Anda di halaman 1dari 16

KEPANITERAAN DASAR

STATUS ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
Nama Mahasiswa

: MangaraWahyu Charros

NIM

: 112015207

Dr. Pembimbing

: dr. Christina Widjajani, Sp. PD

Tanda Tangan
.............................

.........................

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M. KH
Umur : 47 tahun
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Ngembal Kulon, Jati, Kudus

Jenis Kelamin : Laki-laki


Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Tanggal Masuk RS : 15 Juni 2016

A. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis

Tanggal 7 September 2016

Jam

: 18.30 WIB

Keluhan Utama :
Pasien laki laki berusia 47 tahun mengeluh perut bengkak sejak 1 bulan SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
Satu bulan SMRS, pasien mengeluh perut seperti membengkak. Awalnya satu bulan
yang lalu pasien merasa perutnya begah, dan semakin lama perutnya sebelah kanan atas
semakin membengkak. Pasien juga mengatakan bahwa BAB dan BAK normal, tidak terdapat
diare, BAB warna hitam / merah, atau lendir dan BAK seperti teh. Satu hari SMRS, pasien
mengeluhkan bahwa perut yang sakit semakin buruk disertai pembengkakkan perut di daerah
kanan atas namun pasien mulai merasa lemas dan disertai rasa tidak nyaman pada perut
walau belum ada keluhan muntah dan badan belum kuning. Selain itu pasien mengeluh
adanya rasa nyeri pada bagian ulu hati, nyeri hilang timbul, rasa nyeri seperti ditekan, nyeri
1

tidak bertambah ketika makan-makanan yang berlemak, serta nyeri tidak menjalar sampai ke
arah punggung. Namun nafsu makan pasien mulai menurun.
Riwayat Personal Sosial
Pada konsumsi makanan dan minuman sehari-hari pasien jarang sekali jajan atau
makan di luar rumah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan tidak mengidap suatu penyakit kronis dan belum pernah sakit
dengan gejala seperti ini sebelumnya, namun dahulu ketika SMA mengidap tiphoid dan DBD,
pasien juga mengatakan tidak ada riwayat pemakaian jarum suntik secara bersama-sama
maupun kontak seksual.
Penyakit Dahulu
(-) Cacar

(-) Malaria

(-) Batuginjal/Sal.kemih

(-) Cacar Air

(-) Disentri

(-) Burut (Hemia)

(-) Difteri

(-) Hepatitis

(-) Penyakit Prostat

(-) Batuk Rejan

(+) Tifus (SMA)

(-) Wasir

(-) Campak

(-) Skrofula

(-) Diabetes

(-) Influenza

(-) Sifilis

(-) Alergi

(-) Tonsilitis

(-) Gonore

(-) Tumor

(-) Khorea

(-) Hipertensi

(-) Penyakit Pembuluh

(+) DBD (SMA)

(-) Ulkus Ventrikuli

(-) Pendarahan Otak

(-) Pneumonia

(-) Ulkus Duodeni

(-) Psikosis

(-) Pleuritis

(-) Gastritis

(-) Neurosis

(-) Tuberkulosis

(-) Batu Empedu

Lain-lain :

(-) Operasi
(-) Kecelakaan

Riwayat Keluarga
Pasien tidak memiliki anggota keluarga atau orang lingkungan sekitar yang memiliki
gejala sakit (mual, muntah, kuning) yang sama. Tidak ada riwayat darah tinggi, diabetes,
penyakit jantung, kolesterol maupun asam urat.

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
(-) Bisul

(-) Rambut

(-) Keringat malam

(-) Kuku

(+) Kuning/Ikterus

(-) Sianosis
(-) Lain-lain

Kepala
(-) Trauma

(-) Sakit kepala

(-) Sinkop

(-) Nyeri pada sinus

Mata
(-) Nyeri

(-) Radang

(+)konjungtiva anemis/pucat

(-) Sekret

(-) Gangguan penglihatan

(+) Kuning/Ikterus sklera

(-) Ketajaman penglihatan

Telinga
(-) Nyeri

(-) Gangguan Pendengaran

(-) Sekret

(-) Kehilangan Pendengaran

(-) Tinitus
Hidung
(-) Trauma

(-) Gejala Penyumbatan

(-) Nyeri

(-) Gangguan Penciuman

(-) Sekret

(-) Pilek

(-) Epistaksis
Mulut
(-) Bibir

(-) Lidah Kotor

(-) Gusi

(-) Gangguan pengecap

(-) Selaput

(-) Stomatitis

Tenggorokan
(-) Nyeri Tenggorokan

(-) Perubahan Suara

Leher
(-) Benjolan

(-) Nyeri Leher

Dada ( Jantung / Paru paru )


(-) Nyeri dada

(-) Sesak napas

(-) Berdebar

(-) Batuk Darah


3

(-) Ortopnoe

(-) Batuk

Abdomen ( Lambung/Usus )
(-) Rasa Kembung

(-) Wasir

(-) Mual

(-) Mencret

(-) Muntah

(-) Tinja darah

(-) Muntah darah

(-) Tinja berwarna dempul

(-) Sukar menelan

(-) Tinja berwarna ter

(-) Nyeri perut, kolik

(+) Benjolan multifokal

(-) Perut membesar

(+) Pembuluh darah kolateral

Saluran kemih / Alat Kelamin


(-) Disuria

(-) Kencing Nanah

(-) Stranguri

(-) Kolik

(-) Poliuria

(-) Oliguria

(-) Polakisuria

(-) Anuria

(-) Hematuria

(-) Retensi urin

(-) Kencing batu

(-) Kencing menetes

(-) Ngompol (tidak disadari)

(-) Penyakit prostat

Saraf dan Otot


(-) Anestesi

(-) Sukar mengingat

(-) Parestesi

(-) Ataksia

(-) Otot lemah

(-) Hipo / Hiper-esthesi

(-) Kejang

(-) Pingsan

(-) Afasia

(-) Kedutan (tick)

(-) Amnesia

(-) Pusing (vertigo)

(-) lain-lain

(-) Gangguan bicara (Disartri)

Ekstremitas
(+) Bengkak

(-) Deformitas

(-) Nyeri

(-) Sianosis

(+) Ikterik

RIWAYAT HIDUP
Riwayat Kelahiran
Tempat Lahir : ( ) Di rumah

( ) Rumah Bersalin

(+) R.S Bersalin

Ditolong oleh : (+ ) Dokter

() Bidan

( ) Dukun

( ) lain lain

(+) Campak (+) DPT

(+) Polio

(+) Tetanus

Riwayat Imunisasi
(+) Hepatitis (+) BCG
Riwayat Makanan
Frekuensi / Hari

: 3 kali sehari

Jumlah / Hari

: kurang

Variasi / hari

: bervariasi

Nafsu makan

: berkurang

Pendidikan
( ) SD

(+) SLTP

(-) SMK

( ) Sekolah Kejuruan

( ) Akademi

() Universitas [S1]

( ) Kursus

( ) Tidak sekolah

Kesulitan
Keuangan : Tidak ada
Pekerjaan : Pegawai swasta
Keluarga : Tidak ada
Lain-lain : -

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Kesadaran umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 86 x/menit

Suhu

: 36,4 C

Pernapasan (frekuensi dan tipe)

: 19x/menit, abdominal-thorakal
5

Keadaan gizi

: Baik

Sianosis

: Tidak ada

Edema umum

: Di daerah kaki

Habitus

: Astenikus

Cara berjalan

: Menunduk

Mobilitas ( Aktif / Pasif )

: Pasif

Umur menurut taksiran pemeriksa

: Sesuai umur

Aspek Kejiwaan
Tingkah laku : Wajar
Alam perasaan: Biasa
Proses pikir

: Wajar

Kulit
Warna sawo matang, efloresensi (-), jaringan parut (-), pigmentasi (-), pertumbuhan rambut
rata, hitam (-), suhu raba hangat (+), lembab (+), ikterus (+), edem (-), turgor kulit baik (+),
lapisan lemak rata (+).
Kelenjar Getah Bening
Submandibula : Tidak membesar

Leher : Tidak membesar

Supraklavikula : Tidak membesar

Ketiak : Tidak membesar

Lipat paha

: Tidak membesar

Kepala
Normocephali, tidak teraba benjolan maupun lesi, distribusi rambut rata, warna hitam, rambut
tidak mudah dicabut, turgor dahi baik, arteri temporalis teraba.
Mata
Pupil isokor, lensa jernih, exopthalmus (-), enopthalmus (-), konjungtiva anemis (+), sklera
ikterik (+), gerakan mata aktif, refleks cahaya langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung
(+/+), mata cekung (-).

Telinga
Gangguan pendengaran (-), lubang telinga lapang (+), penyumbatan (-), pendarahan (-),
serumen (-), cairan (-).
Hidung
Pernafasan cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), nyeri tekan (-),gangguan penciuman(-)
Mulut
Simetris, bibir kering (-), sianosis (-),gigi lengkap (-), gigi carries (-), faring hiperemis (-),
tonsil T1-T1, deviasi lidah (-), lidah kotor (-), tifoid / coated tongue (-)
Leher
Deviasi trakea (-), KGB tidak membesar (-), tiroid tidak membesar (-), nyeri tekan (-), nodul
(-), arteri karotis teraba (+/+)
Thorak
Bentuk thoraks normal, simetris statis-dinamis, tipe pernafasan abdominal-thorakal, spider
nevi (-), tidak ada benjolan, lesi (-), warna ikterik (+), retraksi sela iga (-).
Paru-paru
Pemeriksaan
Inspeksi

Palpasi

Perkusi
Auskultasi

Kiri
Kanan
Kiri

Kanan

Depan
Simetris saat statis dan dinamis
Simetris saat statis dan dinamis
- Tidak ada benjolan

Belakang
Simetris saat statis dan dinamis
Simetris saat statis dan dinamis
- Tidak ada benjolan

Fremitus taktil simetris

Fremitus taktil simetris

Nyeri tekan (-)


Tidak ada benjolan

Nyeri tekan (-)


Tidak ada benjolan

Fremitus taktil simetris

Fremitus taktil simetris

Kiri

- Nyeri tekan (-)


Sonor di seluruh lapang paru

- Nyeri tekan (-)


Sonor di seluruh lapang paru

Kanan

Sonor di seluruh lapang paru

Sonor di seluruh lapang paru

Kiri

- Suara napas vesikuler

- Suara napas vesikuler

Kanan

- Wheezing (-), ronki (-)


- Suara napas vesikuler

- Wheezing (-), ronki (-)


- Suara napas vesikuler

- Wheezing (-), ronki (-)

- Wheezing (-), ronki (-)

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Ictus cordis tidak tampak, tidak ada lesi kulit, tidak ada bekas operasi
Ictus cordis teraba di ICS VI, 1 cm lateral dari garis midclavicula kiri
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas kiri

Auskultasi

: ICS IV linea axillaris anterior sinistra

Batas atas : ICS II linea sternalis sinistra


BJ I-II murni, reguler, murmur (-), gallop (-)

Pembuluh Darah
Arteri Temporalis

: Teraba pulsasi +/+

Arteri Karotis

: Teraba pulsasi +

Arteri Brakhialis

: Teraba pulsasi +/+

Arteri Radialis

: Teraba pulsasi +/+

Arteri Femoralis

: Teraba pulsasi +/+

Arteri Poplitea

: Teraba pulsasi +/+

Arteri Tibialis Posterior

: Teraba pulsasi +/+

Arteri Dorsalis Pedis

: Teraba pulsasi +/+

Abdomen
Inspeksi

: Warna kulit ikterik (+), tidak ada lesi, datar, spider nevi (-),
striae(-), pembuluh darah kolateral (+)

Palpasi
-

Dinding perut : Nyeri tekan (-) epigastrium, nyeri lepas (-), defens muskular
(-), massa (+)

Hati

: Tidak teraba

Limpa

: Tidak teraba, ruang traube timpani

Ginjal

: Ballotement (-), nyeri ketok CVA (-)

Lain-lain

: Tidak ada

Perkusi

: Timpani, shifting dullness (-), undulasi (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normoperistaltik

Turgor

: Baik

Alat Kelamin

: Tidak dilakukan

Colok dubur

: Tidak dilakukan

Anggota Gerak
Lengan

Kanan

Kiri

Otot
-

Tonus

Normotonus

Normotonus

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sendi

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

+5

+5

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Lain-lain

Tungkai dan Kaki

Kanan

Kiri

Luka

Tidak ada

Tidak ada

Varises

Tidak ada

Tidak ada

Otot

Tonus

Normotonus

Normotonus

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sendi

Normal

Normal

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

+5

+5

Edema

ada

Lain-lain

ada
-

LABORATORIUM & PEMERIKSAAN PENUNJANG LAINNYA


Pemeriksaan
Gula Darah Sewaktu
Kreatinin
Bilirubin Total
SGOT
SGPT
Ureum

Hasil
91 mg/dL
0.72 mg/dL
3.70 mg/dL
592 U/L
101 U/L
25.0 mg/dL

Serologi
Anti HCV Stik
HbsAg Stik

Nilai Normal
75-110
0.9-1.3
<1.3
15-40
10-40
15-40
Hasil
Negatif
Positif

RINGKASAN (RESUME)
Perempuan berusia 16 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluhan mual muntah
disertai demam sejak 3 hari SMRS. Pasien mengeluh adanya warna kuning di kulit. Pasien
juga merasa lemas, nafsu makan menurun karena mual muntah. Pada pemeriksaan fisik:
tampak sakit sedang, cm, TD:110/80mmHg, RR: 16x/menit, HR:80x/menit, T: 36,6oC. Sklera
ikterik, kulit kuning, akral hangat. Pemeriksaan laboratorium: anti HAV positif, bilirubin
total, direk, dan indirek meningkat.
DAFTAR ABNORMALITAS
1. Demam
2. Mual-muntah
3. Sklera ikterik
4. Kulit Ikterik
5. Anti HAV positif
6. Peningkatan Bilirubin total, direk, dan indirek.
PROBLEM
Hepatitis A Akut
Berdasarkan abnormalitas nomor 1 6.
IPDx
-Anti HAV
IPTx
-Infus NaCl 0.9 % 16 tpm
-Ondansentron 1 ampul
-Ranitidin 1 ampul
-Curcuma
IPMx
-Cek ureum dan kreatinin
-Cek SGOT & SGPT
IPEDx
-Jelaskan kepada pasien mengenani penyakitnya
-Pengaturan diet
-Tirah baring

10

TINJAUAN PUSTAKA
Hepatitis A Akut
Hepatitis adalah proses peradangan difus pada sel hati. Hepatitis A adalah hepatitis
yang disebabkan oleh infeksi Hepatitis A Virus. Infeksi virus hepatitis A dapat menyebabkan
berbagai macam komplikasi, diantaranya adalah hepatitis fulminant, autoimun hepatitis,
kolestatik hepatitis, hepatitis relaps, dan sindroma pasca hepatitis (sindroma kelelahan
kronik). Hepatitis A tidak pernah menyebabkan penyakit hati kronik.1
Etiologi
Hepatitis A disebabkan oleh hepatitis A virus. Virus ini termasuk virus RNA, serat
tunggal, dengan berat molekul 2,25-2,28 x 106 dalton, simetri ikosahedral, diameter 27-32
nm dan tidak mempunyai selubung. Mempunyai protein terminal VPg pada ujung 5nya dan
poli(A) pada ujung 3nya. Panjang genom HAV: 7500-8000 pasang basa. Hepatitis A virus
dapat diklasifikasikan dalam famili picornavirus dan genus hepatovirus.1,2
Transmisi
Penyakit ini ditularkan secara fekal-oral dari makanan dan minuman yang terinfeksi.
Dapat juga ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini terutama menyerang golongan
sosial ekonomi rendah yang sanitasi dan higienenya kurang baik. Masa inkubasi penyakit ini
adalah 14-50 hari, dengan rata-rata 28 hari. Penularan berlangsung akut.2, 3
Epidemiologi
Hepatitis A masih merupakan suatu masalah kesehatan di negara berkembang seperti
Indonesia. Berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, hepatitis A masih merupakan
bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar dari 39,8-68,3%.
Incidence rate dari hepatitis per 10.000 populasi sering kali berfluktuasi selama beberapa
tahun silam. Suatu studi di Jakarta melaporkan bahwa anti-HAV kadang kadang ditemukan
pada bayi baru lahir, dan ditemukan pada 20% bayi. Angka prevalensi ini terus meningkat
pada usia di atas 20 tahun. Di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2010, KLB hepatitis A terjadi
di 2 desa dengan jumlah penderita sebanyak 32 orang dengan attack rate sebesar 1,35%,
kondisi ini mengalami peningkatan dimana pada tahun 2009 kasus hepatitis A menyerang
pada satu desa. Sementara di Kota Semarang selama tahun 2011 tidak di temukan KLB
hepatitis A. Pada tahun 2013, kasus hepatitis di Kota Semarang meningkat tajam. Menurut
Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, ada 47 kasus hepatitis yang diketahui hingga bulan
Agustus tahun 2013.3
Gejala Klinis

11

Gejala hepatitis akut terbagi dalam 4 tahap yaitu fase inkubasi, fase prodromal (pra
ikterik), fase ikterus, dan fase konvalesen (penyembuhan). Fase Inkubasi. Merupakan waktu
antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus. Fase ini berbeda-beda lamanya
untuk tiap virus hepatitis. Panjang fase ini tergantung pada dosis inokulum yang ditularkan
dan jalur penularan, makin besar dosis inokulum, makin pendek fase inkubasi ini.2 Pada
hepatitis A fase inkubasi dapat berlangsung selama 14-50 hari, dengan rata-rata 28-30 hari.4
Fase Prodromal (pra ikterik). Fase diantara timbulnya keluhan-keluhan pertama dan
timbulnya gejala ikterus. Awitannya dapat singkat atau insidious ditandai dengan malaise
umum, nyeri otot, nyeri sendi, mudah lelah, gejala saluran napas atas dan anorexia. Mual
muntah dan anoreksia berhubungan dengan perubahan penghidu dan rasa kecap. Demam
derajat rendah umunya terjadi pada hepatitis A akut. Nyeri abdomen biasanya ringan dan
menetap di kuadran kanan atas atau epigastrium, kadang diperberat dengan aktivitas akan
tetapi jarang menimbulkan kolesistitis. 4
Fase Ikterus. Ikterus muncul setelah 5-10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan
dengan munculnya gejala. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi. Setelah timbul ikterus
jarang terjadi perburukan gejala prodromal, tetapi justru akan terjadi perbaikan klinis yang
nyata. 4
Fase konvalesen (penyembuhan). Diawali dengan menghilangnya ikterus dan keluhan
lain, tetapi hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada. Muncul perasaan sudah lebih
sehat dan kembalinya nafsu makan. Keadaan akut biasanya akan membaik dalam 2-3
minggu. Pada hepatitis A perbaikan klinis dan laboratorium lengkap terjadi dalam 9 minggu.
Pada 5-10% kasus perjalanan klinisnya mungkin lebih sulit ditangani, hanya <1% yang
menjadi fulminant. 4
Patofisiologi
HAV didapat melalui transmisi fecal-oral; setelah itu orofaring dan traktus
gastrointestinal merupakan situs virus ber-replikasi. Virus HAV kemudian di transport menuju
hepar yang merupakan situs primer replikasi, dimana pelepasan virus menuju empedu terjadi
yang disusul dengan transportasi virus menuju usus dan feses. Viremia singkat terjadi
mendahului munculnya virus didalam feses dan hepar. Pada individu yang terinfeksi HAV,
konsentrasi terbesar virus yang di ekskresi kedalam feses terjadi pada 2 minggu sebelum
onset ikterus, dan akan menurun setelah ikterus jelas terlihat. Anak-anak dan bayi dapat terus
12

mengeluarkan virus selama 4-5 bulan setelah onset dari gejala klinis. Berikut ini merupakan
ilustrasi dari patogenesis hepatitis A, lihat Gambar 1. Hepatitis A Patogenesis.2

Gambar 1. Patogenesis hepatitis A. Dikutip dari kepustakaan5


Kerusakan sel hepar bukan dikarenakan efek direct cytolytic dari HAV; Secara umum
HAV tidak melisiskan sel pada berbagai sistem in vitro. Pada periode inkubasi, HAV
melakukan replikasi didalam hepatosit, dan dengan ketiadaan respon imun, kerusakan sel
hepar dan gejala klinis tidak terjadi.2
Banyak bukti berbicara bahwa respon imun seluler merupakan hal yang paling berperan
dalam patogenesis dari hepatitis A. Kerusakan yang terjadi pada sel hepar terutama
disebabkan oleh mekanisme sistem imun dari Limfosit-T antigen-specific. Keterlibatan dari
sel CD8+ virus-specific, dan juga sitokin, seperti gamma-interferon, interleukin-1-alpha (IL1-), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosis factor (TNF) juga berperan penting dalam
eliminasi dan supresi replikasi virus. Meningkatnya kadar interferon didalam serum pasien
yang terinfeksi HAV, mungkin bertanggung jawab atas penurunan jumlah virus yang terlihat
pada pasien mengikuti timbulnya onset gejala klinis. Pemulihan dari hepatitis A berhubungan
dengan peningkatan relatif dari sel CD4+ virus-specific dibandingkan dengan sel CD8+.6,
22. Immunopatogenesis dari hepatitis A konsisten mengikuti gejala klinis dari penyakit.
Korelasi terbalik antara usia dan beratnya penyakit mungkin berhubungan dengan
perkembangan sistem imun yang masih belum matur pada individu yang lebih muda,
13

menyebabkan respon imun yang lebih ringan dan berlanjut kepada manifestasi penyakit yang
lebih ringan.2
Dengan dimulainya onset dari gejala klinis, antibodi IgM dan IgG anti- HAV dapat
terdeteksi.35 Pada hepatitis A akut, kehadiran IgM anti-HAV terdeteksi 3 minggu setelah
paparan, titer IgM anti-HAV akan terus meningkat selama 4-6 minggu, lalu akan terus turun
sampai level yang tidak terdeteksi dalam waktu 6 bulan infeksi. IgA dan IgG anti-HAV dapat
dideteksi dalam beberapa hari setelah timbulnya gejala. Antibodi IgG akan bertahan selama
bertahun-tahun setelah infeksi dan memberikan imunitas seumur hidup. Pada masa
penyembuhan, regenerasi sel hepatosit terjadi. Jaringan hepatosit yang rusak biasanya pulih
dalam 8-12 minggu. Lihat Gambar 2. Gejala Klinis.2

Gambar 2. Gejala Klinis


Penatalaksanaan
Terapi Non Farmakologis
Pada dasarnya, pasien dengan hepatitis A adalah penyakit yang self limitting disease,
sehingga kita harus mendorong pasien untuk memiliki diet yang memadai. Pasien harus
menghindari alkohol dan obat-obatan yang mungkin terakumulasi pada penyakit hati. Dengan
kata lain, tidak ada pantangan tertentu yang diperlukan. Istirahat selama penyakit hepatitis a
akut penting, meskipun data untuk mendukung praktek ini masih kurang. Hal yang paling
penting dalam menangani penyakit hepatitis A akut adalah membatasi transmisi, terutama di

14

fase awal penyakit. Jika pasien ingin kembali ke aktivitas mungkin harus ditunda selama 10
hari setelah timbulnya ikterus.5
Terapi Farmakologis
Untuk kasus infeksi akut HAV , terapi umumnya adalah suportif tanpa pengobatan yang
khusus. Hal terpenting dalam Hepatitis A adalah mencari penyebab dan mencegah wabah.
Terapi awal adalah istirahat jangan bekerja dalam masa akut penyakit ini. Mual dan muntah
diberikan obat antiemetik. Dehidrasi dapat dikelola dengan masuk rumah sakit dan diberikan
intravena (IV) cairan. Mayoritas anak-anak memiliki gejala minimal; orang dewasa lebih
mungkin untuk memerlukan perawatan yang lebih intensif, termasuk rawat inap. Terapi
analgesik yang biasanya diberikan adalah acetaminophen dengan dosis 325-650 mg per oral
tiap 4 jam, dosis tidak boleh melebihi 3250 mg/hari. Pemberian obat ini berdasarkan
pengawasan. Dapat juga diberikan curcuma sebagai hepato protektor 5
Pencegahan
Tujuan utama dalam mencegah penyakit hepatitis a adalah mengontrol sumber kontak
penyebab penyakit. Tujuan sekunder jangka panjang meliputi imunisasi, yang meningkatkan
kekebalan kawanan dan mengurangi kemungkinan wabah lebih lanjut dalam komunitas
berisiko tinggi. Pemberian pendidikan tentang penularan dan pencegahan penularan (mencuci
tangan ketika akan makan dan selesai makan, sumber makanan yang aman) juga penting.5
Vaksinasi sangat efektif untuk mencegah penyakit HAV . Kemanjuran vaksin hepatitis
A berkisar dari 80 % sampai 100 % setelah 1-2 dosis dibandingkan dengan plasebo.
Diindikasikan sebagai imunisasi aktif terhadap virus hepatitis A (HAV) untuk setiap orang
yang mencari perlindungan, dan orang-orang dengan risiko berikut: laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki, IV atau non - IV penyalahguna terlarang narkoba,
penyakit hati kronis, wisatawan internasional, kontak dekat dengan seorang anak pungut
internasional, orang yang bekerja dengan primata HAV terinfeksi atau HAV dalam
pengaturan laboratorium serta orang dengan makanan atau tempat tinggal sanitasi buruk. Dua
dosis seri vaksinasi : 1 mL IM ; memisahkan 2 dosis dengan 6-18 bulan (pedoman ACIP) ;
negara Havrix pelabelan memisahkan dosis dengan 6-12 bulan.5

Ringkasan

15

Pada kasus ini, dari anamnesis yang dilakukan didapatkan kemungkinan hepatitis yaitu
riwayat makan tidak cuci tangan / sanitasi buruk, mual, muntah, rasa nyeri pada dada
(epigastrium). Didapatkan juga gejala tidak khas pada hepatitis a yaitu demam.
Pada pasien ini perlu dilakukan pemeriksaan anti HAV, HCV untuk menyingkirkan
diagnosis banding. Di mana hasil pemeriksaan anti HAV positif. Sementara diberikan infus
NaCL 0.9 % 16 tetes per menit untuk mencegah kehilangan cairan, ondansentron 1 ampul,
serta ranitidin 1 ampul untuk mual dan muntah yang diderita pasien, serta pemberian curcuma
sebagai hepatoprotektor.

DAFTAR PUSTAKA
1. Horn T, Learned J. Viral Hepatitis dan HIV. Seri Buku Kecil. Jakarta: Yayasan
Spiritia; 2005. H. 5-9.
2. Price S. A, Wilson L. M, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
Jakarta: EGC; 2005. H. 482-92.
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid 1. Edisi V. Jakarta: Intera Publishing; 2006. H. 644-51.
4. http://eprints.undip.ac.id/44531/3/Dhaneswara_Adhyatama_W_22010110120016_Ba
b2KTI.pdf diunduh pada tanggal 17 juli 2016 pukul 18.00.
5. http://emedicine.medscape.com/article/177484-overview#a3 diunduh pada tanggal 18
Juli 2016 pukul 20.00.

16