruang lingkup administrasi kepabeanan, sedangkan penindakan itu sendiri

12
dilakukan dalam rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup
perbuatan yang dilakukan secara fisik. Tugas bea dan cukai yang berada digaris depan
wilayah Indonesia sebagai pintu penjaga perbatasan atas masuk dan keluarnya barang
impor dan ekspor, memiliki peran yang sangat penting bagi kelancaran arus barang
yang keluar masuk wilayah Negara kesatuan republik Indonesia ini.
Untuk dapat diketahui kepatuhan terhadap pemenuhan kewajiban pabean maka
DJBC melakukan pengawasan atas barang yang masuk dan/atau keluar wilayah
Indonesia, dengan cara mewajibkan barang yang masih terhutang pungutan negara
yang diangkut oleh sarana pengangkut wajib dilindungi dokumen pengangkutan dan
wajib menuju tujuan pertama di kantor pabean. Dalam era globalisasi abad ke 21 ini,
perkembangan lingkungan strategis regional dan global lebih menguat pengaruhnya
terhadap kondisi nasional karena diterimanya nilai-nilai universal seperti perdagangan
bebas, demokratisasi, serta hak asasi dan lingkungan hidup.
Eksistensi kepentingan negara-negara besar di kawasan ini mendorong
terjalinnya hubungan timbal balik yang erat antara permasalahan dalam negeri dan
luar negeri yang memiliki kepentingan bersama. Informasi kejadian di dalam negeri
dengan cepat menyebar ke segala penjuru dunia, selanjutnya negara-negara lain akan
memberikan responnya sesuai kepentingannya masing-masing. Sebaliknya, informasi
kejadian di negara lain, khususnya negara-negara besar dan negara-negara di kawasan
ini, dengan cepat mencapai seluruh wilayah, dan mempengaruhi kondisi nasional

13
3. KEGIATAN BELAJAR (KB) 2

PENINDAKAN KEPABEANAN

3.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

Perbedaan antara Penindakan dan Penyelidikan


Penyelidikan sebagaimana tercantum dalam pasal 1 butir 4 KUHAP disebutkan
sebagai serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa
yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang.Sedangkan penyelidik itu
sendiri sebagaimana disebutkan dalam pasal 4 KUHAP adalah seluruh pejabat POLRI,
dengan kata lain hak untuk melakukan penyelidikan secara yuridis merupakan
wewenang tunggal petugas POLRI. Sehingga petugas Bea dan Cukai tidak dapat
melakukan penyelidikan sebagaimana yang dimaksudkan dalam ketentuan KUHAP
tersebut. Pertanyaan nya sekarang, oleh karena petugas Bea dan Cukai tidak dapat
melakukan penyelidikan, adalah apa instrumen yuridis bagi petugas Bea dan Cukai
untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai suatu tindakan
guna dapat tidaknya dilakukan penyidikan atau tindakan administratif. Didalam Pasal 2
ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 1996 tentang Penindakan di Bidang
Kepabeanan disebutkan bahwa untuk menjamin hak-hak negara dan dipatuhinya
ketentuan Undang-undang , Pejabat Bea dan Cukai mempunyai wewenang untuk
melakukan penindakan di bidang Kepabeanan sebagai upaya untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran ketentuan Undang-
undang. Hak penindakan inilah yang nampaknya merupakan wewenang khusus bagi
petugas Bea dan Cukai yang dapat disamakan dengan penyelidikan sebagaimana yang
disebut dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sehingga instrumen hukum bagi
petugas Bea dan Cukai untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang dapat
diduga suatu pelanggaran pidana atau pelanggaran administratif adalah wewenang

14
penindakan. Dalam melaksanakan tugas di bidang kepabeanan DJBC dapat melakukan
kegiatan secara fisik berupa penindakan. Penindakan itu sendiri dilakukan dalam
rangka kegiatan represif yang termasuk dalam ruang lingkup perbuatan fisik.
Penindakan di bidang Kepabeanan sebagai upaya untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran ketentuan Undang-
undang. Berdasarkan Undang-undang Kepabeanan Nomor 10 Tahun 1995 tanggal 30
Desember 1995 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tanggal 15 Nopember
2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang
Kepabeanan, bahwa penindakan meliputi :
– Penghentian, Pemeriksaan, Penegahan Sarana Pengangkut dan Barang Di Atasnya
Serta Penghentian Pembongkaran dan Penegahan Barang
– Pemeriksaan terhadap barang, bangunan atau tempat lain, surat atau dokumen yang
berkaitan dengan barang, atau terhadap orang;
– Penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut; dan
– Penguncian, penyegelan, dan/atau pelekatan tanda pengaman yang diperlukan
terhadap barang maupun sarana pengangkut.

3.1.a. Penghentian Sarana Pengangkut.

Dalam rangka upaya pencegahan pelanggaran peraturan perundang-


undangan yang berlaku diperlukan cara penindakan yang efektif dan efisien serta
tidak menghambat kelancaran arus barang. Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk
menghentikan dan memeriksa sarana pengangkut serta barang diatasnya. Sarana
Pengangkut yang disegel oleh penegak hukum lain atau dinas pos dikecualikan dari
pemeriksaan. Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menghentikan pembongkaran
barang dari sarana pengangkut apabila ternyata barang yang dibongkar tersebut
bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Untuk keperluan pemeriksaan sarana
pengangkut, atas permintaan atau isyarat Pejabat Bea dan Cukai pengangkut wajib
menghentikan sarana pengangkutnya. Pejabat Bea dan Cukai berwenang meminta agar
sarana pengangkut dibawa ke Kantor Pabean atau tempat lain yang sesuai untuk
keperluan pemeriksaan. Atas permintaan Pejabat Bea dan Cukai, pengangkut wajib
membuka sarana pengangkut atau bagiannya untuk diperiksa. Segala biaya yang timbul
sebagai akibat pelaksanaan pemeriksaan merupakan tanggung jawab pengangkut,
apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran ketentuan Undang-

15
undang; Merupakan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, apabila dari
hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya pelanggaran ketentuanUndang-undang.
Tindak lanjut dari pemeriksaan sarana pengangkut dan barang di atasnya dilakukan,
apabila terdapat pelanggaran, segera dilakukan penegahan terhadap sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya; apabila tidak terdapat pelanggaran, segera mengizinkan
pengangkut beserta sarana pengangkut berikut barang yang ada diatasnya untuk
meneruskan perjalanan.
Penghentian sarana pengangkut untuk pemeriksaan terhadap sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya dalam rangka penindakan dilakukan berdasarkan Surat
Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang. Surat Perintah
diterbitkan berdasarkan petunjuk yang cukup. Penghentian dapat dilakukan oleh Pejabat
Bea dan Cukai tanpa Surat Perintah hanya dalam keadaan mendesak dan berdasarkan
petunjuk yang cukup bahwa sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya belum
dipenuhi/diselesaikan kewajiban pabeannya, tersangkut pelanggaran Kepabeanan, atau
peraturan larangan/ pembatasan impor atau ekspor. Pejabat Bea dan Cukai yang
melakukan penghentian segera melaporkan penghentian sarana pengangkut kepada
Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang menerbitkan Surat Perintah dalam waktu
1X24 jam terhitung sejak penghentian dilakukan. Dalam hal Pejabat Bea dan Cukai
yang berwenang tidak menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1X24 jam sejak
menerima laporan dari Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penghentian,
pengangkut/sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dapat segera meneruskan
perjalanannya. Keadaan mendesak adalah suatu keadaan dimana penegahan harus
seketika itu dilakukan dan apabila tidak dilakukan dalam arti harus menunggu surat
perintah terlebih dahulu, barang dan sarana pengangkut tidak dapat lagi ditegah
sehingga penegakan hukum tidak dapat lagi dilakukan. Petunjuk yang cukup adalah
bukti permulaan ditambah dengan keterangan dan data yang diperoleh antara lain
laporan pegawai; laporan hasil pemeriksaan biasa; keterangan saksi dan/atau informan;
hasil intelijen; atau hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan. Pejabat Bea dan
Cukai yang berwenang menerbitkan Surat Perintah ialah Direktur Jenderal atau
Pejabat yang ditunjuk; Pejabat Eselon II pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai yang menangani Pencegahan dan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk;
Kepala Kantor Wilayah; Pejabat Eselon III pada Kantor Wilayah yang menangani
Pencegahan dan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor Pabean; atau
Pejabat Eselon IV dan V pada Kantor Pabean yang menangani Pencegahan dan

16
Investigasi. Surat Perintah memuat tentang nomor Surat Perintah; dasar dan
pertimbangan pemberian perintah; nama, pangkat, dan NIP Pejabat Bea dan Cukai yang
diberi perintah; perintah penindakan yang harus dilaksanakan; uraian/identitas obyek
penindakan; tempat dimana tugas dilaksanakan; jangka waktu penugasan; sarana yang
digunakan termasuk senjata api; pakaian yang digunakan oleh Pejabat Bea dan Cukai
yang diberi perintah; kewajiban pelaporan hasil penindakan; tempat dan tanggal
penerbitan Surat Perintah; jabatan, tanda tangan, nama, dan NIP pejabat pemberi
perintah serta cap dinas; dan m. tembusan kepada pihak terkait apabila dianggap perlu.
Bentuk Surat Perintah seperti pada lampiran. Surat Perintah diberi nomor urut dari
Buku Surat Perintah yang bentuk dan isinya seperti pada lampiran.Penghentian sarana
pengangkut dilakukan oleh Satuan Tugas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2 (dua)
Pejabat Bea dan Cukai. Satuan Tugas dipimpin oleh seorang Kepala Satuan
Tugas/Komandan Patroli Bea dan Cukai. Dalam menghentikan sarana pengangkut,
Satuan Tugas dapat menggunakan kapal patroli; atau sarana pengangkut lainnya; dan
senjata api dalam hal diperlukan. Setiap penghentian sarana pengangkut dengan
menggunakan kapal patroli, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib mencatat dalam jurnal
kapal patroli. Penghentian sarana pengangkut di laut dan di perairan lainnya terlebih
dahulu harus diberi isyarat yang lazim bagi pengangkut di laut dan di perairan lainnya.
Penghentian sarana pengangkut di darat terlebih dahulu harus diberi isyarat yang
lazim bagi pengangkut di darat. Isyarat dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku
dan pengangkut wajib mematuhi. Dalam hal isyarat tidak dipatuhi dilanjutkan dengan
tembakan peringatan ke atas sebanyak 3 (tiga) kali.Apabila peringatan tidak dipatuhi,
tembakan peringatan diarahkan ke bagian yang menghambat/ melumpuhkan sarana
pengangkut. Setiap tindakan Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan
Penindakan.

3.1.b. Penghentian Pembongkaran Barang

Pembongkaran barang dari sarana pengangkut yang ternyata barang tersebut


bertentangan dengan ketentuan yang berlaku, Pejabat Bea dan Cukai dari Kantor
Pabean yang mengawasi wilayah/tempat dimana dilakukan pembongkaran berwenang
menghentikan pembongkaran. Terhadap barang yang dibongkar dari sarana
pengangkut Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penegahan. Atas penghentian
pembongkaran Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan.

17
Atas penegahan Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Surat Bukti Penindakan.
Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penegahan, menyerahkan sarana pengangkut
dan barang kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk
penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas penyerahan tersebut Pejabat Bea dan Cukai
wajib membuat Berita Acara Serah Terima. Penghentian pembongkaran barang yang
ternyata bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dari sarana pengangkut di tempat
lain di luar Kawasan Pabean yang diizinkan Kepala Kantor Pabean dilakukan
berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang
berwenang.
Penghentian pembongkaran dilakukan oleh Satuan Tugas Bea dan Cukai. Satuan
Tugas Bea dan Cukai yang melakukan penghentian pembongkaran melakukan
penindakan.Terhadap sarana pengangkut dan/atau barang yang ditegah, Satuan Tugas
Bea dan Cukai memerintahkan pengangkut untuk membawa sarana pengangkut dan
barang ke Kantor Pabean yang memberikan izin bongkar.
Dalam hal pengangkut tidak mematuhi perintah penghentian pembongkaran,
Satuan Tugas Bea dan Cukai dapat melakukan upaya paksa membawa sarana
pengangkut dan barang ke Kantor Pabean. Setiap upaya paksa, Satuan Tugas Bea dan
Cukai wajib membuat Laporan Penindakan.

3.1.c. Pemeriksaan Sarana Pengangkut

Berdasarkan tempat pemeriksaannya, maka pemeriksaan sarana pengangkut


dan/atau barang diatasnya dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
– Pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya di tempat
penghentian atau tempat yang sesuai untuk pemeriksaan
Dalam hal di tempat penghentian tidak mungkin dilakukan pemeriksaan karena
alasan mengganggu ketertiban umum; dan membahayakan keselamatan
pengangkut, sarana pengangkut atau Pejabat Bea dan Cukai, pengangkut tidak
patuh. Satuan Tugas Bea dan Cukai dapat memerintahkan pengangkut untuk
membawa sarana pengangkut ke tempat lain yang sesuai untuk pemeriksaan, Kantor
Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit Surat
Perintah.
Pengangkut yang tidak mematuhi perintah, Satuan Tugas Bea dan Cukai dapat
melakukan upaya paksa untuk membawa sarana pengangkut ke tempat lain yang

18
sesuai untuk pemeriksaan; kantor Pabean muda dicapai; atau Kantor Pabean tempat
kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Untuk Setiap upaya paksa yng dilakukan
tersebut, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan. Satuan
Tugas Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan sarana pengangkut wajib
menunjukkan Surat Perintah kepada pengangkut; dan memberitahukan maksud dan
tujuan pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan, pengangkut wajib menunjukkan semua surat dan dokumen
yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah
situasi bagi sarana pengangkut di laut kepada Pejabat Bea dan Cukai. Dalam hal
pengangkut tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan semua surat dan dokumen
yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah
situasi bagi sarana pengangkut di laut, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang
mencari semua surat dan dokumen dan memeriksa tempat-tempat dimana disimpan
surat atau dokumen yang diperlukan.
Setiap tindakan tersebut, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat Laporan
Penindakan. Untuk keperluan pemeriksaan barang di atas sarana pengangkut,
pengangkut atau kuasanya wajib menunjukkan bagian-bagian/tempat-tempat dimana
disimpan barang; menyerahkan barang dan membuka peti kemas/kemasan barang;
dan menyaksikan pemeriksaan.
Dalam hal pengangkut atau kuasanya tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan
bagian-bagian/tempat-tempat dimana disimpan barang; menyerahkan barang dan
membuka peti kemas/kemasan barang; dan menyaksikan pemeriksaan, Satuan
Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan karena jabatan.
Untuk setiap tindakan tersebut, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib membuat
Laporan Penindakan. Dalam hal hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya
pelanggaran, pengangkut/sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dapat segera
meneruskan perjalanannya. Dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya
pelanggaran, sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya ditegah dan dibawa ke
Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat penerbit
Surat Perintah dan diserahkan kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea
dan Cukai untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut.
Atas hasil pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya, Pejabat Bea
dan Cukai wajib membuat Berita Acara Pemeriksaan, atas penyerahan sarana
pengangkut dan/atau barang di atasnya, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib

19
membuat Berita Acara Serah Terima dan Atas pemeriksaan sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya Satuan Tugas Bea dan Cukai, wajib membuat Surat
Bukti Penindakan dengan menyebutkan alasan dan hasil pemeriksaan atau jenis
pelanggaran.

– Pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dan/atau barang


di atasnya di kantor pabean terdekat atau kantor pabean tempat kedudukan
pejabat penerbit surat perintah
Pemeriksaan dilakukan di Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean tempat
kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah, Satuan Tugas Bea dan Cukai yang
melakukan penghentian sarana pengangkut menyerahkan sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya kepada Kepala Kantor Pabean atau Pejabat Bea dan
Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan dengan Berita Acara Serah Terima.
Pemeriksaan terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dilakukan oleh
Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk oleh Pejabat yang berwenang. Dalam
pemeriksaan, pengangkut wajib menunjukkan semua surat dan dokumen yang
berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah situasi
bagi sarana pengangkut di laut kepada Pejabat Bea dan Cukai. Dalam hal
pengangkut tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan semua surat dan dokumen
yang berkaitan dengan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya serta denah
situasi bagi sarana pengangkut di laut, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang
mencari semua surat dan dokumen dan memeriksa tempat-tempat dimana disimpan
surat atau dokumen yang diperlukan.
Dalam hal pengangkut atau kuasanya tidak memenuhi kewajibannya menunjukkan
bagian-bagian/tempat-tempat dimana disimpan barang; menyerahkan barang dan
membuka peti kemas/kemasan barang; dan menyaksikan pemeriksaan, Satuan
Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan karena jabatan.

Atas hasil pemeriksaan sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya, Pejabat Bea
dan Cukai wajib membuat Berita Acara Pemeriksaan. Pemeriksaan tidak ditemukan
adanya pelanggaran, pengangkut/ saranapengangkut dan/atau barang di atasnya
dapat segera meneruskan perjalanannya.
Dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai
melakukan penegahan dan menyerahkan sarana pengangkut dan/atau barang di

20
atasnya kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk
penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas penyerahan sarana pengangkut dan/atau
barang di atasnya dari Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan kepada
Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai dibuatkan Berita Acara Serah
Terima dan atas pemeriksaan dan atau penegahan Pejabat Bea dan Cukai wajib
membuat Surat Bukti Penindakan dengan menyebutkan alasan dan hasil
pemeriksaan atau jenis pelanggaran.

3.1.d. Pemeriksaan Barang


Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan terhadap barang.
Untuk melaksanakan pemeriksaan importir, eksportir, pengusaha Tempat Penimbunan
Sementara, pengusaha Tempat Penimbunan Berikat, atau kuasanya wajib menyerahkan
barang dan membuka setiap bungkusan atau kemasan barang yang akan diperiksa. Jika
permintaan tidak dipenuhi, Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan
atas resiko dan biaya pihak yang diperiksa.
Bahwa terhadap barang impor dilakukan pemeriksaan pabean. Pemeriksaan
pabean terhadap barang impor meliputi penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik
barang. Pemeriksaan barang impor dan ekspor adalah merupakan kewenangan
pejabat Bea dan Cukai setelah diserahkan pemberitahuan Pabean. Pemeriksaan
pabean dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan di pelabuhan tujuan atau
pemeriksaan pra pengapalan di negara atau tempat ekspor barang. Bahan, alat dan
mesin-mesin beserta suku cadangnya yang diperlukan untuk kegiatan operasional
dalam rangka proyek pengembangan industri. Barang yang diimpor untuk
dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikut; Binatang hidup; Organ tubuh manusia,
serum dan vaksin; barang impor yang diangkut dengan sarana pengangkut melalui
udara;
Pemeriksaan fisik terhadap barang impor dilakukan secara selektif dalam arti
pemeriksaan barang hanya dilakukan terhadap importasi yang beresiko tinggi, antara
lain barang bea masuknya tinggi, barang berbahaya bagi negara dan masyarakat, serta
impor yang dilakukan oleh importir yang mempunyai catatan kurang baik.
Pemeriksaan fisik barang dapat dilakukan setelah pemberitahu/kuasanya
mengajukan pemberitahuan impor barang yang dilampiri dokumen pelengkap
pabean dan bukti pembayaran bea masuk dan pajak dalam rangka impor kepada
pejabat Bea dan Cukai.

21
Terhadap barang impornya karena sesuatu hal harus diekspor kembali,
pemberitahu wajib menyerahkan Pemberitahuan Ekspor kembali kepada pejabat Bea
dan Cukai untuk dilakukan pemeriksaan pabean. Terhadap barang ekspor yang
karena sesuatu hal diimpor kembali, pemberitahu wajib menyerahkan pemberitahuan
impor barang kepada pejabat Bea dan Cukai untuk dilakukan pemeriksaan pabean.
Pemberitahuan pabean yang telah diberi nomor menjadi dasar bagi pejabat Bea dan
Cukai untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan fisik barang impor,
yang diberitahukan dalam pemberitahuan impor barang berdasarkan indikator
resiko.
Dengan memahami pemeriksaan barang impor ini, diharapkan pembaca mampu
menjelaskan bagaimana mempersiapkan diri dalam tugas pemeriksaan, pelaksanaan
pemeriksaan dan membuat nota pemeriksaan atau laporan pemeriksaan. Dalam setiap
pelaksanaan tugas harus ada pedoman atau perintah tugas, perintah tugas tersebut
diwujudkan dalam instruksi pemeriksaan yang memuat uraian tentang petugas yang
diperintah melakukan pemeriksaan barang, jumlah kolli atau pengemas atau kontener
yang harus diperiksa dalam bentuk prosentasi atau dalam jumlah.
Instruksi pemeriksan juga memuat identitas pemilik barang atau PPJK, dalam
hal pemilik barang tidak mengurus barangnya sendiri dapat menguasakan kepada
pengusaha pengurusan jasa kepabeanan atau PPJK, memuat data tempat barang
ditimbun, memuat identitas pemberi tugas, memuat jenis dokumen pemberitahuan
pebean, nomor, tanggal pemberitahuan pabean dan nomor, tanggal instruksi
pemeriksaan. Pejabat Bea dan Cukai setelah menerima instruksi pemeriksaan mencatat
datanya pada buku catatan bagi pemeriksa barang. Instruksi pemeriksaan yang
diterbitkan oleh pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan dokumen atau pejabat
pada seksi pabean, Instruksi pemeriksaan harus berasal dan diterima dari pegawai Bea
dan Cukai selaku kurir dari pejabat Bea dan Cukai yang menerbitkan instruksi
pemeriksaan tersebut, pada saat itu juga menerbitkan surat pemberitahuan jalur merah
atau SPJM dan dikirimkan kepada pemberitahu sebagaimana tertera pada
pemberitahuan pabean. Pemberitahu dokumen pabean setelah menerima SPJM wajib
melampirkan minimal dokumen pelengkap pabean berupa daftar data kemasan barang
atau packing list atau P/L atas barang yang diberitahukan dalam dokumen pabean dan
menyerahkan SPJM dilampiri P/L tersebut kepada pejabat yang ditunjuk untuk
melakukan pemeriksaan barang. Packing list atau P/L ini diperlukan untuk
mempermudah dan mempercepat cara pemeriksaan fisik barang, karena memuat data

22
importer, data eksportir diluar negeri, jenis pengemas/kolli, jumlah pengemas, merk
pengemas, jumlah barangnya dan secara umum nama uraian jenis barangnya. Untuk
itu dalam hal pemberitahu atau PPJK tidak menyerahkan, tidak melampirkan packing
list atau P/L, pejabat yang melakukan pemeriksaan fisik barang dapat melakukan
pemeriksaan seluruhnya atau seratus persen atas barang yang diberitahukan untuk
dilakukan pemeriksaan fisik.
Di dalam menjalankan tugas pemeriksaan barang, seorang pemeriksa harus
mempunyai fisik yang baik, tubuh yang sehat, mengingat tugas pemeriksaan barang
sering dilakukan ditempat yang udaranya panas, mungkin keadaannya lembab dan
berbau tidak enak (pemeriksaan barang kimia).
Bermental baik dan berdedikasi tinggi terhadap negara sehingga tidak mudah
terpengaruh oleh pihak lain, berbuat dan berpikirlah yang terbaik untuk bangsa dan
Negara.Mempunyai pengetahuan yang luas tentang peraturan kepabeanan dan peraturan
pelaksanannya, peraturan larangan dan pembatasan, peraturan lainnya dari instansi lain
yang pelaksanaannya dibebankan kepada Bea dan Cukai.
Seorang pemeriksa barang impor sebelum melaksanakan tugas wajib
mempersiapkan diri dengan melengkapi kelengkapan administrasi, fisik dan mental
pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang, pengetahuan tentang
jenis pengemas, pengetahuan tentang tanda-tanda yang tertera pada pengemas yang
merupakan lambang-lambang bahan atau barang berbahaya, pengetahuan tentang jenis
pengemas yang lazim dipergunakan dalam perdagangan, persiapan alat dan
perlengkapan untuk keperluan pemeriksaan fisik barang.
Setiap kali akan dilakukan pemeriksaan barang. Pemeriksa atau pejabat yang
diberi kewenangan melakukan pemeriksaan fisik barang wajib melakukan analisa jenis
barang yang diberitahukan oleh Importir atau kuasanya dengan cara membuka atau
melihat ketentuan umum untuk menginterpretasikan buku tarif bea masuk untuk
sekarang ini dipergunakan harmonized' system, klasifikasi barang dalam
nomenklatur dilakukan menurut ketentuan judul bagian, bab dan sub-bab, serta
catatan, dan pengetahuan tentang barang. Setelah dapat dianalisa jenis barangnya,
pemeriksa wajib memperhatikan klasifikasi, spesifikasi, data teknis maupun data
fisik yang dapat mempengaruhi besarnya tarif, besarnya bea masuk dan PDRI, harga
barang. Tujuan persiapan pemeriksaan disamping dapat mengoptimalkan penerimaan
negara juga keselamatan dan perlindungan pemeriksa terhadap dampak terhadap
penanganan barangnya, untuk itu diperlukan pengetahuan tanda dan atau ciri-ciri

23
khusus barang tersebut, yaitu dengan cara melihat data, catatan pada kamus kimia
maupun kamus lainnya yang dapat dipergunakan untuk analisa.
Pada waktu pemberitahu atau kuasanya/PPJK datang kepada pejabat Bea dan
Cukai yang berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang di Kantor Pelayanan Bea
dan Cukai atau tempat yang disamakan dengan itu, pemberitahu atau kuasanya/PPJK
menunjukan dan menyerahkan lembar asli SPJM kepada pejabat Bea dan Cukai yang
berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang, untuk itu pejabat pemeriksa fisik
barang tersebut wajib menanyakan kepada pemberitahu atau PPJK yang mengurus
barangnya, dengan pertanyaan: "apakah semua barang yang akan dilakukan
pemeriksaan .fisik barang telah datang dan telah ditimbun ditempat penimbunan
barang yang pengawasannya dibawa Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dimana
pemberitahuan pabean diserahkan".
Dalam hal belum seluruhnya barang tersebut datang dan ditimbun ditempat
penimbunan barang yang pengawasannya dibawa Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
dimana pemberitahuan pabean diserahkan, pemberitahu wajib memberikan penjelasan,
keterangan atas barang yang belum dan atau tidak datang tersebut kepada pejabat
pemeriksa fisik barang.
Dasar pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan pemeriksa fisik
barang bertanya tentang barang yang telah datang dan telah ditimbun, adalah setiap
pemilik barang atau kuasanya yang menginginkan barangnya diurus atau diselesaikan
wajib ditunjukan, diperlihatkan jumlah kolli, jumlah pengemas barang, wajib juga
membuka pengemasnya dan mempelihatkan barang yang diurusnya untuk dilakukan,
pemeriksaan fisik barang oleh pejabat Bea dan Cukai yang berwenang melakukan
pemeriksaan fisik barang. Dalam hal seluruh barang tersebut telah datang dan ditimbun
ditempat penimbunan barang yang pengawasannya dibawa Kantor Pelayanan Bea dan
Cukai dimana pemberitahuan pabean diserahkan, pejabat Bea dan Cukai yang
berwenang melakukan pemeriksaan fisik barang wajib memilih/menunjuk pengemas
atau kolli yang akan dibuka dan diperiksa barangnya, untuk ditimbun ditempat
penimbunan yang khusus digunakan untuk pemeriksaan fisik barang.
Pada waktu pemberitahu menyiapkan barang untuk ditimbun ditempat
penimbunan yang khusus untuk pemeriksaan fisik barang, pejabat Bea dan Cukai yang
berwenang melakukan pemeriksa fisik barang tersebut mempelajari uraian jenis barang,
spesifikasi, data teknis dan data lainnya dengan cara membuka buku klasifikasi tarip
bea masuk, membaca uraian maupun catatan yang ada pada buku tarip bea masuk

24
indonesia (BTBMI) atau Indonesian Customs Tariff Book berdasarkan The Asean
Harmonised Tariff Nomenclature (AHTN) agar dapat diketahui hal-hal apa saja yang
dapat mempengaruhi besarnya tarip atau pembeaan, sebagai prioritas utama dalam
melakukan pemeriksaan fisik barang yang akan diperiksa.
Dalam melakukan pengujian atau untuk pembuktian pemberitahu
memberitahukan harga barang impor sesuai harga transaksinya, diperlukan pengujian
mutu, spesifikasi dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif dengan cara dilakukan
pemeriksaan pabean dengan cara dilakukan pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan
fisik barang. Pemeriksaan terhadap fisik barangnya dan kebenaran harga barang yang
diimpornya pada setiap kegiatan importasi, terhadap barang impor wajib dilakukan
pemeriksaan fisik barang setelah diajukan pemberitahuan pabean, pemberitahuan
pabean ini meliputi pemberitahuan impor barang untuk barang impor dan
pemberitahuan ekspor barang untuk barang ekspor.
Pemeriksaan fisik adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pejabat Pemeriksa
Barang untuk mengetahui jumlah dan jenis barang impor yang diperiksa;
Tujuan pemeriksaan fisik Barang adalah dalam rangka memperoleh data barang secara
lengkap agar dapat digunakan untuk mencegah adanya uraian barang yang tidak
jelas/benar (misdescription); mencegah adanya barang yang tidak diberitahukan
(unreported); mencegah kesalahan pemberitahuan negara asal barang; mencegah
pembukkan barang larangan dan pembatasan; menetapkan klasifikasi dan Nilai Pabean
dengan benar NDPBM yaitu daftar nilai kurs sebagai dasar pelunasan bea masuk, PPN,
PPnBM, Pajak Ekspor, dan PPh berdasarkan keputusan Menteri Keuangan yang
disusun untuk jangka waktu berlakunya dalam periode tertentu.
Pemeriksaan fisik barang untuk setiap PIB dilakukan oleh 1 (satu) orang
Pejabat Pemeriksa Barang yang ditujukan secara langsung melalui Sistem Aplikasi
atau oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen. Pejabat Pemeriksa Dokumen dapat
menunjuk Pejabat Pemeriksa Barang lebih dari satu orang, dalam hal jumlah dan
atau jenis barang yang akan diperiksa mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi,
sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, dan menghambat kecepatan
penyelesaian suatu importasi. Dalam hal pemeriksaan barang impor dibutuhkan
pengetahuan teknis tertentu, maka Pejabat Pemeriksa Barang dapat meminta bantuan
pihak lain (internal maupun eksternal) yang memiliki pengetahuan teknis tersebut,
dan hal tersebut dicatat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Dalam hal
pemeriksaan fisik barang dilakukan bersama dengan pejabat dari instansi lain

25
berdasarkan ketentuan di bidang impor yang berlaku, Pejabat Pemeriksa Barang
mencatat hal tersebut dalam LHP.

Pemeriksaan fisik barang oleh petugas pemeriksaan dilakukan berdasarkan


perintah, atensi atau disposisi dari pejabat fungsional pemeriksa dokumen (PFPD)
atau Kepala Seksi Pabean, yang tercantum pada Instruksi Pemeriksaan. Agar
pemeriksaan barang terlaksana dengan akurat, lengkap dan benar, petugas pemeriksa
dalam melaksanakan tugasnya harus mengikuti langkah-langkah secara berurutan
sebagai berikut :
– Membaca dan memahami instruksi yang diberikan atasan sebagaimana tertulis pada
instruksi pemeriksaan, petugas yang melakukan pemeriksaan dapat membaca dan
memahami hal-hal yang perlu diperiksa dan dicocokkan antara data yang
diberitahukan dengan data sebenamya. Dalam hal instruksi yang diterima dirasa
kurang jelas pemeriksa agar menghubungi pejabat yang memberi instruksi untuk
mendapatkan penjelasannya.
– Mempelajari isi pemberitahuan (PIB) dan seluruh lampirannya (dokumen
pelengkap pabean). Dengan mempelajari isi pemberitahuan dimaksud, seorang
pemeriksa dapat segera mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk
pemeriksaan yang akan dilakukannya. Dalam hal diberitahukan jelas barang
Wire Mesh, untuk mengetahui ukuran ketebalan Wire Mesh tersebut digunakan
alat ukur Caliper.
– Menanyakan kepada pemberitahu/Importir, apakah lokasi penimbuunan partai
barang impor yang akan diperiksa atau apabila diangkut dengan peti kemas,
apakah peti kemas yang barang-barangnya akan diperiksa sudah ditemukan di
lokasi. Hal ini perlu dilakukan, karena apabila volume barang impor tinggi
seperti di Pelabuhan Tanjung Priok atau pelabuhan udara Sukarno Hatta.
– Mencari penumpukan kontener atau stapelan barang atas peti kemas sering
memakan waktu lama karena padatnya penimbunan barang. Dalam hal sudah
diketemukan lokasinya atau partai barangnya, maka pemeriksa langsung menuju
tempat partai barang atau peti kemas ditimbun dan segera melakukan
pemeriksaan fisik barangnya.
– Mencocokkan jumlah, jenis, merk, dan nomor kolli secara keseluruhan, cara
pemeriksaan ini dimaksud untuk didapatkan kepastian apakah jumlah, jenis, merk,
dan nomor kolli yang diperiksa sesuai dengan yang diberitahukan dalam PIB.

26
– Meminta kepada importir/kuasanya untuk menyiapkan kolli-kolli yang akan
diperiksa sesuai nomor yang diinstruksikan. Penunjukan nomor-nomor kolli
untuk diperiksa dilakukan secara random melalui perangkat komputer, dalam hal
tertentu, penunjukkan nomor-nomor kolli untuk pemeriksaan dapat dilakukan
secara manual.
– Dalam hal pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan dokumen atau
pejabat yang berwenang dibidang kepabeanan menerima catatan, data,
keterangan atau nota Intelijen, menemukan perbedaan antara jumlah dan jenis
kolli yang tercantum dalam pemberitahuan pabean dengan manifest atau
pemberitahuan impor barang yang telah ditetapkan jalur hijau, pemeriksaan
dilakukan random terhadap pemberitahuan impor barang yang telah ditetapkan
jalur hijau.
– Mengukur kolli-kolli yang akan diperiksa. Pengukuran terhadap kolli-kolli
dimaksud dapat digunakan untuk memudahkan menghitung jumlah barang yang
berada di dalam kolli-kolli itu.
– Meminta kepada importir/kuasanya untuk membuka kolli-kolli yang akan diperiksa
isinya. Dalam hal perintah petugas pemeriksa tidak dituruti oleh importir/kuasanya,
maka pembukuan kolli-kolli dilakukan oleh petugas dan segala biaya dan resiko
karena pemeriksaan menjadi tanggung jawab si pemberitahu. Pembukaan kolli-kolli
dilakukan oleh pemberitahu dapat memberikan kepastian bahwa kolli-kolli tersebut
memang milik pemberitahu yang bersangkutan.
– Mengeluarkan seluruh barang dari masing-masing kolli. Cara ini dilakukan untuk
memastikan apakah pada bagian dalam dari kolli tersebut tidak ada tempat-
tempat yang dipergunakan untuk menyembunyikan barang.
– Mencocokkan data yang diinstruksikan untuk diperiksa, petugas Pemeriksaan
mencatat data tentang; uraian barang; jenis-jenis barang, jumlah tiap jenis
barang; tipe tiap jenis barang; ukuran tiap jenis barang; merk-tipe jenis barang;
Negara asal tiap jenis barang dan spesitikasi tiap jenis barang. Pemeriksa
mencocokan data yang diinstruksikan dengan cara membandingkan antara yang
diberitahukan dengan keadaan barang sebenarnya, pengambilan contoh barang.
– Dalam melakukan pemeriksaan fisik barang, pemeriksa menentukan perlu
tidaknya mengambil contoh barang masing-masing jenis satu buah. Contoh
barang diberi identitas dari mana / dari kolli nomor dan tanggal PIB nya, serta
dibubuhi tanda tangan pemeriksa. Dalam hal barang tidak dapat diambil contoh

27
dan tidak ada gambar atau brosur maka barang itu difoto. Gambar, brosur atau
foto dibubuhi catatan dari kolli mana dan PIB tanggal dan nomor berapa serta
tanda tangan pemeriksa.
– Importir atau kuasanya memasukkan kembali semua barang yang selesai diperiksa
ke dalam kolli/pengemas. Pemeriksa dapat menyuruh memasukkan kembali semua
barang yang selesai diperiksa kedalam kolli/pengemas yang bersangkutan, kecuali
contoh barang yang diambil untuk keperluan penelitian klasifikasi dan penetapan
harga, hal ini perlu dilakukan agar tidak ada barang yang terecer, menghindari dari
tuntutan importir / kuasanya apabila ada barang yang hilang.
– Setelah barang selesai dimasukkan kedalam kolli masing-masing, petugas
meminta kepada importir atau kuasanya untuk menutup kembali kolli-kolli yang
dibuka karena pemeriksaan. Penutupan kembali kolli-kolli yang telah diperiksa
oleh pemberitahu dimaksudkan agar importir/kuasanya yakin bahwa kolli-kolli
tersebut d a l a m keadaan lengkap dan utuh sebagaimana adanya. Salah satu
alasan mengapa setiap pemeriksaan barang harus selalu diketahui dan disaksikan
oleh importir/kuasanya adalah untuk mendapatkan kepastian atau untuk
mencegah gugatan yang bersangkutan terhadap kemungkinan adanya kehilangan
dan kerusakan barang.
– Memberi tanda pada tiap kolli yang telah diperiksa, hal ini dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya pemeriksaan ganda terhadap kolli yang sama.
– Pemeriksaan fisik adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pejabat Fungsional
Pemeriksa Barang untuk mengetahui jumlah, jenis, spesifikasi barang yang
diperiksanya. Jadi yang dimaksud disini dengan pemeriksaan fisik adalah suatu
kegiatan dari Pejabat Pemeriksa Barang dengan cara meneliti jumlah, jenis serta
keadaan fisik barang sebenarnya untuk memperoleh data dan penilaian yang tepat
mengenai Pemberitahuan Pabean yang diajukan.
– Pemeriksaan fisik barang dilakukan secara selektif dalam artian hanya terhadap
importasi tertentu saja yang dilakukan pemeriksaan fisik, selebihnya tidak dilakukan
pemeriksaan fisik, hanya dilakukan pemeriksaan dokumen. Hal ini dilakukan
mengingat begitu besarnya volume barang yang keluar dan masuk daerah pabean,
sehingga tidak mungkin untuk dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
walaupun sebenarnya hal tersebut mutlak diperlukan guna mengamankan keuangan
negara dan juga pertahanan dan keamanan negara. Namun demi efektifitas dan

28
efisiensi waktu dan tenaga, pemeriksaan fisik hanya dilakukan terhadap barang-
barang tertentu saja.

Tujuan dari Pemeriksaan Fisik Barang adalah dalam rangka memperoleh data
barang secara lengkap agar dapat digunakan untuk :
- mencegah adanya uraian barang yang tidak jelas/benar (misdescription);
- mencegah adanya barang yang tidak diberitahukan (unreported);
- mencegah kesalahan pemberitahuan negara asal barang;
- mencegah pemasukan barang larangan dan pembatasan;
- menetapkan klasifikasi dan Nilai Pabean dengan benar

Kriteria Barang yang Terkena Pemeriksaan Fisik


- Barang yang diimpor oleh Importir baru.
- Importir yang belum memiliki Surat Pemberitahuan Register dan baru pertama
kali melakukan impor, maka importasinya akan dilakukan pemeriksaan fisik
dengan tingkat pemeriksaan fisik seratus persen.
- Barang yang diimpor oleh Importir yang termasuk dalam kategori risiko tinggi.
Risiko importir berdasar pada Profil Importir yang disusun dari hasil registrasi
importir, laporan pelanggaran yang ditemukan pada pemeriksaan barang,
pemeriksaan dokumen dan hasil audit.
- Barang impor sementara.
- Barang impor yang menggunakan fasilitas impor sementara dilakukan
pemeriksaan fisik saat diimpor dan saat direekspor untuk memastikan apakah
barang yang dimasukkan akan sesuai dengan barang yang dikeluarkan.
- Barang Operasi Perminyakan (BOP) golongan II.
- Barang Operasi Perminyakan golongan II termasuk ke dalam barang yang
diimpor dengan fasilitas impor sementara.
- Barang re-impor.
- Barang impor yang terkena pemeriksaan acak ( random ) oleh sistem komputer.
- PIB yang diterima oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setiap saat dapat terkena
penetapan jalur merah berdasarkan pemeriksaan acak/random yang telah
diprogramkan pada komputer.
- Barang impor tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.

29
- Barang impor yang termasuk dalam kategori ketetapan pemerintah dilakukan
pemeriksaan fisik barang untuk mencegah adanya pemasukan barang-barang yang
termasuk dalam kategori barang pembatasan dan larangan.
- Barang impor yang termasuk dalam komoditi berisiko tinggi dan/atau berasal dari
negara yang berisiko tinggi.

Tingkat Pemeriksaan Barang


- Tingkat pemeriksaan 10 (sepuluh)%, adalah pemeriksaan fisik barang dengan
jumlah kemasan yang dibuka adalah jumlah yang dapat mewakili 10% dari setiap
jenis barang yang tertulis dalam fotocopy invoice dan atau packing list dengan
jumlah minimal 2 (dua) koli;
- Tingkat pemeriksaan 30 (tiga puluh)%, adalah pemeriksaan fisik barang dengan
jumlah kemasan yang dibuka adalah jumlah yang dapat mewakili 30% dari setiap
jenis barang yan tertulis dalam fotocopy invoice dan atau packing list dengan
jumlah minimal 2 (dua) koli;
- Tingkat Pemeriksaan 100(seratus) %, adalah pemeriksaan fisik barang dengan
jumlah kemasan yang dibuka adalah seluruh kemasan setiap jenis barang;

Dalam hal barang impor diangkut dalam peti kemas (container), Pejabat
Pemeriksa Barang :
- Mencocokkan nomor, ukuran, jumlah dan jenis peti kemas barang impor yang
akan diperiksa;

- Memeriksa segel peti kemas barang impor yang akan diperiksa;


- Mengawasi stripping barang dari dalam peti kemas;
- Menghitung jumlah kemasan dan mencocokkan jenis kemasan dari setiap peti
kemas barang impor yang akan diperiksa:

Dalam hal jumlah dan jenis kemasan kedapatan sesuai:


- Untuk party barang impor yang terdiri dari 1 (satu) jenis barang yang dikemas
dalam kemasan standar (standard of packing), kemasan yang dibuka untuk
dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) atau 30
% (tiga puluh persen) dari jumlah kemasan yang terdapat dalam setiap peti kemas
barang impor yang akan diperiksa;

30
- Untuk party barang impor yang lebih dari 1 (satu) jenis barang, kemasan yang
dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh
persen) atau 30 % (tiga puluh persen) dari tiap jenis barang yang terdapat dalam
setiap peti kemas barang impor yang akan diperiksa;
- Apabila hasil pemeriksaan fisik barang, kedapatan jumlah dan atau jenis barang
tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus
persen);
- Terhadap jenis barang yang memerlukan penanganan khusus (diangkut dengan
reefer container) pemeriksaan dapat dilakukan di gudang/tempat penimbunan
milik importir;

Dalam hal jumlah dan atau jenis kemasan kedapatan tidak sesuai, maka pemeriksaan
fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen).

Dalam hal barang impor diangkut dalam kemasan lain dari petikemas, Pejabat
Pemeriksa Barang:
- Mencocokkan nomor, merek, ukuran dan jenis kemasan barang impor yang akan
diperiksa;
- Menghitung/mencocokkan jumlah dan jenis kemasan barang impor yang akan
diperiksa, dalam hal jumlah dan jenis kemasan kedapatan sesuai:
° Untuk party barang impor yang terdiri dari 1 (satu) jenis barang yang dikemas
dalam kemasan standar (standard of packing), kemasan yang dibuka untuk
dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 % (sepuluh persen) atau
30 % (tiga puluh persen) dari jumlah kemasan yang terdapat dalam setiap
petikemas barang impor yang akan diperiksa;
° Untuk party barang impor yang lebih dari 1 (satu) jenis barang, kemasan yang
dibuka untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang adalah sebesar 10 %
(sepuluh persen) atau 30 % (tiga puluh persen) dari tiap jenis barang yang
terdapat dalam setiap petikemas barang impor yang akan diperiksa;
° Apabila hasil pemeriksaan fisik barang, kedapatan jumlah dan atau jenis
barang tidak sesuai, maka pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100
% (seratus persen);

31
Dalam hal jumlah dan atau jenis kemasan kedapatan tidak sesuai, maka pemeriksaan
fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen).

Dalam hal barang impor dalam bentuk curah, Pejabat Pemeriksa Barang :
1). Menghitung/mengukur jumlah atau volume barang
2). Mencocokkan jenis barang dengan copy invoice dan packing list yang telah
dilegalisir oleh Pejabat Penerima Dokumen.

Dalam melakukan pemeriksaan fisik barang, disamping menghitung jumlah barang


dan mencocokkan jenis barang dengan copy invoice dan atau packing list yang
telah ditandasahkan oleh Pejabat Penerima Dokumen, Pejabat Pemeriksa Barang
wajib memeriksa data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa, dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Jumlah satuan barang dari setiap jenis barang yang diperiksa
- Merk, tipe, ukuran, data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa
- Memberikan paraf pada kemasan yang telah dibuka dan telah dilaku kan
pemeriksaan fisik
- Dalam hal jumlah satuan dan atau jenis barang kedapatan tidak sesuai,
pemeriksaan fisik barang ditingkatkan menjadi 100 % (seratus persen)
- Dalam hal copy invoice dan atau packing list tidak dapat digunakan sebagai dasar
pemeriksaan fisik barang, maka pemeriksaan ditingkatkan menjadi 100 % (seratus
persen).
Dalam hal jenis barang atau data teknis atau spesifikasi barang yang diperiksa
tidak jelas, diajukan contoh barang dan atau photo barang untuk keperluan penetapan
klasifikasi dan atau penetapan nilai pabean. Pengambilan contoh barang dilakukan
dengan membuat Berita Acara Pengambilan Contoh Barang yang ditandatangani
oleh Importir/PPJK, dengan tetap memperhatikan sifat barang yang peka terhadap
pengaruh luar sehingga tidak dapat diambil contohnya (untuk itu dimintakan
keterangan yang berasal dari negara asal barang).
Sebagai suatu konsekuensi terhadap dilaksanakannya sistem self assesment
terhadap pungutan pabean, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sistem ini juga
mengandung beberapa kelemahan, walaupun pada penerapannya sistem ini
menawarkan pelayanan yang cepat, sistem self assesment sendiri memberikan
keleluasaan kepada wajib pajak untuk menghitung dan memberitahukan jumlah

32
pajak yang dibebankan kepadanya, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama
sudah menjadi kodrat bahwa seseorang cenderung untuk mengelak dari pajak yang
dikenakan kepadanya, hal seperti ini juga tentu berlangsung di dalam dunia
perdagangan.
Pada perkembangannya, terhadap pelaksanaan sistem self assesment yang
diterapkan dalam perpajakan kita khususnya bea masuk yang merupakan penerimaan
negara yang dipungut oleh DJBC, mutlak akan adanya suatu kontrol terhadap
pelaksanaan sistem tersebut, terlebih lagi dalam dunia usaha dimana para pengusaha
cenderung untuk memperbesar laba tak terkecuali dengan cara yang kurang terpuji
yaitu mengelak dari pajak yang dikenakan terhadapnya. Adanya kekhawatiran
semacam inilah yang menyebabkan diperlukan adanya suatu sistem yang dapat
meng-counter terhadap kelemahan-kelemhan yang telah ada. Pada awal
perkembangannya, terhadap barang yang masuk maupun keluar dari pabean
dilakukan pemeriksaan fisik oleh bea dan cukai akan tetapi seiring dengan
perkembangan dunia dan pesatnya dunia perdagangan maka praktek seperti ini
lambat laun sudah tidak digunakan lagi.
Salah satu dari sistem yang telah sejak lama telah diterapkan oleh DJBC dalam
rangka pelaksanaan fungsi pengawasan dan pelayanannya adalah pemeriksaaan
pabean, pemeriksaan pabean terdiri atas pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan
fisik barang sebagaimana yang telah kami singgung diatas, akan tetapi dalam praktek
sebenarnya di lapangan, Pemeriksaan fisik sangat sulit untuk dilaksanakan
mengingat banyaknya kegiatan impor maupun ekspor barang setiap harinya,
sehingga sangat mustahil untuk melaksanakan pemeriksaan fisik barang tersebut
secara menyeluruh karena akan menimbulkan stagnansi di kawasan pabean dan
biaya ekonomi yang tinggi.
Guna melindungi hak-hak negara yang melekat pada barang impor maupun
ekspor dan juga guna menghindari terjadinya stagnansi di kawasan pabean serta
mengurangi biaya ekonomi maka perlu diterapkan suatu manajemen risiko
kepabeanan dan cukai.
Manajemen Resiko adalah serangkaian upaya sistematis, terpadu dan
menyeluruh, dengan menerapkan kebijakan dan prosedur yang ada menentukan
konteks, mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, memperlakukan, memonitor,
dan mengkomunikasikan risiko-risiko yang mungkin terjadi di bidang kepebeanan
dan cukai. Alasan yang melatarbelakangi diberlakukannya manajemen risiko adalah

33
perkembangan pesat bidang IT dan transportasi; keinginan meningkatkan kualitas
hidup; Globalisasi yang memberikan kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan
perjanjian-perjanjian dan membuka akses pasar; Meningkatnya arus uang, modal dan
barang; Peranan bea dan cukai merupakan salah satu ukuran economic
competitiveness; Ancaman terhadap negara dalam bidang sosial, ekonomi, budaya
dan pertahanan dan keamanan meningkat; Sumber daya yang dimiliki oleh bea dan
cukai tidak sepadan dengan luas wilayah serta sarana dan prasarana yang dimiliki;
Tuntutan dunia usaha terhadap kinerja bea dan cukai meningkat; Banyaknya
peraturan-peraturan instansi lain yang pelaksanaannya dititipkan kepada bea dan
cukai
Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa ekspetasi terhadap kinerja bea
cukai yang efektif dan efisien sangatlah didambakan oleh dunia usaha, hal ini tentu
akan menciptakan suatu iklim usaha yang kondusif dan sudah pasti akan menarik
investor-investor ke dalam negeri, yang pada akhirnya akan menciptakan suatu
keseimbangan perekonomian negara. Jika kita melihat konsep dari manajemen resiko
kita tentu juga berharap akan tercapainya tujuan-tujuan sebagaimana yang dinginkan
dan telah dicita-citakan, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana
menerapkan konsep manajemen resiko tersebut di lapangan. Bea dan cukai sendiri
dalam usahanya untuk meningkatkan kinerjanya telah menerapkan konsep
manajemen resiko dalam melaksanakan pengawasan serta pelayanannya kepada
masyarakat, penerapan konsep manajemen resiko dapat terlihat dari diterapkan
sistem penjaluran terhadap pengeluaran barang, sistem ini membagi sistem
pengeluaran barang menjadi tiga bagian, yaitu jalur prioritas, jalur hijau dan jalur
merah.

3.1.e. Pemeriksaan Bangunan Atau Tempat Yang Bukan Merupakan Rumah


Tinggal

Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan terhadap bangunan


atau tempat lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan
bangunan atau tempat lain yang penyelenggaraannya dengan izin yang diberikan
berdasarkan Undang-undang; atau bangunan atau tempat lain yang menurut
Pemberitahuan Pabean berisi barang dibawah pengawasan pabean. Pejabat Bea dan
Cukai berwenang memasuki dan memeriksa bangunan atau tempat yang bukan

34
merupakan rumah tinggal yang berdasarkan Undang-undang penyeleng-garaan nya
tidak berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dapat
memeriksa setiap barang yang ditemukan. Pejabat Bea Cukai berwenang untuk
memeriksa bangunan atau tempat lain dan surat atau dokumen yang berkaitan dengan
barang. Hal ini dilakukan apabila dianggap perlu dalam proses pemeriksaan barang.
Yang dimaksud dengan bangunan atau tempat lain adalah bangunan atau tempat lain
yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bangunan atau tempat
lain yang penyelenggaraannya dengan izin yang diberikan berdasarkan undang-undang
atau bangunan atau tempat lain yang menurut Pemberitahuan Pabean berisi barang di
bawah pengawasan pabean, dan yang kedua adalah bangunan atau tempat lain yang
bukan merupakan rumah tinggal yang berdasarkan undang-undang penyelenggaraannya
tidak berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dalam
pemeriksaan bangunan atau tempat lain, harus dengan surat perintah dari Direktur
Jenderal, kecuali pemeriksaan bangunan atau tempat yang menurut undang-undang
berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; pengejaran orang
dan/atau barang yang memasuki bangunan atau tempat lain.Pengelola bangunan atau
tempat lain tersebut tidak boleh menghalangi Pejabat Bea dan Cukai yang masuk ke
dalam bangunan atau tempat lain kecuali banguna atau tempat lain tersebut adalah
rumah tinggal. Memasuki bangunan atau tempat lain yang bukan merupakan tempat
tinggal yang berdasarkan undang-undang penyelenggaraannya tidak berada di bawah
pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk pemeriksaan barang dan surat
atau dokumen yang berkaitan dengan barang dalam rangka penindakan, dilakukan
berdasarkan Surat Perintah yang dikeluarkan oleh Pejabat Bea Cukai yang berwenang.
Surat Perintah tersebut diterbitkan petunjuk yang cukup. Memasuki bangunan atau
tempat lain dan pemeriksaan sebagaimana dimaksud di atas dapat dilakukan oleh
Pejabat Bea Cukai tanpa Surat Perintah dalam hal keadaan mendesak dan berdasarkan
petunjuk yang cukup bahwa barang yang ditimbun/disimpan dalam bangunan atau
tempat lain belum dipenuhi/ diselesaikan kewajiban pabeannya, tersangkut pelanggaran
kepabeanan atau peraturan larangan/atau pembatasan impor atau ekspor atau cukai.
Pejabat Bea Cukai yang melakukan pemeriksaan tersebut segera melaporkan kepada
Pejabat Bea Cukai yang berwenang menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1 x 24 jam
terhitung sejak pemeriksaan dilakukan. Apabila Pejabat Bea Cukai yang berwenang
tidak menerbitkan Surat Perintah dalam waktu 1 x 24 jam sejak menerima laporan dari
Pejabat Bea Cukai yang melakukan pemeriksaan bangunan atau tempat lain, maka

35
pemeriksaan harus segera dihentikan. Adapun yang dimaksud dengan keadaan yang
mendesak adalah suatu keadaan dimana penegahan harus seketika itu dilakukan dan
apabila tidak dilakukan dalam arti harus menunggu Surat Perintah terlebih dahulu,
barang dan sarana pengangkut tidak dapat lagi ditegah sehingga penegakan hukum
tidak dapat lagi dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan petunjuk yang cukup
adalah bukti permulaan ditambah dengan keterangan dan data yang diperoleh antara
lain laporan pegawai; laporan hasil pemeriksaan biasa; keterangan saksi dan/atau
informan; hasil intelejen; atau hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan. Surat
Perintah tersebut diberi nomor urut dari Buku Surat Perintah. Pemeriksaan bagunan
atau tempat lain sebagaimana disebut di atas dilakukan oleh Satuan Tugas Bea dan
Cukai yang beranggotakan paling sedikit dua orang dan dipimpin oleh seorang Kepala
Satuan Tugas/Komandan Patroli Bea dan Cukai. Dalam pelaksanaan tugas Satuan
Tugas tersebut dapat menggunakan kapal patroli; sarana pengangkut lainnya; dan
senjata api dalam hal diperlukan. Pada saat memasuki bangunan atau tempat lain Satuan
Tugas Bea dan Cukai wajib menunjukkan Surat Perintah kepada pemilik atau yang
menguasai bangunan atau tempat lain, dan memberitahukan maksud dan tujuan
pemeriksaan.Sebelum pemeriksaan, pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain
wajib menunjukkan semua surat dan dokumen yang berkaitan dengan barang yang
ditimbun/disimpan di dalamnya serta denah bangunan atau tempat lain kepada Satuan
Tugas Bea dan Cukai. Apabila pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain tidak
memenuhi kewajibannya tersebut, maka Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang
mencari semua surat dan dokumen dan memeriksa tempat-tempat dimana disimpan
surat atau dokumen yang diperlukan. Untuk keperluan pemeriksaan barang yang
ditimbun/disimpan di dalam bangunan atau tempat lain, pemilik/yang menguasai
bangunan atau tempat lain wajib menunjukkan bagian-bagian/tempat-tempat di mana
disimpan barang; menyerahkan barang dan membuka peti kemas/kemasan barang; dan
menyaksikan pemeriksaan. Apabila pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain
tidak memenuhi kewajibannya, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang melakukan
pemeriksaan karena jabatan. Setiap tindakan yang dilakukan Satuan Tugas Bea dan
Cukai wajib membuat laporan tentang Pemeriksaan Barang Bangunan atau Tempat
Lain dan Surat atau Dokumen yang Berkaitan Dengan Barang. Pemeriksaan jabatan
dilakukan terhadap barang-barang impor yang dicurigai oleh Kantor Pusat, Kepala
Kantor Wilayah, Kepala Kantor Pelayanan dan Perwakilan Bea dan Cukai di Luar
Negeri atau barang-barang impor yang berdasarkan informasi dari dalam maupun luar

36
yang diterima oleh Kantor Pusat, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Kantor Pelayanan
yang diduga keras akan menimbulkan kerugian pada penerimaan keuangan Negara.
Pemeriksaan Jabatan dilakukan atas perintah tertulis dari Kepala Kantor Wilayah atau
Kepala Kantor Pelayanan dan dilakukan secara menyeluruh atas party barang yang
bersangkutan. Pemeriksaan Jabatan dilakukan setelah Pemberitahuan Umum (BC.1.1)
diserahkan kepada Kantor Pelayanan, tetapi sebelum Pemberitahuan Impor Barang
yang bersangkutan diserahkan. Pemeriksaan jabatan dilakukan dengan tidak
mengganggu kelancaran arus barang. Terhadap barang yang telah dilakukan
pemeriksaan yang kemudian dibuatkan Pemberitahuan Impor Barang oleh imprtir,
dapat dilakukan pemeriksaan ulang oleh Kepala Bidang Pencegahan Penindakan atau
Kepala Seksi Manifest Informasi apabila terdapat hal-hal yang mencurigakan. Apabila
hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya pelanggaran Pejabat Bea dan Cukai segera
menghentikan pemeriksaan. Sedangkan jika hasil pemeriksaan ditemukan adanya
pelanggaran, maka barang yang ditimbun/ disimpan di dalam bangunan atau tempat lain
ditegah dan dapat ditimbun/ disimpan di dalam bangunan atau tempat lain yang
diperiksa; atau ditegah dan dibawa ke Kantor Pabean terdekat atau Kantor Pabean
tempat kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Terhadap pemeriksaan bangunan
atau tempat lain dan barang yang ditimbun di dalamnya serta surat atau dokumen yang
berkaitan dengan barang atau penegahan barang, Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib
membuat Surat Bukti Penindakan dengan menyebut alasan pemeriksaan/ penegahan
atau jenis pelanggaran. Sedangkan hasil pemeriksaan atas barang yang
ditimbun/disimpan di dalam bangunan atau tempat lain tersebut , Pejabat Bea dan Cukai
wajib membuat Berita Acara Pemeriksaan. Barang yang ditegah sebagaimana telah
disebutkan, diserahkan kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai
dan dibuatkan Berita Acara Serah Terima. Pembuatan Surat Bukti Penindakan, Berita
Acara Pemeriksaan, dan Berita Acara Serah Terima berdasarkan kepada Keputusan
Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Apabila barang yang ditegah karena alas an
pengamanan hak-hak Negara tidak memungkinkan untuk ditimbun/disimpan di dalam
bangunan atau tempat lain yang diperiksa, Satuan Tugas Bea dan Cukai berwenang
memerintahkan kepada pemilik/yang menguasai bangunan atau tempat lain unutk
membawa barang yang ditegah ke Kantor Pabean terdekat; atau Kantor Pabean tempat
kedudukan pejabat penerbit Surat Perintah. Dalam hal pemilik/yang menguasai
bangunan atau tempat lain yang diperiksa tidak memenuhi perintah, Satuan Tugas Bea
dan Cukai berwenang melakukan upaya paksa membawa barang yang ditegah. Setiap

37
upaya paksa yang dilakukan wajib dibuat Laporan Penindakan. Terhadap barang yang
ditegah dilakukan penyegelan . Dalam hal ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko
dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban
dan tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Dalam hal
tidak ditemukan pelanggaran maka segala resiko dan biaya yang timbul menjadi beban
dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Sedangkan apabila tidak
ditemukan pelanggaran tetapi pemilik barang atau kuasanya tidak memenuhi
permintaan Pejabat Bea dan Cukai guna kepentingan pemeriksaan maka segala resiko
dan biaya yang timbul menjadi beban dan tanggung jawab pemilik barang atau
kuasanya. Untuk barang yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak,
berbahaya, atau pengurusannya. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku, sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau
ekspornya.

3.1.f. Pemeriksaan Badan Orang

Pejabat Bea dan Cukai berwenang memeriksa badan setiap orang yang berada di
atas atau baru saja turun dari sarana pengangkut yang masuk ke dalam Daerah Pabean;
yang berada di atas atau siap naik ke sarana pengangkut yang tujuannya adalah tempat
di luar Daerah Pabean; yang sedang berada di atau baru saja meninggalkan Tempat
Penimbunan Sementara atau Tempat Penimbunan Berikat; atau yang sedang berada di
atau baru saja meninggalkan Kawasan Pabean. Pemeriksaan badan adalah tindakan
penyidik untuk mengadakan pemeriksaan badan dan atau pakaian tersangka untuk
mencari barang-barang yang diduga keras ada pada badannya atau dibawanya serta
untuk disita . Berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa seseorang membawa barang
yang tersangkut pelanggaran kepabeanan atau peraturan larangan/pembatasan impor
dan ekspor, Pejabat Bea dan Cukai berwenang memeriksa badan setiap orang yang
berada di atas atau baru saja turun dari sarana pengangkut yang masuk ke dalam
Daerah Pabean; berada di atas atau siap naik ke sarana pengangkut yang tujuannya
adalah tempat di luar Daerah Pabean; sedang berada di atau baru saja meninggalkan
Tempat Penimbunan Sementara atau Tempat Penimbunan Berikat; atau sedang berada
di atau baru saja meninggalkan Kawasan Pabean. Orang yang diperiksa sebagaimana
dimaksud wajib memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai menuju tempat
pemeriksaan. Pemerikssan badan harus diusahakan sedemikian rupa sesuai norma

38
kesusilaan dan kesopanan. Oleh karena itu, pemeriksaan harus dilakukan di tempat
tertutup oleh orang yang sama jenis kelaminnya, serta dibuatkan berita acara yang
ditandatangani oleh kedua belah pihak. Berdasarkan petunjuk yang cukup sabagaimana
dimaksud adalah bukti permulaan ditambah dengan keterangan dan data yang diperoleh
antara lain Laporan pegawai; Laporan hasil pemeriksaan biasa; Keterangan saksi
dan/atau informan; Hasil intelijen; atau Hasil pengembangan penyelidikan.
Pemeriksaan badan dilakukan di tempat tertutup oleh sekurang-kurangnya 2 (dua)
Pejabat Bea dan Cukai yang sama jenis kelaminnya dengan yang diperiksa dan wajib
dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Badan. Pejabat Bea dan Cukai adalah
Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk. Tempat tertutup adalah ruangan yang dapat
dikunci dan bagian dalam ruangan tidak dapat dilihat dari luar yang luasnya memadai
untuk pemeriksaan badan. Dalam hal diperlukan pemeriksaan badan yang lebih teliti.
berdasarkan petunjuk yang cukup, Pejabat Bea dan Cukai berwenang meminta orang
yang diperiksa melepaskan pakaiannya dan/atau dilakukan pengujian medis.
Pemeriksaan badan di tempat lain selain dari tempat yang telah ditentukan, dalam hal
diperlukan dalam rangka pengejaran atau penyerahan yang diawasi (Controlled
Delivery) dilakukan oleh Satuan Tugas Bea dan Cukai berdasarkan Surat Perintah yang
dikeluarkan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang berwenang. Satuan Tugas terdiri dari
sekurang-kurangnya 2 (dua) Pejabat Bea dan Cukai. Pejabat Bea dan Cukai yang
berwenang mengeluarkan Surat Perintah adalah Direktur Jenderal atau Pejabat yang
ditunjuk; Pejabat Eselon II pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang
menangani Pencegahan dan Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor
Wilayah; Pejabat Eselon III pada Kantor Wilayah yang menangani Pencegahandan
Investigasi atau Pejabat yang ditunjuk; Kepala Kantor Pabean atau Pejabat yang
ditunjuk. Dalam hal orang yang diperiksa badan menolak untuk dilakukan pemeriksaan
badan, Pejabat Bea dan Cukai yang bersangkutan menyerahkan yang bersangkutan
kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai untuk pemeriksaan badan
dan penyelidikan/penyidikan lebih lanjut. Atas penyerahan tersebut dituangkan dalam
Berita Acara Serah Terima berdasarkan. Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang
menerima penyerahan Surat Perintah tersebut melakukan wawancara dengan
menanyakan alasan-alasan yang bersangkutan menolak untuk diperiksa badannya;
melakukan upaya paksa pemeriksaan badan setelah wawancara dilaksanakan; membuat
Berita Acara Pemeriksaan Badan dan melampirkan hasil wawancara pada Berita Acara
Pemeriksaan Badan. Dalam hal hasil pemeriksaan badan tidak ditemukan adanya

39
pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan badan membuat
Berita Acara Pemeriksaan Badan dan orang yang diperiksa dapat segera meninggalkan
tempat pemeriksaan atau meneruskan perjalanannya. Dalam hal hasil pemeriksaan
badan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan
pemeriksaan badan melakukan pencacahan barang; membuat Berita Acara
Pemeriksaan Badan; menyerahkan barang yang ditemukan dalam pemeriksaan badan
dan orang yang diperiksa kepada Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan
Cukai; dan membuat Berita Acara Serah Terima barang dan orang. Atas barang yang
ditegah dari hasil pemeriksaan badan tidak dapat diajukan keberatan; dan menjadi
barang bukti. Atas barang yang ditegah dari hasil pemeriksaan badan dilakukan
penyegelan di depan yangbersangkutan; dan Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat
Berita Acara Penyegelan. Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat Laporan Penindakan
dalam hal orang tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai;setiap pemeriksaan
badan dengan pengujian medis; setiap pemeriksaan badan yang dilakukan. Berita
Acara tersebut dibukukan dalam Buku Berita Acara Pemeriksaan Badan;
ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan dan orang
yang diperiksa. Atas barang yang ditegah dilakukan penyegelan. Atas penegahan
barang, Kepala Kantor Pabean menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal;
Kepala Kantor Wilayah; dan Pejabat Eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai yang menangani Pencegahan dan Investigasi, dengan melampirkan Laporan
Kejadian; Berita Acara Pemeriksaan; dan Berita Acara Serah Terima. Ditemukan
adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan badan
menjadi beban dan tanggung jawab orang yang diperiksa. Tidak ditemukan adanya
pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan badan menjadi
beban dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tidak ditemukan adanya
pelanggaran tetapi orang yang diperiksa tidak memenuhi permintaan Pejabat Bea dan
Cukai/kewajibannya dan/atau menunjukkan sikap melawan/tidak menghormati Pejabat
Bea dan Cukai, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan badan menjadi
beban dan tanggung jawab orang yang diperiksa.

3.1.g. Penegahan Dibidang Kepabeanan

Penegahan ini dasar hukumnya sesuai dengan bunyi Pasal 77 Undang-undang


Kepabeanan yang memberikan kewenangan kepada Pejabat Bea dan Cukai untuk

40
melakukan tugas administrasi berupa penegahan barang dan/atau sarana pengangkut.
Yang dimaksud dengan menegah barang adalah tindakan administratif untuk menunda
pengeluaran, pemuatan, dan pengangkutan barang ekspor maupun impor sampai
dipenuhinya kewajiban pabean. Yang dimaksud dengan menegah sarana pengangkut
adalah tindakan untuk mencegah keberangkatan sarana pengangkut. Pejabat Bea dan
Cukai berwenang melakukan penegahan terhadap barang impor yang berada di
Kawasan Pabean yang oleh pemiliknya akan dikeluarkan ke peredaran bebas tanpa
memenuhi kewajiban pabean, barang impor yang keluar dari Kawasan Pabean yang
berdasarkan petunjuk yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban
pabeannya, barang impor yang telah mendapatkan Surat Persetujuan Pengeluaran
Barang (SPPB) yang terkena NHI, barang impor yang berdasarkan hasil pemeriksaan
mendadak kedapatan tidak sesuai, barang ekspor yang berdasarkan petunjuk yang
cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban pabeannya, aransa
pengangkut yang memuat barang yang belum dipenuhi kewjiban pabeannya atau
sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya. Penegahan tidak
dapat dilakukan terhadap; paket atau barang yang disegel oleh Penegak Hukum lain
atau Dinas Pos, barang yang diduga merupakan hasil pelanggaran hak atas kekayaan
intelektual yang tidak dimaksudkan untuk tujuan komersial berupa; barang bawaan
penumpang; barang awak sarana pengangkut, barang pelintas batas; barang kiriman
melalui pos atau jasa titipan; barang yang berdasarkan hasil pemeriksaan ulang atas
Pemberitahuan atau Dokumen Pelengkap Pabean menunjukan adanya kekurangan
pembayaran Bea Masuk; sarana pengangkut yang disegel oleh Penegak Hukum lain
atau Dinas Pos; sarana pengangkut Negara atau Negara Asing ; Pejabat Bea dan Cukai
yang melakukan penegahan membuat laporan Kejadian dan menyerahkan barang
kepada PPNS Bea dan Cukai dengan Berita Acara Serah Terima untuk penyelidikan/
penyidikan lebih lanjut; barang yang ditegah dapat ditimbun di tempat yang
bersangkutan Dalam hal penegahan dilakukan di tempat importir atau pemilik barang,
sepanjang dapat dijamin hak-hak negara. Dalam hal hasil penyelidikan tidak
ditemukan adanya pelanggaran, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai harus
menghentikan Penegahan, segala resiko dan biaya yang timbul menjadi beban dan
tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Dalam hal hasil
penyelidikan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Bea dan Cukai melakukan penyidikan. Atas pemeriksaan dan penegahan, Pejabat Bea
dan Cukai membuat surat bukti penindakan yang menyebutkan alasan penindakan atau

41
jenis pelanggaran; menyampaikan Surat Bukti Penindakan kepada Pengangkut/pemilik
barang atau kuasanya dengan mendapat tanda terima dari yang bersangkutan.
Barang dan/atau sarana pengangkut yang dalam hal hasil pemeriksaan
ditemukan adanya pelanggaran, ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai serta dibawa ke
Kantor Pabean yang mudah dicapai atau Kantor Pabean tempat kedudukan pejabat
penerbit surat perintah dan diserahkan kepada Pejabat PPNS Bea dan Cukai untuk
dilakukan penyelidikan/penyidikan lebih lanjut dimana selama dalam proses tersebut
dilakukan penyegelan oleh Pejabat PPNS Bea dan Cukai dengan membuat Berita
Acara Penyegelan yang ditandatangani oeh Pejabat PPNS Bea dan Cukai dan diberi
nonor urut dari Buku Berita Acara Penyegelan. Barang diatas sarana pengangkut yang
ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak, berbahaya, atau pengurusannya
memerlukan biaya tinggi, dilelang oleh kantor yang melakukan penegahan sesuai
peraturan yang berlaku, sepanjang bukan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau
ekspornya. Pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea
dan Cukaidapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktur Jenderal atau
Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak
diterimanya Surat Bukti Penindakan (penegahan) dengan menyebutkan alasan-alasan
keberatan dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan. Dalam hal barang yang
ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor maupun ekspornya, tidak
dapat diajukan keberatan. Permohonan keberatan dilengkapi dengan bukti-bukti yang
menguatkan berupa dokumen Pabean dan dokumen pendukung; dokumen lain yang
berkaitan dengan barang dan/atau sarana pengangkut, keputusan dan risalah lelang
dalam hal sarana pengangkut dan/atau barang diatasnya telah dilelang; atau Berita
Acara Pemusnahan dalam hal barang yang ditegah telah dimusnahkan. Permohonan
keberatan dapat disampaikan dengan cara diserahkan langsung kepada direktur
Jenderal ; atau dengan pos tercatat. Permohonan keberatan yang diserahkan langsung
atau disampaikan dengan pos tercatat, sudah harus diterima Direktur Jenderal atau
Pejabat yang ditunjuk sebelum melewati 30 (tiga puluh) hari sejak dilakukan
penegahan. Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk setelah mendapat laporan
Kepala Kantor Pabean yang melakukan penegahan Wajib memberi putusan selambat-
lambatnya 90 (sembilan puluh ) hari sejak diterimanya permohonan keberatan. Dalam
hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang diajukan tidak dapat diterima dan terjadi
pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang berkaitan dengan; Impor yang diancam
dengan sanksi administrasi, uang hasil lelang atau uang pengganti barang dan/atau

42
sarana pengangkut, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atas nama Menteri
diserahkan kepada pemiliknya setelah dikurangi Bea Masuk dan sanksi administrasi
berupa denda dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka impor telah
dipenuhi. Ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi, uang hasil lelang atau
uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut, berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal atas nama Menteri diserahkan kepada pemiliknya setelah dikurangi pungutan
ekspor dan sanksi administrasi berupa denda dan semua persyaratan yang diperlukan
dalam rangka ekspor telah dipenuhi.Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang
diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang
berkaitan dengan eskpor dan impor yang diancam dengan sanksi pidana, barang
dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal
atau Pejabat yang ditunjuk Keberatan ditolak ; dan Barang dan/atau sarana
pengangkut menjadi barang bukti. Keputusan Direktur Jenderal atau pejabat yang
ditunjuk atas keberatan penegahan yang diajukan segera diberitahukan kepada pemilik
barang dan/atau sarana pengangkut atau kuasanya. Permohonan keberatan penegahan
yang dilakukan pejabat Bea dan Cukai setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari
sejak diterimanya permohonan keberatan oleh pejabat Bea dan Cukai tidak mendapat
keputusan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk dianggap diterima/disetujui.
Terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, pemilik/atau kuasanya
dapat mengajukan keberatan secara tertuli kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang
ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Surat
bukti Penindakan (Penegahan), dengan ketentuan; menyebutkan alasan-alasan
keberatan; dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan. Dalam hal barang yang
ditegah merupakan barang yang dilarang atau diibatasi impor atu ekspornya, tidak
dapat diajukan keberatan.
Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah diselesaikan dengan cara
diserahkan kembali kepada pemiliknya, dalam hal; telah memenuhi kewajiban pebean;
penegahan barang dan/atau sarana pengangkut yang dilakukan tanpa surat perintah
penegahan karena alasan mendesak dan perlu, tidak mendapat persetujuan dari
Direktur Jenderal; Keberatan yang diajukan oleh pemilik barang dan/atau sarana
pengangkut diterima oleh Menteri; Keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
PP Nomor 21 tahun 1996 tidak mendapat putusan Menteri setelah lewat waktu 90
(sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan ; atau tidak diperlukan
untuk bukti di pengadilan, setelah diserahkan uang pengganti yang besarnya tidak

43
melebihi harga barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; dimusnahkan karena
barang tersebut busuk; dilelang, karena sifatnya tidak tahan lama, merusak, berbahaya,
atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, sepanjang bukan merupakan barang
yang dilarang atau dibatasi; Diserahkan kepada Penyidik sebagai bukti dalam proses
peradilan; Untuk barang yang dilarang atau dibatasi, menjadi milik Negara. Dalam hal
keberatan diterima karena tidak ditemukan adanya pelanggaran; barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut
yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah,
diserahkan kepada pemiliknya. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran
ketentuan Undang-Undang yang berkaitan dengan impor yang diancam dengan sanksi
administrasi barang dan/atau sarana yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan
Sanksi Administrasi berupa denda telah dibayar yang diperlukan dalam rangka impor
dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-
Undang yang berkaitan dengan ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi;
barang dan/atau sarana yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut
yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan Sanksi
Administrasi berupa denda dan pungutan Negara dalam rangka ekspor telah dibayar
dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka ekspor telah dipenuhi. Keberatan
ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-Undang yang diancam
denngan sanksi pidana; barang dan/atau sarana yang ditegah; uang hasil lelang barang
dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti. Dalam hal
setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan
Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk tidak memberikan; Keberatan dianggap
diterima; dan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah diselesaikan sesuai
dengan ketentuan.
Surat Bukti Penindakan dibukukan dalam Buku Surat Bukti Penindakan seperti
pada lampiran. Pejabat Bea dan Cukai menandatangani Surat Bukti Penindakan dan
memberi nomor urut. Lembar pertama Surat Bukti Penindakan diserahkan kepada
pengangkut. Sebagai tanda terima pengangkut membubuhkan nama dan tanda tangan
pada Surat

44
Bukti Penindakan.

Bentuk dan isi Laporan Penindakan seperti pada lampiran.Laporan Penindakan


dibukukan dalam Buku Laporan Kejadian seperti pada lampiran. Laporan penindakan
ditanda tangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan/penegahan
dan diberi nomor urut. Bentuk dan isi Berita Acara Pemeriksaan pada lampiran.Berita
Acara dibukukan dalam Buku Berita Acara. Berita Acara ditanda tangani oleh Pejabat
Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan dan pengangkut/pemilik barang atau
kuasanya dan diberi nomor urut. Bentuk dan isi Berita Acara Serah Terima
sebagaimana dimaksud pada lampiran. Berita Acara Serah Terima dibukukan dalam
Buku Berita Acara Serah Terima seperti pada lampiran. Berita Acara Serah Terima
ditanda tangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang menyerahkan dan yang
menerima sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya dan diberi nomor urut.
Terhadap penegahan sarana pengangkut dan/atau barang, Kepala Kantor Pabean
menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal; Kepala Kantor Wilayah; dan Pejabat
Eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang menangani,
Pencegahan dan Investigasi, dengan melampirkan Laporan Kejadian;. Berita Acara
Pemeriksaan; dan Berita Acara Serah Terima. Pemilik barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai dapat mengajukan
permohonan keberatan secara tertulis kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang
ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Surat
Bukti Penindakan (penegahan) dengan menyebutkan alasan-alasan keberatan dan
melampirkan bukti-bukti yang menguatkan. Dalam hal barang yang ditegah merupakan
barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya, tidak dapat diajukan keberatan.
Bentuk Surat Permohonan Keberatan seperti pada lampiran. Permohonan keberatan
dilengkapi dengan buk ti-bukti yang menguatkan berupa Dokumen pabean dan dokumen
pendukung; Dokumen lain yang berkaitan dengan barang dan/atau sarana pengangkut;
dan Keputusan dan risalah lelang dalam hal sarana pengangkut dan/atau barang
diatasnya telah dilelang; atau Berita Acara Pemusnahan dalam hal barang yang ditegah
telah dimusnahkan. Permohonan keberatan dapat disampaikan dengan cara diserahkan
langsung kepada Direktur Jenderal; atau dengan pos tercatat. Permohonan keberatan
yang diserahkan langsung atau disampaikan dengan pos tercatat, sudah harus
diterima Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk sebelum melewati 30 (tiga

45
puluh) hari sejak dilakukan penegahan.Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk
setelah mendapat laporan Kepala Kantor Pabean yang melakukan penegahan wajib
memberi putusan selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari sejak
diterimanya permohonan. Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti yang
diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan undang- undang yang
berkaitan dengan impor yang diancam dengan sanksi administrasi, barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atau
pejabat yang ditunjuk diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan sanks
i administrasi berupa denda dan semua persyaratan yang diperlukan dalam rangka impor
telah dipenuhi, ekspor yang diancam dengan sanksi administrasi, barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal atau
pejabat yang ditunjuk diserahkan kepada pemiliknya setelah pungutan ekspor dan
sanksi administrasi berupa denda dan/atau semua persyaratan yang diperlukan
dalam rangka ekspor telah dipenuhi. Dalam hal hasil penelitian bahwa bukti-bukti
yang diajukan tidak dapat diterima dan terjadi pelanggaran ketentuan undang-undang
yang berkaitan dengan ekspor dan impor yang diancam dengan sanksi pidana, barang
dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal
atau Pejabat yang ditunjuk keberatan ditolak; dan barang dan/atau sarana pengangkut
menjadi barang bukti. Keputusan Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk segera
diberitahukan kepada pemilik barang dan/atau sarana pengangkut atau kuasanya.
Permohonan keberatan setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak diterimanya
permohonan keberatan oleh Pejabat Bea dan Cukai, tidak mendapat Keputusan
Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuk dianggap diterima/ disetujui. Terhadap
sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya yang ditegah, selama dalam proses
penyelidikan/penyidikan dilakukan penyegelan oleh Pejabat Penyidik Pegawai
Negeri Sipil Bea dan Cukai. Penyegelan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan
Cukai wajib membuat Berita Acara Penyegela n seperti pada lampiran. Berita Acara
Penyegelan ditandatangani oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai
dan diberi nomor urut dari Buku Berita Acara Penyegelan seperti pada lampiran.
Ditemukan adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat
penghentian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan
tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Tidak ditemukan
adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat
penghentian,pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan

46
tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tidak ditemukan adanya
pelanggaran tetapi pengangkut atau pemilik barang dan/atau sarana pengangkut tidak
memenuhi permintaan Pejabat Bea dan Cukai, segala resiko dan biaya yang timbul
akibat penghentian, pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan
tanggung jawab pengangkut dan/atau pemilik barang atau kuasanya. Barang diatas
sarana pengangkut yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama, rusak,
berbahaya, atau pengurusan nya memerlukan biaya tinggi, dilelang oleh kantor yang
melakukan penegahan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya.
Dalam melaksanakan tugas di bidang kepabeanan DJBC dapat melakukan penindakan,
penindakan dilakukan penegahan. Penegahan di bidang kepabeanan dilakukan oleh
Pejabat Bea dan Cukai terhadap barang impor yang berada di Kawasan Pabean yang
oleh pemiliknya akan dikeluarkan ke peredaran bebas tanpa memenuhi kewajiban
pabean; barang impor yang keluar dari Kawasan Pabean yang berdasarkan petunjuk
yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh kewajiban pabeannya; barang
ekspor yang berdasarkan petunjuk yang cukup belum memenuhi sebagian atau seluruh
kewajiban pabeannya; sarana pengangkut yang memuat barang yang belum dipenuhi
kewajiban pabeannya; sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban
pabeannya. Penegahan tidak dapat dilakukan terhadap paket atau barang yang disegel
oleh Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; barang yang berdasarkan hasil pemeriksaan
ulang atas Pembe-ritahuan atau Dokumen Pelengkap Pabean menunjuk kan adanya
kekurangan pembayaran Bea Masuk Sarana pengangkut yang disegel oleh Penegak
Hukum lain atau Dinas Pos; Sarana pengangkut Negara atau Negara Asing. Barang
dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai dikuasai
negara dan disimpan di Tempat Penimbunan Pabean. Pemilik barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah oleh Pejabat Bea dan Cukai dapat meng-ajukan keberatan
secara tertulis kepada Menteri dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
sejak diterimanya surat bukti penegahan, dengan ketentuan menyebutkan alasan-alasan
keberatan; dan melampirkan bukti-bukti yang menguatkan keberatan. Barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah diselesaikan dengan cara diserahkan kembali kepada
pemiliknya, dalam hal telah memenuhi kewajiban pabean; penegahan barang dan/atau
sarana pengangkut yang dilakukan tanpa surat perintah penegahan karena alasan
mendesak dan perlu, tidak mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal; keberatan yang
diajukan oleh pemilik barang dan/atau sarana pengangkut diterima oleh Menteri;

47
keberatan tidak mendapat putusan Menteri setelah lewat waktu 90 (sembilan puluh) hari
sejak diterimanya permohonan keberatan; atau tidak diperlukan untuk bukti di
pengadilan, setelah diserahkan uang pengganti yang besarnya tidak melebihi harga
barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, dimusnahkan karena barang tersebut
busuk; dilelang, karena sifatnya tidak tahan lama, merusak, berbahaya, atau
pengurusannya memerlukan biaya tinggi, sepanjang bukan merupakan barang yang
dilarang atau dibatasi; diserahkan kepada penyidik sebagai bukti dalam proses
penyidikan; dalam hal menyangkut barang yang dilarang atau dibatasi, menjadi milik
negara. Keberatan diterima karena tidak ditemukan adanya pelanggaran, menteri
memerintahkan agar barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil
lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang
dan/atau sarana pengangkut yang ditegah, diserahkan kepada pemiliknya. Dalam hal
keberatan ditolak karena terbukti adanya pelanggaran ketentuan Undang-undang yang
berkaitan dengan impor yang diancam dengan sanksi administrasi, Menteri
memerintahkan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang
barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah,diserahkan kepada pemiliknya setelah Bea Masuk dan
sanksi administrasi berupa denda telah dibayar dan semua persyaratan yang diperlukan
dalam rangka impor telah dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya
pelanggaran ketentuan Undang-undang yang berkaitan dengan ekspor yang diancam
dengan sanksi administrasi, Menteri memerintahkan barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang barang dan/atau sarana pengangkut yang
ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah,
diserahkan kepada pemiliknya setelah sanksi administrasi berupa denda dan pungutan
negara dalam rangka ekspor telah dibayar dan semua persyaratan yang diperlukan
dalam rangka ekspor telah dipenuhi. Keberatan ditolak karena terbukti adanya
pelanggaran ketentuan Undang-undang yang diancam dengan sanksi pidana, Menteri
memerintahkan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; uang hasil lelang
barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; atau uang pengganti barang dan/atau
sarana pengangkut yang ditegah,diserahkan kepada penyidik sebagai barang bukti.
Apabila setelah lewat 90(sembilan puluh) hari sejak diterimanya permohonan keberatan
Menteri tidak memberikan putusan, keberatan dianggap diterima serta barang dan/atau
sarana pengangkut diselesaikan sesuai ketentuan. Putusan Menteri segera diberitahukan
kepada pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah.

48
3.1.h. Penyegelan

Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap Barang


impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya; Barang ekspor yang harus
diawasi yang berada di sarana pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain;
atau Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah. Segel dan/atau tanda pengaman
yang digunakan oleh instansi pabean di negara lain atau pihak lain dapat diterima
sebagai pengganti segel. Pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut atau
tempat-tempat yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua
kunci, segel, atau tanda pengaman tidak rusak atau hilang. Kunci, segel, atau tanda
pengaman yang telah dipasang tidak boleh dibuka, dilepas atau dirusak tanpa izin dari
Pejabat Bea dan Cukai. Penyegelan dihentikan dalam hal Barang dan/atau sarana
pengangkut telah diselesaikan kewajiban pabeannya; Penyegelan sebagai tindak lanjut
dari penegahan yang dilakukan tanpa surat perintah tidak mendapatkan persetujuan dari
Direktur Jenderal; atau Barang dan/atau sarana pengangkut diserahkan kepada penyidik
sebagai barang bukti. Untuk melaksanakan penindakan berupa pemeriksaan,
penegahan, dan penyegelan, Pejabat Bea dan Cukai harus dilengkapi dengan surat
perintah dari Direktur Jenderal. Surat perintah tidak diperlukan dalam hal Pemeriksaan
bangunan atau tempat lain yang menurut Undang-undang berada dibawah pengawasan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Dalam keadaan mendesak diperlukan tindakan
untuk menghenti-kan atau menegah sarana pengangkut dan/atau barang;Melakukan
pengejaran terhadap orang pribadi dan/atau sarana pengangkut yang membawa barang
yang diduga melanggar Undang-undang. Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan
tindakan segera melaporkan kepada Direktur Jenderal atau Pejabat yang ditunjuknya,
dalam waktu selambat-lambatnya 1 x 24 jam terhitung sejak penindakan dilakukan.
Surat perintah sekurang-kurangnya memuat nama pejabat Bea dan Cukai yang diberi
perintah; bentuk dan alasan penindakan; jangka waktu berlakunya surat perintah; dan
kewajiban pelaporan hasil penindakan. Atas penegahan barang dan/atau sarana
pengangkut, Pejabat Bea dan Cukai wajib membuat surat bukti penegahan dengan
menyebutkan alasannya. Surat bukti disampaikan kepada pemilik barang dan/atau
sarana pengangkut atau kuasanya dengan mendapatkan tanda terima dari yang
bersangkutan. Tindakan pemeriksaan terhadap sarana pengangkut, barang, bangunan
atau tempat lain, dan/atau surat atau dokumen yang bertalian dengan barang, serta

49
penegahan dan penyegelan wajib dibuatkan berita acara. Segel adalah tanda atau alat
pengaman yang terbuat dari kertas, plastic, logam dan atau bahan lainnya dengan
bentuk tertentu berupa lembaran, pita, kunci, kancing dan atau bentuk lainnya untuk
mempertahankan keadaan barang agar tidak terjadi perubahan dan atau sebagai tanda
bahwa barang tersebut di bawah pengawasan Bea dan Cukai. Penyegelan adalah
tindakan pejabat melekatkan atau memasang segel Bea dan Cukai pada barang, sarana
pengangkut, pabrik,bangunan atau tempat lain sebagai tanda bahwa barang, sarana
pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain tersebut masih di bawah
pengawasan Bea dan Cukai. Tujuan penyegelan, memberitahukan kepada kalayak
ramai bahwa barang yang disegel tersebut dalam penguasaan DJBC, dan dalam rangka
pengamanan terhadap barang untuk mengamankan penerimaan negara, pelaksaanaan
kewenangan pabean dalam rangka pencegahan, penindakan, penyidikan, audit dan
penyitaan oleh juru sita Bea dan Cukai. Penindakan di bidang kepabeanan adalah
mengunci, menyegel,dan atau melekatkan tanda pengaman yang bertujuan untuk
menjamin pengawasan yang lebih baik dalam rangka pengamanan keuangan negara
karena tidak diperlukan adanya penjagaan/pengawalan secara terus menerus oleh
pejabat Bea dan Cukai.

Macam Segel
Segel kertas, berupa lembaran kertas berperekat atau tidak dengan tanda atau
lambang Bea dan Cukai, dengan ukuran, bentuk, warna dan isi: ukuran 45 x 35 cm
,bentuk empat persegi panjang,warna dasar merah ,warna lambang kuning, warna huruf
hitam. Segel Pita, berupa pita yang terbuat dari kertas atau plastik berperekat atau tidak
dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai dengan lebar 2,5-5 cm,warna dasar putih,
warna huruf merah,dengan lambang Bea dan Cukai dibelakang tulisan. Segel timah,
berupa timah dalam bentuk kancing dengan ukuran tertentu yang dipasang dengan
kawatb segel tali, mengikat menggunakan tang, segel berlambang Bea dan Cukai dan
nomor pengawasan. Berdiameter 12 mm, tebal segel timah 5 mm. Segel kancing,
terbuat dari logam dan atau plastik dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai dan
nomor pengawasan dengan warna putih, warna lambang kuning, warna huruf Bea
Cukai merah, female: panjang 3,5 cm, diameter 1,8 cm, male: panjang 6,7 cm, nomor
pengawas sesuai dengan urutan. Segel kunci,berbentuk gembok dengan anak terbuat
dari logam dengan tanda atau lambang Bea dan Cukai dan nomor pengawasan. Segel
bentuk lainnya adalah alat berupa kertas yang digunakan sebagai pengganti segel yang

50
dipakai dalam keadaan di mana tidak tersedianya segel, yang memuat pernyataan
pejabat serta ditandatangani untuk mengesahkan sebagai segel.

Nomor Pengawas
Nomor pengawasan Bea dan Cukai dalam bentuk kertas atau lainnya dan tanda
pengaman Bea dan Cukai dalam bentuk kertas merupakan nomor urut dari buku berita
acara penyegelan dan buku catatan tanda pengaman Bea dan Cukai.
Nomor pengawasan pada tang segel dan stempel merupakan kode tetap yang tercatat
pada tang segel dan stempel. Segel yang digunakan oleh instansi penegak hukum
negara lain dapat diterima sebagai pengganti segel Bea dan Cukai. Tanda pengaman
yang digunakan oleh pihak lain dapat diterima sebagai pengganti tanda pengaman Bea
dan Cukai.

Pelekatan Tanda Pengaman


Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai adalah tindakan pejabat melekatkan
atau memasang tanda pengaman Bea dan Cukai pada barang, sarana pengangkut,
pabrik, dan bangunan atau tempat lain sebagai tanda bahwa barang, sarana pengangkut,
pabrik, dan bangunan atau tempat lain tersebut di bawah pengawasan Bea dan Cukai.
Pejabat yang berwenang melekatkan tanda pengaman adalah Pejabat Bea dan Cukai
berwenang melakukan pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai terhadap barang,
sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain; Pelekatan tanda pengaman
Bea dan Cukai dilakukan dalam rangka selain pencegahan, penindakan, penyidikan,
audit dan penyitaan oleh Juru Sita Bea dan Cukai; Pelekatan tanda pengaman Bea dan
Cukai tidak memerlukan Surat Perintah; Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai pada
tempat yang ditentukan Pelekatan tanda pengaman Bea dan Cukai harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga tanpa merusak tanda pengaman, agar peti kemas/kemasan
barang yang dilekatkan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak dapat dibuka; barang
curah yang dilekatkan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak dapat dimuat atau
dibongkar; tempat/ruang yang dilekatkan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak dapat
dibuka; pemindahan sarana pengangkut, peti kemas barang, dan barang curah yang
dipasang tanda pengaman Bea dan Cukai hanya dapat dilakukan atas persetujuan
Kepala Kantor Bea dan Cukai. Pengamanan dan laporan keadaan tanda pengaman Bea
dan Cukai; tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada sarana
pengangkut, barang atau bangunan/tempat lain tidak boleh dibuka, dilepas, atau dirusak

51
tanpa izin Pejabat Bea dan Cukai; pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut,
barang atau bangunan/tempat lain yang dilekatka/dipasang tanda pengaman Bea dan
Cukai oleh Pejabat/Satuan Tugas Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua tanda
pengaman Bea dan Cukai tidak rusak atau hilang; Pejabat yang menemukan tanda
pengaman Bea dan Cukai yang dibuka, dilepas, atau dirusak wajib membuat Laporan
Kejadian untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut.
Keadaan bahaya yang dapat menimbulkan resiko rusaknya tanda pengaman Bea
dan Cukai; dalam keadaan bahaya yang dapat menimbulkan resiko rusaknya sarana
pengangkut atau barang yang dilekatkan/dipasang tanda pengaman Bea dan Cukai
dan/atau hilangnya hak-hak negara, pemilik dan/atau yang menguasai barang, sarana
pengangkut atau bangunan/tempat lain wajib segera memberitahukan kepada pejabat
yang mengawasi; dalam hal yang bersangkutan tidak melakukan hal yang dapat
dianggap merusak atau menghilangkan tanda pengaman Bea dan Cukai. Tidak wajib
Berita Acara pelekatan/pemasangan tanda pengaman Bea dan Cukai; atas setiap
pelekatan/pemasangan tanda pengaman Bea dan Cukai tidak wajib dibuatkan Berita
Acara; setiap tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/ dipasang wajib
ditandatangani oleh pejabat yang bersangkutan serta diberi nomor urut dari Buku
Catatan Tanda Pengaman Bea dan Cukai. Izin pelepasan/pembukaan tanda pengaman
Bea dan Cukai; tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada barang,
sarana pengangkut, pabrik, dan bangunan atau tempat lain dapat dibuka oleh atau
setelah mendapat izin dari Pejabat Bea dan Cukai.

Tatacara Penyegelan
Pelekatan atau pemasangan segel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
tanpa merusak segel; sarana pengangkut yang disegel tidak dapat digerakkan atau
dipindahkan; petikemas/kemasan barang yang disegel tidak dapat dibuka; barang curah
yang disegel tidak dapat dimuat atau dibongkar; tempat/ruang yang disegel tidak dapat
dibuka. Pemindahan sarana pengangkut, peti kemas barang, dan barang curah yang
disegel hanya dapat dilakukan atas persetujuan kepala kantor Kantor Pelayanan Bea dan
Cukai. Segel Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada sarana pengangkut, barang
atau bangunan/tempat lain tidak boleh dibuka, dilepas ,attau dirusak tanpa ijin pejabat
Bea dan Cukai. Pemilik atau yang menguasai sarana pengangkut, barang atau
bangunan/tempat lain yang disegel wajib menjaga agar semua segel Bea dan Cukai agar
tidak rusak/hilang. kalau kedapatan segel rusak, pejabat Bea dan Cukai harus membuat

52
laporan kejadian untuk diadakan penyelidikan/penyiodikan lebih lanjut. Dalam keadaan
bahaya dan menimbulkan resiko rusaknya sarana pengangkut atau barang yang disegel
dan/atau hilangnya hak-haknya negara, pemilik dan/atau yang menguasai barang,
sarana pengangkut atau bangunan/tempat lain wajib segera memberitahukan kepada
pejabat yang mengawasi. Kalau tidak melapor, dianggap merusak segel, setiap
penyegelan harus dibuatkan berita acara.

Penyegelan dengan Surat Perintah


Penyegelan dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai berdasarkan Surat Perintah
yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Perintah penindakan,
penyidikan, audit, dan penyitaan oleh Juru Sita Bea dan Cukai. Penyegelan dengan
Surat Perintah harus dilakukan oleh Satuan Tugas yang terdiri dari sekurang-kurangnya
2 (dua) orang Pejabat Bea dan Cukai.

Penyegelan tanpa Surat Perintah


Sebagai tindak lanjut atas penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut.
Penagguhan pengeluaran barang hasil pelanggaran Hak Atas Kekayaan
Intelektual.Pengeluaran barang dari suatu TPS/TPB ke TPB, TPS, atau tempat
penimbunan lain yang diizinkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan
Cukai.Pengeluaran barang untuk dikirim dari suatu tempat ke tempat lain dalam Daerah
Pabean melalui suatu tempat di luar Daerah Pabean.Barang ekspor yang menyinggahi
(transit) suatu tempat di dalam atau di luar Daerah Pabean. Penjagaan, pengawasan atau
pengawalan terhadap barang atau sarana pengangkut yang harus dilakukan oleh Bea
dan Cukai tidak memungkinkan. Dalam keadaan mendesak dan berdasarkan petunjuk
yang cukup bahwa barang dan sarana pengangkut belum dipenuhi/diselesaikan
kewajiban pebeannya tersangkut pelanggaran kepabeanan atau peraturan lartas
impor/ekspor. Keadaan perlu dan mendesak adalah suatu keadaan dengan mana
penyegelan harus seketika itu dilakukan dan apabila tidak dilakukan dalam arti harus
menunggu Surat Perintah terlebih dahulu penegakan hukum tidak dapat dilakukan lagi.
Pejabat yang melakukan penyegelan dalam keadaan perlu dan mendesak segera
melaporkan kepada pejabat yang berwenang menerbitkan Surat Perintah dalam waktu
1x24 jam terhitung sejak penyegelan dilakukan.

Wewenang Penyegelan

53
Menurut Pasal 14 Undang-undang kepabeanan,Pejabat Bea dan Cukai
berwenang melakukan penyegelan terhadap barang impor yang belum diselesaikan
kewajiban pabeannya; barang ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana
pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain; barang dan/atau sarana
pengangkut yang ditegah. Menurut Pasal 78 Undang-undang kepabeanan, terhadap
barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya dan barang ekspor
atau barang lain yang harus diawasi menurut undang-undang ini yang berada di sarana
pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat lain, Pejabat Bea dan Cukai
berwenang untuk mengunci, dan/atau melekatkan tanda pengaman yang diperlukan. Hal
ini dimaksudkan untuk lebih menjamin pengawasan yang lebih baik dalam rangka
pengamanan keuangan negara karena tidak diperlukan adanya penjagaan/pengawalan
secara terus-menerus oleh Pejabat Bea dan Cukai.Pasal ini memberikan wewenang
kepada Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penyegelan.Penyegelan merupakan
tindakan Pejabat Bea dan Cukai melekatkan atau memasang segel Bea dan Cukai pada
barang, sarana pengangkut, pabrik dan bangunan atau tempat lain sebagai tanda bahwa
barang, sarana pengangkut, pabrik dan bangunan atau tempat lain tersebut berada di
bawah pengawasan Bea dan Cukai Pejabat DJBC berwenang melakukan penyegelan di
bidang Kepabeanan, terhadap barang yang ditegah dilakukan ; dalam hal ditemukan
adanya pelanggaran, segala resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan,
penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab pengangkut dan/atau
pemilik barang atau kuasanya; dalam dal tidak ditemukan adanya pelanggaran, segala
resiko dan biaya yang timbul akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan manjadi
beban dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; dalam hal tidak
ditemukan adanya pelanggaran tetapi pemilik barang atau kuasanya tidak memenuhi
permintaan Pejabat Bea dan Cukai/kewajibannya, segala resiko dan biaya yang timbul
akibat pemeriksaan, penegahan, dan penyegelan menjadi beban dan tanggung jawab
pemilik barang atau kuasanya; barang yang ditegah karena sifatnya tidak tahan lama,
rusak, berbahaya, atau pengurusannya memerlukan biaya tinggi, dilelang oleh kantor
yang melakukan penegahan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,
sepanjang bukan merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impor atau ekspornya;
terhadap sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya yang ditegah, selama dalam
proses penyelidikan/penyidikan dilakukan penyegelan oleh Pejabat Penyidik Pegawai
Negeri Sipil Bea dan Cukai; penyegelan yang dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai
Negeri Sipil Bea dan Cukai wajib membuat Berita Acara Penyegelan; Berita Acara

54
Penyegelan ditandatangani oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negerio Sipil Bea dan Cukai
dan diberi nomor. Pejabat Bea da Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap
barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya ; barang ekspor yang
harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau di tempat penimbunan atau tempat
lain ; atau barang dan/atau sarana pengangkut yag ditegah Segel dan/atau tanda
pengaman yang digunakan oleh instansi pabean di negara lain atau pihak lain dapat
diterima sebagai pengganti segel. Pemilik dan/atau yang menguasai sarana pengangkut
atau tempa-tempat yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua
kunci, segel, atau tanda pengaman tidak rusak atau hilang. Kunci, segel, atau tanda
pengaman yang telah dipasang tidak boleh dibuka, dilepas atau dirusak tanpa izin dari
Pejabat Bea dan Cukai.
Penyegelan dihentikan dalam hal barang dan/atau sarana pengangkut telah
diselesaikan kewajiban pabeannya; penyegelan sebagai tindak lanjut dari penegahan
yang dilakukan tanpa Surat Perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur
Jenderal ; atau barang dan/atau sarana pengangkut diserahkan kepada penyidik sebagai
barang bukti.
Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menyegel terhadap barang impor yang
belum dipenuhi atau diselesaikan kewajiban pabeannya; barang ekspor yang harus
diawasi yang berada di sarana pengangkut atau tempat penyimpanan atau tempat lain;
barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah; bangunan atau tempat lain yang
didalamnya ditimbun barang impordan/atau ekspor yang ditegah; barang hasil
pemeriksaan barang, sarana pengangkut, orang yang melanggar ketentuan pabean
dan/atau peraturan larangan pembatasan ekspor impor dan ditegah; barang dan atau
sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya yang tidak mungkin
dijaga, diawasi, dikawal terus menerus oleh Pejabat Bea dan Cukai; barang yang
diperlukan guna kepentingan pengamanan hak-hak negara dan penangguhan
pengeluaran barang.
Pemilik atau kuasanya wajib menjaga agar semua kunci, segel atau tanda
pengaman tidak rusak; Pembukaan , pelepasan atau perusakan kunci, segel atau tanda
pengaman tidak boleh tanpa seizin pejabat Bea dan Cukai; Segel dibuka bila telah
diselesaikan kewajiban pabeannya; penegahan yang surat perintahnya tidak mendapat
persetujuan Dirjen BC atau pejabat yang ditunjuk; diserahkan kepada penyidik sebagai
barang bukti. Penyegelan yang dilakukan dengan surat perintah harus dilakukan oleh
satuan tugas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2(dua) orang pejabat Bea dan Cukai.

55
Penempatan/ pelekatan segel Bea dan Cukai harus dilakukan sedemikian rupa supaya
yang disegel tidak dapat dipindahkan/ digerakkan; peti kemas/kemasan barang tidak
dapat dibuka; dan barang curah tidak dapat dimuat atau dibongkar tempat/ruang yang
disegel tidak dapat dibuka.

3.2. Latihan
1). Jelaskan apa tujuan penindakan di bidang kepabeanan ? Apa saja kewenangan
pejabat Bea dan Cukai dalam melakukan penindakan.?.
2). Jelaskan apa saja kewenangan pejabat Bea dan Cukai atas bangunan atau tempat
lain yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan bangunan
atau tempat lain yang penyelenggaraannya dengan izin yang diberikan
berdasarkan Undang-undang; atau bangunan atau tempat lain yang menurut
pemberitahuan pabean berisi barang dibawah pengawasan pabean?.
3). Jelaskan penanganan barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah oleh
Pejabat Bea dan Cukai ?.
4). Jelaskan tujuan dan maksud penyegelan yang dilakukan oleh pejabat Bea dan
Cukai?
5). Jelaskan apa saja hak-hak pemilik barang dan/atau sarana pengangkut yang
ditegah oleh pejabat Bea dan Cukai?.

3.3. Rangkuman

Ketentuan penindakan di bidang kepabeanan untuk mencari dan menemukan


suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran di bidang kepabeanan, maka pejabat
bea dan cukai mempunyai wewenang untuk melakukan penindakan. Hak penindakan
inilah yang nampaknya merupakan wewenang khusus bagi pejabat bea dan cukai, yang
dapat disamakan dengan penyelidikan sebagaimana yang disebut dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana.
Sehingga instrumen hukum bagi pejabat bea dan cukai untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang dapat diduga suatu pelanggaran pidana atau
pelanggaran administratif adalah wewenang penindakan. Pejabat Bea dan Cukai
berwenang memasuki dan memeriksa bangunan atau tempat yang bukan merupakan
rumah tinggal yang berdasarkan Undang-undang penyelenggaraannya tidak berada di

56
bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dapat memeriksa setiap
barang yang ditemukan.
Penegahan tidak dapat dilakukan terhadap paket atau barang yang disegel oleh
Penegak Hukum lain atau Dinas Pos; barang yang berdasarkan hasil pemeriksaan ulang
atas Pemberitahuan atau Dokumen Pelengkap Pabean menunjukkan adanya
kekurangan pembayaran Bea Masuk Sarana pengangkut yang disegel oleh Penegak
Hukum lain atau Dinas Pos; Sarana pengangkut Negara atau Negara Asing. Pemilik
dan/atau yang menguasai sarana pengangkut atau tempat-tempat yang disegel oleh
Pejabat Bea dan Cukai wajib menjaga agar semua kunci, segel, atau tanda pengaman
tidak rusak atau hilang. Kunci, segel, atau tanda pengaman yang telah dipasang tidak
boleh dibuka, dilepas atau dirusak tanpa izin dari Pejabat Bea dan Cukai.

4. Test Formatif

4.1. Soal Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling benar dan tepat, dengan cara memberikan tanda lingkaran
pada huruf a, b, c, d untuk tiap nomor pada soal dibawa ini. Soal ini bobot nilai nya
jumlah 30% untuk dua puluh soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabnya benar.

(contoh:1. a b c d ).

1). Patroli Bea dan Cukai adalah patroli yang dilaksanakan oleh satuan tugas Bea
dan Cukai di laut, di darat, dan di udara untuk pencegahan, penyidikan terhadap
pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai, tujuan lain
berdasarkan ketentuan yang berlaku, dan….
a. penegahan
b. penindakan
c. pemeriksaan
d. penagihan hutang negara

2). Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 30/KMK.05/1997


tanggal 16 januari 1997 Tentang Tata laksana penindakan di bidang

57
kepabeanan, sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya tersangkut
pelanggaran kepabeanan, peraturan larangan/pembatasan ekspor atau impor atau
belum dipenuhi/diselesaikan kewajiban pabeannya, pejabat bea dan cukai
berwenang melakukan penindakan berdasarkan….
a. pelanggaran tindak pidana
b. pelanggaran Kepabeanan
c. petunjuk yang cukup
d. pelanggaran dibidang Kepabeanan

3). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2008


tanggal 11 April 2008 tentang pengenaan sanksi administrasi berupa denda di
bidang kepabeanan. Sanksi administrasi berupa denda dikenakan hanya terhadap
pelanggaran yang diatur dalam….
a. undang-undang Kehakiman
b. undang-undang Larangan dan Pembatasan
c. undang-undang Kepabeanan
d. undang-undang Perbendaharaan Negara

4). Pejabat Bea dan Cukai berwenang menghentikan sarana pengangkut; memeriksa
sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya; menegah sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya, berdasarkan ….
a. petunjuk yang cukup
b. pemberitahuan impor barang
c. pemberitahuan ekspor barang
d. pemberitahuan pabean

5). Suatu perbuatan untuk menghentikan sarana pengangkut; memeriksa sarana


pengangkut dan/atau barang di atasnya; dan menegah sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya, adalah ….
a. Pengawasan
b. penindakan.
c. penegahan
d. penyelidikan

58
6). Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pegawai Bea dan Cukai dalam
pelaksanaan tugasnya mempunyai tanggungjawab yaitu tanggungjawab
pemeriksaan fisik barang dengan menggunakan pancaindera utamanya mata dan
tanggungjawab ....
a. keuangan
b. terhadap barang
c. terhadap semua barang
d. administrasi yang akuntabilitas

7). Penghentian sarana pengangkut oleh Pejabat Bea dan Cukai dilakukan dengan
cara memberikan isyarat kepada pengangkut. Dalam hal upaya penghentian
sarana pengangkut tidak dipatuhi, Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan
pengejaran dan ....
a. upaya penghentian secara paksa.
b. melumpuhkan baling-balingnya
c. melumpuhkan radarnya.
d. melumpuhkan anjungannya

8). Pejabat Bea dan Cukai berwenang memerintahkan pengangkut membawa sarana
pengangkut dan/atau barang di atasnya ke tempat lain yang sesuai untuk
pemeriksaan atau ….
a. ke kantor yangbersangkutan
b. ke kantor pabean.
c. ke Kantor Pusat DJBC
d. ke Kantor Wilayah DJBC/Kantor Pelayanan Utama

9). Dalam hal hasil pemeriksaan sarana pengangkut tidak ditemukan adanya
pelanggaran, pengangkut dan sarana pengangkut serta barang yang ada di
atasnya dapat segera ….
a. melunasi BM dan PDRI
b. memberitahukan dengan PIB
c. memberitahukan PIB dan dokumen pelengkap pabean.
d. meneruskan perjalanannya.

59
10). Dalam hal ditemuinya pelanggaran tindak pidana kepabeanan, maka terhadap
sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya diserahkan kepada ....
a. bagian penindakan Bea dan Cukai
b. PPNS Bea dan Cukai
c. bagian pengawasan Bea dan Cukai
d. Kepala Kantor Pabean

11). Pejabat Bea dan Cukai berwenang untuk menghentikan pembongkaran barang
dari sarana pengangkut apabila ternyata barang yang dibongkar tersebut....
a. barang curah
b. barang cair
c. bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.
d. barang berupa daya listrik

12). Pemeriksaan sarana pengangkut dan penghentian pembongkaran, pejabat Bea


dan Cukai menyampaikan surat bukti penindakan kepada pengangkut/pemilik
barang atau kuasanya dengan mendapat....
a. tanda terima dari yang bersangkutan.
b. berita acara
c. bukti penegahan
d. bukti penindakan

13). Dalam hal kewajiban tidak dipatuhi, Pejabat Bea dan Cukai membuka sendiri
kemasan barang dan ....
a. melakukan pemeriksaan kolli
b. melakukan pemeriksaan merk dan jenis kolli
c. melakukan pemeriksaan atas barang
d. melakukan pemeriksaan atas pengemas barang

14). Terhadap barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah pemilik/atau


kuasanya dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktur Jenderal
atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
sejak diterimanya Surat Bukti Penindakan (Penegahan), dengan ketentuan
menyebutkan alasan-alasan keberatan; dan ....

60
a. melampirkan hasil pemeriksaan
b. melampirkan hasil penindakan
c. melampirkan bukti-bukti yang menguatkan.
d. melampirkan hasil pencegahan.

15). Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi
impor atau ekspornya, maka ....
a. Dapat diajukan Banding
b. Tidak dapat diajukan Banding
c. Dapat diajukan keberatan
d. Tidak dapat diajukan keberatan.

16). Bentuk dan ciri-ciri kunci, segel, dan tanda pengaman yang dipergunakan dalam
penyegelan, serta cara penyegelan dan penghentian penyegelan diatur oleh ....
a. kepala Kantor Pabean
b. Direktur Jenderal.
c. menteri Keuangan.
d. peraturan Pemerintah.

17). Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang
ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau tempat lain
yang disamakan dengan tempat penimbunan atau di ....
a. gudang
b. lapangan penimbunan
c. gudang importir
d. tempat penimbunan

18). Dalam melakukan pemeriksaan sarana pengangkut dan barang di atasnya,


pejabat Bea dan Cukai berwenang memasuki sarana pengangkut dan/atau
bagiannya; memerintahkan pengangkut untuk membuka sarana pengangkut dan
kemasan barang di atasnya; meminta yang berkaitan dengan sarana pengangkut
dan/atau barang di atasnya berupa ....
a. narkotika yang diangkutnya
b. senjata api dan amunisi yang diangkutnya

61
c. barang larangan dan pembatasan yang diangkutnya
d. surat atau dokumen

19). Untuk melaksanakan pemeriksaan, importir, eksportir, pengusaha Tempat


Penimbunan Sementara, pengusaha Tempat Penimbunan Berikat atau kuasanya
wajib menyerahkan barang dan....
a. menyiapkan tempat pemeriksa
b. membuka setiap kemasan barang yang akan diperiksa .
c. menyiapkan tempat untuk pemeriksaan barang
d. membuka peti kemas

20). Dalam hal hasil pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran, Pejabat Bea dan
Cukai wajib melakukan ....
a. penegahan.
b. pencegahan
c. penindakan
d. penyidikan

21). Wewenang penyegelan keputusan Menteri Keuangan nomor 30/KMK.05/ 1997


tanggal 16 Januari 1997 tentang penghentian, pemeriksaan, dan penegahan
sarana pengangkut, dan/atau barang diatasnya, Bea dan Cukai berwenang
menyegel barang impor yang….
a. belum membayar BM
b. belum membayar PDRI
c. belum dipenuhi atau diselesaikan kewajiban pabeannya
d. belum membayar BM dan PDRI

22). Dalam hal penjagaan, pengawasan atau pengawalan yang harus dilakukan secara
terus-menerus oleh pejabat Bea dan Cukai terhadap barang dan/atau sarana
pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya tidak dimungkinkan;
pejabat Bea dan Cukai dapat melakukan ....
a. penyegelan.
b. penguncian
c. memberi tanda pengaman

62
d. memberitahukan pada masyarakat

23). Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang
ekspor yang harus diawasi yang berada di sarana pengangkut atau tempat lain
yang disamakan dengan tempat penimbunan atau di ....
a. gudang
b. lapangan penimbunan
c. gudang importir
d. tempat penimbunan

24). Untuk melakukan penyegelan pejabat Bea dan Cukai mempergunakan kunci,
segel, dan/atau ....
a. tanda pengaman.
b. berita Acara
c. penempelan segel
d. berita Acara Penyegelan

25). Dalam hal barang yang ditegah merupakan barang yang dilarang atau dibatasi
impor atau ekspornya, maka ....
a. dapat diajukan Banding
b. tidak dapat diajukan Banding
c. dapat diajukan keberatan
d. tidak dapat diajukan keberatan.

26). Pemeriksaan badan dilakukan di tempat tertutup oleh sekurang-kurangnya 2


(dua) Pejabat Bea dan Cukai yang sama jenis kelaminnya dengan yang diperiksa
dan dituangkan dalam ....
a. Laporan kepada Kepala Kantor Pabean
b. Berita Acara Pemeriksaan.
c. Berita Acara Penindakan.
d. Berita Acara Penegahan

27). Atas pemeriksaan sarana pengangkut dan penghentian pembongkaran, pejabat


Bea dan Cukai membuat surat bukti penindakan yang menyebutkan....

63
a. lmportir
b. eksportir
c. pengangkut
d. alasan penindakan atau jenis pelanggaran.

28). Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap barang impor
yang belum dipenuhi atau diselesaikan ....
a. kewajiban melunasi BM;
b. kewajiban melunasi PDRI
c. kewajiban pabeannya.
d. kewajiban memberitahukan pemberitahuan pabean

29). Bahwa besar kecilnya denda yang dikenai dipengaruhi oleh berat ringannya
pelanggaran yang dilakukan oleh si pelanggar. Pengenaan denda minimum
sampai dengan maksimum menganut asas ....
a. timbal balik
b. praduga tak bersalah
c. domisili
d. pro-porsionalitas.

30). Pemilik atau yang menguasai bangunan atau tempat lain wajib menyerahkan
barang kepada Pejabat Bea dan Cukai untuk ....
a. ditegah
b. dilakukan Penindakan
c. penyitaan
d. diperiksa.

64
4.2. Soal Pilihan Benar dan Salah
Pilihlah jawaban yang menurut Saudara adalah yang paling benar dan tepat, dengan
cara memberikan tanda lingkaran pada huruf B (bila jawaban yang dipilih adalah yang
benar), dan S (bila jawaban yang dipilih adalah yang Salah) untuk tiap nomor pada
soal dibawa ini:

(contoh: 1. B, S )

Soal ini bobot nilai nya jumlah 10% untuk sepuluh soal yang dapat Saudara kerjakan
dan jawabannya benar.

1). B–S Untuk melaksanakan penindakan berupa penghentian, pemeriksaan,


penegahan, dan penyegelan, Pejabat Bea dan Cukai harus dilengkapi
dengan Surat Perintah dari Kepala Kantor Pabean.

2). B –S Penyegelan dihentikan dan segel dapat dibuka dalam hal penyegelan
sebagai tindak lanjut dari penegahan yang dilakukan tanpa surat
perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal Bea
dan Cukai atau pejabat yang ditunjuk.

3). B–S Untuk melakukan penyegelan pejabat Bea dan Cukai


mempergunakan segel, dan/atau tanda pengaman lainnya.

4). B–S Yang dimaksud sarana pengangkut laut yang telah menuju kantor
pabean, adalah sarana pengangkut laut tersebut telah lego jangkar di
luar perairan pelabuhan atau redee

5). B–S Penghentian sarana pengangkut oleh Pejabat Bea dan Cukai
dilakukan dengan cara memberikan isyarat kepada pengangkut.
Dalam hal upaya penghentian sarana pengangkut tidak dipatuhi,
Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan pemeriksaan sarana
pengangkut dan barang yang ada diatasnya

6). B –S Penyegelan dapat dilakukan oleh pejabat Bea dan Cukai dalam hal

65
penjagaan, pengawasan atau pengawalan yang harus dilakukan
secara terus-menerus oleh pejabat Bea dan Cukai terhadap barang
dan/atau sarana pengangkut yang belum diselesaikan kewajiban
pabeannya tidak dapat dilakukan.

7). B –S Penyegelan dihentikan dan segel dapat dibuka dalam hal penyegelan
sebagai tindak lanjut dari penegahan yang dilakukan tanpa surat
perintah tidak mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal Bea
dan Cukai atau pejabat yang ditunjuk.

8). B–S Untuk melaksanakan penindakan berupa penghentian, pemeriksaan,


penegahan, dan penyegelan, Pejabat Bea dan Cukai harus dilengkapi
dengan Surat Perintah dari Kepala Kantor Pabean.

9). B –S Pejabat Bea dan Cukai berwenang melakukan penyegelan terhadap


barang dan/atau sarana pengangkut yang ditegah;

10). B – S Penyidikan tindak pidana kepabeanan untuk kepentingan


penerimaan negara, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan
tindak pidana kepabeanan atas permintaan Menteri Keuangan RI.

4.3. Soal Isian / mengisi kalimat atau kata (Soal melengkapi kalimat)
Lengkapilah kalimat dibawah ini agar menjadi kalimat atau pernyataan yang lengkap
dan benar, dengan cara mengisi pernyataan atau jawaban Saudara dituliskan pada
kolom atau ruang kosong yang bertanda titik-titik (.....)

Soal ini bobot nilai nya jumlah 20% untuk lima soal yang dapat Saudara kerjakan dan
jawabannya benar

1). Berdasarkan petunjuk yang cukup pejabat Bea dan Cukai berwenang
menghentikan sarana pengangkut; memeriksa sarana pengangkut dan/atau
barang di atasnya; menegah sarana pengangkut dan/atau barang di atasnya.

66
2). Batas wilayah pengawasan dan penindakan kepabeanan meliputi daerah pabean
Indonesia yang merupakan wilayah Republik Iindonesia yang meliputi wilayah
darat, perairan dan ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di zona
ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlakuundang-
undangkepabeanan

3). Berdasarkan petunjuk yang cukup bahwa suatu barang tersangkut pelanggaran
kepabeanan, peraturan larangan/pembatasan impor atau ekspor, pejabat Bea dan
Cukai berwenang melakukan pemeriksaan terhadap barang ekspor; atau barang
yang dikirim dari suatu tempat ke tempat lain di dalam daerah pabean melalui
suatu tempat di luar daerah pabean, dan barang impor;

4). Terhadap barang, sarana pengangkut atau bangunan/tempat lain atau tempat-
tempat di dalamnya yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai, pemilik atau
kuasanya wajib menjaga agar semua kunci, segel, atau tanda pengaman tidak
rusak atau hilang

5). Penyegelan harus dilakukan dengan surat perintah, kecuali dalam hal sebagai
tindak lanjut atas penegahan terhadap barang dan sarana pengangkut

4.4. Soal Uraian.


Jawablah satu soal dari tiga soal dibawah ini dengan cara menulis uraian jawabannya
diatas kertas yang disediakan atau diatas lembar soal yang disediakan untuk menjawab
soal uraian. Soal ini bobot nilai nya jumlah 40% untuk satu soal yang dapat Saudara
kerjakan dan jawabannya benar.

1). Jelaskan apa yang dimaksud dengan menyegel. Jelaskan dengan cara bagaimana
agar penyegelan menjadi optimal! Dan jelaskan maksud dan tujuan menyegel!
2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penindakan, dan jelaskan bagaimana cara
penindakan agar menjadi optimal !
3). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penegahan, dan jelaskan bagaimana caranya
melakukan penegahan sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya, agar
penegahan menjadi optimal.

67
5. Kunci Jawaban Test Formatif

5.1. Kunci Jawaban Untuk 4.1. Soal Pilihan Ganda

1,b 2.c , 3.c ,4.a ,5.b ,6.d ,7.a ,8.b ,9.d ,10.b,

11,c 12.a , 13.c ,14.c ,15.d ,16.b ,17.d ,18.d ,19.b ,20.a

21.c 22.a 23.c 24.a 25.d 26.b 27.d 28.c 29.d 30.d

5.2. Kunci Jawaban Untuk 4.2. Soal Pilihan Benar dan Salah

1, S 2. B , 3. S ,4. S , 5. S ,6. B ,7. B ,8. S ,9. B ,10. B

5.3. Kunci Jawaban Untuk 4.3. Soal Isian/mengisi kalimat atau kata
(Soal melengkapi kalimat)

1). menegah

2). undang-undang kepabeanan

3). barang impor;

4). tidak rusak atau hilang

5). penegahan

5.4. Kunci Jawaban Untuk 4.4. Soal Uraian (ada pada materi modul)

1). Jelaskan apa yang dimaksud dengan menyegel. Jelaskan dengan cara bagaimana
agar penyegelan menjadi optimal! Dan jelaskan maksud dan tujuan menyegel!

68
2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penindakan, dan jelaskan bagaimana cara
penindakan agar menjadi optimal !

3). Jelaskan apa yang dimaksud dengan penegahan, dan jelaskan bagaimana caranya
melakukan penegahan sarana pengangkut dan barang yang ada diatasnya, agar
penegahan menjadi optimal.

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul ini.
Hitung jawaban Anda dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman terhadap materi.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai
91 % s.d 100 % : Amat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka


disarankan mengulangi materi.

69
7. Daftar Pustaka

- Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20 ayat. (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-
Undang Dasar 1945;
- Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara;
- Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran
Negara Tahun 1960 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942);
- Undang-undang Nomor 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 133, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2070);
- Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2831);
- Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia
(Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2294);
- Undang-undang Nomor. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3209);
- Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);
- Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun
1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234);
- Undang-undang Tarip Indonesia Stbl. 1873 No. 135 sebagaimana telah dirubah
dan ditambah;
- Ordonansi Bea Stbl. 1882 No. 240 sebagaimana telah dirubah dan ditambah;
- Undang-undang Nomor 19 Tahun 1961 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1961 Nomor 276; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2318);

70
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR
KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL III
PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM
KEGIATAN INTELIJEN,TINDAK PIDANA
KEPABEANAN, PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC

OLEH :
TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BEA DAN CUKAI


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA
2008
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar.................................................................................................... i

Daftar Isi............................................................................................................. ii

1. PENDAHULUAN
3.1 Deskripsi Singkat................................................................................ 1
1.6 Tujuan Instruksional Umum (TIU)………………………………..... 2
1.7 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)……………………………….... 2
3.4. Petunjuk Pembelajaran …………………………………………….. 2
2. Kegiatan Belajar (KB) 1
PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN
INTELEJEN, TINDAK PIDANA KEPABEANAN, PENYIDIKAN,
DAN PPNS DJBC
2.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh ………………………………….. 3
2.5.a. Pengertian Intelejen ……………………….………………... 3
2.5.b. Yang Melakukan Kegiatan Intelejen ...................................... 7
2.5.c. Fungsi Intelijen ....................................................................... 12
2.6 Latihan .............................................................................................. 21
2.7 Rangkuman........................................................................................ 21

3. Kegiatan Belajar (KB) 2


PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN
PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KEPABEANAN
3.1 Uraian, Contoh dan Non Contoh…………………………………… 23
3.2.a. Tindak Pidana Penyelundupan ....………………………….. 23
3.2.b. Barang Hasil Tindak Pidana ..……………………………… 32
3.2.c. Kedaluarsa Tuntutan Pelanggaran Kepabeanan .…………… 33
3.2 Latihan …………………………………………………………....... 35
3.3 Rangkuman…………………………………………………………. 35

i
4. Kegiatan Belajar (KB) 3
PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN
PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC
5.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh ………………………………… 37
5.1.a. Azas-azas Hukum dan Upaya Hukum Yang Digunakan Dalam
Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan .…………………… 37
5.1.b. PPNS DJBC ............................................................................. 38
5.1.c. Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan …………………….. 38
4.2. Latihan …………………………………………………………….. 40

4.3. Rangkuman ……………………………………………………….. 40

5. Test Formatif………………………………………………………...... 42

6. Kunci Jawaban Tes Formatif………………………………………… 50

7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut......................................................... 51

8. Daftar Pustaka ...................................................................................... 52

ii
MODUL III

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN INTELIJEN,


TINDAK PIDANA KEPABEANAN, PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC

1. PENDAHULUAN

1.1. Deskripsi Singkat

Pengawasan dan penindakan mensyaratkan bahwa semua tindakan yang diambil


oleh petugas Bea dan Cukai harus didasarkan pada adanya bukti permulaan yang cukup,
yang salah satunya adalah bersumber dari data Intelijen. Intelijen berkaitan erat dengan
suatu proses pengumpulan informasi dalam rangka proses penyusunan dan pengambilan
keputusan, sehingga bila informasi yang disampaikan keliru, maka keputusan yang
diambilpun akan keliru. Pembahasan yang berkaitan dengan masalah intelijen
mencakup tiga kegiatan utama, yaitu penyelidikan, penggalangan, dan pengamanan.
Ketiga hal inilah sebenarnya yang merupakan cakupan besar masalah-masalah intelijen.
Bidang penyelidikan memfokuskan perhatian pada upaya mengumpulkan informasi
berikut aspek-aspek yang berkaitan erat dengan upaya-upaya tersebut. Sementara dalam
bidang penggalangan fokus utamanya adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan
informasi dapat terkumpul dengan effektif dan effisien, sedangkan bidang pengamanan
membahas hal-hal yang berkaitan dengan pengamanan instalasi, informasi, dan orang.
Terganggunya keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan umum
dalam hal ini berarti dalam kondisi ketika seseorang (barang siapa) yang karena
kelalaiannya/kesengajaannya melakukan hal-hal yang dapat merugikan kepentingan
umum atas dasar kepentingan individunya secara tidak bertanggung jawab. Suatu pola
perlindungan dan pengamanan atas hak-hak negara dan menjamin keseimbangan antara
kepentingan individu dan kepentingan negara merupakan suatu bentuk dasar justifikasi
yang kuat dalam melakukan pengekangan dan pembatasan hak azasi pelaku tindak
pidana. Betapa tingginya nilai hak azasi individu yang harus dijunjung dan dijamin oleh
negara akan gugur ketika kepentingan umum dan negara dirugikan karenanya.

1
1.2. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

Dengan mengetahui, memahami, melaksanakan isi kegiatan pembelajaran ini,


siswa atau peserta didik diharapkan lebih terampil dalam pelaksanaan tugas sesuai
materi Modul Pengawasan dan Penindakan Dalam Kegiatan Intelijen, Tindak Pidana
Kepabeanan, Penyidikan, Dan PPNS DJBC

1.3. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Setelah mempelajari materi Modul Pengawasan dan Penindakan Dalam


Kegiatan Intelijen, Tindak Pidana Kepabeanan, Penyidikan, Dan PPNS DJBC, siswa
atau peserta didik diharapkan memahami, dan mampu melaksanakan tugas:
– pengawasan dan penindakan dalam kegiatan intelijen di bidang kepabeanan
– pengawasan dan penindakan dalam kegiatan penyelesaian tindak pidana
kepabeanan
– memahami pengertian penyidikan, dan PPNS DJBC

1.4. Petunjuk Pembelajaran

Bacalah dengan cermat dan teliti materi Modul Pengawasan dan Penindakan
Dalam Kegiatan Intelijen, Tindak Pidana Kepabeanan, Penyidikan, Dan PPNS DJBC.
Setelah selesai membaca dan memahami materi pembelajaran, jawablah soal latihan
dan pahami rangkuman pembelajaran. Dalam hal siswa atau peserta diklat merasa
jawaban soal latihan hasilnya belum mencapai enam puluh lima persen, agar membaca
dan memahami kembali modul ini utamanya yang belum dimengerti. Dalam hal masih
belum dapat dimengerti materi pembelajaran ini tanyakan kepada pengajar, dan/atau
kelompok belajar Anda. Pada menjelang akhir pembelajaran kerjakan atau jawablah
seluruh test formatif, setelah selesai dikerjakan jawaban agar dicocokan hasil/jawaban
dengan kunci jawaban yang telah disediakan pada modul ini. Bila berhasil menjawab
dengan benar lebih dari enam puluh lima persen, dinyatakan cukup berhasil, dalam hal
ingin lebih baik lagi hasilnya agar mengulangi membaca kembali bagian yang belum
dipahami atau dimengerti.

2
2. KEGIATAN BELAJAR (KB) 1

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN


INTELIJEN DI BIDANG KEPABEANAN

2. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

2.1.a. Pengertian Intelijen

Secara etimologi kata ‘intelijen’ merupakan kata dalam Bahasa Indonesia yang
disadur dari bahasa Inggris ‘intelligence’ yang dalam Kamus Bahasa Inggris –
Indonesia karya John M. Echolis dan Hasan Sadily memiliki beberapa arti, yaitu
‘kecerdasan, anggota intelijen, biro intelijen, dan juga berarti keterangan-keterangan
rahasia’. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat dua kata yang berasal dari kata
bahasa inggris yang sama, yaitu ‘inteligen’ dan intelijen. ‘Inteligen’ diartikan sebagai
mempunyai atau menunjukan tingkat kecerdasan yang tinggi, atau berpikiran tajam,
cerdas, berakal. Sedangkan ‘intelijen’ memiliki dua arti yaitu orang yang bertugas
mencari keterangan (mengamat-amati), atau dinas rahasia. Hal ini sejalan dengan arti
intelijen yang diberikan oleh WJS Poerwadarminta yang mengartikan ’intelijen’ sebagai
orang yang bertugas mencari (mengawasi) seseorang, musuh, dsb, dan juga berarti
dinas rahasia. Jono Hatmodjo menyebutkan bahwa intelijen adalah suatu kemampuan
untuk mengumpulkan atau menilai bahan keterangan yang berguna bagi kepentingan
pemakai intelijen itu sendiri, yang dapat berupa individu, komandan militer, atau
seorang pembuat kebijakan, instansi, kepala negara, atau kepala pemerintahan
(Hatmodjo, 2003 : 1) Dalam beberapa ‘handout’ keintelijenan, pengertian ‘intelijen
dapat diartikan sebagai proses, sebagai produk, sebagai orang, dan sebagai organisasi.
Sebagai suatu proses intelijen dimaknai sebagai suatu kegiatan mengumpulkan
informasi, mengolahnya, dan menyajikan hasilnya sesuai dengan rencana yang telah
disusun.Bila didefinisikan sebagai produk,maka intelijen merupakan hasil akhir yang
dihasilkan dari suatu kegiatan mengumpulkan sampai dengan mengolah informasi. Dan
bila intelijen diartikan sebagai orang atau organisasi, maka yang dimaksud disini adalah
personil atau badan yang digunakan untuk menggerakan kegiatan intelijen sesuai
dengan fungsinya. Terlepas dari berbagai definisi dan pengertian tersebut di atas, dalam

3
tulisan ini pengertian intelijen lebih diartikan sebagai suatu kegiatan untuk
mengumpulkan, mengolah, dan menyajikanya informasi kepada pihak-pihak yang
membutuhkannya, jadi lebih cenderung kepada pengertian intelijen sebagai suatu
proses. Orang yang bertugas melakukan proses tersebut disebut agen inteliejn atau intel,
badan yang melaksanakan proses tersebut disebut organisasi intelijen. Dari pengertian
ini maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan intelijen sangat erat kaitannya dengan
masalah-masalah informasi yang kelas akan dijadikan oleh ’pengguna’ (user) untuk
membuat keputusan. Sehingga suatu kegiatan intelijen harus dilakukan secara seksama
dan bertanggung jawab, karena bila proses pengumpulan dan pengolahan informasi
tersebut salah, maka yang akan disajikan kepada ’pengguna’ juga akan merupakan
suatu produk intelijen yang salah atau tidak akurat, dan akhirnya keputusan yang akan
diambil oleh pengguna juga merupakan keputusan yang tidak akurat. Dalam undang-
undang kepabeanan disebutkan beberapa wewenang yang dimiliki oleh setiap pejabat di
lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai guna mengamankan hak – hak negara.
Wewenang tersebut anatara lain melakukan pengawasan, patroli, menegah barang atau
srana pengangkut, melakukan penyegelan serta wewenang lainnya, termasuk untuk
melakukan kegiatan intelijen.
Menurut Colin Vassarotti, tujuan pengawasan dari Pabean adalah memastikan
semua pergerakan barang, kapal, pesawat terbang, kendaraan dan orang-orang yang
melintas perbatasan Negara berjalan dalam kerangka hukum, peraturan dan prosedur
pabean yang ditetapkan (lihat Colin Vassarotti, “Risk Management–A Customs
Prespective”, hal.19). Untuk menjaga dan memastikan agar semua barang, kapal dan
orang yang keluar/masuk dari dan ke suatu negara mematuhi semua ketentuan
kepabeanan. Sedangkan menurut definisi dari yang penulis telah sampaikan dapat
dilihat bahwa tujuan dari pengawasan pabean adalah agar dipatuhinya undang-undang
dan peraturan pelaksanaan yang berlaku demi kepentingan keuangan negara. Dalam
modul pencegahan pelanggaran kepabeanan yang dibuat oleh World Customs
Organization (WCO) disebutkan bahwa pengawasan pabean adalah salah satu metode
untuk mencegah dan mendeteksi pelanggaran kepabeanan.
Berdasarkan modul WCO tersebut dinyatakan bahwa pengawasan Bea Cukai
yang mampu mendukung pendeteksian dan pencegahan penyelundupan paling tidak
harus mencakup kegiatan: penelitian dokumen, pemeriksaan fisik, dan audit pasca
impor. Di samping tiga kegiatan itu menurut hemat penulis kegiatan intelijen juga
merupakan bagian yang diperlukan dari pengawasan pabean. Dalam pelaksanaan

4
pengawasan pabean, Direktorat Jenderal bea dan cukai masih harus terus menerus
ditingkatkan, karena dalam pelaksanaan tugasnya mengalami kesulitan dan beberapa
kemungkinan terjadinya pelanggaran karena adanya sisi lemah dari suatu peraturan.
Semakin canggihnya cara dan teknik pelanggaran dan penyelundupan sehingga
terkadang sulit untuk dibuktikan pelanggarannya. Adanya kepentingan pihak lain
(antara lain undang-undang kerahasiaan bank), menyangkut hak azasi perorangan yang
dilindungi oleh undang-undang. Sehubungan dengan kepentingan/kesejahteraan umum,
berkaitan dengan ketentuan perundang-undangan. Berdasarkan hal-hal tersebut
diperlukan suatu landasan hukum agar kegiatan untuk melakukan pengawasan dan
penindakan menjadi sah dan benar sesuai dengan struktur organisasi yang diperlukan
dalam pengawasan kepabeanan. Landasan hukum yang memberikan wewenang kepada
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk melakukan kegiatan Intelijen, Investigasi,
Penindakan, Penyidikan, Penetapan dan pelaksanaan sanksi kepabeanan dan cukai.
Dengan struktur organisasi yang baru, penulis memisahkan kegiatan pelayanan dan
pengawasan dimana tugas pelayanan dilakukan di Kantor Pelayanan dan tugas
pengawasan dilakukan oleh Kantor Wilayah atau Kantor Pelayanan Utama Dalam
uraian tugas dan fungsi Kantor Pelayanan tidak disebutkan adanya fungsi pencegahan,
penindakan, penyidikan, verifikasi, dan audit. Tugas dan fungsi tersebut dilaksanakan
oleh Kantor Wilayah atau Kantor Pelayanan Utama Dalam organisasi yang baru tugas
pencegahan, penindakan dan penyidikan ini harus dilaksanakan terutama oleh Kantor
Wilayah. Hal ini nampak dari adanya fungsi pelaksanaan intelejen, patroli, dan operasi
pencegahan pelanggaran, penindakan, serta penyidikan yang tidak dimiliki oleh Kantor
Pelayanan. Bidang Pencegahan dan Penyidikan pada Kantor Wilayah diharapkan dapat
melakukan day-to-day-operations (terus-menerus) dalam bidang pencegahan
penindakan dan penyidikan.
Bidang Pencegahan dan Penyidikan bertugas melakukan kegiatan intelijen mulai
dari pengumpulan informasi, pengolahan, dan pengambilan keputusan untuk melakukan
pemeriksaan, pencegahan, penindakan ataupun penyidikan. Apabila kita melihat
lingkup tugas Bea dan Cukai sebenarnya informasi terbanyak yang digunakan untuk
pengawasan pabean adalah informasi yang ada di Kantor Pelayanan. Informasi yang
umumnya dipakai untuk kegiatan pengawasan berada di dalam dokumen Airway Bill
(AWB), Bill of Lading (B/L), manifest, Pemberitahuan Impor Barang (PIB),
Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), Invoice, Polis Asuransi, Certificate of Origin,
Letter of Credit (L/C), profit importir, data pemeriksaan kapal, data kapal, data

5
Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan, dan sebagainya yang berada di Kantor
Pelayanan karena data tersebut berada dalam dokumen-dokumen yang harus diserahkan
kepada Bea dan Cukai dalam rangka pelayanan. Sebaliknya data tersebut sulit diperoleh
di Kantor Wilayah karena Kantor Wilayah tidak melakukan pelayanan impor dan
ekspor. Kantor Wilayah hanya bisa memperoleh data tersebut apabila dikirim ke Kantor
Pelayanan. Untuk bisa melakukan pengawasan Kantor Wilayah harus mempunyai
informasi yang cukup, sedangkan informasi yang diperlukan ini justru berada di Kantor
Pelayanan. Sebenarnya Kantor Pelayanan adalah institusi yang paling efektif untuk
mendeteksi dan mencegah adanya pelanggaran atau penyelundupan karena menguasai
informasi yang banyak. Informasi tentang muatan kapal, jumlah, dan jenisnya, importir
dan eksportir semua ada pada Kantor Pelayanan. Petugas Kantor Pelayanan juga
melihat dan mengawasi langsung penimbunan atau pemuatan dan dapat mendeteksi
adanya kejanggalan yang merupakan indikator adanya pelanggaran. Hal-hal seperti ini
hanya dapat dilakukan oleh Kantor Wilayah jika informasi tentang muatan kapal dan
barang impor/ekspor dapat ditransfer secara elektronik dari Kantor Pelayanan ke Kantor
Wilayah. Namun informasi yang diperoleh dari pengolahan dokumen ini juga tidak
cukup untuk dapat melakukan pengawasan dengan efektif. Masih diperlukan adanya
informasi dari lapangan secara terus menerus mulai dari kapal datang, saat
pembongkaran, saat penimbunan, dan seterusnya. Ini berarti Kantor Wilayah harus
menempatkan orang di pelabuhan secara terus-menerus sesuai dengan hakikat day–to-
day-operations.
Jika Kantor Wilayah berada pada satu kota dengan Kantor Pelayanan, kegiatan
ini dapat dilaksanakan tetapi jika Kantor Wilayah tidak berada dalam satu kota dengan
Kantor Pelayanan, day-today-operations tidak dapat dijalankan karena biayanya sangat
besar. Bidang Pencegahan dan Penyidikan (P2) dan Bidang Audit yang menjalankan
fungsi pengawasan sangat memerlukan informasi tentang impor atau ekspor untuk
dapat melakukan pencegahan atau mengadakan audit sebab sistem pemeriksaan kita
sesuai Undang-Undang Kepabeanan bersifat selektif. Audit mau tidak mau juga harus
dilakukan secara selektif karena jumlah perusahaan sangat banyak sedang jumlah
auditor terbatas. Untuk menyeleksi kita harus melalui proses risk assesment yang
memerlukan banyak informasi dan informasi ini berasal dari data impor di Kantor
Pelayanan. Berdasarkan kebutuhan akan informasi yang sangat banyak, baik informasi
mengenai kegiatan yang ada di lapangan maupun informasi lainnya, maka sudah

6
menjadi suatu keharusan agar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk mengefektifkan
dan melaksanakan kegiatan intelijen kepabeanan.

Kegiatan intelijen sangat dibutuhkan karena:


– masih adanya orang-orang atau grup tertentu yang berusaha untuk mengelak dari
peraturan dan kebijakan pemerintah (dan ini akan tetap berlangsung)
– merupakan kewajiban Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk memperlancar arus
perdagangan dan perjalanan (penumpang) internasional di satu pihak dan di pihak
lain masih terjadi (bahkan meningkat) pelanggaran di bidang kepabeanan dan cukai
– makin maju suatu negara semakin berkembang permasalahan dibidang Kepabeanan
– dampak dari kemajuan teknologi mengakibatkan meningkatnya penyelundupan
barang terutama narkotika
– untuk melindungi Industri dalam negeri
– karena beberapa jenis barang bahan baku yang dibutuhkan dunia industri mulai
menipis atau sama sekali tidak dimiliki suatu negara
– pencurian kekayaan dan pelanggaran wilayah
– kemungkinan dijadikannya negara transit dalam perdagangan narkotika

Peran dari kegiatan intelijen sangat diperlukan sekali untuk menekan dan
mendeteksi sedini mungkin terjadinya pelanggaran kepabeanan dan cukai agar
pelanggaran tersebut dapat dicegah dan di atasi oleh pihak Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai.

2.1.b. Yang Melakukan Kegiatan Intelijen

Pada hakekatnya, sesuai dengan pengertian yang telah dibuat tersebut,


sesungguhnya kegiatan-kegiatan intelijen dilakukan dengan mengingat kebutuhan
pihak-pihak yang membutuhkannya. Jadi suatu organisasi Intelijen atau unit intelijen
bukan melakukan suatu kegiatan intelijen bukan untuk dirinya sendiri, melainkan atas
dasar kebutuhan atau permintaan ’pengguna’ atau ’user’nya. Pihak-pihak tersebut dapat
berupa ‘client’ dan dapat pula berupa ‘stakeholder’. Dengan kata lain intelijen hadir
untuk melayani kebutuhan-kebutuhan ’client’ dan ’stakeholdernya’, sehingga intelijen
yang baik harus mampu menangkap dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan pihak-

7
pihak yang dilayaninya tersebut. Walaupun mungkin pihak-pihak yang dilayani tersebut
tidak menyadari bahwa mereka adalah ’client’ dari suatu kegiatan intelijen. Seharusnya
tidak ada suatu kegiatan intelijen yang dilakukan untuk kepentingan unit atau organisasi
intelijen sendiri. Walaupun mungkin ‘pengguna’ jasa unit intelijen itu adalah
perorangan, tetapi secara prinsip suatu kegiatan intelijen harus ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan ‘client’nya. Dalam dunia intelijen dikenal adanya dua bentuk
‘client’, yaitu ‘pengguna utama’ (Primary Client) dan ‘pengguna kedua’ (Secondary
Client). Primary client adalah pihak-pihak berhubungan langsung dengan badan atau
unit intelijen tersebut. Badan atau unit intelijen bergerak atas dasar permintaan langsung
dari ‘primary client’ ini, dimana hasil akhirnya pun langsung digunakan oleh ‘client’
jenis ini. Misalnya bila unit intelijen Direktorat Pencegahan dan Penyidikan diperintah
oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk mencari informasi tentang penyelundupan
mobil-mobil mewah ke wilayah Indonesia, maka Direktur Jenderal merupakan ‘primary
client’ dari unit tersebut. Produk intelijen yang dihasilkan oleh unit intelijen tersebut
nantinya akan langsung digunakan oleh Direktur Jenderal sebagai dasar pembuatan
keputusan. Negara Republik Indonesia merupakan client utama dari Badan Intelijen
Nasional, Direktur Pencegahan dan Penyidikan dapat merupakan client utama dari sub
unit intelijen di lingkungan Direktorat Pencegahan dan Penyidikan. Sedangkan yang
dimaksudkan ‘secondary client’ adalah pihak-pihak yang tidak berhubungan langsung
dengan unit intelijen, tetapi produk intelijen dari unit intelijen kerap digunakan olehnya.
Misalnya, dengan mengacu pada contoh tersebut diatas, produk intelijen tentang
penyelundupan mobil mewah tersebut, digunakan juga oleh Kantor Pelayanan untuk
menentukan kebijakan terhadap pengawasan lalu lintas barang impor di wilayah
kerjanya. Disini Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tersebut dapat dipandang sebagai
‘secondary client’. Disamping kedua jenis client tersebut diatas, pengguna produk atau
jasa intelijen suatu unit intelijen juga adalah ‘stakeholder’ yaitu pihak-pihak yang
mendapatkan manfaat dari suatu suatu pelaksanaan tugas unit intelijen tersebut.
Misalnya untuk perusahaan pelayaran atau perusahaan penerbangan, industri dalam
negeri juga merupakan stakeholder dari unit intelijen Bea dan Cukai.

Jenis-Jenis Intelijen
Peran intelijen sangat penting di bidang kepabeanan dan cukai, untuk itu penulis
akan sedikit memberikan gambaran mengenai kegiatan intelijen. Berdasarkan

8
pengertian yang telah penulis sampaikan di atas, maka dapat diambil unsur-unsur dari
pengertian intelijen yaitu:
- merupakan suatu kegiatan yang logis.
- berupa kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang sesuatu yang telah atau
akan terjadi.
- melakukan dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam melakukan
kegiatannya.
- mengolah informasi yang telah didapat.
- menganalisa informasi tersebut.
- membuat suatu proyeksi tentang hal yang diamati.

Unsur-unsur dari pengertian intelijen di atas merupakan suatu kegiatan yang


berurutan dan harus dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan agar tujuannya
dapat dicapai semaksimal mungkin. Kegiatan intelijen ini dilakukan berdasarkan
tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan secara cermat atau logis dalam pelaksanaan
proses intelijen karena setiap kegiatan dari proses intelijen itu saling terkait dan
tergantung satu sama lain dan merupakan suatu siklus yang merupakan suatu
keseluruhan dari proses intelijen, tahapan-tahapan inilah yang sering kita sebut siklus
intelijen (the inteliligence cycle ). Agar proses pelaksanaan kegiatan intelijen dapat
berjalan secara maksimal maka diperlukan penbagian atau penggolongan intelijen
sesuai dengan lingkup kegiatan dan persoalan yang harus di atasi serta secara geografis.
Adapun penggolongannya adalah sebagai berikut berdasarkan lingkup kegiatan dan
persoalannya meliputi Intelijen Strategis, Intelijen Operasional, Intelijen Taktis/Target.
Berdasarkan pembagian secara geografis meliputi Intelijen Pusat membuat dan
mengembangkan intelijen strategis, menjalankan fungsi risk assesment, mengadakan
kontak secara nasional dan internasional dalam organisasi pabean, organisasi dagang,
dan sebagainya; mengelompokkan informasi dari sumber nasional dan internasional;
mengidentifikasikan tren nasional dan internasional; menyebarkan informasi ke unit
wilayah; bertindak sebagai titik penghubung antara unit wilayah.
Intelijen Wilayah melakukan kegiatan mengumpulkan informasi melalui
pengembangan kontak pada tingkat wilayah; pengembangan intelijen strategis dan
operasinal yang disarankan oleh unit pusat dan mengidentifikasikan perusahaan atau
perorangan yang mengandung resiko; menentukan intelijen target terhadap perusahaan
atau perorangan tertentu. Selain harus digolongkan sesuai penggolongan di atas, yang

9
tak kalah pentingnya dalam pelaksanaan kegiatan intelijen adalah harus dibentuk suatu
susunan organisasi agar tidak terjadi saling tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas
dan kegiatan intelijen dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta dapat mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Informasi dari hasil proses intelijen diolah hingga menjadi
suatu informasi yang dapat dimengerti oleh pengguna informasi dan biasanya
dituangkan dalam suatu naskah intelijen.
Setiap naskah intelijen tersebut memiliki nilai masing-masing yang biasanya
digolongkan menjadi sangat rahasia, sifat dari informasi yang dikumpulkan dan diolah
sangat rahasia oleh karena itu informasi ini tidak boleh diberikan kepada sembarang
orang atau badan, akan tetapi hanya kepada yang berhak saja. Rahasia, informasi ini
memiliki sifat yang rahasia sehinnga tidak boleh diketahui oleh siapapun, kecuali yang
berhak. Hanya untuk yang berkepentingan, informasi ini hanya diperbolehkan untuk
pihak yang berkepentingan saja. dan Terbatas, sifat dari informasi ini hanya boleh
diberikan kepada kalangan tertentu saja. Selain pemberian nilai informasi tersebut,
dalam kegiatan intelijen bea dan cukai, biasanya juga diberikan bobot terhadap
informasi-informasi tersebut, yaitu A1: sangat akurat; A2: akurat; A3: dapat dipercaya;
A4: kebenarannya diragukan. Pada prakteknya sistem atau metode pemberian nilai dan
bobot informasi ini tergantung dari organisasi intelijen yang membuatnya. Pelaksanaan
kegiatan intelijen tidaklah semudah yang kita bayangkan, karena tidak menutup
kemungkinan dalam pelaksanaan kegiatan intelijen tersebut terjadi saling tumpang
tindih antara intelijen instansi kepabeanan dan cukai dengan intelijen dari instansi
lainnya. Menurut Andi Widjajanto, seorang dosen di Universitas Indonesia, peneliti,
dan pengamat militer yang akan berbicara tentang intelijen negara, di Indonesia kira-
kira terdapat ada 18 lembaga instansi yang memiliki intel, seperti ada BIN untuk
intelijen nasional, Bais untuk intelijen tempur, intelijen militer, intelijen di kepolisian,
intelijen di kejaksaan, intelijen di bea cukai, intelijen di imigrasi, intelijen justicial, lalu
di departemen-departemen lainnya. Komunitas intelejen yang ada tidak sebatas Badan
Intelejen Negara (BIN), atau Badan Intelejen Strategis (BAIS) yang dimiliki oleh
Mabes TNI, atau juga Intelejen Keamanan (Intelkam) Mabes Polri, tapi juga
menyangkut intelejen lainnya, yakni: BIN, BAIS TNI, Intelkam Polri, Intel Kejaksaan,
Intel Imigrasi, dan Intel Bea Cukai, serta Lembaga Sandi Negara. Dari komunitas
intelejen tersebut hingga saat ini hampir tidak ada garis koordinasi yang jelas antar
lembaga tersebut. Hal ini jelas menyulitkan deteksi sejak dini ancaman terhadap
eksistensi negara yang kemungkinan terjadi, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

10
Alhasil, kita dapat melihat bagaimana lemahnya kinerja dan buruknya koordinasi antar
lembaga intelejen tersebut berujung kepada sejumlah aksi teror yang menyulitkan posisi
negara di dunia internasional. Aksi terorisme yang marak tersebut, bahkan hampir tidak
dapat dideteksi sejak dini. Fungsi intelejen yang terdiri dari tiga hal yakni; penyidikan,
pengamanan, dan penggalangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal tersebut
dikarenakan tidak adanya garis koordinasi yang jelas antar lembaga intelejen yang ada.

Ada empat alasan mengapa masing-masing lembaga intelejen tersebut tidak dapat
berkoordinasi dengan baik, yakni:
- esprit de corp yang sangat tinggi di masing-masing lembaga intelejen.
Kebanggaan atas lembaga tersebut menjadi tidak efektif dan kontra produktif
ketika kinerja dari masing-masing lembaga tersebut tidak menunjukkan tiga
fungsi intelejen tersebut.
- adanya persaingan yang tidak sehat. Sehingga koordinasi dapat diasumsikan
membuka strategi dan berujung pada wan prestasi dari masing-masing lembaga
tersebut. Tak heran apabila koordinasi hanya dianggap sebagai hal yang tidak
terlalu penting. Padahal dalam konteks deteksi dini dari berbagai ancaman,
koordinasi mampu menutup cela kemungkinan berubahnya ancaman menjadi
tragedi.
- sentimen kelembagaan yang satu dengan yang lain merasa lebih baik dari
lembaga lain. Berbeda pada kasus kebanggaan pada lembaga, pada sentimen yang
merasa lebih baik menjadi pemicu terjadinya keengganan dari masing-masing
lembaga intelejen untuk membuka hal-hal yang menjadi kerja-kerja keseharian.
Tak heran pula kerap kali terjadi bentrok kerja antara lembaga intelejen tersebut
di lapangan, misalnya kasus penggrebekan pelaku teroris di Tangerang beberapa
waktu lalu.
- belum ada perangkat hukum yang mengikat satu lembaga intelejen satu dengan
lembaga lainnya dalam satu garis koordinasi yang jelas. Hal ini membuat
komunitas intelejen yang ada enggan untuk melakukan koordinasi dan tukar
informasi. Tak jarang pula di lapangan misalnya wilayah yang seharusnya
menjadi wewenang BIN malah dikerjakan oleh Intelkam Polri, atau sebaliknya
juga.

11
Kendala-kendala seperti yang penulis uraikan di atas membawa dampak buruk
terhadap kinerja dari intelijen, termasuk berdampak pada kegiatan intelijen di
lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga deteksi dini dari tindakan
pelanggaran kepabeanan dan cukai tidak dapat dilakukan secara maksimal dan akhirnya
berdampak pada kerugian negara akibat dari tindak pelanggaran kepabeanan tersebut.

Berdasarkan tingkat penggunaan produk intelijen yang dihasilkan oleh unit-unit


intelijen pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, maka intelijen dapat digolongkan
pada tiga tingkatan intelijen, yaitu :

– Intelijen strategis
Yang dimaksudkan dengan intelijen strategis adalah tingkatan dari suatu produk
intelijen dimana produk tersebut setelah melalui tahapan-tahapan kegiatan intelijen
menghasilkan suatu produk yang bersifat strategis, dengan jangkauan wilayah yang
luas, serta jarak panjang. Misalnya produk intelijen yang akan digunakan untuk
kebijakan pengawasan terhadap penyalahgunaan fasilitas Kawasan Berikat, yang
dapat digunakan secara nasional.

– Intelijen Operasional
Intelijen jenis ini adalah suatu tingkatan intelijen dimana produknya akan dapat
digunakan secara regional. Suatu produk intelijen strategis dapat dikembangkan
menjadi suatu kegiatan intelijen operasional yang hasilnya adalah produk intelijen
yang dapat digunakan untuk menentukan kebijakan suatu wilayah tertentu. Misalnya
kebijakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap Kawasan Berikat di
lingkungan Kantor Pelayanan Purwakarta.

– Intelijen Taktis
Intelijen taktis adalah intelijen yang bersifat taktis di lapangan, yaitu suatu intelijen
yang mampu mencipatakan suatu produk yang dapat dijadikan dasar untuk
menentukan langkah-langkah praktis di lapangan. Misalnya produk intelijen taktis
yang digunakan untuk mengungkapkan pelanggaran yang dilakukan oleh satu
Kawasan Berikat A di lingkungan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Bekasi.

2.1.c. Fungsi Intelijen

12
Fungsi intelijen adalah fungsi-fungsi yang dilakukan dalam suatu kegiatan
intelijen. Apa pun tingkatan intelijen tersebut, apakah intelijen strategis, operasional,
ataupun taktis, fungsi-fungsi intelijen itu tetap harus dilakukan. Fungsi tersebut meliputi
tiga kegiatan utama, yaitu penyelidikan (investigation), pengamanan (security), dan
penggalangan (preconditioning).
Investigation.
Kegiatan penyelidikan merupakan fungsi pertama dari suatu kegiatan intelijen.
Fungsi ini sering diidentikan dengan kegiatan intelijen itu sendiri, sehingga seringkali
suatu kegiatan penyelidikan, padahal penyelidikan hanyalah salah satu dari tiga fungsi
intelijen lainnya. Penyelidikan adalah kegiatan intelijen untuk memperoleh keterangan-
keterangan atau informasi mengenai keadaan dan tindakan apa yang akan dilakukan
sasaran atau lawan. Keterangan-keterangan dan informasi tersebut kemudian diolah dan
dinilai, untuk kemudian hasil akhirnya merupakan produk intelijen yang diserahkan
kepada ’client’ untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhannya. Kegiatan
penyelidikan harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ’client’, yang akan
digunakan ’client’ untuk menentukan langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk
mencegah terjadinya pelanggaran. Pertanyaan-pertanyaan itu diformulasikan sebagai
5W1H, yang meliputi....
– What (apa)....
yang telah terjadi, sedang terjadi, akan terjadi, dan lain sebagainya yang berkaitan
dengan masalah ’Apa’
– Who (siapa)....
yang melakukan, yang mengatakan, membantu melakukan, dan lain-lain yang
berkaitan dengan masalah ’siapa’.
– When (kapan)....
kapan terjadi, kapan subyek bertemu, kapan subyek akan melakukan, dan
seterusnya.
– Where (dimana)....
menjawab tempat-tempat yang berkaitan dengan masalah atau masalah intelijen
(intelligence problem).
– Why (mengapa)....
informasi yang mampu menjawab motivasi atau sebab masalah tersebut terjadi
– How (bagaimana)....

13
informasi yang mampu menjawab bagaimana cara melakukan perbuatan yang
menjadi masalah intelijen.

Pengamanan
Pengamanan adalah fungsi kedua intelijen yang merupakan suatu kegiatan yang
bertujuan untuk mencegah jangan sampai sasaran atau lawan mengetahui langkah dan
tindakan yang akan kita lakukan.
Aktivitas intelijen ini dapat berupa pengamanan aktif, seperti melakukan
aktivitas ’counter intelligence’, dan dapat juga dilakukan secara pasif, yaitu dengan
melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan terhadap kemungkinan obyek-obyek intelijen
kita menjadi sasaran dari kegiatan ’counter intelligence’ pihak lawan.
Pengamanan obyek-obyek intelijen yang perlu mendapat prioritas adalah
pengamanan personil, pengamanan materil, dan mengamanan keterangan atau
informasi yang sudah diperoleh.

Penggalangan
Fungsi ketiga dari kegiatan intelijen adalah penggalangan atau pra conditioning
, yaitu suatu kegiatan intelijen untuk mencegah agar pihak lawan, musuh, atau sasaran
melakukan suatu kegiatan yang tidak diharapkan. Kegiatan penggalangan merupakan
suatu kegiatan operasional yang meliputi operasi khusus dan operasi psikologi. Operasi
khusus dilakukan dengan cara penyusupan agen-agen clandestine ke tubuh lawan atau
sasaran. Dalam dunia militer atau intelijen nasional, tindakan operasi khusus ini
meliputi kegiatan menteror, mensabotage, sampai dengan melakukan penculikan
terhadap lawan, dengan tujuan akhir agar lawan menghentikan aktivitas yang tidak
dikehendaki oleh ’client’.
Operasi psikoligis adalah salah satu bentuk penggalangan yang dilakukan
dengan targetnya adalah pikiran manusia. Operasi psikologis juga akrab disebut perang
urat syaraf, dimana termasuk dalam kegiatan ini adalah membujuk, mengelu-elukan,
meyakinkan, menghasut, dan tindakan lain yang sejenis. Umumnya bila operasi
psikologis ini telah berhasil, maka operasi khusus menjadi tidak perlu dilakukan.
Salah satu kegiatan penggalangan yang sangat dikenal adalah kegiatan propaganda.

Azas-Azas Intelijen

14
Seperti telah diuraikan dimuka bahwa suatu kegiatan intelijen sangat erat
hubunganngan dengan informasi yang dibutuhkan dalam suatu proses pengambilan
keputusan. Sehingga dalam mengumpulkan dan mengelola suatu informasi harus
memperhatikan azas-azas sebagai berikut ....
– Akurat
Azas ini mengharuskan bahwa suatu produk intelijen harus didasarkan pada
informasi yang tepat dan benar tentang fakta yang terjadi, sehingga tidak
diperkenankan adanya suatu informasi yang merupakan anggapan saja, melainkan
harus benar-benar tentang fakta yang terjadi, yang dilihat dan didengar sendiri.
– Terang dan Jelas
Intelijen juga mengharuskan bahwa Informasi yang diperoleh harus terang dan jelas,
sehingga tidak menmbulkan salah tafsir yang akan sangat mempengaruhi proses
intelijen berikutnya. Informasi yang terang dan jelas juga mengharuskan bahwa
suatu informasi yang diperoleh dari lapangan tidak boleh memasukan opini dari
petugas pengumpul informasi. Informasi yang terang dan jelas harus menyebutkan
detail tentang obyek atau sasaran intelijen, yang dapat berupa orang, kegiatan, atau
instalasi.
– Masuk Akal
Informasi atau suatu Produk intelijen yang dihasilkan harus dapat dipahami, dimana
urutan, susunan, dan hubungan persoalan yang satu dengan yang lain berkaitan dan
tidak saling bertentangan.
– Tepat Waktu
Dalam azas ini disyaratkan bahwa suatu Informasi yang diperoleh atau suatu produk
intelijen harus disampaikan dan disebarkan dengan cepat dan tepat waktu. Adalah
suatu pekerjaan yang sia-sia bila informasi atau suatu produk intelijen disampaikan
di mana masalah yang terkandung di dalamnya sudah lewat waktu, atau terlalu cepat
yang akan berakibat pada tidak effektifnya langkah-langkah yang diambil.

Persyaratan Yang Harus Dimiliki Oleh Seorang Yang Bertugas Di Bidang


Intelijen.
Dalam struktur organisasi intelijen akan ditemui adanya suatu unsur yang disebut
unsur lapangan, dimana unsur ini terdiri atas observer, agen, informan. Ketiga
kelompok petugas tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda, sehingga

15
persyaratan yang harus dimilikinya juga berbeda-beda pula. Tugas dan persyaratan
yang harus dimilikinya adalah sebagai berikut :
- Observer.
Seorang observer bertugas untuk mengadakan peninjauan lapangan dan
melakukan pengamatan dan penggambaran, untuk kemudian melaporkan hasil
pengamatan dan penggambarannya kepada unsur pimpinan. Syarat seorang
observer adalah harus dapat dan memiliki pergaulan yang luas dapat
menyesuaikan diri secara cepat, dimanapun ia ditugaskan, memiliki keahlian
istimewa untuk dapat mengetahui perubahan-perubahan penting , peka terhadap
apa yang sedang menjadi persoalan, memiliki keterampilan teknik pengamatan
dan penggambaran yang baik
- Agent
Seorang agent memiliki tugas melaksanakan instruksi pusat dan kemudian
memberikan laporan dari pelaksanaan tersebut kepada pusat. Dengan kata lain
seorang agent melayani kebutuhan pusat. Seorang agen dipersyaratkan harus
mempunyai loyalitas dan dedikasi yang tinggi, pengetahuan dan pendidikan yang
cukup, pengetahhuan, penguasaan situasi dan seluk beluk setempat, keterbukaan
untuk menerima informasi
- Informan
Sebagai salah satu unsur lapangan dari suatu organisasi intelijen, seorang
informan mempunyai tugas memberikan fakta tanpa membuat suatu analisa atau
saran, memberikan laporan yang sifatnya petunjuk yang harus dinilai, diolah
terlebih dahulu untuk menjadi suatu laporan intelijen. Sedangkan persyaratan
seorang informan adalah tidak boleh terlibat baik dalam tugas maupun fungsi,
sehingga sebenarnya seorang informan berada di luar struktur organisasi intelijen
yang resmi. Seorang informan tidak boleh mengetahui tugas inti atau tujuan dari
suatu kegiatan intelijen, jadi mereka hanya berfungsi memberikan informasi saja,
harus mampu menjaga kerahasiaan dirinya.

Di samping hal-hal tersebut di atas, seseorang yang bertugas di bidang intelijen


secara umum dipersyaratkan harus memiliki kemampuan-kemampuan untuk
melakukan penelitian (research skills), me-manage informasi (information
management), analisis (analytical skills). mengevaluasi dan membandingkan
(evaluative and comparative skills, membuat rencana dan mengumpulkan (planning

16
and collecting skills), negosiasi (negotiation skills), menulis dan mempersentasikan
(oral and presentation skills). Sedangkan hal-hal yang tidak boleh dibocorkan atau
diungkapkan oleh seseorang yang bergerak di bidang intelijen adalah bahwa mereka
dilarang untuk mengungkapkan atau membocorkan kelemahan lawan,kelemahan
dirisendiri,kemungkinan tindakan lawan,kemungkinan tindakan yang akan diambil,
kemampuan lawan, dan kemampuan diri sendiri.

Siklus Intelijen
Siklus intelijen adalah suatu rangkaian kegiatan intelijen yang berlangsung
secara terus menerus dan berurutan serta berkaitan, setelah rangkaian terakhir kembali
lagi pada rangkaian pertama, demikian seterusnya berlangsung tanpa henti. Siklus ini
merupakan suatu rangkaian kegiatan intelijen yang sistematis dan terstruktur. Dimana
kegiatan tersebut harus dilakukan secara disipilin agar keluaran yang dihasilkan
merupakan suatu produk yang akurat. Terdapat beberapa versi mengenai siklus intelijen
ini. Dalam modul intelijen yang diterbitkan oleh Direktorat Pencegahan dan Penyidikan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, tahapan kegiatan intelijen dalam siklus tersebut
meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut (Direktorat Pencegahan dan Penyidikan,
2001: 14) yaitu pengumpulan informasi , penilaian dan pembandingan, analisa,
penyajian, penilaian ulang. Sedangkan berdasarkan modul Australian Customs Service
‘National Intelligence Officer’s Course’ disebutkan bahwa silus intelijen tersebut
adalah kegiatan-kegiatan yang terdiri atas yaitu task/problem definition, planning,
collection, evaluation, collation, analysis, dissemination, dan re-evaluation. Sementara
itu Hatmodjo (Hatmodjo, 2003:2) merinci kegiatan Intelijen tersebut yaitu EEI
(Essential Element Intelligence) = perintah/pengarahan, rencana pengumpulan baket,
evaluasi baket, analisa baket, produk intelijen, dan distribusi. Dalam tulisan ini
penyusun mencoba membuat suatu pola siklus intelijen yang merupakan pemerasan dari
ide-ide tentang silus intelijen tersebut, sehingga siklus intelijen yang akan digunakan
adalah meliputi kegiatan-kegiatan ...
1). Perencanaan
2). Penggumpulan Informasi
3). Pengolahan dan Pembandingan
4). Evaluasi

17
5). Analisa
6). Penyebaran

Siklus intelijen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:]

2)
I
1) 3)

6) 4)

5)
ad. 1). Perencanaan
Tahap kegiatan intelijen pertama adalah perencanaan. Sesuai dengan penjelasan
awal bahwa kegiatan intelijen dilakukan untuk kepentingan ’client’ atau
’stakeholder’, dengan demikian perencanaan dalam suatu kegiatan intelijen
harus dilakukan berdasarkan perintah atau keperluan kedua instansi tersebut.
Dalam tahap ini, sesuai dengan kebutuhan’client’,disusun rencana intelijen yang
nantinya mampu menjawab pertanyaan yang diformulasikan dalam 5W1H.
Rencana intelijen harus memuat target atau sasaran intelijen, personil, sumber-
sumber informasi, cara memperoleh informasi, pendanaan, dan hal-hal lain yang
terkait.

ad. 2). Pengumpulan Informasi

18
Tahap kedua dari siklus intelijen ini merupakan kegiatan terpenting dalam suatu
kegiatan intelijen, bahkan merupakan kegiatan kunci, karena kunci keberhasilan
seluruh proses intelijen tergantung pada akurasi dari kegiatan ‘information
collecting’ ini. Bila informasi yang dihimpun dari kegiatan ini tidak akurat,
maka kegiatan-kegiatan lainnya akan menjadi kegiatan yang ‘salah arah’.
Termasuk dalam kegiatan informasi ini antara lain adalah rekruitmen anggota,
‘rendezvous’ atau pertemuan rahasia, kompartementasi, kurir, kegiatan
klandestin.

ad. 3). Pengolahan dan Pembandingan


Setelah informasi dikumpulkan, maka informasi tersebut diolah. Informasi
adalah bahan mentah yang diperoleh oleh petugas lapangan. Informasi dalam
dunia intelijen dapat diartikan secara umum dan dapat diartikan secara khusus.
Secara umum informasi adalah bahan mentah yang dilaporkan dalam bentuk
aslinya dan diperoleh dengan cara pengumpulan yang kebenarannya masih perlu
dikaji lagi, sedangkan secara khusus informasi adalah keterangan yang telah
mengalami mengolahan dan siap untuk dipakai oleh ’client’. Dalam tahap ini
’informasi’ yang masih mentah diteliti dan dibandingkan, yang mana informasi
yang jelas dan yang mana yang meragukan, juga diteliti mana informasi inti dan
mana yang hanya merupakan limbah saja dalam kaitannya dengan rencana
intelijen yang bersangkutan. Sumber informasi juga tidak luput dari penelitian
dalam tahap ini.

ad. 4). Evaluasi


Informasi yang telah mengalami pengolahan dan pembandingan kemudian
dievaluasi lagi untuk menentukan tingkat akurasinya. Dapat dikatakan tahap ini
merupakan tahap pengolah ulangan, namun produknya merupakan produk yang
sudah setengah matang.

ad. 5). Analisa


Sebelum diteruskan kepada ’client’ untuk dilakukan dalam membuat kebijakan,
maka informasi yang siap tersebut kembali dicocokan dengan rencana intelijen,
apakah informasi yang telah dioleh dan dievaluasi tersebut mampu mencawab
formulasi pertanyaan 5W1H. Bila secara keseluruhan produk intelijen tersebut

19
dipandang telah memenuhi syarat-syarat produk intelijen yang benar, maka
informasi tersebut siap untuk memasuki tahap terakhir dari suatu seri silus
intelijen.

ad. 6). Penyebaran


Bila mengacu pada prinsip kerja suatu kegiatan intelijen, dimana kegiatannya
muncul bila ada permintaan dari ’client’nya, maka setelah informasi telah
diolah, dievaluasi, dan dianalisa, maka informasi tersebut segera diserahkan
kepada ’client’ untuk digunakannya sebagai dasar pembuatan kebijakan.
Sehingga tahap penyebaran disini harus diartikan bahwa penyebarannya
dilakukan atas persetujuan ’client’, sedangkan unit intelijen masih
berkepentingan untuk melangsungkan fungsinya terutama dalam fungsi
’pengamanan’.
Ada dua sumber utama informasi yaitu informasi yang berasal dari lingkungan
internal dan informasi yang berasal dari lingkungan eksternal. Apa saja yang termasuk
ke dalam kedua sumber tersebut yaitu Internal , bagian-bagian lain dalam organisasi
yang bersangkutan, laporan-laporan, dan majalah bulanan. Eksternal, instansi
pemerintah lain, sector public, organisasi internasiona, data kepustakaan, dan buletin.
Pengumpulan informasi yang dilakukan secara tertutup mempunyai beberapa bentuk,
yaitu:
– Pengamatan (observing) dengan cara, menggunakan pancaindera secara maksimal,
pengamatan selalu diikuti dengan penggambaran, kuasai teknik pengamatan, dan
amati fenomena dan kegiatan yang bermakna
– Penggambaran (describing) dengan cara, mendeskripsikan hasil pengamatan;
penggambaran pribadi (ciri fisik, data biografi, kebiasaan umum/khusus),; fungsi
penggambaran pribadi (pengenalan kontak, file sasaran, identifikasi orang yang
melakukan counter-intelijen).; penggambaran dan juga pengamatan tergantung pada
inteligensia petugas dan pengalaman petugas.; pelaksanaan matbar (metode : titik –
melingkar, gunakan detail pengenal dan detail bermakna, dan tentukan ukuran
obyek meliputi elementer, komparasi, dan perkiraan.; sasaran pokok orang (fisik,
biodata, kebiasaan), kejadian/peristiwa (offensif, defensif), route/arus perjalanan
(sketsa, foto, gambar lain), dan instalasi
– Penyamaran/pengelabuan adalah suatu usaha untuk menutupi keadaan sebenarnya
agar identitas asli tidak diketahui; digunakan untuk personil (individu – organisasi),

20
dan benda (instalasi – dokumen); Jenis enurut sifatnya alamiah (fungsi sebenarnya);
buatan (fungsi palsu); menurut fungsinya adalah status (resmi–tidak resmi),
kegiatan; pelaksanaan penjejakan ; dapat mempertahankan kondisi (mempertahan
kan cover, dan menyiapkan double cover); dapat mengambang mampu menjalin
hubungan sebanyak mungkin dan tidak sembrono.; dapat melakukan kegiatan
intelijen dengan cara pengamatan dan penggambaran (matbar), penyusupan,
monitoring, dan elisitasi.
– Penjejakan (surveillance) yaitu Pengamatan terhadap sasaran berupa sasaran orang
atau kegiatan yang dilakukan secara rahasia dengan menggunakan teknik tertentu
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Jenis surveillance menurut tingkat
kepekaan/kerahasiaan dengan cara tertutup dan terang-terangan (dilakukan secara
terus menerus), menurut metode yang digunakan dengan cara menetap (stationary
survellance) dan berjalan kaki (foot surveillance) meliputi ABC system dalam
metode ini, penjejakan dilakukan oleh tiga orang petugas, dimana penjejakan
dilakukan secara berganti-ganti posisi dan menggunakan Immersion method system
dalam metode ini hampir sama dengan metode ABC, bedanya adalah bahwa pada
metode ini, seorang petugas dapat berada di depan sasaran atau dapat mendahului
pada saat penggantian posisi, dan menggunakan strip system dalam metode ini
dilakukan bila sasaran benar-benar telah diketahui, penjejakan dilakukan dimana
satu orang petugas dapat terlebih dahulu berada di posisi di mana sasaran
diperkirakan akan lewat dengan menggunakan kendaraan atau audio–video
– Penyusupan (penetrating) yaitu dalam melakukan penyusupan maka seorang
pengumpul informasi harus memperhatikan hubungan atau akses ke sumber
informasi, keamanan diri dan informasi yang diperoleh, dapat menggunakan cover
atau kedok yang sesuai dengan lingkungan, faktor rintangan yang akan dihadapi,
dimana rintangan tersebut dapat berupa rintangan alam, dan buatan.

2.2. Latihan

1). Sebutkan sumber-sumber informasi yang bersifat internal dan eksternal dalam
suatu organisasi atau unit intelijen ?
2). Apa yang dimaksudkan dengan pengamatan dan penggambaran ?
3). Apa beda antara elisitasi dengan wawancara ?

21
4). Amati suatu kegiatan di lingkungan saudara, kemudian gambarkan hasil
pengamatan saudara kepada rekan saudara sehingga rekan saudara dapat
mendapatkan gambaran kegiatan tersebut berikut lingkungannya tanpa perlu
melihatnya langsung !
5). Lakukan suatu teknik elisitasi kepada rekan saudara, kemudian tulis dan
bacakan hasilnya di muka kelas tanpa terlebih dahulu yang bersangkutan
memahami bahwa ia telah menjadi obyek elisitasi Saudara !

2.3. Rangkuman

Intelijen adalah suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk membantu ’user’ atau
pengguna dalam membuat keputusan. Pengguna produk intelijen tersebut disebut
sebagai ’client’ dan ’stakeholder’. Client intelijen terdiri atas ’primary client’ dan
secondary client’. Intelijen terdiri atas tiga jenis yaitu intelijen strategis, intelijen taktis,
dan intelijen operasional. Sedangkan fungsi intelijen adalah penyelidikan
(investigation), pengamanan (security), dan penggalangan (preconditioning). Azas-azas
umum yang harus dipenuhi dalam suatu informasi atau suatu produk intelijen adalah
akurat, terang dan jelas, masuk akal, dan tepat waktu. Kegiatan intelijen mempunyai
beberapa bentuk, namun secara umum kegiatan itu terbagi atas enam langkah kegiatan,
sebagaimana yang tercantum dalam suatu siklus yang disebut sebagai siklus intelijen
yang meliputi kegiatan perencanaan, pengumpulan informasi, pengolahan
pembandingan, evaluasi, analisa, dan penyebaran.
Untuk mengumpulkan informasi, hal penting yang harus diketahui suatu unit
intelijen atau seorang pengumpul informasi adalah pemahaman tentang dimana saja
informasi tersebut dapat diperoleh. Sumber informasi terbagi atas dua sumber utama,
yaitu sumber internal dan sumber eksternal. Sumber internal adalah sumber informasi
yang berada di dalam organisasi dari unit intelijen yang bersangkutan, sedangkan
sumber informasi eksternal adalah sumber informasi yang berada di luar organisasi dari
unit intelijen yang bersangkutan. Di samping pemahaman tentang sumber informasi,
yang harus dikuasai juga oleh seorang pengumpul informasi adalah teknik-teknik yang
dapat digunakan dalam pengumpulan informasi. Terdapat beberapa teknik
pengumpulan informasi yaitu pengamatan dan penggambaran, penyusupan, penjejakan,
dan penyamaran atau pengelabuan.

22
3. KEGIATAN BELAJAR (KB) 2

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN DALAM KEGIATAN


PENYELESAIAN TINDAK PIDANA KEPABEANAN

3.1. Uraian, Contoh, dan Non Contoh

3.1.a. Tindak Pidana Penyelundupan

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) secara sederhana merupakan institusi
yang bertugas melakukan pengawasan dan pelayanan terhadap keluar masuknya barang
dari/ke wilayah Republik Indonesia dan memungut beanya, baik bea keluar maupun bea
masuk. Seperti institusi pemerintah lainnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga
berusaha memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugasnya, terlebih lagi tugas
yang diembannya ialah tugas yang strategis ditinjau dari beberapa segi. Salah satunya
dengan menetapkan suatu regulasi yang memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.
Terutama untuk masyarakat usaha yang bersentuhan langsung dengan pelayanan yang
dilakukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Selayaknya regulasi-regulasi lainnya,

23
Undang-Undang tentang Kepabeanan juga memuat kewajiban dan larangan. Kedua hal
tersebut juga tidak dapaat lepas dari ketentuan mengenai sanksi yang mungkin di
jatuhkan. Rumusan mengenai unsur-unsur tersebut harus disusun secara cermat demi
terwujudnya peraturan yang komprehensif. Unsur larangan atau apa-apa yang apabila
dilakukan akan mendapatkan sanksi, bisa sangat rawan apabila tidak dirumuskan secara
baik. Bisa jadi peraturan akan selalu ”dibijaki” oleh para pelanggarnya. Apalagi seiring
majunya zaman, aktivitas manusia di segala bidang semakin kompleks, membuat
peraturan yang bisa memenuhi semua aspirasi tentulah tidak mudah. Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana mengatur hubungan antara individu dengan negara. Tidak
bertentangan kira jika tindak pidana diartikan sebagai kejahatan individu terhadap
negara. Dalam bidang kepabeanan, tidak menggunakan istilah kejahatan melainkan
pelanggaran. Hal ini disebabkan karena fokus dari Bea dan Cukai ialah barang. Suatu
kejahatan dikategorikan sebagai tindak pidana bisa jadi karena tindakan pelanggaran
tersebut merupakan pelanggaran berat. Berat dalam arti dampak yang yang ditimbulkan.
Mungkin saja suatu perbuatan yang apabila dilihat dari tindakannya tampak kecil tetapi
mempunyai efek negatif di belakang yang bersifat makro. Tidak terkecuali rumusan
tindak pidana di bidang kepabeanan. Gambaran betapa seriusnya tindak pidana
kepabeanan, tampak pada ancaman sanksinya yang bisa berupa sanksi gabungan.
Gabungan antara pidana penjara dengan pidana denda. Apalagi tindak pidana
penyelundupan, dengan tegas menggunakan penghubung”dan” diantara kedua jenis
sanksi tersebut.
Seiring perubahan yang dilakukan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995
tentang Kepabeanan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, maka rumusan
tentang tindak pidana kepabeanan juga ikut mengalami perubahan. Terutama tentang
istilah yang sangat lekat dengan institusi Bea dan Cukai, yaitu penyelundupan.
Rumusan tindak pidana penyelundupan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995
dinyatakan bahwa ”barang siapa yang mengimpor atau mengekspor atau mencoba
mengimpor atau mencoba mengekspor barang tanpa mengindahkan ketentuan undang-
undang ini dipidana karena melakukan penyelundupan”. Hal tersebut dinilai kurang
tegas karena dalam penjelasan dikatakan bahwa pengertian ”tanpa mengindahkan”
adalah sama sekali tidak memenuhi ketentuana atau prosedur.”
Yang berarti, jika memenuhi salah satu kewajiban seperti menyerahkan
pemberitahuan pabean tanpa melihat benar atau salah, tidak dapat dikategorikan sebagai
penyelundupan sehingga tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Oleh karena itu,

24
dirasa perlu merumuskan kembali definisi tindak pidana penyelundupan di bidang
kepabeanan. Rumusan tindak pidana penyelundupan dalam Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2006 telah jauh berbeda dengan rumusan yang ada di Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1995.sekarang terdapat rumusan tindak pidana penyelundupan di bidang impor
(pasal 102) dan juga tindak pidana penyelundupan di bidang ekspor (pasal 102A) yang
masing-masing telah terurai secara lebih jelas. Berbagai perubahan besarnya sanksi
pidana juga terjadi, yang tentunya jauh lebih berat dibanding ketentuan yang ada di
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 . Sanksi yang lebih berat tidak hanya terlihat
pada segi kuantitas saja, tetapi juga tampak pada ruang lingkup pengenaan sanksinya.
Selain seperti yang telah diungkapkan di atas mengenai cakupan tindak pidana
penyelundupan, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 juga memuat ketentuan
bilamana tindak pidana penyelundupan di atas sampai mengganggu sendi-sendi
ekonomi (pasal 102B), bila mana tindak pidana penyelundupan dilakukan oleh pejabat
Bea dan Cukai dan aparat penegak hukum (pasal 102C), tentang barang tertentu yang
tidak sampai ke kantor tujuan (pasal 102 D), tentang dokumen, buku, catatan,dan
keterangan lain yang palsu/dipalsukan/tidak benar serta tentang memiliki barang yang
diduga berasal dari tindak pidana (pasal 103), tentang akses sistem elektronik secara
tidak sah (pasal 103A), tentang mengangkut barang yang berasal dari tindak pidana
kepabeanan, memusnahkan buku/catatan/ dokumen, penyediaa blangko faktur dagang
dari perusahaan yang berdomisili di luar negeri (pasal 104), tentang membuka segel
tanpa hak (pasal 105), tentang PPJK (pasal 107), bilamana tindak pidana dilakukan oleh
suatu badan hukum (Pasal 108), tentang penyelesaian barang yang terkait tindak pidana
kepabeanan (Pasal 109), bilamana pidana denda tidak dibayar oleh terpidana (Pasal
110), tentang kadaluarsa tindak pidana kepabeanan (Pasal 111). Terdapat perbaikan-
perbaikan yang cukup membanggakan akan tetapi juga masih terdapat beberapa
kelemahan. Sebagai contoh, perbaikan memang nampak pada rumusan tentang tindak
pidana penyelundupan.
Sekarang lebih terurai jelas dalam beberapa poin dibanding dengan yang
sebelumnya yang dinilai kurang adil. Salah satu hal yang kurang teroptimalkan adalah
pada ketentuan tindak pidana penyelundupan di bidang ekspor. Masih terdapat celah-
celah yang membuat beberapa pelanggaran di bidang ekspor lepas dari jeratan tuntutan
pidana. Salah satu ketentuan pidana di bidang ekspor -salah memberitahukan jenis
dan/atau jumlah barang ekspor secara sengaja- diberlakukan terhadap barang-barang
yang terkena Bea Keluar, tetapi tidak dikenakan terhadap barang ekspor umum.

25
Memang tidak mudah membuat suatu peraturan yang sanggup mengakomodasi semua
kepentingan, akan tetapi usaha ke arah itu harus senantiasa dilakukan. Pada intinya,
bagaimanapun baiknya regulasi disusun, yang paling penting adalah
implementasi/penegakkannya di lapangan untuk menjamin dipatuhinya ketentuan
peraturan. Oleh karena itu, peran bidang pengawasan mutlak diperlukan dalam hal ini.
Berbicara tentang tindak pidana kepabeanan sebenarnya akan menyangkut banyak hal.
Penulis tidak menjabarkannya secara menyeluruh dengan berbagai pertimbangan yang
salah satunya supaya bahasan lebih terfokus dan mudah dicerna. Dalam tulisan ini
penulis mengecilkan ruang lingkup pembahasan. Hanya sebatas pada penyajian uraian-
uraian mengenai tindakan apa dan yang bagaimana saja yang dikategorikan sebagai
tindak pidana disertai sejumlah analisis atau telaahan . Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana merupakan hukum material (hanya berisi tentang aturan, larangan serta sanksi)
yang mengatur antara hubungan individu dengan negara sebagai wakil seluruh
masyarakat Indonesia. Akibat hukum material ini, muncul hukum formal yang isinya
lebih ke arah tata cara pelaksanaan ketentuan dalam hukum materiil yaitu Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana .Pihak yang berwenang menyidik tindak pidana
umum ialah Kepolisian Republik Indonesia. Tindak pidana kepabeanan memang tidak
lepas dari dari peraturan induknya di atas. Sebagaimana diketahui, tindak pidana
kepabeanan merupakan tindak pidana khusus (lex spesialis) yang penegakkannya
diemban oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
pun memiliki peraturan berupa undang-undang yang bersifat khusus. Kewenangan
menyidiknya juga istimewa.
Tindak pidana kepabeanan hanya berhak disidik oleh Penyidik Pegawai Negeri
Sipil (PPNS) DJBC. Penyidik khusus ini merupakan satu-satunya penyidik yang
mandiri selain polri. Hal ini selaras dengan ketentuan yang ada disebutkan KUHAP.
Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana.
Manfaat mengetahui waktu tindak pidana yaitu umur petindak ketika melakukan suatu
tindak pidana, kadaluarsa dalam penuntutan, apakah telah terjadi tertangkap tangan
atau tidak, batas waktu mengadu atau menarik pengaduan dalam delik aduan, peranan
waktu dalam pasal 1 KUHP. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang
Kepabeanan Undang-undang ini disahkan pada tanggal 31 Desember 1995. Kurang
lebih selama 10 tahun telah eksis, akhirnya dilakukan beberapa perubahan ketentuan
demi memenuhi tuntutan keadaan. Pasal-pasal yang lemah diperbaiki, yang belum ada
dimunculkan, yang sudah tidak relevan dihapus. Kira-kira begitulah perubahan yang

26
dilakukan. Di antara perubahan beberapa ketentuan tersebut, perubahan mengenai
rumusan tindak pidana kepabeanan merupakan poin yang paling menyita perhatian. Hal
tersebut wajar mengingat ketentuan yang sebelumnya dirasa kurang tegas dan kurang
adil seperti yang telah penulis kemukakan pada bab sebelumnya. Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995
Tentang Kepabeanan, Undang-undang ini disahkan pada tanggal 15 November 2006.
Melalui Undang-undang ini, perubahan yang dilakukan cukup banyak dan merata.
Mulai dari Ketentuan Umum hingga Ketentuan Lain-lain. Ketentuan mengenai tindak
pidana kepabeanan terjabarkan mulai dari pasal 102 hingga pasal 111. perubahan-
perubahan besar juga terjadi pada ketentuan dasar. Misalnya saja, tambahan ketentuan
Bea Keluar pada definisi Kepabeanan. Berikut ketentuan-ketentuan dasar yang wajib
diketahui sebelum menelaah tentang ketentuan tindak pidana kepabeanan. Dalam hal
pengurusan pemberitahuan pabean tidak dilakukan sendiri, importir atau eksportir
menguasakannya kepada pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK). Importir,
eksportir, pengusaha tempat penimbunan sementara, pengusaha tempat penimbunan
berikat, pengusaha pengurusan jasa kepabeanan, atau pengusaha pengangkutan wajib
menyelenggarakan pembukuan.
Instansi teknis yang menetapkan peraturan larangan dan/atau pembatasan atas
impor atau ekspor wajib memberitahukan kepada Menteri, untuk kepentingan
pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan larangan dan pembatasan. Pejabat bea dan
cukai berwenang untuk mengunci, menyegel, dan/atau melekatkan tanda pengaman
yang diperlukan terhadap barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya
dan barang ekspor atau barang lain yang harus diawasi menurut undang-undang ini
yang berada di sarana pengangkut, tempat penimbunan atau tempat lain.
Tindak pidana adalah setiap perbuatan yang diancam pidana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 sebagaimana telah diamandemen dengan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006. Berikut penulis paparkan jenis-jenis tindakan
yang dikategorikan sebagai tindak pidana kepabeanan disertai penjelasan pasalnya. Di
bawah tiap-tiap penjelasan pasal terdapat juga beberapa yang disertai analisis atau
penelaahan terhadap pasal-pasal tersebut.
Tindak pidana kepabeanan merupakan tindak pidana khusus ( lex spesialis)
yang penegakkannya diemban oleh DJBC. Rumusan tindak pidana penyelundupan telah
mengalami perubahan demi memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum.ketentuan
mengenai besarnya sanksi pidana semakin berat, baik untuk masyarakat maupun

27
pejabat. Beberapa ketentuan berlaku lebih ketat mengikat pegawai Bea dan
Cukai,sehingga menuntut perbaikan dan optimalisasi kinerja para pegawai
pemberlakuan berbagai perubahan mengenai rumusan tindak pidana kepabeanan relatif
lebih mempermudah pegawai Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugasnya dari
berbagai perubahan ketentuan yang telah dilakukan, masih juga tidak terlepas dari
kelemahan-kelemahan.

Pemberantasan Penyelundupan
Sebagai tindak pidana yang kompleks, penyelundupan tidak mungkin dapat
dihapuskan secara total di Daerah Pabean Indonesia tetapi hal yang memungkinkan
adalah diperkecil hingga sekecil mungkin baik dari kuantitas maupun kualitasnya.
Upaya untuk meminimalkan penyelundupan dapat dimulai dari Bea Cukai selaku aparat
yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk memberantas penyelundupan.
Adapun beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh aparat Bea Cukai dalam
kaitannya mengurangi tindak pidana penyelundupan antara lain:
– Operasi pemberantasan Commercial-Fraud di pelabuhan.
Untuk melakukan pengawasan guna mengamankan penerimaan serta hak-hak
negara lainnya dan pengawasan atas pemenuhan persyaratan impor yang ditetapkan
instansi teknis lainnya, telah ditetapkan kebijakan untuk melakukan pengawasan
barang impor yang melalui pelabuhan di seluruh Indonesia. Langkah itu ditempuh
dengan cara penetapan target pengawasan (targetting), sistem jalur pelayanan(jalur
merah,hijau dan prioritas),analyzing point(pemeriksaan tambahan terkait dengan
tata niaga); pengawasan pemeriksaan fisik barang dan pemanfaatan Hi-Co Scan X-
Ray Container untuk melakukan pemeriksaan fisik barang.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memerangi praktek-praktek seperti:
- Under-invoice atau under-valuation dimana harga barang atau nilai pabean yang
dicantumkan pada pemberitahuan lebih rendah dari yang sebenarnya;
- Miss-classification yaitu jenis dan klasifikasi barang yang diberitahukan tidak
sesuai dengan fisik barang yang sebenarnya;
- Under-volume dimana jumlah atau volume barang yang diberitahukan tidak
sesuai dengan jumlah fisik barang yang sebenarnya.

Patroli daerah perbatasan.

28
Kegiatan patroli di laut dilakukan baik secara rutin maupun insidentil pada
beberapa wilayah perairan di Indonesia yang dinilai rawan penyelundupan. Kegiatan ini
lebih ditekankan untuk mencegah masuknya barang impor ke dalam Daerah Pabean
yang dilakukan secara ilegal tanpa memenuhi ketentuan kepabeanan atau
penyelundupan langsung.

Audit investigasi.
Pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran dan atau tindak pidana
kepabeanan tertentu, seringkali tidak cukup hanya dengan melakukan penindakan
secara langsung pada saat pelayanan dan pemeriksaan secara fisik atas kegiatan mereka.
Untuk itu perlu penelitian terhadap kegiatan dan transaksi yang tercermin dalam
pembukuan mereka. Bahkan untuk beberapa kasus tertentu perlu audit investigasi yang
merupakan gabungan dari pelaksanaan penegakan hukum dan pemeriksaan atau audit
atas pembukuan pihak yang bersangkutan. Audit investigasi dilakukan terhadap kasus-
kasus tertentu yang memang memerlukan pemeriksaan dari sisi Pre-clearance Control
maupun Post-clearance Control untuk bisa mengungkap dan menyelesaikan kasus
tersebut. Dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Tim gabungan dari Unit Intelijen,
Penyidikan dan dari Audit.

Operasi intelijen.
Untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap dan menyeluruh atas suatu
kasus atau permasalahan, seringkali diperlukan upaya-upaya yang tidak dapat dilakukan
secara formal dan tidak mungkin dengan cara-cara normal seperti biasa, sehingga
seringkali diperlukan adanya operasi intelijen untuk melakukan collecting dan analisis
informasi serta memberikan rekomendasi penanganan selanjutnya. Operasi intelijen ini
lebih banyak dilakukan untuk melakukan pengumpulan informasi dan collecting data
untuk kemudian dilakukan analisis dan penelitian yang mendalam sehingga akan
diperoleh suatu kesimpulan yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya secara
komprehensif, sehingga akan menjadi masukan untuk penetapan kebijakan.

Optimalisasi ship search.

29
Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, salah satu upaya yang dapat
dilakukan oleh Bea Cukai adalah dengan melakukan ship search atau boatzoeking atau
pemeriksaan kapal. Sebagaimana diketahui, kapal laut memiliki struktur yang sangat
kompleks yang menjadikannya sebagai salah satu sarana yang cukup baik untuk
menyembunyikan barang-barang ilegal.
Ditambah lagi dengan kondisi sistem keamanan yang kurang menunjang, baik
ketika kapal sedang lego jangkar maupun saat sandar. Hal tersebut dapat dilihat dari
cukup bebasnya orang-orang yang naik turun kapal. Pelaksanaan ship search
berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) oleh petugas Bea Cukai yang
memiliki kapabilitas tinggi dalam pemeriksaan kapal dan ditunjang oleh peralatan
pemeriksaan serta peralatan pelindung keselamatan akan dapat menemukan barang-
barang yang sengaja disembunyikan di dalam kapal baik itu berupa narkotika, senjata
api, bahan peledak, atau barang-barang lainnya yang diimpor secara ilegal sehingga
upaya penyelundupan barang-barang tersebut dapat dicegah.

Sanksi Administrasi
Pelanggaran sebagaimana dimaksud pada penyelundupan di bidang impor dan
ekspor yang dibahas sebelumnya yang mengakibatkan terganggunya sendi-sendi
perekonomian Negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat lima tahun dan
pidana penjara paling lama dua puluh tahun dan pidana denda paling sedikit lima miliar
rupiah dan paling banyak seratus miliar rupiah. Dalam hal perbuatan tindak pidana
sebagaimana dimaksud di atas dilakukan oleh pejabat dan aparat penegak hukum,
pidana yang dijatuhkan dengan pidana sebagaimana ancaman pidana dalam Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan ditambah 1/3 (satu pertiga) .
Setiap orang yang mengangkut barang tertentu yang tidak sampai ke kantor
pabean tujuan dan tidak dapat membuktikan bahwa hal tersebut di luar kemampuannya
dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan pidana penjara paling
lama lima tahun dan atau pidan denda paling sedikit sepuluh juta rupiah dan paling
banyak satu miliar rupiah. Dalam UU Kepabeanan diuraikan perbuatan-perbuatan yang
dikategorikan sebagai tindak pidana penyelundupan. Hal demikian dianggap lebih tegas
dalam pelaksanaannya karena secara langsung merumuskan tindakan-tindakan yang
dapat dikategorikan sebagai penyelundupan. Pemberatan sanksi pidana dan sanksi
pidana berupa denda untuk membuat jera atau meminimalisasi kegiatan penyelundupan.
Mengingat latar belakang di atas, maka dalam UU 17/2006 ini, Pasal 102 UU 10/1995

30
dipecah menjadi dua pasal, yaitu pasal 102 untuk pidana di bidang impor dan pasal
102A untuk pidana di bidang ekspor.
Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan dan penindakan oleh DJBC sangat
banyak hambatan yang dapat mengganggu kelancarannya sehingga tujuan yang ingin
dicapai menjadi kurang optimal. Beberapa contoh hambatan yang dimaksud antara lain
masih banyaknya terjadi tindak pidana di bidang kepabeanan utamanya tindak pidana
penyelundupan. Secara umum, tindak pidana penyelundupan merupakan salah satu
masalah yang bersifat global. Istilah penyelundupan tidak dipakai semata-mata untuk
kegiatan membawa barang-barang keluar masuk wilayah Indonesia secara ilegal baik
itu melalui bandar udara internasional, pelabuhan-pelabuhan laut, maupun melalui
perbatasan negara seperti di wilayah Kalimantan, Tanjung Balai Karimun, atau Papua.
Dilihat dari akibat yang ditimbulkannya, jika tidak ditangani dengan sungguh-sungguh,
maka tindak pidana penyelundupan ini tidak hanya berakibat buruk di masa sekarang
tetapi juga buat masa depan ekonomi bangsa Indonesia. Arti penyelundupan selama ini
yang banyak diketahui oleh masyarakat awam adalah mereka menganggap bahwa
semua pemasukan barang ke dalam Daerah Pabean baik yang tidak diberitahukan
maupun yang diberitahukan secara tidak benar.
Sedangkan arti yang berdasarkan Undang-undang Kepabeanan Penyelundupan
dapat terjadi di bidang impor maupun di bidang ekspor yang keduanya dapat membawa
dampak kerugian yang sama bagi perekonomian nasional. Untuk penyelundupan di
bidang impor dibagi menjadi delapan delik, yaitu:
– mengangkut barang yang tidak tercantum dalam manifest
– membongkar barang impor di luar Kawasan Pabean atau tempat lain tanpa izin
kepala kantor pabean.
– membongkar barang impor yang tidak tercantum dalam pemberitahuan pabean.
– membongkar atau menimbun barang impor yang masih dalam pengawasan pabean
di tempat lain selain tempat tujuan yang ditentukan dan/atau diizinkan.
– menyembunyikan barang impor secara melawan hukum.
– mengeluarkan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban pabeannya dari
kawasan pabean atau dari tempat penimbunan berikat atau dari tempat lain di bawah
pengawsan pabean tanpa persetujuan pejabat bea cukai yang mengakibatkan tidak
terpenuhinya pungutan negara.

31
– mengangkut barang impor dari tempat penimbunan sementara atau tempat
penimbunan berikat yang tidak sampai ke kantor pabean tujuan dan tidak dapat
membuktikan bahwa hal tersebut di luar kemampuannya.
– dengan sengaja memberitahukan jenis dan/atau jumlah barang impor dalam
pemberitahuan pabean secara salah.

Sedangkan untuk penyelundupan di bidang ekspor dibagi menjadi lima delik, yaitu:
– mengekspor barang tanpa menyerahkan pemberitahuan pabean.
– dengan sengaja memberitahukan jenis dan/atau jumlah barang ekspor dalam
pemberitahuan pabean secara salah.
– memuat barang ekspor di luar kawasan pabean tanpa izin kepala kantor pabean.
– membongkar barang ekspor di dalam daerah pabean tanpa izin kepala kantor
pabean.
– mengangkut barang ekspor tanpa dilindungi dengan dokumen yang sah
sesuai dengan pemberitahuan pabean.

Penyelundupan merupakan tindak pidana yang kompleks, jadi penyelundupan


tidak mungkin dapat dihapuskan secara total di Daerah Pabean Indonesia, tetapi hal
yang mungkin adalah meminimalisirnya hingga sekecil mungkin kemungkinan
terjadinya tindak pidana penyelundupan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pada
Undang-undang Kepabeanan diatur tindak pidana di bidang Kepabeanan, baik tindak
pidana penyelundupan impor, penyelundupan ekspor, dan tindak pidana lainnya sebagai
penjera kepada orang yang melakukan pelanggaran terhadap barang, dan kewajiban
kepabeanan lainnya. Terhadap pelaku tindak pidana kepabeanan dilakukan penyidikan
oleh PPNS DJBC. Dengan dilakukannya penyidikan, maka PPNS DJBC harus
melakukan penyidikan sesuai dengan ketentuan dan tata cara yang diatur dalam UU
No.8 Tahun 1981 Tentang KUHAP. Dimana Pejabat Bea dan Cukai harus mempunyai
brevet sebagai PPNS, dengan terlebih dahulu mengikuti diklat PPNS dengan
persyaratan yang telah ditetapkan.

3.1.b. Barang hasil tindak pidana

Dalam UU Kepabeanan diatur jenis-jenis tindak pidana beserta sanksi yang


dikenakan terhadap pelanggaran tersebut. Subjek dari tindak pidana adalah orang atau

32
badan yang melakukan tindak pidana tersebut. Sementara objek dari tindak pidana
adalah perbuatan melawan hukum yang dilakukan subjek.

Subjek Tindak Pidana


Dalam ketentuan pidana kepabeanan (UU No. 17 Tahun 2006), subjek tindak
pidana kepabeanan terdiri dari: Importir, Eksportir, Pengangkut, Pengusaha Tempat
Penimbunan Sementara (TPS), Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat (TPB),
Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK), Pegawai atau aparat penegak hukum,
Setiap orang yakni orang perseorangan atau badan hukum

Objek Tindak Pidana


Ketentuan tindak pidana kepabeanan diatur dalam pasal 102 sampai dengan
pasal 111 Undang-Undang nomor 10 tahun 1995 jo Undang-Undang nomor 17 tahun
2006 tentang Kepabeanan. Dalam ketentuan tersebut disebutkan objek tindak pidana
kepabeanan yaitu barang. Jika di dalam penyidikan yang dilakukan oleh PPNS BC
terbukti bahwa barang tersebut merupakan barang yang berasal dari tindak pidana
kepabeanan maka atas barang tersebut akan dilakukan penegahan, yang selanjutnya
untuk disimpan guna dipakai sebagai barang bukti di sidang pengadilan. Terhadap
barang impor yang berasal dari tindak pidana dirampas untuk negara. Barang impor
atau ekspor yang berdasarkan putusan pengadilan dirampas untuk negara, berdasarkan
Undang-undang Kepabeanan menjadi milik negara yang pemanfaatannya ditetapkan
oleh Menteri Keuangan.

3.1.c. Kedaluwarsa Tuntutan Pelanggaran Kepabeanan

Dalam Undang-undang Kepabeanan disebutkan bahwa daluwarsa suatu


penuntutan adalah 10 tahun sejak Terjadinya tindak pidana atau sejak Pendaftaran
dokumen pabean yaitu PIB atau PEB. Jadi kejelasan hukum yang telah diretapkan
dalam undang-undang ini adalah sepuluh tahun untuk tindak pidana. Sedangkan untuk
sanksi administrasi daluwarsa penagihannya adalah 30 hari.
Daluwarsa tersebut dihitung sejak diterbitkan Surat Pemberitahuan Kekurangan
Pembayaran (SPKP), dan Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi administrasi

33
(SPPSA). Pengenaan sanksi administrasi merupakan konsekuensi logis dari Undang-
undang Kepabeanan sebagai bagian dari hukum fiskal, aparat fiskal diberikan
kewenangan untuk dapat menerapkan sanksi administrasi berupa denda. Selanjutnya
wewenang Dirjen Bea dan Cukai dilimpahkan Pelaksanaanya pada Kepala Kantor
Pabean (Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, Kepala Kantor Pelayanan Utama
sesuai dengan nomenklatur struktur organisasi tahun yang berlaku sekarang ini) untuk
pengenaan sanksi dan penagihan dendanya. Penggenaan sanksi administrasi dilakukan
oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan dan Cukai atas nama Dirjen Bea dan Cukai
dengan menerbitkan SPPSA. Dalam jangka waktu tiga puluh hari sejak tanggal
diterimanya SPPSA, pihak yang dikenakan sanksi administrasi dapat memilih
membayar sanksi administrasi dimaksud, mengajukan keberatan kepada Dirjen Bea dan
Cukai, dengan ketentuan mempertaruhkan jaminan sebesar denda administrasi
dimaksud. Masa kadaluwarsa tindak pidana dalam Undang-undang Kepabeanan adalah
setelah melampaui jangka waktu sepuluh tahun, sejak terjadinya tindak pidana. Berarti
setelah itu tindak pidana tidak dapat dituntutkan lagi. Jadi penyimpanan dokumen harus
minimal sepuluh tahun agar dalam hal terjadi tindak pidana bisa dijadikan barang bukti
untuk penuntutan. Bila kedaluwarsa maka tidak dapat dituntutkan lagi. Namun jika
tindak pidana tersebut diancam dengan pidana penjara, dengan tidak menghapuskan
pidana denda apabila tindak pidana tersebut diancam dengan penjara dan pidana denda.
Penyelenggaran Pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Indonesia yang berlaku,
serta penyimpana dokumen, buku dan laporan adalah sepuluh tahun pada tempat
usahanya di Indonesia.

Daluwarsa dalam Perpajakan


Tindak pidana di bidang perpajakan tidak dapat dituntut setelah lampau waktu
sepuluh tahun sejak saat terutangnya pajak, berakhirnya Masa Pajak, berakhirnya
Bagian Tahun Pajak, atau berakhirnya Tahun Pajak yang bersangkutan. Dalam UU
perpajakan pasal 22, Saat daluwarsa penagihan pajak ini perlu ditetapkan untuk
memberi kepastian hukum kapan utang pajak tersebut tidakdapat ditagih lagi.
Daluwarsa penagihan pajak dapat melampaui 10 (sepuluh) tahun apabila Direktur
Jenderal Pajak menerbitkan Surat Teguran dan menyampaikan Surat Paksa kepada
Penanggung Pajak yang tidak melakukan pembayaran utang pajak sampai dengan
tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu daluwarsa penagihan dihitung

34
sejak tanggal penyampaian Surat Paksa tersebut. Wajib Pajak menyatakan pengakuan
utang pajak dengan cara: Wajib Pajak mengajukan permohonan angsuran dan
penundaan pembayaran utang pajak sebeluin tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam
hal seperti itu daluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran
atau penundaan pembayaran utang pajak diterima oleh Direktur Jenderal Pajak. Wajib
Pajak mengajukan permohonan pengajuan kcberatan. Daluwarsa penagihan dihitung
sejak tanggal surat keberatan Wajib Pajak diterima Direktur Jenderal Pajak. Wajib
Pajak melaksanakan pembayaran sebagian utang pajaknya. Dalarn hal seperti itu
daluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal pembayaran sebagian utang pajak tersebut.
Terdapat Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan yang diterbitkan terhadap Wajib Pajak karena melakukan tindak
pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan Pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap. Daluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal penerbitan
ketetapan pajak tersebut. Daluwarsa penetapan pajak ditentukan dalam jangka waktu 10
(sepuluh) tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian
Tahun Pajak atau tahun Pajak. Penentuan masa 10 tahun ini sesuai dengan ketentuan
daluwarsa penyimpanan buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen yang menjadi
dasar pembukuan dan pencatatan Wajib Pajak. Hak untuk melakukan penagihan pajak,
termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak, daluwarsa setelah lampau
waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak yang bersangkutan. Daluwarsa penagihan
pajak tertangguh apabila diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa; ada pengakuan
utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak langsung; diterbitkan
SKPKB atau SKPKBT. Adanya daluwarsa ini sangat membantu dalam hal adanya
kepastian hukum. Penyimpanan dokumenpun ditetapkan jangka waktunya yaitu dalam
sepuluh tahun untuk menjaga agar catatan-catatan dan dokumen dokumen yang
dibutuhkan untuk membantu penyelidikan dan penyidikan tetap ada dan bisa diakses
dan dijadikan sebagai petunjuk yang berguan untuk penyidikan tersebut. Ketertiban
penyimpanan dan pencatan sangat penting maka dari itu dokumen yang disipan harus
disimapan di tempat usaha yang bersangkutan dan tidak ditempatkan di tempat yang
lain agar dalam pengurusannya sesuai dengan peraturan yang ada. Pencatatan harus
diserahkan jika ada pemeriksaan terhadap perusahaan yang bersangkutan atau
dilakukan audit.

35
Laporan yang diserahkan harus merupakan laporan yang sebenarnya dan bukan
merupakan laporan yang sengaja dibuat untuk mengelabui atau memalsukan hasil audit
yang sebenarnya. Oleh karena itu auditor harus bisa memeriksa dengan jeli dan teliti
semua laporan yang diterima dan mencocokkan dengan bukti-bukti yang ada.
Hal ini telah ditetapkan dalam UU dan disetujui menjadi Standard akuntansi
Keuangan (SAK). Dokumen-dokumen yang telah melampaui daluwarsa bisa
dimusnahkan atau tetap disimpan untuk menjaga tertibnya penyimpanan arsip yang
dibutuhkan.

3.2. Latihan
1). Apakah pengawasan dan penindakan dalam bidang kepabeanan, menggunakan
istilah kejahatan dan/atau pelanggaran.? Jelaskan !
2). Jelaskan apa yang dimaksud dengan obyek dan subyek tindak pidana di bidang
kepabeanan.!
3). Jelaskan apa itu kedaluwarsa, dan apa yang dimaksud dengan kedaluwarsa
tindak pidana Kepabeanan.!
4). Jelaskan apa yang dimaksud dengan tindak pidana penyelundupan dalam
Pasal 102, dan 102A pada Undang-undang Kepabeanan.!
5). Jelaskan bagaimana pengawasan dan penindakan terhadap barang impor
dan ekspor berupa barang hasil tindak pidana kepabeanan.!

3.3. Rangkuman

Sebagai instansi penegakan hukum, Bea Cukai tentunya dibebani suatu


tanggung jawab dalam rangka memberantas habis pelaku-pelaku tindak pidana
penyelundupan atau setidak-tidaknya mengurangi aktivitas penyelundup di negeri ini.
Berbagai opini dalam kaitannya dengan pemberantasan penyelundupan telah
dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai termasuk mengharapkan seluruh
pengusaha importir dan eksportir menjalankan usahanya dengan jujur. Akan tetapi, hal
itu tidak dapat dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu tindakan
yang logis adalah memperkuat aturan main untuk kegiatan ekspor impor, dalam hal ini
Undang-Undang Kepabeanan. Dan ini telah direalisasikan dengan disahkannya
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 sebagai amandemen Undang-Undang Nomor
10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Dalam Undang-Undang yang baru ini, selain

36
pengertian penyelundupan diperluas dan terperinci, sanksi buat para penyelundup juga
diperberat. Sejak berlakunya Undang-undang No.10 tahun 1995 tentang kepabeanan,
masyarakat menganggap bahwa rumusan tindak pidana yang diatur dalam pasal 102
kurang tegas karena dalam penjelasan dinyatakan bahwa pengertian ‘tanpa
mengindahkan’ adalah sama sekali tidak memenuhi ketentuan atau prosedur. Hal ini
berarti jika memenuhi salah satu kewajiban seperti menyerahkan pemberitahuan pabean
tanpa melihat benar atau salah tidak dapat dikategorikan sebagai penyelundupan
sehingga tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Oleh karenanya dipandang perlu
untuk merumuskan kembali tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindak
pidana penyelundupan. Daluwarsa dalam kamus bahasa Indonesia berarti “berakhir,
habis waktunya “.Daluwarsa penuntutan yang dijelaskan dibagi dalam daluwarasa
penuntutan berdasarkan undang-undang kepabeanan, berdasarkan undang-undang
cukai, berdasarkan undang-undang perpajakan dan berdasarksn KUHP.Daluwarsa
penuntutan dalam perundang-undangan Kepabeanan adalah sepuluh tahun sejak tindak
pidana atau sejak pendaftaran dokumen pabean (PIB/PEB). Jadi kejelasan hukum yang
telah diretapkan dalam undang-undang ini adalah sepuluh tahun untuk tindak pidana.
Sedangkan untuk sanksi administrasi daluwarsa penagihannya adalah 30 hari.
Daluwarsa tersebut dihitung sejak diterbitkan Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi
Administrasi.

4. KEGIATAN BELAJAR (KB) 3

PENGAWASAN DAN PENINDAKAN

37
DALAM KEGIATAN PENYIDIKAN, DAN PPNS DJBC

4.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

4.1.a. Azas-Azas Hukum dan Upaya Hukum Yang Digunakan Dalam Penyidikan
Tindak Pidana Kepabeanan.

Dalam pembelajaran ini zas-azas hukum yang ada hubungannya dengan tindak
pidana kepabeanan meliputi hak-hak azasi manusia, hak-hak tersangka dan/atau
terdakwa. Pada masa ini, perkembangan dunia perdagangan internasional sangatlah luar
biasa. Begitu pun di Indonesia, perkenbangan ekspor-impor melonjak secara
mengagumkan. Perkembangan ini pada dasarnya memberikan pengaruh positif pada
kemajuan ekonomi nasional, memberikan income yang dapat mempercepat
pembangunan di negara ini. Tapi bagai dua sisi mata uang yang selalu berdampingan,
perkembangan yang pesat ini memberikan dampak yang buruk terhadap persaingan
antar eksportir-importir. Dengan makin ketatnya persaingan, banyak cara ditempuh oleh
pelaku bisnis untuk memenangkan persaingan, sekalipun dengan cara melawan hukum
yang berlaku. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di pihak pemerintah dalam hal ini
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai- selaku pihak pengawas yang berusaha agar setiap
transaksi perdagangan internasional dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Masalah
yang timbul kadangkala teramat berat yang mengharuskan pemberian sanksi pidana
terhadap pelanggaran tersebut. Atas dasar tersebut, DJBC merasa perlu memiliki
penyidik khusus dalam menangani pelanggaran pidana di bidang kepabeanan, sesuai
Pasal 112 Undang-undang Kepabeanan, diangkatlah penyidik di bidang kepabeanan
yang dikenal dengan PPNS DJBC. Pelanggaran kepabeanan yang dimaksud dalam
Undang-undang kepabeanan yaitu pelanggaran administrasi yang pelaksanaannya
dikenakan sanksi anministrasi berupa denda, dan pelanggaran yang dapat dikenakan
sanksi pidana. Sebelum seseorang dipidana karena didakwa melanggar ketentuan tindak
pidana kepabeanan dilakukanlah proses penyidikan tindak pidana. Pada modul ini
pembelajaran yang disampaikan adalah tentang penyidikan tindak pidana kepabeanan.

4.1.b. PPNS DJBC

38
Dalam melakukan proses penyidikan, Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di
lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diberi wewenang dan hak khusus
sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981
tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang
kepabeanan dan cukai sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No.10 Tahun 1995
tentang Kepabeanan. Sesuai kewenangan dalam pasal 112 ayat (1), Pejabat Bea dan
Cukai yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik berhak untuk melakukan
serangkaian tindakan yang diperlukan guna kepentingan penyidikan sebagaimana
tercantum dalam pasal 112 ayat 2. Penyidik yang telah melakukan serangkaian tindakan
tersebut wajib menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam UU No 8 / 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Oleh karena itu dibuat suatu prosedur penyidikan agar penyidikan dapat dilaksanakan
secara berhasi guna dan berdaya guna dengan tidak melanggar hukum. Diharapkan pula
adanya keseragaman penyidikan baik mengenai penatausahaan maupun mengenai
kelengkapan administrasi. Penyidikan yang dilakukan oleh penyidik mengacu pada
prosedur yang telah diatur dalam Pasal 8 KUHAP, Pasal 107 ayat (3), 138 KUHAP,
Angka 6 Kep.Menkeh RI No.M04.PW.07.03/1983, Pasal 2 huruf h Kep.Menkeh RI
No.M.04.PW.07.03/1984 tanggal 27 September 1984, Pasal 112 ayat 3 UU No.17 /
2006 tentang Kepabeanan. Dari uraian pendahuluan di atas dapat terlihat bahwa negara
mencoba untuk bertindak sebagai sebuah institusi yang selalu bisa memfasilitasi setiap
hak dari komunitas masyarakat. Di satu sisi negara merasa perlu untuk memberikan
tindakan tegas (dalam hal ini atas tindakan pidana yang telah dilakukan) kepada pelaku
dengan tujuan untuk memberikan efek jera (shock therapy) sehingga pelaku akan
berpikir untuk tidak mengulangi tindakannya tersebut (deter effect). Namun demikian,
di lain sisi pemerintah dituntut untuk bertanggung jawab atas jaminan perlindungan atas
hak-hak azasi masyarakatnya, termasuk dalam proses penyidikan sebagai bagian dalam
proses penegakkan hukum dan peradilan di Indonesia umumnya dan di bidang
Kepabeanan khususnya.

4.1.c. Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan

Hal-hal tersebut diatas merupakan tindakan yang dikategorikan sebagai tindakan


pidana di dalam bidang Kepabeanan dan Cukai sesuai dengan batasan pengertian istilah
pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis penyidikan di lingkungan Direktorat

39
Jenderal Bea dan Cukai sebagaimana suatu tindak pidana diartikan sebagai setiap
perbuatan yang diancam pidana dimaksud dalam Undang-Undang Kepabeanan
Selanjutnya jika di temui hal–hal tersebut akan diproses secara hukum. Salah satu
langkah awal dalam proses penegakkan hukum di bidang Kepabeanan dan Cukai
tersebut adalah penyidikan. Sebagai dasar utama pelaksanaan penyidikan tindak pidana
di bidang Kepabeanan dan Cukai maka harus diketahui terlebih dahulu makna umum
dan tujuan awal dari penyidikan itu sendiri. Penyidikan di bidang Kepabeanan dan
Cukai secara umum dapat dikatakan sebagai suatu upaya penegakkan hukum yang
bersifat pembatasan atau pengekangan hak-hak azasi seseorang dalam rangka usaha
untuk memulihkan terganggunya keseimbangan antara kepentingan individu dan
kepentingan umum guna mengamankan hak-hak negara, yang dalam implementasinya
merupakan salah satu tahap dari pola penegakkan hukum pidana yang harus
dilaksanakan sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Tertangkap Tangan (Dasar Hukum Pasal 108 KUHAP), adalah tertangkapnya
seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana, atau dengan segera sesudah
beberapa saat tindak pidana itu dilakukan atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak
ramai sebagai orang yang melakukannya atau apabila sesaat kemudian padanya
diketemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak
pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau
membantu melakukan tindak pidana tersebut. Jadi secara langsung dapat dipastikan
tersangka dalam tindak pidana tersebut. Tertangkap tangan, setiap pegawai Bea dan
Cukai tanpa surat perintah dapat melakukan tindakan penangkapan, penggeledahan,
penyitaan dan melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Segera setelah itu memberitahukan dan atau menyerahkan tersangka beserta atau barang
bukti kepada penyidik yang berwenang melakukan penanganan selanjutnya. Penyidik
yang berwenang atau dalam hal ini Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai,
apabila menerima penyerahan tersangka beserta atau tanpa barang bukti dari pegawai
bea dan Cukai maupun masyarakat, wajib membuat laporan kejadian dan membuat
berita acara atas setiap tindakan yang dilakukan.

4.2. Latihan

40
1). Jelaskan apakah dalam kegiatan penyelesaian penyidikan tindak pidana
kepabeanan hakekatnya merupakan suatu upaya pengawasan dan penindakan
yang bersifat pembatasan/pengekangan hak azasi seseorang ?
2). Jelaskan apakah yang dimaksud dengan subjek dan obyek dari tindak
pidana kepabeanan !.
3). Jelaskan bagaimana cara pengawasan dan penindakan terhadap barang yang
dapat menjadi milik Negara.!
4). Jelaskan bagaimana cara pengawasan dan penindakannya yang dilakukan oleh
seseorang atas dasar kepentingan individunya secara tidak bertanggung jawab
lalai/ sengaja melakukan hal-hal yang dapat merugikan kepentingan umum.
5). Jelaskan apa yang dimaksud dengan kegiatan mulai melakukan penyidikan
dalam rangka pengawasan dan penindakan yang dilakukan oleh PPNS DJBC!

4.3. Rangkuman.

Sebelum seseorang dipidana karena didakwa melanggar ketentuan tindak pidana


kepabeanan dilakukanlah proses penyidikan tindak pidana. Didalam melaksanakan
penyidikan perlu diperhatikan beberapa azas-azas hukum yang ada hubungannya
dengan Tindak Pidana Kepabeanan menyangkut hak-hak azasi manusia yang memberi
perlindungan terhadap tersangka. Penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai
hakekatnya merupakan suatu upaya penegakan hukum yang bersifat pembatasan/
pengekangan hak azasi seseorang dalam rangka usaha untuk memulihkan terganggunya
keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan umum guna mengamankan
hak-hak negara. Sesuai yang telah diatur dalam pasal 112 UU No 10 / 1995 tentang
Kepabeanan mengenai penyidikan, Pejabat Bea dan Cukai yang diberi wewenang
khusus sebagai penyidik berhak untuk melakukan serangkaian tindakan yang
diperlukan guna kepentingan penyidikan. Penyidik yang telah melakukan serangkaian
tindakan tersebut wajib menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU No 8 / 1981 tentang Hukum Acara
Pidana. Oleh karena itu dibuat suatu prosedur penyidikan agar penyidikan dapat
dilaksanakan secara berhasil guna dan berdaya guna dengan tidak melanggar hukum.
Diharapkan pula adanya keseragaman penyidikan baik mengenai penatausahaan
maupun mengenai kelengkapan administrasi. Secara khusus istilah penyidikan di
bidang Kepabeanan dan Cukai didefinisikan sebagai serangkaian tindakan penyidik

41
untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu dapat membuat terang
tentang tindak pidana di bidang Kepabeanan yang terjadi dan guna menemukan
tersangkanya, dalam hal dan menurut cara yang diatur menurut KUHAP. Dari definisi
tersebut, dapat dipastikan bahwa dalam proses penyidikan dilakukan beberapa tahapan
tindakan yang harus dilakukan yang bertujuan untuk membuat terang, dalam artian
memperjelas suatu kasus sehingga pada akhirnya dapat diketahui tersangkanya dan
dapat dilakukan proses peradilan yang semata-mata harus sesuai dengan aturan yang
berlaku dan tidak menyalahi asas-asas kemanusiaan yang ada. Suatu proses penyidikan
dapat dilangsungkan ketika diketahui adanya tindak pidana. Dalam hal dapat
diketahuinya tindak pidana dilanjutkan dengan proses penyidikan melalui tahapan
membuat Laporan Kejadian (Dasar Hukum Pasal 106 KUHAP).

5. Test Formatif

42
Simaklah dengan baik materi yang terkandung dalam modul ini.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan secara spontan, artinya pada waktu Anda menjawab


pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak diperkenankan melihat ke modul dan kunci
jawaban, tetapi jawablah menurut apa yang ada dalam pikiran Anda.

5.1. Soal Pilihan Ganda


Pilihlah jawaban yang paling benar dan tepat, dengan cara memberikan tanda lingkaran
pada huruf a, b, c, d untuk tiap nomor pada soal dibawa ini. Soal ini bobot nilai nya
jumlah 30% untuk tiga puluh soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabnya benar.

(contoh:1. a b c d ).

1). Intelijen dalam pengertian bahasa, memiliki dua arti yaitu orang yang bertugas
mencari keterangan (mengamat-amati), dan….
a. Penegahan
b. Pemeriksaan
c. penindakan
d. dinas rahasia
2). Produk intelijen yang akan digunakan untuk kebijakan pengawasan terhadap
penyalahgunaan fasilitas Kawasan Berikat, yang dapat digunakan secara
nasional, adalah jenis ….
a. intelijen strategis
b. intelijen operasional
c. intelijen taktis
d. intelijen sipil
3). Produk intelijen berupa kebijakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap
Kawasan Berikat di lingkungan Kantor Pelayanan Purwakarta adalah jenis ....
a. intelijen strategis
b. intelijen operasional
c. intelijen taktis
d. intelijen sipil

43
4). Produk intelijen yang digunakan untuk mengungkapkan pelanggaran yang
dilakukan oleh suatu Kawasan Berikat A di lingkungan Kantor Pelayanan Bea
dan Cukai Bekasi, adalah jenis....
a. intelijen strategis
b. intelijen operasional
c. intelijen taktis
d. intelijen sipil
5). Fungsi intelijen meliputi tiga kegiatan utama, yaitu penyelidikan (investigation),
pengamanan (security), dan kegiatan ....
a. pengamatan
b. pengawasan
c. penindakan
d. penggalangan (preconditioning)
6). Kegiatan intelijen yang selalu diikuti dengan penggambaran, kuasai teknik
pengamatan, dan amati fenomena dan kegiatan yang bermakna, dengan
menggunakan pancaindera secara maksimal, adalah kegiatan ....
a. pengamatan (observing)
b. penggambaran (describing
c. penyamaran (pengelabuan)
d. penjejakan (surveillance)
7). Kegiatan intelijen dengan cara mendeskripsikan hasil pengamatan;
penggambaran pribadi, pengamatan tergantung pada inteligensia petugas dan
pengalaman petugas.; pelaksanaan pengamatan dan penggabaran gunakan detail
pengenal dan detail bermakna, dan tentukan ukuran obyek, route/arus perjalanan
dan instalasi, adalah kegiatan ....
a. pengamatan (observing)
b. penggambaran (describing)
c. penyamaran (pengelabuan)
d. penjejakan (surveillance)
8). Kegiatan intelijen dengan cara melakukan usaha untuk menutupi keadaan
sebenarnya agar identitas asli tidak diketahui; untuk personil, untuk benda, untuk
kegiatan adalah ....
a. pengamatan (observing)
b. penggambaran (describing)

44
c. penyamaran (pengelabuan)
d. penjejakan (surveillance)
9). Kegiatan intelijen dengan cara melakukan pengamatan terhadap sasaran berupa
sasaran orang atau kegiatan yang dilakukan secara rahasia dengan menggunakan
teknik tertentu untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, adalah kegiatan
....
a. pengamatan (observing)
b. penggambaran (describing)
c. penyamaran (pengelabuan)
d. penjejakan (surveillance)
10). Kegiatan intelijen dengan cara pengumpul informasi, akses ke sumber informasi,
dapat menggunakan cover atau kedok yang sesuai dengan lingkungan, faktor
rintangan yang akan dihadapi, dimana rintangan tersebut dapat berupa rintangan
alam, dan buatan adalah kegiatan ....
a. penyusupan (penetrating)
b. penggambaran (describing)
c. penyamaran (pengelabuan)
d. penjejakan (surveillance)
11). Importir, eksportir, pengangkut, pengusaha tempat penimbunan sementara,
pengusaha tempat penimbunan berikat, pengusaha pengurusan jasa kepabeanan,
pegawai atau aparat penegak hukum, dan setiap orang, adalah ....
a. subjek tindak pidana kepabeanan
b. obyek tindak pidana kepabeanan
c. sasaran pinindakan
d. sasaran penegahan
12). Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai diberi wewenang dan hak khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud
dalam Undang-undang tentang ....
a. Hukum Acara Pidana
b. Kepabeanan
c. Mahkamah Agung
d. Kejaksaan Agung
13). PPNS DJBC diangkat oleh Menteri Kehakiman atas usul dari ....
a. Kapolri

45
b. Menteri Keuangan
c. Kejaksaan Agung
d. Mahkamah Agung
14). Setiap orang selain Penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai yang mengetahui atau menerima laporan tentang adanya tindak pidana di
bidang Kepabeanan wajib melaporkan kepada ....
a. Kapolri
b. Kapolda
c. PPNS DJBC
d. KPK
15). Produk intelijen yang dihasilkan oleh unit intelijen DJBC tersebut nantinya
sebagai dasar pembuatan keputusan yang digunakan oleh ....
a. Kantor Wilayah DJBC
b. DJBC
c. Kantor Pelayanan Umum DJBC
d. Kantor Pabean
16). Seorang yamg bertugas untuk mengadakan peninjauan lapangan dan melakukan
pengamatan dan penggambaran, untuk kemudian melaporkan hasil pengamatan
dan penggambarannya kepada unsur pimpinan, disebut melakukan sebagai ....
a. agent
b. informan
c. observer
d. survylance
17). Seorang yamg memiliki tugas melaksanakan instruksi pusat dan kemudian
memberikan laporan dari pelaksanaan tersebut kepada pusat, disebut sebagai....
a. agent
b. informan
c. observer
d. survylance
18). Seorang yang mempunyai tugas memberikan fakta tanpa membuat suatu analisa
atau saran, memberikan laporan yang sifatnya petunjuk yang harus dinilai,
diolah terlebih dahulu untuk menjadi suatu laporan intelijen, disebut sebagai ....
a. agent
b. informan

46
c. observer
d. survylance
19). Kewenangan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai diberi wewenang dan hak khusus sebagai penyidik
diatur dalam Undang-undang Nomor 10 tentang Kepabeanan Pasal:
a. 111
b. 112
c. 113
d. 114
20). Dalam hal tertangkap tangan Pegawai Bea dan Cukai:
a. Tidak berhak melakukan penangkapan
b. Berhak melakukan penangkapan
c. Berhak melakukan penangkapan berdasarkan surat perintah
d. Hanya PPNS Bea dan Cukai yang boleh melakukan penangkapan

5.2. Soal Pilihan Benar dan Salah


Pilihlah jawaban yang menurut Saudara adalah yang paling benar dan tepat, dengan
cara memberikan tanda lingkaran pada huruf B (bila jawaban yang dipilih adalah yang
benar), dan S (bila jawaban yang dipilih adalah yang Salah) untuk tiap nomor pada
soal dibawa ini:

(contoh: 1. B, S )

Soal ini bobot nilai nya jumlah 10% untuk sepuluh soal yang dapat Saudara kerjakan
dan jawabannya benar.

Pilih B bila pernyataan benar dan S bila pernyataan salah !


1). Bidang penyelidikan memfokuskan perhatian pada upaya B - S
mengumpulkan informasi berikut aspek-aspek yang berkaitan
erat dengan upaya-upaya tersebut.

2). Pengawasan adalah kegiatan intelijen untuk memperoleh B - S


keterangan-keterangan atau informasi mengenai keadaan dan

47
tindakan apa yang akan dilakukan sasaran atau lawan.
3). Tujuan pengawasan dari Pabean adalah memastikan semua B - S
pergerakan barang, kapal, pesawat terbang, kendaraan dan
orang-orang yang melintas perbatasan Negara berjalan dalam
kerangka hukum, peraturan dan prosedur pabean yang
ditetapkan.
4). B - S
Pengenaan sanksi administrasi merupakan konsekuensi tidak
logis dari Undang-undang Kepabeanan sebagai bagian dari
hukum fiskal, aparat fiskal diberikan kewenangan untuk dapat
menerapkan sanksi administrasi berupa denda.
5). B - S
Tahapan-tahapan dalam suatu proses penyidikan dalam
pengertian merupakan kegiatan-kegiatan pokok dalam rangka
penyidikan tindak pidana di bidang Kepabeanan intinya
menyangkut tiga hal yakni Penindakan, Penyelesaian dan
6). Penyerahan Berkas Perkara. B - S

Langkah yang ditempuh dalam pengawasan dan penindakan


kepabeanan dengan cara penetapan target pengawasan
(targetting), sistem jalur pelayanan (jalur merah, hijau dan
prioritas), analyzing point (pemeriksaan tambahan terkait
dengan tata niaga); pengawasan pemeriksaan fisik barang dan
7). pemanfaatan B - S

Pengamanan adalah fungsi kedua intelijen yang merupakan


suatu kegiatan yang bertujuan untuk mencegah jangan sampai
sasaran atau lawan mengetahui langkah dan tindakan yang akan
8). kita lakukan. B - S

Pelanggaran kepabeanan yang dimaksud dalam Undang-undang


kepabeanan yaitu pelanggaran administrasi yang
pelaksanaannya dikenakan sanksi anministrasi berupa denda,

48
9). dan pelanggaran yang dapat dikenakan sanksi pidana. B - S

Dalam undang-undang Kepabeanan disebutkan bahwa


daluwarsa suatu penuntutan adalah sepuluh tahun sejak
10). terjadinya tindak pidana. B - S

Negara merasa perlu untuk memberikan tindakan tegas kepada


pelaku dengan tujuan untuk memberikan efek jera (shock
therapy) sehingga pelaku akan berpikir untuk tidak mengulangi
tindakannya tersebut (deter effect), dan memberikan insentif.

5.3. Soal Isian / mengisi kalimat atau kata (Soal melengkapi kalimat)
Lengkapilah kalimat dibawah ini agar menjadi kalimat atau pernyataan yang lengkap
dan benar, dengan cara mengisi pernyataan atau jawaban Saudara dituliskan pada
kolom atau ruang kosong yang bertanda titik-titik (.....). Soal ini bobot nilai nya jumlah
20% untuk lima soal yang dapat Saudara kerjakan dan jawabannya benar

1). Penjejakan (surveillance) yaitu pengamatan terhadap sasaran berupa sasaran


orang atau kegiatan yang dilakukan secara rahasia dengan menggunakan teknik
tertentu untuk memperoleh ........................................... yang dibutuhkan

2). Siklus intelijen adalah suatu rangkaian kegiatan intelijen yang berlangsung
secara terus menerus dan berurutan serta berkaitan, setelah rangkaian terakhir
kembali lagi pada .......................................... demikian seterusnya berlangsung
tanpa henti.

3). Tindak pidana kepabeanan merupakan tindak pidana .................................. yang


penegakkannya diemban oleh DJBC.

4). Penyidikan tindak pidana kepabeanan hakekatnya merupakan suatu upaya


penegakan hukum yang bersifat pembatasan/pengekangan hak azasi seseorang
dalam rangka usaha untuk memulihkan terganggunya keseimbangan antara
kepentingan individu dan kepentingan umum guna ...............................................

49
5). Hal-hal yang tidak boleh dibocorkan atau diungkapkan oleh seseorang yang
bergerak di bidang intelijen adalah bahwa mereka dilarang untuk
mengungkapkan atau ............................................... kelemahan lawan,
kelemahan dirisendiri, kemungkinan tindakan lawan, kemungkinan
......................................... yang akan diambil, kemampuan lawan, dan
kemampuan diri sendiri.

5.4. Soal Uraian.


Jawablah satu soal dari tiga soal dibawah ini dengan cara menulis uraian jawabannya
diatas kertas yang disediakan atau diatas lembar soal yang disediakan untuk menjawab
soal uraian. Soal ini bobot nilai nya jumlah 40% untuk dua soal yang dapat Saudara
kerjakan dan jawabannya benar.

1). Jelaskan pada era globalisasi, kemajuan teknologi dan pembangunan seperti
sekarang ini apakah pengawasan dan penindakan dalam kegiatan penyelesaian
tindak pidana kepabeanan masih diperlukan !

2). Jelaskan apa perbedaan dan persamaan penyidikan tindak pidana kepabeananan
dengan tindak pidana yang dimaksud dalam KUHP dan KUHAP. !

50
6. Kunci Jawaban Test Formatif
6.1. Kunci Jawaban Untuk 5.1. Soal Pilihan Ganda

1.d 2.a 3.b 4.c 5.d 6.a 7.b 8.c 9.d 10.a

11.a 12.b 13.c 14.d 15.a 16.a 17.c 18.b 19.b 20.b

6.2. Kunci Jawaban Untuk 5.2. Soal Pilihan Benar dan Salah

1.B 2. S 3. B 4. S 5. S 6. B 7. B 8. B 9. S 10. S

6.3. Kunci Jawaban Untuk 5.3. Soal Isian/mengisi kalimat atau kata
(Soal melengkapi kalimat)
1). Informasi
2). rangkaian pertama
3). khusus (lex spesialis)
4). mengamankan hak-hak negara
5). - membocorkan
- tindakan sendiri

6.4. Kunci Jawaban Untuk 5.4. Soal Uraian (lihat kembali pada materi modul)

51
7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan hasil jawaban dengan kunci yang terdapat di bagian belakang modul
ini. Hitung jawaban Anda dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman terhadap materi.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari
mencapai

91 % s.d 100 % : Amat Baik


81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori “Baik”), maka


disarankan mengulangi materi.

52
8. Daftar Pustaka

– Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, Pasal 20 ayat. (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang
Dasar 1945;
– Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara
– Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran
Negara Tahun 1960 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942);
– Undang-undang Nomor 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2070);
– Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2831);
– Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia
(Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2294);
– Undang-undang Nomor. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3209);
– Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);
– Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982
Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234);
– Undang-undang Tarip Indonesia Stbl. 1873 No. 135 sebagaimana telah dirubah dan
ditambah;
– Ordonansi Bea Stbl. 1882 No. 240 sebagaimana telah dirubah dan ditambah;

53
– Undang-undang Nomor 19 Tahun 1961 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1961 Nomor 276; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2318);

54