Anda di halaman 1dari 41

CASE REPORT

DENGUE HEMORRHAGIC FEVER

Oleh :
Ajeng Defriyanti Pusparini
1518012207

Perceptor :
dr. Rina Kriswiastiny, Sp. PD

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Dengue adalah penyakit virus nyamuk yang telah dengan cepat menyebar di
seluruh wilayah dalam beberapa tahun terakhir. Dengue Fever (DF) dan Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
infeksi virus dengue. DHF disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus
dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga
tidak ada proteksi silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe
(hiperendemisitas) dapat terjadi. Virus dengue ditularkan dengan perantara
nyamuk betina terutama spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Aedes
aegypti merupakan pembawa demam kuning (yellow fever), chikungunya dan
infeksi zika. Dengue tersebar luas di seluruh daerah tropis, dengan variasi lokal
dalam risiko dipengaruhi oleh curah hujan, suhu dan tidak terencana urbanisasi
yang cepat (Sukohar, 2014)
DHF pertama kali diketahui di Asia Tenggara tahun 1950 dan sejak 1975
hingga saat ini DHF merupakan penyebab kematian utama pada anak-anak di
negara Asia. Secara global, lebih dari 100 negara yang merupakan endemik DHF
diantaranya Afrika, Amerika, Mediantara Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat
adalah negara-negara yang paling banyak menderita penyakit ini. Sejak tahun
1997 dengue dinyatakan sebagai penyakit asal viral yang berbahaya dan berakibat
fatal bagi manusia. Penyebarannya secara global sebanding dengan malaria, dan
diperkirakan setiap tahun terdapat sebanyak 2500 juta orang atau dua per tiga dari
penduduk dunia beresiko terkena DHF. Setiap tahun terdapat 10 juta kasus infeksi

dengue di seluruh dunia dengan angka kematian sekitar 5% terutama pada anakanak (Hadi, 2010).
Pada tahun 2013, wabah dengue fever terjadi di Florida (Amerika Serikat)
dan provinsi Yunnan China. Di Asia, Singapura telah melaporkan peningkatan
kasus setelah selang beberapa tahun dan wabah juga telah dilaporkan di Laos.
Pada tahun 2014, terjadi peningkatan jumlah kasus di Republik Rakyat Cina,
Kepulauan Cook, Fiji, Malaysia dan Vanuatu, dengan dengue tipe 3 (DEN 3)
mempengaruhi negara Pulau Pasifik setelah lebih dari 10 tahun. Dengue juga
dilaporkan di Jepang setelah selang lebih dari 70 tahun. Pada tahun 2015 ditandai
dengan wabah DHF yang besar di seluruh dunia, dengan Filipina melaporkan
lebih dari 169 000 kasus dan Malaysia melebihi 111.000 kasus dugaan DHF,
meningkat 59,5% dan 16% dalam jumlah kasus tahun sebelumnya. Pulau Hawaii
di negara bagian Hawaii, Amerika Serikat, dipengaruhi oleh wabah dengan 181
kasus yang dilaporkan pada tahun 2015 dan transmisi berkelanjutan pada tahun
2016. Diperkirakan 500.000 orang DHF yang parah memerlukan rawat inap setiap
tahun, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak, sekitar 2,5% mengalami
kematian (WHO, 2016).
Bandar Lampung merupakan daerah endemis DBD. Data dinas kesehatan
kota Bandar Lampung menyebutkan pada tahun 2010, jumlah penderita DBD di
Bandar Lampung mencapai 763 orang dan yang meninggal 16 orang. Pada tahun
2011, jumlah penderita DBD di Bandar Lampung mencapai 413 orang dan yang
meninggal 7 orang. Pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah penderita DBD
di Bandar Lampung mencapai 1111 orang dan yang meninggal 11 orang, jumlah
tersebut merupakan tertinggi dibanding dengan kabupaten lain.

BAB II
ILUSTRASI KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. A

Umur

: 21 tahun

Status

: Sudah menikah

Jenis kelamin

: Perempuan

Jenis Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Pesawaran

Agama

: Islam

MRS

: 22 Maret 2016

B. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis
Tanggal
Jam

: 24 Maret 2016
: 10.00 WIB

Keluhan Utama

: Demam 4 hari

Keluhan Tambahan

: Nyeri sendi, nyeri kepala, mual,

muntah,
perdarahan gusi, sesak

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke IGD RSAM dengan keluhan demam 4 hari
SMRS, demam dirasakan naik turun sepanjang hari, tanpa
disertai mengigil dan berkeringat. Demam tinggi pada sore
menjelang malam disertai dengan rasa dingin pada seluruh
tubuh. Kedua kaki dan tangan terasa dingin seperti es,
hingga

harus

pakai

beberapa

lapis

selimut

untuk

menghangatkan. Perdarahan pada gusi terjadi 2 hari setelah


demam muncul. Perdarahan berasal dari gusi bagian bawah
kiri secara hilang timbul. Darah muncul secara tiba-tiba
disaat yang tidak tentu. Perdarahan gusi memberat dan
bertambah

banyak

saat

pasien

sikat

gigi,

sehingga

memberikan rasa tidak enak dilidah.


Pasien juga mengeluh seluruh badannya terasa ngilu
dan nyeri pada sendi-sendinya. Badan terasa pegal dan
terasa lemas. Nyeri kepala hebat yang berdenyut dirasakan
pada seluruh bagian kepala. Nyeri kepala dirasakan terus
menerus sepanjang hari. Pasien juga merasa mual yang
terus menerus. Mual disertai muntah dengan konsistensi cair
dan berisi makanan yang telah di makan. Muntah terus
menerus sebanyak lebih dari 8x sehari, mulut terasa pahit
sehingga

nafsu

makanpun

menurun.

Pasien

juga

mengeluhkan sesak hilang timbul, sesak yang dirasakan

tidak terlalu berat. Sesak dirasakan setelah berjalan dari


kamar mandi. Pasien belum pernah berobat sebelumnya dan
belum memberikan penanganan awal.
Riwayat penyakit dahulu dengan keluhan yang sama
disangkal, riwayat hipertensi dan diabetes melitus juga
disangkal. Riwayat penyakit keluarga dengan keluhan yang
sama juga disangkal oleh pasien dan riwayat penyakit
keturunan di keluarga juga disangkal. Di lingkungan rumah
pasien juga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama.
Riwayat Penyakit Dahulu
(-)

Cacar

(-)

Malaria

(-)

Batu Ginjal /Sal.

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Cacar Air
Difteri
Batuk Rejan
Campak
Influenza
Tonsilitis
Kholera

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Disentri
Hepatitis
Tifus Abdominalis
Skirofula
Sifilis
Gonore
Hipertensi

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Kemih
Burut (Hernia)
Penyakit Prostat
Wasir
Diabetes
Alergi
Tumor
Penyakit

(-)

Demam

(-)

Ulkus Ventrikuli

()

Pembuluh Darah
Dyspepsia

(-)
(-)
(-)

Rematik Akut
Pneumonia
Pleuritis
Tuberkulosis

(-)
(-)
(-)

Ulkus Duodeni
Gastritis
Batu Empedu

(-)
(-)

Operasi
Kecelakaan

Riwayat Keluarga

Hubungan
Kakek
Nenek

Umur

Jenis

Keadaan

Penyebab

(th)
50
65

Kelamin

kesehatan
Meninggal
Sehat

Meninggal
Tidak tahu
-

Ayah
45

Ibu
43

Saudara (kakak)
28

Anak-Anak
4

Adakah Kerabat yang Menderita


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosa
Artritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

Sehat
Sehat
Sehat
Sehat

Ya

Tidak

Hubungan

Ibu

C. ANAMNESIS SISTEM
Catatan keluhan tambahan positif disamping judul-judul
yang bersangkutan.
Kulit (tidak ada keluhan)
(-)
(-)

Bisul
Kuku

(-)
(-)

Rambut
Kuning / Ikterus

(-)
(-)
(-)

Keringat malam
Sianosis
Lain-lain

Kepala
(-)
(-)

Trauma
Sinkop

(+)
(-)

Sakit kepala
Nyeri pada sinus

(-)
(-)
(-)

Radang keringat malam


Gangguan penglihatan
Ketajaman penglihatan

(-)

Tinitus

Mata (tidak ada keluhan)


(-)
(-)
(-)

Nyeri
Sekret
Kuning / Ikterus

Telinga (tidak ada keluhan)


(-)

Nyeri

(-)

Sekret

(-)
(-)

Gangguan pendengaran
Kehilangan pendengaran

(-)
(-)
(-)

Gejala penyumbatan
Gangguan penciuman
Pilek

(-)
(-)
(-)

Lidah
Gangguan pengecap
Stomatitis

Hidung (tidak ada keluhan)


(-)
(-)
(-)
(-)

Trauma
Nyeri
Sekret
Epistaksis

Mulut
(+) Bibir kering
(+) Perdarahan Gusi
(-) Selaput
Tenggorokan
(+)

Nyeri tenggorokan

(-)

Perubahan suara

(-)

Nyeri leher

(+)
(-)
(+)

Sesak nafas
Batuk darah
Batuk

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(+)
(-)

Perut membesar
Wasir
Mencret
Tinja berdarah
Tinja berwarna dempul
Tinja berwarnahitam
Benjolan

Leher (tidak ada keluhan)


(-)

Benjolan

Jantung / Paru-Paru
(+)
(-)
(-)

Nyeri dada
Berdebar
Ortopnoe

Abdomen (Lambung / Usus)


(-)
(+)
(+)
(-)
(-)
(+)

Rasa kembung
Mual
Muntah
Muntah darah
Sukar menelan
Nyeri perut

Saluran Kemih / Alat Kelamin (tidak ada keluhan)


(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Disuria
Stranguri
Poliuria
Polakisuria
Hematuria
Kencing batu
Ngompol (tidak disadari)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Kencing nanah
Kolik
Oliguria
Anuria
Retensi urin
Kencing menetes
Penyakit prostat

Katamenis (tidak ada keluhan)


(-)
()

Leukore
Lain-lain

(-)
()

Perdarahan

Haid
(-)
(-)

Haid terakhir
Teratur

(-)
(-)

Jumlah dan lamanya


Nyeri

(-)
(-)

Menarche
Gejala
klimakterium

(-)

Gangguan haid

()

Pasca menopause

Saraf dan Otot (tidak ada keluhan)


(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Anestesi
Parestesi
Otot lemah
Kejang
Afasia
Amnesis
Nyeri otot

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Sukar menggigit
Ataksia
Hipo/hiper-estesi
Pingsan
Kedutan (tick)
Pusing (Vertigo)
Gangguan bicara (disartri)

(-)
(-)

Deformitas
Sianosis

Ekstremitas
(-)
(+)

Bengkak
Nyeri sendi

Berat Badan
Berat badan rata-rata (kg)
Tinggi Badan (cm)

: 58 kg
: 162 cm

Berat badan sekarang (kg)


(Bila pasien tidak tahu dengan pasti)
Tetap ( )
Turun ( )
Naik

()

Riwayat Hidup

: 58 kg

Tempat lahir : ( ) Di rumah ( ) Rumah Bersalin ( ) RS


Bersalin
Ditolong oleh

: ( ) Dokter ( ) Bidan

( )

Dukun
( ) Lain-lain
Riwayat Imunisasi (pasien tidak ingat)
( ) Hepatitis

( ) BCG

( ) Campak

( ) DPT

( ) Polio

( )Tetanus
Riwayat Makanan
Frekwensi /hari

: 3-4 x sehari

Jumlah /hari

: 3-4 piring sehari

Variasi /hari

: Bervariasi

Nafsu makan

: Baik

Pendidikan
( ) SD

() SLTP

( ) SLTA

( ) Sekolah Kejuruan

Akademi
( ) Kursus

( ) Tidak sekolah

Kesulitan
Keuangan

: tidak ada

Pekerjaan

: tidak ada

Keluarga

: tidak ada

Lain-lain

: -

D. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum
Kesadaran

: Tampak sakit sedang


: Compos mentis

( )

Tinggi badan

: 162 cm

Berat Badan

: 58 kg

IMT

: 22,1 (normal)

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 24 x/menit

Suhu

: 38.0C

Sianosis

: Tidak ada

Edema umum

: Tidak ada

Aspek Kejiwaan
Tingkah laku wajar, alam perasan wajar dan proses fikir
wajar.
Kulit
- Warna

: Kuning langsat

- Jaringan parut

: Tidak ada

- Pertumbuhan rambut

: Normal, pertumbuhan rambut

merata
- Suhu Raba

: Febris

- Keringat

: Ada

- Lapisan lemak

: Cukup

- Efloresensi

: Tidak ada

- Pigmentasi

: (-)

- Pembuluh darah : Normal


- Lembab/ Kering

: Lembab

- Turgor

: Baik

- Ikterus

: Tidak ada

- Edema

: Tidak ada

Kelenjar Getah Bening


- Submandibula

: Tidak teraba pembesaran

- Supra klavikula

: Tidak teraba pembesaran

- Lipat paha

: Tidak teraba pembesaran

- Leher

: Tidak teraba pembesaran

- Ketiak

: Tidak teraba pembesaran

Kepala
- Ekspresi wajah

: Tampak sakit sedang

- Rambut

: Hitam, ikal, tidak mudah dicabut

- Simetris muka

: Simetris

- Pembuluh darah temporak : Tidak membesar


Mata
- Exopthalmus

: -

- Kelopak

: Normal

- Konjungtiva

: Anemis (-/-)

- Sklera

: Ikterik (-/-)

- Deviatio konjungtiva

: -

- Enopthalmus

: -

- Lensa

: Jernih

- Gerak mata

: Normal segala arah

- Tekanan bola mata


- Nistagmus

: N/ palpasi

:-

Leher
- Tekanan JVP

: 5 2 cmH2O

- Kelenjar Tiroid

: Tidak teraba membesar

- Kelenjar Limfe

: Tidak teraba pembesaran

Dada
- Bentuk

: Normochest

- Pembuluh darah : Normal


- Buah dada

: Normal, simetris

Paru-Paru
Inspeksi

Depan
Hemithoraks simetris

Belakang
Hemithoraks
simetris

Palpasi

kiri dan kanan


Fremitus taktil terasa

kiri dan kanan


Fremitus taktil terasa

pergerakan dinding

pergerakan dinding

thorax (normal)

thorax (normal)

Fremitus taktil terasa

Fremitus taktil terasa

pergerakan dinding

pergerakan dinding

thorax (normal)
Sonor pada seluruh

thorax (normal)
Sonor pada seluruh

lapang paru.

lapang paru.

Kanan

Perkusi

Kanan
Auskultasi

Kanan

Sonor

pada

seluruh

Sonor

pada

seluruh

lapang paru (normal)


Vesikuler (+),

lapang paru (normal)


Vesikuler (+),

Ronkhi (-),

Ronkhi (-),

Wheezing(-) (normal)

Wheezing(-) (normal)

Vesikuler (+),

Vesikuler (+),

Ronkhi (-)

Ronkhi (-),

Wheezing(-) (normal)

Wheezing(-) (normal)

Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi

: Iktus cordis teraba pulsasi di ICS V midclavicula sinistra

Perkusi

: Batas jantung kanan : ICS V linea sternal dextra

Auskultasi
Abdomen
Inspeksi : Datar

Batas jantung kiri

: ICS V linea midclavicula sinistra

Batas jantung atas

: ICS II linea sternal sinistra

: BJ I dan II normal reguler, murmur (-), gallop (-)

Palpasi

Dinding perut : Nyeri tekan (-)


Hati

: Tidak teraba

Limpa

: Tidak teraba

Ginjal

: Ballotement (-)

Perkusi

: Shifting dullness (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Genetalia Eksterna (Atas Indikasi) TIDAK DILAKUKAN


Laki-laki

Penis

Testis

Wanita

Genoitalia Eksterna

Fluor albus/Darah

Anggota Gerak
Kanan
Normal
Normal
Normal

Kiri
Normal
Normal
Normal

Tidak ada

Tidak ada

Normal
Aktif
5/5
Rumple lead +

Normal
Aktif
5/5
-

Lengan
Otot
Tonus
Massa
Sendi
Gerakan
Kekuatan
Lain-lain
Tungkai dan kaki
- Luka

: Tidak ada

- Varises

: Tidak ada

- Otot (tonus dan massa) : Normal


- Sendi
-

: Normal
Gerakan

- Kekuatan

: Aktif
: 5/5

- Edema
- Lain-lain

: Tidak ada
:-

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Hematologi
Darah Lengkap tanggal 21 Maret 2016
Hemoglobin

: 11,3 g/dl

Leukosit
Hematokrit

: 3.300 /uL
: 33 %
: 3,6 x106/ul

Eritrosit
Trombosit

: 50.000/ul

Darah Lengkap tanggal 23 Maret 2016


Hemoglobin

: 10,8 g/dl

Leukosit
Hematokrit

: 4.200 /uL
: 31 %
: 3,5 x106/ul

Eritrosit
Trombosit

: 30.000/ul

MCV

: 88 fL

MCH

: 31 pg

MCHC

: 35%

LED

: 25

Malaria

: tidak ditemukan

Hitung Jenis
Basofil

:0

Eosinofil

:0

Batang

:0

Segmen

: 57

Limfosit

: 33

Monosit

: 10

Kimia Klinik (23 Maret 2016)


SGOT

: 116 U/L

SGPT

: 43 U/L

Gula darah sewaktu

: 76 mg/dl

Imunologi & Serologi (23 Maret 2016)


Typhi H Antigen

: 1/80

Typhi O Antigen

: 1/80

Parathyphi A-O antigen

: 1/80

Parathyphi B-O antigen

: 1/80

Dengue Fever Ig M

: Positif

Dengue Fever Ig G

: Positif

RINGKASAN
Os datang dengan keluhan demam 4 hari

SMRS, demam

dirasakan terus menerus naik turun sepanjang hari, tanpa


disertai mengigil dan berkeringat. Demam tinggi pada sore
menjelang malam disertai dengan rasa dingin pada seluruh
tubuh. Perdarahan gusi terjadi 2 hari setelah demam
muncul. Perdarahan berasal dari gusi bagian bawah kiri
secara

hilang

timbul.

Pasien

juga

mengeluh

seluruh

badannya terasa ngilu dan nyeri pada sendi-sendinya.


Badan terasa pegal dan terasa lemas. Nyeri kepala hebat
yang berdenyut dirasakan pada seluruh bagian kepala. Nyeri
kepala dirasakan terus menerus sepanjang hari. Pasien juga
merasa mual yang terus menerus. Muntah terus menerus
sebanyak lebih dari 8x sehari, mulut terasa pahit sehingga

nafsu makanpun menurun. Pasien juga mengeluhkan sesak


hilang timbul.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah
100/70 mmHg, pernapasan 24x/menit, nadi 80x/menit, dan
suhu 38C . Pada pemeriksaan fisik kepala didapatkan
perdarahan gusi dan lidah tampak kotor. Pada pemeriksaan fisik
paru didapatkan bentuk dada normal, ekspansi dada sama, fremitus taktil
sama kanan dan kiri, sonor/sonor, vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-.
Pada pemeriksaan fisik jantung didapatkan batas kanan, kiri, atas jantung
dalam batas normal, bunyi jantung I-II reguler. Pada pemeriksaan fisik
abdomen didapatkan dalam batas nomal. Rumple lead positif.
Pada pemeriksaan penunjang darah lengkap didapatkan hasil
hemoglobin 10,8 g/dl, hematokrit 31 % dan trombosit 30.000/ul.
Pemeriksaan serologi dengue fever IgM positif dan IgG positif.

F. DIAGNOSIS KERJA DAN DASAR DIAGNOSIS


1. Diagnosis Kerja
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) grade II

2. Dasar Diagnosis

Anamnesis

: Demam 4 hari terus menerus

tanpa disertai
mengigil, perdarahan gusi, nyeri kepala,
mual,
muntah, mialgia
Pemeriksaan Fisik
: Suhu : 38.0C, rumple lead (+)
Pemeriksaan Penunjang :
- Trombosit : 30.000
- Dengue Fever IgM positif
- Dengue Fever IgG positif
G. DIAGNOSIS DIFERENSIS DEFERENSIAL
1. Diagnosis Deferensial
Demam Dengue
Malaria
Demam Typhoid
2. Dasar Diagnosis Deferensial
demam, nyeri kepala, mialgia, malaisem, mual, muntah
H. RENCANA PENGELOLA
1. Non Farmakologi
- Istirahat
- Minum obat teratur
- Menjaga asupan cairan. Pasien diminta banyak minum
- Jus jambu dan dari kurma untuk membantu menaikkan
trombosit

2. Farmakologi :
- Infus kristaloid untuk kebutuhan cairan per hari. Ringer
Laktat 20
tetes per menit.
- Paracetamol 500 mg tab 3x1
- Antiemetik : Donperidone 10 mg tab 3x1
- Antibiotik : Ceftriaxone inj 2x1 amp iv
I. PENCEGAHAN
1. Mencegah penularan DHF
Melakukan pemberantasan nyamuk dan sarangnya dengan tindakan 3M:

Menguras tempat-temat penampungan air secara teratur seminggu

sekali atau menaburkan bubuk larvasida (abate)


- Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
- Mengubur/menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air
2. Mencegah perburukan
-

Tetap menjaga intake cairan setiap hari

J. PROGNOSIS
Qua ad vitam

: dubia ad bonam

Qua ad sanationam

: dubia ad bonam

Qua ad fungsionam

: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Dengue Fever (DF) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) (Dengue
Hemorrhagic Fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue yang diperantarai oleh Aedes aegypti, dengan manifestasi
klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia,
ruam, limfadenopati, trombositopenia dan disertai hemoragik (Suhendro,
Leonardo, Chen, & Pohan, 2009)
B. Epidemiologi
Di Indonesia, tahun 2014 jumlah penderita DBD yang dilaporkan sebanyak
100.347 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 907 orang (IR/Angka
kesakitan= 39,8 per 100.000 penduduk dan CFR/angka kematian= 0,9%).
Dibandingkan tahun 2013 dengan kasus sebanyak 112.511 serta IR 45,85
terjadi penurunan kasus pada tahun 2014. Target Renstra Kementerian
Kesehatan untuk angka kesakitan DBD tahun 2014 sebesar 51 per 100.000
penduduk, dengan demikian Indonesia telah mencapai target Renstra 2014.
Berikut tren angka kesakitan DBD selama kurun waktu 2008-2014
(Yudianto, Budijanto, Hardhana, & Soenardi, 2015).

Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue Per 100.000


Penduduk Tahun 2008-2014
C. Etiologi
1 Agen Infeksius
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD)
disebabkan virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne
Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus,
famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu; DEN-1,
DEN2, DEN-3, DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan
antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang
terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat
memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut
2

(Hanim, 2013).
Vektor Penyebab
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan
dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai dasar hitam
dengan bintik- bintik putih pada bagian badan, kaki, dan sayapnya.
Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tunlbuhan atan sari
bunga untuk keperluan hidupnya. Sedangkan yang betina mengisap

darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia dari pada
binatang. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari.
Aktivitas menggigit biasanya pagi (pukul 9.00-10.00) sampai petang
hari (16.00-17.00).
Aedes aegypti mempunyai kebiasan mengisap darah berulang
kali untuk memenuhi lambungnya dengan darah.Dengan demikian
nyamuk ini sangat infektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap
darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau diluar runlah.
Tempat hinggap yang disenangi adalah benda-benda yang tergantung
dan biasanya ditempat yang agak gelap dan lembab. Disini nyamuk
menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya nyamuk betina
akan meletakkan telurnya didinding tempat perkembangbiakan, sedikit
diatas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik
dalam waktu 2 hari setelah terendam air. Jentik kemudian menjadi
kepompong dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa (Siregar, 2004).

Siklus hidup nyamuk Aedes Aegypti

D. PATOGENESIS
Patogenesis
ini

Demam

Berdarah

masih kontrovesial

Dengue

sampai

saat

dan belum dapat diketahui

secara jelas. Terdapat dua teori yang dikemukakan dan


paling

sering

dianut

adalah

Virulensi

virus

dan

Imunopatologi yaitu Hipotesis Infeksi Sekunder Heterolog


(The Secondary Heterologous
adalah

teori

endotel,

Infection).

endotoksin,

Teori lainnya
mediator,

dan

apoptosis.
1. Virulensi Virus
Virus

Dengue

dengan

merupakan

keluarga

flaviviridae

empat serotip (DEN 1, 2, 3, 4). Terdiri dari

genom RNA stranded yang dikelilingi oleh nukleokapsid.


Virus

Dengue

memerlukan

asam

nukleat

untuk

bereplikasi, sehingga mengganggu sintesis protein sel


pejamu.

Kapasitas

virus

untuk

mengakibatkan

penyakit pada pejamu disebut virulensi.


Virulensi virus berperan melalui kemampuan virus untuk :
a.

Menginfeksi lebih banyak sel,

b. Membentuk virus progenik,


c.

Menyebabkan reaksi inflamasi hebat,

d. Menghindari respon imun mekanisme efektor.


Penelitian
perbedaan

terakhir

memperkirakan

tingkatan

virulensi

bahwa

virus

terdapat

dalam

hal

kemampuan mengikat dan menginfeksi


Perbedaan

manifestasi

sel

target.

klinis demam dengue, DBD dan

Dengue Syok syndrome mungkin disebabkan oleh varianvarian

virus

dengue

dengan

derajat

virulensi

yang

virus

yang

berbeda-beda.
2. Teori Imunopatologi
Hipotesis

infeksi

sekunder

heterologous (secondary
menyatakan
kedua

bahwa

kalinya

heterolog

oleh

heterologous

infection)

pasien yang mengalami infeksi

dengan

serotype

akan mempunyai

virus dengue yang

risiko

yang lebih besar

untuk menderita Demam Berdarah Dengue dan Sindrom


Syok

Dengue.

Antibodi

heterolog

yang

telah

ada

sebelumnya akan mengenali

virus lain yang telah

menginfeksi

membentuk

antigen
reseptor

dan

antibodi
dari

kemudian
yang

membrane

makrofag. Antibodi
virus
bebas

tidak

kemudian

yang

sel

melakukan

Dihipotesiskan

juga

berikatan dengan

leukosit,

heterolog

dinetralisasi oleh
replikasi
mengenai

kompleks

terutama

menyebabkan

tubuh sehingga
dalam

akan

sel makrofag.

antibody

dependent

enhancement (ADE), yaitu suatu proses yang akan


meningkatkan infeksi sekunder pada replikasi virus

dengue di dalam sel mononuklear yaitu terbentuknya


komplek imun dengan virus yang berkadar antibodi
rendah

dan bersifat

subnetral

dari infeksi primer.

Komplek imun melekat pada reseptor sel mononukleus


fagosit (terutama makrofag) untuk mempermudah virus
masuk ke sel dan meningkatkan multiplikasi. Kejadian
ini menimbulkan viremia yang lebih hebat dan semakin
banyak sel makrofag yang terkena. Sedangkan respon
pada

infeksi

vasoaktif

tersebut

yang

terjadi

mengakibatkan

sekresi

mediator

terjadinya

keadaan

hipovolemia dan syok.

3. Teori Endotoksin
Syok pada DBD menyebabkan
kemudian menyebabkan
lumen

usus

ke

iskemia usus, yang

translokasi

bakteri

dari

dalam sirkulasi. Endotoksin sebagai

komponen kapsul luar bakteri gram negative akan


mudah masuk ke dalam sirkulasi pada keadaan iskemia
berat.

Telah

dibuktikan

oleh

peneliti

sebelumnya

bahwa endotoksin berhubungan erat dengan kejadian


syok pada Demam Berdarah Dengue. Endotoksinemia
terjadi

pada

75%

Sindrom Syok Dengue dan 50%

Demam Berdarah Dengue tanpa syok.

4. Teori Mediator
Makrofag yang terinfeksi virus Dengue mengeluarkan
sitokin yang disebut monokin dan mediator lain yang
memacu terjadinya peningkatan permeabilitas vaskuler
dan aktivasi koagulasi dan fibrinolisis sehingga terjadi
kebocoran vaskuler dan perdarahan.
5. Teori Apoptosis
Apoptosis adalah proses kematian sel secara fisiologis
yang merupakan reaksi terhadap beberapa stimuli.
Akibat dari apoptosis adalah fragmentasi DNA inti sel,
vakuolisasi sitoplasma, peningkatan granulasi membran
plasma menjadi DNA subseluler yang berisi badan
apoptotik.

6. Teori Endotel
Virus Dengue dapat menginfeksi sel endotel secara in
vitro

dan

menyebabkan

pengeluaran

sitokin

dan

kemokin. Sel endotel yang telah terinfeksi virus Dengue


dapat

menyebabkan

selanjutnya
vaskuler

yang

menyebabkan

dan

merupakan

pertanda

cepat

komplemen

trombomodulin

kerusakan

adalah
dan

dan

peningkatan permeabilitas

dilepaskannya

mendukung

berlangsung

aktivasi

sel

kebocoran

yang

endotel.

Bukti

plasma

yang

meningkatnya

hematokrit

dengan mendadak.
E. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi primer pada Demam Berdarah Dengue (DBD)
terjadi peningkatan akut permeabilitas

vaskuler

yang

mengarah pada kebocoran plasma ke dalam ruang ekstra


vaskuler, sehingga akan menimbulkan hemokonsentrasi
dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun
mencapai 20% pada kasus berat yang diikuti efusi pleura,
hemokonsentrasi dan hipoproteinemia.

Jika penderita

sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi


diabsorbsi dengan cepat dan menimbulkan penurunan
hematokrit.

Perubahan

hemostasis

pada

Demam

Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Syok Syndrome


(DSS)

yang

perubahan

akan

melibatkan

vaskuler;

(2)

faktor

yaitu:

(1)

dan

(3)

trombositopenia;

kelainan koagulasi.
Setelah virus Dengue masuk dalam tubuh manusia,
virus berkembang biak
yang

selanjutnya

didalam
diikuti

sel

retikuloendotelial

dengan viremia yang

berlangsung 5-7 hari. Respon imun humoral atau seluler


muncul akibat dari infeksi virus ini. Antibodi yang muncul
pada umumnya adalah IgG dan IgM, pada infeksi Dengue
primer

antibodi

mulai

terbentuk

dan

pada

infeksi

sekunder kadar antibodi yang ada telah meningkat.


Antibodi terhadap virus Dengue dapat ditemukan
di

dalam

darah sekitar

demam

pada

hari ke 5,

meningkat pada minggu pertama sampai minggu ketiga


dan menghilang

setelah

60-90

hari.

Pada

infeksi

primer antibodi IgG meningkat pada demam hari ke-14


sedangkan

pada

infeksi

sekunder

antibodi

IgG

meningkat pada hari kedua. Diagnosis dini pada infeksi


primer hanya dapat ditegakkan
antibodi IgM setelah
infeksi

sekunder

hari

dapat

dengan

kelima,

mendeteksi

sedangkan

pada

ditegakkan lebih dini dengan

adanya peningkatan antibodi IgG dan IgM yang cepat.


Trombositopenia merupakan kelainan hematologi
yang sering ditemukan
Demam

Berdarah

pada

sebagian

besar

kasus

Dengue. Trombosit mulai menurun

pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada


masa syok. Jumlah trombosit secara cepat meningkat
pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai
pada 7-10 hari sejak permulaan
dan

gangguan

fungsi

sakit.

Trombositopenia

trombosit dianggap sebagai

penyebab utama terjadinya perdarahan pada DBD.


Gangguan
vaskuler,

hemostasis

pemeriksaan

melibatkan

tourniquet

mengalami memar, trombositopenia

perubahan

positif,

mudah

dan koagulopati.

DBD
dan

stadium

telah

fibrinolisis,

Coagulation
berat

akut

(DIC)

dan disertai

terjadi

proses

Disseminated

koagulasi

Intravaskular

dapat dijumpai pada kasus yang


syok dan secara

potensial dapat

terjadi juga pada kasus DBD tanpa syok. Terjadinya syok


yang berlangsung
mendapatkan
observasi

akut dapat

perawatan

cepat

teratasi

bila

yang tepat dan melakukan

disertai pemantauan

perembesan plasma

dan gangguan hemostatis.

Pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM/DIC) secara potensial dapat


terjadi juga pada penderita DBD tanpa atau dengan renjatan. Renjatan
pada PIM akan saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki
renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat, terlihatnya organ-organ vital
dan berakhir dengan kematian.

F. MANIFESTASI KLINIS
Infeksi oleh virus dengue dapat bersifat asimtomatik maupun simtomatik
yang meliputi demam biasa (sindrom virus), demam dengue, atau demam
berdarah dengue termasuk sindrom syok dengue (DSS). Penyakit demam
dengue biasanya tidak menyebabkan kematian, penderita sembuh tanpa
gejala sisa. Sebaliknya, DHF merupakan penyakit demam akut yang
mempunyai ciri-ciri demam, manifestasi perdarahan, dan berpotensi
mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian. Gambaran
klinis bergantung pada usia, status imun penjamu, dan strain virus.
Berikut ini adalah bagan manifestasi infeksi virus dengue :

Tanda-tanda dan gejala penyakit DBD adalah :


1. Demam
Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terusmenerus berlangsung 2 - 7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam
secara mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti:
anorexia lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.
2. Manipestasi Pendarahan.
Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3
setelah demam. Sebab perdarahan adalah trombositopenia. Bentuk
perdarahan dapat berupa :
- Ptechiae
- Purpura
- Echymosis
- Perdarahan cunjunctiva
- Perdarahan dari hidung (mimisan atau epestaxis)
- Perdarahan gusi
- Muntah darah (Hematenesis)

- Buang air besar berdarah (melena)


- Kencing berdarah (Hematuri)
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu
diperlukan toreniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar
penderita Demam Berdarah Dengue.
3. Pembesaran hati (Hepotomegali).
Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat
pembesaran hati tidak sejajar dengan berapa penyakit Pembesan hati
mungkin berkaitan dengan strain serotype virus dengue.
4. Renjatan (Shock).
Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7
mulai sakit. Renjatan terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma
ke daerah ekstra vaskuler melalui kapilar yang rusak. Adapun tandatanda perdarahan:
- Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.
- Penderita menjadi gelisah.
- Nadi cepat, lemah, kecil sampai tas teraba.
- Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmhg atau kurang)
- Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80
mmhg atau kurang). Renjatan yang terjadi pada saat demam,
biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih buruk.
5. Gejala Klinis Lain
Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia, mual,
muntah, lemah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang.
G. DIAGNOSIS
Diagnosa ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO
(1997). Terdiri

dari Kriteria

klinis

dan Laboratorium

sebagai berikut :
1. Kriteria Klinis
a. Demam tinggi mendadak,

tanpa

sebab

jelas,

berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.


b. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan
uji tourniquet positif, petekie, ekimosis, perdarahan
mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
dan melena
c. Hepatomegali
2. Laboratorium
3
a. Trombositopenia (< 100.000/mm )
b. Hemokonsentrasi (kadar Ht > 20% dari normal)
c. Waktu perdarahan memanjang
d. Waktu protrombin memanjang

WHO (1997) membagi derajat penyakit DBD dalam 4


derajat yaitu :
Derajat I
: Demam dengan uji bendung positif.
Derajat II

: Derajat I disertai perdarahan spontan

di kulit atau
perdarahan lain.
Derajat III

: Ditemui kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat

dan lemah,
tekan

nadi

hipotensi

menurun

disertai

kulit

(<

20mmHg)

yang

lembab

atau
dan

pasien menjadi gelisah.


Derajat IV :

Shock

berat

dengan

nadi

yang

tidak

teraba dan
tekanan darah tidak dapat diukur(Suhendro et
al., 2009) .

H. TATALAKSANA
Pengobatan penderita Demam Berdarah Dengue bersifat simptomatik dan
suportif yaitu adalah dengan cara:
- Penggantian cairan tubuh.
- Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter - 2 liter dalam 24 jam (air
teh dan gula sirup atau susu).
- Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit),
kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit.
Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena muntah atau nyeri
perut yang berlebihan maka cairan intravena perlu diberikan.

Medikamentosa yang bersifat simptomatis :


- Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es di kepala, ketiak,
inguinal.
- Antipiretik sebaiknya dari asetaminofen, eukinin atau dipiron.
- Antibiotik diberikan jika ada infeksi sekunder.
Sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan vaksin untuk mencegah
penyakit Demam Berdarah belum tersedia (Sukohar, 2014).

I. PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya
yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain
dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah
padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping
kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
- Menguras bak mandi/penampungan air- sekurang-kurangnya sekali
seminggu.
- Mengganti/menguras vas bunga dan tempat- minum burung seminggu
sekali.
- Menutup dengan rapat tempat penampungan- air.
- Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar
rumah- dan lain sebagainya.

2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14). C. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:

- Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion),


berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu
tertentu.
-

Memberikan

bubuk

abate

(temephos)

pada

tempat-tempa

penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus,
yaitu : menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan
beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur
larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa,
menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang
obat nyamuk, memeriksa jentik berkala dan disesuaikan dengan kondisi
setempat.

BAB III
ANALISIS KASUS

Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang. Pada hasil anamnesis pasien mengeluhkan demam 4 hari yang tibatiba tinggi dan dirasakan naik turun sepanjang hari, tanpa disertai
mengigil dan berkeringat. Pada hari pertama pasien dirawat
demam tidak lagi muncul dan mengalami penurunan. Gejala
tambahan yang muncul lainnya, seperti nyeri kepala, mialgia,
malaise yang dirasakan muncul saat demam berlangsung.
Berdasarkan teori yang ada, gejala yang dirasakan pasien ini
dapat mengarah pada beberapa penyakit, seperti dengue fever,
demam typhoid dan malaria. Dengue fever memliki gejala
didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus berlangsung 2 - 7
hari, kemudian turun secara cepat. Demam secara mendadak disertai gejala klinis
yang tidak spesifik seperti: anorexia lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung
dan kepala.
Pada demam thypoid demam dirasakan lebih dari 7 hari, demam awal
tidak mendadak, suhu naik seperti anak tangga dari rendah yang lama-kelamaan
naik, mual, muntah, nyeri perut dan merasa lemas. Pada malarian demam yang
dirasakan tipe demam periodik, dimana terdapat 3 fase malaria yaitu
mengigil/dingin, demam dan berkeringat. Berdasarkan teori yang ada, keluhan
pada pasien ini mengarah pada dengue fever, namun masih perlu pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang yang menunjang dari diagnosis pada pasien ini.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 100/70
mmHg, pernapasan 24x/menit, nadi 80x/menit, dan suhu 38C .

Pada pemeriksaan fisik kepala didapatkan perdarahan gusi dan


lidah tampak kotor. Pada pemeriksaan fisik paru didapatkan bentuk dada
normal, ekspansi dada sama, fremitus taktil sama kanan dan kiri, sonor/sonor,
vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-. Pada pemeriksaan fisik jantung didapatkan
batas kanan, kiri, atas jantung dalam batas normal, bunyi jantung I-II reguler. Pada
pemeriksaan fisik abdomen didapatkan dalam batas nomal. Rumple lead positif.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan, suhu pada pasien ini
tinggi disertai dengan adanya tanda perdarahan pada gusi. Hasil pemeriksaan ini
memperkuat untuk mengarah pada diagnosis dengue fever

yang disertai

perdarahan yaitu dengue hemorrhagic fever. Perdarahan yang terjadi pada pasien
ini disebabkan karena terjadi kebocoran plasma yang ditandai dengan hematokrit
meningkat dan trombositnya akan menurun. Rumple lead positif dengan ada
bintik-bintik merah pada lengan yang telah diperiksa, memperkuat dengue
hemorraghis fever. Namun rumple lead positif bukan hanya pada DHF, rumple
lead dapat positif juga dijumpai pada demam chikungunya, campak, dan infeksi
bakteri. Berdasarkan WHO 1997 DHF dibagi menjadi 4 derajat, pada kasus ini
masuk pada DHF derajat 2, dimana terdapat demam, rumple lead positif dan
terdapat perdarahan spontan yang keluar dari perdarahan gusi.
Pemeriksaan penunjang yang didapatkan hasil hemoglobin 10,8 g/dl
dimana nilai normal >12 sehingga pasien ini mengalami penurunan pada Hb yang
disebabkan karena perdarahan yang terjadi, hematokrit 31%, leukosit 4.200/ul
dengan nilai normal 4.800-10.800/ul sehingga terjadi leukopenia dan trombosit
30.000/ul juga mengalami penurunan drastis dengan nilai normal 150.000450.000/ul sehingga terjadi trombositopenia. Pemeriksaan serologi dengue fever

IgM positif dan IgG positif. Hasil pemeriksaan penunjang yang didapatkan yaitu,
penurunan Hb, leukopenia, trombositopenia, dengue fever IgM dan IgG positif.
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang didapatkan memperkuat diagnosis pada
pasien ini yaitu dengue hemorrhagic fever grade 2 dimana erdapat
trombositopenia, leukopenia dan positif pada IgM dan IgM dengue fever antigen.
Penanganan pada pasien ini secara non-farmakologi dengan beristirahat,
minum obat teratur, menjaga asupan cairan dengan banyak minum dan meminum
jus jambu biji serta jus kurma untuk membantu menaikkan trombosit yang
menurun drastis. Tatalaksana farmakologi dengan kristaloid pemberian ringer
laktat 20 tetes per menit, paracetamol untuk penurun panas, antiemetik
donperidone untuk menghilangkan mual dan muntah, serta antibiotik ceftriaxone
untuk

pencegahan

infeksi

sekunder.

Pencegahan

dengan

melakukan

pemberantasan nyamuk dan sarangnya dengan tindakan 3M yaitu, menguras


tempat-temat penampungan air secara teratur seminggu sekali atau menaburkan
bubuk larvasida (abate), menutup rapat-rapat tempat penampungan air, dan
mengubur/menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

BAB IV
KESIMPULAN

Dengue adalah penyakit virus nyamuk yang telah dengan cepat menyebar
di seluruh wilayah dalam beberapa tahun terakhir. Dengue Fever (DF) dan
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh infeksi virus dengue. Virus dengue ditularkan dengan perantara nyamuk
betina terutama spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Manifestasi klinis DHF yaitu demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan disertai hemoragik.
Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi
suportif. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling
penting untuk penanganan DHF.

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, U. K. (2010). Penyakit Tular Vektor: Demam Berdarah Dengue. Bogor :


IPB.
Hanim, D. (2013). Program Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah.
Modul Field Lab. Surakarta: FK UNS.
Siregar, F. (2004). Epidemiologi dan Pemberantasan DBD di Indonesia. Sumatera
Utara : Fakultas Kesehatan Masyarakat USU, 113.
Suhendro, Leonardo, N., Chen, K., & Pohan, H. (2009). Demam Berdarah
Dengue. In A. W. Sudoyo, B. Setiyohadi, I. Alwi, M. Simadibrata, & S.
Setiati (Eds.), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (5th ed., p. 2773). Jakarta:
Interna Publishing.
Sukohar, A. (2014). Demam Berdarah Dengue ( DBD ). Medula.Lampung :
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, 2(2), 115.
WHO.

(2016).

Dengue

and

severe

dengue

WHO.

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/
Yudianto, Budijanto, D., Hardhana, B., & Soenardi, T. (2015). Profil Kesehatan
Indonesia 2014. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Vol. 51).
Jakarta:

Kementrian

3514.51.6.1173

Kesehatan

RI.

http://doi.org/10.1037/0022-